ILLEGAL LOGGING, THE EXTRA ORDINARY CRIME 
LATAR BELAKANG 
Pembalakan liar atau penebangan liar selanjutnya disebut sebagai illegal logging adalah kegiatan 
penebangan, pengangkutan, dan penjualan kayu tidak sah atau tidak memiliki ijin dari otoritas 
setempat. Illegal logging adalah masalah pokok bagi negara-negara produsen kayu terbanyak di 
negara berkembang. Hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan, hilangnya pendapatan pemerintah 
miliaran dolar, mempromosikan korupsi, merusak aturan konflik hukum, merusak tata pemerintahan 
yang baik, dan juga mengurangi dana bersenjata. Pembalakan liar ini menghambat pembangunan 
berkelanjutan di beberapa negara-negara termiskin di dunia. Negara-negara konsumen 
mengontribusikan masalah ini, dengan mengimpor kayu dan produk kayu tanpa memastikan secara 
hukum dari mana sumber bahan baku kayu tersebut. 
Hasil studi berkaitan dengan pembalakan liar di Indonesia yang merupakan hasil kerjasama 
antara Britania Raya dengan Indonesia pada 1998, mengindikasikan bahwa sekitar 40% dari seluruh 
kegiatan penebangan adalah liar, dengan nilai mencapai 365 juta dolar AS(ITFMP, 1999). Studi yang 
lebih baru membandingkan penebangan sah dengan konsumsi domestik ditambah dengan ekspor 
mengindikasikan bahwa 88% dari seluruh kegiatan penebangan adalah merupakan penebangan liar 
(Greenpeace, 2003). Selain terjadi di Indonesia, pembalakan liar juga terjadi di negara lain, sebagai 
contoh di Brasil 80% dari penebangan di Amazon melanggar ketentuan pemerintah (WWF 
International, 2002). 
Illegal logging adalah tindak kejahatan terhadap hutan yang merugikan negara, tidak hanya 
secara ekonomi, tetapi juga secara sosial, dan lingkungan. Potensi kerugian yang ditanggung negara 
akibat pembalakan liar mencapai Rp 83 miliar per hari atau Rp 30,3 triliun per tahun. Praktik 
pembalakan liar telah memusnahkan hampir tiga perempat hutan alam di Indonesia. Luas area 
hutan Indonesia yang hilang dalam setahun setara dengan luas negara Swiss, yakni 41.400 kilometer 
persegi. 
Dari segi sosial dapat dilihat munculnya sikap kurang bertanggung jawab yang dikarenakan 
adanya perubahan nilai di masyarakat pada umumnya, yang sulit untuk membedakan antara yang 
benar dan salah, serta antara baik dan buruk. Hal tersebut disebabkan penegakan hukum yang 
kurang tegas. Adapun penegakan hukum yang dilakukan sering hanya menyentuh sasaran yang 
salah. Perubahan nilai ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikembalikan tanpa pengorbanan 
yang besar. Kerugian dari segi lingkungan yang paling utama adalah hilangnya sejumlah pohon 
tertentu, sehingga tidak terjaminnya keberadaan hutan yang berakibat pada rusaknya lingkungan, 
berubahnya iklim mikro, menurunnya produktivitas lahan, erosi dan banjir serta hilangnya 
keanekaragaman hayati. Kerusakan habitat dan terfragmentasinya hutan dapat menyebabkan 
kepunahan suatu spesies termasuk fauna langka. Kemampuan tegakan pohon pada saat masih 
hidup dalam menyerap karbondioksida yang dapat menghasilkan oksigen yang sangat bermanfaat 
bagi mahluk hidup lainnya menjadi hilang akibat makin minimnya tegakan yang tersisa karena 
adanya penebangan liar.
PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG ILLEGAL LOGGING 
Dari sejumlah Peraturan PerUndang-Undangan yang dapat diidentifikasi dan yang secara langsung 
berkaitan dengan perbuatan illegal logging adalah sebagai berikut: 
1. Pasal 50 Ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan 
menyebutkan, “setiap orang dilarang: menebang pohon atau memanen atau memungut hasil 
hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang”. 
2. Pasal 50 Ayat (3) huruf f UUK menyebutkan, “setiap orang dilarang: menerima, membeli atau 
menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang 
diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan yang diambil atau dipungut secara tidak sah”. 
3. Pasal 50 Ayat (3) huruf h UUK menyebutkan: “setiap orang dilarang: mengangkut, menguasai, 
atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya 
hasil hutan”. 
4. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 2 Ayat (1) menyebutkan, 
“Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau 
orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian 
negara,dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 
(empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000 
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah). 
PERMASALAHAN 
Pembangunan kehutanan di Indonesia dewasa ini masih menghadapi tantangan besar. Hutan 
semakin banyak mengalami kerusakan akibat besarnya tekanan pembalakan dan perambahan hutan 
secara liar. Kawasan hutan yang terdegradasi di Indonesia mencapai lebih dari 50 juta hektar yang 
disebabkan oleh aktivitas illegal logging, alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan, pinjam 
pakai kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan, serta kebakaran hutan. Laju deforestasi di 
Indonesia pada periode 1990–1997 sebesar 1,8 juta hektar per tahun dan meningkat pada era 
reformasi 1997–2000 yang mencapai 2, 83 juta hektar per tahun. 
Laju deforestasi yang sedemikian besar tersebut antara lain disebabkan oleh pengelolaan 
hutan yang tidak tepat, pembukaan kawasan hutan dalam skala besar untuk berbagai keperluan 
pembangunan, over cutting (penebangan secara berlebihan), dan penebangan kayu secara tidak sah 
(illegal logging), perburuan satwa liar tanpa izin, penjarahan, perambahan, okupasi lahan, dan 
kebakaran hutan. Laju deforestasi yang tinggi tersebut menghadirkan kekhawatiran yang mendalam 
terhadap masa depan hutan dan kehutanan di Indonesia. Pada tahun 2001, Presiden mengeluarkan 
Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Illegal dan 
Peredaran Hasil Hutan Ilegal Di Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Tanjung Puting,yang 
sangat rawan dengan praktik pembalakan liar. Kemudian pada tahun 2004 Presiden mencanangkan 
gerakan pemberantasan illegal logging secara tegas di seluruh daerah di Indonesia. Hasilnya, laju 
deforestasi Indonesia pada kurun 2000-2009 mengalami penurunan menjadi 1,51 juta ha per tahun.
Berdasarkan lokasinya, laju deforestasi terbesar terjadi di Kalimantan yaitu sebesar 0,55 juta ha per 
tahun dan Sumatera dengan laju deforestasi sebesar 0,37 juta ha per tahun. 
Illegal logging atau pembalakan liar atau penebangan liar adalah segala aktivitas yang 
berkaitan dengan penebangan kayu yang dilakukan tanpa mengikuti ketentuan yang diatur dalam 
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan pembalakan liar tidak berdiri sendiri, namun 
saling berkaitan dalam suatu jaringan bisnis kayu ilegal yang melibatkan para pemodal (cukong) 
pembalak kayu, pengusaha transportasi kayu, pedagang kayu, industri pengolahan kayu, dan oknum 
aparat penegak hukum. Bank Dunia mengungkapkan praktik illegal logging di Indonesia dijalankan 
oleh mafia. Dari illegal logging tersebut, organisasi kejahatan yang menjalankan kegiatan illegal 
logging mengalirkan sebagian keuntungannya kepada pejabat pemerintah yang korupsi. Hal itu 
terungkap dari laporan analisis Bank Dunia terbaru, berjudul Justice for Forests: Improving Criminal 
Justice Efforts to Combat Illegal logging yang dipublikasikan pada 21 Maret 2012. Selain Indonesia, 
praktik seperti itu terjadi di banyak negara, termasuk beberapa negara di Afrika Barat. Akibat 
pembalakan liar berskala besar, setiap tahun Indonesia kehilangan Rp36 triliun. Kebanyakan kayu 
hasil pembalakan liar itu diselundupkan ke Luar Negeri. 
