1
MANFAAT TERAPI KOMPELEMNTER
DALAM APLIKASI PELAYANAN KEBIDANAN
OLEH :
IIS AFIPAH LESATRI
NPM. 1919002018
PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes)
MITRA HUSADA MEDAN
2021
1
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan
rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah
ini terdiri dari pokok pembahasan mengenai aspek legal terap
komplementer alam kebanan. Setiap pembahasan dibahas secara sederhana
sehingga mudah dimengerti.
Dalam penyelesaian Makalah ini,kami banyak mengalami
kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang
menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak,
akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu,
sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada semua
dosen yang membimbing kami.
kami sadar, sebagai seorang mahasiswa dan mahasiswi yang masih
dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak
kekurangannya. Oleh karena itu,kami sangat mengharapkan adanya kritik
dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik
lagi di masa yang akan datang.
Penyusun
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................1
DAFTAR ISI..............................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN
A. ....................................................................................................................L
atar Belakang.............................................................................................3
B. ....................................................................................................................R
umusan Masalah........................................................................................5
C. ....................................................................................................................T
ujuan Mengetahui definisi dari aspek legal kompementer
dalam pelayanan kebidanan......................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
A. .....................................................................................................................K
onsep Dasar Terapi komplementer .............................................................6
B.......................................................................................................................D
asar Hukum Terapi Komplementer.............................................................7
BAB III PENUTUP
A. ......................................................................................................................K
esimpulan.....................................................................................................10
B........................................................................................................................S
aran..............................................................................................................11
DAFTAR PUSTAKA
3
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Paradigma pelayanan kebidanan saat ini telah mengalami
pergeseran. Selama satu dekade ini, asuhan kebidanan dilaksanakan
dengan mengkombinasikan pelayanan kebidanan konvensional dan
komplementer, serta telah menjadi bagian penting dari praktek kebidanan.
(Harding & Foureur, 2009). Pelayanan kebidanan merupakan bagian
integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang
telah terdaftar, dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan
kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak,
serta wanita usia reproduksi dan usia lanjut. (Kepmenkes RI,
No.369/MENKES/SK/III/2007) Walaupun di Indonesia belum ada
Undang-Undang yang mengatur secara khusus tentang pelaksanaan
pelayanan kebidanan komplementer, namun penyelenggaraan pengobatan
komplementer secara umum telah diatur dalam Keputusan Menteri
Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang pengobatan
komplementer-alternatif. Pelayanan kebidanan komplementer merupakan
bagian dari penerapan pengobatan komplementer dan alternatif dalam
tatanan pelayanan kebidanan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan,
definisi pengobatan komplementer dan alternatif adalah pengobatan non
konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan
4
kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi. (Kepmenkes RI,
No.1109/Menkes/Per/IX/2007)
Definisi lain menyebutkan bahwa pengobatan komplementer
merupakan sebuah cara penyembuhan non konvensional, atau dikenal
dengan nama pengobatan tradisional yang difungsikan sebagai pembantu
atau pendukung pengobatan modern. (Anonim, 2012)
Pelayanan kebidanan komplementer menggambarkan bentuk
pelayanan kebidanan yang terpisah dan berbeda dari pelayanan kebidanan
konvensional, namun diterapkan sebagai langkah dalam mendukung
keadaan normal klien atau sebagai pilihan alternatif dalam mengatasi
penyulit ataupun komplikasi. Bagi banyak bidan dan wanita, pelayanan
kebidanan komplementer adalah pilihan untuk mengurangi intervensi
medis saat hamil dan melahirkan, dan berdasarkan pengalaman hal
tersebut
cukup membantu. Namun, sebagian besar terapi ini tidak dianggap
bermakna dalam pengobatan konvensional.Hal ini disebabkan oleh
kelangkaan dalam hal bukti klinis dan informasi yang diterbitkan
sehubungan dengan efektivitas pelayanan kebidanan komplementer pada
kehamilan, persalinan dan nifas. Meskipun demikian, seperti yang telah
disebutkan dalam paragraf pertama bahwa telah terjadi peningkatan tajam
dalam jumlah dan berbagai informasi mengenai terapi komplementer
dalam kebidanan selama satu dekade terakhir.
