ANTIBIOTIKA
Pengertian
 Antibiotik adalah zat kimia yang dihasilkan oleh
mikroorganisme yang mempunyai kemampuan
dalam larutan encer untuk menhambat
pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme,
dan toksisitasnya tidak berbahaya bagi manusia.
Klasifikasi Antibakteri
 Penisilin : benzil penisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin,
amoksisilin.
 Sefalosporin dan antibiotik beta laktam lainnya ;
sefadroksil, sefaklor, sefotaksim
 Tetrasiklin
 Aminoglikosida; streptomisisn, gentamisin, neomisin
 Makrolida; erotromisin, linkomisin
 Kuinolon; siprofloksasin, ofloksasin
 Sulfonamida dab trimetoprim; kotrimiksazol, suldok
 Antibiotik lainnya.
Menurut Sjoekoer (2003) secara ideal
seharusnya antibiotik mempunyai sifat-sifat
sebagai berikut:
 Menghambat dan membunuh patogen tanpa
merusak hospes
 Bersifat bakterisidal dan bukan bakteriostatik
 Tidak menyebabkan resistensi pada kuman
 Berspektrum luas
 Tidak bersifat alergenik atau tidak menimbulkan efek
samping bila digunakan dalam jangka waktu yang
lama
 Tetap aktif dalam plasma, cairan tubuh atau eksudat
 Larut dalam air dan stabil
 Kadar bakterisidal di dalam tubuh cepat tercapai dan
bertahan untuk waktu lama.
Penggolongan atas dasar mekanisme
kerjanya
 Zat bakterisida, pada dosis biasa berkhasiat mematikan
kuman
1. Zat yang bekerja terhadap fase tumbuh, ex: penisilin dan
sefalosporin, polopeptida (polimiksin, basitrasin), rifampisin,
asam nalidiksat dan kuinolon.
2. Zat yang bekerja trhadap fase istirahat, ex: aminoglikosida,
nitrofurantoin, INH, kotrimoksazol.
 Zat bakteriostatik, pada dosis biasa terutama berkhasiat
menghentikan pertumbuhan dan perbanyakan kuman. Ex:
sulfonamida, kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida, linkomisin.
Mekanisme Kerja
Obat antibiotika dapat melakukan aktivitasnya
lewat beberapa mekanisme, terutama dengan
penghambatan sintesa materi terpenting dari
bakteri, antara lain:
 Dinding sel.
Sintesanya terganggu sehingga dinding menjadi
kurang sempurna dan tidak tahan terhadap
tekanan osmotis dari plasma dengan akibat
pecah
Ex: Kelompok penisilin dan sefalosporin.
Mekanisme Kerja
 Membran sel
Molekul lipoprotein dari membran plasma (di
dalam dinding sel) dikacaukan sintesanya
hingga menjadi lebih permeabel. Hasilnya, zat-
zat penting dari isi sel dapat merembes keluar.
Ex: Polipeptida dan polyen (nistatin, amfoterisin)
dan imidazol (mikonazol dan ketokonazol).
 Protein Sel.
Sintesanya terganggu, misalnya: kloramfenikol,
tetrasiklin, aminoglikosida, makrolida.
Mekanisme Kerja
 Antagonis Saingan
Obat menyaingi zat-zat penting untuk
metabolisme kuman, hingga pertukaran zatnya
terhenti.
Ex : Sulfonamida, trimetoprim, INH.
Penggolongan berdasarkan luas aktivitasnya
 Antibiotika Narrow-Spektrum (aktivitas sempit)
Obat ini terutama aktif terhadap beberapa jenis kuman
saja
Misal :
 Penisilin G dan Penisilin V, eritromisin, klindamisin,
kanamisin hanya bekerja terhadap kuman Gram –positif.
 Streptomisin, gentamisin, polimiksin-B, asam nalidiksat
khusus aktif terhadap kuman Gram-negatif.
 Antibiotika Broad Spektrum (aktivitas luas)
Bekerja terhadap lebih banyak kuman baik jenis kuman
Gram-positif maupun jenis kuman Gram-negatif.
