ISSN 2089-4554




                         Diterbitkan Oleh :
              Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
                        Universitas Gresik




 e- JURNAL   Vol. 1   No. I   Hlm.    Gresik            ISSN
PENDIDIKAN                    1-66     Juni -
                                     Nopember
e- JURNAL JENDELA PENDIDIKAN
           JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                                     Di Terbitkan oleh :



                                 Ketua Penyuting
                               Rektor Universitas Gresik

                                   Wakil Penyuting
                                     Dekan FKIP

                               Penyuting Pelaksana
                             Dra. Eka Sri Rahayu, M.Pd
                                 Dra. Adrijanti, M.Pd
                             Etiyasningsih, S.Pd., M.Pd
                               Sri Sundari, S.Pd.,M.Pd
                            Drs. Agus Tri Sulaksono, M.Pd

                                     Penyuting Ahli
                             Prof. Dr. H. Sukiyat.SH.,M.Si
                                Dra. Hj. Bariroh, M.Pd
                               Drs. Syaiful Khafid, M.Pd

                                 Mitra Bestari
             Prof. Dr. Marhamah, M.Pd (Universitas Islam Jakarta)
           Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (Universitas Negeri Malang)
               Prof. Dr. H. Sukiyat, SH.,M.Si (Universitas Gresik )

                                      Pelaksana
                                    Ahmad Faizin, SS

                             Alamat Penerbit/Redaksi
                            Kampus Universitas Gresik
                        Jl. Arif Rahman Hakim No. 2B Gresik
                               Telp /Fax (031) 3978628



Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Nopember . Berisi tulisan yang diangkat dari hasil
            penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang administrasi pendidikan

                                  KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah, sehingga Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik bisa hadir di kalangan
pendidikan.

Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik ( e-Journal) akan mendampingi Jurnal Jendela
Pendidikan versi cetak yang lebih dulu hadir, Jurnal Jendela Pendidikan ini berisi tentang
sejumlah artikel penelitian baik artikel bersifat empiris atau laporan penelitian maupun
artikel yang bersifat kajian teori atau artikel konseptual. Penulis artikel berasal dari kalangan
akademisi atau dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik yang
akan dipublish pada para pemangku pendidikan dan masyarakat luas khususnya para
pemerhati pendidikan. Hal ini sesuai dengan misi utama keberadaan e-Journal Pendidikan
sebagai media komunikasi dan informasi yang bersifat ilmiah.

       Kami berharap partisipasi berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, maupun
birokrasi untuk menulis dalam jurnal ini, sehingga berbagai temuan, pemikiran dan ide serta
gagasan dapat terkomunikasi dalam jurnal ini semoga terbitan pertama Jurnal Jendela
Pendidikan versi elektronik bermanfaat bagi kita semua.




                                                        Gresik, Desember 2011




                                                       Tim Redaksi




                                                                               ISSN 2089-4554
DAFTAR ARTIKEL
     SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU
         1 - 09
     Rochmanu Fauzi

    PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA
    BIDANG STUDI
    BAHASA INDONESIA DI SDN BANGSAL SURABAYA
    10 - 18
    Etiyasningsih

      PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN GAYA KOGNITIF
TERHADAP
      PEMAHAMAN UNIFLYING GEOGRAPHY
19-29
     Syaiful Khafid

    IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL FUTUHIYAH
    GENDONGKULON
    BABAT LAMONGAN
    30-38
    Sri Sundari

    PENDIDIKAN KARAKTER : WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA
        39 - 59
    Soesetijo

    PENGARUH DISIPLIN GURU TERHADAP PRESTASI SISWA DI SDN BANJARSARI
    GRESIK  60 - 78
    Etiyasningsih

    STUDI TENTANG PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH
    TERHADAP
    KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI
    SDN
    NGAGELREJO SURABAYA
    79 - 87
    Sri Sundari

      TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL)DALAM
KONTEKS
       MANAJEMEN PENDIDIKAN
88 - 106
    Soesetijo
e-Jurnal   Vol.   No.   Hlm.     Gresik      ISSN
 JENDELA      01    01    1-106     Juni -   2089-4554
PENDIDIKAN                        Nopember
Supervisi Pengajar an sebagai Pembinaan Profesio nalisme Guru




                                Oleh Rochmanu Fauzi




                                      Abstrak
supervisi pengajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan
guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari-hari yaitu mengajar. Ada tiga
pendekatan dalam supervisi pengajaran, yaitu (1) pendekatan langsung, (2) pende -
katan tidak langsung, dan (3) kolaboratif. Teknik-teknik supervisi pengajaran yang
paling bermanfaat adalah kunjungan kelas, pembicaraan individual, Diskusi
kelompok, demonstrasi mengajar, dan sebagainya. Para guru lebih menghargai
supervisor yang hangat dan menghargai guru. Dalam praktiknya supervisi penga-
jaran masih berorientasi pada aspek administratif saja. Berdasarkan uraian tersebut
disarankan para supervisor perlu ada penyegaran secara rutin, dalam pelaksanaan
supervisi pengajaran para supervisor sebaiknya menggunakan pendekatan supervisi
klinis, perlu ada pertemuan seusai supervisi yang telah dilakukan oleh Kepala
Sekolah atau Pengawas Sekolah, sebagai upaya untuk tindak lanjut setelah
pelaksanaan supervisi dilaksanakan.


Kata        kunci:       mutu         pendidikan,       supervisi       pengajaran.
Cara hidup suatu bangsa sangal erat                   paradigma yang harus ditata secara
kaitannya            dengan                 tingkat   terus    menerus       dan     berkelanjutan.
pendidikannya,           Pendidikan          bukan    Menurut         Mastuhu       (2003)       dalam
hanya            sekedar            melestaiikan      pengelolaan suatu unit pendidikan,
kebudayaan         dan     meneruskan          dari   mutu dapat dilihat dari "masukan",
generasi ke generasi. Akan tetapi juga                "proses", dan "hasil".
diharapkan akan dapat mengubah dan                            Permasalahan pendidikan yang
mengembangkan pengetahuan.                            diidentifikasi       (Depdikbud,           1983),
                                                      sampai saat ini, formulasinya tetap
         Sementara         itu,     salah      satu
                                                      sama,     yaitu     masalah       (1)     masalah
fenomena di bidang pendidikan yang
                                                      kuantitatif, (2) masalah kualitatif, (3)
banyak disoroti oleh para pemerhati,
                                                      masalah         relevansi,     (4)        masalah
cendekiawan maupun masyarakat pada
                                                      efisiensi, (5) masalah efektivitas, dan
umumnya          adalah       masalah         mutu
                                                      (6) masalah khusus.
pendidikan. Membahas masalah mutu
                                                               Uraian secara singkat masalah-
pendidikan,        sebenarnya         membahas
                                                      masalah         tersebut     adalah       sebagai
masalah yang sangat kompleks. Oleh
                                                      berikut ini.
karena      masalah        mutu       pendidikan
selalu kait-mengkait dengan indikator-
                                                      1. Masalah Kuantitatif
indikator        lainnya.          Salah       satu
                                                              Masalah          kuantitatif       adalah
instrumen yang dianggap cukup efektif
                                                      masalah yang timbul sebagai akibat
untuk meningkatkan mutu pendidikan
                                                      hubungan antara pertumbuhan sistem
adalah dengan supervisi pengajaran
                                                      pendidikan        pada     satu      pihak    dan
oleh      Kepala          Sekolah           maupun
                                                      pertumbuhan          penduduk           Indonesia
Pengawas.
                                                      pada    pihak      lain.   Untuk        mengatasi
         Untuk      itu       perlu         adanya
                                                      masalah ini perlu adanya suatu sistem
pergeseran        dari     paradigma          lama
                                                      pendidikan               nasional            yang
menuju      ke    paradigma         yang     baru.
                                                      memungkinkan setiap warga ncgara
Paradigma            baru           manajemen
                                                      Indonesia        memperoleh          pendidikan
pendidikan         tinggi,        terdiri     dari
                                                      yang     layak      sebagai       bekal      dasar
akreditasi,      akuntabilitas,         evaluasi,
                                                      kehidupannya sebagai warga negara.
otonomi dan mutu. Kelima paradigma
                                                      Dalam rangka pemerataan pendidikan
baru     pendidikan          tersebut        saling
                                                      ini,    perlu     dilaksanakan          kewajiban
terkait satu sama lain dan seyogyanya
                                                      belajar dengan segala konsekuensinya
ini    dijadikan    acuan         dalam     proses
                                                      dalam bidang pembiayaan, ketenagaan,
peningkatan mutu pendidikan. Oleh
                                                      dan peralatan.
karena itu, mutu sebagai salah satu
2. Masalah kualitatif                             perencanaan            dan            pelaksanaan
         Masalah       kualitatif       adalah    pembangunan              nasional                agar
masalah       bagaimana         peningkatan       pendidikan           merupakan               wahana
kualitas      sumber         daya     manusia     penunjang yang efektif bagi proses
Indonesia gara bangsa Indonesia dapat             pembangunan dan ketahanan nasional.
meinpertahankan eksistcnsinya. Dalam              Masalah       ini      dengan           sendirinya
masalah ini tercakup pula masalah                 mempunyai           kaitan       pula          dengan
ketinggalan     bangsa       Indonesia     dan    masalah pokok di dalam pembangunan
perkembangan modern. Ditinjau dari                nasional, seperti masalah tata nilai,
latar bclakang ini, masalah kualitas              industri.     pembangunan               pertanian,
pendidikan merupakan masalah yang                 perencanaan          tenaga           kerja,      dan
memprihatinkan           dalam          rangka    pertumbuhan wilayah.
kelangsungan         hidup     bangsa      dan
negara. Dalam sistem pendidikan ini               4. Masalah efisiensi

sendiri, masalah kualitas menyangkut                       Masalah          efisiensi              pada
                                                  hakikatnya             adalah                masalah
    banyak hal, antara lain kualitas
                                                  pengelolaan         pendidikan            nasional.
calon anak didik, guru dan tenaga
                                                  Adanya keterbalasan dana dan daya
kependidikan lainnya, prasarana, dan
                                                  manusia                       sungguh-sungguh
sarana. Penanganan aspek kualitatif ini
                                                  memerlukan              adanya                 sistem
berhubungan erat dengan penanganan
                                                  pengelolaan         efisien      dan         terpadu.
aspek kuantitatif sehingga perlu sekali
                                                  Keterpaduan pengelolaan tidak hanya
adanya keseimbangan yang dinamis
                                                  tercermin di dalam hubungan antara
dalam         proses          pengembangan
                                                  negeri dan swasta, antara pendidikan
pendidikan         nasional,          sehingga
                                                  sekolah dan pendidikan luar sekolah,
peningkatan     kualitas      tidak     sampai
                                                  antara      departemen        yang       satu     dan
menghambat         peningkatan        kuantitas
                                                  departemen       yang         lain,     di     dalam
dan sebaliknya.
                                                  lingkungan          jajaran           Departemen
3. Masalah relev ansi                             Pendidikan      Nasional        sendiri,        tetapi
         Masalah       relevansi        adalah    juga di antara semua unsur dan unit
masalah yang timbul dari hubungan                 lersebut.
antara      sistem      pendidikan         dan
                                                  5. Masalah efektifitas
pembangunan nasional serta antara
                                                           Masalah        efektifitas            adalah
kepentingan perorangan, keluarga, dan
                                                  masalah yang menyangkut keampuhan
masyarakat, baik dalam jangka pendek
                                                  pelaksanaan         pendidikan            nasional.
maupun dalam jangka panjang. Hal ini
                                                  Dalam hubungan dengan permasalahan
meminta adanya keterpaduan di dalam
                                                  keseimbangan         yang      dinamis         antara
kualitas dan kuantitas, di samping                   bermutu.        Selanjutnya,            Mastuhu
keterbalasan sumber dana dan tenaga,                 mengatakan      bahwa      mutu        (quality)
efektivitas     proses       pendidikan      amat    merupakan suatu istilah yang dinamis
penting.      Hal    ini    berkaitan      dengan    yang turus bergerak; jika bergerak
kurikulum, termasuk aspek metodologi                 maju dikatakan mutunya bertambah
dan     evaluasi,     serta      masalah     guru,   baik, sebaliknya jika bergerak mundur
pengawas, dan masukan instrumental                   dikatakan     mutunya          merosot.     Mutu
lainnya.                                             dapat      berarti      superiority          atau
                                                     excellence     yaitu     melebihi         standar
6. Masalah khusus
                                                     umum        yang      berlaku.      Sedangkan
        Di    samping         masalah-masalah
                                                     sesuatu      dikatakan         bermutu        jika
umum yang telah dibicarakan di atas,
                                                     terdapat     kecocokan         antara      syarat-
perlu      dibicarakan           pula    beberapa
                                                     syarat yang dimiliki oleh benda yang
masalah khusus sebagai berikut. Guru
                                                     dikehendaki dengan maksud dari orang
sebagai pelaksana pendidikan faktor
                                                     yang      menghendakinya         (Idrus,     dkk.,
kunci di dalam pelaksanaan sistem
                                                     2002).
pendidikan       nasional.        Masalah    guru
                                                               Dalam pengelolaan suatu unit
menyangkut           soal        pengadaan      di
                                                     pendidikan, mutu dapat dilihat dari:
lembaga-lembaga             pendidikan       guru,
                                                     "masukan",         "proses",     dan      "hasil".
pembinaan sistem karir dan prestasi
                                                     'Masukan"      meliputi:       siswa.     Tenaga
kerja, pengangkatan, pemerataan dan
                                                     pengajar, administrator, dana, sarana,
penyebaran          menurut        wilayah    dan
                                                     prasarana,      kurikulum,          buku-buku
bidang studi, pembinaan karir dan
                                                     perpustakaan, laboratorium, dan alat-
prestasi,     status,      dan    kesejahteraan.
                                                     alat    pembelajaran,      baik        perangkat
Masalah         yang          kompleks         ini
                                                     keras      maupun       perangkat          lunak.
menyangkut banyak lembaga dan unit
                                                     "Proses"       meliputi,           pengelolaan
serta koordinasi dan kerjasama antara
                                                     lembaga, pengelolaan program studi,
lembaga dan unit tersebut.
                                                     pengelolaan           program               studi.
        Esensi        dari        permasalahan-
                                                     pengelolaan          kegiatan           belajar-
permasalahan               pendidikan        pada
                                                     mengajar, interaksi akademik antara
hakekatnya adalah bermuara pada satu
                                                     civitas    akademika,      seminar         dialog,
istilah yaitu kualitas pendidikan atau
                                                     penelitian, wisata ilmiah, evaluasi dan
mutu     pendidikan.          Mastuhu      (2003)
                                                     akreditasi. Sedangkan "hasil": meliputi
mengemukakan            bahwa       kata     kunci
                                                     lulusan.             penerbitan-penerbitan,
untuk         menggambarkan                 Sistem
                                                     temuan-temuan ilmiah, dan hasil-hasil
Pendidikan Nasional yang bagaimana
                                                     kinerja lainnya.
yang     diperlukan         dalam       abad-abad
mendatang        ialah       pendidikan      yang
Ketiga unsur di atas (input,                  pendidikan       tenaga     kependidikan       di
proses, dan output) terus berproses                    perguruan        tinggi     dan      pengambil
atau berubah-ubah. Oleh karena itu,                    keputusan dituntut untuk membuka
pengelola unit pendidikan atau sekolah                 wacana           terhadap            studi-studi
perlu     menetapkan              patokan      atau    internasional.
benchmark, yaitu standar target yang
                                                       KONSEP            DASAK             SUPERVISI
harus dicapai dalam suatu periode
                                                       PENGAJARAIN DI SEKOLAH
waktu tertentu dan terus berusaha
                                                                Di     antara      masalah-masalah
melampuinya.            Seperti    dikemukakan
                                                       pendidikan       yang      sedang       mendapat
oleh     Watson         (dalam     Taroeratjeka,
                                                       pcrhatian pemerintuh salah salunya
2000) bahwa suatu upaya pencarian
                                                       adalah puningkatan mutu pendidikan
mutu      secara        terus-menerus          demi
                                                       (Benly,       IW2).     Dalam       PROPENAS
mendapatkan cara kerja yang lebih
                                                       (2002)        dijelaskan        bahwa      sampai
baik     agar    mampu       tampil      bersaing
                                                       dengan awal abad ke-21 pembangunan
melampui standar umum.
                                                       pendidikan masih menghadapi krisis
         Menurut Supriadi (2000) kita
                                                       ekonomi berbagai bidang kcliidupan.
tidak      perlu          dipusingkan          oleh
                                                       Walaupun sejak tahun 2000, ekonomi
pertanyaan-pertanyaan                    mengenai
                                                       Indonesia telah mulai tumbuh positif
validitas metodologisnya atau berusaha
                                                       (4,8   persen),       akibat      krisis   dalam
mencari excuse apabila ternyata ada
                                                       kehidupan         sosial,        politik     dan
hasil-hasil      studi    yang      tidak    sesuai
                                                       kepercayaan dikawatirkan masih akan
dengan harapan kita. Sikap optimis
                                                       memberi yang kurang menguntungkan
perlu     untuk          dikembangkan          bagi
                                                       terutama       bagi     upaya       peningkatan
pendidikan       di     Indonesia,       walaupun
                                                       kualitas SDM. Program peningkatan
hasil surveinya tidak menyenangkan
                                                       mutu      pendidikan       di    sekolah    dasar
sesuai     dengan          yang      diharapkan.
                                                       dapat dicapai manakala proses belajar
langkah selanjutnya membuat visi ke
                                                       mengajar dapat berlangsung dengan
depan untuk meningkatkan kualitas
                                                       baik. berdayaguna dan berhasil guna.
manajemen pendidikan.
                                                                Dalam mengkaji risalah mutu
         Suatu saran yang dikemukakan
                                                       pendidikan, tidak dapat lepas dari
oleh     Supriadi        dalam       menghadapi
                                                       penyelenggaraan          sistem     pendidikan.
permasalahan             rendahnya          kualitas
                                                       Dari      berbagai         faktor       penyebab
pendidikan         di      Indonesia         adalah
                                                       rendahnya mutu pendidikan, ditinjau
memiliki visi global dan kehendak
                                                       dari   aspek      manajemen          pendidikan
untuk bersaing secara internasional,
                                                       dapat dikelompokkan ke dalam tiga
maka insan pendidikan mulai para
                                                       faktor, yaitu: (a) faktor instrumental
pengajar        dan     peneliti    di    lembaga
                                                       sistem pendidikan, (b) faktor sistem
manajemen pendidikan, termasuk di                 mengemukakan tujuan supervisi yaitu
dalamnya          sistem           pembinaan      membantu          guru     dalam         hal     (1)
profesional     guru,     dan      (c)   faktor   membimbing          pengalaman              belajar
substansi       manajemen          pendidikan     sisvva,    (2)    menggunakan             sumber-
(Mantja,       1998).       Untuk        dapat    sumber      pengalaman            belajar,       (3)
melaksanakan          pembinaan       terhadap    menggunakan         metode-metode              yang
guru    agar    lebih    profesional,     maka    baru dan alat-alal pelajaran modern,
instrumen yang sangat relevan dan                 (4) memenuhi kebutuhan belajar para
tepat adalah dengan melalui supervisi             siswa, (5) menilai proses pembelajaran
pengajaran.      Oleh     karena      supervisi   dan hasil belajar siswa, (6) mcmbina
pengajaran      pada     hakikatnya      adalah   reaksi mental atau moral kerja guru-
untuk meningkatkan kemampuan dan                  guru      dalam     rangka        pertumbuhan
keterampilan              guru           dalam    pribadi    dan      jabatan        mereka,       (7)
melaksanakan tugas pokoknya sehari-               melihat    dengan        jelas    tujuan-tujuan
hari yaitu mengajar para peserta didik            pendidikan,       dan     (8)     mengguaakan
di kelas.                                         waktu     dan     tenaga         mereka      dalam
        Dari berbagai kajian mengenai             pembinaan sekolah. Tujuan supervisi
rumusan definisi mengenai supervisi,              ini pada akhirnya adalah ditujukan
Mantja (1998) menuliskan formulasi                untuk     meningkatkan           kualitas       para
tentang supervisi pengajaran adalah               siswa.      Hal          ini       sebagaimana
semua usaha yang sifatnya membantu                dikemukakan oleh Sergiovanni (1983)
guru atau melayani guru agar ia dapat             bahwa tujuan supervisi ialah (1) tujuan
memperbaiki,      mengembangkan,           dan    akhir      adalah         untuk       mencapai
bahkan meningkatkan pengajarannya,                pertumbuhan dan perkembangan para
serta dapat pula menyediakan kondisi              siswa (yang bersifat total). Dengan
belajar murid yang efek'if dan efisien            demikian         sekaligus        akan         dapat
demi pertumbuhan jabatannya untuk                 memperbaiki masyarakat, (2) tujuan
mencapai       tujuan     pendidikan       dan    kedua ialah membantu kepala sekolah
meningkatkan            mutu     pendidikan.      dalam        menyesuaikan                 program
Definisi yang dirumuskan oleh Mantja              pendidikan dari waktu ke waktu secara
ini sudah mewakili konsep supervisi               kontinyu (dalam rangka menghadapi
pengajaran.                                       tantangan        perubahan        zaman),        (3)
        Apabila dikaji dari tujuannya             tujuan     dekat         ialah     bekerjasama
supervisi      pada     hakikatnya       adalah   mengembangkan              proses           belajar
untuk       membantu           guru      untuk    mengajar yang tepat. Tujuan tersebut
meningkatkan kualitas proses belajar              ditambah dengan (4) tujuan perantara
mengajarnya.      Harsosandjojo          (1999)   ialah membina guru-guru agar dapat
mendidik para siswa dengan baik, atau                      GBHN. Sedangkan tujuan institusional
menegakkan          disiplin          kerja      secara    dapat dilihat di dalam kurikulum yang
manusiawi.                                                 memuat       landasan,        program         dan
         Dalam kaitannya dengan tugas-                     pengembangan.
tugas supervisor, secara lebih khusus                               Tujuan          umum         supervisi
Nurtain (1989) membagi 10 (sepuluh)                        pendidikan,         adalah          membantu
bidang tugas supervisor yang dirinci                       memperbaiki        dan      mengembangkan
sebagai          berikut              ini.       Tugas     administrasi pendidikan. Administrasi
I , pengembangan kurikulum. Tugas 2,                       yang dimaksud adalah meliputi baik
pengorganisasian pengajaran. Tujuan                        administrasi         sebagai         substansi
3,      pengadaan             staf.        Tugas     4,    maupun administrasi sebagai proses.
penyediaan          fasilitas.           Tugas        5,            Administrasi sebagai substansi
pcnycdiaan        bahan-bahan.               Tugas   6,    meliputi hal-hal sebagai berikut: (1)
penyusunan          penataran              pendidikan.     administrasi             kesiswaan,            (2)
Tugas 7, pemberian orientasi anggota-                      administrasi             ketenagaan,           (3)
anggota     staf.       Tugas         8,      berkaitan    administrasi             kurikulum,            (4)
dengan      pelayanan            murid          khusus.    administrasi             keuangan,             (5)
Tugas      9,    pengembangan                 hubungan     administrasi sarana/prasarana, dan (6)
masyarakat. Dan yang terakhir tugas                        administrasi       hubungan         masyarakat.
10, penilaian pengajaran.                                  Sedangkan administrasi sebagai proses
         Mengkaji tugas-tugas supervisi                    meliputi hal-hal terkait dengan unsur-
pengajaran        tersebut        di atas, dapat           unsur     manajemen,        antara     lain    (1)
ditelaah         dari         tujuan          supervisi    kegiatan perencanaan (planning), (2)
pengajaran itu sendiri. Sesuai dengan                      kegiatan                    pengorganisasian
fungsi          pokok          supervisi,          yaitu   (organizing), (3) kegiatan pengarahan
memperbaiki             dan      mengembangkan             (actuating)       yang    meliputi     kegiatan
situasi belajar mengajar dalam rangka                      pengarahan (directing) dan kegiatan
mencapai tujuan pendidikan nasional,                       pengkoordinasian (coordinating), dan
maka      tujuan        supervisi            pendidikan    (4) kegiatan pengawasan (controlling).
mencakup tujuan dasar, tujuan umum                                  Berdasarkan uraian tersebut di
dan tujuan khusus.                                         atas, dapat dikemukakan bahwa untuk
         Tujuan           dasar               supervisi    meningkatkan             kualitas       belajar
pendidikan,              adalah              membantu      mengajar, guru adalah faktor sentral
tercapainya tujuan pendidikan nasional                     yang     perlu    mendapatkan         perhatian
dan tujuan pendidikan institusional.                       secara      optimal.         Media        untuk
Tujuan     pendidikan            nasional        secara    meningkatkan        profesionalisme           guru
rinci    dan     jelas    dirumuskan             dalam     adalah melalui supervisi pengajaran.
Supervisi pengajaran pada hakikatnya                  suatu       kegiatan     pelajaran         yang
adalah ditujukan untuk meningkatkan                   disediakan untuk membantu para guru
kualitas pembelajaran yang dilakukan                  menjalankan pekerjaan mereka dengan
oleh guru di kelas, sehingga tujuan                   lebih baik. Peranan supervisor adalah
akhirnya adalah kualitas hash belajar                 mendukung, membantu, dan membagi,
siswa      dapat      ditingkatkan           secara   bukan       menyuruh.          Wiles      (1982)
optimal.                                              selanjutnya       mengatakan              bahwa
                                                      supervisi      yang      baik      hendaknya

SUPERVISI PENGAJARAN                                  mengembangkan           kepemimpinan          di

          Dalam     pemakaiannya             secara   dalam kelompok, membangun program

umum       supervisi      diberi     arti     sama    latihan      dalam        jabatan         untuk

dengan      director,     manager.           Dalam    meningkatkan keterampilan guru, dan

bahasa umum ini ada kecenderungan                     membantu          guru          meningkatkan

untuk membatasi pemakaian istilah                     kemampuannya dalam menilai hasil

supervisor kepada orang-orang yang                    pekerjaannya.

berada dalam kedudukan yang lebih
bawah dalam hicrarkhi manajemen.                      SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI
          Dalam         sistem            sekolah,    PEMBINAAN PROFESIONAL GURU
khususnya dalam sistem sckolah yang                           Memperhatikan           penting     dan
ialah berkembang, situasinya agak lain.               peranannya      pendidikan        dasar     dan
Dalam        Good         (1976)          supervisi   menengah yang demikian besar, maka
didefinisikan sebagai segala usaha dari               pendidikan dasar dan menengah harus
para pejabat sekolah yang diangkat                    dipersiapkan dengan sebaik-baiknya.
yang      diarahkan     kepada      penyediaan        Oleh karena itu, pembinaan terhadap
kepemimpinan bagi para guru dan                       para guru di sekolah dasar merupakan
tenaga      kependidikan           lain      dalam    suatu     kebutuhan     yang     tidak    dapat
perbaikan           pengajaran,             melihat   ditunda-tunda          lagi.       Pembinaan
stimulasi     pertumbuhan           professional      terhadap guru sekolah dasar, terutama
dan perkembangan dari para guru,                      diarahkan     pada     pembinaan          proses
seleksi     dan       revisi     tujuan-tujuan        belajar mengajar. Pembinaan proses
peudidikan,       bahan     pengajaran,        dan    belajar      mengajar      adalah         usaha
metoda-metoda mengajar, dan evaluasi                  memberi bantuan pada guru untuk
pengajaran.                                           memperluas                      pengetahuan,
Wiles      (1982)      menjelaskan           bahwa    meningkatkan keterampilan mengajar
supervisi     sebagai       bantuan          dalam    dan menumbuhkan sikap profesional,
pengembangan              situasi          belajar-   schingga guru menjadi lebih ahli dalam
mengajar yang lebih baik; ia adalah                   mengelola KBM untuk membclajarkan
anak didik dalam rangka mencapai                         mengelo la kelas sehingga tercipt a
tujuan     pembelajaran             dan       tujuan     lingkungan               belajar               yang
pendidikan          di     SD        (Depdikbud,         menyenangkan, dan (8) menyusun
1999/2000).                                              dan     mengelola        catatan       kemajuan
         Supervisi pendidikan di sekolah                 anak (record keeping) (Depdikbud,
dasar       lebih         diarahkan              untuk   1999/2000).
meningkatkan             kemampuan                guru           Menurut           Mantja           (1990)
sekolah        dasar         dalam           rangka      supervisi              atau        pembinaan
peningkatan kualitas               proses    belajar     profesional       adalah        bantuan        atau
mengajar.       Supervisi            ini         dapat   layanan      yang        dib erikan       kepada
dilakukan oleh siapa saja, baik Kepala                   guru,     agar    ia    belajar        b agaimana
Sekolah     maupun         Pengawas         Sekolah      mengembangkan                  kemampuannya
yang      bertugas        sebagai         supervisor     untuk meningkatkan proses belajar -
melalui     pemberian           bantuan           yang   mengajar di kelas. Supervisor at au
bercorak     pelayanan        dan         bimbingan      pembina, yaitu Pengawas S ekolah,
profesional,        sehingga         guru        dapat   Kepala Seko lah, atau semua pejaba t
melaksanakan tugasnya dalam proses                       yang      terlibat         dalam         layanan
belajar mengajar dengan lebih baik                       supervisi, adalah pihak yang selama
dari prestasi sebelumnya.                                ini    dipandang        berwewenang,            dan
Supervisi      pendidikan            di     seko lah     karena     itu    pula        dianggap        paling
pada      hakekatnya          adalah         dalam       bertanggung jawab dalam kegiatan
rangka pembinaan terh adap para                          supervisi.
guru.            Adapun                     sasaran              Kilas      balik        kaji     historis
pembinaannya,             ant ara         lain     (1)   supervisi p engajaran, pada awalnya
merencanakan              kegiatan          belajar      istilah    yang     dimunculk an           adalah
mengajar       s esuai      dengan          strategi     supervisi        pendidikan        (Kurikulum
belajar      aktif,         ( 2)      mengelola          1975). Kemudian. p ada Kurikulum
kegiatan     belajar        menga jar            yang    1984 dan 1994 digunakan istilah
menant ang          dan       menarik,             (3)   pembinaan         profesio nal         guiu    at au
menilai kemajuan anak belajar, (4)                       pembinaan         guru         untuk      jenjang
memberikan           umpan          balik        yang    sekolah dasar. Walaupun demikian
bermakna,           (5)         memanfaatkan             istilah sup ervisi pendidikan dalam
lingkungan       seb agai          sumber         dan    Kurikulum SMU 1994 ma sih t etap
media pengajaran, (6) membimbing                         digunakan. Dengan demikian dapat
dan melayani siswa yang mengalami                        disimpulkan             bah wa           kegiat an
kesulitan      b elajar,      terutama           bagi    supervisi         p endidikan            maupun
anak lamb an dan anak pandai, ( 7)                       pembinaan profesional merup akan
nama      layanan          yang    digunakan          BEBERAPA       PENDEKATAN                 DALAM
secara    b ergantian         dalam      praktik      SUPERVISI PENDIDIKAN
pendidikan pada s ekolah -s eko lah di                        Secara garis besar ada tiga
Indones ia.                                           pendekatan           dalam            supervisi
         Dengan        demikian            dapa t     pendidikan,        yaitu    (1)    pendekatan
dikemukakan            bah wa         sup ervisi      langsung     (directive approach), (2)
(pembinaan         profes ional         guru      )   pendekatan         tidak    langsung        (non
dimaksudkan untuk meningkatkan                        directive     approach),            dan      (3)
kemampuan dan ket erampilan guru                      pendekatan                          kolaboratif
dalam           melaks anakan              tugas      (collaborative approach). Pendekatan
pokoknya           s ehari -hari           yaitu      langsung adalah seb uah pendekatan
mengelo la proses belajar -mengajar                   supervisi,    di    mana      dalam       up aya
dengan s egala asp ek pendukungnya                    peningkatan          kemampuan              guru
sehingga      berjalan          dengan      b aik     peran       kepala         sekol ah       dasar,
khususnya dalam kegiat an belajar                     pengawas      TK/SD,         dan      pembina
mengajar,           sehingga              tujuan      lainnya lebih b esar dari pada peran
pendidikan        dasar       dapat     t ercap ai    guru          yang            bersangkutan.
secara optimal.                                       Pendekatan tidak langsung adalah
         Pada     h akikat nya          kegiatan      sebuah      pendekatan        supervisi,      di
pembinaan menyangkut dua b elah                       mana     dalam       upaya        peningkat an
pihak yaitu pihak yang dilayani atau                  kemampuan          guru      peran        kepala
pihak yang dibina dan pih ak yang                     sekolah,     pengawas         TK/SD,        dan
melayani        atau       yang       membina         Pembina       lainnya             lebih    kecil
(Ekosusilo, 2003). Baik yang dibina                   daripada       peran           guru         yang
maupun p embina harus sama -sama                      bersangkutan.                      Pendekatan
memiliki           kemampuan                yang      kolaboratif           adalah              sebuah
berkemb ang        s ecar a    serasi     sesuai      pendekatan         sup ervisi,       di    mana
dengan      kedudukan             dan      p eran     dalam         upaya                peningkatan
masing -masing.         Oleh      sebab        itu,   kemampuan          guru      peran        kepala
sasaran pembinaan profesional ini                     sekolah,     pengawas         TK/SD,        dan
adalah kedua belah p ihak yaitu guru                  pembina      lainnya        sama      besarnya
sebagai    pihak       yang       dibina     dan      dengan        p eran          guru          yang
kepala     sekolah         atau       pengawas        bersangkutan.
sekolah         s ebagai       pihak        yang              Penggunaan                 pendekat an
membina.                                              tersebut     disesuaikan          dengan    dua
                                                      karakteristik guru yang akan dib eri
                                                      supervisi,    yaitu    tingkat        abstraks i
guru (level of teacher abstraction)             supervisi      pendidikan           yang    lazim
dan tingkat komitmen guru (level of             digunakan          dalam            pelaksanaan
teacher commitment). Daya abstraksi             supervisi pengajaran. Ada ters edia
guru bisa tinggi, s edang, dan bisa             sejumlah       teknik       supervisi        yang
juga rendah. Demikian pula dengan               dipandang            b ermanlaat            untuk
komitmen guru bisa tinggi, sedang,              merangsang           dan         mengarahkan
dan rendah. Pendekatan supervisi                perhatian          guru -guru          terhadap
yang digunakan har us disesuaikan               kurikulum dan pengajaran, untuk
dengan      tinggi -r endahnya          daya    mengidentifikasi           masalah -mas alah
abstraksi dan komit men guru yang               yang b ertalian dengan mengajar dan
disupervisi.                                    belajar,     dan     untuk        menganalisis
1. Guru     yang          memil iki     daya    kondisi -kondisi          yang      mengelilingi
   abstraksi     dan      komitmm       yang    mengajar dan belajar. Yang b erikut
   rendah      sebaiknya        disupervisi     ini     pada       umumnya            dipandang
   dengan pendekat an langsung.                 teknik yang paling bermanfaat bagi
2. Guru     yang          memiliki      daya    supervisi.
   abstraksi     yang      r endah,    tetapi
   komitmennya tinggi, seb aiknya               1. Kunjungan kolas.
   disupervisi     dengan      pendekatan                Kunjungan           kelas         (sering
   kolaboiat if.                                disebut kunjungan supervisi) yang
3. Guru     yang          memiliki      daya    dilakukan       kep ala       sekolah       (at au
   abstraksi       yang     tinggi     tetapi   pengawas/penilik)             adalah       teknik
   komitmennya r endah, sebaiknya               paling     efektif        untuk      mengamati
   disupervisi     dengan      pendekatan       guru     bekerja,     alat,      metode,      dan
   kolaboratif.                                 teknik      mengajar          tertentu       yang
4. Guru     yang          memiliki      daya    dipakainya, dan untuk mem -pelajari
   abstraksi     dan      komitmen      yang    situasi belajar secara keseluruhan
   tinggi      s ebaiknya       disupervisi     dengan         memperh atikan              s emua
   dengan          pendekat an          tidak   faktor         yang           mempengaruhi
   langsung (Bafadal, 2003).                    pertumbuhan               murid.           Dengan
                                                menggunakan                h asil       anali sis
                                                observasinya,        ia    bersama         dengan
TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI
                                                guru       dapat          menyusun          suatu
      Bagaimana           Kepala      Sekolah
                                                program         yang          baik          untuk
dalam mensup ervisi para guru ?.
                                                memperbaiki                ko ndisi          yang
Dalam kont eks ini, maka Kepala
                                                melingkari         mengajar -belajar           di
Sekolah     p erlu        mengenal       dan
                                                kelas      tertentu.          Sudan         tentu,
memprakt ekkan               teknik -teknik
kunjungan          kelas,     agar      efektif,    kelompok) dimaksud sualu kegiatan
hendaknya          dipersiapkan         dengan      dimana sekelompok orang berkumpul
teliti    dan      dilaks anakan        dengan      dalam      situasi    bcrlatap        muka    dan
sangat berhati -hati dengan disertai                melalui      interaksi        lisan     bertukar
budi bahasa yang baik pula.                         informasi       atau      berusaha           untuk
Pada      umumnya           kunjungan       kelas   mencapai      suatu     keputusan        tentang
hendaknya diikuti oleh pembicaraan                  masalah-masalah          bersama.       Kegiatan
individual      antara       kepada     sekolah     diskusi ini dapal mengambil beberapa
dengan guru.                                        bentuk      pertemuan         staf     pengajar,
                                                    seperti:     diskusi      panel,        seminar,
2. Pembicaraan individual                           lokakarya, konperensi, kelompok studi,
         Pembicaraan                  individual    pekerjaan komisi, dan kegiatan lain
merupakan        teknik      supervisi      yang    yang bertujuan untuk bersama-sama
sangat    penting      karena     kesempatan        membicarakan dan menilai masalah-
yang diciptakannya bagi kepala sekolah              masalah      tentang      pendidikan          dan
(pengawas/penilik)           untuk       bekerja    pengajaran.           Pertemuan-pertemuan
secara      individual        dengan        guru    serupa ini dipadang suatu kegiatan
sehubungan dengan masalah-masalah                   yang begitu penting dalam program
profesional         pribadinya.       Masalah-      supervisi     modern,         sehingga        guru
masalah      yang     mungkin     dipecahkan        sebenarnya       hidup        dalam      suasana
melalui pembicaraan individual bisa                 pelbagai jenis pertemuan kelompok.
macam-macam: masalah-masalah yang
bertalian    dengan       mengajar,      dengan     4. Demonstrasi mengajar
kebutuhan yang dirasakan oleh guru,                         Demonstrasi                    mengajar
dengan pilihan dan pemakaian alat                   merupakan teknik yang berharga pula.
pengajaran, teknik dan prosedur, atau               Rencana       demonstrasi         yang       telah
bahkan masalah-masalah               yang   oleh    disusun dengan teliti dan dicetak lebih
kepala sekolah dipandang perlu untuk                dulu, dengan menekankan pada hal-hal
dimintakan pendapat guru. Apapun                    yang dianggap penting atau pada nilai
yang dijadikan pokok pembicaraan, ia                teknik mengajar
mewakili teknik yang sangat baik untuk              tertentu,     akan      sangat        membantu.
membantu guru mengembangkan arah                    Pembicaraan sehabis demonstrasi bisa
diri dan tumbuh dalam pekerjaan.                    menjelaskan          banyak     aspek.       Suatu
                                                    analisis observasi adalah perlu.
3. Diskusi Kclompok
         Dengan diskusi kelompok (atau
                                                    5. Kunjungan kelas antar guru
sering      pula      disebut        pertemuan
Sejumlah studi telah mengungkapkan                    berisi       pengumuman-pengumuman,
bahwa kunjungan kelas yang dilakukan                  ikhtisar tentang penelitian-penelitian,
guru-guru di antara mereka sendiri                    analisis presentasi dalam pertemuan-
adalah efektif dan disukai. Kunjungan                 pertemuan organisasi professional, dan
ini      biasanya      direncanakan           atas    perkembangan dalam berbagai bidang
permintaan guru-guru. Teknik ini akan                 studi.
lebih efektif lagi jika tiap observasi
diikuti     oleh      suatu     analisis      yang
berhati-hati.                                         7. Perpustakaan Profesional
                                                               Perpustakaan               professional
6. Pengembangan kurikulum                             sekolah merupakan sumber informasi
          Perencanaan penyesuaian dan                 yang       sangat     membantu              kepada
pengembangan                           kurikulum      peitumbuhan         professional           personil
menyediakan kesempatan yang sangat                    pengajar     di     sekolah.     Perpustakaan
baik bagi partisipasi guru. Pentingnya                professional menyediakan tidak saja
relevansi kurikulum dengan kebutuhan                  suatu sumber informasi, tapi ia juga
murid        dan        masyarakat            bagi    suatu      rangsangan        bagi       kepuasan
pemeliharaan dan peningkatan kualitas                 pribadi. Buku-buku tentang pandangan
pendidikan      di     negara     kita      diakui.   professional, bacaan suplementer yang
Tetapi     dalam      prakteknya,        sekolah-     lebih baru, dan majalah professional
sekolah secara individual tidak banyak                yang banyak jumlah-nya itu hendaknya
melakukan usaha untuk menyesuaikan                    tersedia     bagi     semua       guru.       Juga
dan        mengembangkan               kurikulum      sumbangan-sumbangan                 dari      guru
standar itu dengan kebutuhan murid                    dapat menjadi bagian dari "gudang"
dan       masyarakat          terus      berubah.     informasi ini.
Terserah kepada kepala sekolah untuk
menciptakan perhatian dan keinginan                   8. Lokakarya
bagi     pekerjaan     penting        dan    terus-            Lokakarya               menyediakan
menerus        itu.      Penyesuaian           dan    kesempatan untuk Kerjasama, untuk
pengembangan kurikulum dilakukan di                   memperteukan             ide-ide,            untuk
sekolah       dengan          mengembangkan           mendiskusikan                masalah-masalah
materi muatan lokal. Muatan lokal ini                 bersama      alau     khuais,       dan      untuk
sesuai     dengan      potensi        lingkungan      pertumbuhan pribadi dan professional
sekitar sekolah.                                      dalam      berbagai    bidang       studi.     Ada
                                                      banyak     jenis    lokakarya       itu.    Dalam
6. Buletin supervisi
                                                      lokakarya seni, barangkali sebagian
          Buletin     supervisi       merupakan
                                                      bcsar      waktu      akan      diisi      dengan
alat komunikasi yang efektif. Ia bisa
partisipasi            sungguh             dengan     adalah    seperti:    (1) laporan         kepada
mempelajari keterampilan dan teknik-                  orang tua murid, (2) majalah sekolah,
teknik kegiatan scni. Dalam lokakarya                 (3) surat kabar sekolah, (4) pameran
matematika        lebih     banyak         tckanan    sekolah, (5) open house, (6) kunjungan
mungkin            diberikan               kepada     ke sekolah, (7) kunjungan ke rumah
menganalisis dan memilih pengalaman                   murid, (8) melalui penjelasan yang
belajar yang sesuai, menemukan bahan                  diberikan oleh perso nil sekolah, (9)
teknologi       pengajaran        dan     metode-     gambaran keadaan sekolah melalui
metode presentasi ini, dan menilai                    murid-murid,         (10)     melalui      radio
program-program baru.                                 dan televisi, (11) laporan tahunan,
                                                      (12) organisasi perkumpulan alumni
9. Survey sekolah-masyarakat                          sekolah,     (13)      melalui        kegiatan
         Suatu studi yang komprehensif                ekstra      kurikulum,             dan      (14)
tentang masyarakat akan membantu                      pendekatan secara akrab.
guru      dan     kepala     sekolah         untuk
memahami dengan lebih jelas program
                                                      RESPON          DAN          SIKAP        GURU
sekolah         yang      akan          memenuhi
                                                      TERHADAP                            SUPERVISI
kebutuhan dan kepentingan murid.
                                                      PENGAJARAN
         Sebenarnya        ada    teknik-teknik
                                                               Kajian    tentang        sikap    guru
lain, tetapi yang diterapkan di atas
                                                      terhadap           supervisi           menjadi
dengan singkat adalah teknik-teknik
                                                      perhatian Neagley & Evans (dalam
yang      dalam        sejumlah          penelitian
                                                      Mantja,     1998)          dengan     merujuk
dipandang          telah          menunjukkan
                                                      sejumlah hasil penelitian beb erapa
manfaatnya        bagi     supervisi.       Untuk
                                                      pakar        supervisi             pengajaran.
pembahasan         yang          lebih      terurai
                                                      Temuan-temuan              yang    dilaporkan,
pembaca disarankan untuk membaca
                                                      antara     lain      (1)     supervisi     yang
sumber-sumber lain.
                                                      efektif     harus          di dasarkan      atas
         Pada hakekatnya tidak ada satu
                                                      prinsip-prinsip yang sesuai dengan
teknik tunggal yang bisa memenuhi
                                                      perubahan         sosial     dan      dinamika
segala kebutuhan; dan bahwa sualu
                                                      kelompok,            (2)       para        guru
teknik tidaklah baik alau buruk pada
                                                      mengh endaki sup ervisi dari kepala
umumnya, melainkan dalam kondisi
                                                      sekolah,          seb agaimana             yang
tertentu. Masalah yang utama adalah
                                                      seharusnya dikerjakan oleh tenaga
menetapkan         kebutuhan.            Beberapa
                                                      personel            yang            berjabat an
teknik      hubungan        antara         sekolah
                                                      supervisor, (3) kepala sekolah tid ak
dengan masyarakat yang diperkenalkan
                                                      melakukan sup ervisi dengan baik,
oleh     Sahertian     (1989)      antara      lain
                                                      (4)     semua       guru       membutuhkan
supervisi dan mengharapkan untuk                      Krisis     Menuju         Pembaruan,       yang
disupervisi,       (5)    para      guru     lebih    diikuti para pakar yang kompclen.
menghargai          dan       menilai       secara    Salali      satu         rekomendasi        dari
positif     perilaku          s upervisi      yang    konferensi        ini,     khusu'snya      yang
"hangat",          s aling        mempercayai,        berkaitan langsung dengan masalah
bersahabat, dan menghargai guru,                      supervisi dikemukakan sebagai berikut
(6) supervisi dianggap bermanfaat                     ini.
bila    direncanakan            dengan       baik,             Rekomendasi 23
supervisor          menunjukkan               sifat            Fungsi-fungsi pengawasan pada
membantu dan menyediakan model -                               semua          jenjang     pendidikan
model pengajaran yang efektif, (7)                             dioptimalkan        seba-gai     sarana
supervisor memberikan peran serta                              untuk            memacu           mutu
yang      cukup      tinggi       kep ada     guru             pendidikan.                Pengawasan
untuk       p engambilan             keputusan                 dimaksud                        dengan
dalam      wawancar a          supervisi,      (8)             mengutamakan               aspek-aspek
supervisor                     mengutamakan                    akademik daripada administratif
pengembangan                      ket er ampilan               sebagaimana berlaku selama ini
hubungan       ins ani,       seperti       h alnya            (Jalal & Supriadi, 2001).
dengan ket erampilan teknis dan (9)                            Keefektifan penerapan orientasi
supervisor seharus nya menciptakan                    dan pendekptan supervisi di atas, tidak
iklim organis asional yang t erbuka,                  hanya tergangung pada supervisor saja,
yang      memungkinkan             pemantapan         melainkan        juga    sangat     dipengaruhi
hubungan yang s aling menunjang                       oleh persepsi, respon, dan sikap guru
(supportive).                                         terhadap orientasi dan supervisi yang
         Dalam      praktiknya        supervisi       dilakukan oleh supervisor. Penelitian
pengajaran           yang         dilaks anakan       mengenai         sikap       guru       terhadap
selama       ini         mas ih      cenderung        supervisi dikemukakan oleh Ekosusilo
berorient asi        pada         administratif       (2003) bahwa guru tidak terlalu positif
saja. Walaupun sudah dirumuskan                       terhadap     supervisi       yang     dilakukan
dalam      kegiat an         supervisi      bahwa     supervisor. Selanjutnya dikemukakan
aspek      yang       disupervisi           adalah    oleh      Ekosusilo        dalam       simpulan
administr atif dan e dukatif, namun                   penelitiannya bahwa supervisi yang
pada         kenyat aannya                  masih     dilakukan supervisor dianggap biasa-
cenderung         lebih      dominan         aspek    biasa saja dan monoton itu-itu saja,
administr atif. Feno mena ini dikaji                  bahkan     nampak         diacuhkan.     Namun
secara     khusus        dalam      Konferensi        guru     tidak     menampakkan          ketidak-
Pendidikan di Indo nesia: Mengatasi                   setujuannya di hadapan supervisor,
karena dilandasi rasa hormat sekaligus               nampaknya                 mempunyai            kadar
tidak    ingin       menimbulkan        konflik.     transferabilitas          yang     cukup       tinggi,
Penelitian       yang    dilakukan      Mantja       karena      kendala-kendala             di    jenjang
(1989)    juga       menyimpulkan           bahwa    pendidikan            dasar       berkisar      pada
respon     dan       sikap   guru     terhadap       permasalahan-permasalahan                     temuan
supervisi ditentukan oleh kemanfaatan,               tersebut       di      atas.     Isvanto       (1999)
data     pengamatan          yang      obyektif,     mengemukakan bahwa permasalahan
kesempatan           menanggapi        balikan,      pendidikan,           antara        lain      adalah
perhatian supervisor terhadap gagasan                manajemen sekolah yang tidak efektif,
guru.    Supervisi      yang     teratur      dan    dan kemampuan manajemen kepala
hubungan         yang     diciptakan        dapal    sekolah        pada        umumnya            rendah
mengurangi         ketegangan        emosional       terutama         di     sekolah      negeri      dan
guru. Guru lebih menyukai pendekatan                 pembinaan karier dan kesejahteraan
supervisi kolaboratif atau non direktif.             guru yang tidak konsisten.
                                                               Mengkaji            perihal        kendala-
                                                     kendala dalam pelaksanaan supervisi,
KENDALA-KENDALA PELAKSANAAN
                                                     temuan        Ekosusilo         (2003)       menarik
SUPERVISI PENGAJARAN
                                                     untuk dikemukakan di sink Temuan
         Dalam               pelaksanaannya,
                                                     penelitian             Ekosusilo              tentang
supervisi pengajaran di sekolah banyak
                                                     pelaksanaan supervisi antara lain: (1)
menghadapi kendala. Mantja (1990)
                                                     supervisor tidak mengkomunikasikan
dalam temuan disertasinya meuyalakan
                                                     rencana/program supervisinya kepada
bahwa kendala-kendala yang kurang
                                                     para guru sebagai subyek supervisi, (2)
menunjang          keefektifan        supervisi,
                                                     fokus supervisi hanya terarah pada
antara lain: sikap personil sekolah
                                                     aspek administrasi, kurang menyentuh
yang kurang positif terhadap supervisi
                                                     pada pengembangan kemampuan guru
pengelola teknis edukatif; kurangnya
                                                     dalam         mengelola          proses       belajar
keterampilan supervisi kepala sekolah;
                                                     mengajar,           (3)        supervisor       tidak
pengendalian         emosional       supervisor
                                                     melaksanakan kunjungan kelas secara
dalam menerima respons guru; kepala
                                                     serius,    (4)      supervisor      mendominasi
sekolah yang karena kurangnya tenaga
                                                     pembicaraan dan berjalan satu arah,
guru     haras     memegang         kelas    atau
                                                     (5) tidak ada penilaian umpan balik,
bidang       studi      tertentu,     sehingga
                                                     dan     (6)      supervisor        tidak      pernah
supervisi menjadi kurang efektif; dan
                                                     meminta pada guru untuk meminta
adanya           guru        yang       tingkat
                                                     pada       guru           untuk         memberikan
pendidikannya lebih tinggi dari kepala
                                                     komentar maupun penilaian terhadap
sekolahnya.        Temuan        Mantja       ini,
                                                     supervisi      yang        telah    dilaksanakan.
Kendala-kendala             inilah          yang    di kelas; (3) supervisor atau pembina,
mengakibatkan       supervisi          pengajaran   yaitu      Pengawas        Sekolah,        Kepala
yang     dilaksanakan       oleh        Pengawas    Sekolah,     atau    semua       pejabat    yang
Sekolah di sekolah dasar tidak dapat                terlibat     dalam       layanan      supervisi,
optimal,      sehingga       tujuan        pokok    adalah pihak yang dianggap paling
pelaksanaan             supervisi          untuk    bertanggung       jawab     dalam      kegiatan
meningkatkan kualitas kegiatan belajar              supervisi; (4)       ada tiga pendekatan
mengajar tidak dapat tercapai. Temuan               dalam supervisi pengajaran, yaitu (a)
Ekosusilo     (2003)       ini     memberikan       pendekatan langsung, (b) pendekatan
gambaran           bahwa               pembinaan    tidak langsung, dan (c) pendekatan
profesional       guru       masih          perlu   kolaboratif; (5) teknik-teknik supervisi
ditingkatkan lebih lanjut.                          pendidikan      yang     paling     bermanfaat
                                                    bagi supervisi antara lain adalah: (a)
                                                    kunjungan       kelas,     (b)    pembicaraan
                                                    individual, (c) diskusi kelompok, (d)
                                                    demonstrasi mengajar, (e) kunjungan
                                                    kelas antar guru, (1) pengembangan
                                                    kurikulum, (g) bulletin supervisi, (h)
                                                    perpustakaan profcsioml, (i) lokakarya,
                                                    (j) survey sekolah-masyarakat; (6) para
SIMPULAN DAN SARAN
                                                    guru lebih menghargai dan menilai
Simpulan                                            secara positif perilaku supervisi yang
        Berdasarkan        uraian         tentang   "hangat",         saling          mempercayai,
peningkatan mutu pendidikan melalui                 bersahabat, dan menghargai guru; dan
supervisi pengajaran di atas, maka                  (7)     dalam        praktiknya       supervisi
dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai                pengajaran yang dilaksanakan selama
berikut: (1) masalah-masalah dalam                  ini masih cenderung berorientasi pada
bidang pendidikan adalah (a) masalah                administratif saja.
kuantitatif, (b) masalah kualitatif, (e)
                                                    Saran-saran
masalah       relevansi,         (d)     masalah
                                                            Berdasarkan simpulan di atas,
efisiensi, (e) masalah efektivitas, dan
                                                    maka dapatlah dikemukakan saran-
(f)    masalah    khusus;        (2)    supervisi
                                                    saran      sebagai     berikut:     (1)    untuk
pengajaran       pada    hakikatnya        adalah
                                                    meningkatkan kemampuan supervisor,
untuk meningkatkan kemampuan dan
                                                    maka perlu secara rutin ada program
keterampilan              guru             dalam
                                                    penyegaran       bagi      para     supervisor,
melaksanakan tugas pokoknya sehari-
                                                    sehingga         dalam           melaksanakan
hari yaitu mengajar para peserta didik
                                                    tugasnya        sesuai      dengan         tujuau
supervisi dan sesuai dengan keinginan           guru di sekolah; (3) dalam pelaksanaan
para guru; (2) arah supervisi perlu             supervisi di sekolah, para supervisor
difokuskan/ditekankan kepada aspek              perlu membekali format dokumen yang
akademik tanpa mengabaikan faktor               dapat merekam dan mencatat kegiatan
administratif        sebagai      pelengkap     guru   dalam   melaksanakan     tugas-
pelaksanaan supervisi tcrhadap para
         tugasnya di sekolah; (4) dalam
melaksanakan         supervisi    pengajaran
disarankan          untuk      menggunakan
prosedur supervisi klinis, dan (5) perlu
ada pertemuan sesuai supervisi untuk
mendiskusikan        hasil   supervisi   yang
telah dilakukan oleh Kepala Sekolah
atau Pengawas Sekolah, sebagai upaya
tindak     lanjut    setelah     pelaksanaan
supervisi dilaksanakan.
DAFTAR RUJUKAN



