MAKALAH
PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM MENGHADAPI
DILEMA ETIK/MORAL PELAYANAN KEBIDANAN
OLEH:
KELOMPOK 5
1. DEWI WULANTARI
2. EVA AYU LESTARI
3. MELDA SARI
4. NIKMATUL AZLIA
5. RUSLAENI
6. SHOLEHAH
YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEBIDANAN JENJANG D.III
MATARAM
2016
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan
hidayahNya makalah kami yang membahas tentang “Pengambilan Keputusan
dalam Menghadapi Dilema Etik/Moral Pelayanan Kebidanan” pada mata kuliah
Etikolegal dalam Praktik Kebidanan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya.
Makalah ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan, arahan serta
bimbingan dari berbagai pihak, maka dari itu izinkan kami menyampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta membantu penyusunan makalah
ini. Kami menyadari bahwa sepenuhnya makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan segala masukan berupa kritik
maupun saran demi perbaikan makalah ini dan penyusunan makalah-makalah
berikutnya.
Akhir kata dengan suatu harapan yang tinggi, semoga makalah ini menjadi
suatu yang bermanfaat bagi kita semua khususnya mahasiswi kebidanan.
Mataram, April 2016
Penyusun,
iii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................ 2
BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Isu Etik dan Dilema ....................................................................... 3
B. Isu Moral dan Dilema Moral ......................................................... 5
C. Pengambilan Keputusan dalam Pelayanan Kebidanan ................. 7
D. Pengambilan Keputusan yang Etis ................................................ 7
E. Teori-Teori Pengambilan Keputusan ............................................ 8
F. Dimensi Etik dalam Peran Bidan .................................................. 10
G. Studi Kasus .................................................................................... 11
BAB 3 PENUTUP .......................................................................................... 13
A. Kesimpulan .................................................................................... 13
B. Saran .............................................................................................. 13
DAFTAR PUSTAKA
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuntutan bahwa etik adalah hal penting yang kebidanan salah satunya
adalah karena bidan merupakan profesi yang bertanggung jawab terhadap
keputusan yang dibuat berhubungan dengan klien serta harus mempunyai
tanggung jawab moral terhadap keputusan yang diambil. Bidan mempunyai
hak untuk mengambil keputusan sendiri yang harus mempunyai pengetahuan
yang memadai dan harus selalu memperbaharui ilmunya dan mengerti tentang
etika yang berhubungan dengan ibu dan bayi. Untuk dapat menjalankan
praktik kebidanan dengan baik tidak hanya dibutuhkan pengetahuan klinik
yang baik, serta pengetahuan yang up to date, tapi bidan juga harus
mempunyai pemahaman isu etik dalam pelayanan kebidanan.
Pada dasarnya dalam praktik sehari hari, pasien yang datang untuk
berobat ke tempat praktik dianggap telah memberikan persetujuannya untuk
dilakukan tindakan tindakan rutin seperti pemeriksaan fisik. Akan tetapi,
untuk tindakan yang lebih kompleks biasanya akan diberikan penjelasan
terlebih dahulu untuk mendapatkan kesediaan dari pasien. Namun ada kalanya
bidan dihadapkan pada dilema etik/moral pelayanan kebidanan, dalam hal ini
bidan diharapkan melakukan pengambilan keputusan yang baik. Untuk
mengambil keputusan yang baik maka bidan sebaiknya memiliki pengetahuan
yang baik dalam teori-teori pengambilan keputusan.
Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal
yang penting dan dituntut dari suatu profesi, terutama profesi yang
berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggung jawaban
dan tanggung gugat (accountability) atas semua tindakan yang dilakukuannya.
Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis
kompetensi dan didasari suatu evidence based.
Menurut Daryl Koehn dalam The Grownd of Professional Ethis
(1994), bahwa bidan dikatakan profesional, bila menerapkan etika dalam
praktik kebidanan. Dengan memahami peran sebagai bidan, akan
2
meningkatkan profesionalnya kepada pasien atau klien. Bidan berada pada
posisi yang baik, yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan
peningkatan pengetahuan tentang etika untuk menerapkan strategi praktik
kebidanan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah
yang dibahas dalam makalah ini adalah bagaimanakah pengambilan keputusan
dalam menghadapi dilema etik/moral pelayanan kebidanan?
C. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat
mengetahui dan menjelaskan tentang pengambilan keputusan dalam
menghadapi dilema etik/moral pelayanan kebidanan.
3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Isu Etik dan Dilema
Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan
hubungan manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah
dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk (jones, 1994). Moral merupakan
pengetahuan atau keyakinan tentang adanya hal yang baikdan buruk serta
mempengaruhi sikap seseorang. Kesadaran tentang adanya baik dan buruk
berkembang pada diri seseorang seiring dengan pengaruh lingkungan,
pendidikan, sosial budaya, agama dsb, hal inilah yang disebut kesadaran moral
atau kesadaran etik. Moral juga merupakan keyakinan individu bahwa sesuatu
adalah mutlak baik atau buruk walaupun situasi berbeda.
Kesadaran moral erat kaitannya dengan nilai-nilai, keyakinan
seseorang dan pada prinsipnya semua manusia dewasa tahu akan hal yang
baik dan yang buruk, inilah yang dimaksud suara hati. Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi berdampak pada perubahan pola piker manusia.
Masyarakat semakin kritis sehingga terjadi penguatan tuntutan terhadapa mutu
pelayanan kebidanan. Mutu pelayanan kebidanan yang baikperlu landasan
komitmen yang kuat dengan basis etik dan moral yang baik.
Dalam praktik kebidanan sering kali bidan dihadapkan pada beberapa
pola permasalahan yang dilematis, artinya pengambilan keputusan yang sulit
berkaitan dengan etik. Dilema muncul karena terbentur pada konflik moral,
pertentangan batin atau pertentangan antara nilai-nilai yang diyakini bidan
dengan keyataan yang ada.