Antara lain : Sulfonamida, ampisilin, sefalosporin,
kloramfenikol, tetrasiklin dan rifampisin
Seleksi Obat Antimikroba - Dalam prakteknya :
 Terapi empirik
 Berdasar bukti-bukti ilmiah & pengalaman, dengan
mempertimbangkan : mengutamakan obat bakterisid,
memilih obat dengan daya penetrasi baik (jaringan
tubuh, sistem saraf pusat), memilih obat dengan
frekuensi pemberian rendah (drug compliance),
mengutamakan obat dengan pengikatan protein
rendah, tidak merutinkan penggunaan
antibiotik mutakhir (misalnya sefalosporin gen-3) agar
terjamin ketersediaan antibiotik yang lebih efektif bila
dijumpai resistensi)
Terapi definitif
 mikroorganisme spesifik yang menyebabkan infeksi
aktif atau laten
 eradikasi atau penghambatan pertumbuhan bakteri
yang menjadi penyebab infeksi
 Indikasi pemberian antibiotik pada terapi definitif
adalah sesuai dengan hasil mikrobiologi yang
menjadi penyebab infeksi.
Terapi profilaksis
 Pemberian antibiotik profilaksis untuk
mencegah timbulnya infeksi
 Diberikan sebelum, saat dan hingga 24 jam
pasca operasi
 untuk mencegah terjadi infeksi luka operasi
Komplikasi Terapi AB
 Hipersensitivitas, misalnya pada pemberian
Penisilin berupa reaksi alergi ringan (gatal-gatal)
hingga syok anafilaktik.
 Toksisitas langsung, misalnya pada pemberian
Aminoglikosid berupa ototoksisitas.
 Superinfeksi, misalnya pada pemberian antibiotik
spektrum luas atau kombinasi akan menyebabkan
perubahan flora normal tubuh
sehingga pertumbuhan organisme lain seperti jamur
menjadi berlebihan dan resistensi bakteri.
Kegagalan Terapi
 Bukan etiologi infeksi (kanker, fever)
 Obat tidak berpenetrasi ke tempat infeksi
 Lama terapi tidak cukup
 Dosis terlalu rendah
 Dugaan tempat kuman tidak tepat
 Resisten, super infeksi, antagonis
 Faktor penyakit pasien (diabetik)
Toksisitas Antibiotik
 Hipersensitivitas : rash, urticaria, anaphilaksis
 Sensitifitas silang : cefalosporin vs penisilin
 Ototoksisitas : aminoglikosida, eritromisin
 Nefrotoksisitas : aminoglikosida, amfoterisin
 Hepatotoksisitas : flucloxacillin, makrolida,
tetrasiklin, sulfonamida, ketokonazol
Dosis dan Aturan Pakai
Amoxicillin
 Infeksi ringan sampai sedang. : 500 mg
secara oral setiap 12 jam atau 250 mg secara
oral setiap 8 jam selama 10-4 hari.
 Infeksi Berat : 875 mg penggunaan oral
setiap 12 jam atau 500 mg secara oral setiap
8 jam selama 10-14 hari.
Erythromycin
 Orang dewasa. 1-2 g atau 25 mg/kg setiap hari
dalam 2-4 dosis terbagi. Maksimal pemberian hingga
4 g atau 50 mg/kg setiap hari pada infeksi berat.
Dosis dapat diberikan terus menerus atau melalui
infus intermiten selama 20-60 menit setiap 6 jam.
Ganti dengan eritromisin oral setelah 2-7 hari.
 Anak-anak : 15-20 mg/kg setiap hari, terbagi setiap 6
jam. Maksimal penggunaan sebanyak 4 g setiap hari.
Dosis dan Aturan Pakai
Clindamycin
 Dewasa
150–300 mg atau 400–450 mg (jika infeksi
berat) tiap 6 jam.
 Anak
3–6 mg/kgBB tiap 6 jam.