Bafadal, I. 2003. S eri Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Seko lah,
      Peningkat an Profes ionalisme Guru Sekolah Dasar, Dalam Kerangka
      Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Bumi
      Aksara.

Benty, D.D.N. 1992. Kemampuan Kepi'la S ekolah Dasar Membantu Guru dalam
      Mengembangkan Pengajaran Menurut Persepsi Guru -Guru SD Negeri di
      Kecamatan Lowokwaru Kodya Malnng. Tesis tidak diterbitkan. Malang:
      Program Pasa Sarjana, Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan Malang.

Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Dasar 1975, Garis -Garis Besar Program
      Pengajaran Buku III D Pedoman Administrasi dan Sup ervisi. Jakarta:
      Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdikbud. 1994/1995. Pedoman Kerja Pelaksanaan Sup ervisi. Jakarta: Proyek
      Peningkatan Mutu SD, TK dan SLB, Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat
      Jenderal Pendidikan Dasar dan Menenga,'., Departemen Pendidikan dan
      Kebudayaan.

Depdikbud. 1995. Pedoman Pembinaan Profesional Guru Sekolah Dasar.
      Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
      dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Depdiknas. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis S ekolah. Jakarta:
      Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan
      Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional.

Ekosusilo, M. 2003. Iiasil Penelitian Kualitatif, Sup ervisi Pengajaran Dalam
      Latar Budaya Jawa, Studi Kasus Pembinaan Guru SD di Kralon
      Surakart a. Sukoharjo: Penerbit Uvitet Bantara Press.

Indrafachrudi, S.(Koordinator). 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: Penerbit
      IKIP Malang.

Idrus, N., dkk. 2000. Quality Assurance, Handbook. 3 -Edition. Jakarta:
      Engineering Education Development Project, Du Malcomlm Jones (ed).,
      Director General of Higher Education.

Iswanto, B. 1999. Olonomi Daerah: Imp likasi bagi Pengelo laan Pendidikan.
       Makalah disajikan dalam seminar nasional Formula Manajemen Pendidikan
       dalam Kerangka Otonomi Daerah di Bidang Pendidikan pada tanggal 23
       Aeustus 1999 di Universitas Neseri Malane.
Jalal, F. & Supriadi, D. 2001. Reformasi Penclidikan Dalam Konteks Otonomi
       Daerah. Jakarta: Diterbitkan atas kerjasama Depdiknas -Bappenas-Adicita
       Karya Nusa.
Mantja, W. 1998. Manajemen Pembinaan Profesional Guru Berwawasan
      Pengembangan Sumber Daya Manusia: Suatu Kajian Ko.tseptual -historik dan
      Empirik. Pidalo Pengukuhan Guru Besar [KIP Malang. Making: Institut
      Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Departemen Pendidikan dan
      Kebudayaan.

Mastuhu. 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad
     21 (The New Mind Set of National Education in the 21 s ' Century). Yogyakarta:
     Safiria Insania Press bekerjasama dengan Magister Studi Islam Universitas
     Islam Indonesia (MSI UII).

Sahertian, P.A. & Mataheru, F. 1982. Prinsip & Tehnik Supervisi Pendidikan.
      Surabaya: Usaha Nasional.

Supriadi, D. 2004. Satuan Biaya Pendidikan, Dasar dan Menengah: Rujukan Bagi
      Penetapan Kebijakan Pendidikan Pada Era Otonomi dan Manajemen Berbasi s
      Sekolah. Bandung: PT Lemadja Rosdakarya.
PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD TUNAS BANGSA

                      KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA



                                        Etiyasningsih*)



Abstrak, Bahasa Indonesia dipakai di sekolah dari tingkat paling rendah sampai perguruan
tinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada pemerintahan termasuk kehakiman pengadilan,
serta di segala bentuk komunikasi tingkat nasional. Dari segi ilmiah dapat dijadikan kunci
untuk membuka pintu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, dengan pertimbangan
tersebut maka yang perlu diperjatikan adalah bimbingan orang tua dalam menunjang
prestasi anak di sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua,
guru dan masyarakat. Namun berperan serta orang tua dan masyarakat dalam menunjang
prestasi belajar anaknya belum tampak menggembirakan, apabila status pendidikan orang
tuanya atau masyarakat pada umumnya masih rendah, maka semata-mata pendidikan
anaknya diserahkan kepada guru di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa
Indonesia.

     Penelitian dilakukan di SD Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo Surabaya. Populasi
sebanyak 34 anak dan orang tua. Sampel diambil dengan teknik total sampling diperoleh 34
responden anak dan orang tua siswa. Pengumpulan data dengan dokumentasi dan kuesioner,
selanjutnya dilakukan uji regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh bimbingan orang
tua terhadap prestasi belajar siswa.

        Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 16,995 > Ftabel = 4,17. Oleh karena Fhitung >
Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan bimbingan
orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,000
jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan.

        Berdasarkan hasil penelitian diharapkan orang tua lebih banyak memberikan
bimbingan kepada anaknya terutama dalam belajar bahasa Indonesia, bimbingan di keluarga
hendaknya mencakup bantuan belajar, pengawasan, pengaturan waktu belajar dan
keteladanan yang ditunjukkan secara rutin, dan orang tua wali murid selalu mengawasi cara
belajar anaknya dan selalu berkonsultasi dengan guru atau orang lain. Pihak sekolah
diharapkan dapat sering mengadakan hubungan dan konsultasi mengenai perkembangan
belajar anak dan juga memecahkan kesulitan yang timbul dalam bimbingan belajar anak
dengan wali murid atau orang tua siswa
Kata Kunci : Bimbingan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa

Pendidikan yang berlangsung seumur              suatu pendidikan itu ditentukan oleh tiga
hidup dan dilaksanakan sedini mungkin           komponen, yaitu orang tua (keluarga),
merupakan tanggung jawab keluarga,              guru (pemerintah), dan masyarakat
masyarakat dan pemerintah. Banyak               (lingkungan).
orang tua berpendapat bahwa tugas
mencerdaskan anak adalah tugas guru dan              Dalam mendidik seseorang anak tidak
institusi pendidikan, sementara mereka          akan berhasil tanpa ada kerjasama yang
selaku orang tua asyik dengan profesinya        baik antara orang tua yang mendidik di
sendiri, implikasi dari pendapat semacam        rumah, dengan guru yang mendidik di
ini adalah memunculkan ketidakpedulian          sekolah.     Demikian     juga    dengan
orang tua terhadap spiritual, intelektual       lingkungan di sekitarnya juga menunjang.
dan moral anaknya sendiri. Masih banyak         Antara orang tua, guru dan lingkungan
di antara orang tua yang lalai akan             dalam menangani anak harus ada
tugasnya dalam membantu perkembangan            kerjasama yang baik sehingga merupakan
dan pemahaman diri putra putrinya,              tri tunggal yang tidak dapat dipisahkan.
mereka menyibukkan dirinya dengan               Sehubungan dengan hal tersebut, jika
urusan masing-masing.                           ditinjau ari segi waktu belajar antara
                                                pendidikan sekolah dan ada dirumah,
    Bagi orang tua yang taraf ekonominya        maka waktu belajar tersebut lebih banyak
kuat, waktunya banyak digunakan untuk           dirumah. Oleh sebab itu sebagai orang tua
acara-acara yang dianggap sesuai dengan         harus benar-benar dapat membantu dan
martabat sosialnya, sementara bagi orang        mengarahkan putra putrinya, memahami
tua yang taraf ekonominya lemah,                lebih jauh dan mendalam tentang pola dan
waktunya banyak digunakan kegiatan              upaya mencerdaskan. Orang tua harus
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.           mengerti tentang dasar-dasar pendidikan,
Sehingga dengan keadaan ini timbulah            psikologi perkembangan, proses belajar
berbagai kesulitan yang dihadapi oleh           mengajar dan pengetahuan lain guna
anak terutama kesulitan alam belajar yang       mencapai tujuan yang sesuai dengan
mengakibatkan prestasi belajar mereka           harapan dan cita-citanya.
semakin menurun.
                                                    Negara Indonesia merupakan Negara
    Ketika anaknya gagal memenuhi               yang sedang berkembang, dan sedang
harapannya, pihak pertama yang dituding         getol-getolnya    membangun,    seiring
adalah guru dan institusi pendidikan,           dengan pembangunan itu, maka di segala
kalau kita renungkan anggapan orang tua         bidang harus dikembangkan pemerintah.
bahwa      pencapaian    itu   hanyalah         Di dalam persiapan pembangunan yang
tergantung    pada    lembaga   sekolah,        siap dipakai perlu sumber daya manusia
pendapat seperti ini kurang tepat, dan          yang     handal,    maka    pemerintah
akan      merugikan      diri    sendiri.       menggalakkan pembangunan di bidang
Bagaimanapun guru, sekolah, dan institusi       pendidikan.
pendidikan yang lainnya hanyalah pihak
yang membantu mencerdaskan peserta                  Maka tidaklah mengherankan apabila
didik.   Sedangkan keberhasilan dalam           pemerintah selalu berusaha dengan getol
                                                untuk meningkatkan pendidikan baik
secara kuantitatif maupun kualitatif, guna     terpelihara rasa persatuan dan kesatuan
mempercepat        tercapainya        tujuan   bangsa. Berkomunikasi antara suku kita
pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk        harus menggunakan bahasa Indonesia
itu di dalam merealisir tujuan pendidikan      yang baik dan benar. Dalam hal ini
itu, maka diseluruh jalur, jenis dan jenjang   termuat dalam dokumen resmi Negara,
pandidikan baik dengan jalur formal            seperti : Sumpah Pemuda dan dalam
maupun non formal berkewajiban untuk           Undang-undang Dasar 1945, Bab XV pasal
segera mendukung dan mewujudkannya.            36 : Bahasa Negara adalah bahasa
Bahkan dilingkungan keluargapun di             Indonesia.
harapkan peran serta aktifnya, karena
suatu program akan berhasil dengan baik             Bahasa Indonesia dipakai di sekolah
apabila aktifitas di dukung oleh semua         dari tingkat paling rendah sampai
pihak.                                         perguruan tinggi, dipakai juga dalam acara
                                               resmi pada pemerintahan termasuk
     Di dalam Undang-undang pendidikan         kehakiman pengadilan, serta di segala
Nomor 2 tahun 1989, disebutkan bahwa           bentuk komunikasi tingkat nasional. Dari
tujuan pendidikan di Indonesia adalah          segi ilmiah dapat dijadikan kunci untuk
sebagai berikut : ―Pendidikan nasional         membuka pintu untuk mempelajari ilmu-
bertujuan    mencerdaskan      kehidupan       ilmu yang lainnya, dengan pertimbangan
bangsa dan mengembangkan manusia               tersebut maka yang perlu diperjatikan
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan         adalah bimbingan orang tua dalam
Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang         menunjang prestasi anak disekolah.
luhur,    memiliki    pengetahuan     dan      Pendidikan merupakan tanggung jawab
ketrampilan, kesehatan jasmani dan             bersama antara orang tua, guru dan
rohani, kepribadian yang mantap dan            masyarakat. Namun berperan serta orang
mandiri serta rasa tanggung jawab              tua dan masyarakat dalam menunjang
kemasyarakatan       dan    kebangsaan‖.       prestasi belajar anaknya belum tampak
Pendidikan     Nasional    harus     juga      menggembirakan,        apabila       status
menumbuhkan        jiwa  patriotic    dan      pendidikan orang tuanya atau masyarakat
mempertebal rasa cinta tanah air,              pada umumnya masih rendah, maka
meningkatkan semangat kebangsaan dan           semata-mata       pendidikan       anaknya
kesetiakawanan social serta kesadaran          diserahkan kepada guru di sekolah.
pendidikan sejarah perjuangan bangsa
dan sikap menghargai jasa para pahlawan            Kesadaran bahwa tugas utama
serta berorientasi ke masa depan. Iklim        memberi bimbingan anak adalah tugas
belajar     mengajar      yang      dapat      orang tua, maka akan memberikan
menumbuhkan rasa percaya diri dan              pengaruh positif dalam pembentukan
budaya belajar di lingkungan masyarakat,       tanggung jawab dan mendorong motivasi
terus juga di kembangkan agar tumbuh           belajar, mempermudah proses belajar
sikap dan perilaku yang kreatif, dan           pada     anak    dan    pengkoordinasian
berkeinginan untuk maju.                       lingkungan keluarga untuk mewujudkan
                                               anak-anak     cerdas   dan     berprestasi
    Dan sebagai bangsa Indonesia harus         terutama pada bidang studi bahasa
berkomunikasi di antara suku satu dengan       Indonesia.    Pemikiran    inilah    yang
suku yang lainnya dengan baik, agar tetap      menjadikan penulis mengangkat judul
skripsi ini dengan harapan dapat               Y = a + bX
mengetahui pengaruh bimbingan orang
tua terhadap prestasi belajar siswa pada       Y = Prestasi Belajar Bahasa Indonesia
Bidang Studi Bahasa Indonesia di SD
                                               X = Bimbingan Orang Tua
Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo
Surabaya.                                      a = Nilai konstanta

                                               b = Nilai arah sebagai penentu ramalan
                                                   (prediksi) yang menunjukkan nilai
METODE PENELITIAN                                  peningkatan (+) atau nilai
                                                   penurunan (–) variabel Y.

    Penelitian ini dilakukan dengan
mengambil populasi seluruh siswa kelas
IV SD Tunas Bangsa Kecamatan
Wonokromo Surabaya. Sampel diambil             HASIL PENELITIAN
dengan teknik total sampling diperoleh
responden sebanyak 34 siswa.

    Variabel bebas (X) dalam penelitian        Hasil Pengujian Validitas
ini yakni bimbingan orang tua, yang
                                                       Validitas menunjukkan sejauh
dimaksud bimbingan orang tua adalah
                                               mana alat ukur yang digunakan mengukur
suatu proses pemberi bentuan secara terus
                                               apa yang diinginkan dan mengungkap
menerus dan sistematik dari pembimbing
                                               data dari variabel yang diteliti secara
kepada peserta bimbingan agar tercapai
                                               tepat. Instrument valid berarti alat ukur
pemahaman         dari   penerima      diri,
                                               yang digunakan untuk mendapat data itu
pengarahan diri dan perwujudan diri
                                               valid. Dalam uji validitas ini suatu butir
dalam mencapai tingkat perkembangan
                                               pernyataan dikatakan valid jika corrected
yang      optimal      sehingga      dapat
                                               item total correlation lebih besar dari
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan
                                               0,339 (untuk jumlah responden 34 orang)
memperoleh kebahagian hidup. Variabel
                                               sebagaimana tabel r produk momen
prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y) yaitu
                                               terlampir. Hasil pengujian validitas
suatu suatu hasil yang teah dicapai setelah
                                               terhadap variabel bimbingan orang tua (X)
kegiatan     belajar   mengajar     Bahasa
                                               dan Prestasi Belajar Siswa (Y) dapat
Indonesia. Dalam penelitian ini, indikator
                                               dilihat sebagai berikut :
yang digunakan adalah nilai ulangan mata
                                                    Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabel
pelajaran Bahasa Indonesia.
                                                         Prestasi Belajar Siswa (X)
     Data yang telah terkumpul kemudian          Pernya-       Corrected item        Ket
dilakukan analisis. Uji hipotesis dilakukan        taan       total correlation
untuk menjawab hipotesa yang telah                   1              0,843           Valid
diajukan sebelumnya. Uji yang digunakan              2              0,372           Valid
dalam penelitian ini adalah uji Regresi              3              0,638           Valid
Sederhana dengan rumus persamaan                     4              0,601           Valid
regresi sederhana :                                  5              0,540           Valid
Pernya-       Corrected item     Ket                         sehingga dapat diputuskan bahwa item
   taan        total correlation                               kuesioner telah reliabel.
     6               0,541         Valid
     7               0,767         Valid
     8               0,476         Valid
     9               0,642         Valid                       Uji Asumsi Klasik
    10               0,620         Valid
     11              0,686         Valid                       Uji normalitas
    12               0,355         Valid
    13               0,677         Valid                               Dalam penelitian ini uji normalitas
    14               0,793         Valid                       kriterianya adalah jika distribusi data
    15               0,543         Valid                       adalah normal, maka garis yang
    16               0,439         Valid                       menggambarkan data sesungguhnya akan
    17               0,354         Valid                       mengikuti garis diagonalnya.
    18               0,495         Valid
                                                                              Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
    19               0,535         Valid
    20               0,651         Valid                                      Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa
                                                                        1,0

Sumber : Hasil Olah Data SPSS
                                                                         ,8
    Dari tabel di atas dapat diketahui
bahwa untuk item pernyataan variabel
                                           Expected Cum Prob




                                                                         ,5
bimbingan orang tua, corrected item total
correlation yang diperoleh untuk seluruh
                                                                         ,3
item pernyataan adalah lebih besar dari
0,339 (untuk jumlah responden 34 orang),
                                                                        0,0
hal tersebut berarti bahwa secara                                         0,0        ,3      ,5      ,8      1,0

keseluruhan item pernyataan mengenai                                          Observ ed Cum Prob
bimbingan orang tua adalah valid.


Hasil Uji Reliabilitas                                            Gambar 1 Grafik Normalitas Standar
                                                                           Residual Regresi
       Suatu alat ukur dikatakan reliabel
atau handal, jika alat itu dalam mengukur
suatu gejala pada waktu yang berbeda
senantiasa menunjukkan hasil yang relatif                           Sesuai kriterianya grafik normal plot
sama. Untuk menguji reliabilitas suatu                         di atas terlihat titik-titik menyebar di
instrument dapat digunakan uji statistic                       sekitar    garis     diagonalnya,    serta
Cronbach Alpha (α), dimana suatu alat                          penyebarannya mengikuti arah garis
ukur dikatakan reliabel jika nilai Cronbach                    diagonal. Dengan demikian menunjukkan
Alpha lebih besar dari 0,60. Hasil                             bahwa model regresi layak dipakai karena
pengujian reliabilitas terhadap variabel                       memenuhi asumsi normalitas.
bimbingan orang tua (X) diperoleh alpha
sebesar 0,7483 lebih besar dari 0,6
                                                               Uji Heteroskedastisitas
Indikator uji ini adalah melihat grafik                     Dimana :
Scatterplot, jika titik-titik menyebar secara
acak serta tersebar di atas maupun di                            Y       = Prestasi Belajar Siswa
bawah angka 0 pada suhu Y, maka tidak
                                                                 X       = Bimbingan Orang Tua
terjadi heteroskedastisitas.
                                                                 b3      = Koefisien regresi X
                Scatterplot
                Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa
                                                                    Output perhitungan dengan program
        2,0                                                      SPSS for Windows seperti terlihat dalam
        1,5                                                      gambar berikut.
        1,0
                                                                                                           ANOVAb
          ,5
                                                                                            Sum of
        0,0
                                                                     Model                  Squares         df          Mean Square    F       Sig.
                                                                     1       Regression      151,891              1         151,891   16,995     ,000 a
         -,5
                                                                             Residual        285,991             32           8,937
        -1,0                                                                 Total           437,882             33
                                                                       a. Predictors: (Constant), Bimbingan Orang Tua
        -1,5
                                                                       b. Dependent Variable: Prestasi Belajar Sisw a
        -2,0
               -3       -2      -1       0        1          2


                Regression Standardized Predicted Value                                     Gambar 3 Uji F

                    Gambar 2 Grafik Scatterplot
                                                                      Gambar 3 di atas menunjukkan hasil
                                                                 uji F dengan program SPSS for Windows,
     Dari grafik scatterplot di atas terlihat
                                                                 dengan Fhitung sebesar 16,995. Angka ini
titik menyebar secara acak dan tersebar di
                                                                 selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel df
atas maupun di bawah angka 0 pada suhu
                                                                 = 32 sebagaimana Tabel F pada lampiran
Y, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak
                                                                 (Critical Values for the F Distribution
terjadi heteroskedastisitas pada model
                                                                 α=0,05). Tabel F dengan df = 32 dan n =1
regresi sehingga model regresi layak
                                                                 diperoleh Ftabel = 4,17. Sehingga Fhitung =
dipakai untuk mengetahui pengaruh
                                                                 16,995 > Ftabel = 4,17.
bimbingan orang tua terhadap prestasi
                                                                      Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha
belajar siswa.
                                                                 diterima dan Ho ditolak yang berarti
                                                                 terdapat pengaruh signifikan bimbingan
Hasil Pengujian Regresi Linier                                   orang tua terhadap prestasi belajar siswa.
Sederhana                                                        Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung
                                                                 = 0,000 jauh di bawah 0,05, yang
     Untuk mengetahui ada atau tidaknya                          menandakan pengaruh yang signifikan.
pergaruh antara variabel bebas bimbingan                              Selain     adanya      pengaruh    yang
orang tua terhadap variabel terikat yang                         signifikan, pada uji korelasi juga terlihat
dalam hal ini adalah prestasi belajar siswa                      adanya korelasi positif antar kedua
(Y), maka digunakan analisis model agresi                        variabel     yang       diperoleh    Pearson
linier sederhana dengan model persamaan                          Correlation sebesar 0,589 lebih dari rtabel
sebagai berikut :                                                sebesar 0,339 (Sebagaimana r tabel
                                                                 Product Moment pada df = 32 terlampir).
                             Y = α + bX1
Cor relations                                                              Selanjutnya berdasarkan persamaan
                                                                                   Prestas i
                                                                                Belajar Sis w a
                                                                                                           Bimbingan
                                                                                                           Orang Tua
                                                                                                                                di atas deskripsi pengaruh bimbingan
 Pearson Correlation                    Prestas i Belajar Sisw a
                                        Bimbingan Orang Tua
                                                                                         1,000
                                                                                          ,589
                                                                                                                 ,589
                                                                                                                1,000
                                                                                                                                orang tua terhadap prestasi belajar siswa
 Sig. (1-tailed)                        Prestas i Belajar Sisw a                               ,                 ,000           berdasarkan unstandarized coeffisients
                                        Bimbingan Orang Tua                               ,000                       ,
 N                                      Prestas i Belajar Sisw a                             34                    34           beta adalah sebagai berikut:
                                        Bimbingan Orang Tua
                                                                                                                                1) Konstanta sebesar 35,537 menyatakan
                                                                                             34                    34


                                                                                                                                   bahwa jika variabel tingkat pendidikan
                 Gambar Pearson Correlations
                                                                                                                                   dianggap konstan (tidak ada upaya
                                                                                                                                   membimbing), maka prestasi belajar
    Besarnya pengaruh atau kontribusi                                                                                              siswa sebesar 35,537 point.
tingkat      pendidikan        terhadap                                                                                         2) Koefisien regresi tingkat pendidikan
perkembangan perusahaan dapat dilihat                                                                                              sebesar 0,190 menyatakan bahwa
pada gambar Uji t berikut ini.                                                                                                     setiap peningkatan 1 poin bimbingan
                                                                                                                                   orang tua akan meningkatkan prestasi
                                                                                                                                   belajar siswa sebesar 0,190 poin. Jika
                                                                       a
                                                           Coe fficients
                                                                                                                                   angka tersebut dikalikan 1000,
                                   Unstandardized         Standardized

Model                               B
                                     Coefficients
                                            Std. Error
                                                          Coefficients
                                                              Beta          t       Sig.   Zero-order
                                                                                                        Correlations
                                                                                                           Partial     Part
                                                                                                                                   deskripsinya menjadi setiap ada upaya
1       (Constant)
        Bimbingan Orang Tua
                                   35,537
                                     ,190
                                                 3,292
                                                  ,046            ,589
                                                                           10,797
                                                                            4,123
                                                                                      ,000
                                                                                      ,000       ,589         ,589       ,589      bimbingan orang tua sebesar 1000
                                                                                                                                   poin maka akan meningkatkan
  a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Sisw a



                                                                                                                                   prestasi belajar siswa sebesar 190
                                          Gambar 4 Uji t
                                                                                                                                   point.


      Sebagaimana Uji F di atas yang
menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga
                                                                                                                                INTERPRETASI
seperti pada Gambar 4.5 memperlihatkan
thitung sebesar 4,123 > ttabel sebesar 2,042                                                                                        Bimbingan      orang   tua     sangat
(sebagaimana Critical Value for the t                                                                                           berpengaruh terhadap prestasi belajar
Distribution terlampir) artinya terdapat                                                                                        siswa. Memang bimbingan orang tu sangat
pengaruh bimbingan orang tua terhadap                                                                                           diperlukan oleh siswa mengingat belajar di
prestasi belajar siswa.                                                                                                         sekolah tanpa diulang di rumah
      Untuk      menunjukkan        besarnya                                                                                    kemungkinan       lupa   atau     kurang
pengaruh       atau    kontribusi     tingkat                                                                                   memahami. Jika orang tua mau dan
pendidikan       terhadap      perkembangan                                                                                     mampu membimbing anaknya maka anak
perusahaan dapat dilihat koefisien regresi                                                                                      akan lebih mengingat dan memahami
(standarized coefficients Beta) pada                                                                                            pelajaran yang diberikan oleh guru di
gambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya                                                                                           sekolah.
sesuai dengan rumus regresi sederhana                                                                                               Secara umum hal ini sesuai dengan
dapat dimasukkan angka-angka tersebut                                                                                           Ketut Sukardi bahwa bimbingan adalah
sebagai berikut :                                                                                                               suatu proses bantuan yang diberikan pada
                                                                                                                                seseorang agar mengembangkan potensi-
                     Y                 = a + bX
                                                                                                                                potensi yang dimiliki, mengenali dirinya
                                       = 35,537 + 0,190                                                                         sendiri, mengatasi persoalan sehingga
                                                                                                                                mereka dapat menentukan sendiri jalan
hidupnya, secara bertanggung jawab tanpa      perencanaan dan pemikiran yang ilmiah,
bergantung pada seseorang atau orang          (3) Pertolongan yang proses pemecahan
lain. Selain itu bimbingan merupakan          dari persoalan yang membutuhkan
suatu proses pemberi bantuan yang terus       aktivitas dan tanggung jawab bersama
menerus dan sistematis terhadap individu      antara yang menolong dan yang ditolong,
dalam     memecahkan      masalah     yang    (4) Pertolongan yang isi, bentuk dan
dihadapi agar tercapai kemampuan untuk        caranya disesuaikan kebutuhan tiap-tiap
memahami dirinya (self undertanding),         kasus.
kemampuan untuk menerima dirinya (self
aceptaince),      kemampuan         untuk             Secara spesifik tujuan bimbingan
mencurahkan dirinya (self direction),         oleh orang tua ataupun pihak tertentu
sesuai dengan potensi atau kemampuan          adalah dapat mengetahui keadaan pribadi
dalam mencapai penyesuaian diri dengan        siswa untuk membantu kesulitan belajar
lingkungan, baik keluarga, sekolah            yang      mungkin     dihadapi.   Tujuan
maupun masyarakat. Bantuan yang               bimbingan belajar yang dimaksudkan
diberikan orang-orang yang memiliki           adalah     untuk    memperoleh    tingkat
keahlian dan pengalaman khusus dalam          perkembangan belajar yang optimal bagi
bidang tertentu yaitu bidang pendidikan.      setiap      siswa      sesuai     dengan
     Bimbingan mencakup pertolongan           kemampuannya agar dapat menyesuaikan
yang diberikan seseorang dengan tujuan        diri terhadap lingkungannya.
untuk menolong orang itu kemana ia ingin
                                                     Selain itu bimbingan bertujuan
atau harus pergi, apa yang ia inginkan
                                              untuk membantu siswa agar mencapai
dilakukan dan bagaimana cara yang
                                              perkembangan yang optimal yaitu siswa
sebaik-baiknya tersebut memecahkan
                                              dapat menemukan dirinya sendiri,
masalah yang timbul dalam kehidupan.
                                              mengenal lingkungan, dan merencanakan
Dari    uraian    diatas    maka     dapat
                                              masa depan sehingga dapat mewujudkan
disimpulkan mengenai bimbingan, yaitu:
                                              dirinya sebagai pribadi yang mandiri dan
Bimbingan ialah suatu proses pemberi
                                              bertanggung jawab, pelajar yang kreatif
bentuan secara terus menerus dan
                                              dan pekerja yang produktif. Drs. Bimo
sistematik dari pembimbing kepada
                                              Walgito menyatakan bahwa tujuan utama
peserta    bimbingan      agar    tercapai
                                              bimbingan belajar agar masing-masing
pemahaman        dari    penerima     diri,
                                              siswa dapat mengembangkan kemampuan
pengarahan diri dan perwujudan diri
                                              yang ada pada mereka sehingga tercapai
dalam mencapai tingkat perkembangan
                                              prestasi yang optimal.
yang      optimal      sehingga      dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan dan              Dengan demikian jelaslah bahwa
memperoleh kebahagian hidup (Totok            tujuan belajar adalah untuk mengenali
Santoso, 1986:25).                            kemampuan-kemampuan yang terendam
                                              dalam    diri   anak    sehingga     dapat
       Pertolongan dalam bimbingan
                                              diharapkan     anak     tersebut     dapat
menurut Slamet (1989:25) antara lain (1)
                                              mengembangkan bakat atau kemampuan
Pertolongan di arahkan peningkatan            yang terpendam, jadi bimbingan belajar
kemampuan dalam menghadapi hidup
                                              sangat penting untuk keberhasilan siswa.
dengan segala persoalan, (2) Pertolongan
yang kontinyu yang diberikan atas dasar
Tujuan bimbingan orang tua          Suhartini Arikunto. 1981. Prosedur
terhadap anaknya antara lain (1) Untuk         Penelitian , Rineka Cipta Jakarta.
mengetahui keadaan pribadi anak yang
dianggap mempunyai masalah, (2) Untuk       Siti Rahaju Hadi Noto, 1982. Prinsip-
memahami jenis atau sifat kesulitan              prinsip Bimbingan dan Penyuluhan.
belajar yang dihadapi, (3) Untuk                 Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi
mengetahui faktor penyebab kesulitan             UGM Yogyakarta.
anak dalam pelajaran, (4) Untuk
mengetahui      baik     secara   kuratif   Sutrisno Hadi, 1983. Metodologi Research
(penyembuhan) maupun secara prefentif           I dan II, Fakultas Psikologi UGM
(pencegahan)        kelemahan-kelemahan         Yogyakarta.
belajar yang dihadapi oleh anak.
                                            Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang
                                               Sistem Pendidikan Nasional.

                                            Winamo Surahmad, Drs. Msc. 1976.
                                               Pengantar Penyelidikan Ilmiah. CV.
DAFTAR PUSTAKA                                 Jenmars Bandung.

                                            Wjs. Poerwodarminto, 1961.    Kamus
Drs. Bimo Walgito. 1982. Bimbingan dan          Bahasa Indonesia. Penerbit Balai
    Penyuluhan      Sekolah.   Yayasan          Pustaka Jakarta.
    penerbit Fakultas Psikologi UGM
    Yogyakarta.

Dep. Dik. Bud. 1984. Prosedur Penelitian.
   Rineka Cipta Jakarta.

Dewa Ketut Sukerdi, Drs . 1983 .
   Bimbingan dan Penyuluhan Belajar
   di Sekolah. Penerbit Indonesia.

GBHN,    Ketetapan     MPR     RI   No.
   11/MPR/1008,        Bima     Pustaka
   Surabaya.

I.   Djumhur dan Moh. Surya. 1975
     Bimbingan dan Penyulahan di
     Sekolah (Guiedence Counseling).
     Penerbit CV. Ilmu Bandung.

