• Riba berarti menetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman
saat pengembaliaan berdasarkan presentase tertentu dari
jumlah peminjaman pokok yang dibebankan kepada
peminjam.Menurut bahasa riba memiliki beberapa pengertian,
yaitu:
• Bertambah (Aziyaadatu), berasal dari kata “raba” yang
sinonimnya : nama wa zada, artinya tumbuh dan tambah. karena
salah satu perbuatan riba adalah meminta tambahan dari sesuatu
yang dihutangkan.
•
• Berkembang, berbunga (Annaamu), karena salah satu perbuatan
riba adalah membungakan harta uang atau yang lainnya yang
dipinjamkan terhadap orang lain.
• Berlebihan atau menggelembung, kata-kata ini berasal dari
firman Allah dalam QS.Al-haj ayat 5 yang artinnya “Bumi jadi
subur dan gembur”
• Menurut Imam Ar-Razi dalam tafsir Al-Qur’an, riba adalah suatu
perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti rugi, sebab orang yang
meminjamkan uang 1000 rupiah mengganti dengan 2000 rupiah, maka ia
mendapat tambahan 1000 rupiah tanpa ganti.
• Menurut Mughni Muhtaj oleh Syarbini, riba adalah suatu akad atau
transaksi atas barang yang ketika akad berlangsung tidak diketahui
kesamaannya menurut syariat atau dengan menunda penyerahan kedua
barang yang menjadi objek akad atau salah satunya.
• Menurut Al-Jurnaini merumuskan definisi riba yaitu kelebihan atau
tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan yang disyariatkan
dari salah seorang bagi dua orang yang membuat akad.
• Menurut Ijtima Fatwa Ulama Indonesia, riba adalah tambahan tanpa
imbalan yang terjadi karena penanggungan dalam pembayaran yang
diperjanjikan sebelumnya atau biasa disebut dengan riba nasi’at.
• Menurut Abdurrahman al-jaziri, riba adalah akad yang terjadi dengan
penukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut aturan
syara’ atau terlambat salah satunya.
• Menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba adalah penambahan-
penambahan yang diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada
orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji
pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan.
• Menurut Al-farabi, riba adalah setiap keuntungan yang bukan berasal
dari tambahan akibat berproduksi (ikhtiar), berdagang produktif
(ghurmi) dan memberikan jasa (dhaman).
• Menurut syafi’iyah, riba adalah akad atas ‘iwadh (penukaran) tertentu
yang tidak diketahui persamaanya dalam ukuran syara’ pada waktu akad
atau dengan mengakhirkan (menunda) kedua penukaran tersebut atau
salah satunya.
• Adanya nash dari Al Qur’an dan Al Hadits terkait pengharaman
riba
• Karena riba menghendaki pengambilan harta orang lain dengan
tidak ada imbangnya, seperti seseorang menukarkan uang kerta
Rp. 10.000,00 dengan uang recehan senilai Rp.9.950,00 maka
uang senilai Rp.50,00 tidak ada imbangannya, maka uang senilai
Rp.50,00 adalah riba.
• Riba menyebabkan putusnya perbuatan baik terhadap sesama
manusia dengan cara utang-piutang atau menghilangkan faedah
utang-piutang sehingga riba lebih cenderung memeras uang
miskin dari pada menolongnya.
• Mencerobohi kehormatan seorang mu’min dengan mengambil
berlebihan tanpa ada pertukaran
• Membatalkan perniagaan, usaha, kemahiran pengilangan dan sebagainya ini adalah
karena cara mudah mendapatkan uang yang menyebabkan keperluan asasi yang
lain akan terabaikan dan terbengkalai
• Merugikan Dan Menyengsarakan Orang Lain
• Orang yang meminjam uang kepada orang lain pada umumnya karena sedang susah
atau terdesak. Karena tidak ada jalan lain, meskipun dengan persyaratan bunga
yang besar, ia tetap bersedia menerima pinjaman tersebut, walau dirasa sangat
berat. Orang yang meminjam ada kalanya bisa mengembalikan pinjaman tepat
pada waktunya, tetapi adakalanya tidak dapat mengembalikan pinjaman tepat
pada waktu yang telah ditetapkan. Karena beratnya bunga pinjaman, si peminjam
susah untuk mengembalikan utang tersebut. Hal ini akan menambah kesulitan dan
kesengsaraan bagi kehidupannya.
