BAB I 
PENDAHULUAN 
1 
1.1 Latar Belakang 
Niels Bohr memperkenalkan model atom pada tahun 1913. Menurut model Bohr, sebuah 
atom terpencil dari inti atom positif dimana electron didistribusikan di sekitar lintasan yang 
berturut-turut. Dia juga menyatakan bahwa lintasan electron memiliki sudut momentum yang 
merupakan integral lipatan dari h/2π dimana h adalah konstanta Planck. 
Model Bohr juga mampu memprediksi energy total dari sebuah electron atom. Meskipun 
tidak perlu berusaha untuk memperoleh pernyataan yang sama selama electron berada dalam 
multielektron atom, itu jelas bahwa menurut model model energy total dari masing-masing 
electron juga akan diukur dan, akibatnya hal yang sama haruslah benar pada daya muat energy 
total dari sebuah atom. Ini terlihat masuk akal dari model Bohr yang hanya dikenalkan electron-elektron 
bias melakukan peralihan menurun dari keadaan energy yang lebih tinggi ke yang lebih 
rendah, mereka bias mengeksitasi ke keadaan energy yang lebih tinggi dengan penyerapan justru 
besarnya energy menunjukkan perbedaan antara keadaan yang lebih rendah dan yang lebih 
tinggi. 
James Franck dan Gustav Hertz menunjukkan bahwa hal ini tentu saja merupakan kasus 
dalam percobaan yang berderet pada tahun 1913, tahun yang sama di saat Bohr mengajukan 
modelnya. Franck dan Hertz menggunakan sebuah berkas cahaya yang mempercepat electron 
untuk mengukur energy yang ada di electron pada keadaan dasar dari gas merkuri ke keadaan 
tereksitasi pertama. 
1.2 Tujuan 
1. untuk mengetahui pecobaan Franck-Hertz 
2. untuk mngetahui deret spectrum hydrogen 
3. untuk mengetahui diagram tingkat enegi hydrogen 
4. untuk mengetahi energy ionisasi dari atom hydrogen 
5. untuk mengetahui spectrum uap dari hydrogen
BAB II 
PEMBAHASAN 
2 
2.1 Percobaan Franck-Hertz 
Pada tahun 1914, J.Franck dan G.Hertz melaporkan sebuah percobaan luwes yang tak 
biasa yang membuktikan bahwa energi mekanik, seperti energi elektromagnetik, diserap oleh 
atom-atom dalam kuantitas yang berlainan. Karena begitu sederhana dan meyakinkan, maka 
percobaan ini berhak mendapatkan sedikit pertimbangan yang terperinci. 
Peralatan yang dipergunakan oleh Franck dan Hertz terdiri dari sebuah kabel pemanas 
listrik yang ditempatkan sejajar dengan sumbu pada jaringan silinder, yang mana dikelilingi oleh 
sebuah pengumpul. Alat tersebut ditempatkan dalam pagar yang berisi dengan uap air merkuri. 
Suatu tegangan yang dipercepat berada diantara pemanas dan jaringan, sedangkan suatu 
tegangan yang diperlambat berada diantara jaringan dan pengumpul. 
Dari bermacam pengumpul arus dengan tegangan yang diperlambat, energi elektron yang 
telah melewati uap air merkuri dapat ditentukan. Itu menandakan bahwa elektron yang energi 
totalnya lebih kecil dari 4,9 ev tidak dapat dideteksi setelan tubrukan dengan atom merkuri. 
Banyak tubrukan antara energi terendah elektron dan atom dari uap air seharusnya mengalami 
lenting sempurna, yang tidak memberikan energi terhadap atom terkecuali untuk lompatan yang 
dapat diabaikan. Namun, ketika percepatan potensial meningkat di atas 4,9 volt, tubrukan tanpa 
lentingan terjadi dekat jaringan, yang berarti elektron menyerahkan seluruh energi kinetik 
mereka kepada atom merkuri. Setelah kehilagngan energi mereka pada tubrukan tanpa lentingan, 
electron tidak mampu melewati ruang yang dipersempit, dan pengumpul arus bernilai minimum. 
Sebuah peningkatan yang jauh pada tegangan yang dipecepat menggerakkan area dimana 
elektron mencapai energi kritis sebesar 4,9 ev mendekat ke pusat kabel. Setelah mencapai energi 
kritis dan kehilangan energi kinetic saat tubrukan, elektron dapat mengambil energi baru 
sekarang sambil menuju ke jaringan, jadi pengumpul arus meningkat lagi. Sebuah arus minimum 
kedua yang dihasilkan dengan adanya percepatan potensial kira-kira 10 volt, seharusnya berada
pada area kedua dari tubrukan tanpa lentingan di sekitar jaringan. Dari hasil percobaan 
ditunjukkan bahwa atom merkuri menyerap energi mekanik sebanyak 4,9 ev. 
Pertanyaan yang segera muncul adalah apakah atom akan kembali meradiasi kuantitas 
dari energi yang sama. Frekuensi dari radiasi yang dipancarkan akan menjadi 1,18 x 1015 sec-1, 
yang mana dapat disesuaikan terhadap cahaya ultraviolet yang memiliki panjang gelombang 
sebesar 2530 Å. Franck dan Hertz mengulang percobaan mereka pada seperempat wadah, 
menembus radiasi ultraviolet, dan menggambarkan pemancaran spektrum dari uap air merkuri. 
Sebuah garis tajam tampak pada 2536 Å, sesuai dengan nilai perhitungan dalam limit error. 
Suatu perubahan energi kuantum alami diakui, fisikawan teoritis dihadapkan dengan 
tugas yang menyarankan suatu mekanisme dari banyaknya penyerapan dan pengeluaran yang 
sesuai dengan keterangan spektroskopis. Tentu saja mekanisme ini sangat bergantung pada 
sebuah model atom yang memuaskan. Informasi yang paling penting dari struktur atom 
ditemukan oleh Rutherford pada tahun 1911. Dalam sebuah kertas lama, Rutherford 
menganalisis hasil percobaan dari Geiger dan Marsden dengan sejumlah kecil partikel alpa dari 
kertas logam tipis. Percobaan ini menunjukkan bahwa sedikit peristiwa dari partikel alpa (dalam 
hal ini 20.000) didefleksikan pada sudut rata-rata bernilai 90o melewati sebuah kertas emas tipis 
(4 x 10-5 cm). Rutherford menganggap bahwa lebar defleksi dihasilkan dalam suatu pertemuan 
tunggal dari sebuah partikel alpa dengan atom, dikarenakan perhitungan sebelumnya mendasar 
pada perkalian sejumlah kecil partikel alpa yang tidak memberikan hasil yang memuaskan. Dia 
menunjukkan bahwa hasil percobaan dapat dijelaskan jika atom dianggap terdiri dari harga 
positif yang kuat atau negatif dari pusat, memfokuskan jarak yang kurang dari 3 x 10-12 cm dan 
dikelilingi oleh sebuah bidang elektrifikasi yang harganya berlawanan memperpanjang seluruh 
sisa dari atom, sebagai contoh, untuk jarak yang kira-kira sepanjang 10-8cm. Kemudian sejumlah 
kecil partikel alpa dapat dianggap pokok harga dari pusat atau inti, yang akan menyebabkan 
partikel alpa menggambarkan garis edar hiperbola dengan pusat dari atom sebagai satuan fokus. 
Geiger dan Marsden dapat menghitung dari data mereka bahwa harga inti atom 
diperkirakan setengah dari berat atom tersebut. Ini sangat menarik untuk dicatat bahwa sebuah 
inti atom telah siap dipertimbangkan secara matematik oleh Nagaoka pada tahub 1904, tetapi itu 
merupakan analisis Rutherford yang menetapkan konsep ini sebagai fakta dari percobaan yang 
telah dilakukan. Masalah segera muncul, biarpun, memperhatikan stabilitas dari suatu system. 
3
Pada tahun 1913, Niels Bohr dapat memecahkan pertanyaan stabilitas dari atom 
Rutherford. Bohr merumuskan sebuah teori struktur atom baru secara lengkap, berdasarkan dalil-dalil 
yang pada dasarnya menyimpang dari pola fisika klasik. Bohr bekerja di konstitusi yang 
merupakan salah satu perusahaan yang paling cemerlang di fisika modern dan merupakan dasar 
dalam perkembangan teori kuantum. 
Dalam dalil pertamanya, Bohr menganggap adanya keadaan yang tak seimbang pada atom, 
dengan elektron-elektron yang bergerak di sekitar inti positif pada lintasan yang mana dapat 
dihitung dari teori klasik. Dalam hal yang sederhana, atom hidrogen, sebuah elektron tunggal 
dianggap menggambarkan suatu lingkaran, atau elips dengan inti pada satuan fokus. Energi total 
atom pada keadaan tetap berlawanan dengan perubahan klasik elektron yang tidak diradiasi. 
Teori Planck dalam radiasi benda hitam juga memprediksikan bahwa dalam proses emisi 
dan absorpsi dari radiasi, atom yang ada di dinding berlubang bertindak dahulu karena mereka 
mengukur keadaan energi. Oleh sebab itu, menurut teori kuantum lama, setiap atom hanya 
mampu memisahkan keadaan energi yang berlainan. 
Pengesahan langsung bahwa keadaan energi dalam atom yang diukur berasal dari sebuah 
percobaan sederhana yang dilakukan oleh Franck dan Hertz pada tahun 1914. Elektron 
dipancarkan dengan panas pada energi rendah dari pemanas katoda C. Mereka dibawa ke anoda 
A oleh sebuah beda potensial V yang diterapkan diantara dua elektroda. Beberapa elektron 
melewati lubang di A dan melintasi pelat P, asal saja energi kinetik mereka meninggalkan A 
sudah cukup mengatasi perlambatan beda potensial V yang kecil, berada diantara P dan A. 
Seluruh tabung diisikan pada tekanan rendah dengan sebuah gas atau uap air dari atom yang 
diteliti. Percobaan melibatkan kadar arus elektron yang mencapai P (ditunjukkan oleh arus I yang 