Ngalim Purwanto MP, Drs. 1997. Psikologi
    Pendidikan.  Remaja     Resdakarya
    Bandung.
Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah
            dan Gaya Kognitif terhadap
      Pemahaman Uniflying Geography


                           Syaiful Khafid

                    Email: syaiful.khafid@yahoo.co.id



Abstract: Penelitian ini dilaksanakan untuk membandingkan
pemaha-man ‗uniflying geography‘ antara siswa yang diajar dengan
menggu-nakan pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang diajar
secara konvensional, dan antara siswa bergaya kognitif field
independent dan siswa yang bergaya kognitif field dependent yang
menggunakan desain kuasi eksperimental. Penelitian ini menunjukkan
bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis
masalah mempe-roleh skor signifikan lebih tinggi dalam bidang
geografi dari siswa yang diajar secara konvensional. Lagi pula, siswa
dengan gaya field inde-pendent ternyata memperoleh skor signifikan
lebih tinggi daripada siswa dengan gaya kognitif field dependent, Akan
tetapi, penelitian tersebut tidak menunjukkan pengaruh interaksional
dari model pembe-lajaran dan gaya kognitif terhadap pemahaman
‗uniflying geography‘ siswa.



Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, gaya kognitif, pemahaman geografi




                                                                               1
Geografi sebagai mata pelajaran               ‗uniflying geography‘ yang dilakukan

formal    pertama      yang       membawa     guru     geografi      di    kelas      hanya

siswa     kontak      dengan       realitas   menekankan          ranah    kognitif     dan

kehidupan          seharusnya        dapat    hafalan serta kurang mendorong

menjadi satu mata pelajaran yang              siswa berpikir kritis dan kreatif

cukup menarik. Bahkan arti penting            (Khafid,       2008:19)               Menurut

geografi bagi kehidupan diakui juga           penilaian       Sudradjat              (dalam

oleh     tokoh     atau    pejabat    dari    Daldjoeni, 1997:129) permasalahan

kalangan         ketentaraan       maupun     yang menonjol adalah rendahnya

pemerintahan.          Kalau         dalam    partisipasi siswa dalam mempelajari

kenyataan geografi menjadi kurang             geografi    baik      secara     intelektual

menarik sebagian besar siswa tentu            maupun emosional. Pertanyaan yang

ada faktor-faktor penyebab yang               berasal dari siswa yang berupa

menjadikan demikian (Suharyono                gagasan     atau      sanggahan         jarang

dan      Amien,       1994)       sehingga    muncul.       Jikapun           ada      yang

berakibat rendahnya pemahaman                 berpendapat         jarang   diikuti      oleh

geografi (Khafid, 2010).                      gagasan     lain,    sehingga         sebagian

                                              siswa         merasakan                 bahwa
      Rendahnya               pemahaman
                                              pembelajaran                          geografi
‗uniflying    geography‘        disebabkan
                                              membosankan, kering, tidak jelas,
paradigma pendidikan konvensional
                                              dan sulit dipahami.
yang         menggunakan           metode

pembelajaran klasikal dan ceramah,               Ada      lima       faktor     penyebab

tanpa     diselingi       aneka    metode     rendahnya      kualitas         pemahaman

pembelajaran        inovatif,     termasuk    ‗uniflying geography‘, yaitu: (1) siswa

adanya penyekat ruang struktural              belum mampu menerapkan objek

antara guru dan siswa. Pembelajaran           formal      studi      geografi         ketika



                                                                                          1
mengkaji fenomena geosfer (objek               memperhatikan gaya kognitif belajar

material studi geografi), (2) siswa            siswa.

kurang memiliki kemampuan untuk
                                                   Untuk             meningkatkan
merumuskan gagasan sendiri, (3)
                                               pemahaman ‗uniflying geography‘
siswa kurang memiliki keberanian
                                               diperlukan perubahan paradigma
untuk      menyampaikan             pendapat
                                               yang digunakan sebagai landasan
kepada orang lain, (4) siswa belum

terbiasa menggunakan media peta                dalam pembelajaran. Perubahan

ketika belajar geografi. dan (5) siswa         paradigma     perlu       memikirkan

belum             terbiasa          bersaing   bagaimana     siswa       belajar    dan

menyampaikan             pendapat    dengan    bagaimana          guru     mengelola
teman yang lain (Khafid, 2008:19).             pembelajaran,        bukan          hanya
Di samping itu, ada tiga faktor yang
                                               berfokus     pada     hasil    belajar.
mempengaruhi hasil belajar siswa,
                                               Menurut Degeng (2001a) tujuan
yaitu: (a) faktor endogen, berasal
                                               utama      pembelajaran         adalah
dari     siswa,    (b)    faktor    eksogen,
                                               mengembangkan             kemampuan
berasal dari lingkungan, dan (c)
                                               mental      yang     memungkinkan
faktor    jenis    gaya      kognitif   yang
                                               seseorang dapat belajar. Riyanto
digunakan siswa (Syah, 2001:130).

Hasil belajar geografi yang rendah             (2005:98)     mengatakan        bahwa

tersebut bukan hanya dibebankan                peran guru adalah memberikan

kepada      siswa,       melainkan      yang   kemudahan kepada siswa untuk

pertama bertanggung jawab adalah               membangun sendiri pengetahuan
guru geografi. Karena itu, guru perlu          dalam benaknya. Guru memberi
merefleksi model pembelajaran yang
                                               siswa      anak      tangga          yang
pernah diterapkan untuk mengubah
                                               membawa siswa ke pemahaman
paradigma         pembelajaran       dengan


                                                                                       2
yang lebih tinggi dengan catatan            fasilitas yang diperlukan siswa.

siswa sendiri harus memanjat                Selain     itu,   guru      memberikan

anak      tangga     tersebut.      Jadi,   dukungan            dalam         upaya

belajar     itu     sendirilah      yang    meningkatkan          temuan          dan

menjadi     tujuan     pembelajaran.        perkembangan intelektual siswa.

Keaktifan siswa menjadi unsur                     Beberapa                kelebihan

yang      sangat     penting       dalam    penerapan pembelajaran berbasis

menentukan kesuksesan belajar.              masalah di antaranya: (1) siswa

Sebenarnya target yang harus                lebih memahami konsep yang

dipenuhi     guru      adalah       siswa   diajarkan sebab mereka sendiri

mampu merekonstruksi sebuah                 yang        menemukan            konsep

kejadian            yang           Model    tersebut, (2) melibatkan secara

pembelajaran berbasis masalah               aktif memecahkan masalah dan

menurut       Mustaji           (2004:73)   menuntut keterampilan berikir

penggunaannya              di      dalam    siswa      yang    lebih    tinggi,    (3)

pengembangan tingkat berpikir               pengetahuan                   tertanam

yang lebih tinggi dalam situasi             berdasarkan         skemata           yang

yang berorientasi pada masalah,             dimiliki          siswa        sehingga

termasuk                pembelajaran        pembelajaran        lebih    bermakna,

bagaimana           belajar.        Pada    (4)     siswa     dapat      merasakan

pembelajaran ini, guru bereran              manfaat       pembelajaran        sebab

mengajukan permasalahan atau                masalah-masalah                       yang

pertanyaan,                memberikan       diselesaikan langsung dikaitkan

dorongan,          memotivasi        dan    dengan kehidupan nyata, hal ini

menyediakan bahan ajar, dan                 dapat      meningkatkan        motivasi

                                                                                     3
dan ketertarikan siswa terhadap             dideskripsikan        sebagai        cara

bahan     yang      dipela-jari,      (5)   bagaimana           seseorang       siswa

menjadikan siswa lebih mandiri              mengolah informasi,

dan     lebih     dewasa,      mampu        sehingga ia dapat mencapai prestasi

memberi aspirasi dan menerima               belajar yang maksimal (Degeng,

pendapat            orang           lain,   2001b:1).

menanamkan sikap sosial yang                    Pendapat Atkinson sebagaimana
positif di antara siswa, dan (6)            dikutip       Lamba            (2006:124)

pengondisian siswa dalam belajar            membedakan gaya kognitif, yaitu

kelompok            yang           saling   gaya    kognitif     field   independent

berinteraksi terhadap guru dan              (articulated) dan field dependent

                                            (global). Siswa yang bergaya kognitif
temannya sehingga pencapaian
                                            field   independent            mempunyai
ketuntasan belajar siswa dapat
                                            kecenderungan        untuk      mencapai
diharapkan.
                                            prestasi    lebih     tinggi     daripada
   Gaya           kognitif         dapat
                                            kecenderungannya             menghindari
dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan
                                            kegagalan. Mereka selalu optimis
atau strategi yang secara stabil
                                            akan berhasil dan cenderung akan
menemukan cara-cara siswa yang
                                            mencapai prestasi yang maksimal.
khas dalam menerima, mengingat,
                                            Pendapat      Witkin         sebagaimana
berpikir, dan memecahkan masalah.
                                            dikutip Degeng (2001b:3) siswa yang
Menurut Slameto (2003:162) gaya
                                            bergaya kognitif field independent
kognitif adalah ‖variabel penting
                                            cenderung melakukan analisis dan
dalam pilihan-pilihan yang dibuat
                                            sintesis terhadap informasi yang
oleh siswa dalam sejumlah hal
                                            dipelajari. Sebaliknya, siswa yang
berhubungan dengan perkembangan
                                            bergaya kognitif field dependent
akademik‖.      Jadi,   gaya   kognitif

                                                                                   4
lebih      cenderung         mengantisipasi      tantangan, kegairahan, dan kerja

kegagalan dengan memilih tugas-                  keras.

tugas yang mudah dan sifatnya
                                                       Kemungkinan          berhasil     atau
harus      banyak      bimbingan,       serta
                                                 gagal dalam konsep gaya kognitif
kurang mampu memisahkan hal-hal
                                                 ada      dua      kecenderungan         yaitu
yang relevan dan tidak relevan
                                                 kecenderungan                    mendekati
dalam suatu situasi. Individu yang
                                                 keberhasilan        dan    kecenderungan
mempunyai          gaya      kognitif    field
                                                 menjauhi kegagalan. Gaya kognitif
independent jika dihadapkan pada
                                                 sebagai gaya usaha untuk berhasil
tugas-tugas       yang       kompleks    dan
                                                 dan        menganggapnya              sebagai
bersifat          analisis       cenderung
                                                 dorongan        dengan     kecenderungan
melakukannya dengan baik, dan
                                                 mendekati suatu keberhasilan atau
apabila     berhasil,     antusias      untuk
                                                 suatu      yang      berkaitan        dengan
melakukan tugas-tugas yang lebih
                                                 prestasi. Gaya kognitif seseorang
berat lebih baik lagi dan mereka
                                                 individu       ditentukan     oleh     kedua
lebih senang untuk bekerja secara
                                                 kecenderungan tersebut.
mandiri.     Gaya        kognitif    sebagai

keinginan          untuk        mengalami              Gaya kognitif memiliki landasan

keberhasilan dan peran serta dalam               teoretik dan empirik yang kokoh.

kegiatan     di     mana       keberhasilan      Perilaku ini telah banyak diamati

bergantung         pada        upaya     dan     pada bidang bisnis, pendidikan, dan

kemampuan           seseorang        (Slavin,    latar lainnya. Kajian Heller (1992)

1995). Gaya kognitif seseorang dapat             menyimpulkan               ada         enam

dilihat dari sikap dan perilaku,                 karakteristik       gaya    kognitif    yang

misalnya keuletan, ketekunan, daya               konsisten ditemukan dalam konteks

tahan,      keberanian         menghadapi        sekolah yaitu: (1) siswa yang bergaya

                                                 kognitif    field    independent        lebih


                                                                                            5
menyukai terlibat dalam situasi ada                  Kajian      tingkat     gaya     kognitif

risiko kegagalan. Sebaliknya, siswa              dalam penelitian ini terbatas pada

yang         bergaya       kognitif      field   tingkat gaya kognitif yang dapat

dependent        cenderung            memilih    dilihat    dari       perilaku       subjek.

tugas-tugas mudah, (2) faktor kunci              Misalnya, siswa mudah dipengaruhi

yang    memotivasi         siswa      bergaya    oleh lingkungannya ataupun sulit

kognitif field independent adalah                dipengaruhi       oleh     lingkungan     di

kepuasan intrinsik dari keberhasilan             mana siswa itu berada, harapan

itu sendiri, bukan pada ganjaran                 untuk      sukses,        bekerja      keras,

ekstrinsik,      seperti      uang       atau    kekhawatiran         akan     gagal,     dan

prestise. Siswa yang bergaya kognitif            keinginan memperoleh nilai yang

field independent akan bekerja keras             tinggi (Lamba, 2006)

agar     berhasil,     (3)      cenderung
                                                     Mata          pelajaran         geografi
membuat pilihan atau tindakan yang
                                                 membangun dan mengembangkan
realistis,         dalam              menilai
                                                 pemahaman siswa tentang variasi
kemampuannya dengan tugas-tugas
                                                 dan organisasi spasial masyarakat,
yang dikerjakan, (4) siswa yang
                                                 tempat,      dan         lingkungan        di
bergaya kognitif field independent
                                                 permukaan            bumi.           Dengan
menyukai situasi yang dapat menilai
                                                 karakteristik     yang      kompleks      ini
sendiri kemajuan dan pencapaian
                                                 merupakan tantangan bagi siswa,
tujuannya, (5) siswa yang bergaya
                                                 sehingga siswa yang bergaya kognitif
kognitif field independent perspektif
                                                 field independent akan lebih tekun
waktu jauh ke depan, dan (6) siswa
                                                 belajar,   bekerja       keras,     berusaha
yang         bergaya       kognitif      field
                                                 semaksimal mungkin, dan tidak
independent            tidak            selalu
                                                 membuang-buang            waktu       karena
menunjukkan rata-rata nilai yang
                                                 merasa tertantang, mereka ingin
tinggi di sekolah.


                                                                                            6
berprestasi.      Siswa    yang   bergaya

kognitif field dependent tidak begitu

rela      untuk      melibatkan      diri

sepenuhnya        dalam     mengerjakan

tugas-tugas yang kompleks, karena

takut gagal tidak mau menanggung

risiko.


    Untuk menjadi geografi terpadu

(unifying         geography)        perlu

ditegaskan komponen inti geografi.

Matthews dan Herbert (2004:379)                 Gambar 1. Konsep ‗Uniflying

mengusulkan empat komponen inti                             Geography‘

geografi, yaitu: (1) ruang (space),
                                                Berdasarkan          uraian    di    atas,
tempat         (place),       lingkungan
                                            permasalahan penelitian ini dapat
(environment), dan peta (maps).
                                            dirumuskan       sebagai berikut:          (1)
Ruang, tempat, lingkungan, dan peta
                                            adakah        perbedaan         pemahaman
menjadi label geografi. Keempat
                                            ‗uniflying      geography‘              secara
komponen        tersebut     mempunyai
                                            signifikan      antara       pembelajaran
kedudukan yang sama dalam kajian
                                            berbasis masalah dan pembelajaran
geografi, baik kajian geografi fisik
                                            konvensional?,            (2)        adakah
maupun geografi manusia. Demikian
                                            perbedaan       pemahaman          ‗uniflying
juga dapat menjadi dasar konsep
                                            geography‘ secara signifikan antara
untuk disiplin geografi terpadu.
                                            siswa yang bergaya kognitif field

                                            independent dan siswa yang bergaya

                                            kognitif field dependent?, dan (3)

                                            adakah       interaksi    antara     metode



                                                                                        7
pembelajaran      dan      gaya      kognitif    pembelajaran berbasis masalah dan

terhadap      pemahaman             ‗uniflying   pembelajaran      konvensional,      (2)

geography‘?                                      variabel     moderator    yaitu     gaya

                                                 kognitif yang dikategorikan atas gaya
   Penelitian ini bertujuan untuk
                                                 kognitif field independent dan gaya
(1) menguji signifikansi pemahaman
                                                 kognitif field dependent, dan (3)
‗uniflying geography‘ yang berbeda
                                                 variabel terikat yaitu pemahaman
antara       pembelajaran            berbasis
                                                 ‗uniflying    geography‘.       Populasi
masalah         dan          pembelajaran
                                                 penelitian ini adalah siswa kelas X
konvensional,          (2)           menguji
                                                 SMAN 1 Sidayu semester genap
perbedaan     pemahaman             ‗uniflying
                                                 tahun pelajaran 2010/2011 dengan
geography‘ secara signifikan antara
                                                 jumlah siswa 280 orang. Sampel
siswa yang bergaya kognitif field
                                                 penelitian    berjumlah     64    siswa
independent dan siswa yang bergaya
                                                 diambil dengan teknik random yang
kognitif field dependent, dan (3)
                                                 terdiri atas 32 siswa yang bergaya
menguji interaksi antara metode
                                                 kognitif field independent dan 32
pembelajaran      dan      gaya      kognitif
                                                 siswa yang bergaya kognitif field
terhadap      pemahaman             ‗uniflying
                                                 dependent.
geography‘

                                                     Instrumen      penelitian       yang

                                                 digunakan dalam pengumpulan data
METODE
                                                 terdiri atas dua yaitu (a) tes gaya
   Jenis      penelitian      ini      adalah
                                                 kognitif, dan (b) tes pemahaman
penelitian     kuasi       eksperimental
                                                 geografi. Instrumen gaya kognitif
dengan desain faktorial 2 x 2.
                                                 terdiri dari 20 soal yang berbentuk
Variabel-variabel yang diteliti adalah
                                                 gambar-gambar yang rumit. Dalam
(1) variabel bebas yaitu metode
                                                 gambar-gambar      yang     rumit    itu
pembelajaran      yang       terdiri     atas


                                                                                        8
ditempatkan            gambar       yang     Analisis data dalam penelitian ini

sederhana.       Sebagai      jawabannya     menggunakan         teknik          analisis

siswa disuruh mencari gambar yang            kovarian (anakova).

sederhana itu di dalam gambar yang

rumit       dengan   jalan    menebalkan
                                             HASIL DAN PEMBAHASAN
gambar yang sederhana tersebut.
                                                 Hasil analisis dan pengujian
Tes gaya kognitif dilaksanakan pada
                                             hipotesis menunjukkan bahwa ada
minggu pertama bulan Januari 2011.
                                             perbedaan     pemahaman           ‗uniflying
      Tes     pemahaman         ‗uniflying   geography‘ secara signifikan antara
geography‘ dengan menggunakan 40             pembelajaran berbasis masalah dan
soal pilihan ganda yang setelah              pembelajaran konvensional. Temuan
diujicobakan diperoleh soal yang             ini membuktikan bahwa hipotesis
memenuhi syarat valid dan reliabel           yang diajukan dalam penelitian ini
sebanyak 35 soal untuk setiap soal           yaitu ada perbedaan pemahaman
terdapat        lima         kemungkinan     ‗uniflying              geography‘secara
jawaban.        Sebelum         dilakukan    signifikan     antara      pembelajaran
pengujian hipotesis, terhadap semua          berbasis masalah dan pembelajaran
data dilakukan uji prasyarat dengan          konvensional siswa kelas X SMAN 1
uji normalitas dan uji homogenitas.          Sidayu. Jadi, hipotesis yang diajukan
Uji     normalitas      digunakan      uji   dalam      penelitian     ini     diterima.
Kolmogorov-Smirnov.                   Uji    Maksudnya, metode pembelajaran
homogenitas                  menggunakan     berbasis     masalah      lebih     unggul
perangkat analisis Levene Statistic.         daripada      metode       pembelajaran
Dari    pengujian      ternyata    bahwa     konvensional dalam mempengaruhi
semua kelompok data memenuhi                 pemahaman ‗uniflying geography‘.
asumsi normalitas dan homogenitas.



                                                                                       9
geography‘.      Jadi,   hipotesis   yang

                                               diajukan dalam penelitian yaitu ada

                                               interaksi          antara          metode
      Hasil analisis dan pengujian             pembelajaran       dan    gaya    kognitif
hipotesis menunjukkan bahwa ada                terhadap      pemahaman          ‗uniflying
perbedaan    pemahaman            ‗uniflying   geography‘ siswa kelas X SMAN 1
geography‘ secara signifikan antara            Sidayu ditolak.
siswa yang bergaya kognitif field

independent dan siswa yang bergaya
                                               Pengaruh Metode
kognitif field dependent siswa kelas
                                               Pembelajaran terhadap
X SMAN 1 Sidayu. Temuan                  ini
                                               Pemahaman „Uniflying
menunjukkan         bahwa siswa yang
                                               Geography‟
bergaya kognitif field independent

rerata hasil belajarnya lebih tinggi                 Hasil analisis dan pengujian

daripada siswa yang bergaya kognitif           hipotesis menunjukkan bahwa ada

field dependent. Jadi, hipotesis yang          perbedaan        pemahaman       ‗uniflying

diajukan    dalam         penelitian     ini   grography‘ secara signifikan antara

diterima. Maksudnya, siswa yang                metode        pembelajaran        berbasis

bergaya kognitif field independent             masalah dan metode pembelajaran

lebih baik pemahaman geografinya               konvensional.            Temuan         ini

daripada siswa yang bergaya kognitif           membuktikan bahwa hipotesis yang

field dependent.                               diajukan dalam penelitian ini yaitu

                                               ada         perbedaan       pemahaman
      Hasil analisis dan pengujian
                                               .uniflying geography‘ siswa kelas X
hipotesis menunjukkan bahwa tidak
                                               SMAN 1 Sidayu.
ada     interaksi     antara        metode

pembelajaran        dan    gaya    kognitif          Geografi     merupakan          ilmu

terhadap     pemahaman            ‗uniflying   integratif        yang      mempelajari

                                                                                       10
fenomena      geografis          mencakup

dimensi      fisik     dan       sosial     di

permukaan bumi dalam perspektif

keruangan      untuk       pembangunan

wilayah     supaya      manusia       hidup

sejahtera. Geografi sebagai disiplin

ilmu dan      mata pelajaran dengan

kajian    fenomena       geografis        yang

cukup luas, kompleks, dan sulit

sehingga     menuntut         kemampuan

siswa memecahkan masalah untuk

dapat memahami fenomena fisik                    Gambar 2. Geografi dan bidang-

dan sosial        secara komprehensif            bidang    ilmu bantunya (Haggett,

dengan pendekatan spasial maka                   2001:766).

guru     geografi     harus      melakukan
                                                    Geografi dan bidang-bidang ilmu
pembelajaran          berbasis     masalah
                                                 bantunya dapat dikuasai oleh siswa,
dengan melibatkan siswa secara
                                                 antara lain jika digunakan metode
aktif.    Untuk       dapat      memahami
                                                 pembelajaran berbasis masalah. Hal
fenomena      fisik     dan      sosial     di
                                                 ini menurut Khafid (2010:77) karena
permukaan bumi dalam perspektif
                                                 siswa akan lebih banyak kesempatan
spasial maka siswa perlu mendalami
                                                 untuk berpartisipasi, memberi dan
ilmu geografi dan             ilmu bantu
                                                 menerima        bantuan      dalam
geografi dengan bimbingan guru
                                                 menjelaskan    dan    meningkatkan
melalui kajian Gambar 2.
                                                 belajar       dalam       kelompok,

                                                 meningkatkan motivasi untuk sukses

                                                 karena sukses tidak hanya untuk



                                                                                  11
dirinya sendiri tetapi juga untuk          Pengaruh        Gaya       Kognitif

kelompoknya. Motivasi yang baik            terhadap ‟Uniflying Geography‟

dalam    mengerjakan      tugas    akan
                                              Hasil analisis dan pengujian
membantu perkembangan belajar,
                                           hipotesis     menunjukkan         ada
siswa tidak terisolasi, siswa diberi
                                           perbedaan    pemahaman     ‘uniflying
lebih banyak tanggung jawab.
                                           geography‘ secara signifikan antara

   Metode pembelajaran berbasis            siswa yang bergaya kognitif field

masalah menggunakan level yang             independent dan siswa yang bergaya

lebih    tinggi     dalam      berpikir.   kognitif field dependent. Temuan ini

Berinteraksi dengan teman atau             menunjukkan bahwa siswa yang

orang lain mendorong orang untuk           bergaya kognitif field independent

membangun kembali pikiran mereka           rerata hasil belajarnya lebih tinggi

seperti merangkum, menguraikan,            daripada siswa yang bergaya kognitif

dan menjelaskan. Ketidaksetujuan,          field dependent. Jadi, hipotesis yang

jika ditangani dengan baik akan            diajukan     dalam   penelitian   ini

membantu          dalam     kejernihan     diterima dan siswa yang bergaya

berpikir dan meningkatkan untuk            kognitif field independent lebih baik

membangun kembali pengetahuan              pemahaman geografinya daripada

yang baru. Mendengarkan perspektif         siswa yang bergaya kognitif field

orang     lain,    terutama       dalam    dependent. Temuan ini memperkuat

kelompok          yang      heterogen,     penelitian     McCelland     (dalam

meningkatkan       kesadaran      bahwa    Slameto, 2003) yang menyatakan

banyak cara pandang, menghargai            bahwa seorang yang bergaya kognitif

keberagaman sebagaimana tuntutan           field independent lebih baik hasil

studi geografi.                            belajarnya (pemahaman geografi)




                                                                              12
dibandingkan dengan yang bergaya               tidak begitu rela untuk melibatkan

kognitif field dependent.                      diri sepenuhnya dalam mengerjakan

                                               tugas     belajar     yang     dihadapinya.
   Dalam rangka belajar di sekolah
                                               Pada siswa yang bergaya kognitif
gaya kognitif terwujud sebagai daya
                                               field independent berusaha secara
penggerak siswa, sikap, dan perilaku
                                               maksimal, ukuran mengenai prestasi
untuk     mengusahakan            kemajuan
                                               banyak      ditentukan        oleh     usaha
belajar     dan     berprestasi        yang
                                               mereka      sendiri        ataupun     belajar
maksimal.     Siswa        yang    bergaya
                                               dengan teman-teman. Siswa yang
kognitif field independent keinginan
                                               bergaya kognitif field dependent
untuk sukses benar-benar berasal
                                               dengan mudah dipengaruhi oleh
dari dalam diri sendiri. Siswa ini
                                               lingkungannya,         baik     lingkungan
tetap bekerja keras baik dalam
                                               belajar       maupun            lingkungan
situasi bersaing dengan orang lain,
                                               hidupnya.     Ia     ingin     menghindari
maupun      dalam     bekerja       sendiri.
                                               kegagalan dan bersamaan dengan itu
Siswa yang bergaya kognitif field
                                               memiliki      aspirasi        yang      tidak
independent        untuk     memperoleh
                                               realistis, menentukan target yang
prestasi baik, dia mencapai sesuai
                                               sebenarnya      terlalu       rendah     atau
dengan taraf kemampuannya. Untuk
                                               terlalu tinggi untuk mencari jaminan
itu, lebih tekun belajar, bekerja
                                               tidak akan mengalami kegagalan.
keras, ingin berkompetisi sehingga
                                               Siswa yang bergaya kognitif field
tidak     pernah     membuang-buang
                                               independent          memiliki        harapan
waktu.    Pengalamannya           bersukses
                                               untuk sukses dan bekerja secara
meningkatkan usaha untuk sukses
                                               mandiri.     Mereka          tidak    mudah
lagi dikemudian hari. Sebaliknya,
                                               dipengaruhi         oleh     lingkungannya
siswa yang bergaya kognitif field
                                               sehingga selalu mau belajar terus
dependent untuk berprestasi baik
                                               sepanjang hayat.


                                                                                          13
lainnya.        Dalam       penelitian   ini

Interaksi Metode Pembelajaran                    terungkap bahwa tidak ada interaksi,

dan Gaya Kognitif terhadap                       ini      berarti        bahwa       metode

Pemahaman                          „Uniflying    pembelajaran bekerja sendiri-sendiri

Geography‟                                       memengaruhi pemahaman belajar

                                                 geografi, demikian juga dengan gaya
      Hasil analisis dan pengujian
                                                 kognitif        bekerja      sendiri-sendiri
hipotesis menunjukkan bahwa tidak
                                                 terhadap          pemahaman          belajar
ada      interaksi      antara        metode
                                                 geografi. Atau dengan kata lain
pembelajaran         dan    gaya      kognitif
                                                 metode          pembelajaran       berbasis
terhadap      pemahaman             ‗uniflying
                                                 masalah dan metode pembelajaran
geography‘.    Jadi,       hipotesis     yang
                                                 konvensional membawa suatu akibat
diajukan dalam penelitian yaitu ada
                                                 terhadap hasil belajar geografi siswa
interaksi            antara           metode
                                                 kelas X SMAN 1 Sidayu apapun juga
pembelajaran         dan    gaya      kognitif
                                                 tingkat gaya kognitifnya. Demikian
terhadap      pemahaman             ‗uniflying
                                                 dengan gaya kognitif, gaya kognitif
geography‘ siswa kelas X SMAN 1
                                                 field independent dan gaya kognitif
Sidayu terbukti tidak ada interaksi.
                                                 field dependent membawa suatu
      Interaksi dalam penelitian ini
                                                 akibat          terhadap       pemahaman
diartikan kerja sama dua variabel
                                                 ‗uniflying geography‘ siswa kelas X
bebas       atau           lebih       dalam
                                                 SMAN 1 Sidayu apapun juga metode
mempengaruhi            suatu         variabel
                                                 pembelajarannya.
terikat. Interaksi terjadi manakala
                                                       Belajar      adalah      penyusunan
suatu variabel bebas memiliki efek-
                                                 pengetahuan          dari      pengalaman
efek yang berbeda terhadap suatu
                                                 konkrit, aktivitas kolaborasi, refleksi,
variabel    terikat        pada      berbagai
                                                 dan interpretasi. Aktivitas belajar
tingkat dari suatu variabel bebas


                                                                                          14
lebih banyak didasarkan data primer             mata      pelajaran     tertentu     dalam

dan     bahan       manipulatif      dengan     pembelajaran,         sehingga       tujuan

penekanan           pada       keterampilan     pembelajaran dapat tercapai. Proses

berpikir      kritis     dan       kompleks.    belajar itu sendiri merupakan suatu

Karakteristik siswa begitu sangat               sistem pembelajaran yang secara

kompleks       meliputi        antara    lain   otomatis      terjadi      dalam        diri

intelegensia, sikap, gaya belajar,              seseorang. Tugas pendidik adalah

gaya kognitif, gaya berpikir, dan               bagaimana membelajarkan peserta

motivasi.                                       didik di sekolah supaya mereka

                                                memiliki     kecakapan      hidup       dan
      Gaya kognitif hanyalah salah
                                                berkembang                   kecerdasan
satu bagian dari sekian banyak
                                                majemuknya.
karakter sehingga kalau interaksi

belum tampak dalam penelitian ini,

hal itu dapat dimaklumi, masih                  SIMPULAN DAN SARAN

memerlukan             pengkajian       lebih
                                                    Ada      perbedaan      pemahaman
mendalam           dengan      memasukkan
                                                ‗uniflying      geography‘           secara
variabel-variabel           lain     sebagai
                                                signifikan     antara      pembelajaran
variabel             kovarian           atau
                                                berbasis masalah dan pembelajaran
mengeliminasi              variabel-variabel
                                                konvensional siswa kelas X SMAN 1
tersebut dalam penelitian. Demikian
                                                Sidayu.      Motode        pembelajaran
juga metode pembelajaran, begitu
                                                berbasis     masalah      lebih     unggul
banyaknya                      model-model
                                                daripada      metode       pembelajaran
pembelajaran dan memang harus
                                                konvensional dalam mempengaruhi
diakui bahwa tidak ada ketentuan
                                                pemahaman ‗uniflying geography‘.
yang       pasti     mengenai        metode
                                                    Ada      pemahaman            ‗uniflying
pembelajaran yang cocok untuk satu
                                                geography‘     yang     berbeda      secara

                                                                                         15
signifikan antara siswa yang bergaya          dependent) membawa suatu akibat

kognitif field independent dan siswa          terhadap     pemahaman             ‗uniflying

yang       bergaya      kognitif      field   geography‘      apapun      juga     metode

dependent di kelas X SMAN 1                   pembelajarannya.

Sidayu. Siswa yang bergaya kognitif
                                                  Pembelajaran berbasis masalah
field     independent          pemahaman
                                              adalah       salah        satu        model
belajar    geografinya     lebih     tinggi
                                              pembelajaran           yang            dapat
daripada siswa yang bergaya kognitif
                                              meningkatkan prestasi akademik,
field dependent.
                                              kecakapan sosial, dan kecakapan

    Tidak     ada     interaksi     antara    komunikasi,       siswa menjadi lebih

metode       pembelajaran          (metode    aktif,          aktivitas            belajar

pembelajaran berbasis masalah dan             menyenangkan, dan menggairahkan.

metode pembelajaran konvensional)             Guru geografi disarankan untuk

dan gaya kognitif (gaya kognitif field        memulai           dengan              model

independent dan gaya kognitif field           pembelajaran       berbasis        masalah,

dependent) terhadap pemahaman                 karena model         pembelajaran ini

‗uniflying geography‘ siswa kelas X           adalah sebagai salah satu metode

SMAN         1       Sidayu.       Metode     yang mampu memahami konsep

pembelajaran (metode pembelajaran             esensial geografi dan memecahkan

berbasis     masalah      dan      metode     permasalahan spasial global.

pembelajaran              konvensional)
                                                  Gaya kognitif adalah salah satu
membawa suatu akibat terhadap
                                              karakteristik     siswa     yang       perlu
pemahaman belajar geografi apapun
                                              mendapat perhatian guru di sekolah.
juga tingkat gaya kognitif siswa.
                                              Siswa yang bergaya kognitif field
Gaya kognitif (gaya kognitif field
                                              independent berikanlah tugas-tugas
independent dan gaya kognitif field
                                              yang         menantang               namun


                                                                                        16
memungkinkan            untuk        sukses,   mencoba        berbagai   metode

mulailah dengan tugas-tugas yang               pembelajaran              inovatif

sedang.    Sebaliknya,       siswa     yang

bergaya kognitif field dependent

berikanlah motivasi terutama dalam

hal    tujuan    belajar     di   sekolah,

mulailah dengan tugas-tugas yang

mudah. Peningkatan kualitas belajar

bukan merupakan kegiatan yang

insidental,       melainkan           harus

merupakan        suatu     proses      yang

berkelanjutan.


      Tidak ada ketentuan yang pasti

mengenai        metode      pembelajaran

yang paling tepat digunakan. Tepat

tidaknya suatu metode baru terbukti

dari hasil belajar siswa melalui

evaluasi yang berkelanjutan dan

beragam yang mampu memahami

konsep geografi yang satu (uniflying

geography) dan fenomena geosfer

atau masalah kegeografian melalui

pendekatan spasial dengan sudut

pandang       ekologi      manusia      dan

regional. Guru geografi disarankan

melakukan         penelitian        dengan



                                                                              17
DAFTAR RUJUKAN

Daldjoeni, N. 1997. Pengantar Geografi untuk Mahasiswa dan Guru Sekolah

   Bandung: Alumni.

Degeng, I.N.S. 2001a. Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang: LP3 UM.

Degeng, I.N.S. 2001b. Karakteristik Belajar Mahasiswa: Kajian Temuan Peneli-

   Tian dan Terapannya dalam Rancangan Pembelajaran. Malang: LP3 UM.

Heller, P.1992. Teaching Problem Solving Through Cooperative Grouping, Part I:

   Group versus Individual Problem Solving. New York: McGraw-Hill.
Haggett, P. 2001. Geography A Global Synthesis. London: Prentice Hall.
Khafid, S. 2003. Pengembangan Rancangan Pembelajaran dengan Pendekatan

   Konstruktivistik pada Mata Pelajaran Geografi. Tesis tidak diterbitkan. Sura-

   baya: PPS Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.

Khafid, S. 2007. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dan Gaya

   Kognitif terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas X SMAN 1 Sidayu.

   Jurnal Forum Pendidikan & Ilmu Pengetahuan, II (04): 31-40.

Khafid, S. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Geografi melalui Implementasi

   Ayat-Ayat Pembelajaran Kontekstual Siswa SMAN 1 Sidayu. Jurnal Kajian

   Teori dan Praktik Kependidikan, 35 (1): 17-28.

Khafid, S. 2010. Pembelajaran Kooperatif Model Investigasi Kelompok, Gaya

   Kognitif, dan Hasil Belajar Geografi. Jurnal Ilmu Pendidikan, 17 (1): 73-78.

Lamba, H.A. 2006. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Gaya

   Kognitif terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan,

   13 (2): 122-128.

Matthews, J.A. and Herbert, D.T. 2004. Unifying Geography Common Heritage,

   Shared Future. London: Routledge.

Mustaji. 2004. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik. Surabaya: Unesa Univer-
      sity Press.
Nur, M. dan Wikandari, P.R. 1999. Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan




                                                                                   18
Pendekatan Konstruktivis dalam Pengajaran. Surabaya: Unesa University

   Press.

Riyanto, Y. 2005. Paradigma Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:

   Rineka Cipta.

Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning Research, Theory and Practice. Boston:

   Allyn and Bacon.

Suharyono dan Amien, M. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: Dirjen.

   Dikti. Depdikbud.

Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta:

   Kanisius.

Syah, M. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.




      IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL-FUTUHIYAH

                       GENDONGKULON-BABAT LAMONGAN




                                                                                 19
Sri Sundari *)

Abstrak, Iklim kerja yang kondusif adalah suatu kondisi, keadaan atau suasana kerja yang
dirasakan menyenangkan oleh setiap individu yang ada dalam lembaga sehingga orang-
orang di dalamnya selalu terdorong untuk terlibat secara produktif guna mencapai tujuan
yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Lembaga penyelenggara pendidikan salah
satunya memiliki fungsi dalam usaha-usaha mengembangkan pendidikan dalam rangka ikut
dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
keadaan iklim kerja di Pondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan.

    Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan fokus penelitian adalah iklim kerja di
Pondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Data dikumpulkan dengan
kuesioner selanjutnya data ditampilkan dengan tabel dan dianalisis secara deskriptif.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim kerja organisasi yang meliputi, suasana
kerja, orientasi nilai, citra diri, gaya kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, dan sistem
ganjaran dirasakan nyaman, kondusif, penuh keakraban dan kekeluargaan, saling
menghargai oleh pegawainya, dan terlaksananya kepemimpinan dengan baik.

    Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pimpinan pesantren dapat mempertahankan
dan meningkatkan iklim kerja yang ada khususnya suasana kerja, orientasi nilai, gaya
kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, ganjaran dan meningkatkan citra diri orgaisasi
di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan.



