1
Biodata Mahasiswa
Nama :
NIM :
Prodi :
Alamat :
Telepon :
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya
sehingga Prodi D3 Kebidanan STIKES Surabaya dapat menyelesaikan “Buku Panduan
Praktik Klinik Kebidanan ” yang meliputi Asuhan Kebidanan Kehamilan, Persalinan, Bayi
Baru Lahir Normal, Nifas, Keluarga Berencana, Ibu Menyusui, Neonatus, Bayi dan Balita
Normal, Komunitas, Kesehatan Reproduksi, Pertolongan Kegawatdaruratan Maternal
Neonatal, serta Dokumentasi Kebidanan. Didalam buku ini berisi tuntunan bagi mahasiswa
terutama yang akan melakukan Praktik Klinik Kebidanan . Disamping itu buku ini juga
sebagai pegangan Dosen Pembimbing untuk melatih kemampuan mahasiswa.
Buku panduan ini dibuat sesuai dengan ruang lingkup Prodi D3 Kebidanan dengan
tetap mengacu pada Standar Operasional Pelayanan Kebidanan. Dalam penyusunan buku
ini, kami akui masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun
kearah penyempurnaan buku ini kami terima dengan tangan terbuka.
Kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi demi terwujudnya Buku Pedoman ini kami
ucapkan terima kasih.
Surabaya, 2015
TIM PENYUSUN
3
Pendahuluan
Pendidikan diploma kebidanan bertujuan untuk mencetak bidan yang berkompeten.
Kompetensi diukur dari aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan secara utuh, sehingga
proses pembelajaran harus mencakup ketiga ranah tersebut. Proses pembelajaran di kelas
memfokuskan pada pembangunan pengetahuan mahasiswa yang bersifat teoritis.
Sedangkan untuk memberikan pengalaman keterampilan, dilakukan melalui proses
praktikum yang terdiri dari praktik di laboratorium (skill lab) dan praktik lapangan (praktik
klinik). Kegiatan praktikum tidak sekedar memberikan pengalaman psikomotor, tetapi juga
kemampuan analisis dan penguatan teori mahasiswa serta sikap/soft skill dalam memberikan
asuhan.
Kegiatan praktik klinik terdiri dari beberapa fase dengan jenis tempat praktik yang
berbeda-beda sesuai dengan tahap kemampuan mahasiswa atau standar kompetensi yang
harus dicapai mahasiswa. Tempat praktik klinik yang digunakan meliputi rumah sakit,
rumah bersalin, bidan praktik mandiri, puskesmas, serta komunitas. Hal tersebut bertujuan
untuk mengenalkan mahasiswa pada keadaan pelayanan kebidanan yang nyata (contextual
learning).
Praktik klinik kebidanan merupakan praktik klinik yang bertujuan untuk memberikan
kesempatan kepada peserta didik menerapkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap
dalam asuhan kebidanan yang bersifat fisiologis (normal), patologis dan komprehensif.
Tujuan
A. Tujuan Umum
Praktik klinik kebidanan bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam
memberikan asuhan kebidanan (pendekatan SOAP dan Varney) sesuai dengan standar
kompetensi bidan, yang meliputi asuhan kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, bayi
dan balita, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, baik pada asuhan normal
ataupun deteksi dan penatalaksanaan komplikasi kebidanan (sebatas kewenangan
bidan).
B. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan dengan pendekatan SOAP,
meliputi :
4
1. Asuhan kehamilan normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi kehamilan.
2. Asuhan persalinan normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi persalinan.
3. Asuhan nifas normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi nifas.
4. Asuhan neonatus normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi neonatus.
5. Asuhan bayi & balita normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi.
6. Asuhan keluarga berencana
7. Asuhan kebidanan komunitas
8. Menyusun dokumentasi kebidanan dengan metode SOAP
Pelaksanaan, Peserta dan Tempat Praktik
Pelaksanaan praktik dilakukan secara berkesinambungan, yang terdiri dari :
1. Praktik Klinik Kebidanan I (PKK I)
Praktik Klinik Kebidanan I dilaksanakan pada akhir semester III dan akhir semester IV
di Rumah sakit, Rumah Bersalin (RB), Bidan Praktik Mandiri (BPM) dan Puskesmas
wilayah Surabaya. Minimal waktu yang dibutuhkan untuk PKK I adalah 7 minggu.
2. Praktik Klinik Kebidanan II (PKK II)
Praktik Klinik Kebidanan II dilaksanakan pada semester V di Rumah sakit, Rumah
Bersalin (RB), Puskesmas dan Masyarakat wilayah Surabaya. Minimal waktu yang
dibutuhkan untuk PKK II adalah 7 minggu.
3. Praktik Klinik Kebidanan III (PKK III)
Praktik Klinik Kebidanan III dilaksanakan pada semester VI di Rumah sakit, Rumah
Bersalin (RB), Bidan Praktik Mandiri (BPM), Puskesmas dan Masyarakat di wilayah
Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Minimal waktu yang dibutuhkan untuk PKK II adalah
9 minggu.
Kompetensi Yang Harus Dicapai Mahasiswa
A. Praktik Klinik Kebidanan I (PKK I)
1. Melakukan Asuhan kebidanan pada ibu hamil normal
Dalam melakukan asuhan kehamilan, setidaknya mencakup :
a. Melakukan pengkajian data subjektif (anamnesis)
b. Melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil kunjungan awal dan ulang (inspeksi,
palpasi dan auskultasi)
c. Melakukan pemeriksaan penunjang (Hcg test, haemoglobin)
5
d. Melakukan pemeriksaan kesejahteraan janin (Detak jantung janin, gerak janin)
e. Melakukan pendidikan kesehatan pada ibu hamil (Trimester I, II, dan III)
f. Melakukan penyuluhan persiapan menyusui pada ibu hamil trimester III
g. Memberikan imunisasi TT pada ibu hamil
h. Melakukan pendokumentasian asuhan yang diberikan
2. Melakukan Asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal
Dalam melakukan asuhan persalinan, setidaknya mencakup :
a. Melakukan pengkajian data subjektif (anamnesis)
b. Melakukan pemeriksaan fisik ibu bersalin (inspeksi, palpasi dan auskultasi)
c. Melakukan observasi kemajuan persalinan kala I dengan menggunakan
partograf (termasuk diantaranya kesejahteraan janin).
d. Melakukan pertolongan persalinan sesuai dengan standar APN (mulai dari kala
I sampai dengan kala IV secara keseluruhan/tidak hanya parsial)
e. Melakukan inisiasi menyusu dini (IMD)
f. Melakukan episiotomi atas indikasi
g. Melakukan penjahitan laserasi perineum derajat 1 dan 2
h. Melakukan prinsip pencegahan infeksi selama pertolongan persalinan
i. Melakukan pendokumentasian asuhan persalinan yang dilengkapi dengan
partograf
3. Melakukan Asuhan kebidanan pada ibu nifas
Dalam melakukan asuhan nifas, setidaknya mencakup :
a. Melakukan pengkajian data subjektif (anamnesis)
b. Melakukan pemeriksaan fisik ibu bersalin (inspeksi, palpasi dan auskultasi)
c. Membantu ibu menyusui (posisi dan perlekatan menyusui)
d. Memberikan konseling menyusui eksklusif
e. Memberikan perawatan payudara
f. Mengajarkan cara memerah ASI beserta cara penyimpannya
g. Melakukan perawatan luka laserasi
h. Membantu ibu cara merawat bayi dan dirinya selama masa nifas
i. Melakukan pendokumentasian asuhan nifas yang dilakukan
4. Memberikan pelayanan keluarga berencana (KB)
Dalam memberikan pelayanan KB, setidaknya mencakup :
a. Melakukan pengkajian data subjektif terfokus (anamnesis)
6
b. Melakukan pemeriksaan fisik terfokus
c. Melakukan penapisan alat kontrasepsi
d. Memberikan konseling sebelum pemberian kontrasepsi
e. Memberikan pelayanan kontrasepsi hormonal dan non hormonal
f. Memberikan konseling pasca pemberian kontrasepsi
g. Melakukan deteksi adanya masalah/ efek samping penggunaan kontrasepsi
h. Melakukan penanganan masalah/efek samping kontrasepsi
i. Melakukan rujukan masalah kontrasepsi
j. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan yang telah dilakukan
5. Melakukan Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir
Dalam melakukan asuhan bayi baru lahir, setidaknya mencakup :
a. Melakukan pemeriksaan sewaktu bayi baru lahir
b. Melakukan pemeriksaan APGAR
c. Melakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir
d. Memberikan injeksi vitamin K
e. Memberikan imunisasi Hb0 dan polio
f. Memandikan bayi baru lahir (minimal 6 jam setelah lahir)
g. Melakukan pendokumentasian asuhan bayi baru lahir yang dilakukan
6. Melakukan Asuhan kebidanan pada bayi dan balita
Dalam melakukan asuhan bayi dan balita, setidaknya mencakup :
a. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi dan balita
b. Melakukan perawatan tali pusat
c. Melakukan pemantauan kecukupan ASI pada bayi kurang dari 6 bulan
d. Melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita
(dengan SDIDTK, Denver, Grow Chart)
e. Memberikan imunisasi wajib pada bayi dan balita
f. Melakukan pendokumentasian asuhan bayi dan balita yang dilakukan
B. Praktik Klinik Kebidanan II (PKK II)
PKK II merupakan kelanjutan dari PKK I. Kompetensi yang harus dicapai mahasiswa
meliputi asuhan kebidanan normal, deteksi dini komplikasi, asuhan kesehatan
reproduksi dan penanganan komplikasi kebidanan sesuai dengan kewenangan bidan.
7
1. Asuhan kebidanan normal
Telah diuraikan pada poin A
2. Deteksi dini komplikasi kebidanan
Komplikasi kebidanan meliputi masa hamil, bersalin, nifas, menyusui, bayi baru
lahir, bayi dan balita. Dalam melakukan deteksi dini komplikasi, setidaknya
mencakup :
a. Anamnesis terfokus masalah
b. Pemeriksaan fisik yang terdiri dari inspeksi, palpasi, auskultasi yang diperlukan
guna menentukan diagnosis kebidanan
c. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan guna menentukan diagnosis
kebidanan
d. Melakukan rujukan komplikasi kebidanan
e. Melakukan dokumentasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan
3. Penanganan komplikasi kebidanan sesuai dengan kewenangan bidan
Dalam melakukan penanganan komplikasi kebidanan, mahasiswa sebatas
melakukan observasi tindakan atau sebagai asisten dokter kandungan.
C. Praktik Klinik Kebidanan III (PKK III)
1. Memberikan asuhan kebidanan pada kehamilan secara mandiri
2. Memberikan asuhan kebidanan pada persalinan secara mandiri
3. Memberikan asuhan kebidanan pada nifas dan menyusui secara mandiri
4. Memberikan asuhan kebidanan pada KB secara mandiri
5. Memberikan asuhan kebidanan pada neonatus secara mandiri
6. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi secara mandiri
7. Memberikan asuhan kebidanan pada balita dan pra sekolah secara mandiri
8. Memberikan asuhan kebidanan pada komunitas secara mandiri
9. Memberikan asuhan kebidanan pada kesehatan reproduksi secara mandiri
10. Memberikan pertolongan kegawatdaruratan maternal
Proses Pembelajaran Praktik Klinik Kebidanan
1. Pembelajaran praktik klinik kebidanan dilakukan setelah mahasiswa lulus mata kuliah
terkait target, baik teori ataupun praktik skill lab.
8
2. Sebelum mulai praktik klinik, setiap mahasiswa wajib mengikuti orientasi di tempat
praktik masing-masing dengan didampingi oleh dosen pembimbing.
3. Selama melaksanakan praktik klinik kebidanan, setiap mahasiswa mengikuti jam kerja di
tempat praktik (minimal 8 jam/hari atau 48 jam/minggu).
4. Praktik klinik kebidanan dilakukan dengan menerapkan metode conceptual learning dan
preseptorship, dimana mahasiswa dihadapkan pada keadaan praktik nyata bidan pelayanan
kebidanan. Dalam pelaksanaan praktik, dibagi dalam fase :
a) Pre-conference
Sebelum mahasiswa melakukan praktik suatu perasat/keterampilan, pembimbing
klinik melakukan pre-conference untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan
dan kesiapan mahasiswa terhadap perasat yang akan dilakukan. Pelaksanakan pre-
conference dengan menggunakan metode tanya-jawab lisan atau sesuai dengan
peraturan yang ditetapkan tempat praktik.
b) Bed-side teaching
Mahasiswa melakukan keterampilan/perasat/asuhan kebidanan langsung kepada
pasien dengan didampingi pembimbing klinik. Pembimbing klinik bersifat sebagai
fasilitator dan memberikan bantuan (apabila dibutuhkan) tindakan. Diharapkan
mahasiswa dapat melakukan keterampilan/perasat/asuhan kebidanan secara
mandiri sesuai dengan target praktik klinik yang ditentukan.
c) Post-conference
Post-conference bertujuan untuk mengevaluasi prasat/keterampilan praktik yang
telah dilakukan mahasiswa. Mahasiswa dapat merefleksikan hasil temuan yang
mungkin didapat pada saat melakukan prasat/keterampilan.
d) Evaluasi
Evaluasi dilakukan oleh dosen pembimbing bertujuan untuk memonitor sejauh
mana perkembangan keterampilan praktik klinik mahasiswa, termasuk diantaranya
pencapaian target praktik klinik kebidanan yang telah ditentukan. Evaluasi
dilakukan dengan 2 sudut pandang, yaitu dosen pembimbing dan pembimbing
klinik (CI).
9
Peran dan Tanggung Jawab
A. Mahasiswa
1. Mahasiswa wajib mengikuti peraturan yang ditentukan oleh tempat praktik dan
stikes surabaya.
2. Mengaplikasikan teori yang telah didapat kedalam praktik klinik kebidanan.
3. Bersikap baik, sopan, santun dan ramah dalam menjalin hubungan dengan pasien,
pembimbing klinik, dosen pembimbing, seluruh tenaga kesehatan dan staf di tempat
praktik serta teman sejawat.
4. Melakukan asuhan kebidanan sesuai dengan target yang ditentukan, yang dibuktikan
dengan laporan asuhan kebidanan (metode SOAP). Setiap laporan SOAP harus
mendapatkan persetujuan pembimbing klinik serta dosen pembimbing (tanda
tangan + stempel basah). Laporan/dokumentasi SOAP ditulis tangan dengan tinta
biru.
5. Membuat laporan komprehensif dalam bentuk makalah pada setiap tempat praktik.
Setiap makalah harus mendapatkan persetujuan pembimbing klinik serta dosen
pembimbing (tanda tangan + stempel basah).
6. Melaporkan perkembangan pencapaian target pada log-book pada dosen
pembimbing.
B. Pembimbing Klinik (Clinical Preceptor)
1. Pembimbing klinik (CI) adalah Bidan koordinator yang ditunjuk oleh BPS/Rumah
Sakit dengan pendidikan terakhir minimal diploma 4 (D4).
2. Pembimbing klinik bekerjasama dengan dosen pembimbing dalam mendukung,
memfasilitasi, mengobservasi dan mengevaluasi perkembangan keterampilan klinik
mahasiswa.
3. Melakukan proses bimbingan sesuai dengan fase pembelajaran praktik klinik yang
telah dijelaskan sebelumnya.
4. Melakukan responsi terhadap hasil praktik klinik mahasiswa. Responsi dapat
dilakukan dengan lisan (tanya jawab) terkait temuan atau kasus yang didapat
mahasiswa dan atau secara tertulis.
5. Memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan kasus dengan metode SOAP
dan laporan komprehensif (makalah).
6. Memberikan penilaian terhadap hasil praktik klinik mahasiswa, sesuai dengan
format yang telah ditentukan STIKes surabaya (Format Terlampir).
10
C. Dosen Pembimbing
1. Dosen pembimbing adalah dosen tetap yang ditunjuk oleh kaprodi D-III kebidanan
STIKES Surabaya sebagai dosen pembimbing praktik klinik.
2. Bekerjasama dengan pembimbing klinik dalam mendukung, memfasilitasi,
mengobservasi dan mengevaluasi perkembangan keterampilan klinik mahasiswa.
3. Melakukan supervisi ke tempat praktik minimal 1 (satu) kali dalam seminggu.
4. Melakukan monitoring perkembangan keterampilan praktik klinik mahasiswa,
termasuk diantaranya pencapaian target praktik klinik kebidanan yang telah
ditentukan.
5. Memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan kasus dengan metode SOAP
dan laporan komprehensif (makalah).
6. Melakukan evaluasi terhadap praktik klinik kebidanan melalui pemberian kuesioner
umpan balik (feedback). Evaluasi dilakukan dengan 2 sudut pandang, yaitu dari
mahasiswa dan pembimbing klinik.
7. Melakukan responsi terhadap hasil praktik klinik mahasiswa. Responsi dilakukan
setelah praktik klinik berakhir. Responsi dapat dilakukan dengan lisan (tanya jawab)
terkait temuan atau kasus yang didapat mahasiswa dan atau secara tertulis.
8. Memberikan penilaian terhadap hasil praktik klinik mahasiswa, sesuai dengan
format yang telah ditentukan STIKes surabaya (Format Terlampir).
Peraturan dan Sanksi
1. Peraturan
a) Setiap mahasiswa yang mengikuti praktik klinik kebidanan tidak sedang mengalami
permasalahan akademis dan atau administratif.
b) Mahasiswa wajib mengikuti orientasi sebelum mulai praktik klinik.
c) Bersikap baik, sopan, santun dan ramah dengan pembimbing klinik, pimpinan,
karyawan, dan klien di tempat praktik.
d) Mahasiswa wajib mematuhi jadwal praktik yang telah ditentukan.
e) Mahasiswa datang setidaknya 15 menit sebelum waktu praktik yang ditentukan.
f) Mahasiswa tidak diperkenankan meninggalkan tempat praktik tanpa seijin
pembimbing klinik. Apabila terpaksa meninggalkan lahan praktik karena sesuatu hal
harus dengan persetujuan pembimbing klinik dan atau surat keterangan dari dokter
11
(bila sakit). Mahasiswa wajib mengganti jadwal praktik sesuai dengan jumlah hari
yang ditinggalkan.
g) Mahasiswa tidak diperkenankan bertukar jadwal praktik tanpa sepengetahuan
pembimbing klinik.
h) Mahasiswa wajib menggunakan pakaian lengkap dengan atribut yang telah
ditentukan stikes surabaya, yaitu :
 Pakaian seragam warna putih dan kerudung putih (bagi yang
berkerudung)/rambut diikat dengan harnet dan menggunakan cap (bagi yang
tidak berkerudung).
 Pakaian seragam longgar (tidak ketat).
 Selalu mengenakan pin-name (pin nama) dan logo STIKes pada baju.
 Selalu menggunakan skot dari kampus.
 Menggunakan sepatu warna putih.
i) Seluruh mahasiswa tidak diperkenankan menggunakan perhiasan yang berlebihan.
j) Kuku harus dipotong pendek serta tidak boleh menggunakan cat kuku.
k) Seluruh laporan asuhan kebidanan dan laporan komprehensif harus sudah
diselesaikan sebelum jadwal praktik selesai.
l) Setiap mahasiswa harus menyerahkan laporan komprehensif praktikum kepada
dosen pembimbing, maksimal 1 (satu) minggu setelah praktik berakhir.
m) Mahasiswa wajib menjaga nama baik STIKes Surabaya.
2. Sanksi
a) Pembimbing praktik berhak memberikan sanksi kepada mahasiswa yang datang
terlambat, sesuai dengan peraturan/kebijakan tempat praktik.
b) Apabila mahasiswa meninggalkan praktik tanpa seijin pembimbing klinik, wajib
mengganti 2 (dua) kali lipat dari jumlah hari yang ditinggalkan (dengan persetujuan
pembimbing klinik).
c) Apabila mahasiswa meninggalkan praktik tanpa ijin lebih dari 2 (dua) kali, maka
pembimbing klinik berhak untuk mengembalikan mahasiswa yang bersangkutan ke
institusi (nilai praktik dianggap 0/tidak lulus)
d) Bagi mahasiswa yang merusakkan atau menghilangkan alat/barang praktek yang
ada di RS, diwajibkan untuk memperbaiki atau mengganti alat yang hilang.
12
Penilaian
Kriteria penilaian praktik klinik meliputi :
No Ranah
Kompetensi
Kriteria Penilaian
Nilai
SKOR
1 2 3 4
1 Pengetahuan
 Laporan
 Responsi
a. Kemampuan menganalisis asuhan
sesuai target kompetensi
(kehamilan, persalinan, nifas, KB,
neo, bayi, balita dan anak pra
sekolah, kespro, kegawatdaruratan
maternal neonatal)
A
2 Keterampilan a. Kemampuan skill dalam
memberikan asuhan (kehamilan,
persalinan, nifas, KB, neo, bayi,
balita dan anak pra sekolah, kespro,
kegawatdaruratan maternal
neonatal)
B
3 Sikap* a. Kesopanan kepada pasien,
bidan/staff, teman
b. Kedisiplinan
c. Tanggung Jawab
d. Kepemimpinan
e. Kerjasama
f. Kejujuran
g. Empati
h. Komunikasi
C
Rata-Rata Skor
Ambang batas nilai kelulusan adalah ≥ 3
* Kriteria Nilai :
4 = Bila praktikan sangat baik dalam aspek yang dinilai
3 = Bila praktikan baik dalam aspek yang dinilai
2 = Bila praktikan cukup baik dalam aspek yang dinilai
1 = Bila praktikan kurang dalam aspek yang dinilai
Nilai :
80 – 100 = A : Sangat Baik
70 – 79 = B : Baik
56 – 69 = C : Cukup
41 – 55 = D : Kurang
< 41 = E : Sangat Kurang/Gagal
13
Manajemen kebidanan dan Dokumentasi Asuhan Kebidanan dengan SOAP
Manajemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis
dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik
klien maupun pemberi asuhan (Soepaedan, 2008). Manajemen kebidanan diadaptasi dari
sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery
yang menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari 7 langkah yang
berurut secara sistematis dan siklik, yaitu:
I. Pengumpulan data dasar secara lengkap (data subjektif dan objektif)
II. Interpretasi data dasar sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik
III. Identifikasi diagnosa potensial yang mungkin terjadi karena masalah atau diagnosa
yang telah diidentifikasi, sehingga perlu dilakukan antisipasi pencegahan jika mungkin,
serta pengawasan penuh.
IV. Evaluasi kebutuhan intervensi segera dari bidan, dokter dan atau untuk konsultasi atau
manajemen kolaboratif dengan anggota tim perawat kesehatan lain
V. Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh berdasarkan diagnosis dan kebutuhan ibu
VI. Melaksanakan rencana asuhan yang telah disusun secara efektif, efisien dan aman.
VII. Evaluasi keefektifan dari perawatan yang diberikan, melakukan pengulangan
secukupnya melalui manajemen proses pada tiap aspek perawatan yang tidak efektif
Setiap bidan dalam melakukan tugasnya wajib melakukan pencatatan dan pelaporan
sesuai dengan pelayanan yang diberikan yang disebut dengan dokumentasi kebidanan.
Dokumentasi dalam asuhan kebidanan adalah suatu pencatatan yang lengkap dan akurat
terhadap keadaan/kejadian yang dilihat dan dilakukan dalam pelaksanaan asuhan kebidanan
(proses asuhan kebidanan). Oleh karena itu, terdapat keterkaitan antara manejemen
kebidanan dengan dokumentasi/pelaporan kebidanan. Varney merupakan alur fikir yang
digunakan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan. Sedangkan dokumentasi
merupakan pelaporan dari asuhan kebidanan yang diberikan.
14
LANGKAH VARNEY SOAP
Pengumpulan data dasar Subjektif
Objektif
Interpretasi data
Analisis
Penetapan diagnosis/masalah potensial
Penetapan kebutuhan tindakan segera,
konsultasi, kolaborasi, rujukan
Merencanakan asuhan
PenatalaksanaanMelaksanakan asuhan
Mengevaluasi kefektifan asuhan
Dokumentasi/pencatatan asuhan kebidanan ditulis dalam bentuk catatan
perkembangan SOAP (KMK No.938/Menkes/SK/VIII/2007).
S : Subjektif
Bagian ini mencakup data subjektif yang didapatkan dari hasil anamnesis. Data
subjektif bersifat terfokus sesuai dengan keluhan pasien, yang digunakan sebagai
langkah awal dalam menentukan pemeriksaan.
Data subjektif setidaknya mencakup identitas (nama, usia, paritas), keluhan, riwayat
obstetri, dan data subjektif lain yang dibutuhkan bidan.
O : Objektif
Bagian ini mencakup data objektif yang didapat dari hasil pemeriksaan fisik (inspeksi,
palpasi, auskultasi), psikologis, dan laboratorium (pemeriksaan penunjang)
A : Analisis
Bagian ini merupakan hasil analisis bidan berdasarkan hasil pengkajian data subjektif
dan objektif. Analisis mencakup diagnosis dan masalah kebidanan (jika ditemukan)
P : Penatalaksanaan
Bagian ini mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan
seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, dan tindakan secara komprehensif
(penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up dan rujukan.
ALUR PIKIR
ASUHAN
KEBIDANAN
PENCATATAN
ASUHAN
VARNEY SOAP
15
FORMAT DOKUMENTASI SOAP
Subyektif
Nama :
Usia : Pekerjaan : Pendidikan :
Agama : Status Perkawinan: No Telp/HP :
Alamat:
HPHT : (jika diperlukan)
HPL : (jika diperlukan)
Keluhan :
Riwayat Kesehatan : (terfokus pada permasalahan yang berpengaruh pada
kehamilan/persalinan/nifas/neonatus/bayi dan balita/KB/kesehatan reproduksi)
Riwayat Kehamilan:
Jumlah Kehamilan (termasuk saat
ini)
Jumlah Persalinan aterm
Jumlah Abortus
Jumlah Anak Hidup
:
:
:
:
Objektif
Tekanan Darah
Nadi
Pernapasan
Suhu
:
:
:
:
Berat Badan sebelum hamil
Berat Badan sekarang
Tinggi Badan
Lila
IMT
:
:
:
:
:
a. Pemeriksaan Fisik (Terfokus)
Inspeksi :
Palpasi :
Auskultasi :
Perkusi : (jika diperlukan)
b. Pemeriksaan Obstetrik (terfokus)
Inspeksi :
Palpasi :
Auskultasi :
Perkusi : (jika diperlukan)
c. Pemeriksaan Ginekologi (terfokus)*jika diperlukan
d. Pemeriksaan Penunjang (terfokus)*jika diperlukan
Analisis :
G......P......A.....
Masalah : (jika ada)
Penatalaksanaan
16
DAFTAR TILIK
ASUHAN KEHAMILAN
17
DAFTAR TILIK
PEMERIKSAAN ANTENATAL
NO Langkah
A SIKAP DAN PERILAKU TERUJI
1 Menyambut pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah.
2 Memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarga
3 Mempersilakan pasien duduk dan komunikatif
4 Tanggap terhadap reaksi pasien dan kontak mata
5 Sabar dan teliti
B ANAMNESIS
1.Menanyakan kepada ibu tentang :
• Keluhan utama
• Riwayat penyakit ibu dan keluarga (yang berkaitan dengan masalah kehamilan)
• Riwayat haid
• Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
• Riwayat kehamilan sekarang
• Riwayat KB
• Riwayat perkawinan
• Pola kehidupan sehari-hari (pola nutrisi, pola eliminasi, pola hubungan seksual, pola istirahat,
pola aktivitas, pola personal hygiene dan kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan ibu
seperti : merokok, obat, jamu dan minuman beralkohol)
• Data psikososial-ekonomi-kultural-spiritual
• Data pengetahuan ibu
C PEMERIKSAAN
1. Memeriksa keadaan ibu yaitu
• Keadaan umum
• Kesadaran
• Tanda – tanda vital (Tensi, nadi, suhu dan pernafasan)
• Tinggi badan
• Berat badan
• LILA
• Memeriksa ukuran panggul luar atas indikasi (primigravida, atau multi dengan bayi kecil : <2000
g)
2. Melakukan pemerikaan fisik pada ibu yaitu:
• Kepala dan muka (Chloasma gravidarum, Rambut, Mata, Hidung, Mulut, dan Telinga)
• Leher (kelenjar tiroid, kelenjar limfe, bendungan vena yugularis)
• Dada dan mamae (tegang, hiperpigmentasi areola, kelenjar montgomery, papila mammae,
kolostrum, sesak nafas, retraksi otot pernafasan, kelenjar limfe pada ketiak, massa dan nyeri
tekan pada mammae)
• Abdomen (luka bekas operasi, membesar, melintang / memanjang, linea nigra, striae
gravidarum, hepar, limpa, ginjal, Palpasi: Leopold I, Leopold II, Leopold III, Leopold IV,
Perasat Osborn bila ada indikasi, Taksiran berat janin, Auskultasi : frekuensi DJJ/menit, teratur /
tidak, letak punctum maximum & jumlah)
• Ekstremitas (Atas : edema, bekas-bekas tusukan jarum, sianosis di bawah kuku, dan Bawah :
edema, varices, sianosis dibawah kuku, homann sign, Refleks patella kanan/kiri).
• Genitalia eksterna & anus (lecet, memar, varises, lesi pada kulit genitalia, vulva, kelenjar bartolin
dan skene, pengeluaran pervaginam, Anus : hemoroid)
D PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Pemeriksaan kadar hemoglobin (kunjungan pertama dan pada usia diatas 28 minggu)
2. Pemeriksaan urine untuk protein dan glukosa
E KESIMPULAN HASIL PEMERIKSAAN
1. Buat kesimpulan hasil pemeriksaan
2. Cantumkan kondisi kehamilan / ibu dan bayi dalam kesimpulan
F PROGNOSIS DAN RENCANA PENATALAKSANAAN
1. Tuliskan prognosis kehamilan berkaitan dengan hasil pemeriksaan yang baru dilakukan.
18
2. Jelaskan tentang kondisi kehamilan dan rencana asuhan antenatal yang akan dijalankan.
3.Sesuai dengan uia kehamilan, ajari ibu mengenai:
a. Nutrisi
b. Olah raga ringan/exercise
c. Istirahat
d. Kebersihan
e. Pemberian ASI
f. KB Pasca salin
g. Tanda-tanda bahaya
h. Aktivitas sexual
i. Kegiatan sehari-hari dan pekerjaan
j. Obat-obatan atau merokok
k. Body mekanik
l. Pakaian sepatu
4.Promosi kesehatan:
a. Memberikan imunisasi TT, jika dibutuhkan
b. Memberikan suplemen zat besi/folat dan menjelaskan bagaimana cara mengkonsumsi serta
kemungkinan efek samping
5. Persiapan persalinan dan kesiagaan komplikasi
a. Memulai membicarakan mengenai persiapan kelahiran (siapa yang akan membantu melahirkan,
tempat melahirkan, peralatan yang dibutuhkan oleh ibu dan bayi, persiapan keuangan)
b. Mengawali membicarakan mengenai persiapan kelahiran dan komplikasi kegawatdaruratan
(sarana transportasi, persiapan biaya, pembuat keputusan dalam keluarga, donor darah)
6. Diskusikan tentang jadwal pemeriksaan dan hasil yang diharapkan dari penatalaksanaan asuhan
antenatal.
7. Jelaskan apabila diperlukan pemeriksaan khusus atau konsultasi ke bidang keilmuan lain.
8. Bila diperlukan, ibu dapat dirujuk ke tenaga ahli dan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap.
9. Beritahu tentang beberapa hal atau gejala klinis penting dalam kehamilan yang menyebabkan ibu
harus melakukan kunjungan ulang.
10. Beritahu tentang fasilitas kesehatan dan system yang ada untuk melakukan rujukan.
11. Pastikan ibu mengerti tentang informasi dan hasil pemeriksaan / diagnosis serta penatalaksanaan
asuhan antenatal.