mengalir pada alat ukur) sebagai sebuah fungsi dari percepatan tegangan V. 
Percobaan pertama dilakukan dengan tabung yang berisikan uap air Hg. Pada percepatan 
tegangan yang rendah, arus I dijalankan agar meningkat dengan peningkatan tegangan V. Ketika 
V mencapai 4,9 V, arus jatuh secara tiba-tiba atau curam atau terjal. Ini ditafsirkan sebagai 
petunjuk bahwa beberapa interaksi antara elektron dan atom Hg dengan tiba-tiba mulai mencapai 
4,9 eV pada energi kinetik elektronnya. Ternyata sebuah pecahan yang penting dari elektron 
membangkitkan energi atom Hg ini dan juga kehilangan seluruh energi kinetik mereka. Jika V 
4
hanya sedikit dari banyaknya energi kinetik sebesar 4,9 V, proses eksitasi pasti hanya terjadi di 
depan ANODA a, dan setelah proses elektron tidak dapat mencapai energi kinetik yang cukup 
jatuh ke arah A untuk mengatasi perlambatan tegangan VP dan mencapai pelat P. Pada besaran 
V, elektron dapat mencapai energi kinetik yang cukup setelah proses eksitasi mengatasi VP dan 
mencapai P. Ketajaman dari perubahan kurva menunjukkan bahwa energi elektron kurang dari 
4,9 eV tidak dapat memindahkan energi mereka ke sebuah atom Hg. Tafsiran ini sesuai dengan 
adanya keadaan energi yang berlainan terhadap atom Hg. Anggapan pertama yang 
membangkitkan keadaan Hg menjadi 4,9 eV lebih tinggi pada energi dibandingkan keadaan yang 
mula-mula, sebuah atom Hg yang sederhana tidak bisa menerima energi dari serangan elektron 
kecuali kalau elektron ini setidak-tidaknya mencapai 4,9 eV. 
Sekarang, jika pemisahan antara keadaan mula-mula dan keadaan pertama yang 
membangkitkan secara tepat 4,9 eV, seharusnya ada sebuah garis pada spektrum emisi Hg yang 
sesuai dengan hilangnya nilai atom sebesar 4,9 eV melalui peralihan dari keadaan pertama yang 
membangkitkan ke keadaan mula-mula. Franck dan Hertz menemukan bahwa ketika energi dari 
serangan elektron kurang dari 4,9 eV tidak ada garis nyata yang dipancarkan dari uap air Hg 
dalam tabung, dan ketika energi tidak lebih sedikit dari jumlah volt elektron yang lebih tinggi 
maka nilai ini hanya sebuah garis tunggal dilihat dari spektrum. Garis ini memiliki panjang 
gelombang 2536 Å, yang mana sangatlah tepat dan sesuai dengan energi foton sebesar 4,9 eV. 
Percobaan Franck-Hertz memberikan bukti yang menyolok bagi banyaknya jumlah 
energi dari atom. Itu juga menetapkan sebuah cara untuk pengukuran langsung perbedaan energi 
antara keadaan kuantum suatu atom – jawaban tampak pada voltmeter! Ketika kurva I vs V 
dipanjangkan ke tegangan yang lebih tinggi, penambahan perubahan ditemukan. Beberapa 
elektron mengeksitasi keadaan tereksitasi atom pada banyaknya peristiwa pemisahan sepanjang 
perjalanan merka dari C menuju ke A; tetapi beberapa eksitasi yang seharusnya lebih tinggi 
mengeksitasi keadaan, dan dari posisi kisi, perbedaan energy diantara keadaan tereksitasi yang 
lebih tinggi ke keadaan dasar dapat diukur secara langsung. 
Metode eksperimen yang lain menetapkan pemisahan antara keadaan energy dari sebuah 
atom adalah untuk mengukur spectrum atomnya dan kemudian secara empiris untuk membangun 
suatu kumpulan dari keadaan energy yang mana menggiring spectrum. Dalam praktiknya, ini 
sering menyulitkan untuk dilakukan karena kumpulan garis terdapat pada spectrum, sama halnya 
5
dengan kumpulan dari keadaan energy yang sering sangat rumit; biarpun, pada umumnya dengan 
semua teknik spektrokopis, itu merupakan metode yang sangat akurat. Dalam semua hal yang 
mana penetapan pemisahan diantara keadaan energy atom dibuat pasti, menggunakan kedua 
teknik ini dan teknik Franck-Hertz, hasil yang ditemukan menjadi persetujuan yang unggul. 
Pemisahan antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi pertama dan kedua diketahui, 
dari percobaan Franck-Hertz, ialah 4,9 eV dan 6,7 eV. Bilangan ini dapat disahkan, dan dalam 
fakta yang ditetapkan dengan ketelitian yang tinggi, oleh pengukuran panjang gelombang dari 
dua garis spectral yang sesuai untuk peralihan sebuah electron dalam atom Hg dari dua keadaan 
ini ke keadaan dasar. Energy ɛ = -10,4 eV, dari keadaan dasar yang relative ke keadaan nol suatu 
energy total, tidak ditentukan oleh percobaan Franck-Hertz. Biarpun itu dapat ditemukan oleh 
pengukuran panjang gelombang dari garis yang sesuai untuk peralihan sebuah atom 
electron dari keadaan nol suatu energy total ke keadaan dasar. Ini adalah rentetan limit dari 
rangkaian yang berakhir pada keadaan dasar. Energy ɛ juga dapat diukur oleh pengukuran energy 
yang harus disediakan sebuah atom Hg supaya mengirim satu elektronnya dari keadaan dasar ke 
keadaan nol suatu energy total. Dikarenakan electron dari nol energy total tidak sampai melewati 
batas atom, ɛ merupakan energy yang hendak mengionisasikan atom dan oleh karena 
itu, ɛ disebut energy ionisasi. 
Gejala ionisai ditandai oleh meningkatnya kuat arus anoda secara drastik. Elektron ini 
tidak akan mampu lagi mencapai anoda jika tenaga sisanya kurang dari tenaga penghalang, 
sehingga terjadi pemerosotan arus anoda. Bila tegangan kisi dinaikkan lagi lebih lanjut, maka 
arus anoda akan naik lagi, tetapi kemudian merosot lagi bila tegangan kisi sama dengan kelipatan 
bulat tegangan eksitasi (Ve). 
6
Energi eksitasi atom merupakan perkalian antara tegangan eksitasi atom (Ve) dengan 
7 
muatan elektron (e). 
Eeks = e Ve 
Energi ini digunakan untuk memancarkan foton yang memiliki panjang gelombang λ, 
yang terkait dengan persamaan energi foton, sehingga 
휆 = 
ℎ푐 
푒푉푒 
Eksperimen ini kemudian menjadi bukti dari teori model atom Bohr yang menerangkan 
bahwa electron harus memiliki energy minimum tertentu untuk dapat melakukan tumbukan 
inelastic dengan atom dan energy minimum tersebut dapat diartikan sebagai energy dari sebuah 
keadaan eksitasi pada atom. 
2.2 Spektrum Emisi Hidrogen 
Atom yang mempunyai elektron dalam keadaan tereksitasi akan kembali dengan cepat ke 
keadaan dasar dengan memancarkan sebuah foton dengan energi yang tepat sama dengan energi 
yang dikeluarkan atom. Keadaan tereksitasi bukanlah keadaan stabil. Misalkan atom H seperti 
pada gambar. Elektron akan kehilangan energi ketika berpindah ke orbit yang lebih rendah. 
Gambar : Spektrum Emisi Hidrogen
Atom kehilangan energi hanya dengan satu cara, yaitu dengan mengeluarkan foton. 
Dengan contoh seperti pada gambar, jika elektron H jatuh ke keadaan n=2 maka energy yang 
dipancarkan foton : 
8 
ℎ푐 
휆 
= 퐸4 − 퐸2 = − 
13,6 
42 − 
13,6 
22 = 2,55 푒푉 
Setiap elektron jatuh ke 푛 ≠ 1, maka akan jatuh lagi ke 푛 = 1. Energi yang hilang untuk 
tiap-tiap kasus tersebut akan berbeda, sehingga dengan demikian atom H yang tereksitasi akan 
memancarkan berbagai λ cahaya. Jauh sebelum Einstein menemukan foton, para ahli telah 
menemukan mengukur 휆c yang dipancarkan oleh atom H. 
2.3 Deret Spektrum Hidrogen 
Untuk mempelajari cahaya yang dipancarkan oleh atom H tereksitasi, kita dapat 
menggunakan spektrometer prisma atau spektrometer kisi difraksi. Spektrometer prisma 
dengan pancaran cahaya tampak dan di dekat UV nampak pada gambar.
Gambar : Deret Spektrum Hidrogen 
Panjang gelombang semua deret garis-garis spektrum H dapat disimpulkan dalam satu 
rumus umum. Deret garis spektrum yang nampak pada gambar ditunjukkan oleh Balmer dengan 
rumus sederhana: 
Misalkan 푛 = 3 maka 휆 = 656 푛푚. Nampak pada gambar harga λ tersebut merupakan λ 
terpanjang dalam deret Balmer. Untuk = 4 , maka 휆 = 486 푛푚. Garis berikutnya pada deret dan 
λ terpendek sebesar 365 nm diperoleh pada 푛 = ∞ 
Dengan perkembangan teknologi, telah ditemukan juga deret Lyman dan Paschen, 
9 
dimana: 
1 
휆 
= 푅 ( 1 
12 − 1 
푛2 ) Untuk Deret Lyman 
1 
휆 
= 푅 ( 1 
32 − 1 
푛2 ) Untuk Deret Paschen
Gambar : Deret Lyman, Balmer dan Paschen 
10 
Kesimpulan: 
1. Atom H hanya ada pada keadaan (state) tertentu. 
2. Masing-Masing keadaan menyatakan energi yang yang tertentu pula, yang 
ditunjukkan dengan diagram tingkat energi. 
3. Jika elektron berada jauh dari atom dan tidk mempunyai energi kinetik (yaitu 
atom terionisasi) energi pada keadaan ini didefinisikan nol. 
4. Keadaan dasar atom mempunyai energi terendah. Atom tak tereksitasi berada 
pada keadaan ini. 
5. Ketika elektron jatuh dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih rendah, maka 
atom akan berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Foton yang diemisikan 
mempunyai energi yang sama dengan beda energi antara kedua keadaan tersebut. 
6. Energi foton berhubungan dengan λ garis spektrum yang diemisikan yaitu: 
퐸푓 = 
ℎ푐 
 
