LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH DAN BIBIT
ACARA 3
PENGUJIAN INDEKS VIGOR
Disusun Oleh :
Nama : Inayatul Fitria Dewi
NPM : 1510401057
Kelompok : B3
Asisten : Siti Hadiyanti A.
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TIDAR
2017
ACARA 3
PENGUJIAN INDEKS VIGOR
I. TUJUAN
1. Menguji indeks vigor suatu benih dengan pendekatan matematis
II. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Schmidt (2000) Vigor adalah kemampuan benih untuk tumbuh
normal dalam keadaan lapangan produksi sub optimum atau kemampuan benih
untuk disimpan dalam kondisi simpan sub optimum (terbuka). Dalam keadaan
lapang ataupun kondisi simpan optimum, benih memiliki kemampuan tumbuh
maupun simpan melebihi normal. Vigor berkaitan dengan tingkat keadaan
lingkungan dimana benih yang tidak dorman akan tidak berkecambah. Benih yang
memiliki kekuatan hidup rendah akan berkecambah dan pembibitan hanya dapat
dilakukan dalam keadaan lingkungan yang sempit atau dalam keadaan khusus
yang baik. Hal ini bisa saja mengacu pada media perkecambahan, benih bisa saja
berkecambah dengan hasil baik tetapi mungkin memiliki kekuatan terbatas untuk
menembus tanah lebih dalam atau menembus lapisan kertas atau akar kecambah
yang tumbuh keatas tidak berhasil tumbuh ke dalam tanah (Schmidt, 2000).
Vigor benih dalam hitungan viabilitas absolute merupakan indikasi
viabilitas benih yang menunjukkan benih kuat tumbuh di lapang dalam kondisi
yang suboptimum. Tolok ukur kecepatan tumbuh mengindikasikan vigor kekuatan
tumbuh karena benih yang cepat tumbuh lebih mampu menghadapi kondisi lapang
yang suboptimum. Kecepatan tumbuh benih diukur dengan jumlah tambahan
perkecambahan setiap hari (Sadjad, 1993).
Kehilangan vigor dapat dianggap sebagai suatu tahap perantara dari
kehidupan benihnya, yaitu yang terjadi antara awal dan akhir proses kemunduran.
Kemunduran vigor sangat sulit untuk diukur. Metode yang dapat digunakan untuk
mengukur vigor adalah metode yang berdasarkan pengukuran yang berhubungan
dengan daya kecambah (Justice dan Louis, 1990).
Menurut Kuswanto (1996), metode pengujian vigor benih dapat dibagi
menjadi 2 jenis pengujian, yaitu:
1. Pengujian langsung
Pada pengujian ini benih dikecambahkan dalam kondisi yang
menyerupai keadaan di lapangan. Kelemahan metode ini terletak pada suhu
pengujian yang dibuat standar.
2. Pengujian tidak langsung
Benih dikecambahkan dan yang diamati adalah pertumbuhan plumula
dan radikula.
Grow rate merupakan metode pengujian tidak langsung, metode ini yang
diukur adalah kecepatan perkecambahan. Kecepatan berkecambah dapat
dinyatakan dengan index-vigor yang merefleksikan jumlah benih yang
berkecambah pada interval satu hari setelah berkecambah.
III. METODE PRAKTIKUM
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa 12 Desember 2018 bertempat di
Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Tidar. Adapun alat dan bahan yang
digunakan diantaranya, benih padi, benih jagung, benih kedelai, aquadest, alkohol,
petridish, plat kaca, pinset, dan kertas saring.
Adapun langkah kerja untuk pengujian indeks vigor dengan cara
mengecambahkan benih jagung, benih padi dan benih kedelai pada Petridis yang
telah diberi kertas saring. Menaruhnya benih-benih tersebut dengan menggunakan
pinset yang telah disemprot dengan alcohol. Benih yang diperlukan sebanyak 100
byah per benih dengan 3 kali ulangan. Kemudian dilakukan pengamatan setiap
hari selama 7 hari dengan menghitung benih berkecambah dan menyingkirkannya.
Menghitung indeks vigor dan koefesien vigornya.
IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan pengujian indeks vigor benih
BENIH
PENGAMATAN KE NILAI
IV
NILAI
KV1 2 3 6 7
PADI 0 18.5 30 27.75 14.75 45.63 22.94
JAGUNG 0 40.75 33.25 17.75 3.25 44.67 30.60
KEDELAI 0 47.25 29.25 19.75 3.25 46.92 30.76
Vigor suatu benih merupakan sebuah indikasi bahwa benih mampu
berkecambah secara normal. Tumbuhnya kecambah secara normal ini akan
memberikan gambaran bahwa benih mampu berkecambah di lapang produksi (pre-
nursery) dengan baik. Vigor yang tinggi pada benih menggambarkan bahwasanya
benih akan semakin mudah untuk berkecambah dengan baik dan semakin rendah
vigor dari suatu benih maka kecepatan berkcembah suatu benih juga akan semakin
menurun bahkan tidak ada kenampakan sama sekali dalam suatu perkecambahan.
Dari percobaan yang telah dilakukan merupakan pengujian indeks vigor
secara tidak langsung dengan cara mengecambahkan benih dengan mengamati
pertumbuhan plumule serta radikel pada benih. Pada percobaan yang telah
dilakukan pada benih padi, jagung dan kedelai menunjukkan bahwa rata-rata
indeks vigor yang dimiliki yaitu 45.63, 44.67, dan 46.92. Rata-rata dari indeks
vigor masing-masing benih kurang dari 50%. Sedangkan nilai KV pada
perkecambahan padi diantaranya yaitu, padi 22.94, jagung 30.60 dan kedelai
30.76.
Dari hasil pengamatan diatas bahwasanya indeks vigor dan koefesien vigor
pada benih memiliki rata-rata yang rendah pada padi, jagung dan kedelai. Menurut
Kuswanto (1996), bahwa indeks vigor pada benih merefleksikan dari kecepatan
berkecambah atau grow rate. Ketika kecepatan berkecambahnya rendah maka
kemampuan benih untuk berkcmbah juga akan rendah, sehingga daya tumbuh di
lapang nantinya juga akan rendah. Lamanya benih berkecambah sehingga
mengahasilkan indeks vigor yang rendah dapat disebabkan karena lamanya proses
imbibisi benih akibat kulit benih yang terlalu keras, embrio yang belum masak
sehingga harus mengalami proses ang lebih panjang lagi untuk berkecambah
ataupun sebelum berkecambah benih terserang oleh jamur dikarenakan kurang
sterilnya alat dan bahan yang digunakan.
V. KESIMPULAN
1. Indeks vigor merupakan gambaran dari suatu benih untuk mampu
berkecambah di lapang
2. Metode percobaan yang telah dilakukan menggunakan metode tidak langsung
dengan cara mengecambahkan benih dengan mengamati pertumbuhan plumue
dan radikel
3. Nilai indeks vigor pada padi, jagung dan kedelai yaitu 45.63, 44.67, dan 46.92
4. Nilai koefesien vigor padi 22.94, jagung 30.60 dan kedelai 30.76.
5. Indeks vigor dan koefesien vigor pada benih padi, jagung dan kedelai kurang
dari 50% sehingga dapat dikatahui bahwa kecepatan berkecambahnya sangat
rendah
DAFTAR PUSTAKA
Justice, O.L., dan Louis, N.B. 1990. Prinsip Dan Praktek Penyimpanan Benih.
Rajawali, Jakarta.
Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Andi, Yogjakarta.140 hal.
Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Grasindo, Jakarta.
Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub
Tropis 2000. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial,
Departemen Kehutanan, Jakarta.
Lampiran
BENIH ULANGAN
HARI PENGAMATAN
TOTAL
13-Des 14-Des 15-Des 18-Des 19-Des
PADI
1 0 5 18 19 42 84
2 0 44 21 20 0 85
3 0 12 42 34 10 98
4 0 13 39 38 7 97
RATA-RATA 0.00 18.50 30.00 27.75 14.75 91
JAGUNG
1 0 49 8 36 5 98
2 0 5 53 26 3 87
3 0 41 46 6 3 96
4 0 68 26 3 2 99
RATA-RATA 0.00 40.75 33.25 17.75 3.25 95
KEDELAI
1 0 44 2 44 10 100
2 0 0 67 31 1 99
3 0 53 46 0 0 99
4 0 92 2 4 2 100
RATA-RATA 0.00 47.25 29.25 19.75 3.25 99.5

Laporan pengujian indeks vigor

  • 1.
    LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSIBENIH DAN BIBIT ACARA 3 PENGUJIAN INDEKS VIGOR Disusun Oleh : Nama : Inayatul Fitria Dewi NPM : 1510401057 Kelompok : B3 Asisten : Siti Hadiyanti A. PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS TIDAR 2017
  • 2.
    ACARA 3 PENGUJIAN INDEKSVIGOR I. TUJUAN 1. Menguji indeks vigor suatu benih dengan pendekatan matematis II. TINJAUAN PUSTAKA Menurut Schmidt (2000) Vigor adalah kemampuan benih untuk tumbuh normal dalam keadaan lapangan produksi sub optimum atau kemampuan benih untuk disimpan dalam kondisi simpan sub optimum (terbuka). Dalam keadaan lapang ataupun kondisi simpan optimum, benih memiliki kemampuan tumbuh maupun simpan melebihi normal. Vigor berkaitan dengan tingkat keadaan lingkungan dimana benih yang tidak dorman akan tidak berkecambah. Benih yang memiliki kekuatan hidup rendah akan berkecambah dan pembibitan hanya dapat dilakukan dalam keadaan lingkungan yang sempit atau dalam keadaan khusus yang baik. Hal ini bisa saja mengacu pada media perkecambahan, benih bisa saja berkecambah dengan hasil baik tetapi mungkin memiliki kekuatan terbatas untuk menembus tanah lebih dalam atau menembus lapisan kertas atau akar kecambah yang tumbuh keatas tidak berhasil tumbuh ke dalam tanah (Schmidt, 2000). Vigor benih dalam hitungan viabilitas absolute merupakan indikasi viabilitas benih yang menunjukkan benih kuat tumbuh di lapang dalam kondisi yang suboptimum. Tolok ukur kecepatan tumbuh mengindikasikan vigor kekuatan tumbuh karena benih yang cepat tumbuh lebih mampu menghadapi kondisi lapang yang suboptimum. Kecepatan tumbuh benih diukur dengan jumlah tambahan perkecambahan setiap hari (Sadjad, 1993). Kehilangan vigor dapat dianggap sebagai suatu tahap perantara dari kehidupan benihnya, yaitu yang terjadi antara awal dan akhir proses kemunduran. Kemunduran vigor sangat sulit untuk diukur. Metode yang dapat digunakan untuk mengukur vigor adalah metode yang berdasarkan pengukuran yang berhubungan dengan daya kecambah (Justice dan Louis, 1990).
  • 3.
    Menurut Kuswanto (1996),metode pengujian vigor benih dapat dibagi menjadi 2 jenis pengujian, yaitu: 1. Pengujian langsung Pada pengujian ini benih dikecambahkan dalam kondisi yang menyerupai keadaan di lapangan. Kelemahan metode ini terletak pada suhu pengujian yang dibuat standar. 2. Pengujian tidak langsung Benih dikecambahkan dan yang diamati adalah pertumbuhan plumula dan radikula. Grow rate merupakan metode pengujian tidak langsung, metode ini yang diukur adalah kecepatan perkecambahan. Kecepatan berkecambah dapat dinyatakan dengan index-vigor yang merefleksikan jumlah benih yang berkecambah pada interval satu hari setelah berkecambah. III. METODE PRAKTIKUM Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa 12 Desember 2018 bertempat di Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Tidar. Adapun alat dan bahan yang digunakan diantaranya, benih padi, benih jagung, benih kedelai, aquadest, alkohol, petridish, plat kaca, pinset, dan kertas saring. Adapun langkah kerja untuk pengujian indeks vigor dengan cara mengecambahkan benih jagung, benih padi dan benih kedelai pada Petridis yang telah diberi kertas saring. Menaruhnya benih-benih tersebut dengan menggunakan pinset yang telah disemprot dengan alcohol. Benih yang diperlukan sebanyak 100 byah per benih dengan 3 kali ulangan. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari selama 7 hari dengan menghitung benih berkecambah dan menyingkirkannya. Menghitung indeks vigor dan koefesien vigornya.
  • 4.