12. Berikan kartu / buku pemeriksaan ibu hamil, antarkan ibu keluar dan ucapkan salam.
13. Mendokumentasikan asuhan kehamilan
G TEKNIK PELAKSANAAN
1. Teruji menanyakan secara sistematis
2. Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
3. Teruji memberikan perhatian terhadap setiap jawaban
4. Setiap jawaban difolow up dengan baik
5. Teruji mendokumentasikan hasil anamnesa
19
ANAMNESIS IBU HAMIL
N
O
LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU TERUJI
1 Menyambut pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah.
2 Memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarga
3 Mempersilakan pasien duduk dan komunikatif
4 Tanggap terhadap reaksi pasien dan kontak mata
5 Sabar dan teliti
B CONTENT / ISI
1 Menanyakan identitas pasien dan suami/penanggung jawab
2 Menanyakan alasan kunjungan dan keluhan pasien
3 Menanyakan riwayat penyakit pasien yang diderita dahulu, sekarang dan riwayat penyakit keluarga
4 Menanyakan riwayat menstruasi
5 Menanyakan riwayat kehamilan sekarang
6 Menanyakan riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu
7 Menanyakan riwayat perkawinan dan riwayat KB
8 Menanyakan pola nutrisi (makan dan minum)
9 Menanyakan pola eliminasi (BAB dan BAK)
10 Menanyakan pola aktivitas
11 Menanyakan pola istirahat
12 Menanyakan pola personal higiene
13 Menanyakan pola seksual
14 Menanyakan kebiasaan ibu yang merugikan kesehatan
15 Menanyakan respon ibu, suami dan keluarga terhadap kehamilannya
16 Menanyakan mekanisme koping dan pengambilan keputusan utama dalam keluarga
17 Menanyakan hewan peliharaan dan adat istiadat yang berhubungan dengan kehamilan ibu
18 Menanyakan penghasilan per bulan , penolong persalinan yang diinginkan dan tempat persalinan yang
diinginkan
19 Menanyakan keadaan spiritual ibu
20 Menanyakan pengetahuan ibu tentang kehamilan
C TEHNIK PELAKSANAAN
21 Teruji menanyakan secara sistematis
22 Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
23 Teruji memberikan perhatian terhadap setiap jawaban
24 Setiap jawaban difolow up dengan baik
25 Teruji mendokumentasikan hasil anamnesa
20
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG
TANDA – TANDA BAHAYA KEHAMILAN
NO LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU TERUJI
1 Teruji menyambut pasien dan keluarga dgn sopan dan ramah
2 Teruji memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarga
3 Teruji mempersilahkan pasien duduk
4 Teruji menjelaskan maksud dan tujuan penkes
5 Teruji merespon terhadap reaksi klien dengan cepat
B CONTENT / ISI
1 Menyebutkan tanda bahaya kehamilan
2 Menjelaskan tanda-tanda perdarahan pervaginam dalam kehamilan dan pengaruhnya terhadap kehamilan
3 Menjelaskan tentang sakit kepala yang hebat, menetap yang tidak hilang dan pengaruhnya terhadap
kehamilan
4 Menjelaskan tentang masalah penglihatan (pandangan kabur/terbayang) pada kehamilan
5 Menjelaskan tentang nyeri abdomen yang hebat dan pengaruhnya terhadap kehamilan
6 Menjelaskan tentang bengkak pada muka atau tangan dan pengaruhnya terhadap kehamilan
7 Menjelaskan tentang bayi kurang bergerak seperti biasa dan pengaruhnya terhadap kehamilan
8 Menjelaskan untuk segera datang ke klinik jika mengalami tanda-tanda bahaya kehamilan
9 Menanyakan kepada ibu apakah pernah mengalami tanda bahaya tersebut
10 Menanyakan kembali tanda bahaya kehamilan yang telah diterangkan
C TEKNIK PELAKSANAAN
11 Teruji menjelaskan secara sistematis
12 Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
13 Teruji membuka kesempatan untuk bertanya dan diskusi
14 Setiap jawaban difolow up dengan baik
15 Teruji menjelaskan maksud dan tujuan
21
ASUHAN ANTENATAL KUNJUNGAN ULANG
N
O
LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut pasien dengan ramah dan sopan
2. Mempersilahkan pasien untuk duduk dan komunikatif
3. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan
4. Tanggap terhadap reaksi pasien
5. Sabar dan teliti
B ISI/ CONTENT
1 Riwayat kehamilan sekarang
a. Menanyakan bagaimana keluhan klien sejak kunjungan terakhirnya.
b. Menanyakan gerakan janin dalam 24 jam terakhir.
c. Menanyakan informasi tentang masalah atau tanda bahaya yang dialami pasien sejak kunjungan
terakhir.
2 Pendekatan umum untuk pemeriksaan
a. Mengamati penampilan ibu, suasana emosi dan sikap tubuh pasien selama pemeriksaan.
b. Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
c. Melakukan klarifikasi bila diperlukan oleh pasien.
3. Deteksi tanda bahaya
a. Pemeriksaan tekanan darah dan denyut nadi.
b. Pemeriksaan laboratorium (protein urin, glukosa urin, Hb)
c. Pemeriksaan bimanual (bila ada indikasi)
4. Pemeriksaan fisik
a. Mengukur tinggi fundus uteri dengan metode Spiegelberg/ jari-jari tangan/ pita ukur/Mc Donald
(umur kehamilan >12 minggu)
b. Melakukan palpasi abdomen dengan metode leopold untuk mendeteksi kehamilan ganda (umur
kehamilan >28 minggu).
c. Melakukan palpasi abdomen dengan metode leopold untuk mengetahui letak, presentasi, posisi dan
penurunan kepala janin (umur kehamilan >36 minggu).
d. Mendegarkan DJJ dengan fetoskop (umur kehamilan > 18 minggu).
5. Pendidikan kesehatan
a. Menjelaskan ketidaknyamanan selama kehamilan
b. Mendiskusikan dengan ibu mengenai status nutirir, suplementasi dan tetanus toxoid.
c. Mengajarkan ibu tentang perawatan kehamilan sesuai umur kehamilannya : persiapan laktasi,
keluarga berencana, senam hamil, istirahat, nutrisi dan pertumbuhan janin.
d. Mendiskusikan mengenai persiapan persalinan dan kegawat daruratan :
- Persiapan fisik, psikis dan biaya
- Transportasi (rujukan)
- Donor darah
e. Menjelaskan tentamg tanda-tanda bahaya dalam kehamilan
f. Menginformasikan jadwal kunjungan ulang berikutnya.
C TEKNIK
1.
2.
3.
4.
5.
Melaksanakan langkah-langkah atau prosedur secara sistematis
Menggunakan bahasa yanng mudah dimengerti.
Memberikan perhatian pada setiap jawaban.
Setiap jawaban direspon dengan baik
Memberi kesempatan pada setiap jawaban.
22
PEMERIKSAAN PALPASI PADA IBU HAMIL
N
O
LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Menyambut pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dorsal recumbent
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
1 Mencuci tangan
2 Meminta ijin pada ibu bahwa akan melakukan pemeriksaan palpasi
3 Memastikan kandung kemih kosong dan mempersilahkan ibu BAK bila kandung kemih penuh
4 Menghangatkan tangan untuk menyesuaikan dengan suhu pasien
5 Menempatkan peralatan secara ergometris
6 Memasang selimut dan membuka pakaian pasien
7 Mengukur tinggi fundus uteri :
a. menggunakan mid line
b. Diukur dari tepi atas simpisis sampai dengan fundus
c. Diukur dengan cara BUTA (metline dalam keadaan terbalik)
8 Melakukan palpasi Leopold I
a. Memposisikan pasien dengan kaki ditekuk
b. Dengan kedua tangan meraba bagian fundus
9 Melakukan palpasi Leopold II dengan cara tangan diletakkan pada sisi samping kanan dan kiri perut ibu
untuk memeriksa bagian janin apakah yang berada di lateral abdomen ibu (kanan-kiri abdomen)
10 Melakukan palpasi Leopold III dengan satu tangan diraba bagian bawah rahim dan coba untuk
menggoyangkan sedikit
11 Melakukan palpasi Leopold IV
a. memposisikan pasien dengan kaki diluruskan
b. Penguji menghadap kea rah kaki pasien
c. Kedua tangan diletakkan pada kedua sisi bagian bawah rahim
d. Raba dengan sedkit penekanan untuk menilai bagian terendah sudah masuk panggul atau belum
12 Merapikan pasien
13 Memberi tahu hasil pemeriksaan serta mendiskusikannya
14 Membereskan peralatan
15 Mencuci tangan
C PENILAIAN TEKNIK
16 Teruji melaksanakan tindakan secara sistematis
17 Teruji percaya diri dan tidak gugup
18 Teruji memberikan rasa empaty pada keadaan ibu
19 Teruji mendukung ibu untuk kooperatif
20 Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
23
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG
PEMILIHAN TENAGA PENOLONG PERSALINAN YANG AMAN
NO LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Menjelaskan maksud dan tujuan penkes
4. Merespon terhadap reaksi klien dengan tepat
5. Percaya diri, tidak gugup
B CONTENT
1. Menanyakan dan mendengarkan keluhan klien
2. Menjelaskan macam-macam tenaga penolong persalinan yang aman (tenaga kesehatan)
3. Menjelaskan keuntungan bersalin pada tenaga kesehatan
4. Menjelaskan bahaya/kerugian pertolongan persalinan dengan dukun.
5. Menganjurkan ibu agar membicarakan dengan keluarganya untuk bersalin pada tenaga kesehatan
C TEKNIS
1. Menjelaskan secara sistematis
2. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti
3. Memberi kesempatan untuk bertanya
4. Memberikan perhatian terhadap setiap pertanyaan klien
5 Teruji mengadakan kontak mata selama tindakan
24
PEMERlKSAAN FISIK IBU HAMIL
N
O
LANGKAH
A. Sikap dan Perilaku
1. Menjelaskan prosedur yang dilakukan
2. Teruji bersikap sopan
3. Teruji sabar dan teliti
B. Content/Isi
1. Cuci Tangan
2. Memeriksa Keadaan umum
3. Memeriksa Kesadaran
4. Memeriksa Tanda – tanda vital (Tensi, nadi, suhu dan pernafasan)
5. Memeriksa Tinggi badan
6. Memeriksa Berat Badan
7. Memeriksa LILA
8. Memeriksa Kepala dan muka (Rambut, Mata, Hidung, Mulut, dan Telinga)
9. Memeriksa Leher (kelenjar tiroid, kelenjar limfe, bendungan vena yugularis)
10. Memeriksa Dada dan mamae (sesak nafas, retraksi otot pernafasan, kelenjar limfe pada ketiak,
massa dan nyeri tekan pada mammae)
11. Memeriksa Abdomen (luka bekas operasi, hepar, limpa, ginjal)
12. Memeriksa Ekstremitas (Atas : edema, bekas-bekas tusukan jarum, sianosis di bawah kuku, dan
Bawah : edema, varices, sianosis dibawah kuku, homann sign)
13. Memeriksa Genitalia eksterna & anus (lecet, memar, lesi pada kulit genitalia, vulva, kelenjar
bartolin dan skene, pengeluaran pervaginam, Anus : hemoroid)
14. Memeriksa Inspeksi
• Muka : Chloasma gravidarum
• Mammae : tegang, hiperpigmentasi areola, kelenjar montgomery, papila mammae,
kolostrum.
• Abdomen: membesar, melintang / memanjang, linea nigra, linea alba, striae livide, striae
albicans
15. Memeriksa Palpasi
- Leopold I
- Leopold II
- Leopold III
- Leopold IV
16. Memeriksa Auskultasi ( DJJ )
17. Perkusi
Refleks patella kanan/kiri
18. Membereskan alat – alat
19. Cuci Tangan
C. Teknik
1. Teruji melaksanakan secara sistematis.
2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu.
3. Teruji menjaga privacy pasien.
4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien.
25
PEMERIKSAAN PROTEIN URINE
NO LANGKAH
A. Sikap dan Perilaku
1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah
2. Teruji bersikap sopan
3. Menjelaskan prosedur yang dilakukan
4. Teruji sabar dan teliti
B. Prosedur pelaksanaan
1. Cuci Tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Menyaring urine
4. Isilah tabung reaksi dengan urine 2 – 3 cc
5. Panaskan urine diatas lampu spirtus berjarak 2 – 3 cm dari ujung lampu sambil digoyang-goyang
hingga mendidih
6. Kalau urine keruh, tambahkan 4 tetes asam asetat, ini menunjukkan adanya HR dan ini tidak
signifikan untuk protein
7. Kalau urine tetap keruh, panaskan sekali lagi
8. Kalau urine masih tetap keruh berarti ada protein dalam urine
9. Melepaskan sarung tangan dan dimasukkan dalam larutan klorin 0,5 %
10. Merapikan alat – alat
11. Cuci Tangan
C. Teknik
1. Teruji melaksanakan secara sistematis.
2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu.
3. Teruji menjaga privacy pasien.
4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien.
5. Teruji mendukung pasien untuk kooperatif
26
PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN
NO LANGKAH
A. Sikap dan Perilaku
1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah
2. Teruji bersikap sopan
3. Menjelaskan prosedur yang dilakukan
4. Teruji sabar dan teliti
B. Prosedur pelaksanaan
1. Cuci tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Isilah tabung sahli dengan HCL 0,1 % sampai batas angka pada angka 2
4. Tusuk ujung jari dengan lanset steril, bersihkan darah yang pertama keluar dengan kapas kering
5. Gunakan pipet untuk menghisap darah sampai darah mencapai garis warna biru pada tabung atau
angka 20 mm
6. Masukkan pipet ke dalam tabung Sahli kemudian keluarkan darah sambil menarik pipet keluar
7. Aduk HCL dengan darah sampai benar-benar tercampur
8. Masukkan aquades tetes demi tetes kedalam tabung sahli, aduk kembali setelah ditetesi sampai
warnanya sama dengan warna standart
9. Baca permukaan darah menunjukkan angka berapa, itulah kadar Hb
10. Merapikan alat – alat
11. Cuci Tangan
C Teknik
1. Teruji melaksanakan secara sistematis.
2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu.
3. Teruji menjaga privacy pasien.
4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien.
5. Teruji mendukung pasien untuk kooperatif
27
PEMERIKSAAN GLUKOSA URINE
NO LANGKAH
A Sikap dan Perilaku
1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah
2. Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
3. Teruji memposisikan dengan baik
4. Teruji tanggap terhadap reaksi ibu
5. Teruji sabar dan teliti
B Prosedur pelaksanaan
1. Cuci Tangan
2. Memakai sarung tangan
3. Menyaring urine
4. Isilah dua tabung reaksi dengan peraksi Benedict masing-masing 2,5 cc
5. Masukkan urine pada salah satu tabung tersebut sebanyak 4 tetes.
6. Panaskan diatas lampu spirtus sampai mendidih, biarkan dingin
7. Bandingkan dengan tabung yang lain dan lihat perbedaanya
8. Melepaskan sarung tangan dan dimasukkan ke dalam larutan klorin 0,5 %
9. Merapikan alat – alat
10. Mencuci tangan
C. Teknik
1. Teruji melaksanakan secara sistematis.
2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu.
3. Teruji menjaga privacy pasien.
4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien.
5. Teruji mendukung pasien untuk kooperatif
28
PEMERIKSAAN PANGGUL LUAR
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah
2. Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan
3. Teruji memposisikan dengan baik
4. Teruji tanggap terhadap reaksi ibu
5. Teruji sabar dan teliti
B. CONTENT
6. Mencuci tangan
7. Meminta ijin
Melakukan pengukuran panggul luar terdiri dari
8. distansia spinarum dengan mengukur jarak spina iliaca anterior superior sisnitra dan dextra ( 24 – 26 cm
)
9. Distansia cristarum dengan mengukur jarak terpanjang antara dua tempat yang simetris pada crista iliaca
sinitra dan dextra ( 28 – 30 cm )
10. Konjugata eksterna dengan mengukur jarak antara bagian atas simpisis ke prosesus spinosus lumbal V (
18 cm )
11. Lingkar panggul luar dengan mengukur dari pertengahan spina iliaca anterior superior lumbal 5 ke
tepi atas simphisis ( 80-90 cm )
12. Mengembalikan posisi ibu senyaman mungkin
13. Memberitahukan hasil pengukuran dan mendiskusikan
14. Membereskan alat-alat
15. Mencuci tangan
C. TEKNIK
16. Teruji melakukan secara sistematis
17. Teruji menggunakan bahasa yang dimengerti
18. Teruji memberikan rasa empaty pada ibu
19. Setiap jawaban di follow up dengan baik
20. Teruji mendokumentasikan dengan baik
29
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TABLET FE
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Mempersilahkan pasien duduk
4. Menjelaskan maksud dan tujuan pendkes
5. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat
B. CONTENT
6. Melakukan apersepsi
7. Menjelaskan kondisi/permasalahan pasien yang kekurangan zat besi
8. Menjelaskan pengertian zat besi
9. Menjelaskan kegunaan zat besi
10. Menjelaskan tablet yang mengandung zat besi
11. Menjelaskan kebutuhan / dosis perhari
12. Menjelaskan kebutuhan /dosis selama kehamilan
13. Menjelaskan waktu minum tablet zat besi
14. Menjelaskan cara minum tablet zat besi / penyimpanan tablet zat besi
15. Menjelaskan efek samping tablet zat besi
16. Menjelaskan bahan makanan yang mengandung zat besi
17. Menjelaskan bahan makanan yang membantu penyerapan zat besi (vit C,B 12 )
18. Menjelaskan bahan makanan yang menghambat penyerapan zat besi (teh, kopi, susu )
19. Menjelaskan cara mengolah makanan sehingga zat besi yang terkandung didalamnya tidak banyak yang
hilang
20. Melakukan evaluasi
C. TEKNIK
21. Menjelaskan secara sistematis
22. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti
23. Memberi kesempatan untuk bertanya
24. Menjelaskan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
25. Memberikan perhatian terhadap setiap pertanyaan klien
26. Teruji mengadakan kontak mata selama tindakan
30
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PERSIAPAN PERSALINAN
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Mempersilahkan pasien duduk
4. Menjelaskan maksud dan tujuan pendkes
5. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat
B. CONTENT
6. Melakukan apersepsi
7. Menjelaskan tanda-tanda persalinan
8. Menayakan dan mendengarkan tentang sejauh mana persiapan klien
9. Menjelaskan tempat persalinan yang aman
10. Menjelaskan macam-macam tenaga kesehatan penolong persalinan
11. Menjelaskan bagaimana transportasi ketempat persalinan
12. Menjelaskan siapa saja yang sebaiknya mendampingi saat persalinan
13. Menjelaskan persiapan biaya persalinan
14. Menjelaskan hal-hal yang harus disiapkan untuk mengan-tisipasi kemungkinan kegawatdaruratan (uang,
donor darah)
15. Menjelaskan siapa sebagai pengambil keputusan utama dalam keluarga jika terjadi kegawatdaruratan dan
siapa sebagai pe-ngambil keputusan jika pengambil keputusan utama tidak ada
16. Melakukan evaluasi
C. TEKNIK
17. Menjelaskan secara sistematis
18. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti
19. Memberi kesempatan untuk bertanya
20. Menjelaskan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
21. Memberikan perhatian terhadap setiap pertanyaan klien
22. Teruji mengadakan kontak mata selama tindakan
31
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KETIDAKNYAMANAN LEUKORRHEA PADA IBU
HAMIL
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk
2. Memperkenalkan diri pada klien
3. Menjelaskan maksud dan tujuan penkes
4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat
5. Menjaga privacy pasien
B. CONTENT/ISI
6. Menanyakan keluhan pasien
7. Menjelaskan kondisi atau permasalahan pasien yang mengalami ketidaknyamanan karena keputihan
8. Menjelaskan penyebab keputihan pada kehamilan
9. Menjelaskan cara meringankan atau mencegah keputihan (diperjelas secara terinci)
10. Menjelaskan untuk menghindari pencucian vagina (douching)
11. Menganjurkan pada ibu unuk memakai celana dalam dari bahan katun dan tidak ketat
12. Menjelaskan cara cebok yang benar yaitu dari arah depan ke belakang
13. Menjelaskan tanda-tanda bahaya yang disebabkan keputihan
14. Melakukan evaluasi
15. Menganjurkan pasien untuk control kembali bila ada keluhan
C. TEKNIK
16. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content)
17. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif
18. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik
19. Percaya diri dan tidak ragu
20. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
32
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KONSTIPASI PADA IBU HAMIL TRIMESTER III
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Menjelaskan maksud dan tujuan penkes
4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat
5. Menjaga privacy pasien
B. CONTENT
6. Apersepsi
Menjelaskan bahwa masalah perut kembung lazim dialamai oleh ibu hamil
7. Menjelaskan permasalahan yang dirasakan klien karena peningkatan hormone progesterone
8. Menjelaskan kondisi permasahan klien karena disebabkan relaksasi otot-otot halus
9. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien disebabkan penyerapan air dari kolon meningkat
10. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien karena disebabkan tekanan dari uterus yang membesar pada
usus
11. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien karena akibat mengkonsumsi zat besi
12. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien karena akibat kurang bergerak/aktifitas yang kurang
13. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan intake cairan yang cukup
14. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan makan makanan yang berserat
15. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan minum cairan dingin atau hangat terutama waktu perut
kosong
16. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan istirahat cukup
17. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan senam/exercise
18. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan menganjurkan menggunakan laksatif ringan bila ada
indikasi (BAB > 3 hari)
19. Melakukan evaluasi
20. Menyampaikan pada klien datang sewaktu-waktu bila masih ada keluhan
C. TEKNIK
21. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content)
22. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif
23. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik
24. Percaya diri dan tidak ragu
25. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
33
PENDIDIKAN KESEHATAN
TENTANG TANDA-TANDA KEHAMILAN
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Menjelaskan maksud dan tujuan konseling
4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat
5. Menjaga privacy pasien
B. CONTENT
6. Menanyakan keluhan pasien
7. Menanyakan bagaimana pengetahuan pasien tentang tanda-tanda kehamilan
8. Menjelaskan pengertian kahamilan
9. Menjelaskan tentang tanda-tanda tidak pasti/dugaan kehamilan ( amenorhoe, mual dan muntah, sering
kencing, payudara membesar, aerola menghitam)
10. Menjelaskan tentang tanda-tanda kemungkinan kehamilan (pembesaran uterus, tes kehamilan positif)
11. Menjelaskan tentang tanda-tanda pasti kehamilan ( DJJ,gerakan janin, USG)
12. Menanyakan kembali pada pasien tentang tanda-tanda kehamilan
13. Menjelaskan kondisi pasien saat ini
14. Memesan untuk kunjungan ulang
15. Mengakhiri pertemuan dengan memberikan salam/ucapan terima kasih
C. TEKNIK
16. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content)
17. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif
18. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik
19. Percaya diri dan tidak ragu
20. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
34
SENAM HAMIL
NO LANGKAH/TINDAKAN
1.
2.
PERSIAPAN ALAT :
a. Matras
b. Bantal
PELAKSANAAN :
PENDAHULUAN
1. Latihan 1 :
a. duduk rileks dengan badan ditopang dengan tangan di belakang
b. kaki di luruskan dengan sedikit terbuka
c. gerakkan kaki kanan dan kiri ke depan dan belakang secara bersama-sama
d. putar persendian kaki melingkar ke dalam dan keluar
e. bila mungkin angkat bokong dengan bantuan kedua tangan dan ujung telapak kaki
f. kembangkan dan kempiskan otot perut
g. kerutkan dan kendorkan otot dubur
h. lakukan latihan tersebut 8 – 10 kali
2. Latihan 2 :
a. sikap duduk tegak dengan badan di sanggga oleh tangan di belakang badan
b. kedua tungkai lurus dalam keadaan rapat
c. tempatkan tungkai kanan diatas tungkai kiri silih berganti
d. kembangkan dan kempiskan otot dinding perut bagian bawah
e. kerutkan dan kendorkan otot liang dubur
f. lakukan gerakan ini 8 – 10 kali
3. Latihan 3 :
a. sikap duduk dengan badan disangga oleh kedua tangan di belakang, tungkai bawah dirapatkan
b. angkat tungkai bawah silih berganti keatas setinggi mungkin
c. tidur telentang dengan kaki dirapatkan
d. kedua tangan disamping / dibawah kepala, angkat tungkai bawah silih berganti kanan dan kiri dengan
tinggi semaksimal mungkin
e. lakukan latihan ini 8 – 10 kali
4. Latihan 4 :
a. sikap duduk tegak bersila
b. tangan diatas bahu dan siku disamping badan
c. lengan diletakan didepan badan (dada)
d. putar keatas, kesamping, kebelakang, dan selanjutnya kembali ke depan dada
e. lakukan latihan ini 8 – 10 kali
5. Latihan 5 :
a. sikap duduk tegak bersila tangan diatas bahu dan siku disamping badan
b. badan tegak rileks dan paha lemas
c. kedua tangan dipersendian lutut
d. tekanlah persendian lutut dengan berat badan sekitar 20 kali
e. badan diturunkan ke depan semaksimal mungkin
6. Latihan 6 :
a. Tidur diatas tempat tidur datar
b. Tungkai disamping badan dengan tungkai bawah di tekuk pada persendian lutut dengan sudut sekitar
80 - 90 derajat
c. Angkat badan dengan topangan pada ujung telapak kedua kaki dan bahu
d. Pertahankan selama mungkin diatas dan selanjutnya diturunkan perlahan – lahan
7. Latihan 7 :
a. sikap tidur telentang
b. badan rileks
c. tangan dan tungkai lurus dengan rileks
d. badan dilemaskan ditempat tidur
e. tangan dan tungkai membujur lurus
35
f. pinggul diangkat miring kekanan dan kekiri sambil melatih otot liang dubur
g. lakukan latihan ini 8 – 10 kali
LATIHAN INTI
1. Latihan 1 :
a. sikap berbaring telentang, kedua lutut ditekuk, dan kedua lengan disamping badan
b. angkat pinggang sampai badan membentuk lengkungan, lalu mengempiskan otot perut, serta
kerutkan otot dubur
c. lakukan latihan ini 8 – 10 kali
d. dilakukan pada usia kehamilan 22 – 25 minggu
2. Latihan 2 :
a. sikap tidur telentang dengan kedua tangan disamping badan
b. tungkai bawah ditekuk
c. tarik nafas perlahan dari hidung serta pertahankan dalam paru beberapa saat
d. bersamaan dengan tarikan nafas tersebut, tangan berada diatas perut ikut sertakan diangakat
mencapai kepala.
e. Keluarkan nafas perlahan melalui mulut perlahan.
f. Tangan yang diangkat ikut diturunkan.
g. Lakukan gerakan ini 8 – 10 kali dengan tangan silih berganti.
h. Dilakukan pada usia kehamilan 22 – 25 minggu
3. Latihan 3 :
a. sikap tubuh merangkak, bersikap tenang dan rileks.
b. Badan disangga pada persendian bahu dan tulang paha.
c. Lengkungkan dan kendorkan tulang belakang
d. Kembangkan dan kempiskan otot dinding perut.
e. Kerutkan dan kendorkan otot liang dubur
f. Lakukan latihan ini 8 – 10 kali
4. Latihan 4 :
a. Sikap berdiri tegak
b. Lakukan gerakan jongkok perlahan ,badan tetap lurus lalu tegak berdiri perlahan.(pada mula
berlatihagar tidak terjatuh boleh berpegangan misal pada sandaran kursi )
c. Lakukan sebanyak 8 kali
d. Gerakan ini dilakukan pada kehamilan 31 – 34 minggu
5. Latihan 1 :
a. Posisi badan tidur telentang, kedua lutut dipegang oleh kedua tangan (posisi litothomi) rileks.
b. Buka mulut sedikit dan bernafaslah sedalam – dalamnya, lalu tutup mulut
c. Latihan mengejan seperti BAB kearah bawah depan.
d. Dilakukan 4 kali interval 2 menit
LATIHAN PENENANGAN DAN RELAKSASI
1. Latihan penenangan :
a. Berbaring miring kearah punggung janin, misal kekiri maka lutut kanan diletakkan di depan lutut kiri
dan kedua lutut ditekuk
b. Tangan ditekuk didepan badan sedangkan tangan kiri di belakang badan
c. Latihan selama 5 – 10 menit
2. Latihan relaksasi :
a. Posisi badan : tidur miring / telentang / telentang dengan kedua tungkai ditekuk / duduk bersandar
di kursi
b. Tutuplah mata
c. Lemaskan seluruh otot badan termasuk muka
d. Pilih tempat yang tenang
e. Pusatkan pikiran pada satu titik, misal pada irama pernafasan
f. Pilih posisi relaksasi yang paling disenangi
36
DAFTAR TILIK
ASUHAN PERSALINAN
37
PENGISIAN PARTOGRAF
N
O
LANGKAH
1 Nama, umur ibu
2 Gravida, para, abortus
3 Tanggal dan waktu mulai dirawat
4 Waktu pecahnya ketuban
5 Waktu mulainya kenceng-kenceng
6 DJJ
7 Air ketuban
8 Penyusupan (Moulase) kepala janin
9 Pembukaan serviks
10 Penurunan bagian terendah janin
11 Waktu (jam) pemeriksaan
12 Kontraksi uterus
13 Pemberian oksitosin
14 Pemberian obat dan cairan IV
15 Nadi
16 Tekanan darah
17 Suhu
18 Urin
38
EPISIOTOMI LATERALIS
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan perkenalan
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sopan, sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
6 Memakai celemek
7 Mencuci tangan dengan sabun
8 Memakai sarung tangan
9 Membersihkan vulva
10 Memberitahu dan menjelaskan ibu akan disuntik daerah perineum
11 Menyuntikkan lidokaine dibawah kulit perineum, terus kejaringan dibawahnya
12 Memastikan bahwa anastesi sudah bekerja
13 Melindungi daerah dalam perineum dengan jari telunjuk dan tengah tangan kiri
14 Melakukan insisi dengan gunting episiotomi yang tajam pada komisura posterior kearah serong ke kanan
atau ke kiri kurang lebih 3 cm (saat ada his)
15 Menekan dengan kasa daerah insisi perineum
16 Membereskan alat dan rendam ke larutan clorin 0,5%
17 Mencuci tangan
C. TEKNIK
18 Teruji melaksanakan secara sistematis
19 Teruji menjaga privacy pasien
20 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien
21 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
22 Teruji mendokumentasikan hasil
39
PENATALAKSANAAN KALA II
N
O
LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan perkenalan
Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sopan, sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
6 Memakai celemek
7 Mencuci tangan
8 Memasang handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi
9 Memasang sepertiga kain bersih dibawah bokong
10 Membuka partus set
11 Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan
12 Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang
dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak
menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan.
13 Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir
14 Dengan lembut menyeka muka, mulut, hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih
15 Memeriksa lilitan tali pusat pada leher bayi
16 Menunggu putaran paksi luar secara spontan
17 Memegang kepala dengan kedua tangan secara biparietal
18 Melahirkan bahu depan dengan cara menarik ke bawah
19 Melahirkan bahu belakang dengan cara menarik keatas
20 Pindahkan tangan kanan untuk menyangga kepala, leher dan bahu belakang
21 Pindahkan tangan kiri untuk menyusur pada lengan bayi, dada dan punggung, bokong sampai kedua kaki
lahir
22 Dengan cara memegang bayi, tangan kiri diantara kedua kaki bayi dan tangan kanan memegang kepala,
posisikan kepala bayi 150 untuk menilai apgar
23 Meletakkan bayi diatas perut ibu, tutup dengan handuk, usap bagian kepala, badan dan eksteremitas sampai
bayi menangis keras.
24 Menjepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Urut tali pusat kearah plasenta mulai dari
klem 1 kemudian dijepit dengan klem 2 kira-kira 2 cm
25 Memotong tali pusat diantara kedua klem dengan tangan kiri melindungi bayi dari gunting
26 Mengganti handuk yang basah dan membungkus kepala dan tubuh bayi dengan kain kering dan bersih
27 Menyusukan bayi pada ibu
28 Membereskan alat-alat, masukkan dalam klorin, membersihkan tempat tidur
29 Memposisikan ibu dengan meluruskan kaki, menutup bagian genetalia dengan kain bersih
30 Mencuci tangan dalam larutan clorin 0,5%, melepas sarung tangan dan merendamnya, cuci tangan di air
mengalir
C. TEKNIK
31 Teruji melaksanakan secara sistematis
32 Teruji menjaga privacy pasien
33 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien
34 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
35 Teruji mendokumentasikan hasil
40
MANAJEMEN AKTIF KALA III
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan perkenalan
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sopan, sabar dan teliti
SCORE : 10
B. CONTENT/ISI
6 Memakai celemek dan mencuci tangan
7 Meletakkan kain bersih di atas perut ibu, kemudian meraba abdomen untuk memastikan tidak ada janin
kedua
8 Memakai sarung tangan DTT
9 Menjelaskan kepada ibu mengenai tujuan pemberian injeksi oksitosin yang akan diberikan
10 Memberi injeksi oksitosin 10 IU pada bagian lateral paha ibu, kira-kira 1-2 lebar tangan diatas lutut
(sepertiga atas paha), setelah diaspirasi lebih dulu untuk memastikan tidak kena pembuluh darah
11 Meletakkan klem dari ujung tali pusat kira-kira 5-10 cm dari vulva
12 Meletakkan tangan kiri dengan posisi miring di atas sympisis, tangan kanan memegang tali pusat
(Pelepasan plasenta)
13 Apabila plasenta lepas (Tali pusat memanjang), pindah klem dalam posisi 5 cm di depan vulva.
14 Saat uterus berkontraksi lakukan peregangan tali pusat terkendali dengan lembut, bergerak mengikuti
kurva, tangan kiri diatas symphisis mendorong bagian bawah rahim kearah dorsokranial
15 Saat plasenta sebagian keluar dari vulva, pegang plasenta dan telungkupkan, putar searah
16 Setelah plasenta lahir, lakukan masase sampai uterus berkontraksi keras
17 Mengajari ibu untuk masase uterus untuk mempertahankan kontraksi
18 Memeriksa kelengkapan plasenta (Kotiledon, kulit ketuban), serta bentuk dari elemen plasenta serta ukuran
tali pusat
19 Masukkan plasenta pada tempat yang tersedia
20 Memeriksa laserasi jalan lahir
21 Memasukkan alat-alat kedalam larutan klorin 0,5%
22 Pasien diposisikan seperti semula (Meluruskan kaki) dan mengganti pakaian yang bersih
23 Mencuci tangan kedalam larutan clorin 0,5% dan kemudian sarung tangan dalam keadaan terbalik dan
merendammnya
24 Mencuci tangan dengan air mengalir dan mengeringkannya
25 Memberi selamat kepada pasien
SCORE : 40
C. TEKNIK
26 Teruji melaksanakan secara sistematis
27 Teruji menjaga privacy pasien
28 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien
29 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
30 Teruji mendokumentasikan hasil
SCORE : 10
TOTAL SCORE : 60
41
KONSELING POSISI MENERAN YANG DIANJURKAN DALAM PERSALINAN
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Menjelaskan maksud dan tujuan konseling
4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat
5. Menjaga privacy pasien
B. ISI
6. Teruji menanyakan dan mendengarkan keluhan
7. Teruji menjelaskan macam-macam posisi dalam persalinan
8. Teruji menjelaskan keuntungan posisi duduk/setengah duduk
• memberikan rasa nyaman bagi ibu
• memberikan kemudahan untuk istirahat diantara kontraksi
• gaya gravitasi dapat membantu mempercepat kelahiran
9. Teruji menjelaskan keuntungan posisi merangkak
• mengurangi rasa nyeri pada punggung saat persalinan
• membantu bayi melakukan rotasi
• peregangan perineum lebih sedikit
10. Teruji menjelaskan keuntungan posisi jongkok atau berdiri
• membantu penurunan kepala bayi
• memperbesar dorongan untuk meneran
• mengurangi rasa nyeri
11. Teruji menjelaskan keuntungan posisi berbaring miring kiri
• memberi rasa santai pada ibu yang letih
• memberi oksigenasi yang baik bagi bayi
• membantu mencegah terjadi laserasi perineum
12. Teruji melakukan evaluasi
C. TEKNIK
13. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content)
14. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif
15. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik
16. Percaya diri dan tidak ragu
17. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
42
DAFTAR TILIK
ASUHAN NIFAS
43
ANAMNESIS IBU NIFAS
NO LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah
2. memperkenalkan diri pada pasien
3. Mempersilakan pasien duduk
4. Teruji menjelaskan maksud dan tujuan
5. Teruji merespon keluhan pasien
B PENILAIAN CONTENT / ISI
6. Menanyakan keluhan atau apa yang dirasakan ibu
7. Menanyakan mengenai siapa yang menolong persalinan
8. Menanyakan komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan setelah persalinan.
9. Menanyakan jenis persalinan (spontan, vacum, seksio)
10. Menanyakan episiotomi
11. Menanyakan ibu kapan dan bagaimana cara membersihkan vulva
12. Menanyakan tentang pola istirahat ibu
13. Menanyakan tentang pola aktivitas dan latihan fisik (mobilisasi, senam nifas / olah raga)
14. Menanyakan eliminasi ibu
15. Menanyakan riwayat diet, apa yang ibu makan dan porsinya
16. Menanyakan apakah ibu mengkonsumsi zat besi
17. Menanyakan apakah ibu mengkonsumsi vitamin A
18. Menanyakan apakah ibu mengkonsumsi obat-obat lain
19. Menanyakan pengeluaran pervaginam
(warna, bau, jumlah)
20. Menanyakan apakah sudah memberikan ASI pada bayinya
C TEKNIK
21. Teruji menjelaskan secara sistematis
22. Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
23. Melakukan kontak mata dengan pasien
24. Teruji melaksanakan dengan percaya diri & tidak ragu-ragu
25. Mendokumentasikan hasil anamnesa
44
PEMERIKSAAAN FISIK IBU NIFAS
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan perkenalan
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sopan, sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
1 Mencuci tangan
2 Mengatur posisi klien, anjurkan ibu untuk berbaring terlentang di atas tempat tidur pemeriksaan dengan santai.
3 Memeriksa Keadaan umum, kesadaran, dan tanda – tanda vital
4 Memeriksa kepala :
• Keadaan kulit kepala dan rambut
• Keadaan muka : mata, hidung, telinga dan mulut
• Periksa leher : kelenjar limfe, kelenjar thyroid, dan vena jugularis
5 Memeriksa dada :
Dada : simetris, pernafasan, retraksi dinding dada, auskultasi pada saluran pernafasan
6 Payudara dan axilla :
Ibu diminta berbaring dengan lengan di atas kepala, kemudian lakukan palpasi payudara secara sistematis
sampai axilla, catat adanya massa, benjolan yang membesar, pembengkakan atau abses.