= ℏ푓
   
1 1 1 
   
    
 n 
11 
2.4. Spektrum uap Hidrogen 
Pengamatan spektroskopis menunjukkan bahwa spektrum gas Hidrogen terdiri atas deretan garis-garis. 
Deretan garis ini diberi nama menurut orang yang menemukannya 
Secara Empirik, Balmer menemukan rumus yang cocok dengan panjang gelombang deretan Balmer. 
. 
2 
2 3645,6 
4 
n 
Angstrom 
n 
 
  
   
   
n=3,4,5,… dst. 
Rumus ini oleh Rydberg diperbaiki menjadi 
1 
1 1 1 
R Angstrom 
   2 2 
 
 2 
n 
  
1 
R Angstrom 
2 2 
2 
  
R adalah tetapan Rydberg = 1,097.10-3 Ao 
n=3,4,5,… dst 
Rumus ini sesuai pula untuk deret Lyman dan Paschen 
1 
2 
Untuk deret Lyman 2 
1 
1 
diganti dengan 2 
dan n=2,3,4,…dst.
  
k k 
   
    
c k e m k e m 
2 2 
  
n h n h 
2 1 1 
k e m 
h c n n 
1 2 1 1 
 R  
12 
Untuk deret Paschen 
1 
2 
2 
diganti dengan 
1 
3 
2 
dan n= 4,5,6,…dst. 
2.5.Spektrum gas Hidrogen menurut Bohr 
Bila elektron meloncat dari lintasan yang energinya tinggi (B) ke lintasan yang energinya rendah, 
dipancarkan energi sebesar h.f 
h.f = EB-EA 
2 2 
e e 
r r 
EB-EA 2 2 B A 
f 
h h 
2 2 4 2 2 4 
2 3 2 3 
B A 
 
    
   
    
2 2 4 
3 2 2 
A B 
c k e m 
h n n 
 
 
  
    
  
2 2 4 
3 2 2 
. A B 
 
 
  
    
  
2 2 4 
k e m 
h 3 
c 
2 
. 
 
adalah bilangan tetap. 
Rumus diatas mirip dengan rumus Balmer 
) 
1 1 
( 
1 
2 2 
A B n n 

  
k k 
   
13 
Dengan ketentuan bahwa: 
Deret Lyman (Ultra Ungu) nA = 1 nB = 2, 3, 4 …. 
Deret Balmer (Cahaya tampak) nA = 2 nB = 3, 4, 5, …. 
Deret Paschen (Inframerah I) nA = 3 nB = 4, 5, 6, …. 
Deret Brackett (Inframerah II) nA = 4 nB = 5, 6, 7, …. 
Deret Pfund (Inframerah III) nA = 5 nB = 6, 7, 8, …. 
2.5.1. Energi Ionisasi 
Untuk membangkitkan elektron dari Kwantum na ke kwantum nb diserap energi sebesar: 
E= EB-EA 
= 
2 2 
e e 
r r 
2 2 B A 
  
