SlideShare a Scribd company logo
1 of 30
OMICRON:
APA YANG PERLU
DIWASPADAI
Erlina Burhan
Departemen Pulmonologi dan Kedokteran
Respirasi
FKUI – RSUP Persahabatan
Omicron?
Siapa Dia?
• Salah satu varian dari virus SARS-
Coronavirus-2 (B 1.1.529) yang digolongkan
WHO sebagai variant of concern (memiliki
dampak terhadap kesehatan masyarakat
yang signifikan)
• Dideteksi pertama kali di Afrika Selatan
pada 14 November 2021
• Terdapat perubahan struktur genetik dari
varian SARS-CoV-2 sebelumnya. Terdapat >
30 mutasi pada protein spike
Omicron: yang perlu diperhatikan!
• Grafik kenaikan kasus lebih
cepat dibandingkan varian
sebelumnya; fenomena
superspreader
• Risiko penularan 2,9x lebih
tinggi dibanding varian
Delta
Penularan
• Peningkatan risiko
terinfeksi kembali hingga
5,4x dibandingkan dengan
varian Delta
Re-infeksi
https://www.who.int/news/item/28-11-2021-update-on-omicron
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/25/update-omicron--total-di-indonesia-ada-1665-kasus-selasa-25-januari-2022
https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/2022-01-07-global-technical-brief-and-priority-action-on-omicron---corr2.pdf?sfvrsn=918b09d_26
Omicron: yang perlu diperhatikan!
https://www.who.int/news/item/28-11-2021-update-on-omicron
https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/2022-01-07-global-technical-brief-and-priority-action-on-omicron---corr2.pdf?sfvrsn=918b09d_26
Keparahan Penyakit
Data dari Afrika Selatan, UK, Kanada, dan
Denmark: penurunan risiko hospitalisasi (rawat
inap RS) dibandingkan Delta
Risiko keparahan penyakit meningkat pada
pasien dengan komorbid dan orang yang tidak
divaksinasi
Diagnosis dan Testing
PCR atau rapid antigen masih akurat dalam mendeteksi
SARS-CoV-2
Deteksi mengarah ( probable ) Omicron secara spesifik dapat
menggunakan PCR dengan STGF (S gene target failure) namun
untuk diagnosis pasti menggunakan whole genome
sequencing
Derajat Infeksi
dan Komorbiditas
Manifestasi klinis beragam:
tanpa gejala hingga gagal napas
yang fatal
Penyakit berat berkaitan dengan
komorbiditas: hipertensi, diabetes melitus,
geriatri, penyakit autoimun, penyakit ginjal,
gagal jantung, dan penyakit paru obstruktif
kronik. Angka komorbid cukup tinggi pada
penderita COVID-19 di Indonesia
Penyakit kardiovaskular akut seperti cedera miokardium akut
sering menyebabkan perburukan kondisi klinis di rumah
sakit, peningkatan kebutuhan perawatan di ICU, dan
peningkatan angka mortalitas
COVID-19 pada Anak
› Kasus terkonfirmasi pada anak (0-18 tahun) mencapai
13,3%
› Peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan munculnya
varian Omicron dan penerapan pembelajaran tatap muka
(PTM) 100% sejak 3 Januari 2022 di beberapa wilayah
› Merupakan sindrom inflamasi multiorgan pada
anak, berkaitan dengan COVID-19
› Menimbulkan penyakit derajat berat
› Jumlah kasus yang tinggi  risiko kejadian MIS-C
lebih tinggi
Kasus COVID-19 pada Anak
Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C)
Dr. Maria Van Kerkhove (WHO Technical Lead on COVID-19)
• Omicron sangat dominan saat ini
dibandingkan Delta dengan peningkatan kasus
yang signifikan (lebih menular)
• Lebih banyak kasus > rawat inap tinggi > dapat
mengganggu sistem pelayanan kesehatan
• Spektrum derajat infeksi Omicron beragam,
bisa asimtomatik, ringan, perlu rawat inap,
hingga kematian
• Meskipun berdasarkan data awal Omicron
lebih ringan, virus ini masih berbahaya
terhadap populasi rentan (usia lanjut,
komorbid, dan lainnya)
• Masih mungkin akan ada VOC lain di masa
depan bila sirkulasi virus tidak berhenti
• Efek long covid ?
• Selain vaksinasi, menerapkan protokol
Kesehatan, kendalikan komorbid sangat
penting , saling menunjang untuk menurunkan
transmisi
https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/media-resources/science-in-5/episode-63---omicron-variant
Subvarian Omicron: Data Awal dari Statens Serum Institut (Denmark), 20 Januari
2022
● Sejauh ini terdapat 3 subvariant Omicron: BA.1, BA.2, dan BA.3
● BA.1 berkontribusi terhadap sebagian besar kasus Omicron di Dunia, namun BA.2
semakin meningkat di Denmark
● Subvarian BA.2 ditemukan pada hingga 45% kasus COVID-19 di minggu ke-2
Januari 2022
● BA.1 dan BA.2 memiliki banyak perbedaan mutasi satu sama lain, dan di bagian
yang penting. Perbedaan mutasi antar kedua subvarian ini lebih banyak daripada
perbedaan mutasi antara varian awal dengan Alpha
● Perbedaan yang besar tersebut dapat berdampak pada penularan, keparahan
gejala, atau manfaat vaksin. Akan tetapi, belum ada data pasti mengenai hal ini
https://en.ssi.dk/news/news/2022/omicron-variant-ba2-accounts-for-almost-half-of-all-danish-omicron-cases
WHO Update 4/2/2022
• Omicron memiliki sub-varian BA.2
• BA.2 meningkat di India dan Denmark
• Memiliki kemampuan penularan dan transmisi yang
lebih efisien dibandingkan Omicron yang saat ini
beredar di Indonesia
• COVID-19 akan terus bermutasi dan beradaptasi 
maka upaya dalam menjalani protocol Kesehatan
untuk mengurangi penularan sangat penting
• Omicron sudah menjadi varian dominan di beberapa
belahan dunia, melebihi delta
• Penyebab Long Covid ???
Omicron Sub-Varian “BA.2”
Gejala Klinis
COVID-19 varian
Omicron
Batuk (89%), Sesak napas (16%) Demam (38%), menggigil
Kelelahan/badan pegal (65%)
Mual/muntah (22%), Diare (11%) Anosmia/Ageusia (8%)
Hidung tersumbat
atau rinore (59%)
CDC COVID-19 Response Team. SARS-CoV-2 B.1.1.529 (Omicron) variant – United States, December 1-8, 2021. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2021 Dec 17;70(50):1731-4.
Kasus Omicron di RSUP Persahabatan ( probable omicron dan
omicron)
• Gejala:
• batuk kering : 63%
• Nyeri tenggorok : 54%
• Pilek: 27%
• sakit kepala: 36%
• Letih, nyeri otot: 60%
• Nyeri perut : 5%
• Deman: 18%
• Komorbid:
Hipertensi
Diabetes
Asma
Kanker Paru
Gagal ginjal
Gejala klinis COVID-19 (Omicron)
• Hidung tersumbat atau rinore/hidung berair  gejala yang khas
pada Omicron
• Nyeri tenggorok, terutama tenggorokan gatal  gejala yang khas
pada Omicron
• Mudah lelah  cukup sering
• Sakit kepala  cukup sering
• Nyeri otot  cukup sering
• Batuk kering  cukup sering
1. https://www.al.com/news/2022/01/most-common-omicron-symptoms-now-1-unique-symptom-reported.html
2. https://www.npr.org/sections/health-shots/2022/01/06/1070622880/what-we-know-about-the-symptoms-and-the-severity-of-the-omicron-variant
3. https://joinzoe.com/learn/omicron-symptoms
Studi dari HKUMed Hong Kong
• Studi membandingkan nilai TCID50 di bronkus dan
paru akibat infeksi varian Omicron, Delta, atau
varian awal
• TCID50 = median tissue culture infectious dose
menandakan titer virus di jaringan
• Di bronkus, varian Omicron memiliki laju infeksi
dan replikasi 70 kali lebih tinggi dari varian Delta
dan varian awal
• Akan tetapi di paru, laju infeksi dan replikasi varian
Omicron 10 kali lebih rendah dari varian awal
• Hal ini mungkin berkaitan dengan infeksi varian
Omicron yang lebih cepat, namun dengan
keparahan penyakit yang lebih rendah
• Meskipun demikian, keparahan tidak hanya
ditentukan oleh replikasi virus, tetapi juga faktor