• Pemakan riba akan dihinakan dihadapan seluruh makhluk, yaitu ketika dibangunkan
dari kubur, ia seperti orang kesurupan lagi gila.
Menurut sebagian ulama riba terbagi
kepada empat bagian bagian :
1. Riba fadhal
2. Riba nasi’ah
3. Riba yad
4. Riba qardli
2. Riba Al-Yad
Riba al-yad dikenal digolongan syafi’iyah
dan hanafiyah memasukan riba yad ini
kedalam riba nasi’ah, dengan istilah
“fadhul ‘ain ‘alad dain” (kelebihan barang
atas uang).
Pengertian riba al-yad seperti
dikemukakan oleh wahbah zuhaili adalah
jual beli atau tukar menukar dengan cara
mengakhirkan penerimaan kedua barang
yang ditukarkan atau salah satunya tanpa
menyebutkan masanya. Yakni terjadinya
jual beli atau tukar menukar dua barang
yang berbeda jenisnya, seperti gandum
dengan jagung (sya’ir), tanpa dilakukan
penyerahan di majelis akad.
1.Riba Fadhal
Menurut hanafiah riba fadhal adalah
tambahan benda dalam akad jual beli
(tukar-menukar) yang menggunakan
ukuran syara’ (yaitu literan atau
timbangan) yang jenis barangnya sama.
Menurut syafi’iyah riba fadhal adalah
adanya tambahan atas dua benda yang
ditukarkan termasuk didalamnya riba
qardh (utang).
Menurut sayid sabiq riba fadhal adalah
jual beli uang dengan uang atau makanan
dengan makanan disertai dengan
kelebihan (tambahan).
4. Riba Nasi’ah
Menurut Hanafiah riba nasi’ah adalah
kelebihan tunai atas tempo dan kelebihan
barang atas utang di dalam barang yang
ditakar atau ditimbang ketika berbeda
jenisnya, atau di dalam barang yang tidak
ditakar atau ditimbang ketika berbeda
jenisnya, atau di dalam barang yang tidak
ditakar atau ditimbang ketika jenisnya
sama. Atau dengan kata lain riba nasi’ah
adalah menjual (menukar) suatu barang
dengan barang yang sama jenisnya, atau
dengan barang yang tidak sama dengan
kelebihan takaran sebagai imbalan
diakhirkannya penukaran, atau tanpa
tambahan seperti menjual satu kilogram
kurma yang penyerahannya langsung (di
manjelis akad) dengan satu kilogram
kurma yang penyerahannya tempo.
Riba Qardh
Yaitu meminjamkan sesuatu dengan
syarat adanya keuntungan atau tambahan
bagi orang yang meminjami atau
mempiutangi.
Contoh : Ahmad meminjam uang sebesar
Rp. 25.000 kepada Adi. Adi
mengharuskan dan mensyaratkan agar
Ahmad mengembalikan hutangnya kepada
Adi sebesar Rp. 30.000 maka tambahan
Rp. 5.000 adalah riba Qardh.
Sebagian ulama berpendapat bahwa riba
qardh ini dikategorikan kepada riba
nasi’ah .
Riba nasi’ah ini disebut dengan riba jahiliyah, karena berasal dari
kebiasaan orang-orang arab jahiliyah. Kebiasaan tersebut adalah
apabila masa utang diperpanjang maka modal dan tambahannya
diribakan lagi, sehingga lama kelamaan utang tersebut akan beranak
cici, sampai ahirnya orang yang berutang (debitur) tidak mampu
melunasinya dan habislah hartanya. Hal ini tentu saja sangat
merugikan masyarakat, oleh karena itu Allah melarangnya dengan
keras dalam beberapa ayat.