Beberapa permasalahan pembahasan etik dalam kehidupan sehari-hari
adalah sebagai berikut :
1. Persetujuan dalam proses melahirkan.
2. Memilih atau mengambil keputusan dalam persalinan.
3. Kegagalan dalam proses persalinan.
4. Pelaksanaan USG dalam kehamilan.
5. Konsep normal pelayanan kebidanan.
4
6. Bidan dan pendidikan sex.
Ada beberapa masalah etik yang berhubungan dengan teknologi,
contohnya sebagai berikut :
1. Perawatan intensif pada bayi
2. Skrening bayi
3. Transplantasi organ
4. Teknik reproduksi dan kebidanan
Etik berhubungan erat dengan profesi, yaitu :
1. Pengambilan keputusan dan penggunaan etik
2. Otonomi bidan dan kode etik professional
3. Etik dalam penelitian kebidanan
4. Penelitian tentang masalah kebidanan yang sensitive
Beberapa contoh mengenai isu etik dalam pelayanan kebidanan, adalah
berhubungan dengan :
1. Agama atau kepercayaan
2. Hubungan dengan pasien
3. Hubungan dokter dengan bidan
4. Kebenaran
5. Pengambilan keputusan
6. Pengambilan data
7. Kematian
8. Kerahasiaan
9. Aborsi
10. AIDS
11. In-vitro fertilization
Perlu juga disadari bahwa dalam pelayanan kebidanan sering kali
muncul masalah atau isu dimasyarakat yang berkaitan dengan etik dan moral,
dilemma serta konflik yang dihadapi bidan sebagai praktisi kebidanan. Isu
adalah masalah pokok yang berkembang dimasyarakat atau suatu lingkungan
yang belum tentu benar, serta memerlukan pembuktian. Bidan dituntun
berperilaku hati-hati dalam setiap tindakannya dalam memberikan asuhan
kebidanan dengan menampilkan perilaku yang etis professional.
5
Isu adalah topic yang menarik untuk didiskusikan dan sesuatu yang
memungkinkan setiap orang mempunyai pendapat. Pendapat yang timbul akan
bervariasi, isu muncul dikarenakan adanya perbedaan nilai-nilai dan
kepercayaan.
B. Isu Moral dan Dilema Moral
Isu moral adalah merupakan topic yang penting berhubungan dengan
benar dan salah dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh nilai-nilai yang
berhubungan dengan kehidupan orang sehari-hari menyangkut kasus abortus,
euthanasia, keputusan untuk terminasi kehamilan. Isu moral juga berhubungan
dengan kejadian yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti
menyangkut konflik, malpraktik, perang dsb.
Dilema moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana
dihadapkan pada dua alternative pilihan, yang kelihatannya sama atau hampir
sama atau pemecahan masalah harus mengingat akan tanggung jawab
professional, yaitu :
1. Tindakan selalu ditunjukkan utuk peningkatan kenyamanan, kesejahteraan
pasien atau klien.
2. Menjamin bahwa tidak ada tindakan yang menghilangkan suatu bagian
(omission), disertai rasa tanggung jawab, memperhatikan kondisi dan
keamananpasien atau klien.
Contoh kasus :
Studi kasus mengenai dilema moral
“Seorang ibu primipara masuk kamar bersalin dalam keadaan infartu. Suatu
dilakukan anamese dia mengatakan tidak mau di episisotomi. Ternyata selama
kala II kemajuan kala II berlangsung lambat, perineum masih tebal dan kaku.
Keadaan ini dijelaskan kepada ibu oleh bidan, tetapi ibu tetap pada
pendiriannya menolak di episiotomi. Sementara waktu berjalan terus dan
denyut jantung janin menunjukkan keadaan fetal distress dan hal ini
mengharuskan bidan untuk melakukan tindakan episiotomy, tetapi tetap tuidan
menyetujuinya bidan berharap bayinya selamat. Sementara itu ada bidan yang
memberitahukan dia pernah melakukan hal ini tanpa persetujuan pasien,
dilakukan karena untuk melindungi bayinya. Jika bidan melakukan episiotomy
6
tanpa persetujuan pasien. Maka bidan akan dihadapkan pada suatu tuntutan
dari pasien. Sehingga inilah merupaka contoh gambaran dilemma moral. Bila
bidan melakukan tindakan tanpa persetujuan pasien, bagaimana ditinjau dari
segi etik dan moral. Bila tidak dilakukan tindakan, apa yang akan terjadi pada
bayinya?”
Konflik moral menurut Johnson adalah bahwa konflik atau dilemma
pada dasarnya sama, kenyataanya konfil berada antara prinsip moral dan tugas
yang mana sering menyebabkan dilema, ada 2 tipe konflik, yang pertama
konflik yang berhubungan dengan prinsif, dan yang kedua adalah konflik yang
berhubungan dengan otonomi. 2 tipe konflik ini adalah merupakan dua bagian
yang tak terpisahkan. Bagaiman kita mengatasi dilema?, yaitu menggunakan
teori- teori etika dan teori pengambilan keputusan dalam pelayanan kebidanan.
Contoh :
Studi kasus mengenai konflik moral
“Ada seorang bidan yang berpraktik mandiri di rumah. Ada seorang pasien
inpartu datang ketempat praktiknya. Status obstretik pasien adalah G1 P0
AB0. Hasil pemeriksaan penapisan awal menunjukan presentasi bokong
dengan taksiran berat janin 3.900 gram, dengan kesejahteraan janin dan ibu
baik. Maka bidan tersebut menganjurkan dan memeberi konseling kepada
pasien mengenai kkasusnya dan untuk dilakukan tindakan rujukan. Namun
pasien dan keluarganya menolak dirujuk dan bersikukuh untuk tetap
melahirkan di bidan tersebut karena pertimbangan biaya dan kesulitan
lainnya. Melihat kasus ini maka bidan dihadapkan pada konflik moral yang
bertentangan dengan prinsip moral dan otonomi maupun kewenangan dalam
pelayanan kebidanan. Bahwa sesuai kepmenkes Republik Indonesia
9/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan, bidan tidak
berwenang memeberikan pertolongan persalinan pada primigravida dengan
persentasi bokong disisi lain ada prinsip nilai moral dan kemanusiaan yang
dihadapi pasien, yaitu ketidak mampuan secara sosial ekonomi dan kesulitan
yang lain, maka bagaimana seorang bidan mengambil keputusan yang terbaik
terhadap konflik moral yang dihadapi dalam pelayanan kebidanan”.
7
C. Pengambilan Keputusan dalam Pelayanan Kebidanan
Menurut George R.Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan
alternative perilaku tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada. Terdapat
lima hal pokok Vdalam pengambilan keputusan, yaitu :
1. Instuisi, berdasarkan perasaan, lebih subyektif dan mudah terpengaruh.
2. Pengalaman, mewarai pengetahuan praktis, seringnya terpapar satu kasus
meningkatkan kemampuan mengambil keputusan terhadap suatu kasus.