Dari sekian jenis pelayanan terapi komplementer yang tercantum
dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007,
5
beberapa diantaranya yang saat ini sudah diterapkan oleh bidan-bidan dan
wanita di Indonesia, yaitu: hipnoterapi, penyembuhan spiritual dan doa,
yoga, akupresur, pijat urut, aromaterapi, healing dan jamu. (Anonim,
2012)
B. Rumusan Masalah
1. Apa Konsep Dasar Terapi komplementer
2. Bagaimana aspek legal terapi komplementer
3.
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Konsep Dasar Terapi komplementer
2. Untuk mengetahui aspek legal terapi komplementer
6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Terapi komplementer
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Terapi
merupakan usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit,
pengobatan penyakit, perawatan penyakit. Komplementer adalah bersifat
melengkapi, bersifat menyempurnakan. Menurut WHO (World Health
Organization), Pengobatan komplementer adalah pengobatan non-
konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan, misalnya
jamu yang merupakan produk Indonesia dikategorikan sebagai
pengobatan komplementer di negara Singapura. Di Indonesia sendiri, jamu
dikategorikan sebagai pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang
dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan
dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Terapi
Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang dilakukan
sebagai pendukung atau pendamping kepada pengobatan medis
konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan
medis yang konvensional.
Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan
komplementer tradisional-alternatif atau sering disebut dengan CAM
(Complementary Alternative Medicine) adalah pengobatan non
konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif
yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan,
7
dan efektivitas yang tinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik.
Artinya Pengobatan komplementer adalah pengobatan tradisional yang
sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi
konvesional/medis. Sedangkan pengobatan alternatif adalah jenis
pengobatan yang tidak dilakukan oleh paramedis/dokter pada umumnya,
tetapi oleh seorang ahli atau praktisi yang menguasai keahliannya tersebut
melalui pendidikan yang lain/non medis. Obat-obat komplementer yang
dipergunakan adalah obat bersifat natural yaitu mengambil bahan dari
alam. Bahan-bahan yang dipergunakan dalam pengobatan komplementer
sebelumnya harus dikaji dan diteliti keefektivitasannya dan keamanannya.
Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem –
sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh
dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita
sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya
sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon
dengan asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat.
B. Dasar Hukum Terapi Komplementer
Dasar Hukum Pelayanan Pengobatan Komplementer-Alternatif antara lain
: Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
1. Pasal 1 butir 16 Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan
dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada
pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang
dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat
8
2. Pasal 48 Pelayanan kesehatan tradisional
3. Bab VI bag III Pasal 59 s/d 61 tentang Pelayanan Kesehatan
Tradisonal
4. Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1076/Menkes/SK/2003 tentang
pengobatan tradisional.
5. Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1109/Menkes/Per/IX/2007
tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di
fasilitas pelayanan kesehatan.
6. Keputusan Menteri Kesehatan RI, No. 120/Menkes/SK/II/2008
tentang standar pelayanan hiperbarik.
7. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik,
No. HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode
pengobatan komplementer – alternatif yang dapat diintegrasikan di
fasilitas pelayanan kesehatan
Jenis-jenis terapi Komplementer sesuai PERMENKES No:
1109/Menkes/Per/IX/2007, antara lain:
1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) meliputi :
Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga
2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif meliputi: akupuntur,
akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, Ayurveda
3. Cara penyembuhan manual meliputi: chiropractice, healing touch,
tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut
4. Pengobatan farmakologi dan biologi meliputi: jamu, herbal, gurah
9
5. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan meliputi: diet
makro nutrient, mikro nutrient
6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan meliputi: terapi ozon, hiperbarik,
EECP.
Manfaat Therapi Kompelementer dalam Kebidanan
Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan
dalam pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan terapi tradisional
ke dalam pengobatan modern (Andrews et al., 1999). Terminologi ini dikenal
sebagai terapi modalitas atau aktivitas yang menambahkan pendekatan ortodoks
dalam pelayanan kesehatan (Crips & Taylor, 2001). Terapi komplementer juga
ada yang menyebutnya dengan pengobatan holistik. Pendapat ini didasari oleh
bentuk terapi yang mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah
keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam
kesatuan fungsi (Smith et al., 2004).
Berdasarkan hasil penelitian Pelayanan kebidanan komplementer yang
dijalankan oleh bidan sebanyak 70 bidan, dengan pelayanan kebidanan
komplementer pada jenis pijat/massage (61,4%) yaitu 43 bidan. Dilanjut dengan
hipnoterapi (15,8%), akupresure (12,8%), selanjutnya pelayanan yoga (5,7%) dan
obat herbal (4,3%).