Kata Kunci : Iklim Kerja



PENDAHULUAN                                      dengan baik, apabila setiap personil yang
                                                 ada baik pimpinan maupun staf
    Peningkatan prestasi kerja dalam             mempunyai          pandangan        bahwa
suatu lembaga merupakan tujuan yang              ―Keseluruhan lebih berarti dan bagian‖.
diinginkan oleh lembaga. Sebagai satu            Sebagai faktor utama dalam lembaga,
kesatuan yang kompleks dimana di                 kelangsungan hidup dan keberhasilan
dalamnya terdapat sekelompok manusia             lembaga bergantung pada manusia yang
yang memiliki kesamaan tujuan dan                berperan     dibalik   alat-alat  ataupun
kepentingan, mereka kurang bekerja               sumber-sumber daya lainnya. Oleh sebab
secara produktif jika tidak disertai dengan      itu, seharusnyalah lembaga sebagai wadah
adanya iklim kerja yang menyenangkan.            manusia       beraktifitas      mempunyai
Lembaga sebagai suatu proses, di                 tanggungjawab          penuh        untuk
dalamnya terdapat kerjasama antara               mengembangkan kualitas sumber daya
pimpinan dan pegawai dalam pencapaian            manusia yang dimiliki serta selalu
tujuan lembaga. Kerjasama dapat tercipta         menciptakan iklim kerja yang kondusif




                                                                                         20
dalam pencapaian tujuan yang telah            kondusif telah dikemukakan oleh Stoner
ditetapkan.                                   (dalam Mulyono, 1993:67) yang mana
                                              iklim kerja yang permisifdan kreatifakan
     Lingkungan       tempat        bekerja   terpupuk      apabila   para    individu
merupakan faktor penting yang dapat           mempunyai         kesempatan       untuk
mempengaruhi      kinerja    pegawai     di   berinteraksi    dengan   para    anggota
dalamnya, walaupun ada faktor-faktor lain     kelompoknya sendiri maupun dengan
yang          menentukan           maupun     kelompok-kelompok      kerja     lainnya.
mempengaruhinya. Orang-orang yang             Interaksi    semacam ini      mendorong
berada di dalam lembaga, tempat bekerja       terjadinya pertukaran informasi yang
haruslah mampu menciptakan iklim kerja        bermanfaat, arus gagasan yang bebas dan
yang memberikan rasa aman, pengakuan          perspektif yang sehat mengenai masalah
dan penghargaan serta menjanjikan             yang ada.
kepuasan kerja kepada anggotanya
sehingga nanti pada akhirnya mampu                Berkenaan dengan           iklim kerja
berkinerja dengan baik. Iklim lembaga         lembaga menurut Stoner (1982) ada dua
yang menyenangkan akan tercipta,              golongan yang mempengaruhi situasi
bilamana hubungan antar manusia               pekerjaan,     yaitu     lingkungan  kerja
(human relationship) berkembang dengan        langsung di dalamnya termasuk sistem
harmonis.     Lingkungan     kerja    yang    imbalan lembaga dan kebijakan serta
harmonis yang mendukung lembaga               tindakan lembaga. Sedangkan Cribbin,
dibutuhkan oleh orang-orang dalam             (1981) menjelaskan salah satu unsur iklim
lembaga baik atasan maupun bawahan.           kerja lembaga yang kondusif adalah gaya
Hal ini sejalan dengan pemikiran Stoner       kepemimpinan. Dengan demikian iklim
dalam Mulyono (1993:88) iklim kerja /         kerja yang kondusif adalah suatu kondisi,
suasana     lembaga     (work    situation    keadaan atau suasana kerja yang
characteristic) adalah faktor lingkungan      dirasakan menyenangkan oleh setiap
kerja individu. Di dalam lembaga              individu yang ada dalam lembaga sehingga
hendaknya timbul dinamika kerjasama.          orang-orang di dalamnya selalu terdorong
Kerja sama ini adalah bagian yang vital       untuk terlibat secara produktif guna
dalam kehidupan berlembaga. Adanya            mencapai tujuan yang telah ditetapkan
interaksi dan proses kerja sama anggota       secara efektif dan efisien.
satu dengan anggota lainnya, antara
bagian satu dengan bagian yang lainnya        Sebagai        lembaga      penyelenggara
maupun antara atasan dan pegawainya           pendidikan,      Pondok Pesantren Al-
akan menimbulkan pemahaman terhadap           Futuhiyah             Gendongkulon-Babat
suatu kondisi dan lingkungan kerja            Lamongan memiliki fungsi yang urgen
sehingga     mudah     untuk    mencrima      dalam     usaha-usaha    mengembangkan
informasi dan arus gagasan (ide) dalam        pendidikan di daerah dalam rangka ikut
melakukan kerjasama guna mencapai             dalam meningkatkan pendidikan daerah.
tujuan.                                       Secara keseluruhan keadaan iklim kerja di
                                              lingkungan      Pondok    Pesantren   Al-
    Pentingnya kebebasan berinteraksi         Futuhiyah             Gendongkulon-Babat
dan menjalin hubungan dalam lembaga           Lamongan dapat dikatakan kondusif. Hal
untuk menciptakan iklim kerja yang            ini bisa dilihat bagaimana masing-masing




                                                                                     21
unit kerja begitu berhati-hati dalam           lalu dan sekarang dengan melihat variabel
menjalankan tugas dan wewenang yang            yang ada.
diberikan oleh. Contohnya, informasi
internal lembaga benar-benar dijaga                Penelitian ini berupa penelitian
kerahasiaannya,    meskipun      berusaha      deskriptif karena penelitian ini bertujuan
mendapatkannya dengan prosedur yang            untuk      mencatat,     mendeskripsikan,
benar. Setiap unit menjalankan tugasnya        menganalisis dan menginterpretasikan
dengan sistem birokrasi lembaga yang           keadaan-keadaan yang ada tentang objek
baik sesuai dengan fungsi tiap-tiap            yang akan diteliti (Mardalis, 1990: 26).
unit/bagian yang terdapat pada struktur        Dengan melihat variabel yang ada di
lembaga. Dengan kata lain tiap-tiap            dalam penelitian ini, penelitian ini
unit/bagian      bekerja     benar-benar       merupakan penelitian deskriptif dengan
mengikuti aturan sistem ―pintu ke pintu‖       menggunakan pendekatan kuantitatif.
(door to door). Begitu juga hubungan
antar rekan kerjanya yang terjalin dengan
baik antara satu dengan yang lain,             Populasi dan Sampel Penelitian
meskipun masih terdapat hubungan yang
kurang baik.                                   Populasi

                                                    Populasi sebagai ―keseluruhan subjek
                                               yang diteliti yang didapat dan suatu
METODE PENELITIAN                              informasi tentang masalah penelitian yang
                                               akan dilakukan‖ (Arikunto. 1992:102).
                                               Latunussa (1988:11) menjelaskan ―
Rancangan Penelitian                           populasi adalah sekumpulan objek yang
                                               diteliti‖. Dalam penelitian ini, yang
     Rancangan penelitian pada dasarnya        menjadi populasi adalah seluruh staf di
merupakan keseluruhan proses dan               Pondok        Pesantren      Al-Futuhiyah
penentuan secara matang hal-hal yang           Gendongkulon-Babat Lamongan yang
dilakukan untuk dijadikan pedoman              berjumlah 67 orang. Lebih jelasnya dapat
selama pelaksanaan penelitian. Suatu           dilihat pada tabel berikut.
penelitian     diselenggarakan       untuk
mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
Untuk      mencapai    tujuan     tersebut,
                                                                Tabel 1
diperlukan metode penelitian yang sesuai.
Berkaitan dengan metode penelitian,             Jumlah Staf Pondok Pesantren Al-
Surakhmad (1982: 131) mengemukakan               Futuhiyah Gendongkulon-Babat
tiga macam metode penelitian yaitu :                       Lamongan
historis, deskriptif dan eksperimen.
Ditinjau dan masalah dan tujuan                 No          Sub. Bagian         Jumlah
penelitian,    maka      penelitian      ini
menggunakan       rancangan      penelitian     1.   Penasehat                    4
                                                2.   Penanggungjawab               1
deskriptif   yang     bertujuan      untuk
                                                3.   Pimpinan                     4
mendeskripsikan kejadian-kejadian masa          4.   Staf Pengajar                25
                                                5.   Tata Usaha                    5




                                                                                       22
6.   Dewan Pengurus               10          Dengan melihat penjelasan di atas
 7.   Bendahara                     2      untuk     mendapatkan     sampel     yang
 8.   Sekretaris                    2      representatif   maka     sampel      yang
 9.   Pegawai                       8      digunakan dalam penelitian ini adalah
 Jumlah                            67      sampel total. Dengan kata lain semua
Sumber Pondok Pesantren AI-Futuhiyah
                                           populasi akan menjadi subjek penelitian.
Gendongkulon Babat Lamongan

Sampel Penelitian

    Tujuan      pengambilan    sampel      Instrumen Penelitian
penelitian dimaksudkan untuk mengatasi             Instrumen penelitian adalah alat
keterbatasan tenaga, waktu dan biaya,      yang digunakan oleh seorang peneliti
namun sampel harus mewakili atau           dalam pengumpulan data. Instrumen
mencerminkan seluruh populasi yang         penelitian    yang    digunakan   untuk
menjadi objek penelitian.                  menyimpulkan data dari lapangan untuk
     Definisi sampel penelitian banyak     variabel iklim kerja lembaga adalah
dikemukakan oleh para ahli, Arikunto       angket. Alasan menggunakan angket
(1996:117) menjelaskan sampel adalah       adalah karena pertimbangan keterbatasan
―Sebagian atau wakil populasi yang         waktu, tenaga dan biaya.
diteliti‖. Sedangkan Hadi (1997:21)
mengemukakan bahwa sampel adalah
―Sejumlah penduduk yang jumlahnya          Prosedur Pengembangan Instrumen
kurang dari populasi‖. Sampel penelitian
ini diambil acuan sebagai wakil populasi           Berkaitan dengan pengembangan
yang representatif. Ukuran besarnya        instrumen, maka langkah berikutnya yaitu
sampel yang pasti memang tidak ada,        menyusun instrumen masing-masing
namun untuk menjaga validitas data         variabel yang berpedoman pada indikator
penelitian harus mempunyai pedoman         yang disajikan pada jabaran-jabaran.
tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh    Kemudian        jabaran      masing-masing
Arikunto (1996: 120) ―Apabila subjeknya    variabel ditetapkan dan disajikan dalam
kurang dari 100, lebih baik diambil        bentuk matrik jabaran variabel, sub
seluruhnya,      sehingga     merupakan    variabel dan indikator penelitian. Sebaran
penelitian populasi, selanjutnya jika      nomer item instrumen penelitian ini dapat
jumlah subjeknya besar dapat diambil       dilihat pada tabel 2 berikut.
antara 10-15% atau 20-50 atau lebih‖.




                                                                                  23
Tabel 2


  Jabaran variabel, sub variabel, indikator penelitian san nomor item dalam
                  instrumen penelitian (sebelum uji coba)

Variabel      Sub Variabel                               Indikator                            No. Item
Iklim kerja   a. Suasana kerja   a. Suasana kerja yang hangat, ramah, santai dan penuh           1,2,3
lembaga                             kesungguhan
                                 b. Saling menghargai                                                4
                                 c. Saling menolong                                                  5
                                 d. Terbuka terhadap gagasan baru                                    6
              b. Orientasi       a. Mengerjakan yang baik-baik                                       7
                 nilai           b. Kerjasama dengan orang lain                                      8
                                 c. Perlakuan etis                                                   9
                                 d. Memperbaiki prestasi                                            10
                                 e. Memutuskan tujuan unit atau lembaga                             11

              c. Citra diri      a. Cakap                                                         12
                                 b. Percaya diri                                                  13
                                 c. Sangat konservatif dan hati-hati                              14
              d. Gaya            a. Konsultatif dan partisipatif                                 15,16
                 kepemimpina     b. Berorientasi pada pemecahan masalah bersama                   17
                 n               c. Memberikan pengarahan dan pengendalian                        18
                                 d. Berorientasi pada manusia                                     19
                                 e. Banyak membantu dan memudahkan                                20
                                 f. Adil                                                          21
                                 g. Inovatif                                                      22
                                 h. Berorientasi pada kebaikan dan terpusat pada perspektif      23,24
                                    jangka pendek dan jangka panjang                          25,26,27,28
              e. Daya tolak      a. Tumbuh sesuai rencana                                         29
                 atau daya       b. Mempertahankan kedudukan                                      30
                 dorong          c. Menekan inovasi dan teknologi                              31,32,33
                                 d. Menekannkan sumber daya manusia dan manajemen                34,35
              f. Daya tangkap    a. Kecepatan lembaga yang tinggi                                 36
                                 b. Tidak tergesa-gesa                                            37
                                 c. Direncanakan                                                  38
              g. Ganjaran        a. Ganjaran materi
                                    1. Gaji                                                       39
                                    2. Tunjangan                                              40,41,42,43
                                 b. Ganjaran psikologis
                                    1. Pengakuhan dan penghargaan                                 44
                                    2. Perhatian dan tanggung jawab                               45




                                                                                               24
Analisis Data

    Analisis data merupakan bagian
                                               Banyaknya interval/kategori kelas dalam
metode penelitian yang sangat penting
                                               penelitian ini ditetapkan berjumlah 4
dalam mencari makna data untuk
                                               yaitu:
memecahkan masalah penelitian. Ada
beberapa teknik yang dapat digunakan                               Tabel 3
dalam penelitian ini. Untuk menentukan
teknik analisis yang tepat, maka harus         Kategori dan Penafsiran Skala Sikap
memperhatikan tujuan penelitian dan data
                                                 Katagori       Penafsiran
yang tersedia.                                                                  Skor interval
                                                   kelas        skala sikap
                                               Sangat tinggi       Selalu         3,24 – 4
    Teknik analisis data yang digunakan           Tinggi          Sering         2,6 – 3,25
dalam penelitian ini adalah teknik analisis       Cukup          Kadang-         1,76 – 2,5
deskriptif. Teknik ini digunakan untuk                            kadang
mendeskripsikan atau menggambarkan               Kurang        Tidak pernah       1 – 1,75
kondisi yang ada/tingkat iklim kerja
lembaga yang dirasakan oleh pegawai di
                                               Menentukan besarnya persentase
Lingkungan Pondok Pesantren Al-
Futuhiyah            Gendongkulon-Babat        Untuk menyatakan kondisi                masing-
Lamongan      (tujuan     umum)        serta   masing variabel dengan rumus :
keadaan/tingkat      lingkungan        kerja
langsung, orientasi nilai, citra diri, gaya    %=
kepemimpinan, daya dorong, daya
tanggap dan pemberian kompensasi               Keterangan : f = Frekuensi N = Jumlah
pegawai di Lingkungan Pondok Pesantren         subyek
Al-Futuhiyah         Gendongkulon-Babat
Lamongan (tujuan khusus). Adapun
langkah-langkah yang perlu dilaksanakan        HASIL PENELITIAN
adalah :


                                                                   Tabel 4
Menentukan kualifikasi
                                                   Deskripsi Data Variabel Iklim Kerja
     Langkah     ini    dilakukan    untuk                     Lembaga
menentukan kualifikasi penilaian terhadap
variabel penelitian, yang harus ditentukan                           B. Kelas
                                               No.   Kualifikasi                   f         %
terlebih dahulu lebar kelas intervalnya.                             interval
Sedangkan untuk menentukan lebar kelas          1. Sangat tinggi    131 – 160     25     37,31
                                                2.    Tinggi        101 – 130     39     58,20
interval (i) adalah rentang (R)= skor
                                                3.    Cukup          71 – 100     3       4,47
tertinggi dikurangi dengan skor terendah,       4.   Kurang          40 – 70       -        -
dibagi dengan banyaknya interval (k).                      Total                  67      100
Dengan       demikian      rumus     untuk
menentukan panjang interval (i) adalah :




                                                                                              25
Berdasar hasil pengolahan data               sponden dengan persentase 11,95%
variabel iklim kerja lembaga di Pondok            menyatakan bahwa suasana kerja di
Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-              Pondok      Pesantren       Al-Futuhiyah
Babat Lamongan menunjukkan bahwa                  Gendongkulon-Babat Lamongan berada
secara umum berada pada kategori tinggi           dalam kategori sangat tinggi dan 8 orang
yaitu sebesar 58,20% atau sebanyak 39             reponden lainnya dengan persentase
dari 67 responden menyatakan bahwa                sebesar 11,95% menyatakan bahwa
iklim kerja lembaga di Pondok Pesantren           suasana kerja di Pondok Pesantren Al-
Al-    Futuhiyah    Gendongkulon-Babat            Futuhiyah      Gendongkulon        Babat
Lamongan berada dalam kategori tinggi.            Lamongan berada dalam kategori cukup.
Hal ini sesuai dengan pendapat Kossen
(1986) menjelaskan bahwa hubungan
manusiawi merupakan tanggungjawab
                                                                      Tabel 6
setiap orang dalam lembaga. Manajer
mempunyai tanggung jawab utarna untuk              Deskripsi Data untuk Sub Variabel
menegakkan iklim hubungan manusiawi                          Orientasi Nilai
yang menyenangkan, demikian pula para
anggota (sub ordinal) dan para karyawan                                D. Kelas
                                                  No.   Kualifikasi                  f     %
                                                                        interval
operasional lembaga juga mempunyai
                                                   1. Sangat tinggi 16,26 – 20       12   17,91
pengaruh terhadap iklim dan seyogyanya             2.    Tinggi      12,51 – 16,25   43   64,17
berbagi tanggungjawab.                             3.    Cukup       8,76 – 12,50    12   17,91
                                                   4.   Kurang         5 – 8,75       -     -
                                                               Total                 67    100
                                                       Hasil pengolahan data untuk sub
                     Tabel 5                      variabel     orientasi     nilai    dengan
 Deskripsi Data untuk Sub Variabel                menggunakan          teknik      persentase
           Suasana Kerja                          menunjukkan bahwa secara umum
                                                  orientasi nilai di Pondok Pesantren Al-
                       C. Kelas                   Futuhiyah              Gendongkulon-Babat
No.    Kualifikasi                   f     %
                        interval                  Lamongan berada pada kategori tinggi
 1.   Sangat tinggi 16,26 – 20       8    11,95   yaitu sebesar 64,17% atau sebanyak 43dari
 2.      Tinggi      12,51 – 16,25   51   76,12
                                                  67 responden menyatakan bahwa orientasi
 3.      Cukup       8,76 – 12,50    8    11,95
 4.     Kurang         5 – 8,75       -     -     nilai pegawai di Pondok Pesantren Al-
               Total                 67    100    Futuhiyah              Gendongkulon-Babat
                                                  Lamongan berada dalam kategori tinggi.
                                                  Sedangkan masing-masing 15 responden
     Tabel 5 menunjukkan bahwa secara             dengan     persentase     sebesar    17,91%
umum suasana kerja di Pondok Pesantren            menyatakan bahwa orientasi nilai di
Al-Futuhiyah         Gendongkulon-Babat           kantor Dinas Pendidikan Kabupaten
Lamongan berada pada kategori tinggi              Lamongan berada dalam kategori sangat
yaitu sebesar 76,12% atau sebanyak 51 dan         tinggi dan kategori cukup
67 responden menyatakan bahwa suasana
kerja di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah
Gendongkulon-Babat Lamongan berada
dalam kategori tinggi. Sedangkan 8                                    Tabel 7




                                                                                             26
Deskripsi Data untuk Sub Variabel
             Citra Diri
                                                      Tabel 8 menunjukkan bahwa secara
                                                umum gaya kepemimpinan di pondok
                                                Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-
                       E. Kelas                 Babat Lamongan berada pada kategori
 No.    Kualifikasi                f     %
                       interval
                                                sangat tinggi dengan persentase 53,73%
 1.    Sangat tinggi 9,76 – 12     17   25,37
 2.       Tinggi     7,51 – 9,75   10   14,93   atau sebanyak 36 dari 67 responden
 3.       Cukup      5,26 – 7,50   30   44,78   menyatakan bahwa gaya kepemimpinan di
 4.      Kurang        3 – 5,25    10   14,93   kantor Dinas Penididikan Kabupaten
             Total                 67    100    Situbondo berada dalam kategori sangat
                                                tinggi. Ini menunjukkan bahwa para
Tabel 7 menunjukkan bahwa secara umum           pegawai merasa puas dengan gaya
citra diri di Pondok Pesantren Al-              pemimpinan atasannya, mereka merasa
Futuhiyah            Gendongkulon-Babat         diperhatikan, diarahkan dan dilibatkan
Lamongan berada pada kategori cukup             dalam setiap pemecahan masalah di dalam
dengan persentase sebesar 44,80% atau           lembaga, selain itu mereka merasa
30 dari 67 responden menyatakan bahwa           dimudahkan dan dibantu oleh atasan.
citra din lembaga di Pondok Pesantren Al-       Sedangkan      23    responden   dengan
Futuhiyah            Gendongkulon-Babat         persentase sebesar 34,32% menyatakan
Lamongan berada dalam kategori cukup.           bahwa gaya kepemimpinan atasan berada
Sedangkan      17    responden    dengan        dalam kategori tinggi dan 8 responden
persentase sebesar 23,90% menyatakan            dengan      prentase    sebesar  11,94%
bahwa citra diri lembaga berada dalam           menyatakan dalam kategori cukup.
kategori sangat tinggi, 10 responden            Semakin efektif gaya kepemimpinan yang
dengan persentase sebesar 14,92%                dilakukan maka akan mempermudah
menyatakan berada dalam kategori tinggi         pencapaian     tujuan    lembaga   yang
dan 10 responden dengan persentase yang         ditetapkan.
sama sebesar 14.92% menyatakan berada
pada kategori kurang



                  Tabel 8

 Deskripsi Data untuk Sub Variabel
       Gaya Kepemimpinan



                       F. Kelas                                 Tabel 9
 No.    Kualifikasi                f     %
                       interval
 1.    Sangat tinggi   40 – 48     36   53,73    Deskripsi Data untuk Sub Variabel
 2.       Tinggi       31 – 39     23   34,33              Daya Dorong
 3.       Cukup        22 – 30     8    11,94
 4.      Kurang         12 – 21     -     -
             Total                 67    100




                                                                                    27
G. Kelas                  85,07% atau 57 dari 67 responden
No.    Kualifikasi                   f     %
                        interval                  menyatakan bahwa daya tanggap lembaga
 1.   Sangat tinggi 19,51 – 24       37   55,22   berada dalam kategori sangat tinggi.
 2.      Tinggi      15,01 – 19,50   23   34,33
                                                  Sedangkan     9    responden     dengan
 3.      Cukup       10,51 – 15,00    7   10,45
 4.     Kurang         6 – 10,50      -     -     persentase sebesar 13,43% menyatakan
               Total                 67    100    bahwa daya tanggap lembaga berada
                                                  dalam kategori tinggi dan 1 responden
                                                  dengan    persentase   sebesar    1,50%
      Tabel 9 menunjukkan bahwa secara            menyatakan berada pada kategori cukup.
umum daya dorong di Pondok Pesantren
Al-Futuhiyah        Gendongkulon-Babat
Lamongan berada pada kategori sangat
tinggi dengan persentase sebesar 55,22%                               Tabel 4.11
atau 37dari 67 responden menyatakan
                                                   Deskripsi Data untuk Sub Variabel
bahwa daya dorong lembaga di Pondok
                                                               Ganjaran
Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-
Babat Lamongan berada dalam kategori
sangat tinggi. Sedangkan 23 responden
dengan persentase sebesar 34,32%                                        I. Kelas
                                                  No.   Kualifikasi                  f     %
menyatakan bahwa daya dorong lembaga                                    interval
                                                   1. Sangat tinggi 19,51 – 24       31   46,27
berada dalam kategori tinggi dan 7
                                                   2.    Tinggi      15,01 – 19,50   21   31,34
responden dengan persentase 10,44%                 3.    Cukup       10,51 – 15,00   15   22,39
menyatakan bahwa daya dorong lembaga               4.   Kurang         6 – 10,50      -     -
berada dalam kategori cukup.                                   Total                 67    100




                     Tabel 10                     Tabel 4.11 menunjukkan bahwa secara
                                                  umum pemberian ganjaran di Pondok
 Deskripsi Data untuk Sub Variabel                Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-
           Daya Tanggap                           Babat Lamongan berada pada kategori
                                                  sangat tinggi dengan persentase sebesar
                                                  46,27% atau sebanyak 31 dan 67
                       H. Kelas                   responden menyatakan bahwa pemberian
No.    Kualifikasi                   f     %      ganjaran di Pondok Pesantren Al-
                        interval
 1. Sangat tinggi      9,76 – 12     57   85,07   Futuhiyah           Gendongkulon-Babat
 2.    Tinggi         7,51 – 9,75    9    13,43   Lamongan berada dalam kategori sangat
 3.    Cukup          5,26 – 7,50     1    1,50   tinggi. Sedangkan 21 reponden dengan
 4.   Kurang            3 – 5,25      -      -
             Total                   67    100    persentse sebesar 31,34% menyatakan
                                                  pemberian ganjaran/kompensasi berada
                                                  dalam kategori tinggi dan 15 responden
     Tabel 10 menunjukkan bahwa secara            dengan persentase 22,39% menyatakan
umum daya tanggap lembaga di Pondok               pemberian ganjaran berada dalam
Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-              kategori cukup.
Babat Lamongan berada pada kategori
sangat tinggi dengan persentase sebesar




                                                                                             28
Adair, J. 1993. Membina Colon Pimpinan
                                                 (Sepuluh Prinsip Pokok). Jakarta :
KESIMPULAN                                       Bumi Aksara.
                                            Albert.  K.    1983.    Pengemhangan
                                                 Organisasi. Bandung : PT. Angkasa.
1. Iklim kerja organisasi di Pondok
   Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulo       Anwar. 1985. Pengembangan Organisasi.
   Babat Lamongan para pegawainya               Bandung : PT. Angkasa.
   merasa nyaman dengan suasana kerja,
   kepemimpinan dan ganjaran.               Arikunto, S. 1992. Prosedur Penelitian,
2. Suasana kerja di kantor menunjukkan           Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
   para      pegawainya      benar-benar         Rineka Cipta.
   merasakan adanya suasana kerja yang
   penuh keakraban, saling menghargai,      Arikunto, S. 1996. Prosedur Penelitian,
   saling    menolong      dan    penuh          Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
   kekeluargaan.                                 Rineka Cipta.
3. Orientasi nilai menunjukkan bahwa
                                            Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian,
   para     pegawai     memiliki     rasa
   tanggungjawab, disiplin, berusaha             Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta :
   meningkatkan prestasi kerja dan loyal.        Rineka Cipta.
4. Citra diri menunjukkan bahwa             Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi
   kurangnya kecakapan pegawai dalam
   bekerjasama dengan orang dan luar             Manajemen dan Kepemimpinan
   organisasi.                                   Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
5. Gaya kepemimpinan menunjukkan            Cribbin,   J.J.   1981.   Kepemimpinan
   bahwa pegawainya merasa pimpinan
                                                 Strategi Mengefektifkan Organisasi.
   telah melaksanakan kepemimpinan
   dengan baik.                                  Jakarta    :    Pustaka   Binaman
6. Daya dorong menunjukkan bahwa                 Pressindo.
   pegawai       dalam      menjalankan     Faisal, S. 1981. Dasar dan Teknik
   tanggungjawabnya penuh dengan
   perencanaan, dapat memanfaatkan                Menyusun Angket. Surabaya : Usaha
   teknologi dengan baik dan mau                  Nasional.
   mengikuti peraturan.                     Furchan. 1982. Pengantar Penelitian
7. Daya tanggap menunjukkan para
                                                 dalam Pendidikan. Surabaya :
   pegawainya bekerja sesuai dengan
   perintah atasan tanpa cenderung               Usaha Nasional.
   menunda pekerjaan.                       Hadi, S. 1997. Statistik Jilid I. Yogyakarta :
8. Sistem menunjukkan para pegawai               Andi Offset.
   diperhatikan dan diberi kemudahan
   untuk kesejahteraannya.                  Hakim. 1994. Pengantar Sederhana
                                                Penelitian Pendidikan. Jakarta :
                                                Proyek Pengembangan Pendidikan
                                                Guru.
DAFTAR PUSTAKA                              Hamzah, R. 1990. Kepemimpinan Strategi
                                                Mengefektifkan Organisasi. Jakarta
                                                :
                                            Gramedia.




                                                                                       29
Handoko. 1987. Manajemen Personalia          Santoso. 2001. Latihan SPSS Statistik
    dan Sumber Daya Manusia Jilid 2.              Parametrik. Jakarta : PT. Elex
    Yogyakarta : BPFE.                            Media Komputindo
Indrawijaya. 1986. Pertumbuhan dan           Sari, D.N. 2003. Gaya Kepemimpinan
     Pengembangan          Organisasi.             Kepala Sekolah Dalam Rangka
     Bandung : Sinar Baru.                         Penciptaan lklim Kerja Organisasi
                                                   Di Sekolah Dasar Negeri Se-
Kamalluddin. 1982. Manajemen. Jakarta :
                                                   Kecamatan Sukun Kota Malang.
    Dirjen Dikti P2LPTK.
                                                   Skripsi tidak diterbitkan.
Kossen, S. 1986. Aspek Manusia Dalam
                                             Sari,     L. 2000. Iklim Organisiasi
     Organisasi. Bandung : Rineka Cipta.
                                                     Hubungannya Dengan Unjuk Kerja
Latif, A.G. 1988. Memberikan Pimpinan                Dosen Dalam Mengajar Di IKIP
      dengan Kerja Sama. Jakarta : UI                Budi Utomo Malang. Tesis tidak
      Press.                                         diterbitkan.
Latunussa. 1988. Penelitian Pendidikan,      Soepardi. 1988. Dasar-DasarAdministrasi
     Suntu Pengantar. Jakarta : P2LPTK.           Pendidikan. Jakarta : Dirjen Dikti
Mardalis. 1990. Mefodologi Penelitian             P2LPTK.
    Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta
    : Bumi Aksara.
Marzuki. 1989. Metodologi Penelitian.
    Jakarta : Militon.
Muhyadi.    1989.    Organisasi  Teori,
    Struktur dan Proses. Jakarta :
    Direktur      Jenderal   Pendidikan
    Tinggi.
Mulyono,      M.    1993.     Penerapan
     Produktivitas dalam Organisasi.
     Jakarta : Bumi Aksara - UI.
Owens. 1981. Organizational Behaviour in
    Education. Boston : Allyn Bacon.
Prayitno. 2003. Korelasi Antara lklim
      Organisasi       Dan        Motivasi
      Berprestasi Dengan Unjuk Kerja
      Guru Pada Sekolah Menengah
      Umum Negeri Di Kabupaten
      Pasuruan. Tesis tidak diterbitkan.
Purwanto, N. 1988. Administrasi dan
    Supervisi Pendidikan. Jakarta : CV.
    Remaja
Karya.




                                                                                 30
1
PENDIDIKAN KARAKTER:

  WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA



                              Soesetijo *)



Abstrak: pendidikan karakter menjadi perhatian serius untuk diimplementa-
sikan di sekolah. Fenomena menunjukkan bahwa banyak keluhan masyarakat
tentang menurunnya tata krama, etika dan kreativitas siswa, karena
melemah-nya pendidikan budaya dan karakter bangsa. Sebagai langkah awal
pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, yakni pada jenjang pendidikan
sekolah da-sar. Pada jenjang sekolah dasar, ini porsinya mencapai 60 persen
dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Menurut Wamendiknas
telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat
lekat dengan tujuan pembentukan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi
dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. Pendidikan
budaya dan karakter bangsa ini memang harus dipraktekkan, titik beratnya
bukan pada teori. Pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulum
yang tersembunyi. Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapi
menjadi penguat kuri-kulum yang sudah ada, yaitu dengan
mengimplementasikanya dalam mata pelajaran dan keseharian peserta didik.
Permasalahannya, mayoritas guru be-lum punya kemauan untuk
melaksanakan. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi
nyata. Oleh karena itu diperlukan buku pinter se-bagai acuan untuk
implementasi pendidikan karakter di lembaga pendidikan, mulai dari sekolah
dasar sampai dengan perguruan tinggi serta perlu segera disosialisasikan
grand design pendidikan karakter.


Kata-kata kunci: pendidikan karakter, wacana konsep,
             implementasi




                                     2
Indonesia memerlukan sumberdaya                   tujuan pendidikan nasional tersebut di
manusia dalam jumlah dan mutu yang                atas. Hal tersebut berkaitan dengan
memadai sebagai pendukung utama                   pembentukan karakter peserta didik
dalam        pembangunan.            Untuk        sehingga mampu bersaing, beretika,
memenuhi       sumberdaya           manusia       bermoral,       sopan           santun        dan
tersebut, pendidikan memiliki peran               berinteraksi       dengan          masyarakat.
yang sangat penting. Hal ini sesuai               Berdasarkan penelitian di Harvard
dengan UU No. 20 Tahun 2003                       University      Amerika          Serikat      (Ali
tentang Sistem Pendidikan Nasional                Ibrahim        Akbar,          2000        dalam
pada Pasal 3          yang menyebutkan            Mendiknas, 2010) ternyata kesuksesan
bahwa pendidikan nasional berfungsi               seseorang tidak ditentukan semata-
mengembangkan          kemampuan       dan        mata oleh kemampuan mengelola diri
membentuk karakter serta                          dan orang lain (soft skills). Penelitian
                                                  ini mengungkapkan, kesuksesan hanya
peradaban bangsa yang bermartabat
                                                  ditentukan sekitar 20 persen oleh hard
dalam        rangka        mencerdaskan
                                                  skills dan sisanya 80 persen soft skills.
kehidupan      bangsa.           Pendidikan
                                                  Bahkan orang-orang tersukses di dunia
Nasional        bertujuan             untuk
                                                  bisa berhasil dikarenakan lebih banyak
berkembangnya potensi peserta didik
                                                  didukung       kemampuan           soft      skills
agar menjadi manusia yang beriman
                                                  daripada       hard      skills.       Hal     ini
dan bertakwa kepada Tuhan Yang
                                                  mengisyaratkan             bahwa             mutu
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
                                                  pendidikan      karakter        peserta      didik
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
                                                  sangat penting untuk ditingkatkan.
menjadi      warga        Negara       yang
                                                  Oleh      karena        itu,     Kementerian
demokratis serta bertanggung jawab.
                                                  Pendidikan Nasional (Kemendiknas)
*)Soesetijo, staf pengajar Universitas            telah     menyusun             grand       design
   Gresik.                                       pendidikan            karakter            bangsa.
        Berdasarkan fungsi dan tujuan             Ditargetkan,           seluruh             satuan
pendidikan    nasional,     jelas    bahwa        pendidikan telah mengembangkannya
pendidikan      di      setiap      jenjang       pada           tahun               2014.(Media
pendidikan    selalu    mengacu       pada        Indonesia.com, 15-9-2010).




                                              3
Data dan fakta menunjukkan,
bahwa dari hasil penelitian psikologi
sosial menun-jukkan bahwa orang
yang sukses di dunia ditentukan oleh
                                                       Konsep                         Pendidikan
peranan ilmu sebesar 18%. Sisanya,
                                                       Karakter
82%    dijelaskan    oleh     keterampilan
emosional,      soft          skills       dan                  Karakter adalah ―cara berpikir
sejenisnya.(Elfindri,         2010).        Ini        dan berperilaku yang menjadi ciri khas
menunjukkan         bahwa       soft      skills       setiap    individu      untuk    hidup    dan
memberikan           kontribusi            bagi        bekerjasama,      baik        dalam   lingkup
keberhasilan karir seseorang.                          kehidupan        keluarga,       masyarakat,
                                                       bangsa dan Negara.(Suparlan, 2010).
       Wacana       pendidikan         karakter
pada   akhir-akhir      ini    memperoleh                       Pendidikan karakter meliputi 9
perhatian yang cukup intens dari                       (sembilan)     pilar     yang    saling   kait
pemerhati     pendidikan.       Pemerintah             mengkait,      yaitu:    (1)    responsibility
menyatakan,         bahwa        pendidikan            (tanggung jawab), (2) respect (rasa
budaya dan karakter bangsa selama ini                  hormat), (3) fairness (keadilan), (4)
telah diterapkan dan menjadi kesatuan                  courage     (keberanian), (5)         honesty
dengan kurikulum pendidikan yang                       (kejujuran),            (6)        citizenship
sesungguhnya        telah      dipraktekkan            (kewarganegaraan), (7) self-discipline
dalam kegiatan belajar mengajar di                     (disiplin diri), (8) caring (peduli), dan
sekolah.            Menurut            Direktur        (9) perseverance (ketekunan).
Pembinanan SMP, Ditjen Manajemen
                                                                Penyelenggaraan          pendidikan
Pendidikan    Dasar     dan      Menengah,
                                                       nasional tidak semata mentransfer
Didik Suhardi (KOMPAS.Com, Jumat,
                                                       ilmu dan pengetahuan serta teknologi
15 Januari 2010) pendidikan budaya
                                                       kepada peserta didik. Lebih dari itu,
dan karakter bangsa ini memang harus
                                                       pendidikan harus bisa menumbuhkan
dipraktekkan, titik beratnya bukan
                                                       semangat kebangsaan sebagai warga
pada teori. Pendidikan budaya dan
                                                       bangsa dengan karakter ke-Indonesia-
karakter bangsa seperti kurikulum
                                                       an.(Rumapea, 2010).
yang tersembunyi.




                                                   4
Karakter merupakan nilai-nilai              kerja seluruh warga dan lingkungan
perilaku manusia yang berhubungan                   sekolah.
dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri
                                                             Terlepas        dari         berbagai
sendiri, sesama manusia, lingkungan,
                                                    kekurangan dalam praktik pendidikan
dan kebangsaan yang terwujud dalam
                                                    di Indonesia, apabila dilihat dari
pikiran, sikap, perasaan, perkataan,
                                                    standar     nasional     pendidikan      yang
dan perbuatan berdsarkan norma-
                                                    menjadi          acuan        pengembangan
norma agama, hukum, tata krama,
                                                    kurikulum (KTSP), dan implementasi
budaya, dan adat istiadat.
                                                    pembelajaran dan penilaian di sekolah,
        Pendidikan      karakter     adalah         tujuan      di      lembaga      pendidikan
suatu sistem penanaman nilai-nilai                  sebenarnya dapat dicapai dengan baik.
karakter kepada warga sekolah yang                  Pembinaan karakter juga termasuk
meliputi     komponen         pengetahuan,          dalam materi yang harus diajarkan dan
kesadaran atau kemauan, dan tindakan                dikuasai    serta      direalisasikan     oleh
untuk        melaksanakan         nilai-nilai       peserta didik dalam kehidupan sehari-
tersebut, baik terhadap Tuhan Yang                  hari. Menurut        Dr. Anita Lie (2010)
Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama,               syarat     menghadirkan          pendidikan
lingkungan,      maupun          kebangsaan         karakter dan budaya di sekolah harus
sehingga     menjadi     manusia      insan         dilakukan secara holistik.
kamil. Dalam pendidikan karakter di
                                                             Sebagai         upaya          untuk
sekolah,         semua           komponen
                                                    meningkatkan kesesuaian dan mutu
(stakeholders)        harus      dilibatkan,
                                                    pendidikan       karakter,      Kementerian
termasuk             komponen-komponen
                                                    Pendidikan Nasional mengembangkan
pendidikan     itu    sendiri,    yaitu   isi
                                                    grand design pendidikan karakter
kurikulum, proses pembelajaran dan
                                                    untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis
penilaian,       kualitas        hubungan,
                                                    satuan     pendidikan.        Grand     design
penanganan atau pengelolaan mata
                                                    menjadi     rujukan       konseptual      dan
pelajaran,      pengelolaan         sekolah,
                                                    operasional                  pengembangan,
pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko-
                                                    pelaksanaan, dan penilaian pada setiap
kurikuler,     pemberdayaan          sarana
                                                    jalur      dan      jenjang      pendidikan.
prasarana, pembiayaan, dan ethos




                                                5
Konfigurasi karakter dalam konteks                  berkontribusi         hanya      sebesar    30%
totalitas proses psikologis dan social-             terhadap      hasil    pendidikan       peserta
kultural      tersebut       dikelompokkan          didik.
dalam:      Olah     Hati   (Spiritual   and
                                                             Selama ini, pendidikan informal
emotional development), Olah Pikir
                                                    terutama dalam lingkungan keluarga
(intellectual development), Olah Raga
                                                    belum memberikan kontribusi berarti
dan Kinestetik (Physical and kinestetic
                                                    dalam         mendukung             pencapaian
development), dan Olah Rasa dan
                                                    kompetensi dan pembentukan karakter
Karsa      (Affective       and    Creativity
                                                    peserta didik. Kesibukan dan aktivitas
development).                Pengembangan
                                                    kerja orang tua yang relative tinggi,
danimplementasi pendidikan karakter
                                                    kurangnya       pemahaman           orang    tua
perlu dilakukan dengan mengacu pada
                                                    dalam mendidik anak di lingkungan
grand design tersebut.
                                                    keluarga,      pengaruh        pergaulan      di
        Menurut UU No. 20 Tahun                     lingkungan       sekitar      dan     pengaruh
2003       tentang    Sistem      Pendidikan        media      elektronik      ditengarai       bisa
Nasional pada 13 ayat 1 menyebutkan                 berpengaruh            negatif        terhadap
bahwa jalur pendidikan terdiri dari                 perkembangan dan pencapaian hasil
atas pendidikan formal, nonformal,                  belajar      peserta    didik.      Salah   satu
dan informal yang saling melengkapi                 alternatif         untuk            mengatasai
dan memperkaya. Pendidikan informal                 permasalahan tersebut adalah melalui
adalah jalur pendidikan keluarga dan                pendidikan karakter terpadu, yaitu
lingkungan.        Pendidikan       informal        memadukan         dan         mengoptimalkan
sesungguhnya memiliki peran dan                     kegiatan         pendidikan            informal
kontribusi yang sangat besar dalam                  lingkungan             keluarga         dengan
keberhasilan pendidikan. Peserta didik              pendidikan formal di sekolah. Dalam
mengikuti pendidikan di sekolah hanya               hal ini, waktu belajar peserta didik di
sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari            sekolah       perlu     dioptimalkan        agar
30%. Selebihnya (70%), peserta didik                peningkatan mutu hasil belajar dapat
berada dalam keluarga dan lingkungan                dicapai, terutama dalam pembentukan
sekitarnya. Jika dilihat dari aspek                 karakter peserta didik.
kuantitas waktu, pendidikan di sekolah




                                                6
Pendidikan        karakter     dapat         yang    dimaksud     adalah     bagaimana
diintegrasikan        dalam    pembelajaran          pendidikan    karakter     direncanakan,
pada setiap mata pelajaran. Materi                   dilaksanaan dan dikendalikan dalam
pembelajaran yang berkaitan dengan                   kegiatan-kegiatan       pendidikan      di
norma atau nilai-nilai pada setiap mata              sekolah secara memadai. Pengelolaan
pelajaran       perlu         dikembangkan,          tersebut antara lain mengikuti, nilai-
dieksplisitkan,        dikaitkan      dengan         nilai yang perlu ditanamkan, muatan
konteks kehidupan sehati-hari. Dengan                kurikulum, pembelajaran, penilaian,
demikian,     pembelajaran         nilai-nilai       pendidik dan tenaga kependidikan,
karakter tidak hanya pada tataran                    dan komponen terkait lainnya. Dengan
kognitif,    tetapi     menyentuh       pada         demikian,      manajemen           sekolah
internalisasi, dan pengalaman nyata                  merupakan salah satu media yang
dalam kehidupan peserta didik sehari-                efektif dalam pendidikan karakter di
hari di masyarakat.                                  sekolah.