lain seperti badai sitokin dan immune escape
https://www.med.hku.hk/en/news/press/20211215-omicron-sars-cov-2-infection
Penyebab Kematian Berdasarkan Umur, Vaksinasi, Tanggal Vaksin
Terakhir, Komorbid dan Lama Rawat (data RS PERSAHABATAN)
Gagal Kardiorespirasi (%) Syok Sepsis (%)
Umur 19-60 thn 17 (68,0) 8 (32,0)
> 60 thn 22 (78,6) 6 (21,4)
Vaksinasi Sudah 15 (83,3) 3 (16,7)
Belum 24 (68,6) 11 (31,6)
Tanggal Vaksin terakhir < 6 bulan 6 (54,6) 5 (45,4)
> 6 bulan 8 (61,5) 5 (38,5)
Komorbid Tidak ada 1 0
HT 16 5
DM 17 7
Stroke 9 2
CAD 2 2
ARDS 10 11
Keganasan 3 1
CKD 10 4
TB 5 0
Asma/PPOK 2 0
Penyakit Hati Kronik 3 1
Lain-lain 7 1
Pembaharuan Pedoman
Edisi 4
Definisi kasus probable varian
Omicron berdasarkan PCR
dengan SGTF
dan terkonfirmasi varian
Omicron berdasarkan Whole
Genome Sequencing
Obat antivirus baru (molnupiravir
dan nirmatrelvir/ritonavir) dan
antikoagulan (rivaroksaban dan
fondaparinux)
Penekanan bahwa kasus COVID-19
tanpa gejala atau dengan gejala
ringan cukup dengan isoman atau
isoter, tidak perlu rawat inap
Penatalaksanaan kasus
sedang/berat/kritis dilakukan di RS
Pencabutan beberapa opsi terapi tambahan:
plasma konvalesen dan ivermectin (yg tidak
pernah masuk sebagai obat standar)
Hidroksiklorokuin, azitromisin, dan oseltamivir
sudah dikeluarkan pada edisi sebelumnya
Indikasi perawatan ICU dan
karakteristik pasien COVID-
19 derajat kritis untuk
memprediksi lebih dini
potensi perburukan
Beberapa jenis, dosis, dan
cara pemberian vaksin baru
yang efektif sebagai upaya
pencegahan yang penting
1
5
3
2
4 6
RANGKUMAN TATA LAKSANA
FARMAKOLOGIS COVID-19
16
Derajat Terapi
Tanpa Gejala
• Vitamin C, D
• Pengobatan suportif
• Pengobatan komorbid dan komplikasi
Ringan
• Vitamin C, D
• Favipiravir atau Molnupiravir atau Nirmatrelvir/Ritonavir
• Pengobatan simtomatis
• Pengobatan suportif
• Pengobatan komorbid dan komplikasi
Sedang
• Vitamin C, D
• Remdesivir atau alternatifnya: Favipiravir, Molnupiravir, atau Nirmatrelvir/Ritonavir
• Antikoagulan LMWH/UFH berdasarkan evaluasi DPJP
• Pengobatan simtomatis
• Pengobatan komorbid dan komplikasi
Berat atau Kritis
• Vitamin C, B1, D
• Remdesivir atau alternatifnya: Favipiravir, Molnupiravir, atau Nirmatrelvir/Ritonavir
• Kortikosteroid
• Anti IL-6 (Tocilizumab/Sarilumab)
• Antibiotik (pada suspek koinfeksi bakteri)
• Antikoagulan LMWH/UFH/OAC berdasarkan evaluasi DPJP
• Tata laksana syok (bila terjadi)
• Pengobatan komorbid dan komplikasi
Isoman/Isoter
Rawat Inap di RS
Kenapa terjadi beberapa kali perubahan
rekomendasi pada berbagai guideline?
Modified from ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2743609/
Saat ini
• Saat COVID-19 muncul, ilmu pengetahuan kedokteran
sangat terbatas sehingga segala upaya untuk
menyelamatkan nyawa manusia dikerahkan meskipun
belum memiliki bukti yang kuat.
• Target terapi potensial untuk pengobatan COVID-19
semakin banyak teridentifikasi sehingga memungkinkan
adanya obat-obat baru yang akan muncul.
• Hasil uji klinik yang positif belum dapat diterima secara
mutlak tetapi juga harus dibandingkan dengan
beberapa uji klinik lain yang serupa.
• Meta-analisis dari beberapa hasil RCT yang berkualitas
merupakan sumber yang paling adekuat untuk kita
jadikan pegangan.
• Guideline / panduan praktik klinis COVID-19 harus
diupdate secara berkala mengikuti perkembangan data
ilmiah terbaru.
TATA LAKSANA COVID-19 TANPA
GEJALA
ISOLASI DAN PEMANTAUAN
• Isolasi mandiri (isoman) atau
isolasi terpusat (isoter) selama 10
hari sejak pengambilan swab
diagnosis
• Dilakukan pemantauan oleh
tenaga kesehatan dari FKTP
• Kontrol ke FKTP terdekat setelah
isolasi
FARMAKOLOGIS
NON-FARMAKOLOGIS
• Terapkan protokol kesehatan
• Berjemur 10-15 menit tiap hari
• Anggota keluarga yang kontak
erat hendaknya memeriksakan
diri
18
• Vitamin C: 3-4x500 mg, 14 hari
(non acidic), 2x500 mg, 30 hari
(acidic); atau multivitamin
mengandung vit C 1-2 tablet/hari
• Vitamin D: 1000-5000 IU/hari
selama 14 hari
• Pengobatan komorbid / penyakit
penyerta
• Obat suportif lain (fitofarmaka,
OMAI, antioksidan) dapat
dipertimbangkan
ISOLASI UNTUK COVID-19
TANPA GEJALA DAN GEJALA RINGAN
19
Syarat Klinis
• Usia <45 tahun; DAN
• Tidak memiliki komorbid
Syarat Rumah
• Dapat tinggal di kamar
terpisah; DAN
• Ada kamar mandi di dalam
rumah
Isolasi mandiri dapat
dilakukan jika memenuhi
kedua syarat klinis dan
syarat rumah
Jika salah satu atau kedua
syarat tidak terpenuhi 
isolasi terpusat
20
TATA LAKSANA COVID-19
GEJALA RINGAN
ISOLASI DAN PEMANTAUAN
• Isolasi mandiri (isoman) atau
isolasi terpusat (isoter) selama 10
hari sejak muncul gejala + 3 hari
hingga bebas gejala demam dan
gangguan pernapasan
• Dilakukan pemantauan oleh
tenaga kesehatan dari FKTP
• Kontrol ke FKTP terdekat setelah
isolasi
• Terapkan protokol
kesehatan
• Berjemur 10-15 menit
tiap hari
• Anggota keluarga yang
kontak erat hendaknya
memeriksakan diri
NON-FARMAKOLOGIS
• Vitamin C: 3-4x500 mg, 14
hari (non acidic), 2x500 mg,
30 hari (acidic); atau
multivitamin mengandung vit
C 1-2 tablet/hari
• Vitamin D: 1000-5000 IU/hari
selama 14 hari
• Antivirus: favipiravir,
molnupiravir, atau
nirmatrelvir/ritonavir
• Pengobatan simtomatis
• Pengobatan komorbid dan
komplikasi
• Obat suportif lain
(fitofarmaka, OMAI) dapat
dipertimbangkan
FARMAKOLOGIS
DOSIS ANTIVIRUS
Favipiravir
• Sediaan: tablet 200 mg
• Durasi: 5 hari
• Dosis:
2x 1600 mg (hari 1)
2x 600 mg (hari 2-5)
Molnupiravir
• Sediaan: kapsul 200 mg
• Durasi: 5 hari
• Dosis: 2x 800 mg
Nirmatrelvir/
Ritonavir
• Sediaan: tablet kombinasi 150
mg nirmatrelvir dan 100 mg
ritonavir
• Durasi: 5 hari
• Dosis:
2x 300 mg (2 tab) nirmatrelvir
2x 100 mg (1 tab) ritonavir
Remdesivir
• Sediaan: vial 100 mg
• Durasi: 5 atau 10 hari
• Dosis:
1x 200 mg (hari 1)
1x 100 mg (hari 2-5 atau
hari 2-10)
21
TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT SEDANG
23
ISOLASI DAN PEMANTAUAN
• Isolasi rawat inap di ruang isolasi COVID-19 RS rujukan atau RS Darurat COVID-19
• Istirahat total
• Asupan kalori dan cairan cukup, kontrol elektrolit
• Oksigen jika diperlukan
• Pemantauan berkala hasil laboratorium darah perifer lengkap, hitung jenis leukosit, dan
ditambah CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, dan foto toraks jika memungkinkan
NON-FARMAKOLOGIS
• Vitamin C: 200-400 mg/8 jam dalam NaCl 0,9% 100 cc, habis dalam 1 jam secara drip
intravena
• Vitamin D: 1000-5000 IU/hari
• Antivirus: remdesivir IV drip (1x200 mg hari 1, dilanjutkan 1x100 mg hari 2-5 atau hari 2-10),
atau alternatifnya favipiravir, molnupiravir, atau nirmatrelvir/ritonavir (dosis seperti sebelumnya)
• Antikoagulan LMWH/UFH sesuai evaluasi DPJP
• Pengobatan simtomatis
• Pengobatan komorbid dan komplikasi
FARMAKOLOGIS
TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT BERAT
ATAU KRITIS
24
ISOLASI DAN PEMANTAUAN
• Perawatan isolasi di ruang ICU atau HCU RS rujukan
• Pasien COVID-19 kritis perlu intervensi lebih dini dan paripurna. Indikasi perawatan intensif COVID-19:
Membutuhkan
terapi oksigen >4
lpm
Gagal napas Sepsis
Syok
Disfungsi organ
akut
Pasien dengan
risiko tinggi
perburukan ARDS