Hasil penelitian Koc Z (2012) di Turki, menyebutkan bahwa 58.9% dari 129
bidan yang bekerja pada pusat kesehatan keluarga wilayah Samsun memberikan
pengobatan alternatif dan komplementer pada pasiennya terutama ibu hamil.
Pengobatan dan terapi komplementer telah diatur dalam PERMENKES No:1109/
10
Menkes/Per/IX/2007. Adapun jenis- jenis terapi komplementer antara lain:
a. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) meliputi :
Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga.
b. Sistem pelayanan pengobatan alternatif meliputi: akupuntur, akupresur,
naturopati, homeopati, aromaterapi, Ayurveda
c. Cara penyembuhan manual meliputi: chiropractice, healing touch, tuina,
shiatsu, osteopati, pijat urut
d. Pengobatan farmakologi dan biologi meliputi: jamu, herbal, gurah
e. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan meliputi: diet makro
nutrient, mikro nutrient
f. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan meliputi: terapi ozon, hiperbarik.
Berdasarkan peraturan menteri kesehatan RI tentang jenis-jenis terapi
komplementer yang telah diakui di Indonesia yang tersebut di atas, sebenarnya
setiap tenaga kesehatan mempunyai perlindungan hukum untuk dapat
memberikan pelayanan kesehatan menggunakan terapi komplementer sesuai
dengan lingkup pelayanan berdasarkan profesinya. Dalam pelayanan kebidanan,
hampir semua yang tersebut di atas dapat diaplikasikan oleh bidan pada ibu dan
anak.
Jenis massage yang diterapkan oleh bidan dalam pelayanan komplementer
meliputi:
a. Pijat Oksitosin:
Pijat oksitosin merupakan pemijatan tulang belakang pada costa ke 5-6
sampai ke scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis
11
merangsang hipofise posterior untuk mengeluarkan oksitosin (Hashimoto,
2014)
b. Pijat Nifas:
Pijat ini umumnya tdilakukan bidan pada minggu pertama hingga minggu
kedua setelah persalinan ibu nifas. Hasil wawancara menjelaskan bahwa
tujuan dari dilakukannya perawatan nifas (spa nifas) dengan melakukan
pemijatan (massage) adalah untuk melancarkan aliran darah dan
meningkatkan kenyamanan ibu nifas.
c. Pijat Bayi :
Beberapa bidan menerima pemijatan bayi dalam rangkaian perawatan baby
spa. Hasil pemaparan bidan menjelaskan bahwa dengan pijat bayi, akan
membuat bayi tidak ‘rewel’ dan meningkatkan nafsu makan. Usia bayi yang
dipijat bervariasi, rentang 0-12 bulan.
d. Massage Payudara:
Massage payudara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemijatan
payudara pada masa nifas. Bidan yang memberikan perawatan ini,
melakukannya bersamaan dengan postnatal treatment. Pemaparan bidan
menjelaskan bahwa pemijatan dilakukan dengan lembut, bertujuan untuk
memperlancar produksi ASI.
e. Massage Perineum:
Massage perineum merupakan pijatan atau penguluran (stretching) lembut
yang dilakukan pada area perineum (kulit di antara anus dan vagina). Pijat
perineum bertujuan untuk meningkatkan elastisitas perineum. Peningkatan
12
elastisitas perineum akan mencegah kejadian robekan perineum pada saat
persalinan normal maupun pada episiotomi
13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari sistem
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar,
dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan kepada ibu
hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak, serta
wanita usia reproduksi dan usia lanjut. (Kepmenkes RI,
No.369/MENKES/SK/III/2007) Walaupun di Indonesia belum ada
Undang-Undang yang mengatur secara khusus tentang pelaksanaan
pelayanan kebidanan komplementer, namun penyelenggaraan
pengobatan komplementer secara umum telah diatur dalam Keputusan
Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang pengobatan
komplementer-alternatif. Pelayanan kebidanan komplementer
merupakan bagian dari penerapan pengobatan komplementer dan
alternatif dalam tatanan pelayanan kebidanan. Sesuai dengan Peraturan
Menteri Kesehatan, definisi pengobatan komplementer dan alternatif
adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan kualitas, keamanan dan
efektifitas yang tinggi. (Kepmenkes RI, No.1109/Menkes/Per/IX/2007)
Dari sekian jenis pelayanan terapi komplementer yang tercantum
dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007,
14
beberapa diantaranya yang saat ini sudah diterapkan oleh bidan-bidan
dan wanita di Indonesia, yaitu: hipnoterapi, penyembuhan spiritual dan
doa, yoga, akupresur, pijat urut, aromaterapi, healing dan jamu.