7 Perhatikan bagian areola dan papilla untuk dilihat kondisinya (kering, pecah, pendek, rata).
8 Apakah ada bagian yang nyeri tekan.
9 Perhatikan pengeluaran ASI
10 Periksa abdomen :
Periksa keadan perut, hati dan limpha, Pastikan tinggi fundus uterus dan kontraksi uterus, Periksa keadaan
kandung kemih, Periksa distansia recti abdominis, Periksa pinggang (waspadai infeksi pada saluran
urinaria )
11 Periksa eksterimitas bawah :
1. Periksa kaki untuk vena varises, kemerahan dan edema pada betis, tulang kering, pergelangan kaki.
2. Tekuk kedua kaki untuk diperiksa nyeri betis (tanda Homan
12 Bantu ibu pada posisi lithotomi untuk pemeriksaan genetalia dan perineum. ( Berikan kenyamanan dan privasi
kepada ibu selama Pemeriksaan)
• Kenakan handscoen steril
• Periksa vulva, uretra, vagina dan perineum untuk penyembuhan dari laserasi atau penjahitan episiotomi. (
Luka yang masih basah terasa nyeri, perhatikan adakah pus / nanah )
• Perhatikan warna, konsistensi dan bau dari lokhea Melepaskan sarung tangan dan menempatkan sarung
tangan pemeriksaan di dalam larutan desinfektan.
• Perhatikan prinsip septik dan aseptik.
13 Beritahu ibu mengenai hasil pemeriksaan.
Jelaskan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh ibu.
14 Memberikan pendidikan kesehatan sesuai kebutuhan ibu
15 Mencuci tangan
C. TEKNIK
1 Teruji melaksanakan secara sistematis
2 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien
3 Memperhatikan prinsip aseptic dan antiseptik
4 Menjaga privacy
5 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
6 Teruji mendokumentasikan hasil
45
PERAWATAN PERINEUM DAN VULVA
N
O
LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah
2. Memperkenalkan diri
3. Memberitahu klien bahwa perineumnya akan dirawat /diobati
4. Teruji memposisikan pasien dengan tepat
5. Teruji menjaga privacy pasien
B CONTENTS/ISI
6. Mendekatkan alat-alat
7. Mencuci tangan dengan sabun
8. Memposisikan klien, sikap dorsal recumben
9. Memasang alas bokong
10. Meminta pasien untul melepaskan celana dalam klien, membuang pembalut
11. Memakai sarung tangan
12. Mengambil kapas DTT membersihkan labia kanan
13. Mengambil kapas DTT membersihkan labia kiri
14. Mengambil kapas DTT membersihkan vestibulum
15. Mengambil kapas DTT membersihkan perineum
16. Mengambil kapas DTT membersihkan anus
17. Mengeringkan dengan kasa bersih dan kering
18. Memperhatikan tanda-tanda infeksi
19. Memberikan obat pada luka perineum
20. Memasang celana dalam dan pembalut yang kering dan bersih
21. Mengambil alas bokong
22. Merapikan klien
23. Membereskan alat
24. Mencuci sarung tangan dilarutkan klorin 0,5% dan melepaskan secara terbaik
25. Mencuci tangan dengan sabun
26. Menginformasikan hasil pemeriksaan
C TEKNIK
27. Melaksanakan secara sistimatis
28. Melakukan komunikasi dengan pasien
29. Merespon pasien terhadap
30. Memperhatikan prinsip pencegahan infeksi
31. Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
46
CARA MENYUSUI YANG BENAR
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan perkenalan
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sopan, sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
1 Mencuci tangan
2 Menjelaskan pada ibu tentang prinsip utama dalam menyusui sesuai kebutuhan ibu (pola
menyusui/durasi menyusui/waktu menyusui)
3 Sebelum mulai menyusui, menganjurkan ibu untuk memposisikan diri senyaman mungkin
(duduk/setengah duduk/tidur)
4 Menjelaskan dengan sabar beberapa posisi menyusui yang dapat dipilih ibu
5 Meminta ibu untuk mengeluarkan sedikit ASI dan mengoleskannya ke daerah puting
6 Memposisikan bayi sesuai dengan posisi yang dipilih ibu
* posisi setengah duduk (laidback position)
a. meletakkan bayi diatas perut ibu (perut bayi menempel pada perut/badan ibu)
b. kepala bayi disangga oleh lengan ibu
c. kepala bayi menghadap ke arah payudara (telinga, bahu dan lengan bayi seperti garis lurus)
* posisi tidur miring
a. meletakkan bayi sedekat mungkin dengan ibu
b. bayi dihadapkan ke perut ibu (perut bayi menempel dengan perut ibu)
c. dagu bayi menempel pada payudara ibu
(telinga, bahu dan lengan bayi seperti garis lurus)
d. tangan ibu menahan punggung bayi dengan lembut
* posisi rugby ball
a. meletakkan bantal penyangga di samping kanan/kiri tubuh ibu
b. meletakkan bayi diatas bantal, dibawah lengan ibu (kepala bayi berada di depan payudara/ menghadap
payudara)
c. tangan kanan ibu menopang leher dan kepala bayi (bila bayi menyusu di payudara kanan, begitu juga bila
sebaliknya)
7 Mengajari ibu cara perlekatan bayi terhadap payudara yang baik
a. memposisikan hidung atau sisi mulut atas bayi berlawanan dengan puting (sisi atas mulut bayi
berada tepat dibawah puting, sehingga bayi dapat mencium puting)
b. tunggu hingga bayi membuka mulut nya dengan lebar (bila dibutuhkan, rangsang bagian atas bibir
bayi dengan puting)
c. saat bayi membuka mulutnya dengan lebar, beri sedikit dorongan pada kepala bayi dengan
lembut untuk mendekat ke arah payudara, sehingga mulut bayi terisi penuh oleh bagian
payudara)
8 Mengajari ibu untuk mengenali posisi dan perlekatan menyusui yang efektif/baik *perlekatan yang
tepat : dagu bayi menempel pada payudara ibu, bagian areola atas lebih banyak terlihat dari pada
areola bawah, tidak ada suara “kecapan” pada saat bayi menghisap payudara ibu, ibu tidak merasa
nyeri/perih pada bagian puting
*posisi yang tepat : pada posisi menyusui miring dan duduk -> telinga, bahu dan lengan bayi seperti
garis lurus
9 Menjelaskan pada ibu tentang bagaimana mengakhiri menyusui (menekan dengan lembut dagu
bayi/memasukkan jari kelingking pada samping kiri atau kanan mulut bayi)
10 Mengajarkan ibu untuk menyendawakan bayi atau bila bayi tertidur, posisikan kepala dalam keadaan
miring agar bayi tidak tersedak
47
11 Cuci tangan
C. TEKNIK
1 Teruji melaksanakan secara sistematis
2 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien
3 Memperhatikan prinsip aseptic dan antiseptik
4 Menjaga privacy
5 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
6 Teruji mendokumentasikan hasil
48
BREAST CARE POST NATAL
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1 Memberi salam dan perkenalan
2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat
4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien
5 Teruji sopan, sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
6 Mencuci tangan
7 Pasien diatur dalam posisi duduk, pakaian atas dan bra dilepas
8 Handuk dipasang di punggung dan di pangkuan pasien
9 Posisi bidan di belakang
10 Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak kelapa
11 Letakkkan kedua tangan diantara kedua payudara
12 Payudara diurut dari bagian tengah ke atas, melingkar kekiri dan kekanan menuju ke bawah
13 Telapak tangan diurutkan kearah depan dan payudara diangkat kemudian dilepaskan perlahan ( dilaksanakan
20 - 30 x )
14 Telapak tangan kiri memegang atau menopang payudara kiri, jari tangan kanan sisi kelingking mengurut
payudara kerah puting susu, dilaksanakan 20 - 30 kali
15 Mengurut payudara dari pangkal menuju putting susu dengan tulang sendi – sendi jari tangan, lakukan 30
kali
16 Payudara dibersihkan dengan washlap menggunakan air hangat dan air dingin, selama kurang lebih 5 menit
17 Keringkan payudara dengan handuk
Bantu ibu memakai bra dan pakaian
18 Cuci tangan
C. TEKNIK
19 Teruji melaksanakan secara sistematis
20 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien
21 Memperhatikan prinsip aseptic dan antiseptik
22 Menjaga privacy
23 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
24 Teruji mendokumentasikan hasil
49
PERAWATAN PAYUDARA DENGAN BENDUNGAN ASI
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk
2. Memperkenalkan diri kepada klien
3. Menjelaskan maksud dan tujuan konseling
4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat
5. Menjaga privacy pasien
B. ISI
1 Menanyakan dan mendengarkan keluhan klien
2 Cuci tangan dengan sabun dan dikeringkan dengan kain bersih/handuk
3 Mengatur posisi ibu senyaman mungkin
4 Melakukan pemeriksaan pada payudara*
(menunjukkan rasa empati dengan reaksi ibu selama proses pemeriksaan)
5 Melakukan pengkajian penyebab pembengkakan payudara secara detail :*
*frekuensi menyusui yang kurang
*bayi diberikan makanan lain (susu formula ataupun makanan lain selain ASI)
*adanya permasalahan pada payudara
*bayi tidak mau menyusu
*Ibu tidak mau menyusui (psikologis ibu)
*Adanya pengaruh sosial-budaya
(menggunakan bahasa non-verbal selama berkomunikasi dengan ibu)
6 Memberikan penjelasan tentang penyebab payudara bengkak dengan bahasa yang mudah dipahami :*
(Keterlambatan memulai menyusui, posisi dan perlekatan menyusui yang kurang tepat, pengeluaran ASI dari
payudara yang tidak sempurna, kurangnya frekuensi menyusui)
7 Memberikan penjelasan cara mencegah pembengkakan payudara dengan bahasa yang mudah dipahami :*
*posisi dan perlekatan bayi tepat
*ketika menyusui, biarkan bayi melepaskan hisapannya sendiri yang berarti bayi telah puas menyusu (jika masih
ada ASI pd payudara, lakukan pemerahan)
*menyusui bayi sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi (on demand)
*jika produksi ASI sangat banyak, lakukan pemerahan ASI (untuk membantu pengosohan payudara secara
sempurna)
8 Menjelaskan pada ibu beberapa metode penatalaksanaan pembengkakan payudara dengan bahasa yang mudah
dipahami*
9 Memberitahu ibu tujuan dan prosedur perawatan payudara dengan bahasa yang mudah dipahami*
10 Melakukan pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit
11 Melakukan pengurutan payudara dari arah pangkal menuju putting susu atau menggunakan sisir untuk
mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting susu
12 Menekanekan dengan lembut area areola diantara puting dengan 5 jari (5 jari membentuk lingkaran) beberapa
saat untuk menstimulasi daerah areola melunak.
13 Melakukan pengeluaran ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi melunak.
Kemudian bersihkan kedua payudara
14 Membantu ibu untuk menyusui bayinya. Apabila bayi tidak dapat mengosongkan ASI dengan sempurna, ASI
dikeluarkan dengan tangan (lihat prosedur pemerahan asi).
15 Meletakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui dan mengeringkan payudara
16 Membereskan alat, merapikan pasien dan cuci tangan
C. TEKNIK
1 Menjelaskan secara sistematis ( disesuaikan urutan di content )
2 Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif
3 Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik
4 Percaya diri dan tidak ragu
5 Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
50
PENDIDIKAN KESEHATAN PERAWATAN PUTING SUSU DATAR/MASUK KE DALAM
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah
2. Memperkenalkan diri dengan pasien
3. Teruji mempersilahkan pasien duduk dan komunikatif
4. Teruji merespon reaksi pasien dengan tepat
5. Teruji menjelaskan dengan sabar dan teliti
B. CONTENT/ISI
1 Mendekatkan alat-alat yang diperlukan
2 Mencuci tangan dengan sabun
3 Membangun kepercayaan diri (confidence) ibu dengan menjelaskan bagaimana bayi menghisap
payudara (bukan puting) saat menyusu dengan penuh empati
4 Menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien
5 Membantu pasien melepaskan pakaian bagian atas
6 memberikan informasi metode yang dapat digunakan untuk membantu proses menyusui
(bantuan alat -nipple shield/nipple shell- dan teknik manual mengeluarkan puting -teknik
hoffman/mengeluarkan puting dg Disposable Syringe-) dengan ramah
7 Membantu mengeluarkan puting ibu dengan penuh empati (pilih metode sesuai kondisi dan
kebutuhan ibu)
a. Dengan disposable syringe ukuran 10 ml
* lepaskan piston pada syringe
* potong ± 1 cm dari mulut syringe menggunakan pisau tajam
* masukkan piston pada sisi syringe yang telah dipotong
* mengajarkan ibu cara penggunaan alat dengan sabar
- instruksikan ibu untuk menempelkan mulut/pangkal syringe pada bagian sekitar puting ,
kemudian menarik piston dengan stabil tetapi lembut (untuk menghisap puting) selama ±
30-60 detik
- instruksikan ibu untuk melepaskan syringe dengan mendorong kembali piston ke posisi
semula secara perlahan (untuk menghindari nyeri akibat pelepasan syringe)
* menjelaskan dengan ramah pada ibu kapan alat ini dapat digunakan
b. Dengan teknik Hoffman
* mengajarkan cara pengeluaran putting dengan teknik Hoffman
- instruksikan ibu untuk meletakkan kedua ibu jari secara berlawanan tepat pada dasar puting
(atas-bawah/samping kanan-kiri)
- kedua ibu jari menekan payudara, secara bersamaan arahkan ibu jari ke sisi yang berlawanan
(untuk meregangkan sehingga puting tertarik keluar)
* menjelaskan dengan ramah pada ibu kapan teknik ini dapat digunakan
8 Membantu ibu dengan sabar untuk menyusui bayinya
9 Mengajarkan dengan sabar cara memerah ASI *apabila dibutuhkan
a. menjelaskan dengan sabar pilihan metode untuk memerah ASI
b. Menyiapkan wadah steril untuk ASI perah
c. Memperagakan pada ibu cara mempersiapkan payudara sebelum memerah ASI (mengurut
lembut payudara dengan jari dari arah pangkal menuju ke areola, dengan 4 jari mengetuk lembut
payudara, menggoyang-goyangkan payudara dengan lembut)
d. menginstruksikan ibu untuk meletakkan ibu jari di bagian atas areola sedangkan jari yang
lain berada di bawah payudara (seperti membentuk huruf C)
e. menginstruksikan ibu untuk menekan dengan lembut pada area tersebut (untuk
mengeluarkan ASI)
f. menjelaskan pada ibu jika aliran ASI sudah berkurang, pindahkan jari ke bagian lain dan
lakukan pemerahan hingga ASI benar-benar tidak keluar
51
g. menjelaskan pada ibu jika ASI tidak mengalir, coba pindahkan jari mendekati atau menjauhi
puting, dan ulangi gerakan memerah dengan lembut
C. TEKNIK
16. Teruji menjelaskan secara sistematis
17. Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
18. Teruji melakukan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
19. Teruji memberi kesempatan pada ibu untuk bertanya
20. Teruji melakukan kontak mata selama pendkes
52
PERLEKATAN IBU DAN BAYI DENGAN MENGGUNAKAN
METODE KANGURU
NO LANGKAH
A. SIKAP DAN PERILAKU
1. Memberi salam dan perkenalan
2. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan
3. Memposisikan pasien dengan tepat, sebelum, selama dan sesudah tindakan
4. Teruji sopan, sabar, dan teliti
5. Teruji tanggap dengan reaksi pasien
B. CONTENT
6. Mencuci tangan
7. Siapkan ibu yaitu ibu sudah dalam keadaan bersih, menggunakan pakaian bersih, dan dada ibu tidak
terhalang oleh BH
8. Siapkan bayi yaitu bayi hanya menggunakan popok, kaos kaki, dan topi bayi
9. Letakkan bayi diantara payudara dengan posisi tegak, dada bayi menempel pada dada ibu
10. Kepala dipalingkan ke sisi kanan atau kiri dengan sedikit tengadah (eksistensi)
11. Tangan dalam fleksi
12. Pangkal paha bayi harus dalam posisi fleksi dan ekstensi seperti posisi “katak”
13. Gunakan pakaian kanguru dengan batas kain atas berada di bawah kuping bayi
14. Ikat dengan kencang agar ibu tetap bias beraktifitas
15. Kenakan pakaian luar ibu sebagai penutup
C. TEKNIK
16. Teruji melaksanakan secara sistematis
17. Teruji menjaga privasi pasien
18. Teruji memberikan perhatian terhadap respon klien
19. Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
20. Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
53
SENAM NIFAS
N
O
KEGIATAN
1. Menyiapkan perlengkapan:
a. Matras
b. Bantal
2. Melakukan pemanasan; berbaring terlentang miring kekiri kemudian kekanan.
3. Latihan Kegel ( untuk otot dasar panggul )
Untuk mengontraksikan pasangan otot-otot ini, bayangkanlah bahwa anda sedang buang air seni dan lalu
anda tiba-tiba menahannya ditengah-tengah. Atau bayangkan bahwa dasar panggul merupakan sebuah
elevator secara perlahan anda menjalankannya sampai lantai 2 lalu kemudian kelantai 3 dan seterusnya, dan
kemudian balik turun secara perlahan. Begitulah cara melatih otot-otot tersebut. Dengan menggunakan
visualisasi dan berkonsentrasi pada otot, angkat dan tarik masuk, tekan dan tahan, kemudian secara
perlahan turunkan dan lepaskan.
4. Pengencangan abdomen Pada penghembusan nafas : (untuk abdomen)
Berbaringlah atau berbaring miring, lutut ditekuk, tangan dibagian perut. Hiruplah perlahan dalam-dalam
sampai merasakan abdomen naik. Pada saat menghembuskan nafas, tariklah otot abdomen kedalam hingga
paru-paru terasa kosong. Hitung sebanyak 3 kali hitungan yang panjang, kemudian lepaskan.
5. Miringkan panggul : (untuk punggung bagian bawah abdomen)
Berbaringlah, dengan lutut dibengkokkan. Putarlah panggul dengan jalan meratakan punggung bagian
bawah sampai ke lantai dengan meniadakan bagian yang berongga. Kontraksikan otot abdomen pada
waktu menghembuskan nafas dan kencangkan pantat. Biarkan panggul miring naik keatas.Tahan selama 3
hitungan panjang kemudian lepaskan
6. Latihan mengangkat kepala
Tarik napas dalam-dalam, angkat kepala sedikit sambil menghembuskan napas, kemudian turunkan kepala
perlahan sambil menarik napas. Angkat kepala lebih tinggi sedikit setiap hari dan secara bertahap usahakan
mengangkat pundak.
7. Sikap merangkak bertumpu pada lutut dan telapak tangan. Gerakkan pinggang ke atas, ke bawah, sambil
kencangkan otot perut.
8. Sikap merangkak bertumpu pada lutut dan telapak tangan. Gerakkan pinggul dan kepala ke kiri dan ke
kanan bergantian.
9. Latihan meregangkan badan
a. Berbaring telentang, kencangkan otot perut, gerakkan lengan di samping badan seolah hendak
menjangkau mata kaki secara bergantian. Luruskan kembali.
b. Berbaring miring. Kencangkan otot perut, gerakkan lengan lurus ke atas kepala dan kaki lurus-lurus
ke bawah sehingga badan membentuk garis lurus.
10. Bahu berputar dan lengan terlantang: untuk postur dan peredaan tegangan punggung bagian atas
Selagi anda duduk, angkat lengan sampai setinggi bahu, siku dibengokkan tangan diatas bahu. Putarlah ke
dua arah. Kemudian angkat ke 2 lengan ke atas kepala, secara bergantian angkat salah satunya lebih tinggi
dari yang lain (seakan sedang memetik buah apel dari pohonnya). Latihan ini juga bisa dilakukan sambil
berdiri
11. Duduk
Letakkan tangan di atas kepala, otot perut dikencangkan ke dalam dan gerakan tubuh ke depan untuk
memegang jari-jari kaki.
12. Latihan Kaki
Mengambil posisi berbaring terlentang, kaki diluruskan dengan sedikit terbuka:
a. Gerakkan kaki kanan dan kiri ke depan dan belakang
b. Putar persendian kaki melingkar kedalam sampai sisi luar kaki menyentuh lantai
c. Putar persendian kaki melingkar keluar sampai sisi luar kaki menyentuh lantai
d. Kedua tungkai bawah lurus dalam posisi rapat, kemudian tempatkan tungkai kanan diatas tungkai
kiri secara bergantian
e. Kedua tungkai bawah dirapatkan, angkat tungkai bawah silih berganti keatas dengan tinggi
semaksimal mungkin
13. Berbaring telungkup
Berbaring dengan bantal di bawah kepala dan sebuah lagi di bawah perut kemudian kencangkan otot perut.
berbaring tidak boleh lebih dari 20 menit.
54
14. Merentang untuk postur abdomen dan kenyamnan
Berbaringlah dengan kaki dinaikkan sedikit diatas bangku pendek, pinggir ranjang atau meja kopi.
Kontraksikan dinding abdomen dan pantat secara perlahan naikkan pinggul menjauh dari lantai hingga
tubuh dan kaki berada dalam satu garis lurus. Jangan bengkokkan punggung. Ingat untuk bernafas.
15. Bereskan perlengkapan yang telah digunakan.
55
DAFTAR TILIK
ASUHAN BAYI BARU LAHIR
DAN NEONATUS
56
PERAWATAN TALI PUSAT
N
O
LANGKAH
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Teruji komunikatif memperkenalkan dengan orang tua bayi
2. Teruji menunjukkan rasa empaty terhadap bayi
3. Teruji tanggap dengan reaksi bayi
4. Teruji bersikap sopan, lembut
5. Teruji cekatan dan teliti
B. CONTENT/ISI
6. Cuci tangan dengan air bersih dan sabun
7. Membuka pakaian bayi
8. Membersihkan tali pusat dengan kasa dan air DTT dari ujung luka ke pangkal
9. Mengeringkan tali pusat dengan kasa kering
10. Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara tanpa ditutupi dengan kasa
11. Lipatlah popok dibawah sisa tali pusat
12. Mengenakan pakaian bayi
13. Membereskan alat-alat
14. Mencuci tangan dengan sabun
15. Menginformasikan hasil tindakan dan memberikan bayi kepada ibu
C. TEKNIK
16. Teruji melaksanakan tindakan secara sistematis dan berurutan
17. Teruji memposisikan bayi dengan tepat dan baik
18. Teruji berkomunikasi dengan ibu bayi secara baik
19. Teruji tetap menjaga kehangatan bayi
20. Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
21. Teruji mendokumentasikan hasilnya
57
MEMANDIKAN BAYI
NO LANGKAH
A SIKAP
1. Teruji menunjukkan rasa empati terhadap bayi
2. Teruji tanggap terhadap reaksi bayi
3. Teruji sabar dan teliti
4. Teruji komunikatif
5. Teruji bersikap lembut
B. CONTENT/ISI
6. Menggunakan celemek
7. Mencuci tangan dengan sabun dan air
8. Menyiapkan keperluan mandi seperti :
a. Bak mandi bayi
b. Handuk 2 (dua) buah
c. Sabun
d. Air hangat
e. Popok atau pakaian bayi
f. Selimut
g. air dingin
h. Kapas basah untuk cebok
i. 2 waslap
j. Celemek
9. Mempersiapkan ruangan dalam keadaan hangat
10. Memeriksa air hangat (hangat-hangat kuku) dalam bak mandi, diperiksa dengan punggung
tangan
11. Melepas pakaian hangat
12. Membersihkan tinja dari daerah pantat sebelum dimandikan agar air mandi tetap segar (bila
ada)
13. Meletakkan bayi pada selembar handuk
14. Membersihkan mata, hidung dan telinga
15. Menyangga kepala bayi sambil mengusapkan air ke muka, tali pusat dan tubuh bayi
16. Menyabuni seluruh badan bayi (dada, tangan, kaki)
17. Mencuci tali pusat dengan air bersih dan sabun, bersihkan dan keringkan seluruhnya
18. Membersihkan alat genetalia (tarik katup ke belakang kemudian dibersihkan)
19. Menempatkan bayi kedalam bak mandi (diangkat dengan perasat garpa), bilaslah sabun
dengan cepat
20. Mengeringkan bayi dengan handuk yang hangat dan kering
21. Menempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering (menyingkirkan handuk
basah ke pinggir)
22. Mengenakan popok, baju bayi dan diselimuti dengan kain bersih dan kering
23. Memberikan bayi kepada ibu untuk disusui
24. Membereskan alat-alat
25. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
C. TEKNIK
26. Teruji melaksanakan secara sistematis
27. Teruji memposisikan bayi dengan tepat dan baik
28. Teruji menjaga keamanan dan keselamatan bayi
29. Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
58
PEMERIKSAAN FISIK BAYI BARU LAHIR
No LANGKAH
A SIKAP
1. Teruji menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada orang tua bayi
2. Teruji memperhatikan keadaan bayi
3. Teruji melaksanakan tindakan dengan lembut dan hati – hati
4. Teruji tanggap terhadap reaksi bayi
5. Teruji sabar dan teliti
B CONTENT/ISI
6. Menggunakan celemek
7. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir
8. Mempersiapkan alat – alat :
a. Thermometer
b. Tissue pembersih dan gelas berisi air sabun
c. Tensimeter bayi
d. Stetoskop
e. Metline
f. Jam tangan
g. Timbangan bayi + alas
h. Penlight/senter
i. Perlak + alas
j. Kapas basah dalam kom
k. Kapas kering dalam kom
l. Set pakaian bayi
m. Selimut bayi
n. Kassa steril dalam kom
o. Bengkok
p. Ember tertutup
q. Tempat sampah
9. Beritahu ibu dan keluarga tentang tujuan pemeriksaan dan prosedur tindakan
10. Menyiapkan alat dan bahan secara ergonomis
11. Memastikan ruangan tempat pemeriksaan hangat
12. Letakkan bayi pada tempat tidur yang datar dan hangat dengan posisi terlentang
13. Lakukan penimbangan berat badan bayi dengan cara meletakkan kain dan atur skala timbangan ke titik
nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi kain pengalas dan pembungkus bayi.
14. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
→ Periksa suhu badan bayi (anus) => pada saat memeriksa genetalia
35,5 – 36,5°C
15. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
→ Periksa laju nafas (respirasi) 40 – 60 x/menit
16. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital
→ Periksa laju jantung/nadi 100 – 160 x/menit
17. Lakukan pengukuran panjang badan 48 – 52 cm
18. Lakukan pengukuran lingkar kepala 32 – 38 cm
19. Lakukan pemeriksaan kulit : Warna, sianosis, ikterus, vernik kaseosa, turgor, tanda lahir, kemerahan,
edema
20. Lakukan pemeriksaan kepala : ukuran, bentuk, fontanel anterior dan posterior, distribusi rambut, warna
rambut
21. Lakukan pemeriksaan mata : simetrisitas, konjungtiva, sclera, kotoran mata, peradangan/kemerahan,
respon mata boneka, reflek kedipan
22. Lakukan pemeriksaan telinga : posisi, lesi, cairan, kotoran, peradangan, respon suara
23. Lakukan pemeriksaan hidung : posisi, pernafasan cuping hidung, kotoran hidung, sisa cairan ketuban
24. Lakukan pemeriksaan mulut : posisi, langit-langit mulut, lidah, tonsil, reflek hisap dan menelan
25. Lakukan pemeriksaan leher : benjolan/pembesaran kelenjar limfe & thyroid, reflek tonik neck (letakkan
bayi dalam posisi terlentang, putar kepala ke satu sisi badan ditahan; ekstremitas pada sisi kemana kepala
59
diputar terekstensi, tapi ekstremitas pada sisi lain terfleksi)
26. Lakukan pengukuran lingkar dada 30 – 36 cm
27. Lakukan pemeriksaan dada : pernafasan dada, bunyi nafas, bentuk dada, puting susu
28. Lakukan pengukuran lingkar lengan bayi
29. Lakukan pemeriksaan ekstremitas atas : simetrisitas, fleksi sempurna, gerakan aktif, trauma
lahir/kecacatan, jumlah jari tangan, grasp reflek
30. Lakukan pemeriksaan perut : bentuk abdomen, bising usus, keadaan tali pusat 3 pembuluh darah : 2 arteri,
1 vena** (tanda-tanda infeksi, perdarahan tali pusat, bersih/kotoran)
31. Lakukan pemeriksaan genitalia & anus (jika bayi BAB/BAK, bersihkan terlebih dulu genitalia dan anus &
ganti popok) : lakukan colok dubur
→ Perempuan : lubang vagina, urethra, labia mayor & labia minor
→Laki-laki : kulit genital, penis lurus (2,8 – 4,3 cm) skrotum sudah turun/belum, lubang penis
Anus : berlubang/tidak (dengan colok dubur sekaligus memeriksa suhu tubuh bayi)
32. Lakukan pemeriksaan ekstremitas bawah : abduksi sempurna,simetrisitas, kelengkapan jari kaki, trauma
lahir, babinsky reflek
33. Lakukan pemeriksaan punggung : lurus, datar, cekungan, adanya kecacatan (spina bifida)
34. Pakaikan kembali baju bayi
35. Bereskan kembali alat-alat
36. Berikan kembali bayi pada ibunya dan jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu
37. Mencuci tangan sesuai prosedur
C TEKNIK
38. Teruji melaksanakan secara sistematis
39. Teruji menjaga kehangatan bayi
40. Teruji percaya diri dan tidak ragu – ragu
41. Teruji menjaga keselamatan bayi
42. Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
60
TANDA BAHAYA BAYI BARU LAHIR
N
O
LANGKAH
A. SIKAP
1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah
2. Memperkenalkan diri kepada inu
3. Mempersilahkan ibu duduk
4. Menjelaskan maksud dan tujuan pendidikan kesehatan
5. Merespon terhadap reaksi ibu dengan cepat
B. CONTENT/ISI
6. Melakukan apersepsi
7. Menjelaskan adanya kesulitan pemberian ASI, sulit menghisap, hisapan lemah
8. Menjelaskan adanya kesulitan bernafas, contohnya > 60 x/menit atau menggunakan otot nafas tambahan
9. Menjelaskan adanya letargi misalnya bayi terus menerusnya tidur tanpa bangun untuk makan
10. Menjelaskan adanya suhu yang abnormal misalnya kulit/bibir biru (cianosis) atau bayi sangat kuning
(terutama pada 24 jam pertama), warna pucat.