Usia >65 tahun, demam
>39oC, neutrofilia,
limfositopenia, peningkatan
penanda gagal hati dan
ginjal, peningkatan CRP,
PCT, dan feritin,
peningkatan fungsi
koagulasi (PT, fibrinogen, D
dimer)
TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT BERAT
ATAU KRITIS
25
• Istirahat total
• Asupan kalori dan cairan cukup, kontrol elektrolit
• Pemantauan berkala hasil laboratorium darah perifer lengkap, hitung jenis leukosit, dan ditambah
CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, hemostasis, LDH, dan D-dimer jika memungkinkan
• Pemeriksaan foto toraks serial jika perburukan
• Monitor: frekuensi napas (≥30x/menit); SpO2 (≤93 %); PaO2/FiO2 ≤300 mmHg; peningkatan >50%
keterlibatan di area paru dari radiografi toraks dalam 24-48 jam; limfopenia progresif; peningkatan
CRP progresif; asidosis laktat progresif
• Oksigen jika SpO2 <93% dengan udara bebas. Jenis alat dan flow disesuaikan hingga mencapai
target SpO2 92-96% (pada ibu hamil >94 %)
• Untuk mencegah perburukan penyakit ke gagal napas: terapi oksigen dengan HFNC atau NIV jika
tidak ada perbaikan klinis dalam 1 jam atau ada perburukan klinis, pembatasan resusitasi cairan, atau
awake prone position
• Jika gagal napas dengan ARDS, dipertimbangkan penggunaan ventilator mekanik
• Pasien COVID-19 derajat kritis dapat menerima terapi ECMO jika sudah menerima terapi ventilator
dan prone position yang maksimal, dengan indikasi:
1. PaO2/FiO2 <80 mmHg selama >6 jam
2. PaO2/FiO2 <50 mmHg selama >3 jam
3. pH <7,25 + PaCO2 >60 mmHg selama >6 jam
NON-FARMAKOLOGIS
TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT BERAT
ATAU KRITIS
26
• Vitamin C: 200-400 mg/8 jam dalam NaCl 0,9% 100 cc, habis dalam 1 jam secara drip
intravena
• Vitamin B1: 1 ampul/24 jam IV
• Vitamin D: 1000-5000 IU/hari
• Antibiotik jika ada bukti ko-infeksi
• Antivirus: remdesivir IV drip (1x200 mg hari 1, dilanjutkan 1x100 mg hari 2-5 atau hari 2-10),
atau alternatifnya favipiravir, molnupiravir, atau nirmatrelvir/ritonavir (dosis seperti sebelumnya)
• Deksametason: 1x 6 mg selama 10 hari (atau ekivalen)
• Anti IL-6: tocilizumab 1x 8 mg/kgBB dosis tunggal (max 800 mg). Satu dosis tambahan dapat
diberikan jika belum ada perbaikan atau mengalami perburukan, dengan jarak antar dosis
minimal 12 jam
• Antikoagulan LMWH/UFH/OAC sesuai evaluasi DPJP
• Jika pasien mengalami syok, berikan tata laksana sesuai pedoman yang ada: resusitasi
cairan, vasopressor, atau inotropik, dan dimonitor secara intensif
• Pengobatan komorbid dan komplikasi
• Terapi suportif lain sesuai indikasi
FARMAKOLOGIS
Apa yang harus
saya lakukan
jika saya
berkontak erat
dengan pasien
COVID-19?
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.01.07/MENKES/4641/2021
Vaksin Booster
• Beda brand
vaksin booster
tidak masalah
dan aman
• ½ dosis Moderna
dan Pfizer
terbukti memicu
respons setara
dengan
pemberian 1
dosis
CekTiketVaksinBooster?
• 6 bulan pasca
vaksinasi kedua
• Semua orang dengan
komorbid yang
dalam kondisinya
terkontrol bisa
mendapatkan
booster
 Gejala Omicron dapat berat pada kelompok Lansia, Komorbid dan individu yg belum
divaksin
 Masyarakat yang layak untuk divaksin segera menjalani vaksinasi COVID-19 lengkap
(dua dosis) atau Booster di sentra pelayanan vaksinasi terdekat
 Disiplin Menjalankan Protokol Kesehatan
 Pemerintah agar memaksimalkan aktivitas 3T, segera mengejar target cakupan
vaksinasi primer dan booster, serta memetakan dan mempersiapkan tempat-tempat
isolasi terpusat
 Setiap individu diharapkan mampu menjadi agen edukasi tentang COVID-19 terkait
varian Omicron, gejala dan keluhan, cara pencegahan, dan tata cara isolasi mandiri
 Bila sudah terkonfirmasi PCR positif, tidak perlu mempermasalahkan variannya
omicron atau bukan karena tatalaksana pengobatannya sama dan Tatalaksana isoman
nya juga sama
Take Home Message