3. Fakta, keputusan lebih reel, falid, dan baik.
4. Wewenang, lebih bersifat rutinitas.
5. Rasional, keputusan bersifat objektif, transparan, konsisten.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan :
1. Posisi atau kedudukan.
2. Masalah : terstruktur, tidak terstruktur, rutin, insidentil.
3. Situasi : faktor konstan, faktor tidak konstan.
4. Kondisi, faktor-faktor yang mnentukan daya gerak.
5. Tujuan, antara atau obektif.
Kerangka pengambilan keputusan dalam asuhan kebidanan
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1. Bidan harus memepunyai responsibility dan accountability.
2. Bidan harus menghargai wanita sebagai individu dan melayani dengan
rasa hormat.
3. Pusat perhatian pelayanan bidan adalah safety and wellbeing mother.
4. Bidan berusaha menyokong pemahaman ibu tentang kesejahteraan dan
menyatakan pilihannya pada pengalaman situasi yang aman.
5. Sumber proses pengambilan keputusan dalam kebidaan adalah :
Knowledge, ajaran intrinsic, kemampuan berpikir kritis, kemampuan
membuat keputusan klinis yang logis.
D. Pengambilan Keputusan yang Etis
1. Ciri keputusan yang etis, meliputi :
a. Mempunyai pertimbangan benar salah.
b. Sering menyakut pilihan yang sukar.
c. Tidak mungkin dielakkan.
8
d. Dipengaruhi oleh norma, situasi, iman, lingkungan sosial.
2. Situasi.
a. Mengapa kita perlu mengerti situasi :
1) Untuk menerapkan norma-norma terhadap situasi.
2) Untuk melakukan perbuatan yang tepat dan berguna.
3) Untuk mengetahui masalah-masalah yang perlu diperhatikan.
b. Kesulitan-kesulitan dalam mengerti situasi :
1) Kerumitan situasi dan keterbatasan pengetahuan kita.
2) Pengertian kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh
kepentingan, perasangka dan faktor-faktor subjektif lain.
c. Bagaimana kita memperbaiki pengertian kita tentang situasi :
1) Melakukan penyelidikan yang memadai.
2) Menggunakan saran ilmiah yang keterangan para ahli.
3) Memeperluas pandangan tentang situasi.
4) Kepekaan terhadap pekerjaan.
5) kepekaan terhadap kebutuhan orang lain.
E. Teori-Teori Pengambilan Keputusan
1. Teori Utilitarisme
Teori ulitarisme mengutamakan adanya konsekuensi kepercayaan
adanya kegunaan. Dipercaya bahwa semua manusia mempunyai perasaan
menyenangkan dan perasaan sakit. Ketika keputusan dibuat seharusnya
memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan ketidak senangan. Prinsip
umum dalam utilitarisme adalah didasari bahwa tindakan moral
enghasilkan kebahagiaan yang besar bila menghasilkan jumlah atau angka
yang besar. Ada dua bentuk teori utilitarisme, yaitu : 1. Utilitarisme
berdasar tindakan, 2. Utilitarisme berdasar aturan. Prinsip utilitarisme
berdasar tindakan adalah setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan yang
akan menghasilkan hasil atau tingkatan yang lebih besar. Utilitarisme
berdasar aturan adalah modifikasi antara utilitarisme tindakan dan aturan
moral, aturan yang baik akan menghasilkan keuntungan yang maksimal.
Tindakan individu didasarkan atas prinsip kegunaan dan aturan moral.
Tindakan dikatakan baik bila didasari aturan moral yang baik. Menurut
9
filsuf johnstuart mill (1864), bahwa kesenangan dan kebahagiaan dinilai
secara kualitatif menurutnya “Everybody to count for one, for more that
on” suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ktidak
bahagiaan. Tidak ada seorangpun yang tidak berguna bagi yang lain.
Kebahagiaan terbesar adalah mlik semua orang yang bias dirasakan
berguna bagi semua orang.
Menurut Richard B. BRANDT bahwa perbuatan dinilai baik secara
moral, jika sesuai dengan aturan moral yang berlalu dan berguna pada
suatu masyarakat.
2. Teori Deontology
Menurut Immanuel kant (1724-1804), sesuatu dikatakan baik
dalam arti sesungguhnya adalah kehendak yang baik, kesehatan, kekayaan,
kepandaian adalah baik, jika digunakan dengan baik oleh kehendak
manusia, tetapi jika digunakan dengan kehendak yang jahat, akan menjadi
jelek skali. Kehendak menjadi baik jika bertindak karena kewajiban. Kalau
seseorang bertindak karena motif tertentu atau keinginan tertentu berarti
disebut tindakan yang tidak baik. Bertindak sesuai kewajiban disebut
legalitas. Menurut W.B ROSS (1877-1971), setiap manusia mempunyai
intiusi akan kewajiaban, semua kewajiban berlaku langsung pada diri kita.
Kewajiban untuk mengatakan kebenaran merupakan kewajiban utama,
termaksud kewajiban kesetiaan, ganti rugi, terimakasih, keadilan, berbuat
baik, dsb. Contoh yang lain adalah bila berjanji harus ditepati, bila
meminjam harus dikembaliakn, dsb. Dengan memahami kewajiban akan
terhindar dari keputusan yang menimbulkan konflik atau dilema.
3. Teori Hidonisme
Menurut aristeppos (433-355 SM ), sesuai kodrat nya setiap
manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Akan
tetapi ada batas untuk mencari kesenangan. Hal yang penting adalah
menggunakan kesenangan dengan baik, dan tidak terbawa oleh
kesenangan. Menurut eppikuros (341-270 SM ) dalam nilai kesenangan
tidak hanya kesenangan inderawi, tetapi kebebasan dari rasa nyeri ,
kebebasan dari keresahan jiwa juga. Apa tujuan terakhir dari kehidupan
10
manusia adalah kesenangan. Menurut jhon locke (1632-1704), kita sebut
baik bila meningkatkan kesenangan dan sebaliknya dinamakan jahat kalau
mengurangi kesenganan atau menimbulkan ketidaksenangan.