Pada masa sekarang riba nasi’ah banyak dilakukan di lembaga-lembaga
keuangan atau perbankan, yaitu dengan model pinjaman uang yang
pengembaliannya diangsur dengan bunga bulanan atau tahunan seperti
7 %, 5 %, atau 1 % per bulan. Praktik model ini jelas menunjukan riba
dan bentuknya adalah riba nasi’ah, yang hukumnya sama dengan riba
nasi’ah. Pada masa sekarang ini praktik riba nasi’ah inilah yang banyak
ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengambil keuntungan
atau kelebihan atas pinjaman uang yang pengembaliannya ditunda.
BUNGA BAGI HASIL
Penentuan bunga dibuat
pada waktu akad dengan
asumsi harus selalu
untung
Penentuan besarnya rasio/
nisbah bagi hasil dibuat
pada waktu akad dengan
berpedoman pada
kemungkinan untung rugi
Besarnya persentase
berdasarkan pada
jumlah uang (modal)
yang dipinjamkan
Besarnya rasio bagi hasil
berdasarkan pada jumlah
keuntungan yang diperoleh
Eksistensi bunga
diragukan (kalau tidak
dikecam) oleh beberapa
kalangan
Tidak ada yang meragukan
keabsahan bagi hasil.
Hal-Hal Yang Menyebabkan Riba
1. Tidak sama nilainya
2. Tidak sama nilai ukurannya menurut
syara’,baik timbangan, takaran
ataupun ukuran
3. Tidak tunai di majlis akad
Dampak Riba Bagi Ekonomi
Riba (bunga) menahan pertumbuhan ekonomi dan
membahayakan kesejahteraan di muka bumi ini. Bisa dilihat dan
dirasakan di Indonesia sendiri dengan adanya riba banyak
terjadi distrosi yang sangat berpengaruh terhadap keadaan
ekonomi di negeri ini seperti inflasi, pengangguran,
distribusi kekayaan yang tidak merata dan resersi. Sehingga
pengembangan harta terjadi pada para pengusaha dan hartawan,
padahal mereka hanya sebagian kecil dari seluruh anggota
masyarakat, daya beli mereka pada hasil-hasil produksi juga
kecil. Pada waktu yang bersamaan, pendapatan kaum buruh sangat
kecil dan minim. Maka daya beli kebanyakan anggota
masyarakatpun kecil.
Hal ini merupakan masalah penting dalam ekonomi, yakni siklus-
siklus ekonomi. jika hal ini terus berulang maka akan
menimbulkan krisis ekonomi. para ahli ekonomipun berpendapat
bahwa salah satu penyebab utama krisis ekonomi adalah bunga
yang dibayar sebagai peminjaman modal atau dengan singkat
biasa kita sebut riba.
ُ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫م‬َ‫ي‬َ‫ك‬ ‫ه‬‫ل‬ُ‫ك‬ ُّ‫ب‬ ِ‫ح‬ُ‫ي‬ َ‫َل‬ ُ ‫ه‬‫ٱَّلل‬ َ‫و‬ ۗ ِ‫ت‬َٰ‫ق‬َ‫د‬‫ه‬‫ص‬‫ٱل‬ ‫ى‬ِ‫ب‬ ْ‫ر‬ُ‫ي‬ َ‫و‬ ۟‫ا‬ ٰ‫و‬َ‫ب‬ِِّ‫ٱلر‬ ُ ‫ه‬‫ٱَّلل‬ٍ‫يم‬ِ‫ث‬َ‫أ‬ ٍ‫ار‬‫ه‬‫ف‬
“Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai setiap orang
yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al Baqarah:276)
ْ‫ب‬ُ‫ت‬ ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ۖ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫و‬ ِ ‫ه‬‫ٱَّلل‬ َ‫ن‬ِِّ‫م‬ ٍٍۢ‫ب‬ ْ‫ر‬َ‫ح‬ِ‫ب‬ ۟‫وا‬ُ‫ن‬َ‫ذ‬ْ‫أ‬َ‫ف‬ ۟‫وا‬ُ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ف‬َ‫ت‬ ْ‫م‬‫ه‬‫ل‬ ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ْ‫َظ‬‫ت‬ َ‫َل‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ل‬ َٰ‫و‬ْ‫م‬َ‫أ‬ ُ‫وس‬ُ‫ء‬ُ‫ر‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬َ‫ف‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ظ‬ُ‫ت‬ َ‫َل‬ َ‫و‬ َ‫ون‬ُ‫م‬ِ‫ل‬َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬
“Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah
dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka
bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. Al Baqarah : 279.
َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ِ‫ر‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ج‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬:ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫د‬ِ‫ه‬‫َا‬‫ش‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ب‬ِ‫ت‬‫َا‬‫ك‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ِِّ‫ك‬َ‫ؤ‬ُ‫م‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫الر‬ َ‫ل‬ِ‫ك‬‫آ‬ ِ‫هللا‬ ُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫ن‬َ‫ع‬َ‫ل‬.َ‫و‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬:‫اء‬ َ‫و‬َ‫س‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬ .
“Dari jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat
pemakan riba, pemberi riba, penulis dan kedua orang yang menjadi saksi atasnya” Ia berkata:
“Mereka itu sama (saja).” (Hadits riwayat Muslim, 3/1219.)
‫ه‬‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ،ُ‫ه‬‫ه‬‫م‬ُ‫أ‬ ُ‫ل‬ُ‫ج‬‫ه‬‫الر‬ َ‫ح‬ِ‫ك‬ْ‫ن‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ُ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ر‬َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬َ‫ب‬ َ‫ن‬ ْ‫و‬ُ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬ َ‫و‬ ‫ة‬َ‫ث‬َ‫ال‬َ‫ث‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫الر‬‫ه‬‫الر‬ ُُ ْ‫ر‬ِ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫الر‬ ‫ى‬َ‫ب‬ ْ‫ر‬َ‫أ‬ِ‫م‬ِ‫ل‬ْ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫ل‬ُ‫ج‬ .
“Riba itu (memiliki) tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan daripadanya adalah seperti
(dosa) seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri). Dan sejahat-jahat riba adalah
kehormatan seorang muslim.” (Hadits riwayat Al-Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul
Jami’, 3533.)
ُ‫م‬َ‫ه‬ ْ‫ر‬ِ‫د‬َ‫ْن‬‫ي‬ِ‫ث‬َ‫ال‬َ‫ث‬ َ‫و‬ ٍ‫ة‬‫ه‬‫ت‬ِ‫س‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ُو‬‫ه‬ َ‫و‬ ُ‫ل‬ُ‫ج‬‫ه‬‫الر‬ ُ‫ه‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫أ‬َ‫ي‬ ‫ا‬ً‫ب‬ ِ‫ر‬ً‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ن‬ َ‫ز‬
“Sedirham (uang) riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sedang dia mengetahui (uang itu
hasil riba) lebih keras (siksanya) daripada tiga puluh enam wanita pezina.” (Hadits riwayat Al-
Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul Jami’, 3533.)
ٍِّ‫ل‬ُ‫ق‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ُ‫ْر‬‫ي‬ ِ‫َص‬‫ت‬ ُ‫ه‬َ‫ت‬َ‫ب‬ِ‫ق‬‫ا‬َ‫ع‬ ‫ه‬‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ َ‫ر‬ُ‫ث‬َ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫.الر‬
“(Uang) riba itu meski (pada awalnya) banyak, tetapi pada akhirnya ia akan (menjadi) sedikit.”(
Hadits riwayat Al-Hakim, 2/37; Shahihul Jami’, 3542.)
“Malu bertanya sesat dijalan,
Tidak bertanya tidak sesat” :D

Riba

  • 3.