More Related Content

Similar to FDI TALK omicron.pptx

Kebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.ppt
Kebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.pptKebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.ppt
Kebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.pptveronica235175
 
Varian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptx
Varian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptxVarian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptx
Varian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptxSigitSetiawan44
 
548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf
548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf
548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdfAdityaPrambudhi
 
Batam Update Covid.pptx
Batam Update Covid.pptxBatam Update Covid.pptx
Batam Update Covid.pptxFitriNurDini3
 
[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx
[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx
[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptxMelitaHusna2
 
3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt
3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt
3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.pptade nurmaya
 
Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptx
Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptxVarian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptx
Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptxAdityaPrambudhi
 
Covid - 19 information for medical student
Covid - 19 information for medical studentCovid - 19 information for medical student
Covid - 19 information for medical studentHafizHariNugraha
 
Surveilans potensi klb
Surveilans potensi klbSurveilans potensi klb
Surveilans potensi klbObhy Erry
 
Laporan pws penyakit potensial wabah rjl
Laporan pws penyakit potensial wabah rjlLaporan pws penyakit potensial wabah rjl
Laporan pws penyakit potensial wabah rjlHMRojali
 
Bahan ajar penyakit potensial wabah penyelidikan epidemiologi
Bahan ajar penyakit  potensial wabah  penyelidikan epidemiologiBahan ajar penyakit  potensial wabah  penyelidikan epidemiologi
Bahan ajar penyakit potensial wabah penyelidikan epidemiologiHMRojali
 
Surveilans pws penyakit potensial wabah
Surveilans pws penyakit potensial wabahSurveilans pws penyakit potensial wabah
Surveilans pws penyakit potensial wabahHMRojali
 
#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx
#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx
#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptxssuser53198f
 
Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...
Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...
Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...YanuarSuryaSP
 

Similar to FDI TALK omicron.pptx (20)

Kebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.ppt
Kebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.pptKebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.ppt
Kebijakan Pemberian Vaksinasi COVID-19 3 Jan 2021.ppt
 
Varian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptx
Varian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptxVarian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptx
Varian Omicron gejala dan bahaya pptx.pptx
 
548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf
548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf
548250087-Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx.pdf
 
Batam Update Covid.pptx
Batam Update Covid.pptxBatam Update Covid.pptx
Batam Update Covid.pptx
 
[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx
[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx
[FIX NEW] PPOK STABIL dan EKSASERBASI.pptx
 
3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt
3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt
3. Dr. Sutopo - SITUASI PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN COVID-19 DI JATENG-1.ppt
 
Intensif Covid.pptx
Intensif Covid.pptxIntensif Covid.pptx
Intensif Covid.pptx
 
Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptx
Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptxVarian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptx
Varian-Omicron-Gejala-Dan-Bahaya-Pptx-converted.pptx
 
Covid - 19 information for medical student
Covid - 19 information for medical studentCovid - 19 information for medical student
Covid - 19 information for medical student
 