11. Menjelaskan adanya suhu yang abnormal misalnya terlalu panas (>38ºC/febris) atau terlalu dingin (< 36º
C/hypothermia)
12. Menjelaskan adanya tangis atau perilaku yang abnormal atau tidak biasa
13. Menjelaskan adanya gangguan gastrointestinal, misalnya tidak buang air besar selama 3 hari pertama setelah
lahir, muntah-muntah terus menerus, muntah dan pembesaran abdominal, feses berwarna hijau
tua/berdarah/lendir, tinja lembek
14. Menjelaskan adanya mata bengkak atau mengeluarkan cairan
15. Melakukan evaluasi
C. TEHNIK
16. Menjelaskan secara sistematis
17. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
18. Teruji melakukan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
19. Memberikan kesempatan untuk bertanya
20. Menggunakan kontak mata selama pendidikan kesehatan
61
VAKSINASI HEPATITIS B
NO KOMPONEN
A SIKAP DAN PERILAKU
1. Menjelaskan kepada orang tua pasien/keluarga tentang maksud, tujuan tindakan,
prosedur tindakan, dan hal-hal yang dialami setelah tindakan
2. Pasien diposisikan dengan tepat
3. Menjelaskan hal-hal yang akan dialami setelah tindakan
4. Sabar dan teliti
5. Bersikap sopan
B PELAKSANAAN:
6. Mencuci tangan
7. Membuka kemasan Vaksin
8. Menghisap vaksin sesuai dengan dosis (0,5 cc)
9. Tempat yang akan disuntik dibersihkan dengan kapas hangat
10. Menyuntik pasien secara IM
11. Merapikan pasien
12. Mengevaluasi respon pasien setelah tindakan
13. Membereskan alat-alat
14. Mencuci tangan
C TEKNIK
15. Teruji melaksanakan secara sistematis
16. Teruji menjaga keselamatan bayi
17. Teruji percaya diri dan tidak ragu – ragu
18. Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
62
DAFTAR TILIK
ASUHAN KEBIDANAN
PATOLOGI
63
PEMBERIAN MGSO4 PADA PEB DAN EKLAMSIA
No. Komponen
A. Aspek Kognitif (Pengetahuan)
1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori
2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis
B. Aspek Efektif (sikap)
3. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya
4. Perlakuan terhadap pasien (phantoom)
5. Persetujuan tindakan medik
C. Aspek Psikomotor (keterampilan)
1. Persiapan
- Petugas
- Pasien
Pelaksanaan :
Dosis Awal
2. MgSO4 g IV sebagai larutan 40% selama 5 menit
3. Segera lanjutkan dengan pemberian 10 g larutan MgSO4 50%, masing-masinh 5 gram di
bokong kanan dan kiri secara IM dalam, ditam,bah 1 ml lignokain 2% pada semprit yang
sama. Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian MgSO4
4. Jika kejang beruloang setelah 15 menit berikan MgSO4 2 gram (larutan 40%)IV selama 5
menit
Dosis Pemeliharaan
5. MgSO4 1-2 gram 40% perjam, per infuse, 15 tetes / menit atau 5 gram MgSO4 40 IM tiap 4
jam
6. Lanjutkan pemberian MgSO4 sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang berakhir
Sebelum Pemberian MgSO4, periksa :
7. Frekuensi pernafasan minimal 16 per menit
8. Refleks patella (+)
9. Urin minimal 30 ml / jam dalam 4 jam terakhir
Berhentikan Pemberian MgSO4 Jika :
10. Frekuensi pernafasan < 16 / menit
11. Refleks patella (-)
12. Urin < 30 ml / jam dalam 4 jam terakhir
Siapkan Antidotum
13. Jika terjadi henti napas: lakukan ventilasi (masker, balon, vebtilator) beri kalsium glukonat 1
gram (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan--lahan sampai nafas mulai lagi
64
PERSALINAN SUNGSANG
No. Komponen
1. Persiapan alat
Perangkat untuk persalinan, perangkat untuk resusitasi bayi, uterotonika (ergomentrin meleat,
oksitoksin), anestesi local (lidokain 2%). Cunam piper / cunam panjang, semprit dan jarum
no 23 (sekali pakai), alat-alat infuse 10%, perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi
2. Persiapan Pasien
Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan, mengosongkan kandung kemih,
rectum serta membersihkan daerah perineum dengan antiseptic
3. Persiapan Petugas
Pakai baju dan alaskaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung., cuci tangan hingga
siku dengan sabun di bawah air mengalir, keringkan dengan handuk DTT, pakai sarung
tangan DTT / steril, memasang duk (kain penutup)
4. Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan
bokong serta kemungkinan adanya penyulit
5. Instruksikan pada pasien agar mengedan dengan benar selama ada his
6. Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong
membuka vulva dan perineum sudah tipis
7. Melahirkan bayi :
a. Cara Bracht
- Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkeram secara bacht (kedua ibu jari
penolong sejajar dengan paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
Sementara langkah ini dilakukan, seorang asisten melakukan parasat Wigand M.
Wingkel
- Jangan melakukan intervensi, ikuti saja proses keluarnya janin. Bila terjadi hambatan
pada tahapan setinggi scapula, bahu atau kepala maka lanjutkan dengan metode
manual aid yang sesuai
- Longarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada
- Lakukan hiperlordosis janin pada saat angulus scapula inferiortampak dibawah
simifisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung bayi didekatkan
kearah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi.
- Gerakkan kea rah hingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala. Pada umumnya
bayi dengan presentasi bokong memerlukan perawatan segera setelah lahir sehingga
siapkan keperluan tersebut sebelum memimpin persalinan
- Letakkan bayi di perut ibu, bungkus “bayi dengan handuk hangat, bersihkan jalan
nafas bayi oleh asisten, tali pusat dipotong .
- Setelah asuhan bayi baru lahir, berikan pada ibu untuk laktasi kontak dini.
b. Cara Klasik
Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan cara Brancht bahu dan
tangan tidak bias lahir.
Prosedur :
- Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan
kaki lahir.
- Tali pusat dikendorkan
- Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas.
- Dengan tangan kiri dan menariknua kea rah kanan atas ibu, untuk melahirkan bahu
kiri bayi yang berada di belakang.
- Dengan tangan kanan dan menariknya kearah kiri atas ibu untuk melahirkan nbahu
kanan bayi yang berada di belakang
- Masukkan dua jari tangan kanan kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan
lengan bayi, untuk melahirkan lengan belakang bayi.
- Setelah bahu dan lengan belakang lahir, kedua kaki ditarik kearah bawah kontra
lateral ada langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan
dengan cara yang sama.
c. Cara Muller
Pengeluaran bahu dan tangan secara muller dilakukan jika dengan cara Brancht bahu dan
65
tangan tidak bias lahir
- Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara
yang sama seperti klasik, kearah belakang kontra lateral dari letak bahu depan.
- Setyelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk
melahirkan bahu dan lengan belakang.
d. Cara Lovset (dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang nuchal arm)
- Setelah bokong dan kaki bayi lahir, memgang bayi dengan kedua tangan
- Memutar bayi 180 derajat dengan lengan bayi yang terjungkit kea rah penunjuk jari
tangan yang nuchal
- Memutar kembali kearah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan. Beberapa kali
hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara klasik / muller
e. Ekstraksi kaki
Dilakukan bila kala dua tidak maju atau tampak kegawatan ibu-bayi. Keadaan janin / ibu
yang mengharuskan bayi segera dilahirkan
- Tangan kanan masuk secara obstetric, menelusuri bokong, pangkal paha sampai
lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah
menjadi fleksi, tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi
pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai
batas lutut.
- Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan
dibelakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki
ditarik curam ke wawah sampai pangkal paha lahir.
- Pegang di pindah ke pangkal paha setinggi mungkin dengan kedua ibu jari
dibelakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha.
- Pangkal paha ditarik curam ke bawah ssampai trokhanter depan lahir. Kemudian
pangkal paha dengan pegangan yang sama dielevasi keatas hingga trokhanter
belakng lahir. Bila kedua trokhanter telah lahir, berarti bokong lahir.
- Sebaiknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dahulu, maka yang akan lahir
labih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan
maka pangkal paha ditarik terus curam ke bawah.
- Seteloah bokong lahir maka dilanjutkan cara “b” atau ”c” atau ”d”
f. Teknik ekstraksi bokong
Dikerjakan bila presensi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila
kala II tidak maju atau tampak keadaan janin ibu yang mengharuskan bayi segera
dilahirkan
- Jari telunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam
jalan lahir dan diletakkan dilipatkan paha bagian depan. Dengan jari ini lipatpaha /
Krista illaka dikait dan ditarik curam kebawah. Untuk memperkuat tenaga-tenaga
tarikan ini maka tangan penolong yang lain mencekam pergelangan tadi dan turut
menarik curam ke bawah
Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis maka jari
telunjuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik cuman ke bawah sampai
bokong lahi.
Setelah bokong lahir, bayi dilahirkan secara “ b” atau” c” atau” d”
8. Cara melahirkan kepala bayi
a. Cara Mauriceau ( dilakukan bila bayi dilahirkan secara manual aid bila dengan Bracht,
kepala belum lahir)
- Letakkan badan bayi diatas tangan kiri sehingga badan bayi seoah-olah menunggang
kuda
- Satu jari dimasukkan ke dalam mulut dan dua jari di maksila
- Tangan kanan memgang / mencekam bahu tengkuk bayi
- Minta seorang asisten menekan fundus uteri
- Bersamaan dengan adanya his, asisten menekan fundus uteri, penolong persalinan
melakukan tarikan ke bawah sesuai arah sumbu jalan lahirdibimbing jari yang
dimasukkan untuk menekan dagu dan mulut
b. Cunam piper digunakan kalau mengeluarkan kepala bayi dengan Bracht atau Maureciau
gagal
Caranya : Tangan dan badan bayi dibungkus kain steril, cunam piper dipasang melintyang
66
terhadap panggul dan kepal kemudian ditarik
Kala III
9. Lahirkan plasenta sevcara spontan atau manul bila ada indikasi
10. Luka Episiotomi/ robekan perineum dijahit
11. Beri uterotonika atau medikamentosa yang diperlukan
12. Awasi kala IV
13. Lakukan pemeriksaan dan pengawasan nifas
14. Dekontaminasi
15. Cuci tangan pasca tindakan
16. Perawatan pasca tindakan
17. Periksa kembali tanda vital pasien, segera buat instruksi bila diperlukan. Catat kondisi pasien
dan buat laporan tindakan dalam kolom yang tersedia
18. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai dilaksanakan dan
masih memerlukan perawatan
19. Jelaskan kepada petugas tentang perawatan jadwal pengobatan dan pemantauan serta gejala-
gejala yang harus diwaspadai
67
PERSIAPAN EKSTRAKSI FORCEP
No. Komponen
A. Aspek Kognitif ( Pengetahuan )
1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori
2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis
B. Aspek Efektif (sikap)
1. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya
2. Perlakuan terhadap pasien (phantoom)
C. Aspek Psikomotor (keterampilan)
1. Persetujuan tindakan medik
2. Persiapan sebelum tindakan
a. Pasien
- Cairan dan selang infuse terpasang
- Perut bawah dan lipatan paha sudah dibersihkan dengan air sabun
b. Peralatan dan obat
- Uji fungsi dan kelengkapan peralatan serusutasi cardiopulmunal
- Medikamentosa (analgetik, sedative, atropine sulfas)
- Povidon Iodin 10%
- O2 dan regulator
- Set partus : 1
- Ekstraksi cunam : 1 set
- Klem ovum : 2
- Cunam tampon : 1
- Spekulum sim / L : 2
- Kateter karet : 1
- Jarum, spuit no 23 : 2
68
PERSIAPAN KURETASE
No. Komponen
A. Aspek Kognitif ( Pengetahuan )
1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori
2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis
B. Aspek Efektif (sikap)
1. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya
2. Perlakuan terhadap pasien (phantoom)
C. Aspek Psikomotor (keterampilan)
1. Persetujuan tindakan medik
2. Persiapan sebelum tindakan
a. Pasien
- Beritahu pasien tentang tidakan dokter
- Minta persetujuan keluarga (tanda tangan surat pernyataan bersedia dilakukan
tindakan curretage)
- Bersihkan daerah sekitar kemaluan (dicukur k/p)
- Kosongkan kandung kemih (penderita disuruh kencing aatau dikateter)
- - pasien puasa ± 6 jam
69
PLASENTA MANUAL
No. Komponen
A. Aspek Kognitif ( Pengetahuan )
B. Aspek Efektif (Sikap)
1. Penampilan mahasiswa
2. Persiapan : Alat, petugas, pasien, mahasiswa
C. Prosedur kegiatan
1. Persiapan alat
2. Persiapan pasien : Cairan dan slang infuse sudah terpasang. Perut bawah dan lipatan paha sudah
dibersihkan dengan air sabun : uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi, siapkan kain alas bokong,
sarung kaki dan penutup perut bawah ; medikamentosa ; analgetika (Pethidin 1-2 mg/Kg BB, Ketamin Hd
0.5 mg/Kg BB, Tramadol 1-2 mg/KgBB), sedative (Diazepam 10 mg), Atropin sulfas 0.25-0.50 mg/ml,
Uterotonika, Oksitoksin, Ergometrin, Prostaglandin, Cairan NaCl 0.9 % dan RL, set infuse. Larutan
antiseptic (povidon iodine 10%). Oksigen dengan regulator
3. Persiapan petugas : Bajhu kamar tindakan, pelapis plastic, masker dan kacamata pelindung : 3 set, sarung
tangan DTT / steril sebaiknya sarung tangan panjang : alas kaki (sepatu boot 1% karet) ; 3 pasang ;
instrument; Kocher 2, semprit 5 ml, jarum suntik no 236, mangkok logam (wadah plasenta) 1 kateter karet
dan penampung air kemih, 1 benang kromik 2/0, 1 rol set partus, 1 set
Tindakan penetrasi ke kavum uteri
4. Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan analgetik melalui rectal
5. Lakukan katerisasi kandung kemih (bila perlu)
6. Jepit tali pusat dengan kocher kemudian tegangkan tali pusat sejajar lantai
7. Secara obstetric, masukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah)ke dalam vagina dengan menelusuri
tali pusat bagian bawah
8. Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta asisten memegang kocher, kemudian tangan lain
penolong menahan fundus uteri
9. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan ke dalam ke kavum uteri sehingga mencapai tempat
implementasi plasenta menyusul bawah tali pusat
10. Melepas plasenta dari dinding uterus
11. Tentukan imnplantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah
- Bila berada di belakang tali pusat tetap di sebelah atas. Bila ada bagian depan, tali pusat dengan
punggung tangan menghadap atas.
- Bila plasenta di bagian belakang lepaskan plasenta dari tempat implaniasinya dengan jalan menyelipkan
ujung jari diantara plasenta dan dinding uterus dengan punggungtangan menghadap ke dinding dalam
uterus
- Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama (punggung tangan pada dinding kavum uteri)
tetapi tali pusat berada di bawah telapak tangan kanan
12. Kemudian gerakkan tangan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua permukaan
maternal plasenta dapat dilepaskan sambil melakukan tindakan, Perhatikan keadaan ibu (pasien), Lakukan
penanganan yang sesuai bila terjadi penyulit
13. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak
ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus
14 Mengeluarkan plasenta
15. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan
16. Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik
plasenta keluar (hindari percikan darah)
17. Sambil menarik plasenta keluar lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar), ke dorsokranial
setelah plasenta lahir, perhatikan kontraksi uterus dan jumlah pendarahan yang keluar
18. Letakkan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan
19. Dekontaminasi pasca tindakan
20. Cuci tangan pasca tindakan
Perawatan pasca tindakan
21. Periksa kembali tanda vital pasien, segersa lakuakan tindakan dan instruksi apabila masih diperlukan
22. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan dalam kolom yang tersedia
23. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi pasien masih memerlukan
perawatan
70
KOMPRESI BIMANUAL
No. Komponen
A. Responsi
1. Pengetrahuan : Kontraindikasi, penanganan
2. Tujuan : komplikasi
3. Indikasi : efek samping
B. Sikap
1. Penampilan mahasiswa
2. Perlakuan terhadap pasien : alat, lingkungan
C. Prosedur kegiatan
1. Persiapan pasien : infuse dan cairan sudah terpasang : perut bawah, lipat paha dan vulva ; sudah
dibersihkan dengan air sabun
2. Persiapan alat : Siapkan alas bokong dan kain penutup perut bawah : uji fungsi dan kelengkapan peralatan
resusitasi kardiopulmuner : larutan antiseptic, medikamentosa (Analgetika (Ketamin HCL 0.5 mg / KgBB
atau tramadol 1-2 mg/KgBB) dan sedative (Diazepam 10 mg/ml); Sulfase atropine0.25-0.50 mg/ml
Oksige LU/MI dan ergometrin; antibiotika, oksigen dan regulator, instrument (cunam tampon (1) klem
ovum (3), speculum sims atau (4) tabung jarum suntik (5 ml dan no 23)2. Kateter nelaton (1), tampon 5
cm / 1m)
3. Persiapan petugas ; baju kamar tindakan, apron, alas kaki, masker dan kacamata masing-masing 3 set;
sarung tangan DTT/steril masing-masing 3 pasang;tensimeter dan stetoskop (1); lampu sorot (1)
4. Pencegahan infeksi sebelum tindakan
5. Kosongkan kandung kemih
6. Lakukan pemeriksaaan dengan benar sehingga dapat dipastikan bahwa peclarahan ini ndisebabkan atonia
uteri
7. Pastikan tetesan cairan infuse yang berisi oksitoksin 20 IU berjalan dengan baik dan ergometrin 0.4 mg
(perhatikan kontraindikasi) sudah diberikan secara intramuskuler. Tambahkan misoprostolapabila
kontraksi uterus kurang memadai
Kompresi Bimanual Internal
1. Pakai sarung tangan DTT atau steril, dengan lembut masukkan secara obstetric melalui introitus dan ke
dalam vagina ibu
2. Periksa vagina dan serviks
3. Kepalkan tangan dalam dan tempatkan dalam formiks anterior, tekan dinding uuterus kearah tangan luar
yang menahan dan mendorong dinding prosterior uterus kea rah depan dan belakang
4. Tekan kuat uterus diantara kedua tangan
5. Evaluasi keberhasilan
- Jika uterus terus berkontraksi dan pendarahan berkurang, teruskan melakukan KBI salama 2 menit,
kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dan pantau ibu secara melekat selama kala IV
- Jika uterus terus berkontraksi tetapi pendarahan masih tetap berlangsung, periksa ulang perineum,
vagina dan serviks apakah terjadi laserasi. Jika demikian segera lakukan penjahitan agar pendarahan
berkurang
- Jika uterus tidak berkontraksi selama 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual
eksternal. Minta keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan
Jika tidak berhasil :
6. Berikan 0.2 mg egometrin IM atau misoprostol 600-1000 mg / per rektak. Jangan berikan ergometrin
kepada ibu dengan hipertensi karena ergometrin dapat menaikkan tekanan darah
7. Gunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18), pasang infuse dan berikan larutan sringer laktat
500 cc yang mengandung 20 unit oksitoksin
8. Pakai sarung tangan steril atau DTT dan ulangi KBI
9. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1-2 menit, segera rujuk ibu
10. Sambil membawa ibu ke tempat rujukan terus lakukan KBI dan infuse cairan hingga ibu sampai di tempat
Kompresi bimanual eksternal
1. Letakkan satu tangan pada dinding abdomen dan dinding depan korpus uteri dan di atas simfisis pubis
2. Letakkan tangan lain pada dinding abdomen dan dinding belakang korpus uteri, sejajar dengan dinding
depan korpus uteri, usahakan untuk mencakup/memegang bagian belakang uterus seluas mungkin
3. Lakukan kompresi uterus dengan cara saling mendekatkan tangan depan dan belakang agar pembuluh
darah didalam anyaman miometrium dapat dijepit secara manual. Cara ini dapat menjepit pembuluh darah
uterus dan membantu uterus untuk berkontraksi.
71
Kompresi Aorta Abdominalis
1. Baringkan ibu diatas ranjang, penolong menghadap sisi kanan pasien. A tur posisi penolong sehingga
pasien mempunyai ketingian yng sama dengan pinggul penolong
2. Tungkai diletakan pada dasar yang rata ( taidak menggunakan penopang kaki ) dengan sedikit flejsi pada
artikulasio koksae
3. Raba pulsasi arteri femoralis denagn jalan meletakkan ujung jari telunjuk dan tengah pada lipatan paha,
yaitu pada perpotongan garis lipat paha dengan garis horizon yang melalui titik 1 sentimeter diatas dan
sejajar dengan tepi atas simfisis assium pubis. Pastikan pulsasi arteri tersebut teraba dengan baik
4. Setelah pulsasi dikenali, jangan pindahkan kedua ujung jari pada titik pulsasi tersebut
5. Kepalkan tangan kiri dan tekankan bagian punggung jari telunjuk tangan, manis dan kelingking pada
umbilicus kearah kolumna vertebralis dengan arah agak lurus
6. Dorongan kepalan tangan kanan akan mengenai bagian yang keras di bagian tengah / sumbu badan ibu
dan apabila tekanan kepalan tangan kiri mencapai aorta abdominalis maka pulsasi arteri femoralis (yang
dipantau dengan ujung jari telunjuk dan tengah tangan kanan ) akan berkurang / terhenti (tergantung dari
derajat tekanan pada aorta)
7. Perhatikan perubahan pendarahan pervaginam (kaitkan dengan perubahan pulsasi arteri femoralis)
- Bila pendarahan berhenti sedangkan uterus tidak berkontraksi dengan baik, usahakan pemberian
preparat prostaglandin. Bila bahan tersebut tidak tersedia atau tetap tidak dapat berkontraksi ssetelah
pemberianm prostlagandin, pertahankan posisi demikian hingga pasien dapat mencapai fasilitas
rujukan
- Bila kontraksi membaik tetapi pendarahan masih berlangsung maka lakukan kompresi eksternal dan
pertahankan posisi demikian hingga pasien mencapai fasilitas rujukan
- Bila kompensasi sulit untuk dilakukan secara terus-menerus maka lakukan pemasangan tampon padat
utero vaginal pasang gurita ibu dengan kencang dan lakukan rujukan
- Kompresi baru dilepaskan bila pendarahan berhenti dan uterus berkontraksi dengan baik. Teruskan
pemberian uteronika
8. Bila pendarahan berkurang atau berhenti, pertahankan posisi tersebut dan lakukan pemijatan uterus oleh
asisten hingga uterus berkontraksi dengan baik (lanjutkan ke langkah selanjutnya)
Prosedur sementara alternative
Pada kondisi dimana rujukan tidak memungkinkan dan semua upaya menghentikan pendarahan tidak
memberikan hasil seperti yang diharapkan maka alternative yang mungkin dapat dilakukan adalah
Pemasangan tampon eitrovaginal
9. Atur ibu dalam posisi litotomi
10. Lakukan tindakan aseptic dan antiseptic pada vulva dan vagina
11. Pasang speculum di bawah dan atas, presentasikan porsio dengan baik
12. Jepit bibir depan dengan porsio dan klem, ovum, minta asisten untuk memegang kocher tersebut,
kemudian dekatkan ujung kasa di depan vulva
13. Jepit bagian tengah kasa gulung (panjang) dengan kocher panjang dan minta asisten untuk mamagang
kocher tersebut, kemudian dekatkan ujung kasa di depan vulva
14. Pegang klem ovum dengan tangan kiri, naikkan bibir depan porsio (hingga kanalis servisis tampak dengan
jelas) kemudian masukkan ujung kasa ke dalam uterus hingga mencapai fundus
15. Jepit kembali kasa yang berada di dekat porsio kemudian dorongkan ke dalam kavum uteri (perhatikan
juluran kasa agar tigak mengenai bagian-bagian terbuka dan tubuh ibu maupun penolong)
16. Lakukan berulang kali hingga kavum uteri dan vagina dipenuhi oleh kasa (lakukan p0enyambungan
dengan kasa baru apabila kavum uteri belum penuh)
17. Sisakan 15 cm kasa bagian ujung, untuk erkstyraksi kamudian, pasang kateter menetap apabila kasa dalam
vagina menekan uretra
18. Lakukan kompresi luar dengan jalan memasang gurita kencang pada perut ibu
19. Segera keluarkan tampon apabila pendarahan masih telah sangat berkurang. Pastikan pemberian infuse
dan uretonika tetap diberikan
20. Beri antibiotika kombinasi (ampisilin 3x1 g dan metronidazol 3x500 mg) tampon tida boleh lebih dari 24
jam
Pencegahan infeksi pasca tindakan
Perawatan lanjutan
21. Perhatikan tanda vital, pendarahan dan kontraksi uterus tiap 10 menit dalam 2 jam pertama
22. Tuliskan instruksi perawatan lanjutan, buat catatan kondisi pasien dan perawatan pasca tindakan
23. Jelaskan pada yang merawat tentang pengobatan yang diberikan, jadwal pemantauan dan gejala-gejala yang
harus diwaspadai
72
INDUKSI PERSALINAN
No. Komponen
A. Aspek kognitif (pengetahuan )
1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori
2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis
B. Aspek afektif (sikap)
1. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya
2. Perlakuan terhadap pasien (phantoom)
3. Persetujuan tindakan medik
C. Aspek psikomotor (ketrampilan)
1. Persiapan:
- Petugas
- pasien
2. Pelaksanaan
3. Jika skor ≥ 6, biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitoksin, jika ≤ 5 matangkanlah serviks lebih
dahulu dengan prtostaglandin atau kateter foley
4. Oksitoksin digunakan secara hati-hati karewna gawat janin dapat terjadi karena hiperstimulasi. Walaupun
jarang terjadi, rupture uteri dapat terjadi lebih-lebih pada multipura
5. Dosis efektif oksitoksin bervariasi, infuse oksitoksin dalam dekstrose atau garam fisiologik dengan tetesan
dinaikkan secara gradual sampai his adekuat
6. Pantau denyut nadi, tekanan darah, kontraksi ibu hamil dan periksa denyut jantung janin
7. Kaji ulang indikasi
8. Baringkan ibu hamil miring kiri
9. Catat semua pengamatan pada partograf tiap 30 menit
- Kecepatan infuse oksitoksin
- Frekuensi dan lamanya denyut jantung
- Denyut jantung janin (DJJ), dengan DJJ tiap 30 menit, dan selalu langsung setelah kontraksi. Apabila
DJJ kurang dari 100 permenit, segera hentikan infuse
10. Infuse oksitosin 2.5 unit dalam 500 cc dekstrose
11. Naikan kecepatan infuse 10 tetes permenit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali setiap 10 menit
dengan lama lebih dari 40 detik) dan pertahankan sampai terjadi kelahiran
12. Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi > 60 dtk) atau >4 kali kontraksi dalam 10 menit, hentikan infuse
dan kurangi hiperstimulasi dengan
- Terbutalin 250 mcg IV selama 5 menit atau
- Salbutanol 5 mg dalam 500 ml cairan (garam fisiologik atau ringer laktat) 10 tetes permenit
13. Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat (3 kali 10 menit dngan lama lebih dari 40 detik setelah infuse
oksitoksin) setelah infuse oksitoksin mencapai 60 tetes permenit : naikkan konsentrasi oksitoksin menjadi
5 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik) dan sesuaikan kecepatan infuse sampai 30 tetes
permenit (15 ml U/menit)
14. Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali setiap 10
menit dengan lama lebih dari 40 detik) atau setelah infuse oksitosin mencapai 60 tetes per-menit
15. Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi
a. Pada multigravida, induksi dianggap gagal, lakukan sesio sesaria
b. pada primigravida, infuse bias dinaikkan konsentrasinya yaitu
- 10 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik)
- Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit (50 m/u permenit), lakuakan seksio
sesaria
73
PERSIAPAN & PELAKSANAAN VAKUM EKSTRAKSI
No. Komponen
A. Responsi
1. - Pengertian
- Indikasi dan kontraindikasi
- Penanganan
- Syarat
- Komplikasi
B. Sikap
1. Penampilan Mahasiswa
2. Perlakuan terhadap : alat, pasien, lingkungan
C. Prosedur kegiatan
1. Persiapan alat
- Cairan dan slang infuse sudah terpasang, uji fungsi dan perlengkapan peralatan ekstraksi vakum 1
set
- Instrumen : partus pak 1 set, hacting pak 1 set, speculum sims / L-2 buah, klem ovum 2 buah
- Medikamentosa : oxytocin, methergin / ergometrin, lidocain 1%, povidion iodine 1%
- Catheter nelaton steril, sarung tangan steril / DTT 2 pasang, alas bokong, penutup perut bawah,
sarung kaki, lampu sorot, tensimeter + stetoskop, kasa dan depperssteril/DTT, kapas DTT, spuit
5 cc, jarum suntik no 23, bengkok, tempat sampah medis dan non medis
2. Persiapan Pasien
- Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan menandatangani persetujuan tindakan medik
- Perut bawah dan lipatan paha sudah dibersihkan dengan air sabun
3. Persiapan Bayi
- Meja bersih, kering dan hangat (untuk tindakan), incubator, oksigen, alat resusitasi bayi, sudip lidah
- Medikamentosa : Bikarbonas natrikus 7.5% / 8.4% ; ephineprin 0.01%, aquabidest, dextrose 10 %,
antibiotika
- Spuit 20 cc, jarum suntik ni 23, IV catheter (wing needle), penghisap lender, handuk, selimut baju
dan popok bayi
- Oksigen dengan regulator
4. Persiapan lingkungan
Menutup jendela dan korden
5. Persiapan Petugas
- Mencuci tangan memakai : Short plastic, masker, penutup kepala, kacamata pelindung, sepatu boot
- Memakai sarung tangan steril/DTT
- Menyiapkan oxytocin dalam spuit
6. Instruksikan asisten untuk menyiapakan ekstraktor vakum dan pastikan petugas dan persiapan untuk
menolong bayi telah tersedia
7. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan terpenuhinya persyaratan ekstraksi vakum
(pembukaan kepala lengkap, kepala bayi di hodge iv). Bila persyaratan terpenuhi dan ketuban belum
pecah, lakukan amnioktomi, bila penurunan kepala di atas hodge IV (0/5) rujuk pasien ke rumah
sakit
8. Masukkan tangan setelah tindakan VT ke dalam wadah yang mengandung larutan klorin 0.5%,
bersihkan darah dan cairan tubuh yang melekat pada sarung tangan lepaskan secara terbalik dan
rendam dalam larutan tersebut
9. Meletakkan handukl diatas perut ibu, memasang alas bokong dan memakai sarung tangan
DTT/steril yang baru
Pemasangan mangkok vakum
10. Masukkan mangkok vakum melalui introitus vagina secara miring dan setelah melewati introitus
vagina, pasangkan pada bagian terendah kepala bayi menjauhi ubun-ubun besar
11. Dengan ibu jari dan jari telunjuktangan kiri, menahan mangkok pada posisinya dan tangan kanan
pada pegangan vakum instruksikan asisten melakukan penghisapan dengan pompa penghisap
dengan tenaga -0.2/2cm tunggu selama 2 menit, tambahkan tekanan pada vakum secara bertahap
dengan tekanan maksimal : -0.7sampai -0.8/cm2 (ini membutuhkan waktu ±6-8 menit)
12. Tahan mangkuk vakum pada kepala bayi dengan jari telunjuk dan jari ibu jari tangan kiri, lakukan
pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok dengan jari-jaritangan kanan untuk memastikan tidak ada
74
bagian vagina atau porsio yang terjepit diantara bagian mangko dan kepala
13. Setelah hasil pemeriksaan tyernyata baik, keluarkan jari tangan pemeriksaan dan tangan penahan
mangkok tetap pada posisinya
14. Sambil menunggu his, jelaskan pada pasien, pada saat his pasien dsuruh meneran sekuat mungkin
dan selama mungkin dengan menarik lipat lutut dengan lipat siku agar tekanan abdomen lebih efektif
15. Pada saat his dan pasien meneran, secara simultan lakukan penarikan pada pegengan vakum, dengan
arah sejajar lantai, dengan tangan kitri tetap menahan vaccum
16. Bila belum berhasil pada tarikan pertama maka ulangi pada tarikan ke dua. Episiotomi (Pada pasien
dengan perineum yang kaku), dilakukan pada saat perineum teregang oleh kepala bayi dan kepala
tidak masuk lagi. Bila tarikan ketiga dilakukan dengan benar dan bayi belum lahir, sebaiknya pasien
dirujuk.
17. Saat sub oksiput berada dibawah symphisis, tahan perineum dengan tangan kiri, arahkan tarikan
keatas hingga lahirlah berturut-turut dahi, muka dan dagu. Bersihkan hidung dan mulut bayi dengan
kasa steril.
Melahirkan Bayi
18. Kepala bayi dipegang biparietal, gerakkan kebawah untuk melahirkan bahu depan, kemudian
gerakkan ke atas untuk melahirkan bahu kebelakang kemudian lahirkan seluruh tubuh bayi, letakkan
di atas perut ibu.
19. Keringkan kepala dan tubuh bayi, klem dan potong tali pusat,
Lahirkan Plasenta
20. Suntikan oksitoksin (IM), lakukan traksi terkendali, lahirkan nplasenta dengan menarik tali pusat dan
mendorong uterus kea rah dorsokranial
21. Periksa kelengkapan plasenta (perhatikan bila terdapat bagian bagian yang terlepas atau tidak
lengkap)
22. Masukkan plasenta ke dalam tempatnya (hindari percikan darah)
Eksplorasi jalan lahir
23. Masukkan speculum sim’s/L atas dan bawah pada vagina, perhatikan apakah terdapat robekan pada
portio dengan menggunakan klem ovum searah jarum jam, periksa robekan vagina dan perineum
(tentukan tingkat robekan)
24. Bila terdapat pada portio, vagina dan perineum atau pada tempat lain, lakukan penjahitan sesuai
dengan prosedur penjahitan robekan
25. Bersihkan noda darah, cairan tubuh dan air ketuban dengan kapas dan larutan desinfektan
26. Pasang kasa yang dibasahi dengan povidon iodine pada tempat jahit luka
27. Periksa kembali tanda vital pasien, kontraksi uterus dan pendarahan pervaginam serta kandung
kemih
28. Mengerjakan kepada pasien mengenal kontraksi uterus yang baik/tidak baik
29. Merawat ibu, (memberihkan tubuh dari darah dan air ketuban, memasang pembalut dan pakaian)
30. Membereskan peralatan dan merendam dengan larutan klorin 0.5%. Petugas mencuci tangan
31. Mendokumentasikan tindakan dan mencatat kondisi pasien

PANDUAN PKK

  • 1.
    1 Biodata Mahasiswa Nama : NIM: Prodi : Alamat : Telepon :
  • 2.
    2 KATA PENGANTAR Puji syukurkehadirat Allah SWT atas segala limpahan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga Prodi D3 Kebidanan STIKES Surabaya dapat menyelesaikan “Buku Panduan Praktik Klinik Kebidanan ” yang meliputi Asuhan Kebidanan Kehamilan, Persalinan, Bayi Baru Lahir Normal, Nifas, Keluarga Berencana, Ibu Menyusui, Neonatus, Bayi dan Balita Normal, Komunitas, Kesehatan Reproduksi, Pertolongan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal, serta Dokumentasi Kebidanan. Didalam buku ini berisi tuntunan bagi mahasiswa terutama yang akan melakukan Praktik Klinik Kebidanan . Disamping itu buku ini juga sebagai pegangan Dosen Pembimbing untuk melatih kemampuan mahasiswa. Buku panduan ini dibuat sesuai dengan ruang lingkup Prodi D3 Kebidanan dengan tetap mengacu pada Standar Operasional Pelayanan Kebidanan. Dalam penyusunan buku ini, kami akui masih jauh dari sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun kearah penyempurnaan buku ini kami terima dengan tangan terbuka. Kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi demi terwujudnya Buku Pedoman ini kami ucapkan terima kasih. Surabaya, 2015 TIM PENYUSUN
  • 3.