PEMBAHASAN 
Kerusakan sumber daya hutan akibat illegal logging dan perambahan hutan telah menimbulkan 
dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial yang sangat serius. Secara ekonomi kerugian yang timbul 
sebagai dampak kerusakan akibat pembalakan liar pasti jauh melebihi nilai kayu yang dibalak. 
Kerugian negara akibat pembalakan liar berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) 
mencapai Rp 30,3 triliun per tahun (Kompas.com, Selasa, 21 Juni 2011). 
Terdapat 4 hal penyebab Illegal logging, yaitu: 
1. Tingginya permintaan kebutuhan kayu yang berbanding terbalik dengan persediaannya. Dalam 
kontek demikian dapat terjadi bahwa permintaan kebutuhan kayu sah tidak mampu mencukupi 
tingginya permintaan kebutuhan kayu. Hal ini terkait dengan meningkatnya kebutuhan kayu di 
pasar internasional dan besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri/konsumsi lokal. 
Tingginya permintaan terhadap kayu di dalam dan luar negeri ini tidak sebanding dengan 
kemampuan penyediaan industri perkayuan. Ketimpangan antara persediaan dan permintaan 
kebutuhan kayu ini mendorong praktik illegal logging di taman nasional dan hutan konservasi. 
2. Tidak adanya kesinambungan antara Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1970 yang mengatur 
tentang Hak Pengusahaan Hutan dengan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 
309/Kpts-II/1999 yang mengatur tentang Sistem Silvikultur dan Daur Tanaman Pokok dalam 
Pengelolaan Hutan Produksi. Ketidaksinambungan kedua peraturan perundang-undangan 
tersebut terletak pada ketentuan mengenai jangka waktu konsesi hutan, yaitu 20 tahun dengan 
jangka waktu siklus Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), khususnya untuk hutan produksi 
yangditetapkan 35 tahun. Hal demikian menyebabkan pemegang HPH tidak menaati ketentuan 
TPTI. Pemegang HPH tetap melakukan penebangan meskipun usia pohon belum mencapai batas 
usia yang telah ditetapkan dalam TPTI. Akibatnya, kelestarian hutan menjadi tidak terjaga akibat 
illegal logging. 
3. Lemahnya penegakan dan pengawasan hukum bagi pelaku tindak pidana illegal logging. Selama 
ini, praktik illegal logging dikaitkan dengan lemahnya penegakan hukum, di mana penegak
hukum hanya berurusan dengan masyarakat lokal atau pemilik alat transportasi kayu. Sedangkan 
untuk para cukong kelas kakap yang beroperasi di dalam dan di luar daerah tebangan, masih 
sulit untuk dijerat dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Bahkan beberapa pihak 
menyatakan bahwa Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dianggap tidak 
memiliki taring untuk menjerat pelaku utama illegal logging, melainkan hanya menangkap 
pelaku lapangan. Di samping itu, disinyalir adanya pejabat pemerintah yang korup yang justru 
memiliki peran penting dalam melegalisasi praktek illegal logging. 
4. Tumpang tindih kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hak Pegusahaan Hutan 
(HPH) selama ini berada di bawah wewenang pemerintah pusat, tetapi di sisi lain, sejak 
kebijakan otonomi daerah diberlakukan, pemerintah daerah harus mengupayakan pemenuhan 
kebutuhan daerahnya secara mandiri. Kondisi ini menyebabkan pemerintah daerah melirik 
untuk mengeksplorasi berbagai potensi daerah yang memiliki nilai ekonomis yang tersedia di 
daerahnya, termasuk potensi ekonomis hutan. Dalam kontek inilah terjadi tumpang tindih 
kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Pemerintah pusat menguasai 
kewenangan pemberian HPH, di sisi lain pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan untuk 
mengeksplorasi kekayaan alam daerahnya, termasuk hutan, guna memenuhi kebutuhan 
daerahnya. Tumpang tindih kebijakan ini telah mendorong eksploitasi sumberdaya alam 
kehutanan. Tekanan hidup yang dialami masyarakat daerah yang tinggal di dalam dan sekitar 
hutan mendorong mereka untuk menebang kayu, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk 
kebutuhan pasar melalui tangan para pemodal. 
Upaya penangganan kasus tindak pidana kehutanan yang telah dilakukan pemerintah dirasa masih 
belum menampakan hasil optimal berdasarkan indikasi-indikasi antara lain (1) Semakin tingginya laju 
kerusakan hutan, dan (2) proses penegakan hukum yang masih belum memiliki kemampuan untuk 
memberikan efek jera kepada pelaku utama (mastermind) dari tindak pidana illegal logging. 
Mengingat besarnya kerugian dan potensi bencana yang mungkin timbul akibat illegal 
logging, maka sudah sepatutnya illegal logging dinyatakan sebagai suatu bentuk kejahatan luar 
biasa, sehingga perlu dipertimbangkan untuk penggunaan pasal berlapis bagi para pelakunya. Hal ini 
sangat penting dilakukan mengingat penanganan kasus illegal logging hingga saat ini terkesan masih 
kurang optimal, sebagaimana terlihat dari masih banyaknya kasus illegal logging yang proses 
hukumnya berhenti, dihentikan, atau menghasilkan vonis yang sangat ringan. Bahkan banyak pula 
yang memperoleh vonis bebas. Pada umumnya, kasus illegal logging diikuti dengan perambahan 
kawasan hutan untuk ladang dan kebun. 
Praktik pengurusan dan pengelolaan hutan antara lain ditentukan oleh kebijakan 
Pemerintah maupun Pemerintah Daerah serta implementasinya di lapangan. Dengan penurunan 
kinerja pembangunan kehutanan yang telah terjadi, implementasi kebijakan tersebut terbukti belum 
efektif. Efektivitas implementasi suatu kebijakan dapat terjadi hanya apabila kebijakan dirumuskan 
atas dasar masalah yang tepat serta terdapat kemampuan menjalankan solusinya di lapangan. 
Pemberantasan Illegal logging yang setengah hati. Upaya untuk menghentikan praktik 
illegal logging belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Hingga saat ini, 
penanganan kasus-kasus tindak pidana illegal logging masih menggunakan Undang-undang Nomor 
41 Tahun 1999 yang tidak memberi efek jera bagi para pelaku. Bahkan dalam banyak kasus, para 
tokoh intelektual dibalik praktik illegal logging sama sekali tidak tersentuh oleh hukum. Berdasarkan
data Indonesia Corruption Watch, tingkat efektivitas pemberantasan pembalakan liar masih sangat 
rendah. Hanya 4,3 persen upaya pemberantasan yang berakhir dengan putusan berkekuatan hukum. 
Sebanyak 72 persen cukong kayu diputus bebas. Putusan pengadilan terhadap 205 terdakwa 
sepanjang tahun 2005-2008 juga hanya memberikan hukuman ringan hingga putusan bebas. 
