JENIS PERLENGKAPAN
DAN PENAGANAN BAHAN
PERLENGKAPAN PENGANGKAT
Kelompok perlengkapan pengangkat berikut ini
mempunyai cirri khas yang berbeda, antara lain:
Mesin pengangkat adalah kelompok mesin yang
bekerja secara periodic yang didesain sebagai
peralatan swa-angkat, atau untuk mengangkat dan
memindahkan muatan atau sebagai mekanisme
tersendiri bagi crane atau elevator.
Crane adalah gabungan mekanisme pengangkat
secara terpisah dengan rangka untuk mangangkat
atau sekaligus mengangkat dan memindahkan
muatan yang dapat dugantungkan secara bebas
atau diikatkan pada crane.
Elevator adalah kelompok mesin yang bekerja
secara periodic untuk mengangkat muatan pada
jalur pandu tertentu.
TIPE UTAMA ALAT PENGANGKAT

ALAT PENGANGKAT

Mesin pengangkat

Crane

Elevator
JENIS UTAMA CRANE
CRANE
Crane putar yang diam
Crane yang bergerak pada rel
Crane tanpa lintasan
Crane yang dipasang di atas traktor rantai
Crane tipe jembatan
KARAKTERISTIK UMUM MESIN
PENGANGKAT
Parameter teknis mesin pngangkat
adalah: kapasitas angkat, berat mati
mesin tersebut, kcepatan berbagai
gerakan mesin, tinggi angkat dan ukuran
geometris mesin tersebut, bentangan,
panjang dan=lebar, dan sebagainya.
Q
nQ ton / jam
hr

dengan:
n – jumlah siklus mesin per jam
Q – berat muatan, dalam ton
Q =V

ψγ

Dengan :
V – kapasitas ember, alat pencengkeram dan
sebagainya dalam meter kubik
Ψ – faktor pengisian
γ – berat jenis dalam ton/m3
Q = (Q + G )
∑

ton

Dengan:
Q – berat muatan, dalam ton
G – berat ember atau penahan, dalm ton
n=

3600
∑t1

Dengan:
Σ ti – total waktu yang dibutuhkan
Semua jenis crane dan mesin penangkat dapat dibagi
lagi menjadi empat kelompok sesuai dngan kondisi
operasi dan gabungan faktor berikut:
- beban pada mesin
- penggunaan mesin harian dan tahunan
- faktor kerja relatif (jangka waktu mesin dihidupkan DF
%)
- temperatur sekitar
KARAKTERISTIK KERJA
Penggunaan mesin rata-rata (mean)
KONDISI
OPERASI

Ringan (L)
Sedang (M)
Berat (H)
Sangat Berat
(VH)

Waktu
Beban
K beban

0.5
0.5
0.5
0.5

K
tahun

0.25
0.
0.75
1.0

K hari

0.33 (shift
satu0
0.67 (shift dua)
0.67 (shift dua)
1.0 (shift tiga)

Faktor
kerja
DF%

TemPeratur
Sekitar °C

15
25
40
40

25
25
25
45
Nilai-nilai ini ditentukan dari operasi rata-rata atau
data desain.
Kerja Nominal
Jumlah perubahan
operasi
per jam ……..

Ringan

Sedang

Berat

Sangat
Berat

60

120

240

300720
PERLENGKAPAN KHUSUS PERMUKAAN DAN
OVERHEAD
Truk tanpa rel adalah fasilitas transportasi
permukaan yang bergerak diatas jalur rel yang
sempit
Kendaraan yang berbadan sempit adalah fasilitas
transportasi permukaan yang bergerak di atas jalur
rel yang sempit
Peralatan penanganan silang adalah fasilitas
transportasi permukaan yang memindahkan kereta
rel di dalam ruang lingkup suatu perusahaan
Sistem lintasan overhead adalah struktur jalur
pembawa/pemindah tau kabel tempat truk yang
bermuatan tersebut bergerak
KARAKTERISTIK UMUM FASILITAS
TRANSPORTASI PERMUKAN DAN
OVERHEAD
Peralatan permukaan dan overhead

Truk tanpa rel
Kendaraan yang berbadan sempit
Peralatan untuk penanganan silang
Sistem lintasan overhead
PENGGUNAAN PERLENGKAPAN
PENANGANAN BAHAN

Fasilitas transpor dipilih sedemikian rupa agar
sesauai dengan laju aliran bahan yang
menggambarkan sistem umum dari gerak bahan,
barang setengah jadi dan produk pada departemen
atau pabrik tersebut.
BAB 3


1. Rantai Lasan
rantai lasan (welded) terbuat
dari jalinan baja oval yang
berurutan. Ukuran utama rantai
(gambar 7) adalah : kisar (t),
sama dengan panjang bagian
dalam mata rantai lebar luar (B),
dan diameter batang rantai (d).
tergantung pada perbandingan
kisar dan diameter batang
rantai, rantai lasan
diklasifikasikan menjadi rantai
mata pendek (t ≤ 3d) dan rantai
mata panjang (t > 3d).

Gambar 7. ukuran
utama mata rantai
beban

Gambar 8.mata
rantai
menghubungkan
rantai beban..
Rantai lasan terbuat dari baja CT. 2 dan CT. 3. Mata rantai untuk rantai lasan
dibentuk dengan berbagai macam metode,yaitu pengelasan tempa dan
pengelasan tahanan listrik. Dengan pengelasan tempa mata rantai dibuat dari
satu batang baja, sedangkan bila menggunakan las tahanan listrik mata rantai
terbuat dari dua potong baja lengkung yang dilas temu.
Rantai lasan digunakan untuk mesin pengangkat kapasitas kecil (katrol,
Derek, dan crane yang digerakan tangan), & sebagai perabot pengangkat
utama
Rantai lasan mempunyai kelemahan yaknik berat, rentan terhadap sentuhan
dan beban lebih, kerusaan yang tiba-tiba, keausan yang berlebihan pada
sambungan antar mata rantai , dan hanya digunakan untuk kecepatan
rendah
Keunggulannya ialah flexible untuk semua arah, dapat menggunakan puli dan
drum dengan diameter yang kecil serta desain dan pembuatan yang
sederhana
Rumus umum untuk memilih
tegangan tarik rantai adalah :
Ss =

Sbr
K

Dengan
Ss
= beban aman yang diterima rantai, dalam
kg
Sbr
= beban putus dalam kg
K
= Faktor keamanan
Intensitas keausan yang terjadi pada rantai tegantung pada factor
berikut : perbandingan kisaran rantai dengan drum atau puli rantai,
tegangan kecepatan puli rantai, sudut belok relative bila rantai
tersebut melewati pulinya, keadaan lingkungan kerja dan
sebagainya.
Rantai las tempa selalu putus pada bagian lasnya. Pada rantai las tahanan
listrik yang bermutu tinggi, biasanya mata rantai putus berbentuk putus miring
dengan penampang yang bersudut kecil terhadap sumbu memanjang rantai,
yang bermula pada bagian bagian tepi batas permukaan kontak mata rantai
yang dihubungkan.


2.

Rantai Rol
rantai rol terdiri atas
pelat
yang dihubungengsel
pana pena
(gambar 9). Rantai
Gambar 9 rantai rol
untuk
beban ringan
terbuat dari dua keping
plat saja, sedangkan
untuk beban berat dapat
menggunakan sampai
Rantai rol dari 2 keping pelat
mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan
lebih

rantai lasan. Karena rantai rol padat maka keandalan operasinya
jauh lebih tinggi dibandingkan rantai lasan. Rantai rol mempunyai
flexisibelan yang baik sehingga dapat dipakai pada sprocket
dengan diameter lebih kecil dan jumlah gigi yang lebih sedikit. Hal
ini akan mengurangi ukuran mekanisme dan sekaligus mengurangi
harganya. Juga, gesekan pada rantai rol jauh lebih kecil
dibandingkan dengan rantai lasan dengan kapasitas angkat yang
sama.
Kecepatan maximum rantai rol ditentukan oleh standar Negara dan tidak
boleh melebihi 0.25 mm/detik.
D
Nilai factor keamanan K, rasio
dan jumlah gigi sprocket untuk rantai las
d
dan rol diberikan pada table 4.
Table 4
Data rantai yang terseleksi
RANTAI

Digeraka
n

Factor K
keamana
n

Rasi
oD
d

Dilas dikalibrasi dan tidak dikalibrasi
…………............
dilas dikalibrasi pada katrol
…………………..............................
dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat
beban
Dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat
beban
Roller

Tangan
Daya
Tangan
Daya
……
……
……

3
6
4.5
8
6
5
5

20
30
20
30
….
….
….

Jumlah
minimu
m gigi
pada
sprocke
t
5
5
…..
…..
…..
…..
8
3. Tali Rami
Tali rami hanya cocok digunakan untuk mesin
pengangkat
yang
digerakan tangan (puli tali) karena sifat mekanisnya yang
lemah (cepat aus, kekuatan yang rendah, mudah rusak oleh
benda tajam, pengaruh lingkungan dan sebagainya)
Tali rami harus memenuhi standar Negara dan terbentuk dari tiga untai
rami dan tiap untai terdiri atas beberapa serabut yang berbeda. Arah lilitan
untaian harus berlawanan dengan serabut.
Berdasarkan metode pembuatan pembuatan dan jumlah untaian tali rami
dikelompokan menadi tali polos dan tali kabel. Yang terakhir terbuat dari
lilitan 3 buah lilitan yang berbeda. Tali sering dicelupkan pada aspal untuk
mengurangi pelapukan. Walaupun tali rami yang dicelupkan pada aspal
lebih tahan terhadap pengaruh cuaca, namun jauh lebih berat dan lebih
kurang flexible dan kekuatannya berkurang 20% dibanding tali biasa.
Kekuatan putusnya membagi tali rami menjadi dua kelas : kelas 1 dan kelas
2.
Pemilihan tali rami. Tali rami dipilih hanya berdasarkan kekuatan tariknya
berdasarkan rumus2 :
πd
S=
σ br
4
dengan :
d
= Diameter keliling dari untai, dalam cm
S
= Beban pada tali, dalam kg


4. TALI BAJA
Tali baja mempunyai keunggulan sebagai berikut :
1. Lebih ringan;
2. Lebih tahan terhadap sentakan;
3. Operasi yang tenang walaupun pada kecepatan operasi yang tinggi;
4. Keandalan operasi yang tinggi.
Tali baja terbuat dari kawat baja dengan kekuatan σ= 130 sampai 200
kg/mm2. Didalam proses pembuatannya kawat baja diberi perlakuan
panas tertentu dan digabung dengan penarikan dingin, sehingga
menghasilkan sifat mekanis kawat baja yang tinggi.
Jenis Tali Baja Puntir mempunyai
Lapisan dalam tali mengelompokan menjadi :
keunggulan sebagai berikut :
1) Tali pintal silang atau tali biasa;
1. Distribusi beban yang merata
2) Tali pintal parallel atau jenis lang;
pada setiap kawat sehingga
3) Tali komposit atau pintal balik.
tegangan internal yang terjadi
minimal.
Tali Baja Serba Guna. Tali yang terdapat
2. Lebih fleksibel.
pada Gambar 13 adalah tali baja konstruksi
3. Keausan tali lebih kecil bila
biasa (kawat seragam) yang berupa kawat
melewati puli dan digulung pada
anyaman kawat yang sama diameternya
drum, karena tidak ada untaian
atau kawat yang menonjol pada
kontur tali, dan keausan kawat
Gambar 13. Lapisan serat tali baja.
terluar seragam; juga kawat yang
putus tidak akan mencuat keluar
Tali Baja Anti-Puntir.
dari tali.
Pada tali ini sebelum dipintal setiap kawat
4. Keselamatan operasi yang lebih
dan untaian dibentuk sesuai dgn
baik.
kedudukannya didalam tali. Akibatnya tali
yang tidak dibebani tidak akan mengalami
tegangan internal. Tali ini tidak mempunyai Gambar 15. Tali anti-puntir dan tali biasa.
kecenderungan untuk terurai walaupun ujung
tali ini tidak disimpul
Tali Baja Dengan Untaian Yang Dipipihkan. Tali ini (Gambar 16) dipakai pada
crane yang bekerja pada tempat yang mengalami banyak gesekan dan abrasi.
Biasanya tali ini tebuat dari lima buah untaian yang dipipihkan dengan inti kawat
yang juga dipipihkan; untaian ini dipintal pada inti yang terbuat dari rami
Gambar 16. Tali dengan untaian yang dipipihkan.
Tali dengan Anyaman Terkunci. Tali ini banyak digunakan pada crane kabel dan
kereta gantung. Tali ini mempunyai keunggulan dalam hal permukaan yang halus,
susunan kawat yang padat dan tahan terhadap keausan, kelemahannya adalah
tidak fleksibel.
Gambar 17. Lilitan tali yang dikunci.
Cara mengukur diameter luar tali dapat dilihat pada Gambar 19, yaitu dengan
mengukur dua untaian yang berlawanan letaknya.
Gambar 19. Cara mengukur diameter
tali
Tabel 5
Tali Rami untuk Pengangkat

Tabel 6
Tali Untuk Crane dan Pengangkat
KONSTRUKSI TALI

Faktor mulamula
dari
keama
nan

tali terhadap
tegangan
kurang

9
'9 - 10
'10 12
'12 14

6 x 19 = 114
+ 1c

KONSTRUKSI TALI

6 x 9 = 114 + 1c*
Posisi
berpoto
ngan

6 x 37 = 222 + 1c*

Posisi
sej
aja
r

Posisi
berpoto
ngan

Posisi
sej
aja
r

Faktor
mula-mula
dari
keamanan
tali
terhadap
tegangan

Posis
i
berp
otongan

Posis
i
sejaj
ar

6 x 37 = 222
+ 1c
Posis
i
berp
otongan

Posis
i
sejaj
ar

6 x 61 = 366
+ 1c
Posis
i
berp
otongan

Posis
i
sejaj
ar

18 x 17 = 342
+ 1c
Posis
i
berp
otongan

Posis
i
sejaj
ar

Jumlah serat yang patah pada panjang tertentu setelah tali dibuang

Jumlah serat patah sepanjang satu tingkatan setelah tali
tertentu dibuang
14

7

23

12

16

8

26

13

18

9

29

14

Kurang 6

12

6

22

11

36

18

36

18

6-7

14

7

26

13

38

19

38

19

Diatas 7

16

8

30

15

40

20

40

20

20
10
32
Percobaan-percobaan menunjukkan 16
bahwa umur tali sangat
D
diatas 16
12
38
19
dipengaruhi24
oleh kelelahan. Umur tali dapat ditentukan dengan
d
memakai perbandingan (Dmin adalah diameter minimum puli atau drum
dan d ialah diameter tali) dan (δ -diameter kawat pada tali).

min

Dmin
δ

Jumlah lengkungan dapat ditentukan dengan cukup akurat bila kita membuat suatu
diagram seperti jenis yang ditentukan dalam Gambar 21.
Gambar 21. Menentukan jumlah lengkungan tali dengan satu puli penggerak.
Sistem puli yang banyak digunakan dan jumlah lengkungannya dapat dilihat pada
Gambar 23
Gambar 23. menentukan lengkungan untuk berbagai sistem puli
pengangkat
Tabel 7 menunjukkan nilai Dmin sebagai fungsi jumlah lengkungan.

d

Jumlah
lengk
unga
n

Jumlah
leng
kung
an

Jumlah
lengk
ungan

Jumlah
lengk
ungan

16

5

26,5

9

32

13

36

2

20

6

28

10

33

14

37

3

23

7

30

11

34

15

37,5

4

Tabel 7

1

25

8

31

12

35

16

38

Puli Tunggal

Efisiensi
Gesekan pada
permukaan
puli
(faktor
resisten
satu puli)

Gesekan anguler
pada
permukaan
puli (faktor
resisten satu
puli

Jumlah puli yang
berputar

Jumlah alur

Jumlah puli
yang
berpu
tar

2

1

4

2

0,951

0,971

3

2

6

4

0,906

0,945

4

3

8

6

0,861

0,918

5

4

10

8

0,823

0,892

6

5

12

10

0,784

0,873

Jumlah
alur

Tabel 8
EFISIENSI PULI

Puli Ganda
Tabel 9
Harga Minimum Faktor k dan e1 yang diizinkan
Digerakkan oleh:

TIPE ALAT PENGANGKAT
1.

2.
3.

4.
5.
6.

Lokomotif,caterpilar-mounted, traktor dan truk
yang mempunyai crane pilar (termasuk excavator
yang dioperasikan sebagai crane dan
pengangkat mekanik pada daerah konstruksi dan
pekerjaan berkala.
Semua tipelain dari crane dan pengangkat
mekanis
Derek yang dioperasikan dengan tangan, dengan
kapasitas beban terangkat diatas 1 ton yang
digandeng pada berbagai peralatan otomotif
(mobil, truk, dan sebagainya).
Pengangkat dengan troli
Penjepit mekanis (kecuali untuk puli pada grabs)
untuk pengangkat mekanis pada no.1
Idem untuk pengangkat mekanik pada no.2

Kondisi pengoperasian

Faktor
K

Faktor e1

Tangan
Daya
Daya
Daya
Tangan
Daya
Daya
-

Ringan
Ringan
Medium
Berat dan sangat berat
Ringan
Ringan
Medium
Berat dan sangat berat
-

4
5
5,5
6
4,5
5
5,5
6
4
5,5
5
5

16
16
18
20
18
20
25
30
12
20
20
30

Konstrusi Tali

Tabel 10
Harga faktor e 2 yang
tergantung pada
konstruksi tali

Biasanya 6 x 19 = 114 + 1 poros
Posisi berpotongan…………………………………………………………
Posisi sejajar……………………………………………………………….
Compound 6 x 19 = 114 + 1 poros
a). Warrington
Posisi berpotongan……………………………………………………..
Posisi sejajar……………………………………………………………
b). Seale
Posisi berpotongan……………………………………………………..
Posisi sejajar……………………………………………………………
Biasanya 6 x 37 = 222 + 1 poros
Posisi berpotongan…………………………………………………………
Posisi sejajar……………………………………………………………….

Faktor e2

1,00
0,90
0,90
0,85
0,95
0,85
1,00
0,90
5. PERHITUNGAN DAYA TAHAN (KEKUATAN BATAS
KELELAHAN)
TALI KAWAT BAJA DENGAN METODE
PROFESOR ZHITKOV
Metode

perhitungan daya tahan tali kawat yang dijelaskan berikut dihasilkan
oleh penelitian bertahun-tahun yang dilakukan di hammer dan sickle works.
berbagai konstruksi tali yang berdiameter dari 3 mm sampai 28 mm diuji dengan
tiga unit mesin khusus untuk menentukan metalurgi, produksi, desain dan
operasi yang mempengaruhi kekuatan tali.
Pada tahap pertama, karakteristik umur tali dikumpulkan dari semua pengujian
dalam bentuk grafik yang menghasilkan hubungan
z = ƒ1(σ) dan z = ƒ2( D )
d
Data ini kemudian dipakai untuk menggambarkan suatu diagram yang
menunjukkan hubungan σ = ƒ3 ( D ) dengan berbagai jumlah lengkungan tali
d
(gambar 24) dan untuk mendapatkan secara matematis rumus desain:
D
A = d = mσCC1C2
Gambar.24 Diagram untuk menentukan jumlah lengkungan tali


Bila kita mengetahui kondisi operasi mekanisme pengangkat, dan telah
menentukan umur tali, kita dapat menentukan jumlah lengkungan yang
diperbolehkan z1 dengan rumus :
z1 = a z2 N β
dengan :
N = umur tali dalam bulan
a = jumlah siklus kerja rata-rata per bulan
z2= jumlah lengkungan berulang per siklus kerja (mengangkat dan
menurunkan)
pada tinggi pengangkatan penuh dan lengkungan
satu sisi.
β = faktor perubahan daya tahan tali akibat mengangkut muatan lebih
rendah dari tinggi total dan lebih ringan dari muatan penu

Gambar 26. Penggantungan pada sistem puli
majemuk
Gambar 28 menunjukan faktor-faktor utama yang mempengaruhi mutu tali kawat baja
6. PENGIKATAN RANTAI DAN TALI






Pengikatan Rantai Beban
Lasan
Pengikatan Rantai Rol
Pengikatan Tali Rami
Pengikatan Tali Baja

Gambar 29 Metode pengikatan rantai beban
lassan

Gambar 30 Pengikatan rantai roller
beban

Gambar 31 Pengikatan tali
rami

Gambar 32 Pengikatan tali kawat dalam soket
tirus
Soket Baji. Tali dilewatkan mengitari baji-baja beralur (Gambar 34a) dan diikat
bersama dengan baji kedalam soket rata yang sesuai yang terbuat dari baja tuang.
Beban akan menarik tali kedalam soket dan akan menambah daya ikatnya.
Mata Pengikat. Tali dililitkan mengelilingi mata pengikat (Gambar 34b) dan ujung
bebasnya dililitkan dengan bagian utama tali. Panjang lilitan 1 > 15d dan minimum
sepanjang 500 mm. Gambar 34c menunjukan kait yang diikat pada tali dengan mata
pengikat.
Disamping dililitkan, mata pengikat dapat dikencangkan dengan memakai klip khusus
bulldog (bull-dog clip) atau pengapit pada tali kawat (Gambar 35). Jumlah pengapit
minimum adalah tiga buah. Gambar 36 menunjukan tali kawat yang diikat pada mata
pengikat dengan plat dan baut.
Gambar 34 Baji soket tali (a) dan pengikatan dengan alat berlubang (b,c)
Gambar 35 Klem bull dog
Gambar 36 Tali alat berlubang dengan plat dan sekrup
7. PERABOT PENGGANTUNG BEBAN






Anduh Rantai. Anduh (sling) ini terbuat dari rantai lasan tak terkalibrasi
biasa dengan mata dan kait untuk penggantungan atau cengkeram
berbentuk capit untuk mengangkat obyek. Juga digunakan rantai tanpa
ujung dan rantai lepas dengan cincin tanpa ujungnya
Gambar 38a menunjukan rantai tanpa ujung, Gambar 38b rantai lepas
dengan cincin , Gambar 38c - rantai dengan kait dan cincin, Gambar 38d –
anduh utas dua, Gambar 38e cengkeram berbentuk cakar untuk
membentuk lingkaran pada rantai. Gambar 38f menunjukan tong yang
diangkat dengan cengkeram rantai berbentuk capit yang memegang bagian
ujung tong
Anduh rantai terutama digunakan untuk pelayanan kerja berat dan selalu
pada temperatur tinggi. Kecuali dipakai pelindung khusus yang terbuat dari
logam lunak (Gambar 38g), Anduh rantai biasanya akan merusak sudut
(ujung) benda yang dingkat
Gambar 38 Anduh rantai




Anduh Tali Rami. Tali rami polos yang disimpul mati banyak sekali
digunakan untuk menhan muatan pada kait crane. Kekuatannya jauh lebih
rendah dibandingkan dengan tali baja, tetapi memiliki keluwesan yang lebih
tinggi dan mudah diikat menjadi simpul. Tali rami mudah sekali dirusak oleh
ujung tajam benda yang diangkat dan harus dilindungi dengan bantal linak
(Gambar 38g) atau alat pelindung khusus lainnya (plat sudut). Metode
mengikat dengan tali rami dapat dilihat pada Gambar 39.
Anduh Tali Kawat Baja. Umumnya beban yang berat umumnya dingkat
dengan anduh tali baja. Dibandingkan dengan rantai, tali baja lebih ringan
tetapi terlalu kaku dan cenderung untuk terpuntir. Di samping itu apabila
digunakan untuk mengangkat benda yang berujung tajam, tali baja akan
melengkung terlalu tajam dan akan cepat aus. Tali baja ini rentan terhadap
temperatur yang tinggi. Muatan yang diangkat oleh anduh tali dan rantai
harus diikat dengan aman sehingga tidak berpindah posisinya sewaktu
bergerak.
Gambar 40a menunjukkan anduh tali baja dengan utas tunggal dan gambar
40b menunjukan tali dengan dua dan empat utas.
Gambar 40 anduh serat tali baja
ALAT TAMBAHAN
PENANGANAN
MUATAN
1. URAIAN UMUM

Pada crane serbaguna yang mengangkat
berbagai bentuk muatan ditangani dengan
memakai anduh (sling) rantai yang dikatkan
pada kait. Kait tunggal (standar) dan kait
tanduk adalah jenis kait yang paling sering
dipakai untuk keperluan ini. Kadang-kadang
digunakan kait segitiga. Kait standar dan
tanduk dibuat dengan ditempa pada cetakan
rata atau cetakan tertutup atau dapat juga
dibuat dari beberapa plat dengan bentuk kait
yang dijadikan satu.
Kemampuan Angkat
1. Kait tempa :
Kait standar sampai 50 ton
 Kait tanduk mulai dari 25 ton ke atas


2.

Kait segitiga dan kait berlapis
mempunyai kemampuan angkat diatas
100 ton
Pada umumnya,
muatan digantung pada
anduh berutas-empat
dengan dua lilitan tali
pada kait (Gambar 61).
Q
Q
P= 4 =
≈ 0,35Q
cos γ 4 cos 45°

Kait sering kali
mempunyai bentuk
penampang tarapesium
yang dibuat lebih lebar
di dalam.
2. KAIT TEMPA STANDAR
Perhitungan Dimensi Kait
Tegangan tarik :
t : kisar ulir
σ= Q
π
d
do : diameter luar ulir
4
d1 : diameter dalam ulir
t

Tinggi minimum :

H =

2
1

4Qt
2
π d 0 − d12 p

(

)

σ : tegangan satuan pada jarak y
dari sumbu netral
Q : beban pada kait
F : luas penampang kritis
r : jari-jari kelengkungan pada
daerah kritis
x : faktor bentuk bentuk
penampang
Momen lentur M diasumsikan bernilai positif bila
menyebabkan kelengkungan kait bertambah (jari-jarinya
berkurang) dan bernilai negatif bila kelengkungannya
berkurang. Karena beban cenderung untuk membuka kait,
momennya bernilai negatif (Gambar 62a) :
M = -Qr = -Q (0,5a + e1)
Nilai x didapat dari persamaan :
1
y
x=
dF
F ∫ y +r
e2

e1

untuk trapesium dengan sisi b1 dan b2 dan tinggi h akan
menjadi x = −1 + 2r b + b − b ( e + r ) 1n r + e − ( b − b ) 



( b1 + b2 ) h 

2

1

2

h

2

2



r + e1

h
=1
a

1

2



b1
=n
b2

Bila kita mengambil nilai h = a, dan bila
dan
5n + 7
[ (1,5n − ditransformasikan
x diatas setelah 0,5)1,09861 − ( n − 1) ] − 1 akan
=
maka rumus 3( n + 1) 2
berbentuk
dengan mengabaikan perpindahan sumbu netral relaif terhadap pusat
massa bagian tersebut diperoleh n + 2 h

e1 ≈

n +1 3

Dalam keadaan tersebut rumus diatas dapat digunakan untuk
mencari x untuk semua nilai
b1
b2

Denganmendistribusikan nilai M = -Qr = -Q (0,5a + e1),
r = 0,5a + e1, y = -e1 (untuk bagian terdalam yang tertarik) dan y = e2
(untuk bagian terluar yang tertekan) ke dalam rumus (61) dan kita
dapatkan tegangan satuan pada penampang antara titik I dan II.
Q Q ( 0,5a + e1 ) Q( 0,5a − e1 ) 1 y
Q  0,5a + e1  1 y 


σ =

F

−

Fr

=

Q
F

−

Fr


0,5a +e1
1
 −
r



x y+r

=


1
e
 −
1

x r −e1


1 −
F

r



Q 1 2e1
 =


F x a




Tegangan maksimum pada bagian terdalam

σ1 =

σ
Tegangan maksimum pada bagian terdalam 1 =

1 + x y + r   =



Q 1 2e1
< σ aman
F x a

Q 1 e2
< σ aman
F x a +h
2
Metode Grafik untuk menetukan Faktor x
Nilai x adalah jarak dari titik O ke
garis vertikal yang bersangkutan; y
adalah panjang garis vertikal di dalam
bagian penampang. Titik-titik terluar
ordinat kemudian dihubungkan
dengan suatu garis. Absis titik pusat
penampang tersebut ditentukan
dengan
h

xc =

∫ yxdx
0
h

∫ ydx
0

Dengan ;
f : luas daerah yang dibatasi oleh
kurva
F : luas penampang kait
Luas penampang daerah f dan F
ditentukan dengan memaki
Dengan meneruskan prosedur yang sama untuk
semua garis vertikal akan didapatkan sejumlah titik dan bila
titik tersebut dihubungkan, kita akan adapat mencari luas
daerah f1 dan f2 pada titik C. Perbedaan f1-f2 akan selalu
bernilai negatif.
Luas daerah f1 dan f2 dapat ditentukan dengan
memakai planimeter.
Faktor x akan sama dengan
e2
1
y
2( f1 − f 2 )
x =−

F

∫ y + r dF = −

e1

F

ρx
Jarak antara garis nol (netral) adan garis pusat adalah
γ =
1+ x

Dengan :
ρ : jari-jari kelengkungan titik pusat
Tegangan aman
Tegangan aman satuan yang
didapatkan dengan rumus (64) dan
(65) tidak boleh melebihi 1500 kg/cm2
untuk baja 20. Penampang III dan IV
diperiksa kekuatannya pada sudut
maksimum yang diizinkan 2α = 120°
dengan cara yang sama seperti
Penampang I dan II. Dengan
Q
mengabaikan gaya geser
2
Q
tan α
2
perhitungan
untuk gaya
dilakuakn dengan
a
memakai cara yang sama dengan
2
sebelumnya, tetap memakai nilai
r’dan bukan hubungkan dimensi
yang bersangkutan dari penampang
tersebut. Bagian silindris tangkai kait
yang masuk ke lubang pada bintanglintang akan mengalami tegangan
tarik. Akan tetapi tegangan lentur
akan timbul akibat salah stel sebab
itu tegangan yang diizinkan dalam hal
Beban digantung pada satu tanduk. Tangkai utama akan dibebani
lebih dari yang diizinkan, tegangan satuan maksimumnya dapat
ditentukan melalui pertimbangan berikut (penampang kritis V-VI)

p1
p sh

Q
= cos
2

pt
Q
= sin β, σt =
2
F

DAN

β

τ sh

Psh
=
F
Tegangan lentur yang timbul dari momen
Akibatnya
a +d
M lentur = −P (
)
1
2
σ ∑ = (σ1 +σlentur ) 2 + 3τ 2

Contoh soal: Memeriksa tegangan pada bagian
lengkung kait tanduk tempa.
Diketahui: Kapasitas angkat 15 ton; dimensi
pada gambar 66.

1.Beban total Q =15TON
2.Gaya normal pada penampung
rumus (69) adalah:
2Q sin(α + β ) 2 x15.00 x sin 77°
P1 =
=
= 13.750kg.
3 cos α
3 cos 45°
3.factor χ

Luas penampang F = 115,8 cm2
Luas daerah tambahan f = 789 cm3. Absis titik
pusat ialah

f
789
xc =
=
= 6,8 cm
F
115,8
Zambian Luas
f1
daerah
Sehingga factor

= 5,71 cm 2 dan f 2 = 11,7 cm 2

2( f 1 − f 2 )
2(5,71 − ,7)
11
x =
=
=0,104
−f
−
115,8

Jarak antara titik nol dan titik pusat adalah:
ρ = ,8 × ,104 = ,29 cm
π 13
0
γ=
1
1+
x

1 + ,104
0

Jarak antara bagian bagian terdalam
dengan garis nol
e1 = xc −β =6,8 −1,29 =5,51 cm
4.Tegangan
adalah

satuan

2 x 5,51
P 1 2e1 13.750
1
1
σ1 =
.
=
×
×
= 900 kg / cm 2
F x a
115,8 0,104
14

σ II

p1 1
e2
13.750
1
10,45
= −
=−
×
×
= − 520 kg / cm 2
F x a
115,5 0,104 14
+ e1 + e2
+ 16
2
2

Kedua rantai diatas berada dalam batas
yang diizinkan.
4.

KAIT MATA SEGITIGA PADAT

Kait mata pada segitiga padat dipakai pada
crane dengan kapasitas angkat yang besar (di
atas 10 ton), dan hanya kadang-kadang saja
dipakai juga pada crane dengan kapasitas
sedang. Kelmahan kait ini adalah anduh yang
mengangkat muatan harus dilewatkan kedalam
lubang kait tersebut. Kait segitiga ditempa
langsung dari satu potong baja utuh.
Ditinjau dari segitiga luar (eksternal) kait
segitiga dapat ditentukan secara statis, dan dari
segi tegangan kait ditentukan secara statis tak
tentu. Karena lengkungan bagian bawah dibuat
utuh dengan sisinya dan akan mengalami gaya
lentur maka bagian sisinya akan terpengaruh
gaya lentur tersebut juga.
Dari penyelidikan yang dilakukan, momen
lentur pada lengkunagan bawah adalah:
Q1
M1 =
6
Momen lentur pada pertemuan kedua sisinya
dengan busur ialah
Q1
M2 =

13

Gaya tarik yang bekerja pada bagian sisi ialah
p=

Dengan:

Q1
a
2 cos
2

a - sudut antara kedua sisi
Q – beban
I – panjang busur yang diukur
sepanjang garis netral
Sambungan antara busur, sisi dan
tangkainya tidak boleh membentuk sudut yang
tajam tetapi harus rata dan halus.
Tegangan satuan maksimum pada bagian
sumbu dapat ditentukan dengan rumus
Dengan:

M lentur P1
σ =
+
W
F

Q
a
P1 = tan
2
2

M lentur

Q1
≈
+ P1 x
6

— gaya tekan yang bekerja
pada busur, dalam kg
W — momen perlawanan
F — luas penampang busur
Tegangan satuan aman untuk baja 3
adalah
σ aman = 800 kg / cm 2
5.

KAIT SEGITIGA BERSENDI
Pembuatan kait mata segitiga ternyata
mengalami banyak kesulitan dalam proses
produksinya. Sehingga untuk menangani beban
yang besar kait segitiga bersendi rakitan lebih
disukai untuk digunakan.
Tegangan satuan pada sambungan kait
tiga-sendi rakitan adalah
Q

σ1 =

Nilai yang diizinkan adalah

a
4 cos F
2

σ 1 = 1.200 kg / cm

2
Tegangan satuan ditentukan sebagai
tegangan pada bentangan lengkung

P1 M
e1
M
σ = +
+
F FR xFR R − e
Dengan

Q1
M=
+ P1 x
4
Q
a
P1 =
tan
2
2

Dengan:
F — luas penampang
e1 — jarak antara sambungan netral
dengan lapisan yang menerima beban
terbesar.
Factor x untuk ellips didapat dengan rumus
2

4

1  a  1 a 
5 a
x=   +   +  
4  R  8  R  64  R 

Dengan:
a — luas penampang

6
Tegangan pada mata tangkai diperiksa
dengan rumus hasil

(

P D +d
σ1 =
2
2
D −d

Dengan:
P=

Q
a
4 cos
bd
2

2

(tekanan satuan)

b — lebar lubang

2

)
6. PERABOT UNTUK
MENGGANTUNGKAN KAIT




Pemberat kait. Untuk mengangkat muatan ringan
(=sampai 5 ton) biasanya kait langsung diikatkan pada
takal pengangkat fleksibel. Untuk meredam kejut,
kadang-kadang pemberat kait dilengkapi dengan pegas.
Penggunaan peredam kejut ini sangat diperlukan untuk
crane yang melayani alu tempa.
Bantalan kait. Bantalan peluru aksial memungkinkan
kait dapat berputar dengan mudah ketika menangani
beban diatas 3 ton. Bantalan ini dipasang pada batang
lintang dipakai menahan mur kait.
Batang lintang untuk kait
Batang lintang kait dapat berputar pada pelat sisi rumahnya yang
diperkuat dengan setrap atau sekal yang terbuat dari pelat baja.
Hal ini akan memungkinkan kait berputar pada dua arah yang
saling tegak lurus. Batang lintang ini ditempa dari baja dan diberi
trunion (batang gerak) pada ujungnya. Diameter lubang untuk
tangkai kait harus sedikit lebih besar dari tangkainya sendiri.

Gambar. 70 penampang-lintang untuk kait.
6. PERABOT UNTUK MENGGANTUNGKAN KAIT

Pemberat kait. Untuk mengangkat muatan ringan
(=sampai 5 ton) biasanya kait langsung diikatkan pada
takal pengangkat fleksibel. Untuk meredam kejut, kadangkadang pemberat kait dilengkapi dengan pegas.
Penggunaan peredam kejut ini sangat diperlukan untuk
crane yang melayani alu tempa.
Bantalan kait. Bantalan peluru aksial memungkinkan kait
dapat berputar dengan mudah ketika menangani beban
diatas 3 ton. Bantalan ini dipasang pada batang lintang
dipakai menahan mur kait.
Batang lintang untuk kait
Batang lintang kait dapat berputar pada
pelat sisi rumahnya yang diperkuat
dengan setrap atau sekal yang terbuat
dari
pelat
baja.
Hal
ini
akan
memungkinkan kait berputar pada dua
arah yang saling tegak lurus. Batang
lintang ini ditempa dari baja dan diberi
trunion (batang gerak) pada ujungnya.
Diameter lubang untuk tangkai kait harus
sedikit lebih besar dari tangkainya
Tabel ukuran dan beban untuk bantalan
swa-penyebaris untuk kait yang
mengangkat beban mulai 5 sampai 75
ton
kapasitas

pengangkat Q
ton
5
7,5
10
15
20
25
30
40
50
60
75

d1

d4

d5

D

D1

50
60
70
80
90
100
115
125
130
150
170

52
62
72
82
93
103
120
130
135
155
175

75
85
95
110
125
140
160
175
185
205
230

92
106
120
136
155
172
200
220
240
260
285

100
115
130
145
165
185
215
220
250
270
300

k

R

r

Limit beban
kerja, ton.
36 75 1,5
7.5
41 85
2
9,0
44 95
2
11,6
50 110 2
15,8
57 125 2
20,6
64 140 2
26,0
74 160 3
35,5
79 175 3
41,5
101 185 3,5
58,0
106 205 4
67,4
111 230 4
77,5
Momen lentur maksimumnya
adalah
Μ1

maks

Q 1 Q d1 Q
= x − x
= (1 − 0,5d1 )
2 2 2 4
4

Dengan :
D1= diameter luar cincin dudukan
bantalan.
Momen perlawanannya adalah
1
2
w = (b − 1 ) h
d
6
Tegangan lentur aman
σlentur = 600 – 1000 Kg/cm2
Momen lentur pada trunion batang-lintang :
Q
s +1
s
M2 =
x
2
2
Tekanan satuan antara trunion dan rumah
Dengan :
s = tabel sakel
s1 = tabel pelat samping

Q
P =
2d (s + 1 )
s

s + s1
l=
2
Trunion batang-lintang tidak boleh bergerak secara aksial tetapi
harus dapat berputar. Pengencangannya dapat dilakukan dengan
cincin penyetel yang diikat dengan memakai pena tirus atau
cincin belah yang dimasukan ke dalam alur trunion yang
dipasang dengan skrup ke strap atau sekal.

Momen lentur pada trunion:

M1

maks

Qλ
l0 D 
=  + s0 + s − + 
22
2 2

M2 =

Q λ

+ s0 + s 

2 2


Gambar 71 penampang-lintang untuk
pemasangan dua roda penuntun tali
Gambar 72 Penampang-lintang sakel dengan rumah empat buah roda
penuntun.
Pada penampang A1B1 (gambar 72)

σ

Q
1 =
2bs
Q
Pada penampang A2B2 =
σ1
2( b − d ) s

Pada penampang A2B2 dipakai rumus lame, tekanan satuannya ialah:

Q
P=
2ds
Tegangan satuan pada permukaan dalam:

σ A3

[

P ( 2R ) + d 2
=
( 2R ) 2 − d 2
2

]

Tegangan satuan pada permukaan luar:

σB 3

p 2d 2
=
2
( 2 R ) −d 2

Tegangan maksimumnya akan terjadi pada permukaan dalam
yakni:

σ A3
Maka

Q(4 R 2 + d 2 )
=
2ds ( 4 R 2 − d 2 )

Q
4R 2 + d 2
s=
x
2dσ1 4 R 2 − d 2
Perhitungan Kekuatan Batang Lintang
Secara Tepat Dengan Metode yang
Dikembangkan oleh A.A. Staroselsky

Bila batang lintang didesain dengan
bantalan anti-gesek, tekanan pada
daerah
permukaan
kontak
yang
dibebani dapat diasumsikan terbagi
merata pada permukaan setengah
silinder menurut hukum berikut :
Pc= p cos ϕ
Gambar
73
Diagram
penampang-lintang

perhitungan

untuk

Jika P merupakan resultan pada gambar
dari persamaan itu kita peroleh :
2 P
p=

π

x

R

Kg / cm

Dan rumus yang dapat digunakan :
N1 =

1 
1
1
 +2
P
4π 
R

1

M 1 =−0,12 +0,034
PR
R

RUMAH KAIT
Rumah kait merupakan keseluruhan takel gantung yang
mencakup :alat pengangkat (kait), batang lintang,
roda puli bawah, dan pelat rumah sekal tempat
gandar roda puli dan pemutar batang lintang diikat
Gambar 77 menunjukkan rumah dengan satu buah roda
puli dan perabot untuk mencegah tali terlepas

Gambar 78 - 79
Muatan yang ditangani dalam
perusahaan industri dapat dibagi dalam
beberapa kelompok sebagai berikut :

1.
2.