4. Teori Eudemonisme
Menurut filsop yunani aristoteles (384-322 SM) dalam buku etika
nikomatia, bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu
tujuan, ingin mencapai sesuatu yang baik bagi kita. Seringkali kita mencari
suatu tujuan untuk mencapai suatu tujuan yang lain lagi. Semua orang
akan menyetujui bahwa tujuan terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan
(eudaimonia) seseorang mampu mencapai tujuannya jika mampu
menjalankan fungsinya dengan baik, keunggulan manusia adalah akal dan
budi. Manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan kegiatan yang
rasional. Ada dua macam keutamaan, yaitu keutamaan intelektual dan
keutamaan moral.
F. Dimensi Etik dalam Peran Bidan
Peran bidan secara menyeluruh meliputi beberapa aspek : praktisi,
penasehat, konslor, penasehat, teman, pendidikan, dan peneliti atau pada garis
besarnya adalah pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti dalam pelayanan
kebidanan. Menurut united kingdom central count cil (ukcc) 1999, tanggung
jawab bidan meliputi :
1. Mempertahankan dan meningkatkan keamanan ibu dan bayi.
2. Menyediakan pelayanan yang berkualitas dan informasi dan nasehat yang
tidak bias yang didasarkan pada evidence based.
3. Mendidik dan melatih calon bidan untuk dapat bekerja sama dalam profesi
dan memberikan pelayanan dengan memiliki tanggung jawab yang sama,
termasuk dengan teman sejawatnya atau kolega, sehingga bagaiman agar
fit fot practice and fit for purpose (menguntungkan untuk praktik dan
menguntungkan untuk tujuan).
Dimensi kode etik, meliputi :
1. Dimensi antara anggota profesi dan klien.
2. Antara anggota profsi dan siste kesehatan
3. Anggota profesi dan profesi kesehatan.
11
4. Sesame anggota profesi.
Prinsip kode etik terdiri dari :
1. Menghargai otonomi.
2. Melakukan tindakan yang benar.
3. Mencegah tindakan yang dapat merugikan
4. Memperlakukan manusia dengan adil
5. Menjelaskan degan benar
6. Menepati janji yang telah disepakati
7. Menjaga kerahasiaan
G. Studi Kasus
1. Seorang bidan menangani seorang ibu X primipara berusia 35 tahun.
Bidan tersebut menggali informasi mulai dari riwayat kesehatan masa lalu,
sekarang dan riwayat kesehatan keluarganya. Kehamilan ibu X berusia 14
minggu dan ini merupakan kehamilan yang direncanakan. Pada akhir
pertemuan ibu X tersebut mengeluarkan pendapat rencana persalinannya .
ibu X menyatakan persalinan SC sebagai pilihannya. Bidan menjelaskan
bahwa persalinan SC untuk kasus komplikasi. Bidan tersebut tidak
melanjutkan diskusinya karena takut memberikan informasi yang salah
dan terjadi konflik. Maka bidan menyarankan ibu X konsultasi ke dokter
kandungan. Ada beberapa pertanyaan untuk pertimbangan :
a. Haruskah bidan tersebut meneruskan diskusi tentang persalinan SC
untuk persalinannya ?
b. Menurut anda apakah keingina ibu X untuk SC harus dipenuh ?
c. Haruskah persalinan SC sebagai satu pilihan untuk beberapa ibu,
padahal tanpa indikasi ?
2. Seorang ibu primigravida dengan umur kehamilan 27 minggu diperkirakan
akan melahirkan bayi premature. Dirumah sakit ia melakukan berbagai
pemeriksaan, seperti pemeriksaan serviks, usapan vagina dan pemeriksaan
rutin. Ibu tersebut didiagnosa mengalami infeksi saluran kemih. Penyebab
kemungkinan kelahiran premature pada ibu tersebut ternyata gonore dan
infeksi chalamydia. Sehingga pada hasl pemeriksaan vulva ibu tersebut
terdapat secret yang mukofurelent, tanpak kotor, basah, lembab, dan
12
berbau, serta terdapat hiferemis didaerah sekitar vulva dan vagina.
Kemudian setelah selesai pemeriksaan, pada saat istirahat bidan yang
memeriksan ibu tersebut menceritakan kejadian atau kasus yang dialami
ibu tersebut pada sejawat bidan yang lain termasuk pada mahasiswa calon
bidan. Ada beberapa pertanyaan untuk menjadi bahan pertimbangan :
a. Apakah tindakan yang dilakukan bidan tersebut melanggar kode etik?
b. Bagaimana seharusnya tindakan bidan dalam menjamin privasi dan
kerahasiaan klien?
13
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan
hubungan manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah
dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk. Moral merupakan pengetahuan
atau keyakinan tentang adanya hal yang baikdan buruk serta mempengaruhi
sikap seseorang.
Beberapa permasalahan pembahasan etik dalam kehidupan sehari-hari
adalah sebagai berikut :
1. Persetujuan dalam proses melahirkan.
2. Memilih atau mengambil keputusan dalam persalinan.
3. Kegagalan dalam proses persalinan.
4. Pelaksanaan USG dalam kehamilan.
5. Konsep normal pelayanan kebidanan.
6. Bidan dan pendidikan sex.
Dilema moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana
dihadapkan pada dua alternative pilihan, yang kelihatannya sama atau hampir
sama atau pemecahan masalah harus mengingat akan tanggung jawab
professional.
Teori-Teori Pengambilan Keputusan yaitu :
1. Teori Utilitarisme
2. Teori Deontology
3. Teori Hidonisme
4. Teori Eudemonisme
B. Saran
Sebagai calon tenaga kesehatan hendaknya kita bisa memahami lebih
dalam apa yang jadi dasar pada pengambilan keputusan dalam menghadapi
dilema etik/moral pelayanan kebidanan sehingga dapat menerapkannya
dengan baik di kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
Marimba, Hanum. 2008. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra Cendikia
Press: Yogyakarta.
Wahyuningsih, Heni Puji. 2005. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Penerbit
Fitramaya.
Yetty, Jein Asmar. 2005. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Fitra Maya.

Isu etik dan dilemma

  • 1.