Sebanyak 137 terdakwa (66,8 persen) di antaranya bebas, 44 terdakwa (21,6 persen) dihukum satu 
tahun, 14 terdakwa (6,8 persen) dihukum hingga dua tahun, dan hanya 10 terdakwa (4,8 persen) 
yang dihukum di atas dua tahun. 
Selama periode tahun 1998–2003, kebijakan pengurusan dan pengelolaan sumber daya 
hutan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan, termasuk terjadinya pembaruan Undang-undang 
Kehutanan. Pada periode berikutnya, tahun 2004–2006, masukan dan rekomendasi bagi 
pembaruan kebijakan kehutanan banyak pula dibahas. Hal tersebut disebabkan oleh alasan yang 
terkait dengan proses pembaruan dan implementasi kebijakan, sebagai berikut: 
1. Adanya jaringan kekuasaan dan kepentingan maupun hambatan birokrasi, baik dari dalam 
lingkungan pemerintahan maupun swasta dan BUMN Kehutanan tidak menjadi faktor yang 
dibahas secara mendalam dalam menentukan masalah-masalah kehutanan. 
2. Prasyarat berjalannya suatu kebijakan, seperti anggaran dan administrasinya, kemampuan 
lembaga, informasi, proses sosial, tekanan politik, belum dipertimbangkan sebagai bagian dari 
masalah-masalah pokok dalam implementasi suatu program pembangunan kehutanan. 
3. Biaya transaksi tinggi yang timbul akibat pelaksanaan suatu peraturan masih dianggap sebagai 
masalah implementasi kebijakan dan bukan kelemahan proses dan substansi kebijakan itu 
sendiri.Proses dan implementasi kebijakan tidak berlangsung secara linier sebagaimana 
dituangkan dalam kerangka pendekatan rasional. Peran pengetahuan, kejelasan obyek yang 
dipermasalahkan, aktor dan jaringannya, menentukan efektivitas perdebatan kebijakan yang 
dilakukan. Pengetahuan yang tidak lengkap yang dimiliki oleh setiap pihak melahirkan ketidak-jelasan 
obyek yang dipermasalahkan. Kekuatan masing-masing aktor dan jaringannya serta 
perbedaan kepentingan masing-masing aktor mempersulit dapat ditemukannya kesepakatan 
bersama 
Banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan illegal logging, jika pelakunya hanya masyarakat sekitar 
hutan yang miskin tentu saja tindakan ini dengan mudahnya dapat dihentikan oleh aparat kepolisian. 
Dari hasil identifikasi aktor pelaku illegal logging, terdapat enam aktor utama, yaitu: 
1. Cukong, yaitu pemilik modal yang membiayai kegiatan penebangan liar dan yang memperoleh 
keuntungan besar dari hasil penebangan liar. Di beberapa daerah dilaporkan bahwa para cukong 
terdiri dari anggota MPR, anggota DPR, pejabat pemerintah (termasuk para pensiunan pejabat), 
para pengusaha kehutanan, oknum TNI dan POLRI. 
2. Sebagian masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan maupun yang 
didatangkan sebagai pelaku penebangan liar (penebang dan pengangkut kayu curian). 
3. Sebagian pemilik pabrik pengolahan kayu (industri perkayuan) skala besar, sedang, dan kecil, 
sebagai pembeli kayu curian (penadah). 
4. Oknum pegawai pemerintah (khususnya dari instansi kehutanan) yang melakukan KKN, 
memanipulasi dokumen SAKB (SKSHH), dan tidak melaksanakan tugas pemeriksaan sebagaimana 
mestinya.
5. Oknum penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, TNI) yang bisa dibeli dengan uang sehingga para 
aktor pelaku penebangan liar, khususnya para cukong dan penadah kayu curian dapat terus lolos 
dengan mudah dari hukuman. Oknum TNI dan POLRI turut terlibat, termasuk ada yang 
mengawal pengangkutan kayu curian di jalan-jalan kabupaten/provinsi. 
6. Pengusaha asing yang menyelundupkan kayu hasil curian ke Malaysia, Cina, dan ke negara lain. 
Karena seriusnya illegal logging sebagai suatu kejahatan luar biasa, maka sebagian ahli lingkungan 
memandang sebagai kejahatan bioterorisme global luar biasa. Pandangan ini begitu ekstrim oleh 
karena dampak praktek illegal logging langsung dari hari ke hari semakin meningkat dengan tingkat 
kualitas dan modus operandi yang kian kompleks. Oleh karena itu amat mustahil apabila praktik 
kejahatan illegal logging dapat ditanggulangi tanpa mengggunakan pendekatan terpadu. Pada 
kenyataannya, tidak mudah bagi aparat penegak hukum untuk menyeret aktor utama illegal logging. 
Kondisi tersebut disebabkan beberapa hal, yaitu: 
1. Praktik illegal logging tidak murni berdiri sendiri, namun telah terbangun jaringan kerjasama 
yang merambah ke praktik illegal trade yang melibatkan negara luar. Akibatnya praktik illegal 
logging sungguh bertambah dahsyat dari unsur tindak pidana yang melingkupi dan keterlibatan 
unsur asing, sehingga tidak mengherankan sekiranya kecenderungan umum praktik illegal 
logging juga memiliki sifat kejahatan lintas negara (Trans-National Organized Crime). Suatu 
kejahatan yang dilakukan bukan saja karena adanya unsur obyek dan subyek melintas negara, 
melainkan karena adanya hubungan transaksional antara negara-negara di sekitarnya. 
2. Penanganan kasus illegal logging membutuhkan adanya penegakan hukum terpadu. Illegal 
logging sebagai kejahatan bioterrorisme yang luar biasa mengandung unsur tindak pidana 
pencurian, pembunuhan berencana terhadap keanekaragaman hayati termasuk bencana alam 
yang membahayakan umat manusia. Pencucian uang (money laundry), tindak pidana korupsi, 
penyelundupan, penggelapan dan bahkan terorisme. Kesetaraan derajat kejahatan illegal 
logging sebagai kejahatan luar biasa, mestinya menempatkan kebijakan pemerintah untuk 
melakukan pemberantasan harus sejajar dengan kejahatan teroris dan korupsi. Secara umum, 
pemerintah didorong untuk membuat kebijakan dari masa ke masa terkait dengan upaya 
mewujudkan pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam. 
3. Penegakan hukum illegal logging membutuhkan adanya langkah terpadu. Dalam praktik 
lapangan pemberantasan illegal logging harus melibatkan Kementerian Kehutanan, Kementerian 
Negara Lingkungan Hidup, Kejaksaan Agung, Polri, dan penegak hukum lainnya. Pentingnya 
peraturan hukum tentang illegal logging, sebagaimana pada tingkat pertama melalui Perpu 
pemberantasan illegal logging. Adapun maksud dan tujuan perpu tersebut selain untuk 
merespon isu yang berkembang kuat dalam masyarakat agar mendapatkan pedoman 
pelaksanaan tekhnis, juga sebagai payung hukum, sekaligus pedoman pelaksanaan 
pemberantasan praktik illegal logging di lapangan. 
Illegal logging merupakan suatu kejahatan yang memiliki sifat luar biasa (extra ordinary crime), 
sebagaimana kejahatan korupsi dan kejahatan terorisme, atau bioterrorism. Karena itu, dalam 
penegakan hukum illegal logging tidak saja karena sifat perbuatannya telah melanggar peraturan 
hukum yang begitu kompleks, yaitu pelanggaran terhadap Undang-undang Kehutanan, Undang-undang 
Lingkungan Hidup, dan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi. Tetapi dalam praktiknya 
kejahatan ini juga dilakukan oleh suatu organisasi tertentu yang bersifat lintas negara, sehingga
dalam penegakannya pun harus melibatkan keterpaduan antarinstitusi penegak hukum serta 
Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Kehutanan. 