= 
2 . 1 1 
2 A B 
k e 
  
   
 r r 
 
2 2 
. 
2 2 
4 
n h 
r 
 k e m 

   
2 1 1 
    
  
1 1 
E eV 
    
n n 
  
  
1 1 
E 13,6 eV 
    
13,6 
E eV 
   
2 1 1 
    
14 
2 2 4 
2 2 2 
A B 
k e m 
E Joule 
h n n 
  
Dengan mensubstitusikan nilai m,e,k,h maka diperoleh 
2 2 
13,6 
A B 
Bila elektron terbangkit sampai kwantum, maka elektron itu lepas dari lingkungan atom dan atom tersebut 
menjadi ion (+). 
Energi yang diserap untuk meng-ion-kan atom disebut Energi Ionisasi. 
Besar Energi Ionisasi atom Hidrogen: 
2 
n 
   
2 
n 
 
untuk n=1 besar E = 13,6 eV 
Jadi bagi atom H dapat ditulis 
H + 13,6 eV H+ + e- 
Sebaliknya jika ion Hidrogen mengikat sebuah elektron akan dipancarkan energi sebesar: 
2 2 4 
2 2 
A 
k e m 
E Joule 
h n 
  
Besar Frekwensi foton yang dipancarkan
2 2 4 
 
k e m 
 
15 
k e m 
2 2 
2 
. 
. 
h f 
h n 
 
2 2 4 
3 2 
2 
. 
f 
h n 
 
untuk n=2 diperoleh frekwensi yang sesuai dengan salah satu deret balmer. 
Bohr dan Stoner menyusun model atom-atom lainnya berdasarkan model atom Hidrogen. Lintasan 
elektron dengan bilangan kwantum n=1,2,3,…dst. Disebut kulit (K,L,M,N,…) 
Tiap kulit elektron hanya dapat diisi paling banyak oleh 2n2 elektron-elektron, n adalah bilangan 
kwantum utama. 
Model Bohr adalah sebuah model primitif mengenai atom hidrogen. Sebagai sebuah teori, model 
Bohr dapat dianggap sebagai sebuah pendekatan orde pertama dari atom hidrogen menggunakan 
mekanika kuantum yang lebih umum dan akurat, dan dengan demikian dapat dianggap sebagai model 
yang telah usang. Namun demikian, karena kesederhanaannya, dan hasil yang tepat untuk sebuah sistem 
tertentu, model Bohr tetap diajarkan sebagai pengenalan pada mekanika kuantum. 
Keterangan 
Gambar 2. Model Bohr untuk atom hydrogen
 Lintasan yang diizinkan untuk elektron dinomori n = 1, n = 2, n =3 dst. Bilangan ini dinamakan 
bilangan kuantum, huruf K, L, M, N juga digunakan untuk menamakan lintasan 
 Jari-jari orbit diungkapkan dengan 12, 22, 32, 42, …n2. Untuk orbit tertentu dengan jari-jari 
minimum a0 = 0,53 Å 
B : konstanta numerik dengan nilai 2,179 x 10 J 13.6eV -18   
16 
2 
2 
0 
0 
4 
me 
a 
  
 
 Jika elektron tertarik ke inti dan dimiliki oleh orbit n, energi dipancarkan dan energi elektron 
menjadi lebih rendah sebesar 
B 
 
, 2 n 
En 
 
Gambar 3. Tingkat-tingkat energi atom Hydrogen
2.5.2. Tingkatan energi elektron dalam atom hidrogen 
Model Bohr hanya akurat untuk sistem satu elektron seperti atom hidrogen atau helium yang 
terionisasi satu kali. Penurunan rumusan tingkat-tingkat energi atom hidrogen menggunakan 
model Bohr. 
Penurunan rumus didasarkan pada tiga asumsi sederhana: 
1) Energi sebuah elektron dalam orbit adalah penjumlahan energi kinetik dan energi potensialnya: 
dengan k = 1 / (4πε0), dan qe adalah muatan elektron. 
2) Momentum sudut elektron hanya boleh memiliki harga diskret tertentu: 
dengan n = 1,2,3,… dan disebut bilangan kuantum utama, h adalah konstanta Planck, dan 
17 
. 
3) Elektron berada dalam orbit diatur oleh gaya coulomb. Ini berarti gaya coulomb sama dengan 
gaya sentripetal: 
Dengan mengalikan ke-2 sisi persamaan (3) dengan r didapatkan: 
Suku di sisi kiri menyatakan energi potensial, sehingga persamaan untuk energi menjadi:
Dengan menyelesaikan persamaan (2) untuk r, didapatkan harga jari-jari yang diperkenankan: 
Dengan memasukkan persamaan (6) ke persamaan (4), maka diperoleh: 
Dengan membagi kedua sisi persamaan (7) dengan mev didapatkan 
Dengan memasukkan harga v pada persamaan energi (persamaan (5)), dan kemudian 
mensubstitusikan harga untuk k dan , maka energi pada tingkatan orbit yang berbeda dari atom 
hidrogen dapat ditentukan sebagai berikut: 
Dengan memasukkan harga semua konstanta, didapatkan, 
18
Dengan demikian, tingkat energi terendah untuk atom hidrogen (n = 1) adalah -13.6 eV. 
Tingkat energi berikutnya (n = 2) adalah -3.4 eV. Tingkat energi ketiga (n = 3) adalah -1.51 eV, 
dan seterusnya. Harga-harga energi ini adalah negatif, yang menyatakan bahwa elektron berada 
dalam keadaan terikat dengan proton. Harga energi yang positif berhubungan dengan atom yang 
berada dalam keadaan terionisasi yaitu ketika elektron tidak lagi terikat, tetapi dalam keadaan 
tersebar. 
Dengan teori kuantum, Bohr juga menemukan rumus matematika yang dapat dipergunakan 
untuk menghitung panjang gelombang dari semua garis yang muncul dalam spektrum atom 
hidrogen. Nilai hasil perhitungan ternyata sangat cocok dengan yang diperoleh dari percobaan 
langsung. Namun untuk unsur yang lebih rumit dari hidrogen, teori Bohr ini ternyata tidak cocok 
dalam meramalkan panjang gelombang garis spektrum. Meskipun demikian, teori ini diakui 
sebagai langkah maju dalam menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang terjadi dalam tingkatan 
atomik. Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk menjelaskan 
berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan teori klasik. 
19
BAB III 
PENUTUP 
20 
3.1. Kesimpulan 
Teori atom Bohr menyatakan bahwa elektron harus mengorbit di sekeliling inti seperti 
planet mengorbit Matahari. 
Model Bohr disambut sebagai langkah maju yang penting karena dengan cara memberi 
jarak pada orbit elektron,dapat menjelaskan spektrum cahaya dari sebuah atom. 
Elektron dapat berpindah dari satu orbit ke orbit lain dengan cara lompatan kuantum, 
dan lompatannya selalu melibatkan emisi atau absorpsi kuantum utuh dengan jumlah 
energi ekuivalen dengan hf atau kelipatannya,tapi tidak pernah ada nilai diantaranya. 
Bohr masih memakai hukum newton disamping beberapa postulat lain, nilai teori bohr 
tidaklah pada prediksi yang dapat dihasilkan tetapi pada pengertian dan hukum yang 
baru di ungkapkan.
DAFTAR PUSTAKA 
Beiser, Arthur. 1999. Konsep Fisika Modern. Jakarta : Erlangga 
Eisberg, Robert. 1974. Quantum Physics of Atom, Molecules, Solids, Nuclei, and Particles. 
Second Edition. John Wiley & Sons : United States of America. 
Pages : 107-110 
Krane, Kenneth. 1988. Fisika Modern. Jakarta : UI Press 
Powell, John L. 1961. Quantum Mechanics. Addison-Wesley Publishing Company : United 
21 
States of America. 
Pages : 11-15 
http://septiadiah.files.wordpress.com/2011/10/radiasi-2-percobaan-franck-hertz.pdf. 
Diakses Tanggal: 24/09/2013 
Pukul : 18:45 
http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/196301091994022- 
BUDI_MULYANTI/Pertemuan_ke-15.pdf