    • Riba berartimenetapkan bunga atau melebihkan jumlah pinjaman saat pengembaliaan berdasarkan presentase tertentu dari jumlah peminjaman pokok yang dibebankan kepada peminjam.Menurut bahasa riba memiliki beberapa pengertian, yaitu: • Bertambah (Aziyaadatu), berasal dari kata “raba” yang sinonimnya : nama wa zada, artinya tumbuh dan tambah. karena salah satu perbuatan riba adalah meminta tambahan dari sesuatu yang dihutangkan. • • Berkembang, berbunga (Annaamu), karena salah satu perbuatan riba adalah membungakan harta uang atau yang lainnya yang dipinjamkan terhadap orang lain. • Berlebihan atau menggelembung, kata-kata ini berasal dari firman Allah dalam QS.Al-haj ayat 5 yang artinnya “Bumi jadi subur dan gembur”
  • 4.
    • Menurut ImamAr-Razi dalam tafsir Al-Qur’an, riba adalah suatu perbuatan mengambil harta kawannya tanpa ganti rugi, sebab orang yang meminjamkan uang 1000 rupiah mengganti dengan 2000 rupiah, maka ia mendapat tambahan 1000 rupiah tanpa ganti. • Menurut Mughni Muhtaj oleh Syarbini, riba adalah suatu akad atau transaksi atas barang yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut syariat atau dengan menunda penyerahan kedua barang yang menjadi objek akad atau salah satunya. • Menurut Al-Jurnaini merumuskan definisi riba yaitu kelebihan atau tambahan pembayaran tanpa ada ganti atau imbalan yang disyariatkan dari salah seorang bagi dua orang yang membuat akad. • Menurut Ijtima Fatwa Ulama Indonesia, riba adalah tambahan tanpa imbalan yang terjadi karena penanggungan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya atau biasa disebut dengan riba nasi’at.
  • 5.
    • Menurut Abdurrahmanal-jaziri, riba adalah akad yang terjadi dengan penukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut aturan syara’ atau terlambat salah satunya. • Menurut Syaikh Muhammad Abduh, riba adalah penambahan- penambahan yang diisyaratkan oleh orang yang memiliki harta kepada orang yang meminjam hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh peminjam dari waktu yang telah ditentukan. • Menurut Al-farabi, riba adalah setiap keuntungan yang bukan berasal dari tambahan akibat berproduksi (ikhtiar), berdagang produktif (ghurmi) dan memberikan jasa (dhaman). • Menurut syafi’iyah, riba adalah akad atas ‘iwadh (penukaran) tertentu yang tidak diketahui persamaanya dalam ukuran syara’ pada waktu akad atau dengan mengakhirkan (menunda) kedua penukaran tersebut atau salah satunya.
  • 6.
    • Adanya nashdari Al Qur’an dan Al Hadits terkait pengharaman riba • Karena riba menghendaki pengambilan harta orang lain dengan tidak ada imbangnya, seperti seseorang menukarkan uang kerta Rp. 10.000,00 dengan uang recehan senilai Rp.9.950,00 maka uang senilai Rp.50,00 tidak ada imbangannya, maka uang senilai Rp.50,00 adalah riba. • Riba menyebabkan putusnya perbuatan baik terhadap sesama manusia dengan cara utang-piutang atau menghilangkan faedah utang-piutang sehingga riba lebih cenderung memeras uang miskin dari pada menolongnya. • Mencerobohi kehormatan seorang mu’min dengan mengambil berlebihan tanpa ada pertukaran
  • 7.
    • Membatalkan perniagaan,usaha, kemahiran pengilangan dan sebagainya ini adalah karena cara mudah mendapatkan uang yang menyebabkan keperluan asasi yang lain akan terabaikan dan terbengkalai • Merugikan Dan Menyengsarakan Orang Lain • Orang yang meminjam uang kepada orang lain pada umumnya karena sedang susah atau terdesak. Karena tidak ada jalan lain, meskipun dengan persyaratan bunga yang besar, ia tetap bersedia menerima pinjaman tersebut, walau dirasa sangat berat. Orang yang meminjam ada kalanya bisa mengembalikan pinjaman tepat pada waktunya, tetapi adakalanya tidak dapat mengembalikan pinjaman tepat pada waktu yang telah ditetapkan. Karena beratnya bunga pinjaman, si peminjam susah untuk mengembalikan utang tersebut. Hal ini akan menambah kesulitan dan kesengsaraan bagi kehidupannya. • Pemakan riba akan dihinakan dihadapan seluruh makhluk, yaitu ketika dibangunkan dari kubur, ia seperti orang kesurupan lagi gila.