Berdasarkan pada pemaparan dan analisis yang telah dikemukakan di atas, maka terdapat beberapa 
pemikiran yang perlu ditindaklanjuti, yaitu: 
1. Praktik illegal logging merupakan ranah hukum publik yang dikategorikan ke dalam hukum 
pidana secara umum. Praktik illegal logging telah berubah menjadi kejahatan luar biasa yang 
setingkat dengan kejahatan korupsi dan kejahatan terorisme, atau bioterrorism. 
Konsekuensinya, penegakan hukum kejahatan illegal logging harus dengan sistem penegakan 
hukum yang terpadu yaitu melibatkan, selain polisi, jaksa, kementerian kehutanan dan polisi 
kehutanan, kementerian Lingkungan Hidup, dan juga aparat penegak hukum yang relevan 
seperti KPK lainnya lainnya. 
2. Kecenderungan putusan hakim dalam sistem peradilan pidana sebagaimana terlihat dalam tiga 
putusan hakim tersebut di atas menunjukkan adanya ketidak konsistenan penegakan hukum, 
baik di tingkat sebelum maupun sesudah kasus memperoleh pemeriksaan di pengadilan. 
Kecenderungan putusan hakim yang membebaskan pelaku illegal logging dipengaruhi oleh 
sistem peradilan pidana yang parsial, melainkan juga oleh adanya faktor-faktor yang terkait 
dengan keadaan internal, pengaruh psikologis dan sosiologis praktik peradilan illegal logging 
yang diselenggarakan di luar wilayah hukumnya, non-locus delicti principle, kaburnya dakwaan 
dan penerapan hukum karena kurangnya pemahaman terhadap hakikat kejahatan illegal 
logging, serta adanya kerjasama yang samar-samar bersifat simbiosis mutualistik antara pelaku 
illegal logging, masyarakat yang menjadi pendukung praktik illegal logging dan rendahnya 
moralitas beberapa oknum aparat penegak hukum. 
3. Putusan hakim yang memberikan hukuman berat pada pelaku illegal logging tampak jelas 
bahwa persoalan illegal logging menjadi berubah oleh karena adanya perbedaan pemahaman 
dari tingkat putusan pengadilan negeri tingkat pertama hingga tingkat kasasi di Mahkamah 
Agung. Dengan kata lain, konsistensi penerapnan hukum, obyektifitas serta penerapan hukum 
yang sesuai dengan sifat kejahahatn illegal logging sebagai kejahatan luar biasa mendorong 
pertimbangan hakim-hakim di Mahkamah Agung mengambil putusan berat sebagai dalam kasus 
illegal logging yang diputus di Pengadilan Negeri Jakarta. 
4. Berbagai faktor yang relevan terkait seperti SDM aparat penegak hukum, keseragaman dan 
pendalaman pengetahuan mereka terhadap persoalan kasus-kasus illegal logging sebagai kasus-kasus 
yang khusus, memerlukan tidak saja sosilisasi untuk penyebarluasan mengenai materi dan 
metode penyelidikan dan penyidikan, surat dakwaan dan tuntutan, serta pengetahuan hakim 
yang luas perlu ada peningkatan terutama dengan melakukan eksamanasi-eksamanasi yang 
terbuka dan jujur sehingga aparat penegak hukum dapat memperoleh pengetahuan dan 
pengalaman yang semakin baik, terutama ketika putusan-putusan dalam kasus illegal logging 
mendapatkan reaksi kontroversial dari masyarakat. 
5. Kebanyakan pelaku illegal logging yang ditangkap adalah pekerja bawahan seperti sopir dan 
para penebang kayu di hutan, sedangkan para pelaku intelektual dan para cukong kayu sering 
tidak tersentuh hukum karena instrumen hukum yang digunakan hanyalah Undang-Undang 
Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999. Oleh karena itu, para pelaku illegal logging harus dikenakan 
UU Pencucian Uang yang memberikan wewenang kepada penegak hukum untuk melihat dan
membuktikan hubungan antara cukong, para pelaku kayu, dan pejabat yang menyalahgunakan 
wewenangnya demi imbalan dari para cukong. 
6. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pembalakan liar, antara lain dengan 
pendekatan neo-humanisme (memberi pengetahuan secara berkelanjutan tentang arti penting 
hutan), antara lain perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang 
bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian 
menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan 
kepada masyarakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan 
adanya keberadaan hutan tersebut. Selain itu juga melakukan program kampanye reboisasi 
secara rutin dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarakat 
setempat. Dengan adanya pemantauan tersebut, maka hasil kerja keras dari reboisasi yang telah 
dilaksanakan akan tetap terpantau secara rutin mengenai perkembanganya dan potensi ke 
depannya. Cara lain adalah dengan gencar melakukan pengawasan hutan-hutan di Indonesia, 
jika perlu petugas hutan diberi persenjataan lengkap untuk menghadapi pembalak hutan. 
KESIMPULAN 
Pemberantasan illegal logging banyak menemui kendala karena kejahatan tersebut melibatkan 
banyak unsur, yaitu para cukong sebagai pemodal yang membiayai kegiatan penebangan liar dan 
yang memperoleh keuntungan besar dari hasil penebangan liar; sebagian masyarakat, khususnya 
yang tinggal di sekitar kawasan hutan maupun yang didatangkan sebagai pelaku penebangan liar; 
sebagian pemilik pabrik pengolahan kayu (industri perkayuan) skala besar, sedang, dan kecil, sebagai 
pembeli kayu curian (penadah); Oknum pegawai pemerintah (khususnya dari instansi kehutanan) 
yang melakukan KKN, memanipulasi dokumen SAKB (SKSHH), dan tidak melaksanakan tugas 
pemeriksaan sebagaimana mestinya; oknum penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, TNI) yang bisa 
dibeli dengan uang sehingga para aktor pelaku penebangan liar, khususnya para cukong dan 
penadah kayu curian dapat terus lolos dengan mudah dari hukuman; dan pengusaha asing yang 
menyelundupkan kayu hasil curian ke luar negeri. 
Tingkat efektivitas pemberantasan pembalakan liar masih sangat rendah, karena undang-undang 
yang digunakan hanya mengandalkan Undang-undang Nomor 41 Tentang Kehutanan. 
Disamping itu, aparat penegak hukum belum bekerja secara maksimal, baik dalam proses 
penegakkan hukum maupun melakukan koordinasi antarinstitusi penegak hukum. 
Praktik illegal logging harus dipandang sebagai kejahatan yang memiliki sifat luar biasa 
(extra ordinary crime), sebagaimana kejahatan korupsi dan kejahatan terorisme, atau bioterrorism. 
Oleh karena itu, dalam penegakan hukum kejahatan illegal logging tidak saja karena sifat 
perbuatannya telah melanggar peraturan hukum begitu kompleks, yaitu Undang-undang Kehutanan, 
Undang-undang Lingkungan Hidup, dan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi. Dalam praktiknya 
kejahatan ini juga dilakukan oleh suatu organisasi tertentu yang bersifat lintas negara, sehingga 
dalam penegakannya harus melibatkan keterpaduan antarinstitusi penegak hukum serta Menteri 
Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Kehutanan. 