    MAKALAH PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAMMENGHADAPI DILEMA ETIK/MORAL PELAYANAN KEBIDANAN OLEH: KELOMPOK 5 1. DEWI WULANTARI 2. EVA AYU LESTARI 3. MELDA SARI 4. NIKMATUL AZLIA 5. RUSLAENI 6. SHOLEHAH YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM PROGRAM STUDI KEBIDANAN JENJANG D.III MATARAM 2016
  • 2.
    ii KATA PENGANTAR Puji syukurkami panjatkan kehadirat Allah SWT karena dengan hidayahNya makalah kami yang membahas tentang “Pengambilan Keputusan dalam Menghadapi Dilema Etik/Moral Pelayanan Kebidanan” pada mata kuliah Etikolegal dalam Praktik Kebidanan ini dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini tidak dapat terselesaikan tanpa bantuan, arahan serta bimbingan dari berbagai pihak, maka dari itu izinkan kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah ikut serta membantu penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa sepenuhnya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami mengharapkan segala masukan berupa kritik maupun saran demi perbaikan makalah ini dan penyusunan makalah-makalah berikutnya. Akhir kata dengan suatu harapan yang tinggi, semoga makalah ini menjadi suatu yang bermanfaat bagi kita semua khususnya mahasiswi kebidanan. Mataram, April 2016 Penyusun,
  • 3.
    iii DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL..................................................................................... i KATA PENGANTAR ................................................................................... ii DAFTAR ISI .................................................................................................. iii BAB 1 PENDAHULUAN .............................................................................. 1 A. Latar Belakang .............................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ......................................................................... 2 C. Tujuan ............................................................................................ 2 BAB 2 PEMBAHASAN ................................................................................ 3 A. Isu Etik dan Dilema ....................................................................... 3 B. Isu Moral dan Dilema Moral ......................................................... 5 C. Pengambilan Keputusan dalam Pelayanan Kebidanan ................. 7 D. Pengambilan Keputusan yang Etis ................................................ 7 E. Teori-Teori Pengambilan Keputusan ............................................ 8 F. Dimensi Etik dalam Peran Bidan .................................................. 10 G. Studi Kasus .................................................................................... 11 BAB 3 PENUTUP .......................................................................................... 13 A. Kesimpulan .................................................................................... 13 B. Saran .............................................................................................. 13 DAFTAR PUSTAKA
  • 4.
    1 BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Tuntutan bahwa etik adalah hal penting yang kebidanan salah satunya adalah karena bidan merupakan profesi yang bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat berhubungan dengan klien serta harus mempunyai tanggung jawab moral terhadap keputusan yang diambil. Bidan mempunyai hak untuk mengambil keputusan sendiri yang harus mempunyai pengetahuan yang memadai dan harus selalu memperbaharui ilmunya dan mengerti tentang etika yang berhubungan dengan ibu dan bayi. Untuk dapat menjalankan praktik kebidanan dengan baik tidak hanya dibutuhkan pengetahuan klinik yang baik, serta pengetahuan yang up to date, tapi bidan juga harus mempunyai pemahaman isu etik dalam pelayanan kebidanan. Pada dasarnya dalam praktik sehari hari, pasien yang datang untuk berobat ke tempat praktik dianggap telah memberikan persetujuannya untuk dilakukan tindakan tindakan rutin seperti pemeriksaan fisik. Akan tetapi, untuk tindakan yang lebih kompleks biasanya akan diberikan penjelasan terlebih dahulu untuk mendapatkan kesediaan dari pasien. Namun ada kalanya bidan dihadapkan pada dilema etik/moral pelayanan kebidanan, dalam hal ini bidan diharapkan melakukan pengambilan keputusan yang baik. Untuk mengambil keputusan yang baik maka bidan sebaiknya memiliki pengetahuan yang baik dalam teori-teori pengambilan keputusan. Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang penting dan dituntut dari suatu profesi, terutama profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa manusia, adalah pertanggung jawaban dan tanggung gugat (accountability) atas semua tindakan yang dilakukuannya. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus berbasis kompetensi dan didasari suatu evidence based. Menurut Daryl Koehn dalam The Grownd of Professional Ethis (1994), bahwa bidan dikatakan profesional, bila menerapkan etika dalam praktik kebidanan. Dengan memahami peran sebagai bidan, akan
  • 5.
    2 meningkatkan profesionalnya kepadapasien atau klien. Bidan berada pada posisi yang baik, yaitu memfasilitasi pilihan klien dan membutuhkan peningkatan pengetahuan tentang etika untuk menerapkan strategi praktik kebidanan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah bagaimanakah pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etik/moral pelayanan kebidanan? C. Tujuan Tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat mengetahui dan menjelaskan tentang pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etik/moral pelayanan kebidanan.
  • 6.
    3 BAB II PEMBAHASAN A. IsuEtik dan Dilema Etik merupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan hubungan manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk (jones, 1994). Moral merupakan pengetahuan atau keyakinan tentang adanya hal yang baikdan buruk serta mempengaruhi sikap seseorang. Kesadaran tentang adanya baik dan buruk berkembang pada diri seseorang seiring dengan pengaruh lingkungan, pendidikan, sosial budaya, agama dsb, hal inilah yang disebut kesadaran moral atau kesadaran etik. Moral juga merupakan keyakinan individu bahwa sesuatu adalah mutlak baik atau buruk walaupun situasi berbeda. Kesadaran moral erat kaitannya dengan nilai-nilai, keyakinan seseorang dan pada prinsipnya semua manusia dewasa tahu akan hal yang baik dan yang buruk, inilah yang dimaksud suara hati. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berdampak pada perubahan pola piker manusia. Masyarakat semakin kritis sehingga terjadi penguatan tuntutan terhadapa mutu pelayanan kebidanan. Mutu pelayanan kebidanan yang baikperlu landasan komitmen yang kuat dengan basis etik dan moral yang baik. Dalam praktik kebidanan sering kali bidan dihadapkan pada beberapa pola permasalahan yang dilematis, artinya pengambilan keputusan yang sulit berkaitan dengan etik. Dilema muncul karena terbentur pada konflik moral, pertentangan batin atau pertentangan antara nilai-nilai yang diyakini bidan dengan keyataan yang ada. Beberapa permasalahan pembahasan etik dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut : 1. Persetujuan dalam proses melahirkan. 2. Memilih atau mengambil keputusan dalam persalinan. 3. Kegagalan dalam proses persalinan. 4. Pelaksanaan USG dalam kehamilan. 5. Konsep normal pelayanan kebidanan.
  • 7.