(Anonim, 2012)
B. Saran
Pelayanan kebidanan komplementer menggambarkan bentuk
pelayanan kebidanan yang terpisah dan berbeda dari pelayanan
kebidanan konvensional, namun diterapkan sebagai langkah dalam
mendukung keadaan normal klien atau sebagai pilihan alternatif dalam
mengatasi penyulit ataupun komplikasi yang di alami klien
berdasarkan kode etik dan hukum yang berlaku.
15
DAFTAR PUSTAKA
Wahyuningsih, Heni Puji. Etika Profesi Kebidanan. Fitramaya; Yogyakarta. 2008
Marimba, Hanum. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra Cendikia
Press;Yogyakarta.2008
PP No.103 tahun 2014, “tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional”
Permenkes No.1464/MENKES/PER/X/2010, “tentang Izin dan Penyelenggaraan
Praktik
Bidan”
Permenkes No.1109/MENKES/PER/IX/2007, “tentang Penyelenggaraan
Pengobatan
Komplementer-Alterhatif
DiFasilitas
Pelayanan Kesehatan”
http://www.jurnalskripsi.net/makalah-etika-profesi-legislasi-registrasi-dan-lisensi-
dalam-kebidanan/2011/737/

Manfaat terapi kompelementer

  • 1.
    1 MANFAAT TERAPI KOMPELEMNTER DALAMAPLIKASI PELAYANAN KEBIDANAN OLEH : IIS AFIPAH LESATRI NPM. 1919002018 PROGRAM STUDI SARJANA KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MITRA HUSADA MEDAN 2021
  • 2.
    1 KATA PENGANTAR Puji dansyukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas berkat dan rahmatnya sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Makalah ini terdiri dari pokok pembahasan mengenai aspek legal terap komplementer alam kebanan. Setiap pembahasan dibahas secara sederhana sehingga mudah dimengerti. Dalam penyelesaian Makalah ini,kami banyak mengalami kesulitan, terutama disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan yang menunjang. Namun, berkat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan cukup baik. Karena itu, sudah sepantasnya jika kami mengucapkan terima kasih kepada semua dosen yang membimbing kami. kami sadar, sebagai seorang mahasiswa dan mahasiswi yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan makalah ini masih banyak kekurangannya. Oleh karena itu,kami sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang. Penyusun
  • 3.
    2 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................................................................................................1 DAFTAR ISI..............................................................................................................2 BAB I PENDAHULUAN A. ....................................................................................................................L atar Belakang.............................................................................................3 B. ....................................................................................................................R umusan Masalah........................................................................................5 C. ....................................................................................................................T ujuan Mengetahui definisi dari aspek legal kompementer dalam pelayanan kebidanan......................................................................5 BAB II PEMBAHASAN A. .....................................................................................................................K onsep Dasar Terapi komplementer .............................................................6 B.......................................................................................................................D asar Hukum Terapi Komplementer.............................................................7 BAB III PENUTUP A. ......................................................................................................................K esimpulan.....................................................................................................10 B........................................................................................................................S aran..............................................................................................................11 DAFTAR PUSTAKA
  • 4.
    3 BAB 1 PENDAHULUAN A. LatarBelakang Paradigma pelayanan kebidanan saat ini telah mengalami pergeseran. Selama satu dekade ini, asuhan kebidanan dilaksanakan dengan mengkombinasikan pelayanan kebidanan konvensional dan komplementer, serta telah menjadi bagian penting dari praktek kebidanan. (Harding & Foureur, 2009). Pelayanan kebidanan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar, dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak, serta wanita usia reproduksi dan usia lanjut. (Kepmenkes RI, No.369/MENKES/SK/III/2007) Walaupun di Indonesia belum ada Undang-Undang yang mengatur secara khusus tentang pelaksanaan pelayanan kebidanan komplementer, namun penyelenggaraan pengobatan komplementer secara umum telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang pengobatan komplementer-alternatif. Pelayanan kebidanan komplementer merupakan bagian dari penerapan pengobatan komplementer dan alternatif dalam tatanan pelayanan kebidanan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan, definisi pengobatan komplementer dan alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan
  • 5.