        Kegiatan ekstra kurikuler yang
selama ini diselenggarakan sekolah                   Pendidikan Karakter yang
merupakan salah satu media yang
                                                     Efektif
potensial untuk pembinaan karakter
dan     peningkatan      mutu      akademik                 Menurut Lickona, dkk. (2007)
peserta      didik.     Kegiatan       ekstra        terdapat 11 pinsip agar pendidikan
kurikuler       merupakan            kegiatan        karakter dapat berjalan efektif: (1)
pendidikan di luar mata pelajaran                    kembangkan nilai-nilai etika inti dan
untuk       membantu          pengembangan           nilai-nilai   kinerja      pendukungnya
peserta      didik       sesuai       dengan         sebagai fondasi karakter yang baik, (2)
kebutuhan, potensi, bakat, dan minat                 definisikan        ‗karakter‘       secara
mereka melalui kegiatan yang secara                  komprehensif yang mencakup pikiran,
khusus                                               perasaan, dan perilaku, (3) gunakan
                                                     pendekatan      yang       komprehensif,
        Pendidikan karakter di sekolah
                                                     disengaja,    dan       proaktif    dalam
juga sangat terkait dengan manajemen
                                                     pengembangan karakter, (4) ciptakan
atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan
                                                     komunitas     sekolah      yang     penuh




                                                 7
perhatian, (5) beri siswa kesempatan                 kerja       pendukungnya             seperti
untuk melakukan tindakan moral, (6)                  ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan
buat      kurikulum     akademik        yang         kegigihan—sebagai basis karakter yang
bermakna      dan      menantang        yang         baik.   Sekolah     harus    berkomitmen
menghormati semua peserta didik,                     untuk      mengembangkan            karakter
mengembangkan            karakter,       dan         peserta didik berdasarkan nilai-nilai
membantu siswa untuk berhasil, (7)                   dimaksud mendefinisikan-nya dalam
usahakan mendorong motivasi diri                     bentuk perilaku yang dapat diamati
siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai             dalam kehidupan sekolah sehari-hari,
komunitas pembelajaran dan moral                     men-contohkan         nilai-nilai       itu,
yang berbagi tanggung jawab dalam                    mengkaji      dan     mendiskusikannya,
pendidikan karakter dan upaya untuk                  menggunakannya sebagai dasar dalam
mematuhi nilai-nilai inti yang sama                  hubungan          antarmanusia,         dan
yang membimbing pendidikan siswa,                    mengapresiasi manifestasi nilai-nilai
(9) tumbuhkan kebersamaan dalam                      tersebut di sekolah dan masyarakat.
kepemimpinan moral dan dukungan                      Yang terpenting, semua komponen
jangka        panjangbagi            inisiatif       sekolah bertanggung jawab terhadap
pendidikan karakter, (10) libatkan                   standar-standar        perilaku        yang
keluarga    dan     anggota    masyarakat            konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti.
sebagai      mitra       dalam        upaya
                                                             Karakter yang baik mencakup
pembangunan karakter, (11) evaluasi
                                                     pengertian, kepedulian, dan tindakan
karakter sekolah, fungsi staf sekolah
                                                     berdasarkan    nilai-nilai    etika     inti.
sebagai pendidik karakter, dan sejauh
                                                     Karenanya, pendekatan holistik dalam
mana        siswa       memanifestasikan
                                                     pendidikan karakter berupaya untuk
karakter yang baik.
                                                     mengembangkan keseluruhan aspek
         Dalam      pendidikan    karakter           kognitif, emosional, dan perilaku dari
penting sekal dikembangkan nilai-nilai               kehidupan moral. Siswa memahami
etika       inti     seperti   kepedulian,           nilai-nilai inti dengan mempelajari dan
kejujuran, keadilan, tanggung jawab,                 mendiskusikannya,             mengamati
dan rasa hormat terhadap diri dan                    perilaku model, dan mempraktekkan
orang lain bersama dengan nilai-nilai                pemecahan masalah yang melibatkan




                                                 8
nilai-nilai.    Siswa        belajar       peduli       inti, termasuk kurikulum kesehatan
terhadap       nilai-nilai     inti     dengan          jasmani),       dan         program-program
mengembangkan                  keteram-pilan            ekstrakurikuler,              extracurricular
empati, membentuk hubungan yang                         programs (tim olahraga, klub, proyek
penuh          perhatian,           membantu            pelayanan,         dan      kegiatan-kegiatan
menciptakan        komunitas          bermoral,         setelah jam sekolah).
mendengar        cerita       ilustratif     dan
                                                                  Di samping itu, sekolah dan
inspiratif,       dan          merefleksikan
                                                        keluarga           perlu       meningkatkan
pengalaman hidup.
                                                        efektivitas kemitraan dengan merekrut
        Sekolah              yang           telah       bantuan dan komunitas yang lebih luas
berkomitmen untuk mengembangkan                         (bisnis, organisasi pemuda, lembaga
karakter melihat diri mereka sendiri                    keagamaan, pemerintah, dan media)
melalui lensa moral, untuk menilai                      dalam mempromosikan pembangunan
apakah         segala        sesuatu        yang        karakter. Kemitraan sekolah-orang tua
berlangsung di sekolah mempengaruhi                     ini dalam banyak hal seringkali tidak
perkembangan            karakter           siswa.       dapat berjalan dengan baik karena
Pendekatan         yang         komprehensif            terlalu     banyak       menekankan     pada
menggunakan               semua             aspek       penggalangan         dukungan       financial,
persekolahan sebagai peluang untuk                      bukan       pada     dukungan       program.
pengembangan karakter. Ini mencakup                     Berbagai pertemuan yang dilakukan
apa yang sering disebut dengan istilah                  tidak jarang terjebak kepada tawar
kurikulum         tersembunyi,             hidden       menawar            sumbangan,          bukan
curriculum (upacara dan prosedur                        bagaimana          sebaiknya       pendidikan
sekolah; keteladanan guru; hubungan                     karakter dilakukan bersama antara
siswa dengan guru, staf sekola lainnya,                 keluarga dan sekolah.
dan sesama mereka sendiri; proses
                                                                  Pendidikan karakter yang efektif
pengajaran; keanekaragaman siswa;
                                                        harus      menyertakan         usaha   untuk
penilaian pembelajaran; pengelolaan
                                                        menilai kemajuan. Terdapat tiga hal
lingkungan         sekolah;           kebijakan
                                                        penting       yang         perlu    mendapat
disiplin);      kurikulum             akademik,
                                                        perhatian: (1) karakter sekolah: sampai
academic curriculum (mata pelajaran




                                                    9
sejauh      mana      sekolah       menjadi        di dalam kelas. Konteks pendidikan
komunitas yang lebih peduli dan saling             karakter     adalah         proses    relasional
menghargai?, (2) pertumbuhan staf                  komunitas        kelas       dalam      konteks
sekolah sebagai pendidik karakter:                 pembelajaran. Relasi guru-pembelajar
sampai sejauh mana staf sekolah                    bukan      monolog,         melainkan      dialog
mengembangkan pemahaman tentang                    dengan banyak arah sebab komunitas
apa yang dapat mereka lakukan untuk                kelas terdiri dari guru dan siswa yang
mendorong pengembangan karakter?,                  sama-sama          berinteraksi           dengan
(3) Karakter siswa: sejauh mana siswa              materi. Memberikan pemahaman dan
memanifestasikan              pemahaman,           pengertian       akan       keutamaan       yang
komitmen, dan tindakan atas nilai-                 benar       terjadi         dalam       konteks
nilai etis inti? Hal seperti itu dapat             pengajaran ini, termasuk di dalamnya
dilakukan     di     awal       pelaksanaan        pula adalah ranah noninstruksional,
pendidikan           karakter        untuk         seperti manajemen kelas, konsensus
mendapatkan baseline dan diulang lagi              kelas, dan lain-lain, yang membantu
di     kemudian     hari    untuk   menilai        terciptanya       suasana       belajar     yang
kemajuan.(http://www.mediaindonesi                 nyaman.
a.com, diakses tanggal 14 September
                                                            Kedua,        desain        pendidikan
2010).
                                                   karakter     berbasis        kultur     sekolah.
         Menurut     Doni    Koesoemo    A         Desain     ini     mencoba       membangun
(2010) pendidikan karakter jika ingin              kultur      sekolah          yang       mampu
efektif dan utuh mesti menyertakan                 membentuk          karakter      anak      didik
tiga       basis       desain        dalam         dengan bantuan pranata sosial sekolah
pemrogramannya. Tanpa tiga basis itu,              agar nilai tertentu terbentuk dan
program      pendidikan       karakter   di        terbatinkan dalam diri siswa. Untuk
sekolah hanya menjadi wacana semata.               menanamkan nilai kejujuran tidak
                                                   cukup      hanya      dengan     memberikan
         Pertama,    desain     pendidikan
                                                   pesan-pesan modal kepada anak didik.
karakter berbasis kelas. Desain ini
                                                   Pesan     moral       ini    mesti    diperkuat
berbasis pada relasi guru sebagai
                                                   dengan penciptaan kultur kejujuran
pendidik dan siswa sebagai pembelajar
                                                   melalui pembuatan tata peraturan




                                              10
sekolah yang tegas dan konsisten                        Implementasi                 Pendidikan
terhadap              setiap           perilaku         Karakter               di          Lembaga
ketidakjujuran.
                                                        Pendidikan
           Ketiga,     desain        pendidikan
                                                                 Pendidikan karakter yang bakal
karakter berbasis komunitas. Dalam
                                                        diterapkan di sekolah-sekolah tidak
mendidik, komunitas sekolah tidak
                                                        diajarkan     dalam         mata    pelajaran
hanya berjuang sendirian. Masyarakat
                                                        khusus. Namun, pendidikan karakter
di luar lembaga pendidikan, seperti
                                                        tersebut akan diintegrasikan dengan
keluarga,      masyarakat        umum,      dan
                                                        mata pelajaran yang sudah ada serta
Negara, juga memiliki tanggung jawab
                                                        melalui keseharian pembelajaran di
moral         untuk       mengintegrasikan
                                                        sekolah.    Menurut         Wakil      Menteri
pembentukan karakter dalam konteks
                                                        Pendidikan       Nasional,     Fasli     Jalal,
kehidupan mereka. Ketika lembaga
                                                        dikemukakan         bahwa          pendidikan
Negara       lemah      dalam        penegakan
                                                        karakter yang didorong pemerintah
hukum, ketika mereka yang bersalah
                                                        untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah
tidak pernah mendapatkan sanksi yang
                                                        tidak akan membebani guru dan siswa.
setimpal,      Negara     telah       mendidik
                                                        Sebab, hal-hal yang terkandung dalam
masyarakatnya            untuk         menjadi
                                                        pendidikan karakter sebenarnya sudah
manusia yang tidak menghargai makna
                                                        ada dalam kurikulum, tetapi selama ini
tatanan sosial bersama.
                                                        tidak    dikedepankan        dan    diajarkan
           Pendidikan     karakter       hanya          secara
akan bisa efektif jika tiga desain                      tersurat.(http://bukuohbuku.wordpres
pendidikan karakter ini dilaksanakan                    s.com, 1 September 2010).
secara       simultan          dan     sinergis.
Tanpanya, pendidikan kita hanya akan
                                                        Beberapa Upaya Pencarian Soft
bersifat parsial, inkonsisten dan tidak
                                                        Skills di Beberapa Negara
efektif.
                                                                 Upaya    di    berbagai       Negara
                                                        mengenai pentingnya solft skills juga
                                                        beragam. Dari berbagai liteatur yang




                                                   11
disarikan dalam modul bahan ajar oleh            adalah dengan mengimplementasikan
suatu Tim di Dirjen Dikti (2008) telah           aturan      di    sekolah     sebagai         cara
diupayakan di berbagai negara seperti            meningkatkan nilai-nilai moral dan
Taiwan,    Korea    Selatan,     Jepang,         etika.    Taiwan       menyadari            bahwa
Australia, dan Indonesia.                        berpikir kritis adalah penting maka
                                                 arah pengembangan ditujukan pada
                                                 ranah ini, termasuk kewarganegaraan,
1. Pengalaman di Taiwan
                                                 dan nilai-nilai sosial.
       Taiwan    sebagai    salah    satu
Negara yang memandang kemajuan
pembangunan Ilmu Pengetahuan dan                 2. Pengalaman di Korea Selatan
Teknologi hasilnya dirasakan tanpa                        Di Korea Selatan, sebagai salah
meningkatkan harkat dan martabat                 satu Negara yang juga mengalami
dari manusia. Moral menjadi salah                kemajuan         kemajuan         yang       pesat
satu tuntutan yang ingin dilengkapi              pendidikannya,         juga       sadar       akan
seiring dengan kemajuan dari ranah               pentingnya          soft          skills.      Ini
pengetahuan.                                     dikembangkan        dengan          seperangkat
                                                 upaya. Secara makro, meningkatkan
       Upaya ini dilakukan melalui
                                                 anggaran            pendidikan                dan
berbagai   pendekatan,      diantaranya
                                                 mempertahankan kebijakan komitmen
adalah dengan membentuk komite
                                                 yang tinggi semenjak tahun 1945.
disiplin   dan     moral    di      bawah
                                                 Semangat dan komitmen ini dilahirkan
Kementerian      Pendidikan.      Komite
                                                 sebagai akibat dari Korea Selatan juga
disiplin       kemudian          mencoba
                                                 ingin       me-nyaingi        perkembangan
menetapkan berbagai standar etika
                                                 kemajuan ilmu dan teknologi yang
yang mesti diterapkan di masing-
                                                 dihasilkan oleh Jepang, sebagai sebuah
masing satuan pendidikan, termasuk
                                                 Negara      tetangga       yang     lebih     dulu
memonitor implementasinya.
                                                 berhasil.
       Kemudian       mengembangkan
                                                          Diantaranya        adalah          dengan
kurikukum moral dan etika yang
                                                 mengupayakan           perbaikan            metode
nantinya diterapkan dalam system
                                                 pengajaran dan pe-nyampaian materi
pembelajaran.      Tahap    selanjutnya




                                            12
ajar, misalnya dengan menekankan                        Scribner (2007) dalam Tim Dikti
kesadaran guru akan pentingnya ka-                      (2008) untuk memenuhi aspek soft
rakter;      mulai         dari         suasana,        skills, dimasukkan ke dalam kegiatan-
kemampuan,          dan     fasilitas      yang         kegiatan ko-kurikuler di sekolah dan di
mengarah          kepada       pembentukan              rumah.
karakter.                                                      Anak-anak Jepang diberi rasa
                                                        tanggungjawab       yang     tinggi     dalam
         Hasil      dari upaya ini telah
                                                        mengembangkan         fungsinya        kepada
menyebabkan Korea Selatan tampil
                                                        adik-adik     sewilayahnya,           dimulai
sebagai     salah    satu     Negara       yang
                                                        dengan proses datang ke sekolah,
memiliki karakter khas, untuk tampil
                                                        metode belajar di sekolah sampai pada
menyaingi Jepang. Dengan karakter
                                                        menanamkan rasa kemandirian yang
kerja keras, salah satunya, telah pula
                                                        tinggi dan semangat untuk menang.
menghasilkan         produk        manufaktur
                                                        Kemudian            terbiasa            untuk
yang      mampu      masuk         ke    kancah
                                                        mengembangkan kreativitas di dalam
internasional.
                                                        kelas, Sudah menjadi motto bagi anak
         Sebagai     catatan        tambahan,           didik Jepang, bahwa kerja kelompok
Korea Selatan tercatat sebagai salah                    menjadi     salah     satu     yang      perlu
satu Negara dimana tingkat akses                        dibiasakan.
masyarakat          mudanya             terhadap               Karakter      kerja     keras      dan
pendidikan tinggi termasuk tertinggi di                 mandiri yang dibangun dalam prinsip
dunia.      Memulai        kerja        kerasnya        bushido, menyebabkan bangsa Jepang
semenjak         tahun     1945.        Sekarang        menghasilkan generasi yang sanggup
komitmen anggaran dan dukungan                          menguasai     berbagai        iptek     untuk
masyarakat adalah sangat besar dalam                    berbagai      bidang         dan       proses
memajukan pendidikan.                                   industrialisasi.
                                                               Sayang sekali, Jepang dalam
                                                        membangun karakter bangsa masih
3. Pengalaman di Jepang
                                                        dibatasi    oleh     berbagai         kendala.
         Merespons         akan         tuntutan
                                                        Dimana kendala utama dari proses
pentingnya         membangun            karakter
                                                        pembangunan         manusia     di     Jepang
anak,     maka      di    Jepang        menurut




                                                   13
masih    belum      sanggup       mengkikis          hak        dan           tanggungjawabnya.
kebiasaan ―bunuh diri‖ dari sebagian                 Termasuk share bekerja dan hidup
dari mereka yang frustasi.                           berkelompok. Itulah pemandangan
                                                     pada sekolah-sekolah dasar sampai
                                                     menengah yang dikembangkan.
4. Pengalaman di Australia
        Sementara         di      Australia,
pengembangan soft skills dilakukan
                                                    5. Pengalaman di Indonesia
semenjak usia dini, melalui system
                                                             Kesadaran akan soft kills juga
penyampaian             dan           desain
                                                    berkembang         di     Indonesia,      namun
pemebelajaran. Desain pembelajaran
                                                    dalam waktu yang terlalu lama dan
yang menyebabkan unsur-unsur soft
                                                    metode     yang         tidak    tepat.    Upaya
skills terintegrasi dalam setiap proses
                                                    menekankan pentingnya pendidikan P-
pembelajaran.
                                                    4 sewaktu zaman Presiden Suharto
        Di    Australia        pembentukan          telah didesain kegiatan-kegiatan yang
kepercayaan diri anak-anak mulai                    lebih terpusat. Oleh karena penekanan
pada pra sekolah. Pembiasaan anak-                  hanya kepada civic education, atau
anak     untuk   mengisi       masa    akhir        pendidikan civic, maka hasil dari
minggu dengan orang tua, baik untuk                 usaha P-4 hanya sebatas bagaimana
kepentingan olah raga dan rekreasi.                 hidup bermasyarakat dan bernegara
                                                    saja.
        Anak-anak    Australia      terbiasa
                                                             Kelemahan              utama       yang
percaya diri. Karena setiap minggu
                                                    dirasakan bahwa pengembangan soft
mereka       didorong     untuk     sanggup
                                                    skills    lebih     bersifat      indoktrinasi.
menyampaikan pengalaman kepada
                                                    Dengan kata lain upaya Indonesia
teman se kelasnya. Dan model seperti
                                                    dalam mendorong soft skills selama
ini     dilaksanakan       secara      terus
                                                    berpuluh-puluh             tahun          melalui
menerus.
                                                    penataran         P-4      dianggap        gagal,
        Guru sangat berperan dalam                  mengingat model itu saat sekarang
mengkomunikasikan soft skills di                    sudah tidak dipakai lagi. Bahkan
sekolah. Anak-anak diajarkan akan                   dianggap kegiatan P-4 dapat saja




                                               14
menyimpang dari yang dipahami oleh                 di berbagai Negara ? Negara maju Asia
kebanyakan            para        ilmuwan.         Timur serta Indonesia ? Maka upaya
Diantaranya bahkan yang diberikan                  untuk mengembangkan karakter masih
lebih    kepada      ilmuwan,     bukanlah         dalam batas keterbasan. Keterbatasan
bagaimana membentuk keterampilan                   terutama masih menganggap bahwa
perangkat lunak warga Negara. Selain               taksonomi ranah keilmuan menjadi
dari itu para instruktur banyak yang               menonjol.
tidak terbekali dengan baik. Sehingga                      Sekalipun     ada     upaya    untuk
kegatan soft skills semacam itu lebih              meningkatkan ranah soft skills, namun
diartikan         kepada      proyek-proyek        juga    kelihatannya     sangat      beragam
kegiatan oleh mereka yang berkuasa.                dalam          melihat          komponen-
        Akselerasi adat juga merupakan             komponennya.        Diantaranya,       masih
upaya-upaya untuk mempertahankan                   luputnya        memasukkan             unsur
soft    skills,    mengingat    kandungan          bagaimana anak didik kita semakin
budaya lokal adalah menuntun soft                  berilmu dia sadar semakin sadar akan
skills. Misalnya bagaimana budaya                  eksistensinya, posisinya dengan Sang
dalam     bertutur     kata    sepantasnya.        Pencipta.       Hal         inilah      yang
Maka proses tutur kata masyarakat                  menyebabkan           bahwa           dimensi
adat mesti dipertahankan. Upaya ini                trancedental    skills      menjadi    bahan
dilakukan oleh kaum adat. Namun hal                yang mesti disadari penting masuk
ini belum terlalu baik diupayakan                  sebagai salah satu taksonomi soft
dalam mendiseminasikan soft skills.                skills.(Elfindri, dkk, 2010).
        Demikian       juga,     bagaimana
kehidupan                  bergotong-royong        Penerapan Pendidikan Karakter
diupayakan masih eksis. Sayang sekali              Dimulai SD
kehidupan yang semacam itu semakin
                                                           Pendidikan       karakter       yang
sirna. Singkat kata soft skills belum
                                                   dicanangkan Kementerian Pendidikan
secara konsisten untuk digarap dan
                                                   Nasional       (Kemendiknas)            akan
dipelajari.
                                                   diterapkan     pada      semua        jenjang
        Apa yang dapat dimaknai dari
                                                   pendidikan, namun porsinya akan
segala upaya untuk mencari solf skills
                                                   lebih besar diberikan pada Sekolah




                                              15
Dasar     (SD).      Menurut         Menteri                 Pertimbangan       yang      rasional
Pendidikan      Nasional      (Mendiknas)           tentang         mengapa            penerapan
Muhammad           Nuh,       mengatakan            pendidikan karakter harus dimulai
pendidikan karakter harus dimulai                   pada siswa SD, karena siswa SD masih
sejak    dini     yakni    dari      jenjang        belum terkontaminasi dengan sifat
pendidikan sekolah dasar SD). Pada                  yang          kurang       baik           sangat
jenjang SD ini porsinya mencapai 60                 memungkinkan           untuk      ditanamkan
persen dibandingkan dengan jenjang                  sifat-sifat     atau      karakter        untuk
pendidikan lainnya. Hal ini agar lebih              membangun bangsa. Oleh karena itu,
mudah diajarkan dan melekat di jiwa                 selain    orang    tua,    guru      SD     juga
anak-anak itu hingga kelak ia dewasa.               mempunyai peranan yang sangat vital
Pendidikan karakter harus dimulai                   untuk     menempuh         karakter       siswa.
dari SD karena jika karakter tidak                  Pembinaan karakter yang termudah
terbentuk sejak dini maka akan susah                di-lakukan adalah ketika anak-anak
untuk merubah karakter seseorang.                   masih di bangku SD. Itulah sebabnya
Pendidikan           karakter          tidak        kita     memprioritas-kan         pendidikan
mendapatkan porsi yang besar pada                   karakter di tingkat SD. Bukan berarti
tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) atau                 pada jenjang pendidikan lainnya tidak
sejenisnya      karena        TK      bukan         mendapat perhatian namun porsinya
merupakan       sekolah    tetapi     taman         saja yang berbeda.
bermain. TK itu taman bermain untuk
                                                             Dengan        demikian           maka
merangsang kreativitas anak, bukan
                                                    diharapkan dunia pendidikan dapat
tempat belajar. Oleh karena itu, jika
                                                    sebagai       motor    pengge-rak         untuk
ada guru yang memberikan tugas atau
                                                    memfasilitasi peserta didik menjadi
PR      maka    guru      tersebut     tidak
                                                    cerdas, juga mempunyai budi pekerti
memahami          tugasnya.     Sedangkan
                                                    dan       sopan        santun        sehingga
dalam menanamkan karakter pada
                                                    keberadaannya          sebagai        anggota
seseorang yang paling penting adalah
                                                    masyarakat menjadi bermakna baik
kejujuran, karena kejujuran bersifat
                                                    bagi     dirinya   maupun       orang      lain.
universal.
                                                    Esensinya pembinaan karakter harus
                                                    dilakukan       pada      semua       tingkat




                                               16
pendidikan hinga Perguruan Tinggi                       terpadu, dan seimbang, sesuai standar
(PT) karena PT harus mampu berperan                     kompetensi         lulusan.       Melalui
sebagai      mesin         informasi       yang         pendidikan       karakter     diharapkan
membawa bangsa ini menjadi bangsa                       peserta didik SMP mampu secara
yang cerdas, sejahtera dan bermanfaat                   mandiri        meningkatkan           dan
serta mampu bersaing dengan bangsa                      menggunakan            pengetahuannya,
manapun.                                                mengkaji dan menginternalisasi serta
                                                        mempersonalisasi nilai-nilai karakter
                                                        dan akhlak mulia sehingga terwujud
Model Pendidikan Karakter di
                                                        dalam perilaku sehari-hari.
Sekolah        Menengah                Pertama
(SMP)                                                          Pendidikan      karakter      pada
                                                        tingkatan institusi mengarah pada
         Menurut        Mochtar         Buchori
                                                        pembentukan budaya sekolah, yaitu
(2007) dalam Kemendiknas (2010)
                                                        nilai-nilai yang melandasi perilaku,
―Pembinaan        Karakter        di    Sekolah
                                                        tradisi,   kebiasaan   keseharian,    dan
Menengah              Pertama‖,          bahwa
                                                        simbol-simbol yang dipratikkan oleh
pendidikan        karakter          seharusnya
                                                        semua warga sekolah, dan masyarakat
membawa peserta didik ke pengenalan
                                                        sekitar    sekolah.    Budaya     sekolah
nilai secara kognitif, penghayatan nilai
                                                        merupakan ciri khas, karakter atau
secara     afektif,     dan    akhirnya      ke
                                                        watak, dan citra sekolah tersebut di
pengamalan         nilai      secara      nyata.
                                                        mata masyarakat luas.
Permasalahan          pendidikan        karakter
yang selama ini ada di SMP perlu                               Sasaran    pendidikan      karakter
segera    lebih       operasional      sehingga         adalah seluruh Sekolah Menengah
mudah diimplementasikan di sekolah.                     Pertama (SMP) di Indonesia negeri
                                                        maupun swasta. Semua warga sekolah,
         Pendidikan karakter bertujuan
                                                        meliputi para peserta didik, guru,
untuk          meningkatkan               mutu
                                                        karyawan administrasi, dan pimpinan
penyelenggaraan dan hasil pendidikan
                                                        sekolah menjadi sasaran program ini.
di   sekolah      yang     mengarah        pada
                                                        Sekolah-sekolah yang selama ini telah
pencapaian pembentukan katakter dan
                                                        berhasil    melaksanakan      pendidikan
akhlak mulia peserta didik secara utuh,




                                                   17
karakter dengan baik dijadikan sebagai              4. Mematuhi         aturan-aturan
best practices, yang menjadi contoh                    social yang berlaku dalam
untuk     disebarluaskan     ke     sekolah-           lingkungan yang lebih luas;
sekolah lainnya.                                    5. Menghargai          keragaman
                                                       agama, budaya, suku, ras,
        Memalui           program        ini
                                                       dan golongan social ekonomi
diharapkan      lulusan    SMP    memiliki
                                                       dalam lingkup nasional;
keimanan      dan     ketaqwaan       kepada
                                                    6. Mencari    dan     menerapkan
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
                                                       informasi dari lingkungan
mulia, berkarakter mulia, kompetensi
                                                       sekitar dan sumber-sumber
akademik yang utuh dan terpadu,
                                                       lain secara logis, kritis dan
sekaligus memiliki kepribadian yang
                                                       kreatif;
baik sesuai norma-norma dan budaya
                                                    7. Menunjukkan        kemampuan
Indonesia. Pada tataran yang lebih
                                                       berpikir logis, kritis, kreatif,
luas, pendidikan karakter nantinya
                                                       dan inovatif;
diharapkan menjadi budaya sekolah.
                                                    8. Menunjukkan        kemampuan
        Keberhasilan                program            belajar secara mandiri sesuai
pendidikan karakter dapat diketahui                    dengan         potensi    yang
melalui     pencapaian     indicator    oleh           dimilikinya;
peserta didik sebagaimana tercantum                 9. Menunjukkan        kemampuan
dalam Standar Kompetensi Lulusan                       menganalisis               dan
SMP, yang antara lain meliputi sebagai                 memecahkan masalah dalam
berikut :                                              kehidupan sehari-hari;
                                                    10. Mendeskripsikan gejala alam
        1. Mengamalkan ajaran agama
                                                       dan social;
            yang dianut sesuai dengan
                                                    11. Memanfaatkan       lingkungan
            tahap           perkembangan
                                                       secara bertanggung jawab;
            remaja;
                                                    12. Menerapkan          nilai-nilai
        2. Memahami kekurangan dan
                                                       kebersamaan              dalam
            kelebihan diri sendiri;
                                                       kehidupan       bermasyarakat,
        3. Menunjukkan sikap percaya
                                                       berbangsa,      dan bernegara
            diri;




                                               18
demi terwujudnya persatuan                         mengikuti              pendidikan
   dalam     Negara       kesatuan                    menengah;
   Republik Indonesia;                             21. Memiliki                     jiwa
13. Menghargai karya seni dan                         kewirausahaan.
   budaya nasional;                                Pada tataran sekolah, kriteria
14. Menghargai tugas pekerjaan             pencapaian      pendidikan          karakter
   dan memiliki kemampuan                  adalah terbentuknya budaya sekolah
   untuk berkarya;                         yaitu    perilaku,     tradisi,    kebiasaan
15. Menerapkan hidup bersih,               keseharian, dan simbol-simbol yang
   sehat,   bugar,    aman,    dan         dipratikkan oleh semua warga sekolah,
   memanfaatkan waktu luang                dan masyarakat sekitar sekolah harus
   dengan baik;                            berlandaskan                       nilai-nilai
16. Berkomunikasi              dan         tersebut.(Kemendiknas, 2010).
   berinteraksi   secara    efektif
                                                   Penyelenggaraan           pendidikan
   dan santun;
                                           nasional tidak semata mentransfer
17. Memahami         hak       dan
                                           ilmu dan pengetahuan serta teknologi
   kewajiban diri dan orang lain
                                           kepada peserta didik. Lebih dari itu,
   dalam        pergaulan        di
                                           pendidikan harus bisa menumbuhkan
   masyarakat;          menghargai
                                           semangat kebangsaan sebagai warga
   adanya perbedaan pendapat;
                                           bangsa dengan karakter ke-Indonesia-
18. Menunjukkan         kegemaran
                                           an. Bangsa ini harus kembali kepada
   membaca        dan      menulis
                                           bangsa yang berbudi. Mampu memiliki
   naskah pendek sederhana;
                                           budi pekerti yang luhur yang diajarkan
19. Menunjukkan keterampilan
                                           oleh para leluhur bangsa. Caranya,
   menyimak,             berbicara,
                                           dengan      mengajarkan           pendidikan
   membaca,       dan      menulis
                                           karakter kepada anak-anak mulai dari
   dalam bahasa Indonesia dan
                                           bangku sekolah. Memberikan mereka
   bahasa Inggris sederhana;
                                           pemahaman        yang      jelas     tentang
20. Menguasai        pengetahuan
                                           karakter yang harus dimiliki manusia
   yang     diperlukan        untuk
                                           Indonesia di masa depan.




                                      19
Dengan olah raga, olah raga,                 bersifat       kontraproduktif                bagi
dan olah jiwa sekolah kami terus                     pembentukan karakter anak didik.
menerus menanamkan nilai-nilai luhur                         Pendekatan parsial yang tidak
yang       harus      dimiliki       manusia         didasari pendekatan pedagogi yang
Indonesia. Oleh karena itu, kami                     kokoh alih-alih menanamkan nilai-
mengemasnya dalam berbagai bentuk                    nilai keutamaan dalam diri anak,
kegiatan kesiswaan yang dimulai dari                 malah menjerumuskan mereka pada
saat siswa pertama kali masuk sekolah                perilaku kurang bermoral. Selama ini,
sampai keluar (lulus) dari sekolah.                  jika kita berbicara tentang pendidikan
        Pembangunan        karakter      dan         karakter,      yang        kita      bicarakan
pendidikan karakter menjadi suatu                    sesungguhnya adalah sebuah proses
keharusan, karena pendidikan tidak                   penanaman         nilai    yang      seringkali
hanya      menjadikan      peserta      didik        dipahami       secara       sempit,         hanya
menjadi       cerdas,       tetapi      juga         terbatas     pada     ruang       kelas,      dan
mempunyai budi pekerti dan sopan                     seringkali     pendekatan           ini      tidak
santun,      sehingga      keberadaannya             didasari prinsip pedagogi pendidikan
sebagai anggota masyarakat menjadi                   yang kokoh.
bermakna baik bagi dirinya maupun                            Sebagai           contoh,           untuk
orang lain. Menanamkan karaker pada                  menanamkan nilai kejujuran, banyak
seseorang yang paling penting adalah                 skolah beramai-ramai membuat kantin
kejujuran, karena kejujuran bersifat                 kejujuran. Di sini, anak diajak untuk
universal. (Mahatma, 2010).                          jujur dalam membeli dan membayar
                                                     barang yang dibeli tanpa ada yang
Pendidikan Karakter Integral
                                                     mengontrolnya. Dengan praksis ini
        Pendidikan karakter hanya akan
                                                     diharapkan      anak-anak           kita     akan
menjadi sekadar wacana jika tidak
                                                     menghayati      nilai     kejujuran         dalam
dipahami     secara     lebih    utuh    dan
                                                     hidup       mereka.       Namun,           sayang,
menyeluruh dalam konteks pendidikan
                                                     gagasan      yang     tampaknya            relevan
nasional    kita.   Bahkan,      pendidikan
                                                     dalam mengembangkan nilai kejujuran
karakter yang dipahami secara parsial
                                                     ini     mengabaikan         prinsip         dasar
dan tidak tepat sasaran justru malah
                                                     pedagogi          pendidikan               berupa




                                                20
kedisiplinan      sosial    yang     mampu           berfungsi, sebab anak malah tergoda
mengarahkan dan membentuk pribadi                    menjadi pencuri. Kegagalan kantin
anak didik.                                          kejujuran    adalah      sebuah       indikasi,
       Alih-alih        mendidik        anak         bahwa       para     pendidik         memiliki
menjadi jujur, dibanyak tempat anak                  kesalahan pemahaman tentang makna
yang baik malah tergoda menjadi                      kejujuran dalam konteks pendidikan.
pencuri dan kantin kejujuran malah                   Mereka       tidak       mampu         melihat
bangkrut. Ini terjadi karena kultur                  persoalan yang lebih mendalam yang
kejujuran yang ingin dibentuk tidak                  menggerogoti         sendi          pendidikan
disertai       dengan           pemangunan           kita.(Doni Koesoema A, 2010).
perangkat      sosial    yang     dibutuhkan                 Sementara            itu,       untuk
dalam kehidupan bersama. Tiap orang                  mengembangkan pendidikan karakter
bisa tergoda menjadi pencuri jika ada                di sekolah, Kementerian Pendidikan
kesempatan.                                          Nasional (Kemendiknas) memberikan
       Masifnya                      perilaku        bantuan kepada sekolah-sekolah yang
ketidakjujuran itu telah menyerambah                 ditunjuk sebagai percontohan. Sebagai
dalam diri para pendidik, siswa dan                  contoh sebanyak 10 sekolah di semua
anggota komunitas sekolah lain. Untuk                jenjang pendidikan di Nusa Tenggara
itu, pendekatan yang lebih utuh dan                  Barat    mendapatkan         bantuan      dari
integrallah yang dibutuhkan untuk                    Kementerian        Pendidikan         Nasional
melawan budaya tidak jujur ini.                      untuk    mengembangkan              pendidikan
       Pendidikan karakter semestinya                karakter.     Setiap       sekolah        yang
terarah pada pengembangan kultur                     mendapatkan percontohan menerima
edukatif yang mengarahkan anak didik                 bantuan sebesar Rp. 10.000.000,00
untuk menjadi pribadi yang integral.                 untuk    menerapkan        dan       membina
Adanya        bantuan       sosial     untuk         pengembangan                        pendidikan
mengembangkan                     keutamaan          karakter.(http://www.antaranews.com
merupakan        ciri    sebuah      lembaga         , diakses tanggal 7 September 2010).
pendidikan.                                                   Sementara       itu,       Mendiknas,
       Dalam            konteks       kantin         Muhammad           Nuh     mengemukakan
kejujuran, bantuan sosial ini tidak                  bahwa intinya pembinaan karakter




                                                21
harus dilakukan pada semua tingkat                         dilaksanakan       pada    semua      tingkat
pendidikan hingga Perguruan Tinggi                         pendidikan hingga Perguruan Tinggi
(PT) karena PT harus mampu berperan                        (PT), (4) pembangunan karakter dan
sebagai      mesin          informasi         yang         pendidikan karakter menjadi suatu
membawa bangsa ini menjadi bangsa                          keharusan karena pendidikan tidak
yang cerdas, santun, sejahtera dan                         hanya      menjadikan       peserta     didik
bermartabat serta mampu bersaing                           menjadi cerdas, juga mempunyai budi
dengan bangsa manapun.                                     pekerti dan sopan santun, sehingga
                                                           keberadaannya          sebagai        anggota
Simpulan dan Saran                                         masyarakat menjadi bermakna baik
Simpulan                                                   bagi dirinya maupun orang lain, (5)
       Berdasarkan                   pemaparan             pendidikan karakter yang didalamnya
tersebut     di     atas,       maka     dapatlah          ada akhlak mulia akan menjadi jati diri
dikemukakan           beberapa           simpulan          bangsa untuk mencapai kejayaan dan
sebagai berikut: (1) karakter adalah                       kemajuan di dunia internasional, (6)
cara berpikir dan berperilaku yang                         pendidikan     budaya       dan    karakter
menjadi ciri khas setiap individu untuk                    bangsa     harus     dipraktekkan,       titik
hidup dan bekerjasama, baik dalam                          beratnya       bukan         teori,       (7)
lingkup           kehidupan              keluarga,         menghadirkan        pendidikan     karakter
masyarakat, bangsa dan Negara; (2)                         dan budaya di sekolah harus dilakukan
Pendidikan         karakter        meliputi      9         secara holistik, karena tidak bisa
(sembilan)        pilar     yang     saling    kait        terpisah dengan pendidikan sifatnya
mengkait,      yaitu:       (a)    responsibility          kognitif     atau         akademik,       (8)
(tanggung jawab), (b) respect (rasa                        permasalahannya,          mayoritas     guru
hormat), (c) fairness (keadilan), (d)                      belum       punya      kemauan         untuk
courage     (keberanian),          (e)    honesty          melaksanakan        pendidikan     karakter,
(kejujuran),              (f)          citizenship         kesadaran sudah ada hanya saja belum
(kewarganegaraan), (g) self-discipline                     menjadi sebuah aksi nyata, (9) grand
(disiplin diri), (h) caring (peduli), dan                  design tentang pendidikan karakter
(i)   perseverance          (ketekunan);        (3)        sudah      tersusun,       hanya       belum
pembinaan                 karakter            harus        disosialisasikan ke seluruh pelosok




                                                      22
nusantara,       terutama        ke      lembaga-          konteks pembelajaran di kelas atau
lembaga pendidikan, dan (10) program                       ruang     kuliah,      pendidikan     karakter
pendidikan          karakter     tidak      hanya          dapat     diintegrasikan          pada     mata
dilakukan satu sampai dua tahun,                           pelajaran       atau    mata     kuliah    yang
namun       secara          berkesinambungan               relevan, (4) agar tenaga kependidikan
hingga 2025.                                               (guru dan dosen) mempunyai acuan
                                                           yang      baku         tentang      penerapan
Saran
                                                           pendidikan        karakter,      maka      perlu
         Berdasarkan                    butir-butir
                                                           segera disosialisasikan grand design
simpulan       di     atasa,     maka       untuk
                                                           tentang     pendidikan         karakter,     (5)
mengimplemetasikan                    pendidikan
                                                           pendidikan karakter harus diwujudkan
karakter       di     lembaga         pendidikan
                                                           untuk        kepentingan            anak-anak
dikemukakan saran sebagai berikut :
                                                           Indonesia dalam konteks kehidupan
(1) untuk implementasikan pendidikan
                                                           social dan buaya masyarakat, (6) perlu
karakter di sekolah dasar (SD), sebagai
                                                           diadakan TOT (Training of Trainer)
porsi yang cukup besar (60%), maka
                                                           untuk     pendidikan           karakter     bagi
perlu      disusun           buku        petunjuk
                                                           seluruh tenaga tenaga kependidikan,
pelaksanaan          (juklak)       yang     dapat
                                                           baik     guru     maupun         dosen,      (7)
digunakan sebagai acuan para tenaga
                                                           pelaksanaan pendidikan karakter di
kependidikan pada jenjang pendidikan
                                                           sekolah jangan hanya bersifat instan,
dasar,     (2)         sebagaimana           telah
                                                           karena pemerintah saat ini sedang
dikemukakan            di       atas,       bahwa
                                                           intens dengan soal ini, tantangannya
penerapan pendidikan karakter dapat
                                                           justru    bagaimana         pendidikan        di
diimplementasikan mulai pada jenjang
                                                           sekolah itu berjalan seimbang antara
pendidikan          dasar     sampai       dengan
                                                           penguasaan             pengetahuan          dan
pendidikan tinggi. Oleh karena itu,
                                                           pembentukan karakter siswa, dan (8)
untuk      mempersiapkan                semuanya
                                                           perlu segera disosialisiasikannya grand
secara cermat, perlu diterbitkan buku
                                                           design pendidikan karakter di lembaga
pinter yang memberikan acuan kepada
                                                           pendidikan mulai jenjang pendidikan
guru     dan    dosen        agar     pendidikan
                                                           Taman Kanak-Kanak sampai dengan
karakter       dapat        diterapkan      sesuai
                                                           perguruan tinggi.
dengan yang diharapkan, (3) dalam




                                                      23
PENGARUH DISIPLIN GURU
     TERHADAP PRESTASI BELAJAR
              SISWA




24
DI SDN BANJARSARI CERME                         diikutkan      adalah    guru komputer,
            GRESIK                                 diperoleh responden sebanyak 19 orang.
                                                   Data dikumpulkan dengan observasi,
                                                   dokumentasi dan wawancara dengan
                                                   instrumen check list. Selanjutnya untuk
              Etiyasningsih*)
                                                   mengetahui pengaruh disiplin guru
                                                   terhadap prestasi belajar digunakan uji
                                                   regresi linier berganda.
Abstrak, Disiplin merupakan salah satu
faktor yang sangat penting. Agar guru                       Hasil penelitian menunjukkan
dapat berhasil dalam melaksanakan tugas            Fhitung = 6,171. > Ftabel = 4,45. Oleh karena
dan kewajibannya, maka guru tersebut               Fhitung > Ftabel maka Ha diterima dan Ho
harus mentaati dan menyadari akan                  ditolak yang berarti terdapat pengaruh
pentingnya kedisiplinan. Kedisiplinan              signifikan disiplin guru terhadap prestasi
guru tentunya akan berimbas kepada para            belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil
siswa, guru yang tidak atau kurang                 hitung αhitung = 0,024 jauh di bahwa 0,05,
disiplin, siswanya pun akan cenderung              yang      menandakan        pengaruh     yang
tidak displin dan sebaliknya. Kedisplinan          signifikan.
tidak hanya pada kehadiran guru semata,
                                                           Berdasarkan      hasil   penelitian
namun lebih dari itu disiplin dalam
                                                   diharapkan para guru dapat menjalankan
melaksanakan proses belajar mengajar.
Dalam hal ini misalnya guru disiplin               tugas dengan penuh rasa tanggung jawab,
                                                   disiplin, jujur, dan penuh didekasi, karena
dalam membuat persiapan mengajar,
                                                   dengan sikap-sikap tersebut sangat
Silabus, RPP, menyiapkan buku-buku
                                                   membantu dalam tercapainya prestasi
paket penunjang, alat peraga dan lain-lain.
                                                   belajar siswa, selain itu hendaknya juga
Dengan kedisiplinan guru yang tinggi
                                                   lebih       memperhatikan       kehadiran,
siswa akan lebih semangat belajar dan
                                                   persiapan mengajar dan proses kegiatan
mendapatkan urutan materi pelajaran
                                                   belajar mengajar. Bagi kepala sekolah
yang     sistematis,   hal    ini    akan
                                                   dapat memberi motivasi agar para guru
meningkatkan       prestasi    belajarnya.
Penelitian ini bertujuan mengetahui                lebih disiplin dengan memberi stimulus
                                                   yang proporsional.
pengaruh disiplin guru terhadap prestasi
belajar.

    Penelitian ini merupakan jenis                 Kata Kunci : Disiplin Guru, Prestasi
regresional. Populasinya adalah seluruh            Belajar Siswa
guru di SDN Banjarsari Cerme Gresik
berjumlah 20 orang. Sampel diambil
dengan teknik purposive sampling yaitu
sesuai dengan kebutuhan dan yang tidak
PENDAHULUAN                                        Sebenarnya     telah   banyak      usaha
                                                   pemerintah, dan aspek pendukung, guna
    Kita semua menyadari bahwa untuk               terwujudnya tujuan pendidikan tersebut.
mencapai tujuan pendidikan sangatlah
berat, lebih-lebih pada saat sekarang ini.




                                              25
Untuk      mewujudkan        tujuan         berhasil dalam melaksanakan tugas dan
pendidikan tersebut pemerintah berusaha          kewajibannya, maka guru tersebut harus
melak-sanakan kegiatan antara lain, (1)          mentaati dan menyadari akan pentingnya
Menyempurnakan sistem pendidikan, (2)            kedisiplinan. Karena gurulah yang ikut
Memperluas kesempatan untuk mem-                 bertanggung jawab dalam keberhasilan
peroleh pendidikan, (3) Sarana dan               penyelenggaraan      kegiatan      belajar
prasarana         pendidikan       terus         mengajar di sekolah, agar selalu berupaya
disempurnakan dan ditingkatkan serta             untuk meningkatkan keberhasilan prestasi
lebih didayagu-nakan, (4) Meningkatkan           belajar siswa. Selain itu para guru
jumlah guru dan mutunya, baik formal             hendaknya selalu memberikan bimbingan
maupun     non     formal   serta  terus         dan pengajaran secara baik dengan selalu
ditingkatkan pengembangan karier dan             berpedoman      pada     petunjuk     dan
kesejahteraannya.                                peraturan-peraturan yang telah ditetapkan
                                                 oleh    pemerintah,    dalam     hal   ini
    Mengelola pendidikan tidak semudah           Departemen Pendidikan Nasional.
yang kita bayangkan selama ini, sebab
pendidikan berperan penting sebagai alat             Kedisiplinan guru tentunya akan
atai tempat untuk membentuk manusia              berimbas kepada para siswa, guru yang
Indonesia dan sebagai warga masyarakat           tidak atau kurang disiplin, siswanya pun
sekaligus sebagai warga Negara yang              akan cenderung tidak displin dan
berbudi pekerti luhur, beriman dan taqwa         sebaliknya. Kedisplinan tidak hanya pada
terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta              kehadiran guru semata, namun lebih dari
berkemampuan         dan      mempunyai          itu disiplin dalam melaksanakan proses
ketrampilan dasar untuk bekal pendidikan         belajar mengajar. Dalam hal ini misalnya
selanjutnya   dan     bekal   hidup    di        guru disiplin dalam membuat persiapan
masyarakat.                                      mengajar, Silabus, RPP, menyiapkan
                                                 buku-buku paket penunjang, alat peraga
    Guru kelas sebagai administrator             dan lain-lain. Dengan kedisiplinan guru
menempati posisi yang sangat penting             yang tinggi siswa akan lebih semangat
karena memikul tanggung jawab untuk              belajar dan mendapatkan urutan materi
meningkatkan     dan    mengembangkan            pelajaran yang sistematis, hal ini akan
kemajuan sekolah secara keseluruhan.             meningkatkan prestasi belajarnya.
Sedangkan murid dan guru yang menjadi
komponen penggerak aktifitas kelas harus
didayagunakan secara maksimal agar
dapat tercapai suatu kesatuan yang               METODE PENELITIAN
dinamis di dalam organisasi sekolah.