    3 Pendahuluan Pendidikan diploma kebidananbertujuan untuk mencetak bidan yang berkompeten. Kompetensi diukur dari aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan secara utuh, sehingga proses pembelajaran harus mencakup ketiga ranah tersebut. Proses pembelajaran di kelas memfokuskan pada pembangunan pengetahuan mahasiswa yang bersifat teoritis. Sedangkan untuk memberikan pengalaman keterampilan, dilakukan melalui proses praktikum yang terdiri dari praktik di laboratorium (skill lab) dan praktik lapangan (praktik klinik). Kegiatan praktikum tidak sekedar memberikan pengalaman psikomotor, tetapi juga kemampuan analisis dan penguatan teori mahasiswa serta sikap/soft skill dalam memberikan asuhan. Kegiatan praktik klinik terdiri dari beberapa fase dengan jenis tempat praktik yang berbeda-beda sesuai dengan tahap kemampuan mahasiswa atau standar kompetensi yang harus dicapai mahasiswa. Tempat praktik klinik yang digunakan meliputi rumah sakit, rumah bersalin, bidan praktik mandiri, puskesmas, serta komunitas. Hal tersebut bertujuan untuk mengenalkan mahasiswa pada keadaan pelayanan kebidanan yang nyata (contextual learning). Praktik klinik kebidanan merupakan praktik klinik yang bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik menerapkan ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam asuhan kebidanan yang bersifat fisiologis (normal), patologis dan komprehensif. Tujuan A. Tujuan Umum Praktik klinik kebidanan bertujuan untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan (pendekatan SOAP dan Varney) sesuai dengan standar kompetensi bidan, yang meliputi asuhan kehamilan, persalinan, nifas, neonatus, bayi dan balita, kesehatan reproduksi dan keluarga berencana, baik pada asuhan normal ataupun deteksi dan penatalaksanaan komplikasi kebidanan (sebatas kewenangan bidan). B. Tujuan Khusus Mahasiswa mampu melaksanakan asuhan kebidanan dengan pendekatan SOAP, meliputi :
  • 4.
    4 1. Asuhan kehamilannormal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi kehamilan. 2. Asuhan persalinan normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi persalinan. 3. Asuhan nifas normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi nifas. 4. Asuhan neonatus normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi neonatus. 5. Asuhan bayi & balita normal, deteksi dan penatalaksanaan komplikasi. 6. Asuhan keluarga berencana 7. Asuhan kebidanan komunitas 8. Menyusun dokumentasi kebidanan dengan metode SOAP Pelaksanaan, Peserta dan Tempat Praktik Pelaksanaan praktik dilakukan secara berkesinambungan, yang terdiri dari : 1. Praktik Klinik Kebidanan I (PKK I) Praktik Klinik Kebidanan I dilaksanakan pada akhir semester III dan akhir semester IV di Rumah sakit, Rumah Bersalin (RB), Bidan Praktik Mandiri (BPM) dan Puskesmas wilayah Surabaya. Minimal waktu yang dibutuhkan untuk PKK I adalah 7 minggu. 2. Praktik Klinik Kebidanan II (PKK II) Praktik Klinik Kebidanan II dilaksanakan pada semester V di Rumah sakit, Rumah Bersalin (RB), Puskesmas dan Masyarakat wilayah Surabaya. Minimal waktu yang dibutuhkan untuk PKK II adalah 7 minggu. 3. Praktik Klinik Kebidanan III (PKK III) Praktik Klinik Kebidanan III dilaksanakan pada semester VI di Rumah sakit, Rumah Bersalin (RB), Bidan Praktik Mandiri (BPM), Puskesmas dan Masyarakat di wilayah Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Minimal waktu yang dibutuhkan untuk PKK II adalah 9 minggu. Kompetensi Yang Harus Dicapai Mahasiswa A. Praktik Klinik Kebidanan I (PKK I) 1. Melakukan Asuhan kebidanan pada ibu hamil normal Dalam melakukan asuhan kehamilan, setidaknya mencakup : a. Melakukan pengkajian data subjektif (anamnesis) b. Melakukan pemeriksaan fisik ibu hamil kunjungan awal dan ulang (inspeksi, palpasi dan auskultasi) c. Melakukan pemeriksaan penunjang (Hcg test, haemoglobin)
  • 5.
    5 d. Melakukan pemeriksaankesejahteraan janin (Detak jantung janin, gerak janin) e. Melakukan pendidikan kesehatan pada ibu hamil (Trimester I, II, dan III) f. Melakukan penyuluhan persiapan menyusui pada ibu hamil trimester III g. Memberikan imunisasi TT pada ibu hamil h. Melakukan pendokumentasian asuhan yang diberikan 2. Melakukan Asuhan kebidanan pada ibu bersalin normal Dalam melakukan asuhan persalinan, setidaknya mencakup : a. Melakukan pengkajian data subjektif (anamnesis) b. Melakukan pemeriksaan fisik ibu bersalin (inspeksi, palpasi dan auskultasi) c. Melakukan observasi kemajuan persalinan kala I dengan menggunakan partograf (termasuk diantaranya kesejahteraan janin). d. Melakukan pertolongan persalinan sesuai dengan standar APN (mulai dari kala I sampai dengan kala IV secara keseluruhan/tidak hanya parsial) e. Melakukan inisiasi menyusu dini (IMD) f. Melakukan episiotomi atas indikasi g. Melakukan penjahitan laserasi perineum derajat 1 dan 2 h. Melakukan prinsip pencegahan infeksi selama pertolongan persalinan i. Melakukan pendokumentasian asuhan persalinan yang dilengkapi dengan partograf 3. Melakukan Asuhan kebidanan pada ibu nifas Dalam melakukan asuhan nifas, setidaknya mencakup : a. Melakukan pengkajian data subjektif (anamnesis) b. Melakukan pemeriksaan fisik ibu bersalin (inspeksi, palpasi dan auskultasi) c. Membantu ibu menyusui (posisi dan perlekatan menyusui) d. Memberikan konseling menyusui eksklusif e. Memberikan perawatan payudara f. Mengajarkan cara memerah ASI beserta cara penyimpannya g. Melakukan perawatan luka laserasi h. Membantu ibu cara merawat bayi dan dirinya selama masa nifas i. Melakukan pendokumentasian asuhan nifas yang dilakukan 4. Memberikan pelayanan keluarga berencana (KB) Dalam memberikan pelayanan KB, setidaknya mencakup : a. Melakukan pengkajian data subjektif terfokus (anamnesis)
  • 6.
    6 b. Melakukan pemeriksaanfisik terfokus c. Melakukan penapisan alat kontrasepsi d. Memberikan konseling sebelum pemberian kontrasepsi e. Memberikan pelayanan kontrasepsi hormonal dan non hormonal f. Memberikan konseling pasca pemberian kontrasepsi g. Melakukan deteksi adanya masalah/ efek samping penggunaan kontrasepsi h. Melakukan penanganan masalah/efek samping kontrasepsi i. Melakukan rujukan masalah kontrasepsi j. Melakukan pendokumentasian asuhan kebidanan yang telah dilakukan 5. Melakukan Asuhan kebidanan pada bayi baru lahir Dalam melakukan asuhan bayi baru lahir, setidaknya mencakup : a. Melakukan pemeriksaan sewaktu bayi baru lahir b. Melakukan pemeriksaan APGAR c. Melakukan pemeriksaan fisik bayi baru lahir d. Memberikan injeksi vitamin K e. Memberikan imunisasi Hb0 dan polio f. Memandikan bayi baru lahir (minimal 6 jam setelah lahir) g. Melakukan pendokumentasian asuhan bayi baru lahir yang dilakukan 6. Melakukan Asuhan kebidanan pada bayi dan balita Dalam melakukan asuhan bayi dan balita, setidaknya mencakup : a. Melakukan pemeriksaan fisik pada bayi dan balita b. Melakukan perawatan tali pusat c. Melakukan pemantauan kecukupan ASI pada bayi kurang dari 6 bulan d. Melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita (dengan SDIDTK, Denver, Grow Chart) e. Memberikan imunisasi wajib pada bayi dan balita f. Melakukan pendokumentasian asuhan bayi dan balita yang dilakukan B. Praktik Klinik Kebidanan II (PKK II) PKK II merupakan kelanjutan dari PKK I. Kompetensi yang harus dicapai mahasiswa meliputi asuhan kebidanan normal, deteksi dini komplikasi, asuhan kesehatan reproduksi dan penanganan komplikasi kebidanan sesuai dengan kewenangan bidan.
  • 7.
    7 1. Asuhan kebidanannormal Telah diuraikan pada poin A 2. Deteksi dini komplikasi kebidanan Komplikasi kebidanan meliputi masa hamil, bersalin, nifas, menyusui, bayi baru lahir, bayi dan balita. Dalam melakukan deteksi dini komplikasi, setidaknya mencakup : a. Anamnesis terfokus masalah b. Pemeriksaan fisik yang terdiri dari inspeksi, palpasi, auskultasi yang diperlukan guna menentukan diagnosis kebidanan c. Pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan guna menentukan diagnosis kebidanan d. Melakukan rujukan komplikasi kebidanan e. Melakukan dokumentasi asuhan kebidanan yang telah dilakukan 3. Penanganan komplikasi kebidanan sesuai dengan kewenangan bidan Dalam melakukan penanganan komplikasi kebidanan, mahasiswa sebatas melakukan observasi tindakan atau sebagai asisten dokter kandungan. C. Praktik Klinik Kebidanan III (PKK III) 1. Memberikan asuhan kebidanan pada kehamilan secara mandiri 2. Memberikan asuhan kebidanan pada persalinan secara mandiri 3. Memberikan asuhan kebidanan pada nifas dan menyusui secara mandiri 4. Memberikan asuhan kebidanan pada KB secara mandiri 5. Memberikan asuhan kebidanan pada neonatus secara mandiri 6. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi secara mandiri 7. Memberikan asuhan kebidanan pada balita dan pra sekolah secara mandiri 8. Memberikan asuhan kebidanan pada komunitas secara mandiri 9. Memberikan asuhan kebidanan pada kesehatan reproduksi secara mandiri 10. Memberikan pertolongan kegawatdaruratan maternal Proses Pembelajaran Praktik Klinik Kebidanan 1. Pembelajaran praktik klinik kebidanan dilakukan setelah mahasiswa lulus mata kuliah terkait target, baik teori ataupun praktik skill lab.
  • 8.
    8 2. Sebelum mulaipraktik klinik, setiap mahasiswa wajib mengikuti orientasi di tempat praktik masing-masing dengan didampingi oleh dosen pembimbing. 3. Selama melaksanakan praktik klinik kebidanan, setiap mahasiswa mengikuti jam kerja di tempat praktik (minimal 8 jam/hari atau 48 jam/minggu). 4. Praktik klinik kebidanan dilakukan dengan menerapkan metode conceptual learning dan preseptorship, dimana mahasiswa dihadapkan pada keadaan praktik nyata bidan pelayanan kebidanan. Dalam pelaksanaan praktik, dibagi dalam fase : a) Pre-conference Sebelum mahasiswa melakukan praktik suatu perasat/keterampilan, pembimbing klinik melakukan pre-conference untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan dan kesiapan mahasiswa terhadap perasat yang akan dilakukan. Pelaksanakan pre- conference dengan menggunakan metode tanya-jawab lisan atau sesuai dengan peraturan yang ditetapkan tempat praktik. b) Bed-side teaching Mahasiswa melakukan keterampilan/perasat/asuhan kebidanan langsung kepada pasien dengan didampingi pembimbing klinik. Pembimbing klinik bersifat sebagai fasilitator dan memberikan bantuan (apabila dibutuhkan) tindakan. Diharapkan mahasiswa dapat melakukan keterampilan/perasat/asuhan kebidanan secara mandiri sesuai dengan target praktik klinik yang ditentukan. c) Post-conference Post-conference bertujuan untuk mengevaluasi prasat/keterampilan praktik yang telah dilakukan mahasiswa. Mahasiswa dapat merefleksikan hasil temuan yang mungkin didapat pada saat melakukan prasat/keterampilan. d) Evaluasi Evaluasi dilakukan oleh dosen pembimbing bertujuan untuk memonitor sejauh mana perkembangan keterampilan praktik klinik mahasiswa, termasuk diantaranya pencapaian target praktik klinik kebidanan yang telah ditentukan. Evaluasi dilakukan dengan 2 sudut pandang, yaitu dosen pembimbing dan pembimbing klinik (CI).
  • 9.
    9 Peran dan TanggungJawab A. Mahasiswa 1. Mahasiswa wajib mengikuti peraturan yang ditentukan oleh tempat praktik dan stikes surabaya. 2. Mengaplikasikan teori yang telah didapat kedalam praktik klinik kebidanan. 3. Bersikap baik, sopan, santun dan ramah dalam menjalin hubungan dengan pasien, pembimbing klinik, dosen pembimbing, seluruh tenaga kesehatan dan staf di tempat praktik serta teman sejawat. 4. Melakukan asuhan kebidanan sesuai dengan target yang ditentukan, yang dibuktikan dengan laporan asuhan kebidanan (metode SOAP). Setiap laporan SOAP harus mendapatkan persetujuan pembimbing klinik serta dosen pembimbing (tanda tangan + stempel basah). Laporan/dokumentasi SOAP ditulis tangan dengan tinta biru. 5. Membuat laporan komprehensif dalam bentuk makalah pada setiap tempat praktik. Setiap makalah harus mendapatkan persetujuan pembimbing klinik serta dosen pembimbing (tanda tangan + stempel basah). 6. Melaporkan perkembangan pencapaian target pada log-book pada dosen pembimbing. B. Pembimbing Klinik (Clinical Preceptor) 1. Pembimbing klinik (CI) adalah Bidan koordinator yang ditunjuk oleh BPS/Rumah Sakit dengan pendidikan terakhir minimal diploma 4 (D4). 2. Pembimbing klinik bekerjasama dengan dosen pembimbing dalam mendukung, memfasilitasi, mengobservasi dan mengevaluasi perkembangan keterampilan klinik mahasiswa. 3. Melakukan proses bimbingan sesuai dengan fase pembelajaran praktik klinik yang telah dijelaskan sebelumnya. 4. Melakukan responsi terhadap hasil praktik klinik mahasiswa. Responsi dapat dilakukan dengan lisan (tanya jawab) terkait temuan atau kasus yang didapat mahasiswa dan atau secara tertulis. 5. Memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan kasus dengan metode SOAP dan laporan komprehensif (makalah). 6. Memberikan penilaian terhadap hasil praktik klinik mahasiswa, sesuai dengan format yang telah ditentukan STIKes surabaya (Format Terlampir).
  • 10.
    10 C. Dosen Pembimbing 1.Dosen pembimbing adalah dosen tetap yang ditunjuk oleh kaprodi D-III kebidanan STIKES Surabaya sebagai dosen pembimbing praktik klinik. 2. Bekerjasama dengan pembimbing klinik dalam mendukung, memfasilitasi, mengobservasi dan mengevaluasi perkembangan keterampilan klinik mahasiswa. 3. Melakukan supervisi ke tempat praktik minimal 1 (satu) kali dalam seminggu. 4. Melakukan monitoring perkembangan keterampilan praktik klinik mahasiswa, termasuk diantaranya pencapaian target praktik klinik kebidanan yang telah ditentukan. 5. Memberikan bimbingan dalam penyusunan laporan kasus dengan metode SOAP dan laporan komprehensif (makalah). 6. Melakukan evaluasi terhadap praktik klinik kebidanan melalui pemberian kuesioner umpan balik (feedback). Evaluasi dilakukan dengan 2 sudut pandang, yaitu dari mahasiswa dan pembimbing klinik. 7. Melakukan responsi terhadap hasil praktik klinik mahasiswa. Responsi dilakukan setelah praktik klinik berakhir. Responsi dapat dilakukan dengan lisan (tanya jawab) terkait temuan atau kasus yang didapat mahasiswa dan atau secara tertulis. 8. Memberikan penilaian terhadap hasil praktik klinik mahasiswa, sesuai dengan format yang telah ditentukan STIKes surabaya (Format Terlampir). Peraturan dan Sanksi 1. Peraturan a) Setiap mahasiswa yang mengikuti praktik klinik kebidanan tidak sedang mengalami permasalahan akademis dan atau administratif. b) Mahasiswa wajib mengikuti orientasi sebelum mulai praktik klinik. c) Bersikap baik, sopan, santun dan ramah dengan pembimbing klinik, pimpinan, karyawan, dan klien di tempat praktik. d) Mahasiswa wajib mematuhi jadwal praktik yang telah ditentukan. e) Mahasiswa datang setidaknya 15 menit sebelum waktu praktik yang ditentukan. f) Mahasiswa tidak diperkenankan meninggalkan tempat praktik tanpa seijin pembimbing klinik. Apabila terpaksa meninggalkan lahan praktik karena sesuatu hal harus dengan persetujuan pembimbing klinik dan atau surat keterangan dari dokter
  • 11.
    11 (bila sakit). Mahasiswawajib mengganti jadwal praktik sesuai dengan jumlah hari yang ditinggalkan. g) Mahasiswa tidak diperkenankan bertukar jadwal praktik tanpa sepengetahuan pembimbing klinik. h) Mahasiswa wajib menggunakan pakaian lengkap dengan atribut yang telah ditentukan stikes surabaya, yaitu :  Pakaian seragam warna putih dan kerudung putih (bagi yang berkerudung)/rambut diikat dengan harnet dan menggunakan cap (bagi yang tidak berkerudung).  Pakaian seragam longgar (tidak ketat).  Selalu mengenakan pin-name (pin nama) dan logo STIKes pada baju.  Selalu menggunakan skot dari kampus.  Menggunakan sepatu warna putih. i) Seluruh mahasiswa tidak diperkenankan menggunakan perhiasan yang berlebihan. j) Kuku harus dipotong pendek serta tidak boleh menggunakan cat kuku. k) Seluruh laporan asuhan kebidanan dan laporan komprehensif harus sudah diselesaikan sebelum jadwal praktik selesai. l) Setiap mahasiswa harus menyerahkan laporan komprehensif praktikum kepada dosen pembimbing, maksimal 1 (satu) minggu setelah praktik berakhir. m) Mahasiswa wajib menjaga nama baik STIKes Surabaya. 2. Sanksi a) Pembimbing praktik berhak memberikan sanksi kepada mahasiswa yang datang terlambat, sesuai dengan peraturan/kebijakan tempat praktik. b) Apabila mahasiswa meninggalkan praktik tanpa seijin pembimbing klinik, wajib mengganti 2 (dua) kali lipat dari jumlah hari yang ditinggalkan (dengan persetujuan pembimbing klinik). c) Apabila mahasiswa meninggalkan praktik tanpa ijin lebih dari 2 (dua) kali, maka pembimbing klinik berhak untuk mengembalikan mahasiswa yang bersangkutan ke institusi (nilai praktik dianggap 0/tidak lulus) d) Bagi mahasiswa yang merusakkan atau menghilangkan alat/barang praktek yang ada di RS, diwajibkan untuk memperbaiki atau mengganti alat yang hilang.
  • 12.
    12 Penilaian Kriteria penilaian praktikklinik meliputi : No Ranah Kompetensi Kriteria Penilaian Nilai SKOR 1 2 3 4 1 Pengetahuan  Laporan  Responsi a. Kemampuan menganalisis asuhan sesuai target kompetensi (kehamilan, persalinan, nifas, KB, neo, bayi, balita dan anak pra sekolah, kespro, kegawatdaruratan maternal neonatal) A 2 Keterampilan a. Kemampuan skill dalam memberikan asuhan (kehamilan, persalinan, nifas, KB, neo, bayi, balita dan anak pra sekolah, kespro, kegawatdaruratan maternal neonatal) B 3 Sikap* a. Kesopanan kepada pasien, bidan/staff, teman b. Kedisiplinan c. Tanggung Jawab d. Kepemimpinan e. Kerjasama f. Kejujuran g. Empati h. Komunikasi C Rata-Rata Skor Ambang batas nilai kelulusan adalah ≥ 3 * Kriteria Nilai : 4 = Bila praktikan sangat baik dalam aspek yang dinilai 3 = Bila praktikan baik dalam aspek yang dinilai 2 = Bila praktikan cukup baik dalam aspek yang dinilai 1 = Bila praktikan kurang dalam aspek yang dinilai Nilai : 80 – 100 = A : Sangat Baik 70 – 79 = B : Baik 56 – 69 = C : Cukup 41 – 55 = D : Kurang < 41 = E : Sangat Kurang/Gagal
  • 13.
    13 Manajemen kebidanan danDokumentasi Asuhan Kebidanan dengan SOAP Manajemen kebidanan adalah suatu metode berfikir dan bertindak secara sistematis dan logis dalam memberi asuhan kebidanan, agar menguntungkan kedua belah pihak baik klien maupun pemberi asuhan (Soepaedan, 2008). Manajemen kebidanan diadaptasi dari sebuah konsep yang dikembangkan oleh Helen Varney dalam buku Varney’s Midwifery yang menggambarkan proses manajemen asuhan kebidanan yang terdiri dari 7 langkah yang berurut secara sistematis dan siklik, yaitu: I. Pengumpulan data dasar secara lengkap (data subjektif dan objektif) II. Interpretasi data dasar sehingga dapat dirumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik III. Identifikasi diagnosa potensial yang mungkin terjadi karena masalah atau diagnosa yang telah diidentifikasi, sehingga perlu dilakukan antisipasi pencegahan jika mungkin, serta pengawasan penuh. IV. Evaluasi kebutuhan intervensi segera dari bidan, dokter dan atau untuk konsultasi atau manajemen kolaboratif dengan anggota tim perawat kesehatan lain V. Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh berdasarkan diagnosis dan kebutuhan ibu VI. Melaksanakan rencana asuhan yang telah disusun secara efektif, efisien dan aman. VII. Evaluasi keefektifan dari perawatan yang diberikan, melakukan pengulangan secukupnya melalui manajemen proses pada tiap aspek perawatan yang tidak efektif Setiap bidan dalam melakukan tugasnya wajib melakukan pencatatan dan pelaporan sesuai dengan pelayanan yang diberikan yang disebut dengan dokumentasi kebidanan. Dokumentasi dalam asuhan kebidanan adalah suatu pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap keadaan/kejadian yang dilihat dan dilakukan dalam pelaksanaan asuhan kebidanan (proses asuhan kebidanan). Oleh karena itu, terdapat keterkaitan antara manejemen kebidanan dengan dokumentasi/pelaporan kebidanan. Varney merupakan alur fikir yang digunakan bidan dalam memberikan asuhan kebidanan. Sedangkan dokumentasi merupakan pelaporan dari asuhan kebidanan yang diberikan.
  • 14.
    14 LANGKAH VARNEY SOAP Pengumpulandata dasar Subjektif Objektif Interpretasi data Analisis Penetapan diagnosis/masalah potensial Penetapan kebutuhan tindakan segera, konsultasi, kolaborasi, rujukan Merencanakan asuhan PenatalaksanaanMelaksanakan asuhan Mengevaluasi kefektifan asuhan Dokumentasi/pencatatan asuhan kebidanan ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP (KMK No.938/Menkes/SK/VIII/2007). S : Subjektif Bagian ini mencakup data subjektif yang didapatkan dari hasil anamnesis. Data subjektif bersifat terfokus sesuai dengan keluhan pasien, yang digunakan sebagai langkah awal dalam menentukan pemeriksaan. Data subjektif setidaknya mencakup identitas (nama, usia, paritas), keluhan, riwayat obstetri, dan data subjektif lain yang dibutuhkan bidan. O : Objektif Bagian ini mencakup data objektif yang didapat dari hasil pemeriksaan fisik (inspeksi, palpasi, auskultasi), psikologis, dan laboratorium (pemeriksaan penunjang) A : Analisis Bagian ini merupakan hasil analisis bidan berdasarkan hasil pengkajian data subjektif dan objektif. Analisis mencakup diagnosis dan masalah kebidanan (jika ditemukan) P : Penatalaksanaan Bagian ini mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, dan tindakan secara komprehensif (penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up dan rujukan. ALUR PIKIR ASUHAN KEBIDANAN PENCATATAN ASUHAN VARNEY SOAP
  • 15.
    15 FORMAT DOKUMENTASI SOAP Subyektif Nama: Usia : Pekerjaan : Pendidikan : Agama : Status Perkawinan: No Telp/HP : Alamat: HPHT : (jika diperlukan) HPL : (jika diperlukan) Keluhan : Riwayat Kesehatan : (terfokus pada permasalahan yang berpengaruh pada kehamilan/persalinan/nifas/neonatus/bayi dan balita/KB/kesehatan reproduksi) Riwayat Kehamilan: Jumlah Kehamilan (termasuk saat ini) Jumlah Persalinan aterm Jumlah Abortus Jumlah Anak Hidup : : : : Objektif Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu : : : : Berat Badan sebelum hamil Berat Badan sekarang Tinggi Badan Lila IMT : : : : : a. Pemeriksaan Fisik (Terfokus) Inspeksi : Palpasi : Auskultasi : Perkusi : (jika diperlukan) b. Pemeriksaan Obstetrik (terfokus) Inspeksi : Palpasi : Auskultasi : Perkusi : (jika diperlukan) c. Pemeriksaan Ginekologi (terfokus)*jika diperlukan d. Pemeriksaan Penunjang (terfokus)*jika diperlukan Analisis : G......P......A..... Masalah : (jika ada) Penatalaksanaan
  • 16.
  • 17.
    17 DAFTAR TILIK PEMERIKSAAN ANTENATAL NOLangkah A SIKAP DAN PERILAKU TERUJI 1 Menyambut pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah. 2 Memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarga 3 Mempersilakan pasien duduk dan komunikatif 4 Tanggap terhadap reaksi pasien dan kontak mata 5 Sabar dan teliti B ANAMNESIS 1.Menanyakan kepada ibu tentang : • Keluhan utama • Riwayat penyakit ibu dan keluarga (yang berkaitan dengan masalah kehamilan) • Riwayat haid • Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu • Riwayat kehamilan sekarang • Riwayat KB • Riwayat perkawinan • Pola kehidupan sehari-hari (pola nutrisi, pola eliminasi, pola hubungan seksual, pola istirahat, pola aktivitas, pola personal hygiene dan kebiasaan yang dapat mengganggu kesehatan ibu seperti : merokok, obat, jamu dan minuman beralkohol) • Data psikososial-ekonomi-kultural-spiritual • Data pengetahuan ibu C PEMERIKSAAN 1. Memeriksa keadaan ibu yaitu • Keadaan umum • Kesadaran • Tanda – tanda vital (Tensi, nadi, suhu dan pernafasan) • Tinggi badan • Berat badan • LILA • Memeriksa ukuran panggul luar atas indikasi (primigravida, atau multi dengan bayi kecil : <2000 g) 2. Melakukan pemerikaan fisik pada ibu yaitu: • Kepala dan muka (Chloasma gravidarum, Rambut, Mata, Hidung, Mulut, dan Telinga) • Leher (kelenjar tiroid, kelenjar limfe, bendungan vena yugularis) • Dada dan mamae (tegang, hiperpigmentasi areola, kelenjar montgomery, papila mammae, kolostrum, sesak nafas, retraksi otot pernafasan, kelenjar limfe pada ketiak, massa dan nyeri tekan pada mammae) • Abdomen (luka bekas operasi, membesar, melintang / memanjang, linea nigra, striae gravidarum, hepar, limpa, ginjal, Palpasi: Leopold I, Leopold II, Leopold III, Leopold IV, Perasat Osborn bila ada indikasi, Taksiran berat janin, Auskultasi : frekuensi DJJ/menit, teratur / tidak, letak punctum maximum & jumlah) • Ekstremitas (Atas : edema, bekas-bekas tusukan jarum, sianosis di bawah kuku, dan Bawah : edema, varices, sianosis dibawah kuku, homann sign, Refleks patella kanan/kiri). • Genitalia eksterna & anus (lecet, memar, varises, lesi pada kulit genitalia, vulva, kelenjar bartolin dan skene, pengeluaran pervaginam, Anus : hemoroid) D PEMERIKSAAN LABORATORIUM 1. Pemeriksaan kadar hemoglobin (kunjungan pertama dan pada usia diatas 28 minggu) 2. Pemeriksaan urine untuk protein dan glukosa E KESIMPULAN HASIL PEMERIKSAAN 1. Buat kesimpulan hasil pemeriksaan 2. Cantumkan kondisi kehamilan / ibu dan bayi dalam kesimpulan F PROGNOSIS DAN RENCANA PENATALAKSANAAN 1. Tuliskan prognosis kehamilan berkaitan dengan hasil pemeriksaan yang baru dilakukan.
  • 18.
    18 2. Jelaskan tentangkondisi kehamilan dan rencana asuhan antenatal yang akan dijalankan. 3.Sesuai dengan uia kehamilan, ajari ibu mengenai: a. Nutrisi b. Olah raga ringan/exercise c. Istirahat d. Kebersihan e. Pemberian ASI f. KB Pasca salin g. Tanda-tanda bahaya h. Aktivitas sexual i. Kegiatan sehari-hari dan pekerjaan j. Obat-obatan atau merokok k. Body mekanik l. Pakaian sepatu 4.Promosi kesehatan: a. Memberikan imunisasi TT, jika dibutuhkan b. Memberikan suplemen zat besi/folat dan menjelaskan bagaimana cara mengkonsumsi serta kemungkinan efek samping 5. Persiapan persalinan dan kesiagaan komplikasi a. Memulai membicarakan mengenai persiapan kelahiran (siapa yang akan membantu melahirkan, tempat melahirkan, peralatan yang dibutuhkan oleh ibu dan bayi, persiapan keuangan) b. Mengawali membicarakan mengenai persiapan kelahiran dan komplikasi kegawatdaruratan (sarana transportasi, persiapan biaya, pembuat keputusan dalam keluarga, donor darah) 6. Diskusikan tentang jadwal pemeriksaan dan hasil yang diharapkan dari penatalaksanaan asuhan antenatal. 7. Jelaskan apabila diperlukan pemeriksaan khusus atau konsultasi ke bidang keilmuan lain. 8. Bila diperlukan, ibu dapat dirujuk ke tenaga ahli dan fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. 9. Beritahu tentang beberapa hal atau gejala klinis penting dalam kehamilan yang menyebabkan ibu harus melakukan kunjungan ulang. 10. Beritahu tentang fasilitas kesehatan dan system yang ada untuk melakukan rujukan. 11. Pastikan ibu mengerti tentang informasi dan hasil pemeriksaan / diagnosis serta penatalaksanaan asuhan antenatal. 12. Berikan kartu / buku pemeriksaan ibu hamil, antarkan ibu keluar dan ucapkan salam. 13. Mendokumentasikan asuhan kehamilan G TEKNIK PELAKSANAAN 1. Teruji menanyakan secara sistematis 2. Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 3. Teruji memberikan perhatian terhadap setiap jawaban 4. Setiap jawaban difolow up dengan baik 5. Teruji mendokumentasikan hasil anamnesa
  • 19.
    19 ANAMNESIS IBU HAMIL N O LANGKAH ASIKAP DAN PERILAKU TERUJI 1 Menyambut pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah. 2 Memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarga 3 Mempersilakan pasien duduk dan komunikatif 4 Tanggap terhadap reaksi pasien dan kontak mata 5 Sabar dan teliti B CONTENT / ISI 1 Menanyakan identitas pasien dan suami/penanggung jawab 2 Menanyakan alasan kunjungan dan keluhan pasien 3 Menanyakan riwayat penyakit pasien yang diderita dahulu, sekarang dan riwayat penyakit keluarga 4 Menanyakan riwayat menstruasi 5 Menanyakan riwayat kehamilan sekarang 6 Menanyakan riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu 7 Menanyakan riwayat perkawinan dan riwayat KB 8 Menanyakan pola nutrisi (makan dan minum) 9 Menanyakan pola eliminasi (BAB dan BAK) 10 Menanyakan pola aktivitas 11 Menanyakan pola istirahat 12 Menanyakan pola personal higiene 13 Menanyakan pola seksual 14 Menanyakan kebiasaan ibu yang merugikan kesehatan 15 Menanyakan respon ibu, suami dan keluarga terhadap kehamilannya 16 Menanyakan mekanisme koping dan pengambilan keputusan utama dalam keluarga 17 Menanyakan hewan peliharaan dan adat istiadat yang berhubungan dengan kehamilan ibu 18 Menanyakan penghasilan per bulan , penolong persalinan yang diinginkan dan tempat persalinan yang diinginkan 19 Menanyakan keadaan spiritual ibu 20 Menanyakan pengetahuan ibu tentang kehamilan C TEHNIK PELAKSANAAN 21 Teruji menanyakan secara sistematis 22 Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 23 Teruji memberikan perhatian terhadap setiap jawaban 24 Setiap jawaban difolow up dengan baik 25 Teruji mendokumentasikan hasil anamnesa
  • 20.