franck hertz

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang Niels Bohr memperkenalkan model atom pada tahun 1913. Menurut model Bohr, sebuah atom terpencil dari inti atom positif dimana electron didistribusikan di sekitar lintasan yang berturut-turut. Dia juga menyatakan bahwa lintasan electron memiliki sudut momentum yang merupakan integral lipatan dari h/2π dimana h adalah konstanta Planck. Model Bohr juga mampu memprediksi energy total dari sebuah electron atom. Meskipun tidak perlu berusaha untuk memperoleh pernyataan yang sama selama electron berada dalam multielektron atom, itu jelas bahwa menurut model model energy total dari masing-masing electron juga akan diukur dan, akibatnya hal yang sama haruslah benar pada daya muat energy total dari sebuah atom. Ini terlihat masuk akal dari model Bohr yang hanya dikenalkan electron-elektron bias melakukan peralihan menurun dari keadaan energy yang lebih tinggi ke yang lebih rendah, mereka bias mengeksitasi ke keadaan energy yang lebih tinggi dengan penyerapan justru besarnya energy menunjukkan perbedaan antara keadaan yang lebih rendah dan yang lebih tinggi. James Franck dan Gustav Hertz menunjukkan bahwa hal ini tentu saja merupakan kasus dalam percobaan yang berderet pada tahun 1913, tahun yang sama di saat Bohr mengajukan modelnya. Franck dan Hertz menggunakan sebuah berkas cahaya yang mempercepat electron untuk mengukur energy yang ada di electron pada keadaan dasar dari gas merkuri ke keadaan tereksitasi pertama. 1.2 Tujuan 1. untuk mengetahui pecobaan Franck-Hertz 2. untuk mngetahui deret spectrum hydrogen 3. untuk mengetahui diagram tingkat enegi hydrogen 4. untuk mengetahi energy ionisasi dari atom hydrogen 5. untuk mengetahui spectrum uap dari hydrogen
  • 2.
    BAB II PEMBAHASAN 2 2.1 Percobaan Franck-Hertz Pada tahun 1914, J.Franck dan G.Hertz melaporkan sebuah percobaan luwes yang tak biasa yang membuktikan bahwa energi mekanik, seperti energi elektromagnetik, diserap oleh atom-atom dalam kuantitas yang berlainan. Karena begitu sederhana dan meyakinkan, maka percobaan ini berhak mendapatkan sedikit pertimbangan yang terperinci. Peralatan yang dipergunakan oleh Franck dan Hertz terdiri dari sebuah kabel pemanas listrik yang ditempatkan sejajar dengan sumbu pada jaringan silinder, yang mana dikelilingi oleh sebuah pengumpul. Alat tersebut ditempatkan dalam pagar yang berisi dengan uap air merkuri. Suatu tegangan yang dipercepat berada diantara pemanas dan jaringan, sedangkan suatu tegangan yang diperlambat berada diantara jaringan dan pengumpul. Dari bermacam pengumpul arus dengan tegangan yang diperlambat, energi elektron yang telah melewati uap air merkuri dapat ditentukan. Itu menandakan bahwa elektron yang energi totalnya lebih kecil dari 4,9 ev tidak dapat dideteksi setelan tubrukan dengan atom merkuri. Banyak tubrukan antara energi terendah elektron dan atom dari uap air seharusnya mengalami lenting sempurna, yang tidak memberikan energi terhadap atom terkecuali untuk lompatan yang dapat diabaikan. Namun, ketika percepatan potensial meningkat di atas 4,9 volt, tubrukan tanpa lentingan terjadi dekat jaringan, yang berarti elektron menyerahkan seluruh energi kinetik mereka kepada atom merkuri. Setelah kehilagngan energi mereka pada tubrukan tanpa lentingan, electron tidak mampu melewati ruang yang dipersempit, dan pengumpul arus bernilai minimum. Sebuah peningkatan yang jauh pada tegangan yang dipecepat menggerakkan area dimana elektron mencapai energi kritis sebesar 4,9 ev mendekat ke pusat kabel. Setelah mencapai energi kritis dan kehilangan energi kinetic saat tubrukan, elektron dapat mengambil energi baru sekarang sambil menuju ke jaringan, jadi pengumpul arus meningkat lagi. Sebuah arus minimum kedua yang dihasilkan dengan adanya percepatan potensial kira-kira 10 volt, seharusnya berada
  • 3.
    pada area keduadari tubrukan tanpa lentingan di sekitar jaringan. Dari hasil percobaan ditunjukkan bahwa atom merkuri menyerap energi mekanik sebanyak 4,9 ev. Pertanyaan yang segera muncul adalah apakah atom akan kembali meradiasi kuantitas dari energi yang sama. Frekuensi dari radiasi yang dipancarkan akan menjadi 1,18 x 1015 sec-1, yang mana dapat disesuaikan terhadap cahaya ultraviolet yang memiliki panjang gelombang sebesar 2530 Å. Franck dan Hertz mengulang percobaan mereka pada seperempat wadah, menembus radiasi ultraviolet, dan menggambarkan pemancaran spektrum dari uap air merkuri. Sebuah garis tajam tampak pada 2536 Å, sesuai dengan nilai perhitungan dalam limit error. Suatu perubahan energi kuantum alami diakui, fisikawan teoritis dihadapkan dengan tugas yang menyarankan suatu mekanisme dari banyaknya penyerapan dan pengeluaran yang sesuai dengan keterangan spektroskopis. Tentu saja mekanisme ini sangat bergantung pada sebuah model atom yang memuaskan. Informasi yang paling penting dari struktur atom ditemukan oleh Rutherford pada tahun 1911. Dalam sebuah kertas lama, Rutherford menganalisis hasil percobaan dari Geiger dan Marsden dengan sejumlah kecil partikel alpa dari kertas logam tipis. Percobaan ini menunjukkan bahwa sedikit peristiwa dari partikel alpa (dalam hal ini 20.000) didefleksikan pada sudut rata-rata bernilai 90o melewati sebuah kertas emas tipis (4 x 10-5 cm). Rutherford menganggap bahwa lebar defleksi dihasilkan dalam suatu pertemuan tunggal dari sebuah partikel alpa dengan atom, dikarenakan perhitungan sebelumnya mendasar pada perkalian sejumlah kecil partikel alpa yang tidak memberikan hasil yang memuaskan. Dia menunjukkan bahwa hasil percobaan dapat dijelaskan jika atom dianggap terdiri dari harga positif yang kuat atau negatif dari pusat, memfokuskan jarak yang kurang dari 3 x 10-12 cm dan dikelilingi oleh sebuah bidang elektrifikasi yang harganya berlawanan memperpanjang seluruh sisa dari atom, sebagai contoh, untuk jarak yang kira-kira sepanjang 10-8cm. Kemudian sejumlah kecil partikel alpa dapat dianggap pokok harga dari pusat atau inti, yang akan menyebabkan partikel alpa menggambarkan garis edar hiperbola dengan pusat dari atom sebagai satuan fokus. Geiger dan Marsden dapat menghitung dari data mereka bahwa harga inti atom diperkirakan setengah dari berat atom tersebut. Ini sangat menarik untuk dicatat bahwa sebuah inti atom telah siap dipertimbangkan secara matematik oleh Nagaoka pada tahub 1904, tetapi itu merupakan analisis Rutherford yang menetapkan konsep ini sebagai fakta dari percobaan yang telah dilakukan. Masalah segera muncul, biarpun, memperhatikan stabilitas dari suatu system. 3