DPR RI dan Pemerintah harus segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Pencegahan 
dan Pemberantasan Pembalakan Liar (RUU P3L) menjadi Undang-undang P3L, karena 
pemberantasan Illegal logging memerlukan payung hukum yang lebih kuat.
Illegal logging makalah (revisi)
Illegal logging makalah (revisi)

Illegal logging makalah (revisi)

  • 1.
    ILLEGAL LOGGING, THEEXTRA ORDINARY CRIME LATAR BELAKANG Pembalakan liar atau penebangan liar selanjutnya disebut sebagai illegal logging adalah kegiatan penebangan, pengangkutan, dan penjualan kayu tidak sah atau tidak memiliki ijin dari otoritas setempat. Illegal logging adalah masalah pokok bagi negara-negara produsen kayu terbanyak di negara berkembang. Hal ini menyebabkan kerusakan lingkungan, hilangnya pendapatan pemerintah miliaran dolar, mempromosikan korupsi, merusak aturan konflik hukum, merusak tata pemerintahan yang baik, dan juga mengurangi dana bersenjata. Pembalakan liar ini menghambat pembangunan berkelanjutan di beberapa negara-negara termiskin di dunia. Negara-negara konsumen mengontribusikan masalah ini, dengan mengimpor kayu dan produk kayu tanpa memastikan secara hukum dari mana sumber bahan baku kayu tersebut. Hasil studi berkaitan dengan pembalakan liar di Indonesia yang merupakan hasil kerjasama antara Britania Raya dengan Indonesia pada 1998, mengindikasikan bahwa sekitar 40% dari seluruh kegiatan penebangan adalah liar, dengan nilai mencapai 365 juta dolar AS(ITFMP, 1999). Studi yang lebih baru membandingkan penebangan sah dengan konsumsi domestik ditambah dengan ekspor mengindikasikan bahwa 88% dari seluruh kegiatan penebangan adalah merupakan penebangan liar (Greenpeace, 2003). Selain terjadi di Indonesia, pembalakan liar juga terjadi di negara lain, sebagai contoh di Brasil 80% dari penebangan di Amazon melanggar ketentuan pemerintah (WWF International, 2002). Illegal logging adalah tindak kejahatan terhadap hutan yang merugikan negara, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga secara sosial, dan lingkungan. Potensi kerugian yang ditanggung negara akibat pembalakan liar mencapai Rp 83 miliar per hari atau Rp 30,3 triliun per tahun. Praktik pembalakan liar telah memusnahkan hampir tiga perempat hutan alam di Indonesia. Luas area hutan Indonesia yang hilang dalam setahun setara dengan luas negara Swiss, yakni 41.400 kilometer persegi. Dari segi sosial dapat dilihat munculnya sikap kurang bertanggung jawab yang dikarenakan adanya perubahan nilai di masyarakat pada umumnya, yang sulit untuk membedakan antara yang benar dan salah, serta antara baik dan buruk. Hal tersebut disebabkan penegakan hukum yang kurang tegas. Adapun penegakan hukum yang dilakukan sering hanya menyentuh sasaran yang salah. Perubahan nilai ini bukanlah sesuatu yang mudah untuk dikembalikan tanpa pengorbanan yang besar. Kerugian dari segi lingkungan yang paling utama adalah hilangnya sejumlah pohon tertentu, sehingga tidak terjaminnya keberadaan hutan yang berakibat pada rusaknya lingkungan, berubahnya iklim mikro, menurunnya produktivitas lahan, erosi dan banjir serta hilangnya keanekaragaman hayati. Kerusakan habitat dan terfragmentasinya hutan dapat menyebabkan kepunahan suatu spesies termasuk fauna langka. Kemampuan tegakan pohon pada saat masih hidup dalam menyerap karbondioksida yang dapat menghasilkan oksigen yang sangat bermanfaat bagi mahluk hidup lainnya menjadi hilang akibat makin minimnya tegakan yang tersisa karena adanya penebangan liar.
  • 2.
    PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG ILLEGALLOGGING Dari sejumlah Peraturan PerUndang-Undangan yang dapat diidentifikasi dan yang secara langsung berkaitan dengan perbuatan illegal logging adalah sebagai berikut: 1. Pasal 50 Ayat (3) huruf e Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan menyebutkan, “setiap orang dilarang: menebang pohon atau memanen atau memungut hasil hutan di dalam hutan tanpa memiliki hak atau izin dari pejabat yang berwenang”. 2. Pasal 50 Ayat (3) huruf f UUK menyebutkan, “setiap orang dilarang: menerima, membeli atau menjual, menerima tukar, menerima titipan, menyimpan, atau memiliki hasil hutan yang diketahui atau patut diduga berasal dari kawasan yang diambil atau dipungut secara tidak sah”. 3. Pasal 50 Ayat (3) huruf h UUK menyebutkan: “setiap orang dilarang: mengangkut, menguasai, atau memiliki hasil hutan yang tidak dilengkapi bersama-sama dengan surat keterangan sahnya hasil hutan”. 4. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Pasal 2 Ayat (1) menyebutkan, “Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara,dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar rupiah). PERMASALAHAN Pembangunan kehutanan di Indonesia dewasa ini masih menghadapi tantangan besar. Hutan semakin banyak mengalami kerusakan akibat besarnya tekanan pembalakan dan perambahan hutan secara liar. Kawasan hutan yang terdegradasi di Indonesia mencapai lebih dari 50 juta hektar yang disebabkan oleh aktivitas illegal logging, alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan, pinjam pakai kawasan hutan untuk kegiatan pertambangan, serta kebakaran hutan. Laju deforestasi di Indonesia pada periode 1990–1997 sebesar 1,8 juta hektar per tahun dan meningkat pada era reformasi 1997–2000 yang mencapai 2, 83 juta hektar per tahun. Laju deforestasi yang sedemikian besar tersebut antara lain disebabkan oleh pengelolaan hutan yang tidak tepat, pembukaan kawasan hutan dalam skala besar untuk berbagai keperluan pembangunan, over cutting (penebangan secara berlebihan), dan penebangan kayu secara tidak sah (illegal logging), perburuan satwa liar tanpa izin, penjarahan, perambahan, okupasi lahan, dan kebakaran hutan. Laju deforestasi yang tinggi tersebut menghadirkan kekhawatiran yang mendalam terhadap masa depan hutan dan kehutanan di Indonesia. Pada tahun 2001, Presiden mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Penebangan Kayu Illegal dan Peredaran Hasil Hutan Ilegal Di Kawasan Ekosistem Leuser dan Taman Nasional Tanjung Puting,yang sangat rawan dengan praktik pembalakan liar. Kemudian pada tahun 2004 Presiden mencanangkan gerakan pemberantasan illegal logging secara tegas di seluruh daerah di Indonesia. Hasilnya, laju deforestasi Indonesia pada kurun 2000-2009 mengalami penurunan menjadi 1,51 juta ha per tahun.
  • 3.