    4 kualitas, keamanan danefektifitas yang tinggi. (Kepmenkes RI, No.1109/Menkes/Per/IX/2007) Definisi lain menyebutkan bahwa pengobatan komplementer merupakan sebuah cara penyembuhan non konvensional, atau dikenal dengan nama pengobatan tradisional yang difungsikan sebagai pembantu atau pendukung pengobatan modern. (Anonim, 2012) Pelayanan kebidanan komplementer menggambarkan bentuk pelayanan kebidanan yang terpisah dan berbeda dari pelayanan kebidanan konvensional, namun diterapkan sebagai langkah dalam mendukung keadaan normal klien atau sebagai pilihan alternatif dalam mengatasi penyulit ataupun komplikasi. Bagi banyak bidan dan wanita, pelayanan kebidanan komplementer adalah pilihan untuk mengurangi intervensi medis saat hamil dan melahirkan, dan berdasarkan pengalaman hal tersebut cukup membantu. Namun, sebagian besar terapi ini tidak dianggap bermakna dalam pengobatan konvensional.Hal ini disebabkan oleh kelangkaan dalam hal bukti klinis dan informasi yang diterbitkan sehubungan dengan efektivitas pelayanan kebidanan komplementer pada kehamilan, persalinan dan nifas. Meskipun demikian, seperti yang telah disebutkan dalam paragraf pertama bahwa telah terjadi peningkatan tajam dalam jumlah dan berbagai informasi mengenai terapi komplementer dalam kebidanan selama satu dekade terakhir. Dari sekian jenis pelayanan terapi komplementer yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007,
  • 6.
    5 beberapa diantaranya yangsaat ini sudah diterapkan oleh bidan-bidan dan wanita di Indonesia, yaitu: hipnoterapi, penyembuhan spiritual dan doa, yoga, akupresur, pijat urut, aromaterapi, healing dan jamu. (Anonim, 2012) B. Rumusan Masalah 1. Apa Konsep Dasar Terapi komplementer 2. Bagaimana aspek legal terapi komplementer 3. C. Tujuan 1. Untuk mengetahui Konsep Dasar Terapi komplementer 2. Untuk mengetahui aspek legal terapi komplementer
  • 7.
    6 BAB II PEMBAHASAN A. KonsepDasar Terapi komplementer Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Terapi merupakan usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit, pengobatan penyakit, perawatan penyakit. Komplementer adalah bersifat melengkapi, bersifat menyempurnakan. Menurut WHO (World Health Organization), Pengobatan komplementer adalah pengobatan non- konvensional yang bukan berasal dari negara yang bersangkutan, misalnya jamu yang merupakan produk Indonesia dikategorikan sebagai pengobatan komplementer di negara Singapura. Di Indonesia sendiri, jamu dikategorikan sebagai pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Terapi Komplementer adalah cara penanggulangan penyakit yang dilakukan sebagai pendukung atau pendamping kepada pengobatan medis konvensional atau sebagai pengobatan pilihan lain diluar pengobatan medis yang konvensional. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan definisi pengobatan komplementer tradisional-alternatif atau sering disebut dengan CAM (Complementary Alternative Medicine) adalah pengobatan non konvensional yang di tunjukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang diperoleh melalui pendidikan terstruktur dengan kualitas, keamanan,
  • 8.
    7 dan efektivitas yangtinggi berlandaskan ilmu pengetahuan biomedik. Artinya Pengobatan komplementer adalah pengobatan tradisional yang sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi konvesional/medis. Sedangkan pengobatan alternatif adalah jenis pengobatan yang tidak dilakukan oleh paramedis/dokter pada umumnya, tetapi oleh seorang ahli atau praktisi yang menguasai keahliannya tersebut melalui pendidikan yang lain/non medis. Obat-obat komplementer yang dipergunakan adalah obat bersifat natural yaitu mengambil bahan dari alam. Bahan-bahan yang dipergunakan dalam pengobatan komplementer sebelumnya harus dikaji dan diteliti keefektivitasannya dan keamanannya. Terapi komplementer bertujuan untuk memperbaiki fungsi dari sistem – sistem tubuh, terutama sistem kekebalan dan pertahanan tubuh agar tubuh dapat menyembuhkan dirinya sendiri yang sedang sakit, karena tubuh kita sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya dan memberikan respon dengan asupan nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan yang tepat. B. Dasar Hukum Terapi Komplementer Dasar Hukum Pelayanan Pengobatan Komplementer-Alternatif antara lain : Undang-Undang RI No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan 1. Pasal 1 butir 16 Pelayanan kesehatan tradisional adalah pengobatan dan atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggung jawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat
  • 9.