3.
4.
5.

Muatan satuan yang biasanya berukuran besar misalnya ; ketel,
rakitan mesin, struktur logam, dan lainnya.
Muatan satuan massal ; biled baja coran berukuran besar, hasil,
komponen mesin, baja canai, lembaran dan pelat, kotak, tong dan
sebagainya.
Muatan satuan massal berukuran kecil ; coran, tempa, dan kom[onen
mesin berukuran kecil, biji logam, baut, paku keling dan sebagainya.
Bahan lepasan ; batu bara, pasir, kokas, gas, abu, tatal, dan
sebagainya.
Bahan cair ; besi cor cair, baja, dan logam cair lainnya
7. pencengkeram crane untuk muatan satuan
Faktor penggunaan dan kapasitas penanganan yang lebih tinggi
dan perabot pengangkat berbanding langsung dengan waktu
yang diperlukan untuk menggantung dan melepaskan
muatan. Waktu ini dapat dikurangi dengan penggunaan
pencengkeram khusus yang harus :

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Sesuai dengan sifat dan bentuk muatan
Mencengkeram dan melepaskan muatan dengan cepat
Mempunyai kekuatan dan keandalan mekanis yang memadai
Memenuhi syarat keamanan
Tidak merusak muatan
Mempunyai bobot yang minimum
Mudah dalam pengoperasiannya
Cengkeram Dan Pengapit
Crane
Komponen yang serupa misalnya : pasangan
roda, as, lembaran dan pelat baja roll kertas,
gulungan kawat dan sebagainya ditangani
dengan cengkeram yang sesuai bentuknya
dengan muatan tersebut. Jenis cengkeram
untuk pasangan roda, poros dan gandar
tergantung pada panjang dan jumlah
komponen yang ditangani sekaligus.
Platform Muatan Dan Ember Curah
Samping
Perabot ini dipakai untuk menangani muatan
satuan dalam jumlah besar (kotak bal baja
batangan, komponen mesin dan sebagainya)
dan juga muatan yang berukuran kecil (briket,
batu bata, biji logam dan komponen besi cor
berukuran kecil lainnya). Untuk mencegah
terjadinya kecelakaan, muatan yang berukuran
kecil tidak boleh dipindahkan pada platform dan
ember terbuka. Isi platform dan ember dapat
dipindahkan dengan crane ke gerbong rata.
Biasanya platform, dan ember tersebut ialah
jenis yang dapat di lepas atau dicurah.
Tang Biasa Dan Swa Jepit
Sendiri
Kecenderungan untuk mengurangi tenaga
kerja untuk menangani muatan satuan sekecil
mungkin telah menyebabkan berkembangnya
berbagi jenis tang dan cengkeram otomatis
lainnya. Pada pronsipnya, tang dibuat bersifat
swa jepit, yakni penjepit ini akan menutup
sendiri akibat muatan yang ditangani. Tang
dibuka secara manual dengan tuas khusus.
8. MAGNET PENGANGKAT ELEKTRIS
Magnet pengangkat digunakan sebagai bahan
magnetik dalam berbagai bentuk (ingot, batang, rel, baja
lembaran dan pelat, pipa, tatal, biji, kotak yang berisi benda
– benda terbuat dari baja). Magnet pengangkat dapat
digunakan secara luas khususnya pada pekerjaan
rekasanya metalurgi dan mekanis. Keunggulan utamanya
ialah tidak diperlukannya pengikatan muatan secara manual
sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk operasi
ini secara drastis.
kelemahan magnet peralatan ini yaitu pengurangan
kapasitas angakt akibat bobot magnet ini sendiri, akan
tetapi alat ini dapat mengatasi muatan yang jumlahnya
cukup besar dengan waktu yang minimal dan peningkatan
efisiensi pengangkat yang cukup besar.
9. CENGKERAM UNTUK BAHAN
LEPASAN– curah digantungkan pada kait crane, dan dapat
Bak. Bak swa
dibalikan / diputar pada trunion horizontal. Bak ini mempunyai
kapasitas antara 0,25 – 3 M3.

Bak Curah – Bawah Dan Curah Samping. Dipakai
untuk menangani kerikil, pasir, tanha dan sebagianya
dengan bantuan crane jenis ini lebih unggul dibandingkan
bak miring, karena tidak mencecerkan bahan ketika
pencurahan.

Bak Dengan Sekop.bak jenis ini berkapasitas 1 – 3 m3 dan

untuk penggunaan khusus dapat sampai 8 m3. Bak ini mempunyai
dua buah sekop bersendi dengan alas yang dibulatkan.

Ember cengkram .didesain untuk proses pencurahan

otomtis tetapi memerlukan tenaga kerja dan mekanisme manual
untuk pengoperasiannya.
Ember Cengkram Tali Ganda.
Operasi pengangkatannya dilakukan oleh
satu kelompok tali (atau suatu tali)

Ember Cengkram Tauber Dengan
Tali Ganda. Terdiri atas bentuk lonceng yang
dibentuk oleh dua buah dinding memanjang yang sejajar
yang dihubungkan dengan suatu pelat horizontal,

Ember Cengkeram Tali Tunggal. Ember

cengkeram yang dalam kedua macam operasinya (naik
turun, membuka dan menutup) dilakukan dengan satu
alat penarik, biasanya tali.

Ember Cengkeram yang Digerakkan Motor. Pada
ember cengkeram yang digerakkan motor, sekop dibuka dan
ditutup dengan rantai ataupun tali yang digerakkan motor yang
terpasang pada rangka pemegang itu sendiri.
Ember Cengkeram yang Digerakkan Motor
dengan Pengangkat Listrik. Sekopnya dikendalikan
dengan tali puli yang roda pulinya dipasang pada batang-silang
bawah.

Ember Cengkeram Khusus. Mempunyai sekop
yang berbentuk khusus untuk menyesuaikan diri dengan
jenis operasi dan bahan yang akan ditangani.

Ember Cengkeram Tangan Majemuk. Bentuknya

menyerupai tangga, sekop, atau lebih tepat disebut dengan tangan,
alat ini terdiri dari 3 sampai 8 tangan yang dapat mencengkeram
bahan bongkahan dengan mudah tanpa merusakkan bahan.
10. METODE UNTUK MENDESAIN EMBER CENGKERAM


Sifat bahan curah berikut mempengaruhi parameter alat cengkeram: ukuran dan
bentuk bongkahan, kandungan air, viskositas gaya, gesek dalam, berat jenis (bulk
weight), derajat ketahanan bahan terhadap penembusan benda asing, dan
sebagainya. Metode mendesain cengkeram berdasarkan sifat fisik bahan curah
dikatakan ideal.



Ketergantungan antara bobot dan kapasitas cengkeram dapat diungkapkan
dengan perbandingan sebagai berikut:
(a) untuk cengkeram pelayanan ringan
G gr = 0,8V + 0,5

(b) Untuk cengkeram pelayanan medium
Ggr = 1,5V + 0,5

(c) Untuk cengkeram pelayanan berat
Ggr = 2,3V + 0,5

(d) Untuk cengkeram pelayanan sangat berat
Ggr = 3V + 0,5

Dengan:
Ggr −

berat cengkeram, dalam ton,

V −

kapasitas cengkeram, dalam meter kubik
Dengan memakai diagram perpindahan dari mekanisme cengkeram
dan data berat komponennya dapat kita tentukan gaya yang bekerja pada
komponen tersebut berdasarkan statika.
Data percobaan menyarankan hubungan berat sebagai berikut:

G1 = 0,2G gr

G2 = 0,5G gr

dengan:
G1
G2
G3

G3 = 0,3G gr

berat batang-silang bawah dengan pengimbangan
berat sekop
berat btang-silang atas dengan batang hubung

Dengan gaya yang ditentukan ini diperiksa kekuatan komponen cengkeram,
sehingga kita menentukan gaya yang diperlukan untuk menutup sekop
tersebut.
11. PERLENGKAPAN CRANE UNTUK MENANGANI
BAHAN CAIR

Krusibel (untuk mencairkan paduan baja dan logam
lainnya) dibuat dari bahan tahan panas: dan krusibel ini dapat
menampung muatan mulai 40 sampai 300 kg logam.
Krusibel diangkat dari tanur dan dipindahkan dengan tang
garpu.
Ladel untuk menangani bahan cair dibuat dari plat baja
dan mempunyai lapisan tahan panas.
Keamanan dan pelayanan yang mudah (pekerja lebih
terlindung terhadap radiasi kalor dibandingkan dengan
pelayanan ladel biasa) dan kehilangan kalor yang lebih kecil
akibat radiasi (karena drum tertutup) menyebabkan
penggunaan ladel drum sangat efektif
PERALATAN PENAHAN
DAN REM






PERALATAN PENAHAN
Alat penahan digunakan untuk menahan beban yang
sedang diangkat oleh Derek.
Peralatan Racet. Jenis peralatan ini terdiri atas roda
racet dan sebuah pengunci. Gigi racet dapat diletakkan
pada bagian dalam atau luar pada sisi ataupun roda
racet. Gigi tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga
racet dapat bergerak bebas ketika beban diangkat.
Gambar 109 a menunjukkan desain peralatan racet yang
paling sering digunakan dengan gigi pada bagian luar
roda racet.







Penahan terbaik diperoleh pada titik kontak
antara garis singgung yang melewati titik putar
pengunci dan diameter luar roda racet. Dalam
hal ini tekanan pada pengunci diarahkan
sepanjang gaya keliling roda racet.
Menurut tujuannya roda racet dapat didesain
dengan jumlah gigi yang berbeda-beda :
z = 6 sampai 8 untuk dongkrak batang dan
pinion, racet dan rem yang digerakkan oleh
beban yang diangkat (pengangkat dengan
penggerak roda cacing).
z = 12 sampai 20, untuk penahan racet yang
bebas





z = 16 sampai 25 atau selebihnya untuk rem
jenis racet.
Panjang gigi (lebar daerah tumpuan pengunci)
dipilih dengan memperhatikan tekanan satuan
linear.
b=P
p
dengan :
P = gaya keliling
p = tekanan satu linear
Biasanya tekanan satuan diambil p = 50 –
100 kg/cm untuk pengunci baja




dan roda racet besi cor dan p = 150 – 300 kg/cm
untuk pengunci dan roda racet yang terbuat dari
baja.
Gambar 109 Peralatan racet dengan gigi luar
Gigi racet dengan pertemuan pada bagian
luar diperiksa terhadap kelenturan dengan
rumus :
m ≈ 23
M
zψ [σ lentur ]
Dengan :
m = modul yang setara dengan kisar pada
diameter luar dibagi dengan π




M = momen gaya yang ditransmisikan dalam kg
– cm.
z = jumlah gigi
[σ lentur ] = tegangan lentur aman
Rumus (95) (lihat gambar 109b) diturunkan
sebagai berikut .
Anggapan ABCD adalah daerah patahan
gigi.
Persamaan kekuatan terhadap lentur adalah
Ph = a ² b [σ lentur ]
6




Biasanya a = m dan h = 0,75 m; b = ψm;P = 2M
dan D = zm
D
Maka :
2M 0,75 m = m² ψm [σ lentur ]
zm
6
dan :
m ≈ 23
M
zψ [σ lentur ]
Kecepatan keliling roda racet tersebut
berbanding lurus dengan diameternya. Karena
gaya tumbukan pada pengunci dan gigi
meningkat secara proporsional






dengan
kuadrat
kecepatannya,
maka
peningkatan kecepatan harus dibatasi sampai
nilai yang dapat diizinkan.
Tumbukan pada kecepatan tinggi dikurangi
dengan memakai gigi dan kisar yang lebih kecil;
dapat juga sepersekian dipakai dua atau
beberapa pengunci yang titik pertemuannya
digeser sepersekian bagian kisar, sesuai
dengan
jumlah
penguncinya.
Pada
perlengkapan racet bebas atau rem jenis roda
racet selalu terpasang mati pada poros.
Pengunci racet dapat didesain seperti pada
Gambar 109 a ataupun dengan bentuk seperti
penahan yang ditunjukkan Gambar 109 a.





Pengunci diperiksa terhadap tekanan eksentris
ataupun tarikan eksentris;
σ = M lentur + P
W
F
Dengan :
M lentur = P e 1
W = bx² adalah momen ketahanan minimum
yang diperlukan (Gambar 109 d)
Biasanya pena pengunci (Gambar 110a)
dianggap sebagai batang kantilever yang
mengalami pembebanan.
Persamaan kekuatan ialah :
Pl = 0,1 d³ [σ lentur ]
Untuk l = b + a dan P = 2 M kita peroleh
2
zm
d = 2,71
M
b +a
zm [σ lentur ] 2
Dengan memperhatikan penggunaan beban
tumbukan, biasanya pena racet dibuat dari Baja
45 yang mempunyai tegangan lentur aman yang
agak diperkecil.
[σ lentur ] = (300 sampai 500) kg/cm²
Kondisi yang terbaik untuk pengunci yang
bergeser pada gigi racet didapatkan bila φ > ρ
dengan ρ adalah sudut gesek (Gambar 110b).





Gaya T = P sin φ cenderung mendorong
pengunci kea rah akar gigi sedangkan gaya
gesek N μ (di mana N = P cos φ) dan daya
gesek pada pena pengunci akan melawan
gerakan ini.
Bila ∑ MA = 0 didapatkan
(T – Nμ) L cos φ – Pμ1 d = 0
2
Dengan mensubstitusikan nilai T dan N dan
menghilangkan cos² φ tan p > 0 ;
Maka φ - 0 > 0 atau φ akan menjadi lebih besar
dari p.
Tabel 22
Konstruksi untuk Profil Gigi dan Roda Racet




Tabel 22 memberikan data yang diperlukan
untuk konstruksi profil gigi dan roda racet
dengan gigi dalam dan luar.
Urutan berikut ini dapat dipakai untuk
mengkonstruksikan profil gigi luar (lihat Tabel
22). Pertama-tama kita gambarkan lingkaran
addendum NN dan dendum atau lingkaran kaki
SS. Lingkaran NN, yang juga merupakan
lingkaran kisar, dibagi dengan kisar t menjadi
bagian yang sama besar.






Dari sembarang titik bagi tersebut kita
menggambarkan tali busur AB = a. Pada tali
busur BC kita membuat sudur 30° dari titik C.
Kemudian garis tegak lurus LM ditarik pada
bagian tengah tali busur BC sampai
berpotongan dengan sisi CK pada titik O. Dari
titik O kemudian kita gambarkan lingkaran
dengan jari-jari OC.
Titik E, yang merupakan perpotongan
lingkaran ini dengan lingkaran SS, merupakan
salah satu titik sudut titik sudut sisi (vertex)
dengan sudut 60°.




Profil gigi-dalam dikonstruksikan sebagai
berikut.
Pertama
digambarkan
lingkaran
addendum NN dan addendum atau lingkaran
kaki SS. Lingkaran NN dibagi dengan kisat t
menjadi bagian yang sama panjang. Dari
sembarang titik bagi tersebut digambarkan tali
busur AB = a. Pada tali busur BC dibuat sudut
20° dari titik C. Kemudian garis tegak lurus LM
ditarik pada bagian tengah tali busur BC sampai
berpotongan dengan sisi CK pada titik E yang
berupa titik perpotongan lingkaran ini dengan
lingkaran SS adalah vertex dengan sudut 70°.
Sumbu titik putar pengunci didapat dengan
konstruksi berikut (Gambar 110c).




Jarak antara pusat ke pusat OA (antara pusat
pengunci dan roda racet) diambil sebagai
diameter
setengah
lingkaran
yang
perpotongannya pada titik B dengan lingkaran
addendum roda akan memberikan kedudukan
gigi yang bertemu dengan pengunci dan
potongan BA akan merupakan panjang
pengunci.
Garis BA akan tegak lurus dengan jari-jari
racet OB dari persamaan geometris. Biasanya
panjang pengunci BA diambil sama dengan 2t.
Pengunci yang tidak bertemu dengan gigi akibat
bobot mereka sendiri diberi pemberat tambahan
atau pegas (Gambar 111a).




Bila muatan sedang diangkat gigi roda racet
akan bergeser di bawah pengunci dan
menimbulkan bunyi klik yang tidak diinginkan
(terutama bila poros berputar dengan kecepatan
tinggi). Bunyi tersebut dapat dihilangkan dengan
memakai pengunci yang dikenal sebagai
pengunci tanpa bunyi (noiseless), yang
beroperasi dengan menggunakan cincin gesek
(Gambar 111b). Pengunci demikian hanya
digunakan pada rem racet.
Roda racet dengan gigi-dalam dipakai hanya
pada roda rem racet. Giginya dicor pada sisidalam drum rem yang terpasang bebas pada
poros.




Satu atau dua buah pengunci dipsang pada tuas
yang diikat pada poros dan dioperasikan oleh
cincin gesek (Gambar 112). Jumlah gigi berkisar
dari z = 16 sampai 30.
Gigi pada bagian dalam roda racet jauh lebih
j auh lebih kuat dibandingkan dengan gigi pada
bagian luar. Akibatnya persamaan kekuatan
mempunyai bentuk yang berbeda :
M
zψ [σ lentur ]
Simbol yang dipakai mewakili nilai yang sama
dengan persamaan (95).




Penahan
gesek.
Dibandingkan
dengan
penahan gigi, penahan gesek mempunyai
keunggulan tertentu: beroperasi tanpa bunyi dan
tanpa guncangan. Akan tetapi pda penahan
jenis ini tekanan pada titik putar pal dan poros
lebih tinggi dibandingkan dengan penahan
bergigi. Akibatnya penggunaan terbatas dan
selalu dipakai bersamaan dengan rem.
Gambar 113 menunjukkan penahan gesek
dengan gigi-dalam penahan berbentuk baji.
Sudut bajinya bisanya diambil sebesar 2α ≈ 45°
- 50°. Koefisien gesek μ ≈ 0,1. Sudut φ adalah
15° pada nilai rata-rata.




Untuk mencegah aksi dua arah dipakai dua
buah cakar yang ditempatkan pada kedudukan
yang berlawanan pada diameter lingkaran roda
geseknya..
Gambar 112 Roda racet dengan gigi dalam
Tekanan pada titik putar pengunci adalah :`
P0 =
P
Tan φ
Di mana :
P = gaya keliling
Cakram rem harus diperkuat dengan sirip
untuk menahan beban yang ditimbulkan tekanan
pengunci.




Racet Rol. Biasanya penggunaan racet rol
secara meluas dipakai bersamaan dengan rem.
Gambar 114a menunjukkan racet rol pada
rumah yang terpisah dengan rem. Peralatan
racet semacam ini beroperasi sebagai berikut.
Poros 1 yang akan ditahan mempunyai bus
2 yang diberi alur sebagai tempat rol 3. Cincin 6
dipasang dengan pasak 5 pada badan 4. Rol 3
tidak menghalangi putaran yang berlawanan
arah dengan jarum jam bus 2 bersama dengan
poros 1. Bila poros 1 mulai berputara searah
dengan jarum jam akibat muatan (poros 1
mendukung drum yang dililiti tali pengangkat) rol
akan tertekan pada alur oleh bus 2 dan ditekan
pada cincin tetap 6.




Untuk mencegah rol jatuh ke dalam alur akibat
bobotnya sendiri dipasang pegas penahan
seperti yang ditunjukkan Gambar 114b. Gambar
115 menunjukkan berbagai desain racet rol.
Gambar 113 Penahan gesek
Gambar 114 Racet Rol
Gambar 115 Berbagai desain racet rol
Desain Racet Rol (Gambar 116). Rola yang
ditekan antara penggerak dan pengikut pada
pusat gaya normal N1 dan N2 dan daya gesek
tangesial μ1 N1 dan μ2N2 . Dengan roll yang
berada pada ketidak seimbangan gaya, resultan
R1 = R2.






Momem gaya yang ditransmisikan adalah :
M = zμN D
2
dengan :
z = jumlah rol (biasanya z = 4). Koefisien gesek
μ ≈ 0,06.
Bila μ = tan p > tan α kita dapatkan
N<
2M (N =N1 = N2)
z D tan a
3
Akan tetapi, untuk mendapatkan keandalah
yang lebih baik, gaya yang bekerja pada sebuah
rol diasumsikan sebagai :
N=





2M
(98)
zD tan a
2
Panjang rol l = N dengan p = 450 kg/cm bila
p
elemen yang beroperasi dibuat
dari baja yang bermutu tinggi dan diperkeras
dengan baik.
Tabel 23 menyenaraikan dimensi utama
racet rol dengan kekerasan Rockwell pada
permukaan operasi Rc = 58 sampai 61.
Bahan yang dipakai adalah Baja 15 dengan
perkerasan kulit (case hardered).




Gambar 116 Diagram desain racet rol
Tabel 23
Dimensi Utama Rachet Rol
Rachet rol dipilih dengan memakai rumus
berikut :
Naman = 100N 100
nK
dengan:
n = rupa yang sebenarnya
k = factor keamanan, diambil mulai 1,5
sampai 2.




REM SEPATU
Pada mesin pengangkat, rem digunakan untuk
mengatur kecepatan penurunan muatan
ataupun untuk menahan muatan agar diam.
Rem digunakan juga untuk menyerap inersia
massa yang bergerak (truk, crane, muatan,
dan
sebagainya).
Tergantung
pada
kegunaannya rem dapat diklasifikasikan
sebagai jenis penahan (parkir), jenis
penurunan atau gabungan keduanya. Rem
jenis gabungan melayani kedua fungsi
penghentian muatan dan mengatur kecepatan
penurunan.
Rem dapat dibedakan menjadi rem automatis
dan rem yang dieprasikan manual.






Jenis rem yang termasuk rem manual ialah :
rem sepatu atau blok, rem pita, rem kerucut,
rem cakram dan rem racet serta rem, dengan
gagang pengaman.
Jenis rem yang termasuk rem otomatis adalah
rem sentrifugal (untuk mengatur kecepatan) dan
rem yang digerakkan oleh bobot muatan yang
diangkat.
Rem sepatu atau blok dapat didesain dengan
sepatu luar atau dalam. Rem sepatu luar adalah
jenis rem yang umum digunakkan pada mesin
pengangkat, sedangkan rem, sepatu dalam
hanya ditujukan untuk penggunaan crane yang
dipasang pada truk.




Prinsip Operasi Rem. Untuk memahami prinsip
operasi rem sepatu marilah kita lihat diagram
rem sepatu tunggal yang ditunjukkan pada
Gambar 117.
Karena aksi satu arah sepatu tunggal
menimbulkan lenturan pada poros rem, rem
sepatu tunggal hanya dapat dipakai untuk
menahan momen gaya yang kecil pada
penggerak tangan bila diameter poros tidak
melebihi 50 mm. Tekanan yang diberikan oleh
sepatu besi cor pada roda rem haruslah
sedemikian rupa sehingga gaya gesek yang
dihasilkan pada permukaan roda mengimbangi
gaya kelilingnya.
Gambar 117 Diagram untuk rem sepatu tunggal


Gambar 118 Diagram untuk rem sepatu ganda
Rem sepatu ganda (Gambar 118) sering
digunakan pada mekanisme pengangkat,
pemindah dan pemutar crane, yang berbeda
dengan rem sepatu tunggal, rem sepatu ganda
tidak menimbulkan defleksi pada poros rem.
Penjepit dan crane yang digerakkan listrik
hampir selalu didesain dengan rem sepatu
ganda. Rem digerakkan oleh pemberat G dan
dilepaskan dengan electromagnet. Akibatnya,
pengereman yang permanent hanya bekerja bila
electromagnet dinyalakan. Biasanya rangkaian
listriknya dibuat saling mengunci antara motor




dan magnet secara otomatis menghasilkan aksi
pengereman walaupun motor berhenti secara
mendadak.
Rem sepatu ganda (Gambar 118) beroperasi
dengan prinsip kerja sebagai berikut: pemberat
G menyebabkan tangkai I bergerak kebawah
bersama dengan batang tarik 2. Batang tarik 2
akan memutar segitiga kaku 3 melalui sendi C.
Bila kita asumsikan titik A diam di tempat, titik C
bergerak ke bawah; dalam kasus ini titik B akan
berpindah ke kanan. Gerakan ini akan
ditransimisikan oleh batang tarik 4 dan tuas 6
yang akan mendorong sepatu 8 ke arah roda
rem. Bila sepatu 8 sudah tidak dapat bergerak
lagi,







titik C akan diam di tempat dan segitiga 3 akan
berotasi pada titik C tersebut. Akibatnya titik A
akan berpindah ke kiri dan akan menggerakan
sepatu 7 melalui tuas 5.
Pada desain sebenarnya dari rem yang
ditunjukkan pada Gambar 118, tuas 1 terdiri atas
dua bagian yang dihubungkan menjadi satu
dengan
menggunakan
kopling
batang
(turnbuckle) untuk menyetel rem.
Diagram lain rem sepatu ganda ditunjukkan oleh
Gambar 119
Pengoperasian rem (Gambar 119) dengan
pemberat yang dipasang pada tuas rem
mempunyai kelemahan sebagai berikut.




Setelah arus diputuskan dan pemberatnya jatuh,
pemberat ini akan bergetar bersama dengan
tangkainya, menurunkan dan menaikkan
tekanan sepatu pada roda dan akan mengubah
besarnya momen gaya pengereman. Perubahan
secara periodic pada momen gaya pengereman
ini merupakan fenomena yang tidak dikehendaki
pada mekanisme pengangkat maupun pada
mekanisme pemindah. Dalam hal ini pegas
dapat lebih diandalkan karena dapat beroperasi
lebih halus dan dapat disetel lebih tepat dengan
jangka penyetelan yang lebih luas.
Gambar 120 merupakan desain rem yang
digerakkan oleh pegas.


ELEMEN REM SEPATU
Roda Rem. Biasanya mesin pengangkat yang
digerakkan tangan didesain dengan roda dari besi
cor dan digerakkan oleh penggerak daya. Roda
yang dipakai terbuat dari baja cor dengan tingkat
diatas 55 j I Group III, atau baja tempa dengan
tingkat diatas 45 sesuai dengan standar soviet
dengan kekerasan minimum permukaan gesek
280 Bhn. Mekanisme penggerak truk dapat
digunakan roda rem dari besi cor. Roda rem harus
seimbang secara dinamis. Lebar roda boleh
melebihi lebar sepatu sebesar 5 – 10 mm.




Roda rem harus diberi sirip untuk pelepasan kalor
yang lebih baik dan dilengkapi dengan lubang
diantara siripnya untuk mendapatkan sirkulasi udara
yang lebih baik dan untuk melepaskan kalor lebih
efektif ke atmosfer. Bila rem dipasang pada kopling
fleksibel, rem harus dipasang pada bagian yang
berhubungan dengan mekanisme penggerak.
Sepatu rem. Sepatu rem dibuat dari kayu mapel
atau poplar dipasang pada tuas dengan baut. Untuk
mekanisme pembuat sepatu dibuat dari besi cor
(dengan cetakan permanen, tingkat CH 12 – 28)
dan diberikan lapisan rem khusus (Gambar 121 a).












Lapisan tersebut dapat diikat demgan paku keeling
(Gambar 121 b). Ataupun dengan sekrup yang
terbenam.
Lapisan rem. Lapisan rem harus memenuhi syarat
sebagai berikut :
Mempuyai koefisien yang besar;
Mampu bekerja dengan baik sampai temperatur
300°C;
Dapat menahan keausan pada kecepatan; Tekanan
satuan; dan temperature tertinggi;
Mudah dibuat;
Murah.






Saat ini, bahan yang paling banyak dipakai ialah
pita canai.
Pita canai dibuat dengan mesin canai dari asbes
non tekstil yang murah dengan karet dan
ditambahkan belerang untuk proses vulkanisir. Pita
canai dibuat dengan ketebalan sampai 8 mm dan
lebar sampai 100 mm. Pita canai sangat elastis dan
dapat dibentuk dengan mudah. Mempunyai
koefisien gesek yang stabil dan tinggi antara 0,42
sampai 0,53 dan dapat menahan temperature
sampai 220°C.
Gambar 121 Pengikatan lapisan rem ke sepatu rem
dengan paku keeling
BABVIII
PERALATAN
PENGANGKAT
Mekanisme pengangkat dibagi menjadi tiga kelompok menurut
penggeraknya:
1. penggerak tangan
2. penggerak daya tersendiri (biasanya elektris)
3. satu motor penggerak sekutu untuk beberapa mekanisme
MEKANISME PENGANGKAT PENGGERAK TANGAN
Gerakan ditranmisikan dari gagang engkol tangan l melalui
tiga pasang roda gigi lurus ke drum yang dipasang pada poros IV
dengan jari-jari R tanpa tali pengangkat digulung pada saat beban q
diangkat. Seperti terlihat pada gambar 7.1
Gambar 7.1 diagram mekanisme pengangkat a- penggerak
tangan b- penggerak electrik
Efisiensi mekanisme adalah perbandingan antara kerja pengakat yang digunakan
dengan semua yang dilakukan. Kerja yang digunakan didapat dari persamaan:
Ao = Qh……………………………………………(1)
Dengan :
Q = bobot beban (kg)
H = jarak yang ditempuh oleh beban(m)
A = Ks……………………………………………………(2)

Dengan:
K = kerja yang dihasilkan oleh operator pada gagang engkol
s = lintasan gaya K yang bersesuai dengan lintasan h
maka, efisiensi pada mekanisme ini ialah
dengan :
v = kecepatan pengangkat
c = kecepatan pada titik kerja gaya penggerak (c = 30 sampai 45m/menit)
Ko = kerja ideal pada gagang engklol dengan mengabaikan kerugian akibat
gesekan
W = tahanan total akibat gesekan pada mekanisme
Kerja yang dilakukan operator pada saat gagang engkol ketika menaikkan
muatan ialah
kerja ini tidak boleh lebih besar dari nilai yang diberikan pada tabel 8.1
tabel 8.1
Kerja Maksimum Setiap Orang, Dalam kg

PERIODE
OPERASI
Operasi
terusmenerus
(continue)…

Pada
gagang
kemudi

Pada
rantai
penarik

Pada
pedal
katrol

Pada
batang
katrol

12

20

25

18

Operasi tidak 25
lebih dari 5
menit…

40

35

20
Efisiensi total mekanisme (untuk diagram gambar 8.1a) ialah:
3

η = η
η
η
puli
drum roda gigi
η

puli

η
drum

= efisiensi puli
= efisiensi drum

I=

η
roda gigi

= efisiensi satu pasangan roda gigi

perbandingan transmisi total
mekanisme ditentukan dengan
perbandingan
berikut

QR
momen _ beban
MQ
momen _ gaya.η = Mk = ηKa

Dengan puli yang ada,bobot muatan Q
yang harus dilawan oleh tarikan tali
(Gambar 81a). kecepatan pengangkatan
muatan akan menjadi:

Q
s=
2

v=

ηks
Q
MEKANISME PENGANGKATAN DENGAN
PENGGERAK ELECTRIK INDIVIDU
Daya ditranmisikan dari motor electric (Gambar8.1b) (poros i)
melalaui tiga pasangan roda gigi ke drum (poros IV) tempat tali
penggulung.
Pada kecepatan angkat yang konstan (v= konst) (gerakan yang
seragam dan tunak) daya yang dihasilkan oleh motor electric akan
menjadi

dengan:

M’ =

N =Qv hp
75η

v = kecepatan angkat muatan, dalam m/det
motor pada poros motor ialah
71620

N
kg −
cm
nm

Perbandingan transmisi antara motor dan drum ialah
i=

kec.motor ηmotor
=
kec.drum ηdrum
kecepatan tali pada drum adalah
Vdrum
= Vi puli
Dengan Ipuli
= perbandingan transmisi puli (pada system puli
untuk mendapatkan bati gaya ipuli > i).

Kecepatan drum dalam rpm ialah
N drum

=

Dengan:

vdrum
rpm
π
D

vdrum

kecepatan tali pada drum, dalam m/men

D

diameter drum, dalam m
MEKANISME PENGANGKAT YANG BEROPERASI DARI SATU MOTOR
PENGERAK SEKUTU UNTUK BEBERAPA MEKANISME
Mekanisma ini didesain untuk crane yang dipasang pad truk atau traktor,
kereta berel dan crane rantai (crawler crane) juga untuk crane
Derek(derrick crane) dan Derek cengkram (grap wince).
Mesin uap atau motor baker adalah pengerak utam ayang dipakai untuk
semua pengangkat ini kecuali pada Derek cekram.
Diagram crane yang dipasang pada mobil yang dibuat oleh Odessa Works yang
ditunjukan pada Gambar 8.2. dari mesin gerakan ditramisikan pada mekanisme
crane pengangkat, dan pemutar.dari kotak pengatur daya 12 gerakan
ditramisikan melalui kotak pembalik 1 keporos 3 melalui poros garden 2.
melalui gigi reduksi 4. poros 3menggerakan poros transmisi utama 7 yang dari
sini digerakan ditranmiosikan melalui kopling dan pengerak cacing 5 dan 6
kedrum 8 (untuyk mendongkrak tiang crane) atau drum 9 (untuk
pengangkatan). Disamping itu kopling dapat 10 dapat mentranmisikan gerakan
kepenggerak cacing 11 untuk penggerakan pengangkat. Daya poros pengerakan
f untuk
Nf =

Qv
75η

Pengangkat ialah dengan:
efisiensi mekanisme antara poros drum I dan poros f

ηmomen gaya pada poros pengerak ialah
Mf = 71.620

Nf
nf

dan pertandingan tranmisinya ialah
nf
i =
ni

Gambar 8.2 diagram mekanisme crane yang dipasang pada crane
BAB VII
PENGGERAK PERALATAN PENGANGKAT

7.1 PENGGERAK TANGAN DAN TUAS PENGANGKAT
7.1.1 Komponen utama dari penggerak tangan ialah gagang engkol, dan roda
penggerak dengan rantai penggeraknya.
Kapasitas angkat peralatan pengangkat yang digerakan dengan tangan tidak
dapat melebihi 15000 kg.
7.1.1.1 Gagang engkol
Gagang engkol penggerak tangan dapat pada dongkrak, batang gigi dan pinion
dan lokomotif, penjepit dinding dan ereksi.
Ukuran utama tangan gagang engkol diberikan pada table 7.1
Usaha yang dapat diberi pada gagang engkol dapat dilihat pada table 7.2
Table 7.1
Dimensi utama gagang engkol pengerak tangan

Jumlah
Operator

Ukuran, mm
Diameter
gagang
busing

Panjang Panjang
busing l Penjepit l

Panjang
lengan
gagang l

1

(1,8-2,0)
d

(1-1,5) d

250-350

300- 400

2

(1,8-2,0)
d

(1-1,5) d

400-500

300-400
Tabel 7.2
Kerja maksimum setiap orang, dalam kg

Periode
operasi

Pada
gagang
kemudi

Pada
rantai
penarik

Pada
pedal
katrol

Pada
batang
katrol

Operasi terus
menerus
(continue)

12

20

25

18

Operasi tidak
lebih dari 5
menit

25

40

35

20
7.1.1.2 Racet
Racet berfungsi seperti penggerak tangan dongkrak ulir. Racet lebih
ringan dari gagang engkol dan sangat mudah mengoperasikannya.
Gambar 7.2 menunjukan sebuah Racet

Gambar 7.2 Racet

l- roda racet, 2-pena pengunci, 3-kepala racet, 4-pegas kembali pengunci
ketempatnya, 5-pengunci, 6-pegas pengencang skrup
Gagangnya dapat diperpanjang dengan sebatang pipa dapat digerakan
kedepan dan kebelakang pesamaan dengan kunci penahan dengan sudut yang
kecil. Pada gerak kebelakang pengunci tergelincir di atas gigi roda racet
yang dihubungkan ke poros penggeraknya. Untuk gerak baliknya (ke depan)
pengunci bertaut dengan gigi roda racet sehingga poros penggerak berputar
sesuai dengan sudut gerak tuas penggerak. Untuk menggerakan poros
penggerak dengan arah yang berlawanan, racet dapat dengan mudah dibalik
dengan poros rangkaian persegi racet yang dapat bergerak dua arah dengan
pengunci yang berpindah banyak dipakai pada sekarang ini. Panjang tuas
racet (bersama dengan pipa memanjang tersebut) berkisar antara 800
sampai 1000 mm operator dapat menghasilkan daya sampai 30 Kg.

7.2 PENGGERAK DAYA
Penggerak electric merupakan pilihan utama diantara
beberapa jenis penggerak daya pada saat ini. Crane yang digerakan
oleh tenaga electric di desain untuk mengangkat beban sampai 2000
ton.
7.2.1 PENGGERAK HIDROLIK
Pada umumnya penggerak hidrolic digunakan untuk mengangkat beban
berat 200-600 ton pada jarak angkatan terkecil 100-300 mm.
7.2.2 PENGGERAK PNEUMATIK
Tenaga pneumatic banyak dipakai pada katrol angin gantung kecil dan
blok puli pneumatic yang beroperasi pada daerah rawan dadakan dimana
penggerak listrik tidak dapat digunakan.
7.2.3 PENGGERAK UAP
Penggerak uap dipakai terutama pada crane dalam jalan lokomotif
untuk pelayanan umum pada rel Bantu di station disekitar pabrik dan
galangan kapal.
7.2.4 PENGGERAK ELECTRIK
Arus listrik yang digunakan dapat berupa arus searah 110, 220, 440
dan 50 Volt atau arus 3 fase yang digunakan dengan tegangan 380, 500 dan
550 Volt ( umumnya dengan frekuensi 50 Hz ).
GEAR PENGGERAK
Mekanisme Penggerak Dengan Rel




Gear penggerak dapat didefinisikan ke dalam
mekanisme penggerak untuk troli dan crane
yang bergerak pada rel dan mekanisme untuk
crane atau troli tanpa rel dengan roda karet
dan roda rantai.
Mekanisme penggerak troli crane dapat
dikelompokkan lagi menjadi tiga kelompok
yaitu yang dioperasikan dengan tangan,
dengan penggerak daya tersendiri (biasanya
penggerak listrik) dan penggerak daya dengan
tali.


Elemen-elemen berikut digunakan pada
mekanisme penggerak troli tanpa tergantung
pada desainnya :
 Motor atau roda penggerak pada penggerak
tangan.
 Transmisi antara poros penggerak dan poros
yang digerakkan pada roda troli.
 Roda yang berjalan pada rel.
 Rangka (badan) troli yang ditempati oleh
mekanisme penggerak dan pengangkat.





Troli Tangan
Prinsip kerja dari troli ini adalah gerakan
ditransmisikan dari roda penggerak
melalui dua pasang roda gigi ke roda
penggerak.
Dalam menentukan beban pada roda
untuk troli dengan empat buah roda
dibebani beban secara simetris dan
distribusi bebannya merata pada keempat
rodanya, yang dikenakan pada rodanya
ialah dengan
Q – bobot-beban
G0 – bobot troli


Bila beban digantung secara asimetris pada troli
dengan dua pengangkat maka gaya yang
dikenakan pada rodanya kira-kira sama dengan
G0
Q
b2
Pmaks. = A ≈
+
4
2
b
G0
Q
b1
Pmin. = B ≈
+
4
2
b
Troli Crane dengan Penggerak Elektrik Terpisah
 Prinsip kerja dari troli ini yaitu gerakan
ditransmisikan dari motor elektrik melalui tiga
pasang roda gigi lurus ke roda gigi penggerak.
Pada gerakan yang tunak daya dihasilkan oleh
motor elektrik adalah
Wv
N =
hp
75η
Dengan :
v – kecepatan jalan, dalam m/detik
η – efisiensi total mekanisme
W - tahanan gerak, dalam kg




Perbandingan transmisi :
kecepatan motor
i =
=
kecepatan roda penggerak
Kecepatan roda penggerak adalah
v
nt-w =
πD
dengan
v – kecepatan, dalam m/det
D – diameter roda

nmot
nt-w
Mekanisme Pejalan Crane Gantri dan
Crane Jalan


Crane Jalan yang digerakkan Tangan
Prinsip kerja dari crane ini yaitu gerakan
ditransmisikan dari roda operasi yang dipasang
pada poros transmisi utama melalui dua
pasangan roda gigi pararel menuju dua buah
roda pejalan pada crane.
Gaya maksimum yang bekerja pada roda
penggerak crane beroda empat :
G
Q + G0
L–e
Pmaks ≈
+
4
2
L
Crane Gantri (portal)
 Mekanisme penggerak crane ini dilengkapi dua
poros vertical dengan pengerak roda gigi
kerucut untuk menggerakkan roda penggerak
yang dipasang pada kaki penyangga crane.
Sedangkan crae semigantri didesain hanya
dengan satu batang poros vertical.