  • 8.
    Menurut sebagian ulamariba terbagi kepada empat bagian bagian : 1. Riba fadhal 2. Riba nasi’ah 3. Riba yad 4. Riba qardli
  • 9.
    2. Riba Al-Yad Ribaal-yad dikenal digolongan syafi’iyah dan hanafiyah memasukan riba yad ini kedalam riba nasi’ah, dengan istilah “fadhul ‘ain ‘alad dain” (kelebihan barang atas uang). Pengertian riba al-yad seperti dikemukakan oleh wahbah zuhaili adalah jual beli atau tukar menukar dengan cara mengakhirkan penerimaan kedua barang yang ditukarkan atau salah satunya tanpa menyebutkan masanya. Yakni terjadinya jual beli atau tukar menukar dua barang yang berbeda jenisnya, seperti gandum dengan jagung (sya’ir), tanpa dilakukan penyerahan di majelis akad. 1.Riba Fadhal Menurut hanafiah riba fadhal adalah tambahan benda dalam akad jual beli (tukar-menukar) yang menggunakan ukuran syara’ (yaitu literan atau timbangan) yang jenis barangnya sama. Menurut syafi’iyah riba fadhal adalah adanya tambahan atas dua benda yang ditukarkan termasuk didalamnya riba qardh (utang). Menurut sayid sabiq riba fadhal adalah jual beli uang dengan uang atau makanan dengan makanan disertai dengan kelebihan (tambahan).
  • 10.
    4. Riba Nasi’ah MenurutHanafiah riba nasi’ah adalah kelebihan tunai atas tempo dan kelebihan barang atas utang di dalam barang yang ditakar atau ditimbang ketika berbeda jenisnya, atau di dalam barang yang tidak ditakar atau ditimbang ketika berbeda jenisnya, atau di dalam barang yang tidak ditakar atau ditimbang ketika jenisnya sama. Atau dengan kata lain riba nasi’ah adalah menjual (menukar) suatu barang dengan barang yang sama jenisnya, atau dengan barang yang tidak sama dengan kelebihan takaran sebagai imbalan diakhirkannya penukaran, atau tanpa tambahan seperti menjual satu kilogram kurma yang penyerahannya langsung (di manjelis akad) dengan satu kilogram kurma yang penyerahannya tempo. Riba Qardh Yaitu meminjamkan sesuatu dengan syarat adanya keuntungan atau tambahan bagi orang yang meminjami atau mempiutangi. Contoh : Ahmad meminjam uang sebesar Rp. 25.000 kepada Adi. Adi mengharuskan dan mensyaratkan agar Ahmad mengembalikan hutangnya kepada Adi sebesar Rp. 30.000 maka tambahan Rp. 5.000 adalah riba Qardh. Sebagian ulama berpendapat bahwa riba qardh ini dikategorikan kepada riba nasi’ah .
  • 11.
    Riba nasi’ah inidisebut dengan riba jahiliyah, karena berasal dari kebiasaan orang-orang arab jahiliyah. Kebiasaan tersebut adalah apabila masa utang diperpanjang maka modal dan tambahannya diribakan lagi, sehingga lama kelamaan utang tersebut akan beranak cici, sampai ahirnya orang yang berutang (debitur) tidak mampu melunasinya dan habislah hartanya. Hal ini tentu saja sangat merugikan masyarakat, oleh karena itu Allah melarangnya dengan keras dalam beberapa ayat. Pada masa sekarang riba nasi’ah banyak dilakukan di lembaga-lembaga keuangan atau perbankan, yaitu dengan model pinjaman uang yang pengembaliannya diangsur dengan bunga bulanan atau tahunan seperti 7 %, 5 %, atau 1 % per bulan. Praktik model ini jelas menunjukan riba dan bentuknya adalah riba nasi’ah, yang hukumnya sama dengan riba nasi’ah. Pada masa sekarang ini praktik riba nasi’ah inilah yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu mengambil keuntungan atau kelebihan atas pinjaman uang yang pengembaliannya ditunda.