    4 6. Bidan danpendidikan sex. Ada beberapa masalah etik yang berhubungan dengan teknologi, contohnya sebagai berikut : 1. Perawatan intensif pada bayi 2. Skrening bayi 3. Transplantasi organ 4. Teknik reproduksi dan kebidanan Etik berhubungan erat dengan profesi, yaitu : 1. Pengambilan keputusan dan penggunaan etik 2. Otonomi bidan dan kode etik professional 3. Etik dalam penelitian kebidanan 4. Penelitian tentang masalah kebidanan yang sensitive Beberapa contoh mengenai isu etik dalam pelayanan kebidanan, adalah berhubungan dengan : 1. Agama atau kepercayaan 2. Hubungan dengan pasien 3. Hubungan dokter dengan bidan 4. Kebenaran 5. Pengambilan keputusan 6. Pengambilan data 7. Kematian 8. Kerahasiaan 9. Aborsi 10. AIDS 11. In-vitro fertilization Perlu juga disadari bahwa dalam pelayanan kebidanan sering kali muncul masalah atau isu dimasyarakat yang berkaitan dengan etik dan moral, dilemma serta konflik yang dihadapi bidan sebagai praktisi kebidanan. Isu adalah masalah pokok yang berkembang dimasyarakat atau suatu lingkungan yang belum tentu benar, serta memerlukan pembuktian. Bidan dituntun berperilaku hati-hati dalam setiap tindakannya dalam memberikan asuhan kebidanan dengan menampilkan perilaku yang etis professional.
  • 8.
    5 Isu adalah topicyang menarik untuk didiskusikan dan sesuatu yang memungkinkan setiap orang mempunyai pendapat. Pendapat yang timbul akan bervariasi, isu muncul dikarenakan adanya perbedaan nilai-nilai dan kepercayaan. B. Isu Moral dan Dilema Moral Isu moral adalah merupakan topic yang penting berhubungan dengan benar dan salah dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh nilai-nilai yang berhubungan dengan kehidupan orang sehari-hari menyangkut kasus abortus, euthanasia, keputusan untuk terminasi kehamilan. Isu moral juga berhubungan dengan kejadian yang luar biasa dalam kehidupan sehari-hari, seperti menyangkut konflik, malpraktik, perang dsb. Dilema moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana dihadapkan pada dua alternative pilihan, yang kelihatannya sama atau hampir sama atau pemecahan masalah harus mengingat akan tanggung jawab professional, yaitu : 1. Tindakan selalu ditunjukkan utuk peningkatan kenyamanan, kesejahteraan pasien atau klien. 2. Menjamin bahwa tidak ada tindakan yang menghilangkan suatu bagian (omission), disertai rasa tanggung jawab, memperhatikan kondisi dan keamananpasien atau klien. Contoh kasus : Studi kasus mengenai dilema moral “Seorang ibu primipara masuk kamar bersalin dalam keadaan infartu. Suatu dilakukan anamese dia mengatakan tidak mau di episisotomi. Ternyata selama kala II kemajuan kala II berlangsung lambat, perineum masih tebal dan kaku. Keadaan ini dijelaskan kepada ibu oleh bidan, tetapi ibu tetap pada pendiriannya menolak di episiotomi. Sementara waktu berjalan terus dan denyut jantung janin menunjukkan keadaan fetal distress dan hal ini mengharuskan bidan untuk melakukan tindakan episiotomy, tetapi tetap tuidan menyetujuinya bidan berharap bayinya selamat. Sementara itu ada bidan yang memberitahukan dia pernah melakukan hal ini tanpa persetujuan pasien, dilakukan karena untuk melindungi bayinya. Jika bidan melakukan episiotomy
  • 9.
    6 tanpa persetujuan pasien.Maka bidan akan dihadapkan pada suatu tuntutan dari pasien. Sehingga inilah merupaka contoh gambaran dilemma moral. Bila bidan melakukan tindakan tanpa persetujuan pasien, bagaimana ditinjau dari segi etik dan moral. Bila tidak dilakukan tindakan, apa yang akan terjadi pada bayinya?” Konflik moral menurut Johnson adalah bahwa konflik atau dilemma pada dasarnya sama, kenyataanya konfil berada antara prinsip moral dan tugas yang mana sering menyebabkan dilema, ada 2 tipe konflik, yang pertama konflik yang berhubungan dengan prinsif, dan yang kedua adalah konflik yang berhubungan dengan otonomi. 2 tipe konflik ini adalah merupakan dua bagian yang tak terpisahkan. Bagaiman kita mengatasi dilema?, yaitu menggunakan teori- teori etika dan teori pengambilan keputusan dalam pelayanan kebidanan. Contoh : Studi kasus mengenai konflik moral “Ada seorang bidan yang berpraktik mandiri di rumah. Ada seorang pasien inpartu datang ketempat praktiknya. Status obstretik pasien adalah G1 P0 AB0. Hasil pemeriksaan penapisan awal menunjukan presentasi bokong dengan taksiran berat janin 3.900 gram, dengan kesejahteraan janin dan ibu baik. Maka bidan tersebut menganjurkan dan memeberi konseling kepada pasien mengenai kkasusnya dan untuk dilakukan tindakan rujukan. Namun pasien dan keluarganya menolak dirujuk dan bersikukuh untuk tetap melahirkan di bidan tersebut karena pertimbangan biaya dan kesulitan lainnya. Melihat kasus ini maka bidan dihadapkan pada konflik moral yang bertentangan dengan prinsip moral dan otonomi maupun kewenangan dalam pelayanan kebidanan. Bahwa sesuai kepmenkes Republik Indonesia 9/Menkes/SK/VII/2002 tentang registrasi dan praktik bidan, bidan tidak berwenang memeberikan pertolongan persalinan pada primigravida dengan persentasi bokong disisi lain ada prinsip nilai moral dan kemanusiaan yang dihadapi pasien, yaitu ketidak mampuan secara sosial ekonomi dan kesulitan yang lain, maka bagaimana seorang bidan mengambil keputusan yang terbaik terhadap konflik moral yang dihadapi dalam pelayanan kebidanan”.
  • 10.