Surveilans potensi klb
Surveilans potensi klbSurveilans potensi klb
Surveilans potensi klb
 
Laporan pws penyakit potensial wabah rjl
Laporan pws penyakit potensial wabah rjlLaporan pws penyakit potensial wabah rjl
Laporan pws penyakit potensial wabah rjl
 
Bahan ajar penyakit potensial wabah penyelidikan epidemiologi
Bahan ajar penyakit  potensial wabah  penyelidikan epidemiologiBahan ajar penyakit  potensial wabah  penyelidikan epidemiologi
Bahan ajar penyakit potensial wabah penyelidikan epidemiologi
 
Surveilans pws penyakit potensial wabah
Surveilans pws penyakit potensial wabahSurveilans pws penyakit potensial wabah
Surveilans pws penyakit potensial wabah
 
#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx
#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx
#17012022_Webinar Kesiapan RS dalam Menghadapi Varian Omicron.pptx
 
305458_WAYAN.pptx
305458_WAYAN.pptx305458_WAYAN.pptx
305458_WAYAN.pptx
 
Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...
Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...
Yanuar surya saputra poedjijo ipd universitas andalas-case report_pneumocysti...
 
COVID 19.pptx
COVID 19.pptxCOVID 19.pptx
COVID 19.pptx
 
Klb skd 2011
Klb skd 2011Klb skd 2011
Klb skd 2011
 
Klb skd 2011
Klb skd 2011Klb skd 2011
Klb skd 2011
 
Klb skd 2011
Klb skd 2011Klb skd 2011
Klb skd 2011
 

Recently uploaded

KIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anak
KIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anakKIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anak
KIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anakelin560994
 
PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_
PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_
PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_elin560994
 
kelompok rentan pada perempuan dan a.ppt
kelompok rentan pada perempuan dan a.pptkelompok rentan pada perempuan dan a.ppt
kelompok rentan pada perempuan dan a.pptssuser8a13d21
 
Uji Validitas dan Realibilitas SPSS dan Contoh
Uji Validitas dan Realibilitas SPSS dan ContohUji Validitas dan Realibilitas SPSS dan Contoh
Uji Validitas dan Realibilitas SPSS dan ContohARDS5
 
ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.
ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.
ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.haslinahaslina3
 
EMPIEMA yang disebabkan oleh TBC. .pptx
EMPIEMA  yang disebabkan oleh TBC. .pptxEMPIEMA  yang disebabkan oleh TBC. .pptx
EMPIEMA yang disebabkan oleh TBC. .pptxsisiliafitriapurnani
 

Recently uploaded (6)

KIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anak
KIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anakKIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anak
KIA ppt penyuluhan buku kesehatan ibu dan anak
 
PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_
PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_
PENYULUHAN_KB HORMONAL DAN NON HORMONAL_
 
kelompok rentan pada perempuan dan a.ppt
kelompok rentan pada perempuan dan a.pptkelompok rentan pada perempuan dan a.ppt
kelompok rentan pada perempuan dan a.ppt
 
Uji Validitas dan Realibilitas SPSS dan Contoh
Uji Validitas dan Realibilitas SPSS dan ContohUji Validitas dan Realibilitas SPSS dan Contoh
Uji Validitas dan Realibilitas SPSS dan Contoh
 
ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.
ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.
ASUHAN KEFARMASIAN DOSIS.ppt dosis obat.
 
EMPIEMA yang disebabkan oleh TBC. .pptx
EMPIEMA  yang disebabkan oleh TBC. .pptxEMPIEMA  yang disebabkan oleh TBC. .pptx
EMPIEMA yang disebabkan oleh TBC. .pptx
 