  • 12.
    BUNGA BAGI HASIL Penentuanbunga dibuat pada waktu akad dengan asumsi harus selalu untung Penentuan besarnya rasio/ nisbah bagi hasil dibuat pada waktu akad dengan berpedoman pada kemungkinan untung rugi Besarnya persentase berdasarkan pada jumlah uang (modal) yang dipinjamkan Besarnya rasio bagi hasil berdasarkan pada jumlah keuntungan yang diperoleh Eksistensi bunga diragukan (kalau tidak dikecam) oleh beberapa kalangan Tidak ada yang meragukan keabsahan bagi hasil.
  • 13.
    Hal-Hal Yang MenyebabkanRiba 1. Tidak sama nilainya 2. Tidak sama nilai ukurannya menurut syara’,baik timbangan, takaran ataupun ukuran 3. Tidak tunai di majlis akad
  • 14.
    Dampak Riba BagiEkonomi Riba (bunga) menahan pertumbuhan ekonomi dan membahayakan kesejahteraan di muka bumi ini. Bisa dilihat dan dirasakan di Indonesia sendiri dengan adanya riba banyak terjadi distrosi yang sangat berpengaruh terhadap keadaan ekonomi di negeri ini seperti inflasi, pengangguran, distribusi kekayaan yang tidak merata dan resersi. Sehingga pengembangan harta terjadi pada para pengusaha dan hartawan, padahal mereka hanya sebagian kecil dari seluruh anggota masyarakat, daya beli mereka pada hasil-hasil produksi juga kecil. Pada waktu yang bersamaan, pendapatan kaum buruh sangat kecil dan minim. Maka daya beli kebanyakan anggota masyarakatpun kecil. Hal ini merupakan masalah penting dalam ekonomi, yakni siklus- siklus ekonomi. jika hal ini terus berulang maka akan menimbulkan krisis ekonomi. para ahli ekonomipun berpendapat bahwa salah satu penyebab utama krisis ekonomi adalah bunga yang dibayar sebagai peminjaman modal atau dengan singkat biasa kita sebut riba.
  • 15.
    ُ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫م‬َ‫ي‬َ‫ك‬ ‫ه‬‫ل‬ُ‫ك‬ ُّ‫ب‬ِ‫ح‬ُ‫ي‬ َ‫َل‬ ُ ‫ه‬‫ٱَّلل‬ َ‫و‬ ۗ ِ‫ت‬َٰ‫ق‬َ‫د‬‫ه‬‫ص‬‫ٱل‬ ‫ى‬ِ‫ب‬ ْ‫ر‬ُ‫ي‬ َ‫و‬ ۟‫ا‬ ٰ‫و‬َ‫ب‬ِِّ‫ٱلر‬ ُ ‫ه‬‫ٱَّلل‬ٍ‫يم‬ِ‫ث‬َ‫أ‬ ٍ‫ار‬‫ه‬‫ف‬ “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah, dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (Al Baqarah:276) ْ‫ب‬ُ‫ت‬ ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ۖ ‫ۦ‬ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫و‬ ِ ‫ه‬‫ٱَّلل‬ َ‫ن‬ِِّ‫م‬ ٍٍۢ‫ب‬ ْ‫ر‬َ‫ح‬ِ‫ب‬ ۟‫وا‬ُ‫ن‬َ‫ذ‬ْ‫أ‬َ‫ف‬ ۟‫وا‬ُ‫ل‬َ‫ع‬ْ‫ف‬َ‫ت‬ ْ‫م‬‫ه‬‫ل‬ ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ْ‫َظ‬‫ت‬ َ‫َل‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ِ‫ل‬ َٰ‫و‬ْ‫م‬َ‫أ‬ ُ‫وس‬ُ‫ء‬ُ‫ر‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬َ‫ف‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ظ‬ُ‫ت‬ َ‫َل‬ َ‫و‬ َ‫ون‬ُ‫م‬ِ‫ل‬َ‫ون‬ُ‫م‬َ‫ل‬ “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya”. Al