PPT Antibiotik amoxycillin, erytromycin.ppt

  • 1.
  • 2.
    Pengertian  Antibiotik adalahzat kimia yang dihasilkan oleh mikroorganisme yang mempunyai kemampuan dalam larutan encer untuk menhambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme, dan toksisitasnya tidak berbahaya bagi manusia.
  • 3.
    Klasifikasi Antibakteri  Penisilin: benzil penisilin, fenoksimetilpenisilin, ampisilin, amoksisilin.  Sefalosporin dan antibiotik beta laktam lainnya ; sefadroksil, sefaklor, sefotaksim  Tetrasiklin  Aminoglikosida; streptomisisn, gentamisin, neomisin  Makrolida; erotromisin, linkomisin  Kuinolon; siprofloksasin, ofloksasin  Sulfonamida dab trimetoprim; kotrimiksazol, suldok  Antibiotik lainnya.
  • 4.
    Menurut Sjoekoer (2003)secara ideal seharusnya antibiotik mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:  Menghambat dan membunuh patogen tanpa merusak hospes  Bersifat bakterisidal dan bukan bakteriostatik  Tidak menyebabkan resistensi pada kuman  Berspektrum luas  Tidak bersifat alergenik atau tidak menimbulkan efek samping bila digunakan dalam jangka waktu yang lama  Tetap aktif dalam plasma, cairan tubuh atau eksudat  Larut dalam air dan stabil  Kadar bakterisidal di dalam tubuh cepat tercapai dan bertahan untuk waktu lama.
  • 5.
    Penggolongan atas dasarmekanisme kerjanya  Zat bakterisida, pada dosis biasa berkhasiat mematikan kuman 1. Zat yang bekerja terhadap fase tumbuh, ex: penisilin dan sefalosporin, polopeptida (polimiksin, basitrasin), rifampisin, asam nalidiksat dan kuinolon. 2. Zat yang bekerja trhadap fase istirahat, ex: aminoglikosida, nitrofurantoin, INH, kotrimoksazol.  Zat bakteriostatik, pada dosis biasa terutama berkhasiat menghentikan pertumbuhan dan perbanyakan kuman. Ex: sulfonamida, kloramfenikol, tetrasiklin, makrolida, linkomisin.
  • 6.
    Mekanisme Kerja Obat antibiotikadapat melakukan aktivitasnya lewat beberapa mekanisme, terutama dengan penghambatan sintesa materi terpenting dari bakteri, antara lain:  Dinding sel. Sintesanya terganggu sehingga dinding menjadi kurang sempurna dan tidak tahan terhadap tekanan osmotis dari plasma dengan akibat pecah Ex: Kelompok penisilin dan sefalosporin.
  • 7.
    Mekanisme Kerja  Membransel Molekul lipoprotein dari membran plasma (di dalam dinding sel) dikacaukan sintesanya hingga menjadi lebih permeabel. Hasilnya, zat- zat penting dari isi sel dapat merembes keluar. Ex: Polipeptida dan polyen (nistatin, amfoterisin) dan imidazol (mikonazol dan ketokonazol).  Protein Sel. Sintesanya terganggu, misalnya: kloramfenikol, tetrasiklin, aminoglikosida, makrolida.
  • 8.
    Mekanisme Kerja  AntagonisSaingan Obat menyaingi zat-zat penting untuk metabolisme kuman, hingga pertukaran zatnya terhenti. Ex : Sulfonamida, trimetoprim, INH.
  • 9.
    Penggolongan berdasarkan luasaktivitasnya  Antibiotika Narrow-Spektrum (aktivitas sempit) Obat ini terutama aktif terhadap beberapa jenis kuman saja Misal :  Penisilin G dan Penisilin V, eritromisin, klindamisin, kanamisin hanya bekerja terhadap kuman Gram –positif.  Streptomisin, gentamisin, polimiksin-B, asam nalidiksat khusus aktif terhadap kuman Gram-negatif.  Antibiotika Broad Spektrum (aktivitas luas) Bekerja terhadap lebih banyak kuman baik jenis kuman Gram-positif maupun jenis kuman Gram-negatif. Antara lain : Sulfonamida, ampisilin, sefalosporin, kloramfenikol, tetrasiklin dan rifampisin
  • 10.