    20 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TANDA– TANDA BAHAYA KEHAMILAN NO LANGKAH A SIKAP DAN PERILAKU TERUJI 1 Teruji menyambut pasien dan keluarga dgn sopan dan ramah 2 Teruji memperkenalkan diri kepada pasien dan keluarga 3 Teruji mempersilahkan pasien duduk 4 Teruji menjelaskan maksud dan tujuan penkes 5 Teruji merespon terhadap reaksi klien dengan cepat B CONTENT / ISI 1 Menyebutkan tanda bahaya kehamilan 2 Menjelaskan tanda-tanda perdarahan pervaginam dalam kehamilan dan pengaruhnya terhadap kehamilan 3 Menjelaskan tentang sakit kepala yang hebat, menetap yang tidak hilang dan pengaruhnya terhadap kehamilan 4 Menjelaskan tentang masalah penglihatan (pandangan kabur/terbayang) pada kehamilan 5 Menjelaskan tentang nyeri abdomen yang hebat dan pengaruhnya terhadap kehamilan 6 Menjelaskan tentang bengkak pada muka atau tangan dan pengaruhnya terhadap kehamilan 7 Menjelaskan tentang bayi kurang bergerak seperti biasa dan pengaruhnya terhadap kehamilan 8 Menjelaskan untuk segera datang ke klinik jika mengalami tanda-tanda bahaya kehamilan 9 Menanyakan kepada ibu apakah pernah mengalami tanda bahaya tersebut 10 Menanyakan kembali tanda bahaya kehamilan yang telah diterangkan C TEKNIK PELAKSANAAN 11 Teruji menjelaskan secara sistematis 12 Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 13 Teruji membuka kesempatan untuk bertanya dan diskusi 14 Setiap jawaban difolow up dengan baik 15 Teruji menjelaskan maksud dan tujuan
  • 21.
    21 ASUHAN ANTENATAL KUNJUNGANULANG N O LANGKAH A SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut pasien dengan ramah dan sopan 2. Mempersilahkan pasien untuk duduk dan komunikatif 3. Menjelaskan tujuan tindakan yang akan dilakukan 4. Tanggap terhadap reaksi pasien 5. Sabar dan teliti B ISI/ CONTENT 1 Riwayat kehamilan sekarang a. Menanyakan bagaimana keluhan klien sejak kunjungan terakhirnya. b. Menanyakan gerakan janin dalam 24 jam terakhir. c. Menanyakan informasi tentang masalah atau tanda bahaya yang dialami pasien sejak kunjungan terakhir. 2 Pendekatan umum untuk pemeriksaan a. Mengamati penampilan ibu, suasana emosi dan sikap tubuh pasien selama pemeriksaan. b. Menjelaskan semua prosedur yang akan dilakukan. c. Melakukan klarifikasi bila diperlukan oleh pasien. 3. Deteksi tanda bahaya a. Pemeriksaan tekanan darah dan denyut nadi. b. Pemeriksaan laboratorium (protein urin, glukosa urin, Hb) c. Pemeriksaan bimanual (bila ada indikasi) 4. Pemeriksaan fisik a. Mengukur tinggi fundus uteri dengan metode Spiegelberg/ jari-jari tangan/ pita ukur/Mc Donald (umur kehamilan >12 minggu) b. Melakukan palpasi abdomen dengan metode leopold untuk mendeteksi kehamilan ganda (umur kehamilan >28 minggu). c. Melakukan palpasi abdomen dengan metode leopold untuk mengetahui letak, presentasi, posisi dan penurunan kepala janin (umur kehamilan >36 minggu). d. Mendegarkan DJJ dengan fetoskop (umur kehamilan > 18 minggu). 5. Pendidikan kesehatan a. Menjelaskan ketidaknyamanan selama kehamilan b. Mendiskusikan dengan ibu mengenai status nutirir, suplementasi dan tetanus toxoid. c. Mengajarkan ibu tentang perawatan kehamilan sesuai umur kehamilannya : persiapan laktasi, keluarga berencana, senam hamil, istirahat, nutrisi dan pertumbuhan janin. d. Mendiskusikan mengenai persiapan persalinan dan kegawat daruratan : - Persiapan fisik, psikis dan biaya - Transportasi (rujukan) - Donor darah e. Menjelaskan tentamg tanda-tanda bahaya dalam kehamilan f. Menginformasikan jadwal kunjungan ulang berikutnya. C TEKNIK 1. 2. 3. 4. 5. Melaksanakan langkah-langkah atau prosedur secara sistematis Menggunakan bahasa yanng mudah dimengerti. Memberikan perhatian pada setiap jawaban. Setiap jawaban direspon dengan baik Memberi kesempatan pada setiap jawaban.
  • 22.
    22 PEMERIKSAAN PALPASI PADAIBU HAMIL N O LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1 Menyambut pasien dan keluarga dengan sopan dan ramah 2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dorsal recumbent 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 1 Mencuci tangan 2 Meminta ijin pada ibu bahwa akan melakukan pemeriksaan palpasi 3 Memastikan kandung kemih kosong dan mempersilahkan ibu BAK bila kandung kemih penuh 4 Menghangatkan tangan untuk menyesuaikan dengan suhu pasien 5 Menempatkan peralatan secara ergometris 6 Memasang selimut dan membuka pakaian pasien 7 Mengukur tinggi fundus uteri : a. menggunakan mid line b. Diukur dari tepi atas simpisis sampai dengan fundus c. Diukur dengan cara BUTA (metline dalam keadaan terbalik) 8 Melakukan palpasi Leopold I a. Memposisikan pasien dengan kaki ditekuk b. Dengan kedua tangan meraba bagian fundus 9 Melakukan palpasi Leopold II dengan cara tangan diletakkan pada sisi samping kanan dan kiri perut ibu untuk memeriksa bagian janin apakah yang berada di lateral abdomen ibu (kanan-kiri abdomen) 10 Melakukan palpasi Leopold III dengan satu tangan diraba bagian bawah rahim dan coba untuk menggoyangkan sedikit 11 Melakukan palpasi Leopold IV a. memposisikan pasien dengan kaki diluruskan b. Penguji menghadap kea rah kaki pasien c. Kedua tangan diletakkan pada kedua sisi bagian bawah rahim d. Raba dengan sedkit penekanan untuk menilai bagian terendah sudah masuk panggul atau belum 12 Merapikan pasien 13 Memberi tahu hasil pemeriksaan serta mendiskusikannya 14 Membereskan peralatan 15 Mencuci tangan C PENILAIAN TEKNIK 16 Teruji melaksanakan tindakan secara sistematis 17 Teruji percaya diri dan tidak gugup 18 Teruji memberikan rasa empaty pada keadaan ibu 19 Teruji mendukung ibu untuk kooperatif 20 Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
  • 23.
    23 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PEMILIHANTENAGA PENOLONG PERSALINAN YANG AMAN NO LANGKAH A SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Menjelaskan maksud dan tujuan penkes 4. Merespon terhadap reaksi klien dengan tepat 5. Percaya diri, tidak gugup B CONTENT 1. Menanyakan dan mendengarkan keluhan klien 2. Menjelaskan macam-macam tenaga penolong persalinan yang aman (tenaga kesehatan) 3. Menjelaskan keuntungan bersalin pada tenaga kesehatan 4. Menjelaskan bahaya/kerugian pertolongan persalinan dengan dukun. 5. Menganjurkan ibu agar membicarakan dengan keluarganya untuk bersalin pada tenaga kesehatan C TEKNIS 1. Menjelaskan secara sistematis 2. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti 3. Memberi kesempatan untuk bertanya 4. Memberikan perhatian terhadap setiap pertanyaan klien 5 Teruji mengadakan kontak mata selama tindakan
  • 24.
    24 PEMERlKSAAN FISIK IBUHAMIL N O LANGKAH A. Sikap dan Perilaku 1. Menjelaskan prosedur yang dilakukan 2. Teruji bersikap sopan 3. Teruji sabar dan teliti B. Content/Isi 1. Cuci Tangan 2. Memeriksa Keadaan umum 3. Memeriksa Kesadaran 4. Memeriksa Tanda – tanda vital (Tensi, nadi, suhu dan pernafasan) 5. Memeriksa Tinggi badan 6. Memeriksa Berat Badan 7. Memeriksa LILA 8. Memeriksa Kepala dan muka (Rambut, Mata, Hidung, Mulut, dan Telinga) 9. Memeriksa Leher (kelenjar tiroid, kelenjar limfe, bendungan vena yugularis) 10. Memeriksa Dada dan mamae (sesak nafas, retraksi otot pernafasan, kelenjar limfe pada ketiak, massa dan nyeri tekan pada mammae) 11. Memeriksa Abdomen (luka bekas operasi, hepar, limpa, ginjal) 12. Memeriksa Ekstremitas (Atas : edema, bekas-bekas tusukan jarum, sianosis di bawah kuku, dan Bawah : edema, varices, sianosis dibawah kuku, homann sign) 13. Memeriksa Genitalia eksterna & anus (lecet, memar, lesi pada kulit genitalia, vulva, kelenjar bartolin dan skene, pengeluaran pervaginam, Anus : hemoroid) 14. Memeriksa Inspeksi • Muka : Chloasma gravidarum • Mammae : tegang, hiperpigmentasi areola, kelenjar montgomery, papila mammae, kolostrum. • Abdomen: membesar, melintang / memanjang, linea nigra, linea alba, striae livide, striae albicans 15. Memeriksa Palpasi - Leopold I - Leopold II - Leopold III - Leopold IV 16. Memeriksa Auskultasi ( DJJ ) 17. Perkusi Refleks patella kanan/kiri 18. Membereskan alat – alat 19. Cuci Tangan C. Teknik 1. Teruji melaksanakan secara sistematis. 2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu. 3. Teruji menjaga privacy pasien. 4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien.
  • 25.
    25 PEMERIKSAAN PROTEIN URINE NOLANGKAH A. Sikap dan Perilaku 1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah 2. Teruji bersikap sopan 3. Menjelaskan prosedur yang dilakukan 4. Teruji sabar dan teliti B. Prosedur pelaksanaan 1. Cuci Tangan 2. Memakai sarung tangan 3. Menyaring urine 4. Isilah tabung reaksi dengan urine 2 – 3 cc 5. Panaskan urine diatas lampu spirtus berjarak 2 – 3 cm dari ujung lampu sambil digoyang-goyang hingga mendidih 6. Kalau urine keruh, tambahkan 4 tetes asam asetat, ini menunjukkan adanya HR dan ini tidak signifikan untuk protein 7. Kalau urine tetap keruh, panaskan sekali lagi 8. Kalau urine masih tetap keruh berarti ada protein dalam urine 9. Melepaskan sarung tangan dan dimasukkan dalam larutan klorin 0,5 % 10. Merapikan alat – alat 11. Cuci Tangan C. Teknik 1. Teruji melaksanakan secara sistematis. 2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu. 3. Teruji menjaga privacy pasien. 4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien. 5. Teruji mendukung pasien untuk kooperatif
  • 26.
    26 PEMERIKSAAN HEMOGLOBIN NO LANGKAH A.Sikap dan Perilaku 1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah 2. Teruji bersikap sopan 3. Menjelaskan prosedur yang dilakukan 4. Teruji sabar dan teliti B. Prosedur pelaksanaan 1. Cuci tangan 2. Memakai sarung tangan 3. Isilah tabung sahli dengan HCL 0,1 % sampai batas angka pada angka 2 4. Tusuk ujung jari dengan lanset steril, bersihkan darah yang pertama keluar dengan kapas kering 5. Gunakan pipet untuk menghisap darah sampai darah mencapai garis warna biru pada tabung atau angka 20 mm 6. Masukkan pipet ke dalam tabung Sahli kemudian keluarkan darah sambil menarik pipet keluar 7. Aduk HCL dengan darah sampai benar-benar tercampur 8. Masukkan aquades tetes demi tetes kedalam tabung sahli, aduk kembali setelah ditetesi sampai warnanya sama dengan warna standart 9. Baca permukaan darah menunjukkan angka berapa, itulah kadar Hb 10. Merapikan alat – alat 11. Cuci Tangan C Teknik 1. Teruji melaksanakan secara sistematis. 2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu. 3. Teruji menjaga privacy pasien. 4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien. 5. Teruji mendukung pasien untuk kooperatif
  • 27.
    27 PEMERIKSAAN GLUKOSA URINE NOLANGKAH A Sikap dan Perilaku 1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah 2. Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan 3. Teruji memposisikan dengan baik 4. Teruji tanggap terhadap reaksi ibu 5. Teruji sabar dan teliti B Prosedur pelaksanaan 1. Cuci Tangan 2. Memakai sarung tangan 3. Menyaring urine 4. Isilah dua tabung reaksi dengan peraksi Benedict masing-masing 2,5 cc 5. Masukkan urine pada salah satu tabung tersebut sebanyak 4 tetes. 6. Panaskan diatas lampu spirtus sampai mendidih, biarkan dingin 7. Bandingkan dengan tabung yang lain dan lihat perbedaanya 8. Melepaskan sarung tangan dan dimasukkan ke dalam larutan klorin 0,5 % 9. Merapikan alat – alat 10. Mencuci tangan C. Teknik 1. Teruji melaksanakan secara sistematis. 2. Teruji melaksanakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu. 3. Teruji menjaga privacy pasien. 4. Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien. 5. Teruji mendukung pasien untuk kooperatif
  • 28.
    28 PEMERIKSAAN PANGGUL LUAR NOLANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut ibu dan keluarga dengan sopan dan ramah 2. Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan 3. Teruji memposisikan dengan baik 4. Teruji tanggap terhadap reaksi ibu 5. Teruji sabar dan teliti B. CONTENT 6. Mencuci tangan 7. Meminta ijin Melakukan pengukuran panggul luar terdiri dari 8. distansia spinarum dengan mengukur jarak spina iliaca anterior superior sisnitra dan dextra ( 24 – 26 cm ) 9. Distansia cristarum dengan mengukur jarak terpanjang antara dua tempat yang simetris pada crista iliaca sinitra dan dextra ( 28 – 30 cm ) 10. Konjugata eksterna dengan mengukur jarak antara bagian atas simpisis ke prosesus spinosus lumbal V ( 18 cm ) 11. Lingkar panggul luar dengan mengukur dari pertengahan spina iliaca anterior superior lumbal 5 ke tepi atas simphisis ( 80-90 cm ) 12. Mengembalikan posisi ibu senyaman mungkin 13. Memberitahukan hasil pengukuran dan mendiskusikan 14. Membereskan alat-alat 15. Mencuci tangan C. TEKNIK 16. Teruji melakukan secara sistematis 17. Teruji menggunakan bahasa yang dimengerti 18. Teruji memberikan rasa empaty pada ibu 19. Setiap jawaban di follow up dengan baik 20. Teruji mendokumentasikan dengan baik
  • 29.
    29 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANGTABLET FE NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Mempersilahkan pasien duduk 4. Menjelaskan maksud dan tujuan pendkes 5. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat B. CONTENT 6. Melakukan apersepsi 7. Menjelaskan kondisi/permasalahan pasien yang kekurangan zat besi 8. Menjelaskan pengertian zat besi 9. Menjelaskan kegunaan zat besi 10. Menjelaskan tablet yang mengandung zat besi 11. Menjelaskan kebutuhan / dosis perhari 12. Menjelaskan kebutuhan /dosis selama kehamilan 13. Menjelaskan waktu minum tablet zat besi 14. Menjelaskan cara minum tablet zat besi / penyimpanan tablet zat besi 15. Menjelaskan efek samping tablet zat besi 16. Menjelaskan bahan makanan yang mengandung zat besi 17. Menjelaskan bahan makanan yang membantu penyerapan zat besi (vit C,B 12 ) 18. Menjelaskan bahan makanan yang menghambat penyerapan zat besi (teh, kopi, susu ) 19. Menjelaskan cara mengolah makanan sehingga zat besi yang terkandung didalamnya tidak banyak yang hilang 20. Melakukan evaluasi C. TEKNIK 21. Menjelaskan secara sistematis 22. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti 23. Memberi kesempatan untuk bertanya 24. Menjelaskan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu 25. Memberikan perhatian terhadap setiap pertanyaan klien 26. Teruji mengadakan kontak mata selama tindakan
  • 30.
    30 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANGPERSIAPAN PERSALINAN NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Mempersilahkan pasien duduk 4. Menjelaskan maksud dan tujuan pendkes 5. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat B. CONTENT 6. Melakukan apersepsi 7. Menjelaskan tanda-tanda persalinan 8. Menayakan dan mendengarkan tentang sejauh mana persiapan klien 9. Menjelaskan tempat persalinan yang aman 10. Menjelaskan macam-macam tenaga kesehatan penolong persalinan 11. Menjelaskan bagaimana transportasi ketempat persalinan 12. Menjelaskan siapa saja yang sebaiknya mendampingi saat persalinan 13. Menjelaskan persiapan biaya persalinan 14. Menjelaskan hal-hal yang harus disiapkan untuk mengan-tisipasi kemungkinan kegawatdaruratan (uang, donor darah) 15. Menjelaskan siapa sebagai pengambil keputusan utama dalam keluarga jika terjadi kegawatdaruratan dan siapa sebagai pe-ngambil keputusan jika pengambil keputusan utama tidak ada 16. Melakukan evaluasi C. TEKNIK 17. Menjelaskan secara sistematis 18. Menggunakan bahasa yang dapat dimengerti 19. Memberi kesempatan untuk bertanya 20. Menjelaskan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu 21. Memberikan perhatian terhadap setiap pertanyaan klien 22. Teruji mengadakan kontak mata selama tindakan
  • 31.
    31 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANGKETIDAKNYAMANAN LEUKORRHEA PADA IBU HAMIL NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk 2. Memperkenalkan diri pada klien 3. Menjelaskan maksud dan tujuan penkes 4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat 5. Menjaga privacy pasien B. CONTENT/ISI 6. Menanyakan keluhan pasien 7. Menjelaskan kondisi atau permasalahan pasien yang mengalami ketidaknyamanan karena keputihan 8. Menjelaskan penyebab keputihan pada kehamilan 9. Menjelaskan cara meringankan atau mencegah keputihan (diperjelas secara terinci) 10. Menjelaskan untuk menghindari pencucian vagina (douching) 11. Menganjurkan pada ibu unuk memakai celana dalam dari bahan katun dan tidak ketat 12. Menjelaskan cara cebok yang benar yaitu dari arah depan ke belakang 13. Menjelaskan tanda-tanda bahaya yang disebabkan keputihan 14. Melakukan evaluasi 15. Menganjurkan pasien untuk control kembali bila ada keluhan C. TEKNIK 16. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content) 17. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif 18. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik 19. Percaya diri dan tidak ragu 20. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
  • 32.
    32 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANGKONSTIPASI PADA IBU HAMIL TRIMESTER III NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Menjelaskan maksud dan tujuan penkes 4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat 5. Menjaga privacy pasien B. CONTENT 6. Apersepsi Menjelaskan bahwa masalah perut kembung lazim dialamai oleh ibu hamil 7. Menjelaskan permasalahan yang dirasakan klien karena peningkatan hormone progesterone 8. Menjelaskan kondisi permasahan klien karena disebabkan relaksasi otot-otot halus 9. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien disebabkan penyerapan air dari kolon meningkat 10. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien karena disebabkan tekanan dari uterus yang membesar pada usus 11. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien karena akibat mengkonsumsi zat besi 12. Menyebutkan kondisi/permasalahan klien karena akibat kurang bergerak/aktifitas yang kurang 13. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan intake cairan yang cukup 14. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan makan makanan yang berserat 15. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan minum cairan dingin atau hangat terutama waktu perut kosong 16. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan istirahat cukup 17. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan senam/exercise 18. Menyebutkan cara mengatasi konstipasi dengan menganjurkan menggunakan laksatif ringan bila ada indikasi (BAB > 3 hari) 19. Melakukan evaluasi 20. Menyampaikan pada klien datang sewaktu-waktu bila masih ada keluhan C. TEKNIK 21. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content) 22. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif 23. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik 24. Percaya diri dan tidak ragu 25. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
  • 33.
    33 PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG TANDA-TANDAKEHAMILAN NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Menjelaskan maksud dan tujuan konseling 4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat 5. Menjaga privacy pasien B. CONTENT 6. Menanyakan keluhan pasien 7. Menanyakan bagaimana pengetahuan pasien tentang tanda-tanda kehamilan 8. Menjelaskan pengertian kahamilan 9. Menjelaskan tentang tanda-tanda tidak pasti/dugaan kehamilan ( amenorhoe, mual dan muntah, sering kencing, payudara membesar, aerola menghitam) 10. Menjelaskan tentang tanda-tanda kemungkinan kehamilan (pembesaran uterus, tes kehamilan positif) 11. Menjelaskan tentang tanda-tanda pasti kehamilan ( DJJ,gerakan janin, USG) 12. Menanyakan kembali pada pasien tentang tanda-tanda kehamilan 13. Menjelaskan kondisi pasien saat ini 14. Memesan untuk kunjungan ulang 15. Mengakhiri pertemuan dengan memberikan salam/ucapan terima kasih C. TEKNIK 16. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content) 17. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif 18. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik 19. Percaya diri dan tidak ragu 20. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
  • 34.
    34 SENAM HAMIL NO LANGKAH/TINDAKAN 1. 2. PERSIAPANALAT : a. Matras b. Bantal PELAKSANAAN : PENDAHULUAN 1. Latihan 1 : a. duduk rileks dengan badan ditopang dengan tangan di belakang b. kaki di luruskan dengan sedikit terbuka c. gerakkan kaki kanan dan kiri ke depan dan belakang secara bersama-sama d. putar persendian kaki melingkar ke dalam dan keluar e. bila mungkin angkat bokong dengan bantuan kedua tangan dan ujung telapak kaki f. kembangkan dan kempiskan otot perut g. kerutkan dan kendorkan otot dubur h. lakukan latihan tersebut 8 – 10 kali 2. Latihan 2 : a. sikap duduk tegak dengan badan di sanggga oleh tangan di belakang badan b. kedua tungkai lurus dalam keadaan rapat c. tempatkan tungkai kanan diatas tungkai kiri silih berganti d. kembangkan dan kempiskan otot dinding perut bagian bawah e. kerutkan dan kendorkan otot liang dubur f. lakukan gerakan ini 8 – 10 kali 3. Latihan 3 : a. sikap duduk dengan badan disangga oleh kedua tangan di belakang, tungkai bawah dirapatkan b. angkat tungkai bawah silih berganti keatas setinggi mungkin c. tidur telentang dengan kaki dirapatkan d. kedua tangan disamping / dibawah kepala, angkat tungkai bawah silih berganti kanan dan kiri dengan tinggi semaksimal mungkin e. lakukan latihan ini 8 – 10 kali 4. Latihan 4 : a. sikap duduk tegak bersila b. tangan diatas bahu dan siku disamping badan c. lengan diletakan didepan badan (dada) d. putar keatas, kesamping, kebelakang, dan selanjutnya kembali ke depan dada e. lakukan latihan ini 8 – 10 kali 5. Latihan 5 : a. sikap duduk tegak bersila tangan diatas bahu dan siku disamping badan b. badan tegak rileks dan paha lemas c. kedua tangan dipersendian lutut d. tekanlah persendian lutut dengan berat badan sekitar 20 kali e. badan diturunkan ke depan semaksimal mungkin 6. Latihan 6 : a. Tidur diatas tempat tidur datar b. Tungkai disamping badan dengan tungkai bawah di tekuk pada persendian lutut dengan sudut sekitar 80 - 90 derajat c. Angkat badan dengan topangan pada ujung telapak kedua kaki dan bahu d. Pertahankan selama mungkin diatas dan selanjutnya diturunkan perlahan – lahan 7. Latihan 7 : a. sikap tidur telentang b. badan rileks c. tangan dan tungkai lurus dengan rileks d. badan dilemaskan ditempat tidur e. tangan dan tungkai membujur lurus
  • 35.
    35 f. pinggul diangkatmiring kekanan dan kekiri sambil melatih otot liang dubur g. lakukan latihan ini 8 – 10 kali LATIHAN INTI 1. Latihan 1 : a. sikap berbaring telentang, kedua lutut ditekuk, dan kedua lengan disamping badan b. angkat pinggang sampai badan membentuk lengkungan, lalu mengempiskan otot perut, serta kerutkan otot dubur c. lakukan latihan ini 8 – 10 kali d. dilakukan pada usia kehamilan 22 – 25 minggu 2. Latihan 2 : a. sikap tidur telentang dengan kedua tangan disamping badan b. tungkai bawah ditekuk c. tarik nafas perlahan dari hidung serta pertahankan dalam paru beberapa saat d. bersamaan dengan tarikan nafas tersebut, tangan berada diatas perut ikut sertakan diangakat mencapai kepala. e. Keluarkan nafas perlahan melalui mulut perlahan. f. Tangan yang diangkat ikut diturunkan. g. Lakukan gerakan ini 8 – 10 kali dengan tangan silih berganti. h. Dilakukan pada usia kehamilan 22 – 25 minggu 3. Latihan 3 : a. sikap tubuh merangkak, bersikap tenang dan rileks. b. Badan disangga pada persendian bahu dan tulang paha. c. Lengkungkan dan kendorkan tulang belakang d. Kembangkan dan kempiskan otot dinding perut. e. Kerutkan dan kendorkan otot liang dubur f. Lakukan latihan ini 8 – 10 kali 4. Latihan 4 : a. Sikap berdiri tegak b. Lakukan gerakan jongkok perlahan ,badan tetap lurus lalu tegak berdiri perlahan.(pada mula berlatihagar tidak terjatuh boleh berpegangan misal pada sandaran kursi ) c. Lakukan sebanyak 8 kali d. Gerakan ini dilakukan pada kehamilan 31 – 34 minggu 5. Latihan 1 : a. Posisi badan tidur telentang, kedua lutut dipegang oleh kedua tangan (posisi litothomi) rileks. b. Buka mulut sedikit dan bernafaslah sedalam – dalamnya, lalu tutup mulut c. Latihan mengejan seperti BAB kearah bawah depan. d. Dilakukan 4 kali interval 2 menit LATIHAN PENENANGAN DAN RELAKSASI 1. Latihan penenangan : a. Berbaring miring kearah punggung janin, misal kekiri maka lutut kanan diletakkan di depan lutut kiri dan kedua lutut ditekuk b. Tangan ditekuk didepan badan sedangkan tangan kiri di belakang badan c. Latihan selama 5 – 10 menit 2. Latihan relaksasi : a. Posisi badan : tidur miring / telentang / telentang dengan kedua tungkai ditekuk / duduk bersandar di kursi b. Tutuplah mata c. Lemaskan seluruh otot badan termasuk muka d. Pilih tempat yang tenang e. Pusatkan pikiran pada satu titik, misal pada irama pernafasan f. Pilih posisi relaksasi yang paling disenangi
  • 36.
  • 37.
    37 PENGISIAN PARTOGRAF N O LANGKAH 1 Nama,umur ibu 2 Gravida, para, abortus 3 Tanggal dan waktu mulai dirawat 4 Waktu pecahnya ketuban 5 Waktu mulainya kenceng-kenceng 6 DJJ 7 Air ketuban 8 Penyusupan (Moulase) kepala janin 9 Pembukaan serviks 10 Penurunan bagian terendah janin 11 Waktu (jam) pemeriksaan 12 Kontraksi uterus 13 Pemberian oksitosin 14 Pemberian obat dan cairan IV 15 Nadi 16 Tekanan darah 17 Suhu 18 Urin
  • 38.
    38 EPISIOTOMI LATERALIS NO LANGKAH A.SIKAP DAN PERILAKU 1 Memberi salam dan perkenalan 2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sopan, sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 6 Memakai celemek 7 Mencuci tangan dengan sabun 8 Memakai sarung tangan 9 Membersihkan vulva 10 Memberitahu dan menjelaskan ibu akan disuntik daerah perineum 11 Menyuntikkan lidokaine dibawah kulit perineum, terus kejaringan dibawahnya 12 Memastikan bahwa anastesi sudah bekerja 13 Melindungi daerah dalam perineum dengan jari telunjuk dan tengah tangan kiri 14 Melakukan insisi dengan gunting episiotomi yang tajam pada komisura posterior kearah serong ke kanan atau ke kiri kurang lebih 3 cm (saat ada his) 15 Menekan dengan kasa daerah insisi perineum 16 Membereskan alat dan rendam ke larutan clorin 0,5% 17 Mencuci tangan C. TEKNIK 18 Teruji melaksanakan secara sistematis 19 Teruji menjaga privacy pasien 20 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 21 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 22 Teruji mendokumentasikan hasil
  • 39.
    39 PENATALAKSANAAN KALA II N O LANGKAH A.SIKAP DAN PERILAKU 1 Memberi salam dan perkenalan Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sopan, sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 6 Memakai celemek 7 Mencuci tangan 8 Memasang handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi 9 Memasang sepertiga kain bersih dibawah bokong 10 Membuka partus set 11 Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan 12 Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm, lindungi perineum dengan satu tangan yang dilapisi kain tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala bayi, membiarkan kepala keluar perlahan-lahan. 13 Menganjurkan ibu untuk meneran perlahan-lahan atau bernafas cepat saat kepala lahir 14 Dengan lembut menyeka muka, mulut, hidung bayi dengan kain atau kasa yang bersih 15 Memeriksa lilitan tali pusat pada leher bayi 16 Menunggu putaran paksi luar secara spontan 17 Memegang kepala dengan kedua tangan secara biparietal 18 Melahirkan bahu depan dengan cara menarik ke bawah 19 Melahirkan bahu belakang dengan cara menarik keatas 20 Pindahkan tangan kanan untuk menyangga kepala, leher dan bahu belakang 21 Pindahkan tangan kiri untuk menyusur pada lengan bayi, dada dan punggung, bokong sampai kedua kaki lahir 22 Dengan cara memegang bayi, tangan kiri diantara kedua kaki bayi dan tangan kanan memegang kepala, posisikan kepala bayi 150 untuk menilai apgar 23 Meletakkan bayi diatas perut ibu, tutup dengan handuk, usap bagian kepala, badan dan eksteremitas sampai bayi menangis keras. 24 Menjepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Urut tali pusat kearah plasenta mulai dari klem 1 kemudian dijepit dengan klem 2 kira-kira 2 cm 25 Memotong tali pusat diantara kedua klem dengan tangan kiri melindungi bayi dari gunting 26 Mengganti handuk yang basah dan membungkus kepala dan tubuh bayi dengan kain kering dan bersih 27 Menyusukan bayi pada ibu 28 Membereskan alat-alat, masukkan dalam klorin, membersihkan tempat tidur 29 Memposisikan ibu dengan meluruskan kaki, menutup bagian genetalia dengan kain bersih 30 Mencuci tangan dalam larutan clorin 0,5%, melepas sarung tangan dan merendamnya, cuci tangan di air mengalir C. TEKNIK 31 Teruji melaksanakan secara sistematis 32 Teruji menjaga privacy pasien 33 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 34 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 35 Teruji mendokumentasikan hasil
  • 40.
    40 MANAJEMEN AKTIF KALAIII NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1 Memberi salam dan perkenalan 2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sopan, sabar dan teliti SCORE : 10 B. CONTENT/ISI 6 Memakai celemek dan mencuci tangan 7 Meletakkan kain bersih di atas perut ibu, kemudian meraba abdomen untuk memastikan tidak ada janin kedua 8 Memakai sarung tangan DTT 9 Menjelaskan kepada ibu mengenai tujuan pemberian injeksi oksitosin yang akan diberikan 10 Memberi injeksi oksitosin 10 IU pada bagian lateral paha ibu, kira-kira 1-2 lebar tangan diatas lutut (sepertiga atas paha), setelah diaspirasi lebih dulu untuk memastikan tidak kena pembuluh darah 11 Meletakkan klem dari ujung tali pusat kira-kira 5-10 cm dari vulva 12 Meletakkan tangan kiri dengan posisi miring di atas sympisis, tangan kanan memegang tali pusat (Pelepasan plasenta) 13 Apabila plasenta lepas (Tali pusat memanjang), pindah klem dalam posisi 5 cm di depan vulva. 14 Saat uterus berkontraksi lakukan peregangan tali pusat terkendali dengan lembut, bergerak mengikuti kurva, tangan kiri diatas symphisis mendorong bagian bawah rahim kearah dorsokranial 15 Saat plasenta sebagian keluar dari vulva, pegang plasenta dan telungkupkan, putar searah 16 Setelah plasenta lahir, lakukan masase sampai uterus berkontraksi keras 17 Mengajari ibu untuk masase uterus untuk mempertahankan kontraksi 18 Memeriksa kelengkapan plasenta (Kotiledon, kulit ketuban), serta bentuk dari elemen plasenta serta ukuran tali pusat 19 Masukkan plasenta pada tempat yang tersedia 20 Memeriksa laserasi jalan lahir 21 Memasukkan alat-alat kedalam larutan klorin 0,5% 22 Pasien diposisikan seperti semula (Meluruskan kaki) dan mengganti pakaian yang bersih 23 Mencuci tangan kedalam larutan clorin 0,5% dan kemudian sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendammnya 24 Mencuci tangan dengan air mengalir dan mengeringkannya 25 Memberi selamat kepada pasien SCORE : 40 C. TEKNIK 26 Teruji melaksanakan secara sistematis 27 Teruji menjaga privacy pasien 28 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 29 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 30 Teruji mendokumentasikan hasil SCORE : 10 TOTAL SCORE : 60
  • 41.
    41 KONSELING POSISI MENERANYANG DIANJURKAN DALAM PERSALINAN NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Menjelaskan maksud dan tujuan konseling 4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat 5. Menjaga privacy pasien B. ISI 6. Teruji menanyakan dan mendengarkan keluhan 7. Teruji menjelaskan macam-macam posisi dalam persalinan 8. Teruji menjelaskan keuntungan posisi duduk/setengah duduk • memberikan rasa nyaman bagi ibu • memberikan kemudahan untuk istirahat diantara kontraksi • gaya gravitasi dapat membantu mempercepat kelahiran 9. Teruji menjelaskan keuntungan posisi merangkak • mengurangi rasa nyeri pada punggung saat persalinan • membantu bayi melakukan rotasi • peregangan perineum lebih sedikit 10. Teruji menjelaskan keuntungan posisi jongkok atau berdiri • membantu penurunan kepala bayi • memperbesar dorongan untuk meneran • mengurangi rasa nyeri 11. Teruji menjelaskan keuntungan posisi berbaring miring kiri • memberi rasa santai pada ibu yang letih • memberi oksigenasi yang baik bagi bayi • membantu mencegah terjadi laserasi perineum 12. Teruji melakukan evaluasi C. TEKNIK 13. Menjelaskan secara sistematis (disesuaikan urutan di content) 14. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif 15. Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik 16. Percaya diri dan tidak ragu 17. Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
  • 42.
  • 43.