    7 C. Pengambilan Keputusandalam Pelayanan Kebidanan Menurut George R.Terry, pengambilan keputusan adalah pemilihan alternative perilaku tertentu dari dua atau lebih alternative yang ada. Terdapat lima hal pokok Vdalam pengambilan keputusan, yaitu : 1. Instuisi, berdasarkan perasaan, lebih subyektif dan mudah terpengaruh. 2. Pengalaman, mewarai pengetahuan praktis, seringnya terpapar satu kasus meningkatkan kemampuan mengambil keputusan terhadap suatu kasus. 3. Fakta, keputusan lebih reel, falid, dan baik. 4. Wewenang, lebih bersifat rutinitas. 5. Rasional, keputusan bersifat objektif, transparan, konsisten. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan : 1. Posisi atau kedudukan. 2. Masalah : terstruktur, tidak terstruktur, rutin, insidentil. 3. Situasi : faktor konstan, faktor tidak konstan. 4. Kondisi, faktor-faktor yang mnentukan daya gerak. 5. Tujuan, antara atau obektif. Kerangka pengambilan keputusan dalam asuhan kebidanan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Bidan harus memepunyai responsibility dan accountability. 2. Bidan harus menghargai wanita sebagai individu dan melayani dengan rasa hormat. 3. Pusat perhatian pelayanan bidan adalah safety and wellbeing mother. 4. Bidan berusaha menyokong pemahaman ibu tentang kesejahteraan dan menyatakan pilihannya pada pengalaman situasi yang aman. 5. Sumber proses pengambilan keputusan dalam kebidaan adalah : Knowledge, ajaran intrinsic, kemampuan berpikir kritis, kemampuan membuat keputusan klinis yang logis. D. Pengambilan Keputusan yang Etis 1. Ciri keputusan yang etis, meliputi : a. Mempunyai pertimbangan benar salah. b. Sering menyakut pilihan yang sukar. c. Tidak mungkin dielakkan.
  • 11.
    8 d. Dipengaruhi olehnorma, situasi, iman, lingkungan sosial. 2. Situasi. a. Mengapa kita perlu mengerti situasi : 1) Untuk menerapkan norma-norma terhadap situasi. 2) Untuk melakukan perbuatan yang tepat dan berguna. 3) Untuk mengetahui masalah-masalah yang perlu diperhatikan. b. Kesulitan-kesulitan dalam mengerti situasi : 1) Kerumitan situasi dan keterbatasan pengetahuan kita. 2) Pengertian kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh kepentingan, perasangka dan faktor-faktor subjektif lain. c. Bagaimana kita memperbaiki pengertian kita tentang situasi : 1) Melakukan penyelidikan yang memadai. 2) Menggunakan saran ilmiah yang keterangan para ahli. 3) Memeperluas pandangan tentang situasi. 4) Kepekaan terhadap pekerjaan. 5) kepekaan terhadap kebutuhan orang lain. E. Teori-Teori Pengambilan Keputusan 1. Teori Utilitarisme Teori ulitarisme mengutamakan adanya konsekuensi kepercayaan adanya kegunaan. Dipercaya bahwa semua manusia mempunyai perasaan menyenangkan dan perasaan sakit. Ketika keputusan dibuat seharusnya memaksimalkan kesenangan dan meminimalkan ketidak senangan. Prinsip umum dalam utilitarisme adalah didasari bahwa tindakan moral enghasilkan kebahagiaan yang besar bila menghasilkan jumlah atau angka yang besar. Ada dua bentuk teori utilitarisme, yaitu : 1. Utilitarisme berdasar tindakan, 2. Utilitarisme berdasar aturan. Prinsip utilitarisme berdasar tindakan adalah setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan yang akan menghasilkan hasil atau tingkatan yang lebih besar. Utilitarisme berdasar aturan adalah modifikasi antara utilitarisme tindakan dan aturan moral, aturan yang baik akan menghasilkan keuntungan yang maksimal. Tindakan individu didasarkan atas prinsip kegunaan dan aturan moral. Tindakan dikatakan baik bila didasari aturan moral yang baik. Menurut
  • 12.
    9 filsuf johnstuart mill(1864), bahwa kesenangan dan kebahagiaan dinilai secara kualitatif menurutnya “Everybody to count for one, for more that on” suatu perbuatan dinilai baik, jika kebahagiaan melebihi ktidak bahagiaan. Tidak ada seorangpun yang tidak berguna bagi yang lain. Kebahagiaan terbesar adalah mlik semua orang yang bias dirasakan berguna bagi semua orang. Menurut Richard B. BRANDT bahwa perbuatan dinilai baik secara moral, jika sesuai dengan aturan moral yang berlalu dan berguna pada suatu masyarakat. 2. Teori Deontology Menurut Immanuel kant (1724-1804), sesuatu dikatakan baik dalam arti sesungguhnya adalah kehendak yang baik, kesehatan, kekayaan, kepandaian adalah baik, jika digunakan dengan baik oleh kehendak manusia, tetapi jika digunakan dengan kehendak yang jahat, akan menjadi jelek skali. Kehendak menjadi baik jika bertindak karena kewajiban. Kalau seseorang bertindak karena motif tertentu atau keinginan tertentu berarti disebut tindakan yang tidak baik. Bertindak sesuai kewajiban disebut legalitas. Menurut W.B ROSS (1877-1971), setiap manusia mempunyai intiusi akan kewajiaban, semua kewajiban berlaku langsung pada diri kita. Kewajiban untuk mengatakan kebenaran merupakan kewajiban utama, termaksud kewajiban kesetiaan, ganti rugi, terimakasih, keadilan, berbuat baik, dsb. Contoh yang lain adalah bila berjanji harus ditepati, bila meminjam harus dikembaliakn, dsb. Dengan memahami kewajiban akan terhindar dari keputusan yang menimbulkan konflik atau dilema. 3. Teori Hidonisme Menurut aristeppos (433-355 SM ), sesuai kodrat nya setiap manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Akan tetapi ada batas untuk mencari kesenangan. Hal yang penting adalah menggunakan kesenangan dengan baik, dan tidak terbawa oleh kesenangan. Menurut eppikuros (341-270 SM ) dalam nilai kesenangan tidak hanya kesenangan inderawi, tetapi kebebasan dari rasa nyeri , kebebasan dari keresahan jiwa juga. Apa tujuan terakhir dari kehidupan
  • 13.