  • 4.
    Pada tahun 1913,Niels Bohr dapat memecahkan pertanyaan stabilitas dari atom Rutherford. Bohr merumuskan sebuah teori struktur atom baru secara lengkap, berdasarkan dalil-dalil yang pada dasarnya menyimpang dari pola fisika klasik. Bohr bekerja di konstitusi yang merupakan salah satu perusahaan yang paling cemerlang di fisika modern dan merupakan dasar dalam perkembangan teori kuantum. Dalam dalil pertamanya, Bohr menganggap adanya keadaan yang tak seimbang pada atom, dengan elektron-elektron yang bergerak di sekitar inti positif pada lintasan yang mana dapat dihitung dari teori klasik. Dalam hal yang sederhana, atom hidrogen, sebuah elektron tunggal dianggap menggambarkan suatu lingkaran, atau elips dengan inti pada satuan fokus. Energi total atom pada keadaan tetap berlawanan dengan perubahan klasik elektron yang tidak diradiasi. Teori Planck dalam radiasi benda hitam juga memprediksikan bahwa dalam proses emisi dan absorpsi dari radiasi, atom yang ada di dinding berlubang bertindak dahulu karena mereka mengukur keadaan energi. Oleh sebab itu, menurut teori kuantum lama, setiap atom hanya mampu memisahkan keadaan energi yang berlainan. Pengesahan langsung bahwa keadaan energi dalam atom yang diukur berasal dari sebuah percobaan sederhana yang dilakukan oleh Franck dan Hertz pada tahun 1914. Elektron dipancarkan dengan panas pada energi rendah dari pemanas katoda C. Mereka dibawa ke anoda A oleh sebuah beda potensial V yang diterapkan diantara dua elektroda. Beberapa elektron melewati lubang di A dan melintasi pelat P, asal saja energi kinetik mereka meninggalkan A sudah cukup mengatasi perlambatan beda potensial V yang kecil, berada diantara P dan A. Seluruh tabung diisikan pada tekanan rendah dengan sebuah gas atau uap air dari atom yang diteliti. Percobaan melibatkan kadar arus elektron yang mencapai P (ditunjukkan oleh arus I yang mengalir pada alat ukur) sebagai sebuah fungsi dari percepatan tegangan V. Percobaan pertama dilakukan dengan tabung yang berisikan uap air Hg. Pada percepatan tegangan yang rendah, arus I dijalankan agar meningkat dengan peningkatan tegangan V. Ketika V mencapai 4,9 V, arus jatuh secara tiba-tiba atau curam atau terjal. Ini ditafsirkan sebagai petunjuk bahwa beberapa interaksi antara elektron dan atom Hg dengan tiba-tiba mulai mencapai 4,9 eV pada energi kinetik elektronnya. Ternyata sebuah pecahan yang penting dari elektron membangkitkan energi atom Hg ini dan juga kehilangan seluruh energi kinetik mereka. Jika V 4
  • 5.
    hanya sedikit daribanyaknya energi kinetik sebesar 4,9 V, proses eksitasi pasti hanya terjadi di depan ANODA a, dan setelah proses elektron tidak dapat mencapai energi kinetik yang cukup jatuh ke arah A untuk mengatasi perlambatan tegangan VP dan mencapai pelat P. Pada besaran V, elektron dapat mencapai energi kinetik yang cukup setelah proses eksitasi mengatasi VP dan mencapai P. Ketajaman dari perubahan kurva menunjukkan bahwa energi elektron kurang dari 4,9 eV tidak dapat memindahkan energi mereka ke sebuah atom Hg. Tafsiran ini sesuai dengan adanya keadaan energi yang berlainan terhadap atom Hg. Anggapan pertama yang membangkitkan keadaan Hg menjadi 4,9 eV lebih tinggi pada energi dibandingkan keadaan yang mula-mula, sebuah atom Hg yang sederhana tidak bisa menerima energi dari serangan elektron kecuali kalau elektron ini setidak-tidaknya mencapai 4,9 eV. Sekarang, jika pemisahan antara keadaan mula-mula dan keadaan pertama yang membangkitkan secara tepat 4,9 eV, seharusnya ada sebuah garis pada spektrum emisi Hg yang sesuai dengan hilangnya nilai atom sebesar 4,9 eV melalui peralihan dari keadaan pertama yang membangkitkan ke keadaan mula-mula. Franck dan Hertz menemukan bahwa ketika energi dari serangan elektron kurang dari 4,9 eV tidak ada garis nyata yang dipancarkan dari uap air Hg dalam tabung, dan ketika energi tidak lebih sedikit dari jumlah volt elektron yang lebih tinggi maka nilai ini hanya sebuah garis tunggal dilihat dari spektrum. Garis ini memiliki panjang gelombang 2536 Å, yang mana sangatlah tepat dan sesuai dengan energi foton sebesar 4,9 eV. Percobaan Franck-Hertz memberikan bukti yang menyolok bagi banyaknya jumlah energi dari atom. Itu juga menetapkan sebuah cara untuk pengukuran langsung perbedaan energi antara keadaan kuantum suatu atom – jawaban tampak pada voltmeter! Ketika kurva I vs V dipanjangkan ke tegangan yang lebih tinggi, penambahan perubahan ditemukan. Beberapa elektron mengeksitasi keadaan tereksitasi atom pada banyaknya peristiwa pemisahan sepanjang perjalanan merka dari C menuju ke A; tetapi beberapa eksitasi yang seharusnya lebih tinggi mengeksitasi keadaan, dan dari posisi kisi, perbedaan energy diantara keadaan tereksitasi yang lebih tinggi ke keadaan dasar dapat diukur secara langsung. Metode eksperimen yang lain menetapkan pemisahan antara keadaan energy dari sebuah atom adalah untuk mengukur spectrum atomnya dan kemudian secara empiris untuk membangun suatu kumpulan dari keadaan energy yang mana menggiring spectrum. Dalam praktiknya, ini sering menyulitkan untuk dilakukan karena kumpulan garis terdapat pada spectrum, sama halnya 5
  • 6.