Crane Kantilever
Gaya maksimum yang bekerja pada roda
penggerak vertical adalah
maks.
V
Q + G0 + G


P vert

≈

=
2

Dengan :
V - dorongan vertical
Q – bobot muatan
G – bobot crane tanpa troli
G0 – bobot troli

2
Rel Gerak
 Menurut kegunaannya rel untuk crane dapat
diklasifikasikan :








Rel untuk untuk troli crane jalan overhead dan rel
untuk mekanisme pejalan crane yang digerakkan oleh
tangan (batang bentang). Rel tersebut terbuat dari baja
reta dengan sudut yang dibulatkan.
Rel khusus untuk crane jalan overhead yang dibuat
dengan dasar yang lebar dan pendek. Rel ini
mempunyai momen inersia yang relative lebih besar.
Rel untuk crane monorel, crane kereta rel, gantri dan
crane jenis lainnya.
Monorel untuk troli dan katrol jalan.
Roda penggerak


Roda penggerak dibagi menjadi tiga :






Roda penggerak untuk monorel, yaitu roda yang
berjalan pada flens di atas batang –I dipakai hanya
untuk troli yang digerakkan oleh tangan.
Roda pejalan untuk rel baja rata dan untuk rel crane
dan rel kereta, roda untuk crane yang digerakkan
penggerak daya dibuat dari baja cor atau roda baja
tempa dengan suaian paksa.
Roda sorong (roda rel tanpa flens), roda sorong ini
digunakan bila roda tersebut tidak mengalami beban
lateral sama sekali. Roda sorong dipakai pada crane
monorel dan kantilever, crane jalan dengan lengan.
Mekanisme Rantai








Mekanisme rantai digunakan pada crane putar dan
berbagai jenis pemuat.
Crane dengan rantai dibelokkan arahnya dengan
mengerem putaran salah satu rantai-rantai
geraknya, misalnya dengan mengurangi kecepatan
atau menghentikan satu rantainya.
Karena gaya adhesive rantai yang besar,
mekanisme pejalan rantai dapat mengatasi
gradient yang lebih besardibandingkan dengan
transportasi melalui rel
Tekanan satuan aman pada tanah tergantung pada
sifat dan kondisinya yang berbeda-beda, untuk
crane rantai mulai 0,8 sampai 15 kg/cm2.
Mekanisme dengan Ban Karet




Desain ban karet yang paling sering digunakan
adalah ban karet mati yang dipasang pada roda.
Tahanan yang ditimbulkan pada sewaktu crane
berban karet berjalan (tanpa memperhitungkan
tahanan angin) dapat menggunakan rumus :
W = G (cos αω + sin α)
Dengan :
G – bobot total crane
w – koefisien tahanan gerak
α – gradien permukaan medan, tanda plus
untuk
mendaki dan tanda minus untuk
menurun
BAB 10
PERALATAN PEMUTAR LENGAN, DAN PENDONGAK
1. MEKANISME PEMUTAR
Tergantung pada desain komponen pendukung mekanisme pemutar,
crane dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama berikut.
Suprastruktur crane berputar bersama dengan pilar tiang pada
bantalannya, biasanya terpasang pada pondasi ataupun dipasang pada
kolom bangunan.
Suprastruktur crane berputar pada pilar yang dipasang mati pada
pondasi atau pada truk crane.
Crane berputar pada poros pemutar pusat yang dipasang mati pada
komponen tak berputar; meja putar crane ditumpu oleh sejumlah rol
yang berputar pada rel yang berbentuk lingkaran dan dipasang pada
pondasi ataupun pada truk crane.
Mekanisme pemutar crane dengan pilar berputar. Gambar 198
menunjukkan crane dengan pilar kolom berputar. Pendukung
bagian atas, yang diikat pada kolom bangunan, diberi bantalan
radial dan pendukung bagian bawah, dengan dipasang pada
pondasi, diberi bantalan radial dan dorong. Crane seperti ini
biasanya diputar dengan tangan, dengan mendorong muatan
yang digantungkan pada crane tersebut. Akan tetapi, muatan
mulai dari 5 ton ke atas memerlukan motor elektrik untuk
memutarnya.
Pendukung pilar. Pena putar pilar atas dan bawah biasanya
diikat pada pemegangnya. Salah satu desain pena putar
bawahditunjukkan oleh gambar 199a. bantalan ini mengalami
lenturan akibat gaya horisontal H1 tekanan oleh gaya vertikal V.
Momen lentur pada penampang kritisnya ialah
Momen lentur pada bagian bawah bahu ialah
M1 = H1y1
M1 = H1y
Dengan: 1
H1 =

h

(Qa + Ge);

V=Q+G

(Q-bobot muatan; G-bobot crane)
Resultan tegangannya ialah

±H 1 y1

π

σΣ = ± σlentur - σcom =

32

d

2
1

−

V

π

2
1

d
(240)
4

≤[σ ]
com

Pelat bawah harus diperiksa terhadap tekanan satuan antara bantalan
dengan pelat (tekanan pada dinding lubang akibat gaya H1 dan
tekanan vertikal antara bahu bantalan dengan pelatakibat gaya V)
Resistensi terhadap putaran. Momen resistensi akibat gaya gesek relatif
2
pada sumbu putar ialah
3

M = Wa = Vµ1 r + H1µ2r + H1µ3r1

(241)

Di sini M = M1 + M2 + M3 (M1-momen) resistensi pada bantalan
tekan/aksial; M2dan M3 – momen dari resistensi pada bantalan bagian
baweah dan atas. Rumus tersebut mencangkup M1 = Vµ1 r untuk
d
d
  
bantalan dorong tak beralur2pada bagian atas. Pada bantalan dorong
−
  
2
  
dengan permukaan tekan d  (Gambar 199a) momen resistensi
cincin  
d

−

2
2

 
akibat gesekan ialah sebesar   
3

3

0

2

2

0

M1 = V µ1

(242)
dan pada bantalan bertingkat yang memakai bola sebagai
permukaangeseknya ialah
M1 = V µ0
(243)
Dalam rumus – rumus tersebut:
W- tahanan putar pada ujung tiang lengan crane
a- jangkauan tiang lengan crane
R = d/2 --- jari-jari titik putar
µ1- koefisien gesekan pada bantalan dorong
Q=Q+G
- Gaya vertikal akibat bobot muatan pada Crane
d- diameterbantalan bawah
d0 - diameter dalam bantalan dorong berbentuk
cincin (atau
diameter alur)
µ1 dan µ2- koefisien gesek pada bantalan radial bawah dan atas
r1- jari-jari bantalan bagian atas
µ0- koefisien gesek pada bantalan jenis bola menurut diamater
bantalannya.
Rumus (241) mengabaikan tahanan terhadap putaran Ww akibat
tekanan angin. Tahanan ini harus diperhitungkan untuk crane yang akan
W
P =
beroperasi diruang terbuka. sin α
Penggerak mekanisme pemutar. Pada pemutar tangan, usaha yang
dikerjakan oleh operator untuk memutar crane ialah
Dengan :
α - kemiringan tali penarik dari bidabg vertikal dalam memutar (α biasanya
diambil sampai 450)
W - resistensi terhadap pemutaran yang bekerja pada ujung tiang lengan crane.
Dengan penggerak daya danpada kecepatan tunak, daya yang dihasilkan motor
ialah Wv
hp
75
η

N=

Dengan:
η

V - kecepatan pada ujung tiang lengan crane, dalam m/dt
- efisiensi penggerak
nmot
60v
i =
; ncr = dengan struktur crane yang
perbandingan transmisi antara motor π
ncr
2 a
berputar ialah

dengan:
nmot –rpm motor
Mekanisme pemutarcrane dengan pilar yang terpasang mati marilah kita
periksa contoh crane monorel (gambar 186). Pada crane jenis ini, pilar
tetap 6 dipasang pada truk; tiang lengan crane jenis bertumpu pada pilar
yang menahan semua gaya vertikal dan horizontal yangakan timbul kitika
pengoperasian crane dan meneruskan gaya-gaya tersebut kerel dan
pondasinya melalui truk bawah
Bus bantalan pilar tas diberi bantalan radial dan pendorong yang dipasang
pada gilder khusus pada rangka crane. Gaya horizontal bagian bawah
ditransmisilkan dari bantalan rol radial ke tonjolan silindris khusus pada pilar
yang dipasangpada truk.
Pilar creane (gambar 201) pilardibuat daribaja tempa, yang berbentuk konis.
Pada bagian atasnya diberikan bus silindris dan pada bagian bawah dengan
ujung tirus yang akan dipasang pada pondasi plat (crane putar diam)
ataupada rangka truk (misalnya pada crane monorel). Pilar akan mengalami
lenturan akibat momen Hfh dan tekanan akibatgaya vertikal v. gayav dan Hf
dapat ditentukan dengan rumus (205) dan (206). Penampang kritis pilar
tersebut terdapat pada ujung yanmg diikat. Panjang pilar antara bus
bantalan atas dan tonjolan silindris bawah untuk lenutran karena gaya tekan
v sangatkecil nilainya, sehingga praktis dapat diabaikan.
Mmaks
qa + 1L1 −
G
GgLg
π 3 cm3
d
W =
=
=
σ
lentur
σ
lentur
32

….

(244)
Dengan :
q-bobotmuatan
a-jangkauan crane
G1-bobot struktur putar crane
L1-lengan resultante bobot G1
Gg-pengimbang
Ls-lengan pengimbang relatif terhadap sumbu putar.
Resultante tegangan pada bus bantalan atas (gambar 201) ialah

σ =σ
± lentur
Σ

H f y
q + 1 + g
G
g
− com =
σ
±
−
<σ
[ com
π3
d
π2
d
32
4

]

dengan d =2r
Dari bentuk pilar secara titik kerja gaya horizontal atas dan gaya
horizontal bawah Hf akan serupa grafik pangkat tiga, yang harus digambarkan
sebelum mulai mendesain pilar.
Gambar202 menunjukan diagram momen dan tegangan untuk
memeriksa perhitungan penampang pilar. Metode berikut ini dilakukan untuk
menentukan defleksi maksimum pilar secara grafis pada titik kerja gaya
horizontal atas Hf . dalam menentukan defleksiakibat penampang pilar yang
berbeda-beda, pertama-tama M/I diagram harus dibuat, dengan beban khayal M/I
ini diberikan pada batang diikat mati. Daerah diagram dibagi menjadibeberapa
bagian F1-F13 dengan beban yang dipusatkan pda titik beratnya. Setiap daerah
diagram dianggap sebagai gaya khayal dan gariselastis digambarkan sebagai
kurva yang mulus. Defleksi maksimum akan terjadi pada titik potong garis terakhir
Tegangan
tekan
mempunyai
nilai
yang
lebih
besar.
Gambar 203c ˚menunjukan distribusi tegangan resultante Σ relatif
terhadap sumbu NN yang digambarkan melalui titik potong arah tegangan
v
dan
kmasing
masing.
Trunion batang lintang diperiksa terhadap defleksi akibat setengah
dari resultan tekanan P = Hf + V dan tekanan satuannya. Gambar204
menunjukan batang lintang pilar tetap yang terpasang pada bantalan rol.
Bantalan radial bawah. Crane kecil menggunakan bantalan rol dengan
sebuah rol yang dipasang pada sisi tiang lengan. Crane besar diberi dua buah
bantalan rol di bagian depan.Bila memakai pengimbang diberi dua pasang rol
di depan dan dibelakang (gambar 205 ) yang dipasang pada kotak khusus pada
ujung bawah tiang lengan crane. Bila kita menandai Hf untuk tekanan
bantalan horizontal [rumus ( 206 )] dan 2 α sudut antara dua buah rol
bantalan (biasanya sama dengan 600) maka gaya yang dikerahkan setiap rol
pada pilar adalah :
H
N =

f

2 cos α
Tergantung pada beban yang ditumpunya, rol terbuat dari baja ataupun besi cor
dengan ukuran yang sekecil mungkin dan harus mempunyai permukaan yang
cembung. Rol harus dapat berputar dengan bebas pada pena yang diikat pada kotak
oleh pemegang. Diameter rol yang diperoleh secara percobaan ialah D2 = ( 2,5
R
2 r −
sampai= ) d2,Vdengan d2 r + d2 diameter pena rol. + Nk R +
3
dengan µr + NµxR r Pada crane putar untuk
M
Wa = µ
H
2
2
3 r −
R
r
pelayanan berat dengan pilar kisi pendukung bagian bawah didesaian R
dengan enam
buah rol. Tahanan terhadap perputaran. Momen resistensi akibat gaya gesek relatif
Dengan :
pada sumbu perputaran dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut ;
3

1

2

0
2
0

2

f

2

3

1

2

1

2

2

µ1, µ2 dan µ3: Masing – masing koefisien gesek bantalan dorong,bantlan
bus atas dan pada pena bantalan rol bawah
k: Koefisien gesek gelinding padabantalan rol bawah
W: Tahanan terhadap putar yang bekerja pada ujung tiang lengan
a: Jangkauan tiang lengan.
Peralatan
Pemutar
Crane
Dengan
Meja
Putar
Diagram crane dengan meja putar ditunjukkan pada gambar 208.
Pada crane ini berat muatan ditransmisikan pada struktur putar crane melalui
bantalan rol ( perputaran ) pada jalur lingkar yang dipasang padapondasi atau
truk crane. Pada sumbu putar terdapat pilar pusat atau titik pusat yang
dipasang pada bagian crane yang diam. Apabila crane yang bekerja titik putar
pusat ini akan mernahan kedua gaya horizontal dan vertikal.
Tahanan terhadap perputaran. Kasus pertama. Titik pusat grafitasi
struktur putar crane (termasuk muatan),berada diluar lingkaran bantalan
(jalur lingkar). Di sini beban bekerja pada rol depan dan titik putar pusat (titik
putar
tersebut
mngalami
penarikan).
Momen tahanan akibat gaya gesek relatif pada suhu perputaran ialah
M =Wa =Ppµ
1

2 r 3 −r03
 d
 R
+( P2 +P3 )µ +k  ' s +M 0
β
3 r 2 −r02
R
 2

dengan :
W
= tahanan terhadap putaran ujung lengan tiang
a
= jangkauan tiang lengan
Pp
= gaya reaksi vertikal pada pusat putaran
µ1
= koefisien gesek pada bantalan dorong pusat puteran
r dan r0 = diameter luar dan dalam bantuan dorong pusat putaran
P2 dan P1= gaya-gaya yang bekerja pada rol perputaran depan
µ
= koefisien gesek luncur pada bus bantalan rol perputaran
d
= diameter bus bantalan pada rol perputaran
K
R
Rs

= koefisien gesek gelinding bantalan rol perputran
= jari-jari rol perputaran
= jari-jari jalur lingkar
β = faktor yang memperhitungkan tambahan akibat
gesekan pada nap (untuk rol)
atau akibat luncuran lateral rol pada jalur (untuk rol silindris),
diambil sama pusat putaran Pp dan gaya yang dikerahkan pada
Reaksi pada dengan 1,2-1,3.
rol
M0 perputaran P2 gesek tambahan mengabaikan tekanan angin)
= momen dan P3 (dengan yang didapat dengan
dapat ditentukan dengan rumus :
rumus (206).
1
Pp =
(Qa + 1l1 − 8 i8 ) −Q + 1 + 8
G
G
(
G
G
R2 cos β

1
P = 3 =
P
(Qa + 1l1 − 8 i8 )
G
G
2
2 R s cos β
Di sini :
Q
G1
G8

= setengah sudut antara dua rol yang berurutan
= bobot muatan
= bobot struktur putar
= bobot pengimbang, yang lainnya seperti pada gambar 208

Dalam kasus ini pusat putaran akan mengalami tarikan.
Penampang kritis terdapat pada diameter teras ulir pada pusat
putaran. Mur atas dan bawah pada pusat putaran harus
dilengkapi dengan alat pengunci untuk mencegah terlepasnya
mur tersebut. Biasanya jenis ulir ialah jenis ulir gergaji.
Kasus kedua. Titik pusat gravitasi keseluruhan sistem yang
berputar berada di dalam lingkaran bantalan. Di sini beban
diteruskan ke semua rol. Pusat putar tidak mengalami gaya
vertikal. Momen tahanan terhadap perputaran akibat gaya gesek
adalah
 d
M = Q + 1 + 8 )
(
G
G
µ +  Rs + 0 
k 
β
M 
2
R

 

Kasus ketiga. Titik pusat gravitasi sistem secara keseluruhan berada di dalam lingkaran
bantalan. Beban ditahan oleh rol di dalam sangkar (gambar 209) yang disusun diantara
dua cincin, yang satu diam dan yang lain dipasang pada struktur putar crane. Pusat
putar titik mengalami gaya vertikal dam momen tahanan terhadap perputaran akibat
gaya gesek adalah

M =Q + 1
(
G

Rs
+ 8 )k
G
R

β M
'+

0

Menentukan momen gesek tambahan M0 di samping momen gesek
di atas, pada ketiga kasus terlibat juga momen gesek tambahan
yang terjadi pada bantalan radial pusat putar. Momen gesek ini
dihasilkan akibat gaya yang ditimbulkan pada puat putar oleh gigi
terakhir penggerak planet mekanisme pemutar dan akibat yang
ditimbulkan bentuk rol struktur putar crane yang tirus tersebut
Cincin gigi berukuran besar pada penggerak planet ini diikat pada
bagian crane yang diam. Roda gigi planet akan berputar
mengelilingi cincin gigi dan memutar crane melalui bantalan
porosnya karena bantalan ini diikat pada meja putar.
Penggerak planet dapat didesain dengan cincin gigi luar maupun dalam. (Gambar
210a).
Pada cincin gigi dalam, gaya horisontal pada bantalan roda gigi penggerak dan pada
pusat putar adalah

MΣ
Ppt =
……………
………… (275)
R−
r
pada cincin gigi luar.

MΣ
Ppt =
…………… ( 258)
……………
R+
r
Dengan:
MΣ – total tahanan momen terhadap perputaran( untuk gerakan yang
dimaksudkan )
Beban yang tak seragam padarol perputaran tirus akan
mnengasilkan gaya horizontal tambahan yang bekerja pada
pusat putar. Marilah kita tandai Pmaks sebagai gaya
maksimum pada satubuah rol tirus pada sisi muatan dan
αsebagai
sudutke
tirusan
rol
H 1 = maks tan
P

σ

(gambar 210b), Maka gaya ini akan menghasilkan komponen
2
horizontal akibat ketirusan rol sebesar
Tekanan angin hanya dapat diperhitungkan untuk dua rol pada desain

dengan empat buah rol (pada kasus yang paling buruk akibatnya
untukl gaya yang bekerja pada rol) komponen horizontal H’ dan H”
kedua rol lainya ditentukan dengan mengabaikan tekanan angin. Maka,
gaya horizontal yang bekerja pada pusat putar akibat ketirusan rol,
akan sama dengan selisih antara resultan gaya yang bekerja pada
pasangan rol yang berlawanan letaknya:
Ptap = [( H1 + H’ ) – ( H2 + H” )] cos β
Atau
Ptap = [( Pmaks +P’ ) - ( Pmin + P” )] tan
… (259)
Dengan:
Pmaks dan Pmin – beban maksimum pada rol bagian depan dan beban minimum pada
rol
bagianbelakangdengan memperhitungkan tekanan angin yang
ditentukan
oleh
rumus
(236)
dan
(264)
P’ dan P”– beban pada rol depan dan belakan dengan mengabaikan tekanan angin
Α
–
sudut
ketirusan
roler
Β
– setengah sudut antara dua rol yang berdekatan
Maka penambahan momen gesek pada pusat putar akan menjadi
Mo = ( Ppt + Ptap ) µ2 r2
…… .(260)
Dengan

μ2 – koefisien gesek pada bantalan radial pusat putar

r2 – jari-jari busbantalan titik putar
Momen resitansi terhadap perputaran total (untuk gerakan tunak) adalh jumlah
momen akibat gaya gesek dan momen resistansi terhadap perputaran akibat
angin Mw.
MΣ = M + Mw
…………(261)
Momen akibat tekanan angin dapat ditentukan dengan rumus
Mw = Pw Smuatan a + Pw Scrl1 -PwScreg
…..(262)
Dengan

Pw = tekanan angin, dalam kg/m2

Smuatan Scr,,Scw = luas bidang yang mengalami tekanan angin pada muatan,
pada struktur putar crane dan pada pengimbang dalam M2
2. Peralatan perentang dan pendongak












Mekanisme untuk mengubah jangkauan crane dapat dikelompokkan
ke dalam dua kelompok :
mekanisme perentang yang mengubah jangkauna dngan troli yang
bergerak pada girder yang horizontal ataupun miring
mekanisme pendongak yang menaikkan atau menurunkan
tianglengan (boom)
troli dapat digerakkan dengan tenaga daya ataupun dengan tangan
dengan memakai penggerak tali.
Mekanisme perentang. Crane putar rentang dengan jangkauan
yang bervariasi ditunjukan pada gambar 214. troli a membawa tali
atau rantai b yang tidak berujung yang digerakan roda penggerak tali
c atau dengan drum (gaya gesek) ataupun dengan spoket rantai
(dengan pertemuan positif). Roda puli atau spoket diputar oleh roda
operasi d melalui roda gigi dari motor listik terpisah. Tali pengangakat
emembelit roda pulu f pada troli dan roda puli gerak h pada rumah
kait. Salah satu ujung tali pengangkat diikat pada ujung luar (g) tiang
lengan dan ujung lainnya dililitkan pada drum pengangkat.
Pengangkat merupakan unit yang berdiri sendiri dan dapat tetap
mengangkat beban walaupun troli bergerak ataupun diam.
W = W1 + W2
Dengan
W1 dan W2 – tahanan pada roda gerak dan pada roda puli tali pengangkat


(272)
:

Tahanan akibat roda gerak troli adalah
µ 2 .............................................(273)
 d +k 
W1 =Q + + 0 )β
(
q
G


D



Dengan :
 Q
= bobot muatan
 q
= bobot takel pendukung muatan
 Go = bobot troli ( tidak termasuk bobot takel pendukung muatan )
 Β
= koefisien untuk memperhitungkan gesekan pada flens roda gerak
β = 1,2 sampai 1,3 untuk bantalan luncur dan β = 1,8 untuk bantalan
rol
 µ
=koefisien gesekpada bantalan roda
 d
=diameter garda roda
 k
= koefisien gesek pada gelinding roda
 D
= diameter roda
Tahanan pada roda puli tali pengangkat (ketika troli yang dibebani bergerak, roda puli
berputar) adalah W2 = Son - Soff
(274)









Gambar 215a menunjukan diagram roda puli untuk tali
pengangkat. Bila kita menganggap Soff = , maka tarikan pada
berbagai titk pada tali akan menjadi:
S2 = Soff ε; S3 = S2 ε ; = Sg ε
ε = koefisien roda puli
Tarikan maksimum tali atau rantai untuk memindahkan toil
adalah jumlah yang diakibatkan gerak troli W, tarikan tali S akibat
terdefleksinya tali tersebut dan tahanan roda puli penggerak dan
penuntun.
Tarikan tali aatau rantai f akibat bobot dan defleksinya sendiri f
dapat ditentukan dari keaedaan kesetimbangan momen
(Gambar 215b):
Sf

Maka

= x
qr

x
2

qr x 2
S =
2f

dengan:





qr
= bobbot tali atau rantai permeter panjangnya
x
= setengah panjang atau rantai yang terdefleksi (nilai maksimum
xmaks akan terjadi ketika troli berada pada salh satu kedudukan ujung.
f
= defleksi tali atau rantai yang diizinkan, biasanya diambil sebesar

1 
 1
f =
sampai
x

 maks
100
200 

OPERASI PERALATAN PENGANGKAT SELAMAGERAKAN PERALIHAN
Suatu mekanisme pengangkat mulai beroperasi pada kecepatan tertemtu atau tunak ketika alat operasinya (drum,
roda crane atau rangka) telah mencapai kecepatan yang ditentukan.
Setiap gerakan kerja krane terdiri atas: periode start (percepatan), gerakan yang tunak atau tertentu dan penghentian.
Periode kerja pertama dan terakhir di cirikan oleh gerak peralihan.
1.BEBAN DINAMIK
Bila suatu benda dengan momen inersia I berputar dengan kecepatan sudut yang bervariasi, momen gaya dinamis yang
menyebabkan perubahan kecepatan pada komponen yang berputar ialah :
dω
M
=
I
dyn

dt

Dengan dω ialah kecepatan sudut
Menurut prinsip d’Alembert, momen gaya motor di nyatakan dengan
dω
M =
M
+
M
=
M
+
I
u

dyn

si

dt

Dengan Mu momen perlawanan statis di tinjau terhadap poros motor.
dω
Jika motor itu meningkatkan kecepatannya
dt
>
0 dan Mdyn > 0
Jika motor dandiMdyn <dt 0 kecepatannya
> 0 itu perlambat
dω
dt

Istilah ”momen girasi” akan sangat mempermudah pembahasan. Bila m dan G ialah massa dan bobot benda yang berputar
dan ρ adalah jari-jari dan D diameter girasi, maka :
GD 2
mp 2 =
kg − / s 2
m
I=
4g
Rumus ini hanya dapat digunakan hanya untuk menganalisis sistem putar tunggal.
Gambar 217 Diagram Mekanisme
Dengan membuat gambar 217 hanta batang penghubung putar saja, kita dapat menyatakan keadaannya dengan
2
2
2
persamaan berikut
I ω
I rr
I
n
2
ω =Iω + 1ω2 +
...... + n
2

2

2

2

Semua persamaan sebelumnya hanya berlaku untuk percepatan dan perlambatan yang konstan, yakni dengan
momen gaya motor yang konstan dan momen gaya rem yang konstan.
Gambar 218 menunjukan momen inersia berbagai komponen putar dan tabel 39 memberikan nilai perkiraan momen inersia kopling.
Momen girasi motor listrik dapat di temukan pada katalognya.
Tabel 39 Nilai Perkiraan Momen Inersia Kopling
Tabel 39 Nilai Perkiraan Momen Inersia Kopling
Diameter luar, mm

Diameter poros,
mm

Panjang nap, mm

Lebar pelek, mm

Berat
kg

Momen inersia, kg, cm/s2

150

30

120

30

10

0,003

200

40

160

80

20

0,01

250

50

200

100

40

0,03

300

60

240

120

70

0,08

400

70

280

140

140

0,28

Mekanisme pengangkattidak boleh memiliki lintasan perlambataan lebih dan koefisien pengereman kurang dari nilai yang di
500
80
320
160
250
0,78
tunjukan dari tabel 40.
Pada mekanisme penjalanan lintasan pengereman yang di tempuh oleh truk atau crane setelah motor di matikan tidak
boleh kurang dari nilaiyang di tunjukan pada tabel 41 (tanpa gelincir pada roda).
Tabel 40 Lintasan Dan Koefisien Pengereman
Jenis

Lintasan pengereman, mm

Koefisien pengereman, β

Ringan ...............................

s/120

1,75

Medium .............................

s/100

2,00

Berat ..................................
Tabel 41 Lintasan Dan Koefisiens/80
Pengereman

Koefisien adhesi

0,15

2,5

Jumlah Roda Yang Di Rem
Semua

50 %
2

25 %

v2
100.000

v
5.000

v2
2.500

v2
8.000

v2
4.000

v2
2.000

0,12

Catatan: s- lintasandalam m yang di tempuh beban per menit
2. Pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Rem Untuk Mekanisme Pengangkat
Momen gaya penuh yang di hasilkan motor ketikan percepatan dapat di cari dengan rumus :
Mmot = Mst + Mdyn
Dua faktor yang harus dipakai sebagai petunjuk untuk penentuan daya motor yang di perlukan secara tepat. Pemanasan dan
beban lebih yang di izinkan. Beban-lebih yang aman dalam jangka waktu singkat pada motor DC tergantung pada percikan bunga
api yang di izinkan pada komutator dan di pilih kira-kira sebesar 200-300% dari momen gaya ternilai, yaitu :
M max
Mrated =
2ke3

Dengan :
Mrated – momen gaya motor
Mmax – gaya maksimum ketika percepatan = Mmot
Lebih-lebih yang aman untuk jangka waktu singkat motor AC dikondisikan oleh momen gaya stal yang akan melebihi
momen gaya maksimum, dapat di pilih kira-kira 1,75 sampai 2 kali momen gaya, yaitu :
Mmaks = (1,75 ke 2) Mrated
Beban lebih yang aman lebih tepat ketika percepatan dapat di lihat pada katalog motor yang bersangkutan.
Pemanasan motor di akibatkan oleh perubahan energi motor yang hilang ketika motor di operasikan. Pemanasan
yang berlebihan dapat merusak isolasi dan mengurangi umur motor atau langsung dapat merusak motor itu. Oleh karena itu,
daya motor di pilih sedemikian rupa sehingga temperatur gulungan dengan insulasi khusus yang tahan terhadap pemanasan
yang tidak boleh melampoui batas aman pada segala kondisi pengoperasian.
3. Efisiensi Penggerak
Data efisiensi mekanisme atau elemennya yang di tunjukan pada buku acuan memberikan nilai maksimum yang
sesuai dengan beban aktualnya. Efisiensinya menurun ketika beban berada di bawah beban aktualnya.
Ada dua jenis kerugian akibat gesekan pada mekanisme dan penggeraknya : konstan (tidak berbeban) tidak
tergantung pada beban, dan variabel yang tergantung pada beban. Kerugian variabel berbanding lurus dengan beban.
Maka salah satu sifat bawaan setiap mesin adalah tuntutan bahwa crane selalu beroperasi pada beban penuh, kalau
tidak ada yang merugikan akan meningkat dengan persentase yang besar terhadap kerja crane yang berguna
4. Memilih Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Pengereman Untuk Mekanisme Penjalan
Momen gaya motor yang di perlukan selama percepatan dan momen gaya rem selama perlambatan pada mekanisme
penjalan truk, troli pengangkut, crane jalan, kantilever, monorel, dan crane lainnya yang bergerak pada rel dapat di tentukan dengan
rumus :
Mbr = Mdyn – Mst
akan tetapi untuk mencegah tergelincir pada roda jarak pengereman ini harus di batasi tidak kurang dari nilai yang di
tunjukan pada Tabel 41. dalam nenentukan momen gaya rem terhadap gerak dapat di perhitungkan dengan mengabaikan gesekan
pada flens roda penjalan.
5. pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Rem Untuk Mekanisme Pemutar
Momen gaya yang di perlukan motor selama percepatan dan momen gaya pengereman selama perlambatan untuk
mekanisme pemutar crane di tentukan dengan rumus sama seperti pembahasan yang telah dibahas diatas.
Mst = M’st =
M
iη
M = momen resistansi perputaran penuh dengan memperhitungkan tekanan angin.
∑

Σ

i = perbandingan transmisi
η = efisiensi penggerak
di dapatkan dari rumus sebelumnya dan rarus di acu pada poros motor. Daya motor yang di
perlukan pada mekanisme pada pemutar crane dipilih dengan cara yang sama seperti pada mekanisme pengangkat.
6. Pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Pengereman Untuk Mekanisme Perentang Dan Pendongkrak
Bila jangkouan crane di ubah dengan troli yang di gerakan tali, momen gaya motor yang diperlukan selama percepatan
dan momen gaya pengereman selama perlambatan dapat di lihat pada persamaan sebelumnya.
Lintasan pengereman untuk menghentikan troli biasanya di ambil sebesar s ≈ 0,25 s/d 0,5 m.
Pada mekanisme pendongkrak momen gaya motor yang diperlukan sewaktu percepatan dan momen gaya
pengereman selama perlambatan ditentukan oleh persamaan yang telah di bahas diatas.
Dalam rumus ini G’ adalah bobot tiang lengan yang dibebani penuh dan v- kecepatan titik bobot tiang lengan yang
dibebani tersebut pada gerakan tunak.
Motor dan rem mekanisme pendongkrak harus di periksa terhadap kapasitas angkat maksimum pada berbagai
kedudukan tiang lengan.
Daya motor yang diperlukanuntuk mekanisme perentang dan pendongkrak dipilih dengan cara yang sama seperti
pada mekanisme pengangkat.
Bila rem tidak di pasang pada poros motor , momen gaya dinamik M’dyn
Dengan troli yang tak dibebani pada jari-jari minimum tetapi dengan arah
yang berlawanan, yaitu

Gcω

( Q + Go ) a + 2G1e1 + G0ao
=
2e g

Bila troli yang dibebani penuh berada pada ujung luar tiang lengan, kita
akan mendapatkan reaksi bantalan padaujung tiang lengan sebagai
berikut:
Reaksi vertikal

V = Q + G0 + G1 + GCω
Reakisi horizontal

H =H =
,
1

,,
1

( Q + G0 ) a − G1e1 − GCω eg
h1

Dalam rumus ini
Q ---- bobot muatan yang diangkat
G0 ---- bobot troli
G1 ---- bobot tiang lengan.
Untuk menentukan gaya yang bekerja pada bagian kerangka secara grafis
akibat bobot muatan dan troli (Q + G0), troli yang terbebani penuh harus
diletakkan pada jangkauan maksimum dan beban yang sebenarnya digantikan
dengan bobot Q, yang dipindahkan kesambungan yang terdekat, kemudian
kita dapatkan:

a
Q = ( Q + G0 )
,
a− a
,

Gaya Q’ dan G digunakan untuk menggambarkan diagram cremona dan
menentukan gaya yang bekerja pada bagian kerangka akibat bobot muatan dan
troli (gambar 222b)
Diagram untuk menentukan gaya akibat bobot mati tiang lengan ditentukan
dengan cara yang sama (gambar 222c). Karena pada crane ini momen akibat
pengimbang G1e1 > GCω eg maka tidak ada tekanan horizontal pada
bantalan akibat bobot tiang lengan.
CRANE DENGAN TIANG LENGAN-PENDONGAK. Marilah kita bahas
dengan memakai contoh, bagian yang berputar dan pendukung crane derek
(gambar 223).
Gaya yan bekerja pada tiang lengan dan tiang vertikal crane ini dapat
ditentukan dengan mudah dengan mamakai metode grafis untuk jari-jari
maksimum (gambar 223a). Bobot tiang lengan horizontal G1 dan tiang
vertikal G2 dipindahkan pada sambungan yang berdekatanp. Bobot Q,
G
gaya 1 dan tarikan S1 dan S2 digabungkan pada ujung tiang lengan
2
horizontal menjadi gaya resultante R. gaya resultante R1 dan R2 akibat
tarikan tali S1 dan S2 didistribusikan diantara sambungan bawah dan atas
tiang vertikal sebagai komponen
Diagram Cremona untuk menentukan tegangan pada bagian kerangka digambar
,
R1, , R1,, , R2, dan R2, .
kan dari gaya R,

G1
2

G2
2

Dan
(pada ujung atas dan bawah).
Tiang lengan dan vertical mengalami tegangan tekan lentur. Kedua tiang
tersebut dibuat dari kayu ataupun profil baja canai. Bila terbuat dari baja canai
tiang tersebut mempunyai penampang persegi yang terdiri atas empat buah
baja siku yang disambung keempat sisinya dengan penampang kisi.
Biasanya tiang vertical Derek (gambar 223b) diikat dengan dua buah kaki
pendukung miring 11 dan 12 pada ujung atas dan dengan dua bagian horizontal
13 dan 14 pada bagian bawah.
Gambar 223. Penyelesaian tiang lengan, vertikal dan batang tulang crane derek

Bila tiang lengan berada pada kedudukan I
maksimum
H
maks
+ S11 = +

( β = 0)

, kaki 11 dibebani gaya

1

sin γ

(kaki 12 tidak dibebani). Bila tiang lengan berputar kekiri kedudukan I gaya
yang bekerja pada kaki 11 akan berkurang, sebagian diambil alih oleh kaki
12 yang disini mengalami tegangan tekan.
S11 = S12 = + H 1 cos 45 o

1
sin γ

Pada kedudukan III, bila β = 90 , kaki II bebas dari bebannya karena kaki 12
akan menahan seluruh gaya horizontal H1. bila β > 90 o kaki II mengalami
tekanan yang akan mencapai nilai maksimum pada kedudukan IV ( β = 180 o )
o

−S

maks
13

H1
1
= H 1 sin ( β − 90 )
≈ − 1,0
sin γ
sin γ
o

Diagram polar (gambar 223b) menunjukkan kurva yang menggambarkan
gaya yang bekerja pada kaki II pada kedudukan terujung pada tiang lengan
yang dibatasi sudut . Diagram untuk kaki 12 akan serupa dengan diagram
yang ditunjukkan.
Bagian horizontal 13 dan 14 mengalami tekanan dan tarikan yang
tergantung pada kedudukan tiang lengan . bagian 13 mengalami tegangan
maks
tekan maksimum pada kedudukan I, yaituS11 = − H 1
dan tegangan tarik
maksimum pada kedudukan IV, yakni,
maks
− S13 = H 1 sin ( β − 90 o ) ≈ +1,01
Bila pendukung bawah tiang vertical meneruskan reaksi horizontal
bantalan langsung ke pondasi beton, bagian 13 dan 14 dapat ditiadakan.
Dalam hal ini ujung bawah kaki 11 dan 12 (masing-masing terpisah) diikat
dengan baut benam pada pondasi beton. Titik putar atas pada Derek yang
dapat diputar pada satru lingkaran penuh atau kolong bangunan. Bila kita
mengasumsikan keenam buah tali tersebut kukuh dua buah diantaranya
mengalami tegangan maka gaya dikerahkan pada satu buah tali kukuh akan
sama dengan . Tetapi karena tali tersebut miring dengan sudut terhadap
vertical maka tegangan desain yang sebenarnya adalah
S=

H1
2 cos 30 O sin γ

Batas keamanan tali yang sebenarnya mengharuskan jumlah tali minimal 5
buah.
3. Struktur Kantilever
Bagian pendukung crane kantilever terdiri atasa dua buah roda penjalan vertikal
yang akan menahan beban akibat bobot crane, troli dan beban hidup dan dua pasang
bantalan nol masing-masing pada bagian atas dan bawah yang akan menahan gaya
reaksi horizontal akibat momen yang akan menyingkirkan crane (gambar 224)
Gambar 224 menunjukkan kerangka crane kantilever dengan troli dalam
dan gambar 225 menunjukkan crane dengan troli luar.
Beban penuh pada penumpu kerangka akan sama dengan (lihat gambar
225) beban bantalan vertikal
V = Q + G0 + G1

Dengan :
Q --- bobot muatan yang diangkat
G0 --- bobot troli
G1 --- bobot crane tanpa troli
Beban bantalan horizontal:
H '= H ''=

( Q + G0 ) a + G1e1
h

Kerangka krane kantilever dirancang dengan dua buah modifikasi. Dengan troli
dalam atau troli luar (yang bergerak pada batang tepi atas atau bawah).
Beban kontstan pada girder utama rangka (bobot beban mati) terdiri atas
bobotnya sendiri, setengah bobot penopang silang dan setengah bobot struktur
platform dengan lantainya. Setengah bobot batangbobot penopang silang dan lantai
ditahan oleh gireder tambahan (samping)
Gambar 224 Rangka crane kantilever
Pada awalnya bobot girder utama, batang penopang silang, dan lantai
ditentukan dengan metode coba-coba dengan perbandingan desain yang tersedia
Bila beban akibat bobot girder utama adalah G 1dan jarak ketitik bobotnya
dengan e1 maka reaksi pada pendukung kerangka adalah:
e
H = G1 1
h
V = G1 dan
Dengan mengasumsikan bahwa beban G1 terdistribusikan seragam
sepanjang girder utama, kita dapat mencari gaya yang bekerja pada sambungan k 1
dan k2 (gambar 225a). Bila mengetahui gaya-gaya pada sambungan tersebut kita
dapat mencari tegangan pada bagian kerangka akibat bobot girder utama dengan
menggambarkan diagram Cremona (gambar 225a)
12

STRUKTUR
RANGKA
CRANE
Pada gambar 220b resultante R1 komponen gaya S dan Q pada ujung luar tiang
lengan ditentukan dengan metode sebelumnya. Tarikan S dan S tali pada
roda puli bagian kerangka tengah 4 akan menghasilkan resultante R2 yang
bekerja pada ujung bagian rangka 4 sebagai R’2 dan R”2 sebanding dengan
bagian lengan tersebut.Gaya S pada drum diuraikan menjadi gaya yang
bekerja padsa bagian pilar (S’ dan S”). Gaya R1, R2, dan R3 digunakan untuk
menggambarkan diagram Cremona dan untuk menentukan tegangan pada
bagian kerangka akibat beban muatan dan tarikan tali.

Gambar 220c menunjukkan diagram tegangan pada bagian kerangka
akibat bobot tiang lengan, dimana diagram ini harus dibuat dengan
skala lebih besar dibandingkan diagram untuk bobot muatan.