    IV. HASIL PENGAMATANDAN PEMBAHASAN A. Hasil pengamatan pengujian indeks vigor benih BENIH PENGAMATAN KE NILAI IV NILAI KV1 2 3 6 7 PADI 0 18.5 30 27.75 14.75 45.63 22.94 JAGUNG 0 40.75 33.25 17.75 3.25 44.67 30.60 KEDELAI 0 47.25 29.25 19.75 3.25 46.92 30.76 Vigor suatu benih merupakan sebuah indikasi bahwa benih mampu berkecambah secara normal. Tumbuhnya kecambah secara normal ini akan memberikan gambaran bahwa benih mampu berkecambah di lapang produksi (pre- nursery) dengan baik. Vigor yang tinggi pada benih menggambarkan bahwasanya benih akan semakin mudah untuk berkecambah dengan baik dan semakin rendah vigor dari suatu benih maka kecepatan berkcembah suatu benih juga akan semakin menurun bahkan tidak ada kenampakan sama sekali dalam suatu perkecambahan. Dari percobaan yang telah dilakukan merupakan pengujian indeks vigor secara tidak langsung dengan cara mengecambahkan benih dengan mengamati pertumbuhan plumule serta radikel pada benih. Pada percobaan yang telah dilakukan pada benih padi, jagung dan kedelai menunjukkan bahwa rata-rata indeks vigor yang dimiliki yaitu 45.63, 44.67, dan 46.92. Rata-rata dari indeks vigor masing-masing benih kurang dari 50%. Sedangkan nilai KV pada perkecambahan padi diantaranya yaitu, padi 22.94, jagung 30.60 dan kedelai 30.76. Dari hasil pengamatan diatas bahwasanya indeks vigor dan koefesien vigor pada benih memiliki rata-rata yang rendah pada padi, jagung dan kedelai. Menurut Kuswanto (1996), bahwa indeks vigor pada benih merefleksikan dari kecepatan berkecambah atau grow rate. Ketika kecepatan berkecambahnya rendah maka kemampuan benih untuk berkcmbah juga akan rendah, sehingga daya tumbuh di lapang nantinya juga akan rendah. Lamanya benih berkecambah sehingga
  • 5.
    mengahasilkan indeks vigoryang rendah dapat disebabkan karena lamanya proses imbibisi benih akibat kulit benih yang terlalu keras, embrio yang belum masak sehingga harus mengalami proses ang lebih panjang lagi untuk berkecambah ataupun sebelum berkecambah benih terserang oleh jamur dikarenakan kurang sterilnya alat dan bahan yang digunakan. V. KESIMPULAN 1. Indeks vigor merupakan gambaran dari suatu benih untuk mampu berkecambah di lapang 2. Metode percobaan yang telah dilakukan menggunakan metode tidak langsung dengan cara mengecambahkan benih dengan mengamati pertumbuhan plumue dan radikel 3. Nilai indeks vigor pada padi, jagung dan kedelai yaitu 45.63, 44.67, dan 46.92 4. Nilai koefesien vigor padi 22.94, jagung 30.60 dan kedelai 30.76. 5. Indeks vigor dan koefesien vigor pada benih padi, jagung dan kedelai kurang dari 50% sehingga dapat dikatahui bahwa kecepatan berkecambahnya sangat rendah DAFTAR PUSTAKA Justice, O.L., dan Louis, N.B. 1990. Prinsip Dan Praktek Penyimpanan Benih. Rajawali, Jakarta. Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Andi, Yogjakarta.140 hal. Sadjad, S. 1993. Dari Benih Kepada Benih. Grasindo, Jakarta. Schmidt, L. 2000. Pedoman Penanganan Benih Tanaman Hutan Tropis dan Sub Tropis 2000. Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Departemen Kehutanan, Jakarta.
  • 6.
    Lampiran BENIH ULANGAN HARI PENGAMATAN TOTAL 13-Des14-Des 15-Des 18-Des 19-Des PADI 1 0 5 18 19 42 84 2 0 44 21 20 0 85 3 0 12 42 34 10 98 4 0 13 39 38 7 97 RATA-RATA 0.00 18.50 30.00 27.75 14.75 91 JAGUNG 1 0 49 8 36 5 98 2 0 5 53 26 3 87 3 0 41 46 6 3 96 4 0 68 26 3 2 99 RATA-RATA 0.00 40.75 33.25 17.75 3.25 95 KEDELAI 1 0 44 2 44 10 100 2 0 0 67 31 1 99 3 0 53 46 0 0 99 4 0 92 2 4 2 100 RATA-RATA 0.00 47.25 29.25 19.75 3.25 99.5