    Seleksi Obat Antimikroba- Dalam prakteknya :  Terapi empirik  Berdasar bukti-bukti ilmiah & pengalaman, dengan mempertimbangkan : mengutamakan obat bakterisid, memilih obat dengan daya penetrasi baik (jaringan tubuh, sistem saraf pusat), memilih obat dengan frekuensi pemberian rendah (drug compliance), mengutamakan obat dengan pengikatan protein rendah, tidak merutinkan penggunaan antibiotik mutakhir (misalnya sefalosporin gen-3) agar terjamin ketersediaan antibiotik yang lebih efektif bila dijumpai resistensi)
  • 11.
    Terapi definitif  mikroorganismespesifik yang menyebabkan infeksi aktif atau laten  eradikasi atau penghambatan pertumbuhan bakteri yang menjadi penyebab infeksi  Indikasi pemberian antibiotik pada terapi definitif adalah sesuai dengan hasil mikrobiologi yang menjadi penyebab infeksi.
  • 12.
    Terapi profilaksis  Pemberianantibiotik profilaksis untuk mencegah timbulnya infeksi  Diberikan sebelum, saat dan hingga 24 jam pasca operasi  untuk mencegah terjadi infeksi luka operasi
  • 13.
    Komplikasi Terapi AB Hipersensitivitas, misalnya pada pemberian Penisilin berupa reaksi alergi ringan (gatal-gatal) hingga syok anafilaktik.  Toksisitas langsung, misalnya pada pemberian Aminoglikosid berupa ototoksisitas.  Superinfeksi, misalnya pada pemberian antibiotik spektrum luas atau kombinasi akan menyebabkan perubahan flora normal tubuh sehingga pertumbuhan organisme lain seperti jamur menjadi berlebihan dan resistensi bakteri.
  • 14.
    Kegagalan Terapi  Bukanetiologi infeksi (kanker, fever)  Obat tidak berpenetrasi ke tempat infeksi  Lama terapi tidak cukup  Dosis terlalu rendah  Dugaan tempat kuman tidak tepat  Resisten, super infeksi, antagonis  Faktor penyakit pasien (diabetik)
  • 15.
    Toksisitas Antibiotik  Hipersensitivitas: rash, urticaria, anaphilaksis  Sensitifitas silang : cefalosporin vs penisilin  Ototoksisitas : aminoglikosida, eritromisin  Nefrotoksisitas : aminoglikosida, amfoterisin  Hepatotoksisitas : flucloxacillin, makrolida, tetrasiklin, sulfonamida, ketokonazol
  • 16.
    Dosis dan AturanPakai Amoxicillin  Infeksi ringan sampai sedang. : 500 mg secara oral setiap 12 jam atau 250 mg secara oral setiap 8 jam selama 10-4 hari.  Infeksi Berat : 875 mg penggunaan oral setiap 12 jam atau 500 mg secara oral setiap 8 jam selama 10-14 hari.
  • 17.
    Erythromycin  Orang dewasa.1-2 g atau 25 mg/kg setiap hari dalam 2-4 dosis terbagi. Maksimal pemberian hingga 4 g atau 50 mg/kg setiap hari pada infeksi berat. Dosis dapat diberikan terus menerus atau melalui infus intermiten selama 20-60 menit setiap 6 jam. Ganti dengan eritromisin oral setelah 2-7 hari.  Anak-anak : 15-20 mg/kg setiap hari, terbagi setiap 6 jam. Maksimal penggunaan sebanyak 4 g setiap hari.
  • 18.
    Dosis dan AturanPakai Clindamycin  Dewasa 150–300 mg atau 400–450 mg (jika infeksi berat) tiap 6 jam.  Anak 3–6 mg/kgBB tiap 6 jam.