    Pada dasarnya sekarang ini banyak
                                                 Deskripsi Populasi
para guru yang kurang siap dalam
mengajar, dikarenakan guru tersebut                  Arikunto (2002) menyatakan bahwa
belum membuat persiapan mengajar, dan            populasi adalah obyek yang akan diteliti
juga melanggar tata tertib.                      hasilnya, dianalisis, disimpulkan dan
                                                 kesimpulan itu berlaku untuk seluruh
    Disiplin merupakan salah satu faktor         populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskan
yang sangat penting. Agar guru dapat




                                            26
popupasi adalah totalitas semua nilai yang           2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%,
mungkin,      hasil     menghitung    atau          10%
pengukuran, kuantitatif, atau kualitatif
                                                    P = Q = 0,5   d = 0,05 s = jumlah sampel
mengenai karateristik tertentu dari semua
anggota kumpulan yang lengkap dan jenis
yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.                    Namun dari rumus tersebut telah
    Penelitian ini dilakukan dengan                 dihitung untuk populasi-populasi dengan
mengambil populasi seluruh guru di SDN              jumlah tertentu mulai 10 hingga
Banjarsari Cerme Gresik berjumlah 20                1.000.000 oleh Sugiono (2009:126)
orang.                                              sebagaimana tabel terlampir. Untuk
                                                    jumlah populasi 20 orang dengan taraf
                                                    signifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyak
Penentuan Sampel
                                                    19 orang. Oleh karena itu dalam penelitian
     Pengambilan sampel ini didasari                ini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknik
pendapat Arikunto (1998:120-121) berikut            purposive sampling yaitu sesuai dengan
: ―Untuk sekedar ancer-ancer maka                   kebutuhan dan yang tidak diikutkan
apabila subjeknya kurang dari 100, lebih            adalah guru komputer.
baik       diambil     semua       sehingga
penelitiannya      merupakan      penelitian
                                                    Definisi Operasional Variabel
populasi.     Selanjutnya    jika    jumlah
subyeknya besar dapat diambil antara 10-                 Agar tujuan penelitian dapat tercapai
15% atau lebih tergantung setidak-                  maka variabel harus didefinisikan dengan
tidaknya dari : a) kemampuan peneliti dari          jelas    dan     menyebutkan    indikator-
waktu, tenaga dan dana, b) Sempit luasnya           dindikatornya, cara pengukurannya, dan
wilayah pengamatan dari setiap subyek,              skala atau kategori penilaian yang
karena hal ini menyangkut banyak                    digunakan. Berikut ini adalah definisi
sedikitnya data, c) Besar kecilnya risiko           operasional masing-masing variabel.
yang ditanggung oleh peneliti. Untuk                1. Variabel bebas (X) yakni disiplin
penelitian yang risikonya besar, tentu saja             guru adalah suatu sikap mental seoang
jika sampel besar, hasilnya akan lebih                  guru yang mengandung kesadaran dan
baik.‖                                                  kerelaan untuk mematuhi semua
     Sugiyono (2009:124) menyatakan                     ketentuan, peraturan dan norma yang
jumlah sampel tergantung dari tingkat                   berlaku dalam menunaikan tugas dan
ketelitian     atau     kesalahan      yang             tanggung jawab. Disiplin guru tersebut
dikehendaki, misalnya tingat kesalahan                  diukur dengan indikator-indikator
1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar                   sebagai berikut :
tingkat kesalahan makin kecil sampel.                   a. Kehadiran di sekolah
Rumus untuk menghitung ukuran sampel                    b. Ketepatan waktu mengajar
dari populasi yang diketahui jumlahnya                  c. Persiapan mengajar yaitu silabus,
adalah :                                                    RPP
                                                        d. Kegiatan belajar mengajar antara
           s =                                              lain alat peraga, buku penunjang,
                                                            buku absen siswa, daftar nilai, dan
                                                            lain-lain.




                                               27
2. Variabel terikat prestasi belajar (Y)                         Pengumpulan     data     yang
   yaitu suatu suatu hasil yang teah                     dilakukan dengan wawancara adalah
   dicapai setelah kegiatan belajar                      meyakinkan hasil observasi tentang
   mengajar. Dalam penelitian ini,                       disiplin guru. Wawancara dilakukan
   indikator yang digunakan adalah nilai                 kepada masing-masing guru yang
   rata-rata hasil ulangan tiap mata                     bersangkutan dan kepala sekolah.
   pelajaran bagi guru mata pelajaran dan
   tiap kelas pada guru kelas.
Teknik Pengumpulan Data
                                                      Teknik Analisis Data
        Adapun proses pengumpulan data
                                                             Data     yang    telah    terkumpul
dalam penelitian ini dilakukan dengan
                                                      kemudian dilakukan analisis dengan
prosedur sebagai berikut :
                                                      urutan analisa sebagai berikut :
1. Survey Pendahuluan
    Dalam      kegiatan     ini,   penelitian         1. Coding, adalah memberi kode pada
    dilakukan dengan mengumpulkan                         lembar check list sesuai dengan
    data-data intern perusahaan di                        kategori yang telah ditentukan.
    antaranya      adalah      profil    SDN          2. Tabulating,       adalah    mentabulasi
    Banjarsari Cerme Gresik.                              seluruh data hasil chek list ke dalam
2. Dokumentasi                                            tabel-tabel yang diperlukan sehingga
            Teknik dokumentasi adalah                     mudah dibaca.
    mencari data mengenai hal-hal atau                3. Skoring, adalah memberi skor dari
    variabel     yang     berupa      catatan,            kategori-kategori tersebut sesuai skor
    transkrip, buku, surat kabar, majalah,                yang telah ditentukan. Disiplin guru
    prasasti, notulen rapat, legger, agenda               diberi skor tinggi, sedang dan rendah.
    dan sebagainya (Suharsimi, 2002 :                     Skor tinggi jika penjumlahan dari hasil
    236).                                                 penilaian mencapai >75%, skor sedang
            Dalam penelitian ini teknik                   jika penjumlahan dari hasil penilaian
    dokumentasi        digunakan        untuk             mencapai 56-75%, dan rendah jika
    memperoleh data nilai siswa. Dalam                    penjumlahan dari hasil penilaian
    data sekunder yang diperoleh dengan                   <56%.
    teknik dokumentasi ini, peneliti juga             4. Uji Hipotesis
    menggunakan lembar cek list untuk                 Uji hipotesis berfungsi untuk menjawab
    mencatat indikator disiplin guru.                 hipotesa yang telah diajukan sebelumnya.
3. Wawancara                                          Uji ini sekaligus juga menjawab rumusan
            Wawancara atau interview                  masalah yang telah ditulis pada Bab I. Uji
    adalah suatu metode yang tujuannya                yang digunakan dalam penelitian ini
    untuk memperoleh data evaluasi,                   adalah uji Regresi Sederhana dengan
    secara berhadapan muka dengan                     rumus persamaan regresi sederhana :
    secara      individu,     orang      yang                            Y = a + bX
    diinterview memberikan informasi-                 Y = Prestasi siswa
    informasi yang diperlukan secara                  X = Disiplin guru
    ilmiah dalam suatu relasi face to face‖           a = Nilai konstanta
    (Drs. Amatembun MA, supervise                     b = Nilai arah sebagai penentu ramalan
    Pendidikan, 1975:191).                                   (prediksi) yang menunjukkan nilai




                                                 28
peningkatan    (+)     atau       nilai         1       Kurang              1         5,2
      penurunan (–) variabel Y.                       2       Cukup              4          21,1
                                                      3       Baik               14         73,7
Dalam penelitian ini perhitungan regresi                        Jumlah           19         100
dilakukan dengan bantuan program SPSS
for Windows. Langkah menguji hipotesis :                  Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa
1) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk                    disiplin guru dalam melaksanakan
    kalimat :                                        tugasnya sebagian besar (73,7%) baik,
    Ha : Terdapat pengaruh disiplin                  21,1% cukup, dan 5,2% kurang.
             guru dengan prestasi siswa
    Ho : Tidak            terdapat   pengaruh
             disiplin guru dengan prestasi
             siswa                                        Sedangkan Prestasi belajar siswa
2) Kaidah pengujian signifikansi :                   diukur dari nilai rata-rata mata pelajaran
    Jika Fhitung ≥ Ftabel       maka       Ha        dari guru yang bersangkutan jika guru
    diterima dan Ho ditolak artinya                  tersebut adalah guru mata pelajaran, dan
    terdapat pengaruh disiplin guru                  nilai rata-rata kelas jika guru yang
    dengan prestasi siswa.                           bersangkutan adalah guru kelas. Nilai
    Jika Fhitung < Ftabel       maka       Ha        tersebut diperoleh selama 6 kali evaluasi
    ditolak dan Ho diterima artinya tidak            terakhir yang datanya diperoleh dari
    terdapat pengaruh disiplin guru                  dokumentasi pada guru mata pelajaran
    dengan prestasi siswa.                           atau guru kelas masing-masing.



HASIL DAN PEMBAHASAN                                  Tabel 2 Nilai Nilai Rata-Rata Kelas atau
                                                        Nilai Rata-rata Mata Pelajaran (6 x
                                                                 evaluasi terakhir)

    Terdapat      8   indikator     dalam
menjelaskan disiplin guru yang diperoleh
datanya       melalui   observasi     dan                          Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai
dokumentasi yaitu, kehadiran, ketepatan                               Rata-rata Mata Pelajaran
waktu mengajar, silabus, RPP, alat peraga,            No
                                                     Resp              (6 x evaluasi terakhir)
buku, absensi murid, buku penunjang,
daftar nilai.                                          .                                           Rata
                                                               1       2    3     4     5    6      -
                                                                                                   Rata

Tabel 1 Disiplin Guru di Sekolah Dasar                    1   7,60 7,90 7,95 8,10 8,20 8,64 8,07
Negeri Banjarsari Kec. Cerme Kabupaten
Gresik                                                 2      6,54 5,95 7,00 7,10 6,52 6,43 6,59

                                                       3      8,00 8,50 7,93 7,87 8,30 8,00 8,10

                                 Persentase            4      8,20 7,50 7,90 7,60 7,90 7,42 7,75
 No    Daftar Nilai   Jumlah
                                    (%)




                                                29
Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai          pada lampiran. Pada analisa data ini akan
               Rata-rata Mata Pelajaran               dipaparkan uji hipotesis dengan regresi
 No                                                   linier sederhana. Output perhitungan
Resp            (6 x evaluasi terakhir)               dengan program SPSS for Windows
  .                                                   seperti terlihat dalam gambar berikut.
                                          Rata
        1       2    3     4     5    6    -
                                          Rata
                                                                                               ANOVAb

                                                                               Sum of
  5    8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00              Model
                                                       1       Regression
                                                                               Squares
                                                                                  1,918
                                                                                                df
                                                                                                      1
                                                                                                          Mean Square
                                                                                                                1,918
                                                                                                                        F
                                                                                                                        6,171
                                                                                                                                Sig.
                                                                                                                                  ,024 a
                                                               Residual           5,282              17          ,311

  6    7,20 7,56 7,85 7,98 8,20 8,20 7,83                      Total              7,200
                                                         a. Predictors: (Constant), Disiplin Guru
                                                                                                     18


                                                         b. Dependent Variable: Prestas i Sisw a

  7    8,60 8,40 8,00 8,21 7,58 7,49 8,05
                                                                                  Gambar 1 Uji F
  8    7,98 7,12 7,59 7,87 8,67 8,12 7,89

  9    7,90 7,92 8,00 8,20 8,40 8,50 8,15
                                                          Gambar 4.2 di atas menunjukkan
 10 6,90 6,90 6,65 6,00 7,15 7,26 6,81
                                                      hasil uji F dengan program SPSS for
 11    6,70 6,80 6,90 6,23 6,50 6,21 6,56             Windows, dengan Fhitung sebesar 6,171.
                                                      Angka ini selanjutnya dibandingkan
 12 8,00 8,50 8,50 8,00 7,90 9,40 8,38                dengan Ftabel pada df = 17 sebagaimana
                                                      Tabel F pada lampiran (Critical Values for
 13    7,50 7,60 7,70 7,54 7,80 8,00 7,69             the F Distribution α=0,05). Tabel F
                                                      dengan df = 13 dan n =1 diperoleh Ftabel =
 14    6,10 6,00 6,58 6,98 7,16 7,90 6,79
                                                      4,45. Sehingga Fhitung = 6,171 > Ftabel = 4,45.
 15    8,20 8,00 8,10 8,23 8,21 8,60 8,22
                                                           Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha
 16    7,59 8,00 8,10 8,20 8,50 8,42 8,14             diterima dan Ho ditolak yang berarti
                                                      terdapat pengaruh signifikan disiplin guru
 17    8,50 8,40 8,60 8,21 8,24 8,21 8,36             terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat
                                                      pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,024
 18 6,80 7,10 6,85 6,98 6,85 6,20 6,80
                                                      jauh di bahwa 0,05, yang menandakan
 19    7,23 8,00 8,00 8,20 8,10 8,65 8,03             pengaruh yang signifikan.

                                                          Selain    adanya     pengaruh     yang
                                                      signifikan, pada uji korelasi juga terlihat
                                                      adanya korelasi positif (Gambar 4.3) antar
                                                      kedua variabel yang diperoleh Pearson
Uji Regresi Linier Sederhana
                                                      Correlation sebesar 0,516 lebih dari rtabel
     Data yang terkumpul sebagaimana                  sebesar 0,456 (Sebagaimana r tabel
paparan sebelumnya selanjutnya dianalisis             Product Moment pada df = 17 terlampir).
untuk mengetahui pengaruh disiplin guru
dengan prestasi belajar siswa.
     Koding, skoring, dan tabulating telah
dilaksanakan peneliti yang hasilnya tertera




                                                 30
Cor relations                                                                           = 6,191 + 0,560
                                                                           Prestasi
                                                                            Sisw a          Disiplin Guru                        Selanjutnya berdasarkan persamaan
 Pearson Correlation                        Prestasi Sisw a                    1,000                  ,516                   di atas deskripsi pengaruh tingkat
                                            Disiplin Guru                       ,516                1,000
 Sig. (1-tailed)                            Prestasi Sisw a                         ,                 ,012                   pendidikan      terhadap     perkembangan
                                            Disiplin Guru                       ,012                      ,                  perusahaan berdasarkan unstandarized
 N                                          Prestasi Sisw a                       19                    19
                                            Disiplin Guru                         19                    19
                                                                                                                             coeffisients beta adalah sebagai berikut:

                                                                                                                             1) Konstanta sebesar 6,191 menyatakan
                         Gambar 2 Uji Korelasi                                                                                  bahwa jika variabel disiplin guru
                                                                                                                                dianggap konstan (tidak ada upaya
                                                                                                                                meningkatkan disiplin guru), maka
                                                                                                                                prestasi    belajar    siswa    sebesar
     Besarnya pengaruh atau kontribusi                                                                                          6,191point.
disiplin guru terhadap prestasi belajar                                                                                      2) Koefisien regresi disiplin guru sebesar
siswa dapat dilihat pada gambar Uji t                                                                                           0,560 menyatakan bahwa setiap
berikut ini.                                                                                                                    peningkatan 1 poin tingkat disiplin
                                                                                                                                guru         akan         meningkatkan
                                                                  a
                                                      Coe fficients                                                             perkembangan perusahaan sebesar
                            Unstandardized
                             Coefficients
                                                 Standardized
                                                 Coefficients                                   Correlations                    0,560 poin. Jika angka tersebut
 Model
 1       (Constant)
                            B
                            6,191
                                    Std. Error
                                          ,619
                                                     Beta          t
                                                                  10,003
                                                                            Sig.
                                                                              ,000
                                                                                   Zero-order      Partial     Part
                                                                                                                                dikalikan 1000, deskripsinya menjadi
         Disiplin Guru       ,560
   a. Dependent Variable: Prestasi Sisw a
                                          ,226           ,516      2,484      ,024       ,516         ,516       ,516
                                                                                                                                setiap ada upaya peningkatan disiplin
                                                                                                                                guru sebesar 1000 poin maka akan
                                                                                                                                meningkatkan prestasi belajar siswa
                                    Gambar 3 Uji t                                                                              sebesar 560 point.


      Sebagaimana Uji F di atas yang
menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga                                                                                      PEMBAHASAN
seperti pada Gambar 4.4 memperlihatkan
thitung sebesar 2,484 > ttabel sebesar 2,110
(sebagaimana Critical Value for the t
Distribution terlampir untuk df = 17)                                                                                             Hasil penelitian menunjukkan disiplin
artinya terdapat pengaruh disiplin guru                                                                                      guru dipengaruhi oleh tanggung jawab
terhadap prestasi belajar siswa.                                                                                             yang dibebankan kepadanya. Tanggung
                                                                                                                             jawab tersebut berasal dari pemerintah
     Untuk      menunjukkan      besarnya                                                                                    karena para guru adalah Pegawai Negeri
pengaruh atau kontribusi disiplin guru                                                                                       Sipil yang mempunyai tugas pokok dan
terhadap prestasi belajar siswa dapat                                                                                        fungsi yang jelas.
dilihat koefisien regresi (unstandarized
coefficients Beta) pada gambar 4.4 di atas                                                                                       Selain itu para guru juga bertanggung
sebesar 0,560. Selanjutnya sesuai dengan                                                                                     jawab atas prestasi belajar para siswanya.
rumus       regresi   sederhana     dapat                                                                                    Guru cera umum akan merasa bangga
dimasukkan angka-angka tersebut sebagai                                                                                      apabila siswanya dapat berprestasi dan
berikut :                                                                                                                    memiliki kemampuan yang baik.

                  Y               = a + bX                                                                                       Disebutkan   bahwa    faktor-faktor
                                                                                                                             kesehatan jasmani dan rohani, ekonomi,




                                                                                                                        31
status   sosial,    kepemimpinan       dan        karena mereka menyadari bahwa guru
peraturan dan tata tertib juga berpengaruh        memegang peranan penting dalam
terhadap disiplin guru.                           pelaksanaan pembangunan di bidang
                                                  pendidikan, karena pendidikan akan
     Kesehatan seluruh guru secara umum           berjalan lancar dan berkembang baik
terlihat sehat jasmani maupun rohaninya.          apabila guru secara aktif ikut memajukan
Dikatakan bahwa kesehatan seorang guru            pendidikan di dalam masyarakat.
mempengaruhi terhadap tugas sehari-hari.
Sudah sewajarnyalah bila setiap guru                   Faktor kepemimpinan merupakan
menginginkan       rasa   aman     dalam          faktor penting dalam membentuk disiplin
kehidupannya sehingga akan terhindar              para guru. Kepemimpinan yang dimaksud
dari segala gangguan kesehatan. Sehingga          ini adalah kepemimpinan kepala sekolah.
ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya              Dikatakan bahwa kepala sekolah, jika
dengan yang akhirnya dapat membawa                kepemimpinannya efektif, maka guru-
hasil yang baik pula.                             guru akan memperoleh sumbangan yang
                                                  berharga dalam merumuskan tujuan-
    Selanjutnya masalah ekonomi secara            tujuan      pendidikan,      berlangsung
umum Pegawai Negeri Sipil telah                   pengajaran yang efektif, terciptanya
mendapatkan penghasilan yang cukup                suasana yang kondusif (berguna) sehingga
untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.             hal demikian itu akan mendukung
Pemerintah        melalui         Presiden        terciptanya kedisiplinan guru yang baik.
Abdurrahman Wahid pada tahun 2001                 Dengan      demikian      maka     factor
menaikkan gaji Pegawai Negeri Sipil               kepemimpinan      dapat    mempengaruhi
mencapai 200% atau dua kali lipat,                kedisiplinan guru. Di SDN Banjarsari Kec
sehingga jika dibandingkan dengan                 Cerme Kabupaten Gresik, kepemimpinan
penghasilan rata-rata penduduk di                 kepala    sekolah    sukup   baik,   dan
Indonesia Pegawai Negeri Sipil sudah              komunikasi kepala sekolah dengan para
cukup baik. Memang masalah ekonomi                guru juga berlangsung dengan baik.
sangat penting terhadap disiplin guru.
Dikatakan    bahwa     faktor     ekonomi              Tidak kalah penting adalah peraturan
menambah beban bagi guru-guru dan                 dan      tata    tertib     sekolah     yang
menjadi persoalan pribadi yang dapat              mempengaruhi disiplin guru. Disiplin
memungkinkan terganggunya tugas-tugas             guru dan tata tertib sekolah merupakan
di    sekolah.     Padahal       guru-guru        dua hal yang saling terkait. Artinya
menginginkan rasa aman, tentram dalam             disiplin guru tidak akan tercapai bila tidak
kehidupannya yang antara lain yaitu               ada peraturan atau ketentuan-ketentuan
penerimaan gaji lancar, segala haknya             yang mengikat, sehingga menyebabkan
dapat diterima dengan baik dan tepat pada         guru untuk berbuat semaunya sendiri yang
waktunya, juga memiliki tempat tinggal            mengarah terciptanya sekolah yang tidak
untuk keluarganya dan lain-lain.                  teratur/tertib. Tata tertib yang ada di SDN
                                                  Banjarsari sudah cukup baik dan tercatat
    Kemudian tentang status sosial guru           dan ditempatkan di posisi yang mudah
di dalam masyarakat mempunyai status              dilihat.
yang cukup baik. Masyarakat memandang
guru sebagai orang yang patut dihargai,




                                             32
Hasil uji menunjukkan pengaruh yang
signifikan disiplin guru terhadap prestasi
belajar siswa.                                      DAFTAR PUSTAKA

Ketika belajar di sekolah, faktor guru dan
cara mengajarkannya merupakan faktor                Ametembun,     Drs.M.A,    “Supervisi
yang paling penting pula. Bagaimana sikap
                                                         Pendidikan”,   Penerbit    IKIP
dan kepribadiannya guru, disiplinnya,
                                                         Bandung, 1975
tinggi rendahnya pengetahuan yang
dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu          Ametembun,    Drs.M.A,   “Manajemen
mengajarkan pengetahuan kepada anak                      Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbit
didiknya, turut menentukan bagaimana                     IKIP Bandung, 1981
hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa.
                                                    Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik
                                                          Penilaian Pendidikan”, Penerbit
Kesimpulan                                                IKIP Bandung, 1984

                                                    Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs.,
                                                          “Administrasi Pendidikan Dasar”,
1. Disiplin guru di SDN Banjarsari                        Penerbit Departemen Pendidikan
   Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik                       dan Kebudayaan, 1976
   sebagian besar baik.
2. Terdapat pengaruh positif disiplin               M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi
   guru terhadap prestasi belajar siswa di                Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda
   SDN Banjarsari Kecamatan Cerme                         Karya Bandung 1990
   Kabupaten Gresik.
                                                    M.    Dimyati   Mahmud,     “Psykologi
                                                          Pendidikan”, Suatu Pendekatan
Saran-saran                                               Terapan Edisi I Fakultas Ilmu
                                                          Pendidikan IKIP Yogyakarta
1. Para guru diharapkan agar dapat
   menjalankan tugas dengan penuh rasa              Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi
   tanggung jawab, disiplin, jujur, dan                    Reseach”, Jilid II Penerbit FKP
   penuh didekasi, karena dengan sikap-                    IKIP Yogyakarta 1967
   sikap tersebut sangat membantu
   dalam tercapainya prestasi belajar               Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs
   siswa.                                                  “Supervisi Pendidikan”, Dalam
2. Para guru hendaknya juga lebih                          Rangka     Program     Insenvice
   memperhatikan kehadiran, persiapan                      Education, Penerbit IKIP Malang
   mengajar dan proses kegiatan belajar                    1971
   mengajar.
3. Bagi kepala sekolah dapat memberi                S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan
   motivasi agar para guru lebih disiplin                 Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit
   dengan memberi stimulus yang                           Jemara Bandung 1989
   proporsional.




                                               33
Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo
      “Kepemimpinan       Pendidikan”,
      Peberbit Usaha Nasional Surabaya
      1982

Subari,     Drs “Supervisi Pendidikan”,
          Dalam Rangka Perbaikan Situasi
          Mengajar Penerbit Bumi Aksara
          Jakarta 1994

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan
      “Buku II Petunjuk Administrasi
      Sekolah Dasar”, tahun 1989

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
      Wilayah Jawa Timur “Media
      Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei
      1991

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
      dan    Pengembangan         Bahasa
      Indonesia “Kamus Besar Bahasa
      Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka
      1989

TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis
     Besar Haluan” Negara 1993-1998,
     Penerbit Bina Pustaka Surabaya
     1989




                                           34
PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP
     KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAKAN PROSES BELAJAR
   MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO II/397 KECAMATAN WONOKROMO

                                    KOTA SURABAYA



                                         Sri Sundari *)


    Abstrak, Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru juga perlu menaruh perhatian
terhadap kemajuan murid di samping evaluasi belajar memecahkan masalah atau
problem yang dihadapi murid dan lain-lainnya. Di dalam memperbaiki dan
mensukseskan proses belajar mengajar serta memecahkan masalah lain, banyak
dipengaruhi oleh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap guru dan
lingkungan sekolahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru dalam
pelaksanakan proses belajar mengajar.
    Penelitian ini merupakan jenis regresional. Populasinya adalah seluruh guru di SDN
Ngagelrejo II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya berjumlah 18 orang. Sampel diambil
dengan teknik total sampling diperoleh responden sebanyak 18 orang. Data dikumpulkan
dengan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh
pelaksanaan supervisi kepala terhadap disiplin guru digunakan uji regresi linier berganda.

    Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49. Oleh karena Fhitung > Ftabel
maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi
kepala sekolah terhadap disiplin guru. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,026
jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan.

    Berdasarkan hasil penelitian diharapkan supervisi kepala sekolah dilaksanakan sebaik-
baiknya sehingga lebih meningkatkan disiplin guru. Guru hendaknya ikut mensukseskan
pelaksanaan supervisi kepala sekolah agar kegiatan proses belajar mengajar lebih meningkat
dan bermutu. Bagi pihak-pihak terkait khususnya pemerintah hendaknya memperhatikan
pelaksanaan supervisi kepala sekolah dan membantu memberikan instrumen yang valid dan
handal.



Kata Kunci : Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah, Kedisiplinan Guru




PENDAHULUAN                                          Perkembangan ilmu pengetahuan
                                                  dan teknologi meliputi seluruh bidang




                                             35
kehidupan, misalnya bidang                   dijamin haknya untuk mendapatkan
komunikasi, transportasi serta               pengajaran sebagaimana tercantum
pembangunan fisik lainnya. Karena            dalam Batang Tubuh UUD 1945 Bab
perkembangan ilmu pengetahuan dan            XIII pasal 31 ayat 1 yang berbunyi
teknologi semakin canggih, maka              ―Tiap-tiap warga negara berhak
hubungan antara negara-negara di             mendapatkan pengajaran‖. Untuk
dunia ini semakin berkembang. Jarak          pelaksanaan tersebut diatas, maka
antara negara yang satu dengan negara        pemerintah berupaya serta
yang lainnya seolah-olah semakin             mempunyai tanggung jawab dalam
dekat. Perkembangan ilmu                     pendidikan. Hal ini diperkuat dengan
pengetahuan dan teknologi                    ayat berikutnya (pasal 31 ayat 2) yang
mendekatkan dan menyatukan negara            berbunyi : ―Pemerintah mengusahakan
yang satu dengan negara yang lain            dan menyelenggarakan satu sistem
sehingga seolah-olah dunia ini               pengajaran nasional yang diatur oleh
mengglobal.                                  Undang-undang‖.
    Oleh karena itu, bangsa Indonesia            Dengan melihat pernyataan diatas,
juga berusaha untuk meningkatkan             maka pendidikan mencetuskan
ilmu pengetahuan dan teknologi agar          harapan, karena harapan terletak pada
sesuai dengan perkembangan jaman.            pendidikan, harapan juga menjiwai
Hal ini sesuai dengan cita-cita dan          perjuangan kemerdekaan. Karena itu
tujuan negara yang tercantum dalam           pendidikan merupakan bagian mutlak
UUD 1945 alinea 4 yang berbunyi:             dari perjuangan dan merupakan
“Mencerdaskan kehidupan bangsa               investasi yang paling utama dari setiap
dan ikut melaksanakan ketertiban             bangsa.
dunia berdasarkan kemerdekaan,                    Oleh karena itu, mutu pendidikan
perdamaian abadi dan keadilan                lebih banyak cenderung dan
sosial”.                                     tergantung pada guru dalam
    Untuk melaksanakan hal tersebut          membimbing/mendidik proses belajar
diatas, maka salah satu bidang yang          mengajar, serta kedisiplinan dalam
harus diutamakan dalam rangka                pelaksanaan kegiatan belajar mengajar
meningkatkan kualitas sumber daya            di sekolah. Kedisiplinan perlu sekali
manusia adalah dalam bidang                  ditingkatkan untuk mencapai
pendidikan, karena pendidikan modal          keberhasilan pendidikan, baik disiplin
paling utama dalam menciptakan               waktu maupun tugas.
manusia yang cerdas dalam arti
                                                 Sebagai tenaga pendidik di
terampil, dapat berdiri sendiri serta        sekolah, guru harus ikut aktif dalam
bertanggung jawab terhadap bangsa            rangka pencapaian tujuan pendidikan
dan negara.                                  nasional, sebagaimana yang tercantum
   Dalam pendidikan atau                     dalam Ketetapan MPR No. 11/83
pengajaran, warga negara Indonesia           tentang GBHN halaman 93 yang




                                        36
berbunyi : ―Pendidikan nasional                  sekedar descriptive, sedangkan bentuk
berdasarkan Pancasila bertujuan untuk            penelitian verifikatif menurut Moh. Nazir
meningkatkan ketaqwaan terhadap                  (1988:63) digunakan untuk menguji
―Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan                 hipotesis yang menggunakan perhitungan-
                                                 perhitungan statistik.
dan ketrampilan, mempertinggi budi
pekerti, memperkuat kepribadian,
mempertebal semangat kebangsaan
seta cinta tanah air agar dapat                  Deskripsi Populasi dan Penentuan
                                                 Sampel
membangun dirinya sendiri serta
bersama-sama bertanggung jawab atas              Deskripsi Populasi
pembangunan bangsa dan negara‖.
                                                     Arikunto (2002) menyatakan bahwa
    Untuk mencapai tujuan                        populasi adalah obyek yang akan diteliti
pendidikan tersebut diatas, maka tugas           hasilnya, dianalisis, disimpulkan dan
guru juga perlu menaruh perhatian                kesimpulan itu berlaku untuk seluruh
terhadap hal-hal lain. Laporan tentang           populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskan
kemajuan murid di samping evaluasi               popupasi adalah totalitas semua nilai yang
belajar memecahkan masalah atau                  mungkin,      hasil     menghitung    atau
problem yang dihadapi murid dan lain-            pengukuran, kuantitatif, atau kualitatif
lainnya.                                         mengenai karateristik tertentu dari semua
                                                 anggota kumpulan yang lengkap dan jenis
     Di    dalam     memperbaiki     dan         yang ingin dipelajari sifat-sifatnya.
mensukseskan proses belajar mengajar
serta    memecahkan      masalah     lain            Penelitian ini dilakukan dengan
sebagaimana tersebut, banyak dipengaruhi         mengambil populasi seluruh guru di SDN
oleh pelaksanaan supervisi Kepala Sekolah        Ngagelrejo II Wonokromo Surabaya
terhadap guru dan lingkungan sekolahnya.         berjumlah 18 orang.



                                                 Penentuan Sampel

METODE PENELITIAN                                     Pengambilan sampel ini didasari
                                                 pendapat Arikunto (1998:120-121) ―Untuk
                                                 sekedar   ancer-ancer     maka    apabila
                                                 subjeknya kurang dari 100, lebih baik
Jenis Penelitian
                                                 diambil semua sehingga penelitiannya
    Penelitian ini menggunakan metode            merupakan        penelitian     populasi.
penelitian      explanatory      survey.         Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar
Pendekatan explanatory survey ini,               dapat diambil antara 10-15% atau lebih
sebagaimana simpulan Cooper dan                  tergantung setidak-tidaknya dari : a)
Pamela (2003:13), Masri Singarimbun dan          kemampuan peneliti dari waktu, tenaga
Sofyan Effendi (1995:3) terbukti mampu           dan dana, b) Sempit luasnya wilayah
dengan baik menjelaskan hubungan antar           pengamatan dari setiap subyek, karena hal
aspek yang diamati dan bukan hanya               ini menyangkut banyak sedikitnya data, c)




                                            37
Besar kecilnya risiko yang ditanggung oleh                Agar tujuan penelitian dapat tercapai
peneliti. Untuk penelitian yang risikonya            maka variabel harus didefinisikan dengan
besar, tentu saja jika sampel besar,                 jelas   dan     menyebutkan     indikator-
hasilnya akan lebih baik.‖                           dindikatornya, cara pengukurannya, dan
                                                     skala atau kategori penilaian yang
    Sugiyono (2009:124) menyatakan                   digunakan. Berikut ini adalah definisi
jumlah sampel tergantung dari tingkat                operasional masing-masing variabel.
ketelitian   atau    kesalahan    yang               1. Variabel       bebas     (X)      yakni
dikehendaki, misalnya tingat kesalahan                   pelaksanaan supervisi kepala sekolah
1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar                    adalah suatu usaha untuk mewujudkan
tingkat kesalahan makin kecil sampel.                    kemajuan sekolah yang bersifat teratur
Rumus untuk menghitung ukuran sampel                     dan kontinyu dengan jalan membina,
dari populasi yang diketahui jumlahnya                   memperbaiki,            meningkatkan
adalah :                                                 kedisiplinan guru dalam pelaksanaan
                                                         proses    belajar    mengajar   untuk
              s =                                        mempertinggi mutu pendidikan yang
                                                         diberikan kepada siswa. Pelaksanaan
 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%,            supervisi kepala sekolah diukur
10%                                                      dengan indikator-indikator sebagai
                                                         berikut :
P = Q = 0,5    d = 0,05 s = jumlah sampel                a. Prinsip konstruktif
                                                         b. Prinsip kreatifitas
     Namun dari rumus tersebut telah
                                                         c. Prinsip kooperatif
dihitung untuk populasi-populasi dengan
                                                         d. Prinsip demokrasi
jumlah tertentu mulai 10 hingga
                                                         e. Prinsip kontinyuitas
1.000.000 oleh Sugiono (2009:126)
                                                         f. Prinsip ilmiah
sebagaimana tabel terlampir. Untuk
jumlah populasi 18 orang dengan taraf
signifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyak            2. Variabel terikat (Y) yakni disiplin
18 orang. Oleh karena itu dalam penelitian              guru adalah suatu sikap mental seoang
ini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknik             guru yang mengandung kesadaran dan
total sampling yaitu mengambil seluruh                  kerelaan      untuk   mematuhisemua
guru menjadi responden.                                 ketentuan, peraturan dan norma yang
                                                        berlaku dalam menunaikan tugas dan
                                                        tanggung jawab. Disiplin guru tersebut
Variabel Penelitian                                     diukur dengan indikator-indikator
                                                        sebagai berikut :
    Dalam penelitian yang dilakukan ini,                a. Kehadiran di sekolah
variabel yang digunakan terdiri dari satu               b. Ketepatan waktu mengajar
variabel bebas yaitu disiplin guru dan satu             c. Persiapan mengajar yaitu silabus,
variabel terikat yaitu prestasi belajar.                    RPP
                                                        d. Kegiatan belajar mengajar antara
                                                            lain alat peraga, buku penunjang,
Definisi Operasional Variabel                               buku absen siswa, daftar nilai, dan
                                                            lain-lain.




                                                38
1. Coding, adalah memberi kode pada
                                                        lembar check list sesuai dengan
Teknik Pengumpulan Data                                 kategori yang telah ditentukan.
                                                     2. Tabulating,      Tabulating      adalah
        Adapun proses pengumpulan data
                                                        mentabulasi seluruh data hasil chek
dalam penelitian ini dilakukan dengan
                                                        list ke dalam tabel-tabel yang
prosedur sebagai berikut :
                                                        diperlukan sehingga mudah dibaca.
1. Survey Pendahuluan
        Dalam kegiatan ini, penelitian               3. Skoring, Skoring adalah memberi skor
                                                        dari kategori-kategori tersebut sesuai
    dilakukan dengan mengumpulkan
                                                        skor     yang     telah     ditentukan.
    data-data intern perusahaan di
                                                        Pelaksanaan supervisi kepala sekolah
    antaranya     adalah      profil     SDN
                                                        dan disiplin guru diberi skor tinggi,
    Ngagelrejo II Wonokromo Surabaya.
                                                        sedang dan rendah. Skor tinggi jika
2. Dokumentasi
                                                        penjumlahan dari hasil penilaian
        Teknik     dokumentasi         adalah
                                                        mencapai >75%, skor sedang jika
    mencari data mengenai hal-hal atau
                                                        penjumlahan dari hasil penilaian
    variabel    yang     berupa      catatan,
                                                        mencapai 56-75%, dan rendah jika
    transkrip, buku, surat kabar, majalah,
                                                        penjumlahan dari hasil penilaian
    prasasti, notulen rapat, legger, agenda
                                                        <56%.
    dan sebagainya (Suharsimi, 2002 :
                                                     4. Uji Hipotesis
    236).
                                                        Uji    hipotesis    berfungsi     untuk
        Dalam penelitian ini teknik
                                                        menjawab      hipotesa    yang     telah
    dokumentasi       digunakan         untuk
                                                        diajukan sebelumnya. Uji ini sekaligus
    mencatat indikator disiplin guru.
                                                        juga menjawab rumusan masalah yang
3. Kuesioner
                                                        telah ditulis pada Bab I. Uji yang
        Dalam penelitian ini digunakan
                                                        digunakan dalam penelitian ini adalah
    kuesioner tertutup dengan skala
                                                        uji Regresi Sederhana dengan rumus
    Likert. Menurut Arikunto (1998:151)
                                                        persamaan regresi sederhana :
    kuesioner        tertutup          adalah
                                                                      Y = a + bX
    kuesioner yang      telah    disediakan
                                                        Y = Disiplin guru
    jawabannya      sehingga     responden
                                                        X = Pelaksanaan supervisi kepala
    tinggal memilih jawaban pada kolom
                                                              sekolah
    yang     sudah    disediakan      dengan
                                                        a = Nilai konstanta
    memberi tanda cross (x). Dalam
                                                        b = Nilai arah sebagai penentu
    penelitian ini kuesioner digunakan
    untuk     megambil      data     tentang                  ramalan       (prediksi)     yang
                                                              menunjukkan nilai peningkatan
    pelaksanaan supervisi kepala sekolah.
                                                              (+) atau nilai penurunan (–)
                                                              variabel Y.

Teknik Analisis Data                                    Dalam penelitian ini perhitungan
                                                        regresi dilakukan dengan bantuan
       Data     yang    telah    terkumpul
                                                        program SPSS for Windows.
kemudian dilakukan analisis dengan
                                                        Langkah menguji hipotesis :
urutan analisa sebagai berikut :




                                                39
a. Membuat Ha dan Ho dalam bentuk                                        pelaksanaan supervisi kepala sekolah
        kalimat :                                                             72,2%    menyatakan   cukup,   16,7%
        Ha : Terdapat                pengaruh                                 menyatakan kurang, dan 11,1% masing
                pelaksanaan          supervisi                                menyatakan baik.
                kepala sekolah terhadap
                disiplin guru
        Ho : Tidak terdapat pengaruh
                                                                               Tabel 2 Disiplin Guru di SDN Ngagelrejo
                pelaksanaan          supervisi
                                                                               II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya
                kepala sekolah terhadap
                disiplin guru
     b. Kaidah pengujian signifikansi :                                                                     Dis iplin Gur u

        Jika Fhitung ≥ Ftabel maka         Ha                                                  Frequenc y      Percent        Valid Percent
                                                                                                                                              Cumulativ e
                                                                                                                                               Percent
        diterima dan Ho ditolak artinya                                        Valid   Cukup           3           16,7                16,7         16,7
                                                                                       Baik           15           83,3                83,3        100,0
        terdapat pengaruh pelaksanaan                                                  Total          18          100,0              100,0

        supervisi kepala sekolah terhadap
        disiplin guru.                                                        Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa
        Jika Fhitung < Ftabel maka         Ha                                 disiplin guru dalam melaksanakan
        ditolak dan Ho diterima artinya                                       tugasnya sebagian besar (83,3%) baik, dan
        tidak        terdapat        pengaruh                                 16,7% cukup.
        pelaksanaan        supervisi   kepala
        sekolah terhadap disiplin guru.
                                                                              Analisis Data

                                                                              Hasil Pengujian Validitas

                                                                                   Validitas menunjukkan sejauh mana
                                                                              alat ukur yang digunakan mengukur apa
                                                                              yang diinginkan dan mengungkap data
                                                                              dari variabel yang diteliti secara tepat.
HASIL PENELITIAN                                                              Instrument valid berarti alat ukur yang
                                                                              digunakan untuk mendapat data itu valid.
                                                                              Dalam uji validitas ini suatu butir
                               Tabel 1                                        pernyataan dikatakan valid jika corrected
                                                                              item total correlation lebih besar dari
   Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah                                       0,468 (untuk jumlah responden 18 orang
                                                                              df = 16) sebagaimana tabel r produk
                  Pelak s anaan Supe rvis i Keps ek                           momen terlampir. Hasil pengujian
                                                           Cumulativ e        validitas terhadap variabel pelaksanaan
 Valid   Kurang
                  Frequenc y
                          3
                                Percent
                                    16,7
                                           Valid Percent
                                                    16,7
                                                            Percent
                                                                 16,7
                                                                              supervisi kepala sekolah dapat dilihat
         Cuku            13         72,2            72,2         88,9         sebagai berikut :
         Baik             2         11,1            11,1        100,0
         Total           18        100,0          100,0


                                                                                 Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel
    Tabel 1 menunjukkan dari 18 guru
                                                                                Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah
sebagai responden dalam menanggapi




                                                                         40
Corrected                             terhadap variabel terikat yang dalam hal
 Pernya-                  Keterangan
             item total                            ini adalah disiplin guru (Y), maka
  taan
            correlation                            digunakan analisis model regresi linier
    1           0,720        Valid                 sederhana dengan model persamaan
    2           0,692        Valid                 sebagai berikut :
    3           0,623        Valid
    4          0,668         Valid
    5           0,612        Valid                                                 Y = α + bX1
    6           0,622        Valid
                                                   Dimana :
Sumber : Hasil Olah Data SPSS
    Dari tabel di atas dapat diketahui                 Y        = Disiplin guru
bahwa untuk item pernyataan variabel
pelaksanaan supervisi kepala sekolah,                  X        = Pelaksanaan supervisi kepala
corrected item total correlation yang                             sekolah
diperoleh untuk seluruh item pernyataan                b        = koefisien regresi X
adalah lebih besar dari 0,468 hal tersebut
berarti bahwa secara keseluruhan item
pernyataan      mengenai      pelaksanaan
supervisi kepala sekolah adalah valid.                Output perhitungan dengan program
                                                   SPSS for Windows seperti terlihat dalam
                                                   gambar berikut.
Hasil Uji Reliabilitas
                                                                                              ANOVAb

     Suatu alat ukur dikatakan reliabel             Model
                                                                            Sum of
                                                                            Squares           df        Mean Square   F       Sig.

atau handal, jika alat itu dalam mengukur           1       Regression
                                                            Residual
                                                                                ,680
                                                                               1,820
                                                                                                    1
                                                                                                   16
                                                                                                               ,680
                                                                                                               ,114
                                                                                                                      5,975     ,026 a


suatu gejala pada waktu yang berbeda                        Total              2,500               17
                                                      a. Predictors: (Constant), Pelaksanaan Superv isi Kepsek

senantiasa menunjukkan hasil yang relatif             b. Dependent Variable: Dis iplin Guru


sama. Untuk menguji reliabilitas suatu
instrument dapat digunakan uji statistic                                      Gambar 1 Uji F
Cronbach Alpha (α), dimana suatu alat
ukur dikatakan reliabel jika nilai Cronbach
Alpha lebih besar dari 0,60. Hasil                     Gambar 4.3 di atas menunjukkan
pengujian reliabilitas terhadap variabel           hasil uji F dengan program SPSS for
pelaksanaan supervisi kepala sekolah               Windows, dengan Fhitung sebesar 5,975.
diperoleh alpha sebesar 0,8773 lebih besar         Angka ini selanjutnya dibandingkan
dari 0,6 sehingga dapat diputuskan bahwa           dengan Ftabel df = 16 sebagaimana Tabel F
item kuesioner telah reliabel.                     pada lampiran (Critical Values for the F
                                                   Distribution α=0,05). Tabel F dengan df =
                                                   16 dan n =1 diperoleh Ftabel = 4,49.
Hasil Pengujian Regresi Linier
                                                   Sehingga Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49.
Sederhana
                                                        Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha
    Untuk mengetahui ada atau tidaknya
                                                   diterima dan Ho ditolak yang berarti
pergaruh    antara     variabel    bebas
                                                   terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi
pelaksanaan supervisi kepala sekolah (X)




                                              41
kepala sekolah terhadap disiplin guru.                                                                     (sebagaimana Critical Value for the t
Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung                                                              Distribution terlampir) artinya terdapat
= 0,026 jauh di bawah 0,05, yang                                                                           pengaruh pelaksanaan supervisi kepala
menandakan pengaruh yang signifikan.                                                                       sekolah terhadap disiplin guru.