    8 2. Pasal 48Pelayanan kesehatan tradisional 3. Bab VI bag III Pasal 59 s/d 61 tentang Pelayanan Kesehatan Tradisonal 4. Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan tradisional. 5. Peraturan Menteri Kesehatan RI, No. : 1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang penyelenggaraan pengobatan komplementer-alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan. 6. Keputusan Menteri Kesehatan RI, No. 120/Menkes/SK/II/2008 tentang standar pelayanan hiperbarik. 7. Keputusan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, No. HK.03.05/I/199/2010 tentang pedoman kriteria penetepan metode pengobatan komplementer – alternatif yang dapat diintegrasikan di fasilitas pelayanan kesehatan Jenis-jenis terapi Komplementer sesuai PERMENKES No: 1109/Menkes/Per/IX/2007, antara lain: 1. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) meliputi : Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga 2. Sistem pelayanan pengobatan alternatif meliputi: akupuntur, akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, Ayurveda 3. Cara penyembuhan manual meliputi: chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut 4. Pengobatan farmakologi dan biologi meliputi: jamu, herbal, gurah
  • 10.
    9 5. Diet dannutrisi untuk pencegahan dan pengobatan meliputi: diet makro nutrient, mikro nutrient 6. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan meliputi: terapi ozon, hiperbarik, EECP. Manfaat Therapi Kompelementer dalam Kebidanan Terapi komplementer dikenal dengan terapi tradisional yang digabungkan dalam pengobatan modern. Komplementer adalah penggunaan terapi tradisional ke dalam pengobatan modern (Andrews et al., 1999). Terminologi ini dikenal sebagai terapi modalitas atau aktivitas yang menambahkan pendekatan ortodoks dalam pelayanan kesehatan (Crips & Taylor, 2001). Terapi komplementer juga ada yang menyebutnya dengan pengobatan holistik. Pendapat ini didasari oleh bentuk terapi yang mempengaruhi individu secara menyeluruh yaitu sebuah keharmonisan individu untuk mengintegrasikan pikiran, badan, dan jiwa dalam kesatuan fungsi (Smith et al., 2004). Berdasarkan hasil penelitian Pelayanan kebidanan komplementer yang dijalankan oleh bidan sebanyak 70 bidan, dengan pelayanan kebidanan komplementer pada jenis pijat/massage (61,4%) yaitu 43 bidan. Dilanjut dengan hipnoterapi (15,8%), akupresure (12,8%), selanjutnya pelayanan yoga (5,7%) dan obat herbal (4,3%). Hasil penelitian Koc Z (2012) di Turki, menyebutkan bahwa 58.9% dari 129 bidan yang bekerja pada pusat kesehatan keluarga wilayah Samsun memberikan pengobatan alternatif dan komplementer pada pasiennya terutama ibu hamil. Pengobatan dan terapi komplementer telah diatur dalam PERMENKES No:1109/
  • 11.
    10 Menkes/Per/IX/2007. Adapun jenis-jenis terapi komplementer antara lain: a. Intervensi tubuh dan pikiran (mind and body interventions) meliputi : Hipnoterapi, mediasi, penyembuhan spiritual, doa dan yoga. b. Sistem pelayanan pengobatan alternatif meliputi: akupuntur, akupresur, naturopati, homeopati, aromaterapi, Ayurveda c. Cara penyembuhan manual meliputi: chiropractice, healing touch, tuina, shiatsu, osteopati, pijat urut d. Pengobatan farmakologi dan biologi meliputi: jamu, herbal, gurah e. Diet dan nutrisi untuk pencegahan dan pengobatan meliputi: diet makro nutrient, mikro nutrient f. Cara lain dalam diagnosa dan pengobatan meliputi: terapi ozon, hiperbarik. Berdasarkan peraturan menteri kesehatan RI tentang jenis-jenis terapi komplementer yang telah diakui di Indonesia yang tersebut di atas, sebenarnya setiap tenaga kesehatan mempunyai perlindungan hukum untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan menggunakan terapi komplementer sesuai dengan lingkup pelayanan berdasarkan profesinya. Dalam pelayanan kebidanan, hampir semua yang tersebut di atas dapat diaplikasikan oleh bidan pada ibu dan anak. Jenis massage yang diterapkan oleh bidan dalam pelayanan komplementer meliputi: a. Pijat Oksitosin: Pijat oksitosin merupakan pemijatan tulang belakang pada costa ke 5-6 sampai ke scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis
  • 12.