    dengan kumpulan darikeadaan energy yang sering sangat rumit; biarpun, pada umumnya dengan semua teknik spektrokopis, itu merupakan metode yang sangat akurat. Dalam semua hal yang mana penetapan pemisahan diantara keadaan energy atom dibuat pasti, menggunakan kedua teknik ini dan teknik Franck-Hertz, hasil yang ditemukan menjadi persetujuan yang unggul. Pemisahan antara keadaan dasar dan keadaan tereksitasi pertama dan kedua diketahui, dari percobaan Franck-Hertz, ialah 4,9 eV dan 6,7 eV. Bilangan ini dapat disahkan, dan dalam fakta yang ditetapkan dengan ketelitian yang tinggi, oleh pengukuran panjang gelombang dari dua garis spectral yang sesuai untuk peralihan sebuah electron dalam atom Hg dari dua keadaan ini ke keadaan dasar. Energy ɛ = -10,4 eV, dari keadaan dasar yang relative ke keadaan nol suatu energy total, tidak ditentukan oleh percobaan Franck-Hertz. Biarpun itu dapat ditemukan oleh pengukuran panjang gelombang dari garis yang sesuai untuk peralihan sebuah atom electron dari keadaan nol suatu energy total ke keadaan dasar. Ini adalah rentetan limit dari rangkaian yang berakhir pada keadaan dasar. Energy ɛ juga dapat diukur oleh pengukuran energy yang harus disediakan sebuah atom Hg supaya mengirim satu elektronnya dari keadaan dasar ke keadaan nol suatu energy total. Dikarenakan electron dari nol energy total tidak sampai melewati batas atom, ɛ merupakan energy yang hendak mengionisasikan atom dan oleh karena itu, ɛ disebut energy ionisasi. Gejala ionisai ditandai oleh meningkatnya kuat arus anoda secara drastik. Elektron ini tidak akan mampu lagi mencapai anoda jika tenaga sisanya kurang dari tenaga penghalang, sehingga terjadi pemerosotan arus anoda. Bila tegangan kisi dinaikkan lagi lebih lanjut, maka arus anoda akan naik lagi, tetapi kemudian merosot lagi bila tegangan kisi sama dengan kelipatan bulat tegangan eksitasi (Ve). 6
  • 7.
    Energi eksitasi atommerupakan perkalian antara tegangan eksitasi atom (Ve) dengan 7 muatan elektron (e). Eeks = e Ve Energi ini digunakan untuk memancarkan foton yang memiliki panjang gelombang λ, yang terkait dengan persamaan energi foton, sehingga 휆 = ℎ푐 푒푉푒 Eksperimen ini kemudian menjadi bukti dari teori model atom Bohr yang menerangkan bahwa electron harus memiliki energy minimum tertentu untuk dapat melakukan tumbukan inelastic dengan atom dan energy minimum tersebut dapat diartikan sebagai energy dari sebuah keadaan eksitasi pada atom. 2.2 Spektrum Emisi Hidrogen Atom yang mempunyai elektron dalam keadaan tereksitasi akan kembali dengan cepat ke keadaan dasar dengan memancarkan sebuah foton dengan energi yang tepat sama dengan energi yang dikeluarkan atom. Keadaan tereksitasi bukanlah keadaan stabil. Misalkan atom H seperti pada gambar. Elektron akan kehilangan energi ketika berpindah ke orbit yang lebih rendah. Gambar : Spektrum Emisi Hidrogen
  • 8.
    Atom kehilangan energihanya dengan satu cara, yaitu dengan mengeluarkan foton. Dengan contoh seperti pada gambar, jika elektron H jatuh ke keadaan n=2 maka energy yang dipancarkan foton : 8 ℎ푐 휆 = 퐸4 − 퐸2 = − 13,6 42 − 13,6 22 = 2,55 푒푉 Setiap elektron jatuh ke 푛 ≠ 1, maka akan jatuh lagi ke 푛 = 1. Energi yang hilang untuk tiap-tiap kasus tersebut akan berbeda, sehingga dengan demikian atom H yang tereksitasi akan memancarkan berbagai λ cahaya. Jauh sebelum Einstein menemukan foton, para ahli telah menemukan mengukur 휆c yang dipancarkan oleh atom H. 2.3 Deret Spektrum Hidrogen Untuk mempelajari cahaya yang dipancarkan oleh atom H tereksitasi, kita dapat menggunakan spektrometer prisma atau spektrometer kisi difraksi. Spektrometer prisma dengan pancaran cahaya tampak dan di dekat UV nampak pada gambar.
  • 9.
    Gambar : DeretSpektrum Hidrogen Panjang gelombang semua deret garis-garis spektrum H dapat disimpulkan dalam satu rumus umum. Deret garis spektrum yang nampak pada gambar ditunjukkan oleh Balmer dengan rumus sederhana: Misalkan 푛 = 3 maka 휆 = 656 푛푚. Nampak pada gambar harga λ tersebut merupakan λ terpanjang dalam deret Balmer. Untuk = 4 , maka 휆 = 486 푛푚. Garis berikutnya pada deret dan λ terpendek sebesar 365 nm diperoleh pada 푛 = ∞ Dengan perkembangan teknologi, telah ditemukan juga deret Lyman dan Paschen, 9 dimana: 1 휆 = 푅 ( 1 12 − 1 푛2 ) Untuk Deret Lyman 1 휆 = 푅 ( 1 32 − 1 푛2 ) Untuk Deret Paschen
  • 10.
    Gambar : DeretLyman, Balmer dan Paschen 10 Kesimpulan: 1. Atom H hanya ada pada keadaan (state) tertentu. 2. Masing-Masing keadaan menyatakan energi yang yang tertentu pula, yang ditunjukkan dengan diagram tingkat energi. 3. Jika elektron berada jauh dari atom dan tidk mempunyai energi kinetik (yaitu atom terionisasi) energi pada keadaan ini didefinisikan nol. 4. Keadaan dasar atom mempunyai energi terendah. Atom tak tereksitasi berada pada keadaan ini. 5. Ketika elektron jatuh dari satu tingkatan ke tingkatan yang lebih rendah, maka atom akan berubah dari satu keadaan ke keadaan lain. Foton yang diemisikan mempunyai energi yang sama dengan beda energi antara kedua keadaan tersebut. 6. Energi foton berhubungan dengan λ garis spektrum yang diemisikan yaitu: 퐸푓 = ℎ푐  = ℏ푓
  • 11.
       1 1 1         n 11 2.4. Spektrum uap Hidrogen Pengamatan spektroskopis menunjukkan bahwa spektrum gas Hidrogen terdiri atas deretan garis-garis. Deretan garis ini diberi nama menurut orang yang menemukannya Secara Empirik, Balmer menemukan rumus yang cocok dengan panjang gelombang deretan Balmer. . 2 2 3645,6 4 n Angstrom n          n=3,4,5,… dst. Rumus ini oleh Rydberg diperbaiki menjadi 1 1 1 1 R Angstrom    2 2   2 n   1 R Angstrom 2 2 2   R adalah tetapan Rydberg = 1,097.10-3 Ao n=3,4,5,… dst Rumus ini sesuai pula untuk deret Lyman dan Paschen 1 2 Untuk deret Lyman 2 1 1 diganti dengan 2 dan n=2,3,4,…dst.
  • 12.
      kk        c k e m k e m 2 2   n h n h 2 1 1 k e m h c n n 1 2 1 1  R  12 Untuk deret Paschen 1 2 2 diganti dengan 1 3 2 dan n= 4,5,6,…dst. 2.5.Spektrum gas Hidrogen menurut Bohr Bila elektron meloncat dari lintasan yang energinya tinggi (B) ke lintasan yang energinya rendah, dipancarkan energi sebesar h.f h.f = EB-EA 2 2 e e r r EB-EA 2 2 B A f h h 2 2 4 2 2 4 2 3 2 3 B A             2 2 4 3 2 2 A B c k e m h n n           2 2 4 3 2 2 . A B           2 2 4 k e m h 3 c 2 .  adalah bilangan tetap. Rumus diatas mirip dengan rumus Balmer ) 1 1 ( 1 2 2 A B n n 
  • 13.
      kk    13 Dengan ketentuan bahwa: Deret Lyman (Ultra Ungu) nA = 1 nB = 2, 3, 4 …. Deret Balmer (Cahaya tampak) nA = 2 nB = 3, 4, 5, …. Deret Paschen (Inframerah I) nA = 3 nB = 4, 5, 6, …. Deret Brackett (Inframerah II) nA = 4 nB = 5, 6, 7, …. Deret Pfund (Inframerah III) nA = 5 nB = 6, 7, 8, …. 2.5.1. Energi Ionisasi Untuk membangkitkan elektron dari Kwantum na ke kwantum nb diserap energi sebesar: E= EB-EA = 2 2 e e r r 2 2 B A   = 2 . 1 1 2 A B k e       r r  2 2 . 2 2 4 n h r  k e m 
  • 14.