Bobot tiang lengan dan akibatnya pada
bagian suprastruktur ditentukan secara
coba-coba.
 Tegangan pada bagian kerangka adalah
jumlah beban gaya mati dan beban hidup
Pada crane yang berat dengan mekanisme pemutar yang digerakkan oleh
penggerak daya, efek gaya inersia diperhitungkan dengan mengasumsikan
gaya horisontal sebesar yang bekerja pada ujung tiang lengan. Gaya inersia
ini didukung oleh rangka batang horisontal (Gambar 220d) yang
setengahnya mengalami tekanan tambahan dan bagian lainnya mengalami
tarikan.
CRANE DENGAN TIANG TETAP
Gambar 221 adalah contoh suprastruktur pejal yang sering digunakan untuk
crane pilar putar tanpa pengimbang.







Keunggulan desain ini adalah tersedianya
ruangan yang cukup besar dibawah tiang
lengan.
Girder berbentuk kotak diperkuat pada bagian
yang melengkung dengan pelat dan pada
bagian yang lurus memakai penopang.
Dimensi penampang ditentukan secara cobacoba.
Tegangan Pada bagian II-II, III-III, IV-IV ditentukan sebagai berikut:Bagian





atas yang miring dianggap terpasang mati (gambar
221b) pada penampang II-II (gambar 221a)
Bobot muatan Q diuraikan menjadi gaya tekan N1
dan gaya lentur P1. Biasanya momen yang
berlawanan dari tarikan tali S diabaikan.
Pada kedua nilai tersebut ditambah gaya tekan N2
dan gaya lentur P2 akibat bobot suprastruktur G2
Momen lentur (faktor koreksi dinamik diabaikan)
MII = P1C1 + P2C2
(307)
Gaya normal
NII = N1 + N2 + S
(308)
Resultante tegangan satuan (tanpa gaya geser)

(309)

dengan:
W2 dan F2 – momen resistensi dan luas penampang pada bidang II-II
(diagram tegangan, gambar 211c)
Tegangan geser satuan
(310)
Gambar 221 diagram untuk menyelesaikan suprastruktur pejal untuk
crane putar
Tegangan satuan dengan memperhitungkan tegangan geser
(311)
Penghitungan tegangan pada bagian tengah yang melengkung pada
penampang III-III (gambar 221a) dibuat seperti batang lengkung.
Momen lentur MIII= Qa + G1 e1. Gaya normal NIII = Q + G1. Resultante
tegangan satuan pada bagian terluar dan terdalam serat penampang
tersebut ialah
(312)
dengan :
r = jari-jari kelengkungan batang (Gambar 221d).
Biasanya nilai x ditentukan dengan metode grafis. Tanda + pada
persamaan (312) dipakai untuk serat penampang terluar, dan tanda –
dipakai pada serat penampang yang terdalam. Tegangan satuan
bervariasi menurut suatu hiperbola (gambar 221d).
Pada penampang IV-IV pada bagian bawah yang lurus (gambar 221a)
momen MIV = MIII Gaya normal NIV = NIII, Resultante tegangan satuannya
adalah
(313)
Semua penampang dibawah penampang IV-IV hanya mengalami lenturan.
Diagram momen lentur batang tersebut digambarkan pada gambar
221e dan diagram tegangan pada gambar 221f.
2. SUPRASTRUKTUR CRANE PUTAR BENTANG DAN CRANE LENGAN-PENDONGAK
Crane Bentang dengan Troli.
Gambar 222a menunjukkan Diagram crane batang yang dapat diputar dalam suatu
lingkaran penuh yang mempunyai troli gerak.
Crane ini diberi pengimbang untuk mengurangi gaya reaksi horisontal pada
pendukungnya.
Besarnya pengimbang Gcw harus dibuat sedemikian rupa sehingga gaya reaksi horisontal
bantalan dengan troli yang terbebani penuh pada jarijari maksimum bernilai sama
Gambar 222 penyelesaian secara grafik suprastruktur crane putar batang yang
jangkauannya dapat diubah dengan troli
Momen Lentur dan gaya lateral akibat beban konstan. Bila L adalah
bentangan girder memanjang utama, dalam meter; G-bobot
girder tersebut, yakni beban konstan, dalam ton, yang
terdistribusi seragam sepanjang bentangan; q- bobot mati, dalam
ton per meter panjang, momen lentur pada jarak x dari penumpu
sebelah kiri akibat bobot mati adalah
Mq =

=

ton – m

Momen lentur maximum bila
Mqmaks =
(322)

ton –m

adalah

(321)
Kurva momen lentur akan merupakan suatu parabola yang digambarkan
sepanjang L dengan ordinat maksimum Mqmaks (Gambar 228b).
Gaya lateral pada jarak x dari penumpu kiri adalah
ton
Gaya lateral maksimum pada sebelah kanan atau kiri penumpu x = 0 akan sama
dengan
ton
Kurva gaya lateral ditunjukan pada gambar 228e.
Momen lentur dan gaya lateral akbat beban gerak (troli dan muatan). Bila
bobot troli berbeban didistribusikan seragam pada rodanya, maka
beban pada satu roda adalah
dengan Q-bobot muatan yang
diangkat dan Go-bobot troli.
Dapat diasumsikan dalam hal ini bahwa girder pelat menahan dua buah
beban P yang identik yang terpisah sejauh b (Gambar 228a). Maka
momen lentur pada penumpu di bawah roda sebelah kiri, yang
ditempatkan pada jarak x dari penumpu kiri ialah

(325)

ton-m

Momen lentur maksimum akan terjadi pada penampang yang berjarak
dari bagian tengah bentangan gider pelat tersebut

(326)

ton-m
Momen lentur didistribusikan dengan bentuk parabola dengan ordinat terbesar
pada panjang
(Gambar 228c). Kurva momen untuk kedudukan beban
yang paling tidak menguntungkan adalah 0-1-2-3; yang didapat dengan
menggambarkan dua kurva momen akibat gerak beban dari kiri ke kanan dan
dari kanan ke kiri.
Momen lentur maksimum berkurang bila jarak antara roda bertambah. Bila jarak
antar roda (misalnya, pada troli tangan) kecil dibandingkan bentangan, kita
dapat mengasumsikan dengan cukup akurat untuk penggunaan praktis
bahwa b = 0 dan

Gambar 228 Kurva momen dan gaya lateral girder pelat
Bila roda troli diberi beban berbeda, dapat diasumsikan bahwa dua beban P1 dan
P2 yang berlainan akan bergerak sepanjang girder; maka
V = P1 + P2 merupakan resultante kesua gaya yang berkerja pada roda dan
dan
Dalam hal ini momen lentur pada daerah dibawah roda, pada jarak x dari
penumpu kiri adalah
ton-m

(327)

Momen lentur maksimum akibatbeban P1 pada jarak
dari titik tengah
girder ialah
ton-m
(328)
Persamaan ini merupakan persamaan parabola yang digambarkan
sepanjang (L – b1) dengan ordinat maksimum
Momen pada daerah dibawah beban P2 pada jarak x dari penumpu
kanan ditentukan dengan cara yang sama sepeti diatas, yakni
ton-m

(329)

ton-m

(330)

dan
Persamaan (330) merupakan parabola sepanjang
dengan ordinat
Untuk beban yang sama P dan P gaya lateral pada jarak x dari penumpu kiri
ialah (Gambar 228f)
ton

(331)

Bila x = 0gaya lateral maksimum pada penumpu kiri ialah
ton
Gaya lateral pada jarak

(332)

dari penumpu kiri ialah
ton

(333)

Dengan beban P1 dan P2 gaya lateral pada jarak x akan sama dengan
ton

(334)
Bila x = 0
ton
Gaya lateral pada jarak

(335)

dari penumpu kiri ialah

Bila kita menambahkan kedua kurva momen akibat aksi beban mati (Gambar
228b) dan beban gerak (Gambar 228c) kita akan mendapatkan momen
resultan (Gambar 228a) – daerah yang diarsir. Dengan mengalikan
momen perlawanan pada berbagai penampang girder utama dengan
tegangan amannya kita akan mendapatkan kurva yang menggambarkan
kekuatan girder (kurva momen aman) – garis kontur pada gambar 228d.
Diagram resultante gaya lateral ditunjukkan pada gambar 228g.
Gambar 229 menunjukkan diagram momen
dan
untuk girder
memanjang utama crane jalan dengan kapasitas angkat mulai 5 sampai
50 ton dan bentangan mulai 10 sampai 30 meter.
Tegangan Satuan akibat Momen Lentur
(a)
Akibat beban utama
(336)
Tegangan satuan akibat momen lentur
a) Akibat beban utama
b) Akibat beban utama dan tambahan
Tegangan Satuan akibat gaya lateral
a)
Akibat beban utama
b)
Akibat beban utama dan beban tambahan
Notasi berikut digunakan pada rumus sebelumnya:
= tegangan lentur normal sebenarnya (lentur) dalam kg/cm 2
=tegangan satuan tangensial yang sebenarnya (geser) dalam kg/cm 2
dan = tegangan satuna aman untuk lentur dan geser dalam kg/cm 2
=koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban konstan
=koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban konstan
=momen netto pad setiap penampang (tanpa lubang paku keling)
=jumlah momen lentur pada penampang akibat beban tambahan
=momen statis total pada setiap bagian penampang (tanpa lubang
paku keling)
=tebal dinding pada setiap penampang
Igr
=momen inersia total ditinjau dari sumbu utama
=jumlah gaya lateral pada setiap penampang akibat beban tambahan.
Gambar 229 kuva untuk memperkirakan momen maksimum akibat beban konstan
Tabel 4.2 Koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban diam
Tabel 4.3 Koefisiensi dinamik untuk gaya pada beban berjalan
Deformasi Defleksi Girder.Defleksi girder utama yang berlebihan akan menyebabkan
seluruh jembatan bergetar dan berpengaruh besar pada operasi crane.
Untuk menjaga defleksi dalam batas aman, girder memanjang utama harus cukup
tinggi dan emiliki momen inersia yang memadai.
Pada girder dengan momen inersia yang konstan 1 cm 4, defleksi maksimum akibat
bobotnya sendiri (gambar 230) ialah:
Gambar 230 Diagram untuk menghitung defleksi girder utama crane jalan
dengan:
G = bobot girder, dalam kg
E2.200.200 kg/cm2 Modulus elastisitas.
Defleksi akibat beban gerak dapat ditentukan berdasarkan asumsi bahwa dua beban P
dan P (beban pada roda troli berbeban) ditempatkan secara simetris pada bagian
tengah crane(gambar 230). Maka kita akan mendapatkan defleksi dengan ketelitian
yang memadai
Defleksi total adalah
memeriksa kekuatan flens bawah pada jalur monorel. Pada crane jalan girder tunggal,
pengangkat yang digerakkan tangan ataupun daya sering didesain untuk pada batang
canai-I.
Dalam hal ini momen lentur persatuan panjang ialah:
M = 0,51 P
Dengan
P = gaya yang ditimbulkan oleh roda yang pada desain dengan empat
roda akan sebesar:
P=
Dengan
Go = bobot pengangkat yang dapat bergerak
Q = kapasitas angkat
Dengan menandai tebal flens dengan t, momen penampang (per satuan
panjang) ialah sebesar
W==
Gambar 231 Flens bawah batang canai-I
Tegangan pada flens akan menjadi
K – koefisien yang memperhitungkan lubang pada lantai ~ 0,5.
Biasanya lebar lantai dioambil sebesar 800; 1.000; 12.000 .
5) bobot penopang silang G cr-br ≈ 1/30 G utama;
6) bobot mekanisme penjalan G mech = 700 sampai 1.300 untuik crane dangan
kapasitas angkat sampai 30 ton;
7) bobot kabin operator dengan peralatan elektriknya dan bobot operator itu
sendiri Gcab ≈ 1.000 sampai 1.500 kg
Maka bobot total rangka batang utama akibat beberan konstan ialah :

G = G utama + ½ G hor + ½ (Gpt + Gft ) + ½ Gcr-br + ½ Gmech + ½ Gcub

(344)

dan beban yang dcitahan oleh tiap-tiap sambungan atau titik panel rangka ialah
G
(345)

K=
n -1

dengan n jumlah sambungan
Untuk menentukan tegangan pada anggota rangka susun akibat beban konstan
digunakan diagram Cremona ( gambar 234 )
Tegangan pada bagian rangka batang a.kibat beban gerak.
Beban gerak menyebabkan batang tepi atas girder utama mengalami tekanan
dan batang tepi baewah mengalami tarikan. Tergantung pada kedudukan
troli batang diagonal dapat mengalami tarikan maupun tekanan.
Gambar 235 ditujukan untuk menentukan tegangan maksimum pada bagian
girder utama akibat beban gerak .
Momen maksimum , M = P y’1 + P2y’2
(346)
Tegangan pada batang tepi ditentukan dengan membagi momen pada
sambungan yang berlawanan dengan segitiga rangka batang pada jarak
terpendek antara batang ke sambungan
Miv
S4 =
h
Gaya lateral akan sama dengan

(347)

T = P y”1 + P2y”2

(348)
Metode yang sama digunakan untuk mencari gaya lateral pada sambungan lainya.
Tegangan pada penopang yang miring ditentukan dengan bantuan diagram Cremona
yang digambarkan untuk rangka batang bila reaksi tumpukan kiri A = 1 ton
Untuk ini sambungan yang tepat disebelahkanannya juga dibebani yang sesuai.
Tegangan pada penopang tulang miring adalah

(248)
Dengan :
F Tegangan pada penopang tulang miring yang didapatkan dari diagram cremona untuk
A=1
T gaya lateral pada titik sambungan (yang paling buruk pengaruhnya).
Beban roda troli hanya menghasilkan tegangan tekan pada batang vertikal. Jika b = λ
atau b> λ (lihat gambar 232a), maka tegangan pada batang vertikal adalah S = P1 ;
Jika b < λ maka
(350)
Nilai tegangan pada bagian akibat beban gerak kemudian dituliskan pada suatu kolom
dalam tabel ringkasan perhitungan masing-masing.
Tegangan Tambahan Pada Bagian Rangka Akibat Pengereman Crane. Batang tepi
atas mengalami juga gaya lentur pada batang horizontal akibat gaya pengereman
bagian gerak crane bermuatan. Gaya akibat inersia komponen crane akan mencapai
maksimum bila roda perjalan crane secara tiba-tiba.
Jika bobot muatan yang diangkat adalah Q, bobot troli adalah G 0, bobot crane (tanpa
troli) dengan G, dalam kg, percepatan gravitasi adalah g (g=9.81 m/s2) dan koifisien
gesek antara roda perjalan dan rel adalah μ (μ ≈ 0,2) dan jika setengah dari roda
crane direm kita akan mendapatkan

Dengan perlambatan adalah
Gaya inersia massa troli yang bekerja pada rangka batang pada bidang horizontal akan
sama dengan
(351)
Karena gaya ini ditransmisikan ke rel pada girder utama, setiap batang-tepi atas dan
rangka pengaku horizontalnya (melalui penipang slang) akan menahan setengah dari
gaya inersia tersebut. Momen letur maksimum akan terjadi pada jarak dari bagian
tengah bentangan crane. Persamaan momen [rumus (326)] harus ditambah dengan
nilai gaya horizontal yang bekerja pada satu roda satu rangka batang.
Maka momen lentur horizontal maksimum adalah
(352)
Tegangan Satuan pada Bagian Rangka Batang
Pemeriksaan terhadap tekanan atau tarikan
a. akibat kerja beban utama
(353)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan
(354)
Pemeriksaan terhadap stabilitas (tertekan)
a. akibat kerja beban utama
(355)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan
(356)
Pemeriksaan terhadap lenturan dan tekanan lateral :
a. akibat kerja beban utama
(357)
(357)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan
(358)
Pemeriksaan terhadap stabilitas :
a. Akibat kerja beban utama
(359)
b. akibat kerja beban utama dan tambahan
(360)
Dalam memeriksa stabilitas (lenturan akibat tekanan aksial) nilai
koefisien μ diambil untuk kefleksibelan bagian yang berada dalam
bidang lentur dari Tabel 44.
Kefleksibelan batang didapat dengan menggunakan rumus
(361)
Tabel 44 Koefisien ϕ yang mengurangi tegangan aman dalam lenturan akibat
tekanan aksial bagian rangka batang yang terbebani terpusat
Dengan
Igr = momen inersia total penampang bagian
Fgr = luas penampang bagian
L = luas bagian
Kefleksibelan batang tidak boleh melebihi :
a)
120 – untuk bagian yang merupakan batang tepi dan penopang ujung
rangka batang yang mengalami tekanan;
b)
150 – untuk bagian lain rangka batang utama yang mengalami tekanan
dan untuk batang tepi yang mengalami tekanan;
c)
200 – untuk batang lain rangka batang utama dalam yang mengalami
tarikan;
d)
200 – untuk batang dari rangka batang tambahan yang mengalami
tekanan;
e)
250 – untuk batang lain rangka batang tambahan.

Gambar 237 Diagram momen akibat lenturan setempat pada batang tepi
atas yang dihasilkan oleh oda troli yang bermuatan
Tanda-tanda yang diguanakan rumus (253) sampai (360) ialah sebagai berikut :
ψ
= koefisien dinamik untuk gaya akibat beban konstan (lihat Tabel 42)
Sq = gaya akibat beban konstan
µ = koefisien gay dinamik akibat beban gerak (lihat Tabel 43)
Sp = gaya akibat beban gerak
Sp = gaya akibat beban gerak
Mp = momen lentur akibat lenturan setempat pada batang tepi atas yang
diakibatkan oleh roda troli yang bermuatan (Gambar 237)
(362)
Fnet = luas penampang netto bagian (tanpa lubang paku keling)
Fgr = luas daerah gross bagian (dengan lubang paku keling)
Wnet = momen penampang bagian netto
Wgr = momen penampang bagian gross
∑Sadd = jumlah gaya akibat beban tambahan
∑Madd = jumlah momen akibat beban tambahan
[σ] = tegangan aman
Beban tambahan akibat pengereman crane ditahan oleh penampang
(Gambar238) atau rangka batang horisontal yang terletak diantara ranga
batang utamadan rangka batang sisi (Gambar 239). Jika (tanpa rangka
batang horisontal) lantai plat baja dianggap menahan gaya ini maka
tegangan pada bidang horisontal pada bagian terluar dapat ditentukan
dengan persamaan momen (352).

Gambar 238 Diagram untuk menyelesaikan batang tepi atas dari rangka
batang berlantai
Gambar 239 Menentukan tegangan pada bagian rangka batang horisontal
akibat pereman crane
Momen perlawanan (Gambar 238) adalah

Karena lantai plat baja tersebut dilubangi maka penampang yang berguna hanya
dianggap 50 persen saja.
Tergantung pada arah gerak crane tegangan pada bidang horisontal berubahubah dari tegangan tarik menjadi tegangan tekan dan sebaliknya. Jika gaya
inersia komponen ditahan oleh rangka batng horisontal (Gambar 239) kita
harus mendistribusikan beban pada rodatroli Pdalamketitik sambungan yang
berdekatan, tentukan gaya reaksi horisontal H1 dan H2 dan menggambarkan
diagram Cremona (Gambar 239). Diagram Cremona ini dipergunakan untuk
mencari tegangan tambahan pada bagian-bagian batang tepi atas
yangmerupakan tegangan sekat untuk arah gerak crane diatas tersebut.
Tegangan tambahan
ditambah Fnet maksimum akibat gaya tekan
vertikal untuk mendapatkan [lihat rumus (354) sampai (360)] tegangan
maksimum pada batang tepi atas (batang tepi bawah hanya mengalami
tarikan).
Defleksi Batang dan Lengkungannya. Seperti yang telah diterangkan
sebelumnya, defleksi rangka batang akibat muatan maksimum yang diangkat
dan bobot troli tidak boleh melebihi δ” <
L dengan L-panjang bentangan
rangka batang.
Defleksi kisi rangka batang jembatan jalan dapat ditentukan sampai ketelitian 10
persen dengan rumus
(363)
Dengan :
M = momen desain akibat beban gerak, dalam kg-cm
L = panjang betangan dalam cm
Tergantung pada arah gerak crane tegangan pada bidang horisontal berubahubah dari tegangan tarik menjadi tegangan tekan dan sebaliknya. Jika gaya
inersia komponen ditahan oleh rangka batng horisontal (Gambar 239) kita
harus mendistribusikan beban pada rodatroli Pdalamketitik sambungan yang
berdekatan, tentukan gaya reaksi horisontal H1 dan H2 dan menggambarkan
diagram Cremona (Gambar 239). Diagram Cremona ini dipergunakan untuk
mencari tegangan tambahan pada bagian-bagian batang tepi atas
yangmerupakan tegangan sekat untuk arah gerak crane diatas tersebut.
Tegangan tambahan
ditambah Fnet maksimum akibat gaya tekan
vertikal untuk mendapatkan [lihat rumus (354) sampai (360)] tegangan
maksimum pada batang tepi atas (batang tepi bawah hanya mengalami
tarikan).
Defleksi Batang dan Lengkungannya. Seperti yang telah diterangkan
sebelumnya, defleksi rangka batang akibat muatan maksimum yang diangkat
dan bobot troli tidak boleh melebihi δ” <
L dengan L-panjang bentangan
rangka batang.
Defleksi kisi rangka batang jembatan jalan dapat ditentukan sampai ketelitian 10
persen dengan rumus
(363)
Dengan :
M = momen desain akibat beban gerak, dalam kg-cm
L = panjang betangan dalam cm
Dengan :
h
= tinggi rangka batang, dalam cm
Fatas = luas penampang gross batang tepi atas, dalam cm2
Fbawah

= luas penampang lintang gross batang tepi bawah, dalam cm2

= modulus elastisitas
1,2
= koefisien yang diperhitungkan deformasi batang penopang miring
Kadang-kadang yang disebut dengan kelengkungan (kembar) dipasangkan pada
jaringan rangka batang untuk memberi pratarikan pada bagian batang
tersebut. Biasanya kelengkungan pada titik sambungan tengah diambil sama
dengan defleksi amannya. Biasanya kelengkungan pada sambungan lainnya
mengikuti fungsi parabola.
Marilah kita bahas dengan memakai contohrangka batang crane jalan elektrik
(Gambar 240) dengan karakteristik berikut : bentang L = 24.000 mm, jumlah
panel n = 10, panjang panel λ = 2.400 mm, tinggi rangka h = 2.400 mm,
kelengkungan maksimum fmaks = 24 mm =
ε

Gambar 240 Penentuan kelengkungan rangka batang secara grafis
Gambar 242 Penyelesaian Secara Grafis Rangka Batang Kisi
Tabel 45 Momen gaya Lateral akibat Beban Gerak

Dengan Mp = P1

= 1.800 = 37.500 kg-cm dan φ = 0,87
λ=
=
= 55
Perhitungan sebelumnya memperbolehkan penggunaan dua batang
kanal No. 12 untuk
batang-tepi atas rangka.
Batang-tepi bawah (batang 13 dan 19 dua batang siku 60 x 60 x 8 mm)
Tegangan satuan batang pada batang-tepi bawah adalah
σ=
=
= 107 kg / cm 2
Dengan Mp = P1 = 1.800 = 37.500 kg-cm dan φ = 0,87
λ=
=
= 55
Perhitungan sebelumnya memperbolehkan penggunaan dua batang
kanal No. 12 untuk batang-tepi atas rangka.
Batang-tepi bawah (batang 13 dan 19 dua batang siku 60 x 60 x 8 mm)
Tegangan satuan batang pada batang-tepi bawah adalah
σ=
=
= 107 kg / cm 2
Dengan :
Fnet = 0,85 Fgr = 0,85 x 9,03 x 2 = 15,35 (dengan
memperhitungkan
berkurangnya kekuatan akibat lubang paku keling).
Penampang miring (batang 6-dua batang siku 50 x
50 x 6 mm).
Tegangan satuan pada penopang miring adalah :
σ=
1.180 kg / cm2

Dengan : φ = 0,45

=

=
Tabel 46 Tabel Ringkas hasil Perhitungan

Batang penumpu ujung terbuat dari dua batang siku 50 x 50 x 6 mm karena
tegangannya tidak melebihi tegangan pada penopang miring tersebut.
Tegangan satuan pada bagian rangka batang utama cukup aman untuk baja CT
2.
Gambar 424e menunjukkan diagram Cremona untuk menyelesaikan rangka
batang sisi dan Gambar 242d untuk rangka horisontal. Nilai tegangan pada
rangka-rangka ini diringkas pada Tabel 46.

4. Defleksi pada rangka batang utama akibat beban gerak [rumus (363)]
adalah
δ” =

=

= 0,9 cm

Momen akibat beban gerak akan sama dengan
M=

=

= 1.265.000 kg-cm
Dan momen inersia kedua batang-tepi rangka batang adalah
Im =

=

= 2,14 cm

Menurut kaidah keteknikan, defleksi tidak boleh melebihi
δ” =

=

= 2,14

Maka, defleksi δ” = 0,9 cm yang kita dapatkan sangat diizinkan.
ELEVATOR
1. ELEVATOR SANGKAR
Elevator sangkar juga disebut lift ditujukan untuk mengangkat barang dan penumpang secara vertikal
didalam sangkar yang bergerak pada rel penuntun tetap. Lift banyak digunakan pada industri, toserba dan rumah
tinggal.
Lift diklasifikasikan menjadi lift untuk penumpang dan lift untuk barang. Kemudian lift barang terbagi lagi
menjadi elevator barang, elevator barangdan penumpang (memakai operator) dan elevator barang pelayanan
ringan(untuk perusahaan makanan dan komersial). Jenis penggerak yang digunakan membagi elevator menjadi
elevator elektrik (lihat gambar 249 dan 250), hidrolik dan yang dioperasikan tangan (gambar 251). Elevator yang
digerakkan elektriklah yang paling banyak digunakan.
Kecepatan tempuh lift barang berkisar mulai 0,1 sampai 1,5 m/detik. Lift penumpang biasa bergerak
dengan kecepatan 0,5 sampai 3,5 m/detik.
Biasanya lift penumpang tersedia mulai kapasitas 0,25 sampai 1 ton; lift barang menangani 0,25 sampai 15 ton,
sedangkan lift barang pelayanan ringan mulai 50 sampai 100 kg.
Lift sangkar elektrik mempunyai bagian-bagian utama sebagai berikut (gambar 249): sangkar atau kerata,
rel penuntun swatumpu, lorong lift, penyeimbang, peralatan penggantung, mesin pengangkat, alat pengamanan dan
kendali elektrik.
Sangkar atau kereta berfungsi untuk barang atau penumpang. Elevator penumpang dapat mempunyai
bobot kira-kira sebagai berikut:
Kapasitas
penumpang)
Bobot sangkar, kg

(jumlah

2

3

4

5

6

250

275

300

350

400

Gambar 249
Bobot sangkar elevator barang dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut:
Gsangkar
= 300 + 100F untuk Q = 500 kg
Gsangkar
= 300 + 125F untuk Q = 1000 kg
Gsangkar
= 300 + 150F untuk Q = 1500 kg
Dengan :
F : luas lantai, dalam m dan
Q : kapasitas, dalam kg
Rangka sangkar barang dibuat dari kanal dan besi siku sedangkan dinding dan lantai dari kayu atau
pelat besi anti gelincir. Sangkar tersebut cukup kokoh untuk menahan deformasi akibat beban kejut yang mungkin
timbul ketika pemuatan. Salah satu desain sangkar tanpa daun pintu ditunjukkan oleh gambar 252.
Gambar 252
Ukuran sangkar lift dipilih berdasarkan tekanan satuan yang dikerjakan pada lantai.

Q
q =
F
Untuk muatan berukuran kecil q diambil mulai 200 sampai 300 kg/cm, dalam hal ini luas lantai tidak boleh kurang
dari 1 meter persegi.
Alat penuntun. Sangkar atau kereta, bergerak didalam lorong pada rel penuntun yang terpasang tetap.
Gambar 253 menunjukkan berbagai desain rel penuntun:
(a)penuntun konvrensional untukelevator barang yang terdiri atas dua buah besi siku yang bergeser sepanjang rel kayu
persegi.
(b)Penuntun untuk lift penumpang dengan pegas ulir yang menekan ujung batang penuntun pada rel.
(c)penuntun berengsel untuk rel T- khusus.
Rel atau batang penuntun terbuat dari batang baja canai profil (siku, T, T-ganda) atau batang kayu dan diikat
pada kedua sisi lorong lift yang berlawanan.
Rel harus diberi pelumas gemuk secara teratur. Kerugian akibat gesekan pada rel penuntun diambil sebesar 5
sampai 10% dari bobot komponen gerak. Gambar 254a sampai menunjukkan cara pemasangan rel penuntun rangka
lorong lift atau dinding gedung.
Dalam mendesain rel penuntun dan cara pemasanganya harus diingat bahwa selama lift bertaut dengan penahan
pengaman, bila tali terputus, disamping bobot sangkat yang bermuatan, rel juga harus menahan benturan yang
diakibatkan penyerapan energi kinetik sangkar yang jatuh. Semakin kecil l;intasan pengereman sangkar ketika
perlambatan, akan semakin besar gaya yang timbul dari benturan. Energi kinetik akibat bobot sangkar G dengan muatan
Q adalah :
mv 2 Q + Gsangkar 2
=
v
Dengan :
2
2g
V = kecepatan tempuh, dakam m/detik
G = percepatan gravitasi sebesar g = 9,81 m/detik
Lintasan pengereman dianggap sebesar 5 – 10 cm. Perhitungan didasarkan pada anggapan bahwa pertautan
antara penahan pengaman dengan rel mengakibatkan gaya pada setiap rel sepanjang liantasan s yang meningkat
mulai 0 sampai Rmaks (dengan dua rel) sepanjang lintasan s adalah ½ x 2R maks s.
Persamaan umum kerja dapat ditrulis sebagai berikut :

Q + Gsangkar
2g

1
v 2 + (Q + Gsangkar ) s = 2 Rmaks 2
2
Maka gaya yang bekerja sepanjang satu rel penuntun adalah :

v2 
Rmaks = 1 +
 2 gs (Q + Gsangkar )




Lorong elevator. Lorong adalah ruangan tempat sangkat lift bergerak. Disamping sangkar lorong tersebut berisi rel
penuntun, pengimbang, roda puli tali dan mesin pengangkat.
Rangka lorong baik untuk elevator penumpang maupun barang dapat didesain dalam bentuk yang beragam demikian
juga bahanyang digunakannya. Akan tetapi pada dasarnya, lorong harus memiliki kekuatan yang memadai,
pencegahan terhadap bahaya kebakaran dan mempunyai keamanan yang umum. Gambar 255 menunjukkan rangka
lorong elevator barang yang terbuat dari logam.

Gambar 255

Pengimbang elevator. Untuk menghilangkan beban pada mesin pengangkat, bobot sangkar diimbangi dengan
bebantambahan pengimbang yang dihubungkan dengan tali padaswangkar (gambar 256a), dengan drum mesin
pengangkat (gambar 256b) atau pada kedua secara bersamaan (gambar 256d).

Gambar 256
Biasanya bobot pengibang yang ditunjukkan pada diagram gambar 256a, b, c dan d dianggap sama dengan
bobot sangkar ditambah 0,4 sdsampai 0,4 dari muatan maksimum, yaitu :
Gsangkar = Gsangkar + 0,5Q
Bila kita menandai kerja yang haruas dilakukan dalam menaikan dan menurunkan sangkar bermuatan
ataupun kosong (dengan mengabaikan kerugian-kerugian) dengan P dan dengan mempertimbangkam pengimbang
sesuai rumus (377), maka usaha ini akan sama dengan
Untuk menaikan sangkar bermuatan
P = +0.5Q
Untuk menurunkan sangkar bermuatan P = +0.5Q
Untuk menaikan sangkar kosong
P = +0.5Q
Untuk menurunkan sangkar kosong
P = +0.5Q

Gambar 257
Peralatan penggantung. Tali kawat pintalan sejajar atau silang
merupakan perabot pengangkat fleksibel
yang menggantung sangkar.
Untuk mengefektifkan penggunaan tali yang berdiameter lebih kecil, sangkar dan pengimbang digantungkan dengan dua,
empat atau enam tuas tali. Distribusi beban yang seragam pada semua tali didapat dengan menggunakan batang silang
penggantung jenis tuas, seperti ditunjukkan pada gambar 258a.
Mesin pengangkat dengan roda puli penggerak sering menggunakan penggantung tali terpisah berpegas
(gambar 258b) akan tetapi, sulit untuk mendapatkan beban pada seluruh tali dengan menggunakan metode ini.

Gambar 258
Mesin pengangkat elevator. Elevator sangkar menggunakan mesin pengangkat jenis drum dan roda puli
penggerak. Mesin ini lebih luas penggunaanya karena dapat digunakan untuk mengangkat pada segala macam
ketinggian dan ukuran yang lebih kompak.
Penggunaan mesin pengangkat jenis penggerakpada puli ini telah mengurangi kecepatan secara drastis
akibat tali putus.
Mesin pengangkat jenis drum yang ditunjukan untuk elevator sangkar berada dengan mesin pengangkat
serba guna terutama yang ukurannya jauh lebih kecil dan adanya alat pengaman khusus.
Mesin pengangkat roda puli untuk lift penumpang ditunjukkan pada gambar 259. Mesin ini menggunakan
rem sepatu ganda yang dikendalikan oleh elektromegnet gambar260.
Gambar 259
Gambar 260
Gambar 261
Sifat spesifik desain mesin pengangkat penggerak roda puli. Umur roda puli yang diinginkan merupakan dasar untuk
mendapatkan nilai aman tekanan satuan antara tali dan alur roda puli. Alur roda puli akan hilang fungsinya karena
pengikisan pada dinding alur yang tergantung pada gelincir dan gerak elastis tali. Semakin besar kecepatan gerak tali dan
semakin besar jumlah siklus kerja elevator per satuan waktu,dan semakin besar keausan yang terjadi.
Pada elevator yang mesin penggeraknya diletakan pada lantai atas (mesin dengan penggerak roda puli) nilai numerik
percepatan dan perlambatan yang diizinkan (a) ditentukan dan ditetapkan dengan percobaan. Nilai berikut dapat dipakai
sebagai nilai rata-rata :
V, m/detik…………….
A, m/detik…………….
Perbandingan

0,75
0,65

1,0
0,85

1,5
1,15

2,0
1,4

2,5
1,65

3,0
1,88

3,5
2,1

S on
S off

ketika periode dan perlambatan dapat dinyatakan secara perkiraan dengan rumus berikut :
 S on

S
 off

 g + a   S on

=
 g − a   S
  off







Dengan :
Son

G = percepatan gravitasi
= tegangan pada bagian tali yang masuk
Soff = tegangan pada bagian tali yang keluar

Alat pengaman elevator. Sangkar semua elevator harus dilengkapi dengan alat pengaman khusus yaitu penahan yang
akan menghentikan sangkar secara otomatis bila tali putus atau kendur.
Penahan akan menghentikan sangkar bila satu buah tali atau semuanya putus secara bersamaan, bila satu tali
dibebani lebih dari tali lainnya, bila tali kendudr pada saat bersamaan, dan bila kecepatan penurunan menjadi terlalu besar.
Biasanya penahan beroprasi dengan day yang diberikan oleh pegas, bobot sangkar itu sendiri atau bobot pengimbang
atau gaya udara bertekanan.
Gambar 263
2. PENGANGKAT PENGGERAK UDARA MAMPU JINJING
Pengangkat penggerak udara mampu jinjing mempunyai penggunaan yang sam seperti jenis pengangkat lainnya.
Gambar 264 menunjukkan desain pengangkat penggerak udara yang dibuat oleh pabrik Uralmash dengan kapasitas 500
kg dan tinggi angkat 1150 mm.
Gambar 264
Alat yang mencegah muatan jatuh bila selang rusak. Kedua katup udara bertekanan akan melewati katup
pengaman 11 yang dipasang pada lubang berulir pada katup start. Selongsong dan kepala khusus dengan pegas yang
akan menahannya pada lubang didalam selongsong dimasukan kedalam katup pengaman antara ujung pipa pemasuk dan
badan masuk penstart.
Alat untuk mengukur kecepatan penurunan. Alat ini terdiri atas baut 14 dengan mur pengunci yang terletak pada
dasar badan katup start. Baut dapat diputar untuk mendapatkan kecepatan pengeluaran udara yang diinginkan dari bagian
bawah piston, sehingga diperoleh kecepatan penurunan muatan yang diinginkan.
3. PENUMPUK
Penumpuk sangat benyak dipakai digudang-gudang untuk meletakkan muatan satuan kedalan suatu
tumpukan. Penumpuk dapat juga dipakai untuk operasi pemuatan tertentu.
Penahan pengamanan akan mencegah muatan jatuh bila tali putus. Ketika dipindahkan rangka dilipat
dengan menggunakan sekrup dengan roda tangan (gambar 265) (untuk melewatkan mesin dibawah ambang pintu).
Penumpuk ini dipasang pada roda karet dan digerakkan secara manual.
Disamping mekanisme penumpuk yang digerakkan listrik dapat juga dipakai desain dengan penggerak
hidrolik atau udara bertekanan dan untuk pelayanan ringan bahkan dapat dipakai mekanisme pengangkat yang
digerakkan tangan.
Biasanya kapasitas penumpuk berkisar antara 250 sampai 1000 kg dengan tinggi angkat sampai 5 meter.
Perkembangan terakhir ialah penumpuk swagerak yang terpasang pada truk daya universal (disebut juga truk elektrik
atau truk motor) atau pada kendaraan beroda khusus yang menggunakan sejumlah komponen dan suku cadang
otomotive standar. Kapasitasnya jarang melebihi 5 ton dengan angkat sampai 5 meter.