    11 merangsang hipofise posterioruntuk mengeluarkan oksitosin (Hashimoto, 2014) b. Pijat Nifas: Pijat ini umumnya tdilakukan bidan pada minggu pertama hingga minggu kedua setelah persalinan ibu nifas. Hasil wawancara menjelaskan bahwa tujuan dari dilakukannya perawatan nifas (spa nifas) dengan melakukan pemijatan (massage) adalah untuk melancarkan aliran darah dan meningkatkan kenyamanan ibu nifas. c. Pijat Bayi : Beberapa bidan menerima pemijatan bayi dalam rangkaian perawatan baby spa. Hasil pemaparan bidan menjelaskan bahwa dengan pijat bayi, akan membuat bayi tidak ‘rewel’ dan meningkatkan nafsu makan. Usia bayi yang dipijat bervariasi, rentang 0-12 bulan. d. Massage Payudara: Massage payudara yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemijatan payudara pada masa nifas. Bidan yang memberikan perawatan ini, melakukannya bersamaan dengan postnatal treatment. Pemaparan bidan menjelaskan bahwa pemijatan dilakukan dengan lembut, bertujuan untuk memperlancar produksi ASI. e. Massage Perineum: Massage perineum merupakan pijatan atau penguluran (stretching) lembut yang dilakukan pada area perineum (kulit di antara anus dan vagina). Pijat perineum bertujuan untuk meningkatkan elastisitas perineum. Peningkatan
  • 13.
    12 elastisitas perineum akanmencegah kejadian robekan perineum pada saat persalinan normal maupun pada episiotomi
  • 14.
    13 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Pelayanankebidanan merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar, dapat dilakukan secara mandiri, kolaborasi dan rujukan kepada ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, bayi baru lahir, bayi dan anak, serta wanita usia reproduksi dan usia lanjut. (Kepmenkes RI, No.369/MENKES/SK/III/2007) Walaupun di Indonesia belum ada Undang-Undang yang mengatur secara khusus tentang pelaksanaan pelayanan kebidanan komplementer, namun penyelenggaraan pengobatan komplementer secara umum telah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007 tentang pengobatan komplementer-alternatif. Pelayanan kebidanan komplementer merupakan bagian dari penerapan pengobatan komplementer dan alternatif dalam tatanan pelayanan kebidanan. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan, definisi pengobatan komplementer dan alternatif adalah pengobatan non konvensional yang ditujukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat meliputi promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan kualitas, keamanan dan efektifitas yang tinggi. (Kepmenkes RI, No.1109/Menkes/Per/IX/2007) Dari sekian jenis pelayanan terapi komplementer yang tercantum dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109/Menkes/Per/IX/2007,
  • 15.
    14 beberapa diantaranya yangsaat ini sudah diterapkan oleh bidan-bidan dan wanita di Indonesia, yaitu: hipnoterapi, penyembuhan spiritual dan doa, yoga, akupresur, pijat urut, aromaterapi, healing dan jamu. (Anonim, 2012) B. Saran Pelayanan kebidanan komplementer menggambarkan bentuk pelayanan kebidanan yang terpisah dan berbeda dari pelayanan kebidanan konvensional, namun diterapkan sebagai langkah dalam mendukung keadaan normal klien atau sebagai pilihan alternatif dalam mengatasi penyulit ataupun komplikasi yang di alami klien berdasarkan kode etik dan hukum yang berlaku.
  • 16.
    15 DAFTAR PUSTAKA Wahyuningsih, HeniPuji. Etika Profesi Kebidanan. Fitramaya; Yogyakarta. 2008 Marimba, Hanum. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra Cendikia Press;Yogyakarta.2008 PP No.103 tahun 2014, “tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional” Permenkes No.1464/MENKES/PER/X/2010, “tentang Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan” Permenkes No.1109/MENKES/PER/IX/2007, “tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-Alterhatif DiFasilitas Pelayanan Kesehatan” http://www.jurnalskripsi.net/makalah-etika-profesi-legislasi-registrasi-dan-lisensi- dalam-kebidanan/2011/737/