    43 ANAMNESIS IBU NIFAS NOLANGKAH A SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah 2. memperkenalkan diri pada pasien 3. Mempersilakan pasien duduk 4. Teruji menjelaskan maksud dan tujuan 5. Teruji merespon keluhan pasien B PENILAIAN CONTENT / ISI 6. Menanyakan keluhan atau apa yang dirasakan ibu 7. Menanyakan mengenai siapa yang menolong persalinan 8. Menanyakan komplikasi selama kehamilan, persalinan, dan setelah persalinan. 9. Menanyakan jenis persalinan (spontan, vacum, seksio) 10. Menanyakan episiotomi 11. Menanyakan ibu kapan dan bagaimana cara membersihkan vulva 12. Menanyakan tentang pola istirahat ibu 13. Menanyakan tentang pola aktivitas dan latihan fisik (mobilisasi, senam nifas / olah raga) 14. Menanyakan eliminasi ibu 15. Menanyakan riwayat diet, apa yang ibu makan dan porsinya 16. Menanyakan apakah ibu mengkonsumsi zat besi 17. Menanyakan apakah ibu mengkonsumsi vitamin A 18. Menanyakan apakah ibu mengkonsumsi obat-obat lain 19. Menanyakan pengeluaran pervaginam (warna, bau, jumlah) 20. Menanyakan apakah sudah memberikan ASI pada bayinya C TEKNIK 21. Teruji menjelaskan secara sistematis 22. Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 23. Melakukan kontak mata dengan pasien 24. Teruji melaksanakan dengan percaya diri & tidak ragu-ragu 25. Mendokumentasikan hasil anamnesa
  • 44.
    44 PEMERIKSAAAN FISIK IBUNIFAS NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1 Memberi salam dan perkenalan 2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sopan, sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 1 Mencuci tangan 2 Mengatur posisi klien, anjurkan ibu untuk berbaring terlentang di atas tempat tidur pemeriksaan dengan santai. 3 Memeriksa Keadaan umum, kesadaran, dan tanda – tanda vital 4 Memeriksa kepala : • Keadaan kulit kepala dan rambut • Keadaan muka : mata, hidung, telinga dan mulut • Periksa leher : kelenjar limfe, kelenjar thyroid, dan vena jugularis 5 Memeriksa dada : Dada : simetris, pernafasan, retraksi dinding dada, auskultasi pada saluran pernafasan 6 Payudara dan axilla : Ibu diminta berbaring dengan lengan di atas kepala, kemudian lakukan palpasi payudara secara sistematis sampai axilla, catat adanya massa, benjolan yang membesar, pembengkakan atau abses. 7 Perhatikan bagian areola dan papilla untuk dilihat kondisinya (kering, pecah, pendek, rata). 8 Apakah ada bagian yang nyeri tekan. 9 Perhatikan pengeluaran ASI 10 Periksa abdomen : Periksa keadan perut, hati dan limpha, Pastikan tinggi fundus uterus dan kontraksi uterus, Periksa keadaan kandung kemih, Periksa distansia recti abdominis, Periksa pinggang (waspadai infeksi pada saluran urinaria ) 11 Periksa eksterimitas bawah : 1. Periksa kaki untuk vena varises, kemerahan dan edema pada betis, tulang kering, pergelangan kaki. 2. Tekuk kedua kaki untuk diperiksa nyeri betis (tanda Homan 12 Bantu ibu pada posisi lithotomi untuk pemeriksaan genetalia dan perineum. ( Berikan kenyamanan dan privasi kepada ibu selama Pemeriksaan) • Kenakan handscoen steril • Periksa vulva, uretra, vagina dan perineum untuk penyembuhan dari laserasi atau penjahitan episiotomi. ( Luka yang masih basah terasa nyeri, perhatikan adakah pus / nanah ) • Perhatikan warna, konsistensi dan bau dari lokhea Melepaskan sarung tangan dan menempatkan sarung tangan pemeriksaan di dalam larutan desinfektan. • Perhatikan prinsip septik dan aseptik. 13 Beritahu ibu mengenai hasil pemeriksaan. Jelaskan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh ibu. 14 Memberikan pendidikan kesehatan sesuai kebutuhan ibu 15 Mencuci tangan C. TEKNIK 1 Teruji melaksanakan secara sistematis 2 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 3 Memperhatikan prinsip aseptic dan antiseptik 4 Menjaga privacy 5 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 6 Teruji mendokumentasikan hasil
  • 45.
    45 PERAWATAN PERINEUM DANVULVA N O LANGKAH A SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah 2. Memperkenalkan diri 3. Memberitahu klien bahwa perineumnya akan dirawat /diobati 4. Teruji memposisikan pasien dengan tepat 5. Teruji menjaga privacy pasien B CONTENTS/ISI 6. Mendekatkan alat-alat 7. Mencuci tangan dengan sabun 8. Memposisikan klien, sikap dorsal recumben 9. Memasang alas bokong 10. Meminta pasien untul melepaskan celana dalam klien, membuang pembalut 11. Memakai sarung tangan 12. Mengambil kapas DTT membersihkan labia kanan 13. Mengambil kapas DTT membersihkan labia kiri 14. Mengambil kapas DTT membersihkan vestibulum 15. Mengambil kapas DTT membersihkan perineum 16. Mengambil kapas DTT membersihkan anus 17. Mengeringkan dengan kasa bersih dan kering 18. Memperhatikan tanda-tanda infeksi 19. Memberikan obat pada luka perineum 20. Memasang celana dalam dan pembalut yang kering dan bersih 21. Mengambil alas bokong 22. Merapikan klien 23. Membereskan alat 24. Mencuci sarung tangan dilarutkan klorin 0,5% dan melepaskan secara terbaik 25. Mencuci tangan dengan sabun 26. Menginformasikan hasil pemeriksaan C TEKNIK 27. Melaksanakan secara sistimatis 28. Melakukan komunikasi dengan pasien 29. Merespon pasien terhadap 30. Memperhatikan prinsip pencegahan infeksi 31. Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu
  • 46.
    46 CARA MENYUSUI YANGBENAR NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1 Memberi salam dan perkenalan 2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sopan, sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 1 Mencuci tangan 2 Menjelaskan pada ibu tentang prinsip utama dalam menyusui sesuai kebutuhan ibu (pola menyusui/durasi menyusui/waktu menyusui) 3 Sebelum mulai menyusui, menganjurkan ibu untuk memposisikan diri senyaman mungkin (duduk/setengah duduk/tidur) 4 Menjelaskan dengan sabar beberapa posisi menyusui yang dapat dipilih ibu 5 Meminta ibu untuk mengeluarkan sedikit ASI dan mengoleskannya ke daerah puting 6 Memposisikan bayi sesuai dengan posisi yang dipilih ibu * posisi setengah duduk (laidback position) a. meletakkan bayi diatas perut ibu (perut bayi menempel pada perut/badan ibu) b. kepala bayi disangga oleh lengan ibu c. kepala bayi menghadap ke arah payudara (telinga, bahu dan lengan bayi seperti garis lurus) * posisi tidur miring a. meletakkan bayi sedekat mungkin dengan ibu b. bayi dihadapkan ke perut ibu (perut bayi menempel dengan perut ibu) c. dagu bayi menempel pada payudara ibu (telinga, bahu dan lengan bayi seperti garis lurus) d. tangan ibu menahan punggung bayi dengan lembut * posisi rugby ball a. meletakkan bantal penyangga di samping kanan/kiri tubuh ibu b. meletakkan bayi diatas bantal, dibawah lengan ibu (kepala bayi berada di depan payudara/ menghadap payudara) c. tangan kanan ibu menopang leher dan kepala bayi (bila bayi menyusu di payudara kanan, begitu juga bila sebaliknya) 7 Mengajari ibu cara perlekatan bayi terhadap payudara yang baik a. memposisikan hidung atau sisi mulut atas bayi berlawanan dengan puting (sisi atas mulut bayi berada tepat dibawah puting, sehingga bayi dapat mencium puting) b. tunggu hingga bayi membuka mulut nya dengan lebar (bila dibutuhkan, rangsang bagian atas bibir bayi dengan puting) c. saat bayi membuka mulutnya dengan lebar, beri sedikit dorongan pada kepala bayi dengan lembut untuk mendekat ke arah payudara, sehingga mulut bayi terisi penuh oleh bagian payudara) 8 Mengajari ibu untuk mengenali posisi dan perlekatan menyusui yang efektif/baik *perlekatan yang tepat : dagu bayi menempel pada payudara ibu, bagian areola atas lebih banyak terlihat dari pada areola bawah, tidak ada suara “kecapan” pada saat bayi menghisap payudara ibu, ibu tidak merasa nyeri/perih pada bagian puting *posisi yang tepat : pada posisi menyusui miring dan duduk -> telinga, bahu dan lengan bayi seperti garis lurus 9 Menjelaskan pada ibu tentang bagaimana mengakhiri menyusui (menekan dengan lembut dagu bayi/memasukkan jari kelingking pada samping kiri atau kanan mulut bayi) 10 Mengajarkan ibu untuk menyendawakan bayi atau bila bayi tertidur, posisikan kepala dalam keadaan miring agar bayi tidak tersedak
  • 47.
    47 11 Cuci tangan C.TEKNIK 1 Teruji melaksanakan secara sistematis 2 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 3 Memperhatikan prinsip aseptic dan antiseptik 4 Menjaga privacy 5 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 6 Teruji mendokumentasikan hasil
  • 48.
    48 BREAST CARE POSTNATAL NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1 Memberi salam dan perkenalan 2 Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3 Teruji memposisikan pasien dengan tepat 4 Teruji tanggap terhadap reaksi pasien 5 Teruji sopan, sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 6 Mencuci tangan 7 Pasien diatur dalam posisi duduk, pakaian atas dan bra dilepas 8 Handuk dipasang di punggung dan di pangkuan pasien 9 Posisi bidan di belakang 10 Licinkan kedua telapak tangan dengan minyak kelapa 11 Letakkkan kedua tangan diantara kedua payudara 12 Payudara diurut dari bagian tengah ke atas, melingkar kekiri dan kekanan menuju ke bawah 13 Telapak tangan diurutkan kearah depan dan payudara diangkat kemudian dilepaskan perlahan ( dilaksanakan 20 - 30 x ) 14 Telapak tangan kiri memegang atau menopang payudara kiri, jari tangan kanan sisi kelingking mengurut payudara kerah puting susu, dilaksanakan 20 - 30 kali 15 Mengurut payudara dari pangkal menuju putting susu dengan tulang sendi – sendi jari tangan, lakukan 30 kali 16 Payudara dibersihkan dengan washlap menggunakan air hangat dan air dingin, selama kurang lebih 5 menit 17 Keringkan payudara dengan handuk Bantu ibu memakai bra dan pakaian 18 Cuci tangan C. TEKNIK 19 Teruji melaksanakan secara sistematis 20 Teruji memberikan perhatian terhadap respon pasien 21 Memperhatikan prinsip aseptic dan antiseptik 22 Menjaga privacy 23 Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 24 Teruji mendokumentasikan hasil
  • 49.
    49 PERAWATAN PAYUDARA DENGANBENDUNGAN ASI NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah, mempersilahkan klien duduk 2. Memperkenalkan diri kepada klien 3. Menjelaskan maksud dan tujuan konseling 4. Merespon terhadap reaksi klien dengan cepat dan tepat 5. Menjaga privacy pasien B. ISI 1 Menanyakan dan mendengarkan keluhan klien 2 Cuci tangan dengan sabun dan dikeringkan dengan kain bersih/handuk 3 Mengatur posisi ibu senyaman mungkin 4 Melakukan pemeriksaan pada payudara* (menunjukkan rasa empati dengan reaksi ibu selama proses pemeriksaan) 5 Melakukan pengkajian penyebab pembengkakan payudara secara detail :* *frekuensi menyusui yang kurang *bayi diberikan makanan lain (susu formula ataupun makanan lain selain ASI) *adanya permasalahan pada payudara *bayi tidak mau menyusu *Ibu tidak mau menyusui (psikologis ibu) *Adanya pengaruh sosial-budaya (menggunakan bahasa non-verbal selama berkomunikasi dengan ibu) 6 Memberikan penjelasan tentang penyebab payudara bengkak dengan bahasa yang mudah dipahami :* (Keterlambatan memulai menyusui, posisi dan perlekatan menyusui yang kurang tepat, pengeluaran ASI dari payudara yang tidak sempurna, kurangnya frekuensi menyusui) 7 Memberikan penjelasan cara mencegah pembengkakan payudara dengan bahasa yang mudah dipahami :* *posisi dan perlekatan bayi tepat *ketika menyusui, biarkan bayi melepaskan hisapannya sendiri yang berarti bayi telah puas menyusu (jika masih ada ASI pd payudara, lakukan pemerahan) *menyusui bayi sesering mungkin sesuai kebutuhan bayi (on demand) *jika produksi ASI sangat banyak, lakukan pemerahan ASI (untuk membantu pengosohan payudara secara sempurna) 8 Menjelaskan pada ibu beberapa metode penatalaksanaan pembengkakan payudara dengan bahasa yang mudah dipahami* 9 Memberitahu ibu tujuan dan prosedur perawatan payudara dengan bahasa yang mudah dipahami* 10 Melakukan pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit 11 Melakukan pengurutan payudara dari arah pangkal menuju putting susu atau menggunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah “Z” menuju putting susu 12 Menekanekan dengan lembut area areola diantara puting dengan 5 jari (5 jari membentuk lingkaran) beberapa saat untuk menstimulasi daerah areola melunak. 13 Melakukan pengeluaran ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga putting susu menjadi melunak. Kemudian bersihkan kedua payudara 14 Membantu ibu untuk menyusui bayinya. Apabila bayi tidak dapat mengosongkan ASI dengan sempurna, ASI dikeluarkan dengan tangan (lihat prosedur pemerahan asi). 15 Meletakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui dan mengeringkan payudara 16 Membereskan alat, merapikan pasien dan cuci tangan C. TEKNIK 1 Menjelaskan secara sistematis ( disesuaikan urutan di content ) 2 Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan komunikatif 3 Memberi kesempatan untuk bertanya dan memberi umpan balik 4 Percaya diri dan tidak ragu 5 Mendokumentasikan tindakan dan hasil pendkes
  • 50.
    50 PENDIDIKAN KESEHATAN PERAWATANPUTING SUSU DATAR/MASUK KE DALAM NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Menyambut pasien dengan sopan dan ramah 2. Memperkenalkan diri dengan pasien 3. Teruji mempersilahkan pasien duduk dan komunikatif 4. Teruji merespon reaksi pasien dengan tepat 5. Teruji menjelaskan dengan sabar dan teliti B. CONTENT/ISI 1 Mendekatkan alat-alat yang diperlukan 2 Mencuci tangan dengan sabun 3 Membangun kepercayaan diri (confidence) ibu dengan menjelaskan bagaimana bayi menghisap payudara (bukan puting) saat menyusu dengan penuh empati 4 Menjelaskan tujuan tindakan kepada pasien 5 Membantu pasien melepaskan pakaian bagian atas 6 memberikan informasi metode yang dapat digunakan untuk membantu proses menyusui (bantuan alat -nipple shield/nipple shell- dan teknik manual mengeluarkan puting -teknik hoffman/mengeluarkan puting dg Disposable Syringe-) dengan ramah 7 Membantu mengeluarkan puting ibu dengan penuh empati (pilih metode sesuai kondisi dan kebutuhan ibu) a. Dengan disposable syringe ukuran 10 ml * lepaskan piston pada syringe * potong ± 1 cm dari mulut syringe menggunakan pisau tajam * masukkan piston pada sisi syringe yang telah dipotong * mengajarkan ibu cara penggunaan alat dengan sabar - instruksikan ibu untuk menempelkan mulut/pangkal syringe pada bagian sekitar puting , kemudian menarik piston dengan stabil tetapi lembut (untuk menghisap puting) selama ± 30-60 detik - instruksikan ibu untuk melepaskan syringe dengan mendorong kembali piston ke posisi semula secara perlahan (untuk menghindari nyeri akibat pelepasan syringe) * menjelaskan dengan ramah pada ibu kapan alat ini dapat digunakan b. Dengan teknik Hoffman * mengajarkan cara pengeluaran putting dengan teknik Hoffman - instruksikan ibu untuk meletakkan kedua ibu jari secara berlawanan tepat pada dasar puting (atas-bawah/samping kanan-kiri) - kedua ibu jari menekan payudara, secara bersamaan arahkan ibu jari ke sisi yang berlawanan (untuk meregangkan sehingga puting tertarik keluar) * menjelaskan dengan ramah pada ibu kapan teknik ini dapat digunakan 8 Membantu ibu dengan sabar untuk menyusui bayinya 9 Mengajarkan dengan sabar cara memerah ASI *apabila dibutuhkan a. menjelaskan dengan sabar pilihan metode untuk memerah ASI b. Menyiapkan wadah steril untuk ASI perah c. Memperagakan pada ibu cara mempersiapkan payudara sebelum memerah ASI (mengurut lembut payudara dengan jari dari arah pangkal menuju ke areola, dengan 4 jari mengetuk lembut payudara, menggoyang-goyangkan payudara dengan lembut) d. menginstruksikan ibu untuk meletakkan ibu jari di bagian atas areola sedangkan jari yang lain berada di bawah payudara (seperti membentuk huruf C) e. menginstruksikan ibu untuk menekan dengan lembut pada area tersebut (untuk mengeluarkan ASI) f. menjelaskan pada ibu jika aliran ASI sudah berkurang, pindahkan jari ke bagian lain dan lakukan pemerahan hingga ASI benar-benar tidak keluar
  • 51.
    51 g. menjelaskan padaibu jika ASI tidak mengalir, coba pindahkan jari mendekati atau menjauhi puting, dan ulangi gerakan memerah dengan lembut C. TEKNIK 16. Teruji menjelaskan secara sistematis 17. Teruji menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 18. Teruji melakukan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu 19. Teruji memberi kesempatan pada ibu untuk bertanya 20. Teruji melakukan kontak mata selama pendkes
  • 52.
    52 PERLEKATAN IBU DANBAYI DENGAN MENGGUNAKAN METODE KANGURU NO LANGKAH A. SIKAP DAN PERILAKU 1. Memberi salam dan perkenalan 2. Menjelaskan prosedur yang akan dilakukan 3. Memposisikan pasien dengan tepat, sebelum, selama dan sesudah tindakan 4. Teruji sopan, sabar, dan teliti 5. Teruji tanggap dengan reaksi pasien B. CONTENT 6. Mencuci tangan 7. Siapkan ibu yaitu ibu sudah dalam keadaan bersih, menggunakan pakaian bersih, dan dada ibu tidak terhalang oleh BH 8. Siapkan bayi yaitu bayi hanya menggunakan popok, kaos kaki, dan topi bayi 9. Letakkan bayi diantara payudara dengan posisi tegak, dada bayi menempel pada dada ibu 10. Kepala dipalingkan ke sisi kanan atau kiri dengan sedikit tengadah (eksistensi) 11. Tangan dalam fleksi 12. Pangkal paha bayi harus dalam posisi fleksi dan ekstensi seperti posisi “katak” 13. Gunakan pakaian kanguru dengan batas kain atas berada di bawah kuping bayi 14. Ikat dengan kencang agar ibu tetap bias beraktifitas 15. Kenakan pakaian luar ibu sebagai penutup C. TEKNIK 16. Teruji melaksanakan secara sistematis 17. Teruji menjaga privasi pasien 18. Teruji memberikan perhatian terhadap respon klien 19. Teruji percaya diri dan tidak ragu-ragu 20. Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
  • 53.
    53 SENAM NIFAS N O KEGIATAN 1. Menyiapkanperlengkapan: a. Matras b. Bantal 2. Melakukan pemanasan; berbaring terlentang miring kekiri kemudian kekanan. 3. Latihan Kegel ( untuk otot dasar panggul ) Untuk mengontraksikan pasangan otot-otot ini, bayangkanlah bahwa anda sedang buang air seni dan lalu anda tiba-tiba menahannya ditengah-tengah. Atau bayangkan bahwa dasar panggul merupakan sebuah elevator secara perlahan anda menjalankannya sampai lantai 2 lalu kemudian kelantai 3 dan seterusnya, dan kemudian balik turun secara perlahan. Begitulah cara melatih otot-otot tersebut. Dengan menggunakan visualisasi dan berkonsentrasi pada otot, angkat dan tarik masuk, tekan dan tahan, kemudian secara perlahan turunkan dan lepaskan. 4. Pengencangan abdomen Pada penghembusan nafas : (untuk abdomen) Berbaringlah atau berbaring miring, lutut ditekuk, tangan dibagian perut. Hiruplah perlahan dalam-dalam sampai merasakan abdomen naik. Pada saat menghembuskan nafas, tariklah otot abdomen kedalam hingga paru-paru terasa kosong. Hitung sebanyak 3 kali hitungan yang panjang, kemudian lepaskan. 5. Miringkan panggul : (untuk punggung bagian bawah abdomen) Berbaringlah, dengan lutut dibengkokkan. Putarlah panggul dengan jalan meratakan punggung bagian bawah sampai ke lantai dengan meniadakan bagian yang berongga. Kontraksikan otot abdomen pada waktu menghembuskan nafas dan kencangkan pantat. Biarkan panggul miring naik keatas.Tahan selama 3 hitungan panjang kemudian lepaskan 6. Latihan mengangkat kepala Tarik napas dalam-dalam, angkat kepala sedikit sambil menghembuskan napas, kemudian turunkan kepala perlahan sambil menarik napas. Angkat kepala lebih tinggi sedikit setiap hari dan secara bertahap usahakan mengangkat pundak. 7. Sikap merangkak bertumpu pada lutut dan telapak tangan. Gerakkan pinggang ke atas, ke bawah, sambil kencangkan otot perut. 8. Sikap merangkak bertumpu pada lutut dan telapak tangan. Gerakkan pinggul dan kepala ke kiri dan ke kanan bergantian. 9. Latihan meregangkan badan a. Berbaring telentang, kencangkan otot perut, gerakkan lengan di samping badan seolah hendak menjangkau mata kaki secara bergantian. Luruskan kembali. b. Berbaring miring. Kencangkan otot perut, gerakkan lengan lurus ke atas kepala dan kaki lurus-lurus ke bawah sehingga badan membentuk garis lurus. 10. Bahu berputar dan lengan terlantang: untuk postur dan peredaan tegangan punggung bagian atas Selagi anda duduk, angkat lengan sampai setinggi bahu, siku dibengokkan tangan diatas bahu. Putarlah ke dua arah. Kemudian angkat ke 2 lengan ke atas kepala, secara bergantian angkat salah satunya lebih tinggi dari yang lain (seakan sedang memetik buah apel dari pohonnya). Latihan ini juga bisa dilakukan sambil berdiri 11. Duduk Letakkan tangan di atas kepala, otot perut dikencangkan ke dalam dan gerakan tubuh ke depan untuk memegang jari-jari kaki. 12. Latihan Kaki Mengambil posisi berbaring terlentang, kaki diluruskan dengan sedikit terbuka: a. Gerakkan kaki kanan dan kiri ke depan dan belakang b. Putar persendian kaki melingkar kedalam sampai sisi luar kaki menyentuh lantai c. Putar persendian kaki melingkar keluar sampai sisi luar kaki menyentuh lantai d. Kedua tungkai bawah lurus dalam posisi rapat, kemudian tempatkan tungkai kanan diatas tungkai kiri secara bergantian e. Kedua tungkai bawah dirapatkan, angkat tungkai bawah silih berganti keatas dengan tinggi semaksimal mungkin 13. Berbaring telungkup Berbaring dengan bantal di bawah kepala dan sebuah lagi di bawah perut kemudian kencangkan otot perut. berbaring tidak boleh lebih dari 20 menit.
  • 54.
    54 14. Merentang untukpostur abdomen dan kenyamnan Berbaringlah dengan kaki dinaikkan sedikit diatas bangku pendek, pinggir ranjang atau meja kopi. Kontraksikan dinding abdomen dan pantat secara perlahan naikkan pinggul menjauh dari lantai hingga tubuh dan kaki berada dalam satu garis lurus. Jangan bengkokkan punggung. Ingat untuk bernafas. 15. Bereskan perlengkapan yang telah digunakan.
  • 55.
    55 DAFTAR TILIK ASUHAN BAYIBARU LAHIR DAN NEONATUS
  • 56.
    56 PERAWATAN TALI PUSAT N O LANGKAH ASIKAP DAN PERILAKU 1. Teruji komunikatif memperkenalkan dengan orang tua bayi 2. Teruji menunjukkan rasa empaty terhadap bayi 3. Teruji tanggap dengan reaksi bayi 4. Teruji bersikap sopan, lembut 5. Teruji cekatan dan teliti B. CONTENT/ISI 6. Cuci tangan dengan air bersih dan sabun 7. Membuka pakaian bayi 8. Membersihkan tali pusat dengan kasa dan air DTT dari ujung luka ke pangkal 9. Mengeringkan tali pusat dengan kasa kering 10. Pertahankan sisa tali pusat dalam keadaan terbuka agar terkena udara tanpa ditutupi dengan kasa 11. Lipatlah popok dibawah sisa tali pusat 12. Mengenakan pakaian bayi 13. Membereskan alat-alat 14. Mencuci tangan dengan sabun 15. Menginformasikan hasil tindakan dan memberikan bayi kepada ibu C. TEKNIK 16. Teruji melaksanakan tindakan secara sistematis dan berurutan 17. Teruji memposisikan bayi dengan tepat dan baik 18. Teruji berkomunikasi dengan ibu bayi secara baik 19. Teruji tetap menjaga kehangatan bayi 20. Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu 21. Teruji mendokumentasikan hasilnya
  • 57.
    57 MEMANDIKAN BAYI NO LANGKAH ASIKAP 1. Teruji menunjukkan rasa empati terhadap bayi 2. Teruji tanggap terhadap reaksi bayi 3. Teruji sabar dan teliti 4. Teruji komunikatif 5. Teruji bersikap lembut B. CONTENT/ISI 6. Menggunakan celemek 7. Mencuci tangan dengan sabun dan air 8. Menyiapkan keperluan mandi seperti : a. Bak mandi bayi b. Handuk 2 (dua) buah c. Sabun d. Air hangat e. Popok atau pakaian bayi f. Selimut g. air dingin h. Kapas basah untuk cebok i. 2 waslap j. Celemek 9. Mempersiapkan ruangan dalam keadaan hangat 10. Memeriksa air hangat (hangat-hangat kuku) dalam bak mandi, diperiksa dengan punggung tangan 11. Melepas pakaian hangat 12. Membersihkan tinja dari daerah pantat sebelum dimandikan agar air mandi tetap segar (bila ada) 13. Meletakkan bayi pada selembar handuk 14. Membersihkan mata, hidung dan telinga 15. Menyangga kepala bayi sambil mengusapkan air ke muka, tali pusat dan tubuh bayi 16. Menyabuni seluruh badan bayi (dada, tangan, kaki) 17. Mencuci tali pusat dengan air bersih dan sabun, bersihkan dan keringkan seluruhnya 18. Membersihkan alat genetalia (tarik katup ke belakang kemudian dibersihkan) 19. Menempatkan bayi kedalam bak mandi (diangkat dengan perasat garpa), bilaslah sabun dengan cepat 20. Mengeringkan bayi dengan handuk yang hangat dan kering 21. Menempatkan bayi pada alas dan popok yang hangat dan kering (menyingkirkan handuk basah ke pinggir) 22. Mengenakan popok, baju bayi dan diselimuti dengan kain bersih dan kering 23. Memberikan bayi kepada ibu untuk disusui 24. Membereskan alat-alat 25. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir C. TEKNIK 26. Teruji melaksanakan secara sistematis 27. Teruji memposisikan bayi dengan tepat dan baik 28. Teruji menjaga keamanan dan keselamatan bayi 29. Teruji melaksanakan tindakan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu
  • 58.
    58 PEMERIKSAAN FISIK BAYIBARU LAHIR No LANGKAH A SIKAP 1. Teruji menjelaskan prosedur yang akan dilakukan kepada orang tua bayi 2. Teruji memperhatikan keadaan bayi 3. Teruji melaksanakan tindakan dengan lembut dan hati – hati 4. Teruji tanggap terhadap reaksi bayi 5. Teruji sabar dan teliti B CONTENT/ISI 6. Menggunakan celemek 7. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir 8. Mempersiapkan alat – alat : a. Thermometer b. Tissue pembersih dan gelas berisi air sabun c. Tensimeter bayi d. Stetoskop e. Metline f. Jam tangan g. Timbangan bayi + alas h. Penlight/senter i. Perlak + alas j. Kapas basah dalam kom k. Kapas kering dalam kom l. Set pakaian bayi m. Selimut bayi n. Kassa steril dalam kom o. Bengkok p. Ember tertutup q. Tempat sampah 9. Beritahu ibu dan keluarga tentang tujuan pemeriksaan dan prosedur tindakan 10. Menyiapkan alat dan bahan secara ergonomis 11. Memastikan ruangan tempat pemeriksaan hangat 12. Letakkan bayi pada tempat tidur yang datar dan hangat dengan posisi terlentang 13. Lakukan penimbangan berat badan bayi dengan cara meletakkan kain dan atur skala timbangan ke titik nol sebelum penimbangan. Hasil timbangan dikurangi kain pengalas dan pembungkus bayi. 14. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital → Periksa suhu badan bayi (anus) => pada saat memeriksa genetalia 35,5 – 36,5°C 15. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital → Periksa laju nafas (respirasi) 40 – 60 x/menit 16. Lakukan pemeriksaan tanda-tanda vital → Periksa laju jantung/nadi 100 – 160 x/menit 17. Lakukan pengukuran panjang badan 48 – 52 cm 18. Lakukan pengukuran lingkar kepala 32 – 38 cm 19. Lakukan pemeriksaan kulit : Warna, sianosis, ikterus, vernik kaseosa, turgor, tanda lahir, kemerahan, edema 20. Lakukan pemeriksaan kepala : ukuran, bentuk, fontanel anterior dan posterior, distribusi rambut, warna rambut 21. Lakukan pemeriksaan mata : simetrisitas, konjungtiva, sclera, kotoran mata, peradangan/kemerahan, respon mata boneka, reflek kedipan 22. Lakukan pemeriksaan telinga : posisi, lesi, cairan, kotoran, peradangan, respon suara 23. Lakukan pemeriksaan hidung : posisi, pernafasan cuping hidung, kotoran hidung, sisa cairan ketuban 24. Lakukan pemeriksaan mulut : posisi, langit-langit mulut, lidah, tonsil, reflek hisap dan menelan 25. Lakukan pemeriksaan leher : benjolan/pembesaran kelenjar limfe & thyroid, reflek tonik neck (letakkan bayi dalam posisi terlentang, putar kepala ke satu sisi badan ditahan; ekstremitas pada sisi kemana kepala
  • 59.
    59 diputar terekstensi, tapiekstremitas pada sisi lain terfleksi) 26. Lakukan pengukuran lingkar dada 30 – 36 cm 27. Lakukan pemeriksaan dada : pernafasan dada, bunyi nafas, bentuk dada, puting susu 28. Lakukan pengukuran lingkar lengan bayi 29. Lakukan pemeriksaan ekstremitas atas : simetrisitas, fleksi sempurna, gerakan aktif, trauma lahir/kecacatan, jumlah jari tangan, grasp reflek 30. Lakukan pemeriksaan perut : bentuk abdomen, bising usus, keadaan tali pusat 3 pembuluh darah : 2 arteri, 1 vena** (tanda-tanda infeksi, perdarahan tali pusat, bersih/kotoran) 31. Lakukan pemeriksaan genitalia & anus (jika bayi BAB/BAK, bersihkan terlebih dulu genitalia dan anus & ganti popok) : lakukan colok dubur → Perempuan : lubang vagina, urethra, labia mayor & labia minor →Laki-laki : kulit genital, penis lurus (2,8 – 4,3 cm) skrotum sudah turun/belum, lubang penis Anus : berlubang/tidak (dengan colok dubur sekaligus memeriksa suhu tubuh bayi) 32. Lakukan pemeriksaan ekstremitas bawah : abduksi sempurna,simetrisitas, kelengkapan jari kaki, trauma lahir, babinsky reflek 33. Lakukan pemeriksaan punggung : lurus, datar, cekungan, adanya kecacatan (spina bifida) 34. Pakaikan kembali baju bayi 35. Bereskan kembali alat-alat 36. Berikan kembali bayi pada ibunya dan jelaskan hasil pemeriksaan pada ibu 37. Mencuci tangan sesuai prosedur C TEKNIK 38. Teruji melaksanakan secara sistematis 39. Teruji menjaga kehangatan bayi 40. Teruji percaya diri dan tidak ragu – ragu 41. Teruji menjaga keselamatan bayi 42. Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
  • 60.
    60 TANDA BAHAYA BAYIBARU LAHIR N O LANGKAH A. SIKAP 1. Menyambut klien dengan sopan dan ramah 2. Memperkenalkan diri kepada inu 3. Mempersilahkan ibu duduk 4. Menjelaskan maksud dan tujuan pendidikan kesehatan 5. Merespon terhadap reaksi ibu dengan cepat B. CONTENT/ISI 6. Melakukan apersepsi 7. Menjelaskan adanya kesulitan pemberian ASI, sulit menghisap, hisapan lemah 8. Menjelaskan adanya kesulitan bernafas, contohnya > 60 x/menit atau menggunakan otot nafas tambahan 9. Menjelaskan adanya letargi misalnya bayi terus menerusnya tidur tanpa bangun untuk makan 10. Menjelaskan adanya suhu yang abnormal misalnya kulit/bibir biru (cianosis) atau bayi sangat kuning (terutama pada 24 jam pertama), warna pucat. 11. Menjelaskan adanya suhu yang abnormal misalnya terlalu panas (>38ºC/febris) atau terlalu dingin (< 36º C/hypothermia) 12. Menjelaskan adanya tangis atau perilaku yang abnormal atau tidak biasa 13. Menjelaskan adanya gangguan gastrointestinal, misalnya tidak buang air besar selama 3 hari pertama setelah lahir, muntah-muntah terus menerus, muntah dan pembesaran abdominal, feses berwarna hijau tua/berdarah/lendir, tinja lembek 14. Menjelaskan adanya mata bengkak atau mengeluarkan cairan 15. Melakukan evaluasi C. TEHNIK 16. Menjelaskan secara sistematis 17. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti 18. Teruji melakukan dengan percaya diri dan tidak ragu-ragu 19. Memberikan kesempatan untuk bertanya 20. Menggunakan kontak mata selama pendidikan kesehatan
  • 61.