FDI TALK omicron.pptx

  • 1. OMICRON: APA YANG PERLU DIWASPADAI Erlina Burhan Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI – RSUP Persahabatan
  • 2. Omicron? Siapa Dia? • Salah satu varian dari virus SARS- Coronavirus-2 (B 1.1.529) yang digolongkan WHO sebagai variant of concern (memiliki dampak terhadap kesehatan masyarakat yang signifikan) • Dideteksi pertama kali di Afrika Selatan pada 14 November 2021 • Terdapat perubahan struktur genetik dari varian SARS-CoV-2 sebelumnya. Terdapat > 30 mutasi pada protein spike
  • 3. Omicron: yang perlu diperhatikan! • Grafik kenaikan kasus lebih cepat dibandingkan varian sebelumnya; fenomena superspreader • Risiko penularan 2,9x lebih tinggi dibanding varian Delta Penularan • Peningkatan risiko terinfeksi kembali hingga 5,4x dibandingkan dengan varian Delta Re-infeksi https://www.who.int/news/item/28-11-2021-update-on-omicron https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/01/25/update-omicron--total-di-indonesia-ada-1665-kasus-selasa-25-januari-2022 https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/2022-01-07-global-technical-brief-and-priority-action-on-omicron---corr2.pdf?sfvrsn=918b09d_26
  • 4. Omicron: yang perlu diperhatikan! https://www.who.int/news/item/28-11-2021-update-on-omicron https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/2022-01-07-global-technical-brief-and-priority-action-on-omicron---corr2.pdf?sfvrsn=918b09d_26 Keparahan Penyakit Data dari Afrika Selatan, UK, Kanada, dan Denmark: penurunan risiko hospitalisasi (rawat inap RS) dibandingkan Delta Risiko keparahan penyakit meningkat pada pasien dengan komorbid dan orang yang tidak divaksinasi Diagnosis dan Testing PCR atau rapid antigen masih akurat dalam mendeteksi SARS-CoV-2 Deteksi mengarah ( probable ) Omicron secara spesifik dapat menggunakan PCR dengan STGF (S gene target failure) namun untuk diagnosis pasti menggunakan whole genome sequencing
  • 5. Derajat Infeksi dan Komorbiditas Manifestasi klinis beragam: tanpa gejala hingga gagal napas yang fatal Penyakit berat berkaitan dengan komorbiditas: hipertensi, diabetes melitus, geriatri, penyakit autoimun, penyakit ginjal, gagal jantung, dan penyakit paru obstruktif kronik. Angka komorbid cukup tinggi pada penderita COVID-19 di Indonesia Penyakit kardiovaskular akut seperti cedera miokardium akut sering menyebabkan perburukan kondisi klinis di rumah sakit, peningkatan kebutuhan perawatan di ICU, dan peningkatan angka mortalitas
  • 6. COVID-19 pada Anak › Kasus terkonfirmasi pada anak (0-18 tahun) mencapai 13,3% › Peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan munculnya varian Omicron dan penerapan pembelajaran tatap muka (PTM) 100% sejak 3 Januari 2022 di beberapa wilayah › Merupakan sindrom inflamasi multiorgan pada anak, berkaitan dengan COVID-19 › Menimbulkan penyakit derajat berat › Jumlah kasus yang tinggi  risiko kejadian MIS-C lebih tinggi Kasus COVID-19 pada Anak Multisystem Inflammatory Syndrome in Children (MIS-C)
  • 7. Dr. Maria Van Kerkhove (WHO Technical Lead on COVID-19) • Omicron sangat dominan saat ini dibandingkan Delta dengan peningkatan kasus yang signifikan (lebih menular) • Lebih banyak kasus > rawat inap tinggi > dapat mengganggu sistem pelayanan kesehatan • Spektrum derajat infeksi Omicron beragam, bisa asimtomatik, ringan, perlu rawat inap, hingga kematian • Meskipun berdasarkan data awal Omicron lebih ringan, virus ini masih berbahaya terhadap populasi rentan (usia lanjut, komorbid, dan lainnya) • Masih mungkin akan ada VOC lain di masa depan bila sirkulasi virus tidak berhenti • Efek long covid ? • Selain vaksinasi, menerapkan protokol Kesehatan, kendalikan komorbid sangat penting , saling menunjang untuk menurunkan transmisi https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/media-resources/science-in-5/episode-63---omicron-variant
  • 8. Subvarian Omicron: Data Awal dari Statens Serum Institut (Denmark), 20 Januari 2022 ● Sejauh ini terdapat 3 subvariant Omicron: BA.1, BA.2, dan BA.3 ● BA.1 berkontribusi terhadap sebagian besar kasus Omicron di Dunia, namun BA.2 semakin meningkat di Denmark ● Subvarian BA.2 ditemukan pada hingga 45% kasus COVID-19 di minggu ke-2 Januari 2022 ● BA.1 dan BA.2 memiliki banyak perbedaan mutasi satu sama lain, dan di bagian yang penting. Perbedaan mutasi antar kedua subvarian ini lebih banyak daripada perbedaan mutasi antara varian awal dengan Alpha ● Perbedaan yang besar tersebut dapat berdampak pada penularan, keparahan gejala, atau manfaat vaksin. Akan tetapi, belum ada data pasti mengenai hal ini https://en.ssi.dk/news/news/2022/omicron-variant-ba2-accounts-for-almost-half-of-all-danish-omicron-cases
  • 9. WHO Update 4/2/2022 • Omicron memiliki sub-varian BA.2 • BA.2 meningkat di India dan Denmark • Memiliki kemampuan penularan dan transmisi yang lebih efisien dibandingkan Omicron yang saat ini beredar di Indonesia • COVID-19 akan terus bermutasi dan beradaptasi  maka upaya dalam menjalani protocol Kesehatan untuk mengurangi penularan sangat penting • Omicron sudah menjadi varian dominan di beberapa belahan dunia, melebihi delta • Penyebab Long Covid ??? Omicron Sub-Varian “BA.2”
  • 10. Gejala Klinis COVID-19 varian Omicron Batuk (89%), Sesak napas (16%) Demam (38%), menggigil Kelelahan/badan pegal (65%) Mual/muntah (22%), Diare (11%) Anosmia/Ageusia (8%) Hidung tersumbat atau rinore (59%) CDC COVID-19 Response Team. SARS-CoV-2 B.1.1.529 (Omicron) variant – United States, December 1-8, 2021. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2021 Dec 17;70(50):1731-4.
  • 11. Kasus Omicron di RSUP Persahabatan ( probable omicron dan omicron) • Gejala: • batuk kering : 63% • Nyeri tenggorok : 54% • Pilek: 27% • sakit kepala: 36% • Letih, nyeri otot: 60% • Nyeri perut : 5% • Deman: 18% • Komorbid: Hipertensi Diabetes Asma Kanker Paru Gagal ginjal