    Berdasarkan lokasinya, lajudeforestasi terbesar terjadi di Kalimantan yaitu sebesar 0,55 juta ha per tahun dan Sumatera dengan laju deforestasi sebesar 0,37 juta ha per tahun. Illegal logging atau pembalakan liar atau penebangan liar adalah segala aktivitas yang berkaitan dengan penebangan kayu yang dilakukan tanpa mengikuti ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kegiatan pembalakan liar tidak berdiri sendiri, namun saling berkaitan dalam suatu jaringan bisnis kayu ilegal yang melibatkan para pemodal (cukong) pembalak kayu, pengusaha transportasi kayu, pedagang kayu, industri pengolahan kayu, dan oknum aparat penegak hukum. Bank Dunia mengungkapkan praktik illegal logging di Indonesia dijalankan oleh mafia. Dari illegal logging tersebut, organisasi kejahatan yang menjalankan kegiatan illegal logging mengalirkan sebagian keuntungannya kepada pejabat pemerintah yang korupsi. Hal itu terungkap dari laporan analisis Bank Dunia terbaru, berjudul Justice for Forests: Improving Criminal Justice Efforts to Combat Illegal logging yang dipublikasikan pada 21 Maret 2012. Selain Indonesia, praktik seperti itu terjadi di banyak negara, termasuk beberapa negara di Afrika Barat. Akibat pembalakan liar berskala besar, setiap tahun Indonesia kehilangan Rp36 triliun. Kebanyakan kayu hasil pembalakan liar itu diselundupkan ke Luar Negeri. PEMBAHASAN Kerusakan sumber daya hutan akibat illegal logging dan perambahan hutan telah menimbulkan dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial yang sangat serius. Secara ekonomi kerugian yang timbul sebagai dampak kerusakan akibat pembalakan liar pasti jauh melebihi nilai kayu yang dibalak. Kerugian negara akibat pembalakan liar berdasarkan laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mencapai Rp 30,3 triliun per tahun (Kompas.com, Selasa, 21 Juni 2011). Terdapat 4 hal penyebab Illegal logging, yaitu: 1. Tingginya permintaan kebutuhan kayu yang berbanding terbalik dengan persediaannya. Dalam kontek demikian dapat terjadi bahwa permintaan kebutuhan kayu sah tidak mampu mencukupi tingginya permintaan kebutuhan kayu. Hal ini terkait dengan meningkatnya kebutuhan kayu di pasar internasional dan besarnya kapasitas terpasang industri kayu dalam negeri/konsumsi lokal. Tingginya permintaan terhadap kayu di dalam dan luar negeri ini tidak sebanding dengan kemampuan penyediaan industri perkayuan. Ketimpangan antara persediaan dan permintaan kebutuhan kayu ini mendorong praktik illegal logging di taman nasional dan hutan konservasi. 2. Tidak adanya kesinambungan antara Peraturan Pemerintah No. 21 Tahun 1970 yang mengatur tentang Hak Pengusahaan Hutan dengan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 309/Kpts-II/1999 yang mengatur tentang Sistem Silvikultur dan Daur Tanaman Pokok dalam Pengelolaan Hutan Produksi. Ketidaksinambungan kedua peraturan perundang-undangan tersebut terletak pada ketentuan mengenai jangka waktu konsesi hutan, yaitu 20 tahun dengan jangka waktu siklus Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI), khususnya untuk hutan produksi yangditetapkan 35 tahun. Hal demikian menyebabkan pemegang HPH tidak menaati ketentuan TPTI. Pemegang HPH tetap melakukan penebangan meskipun usia pohon belum mencapai batas usia yang telah ditetapkan dalam TPTI. Akibatnya, kelestarian hutan menjadi tidak terjaga akibat illegal logging. 3. Lemahnya penegakan dan pengawasan hukum bagi pelaku tindak pidana illegal logging. Selama ini, praktik illegal logging dikaitkan dengan lemahnya penegakan hukum, di mana penegak
  • 4.
    hukum hanya berurusandengan masyarakat lokal atau pemilik alat transportasi kayu. Sedangkan untuk para cukong kelas kakap yang beroperasi di dalam dan di luar daerah tebangan, masih sulit untuk dijerat dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Bahkan beberapa pihak menyatakan bahwa Undang-Undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dianggap tidak memiliki taring untuk menjerat pelaku utama illegal logging, melainkan hanya menangkap pelaku lapangan. Di samping itu, disinyalir adanya pejabat pemerintah yang korup yang justru memiliki peran penting dalam melegalisasi praktek illegal logging. 4. Tumpang tindih kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Hak Pegusahaan Hutan (HPH) selama ini berada di bawah wewenang pemerintah pusat, tetapi di sisi lain, sejak kebijakan otonomi daerah diberlakukan, pemerintah daerah harus mengupayakan pemenuhan kebutuhan daerahnya secara mandiri. Kondisi ini menyebabkan pemerintah daerah melirik untuk mengeksplorasi berbagai potensi daerah yang memiliki nilai ekonomis yang tersedia di daerahnya, termasuk potensi ekonomis hutan. Dalam kontek inilah terjadi tumpang tindih kebijakan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. Pemerintah pusat menguasai kewenangan pemberian HPH, di sisi lain pemerintah daerah mengeluarkan kebijakan untuk mengeksplorasi kekayaan alam daerahnya, termasuk hutan, guna memenuhi kebutuhan daerahnya. Tumpang tindih kebijakan ini telah mendorong eksploitasi sumberdaya alam kehutanan. Tekanan hidup yang dialami masyarakat daerah yang tinggal di dalam dan sekitar hutan mendorong mereka untuk menebang kayu, baik untuk kebutuhan sendiri maupun untuk kebutuhan pasar melalui tangan para pemodal. Upaya penangganan kasus tindak pidana kehutanan yang telah dilakukan pemerintah dirasa masih belum menampakan hasil optimal berdasarkan indikasi-indikasi antara lain (1) Semakin tingginya laju kerusakan hutan, dan (2) proses penegakan hukum yang masih belum memiliki kemampuan untuk memberikan efek jera kepada pelaku utama (mastermind) dari tindak pidana illegal logging. Mengingat besarnya kerugian dan potensi bencana yang mungkin timbul akibat illegal logging, maka sudah sepatutnya illegal logging dinyatakan sebagai suatu bentuk kejahatan luar biasa, sehingga perlu dipertimbangkan untuk penggunaan pasal berlapis bagi para pelakunya. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat penanganan kasus illegal logging hingga saat ini terkesan masih kurang optimal, sebagaimana terlihat dari masih banyaknya kasus illegal logging yang proses hukumnya berhenti, dihentikan, atau menghasilkan vonis yang sangat ringan. Bahkan banyak pula yang memperoleh vonis bebas. Pada umumnya, kasus illegal logging diikuti dengan perambahan kawasan hutan untuk ladang dan kebun. Praktik pengurusan dan pengelolaan hutan antara lain ditentukan oleh kebijakan Pemerintah maupun Pemerintah Daerah serta implementasinya di lapangan. Dengan penurunan kinerja pembangunan kehutanan yang telah terjadi, implementasi kebijakan tersebut terbukti belum efektif. Efektivitas implementasi suatu kebijakan dapat terjadi hanya apabila kebijakan dirumuskan atas dasar masalah yang tepat serta terdapat kemampuan menjalankan solusinya di lapangan. Pemberantasan Illegal logging yang setengah hati. Upaya untuk menghentikan praktik illegal logging belum didukung oleh sarana dan prasarana yang memadai. Hingga saat ini, penanganan kasus-kasus tindak pidana illegal logging masih menggunakan Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 yang tidak memberi efek jera bagi para pelaku. Bahkan dalam banyak kasus, para tokoh intelektual dibalik praktik illegal logging sama sekali tidak tersentuh oleh hukum. Berdasarkan
  • 5.