     Selain    adanya    pengaruh     yang                                                                     Untuk      menunjukkan       besarnya
signifikan, pada uji korelasi juga terlihat                                                                pengaruh atau kontribusi pelaksanaan
adanya korelasi positif antar kedua                                                                        supervisi kepala sekolah terhadap disiplin
variabel seperti tampak pada Gambar 4.2.                                                                   guru dapat dilihat koefisien regresi
Hasil Pearson Correlation sebesar 0,521                                                                    (unstandarized coefficients Beta) pada
lebih     dari    rtabel sebesar     0,468                                                                 gambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya
(Sebagaimana r tabel Product Moment                                                                        sesuai dengan rumus regresi sederhana
pada df = 16 terlampir).                                                                                   dapat dimasukkan angka-angka tersebut
                                                                                                           sebagai berikut :
                                    Cor relations

                                                                           Pelaksanaan                            Y    = a + bX
                                                                            Supervis i
                                                      Disiplin Guru          Keps ek
 Pearson Correlation          Disiplin Guru                   1,000                ,521                                = 2,112 + 0,371
                              Pelaksanaan
                                                                 ,521             1,000
                              Supervis i Keps ek
 Sig. (1-tailed)              Disiplin Guru                          ,                ,013                     Selanjutnya berdasarkan persamaan
                              Pelaksanaan
                              Supervis i Keps ek
                                                                 ,013                    ,                 di atas deskripsi pengaruh pelaksanaan
 N                            Disiplin Guru
                              Pelaksanaan
                                                                   18                  18
                                                                                                           supervisi kepala sekolah terhadap disiplin
                              Supervis i Keps ek
                                                                   18                  18
                                                                                                           guru       berdasarkan       unstandarized
                                                                                                           coeffisients beta adalah sebagai berikut:
         Gambar 4.2 Pearson Correlations
                                                                                                           1) Konstanta sebesar 2,112 menyatakan
                                                                                                              bahwa jika variabel pelaksanaan
                                                                                                              supervisi kepala sekolah dianggap
    Besarnya pengaruh atau kontribusi
                                                                                                              konstan (tidak ada upaya supervisi),
tingkat      pendidikan        terhadap
                                                                                                              maka disiplin guru sebesar 2,112 point.
perkembangan perusahaan dapat dilihat
                                                                                                           2) Koefisien      regresi    pelaksanaan
pada gambar Uji t berikut ini.
                                                                                                              supervisi kepala sekolah sebesar 0,371
                                                        a
                                            Coe fficients
                                                                                                              menyatakan bahwa setiap peningkatan
                                   Unstandardized           Standardized                                      1 poin pelaksanaan supervisi kepala
                                                                                                              sekolah akan meningkatkan disiplin
                                     Coefficients           Coefficients
 Model                              B       Std. Error          Beta          t              Sig.
 1         (Constant)
           Pelaksanaan
                                    2,112         ,305                        6,915            ,000
                                                                                                              guru sebesar 0,371 poin. Jika angka
                                     ,371          ,152             ,521      2,444            ,026
           Supervisi Kepsek
     a. Dependent Variable: Disiplin Guru
                                                                                                              tersebut dikalikan 1000, deskripsinya
                                                                                                              menjadi setiap ada upaya pelaksanaan
                     Gambar 4.3 Uji t                                                                         supervisi kepala sekolah sebesar 1000
                                                                                                              poin maka akan meningkatkan disiplin
                                                                                                              guru sebesar 371 point.

      Sebagaimana Uji F di atas yang
menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga                                                                        Hasil uji regresi linier sederhana
seperti pada Gambar 4.3 memperlihatkan                                                                     menunjukkan       adanya      pengaruh
thitung sebesar 2,444 > ttabel sebesar 2,120                                                               pelaksanaan supervisi kepala sekolah




                                                                                                      42
terhadap disiplin guru. Adanya pengaruh            suatu hal pengetahuan, sikap atau nilai
ini menunjukkan betapa pentingnya                  dan    ketrampilan,    profesi.   Maka
pelaksanaan supervisi kepala sekolah.              maksudnya,     supervisor     hendaknya
                                                   menyadari sepenuhnya bahwa setiap guru
    Dalam kaitan pentingnya pelaksanaan            pasti   mempunyai      kelebihan    dan
supervisi kepala sekolah terhadap disiplin         kekurangan.
guru, Soewadji (1980:33) menyatakan
supervisi     merupakan        rangsangan,             Prinsip kreativitas juga tidak kalah
bimbingan atau bantuan yang diberikan              penting, Dolok Saribu dan Berlian T.
kepada guru-guru agar kemampuan                    Simbolon (1984:236) mengemukakan
profesionalnya     semakin      bertambah,         bahwa supervisi hendaknya mendorong
sehingga situasi belajar mengajar lebih            guru untuk berinisiatif, melalui supervisi
efektif    dan     efisien.   Kemampuan            hendaknya guru dapat memperoleh
profesional tidak lepas dari disiplin guru,        pengetahuan,    juga     berkreasi   atau
dikatakan profesional berarti seorang guru         mencipta dengan sikap atau nilai dan
juga bisa melaksanakan disiplin dengan             ketrampilan guru atas inisiatif sendiri
baik.                                              tidak bergantung kepada kepala sekolah
                                                   atau pemimpinannya.
    Baharudun Harahap menjelaskan
masalah supervisi dalam administrasi                    Sedangkan prinsip kooperatif, juga
pendidikan        adalah       pembinaan           telah dikembangkan oleh kepala sekolah
administrasi atau kepegawaian, yaitu               yang dilaksanakan atas kerja sama antara
masalah pengaturan, penyusunan dan                 kepala sekolah dan guru, sehingga terjalin
penyimpanan       data    sebagai   dasar          kehamonisan kerja yang baik, saling
dukungan      keputusan     mutasi   yang          mengisi dan menyadari kekurangan
menyangkut kepentingan pegawai dalam               masing-masing. Supervisor tidak dianggap
kedudukan sebagai seorang Pegawai                  momok yang menakut-nakuti, namun di
Negeri Sipil. Sedangkan yang dimaksud              sini sebagai pemimpin mereka yang harus
data di sini meliputi dokumen perorangan           bias membantu kelancaran tugas para
maupun data hasil olahan atau laporan.             guru.
Laporan yaitu kartu merah, Daftar
Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3)                  Prinsip demokrasi dilaksanakan oleh
dan selain itu untuk mengetehui                    kepala sekolah     tidak hanya atas
bagaimana kenaikan pangkat para guru               kemampuannya, tetapi juga ternyata perlu
atau pegawai dan pembagian tugasnya.               mempertimbangkan kemauan/pendapat
                                                   para guru. Kepala Sekolah sebagai
    Apalagi jika pelaksanaan supervisi             supervisor menghargai kepribadian guru,
kepala sekolah yang memenuhi prinsip-              dalam pembicaraan bersama ia harus
prinsip yang telah ditentukan maka                 memberi kesempatan kepada guru untuk
semakin jelas hasilnya terhadap disiplin           mengeluarkan     pendapatnya      dalam
guru. Prinsip konstruktif misalnya, bahwa          mengambil keputusan. Keputusan yang
pelaksanaan bersifat membangun yaitu               diambil    hendaknya     dengan    jalan
harus tampak perbedaan antara sebelum              musyawarah.
diadakan supervisi dengan sesudah
supervisi yaitu makin majunya dalam                    Prinsip         kontinyuitas    yaitu
                                                   melaksanakan     terus-menerus     secara




                                              43
teratur, tidak hanya karena akan ada
inspeksi atasan, sehingga para guru sudah
terbiasa bekerja dengan teratur disertai
dengan rasa disiplin dan tanggung jawab.

     Prinsip   ilmiah    menurut     Made
Pidharta (1986:39) bahwa supervisi
dilaksanakan       hendaknya        dengan
sistematika, objektif dan berdasarkan data
atau informasi. Dalam hal ini tugas
supervisi diharuskan pada pembinaan
guru-guru. Supervisi berpegang pada
tujuan sekolah, koordinasi merode belajar                  DAFTAR PUSTAKA
dan kualifikasi dengan segala aktifitasnya
yang sudah ditentukan secara jelas.

                                                  Ametembun,     Drs.M.A,     “Supervisi
                                                       Pendidikan”,    Penerbit    IKIP
SARAN                                                  Bandung, 1975

                                                  Ametembun,    Drs.M.A,   “Manajemen
                                                       Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbit
1. Pelaksanaan supervisi kepala sekolah
                                                       IKIP Bandung, 1981
   seyogyanya      dilaksanakan   sebaik-
   baiknya sehingga lebih meningkatkan
                                                  Ghozali,   Imam.    Aplikasi Analisis
   disiplin guru.
                                                         Multivariate dengan Program
2. Guru hendaknya ikut mensukseskan
                                                         SPSS. Badan Penerbit Undip,
   pelaksanaan supervisi kepala sekolah
                                                         Semarang. 2002.
   agar kegiatan proses belajar mengajar
   lebih meningkat dan bermutu.                   Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik
3. Bagi pihak-pihak terkait khususnya                   Penilaian Pendidikan”, Penerbit
   pemerintah                  hendaknya                IKIP Bandung, 1984
   memperhatikan pelaksanaan supervisi
   kepala     sekolah    dan   membantu           Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs.,
   memberikan instrumen yang valid dan                  “Administrasi Pendidikan Dasar”,
   handal.                                              Penerbit Departemen Pendidikan
                                                        dan Kebudayaan, 1976

                                                  M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi
                                                        Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda
                                                        Karya Bandung 1990

                                                  M.    Dimyati   Mahmud,     “Psykologi
                                                        Pendidikan”, Suatu Pendekatan
                                                        Terapan Edisi I Fakultas Ilmu
                                                        Pendidikan IKIP Yogyakarta




                                             44
Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi
       Reseach”, Jilid II Penerbit FKP
       IKIP Yogyakarta 1967

Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs
       “Supervisi Pendidikan”, Dalam
       Rangka     Program     Insenvice
       Education, Penerbit IKIP Malang
       1971

S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan
      Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit
      Jemara Bandung 1989

Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo
      “Kepemimpinan       Pendidikan”,
      Peberbit Usaha Nasional Surabaya
      1982

Subari,     Drs “Supervisi Pendidikan”,
          Dalam Rangka Perbaikan Situasi
          Mengajar Penerbit Bumi Aksara
          Jakarta 1994

Departeman Pendidikan dan Kebudayaan
      “Buku II Petunjuk Administrasi
      Sekolah Dasar”, tahun 1989

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
      Wilayah Jawa Timur “Media
      Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei
      1991

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan
      dan    Pengembangan         Bahasa
      Indonesia “Kamur Besar Bahasa
      Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka
      1989

TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis
     Besar Haluan” Negara 1993-1998,
     Penerbit Bina Pustaka Surabaya
     1989.




                                             45
TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA

                          (EDUCATION FOR ALL)

          DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN



                                    Soesetijo *)



Abstrak: pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia (SDM). Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga Negara Indonesia
untuk mendapatkan pengajaran. Indonesia juga merupakan salah satu Negara yang menan-
datangani “Education for All”. Oleh karena itu, Indonesia mencanang-kan Wajib Belajar 6
tahun pada tahun 1984 dan Wajib Belajar 9 tahun pada tahun 1994. Hakikat dari
“Pendidikan untuk Semua dan Semua un-tuk Pendidikan” adalah mengupayakan agar setiap
warga Negara dapat memenuhi haknya. Untuk mewujudkan program PUS (Pendidikan
Untuk Semua) tersebut, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-
lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warganegara secara individual, secara bersama-
sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk barpartisipasi aktif dalam menyukseskan
pendidikan untuk semua. Agar program PUS dapat memenuhi target ca-paian sesuai dengan
yang diharapkan, maka perlu dikelola secara profe-sional. Dalam konteks menejemen
pendidikan, secara struktural penge-lolaan PUS perlu ada kosistensi dan komitmen yang
sama dalam pelak-sanaannya, terutama dalam penerapannya di lembaga-lembaga pendi-
dikan yang terkait.




           Kata-kata kunci: telaah kritis, pendidikan untuk semua,
                        manajemen pendidikan.




                                          1
Manusia            membutuhkan           “Education for All”. Berkaitan dengan
pendidikan     dalam       kehidupannya.         deklarasi ini dan sekaligus juga sebagai
Pendidikan merupakan usaha agar                  wujud         keseriusan          Indonesia
manusia      dapat       mengembangkan           mensukseskannya,         maka     Indonesia
potensi     dirinya     melalui    proses        telah mencanangkan Wajib Belajar 6
pembelajaran dan/atau cara lain yang             Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahun
dikenal dan diakui oleh masyarakat.              berikutnya, yaitu pada tahun 1994,
Undang-Undang           Dasar      Negara        Indonesia        mencanangkan         Wajib
Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal              Belajar 9 Tahun. Melalui Wajib Belajar
31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap             6 Tahun diharapkan anak-anak usia
warga     Negara      berhak     mendapat        Sekolah Dasar (7-12 tahun) dapat
pendidikan, dan ayat (3) menegaskan              menikmati         layanan       pendidikan
bahwa     Pemerin-tah      mengusahakan          Sekolah Dasar (SD). Artinya, anak-
dan menyelenggarakan satu sistem                 anak usia SD dapat menyelesaikan
pendidikan            nasional       yang        pendidikan SD. Demikian juga halnya
meningkatkan           keimanan       dan        melalui pencanangan Wajib Belajar 9
ketakwaan serta akhlak mulia dalam               Tahun diharapkan anak-anak usia
rangka mencerdaskan                              SMP         (13-15       tahun)       dapat
                                                 menyelesaikan pendidikan SMP.
kehidupan      bangsa      yang     diatur
dengan undang-undang. Untuk itu,                         Dalam lingkungan masyarakat
seluruh komponen                                 Indonesia yang pluralistis di mana
                                                 setiap anak yang mengalami berbagai
                                                 jenis kebudayaan diharapkan belajar
*) Soesetijo, staf pengajar Universitas
                                                 beradaptasi      terhadap       kebudayaan
   Gresik.
                                                 utama        Indonesia        (mainstream
                                                 culture), upaya pendekatan belajar
                                                 bagi setiap anak harus lebih banyak
                                                 dikaji secara mendalam sesuai dengan
                                                 perkembangan dan tuntutan zaman
bangsa        wajib        mencerdaskan
                                                 dan     sesuai       dengan       kebutuhan
kehidupan bangsa yang merupakan
                                                 perkembangan anak (Developmentally
salah satu tujuan negara Indonesia.
                                                 Appropriate Practice, DAP). Sejak
        Indonesia merupakan salah satu           kemerdekaan bangsa ini maka telah
Negara yang menandatangi deklarasi


                                             2
disebutkan dalam UUD 1945 pasal 31                   mendapatkan         layanan        pendidikan
ayat 1 bahwa setiap anak Indonesia                   dasar (Wajib Belajar 9 Tahun). Untuk
berhak     untuk      belajar.     UUD     ini       dapat mewujudkan ―Pendidikan untuk
dilandasi oleh filsafat yang serasi                  Semua dan Semua untuk Pendidikan‖,
dengan      hak    asasi   manusia       yang        semua      komponen         bangsa,       baik
menjaga kedaulatan manusia yang                      pemerintah, swasta, lembaga-lembaga
memiliki hak untuk belajar.                          sosial kemasyarakatan, maupun warga
                                                     Negara     secara     individual,       secara
        Berbagai        program          yang
                                                     bersama-sama        atau    sendiri-sendiri,
diarahkan          untuk         mendukung
                                                     berkomitmen         untuk        berpartisipasi
keberhasilan        pelaksanaan         Wajib
                                                     aktif        dalam           menyukseskan
Belajar 6 Tahun dan 9 Tahun telah
                                                     ―Pendidikan untuk Semua dan Semua
dilaksanakan secara terencana dan
                                                     untuk    Pendidikan‖        sesuai     dengan
bertahap. Berkaitan dengan hal ini,
                                                     potensi dan kapasitas masing-masing.
satu hal yang menjadi keprihatinan di
                                                             Sebagai unit organisasi terkecil,
berbagai     Negara     adalah     mengenai
                                                     orang tua dari setiap keluarga tergugah
anak-anak yang karena satu dan lain
                                                     dan ter-panggil untuk setidak-tidaknya
hal        terpaksa        tidak        dapat
                                                     membimbing          dan     membelajarkan
menyelesaikan          pendidikan         SD,
                                                     anak-anaknya,             baik         melalui
sehingga mereka ini menjadi warga
                                                     pendidikan      formal        persekolahan,
Negara yang buta aksara. Demikian
                                                     lembaga      pendidikan           non-formal,
juga dengan anak-anak yang terpaksa
                                                     maupun melalui lembaga pendidikan
tidak dapat menyelesaikan pendidikan
                                                     informal. Mengirimkan anak untuk
SMP, maka mereka akan cenderung
                                                     belajar melalui lembaga pendidikan
masuk ke dalam kelompok tenaga
                                                     sekolah sudah jelas yaitu mulai dari
kerja kasar.
                                                     Taman Kanak-Kanak (TK) sampai
                                                     dengan pendidikan tinggi.
Konsep Pendidikan untuk Semua                                Apabila karena satu dan lain
(PUS)                                                hal,      seorang           anak         tidak
         Hakekat dari ―Pendidikan untuk              memungkinkan          untuk         mengikuti
Semua dan Semua untuk Pendidikan‖                    pendidikan persekolahan, maka orang
adalah     mengupayakan          agar   setiap       tua dapat mengirimkan anaknya untuk
warga      Negara      dapat       memenuhi          mengikuti kegiatan pembelajaran pada
haknya, yaitu setidak-tidaknya untuk                 pendidikan non-formal, seperti Paket


                                                 3
A setara SD, Paket B setara SMP, dan           terse-but, perlu koalisi yang luas dari
Paket    C setara SMA. Seandainya              pemerintah nasional, masyarakat sipil
seorang anak tidak memungkinkan                kelompok, dan lembaga pembangunan
juga mengikuti pendidikan melalui              seperti UNESCO dan Bank Dunia.
pendidikan formal dan non-formal,              Mereka berkomitmen untuk mencapai
maka masih ada model pendidikan                enam tujuan pendidikan yaitu :
alternatif yang dapat ditempuh, yaitu             1. Memperluas dan meningkatkan
―Sekolah      di     Rumah‖       (Home              perawatan anak usia dini yang
Schooling). Dalam kaitan ini, orang                  komprehensif dan pendidikan,
tua dapat mengidentifikasi lembaga-                  terutama       bagi     yang    paling
lembaga sosial kemasyarakatan atau                   rentan dan       anak-anak        yang
unit-unit pendidikan prakarsa anggota                kurang beruntung.
masyarakat yang menyelenggarakan                  2. Memastikan bahwa pada 2015
Sekolah di Rumah‖ dan kemudian                       semua anak, khususnya anak
mengirimkan          anaknya       untuk             perempuan,            yang      dalam
mengikuti pendidikan di lembaga atau                 keadaan sulit, dan mereka yang
unit pendidikan tersebut. Atau, orang                termasuk        etnik        minoritas,
tua sendiri    dengan latar belakang                 memiliki akses lengkap dan
pendidikan dan pengetahuan yang                      bebas     ke    wajib    pendidikan
dimiliki,   dapat    membimbing     dan              dasar yang berkualitas baik.
membelajarkan             anak-anaknya            3. Memastikan bahwa kebutuhan
sehingga pada akhirnya sang anak                     belajar    semua       pemuda      dan
dapat    mengikuti    ujian    persamaan             dewasa dipenuhi me-lalui akses
(Upers), baik pada satuan pendidikan                 adil untuk pembelajaran yang
SD, SMP atau SMA.                                    tepat          dan             program
                                                     keterampilan hidup.
Pendidikan untuk Semua (PUS)
                                                  4. Mencapai       50%      peningkatan
        Pada tanggal 5-9 Maret 1990 di
                                                     dalam keaksaraan orang dewasa
Jomtien, Thailand , 115 negara dam
                                                     pada tahun 2015, khususnya
150 organi-sasi saling bertemu dan
                                                     bagi perempuan, dan akses ke
mengadakan          Konferensi    Dunia
                                                     pendidikan            dasar        dan
membahas Education for All (EFA)
                                                     pendidikan ber-kelanjutan bagi
atau Pendidikan Untuk Semua (PUS).
                                                     semua orang dewasa secara
Dalam rangka mewujudkan tujuan
                                                     adil.


                                           4
5. Menghilangkan                perbedaan         pendidikan dasar dan universal serta
        gender pada pendidikan dasar                 MDG 3 mengenai kesetaraan jender
        dan   menengah        pada     tahun         dalam pendidikan pada tahun 2015.
        2005, dan mencapai kesetaraan                        Indonesia,     sebagai      anggota
        gender       dalam         pendidikan        Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB)
        dengan     2015,     dengan fokus            turut menyepa-kati komitmen dunia
        pada perempuan bahwa mereka                  untuk     menyelenggarakan          program
        dipastikan       mendapat       akses        Education     for    All      (EFA)      atau
        penuh dan sama ke dalam                      Pendidikan     untuk       Semua      (PUS).
        pendidikan         dasar      dengan         Komitmen         dunia        itu        telah
        kualitas yang baik.                          dikumandangkan         pada     kon-ferensi
   6. Meningkatkan           semua      aspek        dunia di Jomtien, Thailand, pada
        kualitas      pendidikan          dan        tahun       1990.        Namun           baru
        menjamin      semua,         sehingga        dideklarasikan       seba-gai         sebuah
        diakui     dan       diukur      hasil       gerakan dunia pada pertemuan di
        pembelajaran yang dicapai oleh               Dakar, Senegal, pada 26-28 April
        semua,       khususnya         dalam         2000. The Dakar Framework for
        keaksaraan,        berhitung      dan        Action berisikan enam tujuan utama:
        kecakapan hidup yang esensial.               1)   memperluas pendi-dikan untuk
        Setelah satu dekade, karena                  anak usia dini; 2) menuntaskan wajib
lambatnya kemajuan dan banyaknya                     belajar   untuk      semu      (2015);     3)
Negara yang jauh dari keharusan                      mengembangkan                         proses
untuk     mencapai       tujuan      tersebut,       pembelajaran/keahlian untuk orang
masyarakat internasonal menegas-kan                  muda dan dewasa; 4) me-ningkatnya
kembali       komitmennya            terhadap        50% orang dewasa yang melek huruf
Pendidikan Untuk Semua di Dakar,                     (2015) khususnya perempuan; 5) me-
Senegal, pada 26-28 April 2000 dan                   ningkatkan mutu pendidikan; dan (6)
sekali lagi pada bulan September                     menghapuskan kesenjangan gender.
tahun itu. Pada pertemuan terakhir,                          Target pencapaian EFA pada
189     negara     dan     mitra      mereka         2015 itu kemudian disepakati untuk
mengadopsi dua dari delapan tujuan                   dipercepat. Komitmen mempercepat
Pendidikan Untuk Semua yang dikenal                  target EFA digaungkan E-9 Ministerial
dengan nama Millenium Development                    Review Meeting on Educationfor All
Goals (MDG) yaitu MDG 2 mengenai                     atau para menteri pendidikan dari


                                                 5
Sembilan           Negara      berpenduduk           dijabarkan ke dalam Rancangan Aksi
terbesar dunia, pada pertemuan di                    Daerah    Pendidikan   Untuk       Semua
Denpasar,      Bali,    12    Maret      2008.       (RAD-PUS) pada semua provinsi dan
Anggota E-9 adalah Negara dengan                     sebagian besar kabupaten/kota.
jumlah       penduduk         sekitar     60%              Sebagian     dari       komitmen
populasi     dunia.     Selain    Indonesia,         menjalankan      Pendidikan        untuk
anggota E-9 adalah Bangladesh, Brazil,               Semua,    pemerintah   mencanangkan
Cina, Mesir, India, Meksiko, Nigeria,                penuntasan program Wajib Belajar
dan Pakistan.                                        Pendidikan Dasar 9 Tahun. Wajar
         Indonesia                      merasa       Dikdas 9 Tahun mencakup jenjang
berkepentingan               menandatangani          pendidikan SD/MI/pendidikan setara
konvensi tersebut untuk memperkuat                   dan SMP/MTs/ pendidikan setara.
komitmen bersama sebagai bangsa                      Program ini secara resmi dicanangkan
dalam memenuhi hak-hak setiap anak                   Presiden Soeharto pada tanggal 2 Mei
memperoleh           pendidikan.        Upaya        1994. Saat itu, Presiden Soeharto
mencapai      target     EFA      merupakan          menargetkan program tersebut tuntas
bagian      dari    upaya      pembangunan           pada tahun 2004, dengan indikator
pendidikan             nasional         secara       utama berupa angka partisipasi kasar
keseluruhan. Sudah banyak yang dapat                 (APK) SMP/ MTs/pendidikan setara
dica-pai       dalam           pembangunan           minimal   95%. Pada       tahun    2004,
pendidikan sejak kemerdekaan. Tapi                   Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI
juga besar pekerjaan ru-mah dan                      sebesar 94,12% dan Angka Partisipasi
tantagan era sekarang dalam rangka                   Kasar (APK) SMP/MTs 81,22%. Han-
menghasilkan sumber daya manusia                     taman krisis ekonomi yang merangsek
yang unggul untuk pembangunan.                       sejak akhir tahun 1997 itu, membuat
         Kaitannya      dengan     Kerangka          target dire-visi menjadi akhir tahun
Aksi Dakar Pendidikan untuk Semua,                   2008. Keputusan menjadwal ulang itu
seluruh war-ga yang menandatangani                   dilakukan pada tahun 2000, saat
deklarasi          termasuk       Indonesia,         Abdurrahman       Wahib           menjadi
berupaya           memegang        komitmen          Presiden RI.
memperluas           dan       memperbaiki
                                                     Landasan       Pendidikan         Untuk
pendidikan. Indonesia telah menyusun
                                                     Semua di Indonesia
Rencana Aksi Nasional Pendidikan
Untuk       Semua       (RAN-PUS),        yang


                                                 6
Landasan yuridis pelaksanaan                yang     akan    terjadi       pada     sistem
pendidikan     untuk         semua     atau       peradaban       dan    budaya      (Suyanto,
education for all di Indonesia didasari           2006) manusia. Dengan ilustrasi ini,
oleh beberapa hal, diantaranya adalah:            maka       baik pemerintah maupun
1. UUD 1945 (amandemen) pasal 31                  masyarakat            berupaya           untuk
   ayat 1 : ―setiap warga Negara                  melakukan        pendidikan            dengan
   berhak mendapat pendidikan.‖                   standar     kualitas    yang      diinginkan
2. UU No. 20 tahun 2003 tentang                   untuk      memberdayakan              manusia.
   Sistem      Pendidikan         Nasional        ―Sistem pendidikan yang dibangun
   (Sisdiknas) :                                  harus disesuaikan dengan tuntutan
   a) Kewajiban bagi orangtua untuk               zamannya, agar pendidikan dapat
      memberikan pendidikan dasar                 menghasilkan outcome yang relevan
      bagi anaknya (pasal 7 ayat 2)               dengan tuntutan zaman (Suyanto,
   b) Kewajiban       bagi     masyarakat         2006).
      memberikan dukungan sumber                           Indonesia,      telah        memiliki
      daya    dalam penyelenggaraan               sebuah sistem pendidikan dan telah
      pendidikan (pasal 9)                        dikokohkan dengan UU No. 20 tahun
   c) Pendanaan pendidikan menjadi                2003.     Pembangunan pendidikan di
      tanggung        jawab       bersama         Indonesia             sekurang-kurangnya
      pemerintah,              pemerintah         menggunakan empat strategi dasar,
      daerah, dan masyarakat (pasal               yakni;       pertama,            pemerataan
      46 ayat 1).                                 kesempatan        untuk         memperoleh
                                                  pendidikan,           kedua,          relevansi
Kebijakan            Pendidikan         di
                                                  pendidikan,      ketiga,        peningkatan
Indonesia
                                                  kualiutas pendidikan, dan keempat,
      Bangsa       yang    maju      adalah
                                                  efesiensi pendidikan. Secara umum
bangsa       yang         memperlihatkan
                                                  strategi itu dapat dibagi menjadi dua
pendidikan dalam pembangunannya.
                                                  dimensi yakni peningkatan mutu dan
Karena pendidikan merupakan proses
                                                  pemerataan                       pendidikan.
      Proses pendidikan merupakan
                                                  Pembangunan           peningkatan        mutu
upaya sadar manusia yang tidak
                                                  diharapkan       dapat      meningkatkan
pernah ada hentinya. Sebab, jika
                                                  efisiensi, efektivitas dan produktivitas
manusia       berhenti        melakukan
                                                  pendidikan.      Sedangkan            kebijkan
pendidikan, sulit dibayangkan apa
                                                  pemerataan pendidikan diharapkan


                                              7
dapat memberikan kesempatan yang                         meningkatkan                       kemampuan
sama dalam memperoleh pendidikan                         masyarakat,             sehingga          terjadi
bagi semua usia sekolah (Nana Fatah                      diversifikasi        program          pendidikan
Natsir, dalam Hujair AH. Sanaky,                         sesuai      dengan      sifat    multikultural
2003).        Dari      sini,       pendidikan           bangsa Indonesia, (f) secara bertahap
dipandang sebagai katalisator yang                       mengurangi peran pemerintah menuju
dapat menunjang faktor-faktor lain.                      ke        peran         fasilitator        dalam
Artinya, pendidikan             sebagai upaya            implementasi sistem pendidikan, (g)
pengembangan sumberdaya manusia                          Merampingkan birokrasi pendidikan
(SDM)     menjadi        semakin       penting           sehingga lebih lentur (fleksibel) untuk
dalam pembangunan suatu bangsa.                          melakukan           penyesuaian         terhadap
         Untuk menjamin kesempatan                       dinamika perkembangan masyarakat
memperoleh pendidikan yang merata                        dalam lingkungan global (Kelompok
disemua kelompok strata dan wilayah                      Kerja Pengkajian, dalam Hujair AH.
tanah air sesuai dengan kebutuhan dan                    Sanaky, 2003).
tingkat       perkembangannya                perlu
                                                              Empat strategi dasar kebijakan
strategi dan kebijakan pendidikan,                       pendidikan yang dikemukakan di atas
yaitu     :      (a)      menyelenggarakan               cukup ideal. Tetapi Muchtar Bukhori,
pendidikan yang relevan dan bermutu                      seorang pakar pendidikan Indonesia,
sesuai dengan kebutuhan masyarakat                       menilai bahwa kebijakan pendidikan
Indonesia            dalam          menghadapi           kita tak pernah jelas. Pendidikan kita
tantangan                global,               (b)       hanya melanjutkan pendidikan yang
menyelenggarakan          pendidikan         yang        elite dengan kurikulum yang elitis
dapat                dipertanggungjawabkan               yang hanya dapat ditangkap oleh 30
(accountasle)          kepada        masyarakat          %    anak     didik‖,     sedangkan        70%
sebagai pemilik sumberdaya dan dana                      lainnya      tidak        bisa     mengikuti
serta pengguna hasil pendidikan, (c)                     (Kompas,        4     September         2004).
menyelenggarakan proses pendidikan                       Dengan            demikian,           tuntutan
yang demokratis secara profesional                       peningkatan         kualitas     pendidikan,
sehingga tidak mengorbankan mutu                         relevansi       pendidikan,            efesiensi
pendidikan, (d) meningkatkan efisiensi                   pendidikan,         dan          pemerataan
internal dan eksternal pada semua                        kesempatan           untuk       memperoleh
jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (e)                pendidikan, belum terjawab dalam
memberi       peluang        yang     luas    dan        kebijakan pendidikan kita. Kondisi ini


                                                     8
semakin mempersulit mewujudkan                      menyisihkan kegetiran-kegetiran bagi
pendidikan       yang    egalitarian     dan        rakyat    kecil     yang      tidak     mampu
SDM      yang      semakin      merata     di       mengecap pendidikan di sekolah‖
berbagai daerah.                                    (Suyanto, 2006).
      Proses       menuju       perubahan                  Pasca Reformasi tahun 1998,
sistem pendidikan nasional banyak                   memang ada perubahan fundamental
menuai kendala serius. Apalagi ketika               dalam sistem pendidikan nasional.
membicarakan konteks pendidikan                     Perubahan          sistem        pendidikan
nasional       sebagai      bagian       dari       tersebut mengikuti perubahan sistem
pergumulan       ideologi     dan    politik        pemerintah yang sentralistik menuju
penguasa.        Problem-problem yang               desentralistik atau yang lebih dikenal
dihadapi seringkali berkaitan dengan                dengan       otonomi       pendidikan      dan
kebijakan-kebijakan (policies) yang                 kebijakan      otonomi         nasional     itu
sangat     strategis.       Maka,    dalam          mempengaruhi          sistem     pendidikan
konteks        kebijakan        pendidikan          kita     (Suyanto,         2006).       Sistem
nasional, menurut Suyanto, banyak                   pendidikan kita pun menyesuaikan
pakar      dan     praktisi     pendidikan          dengan model otonomi. Kebijakan
mengkritisi      pemerintah,      dianggap          otonomi       di     bidang      pendidikan
tidak memiliki komitmen yang kuat                   (otonomi       pendidikan)            kemudian
untuk membenahi sistem pendidikan                   banyak       membawa        harapan       akan
nasional‖.(Suyanto,2006).           Artinya,        perbaikan sistem pendidikan kita.
kebijakan-kebijakan pendidikan kita,                Kebijakan      tersebut       masih     sangat
kurang menggambarkan rumusan-                       baru, maka sudah barang tertentu
rumusan          permasalahan            dan        banyak kendala yang masih belum
―prioritas‖ yang ingin dicapai dalam                terselesaikan.
jangka     waktu    tertentu.     Hal    ini,              Otonomi yang didasarkan pada
―terutama berkaitan dengan anggaran                 UU     No.    22     tahun      1999,     yaitu
pendidikan nasional yang semestinya                 memutuskan suatu keputusan dan
sebesar minimal 20%, daimbil dari                   atau     kebijakan      secara         mandiri.
APBN dan APBD (pasal 31 ayat 4                      Otonomi sangat erat kaitanya dengan
UUD Amandemen keempat). Tetapi,                     desentralisasi.      Dengan      dasar      ini,
sampai sekarang kebijakan strategi                  maka otonomi           yang     ideal     dapat
belum dapat diwujudkan sepenuhnya,                  tumbuh        dalam        suasana       bebas,
pendidikan          nasional         masih          demokratis,        rasional     dan      sudah


                                                9
barang tentu dalam kalangan insan-                        kualitas lembaga pendidikan yang
insan yang ―berkualitas‖. Oleh karena                     dikembangkan oleh berbagai pihak
itu, rekonstruksi dan reformasi dalam                     secara efektif dan efisien terutama
Sistem      Pendidikan         Nasional      dan          dalam pengembangan iptek, seni dan
Regional, yang tertuang dalam GBHN                        budaya      sehingga       membangkitkan
1999, juga telah dirumuskan misi                          semangat yang pro-aktif, kreatif, dan
pendidikan nasional             kita,       yaitu         selalu     reaktif        dalam      seluruh
mewujudkan        sistem           dan      iklim         komponen bangsa. (Soedjiarto, 1999).
pendidikan nasional yang demokratis                            Beberapa kalangan pakar dan
dan bermutu, guna memperteguh                             praktisi    pendidikan,          mencermati
akhlak      mulia,         kreatif,      inovatif,        kebijakan otonomi pendidikan sering
berwawasan        kebangsaan,             cerdas,         dipahami sebagai indikasi kearah
sehat, berdisiplin, bertanggung jawab,                    ―liberalisasi‖ atau lebih parah lagi
berketerampilan            serta      menguasai           dikatakan sebagai indikasi kearah
iptek dalam rangka mengembangkan                          ―komersialisasi pendidikan‖. Hal ini,
kualitas       manusia                Indonesia.          menurut Suyanto, semakin dikuatkan
(Soedjiarto,1999).                                        dengan terbentuknya Badan Hukum
     Untuk        mewujudkan                 misi         Pendidikan (BHP) yang oleh beberapa
tersebut     mesti         diterapkan        arah         pengamat           dianggap          sebagai
kebijakan sebagai berikut, yaitu : (1)                    pengejawantahan dari sistem yang
perluasan         dan              pemerataan             mengarah           pada          ―liberalisasi
pendidikan,          (2)       meningkatkan               pendidikan‖ (Suyanto, 2006).
kemampuan              akademik              dan               Persoalan        sekarang,      apakah
profesionalitas      serta      kesejahteraan             sistem pendidikan yang ada saat ini
tenaga kependidikan, (3) melakukan                        telah efektif untuk mendidik bangsa
pembaharuan                dalam          sistem          Indonesia     menjadi       bangsa      yang
pendidikan nasional termasuk dalam                        modern, memiliki kemampuan daya
bidang            kurikulum,                  (4)         saing yang tinggi di tengah-tengah
memberdayakan lembaga pendidikan                          bangsa     lain?      Jawabannya        tentu
formal dan PLS secara luas, (5) dalam                     belum. Menurut Suyanto, berbicara
realisasi    pembaharuan              pendidikan          kemampuan,         kita   sebagai     bangsa
nasional mesti berdasarkan prinsip                        nampaknya belum sepenuhnya siap
desentralisasi, otonomi keilmuan, dan                     benar       menghadapi            tantangan
manajemen,           (6)       meningkatkan               persaingan           (Suyanto,        2006).