  • 12. Gejala klinis COVID-19 (Omicron) • Hidung tersumbat atau rinore/hidung berair  gejala yang khas pada Omicron • Nyeri tenggorok, terutama tenggorokan gatal  gejala yang khas pada Omicron • Mudah lelah  cukup sering • Sakit kepala  cukup sering • Nyeri otot  cukup sering • Batuk kering  cukup sering 1. https://www.al.com/news/2022/01/most-common-omicron-symptoms-now-1-unique-symptom-reported.html 2. https://www.npr.org/sections/health-shots/2022/01/06/1070622880/what-we-know-about-the-symptoms-and-the-severity-of-the-omicron-variant 3. https://joinzoe.com/learn/omicron-symptoms
  • 13. Studi dari HKUMed Hong Kong • Studi membandingkan nilai TCID50 di bronkus dan paru akibat infeksi varian Omicron, Delta, atau varian awal • TCID50 = median tissue culture infectious dose menandakan titer virus di jaringan • Di bronkus, varian Omicron memiliki laju infeksi dan replikasi 70 kali lebih tinggi dari varian Delta dan varian awal • Akan tetapi di paru, laju infeksi dan replikasi varian Omicron 10 kali lebih rendah dari varian awal • Hal ini mungkin berkaitan dengan infeksi varian Omicron yang lebih cepat, namun dengan keparahan penyakit yang lebih rendah • Meskipun demikian, keparahan tidak hanya ditentukan oleh replikasi virus, tetapi juga faktor lain seperti badai sitokin dan immune escape https://www.med.hku.hk/en/news/press/20211215-omicron-sars-cov-2-infection
  • 14. Penyebab Kematian Berdasarkan Umur, Vaksinasi, Tanggal Vaksin Terakhir, Komorbid dan Lama Rawat (data RS PERSAHABATAN) Gagal Kardiorespirasi (%) Syok Sepsis (%) Umur 19-60 thn 17 (68,0) 8 (32,0) > 60 thn 22 (78,6) 6 (21,4) Vaksinasi Sudah 15 (83,3) 3 (16,7) Belum 24 (68,6) 11 (31,6) Tanggal Vaksin terakhir < 6 bulan 6 (54,6) 5 (45,4) > 6 bulan 8 (61,5) 5 (38,5) Komorbid Tidak ada 1 0 HT 16 5 DM 17 7 Stroke 9 2 CAD 2 2 ARDS 10 11 Keganasan 3 1 CKD 10 4 TB 5 0 Asma/PPOK 2 0 Penyakit Hati Kronik 3 1 Lain-lain 7 1
  • 15. Pembaharuan Pedoman Edisi 4 Definisi kasus probable varian Omicron berdasarkan PCR dengan SGTF dan terkonfirmasi varian Omicron berdasarkan Whole Genome Sequencing Obat antivirus baru (molnupiravir dan nirmatrelvir/ritonavir) dan antikoagulan (rivaroksaban dan fondaparinux) Penekanan bahwa kasus COVID-19 tanpa gejala atau dengan gejala ringan cukup dengan isoman atau isoter, tidak perlu rawat inap Penatalaksanaan kasus sedang/berat/kritis dilakukan di RS Pencabutan beberapa opsi terapi tambahan: plasma konvalesen dan ivermectin (yg tidak pernah masuk sebagai obat standar) Hidroksiklorokuin, azitromisin, dan oseltamivir sudah dikeluarkan pada edisi sebelumnya Indikasi perawatan ICU dan karakteristik pasien COVID- 19 derajat kritis untuk memprediksi lebih dini potensi perburukan Beberapa jenis, dosis, dan cara pemberian vaksin baru yang efektif sebagai upaya pencegahan yang penting 1 5 3 2 4 6
  • 16. RANGKUMAN TATA LAKSANA FARMAKOLOGIS COVID-19 16 Derajat Terapi Tanpa Gejala • Vitamin C, D • Pengobatan suportif • Pengobatan komorbid dan komplikasi Ringan • Vitamin C, D • Favipiravir atau Molnupiravir atau Nirmatrelvir/Ritonavir • Pengobatan simtomatis • Pengobatan suportif • Pengobatan komorbid dan komplikasi Sedang • Vitamin C, D • Remdesivir atau alternatifnya: Favipiravir, Molnupiravir, atau Nirmatrelvir/Ritonavir • Antikoagulan LMWH/UFH berdasarkan evaluasi DPJP • Pengobatan simtomatis • Pengobatan komorbid dan komplikasi Berat atau Kritis • Vitamin C, B1, D • Remdesivir atau alternatifnya: Favipiravir, Molnupiravir, atau Nirmatrelvir/Ritonavir • Kortikosteroid • Anti IL-6 (Tocilizumab/Sarilumab) • Antibiotik (pada suspek koinfeksi bakteri) • Antikoagulan LMWH/UFH/OAC berdasarkan evaluasi DPJP • Tata laksana syok (bila terjadi) • Pengobatan komorbid dan komplikasi Isoman/Isoter Rawat Inap di RS
  • 17. Kenapa terjadi beberapa kali perubahan rekomendasi pada berbagai guideline? Modified from ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2743609/ Saat ini • Saat COVID-19 muncul, ilmu pengetahuan kedokteran sangat terbatas sehingga segala upaya untuk menyelamatkan nyawa manusia dikerahkan meskipun belum memiliki bukti yang kuat. • Target terapi potensial untuk pengobatan COVID-19 semakin banyak teridentifikasi sehingga memungkinkan adanya obat-obat baru yang akan muncul. • Hasil uji klinik yang positif belum dapat diterima secara mutlak tetapi juga harus dibandingkan dengan beberapa uji klinik lain yang serupa. • Meta-analisis dari beberapa hasil RCT yang berkualitas merupakan sumber yang paling adekuat untuk kita jadikan pegangan. • Guideline / panduan praktik klinis COVID-19 harus diupdate secara berkala mengikuti perkembangan data ilmiah terbaru.
  • 18. TATA LAKSANA COVID-19 TANPA GEJALA ISOLASI DAN PEMANTAUAN • Isolasi mandiri (isoman) atau isolasi terpusat (isoter) selama 10 hari sejak pengambilan swab diagnosis • Dilakukan pemantauan oleh tenaga kesehatan dari FKTP • Kontrol ke FKTP terdekat setelah isolasi FARMAKOLOGIS NON-FARMAKOLOGIS • Terapkan protokol kesehatan • Berjemur 10-15 menit tiap hari • Anggota keluarga yang kontak erat hendaknya memeriksakan diri 18 • Vitamin C: 3-4x500 mg, 14 hari (non acidic), 2x500 mg, 30 hari (acidic); atau multivitamin mengandung vit C 1-2 tablet/hari • Vitamin D: 1000-5000 IU/hari selama 14 hari • Pengobatan komorbid / penyakit penyerta • Obat suportif lain (fitofarmaka, OMAI, antioksidan) dapat dipertimbangkan
  • 19. ISOLASI UNTUK COVID-19 TANPA GEJALA DAN GEJALA RINGAN 19 Syarat Klinis • Usia <45 tahun; DAN • Tidak memiliki komorbid Syarat Rumah • Dapat tinggal di kamar terpisah; DAN • Ada kamar mandi di dalam rumah Isolasi mandiri dapat dilakukan jika memenuhi kedua syarat klinis dan syarat rumah Jika salah satu atau kedua syarat tidak terpenuhi  isolasi terpusat
  • 20. 20 TATA LAKSANA COVID-19 GEJALA RINGAN ISOLASI DAN PEMANTAUAN • Isolasi mandiri (isoman) atau isolasi terpusat (isoter) selama 10 hari sejak muncul gejala + 3 hari hingga bebas gejala demam dan gangguan pernapasan • Dilakukan pemantauan oleh tenaga kesehatan dari FKTP • Kontrol ke FKTP terdekat setelah isolasi • Terapkan protokol kesehatan • Berjemur 10-15 menit tiap hari • Anggota keluarga yang kontak erat hendaknya memeriksakan diri NON-FARMAKOLOGIS • Vitamin C: 3-4x500 mg, 14 hari (non acidic), 2x500 mg, 30 hari (acidic); atau multivitamin mengandung vit C 1-2 tablet/hari • Vitamin D: 1000-5000 IU/hari selama 14 hari • Antivirus: favipiravir, molnupiravir, atau nirmatrelvir/ritonavir • Pengobatan simtomatis • Pengobatan komorbid dan komplikasi • Obat suportif lain (fitofarmaka, OMAI) dapat dipertimbangkan FARMAKOLOGIS