Handout mesin pengangkat

  • 1.
  • 2.
    PERLENGKAPAN PENGANGKAT Kelompok perlengkapanpengangkat berikut ini mempunyai cirri khas yang berbeda, antara lain: Mesin pengangkat adalah kelompok mesin yang bekerja secara periodic yang didesain sebagai peralatan swa-angkat, atau untuk mengangkat dan memindahkan muatan atau sebagai mekanisme tersendiri bagi crane atau elevator. Crane adalah gabungan mekanisme pengangkat secara terpisah dengan rangka untuk mangangkat atau sekaligus mengangkat dan memindahkan muatan yang dapat dugantungkan secara bebas atau diikatkan pada crane. Elevator adalah kelompok mesin yang bekerja secara periodic untuk mengangkat muatan pada jalur pandu tertentu.
  • 3.
    TIPE UTAMA ALATPENGANGKAT ALAT PENGANGKAT Mesin pengangkat Crane Elevator
  • 4.
    JENIS UTAMA CRANE CRANE Craneputar yang diam Crane yang bergerak pada rel Crane tanpa lintasan Crane yang dipasang di atas traktor rantai Crane tipe jembatan
  • 5.
    KARAKTERISTIK UMUM MESIN PENGANGKAT Parameterteknis mesin pngangkat adalah: kapasitas angkat, berat mati mesin tersebut, kcepatan berbagai gerakan mesin, tinggi angkat dan ukuran geometris mesin tersebut, bentangan, panjang dan=lebar, dan sebagainya. Q nQ ton / jam hr dengan: n – jumlah siklus mesin per jam Q – berat muatan, dalam ton
  • 6.
    Q =V ψγ Dengan : V– kapasitas ember, alat pencengkeram dan sebagainya dalam meter kubik Ψ – faktor pengisian γ – berat jenis dalam ton/m3
  • 7.
    Q = (Q+ G ) ∑ ton Dengan: Q – berat muatan, dalam ton G – berat ember atau penahan, dalm ton n= 3600 ∑t1 Dengan: Σ ti – total waktu yang dibutuhkan
  • 8.
    Semua jenis cranedan mesin penangkat dapat dibagi lagi menjadi empat kelompok sesuai dngan kondisi operasi dan gabungan faktor berikut: - beban pada mesin - penggunaan mesin harian dan tahunan - faktor kerja relatif (jangka waktu mesin dihidupkan DF %) - temperatur sekitar
  • 9.
    KARAKTERISTIK KERJA Penggunaan mesinrata-rata (mean) KONDISI OPERASI Ringan (L) Sedang (M) Berat (H) Sangat Berat (VH) Waktu Beban K beban 0.5 0.5 0.5 0.5 K tahun 0.25 0. 0.75 1.0 K hari 0.33 (shift satu0 0.67 (shift dua) 0.67 (shift dua) 1.0 (shift tiga) Faktor kerja DF% TemPeratur Sekitar °C 15 25 40 40 25 25 25 45
  • 10.
    Nilai-nilai ini ditentukandari operasi rata-rata atau data desain. Kerja Nominal Jumlah perubahan operasi per jam …….. Ringan Sedang Berat Sangat Berat 60 120 240 300720
  • 11.
    PERLENGKAPAN KHUSUS PERMUKAANDAN OVERHEAD Truk tanpa rel adalah fasilitas transportasi permukaan yang bergerak diatas jalur rel yang sempit Kendaraan yang berbadan sempit adalah fasilitas transportasi permukaan yang bergerak di atas jalur rel yang sempit Peralatan penanganan silang adalah fasilitas transportasi permukaan yang memindahkan kereta rel di dalam ruang lingkup suatu perusahaan Sistem lintasan overhead adalah struktur jalur pembawa/pemindah tau kabel tempat truk yang bermuatan tersebut bergerak
  • 12.
    KARAKTERISTIK UMUM FASILITAS TRANSPORTASIPERMUKAN DAN OVERHEAD Peralatan permukaan dan overhead Truk tanpa rel Kendaraan yang berbadan sempit Peralatan untuk penanganan silang Sistem lintasan overhead
  • 13.
    PENGGUNAAN PERLENGKAPAN PENANGANAN BAHAN Fasilitastranspor dipilih sedemikian rupa agar sesauai dengan laju aliran bahan yang menggambarkan sistem umum dari gerak bahan, barang setengah jadi dan produk pada departemen atau pabrik tersebut.
  • 14.
  • 15.
     1. Rantai Lasan rantailasan (welded) terbuat dari jalinan baja oval yang berurutan. Ukuran utama rantai (gambar 7) adalah : kisar (t), sama dengan panjang bagian dalam mata rantai lebar luar (B), dan diameter batang rantai (d). tergantung pada perbandingan kisar dan diameter batang rantai, rantai lasan diklasifikasikan menjadi rantai mata pendek (t ≤ 3d) dan rantai mata panjang (t > 3d). Gambar 7. ukuran utama mata rantai beban Gambar 8.mata rantai menghubungkan rantai beban..
  • 16.
    Rantai lasan terbuatdari baja CT. 2 dan CT. 3. Mata rantai untuk rantai lasan dibentuk dengan berbagai macam metode,yaitu pengelasan tempa dan pengelasan tahanan listrik. Dengan pengelasan tempa mata rantai dibuat dari satu batang baja, sedangkan bila menggunakan las tahanan listrik mata rantai terbuat dari dua potong baja lengkung yang dilas temu. Rantai lasan digunakan untuk mesin pengangkat kapasitas kecil (katrol, Derek, dan crane yang digerakan tangan), & sebagai perabot pengangkat utama Rantai lasan mempunyai kelemahan yaknik berat, rentan terhadap sentuhan dan beban lebih, kerusaan yang tiba-tiba, keausan yang berlebihan pada sambungan antar mata rantai , dan hanya digunakan untuk kecepatan rendah Keunggulannya ialah flexible untuk semua arah, dapat menggunakan puli dan drum dengan diameter yang kecil serta desain dan pembuatan yang sederhana
  • 17.
    Rumus umum untukmemilih tegangan tarik rantai adalah : Ss = Sbr K Dengan Ss = beban aman yang diterima rantai, dalam kg Sbr = beban putus dalam kg K = Faktor keamanan Intensitas keausan yang terjadi pada rantai tegantung pada factor berikut : perbandingan kisaran rantai dengan drum atau puli rantai, tegangan kecepatan puli rantai, sudut belok relative bila rantai tersebut melewati pulinya, keadaan lingkungan kerja dan sebagainya. Rantai las tempa selalu putus pada bagian lasnya. Pada rantai las tahanan listrik yang bermutu tinggi, biasanya mata rantai putus berbentuk putus miring dengan penampang yang bersudut kecil terhadap sumbu memanjang rantai, yang bermula pada bagian bagian tepi batas permukaan kontak mata rantai yang dihubungkan.
  • 18.
     2. Rantai Rol rantai rolterdiri atas pelat yang dihubungengsel pana pena (gambar 9). Rantai Gambar 9 rantai rol untuk beban ringan terbuat dari dua keping plat saja, sedangkan untuk beban berat dapat menggunakan sampai Rantai rol dari 2 keping pelat mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan lebih rantai lasan. Karena rantai rol padat maka keandalan operasinya jauh lebih tinggi dibandingkan rantai lasan. Rantai rol mempunyai flexisibelan yang baik sehingga dapat dipakai pada sprocket dengan diameter lebih kecil dan jumlah gigi yang lebih sedikit. Hal ini akan mengurangi ukuran mekanisme dan sekaligus mengurangi harganya. Juga, gesekan pada rantai rol jauh lebih kecil dibandingkan dengan rantai lasan dengan kapasitas angkat yang sama.
  • 19.
    Kecepatan maximum rantairol ditentukan oleh standar Negara dan tidak boleh melebihi 0.25 mm/detik. D Nilai factor keamanan K, rasio dan jumlah gigi sprocket untuk rantai las d dan rol diberikan pada table 4. Table 4 Data rantai yang terseleksi RANTAI Digeraka n Factor K keamana n Rasi oD d Dilas dikalibrasi dan tidak dikalibrasi …………............ dilas dikalibrasi pada katrol ………………….............................. dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat beban Dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat beban Roller Tangan Daya Tangan Daya …… …… …… 3 6 4.5 8 6 5 5 20 30 20 30 …. …. …. Jumlah minimu m gigi pada sprocke t 5 5 ….. ….. ….. ….. 8
  • 20.
    3. Tali Rami Talirami hanya cocok digunakan untuk mesin pengangkat yang digerakan tangan (puli tali) karena sifat mekanisnya yang lemah (cepat aus, kekuatan yang rendah, mudah rusak oleh benda tajam, pengaruh lingkungan dan sebagainya) Tali rami harus memenuhi standar Negara dan terbentuk dari tiga untai rami dan tiap untai terdiri atas beberapa serabut yang berbeda. Arah lilitan untaian harus berlawanan dengan serabut. Berdasarkan metode pembuatan pembuatan dan jumlah untaian tali rami dikelompokan menadi tali polos dan tali kabel. Yang terakhir terbuat dari lilitan 3 buah lilitan yang berbeda. Tali sering dicelupkan pada aspal untuk mengurangi pelapukan. Walaupun tali rami yang dicelupkan pada aspal lebih tahan terhadap pengaruh cuaca, namun jauh lebih berat dan lebih kurang flexible dan kekuatannya berkurang 20% dibanding tali biasa. Kekuatan putusnya membagi tali rami menjadi dua kelas : kelas 1 dan kelas 2.
  • 21.
    Pemilihan tali rami.Tali rami dipilih hanya berdasarkan kekuatan tariknya berdasarkan rumus2 : πd S= σ br 4 dengan : d = Diameter keliling dari untai, dalam cm S = Beban pada tali, dalam kg  4. TALI BAJA Tali baja mempunyai keunggulan sebagai berikut : 1. Lebih ringan; 2. Lebih tahan terhadap sentakan; 3. Operasi yang tenang walaupun pada kecepatan operasi yang tinggi; 4. Keandalan operasi yang tinggi. Tali baja terbuat dari kawat baja dengan kekuatan σ= 130 sampai 200 kg/mm2. Didalam proses pembuatannya kawat baja diberi perlakuan panas tertentu dan digabung dengan penarikan dingin, sehingga menghasilkan sifat mekanis kawat baja yang tinggi.
  • 22.
    Jenis Tali BajaPuntir mempunyai Lapisan dalam tali mengelompokan menjadi : keunggulan sebagai berikut : 1) Tali pintal silang atau tali biasa; 1. Distribusi beban yang merata 2) Tali pintal parallel atau jenis lang; pada setiap kawat sehingga 3) Tali komposit atau pintal balik. tegangan internal yang terjadi minimal. Tali Baja Serba Guna. Tali yang terdapat 2. Lebih fleksibel. pada Gambar 13 adalah tali baja konstruksi 3. Keausan tali lebih kecil bila biasa (kawat seragam) yang berupa kawat melewati puli dan digulung pada anyaman kawat yang sama diameternya drum, karena tidak ada untaian atau kawat yang menonjol pada kontur tali, dan keausan kawat Gambar 13. Lapisan serat tali baja. terluar seragam; juga kawat yang putus tidak akan mencuat keluar Tali Baja Anti-Puntir. dari tali. Pada tali ini sebelum dipintal setiap kawat 4. Keselamatan operasi yang lebih dan untaian dibentuk sesuai dgn baik. kedudukannya didalam tali. Akibatnya tali yang tidak dibebani tidak akan mengalami tegangan internal. Tali ini tidak mempunyai Gambar 15. Tali anti-puntir dan tali biasa. kecenderungan untuk terurai walaupun ujung tali ini tidak disimpul
  • 23.
    Tali Baja DenganUntaian Yang Dipipihkan. Tali ini (Gambar 16) dipakai pada crane yang bekerja pada tempat yang mengalami banyak gesekan dan abrasi. Biasanya tali ini tebuat dari lima buah untaian yang dipipihkan dengan inti kawat yang juga dipipihkan; untaian ini dipintal pada inti yang terbuat dari rami Gambar 16. Tali dengan untaian yang dipipihkan. Tali dengan Anyaman Terkunci. Tali ini banyak digunakan pada crane kabel dan kereta gantung. Tali ini mempunyai keunggulan dalam hal permukaan yang halus, susunan kawat yang padat dan tahan terhadap keausan, kelemahannya adalah tidak fleksibel. Gambar 17. Lilitan tali yang dikunci. Cara mengukur diameter luar tali dapat dilihat pada Gambar 19, yaitu dengan mengukur dua untaian yang berlawanan letaknya. Gambar 19. Cara mengukur diameter tali
  • 24.
    Tabel 5 Tali Ramiuntuk Pengangkat Tabel 6 Tali Untuk Crane dan Pengangkat KONSTRUKSI TALI Faktor mulamula dari keama nan tali terhadap tegangan kurang 9 '9 - 10 '10 12 '12 14 6 x 19 = 114 + 1c KONSTRUKSI TALI 6 x 9 = 114 + 1c* Posisi berpoto ngan 6 x 37 = 222 + 1c* Posisi sej aja r Posisi berpoto ngan Posisi sej aja r Faktor mula-mula dari keamanan tali terhadap tegangan Posis i berp otongan Posis i sejaj ar 6 x 37 = 222 + 1c Posis i berp otongan Posis i sejaj ar 6 x 61 = 366 + 1c Posis i berp otongan Posis i sejaj ar 18 x 17 = 342 + 1c Posis i berp otongan Posis i sejaj ar Jumlah serat yang patah pada panjang tertentu setelah tali dibuang Jumlah serat patah sepanjang satu tingkatan setelah tali tertentu dibuang 14 7 23 12 16 8 26 13 18 9 29 14 Kurang 6 12 6 22 11 36 18 36 18 6-7 14 7 26 13 38 19 38 19 Diatas 7 16 8 30 15 40 20 40 20 20 10 32 Percobaan-percobaan menunjukkan 16 bahwa umur tali sangat D diatas 16 12 38 19 dipengaruhi24 oleh kelelahan. Umur tali dapat ditentukan dengan d memakai perbandingan (Dmin adalah diameter minimum puli atau drum dan d ialah diameter tali) dan (δ -diameter kawat pada tali). min Dmin δ Jumlah lengkungan dapat ditentukan dengan cukup akurat bila kita membuat suatu diagram seperti jenis yang ditentukan dalam Gambar 21. Gambar 21. Menentukan jumlah lengkungan tali dengan satu puli penggerak.
  • 25.
    Sistem puli yangbanyak digunakan dan jumlah lengkungannya dapat dilihat pada Gambar 23 Gambar 23. menentukan lengkungan untuk berbagai sistem puli pengangkat Tabel 7 menunjukkan nilai Dmin sebagai fungsi jumlah lengkungan. d Jumlah lengk unga n Jumlah leng kung an Jumlah lengk ungan Jumlah lengk ungan 16 5 26,5 9 32 13 36 2 20 6 28 10 33 14 37 3 23 7 30 11 34 15 37,5 4 Tabel 7 1 25 8 31 12 35 16 38 Puli Tunggal Efisiensi Gesekan pada permukaan puli (faktor resisten satu puli) Gesekan anguler pada permukaan puli (faktor resisten satu puli Jumlah puli yang berputar Jumlah alur Jumlah puli yang berpu tar 2 1 4 2 0,951 0,971 3 2 6 4 0,906 0,945 4 3 8 6 0,861 0,918 5 4 10 8 0,823 0,892 6 5 12 10 0,784 0,873 Jumlah alur Tabel 8 EFISIENSI PULI Puli Ganda
  • 26.
    Tabel 9 Harga MinimumFaktor k dan e1 yang diizinkan Digerakkan oleh: TIPE ALAT PENGANGKAT 1. 2. 3. 4. 5. 6. Lokomotif,caterpilar-mounted, traktor dan truk yang mempunyai crane pilar (termasuk excavator yang dioperasikan sebagai crane dan pengangkat mekanik pada daerah konstruksi dan pekerjaan berkala. Semua tipelain dari crane dan pengangkat mekanis Derek yang dioperasikan dengan tangan, dengan kapasitas beban terangkat diatas 1 ton yang digandeng pada berbagai peralatan otomotif (mobil, truk, dan sebagainya). Pengangkat dengan troli Penjepit mekanis (kecuali untuk puli pada grabs) untuk pengangkat mekanis pada no.1 Idem untuk pengangkat mekanik pada no.2 Kondisi pengoperasian Faktor K Faktor e1 Tangan Daya Daya Daya Tangan Daya Daya - Ringan Ringan Medium Berat dan sangat berat Ringan Ringan Medium Berat dan sangat berat - 4 5 5,5 6 4,5 5 5,5 6 4 5,5 5 5 16 16 18 20 18 20 25 30 12 20 20 30 Konstrusi Tali Tabel 10 Harga faktor e 2 yang tergantung pada konstruksi tali Biasanya 6 x 19 = 114 + 1 poros Posisi berpotongan………………………………………………………… Posisi sejajar………………………………………………………………. Compound 6 x 19 = 114 + 1 poros a). Warrington Posisi berpotongan…………………………………………………….. Posisi sejajar…………………………………………………………… b). Seale Posisi berpotongan…………………………………………………….. Posisi sejajar…………………………………………………………… Biasanya 6 x 37 = 222 + 1 poros Posisi berpotongan………………………………………………………… Posisi sejajar………………………………………………………………. Faktor e2 1,00 0,90 0,90 0,85 0,95 0,85 1,00 0,90
  • 27.
    5. PERHITUNGAN DAYATAHAN (KEKUATAN BATAS KELELAHAN) TALI KAWAT BAJA DENGAN METODE PROFESOR ZHITKOV Metode perhitungan daya tahan tali kawat yang dijelaskan berikut dihasilkan oleh penelitian bertahun-tahun yang dilakukan di hammer dan sickle works. berbagai konstruksi tali yang berdiameter dari 3 mm sampai 28 mm diuji dengan tiga unit mesin khusus untuk menentukan metalurgi, produksi, desain dan operasi yang mempengaruhi kekuatan tali. Pada tahap pertama, karakteristik umur tali dikumpulkan dari semua pengujian dalam bentuk grafik yang menghasilkan hubungan z = ƒ1(σ) dan z = ƒ2( D ) d Data ini kemudian dipakai untuk menggambarkan suatu diagram yang menunjukkan hubungan σ = ƒ3 ( D ) dengan berbagai jumlah lengkungan tali d (gambar 24) dan untuk mendapatkan secara matematis rumus desain: D A = d = mσCC1C2 Gambar.24 Diagram untuk menentukan jumlah lengkungan tali
  • 28.
     Bila kita mengetahuikondisi operasi mekanisme pengangkat, dan telah menentukan umur tali, kita dapat menentukan jumlah lengkungan yang diperbolehkan z1 dengan rumus : z1 = a z2 N β dengan : N = umur tali dalam bulan a = jumlah siklus kerja rata-rata per bulan z2= jumlah lengkungan berulang per siklus kerja (mengangkat dan menurunkan) pada tinggi pengangkatan penuh dan lengkungan satu sisi. β = faktor perubahan daya tahan tali akibat mengangkut muatan lebih rendah dari tinggi total dan lebih ringan dari muatan penu Gambar 26. Penggantungan pada sistem puli majemuk
  • 29.
    Gambar 28 menunjukanfaktor-faktor utama yang mempengaruhi mutu tali kawat baja
  • 30.
    6. PENGIKATAN RANTAIDAN TALI     Pengikatan Rantai Beban Lasan Pengikatan Rantai Rol Pengikatan Tali Rami Pengikatan Tali Baja Gambar 29 Metode pengikatan rantai beban lassan Gambar 30 Pengikatan rantai roller beban Gambar 31 Pengikatan tali rami Gambar 32 Pengikatan tali kawat dalam soket tirus
  • 31.
    Soket Baji. Talidilewatkan mengitari baji-baja beralur (Gambar 34a) dan diikat bersama dengan baji kedalam soket rata yang sesuai yang terbuat dari baja tuang. Beban akan menarik tali kedalam soket dan akan menambah daya ikatnya. Mata Pengikat. Tali dililitkan mengelilingi mata pengikat (Gambar 34b) dan ujung bebasnya dililitkan dengan bagian utama tali. Panjang lilitan 1 > 15d dan minimum sepanjang 500 mm. Gambar 34c menunjukan kait yang diikat pada tali dengan mata pengikat. Disamping dililitkan, mata pengikat dapat dikencangkan dengan memakai klip khusus bulldog (bull-dog clip) atau pengapit pada tali kawat (Gambar 35). Jumlah pengapit minimum adalah tiga buah. Gambar 36 menunjukan tali kawat yang diikat pada mata pengikat dengan plat dan baut. Gambar 34 Baji soket tali (a) dan pengikatan dengan alat berlubang (b,c) Gambar 35 Klem bull dog Gambar 36 Tali alat berlubang dengan plat dan sekrup
  • 32.
    7. PERABOT PENGGANTUNGBEBAN    Anduh Rantai. Anduh (sling) ini terbuat dari rantai lasan tak terkalibrasi biasa dengan mata dan kait untuk penggantungan atau cengkeram berbentuk capit untuk mengangkat obyek. Juga digunakan rantai tanpa ujung dan rantai lepas dengan cincin tanpa ujungnya Gambar 38a menunjukan rantai tanpa ujung, Gambar 38b rantai lepas dengan cincin , Gambar 38c - rantai dengan kait dan cincin, Gambar 38d – anduh utas dua, Gambar 38e cengkeram berbentuk cakar untuk membentuk lingkaran pada rantai. Gambar 38f menunjukan tong yang diangkat dengan cengkeram rantai berbentuk capit yang memegang bagian ujung tong Anduh rantai terutama digunakan untuk pelayanan kerja berat dan selalu pada temperatur tinggi. Kecuali dipakai pelindung khusus yang terbuat dari logam lunak (Gambar 38g), Anduh rantai biasanya akan merusak sudut (ujung) benda yang dingkat Gambar 38 Anduh rantai
  • 33.
      Anduh Tali Rami.Tali rami polos yang disimpul mati banyak sekali digunakan untuk menhan muatan pada kait crane. Kekuatannya jauh lebih rendah dibandingkan dengan tali baja, tetapi memiliki keluwesan yang lebih tinggi dan mudah diikat menjadi simpul. Tali rami mudah sekali dirusak oleh ujung tajam benda yang diangkat dan harus dilindungi dengan bantal linak (Gambar 38g) atau alat pelindung khusus lainnya (plat sudut). Metode mengikat dengan tali rami dapat dilihat pada Gambar 39. Anduh Tali Kawat Baja. Umumnya beban yang berat umumnya dingkat dengan anduh tali baja. Dibandingkan dengan rantai, tali baja lebih ringan tetapi terlalu kaku dan cenderung untuk terpuntir. Di samping itu apabila digunakan untuk mengangkat benda yang berujung tajam, tali baja akan melengkung terlalu tajam dan akan cepat aus. Tali baja ini rentan terhadap temperatur yang tinggi. Muatan yang diangkat oleh anduh tali dan rantai harus diikat dengan aman sehingga tidak berpindah posisinya sewaktu bergerak. Gambar 40a menunjukkan anduh tali baja dengan utas tunggal dan gambar 40b menunjukan tali dengan dua dan empat utas. Gambar 40 anduh serat tali baja
  • 34.
  • 35.
    1. URAIAN UMUM Padacrane serbaguna yang mengangkat berbagai bentuk muatan ditangani dengan memakai anduh (sling) rantai yang dikatkan pada kait. Kait tunggal (standar) dan kait tanduk adalah jenis kait yang paling sering dipakai untuk keperluan ini. Kadang-kadang digunakan kait segitiga. Kait standar dan tanduk dibuat dengan ditempa pada cetakan rata atau cetakan tertutup atau dapat juga dibuat dari beberapa plat dengan bentuk kait yang dijadikan satu.
  • 36.
    Kemampuan Angkat 1. Kaittempa : Kait standar sampai 50 ton  Kait tanduk mulai dari 25 ton ke atas  2. Kait segitiga dan kait berlapis mempunyai kemampuan angkat diatas 100 ton
  • 37.
    Pada umumnya, muatan digantungpada anduh berutas-empat dengan dua lilitan tali pada kait (Gambar 61). Q Q P= 4 = ≈ 0,35Q cos γ 4 cos 45° Kait sering kali mempunyai bentuk penampang tarapesium yang dibuat lebih lebar di dalam.
  • 38.
    2. KAIT TEMPASTANDAR Perhitungan Dimensi Kait Tegangan tarik : t : kisar ulir σ= Q π d do : diameter luar ulir 4 d1 : diameter dalam ulir t Tinggi minimum : H = 2 1 4Qt 2 π d 0 − d12 p ( ) σ : tegangan satuan pada jarak y dari sumbu netral Q : beban pada kait F : luas penampang kritis r : jari-jari kelengkungan pada daerah kritis x : faktor bentuk bentuk penampang
  • 39.
    Momen lentur Mdiasumsikan bernilai positif bila menyebabkan kelengkungan kait bertambah (jari-jarinya berkurang) dan bernilai negatif bila kelengkungannya berkurang. Karena beban cenderung untuk membuka kait, momennya bernilai negatif (Gambar 62a) : M = -Qr = -Q (0,5a + e1) Nilai x didapat dari persamaan : 1 y x= dF F ∫ y +r e2 e1 untuk trapesium dengan sisi b1 dan b2 dan tinggi h akan menjadi x = −1 + 2r b + b − b ( e + r ) 1n r + e − ( b − b )     ( b1 + b2 ) h  2 1 2 h 2 2  r + e1 h =1 a 1 2  b1 =n b2 Bila kita mengambil nilai h = a, dan bila dan 5n + 7 [ (1,5n − ditransformasikan x diatas setelah 0,5)1,09861 − ( n − 1) ] − 1 akan = maka rumus 3( n + 1) 2 berbentuk
  • 40.
    dengan mengabaikan perpindahansumbu netral relaif terhadap pusat massa bagian tersebut diperoleh n + 2 h e1 ≈ n +1 3 Dalam keadaan tersebut rumus diatas dapat digunakan untuk mencari x untuk semua nilai b1 b2 Denganmendistribusikan nilai M = -Qr = -Q (0,5a + e1), r = 0,5a + e1, y = -e1 (untuk bagian terdalam yang tertarik) dan y = e2 (untuk bagian terluar yang tertekan) ke dalam rumus (61) dan kita dapatkan tegangan satuan pada penampang antara titik I dan II. Q Q ( 0,5a + e1 ) Q( 0,5a − e1 ) 1 y Q  0,5a + e1  1 y    σ = F − Fr = Q F − Fr  0,5a +e1 1  − r   x y+r =  1 e  − 1  x r −e1  1 − F r   Q 1 2e1  =   F x a    Tegangan maksimum pada bagian terdalam σ1 = σ Tegangan maksimum pada bagian terdalam 1 = 1 + x y + r   =   Q 1 2e1 < σ aman F x a Q 1 e2 < σ aman F x a +h 2
  • 41.
    Metode Grafik untukmenetukan Faktor x Nilai x adalah jarak dari titik O ke garis vertikal yang bersangkutan; y adalah panjang garis vertikal di dalam bagian penampang. Titik-titik terluar ordinat kemudian dihubungkan dengan suatu garis. Absis titik pusat penampang tersebut ditentukan dengan h xc = ∫ yxdx 0 h ∫ ydx 0 Dengan ; f : luas daerah yang dibatasi oleh kurva F : luas penampang kait Luas penampang daerah f dan F ditentukan dengan memaki
  • 42.
    Dengan meneruskan proseduryang sama untuk semua garis vertikal akan didapatkan sejumlah titik dan bila titik tersebut dihubungkan, kita akan adapat mencari luas daerah f1 dan f2 pada titik C. Perbedaan f1-f2 akan selalu bernilai negatif. Luas daerah f1 dan f2 dapat ditentukan dengan memakai planimeter. Faktor x akan sama dengan e2 1 y 2( f1 − f 2 ) x =− F ∫ y + r dF = − e1 F ρx Jarak antara garis nol (netral) adan garis pusat adalah γ = 1+ x Dengan : ρ : jari-jari kelengkungan titik pusat
  • 43.
    Tegangan aman Tegangan amansatuan yang didapatkan dengan rumus (64) dan (65) tidak boleh melebihi 1500 kg/cm2 untuk baja 20. Penampang III dan IV diperiksa kekuatannya pada sudut maksimum yang diizinkan 2α = 120° dengan cara yang sama seperti Penampang I dan II. Dengan Q mengabaikan gaya geser 2 Q tan α 2 perhitungan untuk gaya dilakuakn dengan a memakai cara yang sama dengan 2 sebelumnya, tetap memakai nilai r’dan bukan hubungkan dimensi yang bersangkutan dari penampang tersebut. Bagian silindris tangkai kait yang masuk ke lubang pada bintanglintang akan mengalami tegangan tarik. Akan tetapi tegangan lentur akan timbul akibat salah stel sebab itu tegangan yang diizinkan dalam hal
  • 44.
    Beban digantung padasatu tanduk. Tangkai utama akan dibebani lebih dari yang diizinkan, tegangan satuan maksimumnya dapat ditentukan melalui pertimbangan berikut (penampang kritis V-VI) p1 p sh Q = cos 2 pt Q = sin β, σt = 2 F DAN β τ sh Psh = F
  • 45.
    Tegangan lentur yangtimbul dari momen Akibatnya a +d M lentur = −P ( ) 1 2 σ ∑ = (σ1 +σlentur ) 2 + 3τ 2 Contoh soal: Memeriksa tegangan pada bagian lengkung kait tanduk tempa. Diketahui: Kapasitas angkat 15 ton; dimensi pada gambar 66. 1.Beban total Q =15TON
  • 46.
    2.Gaya normal padapenampung rumus (69) adalah: 2Q sin(α + β ) 2 x15.00 x sin 77° P1 = = = 13.750kg. 3 cos α 3 cos 45° 3.factor χ Luas penampang F = 115,8 cm2 Luas daerah tambahan f = 789 cm3. Absis titik pusat ialah f 789 xc = = = 6,8 cm F 115,8
  • 47.
    Zambian Luas f1 daerah Sehingga factor =5,71 cm 2 dan f 2 = 11,7 cm 2 2( f 1 − f 2 ) 2(5,71 − ,7) 11 x = = =0,104 −f − 115,8 Jarak antara titik nol dan titik pusat adalah: ρ = ,8 × ,104 = ,29 cm π 13 0 γ= 1 1+ x 1 + ,104 0 Jarak antara bagian bagian terdalam dengan garis nol e1 = xc −β =6,8 −1,29 =5,51 cm
  • 48.
    4.Tegangan adalah satuan 2 x 5,51 P1 2e1 13.750 1 1 σ1 = . = × × = 900 kg / cm 2 F x a 115,8 0,104 14 σ II p1 1 e2 13.750 1 10,45 = − =− × × = − 520 kg / cm 2 F x a 115,5 0,104 14 + e1 + e2 + 16 2 2 Kedua rantai diatas berada dalam batas yang diizinkan.
  • 49.
    4. KAIT MATA SEGITIGAPADAT Kait mata pada segitiga padat dipakai pada crane dengan kapasitas angkat yang besar (di atas 10 ton), dan hanya kadang-kadang saja dipakai juga pada crane dengan kapasitas sedang. Kelmahan kait ini adalah anduh yang mengangkat muatan harus dilewatkan kedalam lubang kait tersebut. Kait segitiga ditempa langsung dari satu potong baja utuh.
  • 50.
    Ditinjau dari segitigaluar (eksternal) kait segitiga dapat ditentukan secara statis, dan dari segi tegangan kait ditentukan secara statis tak tentu. Karena lengkungan bagian bawah dibuat utuh dengan sisinya dan akan mengalami gaya lentur maka bagian sisinya akan terpengaruh gaya lentur tersebut juga. Dari penyelidikan yang dilakukan, momen lentur pada lengkunagan bawah adalah: Q1 M1 = 6
  • 51.
    Momen lentur padapertemuan kedua sisinya dengan busur ialah Q1 M2 = 13 Gaya tarik yang bekerja pada bagian sisi ialah p= Dengan: Q1 a 2 cos 2 a - sudut antara kedua sisi Q – beban I – panjang busur yang diukur sepanjang garis netral
  • 52.
    Sambungan antara busur,sisi dan tangkainya tidak boleh membentuk sudut yang tajam tetapi harus rata dan halus. Tegangan satuan maksimum pada bagian sumbu dapat ditentukan dengan rumus Dengan: M lentur P1 σ = + W F Q a P1 = tan 2 2 M lentur Q1 ≈ + P1 x 6 — gaya tekan yang bekerja pada busur, dalam kg W — momen perlawanan F — luas penampang busur Tegangan satuan aman untuk baja 3 adalah σ aman = 800 kg / cm 2
  • 53.
    5. KAIT SEGITIGA BERSENDI Pembuatankait mata segitiga ternyata mengalami banyak kesulitan dalam proses produksinya. Sehingga untuk menangani beban yang besar kait segitiga bersendi rakitan lebih disukai untuk digunakan. Tegangan satuan pada sambungan kait tiga-sendi rakitan adalah Q σ1 = Nilai yang diizinkan adalah a 4 cos F 2 σ 1 = 1.200 kg / cm 2
  • 54.
    Tegangan satuan ditentukansebagai tegangan pada bentangan lengkung P1 M e1 M σ = + + F FR xFR R − e Dengan Q1 M= + P1 x 4 Q a P1 = tan 2 2 Dengan: F — luas penampang e1 — jarak antara sambungan netral dengan lapisan yang menerima beban terbesar.
  • 55.
    Factor x untukellips didapat dengan rumus 2 4 1  a  1 a  5 a x=   +   +   4  R  8  R  64  R  Dengan: a — luas penampang 6
  • 56.
    Tegangan pada matatangkai diperiksa dengan rumus hasil ( P D +d σ1 = 2 2 D −d Dengan: P= Q a 4 cos bd 2 2 (tekanan satuan) b — lebar lubang 2 )
  • 57.
    6. PERABOT UNTUK MENGGANTUNGKANKAIT   Pemberat kait. Untuk mengangkat muatan ringan (=sampai 5 ton) biasanya kait langsung diikatkan pada takal pengangkat fleksibel. Untuk meredam kejut, kadang-kadang pemberat kait dilengkapi dengan pegas. Penggunaan peredam kejut ini sangat diperlukan untuk crane yang melayani alu tempa. Bantalan kait. Bantalan peluru aksial memungkinkan kait dapat berputar dengan mudah ketika menangani beban diatas 3 ton. Bantalan ini dipasang pada batang lintang dipakai menahan mur kait.
  • 58.
    Batang lintang untukkait Batang lintang kait dapat berputar pada pelat sisi rumahnya yang diperkuat dengan setrap atau sekal yang terbuat dari pelat baja. Hal ini akan memungkinkan kait berputar pada dua arah yang saling tegak lurus. Batang lintang ini ditempa dari baja dan diberi trunion (batang gerak) pada ujungnya. Diameter lubang untuk tangkai kait harus sedikit lebih besar dari tangkainya sendiri. Gambar. 70 penampang-lintang untuk kait.
  • 59.
    6. PERABOT UNTUKMENGGANTUNGKAN KAIT Pemberat kait. Untuk mengangkat muatan ringan (=sampai 5 ton) biasanya kait langsung diikatkan pada takal pengangkat fleksibel. Untuk meredam kejut, kadangkadang pemberat kait dilengkapi dengan pegas. Penggunaan peredam kejut ini sangat diperlukan untuk crane yang melayani alu tempa. Bantalan kait. Bantalan peluru aksial memungkinkan kait dapat berputar dengan mudah ketika menangani beban diatas 3 ton. Bantalan ini dipasang pada batang lintang dipakai menahan mur kait.
  • 60.
    Batang lintang untukkait Batang lintang kait dapat berputar pada pelat sisi rumahnya yang diperkuat dengan setrap atau sekal yang terbuat dari pelat baja. Hal ini akan memungkinkan kait berputar pada dua arah yang saling tegak lurus. Batang lintang ini ditempa dari baja dan diberi trunion (batang gerak) pada ujungnya. Diameter lubang untuk tangkai kait harus sedikit lebih besar dari tangkainya
  • 61.
    Tabel ukuran danbeban untuk bantalan swa-penyebaris untuk kait yang mengangkat beban mulai 5 sampai 75 ton kapasitas pengangkat Q ton 5 7,5 10 15 20 25 30 40 50 60 75 d1 d4 d5 D D1 50 60 70 80 90 100 115 125 130 150 170 52 62 72 82 93 103 120 130 135 155 175 75 85 95 110 125 140 160 175 185 205 230 92 106 120 136 155 172 200 220 240 260 285 100 115 130 145 165 185 215 220 250 270 300 k R r Limit beban kerja, ton. 36 75 1,5 7.5 41 85 2 9,0 44 95 2 11,6 50 110 2 15,8 57 125 2 20,6 64 140 2 26,0 74 160 3 35,5 79 175 3 41,5 101 185 3,5 58,0 106 205 4 67,4 111 230 4 77,5
  • 62.
    Momen lentur maksimumnya adalah Μ1 maks Q1 Q d1 Q = x − x = (1 − 0,5d1 ) 2 2 2 4 4 Dengan : D1= diameter luar cincin dudukan bantalan. Momen perlawanannya adalah 1 2 w = (b − 1 ) h d 6
  • 63.
    Tegangan lentur aman σlentur= 600 – 1000 Kg/cm2 Momen lentur pada trunion batang-lintang : Q s +1 s M2 = x 2 2 Tekanan satuan antara trunion dan rumah Dengan : s = tabel sakel s1 = tabel pelat samping Q P = 2d (s + 1 ) s s + s1 l= 2
  • 64.
    Trunion batang-lintang tidakboleh bergerak secara aksial tetapi harus dapat berputar. Pengencangannya dapat dilakukan dengan cincin penyetel yang diikat dengan memakai pena tirus atau cincin belah yang dimasukan ke dalam alur trunion yang dipasang dengan skrup ke strap atau sekal. Momen lentur pada trunion: M1 maks Qλ l0 D  =  + s0 + s − +  22 2 2 M2 = Q λ  + s0 + s   2 2  Gambar 71 penampang-lintang untuk pemasangan dua roda penuntun tali
  • 65.
    Gambar 72 Penampang-lintangsakel dengan rumah empat buah roda penuntun. Pada penampang A1B1 (gambar 72) σ Q 1 = 2bs Q Pada penampang A2B2 = σ1 2( b − d ) s Pada penampang A2B2 dipakai rumus lame, tekanan satuannya ialah: Q P= 2ds
  • 66.
    Tegangan satuan padapermukaan dalam: σ A3 [ P ( 2R ) + d 2 = ( 2R ) 2 − d 2 2 ] Tegangan satuan pada permukaan luar: σB 3 p 2d 2 = 2 ( 2 R ) −d 2 Tegangan maksimumnya akan terjadi pada permukaan dalam yakni: σ A3 Maka Q(4 R 2 + d 2 ) = 2ds ( 4 R 2 − d 2 ) Q 4R 2 + d 2 s= x 2dσ1 4 R 2 − d 2
  • 67.
    Perhitungan Kekuatan BatangLintang Secara Tepat Dengan Metode yang Dikembangkan oleh A.A. Staroselsky Bila batang lintang didesain dengan bantalan anti-gesek, tekanan pada daerah permukaan kontak yang dibebani dapat diasumsikan terbagi merata pada permukaan setengah silinder menurut hukum berikut : Pc= p cos ϕ
  • 68.
    Gambar 73 Diagram penampang-lintang perhitungan untuk Jika P merupakanresultan pada gambar dari persamaan itu kita peroleh : 2 P p= π x R Kg / cm Dan rumus yang dapat digunakan : N1 = 1  1 1  +2 P 4π  R 1  M 1 =−0,12 +0,034 PR R 
  • 69.
    RUMAH KAIT Rumah kaitmerupakan keseluruhan takel gantung yang mencakup :alat pengangkat (kait), batang lintang, roda puli bawah, dan pelat rumah sekal tempat gandar roda puli dan pemutar batang lintang diikat Gambar 77 menunjukkan rumah dengan satu buah roda puli dan perabot untuk mencegah tali terlepas Gambar 78 - 79
  • 70.
    Muatan yang ditanganidalam perusahaan industri dapat dibagi dalam beberapa kelompok sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. Muatan satuan yang biasanya berukuran besar misalnya ; ketel, rakitan mesin, struktur logam, dan lainnya. Muatan satuan massal ; biled baja coran berukuran besar, hasil, komponen mesin, baja canai, lembaran dan pelat, kotak, tong dan sebagainya. Muatan satuan massal berukuran kecil ; coran, tempa, dan kom[onen mesin berukuran kecil, biji logam, baut, paku keling dan sebagainya. Bahan lepasan ; batu bara, pasir, kokas, gas, abu, tatal, dan sebagainya. Bahan cair ; besi cor cair, baja, dan logam cair lainnya
  • 71.
    7. pencengkeram craneuntuk muatan satuan Faktor penggunaan dan kapasitas penanganan yang lebih tinggi dan perabot pengangkat berbanding langsung dengan waktu yang diperlukan untuk menggantung dan melepaskan muatan. Waktu ini dapat dikurangi dengan penggunaan pencengkeram khusus yang harus : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sesuai dengan sifat dan bentuk muatan Mencengkeram dan melepaskan muatan dengan cepat Mempunyai kekuatan dan keandalan mekanis yang memadai Memenuhi syarat keamanan Tidak merusak muatan Mempunyai bobot yang minimum Mudah dalam pengoperasiannya
  • 72.
    Cengkeram Dan Pengapit Crane Komponenyang serupa misalnya : pasangan roda, as, lembaran dan pelat baja roll kertas, gulungan kawat dan sebagainya ditangani dengan cengkeram yang sesuai bentuknya dengan muatan tersebut. Jenis cengkeram untuk pasangan roda, poros dan gandar tergantung pada panjang dan jumlah komponen yang ditangani sekaligus.
  • 73.
    Platform Muatan DanEmber Curah Samping Perabot ini dipakai untuk menangani muatan satuan dalam jumlah besar (kotak bal baja batangan, komponen mesin dan sebagainya) dan juga muatan yang berukuran kecil (briket, batu bata, biji logam dan komponen besi cor berukuran kecil lainnya). Untuk mencegah terjadinya kecelakaan, muatan yang berukuran kecil tidak boleh dipindahkan pada platform dan ember terbuka. Isi platform dan ember dapat dipindahkan dengan crane ke gerbong rata. Biasanya platform, dan ember tersebut ialah jenis yang dapat di lepas atau dicurah.
  • 74.
    Tang Biasa DanSwa Jepit Sendiri Kecenderungan untuk mengurangi tenaga kerja untuk menangani muatan satuan sekecil mungkin telah menyebabkan berkembangnya berbagi jenis tang dan cengkeram otomatis lainnya. Pada pronsipnya, tang dibuat bersifat swa jepit, yakni penjepit ini akan menutup sendiri akibat muatan yang ditangani. Tang dibuka secara manual dengan tuas khusus.
  • 75.
    8. MAGNET PENGANGKATELEKTRIS Magnet pengangkat digunakan sebagai bahan magnetik dalam berbagai bentuk (ingot, batang, rel, baja lembaran dan pelat, pipa, tatal, biji, kotak yang berisi benda – benda terbuat dari baja). Magnet pengangkat dapat digunakan secara luas khususnya pada pekerjaan rekasanya metalurgi dan mekanis. Keunggulan utamanya ialah tidak diperlukannya pengikatan muatan secara manual sehingga mengurangi waktu yang diperlukan untuk operasi ini secara drastis. kelemahan magnet peralatan ini yaitu pengurangan kapasitas angakt akibat bobot magnet ini sendiri, akan tetapi alat ini dapat mengatasi muatan yang jumlahnya cukup besar dengan waktu yang minimal dan peningkatan efisiensi pengangkat yang cukup besar.
  • 76.
    9. CENGKERAM UNTUKBAHAN LEPASAN– curah digantungkan pada kait crane, dan dapat Bak. Bak swa dibalikan / diputar pada trunion horizontal. Bak ini mempunyai kapasitas antara 0,25 – 3 M3. Bak Curah – Bawah Dan Curah Samping. Dipakai untuk menangani kerikil, pasir, tanha dan sebagianya dengan bantuan crane jenis ini lebih unggul dibandingkan bak miring, karena tidak mencecerkan bahan ketika pencurahan. Bak Dengan Sekop.bak jenis ini berkapasitas 1 – 3 m3 dan untuk penggunaan khusus dapat sampai 8 m3. Bak ini mempunyai dua buah sekop bersendi dengan alas yang dibulatkan. Ember cengkram .didesain untuk proses pencurahan otomtis tetapi memerlukan tenaga kerja dan mekanisme manual untuk pengoperasiannya.
  • 77.
    Ember Cengkram TaliGanda. Operasi pengangkatannya dilakukan oleh satu kelompok tali (atau suatu tali) Ember Cengkram Tauber Dengan Tali Ganda. Terdiri atas bentuk lonceng yang dibentuk oleh dua buah dinding memanjang yang sejajar yang dihubungkan dengan suatu pelat horizontal, Ember Cengkeram Tali Tunggal. Ember cengkeram yang dalam kedua macam operasinya (naik turun, membuka dan menutup) dilakukan dengan satu alat penarik, biasanya tali. Ember Cengkeram yang Digerakkan Motor. Pada ember cengkeram yang digerakkan motor, sekop dibuka dan ditutup dengan rantai ataupun tali yang digerakkan motor yang terpasang pada rangka pemegang itu sendiri.
  • 78.
    Ember Cengkeram yangDigerakkan Motor dengan Pengangkat Listrik. Sekopnya dikendalikan dengan tali puli yang roda pulinya dipasang pada batang-silang bawah. Ember Cengkeram Khusus. Mempunyai sekop yang berbentuk khusus untuk menyesuaikan diri dengan jenis operasi dan bahan yang akan ditangani. Ember Cengkeram Tangan Majemuk. Bentuknya menyerupai tangga, sekop, atau lebih tepat disebut dengan tangan, alat ini terdiri dari 3 sampai 8 tangan yang dapat mencengkeram bahan bongkahan dengan mudah tanpa merusakkan bahan.
  • 79.
    10. METODE UNTUKMENDESAIN EMBER CENGKERAM  Sifat bahan curah berikut mempengaruhi parameter alat cengkeram: ukuran dan bentuk bongkahan, kandungan air, viskositas gaya, gesek dalam, berat jenis (bulk weight), derajat ketahanan bahan terhadap penembusan benda asing, dan sebagainya. Metode mendesain cengkeram berdasarkan sifat fisik bahan curah dikatakan ideal.  Ketergantungan antara bobot dan kapasitas cengkeram dapat diungkapkan dengan perbandingan sebagai berikut: (a) untuk cengkeram pelayanan ringan G gr = 0,8V + 0,5 (b) Untuk cengkeram pelayanan medium Ggr = 1,5V + 0,5 (c) Untuk cengkeram pelayanan berat Ggr = 2,3V + 0,5 (d) Untuk cengkeram pelayanan sangat berat Ggr = 3V + 0,5 Dengan: Ggr − berat cengkeram, dalam ton, V − kapasitas cengkeram, dalam meter kubik
  • 80.
    Dengan memakai diagramperpindahan dari mekanisme cengkeram dan data berat komponennya dapat kita tentukan gaya yang bekerja pada komponen tersebut berdasarkan statika. Data percobaan menyarankan hubungan berat sebagai berikut: G1 = 0,2G gr G2 = 0,5G gr dengan: G1 G2 G3 G3 = 0,3G gr berat batang-silang bawah dengan pengimbangan berat sekop berat btang-silang atas dengan batang hubung Dengan gaya yang ditentukan ini diperiksa kekuatan komponen cengkeram, sehingga kita menentukan gaya yang diperlukan untuk menutup sekop tersebut.
  • 81.
    11. PERLENGKAPAN CRANEUNTUK MENANGANI BAHAN CAIR Krusibel (untuk mencairkan paduan baja dan logam lainnya) dibuat dari bahan tahan panas: dan krusibel ini dapat menampung muatan mulai 40 sampai 300 kg logam. Krusibel diangkat dari tanur dan dipindahkan dengan tang garpu. Ladel untuk menangani bahan cair dibuat dari plat baja dan mempunyai lapisan tahan panas. Keamanan dan pelayanan yang mudah (pekerja lebih terlindung terhadap radiasi kalor dibandingkan dengan pelayanan ladel biasa) dan kehilangan kalor yang lebih kecil akibat radiasi (karena drum tertutup) menyebabkan penggunaan ladel drum sangat efektif
  • 82.
    PERALATAN PENAHAN DAN REM    PERALATANPENAHAN Alat penahan digunakan untuk menahan beban yang sedang diangkat oleh Derek. Peralatan Racet. Jenis peralatan ini terdiri atas roda racet dan sebuah pengunci. Gigi racet dapat diletakkan pada bagian dalam atau luar pada sisi ataupun roda racet. Gigi tersebut dibentuk sedemikian rupa sehingga racet dapat bergerak bebas ketika beban diangkat. Gambar 109 a menunjukkan desain peralatan racet yang paling sering digunakan dengan gigi pada bagian luar roda racet.
  • 83.
        Penahan terbaik diperolehpada titik kontak antara garis singgung yang melewati titik putar pengunci dan diameter luar roda racet. Dalam hal ini tekanan pada pengunci diarahkan sepanjang gaya keliling roda racet. Menurut tujuannya roda racet dapat didesain dengan jumlah gigi yang berbeda-beda : z = 6 sampai 8 untuk dongkrak batang dan pinion, racet dan rem yang digerakkan oleh beban yang diangkat (pengangkat dengan penggerak roda cacing). z = 12 sampai 20, untuk penahan racet yang bebas
  • 84.
       z = 16sampai 25 atau selebihnya untuk rem jenis racet. Panjang gigi (lebar daerah tumpuan pengunci) dipilih dengan memperhatikan tekanan satuan linear. b=P p dengan : P = gaya keliling p = tekanan satu linear Biasanya tekanan satuan diambil p = 50 – 100 kg/cm untuk pengunci baja
  • 85.
      dan roda racetbesi cor dan p = 150 – 300 kg/cm untuk pengunci dan roda racet yang terbuat dari baja. Gambar 109 Peralatan racet dengan gigi luar Gigi racet dengan pertemuan pada bagian luar diperiksa terhadap kelenturan dengan rumus : m ≈ 23 M zψ [σ lentur ] Dengan : m = modul yang setara dengan kisar pada diameter luar dibagi dengan π
  • 86.
       M = momengaya yang ditransmisikan dalam kg – cm. z = jumlah gigi [σ lentur ] = tegangan lentur aman Rumus (95) (lihat gambar 109b) diturunkan sebagai berikut . Anggapan ABCD adalah daerah patahan gigi. Persamaan kekuatan terhadap lentur adalah Ph = a ² b [σ lentur ] 6
  • 87.
      Biasanya a =m dan h = 0,75 m; b = ψm;P = 2M dan D = zm D Maka : 2M 0,75 m = m² ψm [σ lentur ] zm 6 dan : m ≈ 23 M zψ [σ lentur ] Kecepatan keliling roda racet tersebut berbanding lurus dengan diameternya. Karena gaya tumbukan pada pengunci dan gigi meningkat secara proporsional
  • 88.
       dengan kuadrat kecepatannya, maka peningkatan kecepatan harusdibatasi sampai nilai yang dapat diizinkan. Tumbukan pada kecepatan tinggi dikurangi dengan memakai gigi dan kisar yang lebih kecil; dapat juga sepersekian dipakai dua atau beberapa pengunci yang titik pertemuannya digeser sepersekian bagian kisar, sesuai dengan jumlah penguncinya. Pada perlengkapan racet bebas atau rem jenis roda racet selalu terpasang mati pada poros. Pengunci racet dapat didesain seperti pada Gambar 109 a ataupun dengan bentuk seperti penahan yang ditunjukkan Gambar 109 a.
  • 89.
       Pengunci diperiksa terhadaptekanan eksentris ataupun tarikan eksentris; σ = M lentur + P W F Dengan : M lentur = P e 1 W = bx² adalah momen ketahanan minimum yang diperlukan (Gambar 109 d) Biasanya pena pengunci (Gambar 110a) dianggap sebagai batang kantilever yang mengalami pembebanan. Persamaan kekuatan ialah : Pl = 0,1 d³ [σ lentur ]
  • 90.
    Untuk l =b + a dan P = 2 M kita peroleh 2 zm d = 2,71 M b +a zm [σ lentur ] 2 Dengan memperhatikan penggunaan beban tumbukan, biasanya pena racet dibuat dari Baja 45 yang mempunyai tegangan lentur aman yang agak diperkecil. [σ lentur ] = (300 sampai 500) kg/cm² Kondisi yang terbaik untuk pengunci yang bergeser pada gigi racet didapatkan bila φ > ρ dengan ρ adalah sudut gesek (Gambar 110b).
  • 91.
       Gaya T =P sin φ cenderung mendorong pengunci kea rah akar gigi sedangkan gaya gesek N μ (di mana N = P cos φ) dan daya gesek pada pena pengunci akan melawan gerakan ini. Bila ∑ MA = 0 didapatkan (T – Nμ) L cos φ – Pμ1 d = 0 2 Dengan mensubstitusikan nilai T dan N dan menghilangkan cos² φ tan p > 0 ; Maka φ - 0 > 0 atau φ akan menjadi lebih besar dari p.
  • 92.
    Tabel 22 Konstruksi untukProfil Gigi dan Roda Racet   Tabel 22 memberikan data yang diperlukan untuk konstruksi profil gigi dan roda racet dengan gigi dalam dan luar. Urutan berikut ini dapat dipakai untuk mengkonstruksikan profil gigi luar (lihat Tabel 22). Pertama-tama kita gambarkan lingkaran addendum NN dan dendum atau lingkaran kaki SS. Lingkaran NN, yang juga merupakan lingkaran kisar, dibagi dengan kisar t menjadi bagian yang sama besar.
  • 93.