    61 VAKSINASI HEPATITIS B NOKOMPONEN A SIKAP DAN PERILAKU 1. Menjelaskan kepada orang tua pasien/keluarga tentang maksud, tujuan tindakan, prosedur tindakan, dan hal-hal yang dialami setelah tindakan 2. Pasien diposisikan dengan tepat 3. Menjelaskan hal-hal yang akan dialami setelah tindakan 4. Sabar dan teliti 5. Bersikap sopan B PELAKSANAAN: 6. Mencuci tangan 7. Membuka kemasan Vaksin 8. Menghisap vaksin sesuai dengan dosis (0,5 cc) 9. Tempat yang akan disuntik dibersihkan dengan kapas hangat 10. Menyuntik pasien secara IM 11. Merapikan pasien 12. Mengevaluasi respon pasien setelah tindakan 13. Membereskan alat-alat 14. Mencuci tangan C TEKNIK 15. Teruji melaksanakan secara sistematis 16. Teruji menjaga keselamatan bayi 17. Teruji percaya diri dan tidak ragu – ragu 18. Teruji mendokumentasikan hasil tindakan
  • 62.
  • 63.
    63 PEMBERIAN MGSO4 PADAPEB DAN EKLAMSIA No. Komponen A. Aspek Kognitif (Pengetahuan) 1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori 2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis B. Aspek Efektif (sikap) 3. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya 4. Perlakuan terhadap pasien (phantoom) 5. Persetujuan tindakan medik C. Aspek Psikomotor (keterampilan) 1. Persiapan - Petugas - Pasien Pelaksanaan : Dosis Awal 2. MgSO4 g IV sebagai larutan 40% selama 5 menit 3. Segera lanjutkan dengan pemberian 10 g larutan MgSO4 50%, masing-masinh 5 gram di bokong kanan dan kiri secara IM dalam, ditam,bah 1 ml lignokain 2% pada semprit yang sama. Pasien akan merasa agak panas sewaktu pemberian MgSO4 4. Jika kejang beruloang setelah 15 menit berikan MgSO4 2 gram (larutan 40%)IV selama 5 menit Dosis Pemeliharaan 5. MgSO4 1-2 gram 40% perjam, per infuse, 15 tetes / menit atau 5 gram MgSO4 40 IM tiap 4 jam 6. Lanjutkan pemberian MgSO4 sampai 24 jam pasca persalinan atau kejang berakhir Sebelum Pemberian MgSO4, periksa : 7. Frekuensi pernafasan minimal 16 per menit 8. Refleks patella (+) 9. Urin minimal 30 ml / jam dalam 4 jam terakhir Berhentikan Pemberian MgSO4 Jika : 10. Frekuensi pernafasan < 16 / menit 11. Refleks patella (-) 12. Urin < 30 ml / jam dalam 4 jam terakhir Siapkan Antidotum 13. Jika terjadi henti napas: lakukan ventilasi (masker, balon, vebtilator) beri kalsium glukonat 1 gram (20 ml dalam larutan 10%) IV perlahan--lahan sampai nafas mulai lagi
  • 64.
    64 PERSALINAN SUNGSANG No. Komponen 1.Persiapan alat Perangkat untuk persalinan, perangkat untuk resusitasi bayi, uterotonika (ergomentrin meleat, oksitoksin), anestesi local (lidokain 2%). Cunam piper / cunam panjang, semprit dan jarum no 23 (sekali pakai), alat-alat infuse 10%, perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi 2. Persiapan Pasien Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan, mengosongkan kandung kemih, rectum serta membersihkan daerah perineum dengan antiseptic 3. Persiapan Petugas Pakai baju dan alaskaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung., cuci tangan hingga siku dengan sabun di bawah air mengalir, keringkan dengan handuk DTT, pakai sarung tangan DTT / steril, memasang duk (kain penutup) 4. Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit 5. Instruksikan pada pasien agar mengedan dengan benar selama ada his 6. Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis 7. Melahirkan bayi : a. Cara Bracht - Segera setelah bokong lahir, bokong dicengkeram secara bacht (kedua ibu jari penolong sejajar dengan paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul). Sementara langkah ini dilakukan, seorang asisten melakukan parasat Wigand M. Wingkel - Jangan melakukan intervensi, ikuti saja proses keluarnya janin. Bila terjadi hambatan pada tahapan setinggi scapula, bahu atau kepala maka lanjutkan dengan metode manual aid yang sesuai - Longarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada - Lakukan hiperlordosis janin pada saat angulus scapula inferiortampak dibawah simifisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung bayi didekatkan kearah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi. - Gerakkan kea rah hingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala. Pada umumnya bayi dengan presentasi bokong memerlukan perawatan segera setelah lahir sehingga siapkan keperluan tersebut sebelum memimpin persalinan - Letakkan bayi di perut ibu, bungkus “bayi dengan handuk hangat, bersihkan jalan nafas bayi oleh asisten, tali pusat dipotong . - Setelah asuhan bayi baru lahir, berikan pada ibu untuk laktasi kontak dini. b. Cara Klasik Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan cara Brancht bahu dan tangan tidak bias lahir. Prosedur : - Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan kaki lahir. - Tali pusat dikendorkan - Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas. - Dengan tangan kiri dan menariknua kea rah kanan atas ibu, untuk melahirkan bahu kiri bayi yang berada di belakang. - Dengan tangan kanan dan menariknya kearah kiri atas ibu untuk melahirkan nbahu kanan bayi yang berada di belakang - Masukkan dua jari tangan kanan kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan lengan bayi, untuk melahirkan lengan belakang bayi. - Setelah bahu dan lengan belakang lahir, kedua kaki ditarik kearah bawah kontra lateral ada langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan dengan cara yang sama. c. Cara Muller Pengeluaran bahu dan tangan secara muller dilakukan jika dengan cara Brancht bahu dan
  • 65.
    65 tangan tidak biaslahir - Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik, kearah belakang kontra lateral dari letak bahu depan. - Setyelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang. d. Cara Lovset (dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang nuchal arm) - Setelah bokong dan kaki bayi lahir, memgang bayi dengan kedua tangan - Memutar bayi 180 derajat dengan lengan bayi yang terjungkit kea rah penunjuk jari tangan yang nuchal - Memutar kembali kearah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan. Beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara klasik / muller e. Ekstraksi kaki Dilakukan bila kala dua tidak maju atau tampak kegawatan ibu-bayi. Keadaan janin / ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan - Tangan kanan masuk secara obstetric, menelusuri bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi, tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut. - Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan dibelakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki ditarik curam ke wawah sampai pangkal paha lahir. - Pegang di pindah ke pangkal paha setinggi mungkin dengan kedua ibu jari dibelakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha. - Pangkal paha ditarik curam ke bawah ssampai trokhanter depan lahir. Kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dielevasi keatas hingga trokhanter belakng lahir. Bila kedua trokhanter telah lahir, berarti bokong lahir. - Sebaiknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dahulu, maka yang akan lahir labih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus curam ke bawah. - Seteloah bokong lahir maka dilanjutkan cara “b” atau ”c” atau ”d” f. Teknik ekstraksi bokong Dikerjakan bila presensi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan - Jari telunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatkan paha bagian depan. Dengan jari ini lipatpaha / Krista illaka dikait dan ditarik curam kebawah. Untuk memperkuat tenaga-tenaga tarikan ini maka tangan penolong yang lain mencekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis maka jari telunjuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik cuman ke bawah sampai bokong lahi. Setelah bokong lahir, bayi dilahirkan secara “ b” atau” c” atau” d” 8. Cara melahirkan kepala bayi a. Cara Mauriceau ( dilakukan bila bayi dilahirkan secara manual aid bila dengan Bracht, kepala belum lahir) - Letakkan badan bayi diatas tangan kiri sehingga badan bayi seoah-olah menunggang kuda - Satu jari dimasukkan ke dalam mulut dan dua jari di maksila - Tangan kanan memgang / mencekam bahu tengkuk bayi - Minta seorang asisten menekan fundus uteri - Bersamaan dengan adanya his, asisten menekan fundus uteri, penolong persalinan melakukan tarikan ke bawah sesuai arah sumbu jalan lahirdibimbing jari yang dimasukkan untuk menekan dagu dan mulut b. Cunam piper digunakan kalau mengeluarkan kepala bayi dengan Bracht atau Maureciau gagal Caranya : Tangan dan badan bayi dibungkus kain steril, cunam piper dipasang melintyang
  • 66.
    66 terhadap panggul dankepal kemudian ditarik Kala III 9. Lahirkan plasenta sevcara spontan atau manul bila ada indikasi 10. Luka Episiotomi/ robekan perineum dijahit 11. Beri uterotonika atau medikamentosa yang diperlukan 12. Awasi kala IV 13. Lakukan pemeriksaan dan pengawasan nifas 14. Dekontaminasi 15. Cuci tangan pasca tindakan 16. Perawatan pasca tindakan 17. Periksa kembali tanda vital pasien, segera buat instruksi bila diperlukan. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan dalam kolom yang tersedia 18. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai dilaksanakan dan masih memerlukan perawatan 19. Jelaskan kepada petugas tentang perawatan jadwal pengobatan dan pemantauan serta gejala- gejala yang harus diwaspadai
  • 67.
    67 PERSIAPAN EKSTRAKSI FORCEP No.Komponen A. Aspek Kognitif ( Pengetahuan ) 1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori 2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis B. Aspek Efektif (sikap) 1. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya 2. Perlakuan terhadap pasien (phantoom) C. Aspek Psikomotor (keterampilan) 1. Persetujuan tindakan medik 2. Persiapan sebelum tindakan a. Pasien - Cairan dan selang infuse terpasang - Perut bawah dan lipatan paha sudah dibersihkan dengan air sabun b. Peralatan dan obat - Uji fungsi dan kelengkapan peralatan serusutasi cardiopulmunal - Medikamentosa (analgetik, sedative, atropine sulfas) - Povidon Iodin 10% - O2 dan regulator - Set partus : 1 - Ekstraksi cunam : 1 set - Klem ovum : 2 - Cunam tampon : 1 - Spekulum sim / L : 2 - Kateter karet : 1 - Jarum, spuit no 23 : 2
  • 68.
    68 PERSIAPAN KURETASE No. Komponen A.Aspek Kognitif ( Pengetahuan ) 1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori 2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis B. Aspek Efektif (sikap) 1. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya 2. Perlakuan terhadap pasien (phantoom) C. Aspek Psikomotor (keterampilan) 1. Persetujuan tindakan medik 2. Persiapan sebelum tindakan a. Pasien - Beritahu pasien tentang tidakan dokter - Minta persetujuan keluarga (tanda tangan surat pernyataan bersedia dilakukan tindakan curretage) - Bersihkan daerah sekitar kemaluan (dicukur k/p) - Kosongkan kandung kemih (penderita disuruh kencing aatau dikateter) - - pasien puasa ± 6 jam
  • 69.
    69 PLASENTA MANUAL No. Komponen A.Aspek Kognitif ( Pengetahuan ) B. Aspek Efektif (Sikap) 1. Penampilan mahasiswa 2. Persiapan : Alat, petugas, pasien, mahasiswa C. Prosedur kegiatan 1. Persiapan alat 2. Persiapan pasien : Cairan dan slang infuse sudah terpasang. Perut bawah dan lipatan paha sudah dibersihkan dengan air sabun : uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi, siapkan kain alas bokong, sarung kaki dan penutup perut bawah ; medikamentosa ; analgetika (Pethidin 1-2 mg/Kg BB, Ketamin Hd 0.5 mg/Kg BB, Tramadol 1-2 mg/KgBB), sedative (Diazepam 10 mg), Atropin sulfas 0.25-0.50 mg/ml, Uterotonika, Oksitoksin, Ergometrin, Prostaglandin, Cairan NaCl 0.9 % dan RL, set infuse. Larutan antiseptic (povidon iodine 10%). Oksigen dengan regulator 3. Persiapan petugas : Bajhu kamar tindakan, pelapis plastic, masker dan kacamata pelindung : 3 set, sarung tangan DTT / steril sebaiknya sarung tangan panjang : alas kaki (sepatu boot 1% karet) ; 3 pasang ; instrument; Kocher 2, semprit 5 ml, jarum suntik no 236, mangkok logam (wadah plasenta) 1 kateter karet dan penampung air kemih, 1 benang kromik 2/0, 1 rol set partus, 1 set Tindakan penetrasi ke kavum uteri 4. Instruksikan asisten untuk memberikan sedative dan analgetik melalui rectal 5. Lakukan katerisasi kandung kemih (bila perlu) 6. Jepit tali pusat dengan kocher kemudian tegangkan tali pusat sejajar lantai 7. Secara obstetric, masukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah)ke dalam vagina dengan menelusuri tali pusat bagian bawah 8. Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta asisten memegang kocher, kemudian tangan lain penolong menahan fundus uteri 9. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan ke dalam ke kavum uteri sehingga mencapai tempat implementasi plasenta menyusul bawah tali pusat 10. Melepas plasenta dari dinding uterus 11. Tentukan imnplantasi plasenta, temukan tepi plasenta yang paling bawah - Bila berada di belakang tali pusat tetap di sebelah atas. Bila ada bagian depan, tali pusat dengan punggung tangan menghadap atas. - Bila plasenta di bagian belakang lepaskan plasenta dari tempat implaniasinya dengan jalan menyelipkan ujung jari diantara plasenta dan dinding uterus dengan punggungtangan menghadap ke dinding dalam uterus - Bila plasenta di bagian depan, lakukan hal yang sama (punggung tangan pada dinding kavum uteri) tetapi tali pusat berada di bawah telapak tangan kanan 12. Kemudian gerakkan tangan ke kiri dan kanan sambil bergeser ke cranial sehingga semua permukaan maternal plasenta dapat dilepaskan sambil melakukan tindakan, Perhatikan keadaan ibu (pasien), Lakukan penanganan yang sesuai bila terjadi penyulit 13. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi ulangan untuk memastikan tidak ada bagian plasenta yang masih melekat pada dinding uterus 14 Mengeluarkan plasenta 15. Pindahkan tangan luar ke supra simfisis untuk menahan uterus pada saat plasenta dikeluarkan 16. Instruksikan asisten yang memegang kocher untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam menarik plasenta keluar (hindari percikan darah) 17. Sambil menarik plasenta keluar lakukan sedikit pendorongan uterus (dengan tangan luar), ke dorsokranial setelah plasenta lahir, perhatikan kontraksi uterus dan jumlah pendarahan yang keluar 18. Letakkan plasenta ke dalam tempat yang telah disediakan 19. Dekontaminasi pasca tindakan 20. Cuci tangan pasca tindakan Perawatan pasca tindakan 21. Periksa kembali tanda vital pasien, segersa lakuakan tindakan dan instruksi apabila masih diperlukan 22. Catat kondisi pasien dan buat laporan tindakan dalam kolom yang tersedia 23. Beritahukan pada pasien dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi pasien masih memerlukan perawatan
  • 70.
    70 KOMPRESI BIMANUAL No. Komponen A.Responsi 1. Pengetrahuan : Kontraindikasi, penanganan 2. Tujuan : komplikasi 3. Indikasi : efek samping B. Sikap 1. Penampilan mahasiswa 2. Perlakuan terhadap pasien : alat, lingkungan C. Prosedur kegiatan 1. Persiapan pasien : infuse dan cairan sudah terpasang : perut bawah, lipat paha dan vulva ; sudah dibersihkan dengan air sabun 2. Persiapan alat : Siapkan alas bokong dan kain penutup perut bawah : uji fungsi dan kelengkapan peralatan resusitasi kardiopulmuner : larutan antiseptic, medikamentosa (Analgetika (Ketamin HCL 0.5 mg / KgBB atau tramadol 1-2 mg/KgBB) dan sedative (Diazepam 10 mg/ml); Sulfase atropine0.25-0.50 mg/ml Oksige LU/MI dan ergometrin; antibiotika, oksigen dan regulator, instrument (cunam tampon (1) klem ovum (3), speculum sims atau (4) tabung jarum suntik (5 ml dan no 23)2. Kateter nelaton (1), tampon 5 cm / 1m) 3. Persiapan petugas ; baju kamar tindakan, apron, alas kaki, masker dan kacamata masing-masing 3 set; sarung tangan DTT/steril masing-masing 3 pasang;tensimeter dan stetoskop (1); lampu sorot (1) 4. Pencegahan infeksi sebelum tindakan 5. Kosongkan kandung kemih 6. Lakukan pemeriksaaan dengan benar sehingga dapat dipastikan bahwa peclarahan ini ndisebabkan atonia uteri 7. Pastikan tetesan cairan infuse yang berisi oksitoksin 20 IU berjalan dengan baik dan ergometrin 0.4 mg (perhatikan kontraindikasi) sudah diberikan secara intramuskuler. Tambahkan misoprostolapabila kontraksi uterus kurang memadai Kompresi Bimanual Internal 1. Pakai sarung tangan DTT atau steril, dengan lembut masukkan secara obstetric melalui introitus dan ke dalam vagina ibu 2. Periksa vagina dan serviks 3. Kepalkan tangan dalam dan tempatkan dalam formiks anterior, tekan dinding uuterus kearah tangan luar yang menahan dan mendorong dinding prosterior uterus kea rah depan dan belakang 4. Tekan kuat uterus diantara kedua tangan 5. Evaluasi keberhasilan - Jika uterus terus berkontraksi dan pendarahan berkurang, teruskan melakukan KBI salama 2 menit, kemudian perlahan-lahan keluarkan tangan dan pantau ibu secara melekat selama kala IV - Jika uterus terus berkontraksi tetapi pendarahan masih tetap berlangsung, periksa ulang perineum, vagina dan serviks apakah terjadi laserasi. Jika demikian segera lakukan penjahitan agar pendarahan berkurang - Jika uterus tidak berkontraksi selama 5 menit, ajarkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksternal. Minta keluarga untuk mulai menyiapkan rujukan Jika tidak berhasil : 6. Berikan 0.2 mg egometrin IM atau misoprostol 600-1000 mg / per rektak. Jangan berikan ergometrin kepada ibu dengan hipertensi karena ergometrin dapat menaikkan tekanan darah 7. Gunakan jarum berdiameter besar (ukuran 16 atau 18), pasang infuse dan berikan larutan sringer laktat 500 cc yang mengandung 20 unit oksitoksin 8. Pakai sarung tangan steril atau DTT dan ulangi KBI 9. Jika uterus tidak berkontraksi dalam waktu 1-2 menit, segera rujuk ibu 10. Sambil membawa ibu ke tempat rujukan terus lakukan KBI dan infuse cairan hingga ibu sampai di tempat Kompresi bimanual eksternal 1. Letakkan satu tangan pada dinding abdomen dan dinding depan korpus uteri dan di atas simfisis pubis 2. Letakkan tangan lain pada dinding abdomen dan dinding belakang korpus uteri, sejajar dengan dinding depan korpus uteri, usahakan untuk mencakup/memegang bagian belakang uterus seluas mungkin 3. Lakukan kompresi uterus dengan cara saling mendekatkan tangan depan dan belakang agar pembuluh darah didalam anyaman miometrium dapat dijepit secara manual. Cara ini dapat menjepit pembuluh darah uterus dan membantu uterus untuk berkontraksi.
  • 71.
    71 Kompresi Aorta Abdominalis 1.Baringkan ibu diatas ranjang, penolong menghadap sisi kanan pasien. A tur posisi penolong sehingga pasien mempunyai ketingian yng sama dengan pinggul penolong 2. Tungkai diletakan pada dasar yang rata ( taidak menggunakan penopang kaki ) dengan sedikit flejsi pada artikulasio koksae 3. Raba pulsasi arteri femoralis denagn jalan meletakkan ujung jari telunjuk dan tengah pada lipatan paha, yaitu pada perpotongan garis lipat paha dengan garis horizon yang melalui titik 1 sentimeter diatas dan sejajar dengan tepi atas simfisis assium pubis. Pastikan pulsasi arteri tersebut teraba dengan baik 4. Setelah pulsasi dikenali, jangan pindahkan kedua ujung jari pada titik pulsasi tersebut 5. Kepalkan tangan kiri dan tekankan bagian punggung jari telunjuk tangan, manis dan kelingking pada umbilicus kearah kolumna vertebralis dengan arah agak lurus 6. Dorongan kepalan tangan kanan akan mengenai bagian yang keras di bagian tengah / sumbu badan ibu dan apabila tekanan kepalan tangan kiri mencapai aorta abdominalis maka pulsasi arteri femoralis (yang dipantau dengan ujung jari telunjuk dan tengah tangan kanan ) akan berkurang / terhenti (tergantung dari derajat tekanan pada aorta) 7. Perhatikan perubahan pendarahan pervaginam (kaitkan dengan perubahan pulsasi arteri femoralis) - Bila pendarahan berhenti sedangkan uterus tidak berkontraksi dengan baik, usahakan pemberian preparat prostaglandin. Bila bahan tersebut tidak tersedia atau tetap tidak dapat berkontraksi ssetelah pemberianm prostlagandin, pertahankan posisi demikian hingga pasien dapat mencapai fasilitas rujukan - Bila kontraksi membaik tetapi pendarahan masih berlangsung maka lakukan kompresi eksternal dan pertahankan posisi demikian hingga pasien mencapai fasilitas rujukan - Bila kompensasi sulit untuk dilakukan secara terus-menerus maka lakukan pemasangan tampon padat utero vaginal pasang gurita ibu dengan kencang dan lakukan rujukan - Kompresi baru dilepaskan bila pendarahan berhenti dan uterus berkontraksi dengan baik. Teruskan pemberian uteronika 8. Bila pendarahan berkurang atau berhenti, pertahankan posisi tersebut dan lakukan pemijatan uterus oleh asisten hingga uterus berkontraksi dengan baik (lanjutkan ke langkah selanjutnya) Prosedur sementara alternative Pada kondisi dimana rujukan tidak memungkinkan dan semua upaya menghentikan pendarahan tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan maka alternative yang mungkin dapat dilakukan adalah Pemasangan tampon eitrovaginal 9. Atur ibu dalam posisi litotomi 10. Lakukan tindakan aseptic dan antiseptic pada vulva dan vagina 11. Pasang speculum di bawah dan atas, presentasikan porsio dengan baik 12. Jepit bibir depan dengan porsio dan klem, ovum, minta asisten untuk memegang kocher tersebut, kemudian dekatkan ujung kasa di depan vulva 13. Jepit bagian tengah kasa gulung (panjang) dengan kocher panjang dan minta asisten untuk mamagang kocher tersebut, kemudian dekatkan ujung kasa di depan vulva 14. Pegang klem ovum dengan tangan kiri, naikkan bibir depan porsio (hingga kanalis servisis tampak dengan jelas) kemudian masukkan ujung kasa ke dalam uterus hingga mencapai fundus 15. Jepit kembali kasa yang berada di dekat porsio kemudian dorongkan ke dalam kavum uteri (perhatikan juluran kasa agar tigak mengenai bagian-bagian terbuka dan tubuh ibu maupun penolong) 16. Lakukan berulang kali hingga kavum uteri dan vagina dipenuhi oleh kasa (lakukan p0enyambungan dengan kasa baru apabila kavum uteri belum penuh) 17. Sisakan 15 cm kasa bagian ujung, untuk erkstyraksi kamudian, pasang kateter menetap apabila kasa dalam vagina menekan uretra 18. Lakukan kompresi luar dengan jalan memasang gurita kencang pada perut ibu 19. Segera keluarkan tampon apabila pendarahan masih telah sangat berkurang. Pastikan pemberian infuse dan uretonika tetap diberikan 20. Beri antibiotika kombinasi (ampisilin 3x1 g dan metronidazol 3x500 mg) tampon tida boleh lebih dari 24 jam Pencegahan infeksi pasca tindakan Perawatan lanjutan 21. Perhatikan tanda vital, pendarahan dan kontraksi uterus tiap 10 menit dalam 2 jam pertama 22. Tuliskan instruksi perawatan lanjutan, buat catatan kondisi pasien dan perawatan pasca tindakan 23. Jelaskan pada yang merawat tentang pengobatan yang diberikan, jadwal pemantauan dan gejala-gejala yang harus diwaspadai
  • 72.
    72 INDUKSI PERSALINAN No. Komponen A.Aspek kognitif (pengetahuan ) 1. Kemampuan menganalisa kasus sesuai dengan teori 2. Kemampuan menjawab secara sistematis, jelas dan logis B. Aspek afektif (sikap) 1. Sikap sebagai bidan sesuai dengan kewenangannya 2. Perlakuan terhadap pasien (phantoom) 3. Persetujuan tindakan medik C. Aspek psikomotor (ketrampilan) 1. Persiapan: - Petugas - pasien 2. Pelaksanaan 3. Jika skor ≥ 6, biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitoksin, jika ≤ 5 matangkanlah serviks lebih dahulu dengan prtostaglandin atau kateter foley 4. Oksitoksin digunakan secara hati-hati karewna gawat janin dapat terjadi karena hiperstimulasi. Walaupun jarang terjadi, rupture uteri dapat terjadi lebih-lebih pada multipura 5. Dosis efektif oksitoksin bervariasi, infuse oksitoksin dalam dekstrose atau garam fisiologik dengan tetesan dinaikkan secara gradual sampai his adekuat 6. Pantau denyut nadi, tekanan darah, kontraksi ibu hamil dan periksa denyut jantung janin 7. Kaji ulang indikasi 8. Baringkan ibu hamil miring kiri 9. Catat semua pengamatan pada partograf tiap 30 menit - Kecepatan infuse oksitoksin - Frekuensi dan lamanya denyut jantung - Denyut jantung janin (DJJ), dengan DJJ tiap 30 menit, dan selalu langsung setelah kontraksi. Apabila DJJ kurang dari 100 permenit, segera hentikan infuse 10. Infuse oksitosin 2.5 unit dalam 500 cc dekstrose 11. Naikan kecepatan infuse 10 tetes permenit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali setiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) dan pertahankan sampai terjadi kelahiran 12. Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi > 60 dtk) atau >4 kali kontraksi dalam 10 menit, hentikan infuse dan kurangi hiperstimulasi dengan - Terbutalin 250 mcg IV selama 5 menit atau - Salbutanol 5 mg dalam 500 ml cairan (garam fisiologik atau ringer laktat) 10 tetes permenit 13. Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat (3 kali 10 menit dngan lama lebih dari 40 detik setelah infuse oksitoksin) setelah infuse oksitoksin mencapai 60 tetes permenit : naikkan konsentrasi oksitoksin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik) dan sesuaikan kecepatan infuse sampai 30 tetes permenit (15 ml U/menit) 14. Naikkan kecepatan infuse 10 tetes per menit tiap 30 menit sampai kontraksi adekuat (3 kali setiap 10 menit dengan lama lebih dari 40 detik) atau setelah infuse oksitosin mencapai 60 tetes per-menit 15. Jika masih tidak tercapai kontraksi yang adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi a. Pada multigravida, induksi dianggap gagal, lakukan sesio sesaria b. pada primigravida, infuse bias dinaikkan konsentrasinya yaitu - 10 unit dalam 500 ml dekstrose (atau garam fisiologik) - Jika kontraksi tetap tidak adekuat setelah 60 tetes per menit (50 m/u permenit), lakuakan seksio sesaria
  • 73.
    73 PERSIAPAN & PELAKSANAANVAKUM EKSTRAKSI No. Komponen A. Responsi 1. - Pengertian - Indikasi dan kontraindikasi - Penanganan - Syarat - Komplikasi B. Sikap 1. Penampilan Mahasiswa 2. Perlakuan terhadap : alat, pasien, lingkungan C. Prosedur kegiatan 1. Persiapan alat - Cairan dan slang infuse sudah terpasang, uji fungsi dan perlengkapan peralatan ekstraksi vakum 1 set - Instrumen : partus pak 1 set, hacting pak 1 set, speculum sims / L-2 buah, klem ovum 2 buah - Medikamentosa : oxytocin, methergin / ergometrin, lidocain 1%, povidion iodine 1% - Catheter nelaton steril, sarung tangan steril / DTT 2 pasang, alas bokong, penutup perut bawah, sarung kaki, lampu sorot, tensimeter + stetoskop, kasa dan depperssteril/DTT, kapas DTT, spuit 5 cc, jarum suntik no 23, bengkok, tempat sampah medis dan non medis 2. Persiapan Pasien - Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dan menandatangani persetujuan tindakan medik - Perut bawah dan lipatan paha sudah dibersihkan dengan air sabun 3. Persiapan Bayi - Meja bersih, kering dan hangat (untuk tindakan), incubator, oksigen, alat resusitasi bayi, sudip lidah - Medikamentosa : Bikarbonas natrikus 7.5% / 8.4% ; ephineprin 0.01%, aquabidest, dextrose 10 %, antibiotika - Spuit 20 cc, jarum suntik ni 23, IV catheter (wing needle), penghisap lender, handuk, selimut baju dan popok bayi - Oksigen dengan regulator 4. Persiapan lingkungan Menutup jendela dan korden 5. Persiapan Petugas - Mencuci tangan memakai : Short plastic, masker, penutup kepala, kacamata pelindung, sepatu boot - Memakai sarung tangan steril/DTT - Menyiapkan oxytocin dalam spuit 6. Instruksikan asisten untuk menyiapakan ekstraktor vakum dan pastikan petugas dan persiapan untuk menolong bayi telah tersedia 7. Lakukan pemeriksaan dalam untuk memastikan terpenuhinya persyaratan ekstraksi vakum (pembukaan kepala lengkap, kepala bayi di hodge iv). Bila persyaratan terpenuhi dan ketuban belum pecah, lakukan amnioktomi, bila penurunan kepala di atas hodge IV (0/5) rujuk pasien ke rumah sakit 8. Masukkan tangan setelah tindakan VT ke dalam wadah yang mengandung larutan klorin 0.5%, bersihkan darah dan cairan tubuh yang melekat pada sarung tangan lepaskan secara terbalik dan rendam dalam larutan tersebut 9. Meletakkan handukl diatas perut ibu, memasang alas bokong dan memakai sarung tangan DTT/steril yang baru Pemasangan mangkok vakum 10. Masukkan mangkok vakum melalui introitus vagina secara miring dan setelah melewati introitus vagina, pasangkan pada bagian terendah kepala bayi menjauhi ubun-ubun besar 11. Dengan ibu jari dan jari telunjuktangan kiri, menahan mangkok pada posisinya dan tangan kanan pada pegangan vakum instruksikan asisten melakukan penghisapan dengan pompa penghisap dengan tenaga -0.2/2cm tunggu selama 2 menit, tambahkan tekanan pada vakum secara bertahap dengan tekanan maksimal : -0.7sampai -0.8/cm2 (ini membutuhkan waktu ±6-8 menit) 12. Tahan mangkuk vakum pada kepala bayi dengan jari telunjuk dan jari ibu jari tangan kiri, lakukan pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok dengan jari-jaritangan kanan untuk memastikan tidak ada
  • 74.
    74 bagian vagina atauporsio yang terjepit diantara bagian mangko dan kepala 13. Setelah hasil pemeriksaan tyernyata baik, keluarkan jari tangan pemeriksaan dan tangan penahan mangkok tetap pada posisinya 14. Sambil menunggu his, jelaskan pada pasien, pada saat his pasien dsuruh meneran sekuat mungkin dan selama mungkin dengan menarik lipat lutut dengan lipat siku agar tekanan abdomen lebih efektif 15. Pada saat his dan pasien meneran, secara simultan lakukan penarikan pada pegengan vakum, dengan arah sejajar lantai, dengan tangan kitri tetap menahan vaccum 16. Bila belum berhasil pada tarikan pertama maka ulangi pada tarikan ke dua. Episiotomi (Pada pasien dengan perineum yang kaku), dilakukan pada saat perineum teregang oleh kepala bayi dan kepala tidak masuk lagi. Bila tarikan ketiga dilakukan dengan benar dan bayi belum lahir, sebaiknya pasien dirujuk. 17. Saat sub oksiput berada dibawah symphisis, tahan perineum dengan tangan kiri, arahkan tarikan keatas hingga lahirlah berturut-turut dahi, muka dan dagu. Bersihkan hidung dan mulut bayi dengan kasa steril. Melahirkan Bayi 18. Kepala bayi dipegang biparietal, gerakkan kebawah untuk melahirkan bahu depan, kemudian gerakkan ke atas untuk melahirkan bahu kebelakang kemudian lahirkan seluruh tubuh bayi, letakkan di atas perut ibu. 19. Keringkan kepala dan tubuh bayi, klem dan potong tali pusat, Lahirkan Plasenta 20. Suntikan oksitoksin (IM), lakukan traksi terkendali, lahirkan nplasenta dengan menarik tali pusat dan mendorong uterus kea rah dorsokranial 21. Periksa kelengkapan plasenta (perhatikan bila terdapat bagian bagian yang terlepas atau tidak lengkap) 22. Masukkan plasenta ke dalam tempatnya (hindari percikan darah) Eksplorasi jalan lahir 23. Masukkan speculum sim’s/L atas dan bawah pada vagina, perhatikan apakah terdapat robekan pada portio dengan menggunakan klem ovum searah jarum jam, periksa robekan vagina dan perineum (tentukan tingkat robekan) 24. Bila terdapat pada portio, vagina dan perineum atau pada tempat lain, lakukan penjahitan sesuai dengan prosedur penjahitan robekan 25. Bersihkan noda darah, cairan tubuh dan air ketuban dengan kapas dan larutan desinfektan 26. Pasang kasa yang dibasahi dengan povidon iodine pada tempat jahit luka 27. Periksa kembali tanda vital pasien, kontraksi uterus dan pendarahan pervaginam serta kandung kemih 28. Mengerjakan kepada pasien mengenal kontraksi uterus yang baik/tidak baik 29. Merawat ibu, (memberihkan tubuh dari darah dan air ketuban, memasang pembalut dan pakaian) 30. Membereskan peralatan dan merendam dengan larutan klorin 0.5%. Petugas mencuci tangan 31. Mendokumentasikan tindakan dan mencatat kondisi pasien