    data Indonesia CorruptionWatch, tingkat efektivitas pemberantasan pembalakan liar masih sangat rendah. Hanya 4,3 persen upaya pemberantasan yang berakhir dengan putusan berkekuatan hukum. Sebanyak 72 persen cukong kayu diputus bebas. Putusan pengadilan terhadap 205 terdakwa sepanjang tahun 2005-2008 juga hanya memberikan hukuman ringan hingga putusan bebas. Sebanyak 137 terdakwa (66,8 persen) di antaranya bebas, 44 terdakwa (21,6 persen) dihukum satu tahun, 14 terdakwa (6,8 persen) dihukum hingga dua tahun, dan hanya 10 terdakwa (4,8 persen) yang dihukum di atas dua tahun. Selama periode tahun 1998–2003, kebijakan pengurusan dan pengelolaan sumber daya hutan di Indonesia telah banyak mengalami perubahan, termasuk terjadinya pembaruan Undang-undang Kehutanan. Pada periode berikutnya, tahun 2004–2006, masukan dan rekomendasi bagi pembaruan kebijakan kehutanan banyak pula dibahas. Hal tersebut disebabkan oleh alasan yang terkait dengan proses pembaruan dan implementasi kebijakan, sebagai berikut: 1. Adanya jaringan kekuasaan dan kepentingan maupun hambatan birokrasi, baik dari dalam lingkungan pemerintahan maupun swasta dan BUMN Kehutanan tidak menjadi faktor yang dibahas secara mendalam dalam menentukan masalah-masalah kehutanan. 2. Prasyarat berjalannya suatu kebijakan, seperti anggaran dan administrasinya, kemampuan lembaga, informasi, proses sosial, tekanan politik, belum dipertimbangkan sebagai bagian dari masalah-masalah pokok dalam implementasi suatu program pembangunan kehutanan. 3. Biaya transaksi tinggi yang timbul akibat pelaksanaan suatu peraturan masih dianggap sebagai masalah implementasi kebijakan dan bukan kelemahan proses dan substansi kebijakan itu sendiri.Proses dan implementasi kebijakan tidak berlangsung secara linier sebagaimana dituangkan dalam kerangka pendekatan rasional. Peran pengetahuan, kejelasan obyek yang dipermasalahkan, aktor dan jaringannya, menentukan efektivitas perdebatan kebijakan yang dilakukan. Pengetahuan yang tidak lengkap yang dimiliki oleh setiap pihak melahirkan ketidak-jelasan obyek yang dipermasalahkan. Kekuatan masing-masing aktor dan jaringannya serta perbedaan kepentingan masing-masing aktor mempersulit dapat ditemukannya kesepakatan bersama Banyak pihak yang terlibat dalam kegiatan illegal logging, jika pelakunya hanya masyarakat sekitar hutan yang miskin tentu saja tindakan ini dengan mudahnya dapat dihentikan oleh aparat kepolisian. Dari hasil identifikasi aktor pelaku illegal logging, terdapat enam aktor utama, yaitu: 1. Cukong, yaitu pemilik modal yang membiayai kegiatan penebangan liar dan yang memperoleh keuntungan besar dari hasil penebangan liar. Di beberapa daerah dilaporkan bahwa para cukong terdiri dari anggota MPR, anggota DPR, pejabat pemerintah (termasuk para pensiunan pejabat), para pengusaha kehutanan, oknum TNI dan POLRI. 2. Sebagian masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan maupun yang didatangkan sebagai pelaku penebangan liar (penebang dan pengangkut kayu curian). 3. Sebagian pemilik pabrik pengolahan kayu (industri perkayuan) skala besar, sedang, dan kecil, sebagai pembeli kayu curian (penadah). 4. Oknum pegawai pemerintah (khususnya dari instansi kehutanan) yang melakukan KKN, memanipulasi dokumen SAKB (SKSHH), dan tidak melaksanakan tugas pemeriksaan sebagaimana mestinya.
  • 6.
    5. Oknum penegakhukum (hakim, jaksa, polisi, TNI) yang bisa dibeli dengan uang sehingga para aktor pelaku penebangan liar, khususnya para cukong dan penadah kayu curian dapat terus lolos dengan mudah dari hukuman. Oknum TNI dan POLRI turut terlibat, termasuk ada yang mengawal pengangkutan kayu curian di jalan-jalan kabupaten/provinsi. 6. Pengusaha asing yang menyelundupkan kayu hasil curian ke Malaysia, Cina, dan ke negara lain. Karena seriusnya illegal logging sebagai suatu kejahatan luar biasa, maka sebagian ahli lingkungan memandang sebagai kejahatan bioterorisme global luar biasa. Pandangan ini begitu ekstrim oleh karena dampak praktek illegal logging langsung dari hari ke hari semakin meningkat dengan tingkat kualitas dan modus operandi yang kian kompleks. Oleh karena itu amat mustahil apabila praktik kejahatan illegal logging dapat ditanggulangi tanpa mengggunakan pendekatan terpadu. Pada kenyataannya, tidak mudah bagi aparat penegak hukum untuk menyeret aktor utama illegal logging. Kondisi tersebut disebabkan beberapa hal, yaitu: 1. Praktik illegal logging tidak murni berdiri sendiri, namun telah terbangun jaringan kerjasama yang merambah ke praktik illegal trade yang melibatkan negara luar. Akibatnya praktik illegal logging sungguh bertambah dahsyat dari unsur tindak pidana yang melingkupi dan keterlibatan unsur asing, sehingga tidak mengherankan sekiranya kecenderungan umum praktik illegal logging juga memiliki sifat kejahatan lintas negara (Trans-National Organized Crime). Suatu kejahatan yang dilakukan bukan saja karena adanya unsur obyek dan subyek melintas negara, melainkan karena adanya hubungan transaksional antara negara-negara di sekitarnya. 2. Penanganan kasus illegal logging membutuhkan adanya penegakan hukum terpadu. Illegal logging sebagai kejahatan bioterrorisme yang luar biasa mengandung unsur tindak pidana pencurian, pembunuhan berencana terhadap keanekaragaman hayati termasuk bencana alam yang membahayakan umat manusia. Pencucian uang (money laundry), tindak pidana korupsi, penyelundupan, penggelapan dan bahkan terorisme. Kesetaraan derajat kejahatan illegal logging sebagai kejahatan luar biasa, mestinya menempatkan kebijakan pemerintah untuk melakukan pemberantasan harus sejajar dengan kejahatan teroris dan korupsi. Secara umum, pemerintah didorong untuk membuat kebijakan dari masa ke masa terkait dengan upaya mewujudkan pelestarian lingkungan hidup dan sumber daya alam. 3. Penegakan hukum illegal logging membutuhkan adanya langkah terpadu. Dalam praktik lapangan pemberantasan illegal logging harus melibatkan Kementerian Kehutanan, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kejaksaan Agung, Polri, dan penegak hukum lainnya. Pentingnya peraturan hukum tentang illegal logging, sebagaimana pada tingkat pertama melalui Perpu pemberantasan illegal logging. Adapun maksud dan tujuan perpu tersebut selain untuk merespon isu yang berkembang kuat dalam masyarakat agar mendapatkan pedoman pelaksanaan tekhnis, juga sebagai payung hukum, sekaligus pedoman pelaksanaan pemberantasan praktik illegal logging di lapangan. Illegal logging merupakan suatu kejahatan yang memiliki sifat luar biasa (extra ordinary crime), sebagaimana kejahatan korupsi dan kejahatan terorisme, atau bioterrorism. Karena itu, dalam penegakan hukum illegal logging tidak saja karena sifat perbuatannya telah melanggar peraturan hukum yang begitu kompleks, yaitu pelanggaran terhadap Undang-undang Kehutanan, Undang-undang Lingkungan Hidup, dan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi. Tetapi dalam praktiknya kejahatan ini juga dilakukan oleh suatu organisasi tertentu yang bersifat lintas negara, sehingga
  • 7.