       Dari sembarang titikbagi tersebut kita menggambarkan tali busur AB = a. Pada tali busur BC kita membuat sudur 30° dari titik C. Kemudian garis tegak lurus LM ditarik pada bagian tengah tali busur BC sampai berpotongan dengan sisi CK pada titik O. Dari titik O kemudian kita gambarkan lingkaran dengan jari-jari OC. Titik E, yang merupakan perpotongan lingkaran ini dengan lingkaran SS, merupakan salah satu titik sudut titik sudut sisi (vertex) dengan sudut 60°.
  • 94.
      Profil gigi-dalam dikonstruksikansebagai berikut. Pertama digambarkan lingkaran addendum NN dan addendum atau lingkaran kaki SS. Lingkaran NN dibagi dengan kisat t menjadi bagian yang sama panjang. Dari sembarang titik bagi tersebut digambarkan tali busur AB = a. Pada tali busur BC dibuat sudut 20° dari titik C. Kemudian garis tegak lurus LM ditarik pada bagian tengah tali busur BC sampai berpotongan dengan sisi CK pada titik E yang berupa titik perpotongan lingkaran ini dengan lingkaran SS adalah vertex dengan sudut 70°. Sumbu titik putar pengunci didapat dengan konstruksi berikut (Gambar 110c).
  • 95.
      Jarak antara pusatke pusat OA (antara pusat pengunci dan roda racet) diambil sebagai diameter setengah lingkaran yang perpotongannya pada titik B dengan lingkaran addendum roda akan memberikan kedudukan gigi yang bertemu dengan pengunci dan potongan BA akan merupakan panjang pengunci. Garis BA akan tegak lurus dengan jari-jari racet OB dari persamaan geometris. Biasanya panjang pengunci BA diambil sama dengan 2t. Pengunci yang tidak bertemu dengan gigi akibat bobot mereka sendiri diberi pemberat tambahan atau pegas (Gambar 111a).
  • 96.
      Bila muatan sedangdiangkat gigi roda racet akan bergeser di bawah pengunci dan menimbulkan bunyi klik yang tidak diinginkan (terutama bila poros berputar dengan kecepatan tinggi). Bunyi tersebut dapat dihilangkan dengan memakai pengunci yang dikenal sebagai pengunci tanpa bunyi (noiseless), yang beroperasi dengan menggunakan cincin gesek (Gambar 111b). Pengunci demikian hanya digunakan pada rem racet. Roda racet dengan gigi-dalam dipakai hanya pada roda rem racet. Giginya dicor pada sisidalam drum rem yang terpasang bebas pada poros.
  • 97.
      Satu atau duabuah pengunci dipsang pada tuas yang diikat pada poros dan dioperasikan oleh cincin gesek (Gambar 112). Jumlah gigi berkisar dari z = 16 sampai 30. Gigi pada bagian dalam roda racet jauh lebih j auh lebih kuat dibandingkan dengan gigi pada bagian luar. Akibatnya persamaan kekuatan mempunyai bentuk yang berbeda : M zψ [σ lentur ] Simbol yang dipakai mewakili nilai yang sama dengan persamaan (95).
  • 98.
      Penahan gesek. Dibandingkan dengan penahan gigi, penahangesek mempunyai keunggulan tertentu: beroperasi tanpa bunyi dan tanpa guncangan. Akan tetapi pda penahan jenis ini tekanan pada titik putar pal dan poros lebih tinggi dibandingkan dengan penahan bergigi. Akibatnya penggunaan terbatas dan selalu dipakai bersamaan dengan rem. Gambar 113 menunjukkan penahan gesek dengan gigi-dalam penahan berbentuk baji. Sudut bajinya bisanya diambil sebesar 2α ≈ 45° - 50°. Koefisien gesek μ ≈ 0,1. Sudut φ adalah 15° pada nilai rata-rata.
  • 99.
      Untuk mencegah aksidua arah dipakai dua buah cakar yang ditempatkan pada kedudukan yang berlawanan pada diameter lingkaran roda geseknya.. Gambar 112 Roda racet dengan gigi dalam Tekanan pada titik putar pengunci adalah :` P0 = P Tan φ Di mana : P = gaya keliling Cakram rem harus diperkuat dengan sirip untuk menahan beban yang ditimbulkan tekanan pengunci.
  • 100.
      Racet Rol. Biasanyapenggunaan racet rol secara meluas dipakai bersamaan dengan rem. Gambar 114a menunjukkan racet rol pada rumah yang terpisah dengan rem. Peralatan racet semacam ini beroperasi sebagai berikut. Poros 1 yang akan ditahan mempunyai bus 2 yang diberi alur sebagai tempat rol 3. Cincin 6 dipasang dengan pasak 5 pada badan 4. Rol 3 tidak menghalangi putaran yang berlawanan arah dengan jarum jam bus 2 bersama dengan poros 1. Bila poros 1 mulai berputara searah dengan jarum jam akibat muatan (poros 1 mendukung drum yang dililiti tali pengangkat) rol akan tertekan pada alur oleh bus 2 dan ditekan pada cincin tetap 6.
  • 101.
      Untuk mencegah roljatuh ke dalam alur akibat bobotnya sendiri dipasang pegas penahan seperti yang ditunjukkan Gambar 114b. Gambar 115 menunjukkan berbagai desain racet rol. Gambar 113 Penahan gesek Gambar 114 Racet Rol Gambar 115 Berbagai desain racet rol Desain Racet Rol (Gambar 116). Rola yang ditekan antara penggerak dan pengikut pada pusat gaya normal N1 dan N2 dan daya gesek tangesial μ1 N1 dan μ2N2 . Dengan roll yang berada pada ketidak seimbangan gaya, resultan R1 = R2.
  • 102.
       Momem gaya yangditransmisikan adalah : M = zμN D 2 dengan : z = jumlah rol (biasanya z = 4). Koefisien gesek μ ≈ 0,06. Bila μ = tan p > tan α kita dapatkan N< 2M (N =N1 = N2) z D tan a 3 Akan tetapi, untuk mendapatkan keandalah yang lebih baik, gaya yang bekerja pada sebuah rol diasumsikan sebagai :
  • 103.
    N=   2M (98) zD tan a 2 Panjangrol l = N dengan p = 450 kg/cm bila p elemen yang beroperasi dibuat dari baja yang bermutu tinggi dan diperkeras dengan baik. Tabel 23 menyenaraikan dimensi utama racet rol dengan kekerasan Rockwell pada permukaan operasi Rc = 58 sampai 61. Bahan yang dipakai adalah Baja 15 dengan perkerasan kulit (case hardered).
  • 104.
      Gambar 116 Diagramdesain racet rol Tabel 23 Dimensi Utama Rachet Rol Rachet rol dipilih dengan memakai rumus berikut : Naman = 100N 100 nK dengan: n = rupa yang sebenarnya k = factor keamanan, diambil mulai 1,5 sampai 2.
  • 105.
      REM SEPATU Pada mesinpengangkat, rem digunakan untuk mengatur kecepatan penurunan muatan ataupun untuk menahan muatan agar diam. Rem digunakan juga untuk menyerap inersia massa yang bergerak (truk, crane, muatan, dan sebagainya). Tergantung pada kegunaannya rem dapat diklasifikasikan sebagai jenis penahan (parkir), jenis penurunan atau gabungan keduanya. Rem jenis gabungan melayani kedua fungsi penghentian muatan dan mengatur kecepatan penurunan. Rem dapat dibedakan menjadi rem automatis dan rem yang dieprasikan manual.
  • 106.
       Jenis rem yangtermasuk rem manual ialah : rem sepatu atau blok, rem pita, rem kerucut, rem cakram dan rem racet serta rem, dengan gagang pengaman. Jenis rem yang termasuk rem otomatis adalah rem sentrifugal (untuk mengatur kecepatan) dan rem yang digerakkan oleh bobot muatan yang diangkat. Rem sepatu atau blok dapat didesain dengan sepatu luar atau dalam. Rem sepatu luar adalah jenis rem yang umum digunakkan pada mesin pengangkat, sedangkan rem, sepatu dalam hanya ditujukan untuk penggunaan crane yang dipasang pada truk.
  • 107.
      Prinsip Operasi Rem.Untuk memahami prinsip operasi rem sepatu marilah kita lihat diagram rem sepatu tunggal yang ditunjukkan pada Gambar 117. Karena aksi satu arah sepatu tunggal menimbulkan lenturan pada poros rem, rem sepatu tunggal hanya dapat dipakai untuk menahan momen gaya yang kecil pada penggerak tangan bila diameter poros tidak melebihi 50 mm. Tekanan yang diberikan oleh sepatu besi cor pada roda rem haruslah sedemikian rupa sehingga gaya gesek yang dihasilkan pada permukaan roda mengimbangi gaya kelilingnya. Gambar 117 Diagram untuk rem sepatu tunggal
  • 108.
     Gambar 118 Diagramuntuk rem sepatu ganda Rem sepatu ganda (Gambar 118) sering digunakan pada mekanisme pengangkat, pemindah dan pemutar crane, yang berbeda dengan rem sepatu tunggal, rem sepatu ganda tidak menimbulkan defleksi pada poros rem. Penjepit dan crane yang digerakkan listrik hampir selalu didesain dengan rem sepatu ganda. Rem digerakkan oleh pemberat G dan dilepaskan dengan electromagnet. Akibatnya, pengereman yang permanent hanya bekerja bila electromagnet dinyalakan. Biasanya rangkaian listriknya dibuat saling mengunci antara motor
  • 109.
      dan magnet secaraotomatis menghasilkan aksi pengereman walaupun motor berhenti secara mendadak. Rem sepatu ganda (Gambar 118) beroperasi dengan prinsip kerja sebagai berikut: pemberat G menyebabkan tangkai I bergerak kebawah bersama dengan batang tarik 2. Batang tarik 2 akan memutar segitiga kaku 3 melalui sendi C. Bila kita asumsikan titik A diam di tempat, titik C bergerak ke bawah; dalam kasus ini titik B akan berpindah ke kanan. Gerakan ini akan ditransimisikan oleh batang tarik 4 dan tuas 6 yang akan mendorong sepatu 8 ke arah roda rem. Bila sepatu 8 sudah tidak dapat bergerak lagi,
  • 110.
        titik C akandiam di tempat dan segitiga 3 akan berotasi pada titik C tersebut. Akibatnya titik A akan berpindah ke kiri dan akan menggerakan sepatu 7 melalui tuas 5. Pada desain sebenarnya dari rem yang ditunjukkan pada Gambar 118, tuas 1 terdiri atas dua bagian yang dihubungkan menjadi satu dengan menggunakan kopling batang (turnbuckle) untuk menyetel rem. Diagram lain rem sepatu ganda ditunjukkan oleh Gambar 119 Pengoperasian rem (Gambar 119) dengan pemberat yang dipasang pada tuas rem mempunyai kelemahan sebagai berikut.
  • 111.
      Setelah arus diputuskandan pemberatnya jatuh, pemberat ini akan bergetar bersama dengan tangkainya, menurunkan dan menaikkan tekanan sepatu pada roda dan akan mengubah besarnya momen gaya pengereman. Perubahan secara periodic pada momen gaya pengereman ini merupakan fenomena yang tidak dikehendaki pada mekanisme pengangkat maupun pada mekanisme pemindah. Dalam hal ini pegas dapat lebih diandalkan karena dapat beroperasi lebih halus dan dapat disetel lebih tepat dengan jangka penyetelan yang lebih luas. Gambar 120 merupakan desain rem yang digerakkan oleh pegas.
  • 112.
     ELEMEN REM SEPATU RodaRem. Biasanya mesin pengangkat yang digerakkan tangan didesain dengan roda dari besi cor dan digerakkan oleh penggerak daya. Roda yang dipakai terbuat dari baja cor dengan tingkat diatas 55 j I Group III, atau baja tempa dengan tingkat diatas 45 sesuai dengan standar soviet dengan kekerasan minimum permukaan gesek 280 Bhn. Mekanisme penggerak truk dapat digunakan roda rem dari besi cor. Roda rem harus seimbang secara dinamis. Lebar roda boleh melebihi lebar sepatu sebesar 5 – 10 mm.
  • 113.
      Roda rem harusdiberi sirip untuk pelepasan kalor yang lebih baik dan dilengkapi dengan lubang diantara siripnya untuk mendapatkan sirkulasi udara yang lebih baik dan untuk melepaskan kalor lebih efektif ke atmosfer. Bila rem dipasang pada kopling fleksibel, rem harus dipasang pada bagian yang berhubungan dengan mekanisme penggerak. Sepatu rem. Sepatu rem dibuat dari kayu mapel atau poplar dipasang pada tuas dengan baut. Untuk mekanisme pembuat sepatu dibuat dari besi cor (dengan cetakan permanen, tingkat CH 12 – 28) dan diberikan lapisan rem khusus (Gambar 121 a).
  • 114.
           Lapisan tersebut dapatdiikat demgan paku keeling (Gambar 121 b). Ataupun dengan sekrup yang terbenam. Lapisan rem. Lapisan rem harus memenuhi syarat sebagai berikut : Mempuyai koefisien yang besar; Mampu bekerja dengan baik sampai temperatur 300°C; Dapat menahan keausan pada kecepatan; Tekanan satuan; dan temperature tertinggi; Mudah dibuat; Murah.
  • 115.
       Saat ini, bahanyang paling banyak dipakai ialah pita canai. Pita canai dibuat dengan mesin canai dari asbes non tekstil yang murah dengan karet dan ditambahkan belerang untuk proses vulkanisir. Pita canai dibuat dengan ketebalan sampai 8 mm dan lebar sampai 100 mm. Pita canai sangat elastis dan dapat dibentuk dengan mudah. Mempunyai koefisien gesek yang stabil dan tinggi antara 0,42 sampai 0,53 dan dapat menahan temperature sampai 220°C. Gambar 121 Pengikatan lapisan rem ke sepatu rem dengan paku keeling
  • 116.
    BABVIII PERALATAN PENGANGKAT Mekanisme pengangkat dibagimenjadi tiga kelompok menurut penggeraknya: 1. penggerak tangan 2. penggerak daya tersendiri (biasanya elektris) 3. satu motor penggerak sekutu untuk beberapa mekanisme MEKANISME PENGANGKAT PENGGERAK TANGAN Gerakan ditranmisikan dari gagang engkol tangan l melalui tiga pasang roda gigi lurus ke drum yang dipasang pada poros IV dengan jari-jari R tanpa tali pengangkat digulung pada saat beban q diangkat. Seperti terlihat pada gambar 7.1
  • 117.
    Gambar 7.1 diagrammekanisme pengangkat a- penggerak tangan b- penggerak electrik
  • 118.
    Efisiensi mekanisme adalahperbandingan antara kerja pengakat yang digunakan dengan semua yang dilakukan. Kerja yang digunakan didapat dari persamaan: Ao = Qh……………………………………………(1) Dengan : Q = bobot beban (kg) H = jarak yang ditempuh oleh beban(m) A = Ks……………………………………………………(2) Dengan: K = kerja yang dihasilkan oleh operator pada gagang engkol s = lintasan gaya K yang bersesuai dengan lintasan h maka, efisiensi pada mekanisme ini ialah dengan : v = kecepatan pengangkat c = kecepatan pada titik kerja gaya penggerak (c = 30 sampai 45m/menit) Ko = kerja ideal pada gagang engklol dengan mengabaikan kerugian akibat gesekan W = tahanan total akibat gesekan pada mekanisme Kerja yang dilakukan operator pada saat gagang engkol ketika menaikkan muatan ialah kerja ini tidak boleh lebih besar dari nilai yang diberikan pada tabel 8.1
  • 119.
    tabel 8.1 Kerja MaksimumSetiap Orang, Dalam kg PERIODE OPERASI Operasi terusmenerus (continue)… Pada gagang kemudi Pada rantai penarik Pada pedal katrol Pada batang katrol 12 20 25 18 Operasi tidak 25 lebih dari 5 menit… 40 35 20
  • 120.
    Efisiensi total mekanisme(untuk diagram gambar 8.1a) ialah: 3 η = η η η puli drum roda gigi η puli η drum = efisiensi puli = efisiensi drum I= η roda gigi = efisiensi satu pasangan roda gigi perbandingan transmisi total mekanisme ditentukan dengan perbandingan berikut QR momen _ beban MQ momen _ gaya.η = Mk = ηKa Dengan puli yang ada,bobot muatan Q yang harus dilawan oleh tarikan tali (Gambar 81a). kecepatan pengangkatan muatan akan menjadi: Q s= 2 v= ηks Q
  • 121.
    MEKANISME PENGANGKATAN DENGAN PENGGERAKELECTRIK INDIVIDU Daya ditranmisikan dari motor electric (Gambar8.1b) (poros i) melalaui tiga pasangan roda gigi ke drum (poros IV) tempat tali penggulung. Pada kecepatan angkat yang konstan (v= konst) (gerakan yang seragam dan tunak) daya yang dihasilkan oleh motor electric akan menjadi dengan: M’ = N =Qv hp 75η v = kecepatan angkat muatan, dalam m/det motor pada poros motor ialah 71620 N kg − cm nm Perbandingan transmisi antara motor dan drum ialah i= kec.motor ηmotor = kec.drum ηdrum
  • 122.
    kecepatan tali padadrum adalah Vdrum = Vi puli Dengan Ipuli = perbandingan transmisi puli (pada system puli untuk mendapatkan bati gaya ipuli > i). Kecepatan drum dalam rpm ialah N drum = Dengan: vdrum rpm π D vdrum kecepatan tali pada drum, dalam m/men D diameter drum, dalam m
  • 123.
    MEKANISME PENGANGKAT YANGBEROPERASI DARI SATU MOTOR PENGERAK SEKUTU UNTUK BEBERAPA MEKANISME Mekanisma ini didesain untuk crane yang dipasang pad truk atau traktor, kereta berel dan crane rantai (crawler crane) juga untuk crane Derek(derrick crane) dan Derek cengkram (grap wince). Mesin uap atau motor baker adalah pengerak utam ayang dipakai untuk semua pengangkat ini kecuali pada Derek cekram. Diagram crane yang dipasang pada mobil yang dibuat oleh Odessa Works yang ditunjukan pada Gambar 8.2. dari mesin gerakan ditramisikan pada mekanisme crane pengangkat, dan pemutar.dari kotak pengatur daya 12 gerakan ditramisikan melalui kotak pembalik 1 keporos 3 melalui poros garden 2. melalui gigi reduksi 4. poros 3menggerakan poros transmisi utama 7 yang dari sini digerakan ditranmiosikan melalui kopling dan pengerak cacing 5 dan 6 kedrum 8 (untuyk mendongkrak tiang crane) atau drum 9 (untuk pengangkatan). Disamping itu kopling dapat 10 dapat mentranmisikan gerakan kepenggerak cacing 11 untuk penggerakan pengangkat. Daya poros pengerakan f untuk
  • 124.
    Nf = Qv 75η Pengangkat ialahdengan: efisiensi mekanisme antara poros drum I dan poros f ηmomen gaya pada poros pengerak ialah Mf = 71.620 Nf nf dan pertandingan tranmisinya ialah nf i = ni Gambar 8.2 diagram mekanisme crane yang dipasang pada crane
  • 125.
    BAB VII PENGGERAK PERALATANPENGANGKAT 7.1 PENGGERAK TANGAN DAN TUAS PENGANGKAT 7.1.1 Komponen utama dari penggerak tangan ialah gagang engkol, dan roda penggerak dengan rantai penggeraknya. Kapasitas angkat peralatan pengangkat yang digerakan dengan tangan tidak dapat melebihi 15000 kg. 7.1.1.1 Gagang engkol Gagang engkol penggerak tangan dapat pada dongkrak, batang gigi dan pinion dan lokomotif, penjepit dinding dan ereksi. Ukuran utama tangan gagang engkol diberikan pada table 7.1
  • 126.
    Usaha yang dapatdiberi pada gagang engkol dapat dilihat pada table 7.2
  • 127.
    Table 7.1 Dimensi utamagagang engkol pengerak tangan Jumlah Operator Ukuran, mm Diameter gagang busing Panjang Panjang busing l Penjepit l Panjang lengan gagang l 1 (1,8-2,0) d (1-1,5) d 250-350 300- 400 2 (1,8-2,0) d (1-1,5) d 400-500 300-400
  • 128.
    Tabel 7.2 Kerja maksimumsetiap orang, dalam kg Periode operasi Pada gagang kemudi Pada rantai penarik Pada pedal katrol Pada batang katrol Operasi terus menerus (continue) 12 20 25 18 Operasi tidak lebih dari 5 menit 25 40 35 20
  • 129.
    7.1.1.2 Racet Racet berfungsiseperti penggerak tangan dongkrak ulir. Racet lebih ringan dari gagang engkol dan sangat mudah mengoperasikannya. Gambar 7.2 menunjukan sebuah Racet Gambar 7.2 Racet l- roda racet, 2-pena pengunci, 3-kepala racet, 4-pegas kembali pengunci ketempatnya, 5-pengunci, 6-pegas pengencang skrup
  • 130.
    Gagangnya dapat diperpanjangdengan sebatang pipa dapat digerakan kedepan dan kebelakang pesamaan dengan kunci penahan dengan sudut yang kecil. Pada gerak kebelakang pengunci tergelincir di atas gigi roda racet yang dihubungkan ke poros penggeraknya. Untuk gerak baliknya (ke depan) pengunci bertaut dengan gigi roda racet sehingga poros penggerak berputar sesuai dengan sudut gerak tuas penggerak. Untuk menggerakan poros penggerak dengan arah yang berlawanan, racet dapat dengan mudah dibalik dengan poros rangkaian persegi racet yang dapat bergerak dua arah dengan pengunci yang berpindah banyak dipakai pada sekarang ini. Panjang tuas racet (bersama dengan pipa memanjang tersebut) berkisar antara 800 sampai 1000 mm operator dapat menghasilkan daya sampai 30 Kg. 7.2 PENGGERAK DAYA Penggerak electric merupakan pilihan utama diantara beberapa jenis penggerak daya pada saat ini. Crane yang digerakan oleh tenaga electric di desain untuk mengangkat beban sampai 2000 ton.
  • 131.
    7.2.1 PENGGERAK HIDROLIK Padaumumnya penggerak hidrolic digunakan untuk mengangkat beban berat 200-600 ton pada jarak angkatan terkecil 100-300 mm. 7.2.2 PENGGERAK PNEUMATIK Tenaga pneumatic banyak dipakai pada katrol angin gantung kecil dan blok puli pneumatic yang beroperasi pada daerah rawan dadakan dimana penggerak listrik tidak dapat digunakan. 7.2.3 PENGGERAK UAP Penggerak uap dipakai terutama pada crane dalam jalan lokomotif untuk pelayanan umum pada rel Bantu di station disekitar pabrik dan galangan kapal. 7.2.4 PENGGERAK ELECTRIK Arus listrik yang digunakan dapat berupa arus searah 110, 220, 440 dan 50 Volt atau arus 3 fase yang digunakan dengan tegangan 380, 500 dan 550 Volt ( umumnya dengan frekuensi 50 Hz ).
  • 132.
  • 133.
    Mekanisme Penggerak DenganRel   Gear penggerak dapat didefinisikan ke dalam mekanisme penggerak untuk troli dan crane yang bergerak pada rel dan mekanisme untuk crane atau troli tanpa rel dengan roda karet dan roda rantai. Mekanisme penggerak troli crane dapat dikelompokkan lagi menjadi tiga kelompok yaitu yang dioperasikan dengan tangan, dengan penggerak daya tersendiri (biasanya penggerak listrik) dan penggerak daya dengan tali.
  • 134.
     Elemen-elemen berikut digunakanpada mekanisme penggerak troli tanpa tergantung pada desainnya :  Motor atau roda penggerak pada penggerak tangan.  Transmisi antara poros penggerak dan poros yang digerakkan pada roda troli.  Roda yang berjalan pada rel.  Rangka (badan) troli yang ditempati oleh mekanisme penggerak dan pengangkat.
  • 135.
       Troli Tangan Prinsip kerjadari troli ini adalah gerakan ditransmisikan dari roda penggerak melalui dua pasang roda gigi ke roda penggerak. Dalam menentukan beban pada roda untuk troli dengan empat buah roda dibebani beban secara simetris dan distribusi bebannya merata pada keempat rodanya, yang dikenakan pada rodanya ialah dengan Q – bobot-beban G0 – bobot troli
  • 136.
     Bila beban digantungsecara asimetris pada troli dengan dua pengangkat maka gaya yang dikenakan pada rodanya kira-kira sama dengan G0 Q b2 Pmaks. = A ≈ + 4 2 b G0 Q b1 Pmin. = B ≈ + 4 2 b
  • 137.
    Troli Crane denganPenggerak Elektrik Terpisah  Prinsip kerja dari troli ini yaitu gerakan ditransmisikan dari motor elektrik melalui tiga pasang roda gigi lurus ke roda gigi penggerak. Pada gerakan yang tunak daya dihasilkan oleh motor elektrik adalah Wv N = hp 75η Dengan : v – kecepatan jalan, dalam m/detik η – efisiensi total mekanisme W - tahanan gerak, dalam kg
  • 138.
      Perbandingan transmisi : kecepatanmotor i = = kecepatan roda penggerak Kecepatan roda penggerak adalah v nt-w = πD dengan v – kecepatan, dalam m/det D – diameter roda nmot nt-w
  • 139.
    Mekanisme Pejalan CraneGantri dan Crane Jalan  Crane Jalan yang digerakkan Tangan Prinsip kerja dari crane ini yaitu gerakan ditransmisikan dari roda operasi yang dipasang pada poros transmisi utama melalui dua pasangan roda gigi pararel menuju dua buah roda pejalan pada crane.
  • 140.
    Gaya maksimum yangbekerja pada roda penggerak crane beroda empat : G Q + G0 L–e Pmaks ≈ + 4 2 L Crane Gantri (portal)  Mekanisme penggerak crane ini dilengkapi dua poros vertical dengan pengerak roda gigi kerucut untuk menggerakkan roda penggerak yang dipasang pada kaki penyangga crane. Sedangkan crae semigantri didesain hanya dengan satu batang poros vertical. 
  • 141.
    Crane Kantilever Gaya maksimumyang bekerja pada roda penggerak vertical adalah maks. V Q + G0 + G  P vert ≈ = 2 Dengan : V - dorongan vertical Q – bobot muatan G – bobot crane tanpa troli G0 – bobot troli 2
  • 142.
    Rel Gerak  Menurutkegunaannya rel untuk crane dapat diklasifikasikan :     Rel untuk untuk troli crane jalan overhead dan rel untuk mekanisme pejalan crane yang digerakkan oleh tangan (batang bentang). Rel tersebut terbuat dari baja reta dengan sudut yang dibulatkan. Rel khusus untuk crane jalan overhead yang dibuat dengan dasar yang lebar dan pendek. Rel ini mempunyai momen inersia yang relative lebih besar. Rel untuk crane monorel, crane kereta rel, gantri dan crane jenis lainnya. Monorel untuk troli dan katrol jalan.
  • 143.
    Roda penggerak  Roda penggerakdibagi menjadi tiga :    Roda penggerak untuk monorel, yaitu roda yang berjalan pada flens di atas batang –I dipakai hanya untuk troli yang digerakkan oleh tangan. Roda pejalan untuk rel baja rata dan untuk rel crane dan rel kereta, roda untuk crane yang digerakkan penggerak daya dibuat dari baja cor atau roda baja tempa dengan suaian paksa. Roda sorong (roda rel tanpa flens), roda sorong ini digunakan bila roda tersebut tidak mengalami beban lateral sama sekali. Roda sorong dipakai pada crane monorel dan kantilever, crane jalan dengan lengan.
  • 144.
    Mekanisme Rantai     Mekanisme rantaidigunakan pada crane putar dan berbagai jenis pemuat. Crane dengan rantai dibelokkan arahnya dengan mengerem putaran salah satu rantai-rantai geraknya, misalnya dengan mengurangi kecepatan atau menghentikan satu rantainya. Karena gaya adhesive rantai yang besar, mekanisme pejalan rantai dapat mengatasi gradient yang lebih besardibandingkan dengan transportasi melalui rel Tekanan satuan aman pada tanah tergantung pada sifat dan kondisinya yang berbeda-beda, untuk crane rantai mulai 0,8 sampai 15 kg/cm2.
  • 145.
    Mekanisme dengan BanKaret   Desain ban karet yang paling sering digunakan adalah ban karet mati yang dipasang pada roda. Tahanan yang ditimbulkan pada sewaktu crane berban karet berjalan (tanpa memperhitungkan tahanan angin) dapat menggunakan rumus : W = G (cos αω + sin α) Dengan : G – bobot total crane w – koefisien tahanan gerak α – gradien permukaan medan, tanda plus untuk mendaki dan tanda minus untuk menurun
  • 146.
    BAB 10 PERALATAN PEMUTARLENGAN, DAN PENDONGAK 1. MEKANISME PEMUTAR Tergantung pada desain komponen pendukung mekanisme pemutar, crane dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kelompok utama berikut. Suprastruktur crane berputar bersama dengan pilar tiang pada bantalannya, biasanya terpasang pada pondasi ataupun dipasang pada kolom bangunan. Suprastruktur crane berputar pada pilar yang dipasang mati pada pondasi atau pada truk crane. Crane berputar pada poros pemutar pusat yang dipasang mati pada komponen tak berputar; meja putar crane ditumpu oleh sejumlah rol yang berputar pada rel yang berbentuk lingkaran dan dipasang pada pondasi ataupun pada truk crane.
  • 147.
    Mekanisme pemutar cranedengan pilar berputar. Gambar 198 menunjukkan crane dengan pilar kolom berputar. Pendukung bagian atas, yang diikat pada kolom bangunan, diberi bantalan radial dan pendukung bagian bawah, dengan dipasang pada pondasi, diberi bantalan radial dan dorong. Crane seperti ini biasanya diputar dengan tangan, dengan mendorong muatan yang digantungkan pada crane tersebut. Akan tetapi, muatan mulai dari 5 ton ke atas memerlukan motor elektrik untuk memutarnya. Pendukung pilar. Pena putar pilar atas dan bawah biasanya diikat pada pemegangnya. Salah satu desain pena putar bawahditunjukkan oleh gambar 199a. bantalan ini mengalami lenturan akibat gaya horisontal H1 tekanan oleh gaya vertikal V. Momen lentur pada penampang kritisnya ialah Momen lentur pada bagian bawah bahu ialah M1 = H1y1 M1 = H1y Dengan: 1 H1 = h (Qa + Ge); V=Q+G (Q-bobot muatan; G-bobot crane)
  • 148.
    Resultan tegangannya ialah ±H1 y1 π σΣ = ± σlentur - σcom = 32 d 2 1 − V π 2 1 d (240) 4 ≤[σ ] com Pelat bawah harus diperiksa terhadap tekanan satuan antara bantalan dengan pelat (tekanan pada dinding lubang akibat gaya H1 dan tekanan vertikal antara bahu bantalan dengan pelatakibat gaya V) Resistensi terhadap putaran. Momen resistensi akibat gaya gesek relatif 2 pada sumbu putar ialah 3 M = Wa = Vµ1 r + H1µ2r + H1µ3r1 (241) Di sini M = M1 + M2 + M3 (M1-momen) resistensi pada bantalan tekan/aksial; M2dan M3 – momen dari resistensi pada bantalan bagian baweah dan atas. Rumus tersebut mencangkup M1 = Vµ1 r untuk d d    bantalan dorong tak beralur2pada bagian atas. Pada bantalan dorong −    2    dengan permukaan tekan d  (Gambar 199a) momen resistensi cincin   d  −  2 2    akibat gesekan ialah sebesar    3 3 0 2 2 0 M1 = V µ1 (242)
  • 149.
    dan pada bantalanbertingkat yang memakai bola sebagai permukaangeseknya ialah M1 = V µ0 (243) Dalam rumus – rumus tersebut: W- tahanan putar pada ujung tiang lengan crane a- jangkauan tiang lengan crane R = d/2 --- jari-jari titik putar µ1- koefisien gesekan pada bantalan dorong Q=Q+G - Gaya vertikal akibat bobot muatan pada Crane d- diameterbantalan bawah d0 - diameter dalam bantalan dorong berbentuk cincin (atau diameter alur) µ1 dan µ2- koefisien gesek pada bantalan radial bawah dan atas r1- jari-jari bantalan bagian atas µ0- koefisien gesek pada bantalan jenis bola menurut diamater bantalannya. Rumus (241) mengabaikan tahanan terhadap putaran Ww akibat tekanan angin. Tahanan ini harus diperhitungkan untuk crane yang akan W P = beroperasi diruang terbuka. sin α Penggerak mekanisme pemutar. Pada pemutar tangan, usaha yang dikerjakan oleh operator untuk memutar crane ialah
  • 150.
    Dengan : α -kemiringan tali penarik dari bidabg vertikal dalam memutar (α biasanya diambil sampai 450) W - resistensi terhadap pemutaran yang bekerja pada ujung tiang lengan crane. Dengan penggerak daya danpada kecepatan tunak, daya yang dihasilkan motor ialah Wv hp 75 η N= Dengan: η V - kecepatan pada ujung tiang lengan crane, dalam m/dt - efisiensi penggerak nmot 60v i = ; ncr = dengan struktur crane yang perbandingan transmisi antara motor π ncr 2 a berputar ialah dengan: nmot –rpm motor
  • 151.
    Mekanisme pemutarcrane denganpilar yang terpasang mati marilah kita periksa contoh crane monorel (gambar 186). Pada crane jenis ini, pilar tetap 6 dipasang pada truk; tiang lengan crane jenis bertumpu pada pilar yang menahan semua gaya vertikal dan horizontal yangakan timbul kitika pengoperasian crane dan meneruskan gaya-gaya tersebut kerel dan pondasinya melalui truk bawah Bus bantalan pilar tas diberi bantalan radial dan pendorong yang dipasang pada gilder khusus pada rangka crane. Gaya horizontal bagian bawah ditransmisilkan dari bantalan rol radial ke tonjolan silindris khusus pada pilar yang dipasangpada truk. Pilar creane (gambar 201) pilardibuat daribaja tempa, yang berbentuk konis. Pada bagian atasnya diberikan bus silindris dan pada bagian bawah dengan ujung tirus yang akan dipasang pada pondasi plat (crane putar diam) ataupada rangka truk (misalnya pada crane monorel). Pilar akan mengalami lenturan akibat momen Hfh dan tekanan akibatgaya vertikal v. gayav dan Hf dapat ditentukan dengan rumus (205) dan (206). Penampang kritis pilar tersebut terdapat pada ujung yanmg diikat. Panjang pilar antara bus bantalan atas dan tonjolan silindris bawah untuk lenutran karena gaya tekan v sangatkecil nilainya, sehingga praktis dapat diabaikan. Mmaks qa + 1L1 − G GgLg π 3 cm3 d W = = = σ lentur σ lentur 32 …. (244)
  • 152.
    Dengan : q-bobotmuatan a-jangkauan crane G1-bobotstruktur putar crane L1-lengan resultante bobot G1 Gg-pengimbang Ls-lengan pengimbang relatif terhadap sumbu putar. Resultante tegangan pada bus bantalan atas (gambar 201) ialah σ =σ ± lentur Σ H f y q + 1 + g G g − com = σ ± − <σ [ com π3 d π2 d 32 4 ] dengan d =2r Dari bentuk pilar secara titik kerja gaya horizontal atas dan gaya horizontal bawah Hf akan serupa grafik pangkat tiga, yang harus digambarkan sebelum mulai mendesain pilar. Gambar202 menunjukan diagram momen dan tegangan untuk memeriksa perhitungan penampang pilar. Metode berikut ini dilakukan untuk menentukan defleksi maksimum pilar secara grafis pada titik kerja gaya horizontal atas Hf . dalam menentukan defleksiakibat penampang pilar yang berbeda-beda, pertama-tama M/I diagram harus dibuat, dengan beban khayal M/I ini diberikan pada batang diikat mati. Daerah diagram dibagi menjadibeberapa bagian F1-F13 dengan beban yang dipusatkan pda titik beratnya. Setiap daerah diagram dianggap sebagai gaya khayal dan gariselastis digambarkan sebagai kurva yang mulus. Defleksi maksimum akan terjadi pada titik potong garis terakhir
  • 153.
    Tegangan tekan mempunyai nilai yang lebih besar. Gambar 203c ˚menunjukandistribusi tegangan resultante Σ relatif terhadap sumbu NN yang digambarkan melalui titik potong arah tegangan v dan kmasing masing. Trunion batang lintang diperiksa terhadap defleksi akibat setengah dari resultan tekanan P = Hf + V dan tekanan satuannya. Gambar204 menunjukan batang lintang pilar tetap yang terpasang pada bantalan rol. Bantalan radial bawah. Crane kecil menggunakan bantalan rol dengan sebuah rol yang dipasang pada sisi tiang lengan. Crane besar diberi dua buah bantalan rol di bagian depan.Bila memakai pengimbang diberi dua pasang rol di depan dan dibelakang (gambar 205 ) yang dipasang pada kotak khusus pada ujung bawah tiang lengan crane. Bila kita menandai Hf untuk tekanan bantalan horizontal [rumus ( 206 )] dan 2 α sudut antara dua buah rol bantalan (biasanya sama dengan 600) maka gaya yang dikerahkan setiap rol pada pilar adalah : H N = f 2 cos α
  • 154.
    Tergantung pada bebanyang ditumpunya, rol terbuat dari baja ataupun besi cor dengan ukuran yang sekecil mungkin dan harus mempunyai permukaan yang cembung. Rol harus dapat berputar dengan bebas pada pena yang diikat pada kotak oleh pemegang. Diameter rol yang diperoleh secara percobaan ialah D2 = ( 2,5 R 2 r − sampai= ) d2,Vdengan d2 r + d2 diameter pena rol. + Nk R + 3 dengan µr + NµxR r Pada crane putar untuk M Wa = µ H 2 2 3 r − R r pelayanan berat dengan pilar kisi pendukung bagian bawah didesaian R dengan enam buah rol. Tahanan terhadap perputaran. Momen resistensi akibat gaya gesek relatif Dengan : pada sumbu perputaran dapat ditentukan dengan rumus sebagai berikut ; 3 1 2 0 2 0 2 f 2 3 1 2 1 2 2 µ1, µ2 dan µ3: Masing – masing koefisien gesek bantalan dorong,bantlan bus atas dan pada pena bantalan rol bawah k: Koefisien gesek gelinding padabantalan rol bawah W: Tahanan terhadap putar yang bekerja pada ujung tiang lengan a: Jangkauan tiang lengan.
  • 155.
    Peralatan Pemutar Crane Dengan Meja Putar Diagram crane denganmeja putar ditunjukkan pada gambar 208. Pada crane ini berat muatan ditransmisikan pada struktur putar crane melalui bantalan rol ( perputaran ) pada jalur lingkar yang dipasang padapondasi atau truk crane. Pada sumbu putar terdapat pilar pusat atau titik pusat yang dipasang pada bagian crane yang diam. Apabila crane yang bekerja titik putar pusat ini akan mernahan kedua gaya horizontal dan vertikal. Tahanan terhadap perputaran. Kasus pertama. Titik pusat grafitasi struktur putar crane (termasuk muatan),berada diluar lingkaran bantalan (jalur lingkar). Di sini beban bekerja pada rol depan dan titik putar pusat (titik putar tersebut mngalami penarikan). Momen tahanan akibat gaya gesek relatif pada suhu perputaran ialah M =Wa =Ppµ 1 2 r 3 −r03  d  R +( P2 +P3 )µ +k  ' s +M 0 β 3 r 2 −r02 R  2 
  • 156.
    dengan : W = tahananterhadap putaran ujung lengan tiang a = jangkauan tiang lengan Pp = gaya reaksi vertikal pada pusat putaran µ1 = koefisien gesek pada bantalan dorong pusat puteran r dan r0 = diameter luar dan dalam bantuan dorong pusat putaran P2 dan P1= gaya-gaya yang bekerja pada rol perputaran depan µ = koefisien gesek luncur pada bus bantalan rol perputaran d = diameter bus bantalan pada rol perputaran
  • 157.
    K R Rs = koefisien gesekgelinding bantalan rol perputran = jari-jari rol perputaran = jari-jari jalur lingkar β = faktor yang memperhitungkan tambahan akibat gesekan pada nap (untuk rol) atau akibat luncuran lateral rol pada jalur (untuk rol silindris), diambil sama pusat putaran Pp dan gaya yang dikerahkan pada Reaksi pada dengan 1,2-1,3. rol M0 perputaran P2 gesek tambahan mengabaikan tekanan angin) = momen dan P3 (dengan yang didapat dengan dapat ditentukan dengan rumus : rumus (206). 1 Pp = (Qa + 1l1 − 8 i8 ) −Q + 1 + 8 G G ( G G R2 cos β 1 P = 3 = P (Qa + 1l1 − 8 i8 ) G G 2 2 R s cos β
  • 158.
    Di sini : Q G1 G8 =setengah sudut antara dua rol yang berurutan = bobot muatan = bobot struktur putar = bobot pengimbang, yang lainnya seperti pada gambar 208 Dalam kasus ini pusat putaran akan mengalami tarikan. Penampang kritis terdapat pada diameter teras ulir pada pusat putaran. Mur atas dan bawah pada pusat putaran harus dilengkapi dengan alat pengunci untuk mencegah terlepasnya mur tersebut. Biasanya jenis ulir ialah jenis ulir gergaji. Kasus kedua. Titik pusat gravitasi keseluruhan sistem yang berputar berada di dalam lingkaran bantalan. Di sini beban diteruskan ke semua rol. Pusat putar tidak mengalami gaya vertikal. Momen tahanan terhadap perputaran akibat gaya gesek adalah  d M = Q + 1 + 8 ) ( G G µ +  Rs + 0  k  β M  2 R    
  • 159.
    Kasus ketiga. Titikpusat gravitasi sistem secara keseluruhan berada di dalam lingkaran bantalan. Beban ditahan oleh rol di dalam sangkar (gambar 209) yang disusun diantara dua cincin, yang satu diam dan yang lain dipasang pada struktur putar crane. Pusat putar titik mengalami gaya vertikal dam momen tahanan terhadap perputaran akibat gaya gesek adalah M =Q + 1 ( G Rs + 8 )k G R β M '+ 0 Menentukan momen gesek tambahan M0 di samping momen gesek di atas, pada ketiga kasus terlibat juga momen gesek tambahan yang terjadi pada bantalan radial pusat putar. Momen gesek ini dihasilkan akibat gaya yang ditimbulkan pada puat putar oleh gigi terakhir penggerak planet mekanisme pemutar dan akibat yang ditimbulkan bentuk rol struktur putar crane yang tirus tersebut Cincin gigi berukuran besar pada penggerak planet ini diikat pada bagian crane yang diam. Roda gigi planet akan berputar mengelilingi cincin gigi dan memutar crane melalui bantalan porosnya karena bantalan ini diikat pada meja putar.
  • 160.
    Penggerak planet dapatdidesain dengan cincin gigi luar maupun dalam. (Gambar 210a). Pada cincin gigi dalam, gaya horisontal pada bantalan roda gigi penggerak dan pada pusat putar adalah MΣ Ppt = …………… ………… (275) R− r pada cincin gigi luar. MΣ Ppt = …………… ( 258) …………… R+ r Dengan: MΣ – total tahanan momen terhadap perputaran( untuk gerakan yang dimaksudkan )
  • 161.
    Beban yang takseragam padarol perputaran tirus akan mnengasilkan gaya horizontal tambahan yang bekerja pada pusat putar. Marilah kita tandai Pmaks sebagai gaya maksimum pada satubuah rol tirus pada sisi muatan dan αsebagai sudutke tirusan rol H 1 = maks tan P σ (gambar 210b), Maka gaya ini akan menghasilkan komponen 2 horizontal akibat ketirusan rol sebesar Tekanan angin hanya dapat diperhitungkan untuk dua rol pada desain dengan empat buah rol (pada kasus yang paling buruk akibatnya untukl gaya yang bekerja pada rol) komponen horizontal H’ dan H” kedua rol lainya ditentukan dengan mengabaikan tekanan angin. Maka, gaya horizontal yang bekerja pada pusat putar akibat ketirusan rol, akan sama dengan selisih antara resultan gaya yang bekerja pada pasangan rol yang berlawanan letaknya: Ptap = [( H1 + H’ ) – ( H2 + H” )] cos β Atau Ptap = [( Pmaks +P’ ) - ( Pmin + P” )] tan … (259)
  • 162.
    Dengan: Pmaks dan Pmin– beban maksimum pada rol bagian depan dan beban minimum pada rol bagianbelakangdengan memperhitungkan tekanan angin yang ditentukan oleh rumus (236) dan (264) P’ dan P”– beban pada rol depan dan belakan dengan mengabaikan tekanan angin Α – sudut ketirusan roler Β – setengah sudut antara dua rol yang berdekatan Maka penambahan momen gesek pada pusat putar akan menjadi Mo = ( Ppt + Ptap ) µ2 r2 …… .(260) Dengan  μ2 – koefisien gesek pada bantalan radial pusat putar  r2 – jari-jari busbantalan titik putar Momen resitansi terhadap perputaran total (untuk gerakan tunak) adalh jumlah momen akibat gaya gesek dan momen resistansi terhadap perputaran akibat angin Mw. MΣ = M + Mw …………(261) Momen akibat tekanan angin dapat ditentukan dengan rumus Mw = Pw Smuatan a + Pw Scrl1 -PwScreg …..(262) Dengan  Pw = tekanan angin, dalam kg/m2  Smuatan Scr,,Scw = luas bidang yang mengalami tekanan angin pada muatan, pada struktur putar crane dan pada pengimbang dalam M2
  • 163.
    2. Peralatan perentangdan pendongak       Mekanisme untuk mengubah jangkauan crane dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok : mekanisme perentang yang mengubah jangkauna dngan troli yang bergerak pada girder yang horizontal ataupun miring mekanisme pendongak yang menaikkan atau menurunkan tianglengan (boom) troli dapat digerakkan dengan tenaga daya ataupun dengan tangan dengan memakai penggerak tali. Mekanisme perentang. Crane putar rentang dengan jangkauan yang bervariasi ditunjukan pada gambar 214. troli a membawa tali atau rantai b yang tidak berujung yang digerakan roda penggerak tali c atau dengan drum (gaya gesek) ataupun dengan spoket rantai (dengan pertemuan positif). Roda puli atau spoket diputar oleh roda operasi d melalui roda gigi dari motor listik terpisah. Tali pengangakat emembelit roda pulu f pada troli dan roda puli gerak h pada rumah kait. Salah satu ujung tali pengangkat diikat pada ujung luar (g) tiang lengan dan ujung lainnya dililitkan pada drum pengangkat. Pengangkat merupakan unit yang berdiri sendiri dan dapat tetap mengangkat beban walaupun troli bergerak ataupun diam.
  • 164.
    W = W1+ W2 Dengan W1 dan W2 – tahanan pada roda gerak dan pada roda puli tali pengangkat  (272) : Tahanan akibat roda gerak troli adalah µ 2 .............................................(273)  d +k  W1 =Q + + 0 )β ( q G   D   Dengan :  Q = bobot muatan  q = bobot takel pendukung muatan  Go = bobot troli ( tidak termasuk bobot takel pendukung muatan )  Β = koefisien untuk memperhitungkan gesekan pada flens roda gerak β = 1,2 sampai 1,3 untuk bantalan luncur dan β = 1,8 untuk bantalan rol  µ =koefisien gesekpada bantalan roda  d =diameter garda roda  k = koefisien gesek pada gelinding roda  D = diameter roda
  • 165.
    Tahanan pada rodapuli tali pengangkat (ketika troli yang dibebani bergerak, roda puli berputar) adalah W2 = Son - Soff (274)      Gambar 215a menunjukan diagram roda puli untuk tali pengangkat. Bila kita menganggap Soff = , maka tarikan pada berbagai titk pada tali akan menjadi: S2 = Soff ε; S3 = S2 ε ; = Sg ε ε = koefisien roda puli Tarikan maksimum tali atau rantai untuk memindahkan toil adalah jumlah yang diakibatkan gerak troli W, tarikan tali S akibat terdefleksinya tali tersebut dan tahanan roda puli penggerak dan penuntun. Tarikan tali aatau rantai f akibat bobot dan defleksinya sendiri f dapat ditentukan dari keaedaan kesetimbangan momen (Gambar 215b):
  • 166.
    Sf Maka = x qr x 2 qr x2 S = 2f dengan:    qr = bobbot tali atau rantai permeter panjangnya x = setengah panjang atau rantai yang terdefleksi (nilai maksimum xmaks akan terjadi ketika troli berada pada salh satu kedudukan ujung. f = defleksi tali atau rantai yang diizinkan, biasanya diambil sebesar 1   1 f = sampai x   maks 100 200  
  • 167.
    OPERASI PERALATAN PENGANGKATSELAMAGERAKAN PERALIHAN Suatu mekanisme pengangkat mulai beroperasi pada kecepatan tertemtu atau tunak ketika alat operasinya (drum, roda crane atau rangka) telah mencapai kecepatan yang ditentukan. Setiap gerakan kerja krane terdiri atas: periode start (percepatan), gerakan yang tunak atau tertentu dan penghentian. Periode kerja pertama dan terakhir di cirikan oleh gerak peralihan. 1.BEBAN DINAMIK Bila suatu benda dengan momen inersia I berputar dengan kecepatan sudut yang bervariasi, momen gaya dinamis yang menyebabkan perubahan kecepatan pada komponen yang berputar ialah : dω M = I dyn dt Dengan dω ialah kecepatan sudut Menurut prinsip d’Alembert, momen gaya motor di nyatakan dengan dω M = M + M = M + I u dyn si dt Dengan Mu momen perlawanan statis di tinjau terhadap poros motor. dω Jika motor itu meningkatkan kecepatannya dt > 0 dan Mdyn > 0 Jika motor dandiMdyn <dt 0 kecepatannya > 0 itu perlambat dω dt Istilah ”momen girasi” akan sangat mempermudah pembahasan. Bila m dan G ialah massa dan bobot benda yang berputar dan ρ adalah jari-jari dan D diameter girasi, maka : GD 2 mp 2 = kg − / s 2 m I= 4g Rumus ini hanya dapat digunakan hanya untuk menganalisis sistem putar tunggal. Gambar 217 Diagram Mekanisme Dengan membuat gambar 217 hanta batang penghubung putar saja, kita dapat menyatakan keadaannya dengan 2 2 2 persamaan berikut I ω I rr I n 2 ω =Iω + 1ω2 + ...... + n 2 2 2 2 Semua persamaan sebelumnya hanya berlaku untuk percepatan dan perlambatan yang konstan, yakni dengan momen gaya motor yang konstan dan momen gaya rem yang konstan. Gambar 218 menunjukan momen inersia berbagai komponen putar dan tabel 39 memberikan nilai perkiraan momen inersia kopling. Momen girasi motor listrik dapat di temukan pada katalognya. Tabel 39 Nilai Perkiraan Momen Inersia Kopling
  • 168.
    Tabel 39 NilaiPerkiraan Momen Inersia Kopling Diameter luar, mm Diameter poros, mm Panjang nap, mm Lebar pelek, mm Berat kg Momen inersia, kg, cm/s2 150 30 120 30 10 0,003 200 40 160 80 20 0,01 250 50 200 100 40 0,03 300 60 240 120 70 0,08 400 70 280 140 140 0,28 Mekanisme pengangkattidak boleh memiliki lintasan perlambataan lebih dan koefisien pengereman kurang dari nilai yang di 500 80 320 160 250 0,78 tunjukan dari tabel 40. Pada mekanisme penjalanan lintasan pengereman yang di tempuh oleh truk atau crane setelah motor di matikan tidak boleh kurang dari nilaiyang di tunjukan pada tabel 41 (tanpa gelincir pada roda). Tabel 40 Lintasan Dan Koefisien Pengereman Jenis Lintasan pengereman, mm Koefisien pengereman, β Ringan ............................... s/120 1,75 Medium ............................. s/100 2,00 Berat .................................. Tabel 41 Lintasan Dan Koefisiens/80 Pengereman Koefisien adhesi 0,15 2,5 Jumlah Roda Yang Di Rem Semua 50 % 2 25 % v2 100.000 v 5.000 v2 2.500 v2 8.000 v2 4.000 v2 2.000 0,12 Catatan: s- lintasandalam m yang di tempuh beban per menit