Baqarah : 279. َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬ ِ‫ر‬ِ‫ب‬‫ا‬َ‫ج‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬:ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫د‬ِ‫ه‬‫َا‬‫ش‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ب‬ِ‫ت‬‫َا‬‫ك‬ َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ِِّ‫ك‬َ‫ؤ‬ُ‫م‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫الر‬ َ‫ل‬ِ‫ك‬‫آ‬ ِ‫هللا‬ ُ‫ل‬ ْ‫و‬ُ‫س‬ َ‫ر‬ َ‫ن‬َ‫ع‬َ‫ل‬.َ‫و‬َ‫ل‬‫ا‬َ‫ق‬:‫اء‬ َ‫و‬َ‫س‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬ . “Dari jabir radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat pemakan riba, pemberi riba, penulis dan kedua orang yang menjadi saksi atasnya” Ia berkata: “Mereka itu sama (saja).” (Hadits riwayat Muslim, 3/1219.) ‫ه‬‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ،ُ‫ه‬‫ه‬‫م‬ُ‫أ‬ ُ‫ل‬ُ‫ج‬‫ه‬‫الر‬ َ‫ح‬ِ‫ك‬ْ‫ن‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ ُ‫ل‬ْ‫ث‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬ُ‫ر‬َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬َ‫ب‬ َ‫ن‬ ْ‫و‬ُ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬ َ‫و‬ ‫ة‬َ‫ث‬َ‫ال‬َ‫ث‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫الر‬‫ه‬‫الر‬ ُُ ْ‫ر‬ِ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫الر‬ ‫ى‬َ‫ب‬ ْ‫ر‬َ‫أ‬ِ‫م‬ِ‫ل‬ْ‫س‬ُ‫م‬ْ‫ال‬ ِ‫ل‬ُ‫ج‬ . “Riba itu (memiliki) tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan daripadanya adalah seperti (dosa) seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri). Dan sejahat-jahat riba adalah kehormatan seorang muslim.” (Hadits riwayat Al-Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul Jami’, 3533.)
  • 16.
    ُ‫م‬َ‫ه‬ ْ‫ر‬ِ‫د‬َ‫ْن‬‫ي‬ِ‫ث‬َ‫ال‬َ‫ث‬ َ‫و‬ٍ‫ة‬‫ه‬‫ت‬ِ‫س‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ ُ‫م‬َ‫ل‬ْ‫ع‬َ‫ي‬ َ‫ُو‬‫ه‬ َ‫و‬ ُ‫ل‬ُ‫ج‬‫ه‬‫الر‬ ُ‫ه‬ُ‫ل‬ُ‫ك‬ْ‫أ‬َ‫ي‬ ‫ا‬ً‫ب‬ ِ‫ر‬ً‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ن‬ َ‫ز‬ “Sedirham (uang) riba yang dimakan oleh seorang laki-laki, sedang dia mengetahui (uang itu hasil riba) lebih keras (siksanya) daripada tiga puluh enam wanita pezina.” (Hadits riwayat Al- Hakim dalam Al Mustadrak, 2/37; Shahihul Jami’, 3533.) ٍِّ‫ل‬ُ‫ق‬ ‫ى‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ ُ‫ْر‬‫ي‬ ِ‫َص‬‫ت‬ ُ‫ه‬َ‫ت‬َ‫ب‬ِ‫ق‬‫ا‬َ‫ع‬ ‫ه‬‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ َ‫ر‬ُ‫ث‬َ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬ ‫ا‬َ‫ب‬ِِّ‫.الر‬ “(Uang) riba itu meski (pada awalnya) banyak, tetapi pada akhirnya ia akan (menjadi) sedikit.”( Hadits riwayat Al-Hakim, 2/37; Shahihul Jami’, 3542.)
  • 17.
    “Malu bertanya sesatdijalan, Tidak bertanya tidak sesat” :D