    dalam penegakannya punharus melibatkan keterpaduan antarinstitusi penegak hukum serta Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Kehutanan. Berdasarkan pada pemaparan dan analisis yang telah dikemukakan di atas, maka terdapat beberapa pemikiran yang perlu ditindaklanjuti, yaitu: 1. Praktik illegal logging merupakan ranah hukum publik yang dikategorikan ke dalam hukum pidana secara umum. Praktik illegal logging telah berubah menjadi kejahatan luar biasa yang setingkat dengan kejahatan korupsi dan kejahatan terorisme, atau bioterrorism. Konsekuensinya, penegakan hukum kejahatan illegal logging harus dengan sistem penegakan hukum yang terpadu yaitu melibatkan, selain polisi, jaksa, kementerian kehutanan dan polisi kehutanan, kementerian Lingkungan Hidup, dan juga aparat penegak hukum yang relevan seperti KPK lainnya lainnya. 2. Kecenderungan putusan hakim dalam sistem peradilan pidana sebagaimana terlihat dalam tiga putusan hakim tersebut di atas menunjukkan adanya ketidak konsistenan penegakan hukum, baik di tingkat sebelum maupun sesudah kasus memperoleh pemeriksaan di pengadilan. Kecenderungan putusan hakim yang membebaskan pelaku illegal logging dipengaruhi oleh sistem peradilan pidana yang parsial, melainkan juga oleh adanya faktor-faktor yang terkait dengan keadaan internal, pengaruh psikologis dan sosiologis praktik peradilan illegal logging yang diselenggarakan di luar wilayah hukumnya, non-locus delicti principle, kaburnya dakwaan dan penerapan hukum karena kurangnya pemahaman terhadap hakikat kejahatan illegal logging, serta adanya kerjasama yang samar-samar bersifat simbiosis mutualistik antara pelaku illegal logging, masyarakat yang menjadi pendukung praktik illegal logging dan rendahnya moralitas beberapa oknum aparat penegak hukum. 3. Putusan hakim yang memberikan hukuman berat pada pelaku illegal logging tampak jelas bahwa persoalan illegal logging menjadi berubah oleh karena adanya perbedaan pemahaman dari tingkat putusan pengadilan negeri tingkat pertama hingga tingkat kasasi di Mahkamah Agung. Dengan kata lain, konsistensi penerapnan hukum, obyektifitas serta penerapan hukum yang sesuai dengan sifat kejahahatn illegal logging sebagai kejahatan luar biasa mendorong pertimbangan hakim-hakim di Mahkamah Agung mengambil putusan berat sebagai dalam kasus illegal logging yang diputus di Pengadilan Negeri Jakarta. 4. Berbagai faktor yang relevan terkait seperti SDM aparat penegak hukum, keseragaman dan pendalaman pengetahuan mereka terhadap persoalan kasus-kasus illegal logging sebagai kasus-kasus yang khusus, memerlukan tidak saja sosilisasi untuk penyebarluasan mengenai materi dan metode penyelidikan dan penyidikan, surat dakwaan dan tuntutan, serta pengetahuan hakim yang luas perlu ada peningkatan terutama dengan melakukan eksamanasi-eksamanasi yang terbuka dan jujur sehingga aparat penegak hukum dapat memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang semakin baik, terutama ketika putusan-putusan dalam kasus illegal logging mendapatkan reaksi kontroversial dari masyarakat. 5. Kebanyakan pelaku illegal logging yang ditangkap adalah pekerja bawahan seperti sopir dan para penebang kayu di hutan, sedangkan para pelaku intelektual dan para cukong kayu sering tidak tersentuh hukum karena instrumen hukum yang digunakan hanyalah Undang-Undang Kehutanan Nomor 41 Tahun 1999. Oleh karena itu, para pelaku illegal logging harus dikenakan UU Pencucian Uang yang memberikan wewenang kepada penegak hukum untuk melihat dan
  • 8.
    membuktikan hubungan antaracukong, para pelaku kayu, dan pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya demi imbalan dari para cukong. 6. Beberapa cara dapat dilakukan untuk mengatasi masalah pembalakan liar, antara lain dengan pendekatan neo-humanisme (memberi pengetahuan secara berkelanjutan tentang arti penting hutan), antara lain perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyarakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut. Selain itu juga melakukan program kampanye reboisasi secara rutin dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarakat setempat. Dengan adanya pemantauan tersebut, maka hasil kerja keras dari reboisasi yang telah dilaksanakan akan tetap terpantau secara rutin mengenai perkembanganya dan potensi ke depannya. Cara lain adalah dengan gencar melakukan pengawasan hutan-hutan di Indonesia, jika perlu petugas hutan diberi persenjataan lengkap untuk menghadapi pembalak hutan. KESIMPULAN Pemberantasan illegal logging banyak menemui kendala karena kejahatan tersebut melibatkan banyak unsur, yaitu para cukong sebagai pemodal yang membiayai kegiatan penebangan liar dan yang memperoleh keuntungan besar dari hasil penebangan liar; sebagian masyarakat, khususnya yang tinggal di sekitar kawasan hutan maupun yang didatangkan sebagai pelaku penebangan liar; sebagian pemilik pabrik pengolahan kayu (industri perkayuan) skala besar, sedang, dan kecil, sebagai pembeli kayu curian (penadah); Oknum pegawai pemerintah (khususnya dari instansi kehutanan) yang melakukan KKN, memanipulasi dokumen SAKB (SKSHH), dan tidak melaksanakan tugas pemeriksaan sebagaimana mestinya; oknum penegak hukum (hakim, jaksa, polisi, TNI) yang bisa dibeli dengan uang sehingga para aktor pelaku penebangan liar, khususnya para cukong dan penadah kayu curian dapat terus lolos dengan mudah dari hukuman; dan pengusaha asing yang menyelundupkan kayu hasil curian ke luar negeri. Tingkat efektivitas pemberantasan pembalakan liar masih sangat rendah, karena undang-undang yang digunakan hanya mengandalkan Undang-undang Nomor 41 Tentang Kehutanan. Disamping itu, aparat penegak hukum belum bekerja secara maksimal, baik dalam proses penegakkan hukum maupun melakukan koordinasi antarinstitusi penegak hukum. Praktik illegal logging harus dipandang sebagai kejahatan yang memiliki sifat luar biasa (extra ordinary crime), sebagaimana kejahatan korupsi dan kejahatan terorisme, atau bioterrorism. Oleh karena itu, dalam penegakan hukum kejahatan illegal logging tidak saja karena sifat perbuatannya telah melanggar peraturan hukum begitu kompleks, yaitu Undang-undang Kehutanan, Undang-undang Lingkungan Hidup, dan Undang-undang Tindak Pidana Korupsi. Dalam praktiknya kejahatan ini juga dilakukan oleh suatu organisasi tertentu yang bersifat lintas negara, sehingga dalam penegakannya harus melibatkan keterpaduan antarinstitusi penegak hukum serta Menteri Negara Lingkungan Hidup dan Menteri Kehutanan. DPR RI dan Pemerintah harus segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Pencegahan dan Pemberantasan Pembalakan Liar (RUU P3L) menjadi Undang-undang P3L, karena pemberantasan Illegal logging memerlukan payung hukum yang lebih kuat.