  • 169.
    2. Pemilihan DayaMotor Dan Menentukan Momen Gaya Rem Untuk Mekanisme Pengangkat Momen gaya penuh yang di hasilkan motor ketikan percepatan dapat di cari dengan rumus : Mmot = Mst + Mdyn Dua faktor yang harus dipakai sebagai petunjuk untuk penentuan daya motor yang di perlukan secara tepat. Pemanasan dan beban lebih yang di izinkan. Beban-lebih yang aman dalam jangka waktu singkat pada motor DC tergantung pada percikan bunga api yang di izinkan pada komutator dan di pilih kira-kira sebesar 200-300% dari momen gaya ternilai, yaitu : M max Mrated = 2ke3 Dengan : Mrated – momen gaya motor Mmax – gaya maksimum ketika percepatan = Mmot Lebih-lebih yang aman untuk jangka waktu singkat motor AC dikondisikan oleh momen gaya stal yang akan melebihi momen gaya maksimum, dapat di pilih kira-kira 1,75 sampai 2 kali momen gaya, yaitu : Mmaks = (1,75 ke 2) Mrated Beban lebih yang aman lebih tepat ketika percepatan dapat di lihat pada katalog motor yang bersangkutan. Pemanasan motor di akibatkan oleh perubahan energi motor yang hilang ketika motor di operasikan. Pemanasan yang berlebihan dapat merusak isolasi dan mengurangi umur motor atau langsung dapat merusak motor itu. Oleh karena itu, daya motor di pilih sedemikian rupa sehingga temperatur gulungan dengan insulasi khusus yang tahan terhadap pemanasan yang tidak boleh melampoui batas aman pada segala kondisi pengoperasian. 3. Efisiensi Penggerak Data efisiensi mekanisme atau elemennya yang di tunjukan pada buku acuan memberikan nilai maksimum yang sesuai dengan beban aktualnya. Efisiensinya menurun ketika beban berada di bawah beban aktualnya. Ada dua jenis kerugian akibat gesekan pada mekanisme dan penggeraknya : konstan (tidak berbeban) tidak tergantung pada beban, dan variabel yang tergantung pada beban. Kerugian variabel berbanding lurus dengan beban. Maka salah satu sifat bawaan setiap mesin adalah tuntutan bahwa crane selalu beroperasi pada beban penuh, kalau tidak ada yang merugikan akan meningkat dengan persentase yang besar terhadap kerja crane yang berguna 4. Memilih Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Pengereman Untuk Mekanisme Penjalan Momen gaya motor yang di perlukan selama percepatan dan momen gaya rem selama perlambatan pada mekanisme penjalan truk, troli pengangkut, crane jalan, kantilever, monorel, dan crane lainnya yang bergerak pada rel dapat di tentukan dengan rumus : Mbr = Mdyn – Mst akan tetapi untuk mencegah tergelincir pada roda jarak pengereman ini harus di batasi tidak kurang dari nilai yang di tunjukan pada Tabel 41. dalam nenentukan momen gaya rem terhadap gerak dapat di perhitungkan dengan mengabaikan gesekan pada flens roda penjalan.
  • 170.
    5. pemilihan DayaMotor Dan Menentukan Momen Gaya Rem Untuk Mekanisme Pemutar Momen gaya yang di perlukan motor selama percepatan dan momen gaya pengereman selama perlambatan untuk mekanisme pemutar crane di tentukan dengan rumus sama seperti pembahasan yang telah dibahas diatas. Mst = M’st = M iη M = momen resistansi perputaran penuh dengan memperhitungkan tekanan angin. ∑ Σ i = perbandingan transmisi η = efisiensi penggerak di dapatkan dari rumus sebelumnya dan rarus di acu pada poros motor. Daya motor yang di perlukan pada mekanisme pada pemutar crane dipilih dengan cara yang sama seperti pada mekanisme pengangkat. 6. Pemilihan Daya Motor Dan Menentukan Momen Gaya Pengereman Untuk Mekanisme Perentang Dan Pendongkrak Bila jangkouan crane di ubah dengan troli yang di gerakan tali, momen gaya motor yang diperlukan selama percepatan dan momen gaya pengereman selama perlambatan dapat di lihat pada persamaan sebelumnya. Lintasan pengereman untuk menghentikan troli biasanya di ambil sebesar s ≈ 0,25 s/d 0,5 m. Pada mekanisme pendongkrak momen gaya motor yang diperlukan sewaktu percepatan dan momen gaya pengereman selama perlambatan ditentukan oleh persamaan yang telah di bahas diatas. Dalam rumus ini G’ adalah bobot tiang lengan yang dibebani penuh dan v- kecepatan titik bobot tiang lengan yang dibebani tersebut pada gerakan tunak. Motor dan rem mekanisme pendongkrak harus di periksa terhadap kapasitas angkat maksimum pada berbagai kedudukan tiang lengan. Daya motor yang diperlukanuntuk mekanisme perentang dan pendongkrak dipilih dengan cara yang sama seperti pada mekanisme pengangkat. Bila rem tidak di pasang pada poros motor , momen gaya dinamik M’dyn
  • 171.
    Dengan troli yangtak dibebani pada jari-jari minimum tetapi dengan arah yang berlawanan, yaitu Gcω ( Q + Go ) a + 2G1e1 + G0ao = 2e g Bila troli yang dibebani penuh berada pada ujung luar tiang lengan, kita akan mendapatkan reaksi bantalan padaujung tiang lengan sebagai berikut: Reaksi vertikal V = Q + G0 + G1 + GCω Reakisi horizontal H =H = , 1 ,, 1 ( Q + G0 ) a − G1e1 − GCω eg h1 Dalam rumus ini Q ---- bobot muatan yang diangkat G0 ---- bobot troli G1 ---- bobot tiang lengan.
  • 172.
    Untuk menentukan gayayang bekerja pada bagian kerangka secara grafis akibat bobot muatan dan troli (Q + G0), troli yang terbebani penuh harus diletakkan pada jangkauan maksimum dan beban yang sebenarnya digantikan dengan bobot Q, yang dipindahkan kesambungan yang terdekat, kemudian kita dapatkan: a Q = ( Q + G0 ) , a− a , Gaya Q’ dan G digunakan untuk menggambarkan diagram cremona dan menentukan gaya yang bekerja pada bagian kerangka akibat bobot muatan dan troli (gambar 222b)
  • 173.
    Diagram untuk menentukangaya akibat bobot mati tiang lengan ditentukan dengan cara yang sama (gambar 222c). Karena pada crane ini momen akibat pengimbang G1e1 > GCω eg maka tidak ada tekanan horizontal pada bantalan akibat bobot tiang lengan. CRANE DENGAN TIANG LENGAN-PENDONGAK. Marilah kita bahas dengan memakai contoh, bagian yang berputar dan pendukung crane derek (gambar 223). Gaya yan bekerja pada tiang lengan dan tiang vertikal crane ini dapat ditentukan dengan mudah dengan mamakai metode grafis untuk jari-jari maksimum (gambar 223a). Bobot tiang lengan horizontal G1 dan tiang vertikal G2 dipindahkan pada sambungan yang berdekatanp. Bobot Q, G gaya 1 dan tarikan S1 dan S2 digabungkan pada ujung tiang lengan 2 horizontal menjadi gaya resultante R. gaya resultante R1 dan R2 akibat tarikan tali S1 dan S2 didistribusikan diantara sambungan bawah dan atas tiang vertikal sebagai komponen
  • 174.
    Diagram Cremona untukmenentukan tegangan pada bagian kerangka digambar , R1, , R1,, , R2, dan R2, . kan dari gaya R, G1 2 G2 2 Dan (pada ujung atas dan bawah). Tiang lengan dan vertical mengalami tegangan tekan lentur. Kedua tiang tersebut dibuat dari kayu ataupun profil baja canai. Bila terbuat dari baja canai tiang tersebut mempunyai penampang persegi yang terdiri atas empat buah baja siku yang disambung keempat sisinya dengan penampang kisi. Biasanya tiang vertical Derek (gambar 223b) diikat dengan dua buah kaki pendukung miring 11 dan 12 pada ujung atas dan dengan dua bagian horizontal 13 dan 14 pada bagian bawah. Gambar 223. Penyelesaian tiang lengan, vertikal dan batang tulang crane derek Bila tiang lengan berada pada kedudukan I maksimum H maks + S11 = + ( β = 0) , kaki 11 dibebani gaya 1 sin γ (kaki 12 tidak dibebani). Bila tiang lengan berputar kekiri kedudukan I gaya yang bekerja pada kaki 11 akan berkurang, sebagian diambil alih oleh kaki 12 yang disini mengalami tegangan tekan.
  • 175.
    S11 = S12= + H 1 cos 45 o 1 sin γ Pada kedudukan III, bila β = 90 , kaki II bebas dari bebannya karena kaki 12 akan menahan seluruh gaya horizontal H1. bila β > 90 o kaki II mengalami tekanan yang akan mencapai nilai maksimum pada kedudukan IV ( β = 180 o ) o −S maks 13 H1 1 = H 1 sin ( β − 90 ) ≈ − 1,0 sin γ sin γ o Diagram polar (gambar 223b) menunjukkan kurva yang menggambarkan gaya yang bekerja pada kaki II pada kedudukan terujung pada tiang lengan yang dibatasi sudut . Diagram untuk kaki 12 akan serupa dengan diagram yang ditunjukkan. Bagian horizontal 13 dan 14 mengalami tekanan dan tarikan yang tergantung pada kedudukan tiang lengan . bagian 13 mengalami tegangan maks tekan maksimum pada kedudukan I, yaituS11 = − H 1 dan tegangan tarik maksimum pada kedudukan IV, yakni, maks − S13 = H 1 sin ( β − 90 o ) ≈ +1,01
  • 176.
    Bila pendukung bawahtiang vertical meneruskan reaksi horizontal bantalan langsung ke pondasi beton, bagian 13 dan 14 dapat ditiadakan. Dalam hal ini ujung bawah kaki 11 dan 12 (masing-masing terpisah) diikat dengan baut benam pada pondasi beton. Titik putar atas pada Derek yang dapat diputar pada satru lingkaran penuh atau kolong bangunan. Bila kita mengasumsikan keenam buah tali tersebut kukuh dua buah diantaranya mengalami tegangan maka gaya dikerahkan pada satu buah tali kukuh akan sama dengan . Tetapi karena tali tersebut miring dengan sudut terhadap vertical maka tegangan desain yang sebenarnya adalah S= H1 2 cos 30 O sin γ Batas keamanan tali yang sebenarnya mengharuskan jumlah tali minimal 5 buah.
  • 177.
    3. Struktur Kantilever Bagianpendukung crane kantilever terdiri atasa dua buah roda penjalan vertikal yang akan menahan beban akibat bobot crane, troli dan beban hidup dan dua pasang bantalan nol masing-masing pada bagian atas dan bawah yang akan menahan gaya reaksi horizontal akibat momen yang akan menyingkirkan crane (gambar 224) Gambar 224 menunjukkan kerangka crane kantilever dengan troli dalam dan gambar 225 menunjukkan crane dengan troli luar. Beban penuh pada penumpu kerangka akan sama dengan (lihat gambar 225) beban bantalan vertikal V = Q + G0 + G1 Dengan : Q --- bobot muatan yang diangkat G0 --- bobot troli G1 --- bobot crane tanpa troli
  • 178.
    Beban bantalan horizontal: H'= H ''= ( Q + G0 ) a + G1e1 h Kerangka krane kantilever dirancang dengan dua buah modifikasi. Dengan troli dalam atau troli luar (yang bergerak pada batang tepi atas atau bawah). Beban kontstan pada girder utama rangka (bobot beban mati) terdiri atas bobotnya sendiri, setengah bobot penopang silang dan setengah bobot struktur platform dengan lantainya. Setengah bobot batangbobot penopang silang dan lantai ditahan oleh gireder tambahan (samping) Gambar 224 Rangka crane kantilever
  • 179.
    Pada awalnya bobotgirder utama, batang penopang silang, dan lantai ditentukan dengan metode coba-coba dengan perbandingan desain yang tersedia Bila beban akibat bobot girder utama adalah G 1dan jarak ketitik bobotnya dengan e1 maka reaksi pada pendukung kerangka adalah: e H = G1 1 h V = G1 dan Dengan mengasumsikan bahwa beban G1 terdistribusikan seragam sepanjang girder utama, kita dapat mencari gaya yang bekerja pada sambungan k 1 dan k2 (gambar 225a). Bila mengetahui gaya-gaya pada sambungan tersebut kita dapat mencari tegangan pada bagian kerangka akibat bobot girder utama dengan menggambarkan diagram Cremona (gambar 225a)
  • 180.
  • 181.
    Pada gambar 220bresultante R1 komponen gaya S dan Q pada ujung luar tiang lengan ditentukan dengan metode sebelumnya. Tarikan S dan S tali pada roda puli bagian kerangka tengah 4 akan menghasilkan resultante R2 yang bekerja pada ujung bagian rangka 4 sebagai R’2 dan R”2 sebanding dengan bagian lengan tersebut.Gaya S pada drum diuraikan menjadi gaya yang bekerja padsa bagian pilar (S’ dan S”). Gaya R1, R2, dan R3 digunakan untuk menggambarkan diagram Cremona dan untuk menentukan tegangan pada bagian kerangka akibat beban muatan dan tarikan tali. Gambar 220c menunjukkan diagram tegangan pada bagian kerangka akibat bobot tiang lengan, dimana diagram ini harus dibuat dengan skala lebih besar dibandingkan diagram untuk bobot muatan. Bobot tiang lengan dan akibatnya pada bagian suprastruktur ditentukan secara coba-coba.  Tegangan pada bagian kerangka adalah jumlah beban gaya mati dan beban hidup
  • 182.
    Pada crane yangberat dengan mekanisme pemutar yang digerakkan oleh penggerak daya, efek gaya inersia diperhitungkan dengan mengasumsikan gaya horisontal sebesar yang bekerja pada ujung tiang lengan. Gaya inersia ini didukung oleh rangka batang horisontal (Gambar 220d) yang setengahnya mengalami tekanan tambahan dan bagian lainnya mengalami tarikan. CRANE DENGAN TIANG TETAP Gambar 221 adalah contoh suprastruktur pejal yang sering digunakan untuk crane pilar putar tanpa pengimbang.    Keunggulan desain ini adalah tersedianya ruangan yang cukup besar dibawah tiang lengan. Girder berbentuk kotak diperkuat pada bagian yang melengkung dengan pelat dan pada bagian yang lurus memakai penopang. Dimensi penampang ditentukan secara cobacoba.
  • 183.
    Tegangan Pada bagianII-II, III-III, IV-IV ditentukan sebagai berikut:Bagian   atas yang miring dianggap terpasang mati (gambar 221b) pada penampang II-II (gambar 221a) Bobot muatan Q diuraikan menjadi gaya tekan N1 dan gaya lentur P1. Biasanya momen yang berlawanan dari tarikan tali S diabaikan. Pada kedua nilai tersebut ditambah gaya tekan N2 dan gaya lentur P2 akibat bobot suprastruktur G2
  • 184.
    Momen lentur (faktorkoreksi dinamik diabaikan) MII = P1C1 + P2C2 (307) Gaya normal NII = N1 + N2 + S (308) Resultante tegangan satuan (tanpa gaya geser) (309) dengan: W2 dan F2 – momen resistensi dan luas penampang pada bidang II-II (diagram tegangan, gambar 211c) Tegangan geser satuan (310) Gambar 221 diagram untuk menyelesaikan suprastruktur pejal untuk crane putar Tegangan satuan dengan memperhitungkan tegangan geser (311)
  • 185.
    Penghitungan tegangan padabagian tengah yang melengkung pada penampang III-III (gambar 221a) dibuat seperti batang lengkung. Momen lentur MIII= Qa + G1 e1. Gaya normal NIII = Q + G1. Resultante tegangan satuan pada bagian terluar dan terdalam serat penampang tersebut ialah (312) dengan : r = jari-jari kelengkungan batang (Gambar 221d). Biasanya nilai x ditentukan dengan metode grafis. Tanda + pada persamaan (312) dipakai untuk serat penampang terluar, dan tanda – dipakai pada serat penampang yang terdalam. Tegangan satuan bervariasi menurut suatu hiperbola (gambar 221d). Pada penampang IV-IV pada bagian bawah yang lurus (gambar 221a) momen MIV = MIII Gaya normal NIV = NIII, Resultante tegangan satuannya adalah (313)
  • 186.
    Semua penampang dibawahpenampang IV-IV hanya mengalami lenturan. Diagram momen lentur batang tersebut digambarkan pada gambar 221e dan diagram tegangan pada gambar 221f. 2. SUPRASTRUKTUR CRANE PUTAR BENTANG DAN CRANE LENGAN-PENDONGAK Crane Bentang dengan Troli. Gambar 222a menunjukkan Diagram crane batang yang dapat diputar dalam suatu lingkaran penuh yang mempunyai troli gerak. Crane ini diberi pengimbang untuk mengurangi gaya reaksi horisontal pada pendukungnya. Besarnya pengimbang Gcw harus dibuat sedemikian rupa sehingga gaya reaksi horisontal bantalan dengan troli yang terbebani penuh pada jarijari maksimum bernilai sama Gambar 222 penyelesaian secara grafik suprastruktur crane putar batang yang jangkauannya dapat diubah dengan troli
  • 187.
    Momen Lentur dangaya lateral akibat beban konstan. Bila L adalah bentangan girder memanjang utama, dalam meter; G-bobot girder tersebut, yakni beban konstan, dalam ton, yang terdistribusi seragam sepanjang bentangan; q- bobot mati, dalam ton per meter panjang, momen lentur pada jarak x dari penumpu sebelah kiri akibat bobot mati adalah Mq = = ton – m Momen lentur maximum bila Mqmaks = (322) ton –m adalah (321)
  • 188.
    Kurva momen lenturakan merupakan suatu parabola yang digambarkan sepanjang L dengan ordinat maksimum Mqmaks (Gambar 228b). Gaya lateral pada jarak x dari penumpu kiri adalah ton Gaya lateral maksimum pada sebelah kanan atau kiri penumpu x = 0 akan sama dengan ton Kurva gaya lateral ditunjukan pada gambar 228e.
  • 189.
    Momen lentur dangaya lateral akbat beban gerak (troli dan muatan). Bila bobot troli berbeban didistribusikan seragam pada rodanya, maka beban pada satu roda adalah dengan Q-bobot muatan yang diangkat dan Go-bobot troli. Dapat diasumsikan dalam hal ini bahwa girder pelat menahan dua buah beban P yang identik yang terpisah sejauh b (Gambar 228a). Maka momen lentur pada penumpu di bawah roda sebelah kiri, yang ditempatkan pada jarak x dari penumpu kiri ialah (325) ton-m Momen lentur maksimum akan terjadi pada penampang yang berjarak dari bagian tengah bentangan gider pelat tersebut (326) ton-m
  • 190.
    Momen lentur didistribusikandengan bentuk parabola dengan ordinat terbesar pada panjang (Gambar 228c). Kurva momen untuk kedudukan beban yang paling tidak menguntungkan adalah 0-1-2-3; yang didapat dengan menggambarkan dua kurva momen akibat gerak beban dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri. Momen lentur maksimum berkurang bila jarak antara roda bertambah. Bila jarak antar roda (misalnya, pada troli tangan) kecil dibandingkan bentangan, kita dapat mengasumsikan dengan cukup akurat untuk penggunaan praktis bahwa b = 0 dan Gambar 228 Kurva momen dan gaya lateral girder pelat Bila roda troli diberi beban berbeda, dapat diasumsikan bahwa dua beban P1 dan P2 yang berlainan akan bergerak sepanjang girder; maka V = P1 + P2 merupakan resultante kesua gaya yang berkerja pada roda dan dan
  • 191.
    Dalam hal inimomen lentur pada daerah dibawah roda, pada jarak x dari penumpu kiri adalah ton-m (327) Momen lentur maksimum akibatbeban P1 pada jarak dari titik tengah girder ialah ton-m (328) Persamaan ini merupakan persamaan parabola yang digambarkan sepanjang (L – b1) dengan ordinat maksimum Momen pada daerah dibawah beban P2 pada jarak x dari penumpu kanan ditentukan dengan cara yang sama sepeti diatas, yakni ton-m (329) ton-m (330) dan
  • 192.
    Persamaan (330) merupakanparabola sepanjang dengan ordinat Untuk beban yang sama P dan P gaya lateral pada jarak x dari penumpu kiri ialah (Gambar 228f) ton (331) Bila x = 0gaya lateral maksimum pada penumpu kiri ialah ton Gaya lateral pada jarak (332) dari penumpu kiri ialah ton (333) Dengan beban P1 dan P2 gaya lateral pada jarak x akan sama dengan ton (334)
  • 193.
    Bila x =0 ton Gaya lateral pada jarak (335) dari penumpu kiri ialah Bila kita menambahkan kedua kurva momen akibat aksi beban mati (Gambar 228b) dan beban gerak (Gambar 228c) kita akan mendapatkan momen resultan (Gambar 228a) – daerah yang diarsir. Dengan mengalikan momen perlawanan pada berbagai penampang girder utama dengan tegangan amannya kita akan mendapatkan kurva yang menggambarkan kekuatan girder (kurva momen aman) – garis kontur pada gambar 228d. Diagram resultante gaya lateral ditunjukkan pada gambar 228g. Gambar 229 menunjukkan diagram momen dan untuk girder memanjang utama crane jalan dengan kapasitas angkat mulai 5 sampai 50 ton dan bentangan mulai 10 sampai 30 meter. Tegangan Satuan akibat Momen Lentur (a) Akibat beban utama (336)
  • 194.
    Tegangan satuan akibatmomen lentur a) Akibat beban utama b) Akibat beban utama dan tambahan Tegangan Satuan akibat gaya lateral a) Akibat beban utama b) Akibat beban utama dan beban tambahan Notasi berikut digunakan pada rumus sebelumnya: = tegangan lentur normal sebenarnya (lentur) dalam kg/cm 2 =tegangan satuan tangensial yang sebenarnya (geser) dalam kg/cm 2 dan = tegangan satuna aman untuk lentur dan geser dalam kg/cm 2 =koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban konstan =koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban konstan =momen netto pad setiap penampang (tanpa lubang paku keling) =jumlah momen lentur pada penampang akibat beban tambahan =momen statis total pada setiap bagian penampang (tanpa lubang paku keling) =tebal dinding pada setiap penampang Igr =momen inersia total ditinjau dari sumbu utama =jumlah gaya lateral pada setiap penampang akibat beban tambahan.
  • 195.
    Gambar 229 kuvauntuk memperkirakan momen maksimum akibat beban konstan Tabel 4.2 Koefisiensi dinamik untuk gaya akibat beban diam Tabel 4.3 Koefisiensi dinamik untuk gaya pada beban berjalan Deformasi Defleksi Girder.Defleksi girder utama yang berlebihan akan menyebabkan seluruh jembatan bergetar dan berpengaruh besar pada operasi crane. Untuk menjaga defleksi dalam batas aman, girder memanjang utama harus cukup tinggi dan emiliki momen inersia yang memadai. Pada girder dengan momen inersia yang konstan 1 cm 4, defleksi maksimum akibat bobotnya sendiri (gambar 230) ialah: Gambar 230 Diagram untuk menghitung defleksi girder utama crane jalan dengan: G = bobot girder, dalam kg E2.200.200 kg/cm2 Modulus elastisitas. Defleksi akibat beban gerak dapat ditentukan berdasarkan asumsi bahwa dua beban P dan P (beban pada roda troli berbeban) ditempatkan secara simetris pada bagian tengah crane(gambar 230). Maka kita akan mendapatkan defleksi dengan ketelitian yang memadai Defleksi total adalah memeriksa kekuatan flens bawah pada jalur monorel. Pada crane jalan girder tunggal, pengangkat yang digerakkan tangan ataupun daya sering didesain untuk pada batang canai-I.
  • 196.
    Dalam hal inimomen lentur persatuan panjang ialah: M = 0,51 P Dengan P = gaya yang ditimbulkan oleh roda yang pada desain dengan empat roda akan sebesar: P= Dengan Go = bobot pengangkat yang dapat bergerak Q = kapasitas angkat Dengan menandai tebal flens dengan t, momen penampang (per satuan panjang) ialah sebesar W== Gambar 231 Flens bawah batang canai-I Tegangan pada flens akan menjadi
  • 197.
    K – koefisienyang memperhitungkan lubang pada lantai ~ 0,5. Biasanya lebar lantai dioambil sebesar 800; 1.000; 12.000 . 5) bobot penopang silang G cr-br ≈ 1/30 G utama; 6) bobot mekanisme penjalan G mech = 700 sampai 1.300 untuik crane dangan kapasitas angkat sampai 30 ton; 7) bobot kabin operator dengan peralatan elektriknya dan bobot operator itu sendiri Gcab ≈ 1.000 sampai 1.500 kg Maka bobot total rangka batang utama akibat beberan konstan ialah : G = G utama + ½ G hor + ½ (Gpt + Gft ) + ½ Gcr-br + ½ Gmech + ½ Gcub (344) dan beban yang dcitahan oleh tiap-tiap sambungan atau titik panel rangka ialah G (345) K= n -1 dengan n jumlah sambungan
  • 198.
    Untuk menentukan teganganpada anggota rangka susun akibat beban konstan digunakan diagram Cremona ( gambar 234 ) Tegangan pada bagian rangka batang a.kibat beban gerak. Beban gerak menyebabkan batang tepi atas girder utama mengalami tekanan dan batang tepi baewah mengalami tarikan. Tergantung pada kedudukan troli batang diagonal dapat mengalami tarikan maupun tekanan. Gambar 235 ditujukan untuk menentukan tegangan maksimum pada bagian girder utama akibat beban gerak . Momen maksimum , M = P y’1 + P2y’2 (346) Tegangan pada batang tepi ditentukan dengan membagi momen pada sambungan yang berlawanan dengan segitiga rangka batang pada jarak terpendek antara batang ke sambungan Miv S4 = h Gaya lateral akan sama dengan (347) T = P y”1 + P2y”2 (348)
  • 199.
    Metode yang samadigunakan untuk mencari gaya lateral pada sambungan lainya. Tegangan pada penopang yang miring ditentukan dengan bantuan diagram Cremona yang digambarkan untuk rangka batang bila reaksi tumpukan kiri A = 1 ton Untuk ini sambungan yang tepat disebelahkanannya juga dibebani yang sesuai. Tegangan pada penopang tulang miring adalah (248) Dengan : F Tegangan pada penopang tulang miring yang didapatkan dari diagram cremona untuk A=1 T gaya lateral pada titik sambungan (yang paling buruk pengaruhnya). Beban roda troli hanya menghasilkan tegangan tekan pada batang vertikal. Jika b = λ atau b> λ (lihat gambar 232a), maka tegangan pada batang vertikal adalah S = P1 ; Jika b < λ maka (350) Nilai tegangan pada bagian akibat beban gerak kemudian dituliskan pada suatu kolom dalam tabel ringkasan perhitungan masing-masing.
  • 200.
    Tegangan Tambahan PadaBagian Rangka Akibat Pengereman Crane. Batang tepi atas mengalami juga gaya lentur pada batang horizontal akibat gaya pengereman bagian gerak crane bermuatan. Gaya akibat inersia komponen crane akan mencapai maksimum bila roda perjalan crane secara tiba-tiba. Jika bobot muatan yang diangkat adalah Q, bobot troli adalah G 0, bobot crane (tanpa troli) dengan G, dalam kg, percepatan gravitasi adalah g (g=9.81 m/s2) dan koifisien gesek antara roda perjalan dan rel adalah μ (μ ≈ 0,2) dan jika setengah dari roda crane direm kita akan mendapatkan Dengan perlambatan adalah Gaya inersia massa troli yang bekerja pada rangka batang pada bidang horizontal akan sama dengan (351) Karena gaya ini ditransmisikan ke rel pada girder utama, setiap batang-tepi atas dan rangka pengaku horizontalnya (melalui penipang slang) akan menahan setengah dari gaya inersia tersebut. Momen letur maksimum akan terjadi pada jarak dari bagian tengah bentangan crane. Persamaan momen [rumus (326)] harus ditambah dengan nilai gaya horizontal yang bekerja pada satu roda satu rangka batang.
  • 201.
    Maka momen lenturhorizontal maksimum adalah (352) Tegangan Satuan pada Bagian Rangka Batang Pemeriksaan terhadap tekanan atau tarikan a. akibat kerja beban utama (353) b. akibat kerja beban utama dan tambahan (354) Pemeriksaan terhadap stabilitas (tertekan) a. akibat kerja beban utama (355) b. akibat kerja beban utama dan tambahan (356) Pemeriksaan terhadap lenturan dan tekanan lateral : a. akibat kerja beban utama (357) (357)
  • 202.
    b. akibat kerjabeban utama dan tambahan (358) Pemeriksaan terhadap stabilitas : a. Akibat kerja beban utama (359) b. akibat kerja beban utama dan tambahan (360) Dalam memeriksa stabilitas (lenturan akibat tekanan aksial) nilai koefisien μ diambil untuk kefleksibelan bagian yang berada dalam bidang lentur dari Tabel 44. Kefleksibelan batang didapat dengan menggunakan rumus (361)
  • 203.
    Tabel 44 Koefisienϕ yang mengurangi tegangan aman dalam lenturan akibat tekanan aksial bagian rangka batang yang terbebani terpusat
  • 204.
    Dengan Igr = momeninersia total penampang bagian Fgr = luas penampang bagian L = luas bagian Kefleksibelan batang tidak boleh melebihi : a) 120 – untuk bagian yang merupakan batang tepi dan penopang ujung rangka batang yang mengalami tekanan; b) 150 – untuk bagian lain rangka batang utama yang mengalami tekanan dan untuk batang tepi yang mengalami tekanan; c) 200 – untuk batang lain rangka batang utama dalam yang mengalami tarikan; d) 200 – untuk batang dari rangka batang tambahan yang mengalami tekanan; e) 250 – untuk batang lain rangka batang tambahan. Gambar 237 Diagram momen akibat lenturan setempat pada batang tepi atas yang dihasilkan oleh oda troli yang bermuatan
  • 205.
    Tanda-tanda yang diguanakanrumus (253) sampai (360) ialah sebagai berikut : ψ = koefisien dinamik untuk gaya akibat beban konstan (lihat Tabel 42) Sq = gaya akibat beban konstan µ = koefisien gay dinamik akibat beban gerak (lihat Tabel 43) Sp = gaya akibat beban gerak Sp = gaya akibat beban gerak Mp = momen lentur akibat lenturan setempat pada batang tepi atas yang diakibatkan oleh roda troli yang bermuatan (Gambar 237) (362) Fnet = luas penampang netto bagian (tanpa lubang paku keling) Fgr = luas daerah gross bagian (dengan lubang paku keling) Wnet = momen penampang bagian netto Wgr = momen penampang bagian gross ∑Sadd = jumlah gaya akibat beban tambahan ∑Madd = jumlah momen akibat beban tambahan [σ] = tegangan aman
  • 206.
    Beban tambahan akibatpengereman crane ditahan oleh penampang (Gambar238) atau rangka batang horisontal yang terletak diantara ranga batang utamadan rangka batang sisi (Gambar 239). Jika (tanpa rangka batang horisontal) lantai plat baja dianggap menahan gaya ini maka tegangan pada bidang horisontal pada bagian terluar dapat ditentukan dengan persamaan momen (352). Gambar 238 Diagram untuk menyelesaikan batang tepi atas dari rangka batang berlantai Gambar 239 Menentukan tegangan pada bagian rangka batang horisontal akibat pereman crane Momen perlawanan (Gambar 238) adalah Karena lantai plat baja tersebut dilubangi maka penampang yang berguna hanya dianggap 50 persen saja.
  • 207.
    Tergantung pada arahgerak crane tegangan pada bidang horisontal berubahubah dari tegangan tarik menjadi tegangan tekan dan sebaliknya. Jika gaya inersia komponen ditahan oleh rangka batng horisontal (Gambar 239) kita harus mendistribusikan beban pada rodatroli Pdalamketitik sambungan yang berdekatan, tentukan gaya reaksi horisontal H1 dan H2 dan menggambarkan diagram Cremona (Gambar 239). Diagram Cremona ini dipergunakan untuk mencari tegangan tambahan pada bagian-bagian batang tepi atas yangmerupakan tegangan sekat untuk arah gerak crane diatas tersebut. Tegangan tambahan ditambah Fnet maksimum akibat gaya tekan vertikal untuk mendapatkan [lihat rumus (354) sampai (360)] tegangan maksimum pada batang tepi atas (batang tepi bawah hanya mengalami tarikan). Defleksi Batang dan Lengkungannya. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, defleksi rangka batang akibat muatan maksimum yang diangkat dan bobot troli tidak boleh melebihi δ” < L dengan L-panjang bentangan rangka batang. Defleksi kisi rangka batang jembatan jalan dapat ditentukan sampai ketelitian 10 persen dengan rumus (363) Dengan : M = momen desain akibat beban gerak, dalam kg-cm L = panjang betangan dalam cm
  • 208.
    Tergantung pada arahgerak crane tegangan pada bidang horisontal berubahubah dari tegangan tarik menjadi tegangan tekan dan sebaliknya. Jika gaya inersia komponen ditahan oleh rangka batng horisontal (Gambar 239) kita harus mendistribusikan beban pada rodatroli Pdalamketitik sambungan yang berdekatan, tentukan gaya reaksi horisontal H1 dan H2 dan menggambarkan diagram Cremona (Gambar 239). Diagram Cremona ini dipergunakan untuk mencari tegangan tambahan pada bagian-bagian batang tepi atas yangmerupakan tegangan sekat untuk arah gerak crane diatas tersebut. Tegangan tambahan ditambah Fnet maksimum akibat gaya tekan vertikal untuk mendapatkan [lihat rumus (354) sampai (360)] tegangan maksimum pada batang tepi atas (batang tepi bawah hanya mengalami tarikan). Defleksi Batang dan Lengkungannya. Seperti yang telah diterangkan sebelumnya, defleksi rangka batang akibat muatan maksimum yang diangkat dan bobot troli tidak boleh melebihi δ” < L dengan L-panjang bentangan rangka batang. Defleksi kisi rangka batang jembatan jalan dapat ditentukan sampai ketelitian 10 persen dengan rumus (363) Dengan : M = momen desain akibat beban gerak, dalam kg-cm L = panjang betangan dalam cm
  • 209.
    Dengan : h = tinggirangka batang, dalam cm Fatas = luas penampang gross batang tepi atas, dalam cm2 Fbawah = luas penampang lintang gross batang tepi bawah, dalam cm2 = modulus elastisitas 1,2 = koefisien yang diperhitungkan deformasi batang penopang miring Kadang-kadang yang disebut dengan kelengkungan (kembar) dipasangkan pada jaringan rangka batang untuk memberi pratarikan pada bagian batang tersebut. Biasanya kelengkungan pada titik sambungan tengah diambil sama dengan defleksi amannya. Biasanya kelengkungan pada sambungan lainnya mengikuti fungsi parabola. Marilah kita bahas dengan memakai contohrangka batang crane jalan elektrik (Gambar 240) dengan karakteristik berikut : bentang L = 24.000 mm, jumlah panel n = 10, panjang panel λ = 2.400 mm, tinggi rangka h = 2.400 mm, kelengkungan maksimum fmaks = 24 mm = ε Gambar 240 Penentuan kelengkungan rangka batang secara grafis
  • 210.
    Gambar 242 PenyelesaianSecara Grafis Rangka Batang Kisi Tabel 45 Momen gaya Lateral akibat Beban Gerak Dengan Mp = P1 = 1.800 = 37.500 kg-cm dan φ = 0,87 λ= = = 55 Perhitungan sebelumnya memperbolehkan penggunaan dua batang kanal No. 12 untuk batang-tepi atas rangka. Batang-tepi bawah (batang 13 dan 19 dua batang siku 60 x 60 x 8 mm) Tegangan satuan batang pada batang-tepi bawah adalah σ= = = 107 kg / cm 2 Dengan Mp = P1 = 1.800 = 37.500 kg-cm dan φ = 0,87 λ= = = 55 Perhitungan sebelumnya memperbolehkan penggunaan dua batang kanal No. 12 untuk batang-tepi atas rangka. Batang-tepi bawah (batang 13 dan 19 dua batang siku 60 x 60 x 8 mm) Tegangan satuan batang pada batang-tepi bawah adalah σ= = = 107 kg / cm 2
  • 211.
    Dengan : Fnet =0,85 Fgr = 0,85 x 9,03 x 2 = 15,35 (dengan memperhitungkan berkurangnya kekuatan akibat lubang paku keling). Penampang miring (batang 6-dua batang siku 50 x 50 x 6 mm). Tegangan satuan pada penopang miring adalah : σ= 1.180 kg / cm2 Dengan : φ = 0,45 = =
  • 212.
    Tabel 46 TabelRingkas hasil Perhitungan Batang penumpu ujung terbuat dari dua batang siku 50 x 50 x 6 mm karena tegangannya tidak melebihi tegangan pada penopang miring tersebut. Tegangan satuan pada bagian rangka batang utama cukup aman untuk baja CT 2. Gambar 424e menunjukkan diagram Cremona untuk menyelesaikan rangka batang sisi dan Gambar 242d untuk rangka horisontal. Nilai tegangan pada rangka-rangka ini diringkas pada Tabel 46. 4. Defleksi pada rangka batang utama akibat beban gerak [rumus (363)] adalah δ” = = = 0,9 cm Momen akibat beban gerak akan sama dengan M= = = 1.265.000 kg-cm
  • 213.
    Dan momen inersiakedua batang-tepi rangka batang adalah Im = = = 2,14 cm Menurut kaidah keteknikan, defleksi tidak boleh melebihi δ” = = = 2,14 Maka, defleksi δ” = 0,9 cm yang kita dapatkan sangat diizinkan.
  • 214.
    ELEVATOR 1. ELEVATOR SANGKAR Elevatorsangkar juga disebut lift ditujukan untuk mengangkat barang dan penumpang secara vertikal didalam sangkar yang bergerak pada rel penuntun tetap. Lift banyak digunakan pada industri, toserba dan rumah tinggal. Lift diklasifikasikan menjadi lift untuk penumpang dan lift untuk barang. Kemudian lift barang terbagi lagi menjadi elevator barang, elevator barangdan penumpang (memakai operator) dan elevator barang pelayanan ringan(untuk perusahaan makanan dan komersial). Jenis penggerak yang digunakan membagi elevator menjadi elevator elektrik (lihat gambar 249 dan 250), hidrolik dan yang dioperasikan tangan (gambar 251). Elevator yang digerakkan elektriklah yang paling banyak digunakan. Kecepatan tempuh lift barang berkisar mulai 0,1 sampai 1,5 m/detik. Lift penumpang biasa bergerak dengan kecepatan 0,5 sampai 3,5 m/detik. Biasanya lift penumpang tersedia mulai kapasitas 0,25 sampai 1 ton; lift barang menangani 0,25 sampai 15 ton, sedangkan lift barang pelayanan ringan mulai 50 sampai 100 kg. Lift sangkar elektrik mempunyai bagian-bagian utama sebagai berikut (gambar 249): sangkar atau kerata, rel penuntun swatumpu, lorong lift, penyeimbang, peralatan penggantung, mesin pengangkat, alat pengamanan dan kendali elektrik. Sangkar atau kereta berfungsi untuk barang atau penumpang. Elevator penumpang dapat mempunyai bobot kira-kira sebagai berikut:
  • 215.
    Kapasitas penumpang) Bobot sangkar, kg (jumlah 2 3 4 5 6 250 275 300 350 400 Gambar249 Bobot sangkar elevator barang dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut: Gsangkar = 300 + 100F untuk Q = 500 kg Gsangkar = 300 + 125F untuk Q = 1000 kg Gsangkar = 300 + 150F untuk Q = 1500 kg Dengan : F : luas lantai, dalam m dan Q : kapasitas, dalam kg Rangka sangkar barang dibuat dari kanal dan besi siku sedangkan dinding dan lantai dari kayu atau pelat besi anti gelincir. Sangkar tersebut cukup kokoh untuk menahan deformasi akibat beban kejut yang mungkin timbul ketika pemuatan. Salah satu desain sangkar tanpa daun pintu ditunjukkan oleh gambar 252.
  • 216.
    Gambar 252 Ukuran sangkarlift dipilih berdasarkan tekanan satuan yang dikerjakan pada lantai. Q q = F Untuk muatan berukuran kecil q diambil mulai 200 sampai 300 kg/cm, dalam hal ini luas lantai tidak boleh kurang dari 1 meter persegi. Alat penuntun. Sangkar atau kereta, bergerak didalam lorong pada rel penuntun yang terpasang tetap. Gambar 253 menunjukkan berbagai desain rel penuntun: (a)penuntun konvrensional untukelevator barang yang terdiri atas dua buah besi siku yang bergeser sepanjang rel kayu persegi. (b)Penuntun untuk lift penumpang dengan pegas ulir yang menekan ujung batang penuntun pada rel. (c)penuntun berengsel untuk rel T- khusus.
  • 217.
    Rel atau batangpenuntun terbuat dari batang baja canai profil (siku, T, T-ganda) atau batang kayu dan diikat pada kedua sisi lorong lift yang berlawanan. Rel harus diberi pelumas gemuk secara teratur. Kerugian akibat gesekan pada rel penuntun diambil sebesar 5 sampai 10% dari bobot komponen gerak. Gambar 254a sampai menunjukkan cara pemasangan rel penuntun rangka lorong lift atau dinding gedung. Dalam mendesain rel penuntun dan cara pemasanganya harus diingat bahwa selama lift bertaut dengan penahan pengaman, bila tali terputus, disamping bobot sangkat yang bermuatan, rel juga harus menahan benturan yang diakibatkan penyerapan energi kinetik sangkar yang jatuh. Semakin kecil l;intasan pengereman sangkar ketika perlambatan, akan semakin besar gaya yang timbul dari benturan. Energi kinetik akibat bobot sangkar G dengan muatan Q adalah : mv 2 Q + Gsangkar 2 = v Dengan : 2 2g V = kecepatan tempuh, dakam m/detik G = percepatan gravitasi sebesar g = 9,81 m/detik Lintasan pengereman dianggap sebesar 5 – 10 cm. Perhitungan didasarkan pada anggapan bahwa pertautan antara penahan pengaman dengan rel mengakibatkan gaya pada setiap rel sepanjang liantasan s yang meningkat mulai 0 sampai Rmaks (dengan dua rel) sepanjang lintasan s adalah ½ x 2R maks s. Persamaan umum kerja dapat ditrulis sebagai berikut : Q + Gsangkar 2g 1 v 2 + (Q + Gsangkar ) s = 2 Rmaks 2 2
  • 218.
    Maka gaya yangbekerja sepanjang satu rel penuntun adalah :  v2  Rmaks = 1 +  2 gs (Q + Gsangkar )    Lorong elevator. Lorong adalah ruangan tempat sangkat lift bergerak. Disamping sangkar lorong tersebut berisi rel penuntun, pengimbang, roda puli tali dan mesin pengangkat. Rangka lorong baik untuk elevator penumpang maupun barang dapat didesain dalam bentuk yang beragam demikian juga bahanyang digunakannya. Akan tetapi pada dasarnya, lorong harus memiliki kekuatan yang memadai, pencegahan terhadap bahaya kebakaran dan mempunyai keamanan yang umum. Gambar 255 menunjukkan rangka lorong elevator barang yang terbuat dari logam. Gambar 255 Pengimbang elevator. Untuk menghilangkan beban pada mesin pengangkat, bobot sangkar diimbangi dengan bebantambahan pengimbang yang dihubungkan dengan tali padaswangkar (gambar 256a), dengan drum mesin pengangkat (gambar 256b) atau pada kedua secara bersamaan (gambar 256d). Gambar 256
  • 219.
    Biasanya bobot pengibangyang ditunjukkan pada diagram gambar 256a, b, c dan d dianggap sama dengan bobot sangkar ditambah 0,4 sdsampai 0,4 dari muatan maksimum, yaitu : Gsangkar = Gsangkar + 0,5Q Bila kita menandai kerja yang haruas dilakukan dalam menaikan dan menurunkan sangkar bermuatan ataupun kosong (dengan mengabaikan kerugian-kerugian) dengan P dan dengan mempertimbangkam pengimbang sesuai rumus (377), maka usaha ini akan sama dengan Untuk menaikan sangkar bermuatan P = +0.5Q Untuk menurunkan sangkar bermuatan P = +0.5Q Untuk menaikan sangkar kosong P = +0.5Q Untuk menurunkan sangkar kosong P = +0.5Q Gambar 257 Peralatan penggantung. Tali kawat pintalan sejajar atau silang merupakan perabot pengangkat fleksibel yang menggantung sangkar. Untuk mengefektifkan penggunaan tali yang berdiameter lebih kecil, sangkar dan pengimbang digantungkan dengan dua, empat atau enam tuas tali. Distribusi beban yang seragam pada semua tali didapat dengan menggunakan batang silang penggantung jenis tuas, seperti ditunjukkan pada gambar 258a.
  • 220.
    Mesin pengangkat denganroda puli penggerak sering menggunakan penggantung tali terpisah berpegas (gambar 258b) akan tetapi, sulit untuk mendapatkan beban pada seluruh tali dengan menggunakan metode ini. Gambar 258 Mesin pengangkat elevator. Elevator sangkar menggunakan mesin pengangkat jenis drum dan roda puli penggerak. Mesin ini lebih luas penggunaanya karena dapat digunakan untuk mengangkat pada segala macam ketinggian dan ukuran yang lebih kompak. Penggunaan mesin pengangkat jenis penggerakpada puli ini telah mengurangi kecepatan secara drastis akibat tali putus. Mesin pengangkat jenis drum yang ditunjukan untuk elevator sangkar berada dengan mesin pengangkat serba guna terutama yang ukurannya jauh lebih kecil dan adanya alat pengaman khusus. Mesin pengangkat roda puli untuk lift penumpang ditunjukkan pada gambar 259. Mesin ini menggunakan rem sepatu ganda yang dikendalikan oleh elektromegnet gambar260. Gambar 259 Gambar 260 Gambar 261
  • 221.
    Sifat spesifik desainmesin pengangkat penggerak roda puli. Umur roda puli yang diinginkan merupakan dasar untuk mendapatkan nilai aman tekanan satuan antara tali dan alur roda puli. Alur roda puli akan hilang fungsinya karena pengikisan pada dinding alur yang tergantung pada gelincir dan gerak elastis tali. Semakin besar kecepatan gerak tali dan semakin besar jumlah siklus kerja elevator per satuan waktu,dan semakin besar keausan yang terjadi. Pada elevator yang mesin penggeraknya diletakan pada lantai atas (mesin dengan penggerak roda puli) nilai numerik percepatan dan perlambatan yang diizinkan (a) ditentukan dan ditetapkan dengan percobaan. Nilai berikut dapat dipakai sebagai nilai rata-rata : V, m/detik……………. A, m/detik……………. Perbandingan 0,75 0,65 1,0 0,85 1,5 1,15 2,0 1,4 2,5 1,65 3,0 1,88 3,5 2,1 S on S off ketika periode dan perlambatan dapat dinyatakan secara perkiraan dengan rumus berikut :  S on  S  off  g + a   S on  =  g − a   S   off      Dengan : Son G = percepatan gravitasi = tegangan pada bagian tali yang masuk Soff = tegangan pada bagian tali yang keluar Alat pengaman elevator. Sangkar semua elevator harus dilengkapi dengan alat pengaman khusus yaitu penahan yang akan menghentikan sangkar secara otomatis bila tali putus atau kendur.
  • 222.
    Penahan akan menghentikansangkar bila satu buah tali atau semuanya putus secara bersamaan, bila satu tali dibebani lebih dari tali lainnya, bila tali kendudr pada saat bersamaan, dan bila kecepatan penurunan menjadi terlalu besar. Biasanya penahan beroprasi dengan day yang diberikan oleh pegas, bobot sangkar itu sendiri atau bobot pengimbang atau gaya udara bertekanan. Gambar 263 2. PENGANGKAT PENGGERAK UDARA MAMPU JINJING Pengangkat penggerak udara mampu jinjing mempunyai penggunaan yang sam seperti jenis pengangkat lainnya. Gambar 264 menunjukkan desain pengangkat penggerak udara yang dibuat oleh pabrik Uralmash dengan kapasitas 500 kg dan tinggi angkat 1150 mm. Gambar 264 Alat yang mencegah muatan jatuh bila selang rusak. Kedua katup udara bertekanan akan melewati katup pengaman 11 yang dipasang pada lubang berulir pada katup start. Selongsong dan kepala khusus dengan pegas yang akan menahannya pada lubang didalam selongsong dimasukan kedalam katup pengaman antara ujung pipa pemasuk dan badan masuk penstart. Alat untuk mengukur kecepatan penurunan. Alat ini terdiri atas baut 14 dengan mur pengunci yang terletak pada dasar badan katup start. Baut dapat diputar untuk mendapatkan kecepatan pengeluaran udara yang diinginkan dari bagian bawah piston, sehingga diperoleh kecepatan penurunan muatan yang diinginkan.
  • 223.
    3. PENUMPUK Penumpuk sangatbenyak dipakai digudang-gudang untuk meletakkan muatan satuan kedalan suatu tumpukan. Penumpuk dapat juga dipakai untuk operasi pemuatan tertentu. Penahan pengamanan akan mencegah muatan jatuh bila tali putus. Ketika dipindahkan rangka dilipat dengan menggunakan sekrup dengan roda tangan (gambar 265) (untuk melewatkan mesin dibawah ambang pintu). Penumpuk ini dipasang pada roda karet dan digerakkan secara manual. Disamping mekanisme penumpuk yang digerakkan listrik dapat juga dipakai desain dengan penggerak hidrolik atau udara bertekanan dan untuk pelayanan ringan bahkan dapat dipakai mekanisme pengangkat yang digerakkan tangan. Biasanya kapasitas penumpuk berkisar antara 250 sampai 1000 kg dengan tinggi angkat sampai 5 meter. Perkembangan terakhir ialah penumpuk swagerak yang terpasang pada truk daya universal (disebut juga truk elektrik atau truk motor) atau pada kendaraan beroda khusus yang menggunakan sejumlah komponen dan suku cadang otomotive standar. Kapasitasnya jarang melebihi 5 ton dengan angkat sampai 5 meter.