       2 1 1       1 1 E eV     n n     1 1 E 13,6 eV     13,6 E eV    2 1 1     14 2 2 4 2 2 2 A B k e m E Joule h n n   Dengan mensubstitusikan nilai m,e,k,h maka diperoleh 2 2 13,6 A B Bila elektron terbangkit sampai kwantum, maka elektron itu lepas dari lingkungan atom dan atom tersebut menjadi ion (+). Energi yang diserap untuk meng-ion-kan atom disebut Energi Ionisasi. Besar Energi Ionisasi atom Hidrogen: 2 n    2 n  untuk n=1 besar E = 13,6 eV Jadi bagi atom H dapat ditulis H + 13,6 eV H+ + e- Sebaliknya jika ion Hidrogen mengikat sebuah elektron akan dipancarkan energi sebesar: 2 2 4 2 2 A k e m E Joule h n   Besar Frekwensi foton yang dipancarkan
  • 15.
    2 2 4  k e m  15 k e m 2 2 2 . . h f h n  2 2 4 3 2 2 . f h n  untuk n=2 diperoleh frekwensi yang sesuai dengan salah satu deret balmer. Bohr dan Stoner menyusun model atom-atom lainnya berdasarkan model atom Hidrogen. Lintasan elektron dengan bilangan kwantum n=1,2,3,…dst. Disebut kulit (K,L,M,N,…) Tiap kulit elektron hanya dapat diisi paling banyak oleh 2n2 elektron-elektron, n adalah bilangan kwantum utama. Model Bohr adalah sebuah model primitif mengenai atom hidrogen. Sebagai sebuah teori, model Bohr dapat dianggap sebagai sebuah pendekatan orde pertama dari atom hidrogen menggunakan mekanika kuantum yang lebih umum dan akurat, dan dengan demikian dapat dianggap sebagai model yang telah usang. Namun demikian, karena kesederhanaannya, dan hasil yang tepat untuk sebuah sistem tertentu, model Bohr tetap diajarkan sebagai pengenalan pada mekanika kuantum. Keterangan Gambar 2. Model Bohr untuk atom hydrogen
  • 16.
     Lintasan yangdiizinkan untuk elektron dinomori n = 1, n = 2, n =3 dst. Bilangan ini dinamakan bilangan kuantum, huruf K, L, M, N juga digunakan untuk menamakan lintasan  Jari-jari orbit diungkapkan dengan 12, 22, 32, 42, …n2. Untuk orbit tertentu dengan jari-jari minimum a0 = 0,53 Å B : konstanta numerik dengan nilai 2,179 x 10 J 13.6eV -18   16 2 2 0 0 4 me a     Jika elektron tertarik ke inti dan dimiliki oleh orbit n, energi dipancarkan dan energi elektron menjadi lebih rendah sebesar B  , 2 n En  Gambar 3. Tingkat-tingkat energi atom Hydrogen
  • 17.
    2.5.2. Tingkatan energielektron dalam atom hidrogen Model Bohr hanya akurat untuk sistem satu elektron seperti atom hidrogen atau helium yang terionisasi satu kali. Penurunan rumusan tingkat-tingkat energi atom hidrogen menggunakan model Bohr. Penurunan rumus didasarkan pada tiga asumsi sederhana: 1) Energi sebuah elektron dalam orbit adalah penjumlahan energi kinetik dan energi potensialnya: dengan k = 1 / (4πε0), dan qe adalah muatan elektron. 2) Momentum sudut elektron hanya boleh memiliki harga diskret tertentu: dengan n = 1,2,3,… dan disebut bilangan kuantum utama, h adalah konstanta Planck, dan 17 . 3) Elektron berada dalam orbit diatur oleh gaya coulomb. Ini berarti gaya coulomb sama dengan gaya sentripetal: Dengan mengalikan ke-2 sisi persamaan (3) dengan r didapatkan: Suku di sisi kiri menyatakan energi potensial, sehingga persamaan untuk energi menjadi:
  • 18.
    Dengan menyelesaikan persamaan(2) untuk r, didapatkan harga jari-jari yang diperkenankan: Dengan memasukkan persamaan (6) ke persamaan (4), maka diperoleh: Dengan membagi kedua sisi persamaan (7) dengan mev didapatkan Dengan memasukkan harga v pada persamaan energi (persamaan (5)), dan kemudian mensubstitusikan harga untuk k dan , maka energi pada tingkatan orbit yang berbeda dari atom hidrogen dapat ditentukan sebagai berikut: Dengan memasukkan harga semua konstanta, didapatkan, 18
  • 19.
    Dengan demikian, tingkatenergi terendah untuk atom hidrogen (n = 1) adalah -13.6 eV. Tingkat energi berikutnya (n = 2) adalah -3.4 eV. Tingkat energi ketiga (n = 3) adalah -1.51 eV, dan seterusnya. Harga-harga energi ini adalah negatif, yang menyatakan bahwa elektron berada dalam keadaan terikat dengan proton. Harga energi yang positif berhubungan dengan atom yang berada dalam keadaan terionisasi yaitu ketika elektron tidak lagi terikat, tetapi dalam keadaan tersebar. Dengan teori kuantum, Bohr juga menemukan rumus matematika yang dapat dipergunakan untuk menghitung panjang gelombang dari semua garis yang muncul dalam spektrum atom hidrogen. Nilai hasil perhitungan ternyata sangat cocok dengan yang diperoleh dari percobaan langsung. Namun untuk unsur yang lebih rumit dari hidrogen, teori Bohr ini ternyata tidak cocok dalam meramalkan panjang gelombang garis spektrum. Meskipun demikian, teori ini diakui sebagai langkah maju dalam menjelaskan fenomena-fenomena fisika yang terjadi dalam tingkatan atomik. Teori kuantum dari Planck diakui kebenarannya karena dapat dipakai untuk menjelaskan berbagai fenomena fisika yang saat itu tidak bisa diterangkan dengan teori klasik. 19
  • 20.
    BAB III PENUTUP 20 3.1. Kesimpulan Teori atom Bohr menyatakan bahwa elektron harus mengorbit di sekeliling inti seperti planet mengorbit Matahari. Model Bohr disambut sebagai langkah maju yang penting karena dengan cara memberi jarak pada orbit elektron,dapat menjelaskan spektrum cahaya dari sebuah atom. Elektron dapat berpindah dari satu orbit ke orbit lain dengan cara lompatan kuantum, dan lompatannya selalu melibatkan emisi atau absorpsi kuantum utuh dengan jumlah energi ekuivalen dengan hf atau kelipatannya,tapi tidak pernah ada nilai diantaranya. Bohr masih memakai hukum newton disamping beberapa postulat lain, nilai teori bohr tidaklah pada prediksi yang dapat dihasilkan tetapi pada pengertian dan hukum yang baru di ungkapkan.
  • 21.
    DAFTAR PUSTAKA Beiser,Arthur. 1999. Konsep Fisika Modern. Jakarta : Erlangga Eisberg, Robert. 1974. Quantum Physics of Atom, Molecules, Solids, Nuclei, and Particles. Second Edition. John Wiley & Sons : United States of America. Pages : 107-110 Krane, Kenneth. 1988. Fisika Modern. Jakarta : UI Press Powell, John L. 1961. Quantum Mechanics. Addison-Wesley Publishing Company : United 21 States of America. Pages : 11-15 http://septiadiah.files.wordpress.com/2011/10/radiasi-2-percobaan-franck-hertz.pdf. Diakses Tanggal: 24/09/2013 Pukul : 18:45 http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._TEKNIK_ELEKTRO/196301091994022- BUDI_MULYANTI/Pertemuan_ke-15.pdf