  • 21. DOSIS ANTIVIRUS Favipiravir • Sediaan: tablet 200 mg • Durasi: 5 hari • Dosis: 2x 1600 mg (hari 1) 2x 600 mg (hari 2-5) Molnupiravir • Sediaan: kapsul 200 mg • Durasi: 5 hari • Dosis: 2x 800 mg Nirmatrelvir/ Ritonavir • Sediaan: tablet kombinasi 150 mg nirmatrelvir dan 100 mg ritonavir • Durasi: 5 hari • Dosis: 2x 300 mg (2 tab) nirmatrelvir 2x 100 mg (1 tab) ritonavir Remdesivir • Sediaan: vial 100 mg • Durasi: 5 atau 10 hari • Dosis: 1x 200 mg (hari 1) 1x 100 mg (hari 2-5 atau hari 2-10) 21
  • 22.
  • 23. TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT SEDANG 23 ISOLASI DAN PEMANTAUAN • Isolasi rawat inap di ruang isolasi COVID-19 RS rujukan atau RS Darurat COVID-19 • Istirahat total • Asupan kalori dan cairan cukup, kontrol elektrolit • Oksigen jika diperlukan • Pemantauan berkala hasil laboratorium darah perifer lengkap, hitung jenis leukosit, dan ditambah CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, dan foto toraks jika memungkinkan NON-FARMAKOLOGIS • Vitamin C: 200-400 mg/8 jam dalam NaCl 0,9% 100 cc, habis dalam 1 jam secara drip intravena • Vitamin D: 1000-5000 IU/hari • Antivirus: remdesivir IV drip (1x200 mg hari 1, dilanjutkan 1x100 mg hari 2-5 atau hari 2-10), atau alternatifnya favipiravir, molnupiravir, atau nirmatrelvir/ritonavir (dosis seperti sebelumnya) • Antikoagulan LMWH/UFH sesuai evaluasi DPJP • Pengobatan simtomatis • Pengobatan komorbid dan komplikasi FARMAKOLOGIS
  • 24. TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT BERAT ATAU KRITIS 24 ISOLASI DAN PEMANTAUAN • Perawatan isolasi di ruang ICU atau HCU RS rujukan • Pasien COVID-19 kritis perlu intervensi lebih dini dan paripurna. Indikasi perawatan intensif COVID-19: Membutuhkan terapi oksigen >4 lpm Gagal napas Sepsis Syok Disfungsi organ akut Pasien dengan risiko tinggi perburukan ARDS  Usia >65 tahun, demam >39oC, neutrofilia, limfositopenia, peningkatan penanda gagal hati dan ginjal, peningkatan CRP, PCT, dan feritin, peningkatan fungsi koagulasi (PT, fibrinogen, D dimer)
  • 25. TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT BERAT ATAU KRITIS 25 • Istirahat total • Asupan kalori dan cairan cukup, kontrol elektrolit • Pemantauan berkala hasil laboratorium darah perifer lengkap, hitung jenis leukosit, dan ditambah CRP, fungsi ginjal, fungsi hati, hemostasis, LDH, dan D-dimer jika memungkinkan • Pemeriksaan foto toraks serial jika perburukan • Monitor: frekuensi napas (≥30x/menit); SpO2 (≤93 %); PaO2/FiO2 ≤300 mmHg; peningkatan >50% keterlibatan di area paru dari radiografi toraks dalam 24-48 jam; limfopenia progresif; peningkatan CRP progresif; asidosis laktat progresif • Oksigen jika SpO2 <93% dengan udara bebas. Jenis alat dan flow disesuaikan hingga mencapai target SpO2 92-96% (pada ibu hamil >94 %) • Untuk mencegah perburukan penyakit ke gagal napas: terapi oksigen dengan HFNC atau NIV jika tidak ada perbaikan klinis dalam 1 jam atau ada perburukan klinis, pembatasan resusitasi cairan, atau awake prone position • Jika gagal napas dengan ARDS, dipertimbangkan penggunaan ventilator mekanik • Pasien COVID-19 derajat kritis dapat menerima terapi ECMO jika sudah menerima terapi ventilator dan prone position yang maksimal, dengan indikasi: 1. PaO2/FiO2 <80 mmHg selama >6 jam 2. PaO2/FiO2 <50 mmHg selama >3 jam 3. pH <7,25 + PaCO2 >60 mmHg selama >6 jam NON-FARMAKOLOGIS
  • 26. TATA LAKSANA COVID-19 DERAJAT BERAT ATAU KRITIS 26 • Vitamin C: 200-400 mg/8 jam dalam NaCl 0,9% 100 cc, habis dalam 1 jam secara drip intravena • Vitamin B1: 1 ampul/24 jam IV • Vitamin D: 1000-5000 IU/hari • Antibiotik jika ada bukti ko-infeksi • Antivirus: remdesivir IV drip (1x200 mg hari 1, dilanjutkan 1x100 mg hari 2-5 atau hari 2-10), atau alternatifnya favipiravir, molnupiravir, atau nirmatrelvir/ritonavir (dosis seperti sebelumnya) • Deksametason: 1x 6 mg selama 10 hari (atau ekivalen) • Anti IL-6: tocilizumab 1x 8 mg/kgBB dosis tunggal (max 800 mg). Satu dosis tambahan dapat diberikan jika belum ada perbaikan atau mengalami perburukan, dengan jarak antar dosis minimal 12 jam • Antikoagulan LMWH/UFH/OAC sesuai evaluasi DPJP • Jika pasien mengalami syok, berikan tata laksana sesuai pedoman yang ada: resusitasi cairan, vasopressor, atau inotropik, dan dimonitor secara intensif • Pengobatan komorbid dan komplikasi • Terapi suportif lain sesuai indikasi FARMAKOLOGIS
  • 27. Apa yang harus saya lakukan jika saya berkontak erat dengan pasien COVID-19? Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor HK.01.07/MENKES/4641/2021
  • 28. Vaksin Booster • Beda brand vaksin booster tidak masalah dan aman • ½ dosis Moderna dan Pfizer terbukti memicu respons setara dengan pemberian 1 dosis
  • 29. CekTiketVaksinBooster? • 6 bulan pasca vaksinasi kedua • Semua orang dengan komorbid yang dalam kondisinya terkontrol bisa mendapatkan booster
  • 30.  Gejala Omicron dapat berat pada kelompok Lansia, Komorbid dan individu yg belum divaksin  Masyarakat yang layak untuk divaksin segera menjalani vaksinasi COVID-19 lengkap (dua dosis) atau Booster di sentra pelayanan vaksinasi terdekat  Disiplin Menjalankan Protokol Kesehatan  Pemerintah agar memaksimalkan aktivitas 3T, segera mengejar target cakupan vaksinasi primer dan booster, serta memetakan dan mempersiapkan tempat-tempat isolasi terpusat  Setiap individu diharapkan mampu menjadi agen edukasi tentang COVID-19 terkait varian Omicron, gejala dan keluhan, cara pencegahan, dan tata cara isolasi mandiri  Bila sudah terkonfirmasi PCR positif, tidak perlu mempermasalahkan variannya omicron atau bukan karena tatalaksana pengobatannya sama dan Tatalaksana isoman nya juga sama Take Home Message