Editor's Notes

  • #16 1. Rantai Lasan rantai lasan (welded) terbuar dari jalinan baja oval yang berurutan seperti ditunjukan dalam gambar 6. Ukuran utama rantai (gambar 7) adalah : kisar (t), sama dengan panjang bagian dalam mata rantai, lebar luar (B), dan diameter batang rantai (d). tergantung pada perbandingan kisar dan diameter batang rantai, rantai lasan diklasifikasikan menjadi rantai mata pendek (t ≤ 3d) dan rantai mata panjang (t &gt; 3d). Gambar 6. taha-tahap pembuatan rantai lasan (potongan batang baja ; (b) batang yang dimulai dilengkungkan ; (c) rantai yang dirakit untuk dilas; (d) rantai yang telah dilas. Gambar 7. ukuran utama mata rantai beban Gambar 8. matai rantai menghubungkan rantai beban.. Akurasi dalam pembuatan, membagi rantai lasan menjadi rantai yang dikalibrasidengan simpangan yang diizinkan dari kisar nominal berkisar ± 0.03d dan lebar luar ± 0.05d sertai rantai yang tak terkalibrasi dengan simpangan yang diizinkan berkisar ± 0.1d dari kisar nominal dan lebar luarnya. Rantai lasan terbuat dari baja CT. 2 dan CT. 3.* mata rantai untuk rantai lasan dibentuk dengan berbagai macam metode. Metode yang paling umum digunakan adalah pengelasan tempa dan pengelasan tahanan listrik. Dengan pengelasan tempa mata rantai dibuat dari satu batang baja, sedangkan bila menggunakan las tahanan listrik mata rantai terbuat dari dua potong baja lengkung yang dilas temu. Pengelasan dilakukan pada bagian yang lurus dari mata rantai tersebut. Pengelasan tahanan listrik menghasilkan rantai yang lebih tepat dengan kekuatan yang lebih tinggi. Menurut aturan untaian rantai dibuat dengan ukuran dan panjang yang dibutuhkan. Untaian rantai ini disambung dengan mata rantai penyambung (gambar 8). Dalam perakitan mata rantai tempaan menjadi rantai pasangan ujung mata rantai yang dilas harus membentuk suatu sambungan yang meningkatkan kekuatan memperpanjang umur rantai. Rantai yang difilas dengan metoda las tahanan listrik dapat dibuat dengan sembarang cara. Setelah selesai dirakit, rantai di annealing. Ukuran utama dan kareakteristik rantai lasan harus memenuhi standar Negara. Rantai lasan harus diuji dengan beban satu setengah kali beban putusnya; tidak ada perubahan permanen yang diizinkan setelah pengujian. Rantai lasan digunakan untuk mesin pengangkat kapasitas kecil (katrol, Derek, dan crane yang digerakan tangan) sebagai perabot pengangkat utama , khususnya sebagai anduh (sling) untuk menggantung muatan pada kait atau alat lainnya. Rantai lasan yang terkalibrasi dipergunakan juga untuk rantai penggerak tangan pada roda penarik (traction wheels)-(d = 5 – 6 mm dengan kecepatan v = 0.6 – 0.754 m/detik). Rantai lasan mempunyai kelemahan yaknik berat, rentan terhadap sentuhan dan beban lebih, kerusaan yang tiba-tiba (tidak ada tanda), keausan yang berlebihan pada sambungan antar mata rantai , dan hanya digunakan untuk kecepatan rendah. Keunggulanya ialah flexible untuk semua arah, dapat menggunakan puli dan drum dengan diameter yang kecil serta desain dan pembuatan yang sederhana. Kelemahan rantai lasan tersebut membatasi penerapannya pada keperluan pengangkatan. Rantai lasan ini hanya digunakan dalam berbagai mekanisme yang digerakan oleh tangan dengan diameter drum dan puli (D) yang dilingkari oleh rantai yang tidak lebih kecil dati 20d (d adalah diameter batang rantai). Bila digunakan untuk mekanisme yang digerakan dengan tenaga daya, diameter puli dan drumnya idak boleh kurang dari 30d. bila digunakan untuk keperluan pengangkatan, pemilihan rantai lasan lebih diutamaka pada jenis yang dikalibrasi, karena perbedaan yang besar antara kisaran puli rantai yan tak dikalibrasi dan kisaran sprocket yang dapat mengakibatkan kemacetan dan kejutan. Akibatnya akan tejadi kerusakan dalam waktu singkat. Pemilihan rantai beban. Karena gaya luar rantai bersifat statis tertentu dan tegangan internal bersifat statis tak tertentu maka suli sekali untuk menentukan tegangan mata rantai, dan hanya dapat diperkirakan saja. Rantai lasan diuji dengan tegangan aman yang lebih kecil, mengingat sifat statis tak tentu mata rantai terhadap tegangan internal dan adanya tegangan lentur tambahan ketika rantai melewati puli dan drum. Rumus umum untuk memilih tegagab tarik rantai adalah : Ss = Dengan Ss = beban aman yang diterima rantai, dalam kg Sbr= beban putus dalam kg K= Faktor keamanan (lihat table 4) Keausan yang berlebihan akan mengurangi kekuatan rantai, terjai pada bagian dalam lengkungan rantai yang bertindak sambungan untuk rantai tarik. Intensitas keausan yang terjadi pada rantai tegantung pada factor berikut : perbandingan kisaran rantai dengan drum atau puli rantai, tegangan kecepatan puli rantai, sudut belok relative bila rantai tersebut melewati pulinya, keadaan lingkungan kerja dan sebagainya. Rantai las tempa selalu putus pada bagian lasnya. Pada rantai las tahanan listrik yang bermutu tinggi, biasanya mata rantai putus berbentuk putus miring dengan penampang yang bersudut kecil terhadap sumbu memanjang rantai, yang bermula pada bagian bagian tepi batas permukaan kontak mata rantai yang dihubungkan. Hal yang sama dapat terjai pada rantai dengan tingkat keausan yang berbeda. 2. Rantai Rol rantai rol terdiri atas pelat yan dihubung-engsel pa pena (gambar 9). Rantai untuk beban ringan terbuat dari dua keping plat saja, sedangkan untuk beban berat dapat menggunakan sampai a2 keping pelat. Pelat dapat di paskan pana pena dengan mengufset (memekarkan ujung) pena (gambar 10a). metode ini digunakan untuk rantai dengan beban ringan. Untuk rantai yang menerima beban berat, ditambahkan cicin dibawah ujung pena yang diupset (gambar 10b dan c). pengikat pena belah dengan cicin atau ena belah saja (gambar 10d, e, f) digunakan bila rantai harus sering dilepas hubungannya. Pena rol yang diperpanjang kadang-kadang digunakan (gambar 11) pada rantai yang menyatukan ujung-bebas rantai agar tidak menggangu rantai bekerja Gambar 9 rantai rol Gambar 10 mengikat pelat dengan pena rol Gambar 11 rantai rol dengan pena yang diperpanjang Sebagai perabot pengangkat, rantai rol sering dipakai pada katrol yang digerakan tangan. Sedangkan berpenggerak tenaga daya digunakan untuk derek dan mekanisme pengangkat dengan kapasitas angkat yang tinggi dan beroperasi hanya pada kecepatan rendah dan ada jalur pandu.. Akan tetapi, dewasa ini, rantai rol sudah banyak digantikan oleh tali kawat baja mekanisme penggerak daya. Rantai rol mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan rantai lasan. Karena rantai rol padat maka keandalan operasinya jauh lebih tinggi dibandingkan rantai lasan. Rantai rol mempunyai flexisibelan yang baik sehingga dapat dipakai pada sprocket dengan diameter lebih kecil dan jumlah gigi yang lebih sedikit. Hal ini akan mengurangi ukuran mekanisme dan sekaligus mengurangi harganya. Juga, gesekan pada rantai rol jauh lebih kecil dibandingkan dengan rantai lasan dengan kapasitas angkat yang sama. Sebaiknya rantai rol tidak digunakan untuk mengangkat beban yang membentuk sudut dengan bidang rotasi mata rantainya. Tegangan lentur yang tinggi akan terjadi pada pelat yang akan merusakan pinnya. Juga tidak boleh digunakan pada lingkungan yang berdebu, karena ambungan rantainya peka terhadap kikian debu. Akibatnya rantai ini tidak digunakan untuk Derek dan crane yang bekerja ditempat terbuka. Pelat dan pin terbuat dari baja 40, 45 dan 50. ukuran dan spesifikasinya ditentukan oleh standar Negara. Kecepatan maximum rantai rol ditentukan oleh standar Negara dan tidak boleh melebihi 0.25 mm/detik. Nilai factor keamanan K, rasio dan jumlah gigi sprocket untuk rantai las dan rol diberikan pada table 4. Table 4 Data rantai yang terseleksi RANTAI DigerakanFactor K keamananRasioJumlah minimum gigi pada sprocketDilas dikalibrasi dan tidak dikalibrasi………...………………………………………………...dilas dikalibrasi pada katrol…………………...…………………………………………………dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat beban….Dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat beban…rollerTanganDayaTangan Daya………………364.58.65520302030….….….55…..…..…..…..8 3. Tali Rami tali rami hanya cocok digunakan untukmesin pengangkat yang digerakan tangan (puli tali) karena sifat mekanisnya yang lmah (cepat aus, kekuatan yang rendah, mudah rusak oleh benda tajam, pengaruh lingkungan dan sebagainya). Diameter minial puli tali adalah 10d (d adalah diameter nominal tali). Tali rami terutama digunakan untuk mengikat muatan ke pegangan pengangkat (kait dan yang lainnya). Tali rami harus memenuhi standar Negara dan terbentuk dari tiga untai rami dan tiap untai terdiri atas beberapa serabut yang berbeda. Arah lilitan untaian harus berlawanan dengan serabut. Berdasarkan metode pembuatan pembuatan dan jumlah untaian tali rami dikelompokan menadi tali polos (gambar 12a) dan tali kabel (gambar 12b). yang terakhir terbuat dari lilitan 3 buah lilitan yang berbeda. Tali sering dicelupkan pada aspal untuk mengurangi pelapukan. Walaupun tali rami yang dicelupkan pada aspal lebih tahan terhadap pengaruh cuaca, namun jauh lebih berat dan lebih kurang flexible dan kekuatannya berkurang 20% disbanding tali biasa. Kekuatan putusnya membagi tali rami menjadi dua kelas : kelas 1 dan kelas 2. Untuk mekanisme pengangkat, baik tali pengikat maupun pengangkat harus menggunakan tali kelas 1. Gambar 12. penampang lintang tali rami
  • #133 FGJHFGH
  • #168 Dengan Mu momen perlawanan statis di tinjau terhadap poros motor. Jika motor itu meningkatkan kecepatannya &gt;0 dan Mdyn &gt; 0 Jika motor itu di perlambat kecepatannya &gt; 0 dan Mdyn &lt;dt 0 Istilah ”momen girasi” akan sangat mempermudah pembahasan. Bila m dan G ialah massa dan bobot benda yang berputar dan  adalah jari-jari dan D diameter girasi, maka : I = Rumus ini hanya dapat digunakan hanya untuk menganalisis sistem putar tunggal. Gambar 217 Diagram Mekanisme Dengan membuat gambar 217 hanta batang penghubung putar saja, kita dapat menyatakan keadaannya dengan persamaan berikut : Semua persamaan sebelumnya hanya berlaku untuk percepatan dan perlambatan yang konstan, yakni dengan momen gaya motor yang konstan dan momen gaya rem yang konstan.