    10 manusia adalah kesenangan.Menurut jhon locke (1632-1704), kita sebut baik bila meningkatkan kesenangan dan sebaliknya dinamakan jahat kalau mengurangi kesenganan atau menimbulkan ketidaksenangan. 4. Teori Eudemonisme Menurut filsop yunani aristoteles (384-322 SM) dalam buku etika nikomatia, bahwa dalam setiap kegiatannya manusia mengejar suatu tujuan, ingin mencapai sesuatu yang baik bagi kita. Seringkali kita mencari suatu tujuan untuk mencapai suatu tujuan yang lain lagi. Semua orang akan menyetujui bahwa tujuan terakhir hidup manusia adalah kebahagiaan (eudaimonia) seseorang mampu mencapai tujuannya jika mampu menjalankan fungsinya dengan baik, keunggulan manusia adalah akal dan budi. Manusia mencapai kebahagiaan dengan menjalankan kegiatan yang rasional. Ada dua macam keutamaan, yaitu keutamaan intelektual dan keutamaan moral. F. Dimensi Etik dalam Peran Bidan Peran bidan secara menyeluruh meliputi beberapa aspek : praktisi, penasehat, konslor, penasehat, teman, pendidikan, dan peneliti atau pada garis besarnya adalah pelaksana, pengelola, pendidik, dan peneliti dalam pelayanan kebidanan. Menurut united kingdom central count cil (ukcc) 1999, tanggung jawab bidan meliputi : 1. Mempertahankan dan meningkatkan keamanan ibu dan bayi. 2. Menyediakan pelayanan yang berkualitas dan informasi dan nasehat yang tidak bias yang didasarkan pada evidence based. 3. Mendidik dan melatih calon bidan untuk dapat bekerja sama dalam profesi dan memberikan pelayanan dengan memiliki tanggung jawab yang sama, termasuk dengan teman sejawatnya atau kolega, sehingga bagaiman agar fit fot practice and fit for purpose (menguntungkan untuk praktik dan menguntungkan untuk tujuan). Dimensi kode etik, meliputi : 1. Dimensi antara anggota profesi dan klien. 2. Antara anggota profsi dan siste kesehatan 3. Anggota profesi dan profesi kesehatan.
  • 14.
    11 4. Sesame anggotaprofesi. Prinsip kode etik terdiri dari : 1. Menghargai otonomi. 2. Melakukan tindakan yang benar. 3. Mencegah tindakan yang dapat merugikan 4. Memperlakukan manusia dengan adil 5. Menjelaskan degan benar 6. Menepati janji yang telah disepakati 7. Menjaga kerahasiaan G. Studi Kasus 1. Seorang bidan menangani seorang ibu X primipara berusia 35 tahun. Bidan tersebut menggali informasi mulai dari riwayat kesehatan masa lalu, sekarang dan riwayat kesehatan keluarganya. Kehamilan ibu X berusia 14 minggu dan ini merupakan kehamilan yang direncanakan. Pada akhir pertemuan ibu X tersebut mengeluarkan pendapat rencana persalinannya . ibu X menyatakan persalinan SC sebagai pilihannya. Bidan menjelaskan bahwa persalinan SC untuk kasus komplikasi. Bidan tersebut tidak melanjutkan diskusinya karena takut memberikan informasi yang salah dan terjadi konflik. Maka bidan menyarankan ibu X konsultasi ke dokter kandungan. Ada beberapa pertanyaan untuk pertimbangan : a. Haruskah bidan tersebut meneruskan diskusi tentang persalinan SC untuk persalinannya ? b. Menurut anda apakah keingina ibu X untuk SC harus dipenuh ? c. Haruskah persalinan SC sebagai satu pilihan untuk beberapa ibu, padahal tanpa indikasi ? 2. Seorang ibu primigravida dengan umur kehamilan 27 minggu diperkirakan akan melahirkan bayi premature. Dirumah sakit ia melakukan berbagai pemeriksaan, seperti pemeriksaan serviks, usapan vagina dan pemeriksaan rutin. Ibu tersebut didiagnosa mengalami infeksi saluran kemih. Penyebab kemungkinan kelahiran premature pada ibu tersebut ternyata gonore dan infeksi chalamydia. Sehingga pada hasl pemeriksaan vulva ibu tersebut terdapat secret yang mukofurelent, tanpak kotor, basah, lembab, dan
  • 15.
    12 berbau, serta terdapathiferemis didaerah sekitar vulva dan vagina. Kemudian setelah selesai pemeriksaan, pada saat istirahat bidan yang memeriksan ibu tersebut menceritakan kejadian atau kasus yang dialami ibu tersebut pada sejawat bidan yang lain termasuk pada mahasiswa calon bidan. Ada beberapa pertanyaan untuk menjadi bahan pertimbangan : a. Apakah tindakan yang dilakukan bidan tersebut melanggar kode etik? b. Bagaimana seharusnya tindakan bidan dalam menjamin privasi dan kerahasiaan klien?
  • 16.
    13 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Etikmerupakan bagian dari filosofi yang berhubungan erat dengan hubungan manusia dalam menghargai suatu tindakan, apakah benar atau salah dan apakah penyelesaiannya baik atau buruk. Moral merupakan pengetahuan atau keyakinan tentang adanya hal yang baikdan buruk serta mempengaruhi sikap seseorang. Beberapa permasalahan pembahasan etik dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut : 1. Persetujuan dalam proses melahirkan. 2. Memilih atau mengambil keputusan dalam persalinan. 3. Kegagalan dalam proses persalinan. 4. Pelaksanaan USG dalam kehamilan. 5. Konsep normal pelayanan kebidanan. 6. Bidan dan pendidikan sex. Dilema moral menurut Campbell adalah suatu keadaan dimana dihadapkan pada dua alternative pilihan, yang kelihatannya sama atau hampir sama atau pemecahan masalah harus mengingat akan tanggung jawab professional. Teori-Teori Pengambilan Keputusan yaitu : 1. Teori Utilitarisme 2. Teori Deontology 3. Teori Hidonisme 4. Teori Eudemonisme B. Saran Sebagai calon tenaga kesehatan hendaknya kita bisa memahami lebih dalam apa yang jadi dasar pada pengambilan keputusan dalam menghadapi dilema etik/moral pelayanan kebidanan sehingga dapat menerapkannya dengan baik di kemudian hari.
  • 17.
    DAFTAR PUSTAKA Marimba, Hanum.2008. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra Cendikia Press: Yogyakarta. Wahyuningsih, Heni Puji. 2005. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Penerbit Fitramaya. Yetty, Jein Asmar. 2005. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Fitra Maya.