                                                     10
Sementara, disatu sisi,                    bidang         korban dari ketidakberesan sistem
pendidikan kita menjadi tumpuan                           pendidikan kita yang masing sedang
harapan bagi peningkatan kualitas                         merangka berbenah. Mungkin saja,
Sumber         Daya       Manusia          (SDM)          kita        sebagai      insan          yang
Indonesia. Tetapi disisi lain, sistem                     berpendidikan, tentu saja terus atau
pendidikan kita masih melahirkan                          banyakan berharap akan datangnya
mismatch terhadap tuntutan dunia                          perubahan ―fundamental‖ terhadap
kerja, baik secara nasional maupun                        sistem pendidikan (Suyanto, 2006) di
regional. (Suyanto, 2006).                                Indonesia.
       Berbagai problem fundamental
                                                          Posisi Indonesia dalam PUS
yang dihadapi pendidikan nasional
                                                                 Indonesia       merupakan         salah
saat    ini,     yang     tercermin        dalam
                                                          satu Negara yang menandatangani
―realitas‖ pendidikan yang kita jalan.
                                                          deklarasi      “Education        for      All.”
Seperti          persoalan               anggaran
                                                          Berkaitan dengan deklarasi ini dan
pendidikan,         kurikulum,            strategi
                                                          sekaligus      juga      sebagai        wujud
pembelajaran, dan persoalan output
                                                          keseriusan                         Indonesia
pendidikan kita yang masih sangat
                                                          mensukseskannya,        maka       Indonesia
rendah         kualitasnya.              Problem-
                                                          telah mencnangkan Wajib Belajar 9
problem pendidikan yang bersifat
                                                          Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahun
metodik          dan       strategik        yang
                                                          berikutnya, yaitu pada tahun 1994,
membuahkan output yang sangat
                                                          Indonesia      mencanangkan            Sekolah
memprihatinkan. Output, pendidikan
                                                          Dasar (7-12 tahun) dapat menikmati
kita memiliki mental yang selalu
                                                          layanan pendidikan Sekolah Dasar
tergantung kepada orang lain. Output
                                                          (SD). Artinya, anak-anak usia SD
pendidikan        kita     tidak         memiliki
                                                          dapat menyelesaikan pendidikan SD.
mental yang bersifat mandiri, karena
                                                          Demikian       juga     halnya         melalui
memang tidak kritis dan kreatif.
                                                          pencanangan Wajib Belajar 9 Tahun
Akhirnya,        output       yang        pernah
                                                          diharapkan anak-anak usia SMP (13-15
mengenyam           pendidikan,            malah
                                                          Tahun)         dapat        menyelesaikan
menjadi ―pengangguran terselubung‖.
                                                          penddikan SMP.
Ini     artinya,         setiap      tahunnya,
                                                                 Jalal    dan     Supriadi        (2001)
pendidikan               nasional            kita
                                                          mengemukakan           meskipun        strategi
memproduksi                   pengangguran
                                                          perluasan         dan          pemerataan
terselubung.       Mereka         itu,     adalah


                                                     11
kesempatan       pendidikan          terfokus            beruntng,        termasuk           kaum
kepada       program       wajib       belajar           perempuan;
pendidikan dasar        sembilan tahun,               3. Mengembangkan                     layanan
jenis dan jenjang pendidikan lainnya                     pendidikan        alternatif        tanpa
yang     tercakup.     Indikator-indikator               mengorbankan mutu program;
keberhasilannya adalah: (a) mayoritas                 4. Menetapkan standar kompetensi
penduduk       berpendidikan         minimal             minimal keluaran pendidikan;
SMP      dan    partisipasi      pendidikan           5. Melanjutkan       program         PMTAS
meningkat yang ditunjukkan dengan                        secara terseleksi dan terkendali
APK-SD 15%, APK SMP mencapai                             bagi          yang         benar-benar
80%, APK SLTA mencapai 47%, dan                          memerlukan;
APK PT sebesar 12% dengan perluasan                   6. Melanjutkan      program         beasiswa
terkendali      untuk         bidang-bidang              bagi kalangan anak-anak miskin;
unggulan       dan        teknologi,       (b)        7. Meningkatkan                     anggaran
meningkatnya         budaya     belajar     di           pemerintah       untuk      pendidikan
kalangan         masyarakat               yang           secara bertahap dan terencana; dan
ditunjukkan      antara       lain    dengan          8. Meningkatkan partisipasi keluarga
meningkatnya          peserta        program             dan masyarakat dalam membiayai
pendidikan      berkelanjutan          seperti           pendidikan.
kursus-kursus, program pendidikan                            Sebagai      wujud         komitmen
masyarakat, meningkatnya penduduk                     pemerintah       terhadap      pentingnya
melek huruf hingga mencapai 88%                       program Pendidikan Untuk Semua
pada tahun 2005; (c) meningkatnya                     (Education for All/EFA), Kementerian
proporsi penduduk kurang beruntung                    Pendidikan       Nasional       menggelar
yang       memperoleh           kesempatan            sejumlah kegiatan melalui Pekan Aksi
pendidikan.                                           Global Pendidikan Untuk Semua 2010.
       Kebijakan program yang harus                   Tema      aksi    tahun       ini     adalah
dilakukan adalah:                                     ―Pembiayaan       Pendidikan        Bermutu
1. Memperluas                   kesempatan            Hak untuk Semua‖. Aksi ini yang
   pendidikan dengan prioritas pada                   dipusatkan di tiga kota, yaitu di
   pendidikan dasar;                                  Jakarta, Bandung, dan Makasar pada
2. Meningkatkan layanan pendidikan                    19-25 April 2010.
   kepada      kelompok       yang     kurang                Menurut          Ela    Yulaciawati
                                                      (2010),   aspek     pembiayaan        dalam


                                                 12
program Pendidikan untuk Semua                          mereka bisa mandiri dan sehat di usia
cukup        problematik.           Sejumlah            senja, maka biaya hidup me-reka akan
pertanyaan muncul menyangkut aspek                      bisa lebih ditekan. Jadi arahnya untuk
pembiaya-annya, terutama mengenai                       efisiensi bagi Negara.
standar biaya pendidikan bermutu                                  Dalam waktu yang bersamaan
untuk semua orang. Berapa biaya                         juga        diselenggarakan         kegiatan
untuk pendidikan anak-anak yang                         workshop layanan pendidikan bagi
terpinggirkan (marjinal). Kemudian,                     anak-anak        terpinggirkan,          yaitu
apakah      pembiayaan            itu      akan         keluarga korban eksploitasi seksual
bermanfaat       atau     malah     mubazir?            anak (ESA), anak perempuan jalanan,
Untuk     mendidik        anak-anak        yang         dan anak dari para pekerja rumah
marjinal,    pemerintah       tidak       cukup         tangga.     Seluruh      rangkaian       acara
hanya            memikirkan               aspek         tersebut     merupakan         bagian     dari
pendidikannya saja, melainkan juga                      kampanye tahunan dunia yang dise-
memikirkan aspek kebutuhan dasar                        lenggarakan          Kampanye           Global
mereka.                                                 Campaign       for     Education,     sebuah
         Dikemukakan lebih lanjut oleh                  koalisi      internasional         organisasi
Ela (2010)        tidak semua program                   nonpemerintah             dan           serikat
pendidikan       yang      diberikan       bagi         guru.(http://bataviase.co.id,        diakses
kelompok            marjinal              dapat         tanggal 16 September 2010).
menghasilkan       produk         pendidikan
                                                        Identifikasi           Kendala-kendala
seperti yang diharapkan. Kegiatan lain
                                                        Implementasi Progeram PUS
dari     pecan     aksiglobal           program
                                                                  Dalam implementasi PUS di
Pendidikan       untuk     Semua         adalah
                                                        Indonesia      tidak     berjalan       mulus,
workshop layanan pendidikan bagi
                                                        banyak      kendala     yang    ditemui     di
para orang lanjut usia. Masih menurut
                                                        lapangan. Dari sisi structural birokrasi
Ela    (2010)     orang     berusia       lanjut
                                                        di Kementerian Pendidikan Nasional
umumnya tidak bisia mandiri, oleh
                                                        (2007)        masih       dirasa         perlu
karena itu perlu ada materi pendidikan
                                                        dioptimalkan      masalah       peningkatan
kecakapan       hidup.     Pendidikan        ini
                                                        kinerja,      peningkatan        kerjasama,
bertujuan       mempersiapkan            orang-
                                                        koordinasi dan komunikasi dengan
orang menjelang usia lanjut agar bisa
                                                        berbagai instansi         dan unit kerja
hidup mandiri dan sehat pada saat
                                                        terkait, baik di pusat maupun di
mereka telah berusia lanjut. Jika


                                                   13
daerah. Disamping itu masalah lainnya                      mengatasi permasalahan ini Dinas
adalah menyesuaikan jadwal sesuai                          Pendidikan           berupaya            untuk
target,         memberdayakan                  dan         mengembangkan berbagai kebijakan
mengoptimalkan tenaga yang tersedia                        terkait dengan implementasi Program
melalui      pembentukan             tim     kerja         Wajib Belajar Sembilan tahun. Namun
sebagai wujud koordinasi fungsional,                       hal inipun ternyata tidak membawa
dan       mengoptimakan           sarana       dan         perubahan        yang    signifikan,     sebab
fasilitas yang ada.                                        dalam pelaksanaannya masih terdapat
          Temuan          lainnya,           dapat         berbagai         penyimpangan.         Adapun
diidentifikasi dari riset yang dilakukan                   faktor       pendukungnya               adalah:
oleh        Choiri        (2006)            dalam          tersusunnya kurikulum dengan baik,
penelitiannya             yang           berjudul          koordinasi yang baik diantara pihak-
‗Akuntabilitas            Kinerja            Dinas         pihak yang terlibat, serta partisipasi
Pendidikan Kabupaten Malang (Studi                         masyarakat. Sedangkan faktor-faktor
Kasus           tentang           Akuntabilitas            yang       menghambat            diantaranya:
Adminitrasi Pelaksana Program Wajib                        kapasitas        dan kemampuan tenaga
Belajar Pendidikan Dasar Sembilan                          pelaksana rendah, kemampuan dan
Tahun      di    Kecamatan          Bululawang             motivasi tenaga pelaksana rendah,
Kabupaten         Malang).         Berdasarkan             dukungan dana operasional rendah,
penelitiannya,            Choiri           (2006)          respon      orang       tua     yang     belum
memaparkan           hasil       penelitiannya             maksimal, sikap moral masyarakat
sebagai     berikut:        alasan       perlunya          serta lingkungan sosial yang tidak
dilakukan akuntabilitas administrasi                       sehat.
oleh Dinas Pendidikan adalah untuk                                  Hasil       analisis          terhadap
mempertanggungjawabkan                       suatu         Pelaksanaan                     Akuntabilitas
program/kebijakan             baik          proses         Administrasi adalah sebagai berikut:
maupun          hasilnya,        serta      untuk          dalam pelaksanaan program wajib
memenuhi standar criteria yang sudah                       belajar Sembilan tahun di kabupaten
ditetapkan oleh pemerintah. Namun                          Malang      terlihat      bahwa        instansi
dalam pelaksanaan program wajib                            (sekolah-sekolah) tidak melaksanakan
belajar sembilan tahun di kabupaten                        akuntabilitas administrasinya. Hal ini
Malang       terlihat       bahwa          instansi        terlihat misalnya tidak ada laporan
(sekolah-sekolah) tidak melaksanakan                       pemberian          beasiswa        diberikan.
akuntabilitas administrasinya. Untuk                       Sekolah-sekolah tidak merasa perlu


                                                      14
memberikan laporan kepada instansi                      global menjadi sala satu hambatan
diatasnya     yakni     Dinas     Pendidikan            besar pencapaian target tersebut. Hal
Kabupaten Malang. Mereka justru                         ini terungkap dalam pembukaan 1st
hampir semua membuat kebijakan                          General Assembly Forum of Asia
sendiri    terkait    dengan      penyaluran            Pasific           Parliamentarians          for
dana      beasiswa      yang    tidak     sesuai        Education         (FASPED)      atau      Forum
dengan pedoman yang diberikan oleh                      Parlemen          untuk     Pendidikan     Asia
Dinas      Pendidiikan.         Dilihat     dari        Pasifik, Selasa (6 Juli 2010). Sidang
perspektif empat jenis Akuntabilitas,                   pertama yang diikuti oleh 26 parlemen
belum satupun jenis akuntabilitas yang                  dan      dua      parlemen     diwakili    oleh
dapat dipenuhi sesuai standar oleh                      perwakilannya         di    Jakarta.      Dalam
Dinas Pendidikan Kabupaten Malang,                      sambutannya,           Presiden        FASPED
sehingga hal ini perlu mendapatkan                      Marzuki        Alie    mengatakan,        krisis
perhatian dari berbagai pihak yang                      keuangan           global      pada        2008
terlibat. Sedangkan faktor pendukung                    merupakan rintangan terbesar untuk
maupun penghambat lebih merupakan                       pencapaian tujuan Education for All
faktor-faktor        yang        memberikan             (EFA).
penekanan. Semuanya justru berada di                              Dampak krisis finansial global
tangan           pada           penyelenggara           telah mengancam akses pendidikan
akuntabilitas        sendiri,      bagaimana            bagi jutaan anak di seluruh dunia. Saat
mereka-mereka bisa mengelola potensi                    ini sekitar 72 juta anak usia sekolah
maupun tantangan yang dihadapinya.                      dasar belum mendapatkan pendidikan
         Sementara itu, diprediksikan                   dasar.         Kombinasi          kemiskinan,
pendidikan untuk semua (PUS) yang                       lambatnya         pembangunan         ekonomi,
telah dicanangkan oleh pemerintah                       dan      krisis    finansial    global     akan
(Kementerian Pendidikan Nasional).                      menggerogoti          pencapaian       Negara-
Sebagaimana diekspos dalam harian                       negara pada dekade sebelumnya. Hal
Kompas, Rabu, 7 Juli 2010 bahwa                         tersebut berarti turut mengganggu
target     Pendidikan         Untuk       Semua         target            pencapaian             Tujuan
ataupun Education for All, terutama                     Pembangunan Milineum nomor dua,
pendidikan            dasar         universal,          yang indikatornya antara lain angka
dikhawatirkan tidak tercapai pada                       partisipasi dasar angka melek huruf
tahun     2015    saat      tenggat       Tujuan        umur 15-25 tahun.
Pendidikan Milenium. Krisis ekonomi


                                                   15
Ancaman tentang melesetnya                 tidak     bersekolah.          Tahun       2007,
pencapaian target terutama terjadi di              jumlahnya meningkat menjadi 9 juta
Negara berkembang yang sebagian                    anak. Sementara sejumlah Negara,
besar     di    kawasan   Asia     Pasifik.        terutama India, mencapai kemajuan
Menurut Education for All Global                   sangat baik. ―Waktu yang tersisa
Monitoring Report 2010, target EFA                 tinggal lima tahun lagi,― katanya.
tercancam gagal tercapai di Negara                         Wakil       Menteri          Pendidikan
berkembang. Resesi ekonomi yang                    Nasional      Fasli      Jalal      mengatakan,
terjadi pada tahun 2008 diperkirakan               Indonesia        masih           dalam      jalur
telah menjerumuskan sekitar 90 juta                pencapaian target EFA. Di tengah
orang ke dalam kemiskinan ekstrem.                 krisis ekonomi dunia, Indonesia tetap
Saat ini sebagian Negara yang terkena              memprioritaskan                        anggaran
dampak sangat besar masih dalam                    pendidikan,        bantuan           operasional
proses pemulihan dari tingginya harga              sekolah guna mengurangi hambatan
pangan yang telah mengakibatkan 175                biaya anak ke sekolah, buku pelajaran
juta kasus malnutrisi tahun 2007 dan               online,         program              pendidikan
2008. Pendidikan juga tidak kebal dari             kesetaraan,           dan           peningkatan
pengaruh-pengaruh tersebut karena                  kualifikasi      guru.        Ini    merupakan
hal-hal        itu   kemudian      rentan          beberapa upaya pemerintah yang terus
dikebelakangan.                                    dilakukan. Sementara itu anggaran
        Kekhawatiran      serupa      juga         untuk fungsi pendidikan dalam APBN
diungkapkan Director of UNESCO                     tahun 2010 telah mencapai sekitar Rp
Bangkok Office, Regional Bureau for                209,5 triliun.
Education in The Asia Pasific, Gwang-                      Marzuki Alie mengatakan, perlu
Jo Kim. ―Kita tetap belum on the track             peran aktif anggota parlemen untuk
(dalam jalur) untuk memenuhi target                ikut aktif dalam proses pembangunan
EFA pada tahun 2015. Akan nada 56                  pendidikan.       Di        tengah       sulitnya
juta anak di luar sekolah jika kita tidak          ekonomi dunia dan berbagai tekanan,
melipatgandakan upaya kita, yang                   pemerintah            telah         menghadapi
sebagiannya di wilayah Asia Pasifik.‖              berbagai pilihan kebijakan yang sulit.
Ujarnya. Dia mencontohkan, pada                    Parlemen        berkewajiban           meminta
tahun 1999 kawasan Asia Timur dan                  pemerintah mengalokasikan dana yang
Pasifik merupakan tempat tinggal 6                 cukup       untuk         pendidikan         dan
juta anak usia pendidikan dasar yang               memonitor             pemerintah          dalam


                                              16
mengimplementasikan                      tujuan         Meskipun demikian, negeri ini masih
pembangunan                             nasional        menghadapi masalah pendidikan yang
pendidikan.(KOMPAS, Rabu, 7 Juli                        berkaitan dengan sistem yang tidak
2010).                                                  efisien dan kualitas yang rendah.
                                                        Terbukti, misalnya, anak yang putus
Kontribusi   Pemerintah     cq
                                                        sekolah diperkirakan masih ada dua
Kementerian        Pendidikan
Nasional   Indonesia    dalam                           juta anak. Indonesia tetap belum
Program PUS
                                                        berhasil memberikan jaminan hak atas
         Dalam     upayanya           mencapai          pendidikan bagi semua anak. Apalagi,
tujuan ―Pendidikan untuk Semua‖                         masih banyak masalah yang harus
pada 2015, peme-rintah Indonesia saat                   dihadapi, seperti misalnya kualifikasi
ini menekankan pelaksanaan program                      guru, metode pengajaran yang efektif,
wajib belajar sembilan tahun bagi                       manajemen sekolah dan keterlibatan
seluruh anak Indonesia usia 6 sampai                    masyarakat. Sebagian besar anak usia
15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dan                     3 sampai 6 tahun kurang mendapat
UNESCO member dukungan teknis                           akses aktifitas pengembangan dan
dan dana.                                               pembelajaran usia dini terutama anak-
         Bersama    dengan        pemerintah            anak yang tinggal di pedalaman dan
daerah, masyarakat dan anak-anak di                     pedesaan. Anak-anak Indonesia yang
delapan      propinsi       di      Indonesia,          berada     di     daerah      tertinggal      dan
UNICEF           mendukung              program         terkena konflik sering harus belajar di
Menciptakan         Masyarakat           Peduli         bangunan sekolah yang rusak karena
Pendidikan Anak (CLCC). Proyek ini                      alokasi    anggaran        dari      pemerintah
berkembang pesat dari 1.326 sekolah                     daerah dan pusat yang tidak memadai.
pada tahun 2004 menjadi 1.496 pada                      Metode pengajaran masih berorientasi
tahun 2005. Kondisi ini membantu                        pada guru dan anak tidak diberi
45.454      guru     dan         menciptakan            kesempatan           memahami             sendiri.
lingkungan        belajar        yang      lebih        Metode      ini      masih        mendominasi
menantang bagi sekitar 275.078 siswa.                   sekolah-sekolah              di       Indonesia.
         Dalam     20       tahun       terakhir        Ditambah          lagi,      anak-anak        dari
Indonesia telah mengalami kemajuan                      golongan        ekonomi           lemah      tidak
di bidang pendidikan dasar. Terbukti                    termotivasi           dari          pengalaman
rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang                  belajarnya di sekolah. Apalagi biaya
bersekolah       mencapai        94      persen.        pendidikan          sudah          relatif    tak


                                                   17
terjangkau      bagi      mereka.(UNICEF,               -   Biaya pendidikan yang tinggi.
2010).                                                            Untuk    mencapai      Pendidikan
         Indonesia       telah     mengalami            Untuk Semua, pemerintah Indonesia
kemajuan di bidang pendidikan dasar                     dibantu oleh UNICEF dan UNESCO
dalam 20 tahun terakhir ini. Terbukti                   melakukan kegiatan-kegiatan antara
rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang                  lain :
bersekolah mencapai 94 persen. Tetapi                   1. Sistem         Informasi      Pendidikan
Indonesia      tetap      belum         berhasil            Berbasis Masyarakat
memberikan         jaminan         hak     atas             UNICEF         mendukung       langkah-
pendidikan bagi semua anak. Apalagi,                        langkah       pemerintah      Indonesia
masih banyak masalah yang harus                             untuk         meningkatkan        akses
dihadapi, masalah tersebut antara lain                      pendidikan dasar melalui Sistem
:                                                           Informasi       Pendidikan     Berbasis
-   Anak putus sekolah diperkirakan                         Masyarakat. Dengan system ini
    masih ada dua juta anak.                                memungkinkan               penelusuran
-   Kualifikasi        guru      yang    masih              semua anak usia dibawah 18 tahun
    kurang.                                                 yang tidak bersekolah.
-   Metode      pengajaran        yang    tidak         2. Program Wajib Belajar 9 Tahun
    efektif. Yaitu masih beroientasi                        Dalam     upaya     mencapai     tujuan
    kepada guru dan anak didik tidak                        ―Pendidikan untuk Semua‖ pada
    diberi     kesempatan          memahami                 2015, pemerintah Indonesia saat
    sendiri.                                                ini     menekankan         pelaksanaan
-   Manajemen sekolah yang buruk.                           program wajib belajar Sembilan
-   Kurangnya                     keterlibatan              tahun bagi seluruh anak Indonesia
    masyarakat.                                             usia 6 sampai 15 tahun. Dalam hal
-   Kurangnya akses pengembangan                            ini, UNICEF dan UNESCO member
    dan pembelajaran usia dini bagi                         dukungan teknis dan dana.
    sebagian besar anak usia 3 sampai                   3. Program Menciptakan Masyarakat
    6 tahun terutama anak-anak yang                         Peduli Pendidikan Anak (CLCC)
    tinggal       di     pedalaman          dan             Bersama        dengan      pemerintah
    pedesaan.                                               daerah, masyarakat dan anak-anak
-   Alokasi anggaran dari pemerintah                        di delapan propinsi di Indonesia,
    daerah     dan      pusat     yang    tidak             UNICEF         mendukung       program
    memadai.                                                Menciptakan       Masyarakat     Peduli


                                                   18
Pendidikan Anak (CLCC). Proyek                      Simpulan dan Saran
   ini berkembang pesat dari 1.326                     Simpulan
   sekolah pada 2004 menjadi 1.496                              Berdasar pemaparan tersebut di
   pada 2005. Kondisi ini membantu                     atas,    maka      dapatlah       disimpulkan
   45.454     guru     dan     menciptakan             sebagai berikut: (1)             hakekat dari
   lingkungan    belajar        yang      lebih        ―Pendidikan untuk Semua dan Semua
   menantang bagi sekitar 275.078                      untuk           Pendidikan‖              adalah
   siswa.                                              mengupayakan             agar   setiap   warga
      Di samping itu, yang tidak kalah                 Negara dapat memenuhi haknya, yaitu
pentingnya     adalah    peran         Kepala          setidak-tidaknya untuk mendapatkan
Sekolah dan Pengawas Sekolah dalam                     layanan      pendidikan         dasar    (Wajib
menyukseskan program PUS yang                          Belajar 9 Tahun); (2) masalah yang
dicanangkan     pemerintah.         Hal     ini        harus dihadapi dalam program PUS,
sebagaimana      dikemukakan              oleh         antara lain: (a) anak putus sekolah
Direktur Jenderal Peningkatan Mutu                     diperkirakan masih ada dua juta anak,
Pendidik dan tenaga Kependidikan,                      (b)     kualifikasi      guru    yang    masih
Kementerian     Pendidikan          Nasional           kurang, (c) metode pengajaran yang
(Dirjen      PMPTK           Kemendiknas)              tidak efektif itu masih beroientasi
Baedhowi yang mengatakan bahwa                         kepada guru dan anak didik tidak
peran Kepala Sekolah dan Pengawas                      diberi kesempatan memahami sendiri,
Sekolah juga sangat penting guna                       (d) manajemen sekolah yang buruk,
meningkatkan kualitas dan pelayanan                    (e)         kurangnya             keterlibatan
pendidikan      saat         ini.    Apabila           masyarakat,        (f)     kurangnya      akses
kompetensi Kepala Sekolah baik, maka                   pengembangan dan pembelajaran usia
hubungan yang signifikan terhadap                      dini bagi sebagian besar anak usia 3
peningkatan     mutu     pendidikan          di        sampai 6 tahun terutama anak-anak
sekolah. Apabila Kepala Sekolahnya                     yang     tinggal      di    pedalaman      dan
baik dan memiliki kompetensi bagus,                    pedesaan, (g) alokasi anggaran dari
maka kepala sekolah itu diyakini bisa                  pemerintah daerah dan pusat yang
melakukan       pengelolaan            sekolah         tidak     memadai,         dan     (h)    biaya
dengan                                    baik         pendidikan yang tinggi; (3) untuk
pula.(http://bataviase.co.id,          diakses         mencapai Pendidikan Untuk Semua,
tanggal 16 September 2010).                            pemerintah Indonesia dibantu oleh
                                                       UNICEF dan UNESCO melakukan


                                                  19
kegiatan-kegiatan      antara        lain:    (a)        saran-saran sebagai berikut:
                                                         (1) dari sisi struktural
Sistem Informasi Pendidikan Berbasis
                                                         birokrasi di Kementerian
Masyarakat, (b) Program Wajib Belajar                    Pendidikan Nasional masih
                                                         dirasa perlu dioptimalkan
9    Tahun,      dan      (c)         Program
                                                         masalah peningkatan
Menciptakan          Masyarakat         Peduli           kinerja, peningkatan
                                                         kerjasama, koordinasi dan
Pendidikan Anak (CLCC); (4) dalam
                                                         komunikasi dengan berbagai
20 tahun terakhir Indonesia telah                        instansi dan unit kerja
                                                         terkait, baik di pusat
mengalami      kemajuan         di      bidang
                                                         maupun di daerah, (2) untuk
pendidikan dasar, terbukti rasio bersih                  dapat mewujudkan program
                                                         PUS, semua komponen
anak usia 7-12 tahun yang bersekolah
                                                         bangsa, baik pemerintah,
mencapai 94 persen; (5) pembangunan                      swasta, lembaga-lembaga
                                                         sosial kemasyarakatan,
pendidikan di Indonesia sekurang-
                                                         maupun warga Negara
kurangnya      menggunakan              empat            secara individual, secara
                                                         bersama-sama atau sendiri-
strategi    dasar,     yakni;        pertama,
                                                         sendiri, berkomitmen untuk
pemerataan       kesempatan              untuk           berpartisipasi aktif dalam
                                                         menyukseskan “Pendidikan
memperoleh       pendidikan,            kedua,
                                                         untuk Semua dan Semua
relevansi      pendidikan,              ketiga,          untuk Pendidikan” sesuai
                                                         dengan potensi dan
peningkatan kualiutas pendidikan, dan
                                                         kapasitas masing-masing;
keempat, efesiensi pendidikan, (6)                       (3) pembangunan
                                                         pendidikan makin disadari
Indonesia     tetap     belum          berhasil
                                                         sebagai sektor yang strategis
memberikan       jaminan        hak          atas        untuk menunjang
                                                         pembangunan sektor secara
pendidikan bagi semua anak; apalagi,
                                                         keseluruhan, oleh karena itu
masih banyak masalah yang harus                          pembangunan pendidikan
                                                         harus sensitif dan tanggap
dihadapi, seperti misalnya kualifikasi
                                                         terhadap dinamika
guru, metode pengajaran yang efektif,                    pembangunan sektor-sektor
                                                         lainnya; (4) perlu peran
manajemen sekolah dan keterlibatan
                                                         aktif anggota parlemen
masyarakat, dan (7) peran Kepala                         untuk ikut aktif dalam
                                                         proses pembangunan
Sekolah dan Pengawas Sekolah sangat
                                                         pendidikan, parlemen
penting guna meningkatkan kualitas                       berkewajiban meminta
                                                         pemerintah mengalokasikan
dan pelayanan pendidikan.
                                                         dana yang cukup untuk
                                                         pendidikan dan memonitor
Saran                                                    pemerintah dalam
                                                         mengimplementasikan
     Berdasarkan butir-butir
                                                         tujuan pembangunan
     simpulan di atas, maka
                                                         nasional pendidikan, dan (5)
     dapatlah dikemukakan
                                                         pemerintah (Negara) harus


                                                    20
menyiapkan seluruh sarana
dan prasarana dalam rangka
menuntaskan pendidikan
Sembilan tahun.




                             21
22

Buku e jurnal vol 1

  • 1.
    ISSN 2089-4554 Diterbitkan Oleh : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik e- JURNAL Vol. 1 No. I Hlm. Gresik ISSN PENDIDIKAN 1-66 Juni - Nopember
  • 2.
    e- JURNAL JENDELAPENDIDIKAN JURNAL ILMIAH KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN Di Terbitkan oleh : Ketua Penyuting Rektor Universitas Gresik Wakil Penyuting Dekan FKIP Penyuting Pelaksana Dra. Eka Sri Rahayu, M.Pd Dra. Adrijanti, M.Pd Etiyasningsih, S.Pd., M.Pd Sri Sundari, S.Pd.,M.Pd Drs. Agus Tri Sulaksono, M.Pd Penyuting Ahli Prof. Dr. H. Sukiyat.SH.,M.Si Dra. Hj. Bariroh, M.Pd Drs. Syaiful Khafid, M.Pd Mitra Bestari Prof. Dr. Marhamah, M.Pd (Universitas Islam Jakarta) Prof. Dr. Willem Mantja, M.Pd (Universitas Negeri Malang) Prof. Dr. H. Sukiyat, SH.,M.Si (Universitas Gresik ) Pelaksana Ahmad Faizin, SS Alamat Penerbit/Redaksi Kampus Universitas Gresik Jl. Arif Rahman Hakim No. 2B Gresik Telp /Fax (031) 3978628 Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Nopember . Berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian dan kajian analitis-kritis di bidang administrasi pendidikan KATA PENGANTAR
  • 3.
    Puji syukur kamipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah, sehingga Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik bisa hadir di kalangan pendidikan. Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik ( e-Journal) akan mendampingi Jurnal Jendela Pendidikan versi cetak yang lebih dulu hadir, Jurnal Jendela Pendidikan ini berisi tentang sejumlah artikel penelitian baik artikel bersifat empiris atau laporan penelitian maupun artikel yang bersifat kajian teori atau artikel konseptual. Penulis artikel berasal dari kalangan akademisi atau dosen di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Gresik yang akan dipublish pada para pemangku pendidikan dan masyarakat luas khususnya para pemerhati pendidikan. Hal ini sesuai dengan misi utama keberadaan e-Journal Pendidikan sebagai media komunikasi dan informasi yang bersifat ilmiah. Kami berharap partisipasi berbagai kalangan baik akademisi, praktisi, maupun birokrasi untuk menulis dalam jurnal ini, sehingga berbagai temuan, pemikiran dan ide serta gagasan dapat terkomunikasi dalam jurnal ini semoga terbitan pertama Jurnal Jendela Pendidikan versi elektronik bermanfaat bagi kita semua. Gresik, Desember 2011 Tim Redaksi ISSN 2089-4554
  • 4.
    DAFTAR ARTIKEL SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI PEMBINAAN PROFESIONALISME GURU 1 - 09 Rochmanu Fauzi PENGARUH BIMBINGAN ORANG TUA TERHADAP PRESTASI SISWA PADA BIDANG STUDI BAHASA INDONESIA DI SDN BANGSAL SURABAYA 10 - 18 Etiyasningsih PENGARUH PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH DAN GAYA KOGNITIF TERHADAP PEMAHAMAN UNIFLYING GEOGRAPHY 19-29 Syaiful Khafid IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL FUTUHIYAH GENDONGKULON BABAT LAMONGAN 30-38 Sri Sundari PENDIDIKAN KARAKTER : WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA 39 - 59 Soesetijo PENGARUH DISIPLIN GURU TERHADAP PRESTASI SISWA DI SDN BANJARSARI GRESIK 60 - 78 Etiyasningsih STUDI TENTANG PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO SURABAYA 79 - 87 Sri Sundari TELAAH KRITIS PENDIDIKAN UNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL)DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN 88 - 106 Soesetijo
  • 5.
    e-Jurnal Vol. No. Hlm. Gresik ISSN JENDELA 01 01 1-106 Juni - 2089-4554 PENDIDIKAN Nopember
  • 6.
    Supervisi Pengajar ansebagai Pembinaan Profesio nalisme Guru Oleh Rochmanu Fauzi Abstrak supervisi pengajaran adalah untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan guru dalam melaksanakan tugas pokoknya sehari-hari yaitu mengajar. Ada tiga pendekatan dalam supervisi pengajaran, yaitu (1) pendekatan langsung, (2) pende - katan tidak langsung, dan (3) kolaboratif. Teknik-teknik supervisi pengajaran yang paling bermanfaat adalah kunjungan kelas, pembicaraan individual, Diskusi kelompok, demonstrasi mengajar, dan sebagainya. Para guru lebih menghargai supervisor yang hangat dan menghargai guru. Dalam praktiknya supervisi penga- jaran masih berorientasi pada aspek administratif saja. Berdasarkan uraian tersebut disarankan para supervisor perlu ada penyegaran secara rutin, dalam pelaksanaan supervisi pengajaran para supervisor sebaiknya menggunakan pendekatan supervisi klinis, perlu ada pertemuan seusai supervisi yang telah dilakukan oleh Kepala Sekolah atau Pengawas Sekolah, sebagai upaya untuk tindak lanjut setelah pelaksanaan supervisi dilaksanakan. Kata kunci: mutu pendidikan, supervisi pengajaran.
  • 8.
    Cara hidup suatubangsa sangal erat paradigma yang harus ditata secara kaitannya dengan tingkat terus menerus dan berkelanjutan. pendidikannya, Pendidikan bukan Menurut Mastuhu (2003) dalam hanya sekedar melestaiikan pengelolaan suatu unit pendidikan, kebudayaan dan meneruskan dari mutu dapat dilihat dari "masukan", generasi ke generasi. Akan tetapi juga "proses", dan "hasil". diharapkan akan dapat mengubah dan Permasalahan pendidikan yang mengembangkan pengetahuan. diidentifikasi (Depdikbud, 1983), sampai saat ini, formulasinya tetap Sementara itu, salah satu sama, yaitu masalah (1) masalah fenomena di bidang pendidikan yang kuantitatif, (2) masalah kualitatif, (3) banyak disoroti oleh para pemerhati, masalah relevansi, (4) masalah cendekiawan maupun masyarakat pada efisiensi, (5) masalah efektivitas, dan umumnya adalah masalah mutu (6) masalah khusus. pendidikan. Membahas masalah mutu Uraian secara singkat masalah- pendidikan, sebenarnya membahas masalah tersebut adalah sebagai masalah yang sangat kompleks. Oleh berikut ini. karena masalah mutu pendidikan selalu kait-mengkait dengan indikator- 1. Masalah Kuantitatif indikator lainnya. Salah satu Masalah kuantitatif adalah instrumen yang dianggap cukup efektif masalah yang timbul sebagai akibat untuk meningkatkan mutu pendidikan hubungan antara pertumbuhan sistem adalah dengan supervisi pengajaran pendidikan pada satu pihak dan oleh Kepala Sekolah maupun pertumbuhan penduduk Indonesia Pengawas. pada pihak lain. Untuk mengatasi Untuk itu perlu adanya masalah ini perlu adanya suatu sistem pergeseran dari paradigma lama pendidikan nasional yang menuju ke paradigma yang baru. memungkinkan setiap warga ncgara Paradigma baru manajemen Indonesia memperoleh pendidikan pendidikan tinggi, terdiri dari yang layak sebagai bekal dasar akreditasi, akuntabilitas, evaluasi, kehidupannya sebagai warga negara. otonomi dan mutu. Kelima paradigma Dalam rangka pemerataan pendidikan baru pendidikan tersebut saling ini, perlu dilaksanakan kewajiban terkait satu sama lain dan seyogyanya belajar dengan segala konsekuensinya ini dijadikan acuan dalam proses dalam bidang pembiayaan, ketenagaan, peningkatan mutu pendidikan. Oleh dan peralatan. karena itu, mutu sebagai salah satu
  • 9.
    2. Masalah kualitatif perencanaan dan pelaksanaan Masalah kualitatif adalah pembangunan nasional agar masalah bagaimana peningkatan pendidikan merupakan wahana kualitas sumber daya manusia penunjang yang efektif bagi proses Indonesia gara bangsa Indonesia dapat pembangunan dan ketahanan nasional. meinpertahankan eksistcnsinya. Dalam Masalah ini dengan sendirinya masalah ini tercakup pula masalah mempunyai kaitan pula dengan ketinggalan bangsa Indonesia dan masalah pokok di dalam pembangunan perkembangan modern. Ditinjau dari nasional, seperti masalah tata nilai, latar bclakang ini, masalah kualitas industri. pembangunan pertanian, pendidikan merupakan masalah yang perencanaan tenaga kerja, dan memprihatinkan dalam rangka pertumbuhan wilayah. kelangsungan hidup bangsa dan negara. Dalam sistem pendidikan ini 4. Masalah efisiensi sendiri, masalah kualitas menyangkut Masalah efisiensi pada hakikatnya adalah masalah banyak hal, antara lain kualitas pengelolaan pendidikan nasional. calon anak didik, guru dan tenaga Adanya keterbalasan dana dan daya kependidikan lainnya, prasarana, dan manusia sungguh-sungguh sarana. Penanganan aspek kualitatif ini memerlukan adanya sistem berhubungan erat dengan penanganan pengelolaan efisien dan terpadu. aspek kuantitatif sehingga perlu sekali Keterpaduan pengelolaan tidak hanya adanya keseimbangan yang dinamis tercermin di dalam hubungan antara dalam proses pengembangan negeri dan swasta, antara pendidikan pendidikan nasional, sehingga sekolah dan pendidikan luar sekolah, peningkatan kualitas tidak sampai antara departemen yang satu dan menghambat peningkatan kuantitas departemen yang lain, di dalam dan sebaliknya. lingkungan jajaran Departemen 3. Masalah relev ansi Pendidikan Nasional sendiri, tetapi Masalah relevansi adalah juga di antara semua unsur dan unit masalah yang timbul dari hubungan lersebut. antara sistem pendidikan dan 5. Masalah efektifitas pembangunan nasional serta antara Masalah efektifitas adalah kepentingan perorangan, keluarga, dan masalah yang menyangkut keampuhan masyarakat, baik dalam jangka pendek pelaksanaan pendidikan nasional. maupun dalam jangka panjang. Hal ini Dalam hubungan dengan permasalahan meminta adanya keterpaduan di dalam keseimbangan yang dinamis antara
  • 10.
    kualitas dan kuantitas,di samping bermutu. Selanjutnya, Mastuhu keterbalasan sumber dana dan tenaga, mengatakan bahwa mutu (quality) efektivitas proses pendidikan amat merupakan suatu istilah yang dinamis penting. Hal ini berkaitan dengan yang turus bergerak; jika bergerak kurikulum, termasuk aspek metodologi maju dikatakan mutunya bertambah dan evaluasi, serta masalah guru, baik, sebaliknya jika bergerak mundur pengawas, dan masukan instrumental dikatakan mutunya merosot. Mutu lainnya. dapat berarti superiority atau excellence yaitu melebihi standar 6. Masalah khusus umum yang berlaku. Sedangkan Di samping masalah-masalah sesuatu dikatakan bermutu jika umum yang telah dibicarakan di atas, terdapat kecocokan antara syarat- perlu dibicarakan pula beberapa syarat yang dimiliki oleh benda yang masalah khusus sebagai berikut. Guru dikehendaki dengan maksud dari orang sebagai pelaksana pendidikan faktor yang menghendakinya (Idrus, dkk., kunci di dalam pelaksanaan sistem 2002). pendidikan nasional. Masalah guru Dalam pengelolaan suatu unit menyangkut soal pengadaan di pendidikan, mutu dapat dilihat dari: lembaga-lembaga pendidikan guru, "masukan", "proses", dan "hasil". pembinaan sistem karir dan prestasi 'Masukan" meliputi: siswa. Tenaga kerja, pengangkatan, pemerataan dan pengajar, administrator, dana, sarana, penyebaran menurut wilayah dan prasarana, kurikulum, buku-buku bidang studi, pembinaan karir dan perpustakaan, laboratorium, dan alat- prestasi, status, dan kesejahteraan. alat pembelajaran, baik perangkat Masalah yang kompleks ini keras maupun perangkat lunak. menyangkut banyak lembaga dan unit "Proses" meliputi, pengelolaan serta koordinasi dan kerjasama antara lembaga, pengelolaan program studi, lembaga dan unit tersebut. pengelolaan program studi. Esensi dari permasalahan- pengelolaan kegiatan belajar- permasalahan pendidikan pada mengajar, interaksi akademik antara hakekatnya adalah bermuara pada satu civitas akademika, seminar dialog, istilah yaitu kualitas pendidikan atau penelitian, wisata ilmiah, evaluasi dan mutu pendidikan. Mastuhu (2003) akreditasi. Sedangkan "hasil": meliputi mengemukakan bahwa kata kunci lulusan. penerbitan-penerbitan, untuk menggambarkan Sistem temuan-temuan ilmiah, dan hasil-hasil Pendidikan Nasional yang bagaimana kinerja lainnya. yang diperlukan dalam abad-abad mendatang ialah pendidikan yang
  • 11.
    Ketiga unsur diatas (input, pendidikan tenaga kependidikan di proses, dan output) terus berproses perguruan tinggi dan pengambil atau berubah-ubah. Oleh karena itu, keputusan dituntut untuk membuka pengelola unit pendidikan atau sekolah wacana terhadap studi-studi perlu menetapkan patokan atau internasional. benchmark, yaitu standar target yang KONSEP DASAK SUPERVISI harus dicapai dalam suatu periode PENGAJARAIN DI SEKOLAH waktu tertentu dan terus berusaha Di antara masalah-masalah melampuinya. Seperti dikemukakan pendidikan yang sedang mendapat oleh Watson (dalam Taroeratjeka, pcrhatian pemerintuh salah salunya 2000) bahwa suatu upaya pencarian adalah puningkatan mutu pendidikan mutu secara terus-menerus demi (Benly, IW2). Dalam PROPENAS mendapatkan cara kerja yang lebih (2002) dijelaskan bahwa sampai baik agar mampu tampil bersaing dengan awal abad ke-21 pembangunan melampui standar umum. pendidikan masih menghadapi krisis Menurut Supriadi (2000) kita ekonomi berbagai bidang kcliidupan. tidak perlu dipusingkan oleh Walaupun sejak tahun 2000, ekonomi pertanyaan-pertanyaan mengenai Indonesia telah mulai tumbuh positif validitas metodologisnya atau berusaha (4,8 persen), akibat krisis dalam mencari excuse apabila ternyata ada kehidupan sosial, politik dan hasil-hasil studi yang tidak sesuai kepercayaan dikawatirkan masih akan dengan harapan kita. Sikap optimis memberi yang kurang menguntungkan perlu untuk dikembangkan bagi terutama bagi upaya peningkatan pendidikan di Indonesia, walaupun kualitas SDM. Program peningkatan hasil surveinya tidak menyenangkan mutu pendidikan di sekolah dasar sesuai dengan yang diharapkan. dapat dicapai manakala proses belajar langkah selanjutnya membuat visi ke mengajar dapat berlangsung dengan depan untuk meningkatkan kualitas baik. berdayaguna dan berhasil guna. manajemen pendidikan. Dalam mengkaji risalah mutu Suatu saran yang dikemukakan pendidikan, tidak dapat lepas dari oleh Supriadi dalam menghadapi penyelenggaraan sistem pendidikan. permasalahan rendahnya kualitas Dari berbagai faktor penyebab pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan, ditinjau memiliki visi global dan kehendak dari aspek manajemen pendidikan untuk bersaing secara internasional, dapat dikelompokkan ke dalam tiga maka insan pendidikan mulai para faktor, yaitu: (a) faktor instrumental pengajar dan peneliti di lembaga sistem pendidikan, (b) faktor sistem
  • 12.
    manajemen pendidikan, termasukdi mengemukakan tujuan supervisi yaitu dalamnya sistem pembinaan membantu guru dalam hal (1) profesional guru, dan (c) faktor membimbing pengalaman belajar substansi manajemen pendidikan sisvva, (2) menggunakan sumber- (Mantja, 1998). Untuk dapat sumber pengalaman belajar, (3) melaksanakan pembinaan terhadap menggunakan metode-metode yang guru agar lebih profesional, maka baru dan alat-alal pelajaran modern, instrumen yang sangat relevan dan (4) memenuhi kebutuhan belajar para tepat adalah dengan melalui supervisi siswa, (5) menilai proses pembelajaran pengajaran. Oleh karena supervisi dan hasil belajar siswa, (6) mcmbina pengajaran pada hakikatnya adalah reaksi mental atau moral kerja guru- untuk meningkatkan kemampuan dan guru dalam rangka pertumbuhan keterampilan guru dalam pribadi dan jabatan mereka, (7) melaksanakan tugas pokoknya sehari- melihat dengan jelas tujuan-tujuan hari yaitu mengajar para peserta didik pendidikan, dan (8) mengguaakan di kelas. waktu dan tenaga mereka dalam Dari berbagai kajian mengenai pembinaan sekolah. Tujuan supervisi rumusan definisi mengenai supervisi, ini pada akhirnya adalah ditujukan Mantja (1998) menuliskan formulasi untuk meningkatkan kualitas para tentang supervisi pengajaran adalah siswa. Hal ini sebagaimana semua usaha yang sifatnya membantu dikemukakan oleh Sergiovanni (1983) guru atau melayani guru agar ia dapat bahwa tujuan supervisi ialah (1) tujuan memperbaiki, mengembangkan, dan akhir adalah untuk mencapai bahkan meningkatkan pengajarannya, pertumbuhan dan perkembangan para serta dapat pula menyediakan kondisi siswa (yang bersifat total). Dengan belajar murid yang efek'if dan efisien demikian sekaligus akan dapat demi pertumbuhan jabatannya untuk memperbaiki masyarakat, (2) tujuan mencapai tujuan pendidikan dan kedua ialah membantu kepala sekolah meningkatkan mutu pendidikan. dalam menyesuaikan program Definisi yang dirumuskan oleh Mantja pendidikan dari waktu ke waktu secara ini sudah mewakili konsep supervisi kontinyu (dalam rangka menghadapi pengajaran. tantangan perubahan zaman), (3) Apabila dikaji dari tujuannya tujuan dekat ialah bekerjasama supervisi pada hakikatnya adalah mengembangkan proses belajar untuk membantu guru untuk mengajar yang tepat. Tujuan tersebut meningkatkan kualitas proses belajar ditambah dengan (4) tujuan perantara mengajarnya. Harsosandjojo (1999) ialah membina guru-guru agar dapat
  • 13.
    mendidik para siswadengan baik, atau GBHN. Sedangkan tujuan institusional menegakkan disiplin kerja secara dapat dilihat di dalam kurikulum yang manusiawi. memuat landasan, program dan Dalam kaitannya dengan tugas- pengembangan. tugas supervisor, secara lebih khusus Tujuan umum supervisi Nurtain (1989) membagi 10 (sepuluh) pendidikan, adalah membantu bidang tugas supervisor yang dirinci memperbaiki dan mengembangkan sebagai berikut ini. Tugas administrasi pendidikan. Administrasi I , pengembangan kurikulum. Tugas 2, yang dimaksud adalah meliputi baik pengorganisasian pengajaran. Tujuan administrasi sebagai substansi 3, pengadaan staf. Tugas 4, maupun administrasi sebagai proses. penyediaan fasilitas. Tugas 5, Administrasi sebagai substansi pcnycdiaan bahan-bahan. Tugas 6, meliputi hal-hal sebagai berikut: (1) penyusunan penataran pendidikan. administrasi kesiswaan, (2) Tugas 7, pemberian orientasi anggota- administrasi ketenagaan, (3) anggota staf. Tugas 8, berkaitan administrasi kurikulum, (4) dengan pelayanan murid khusus. administrasi keuangan, (5) Tugas 9, pengembangan hubungan administrasi sarana/prasarana, dan (6) masyarakat. Dan yang terakhir tugas administrasi hubungan masyarakat. 10, penilaian pengajaran. Sedangkan administrasi sebagai proses Mengkaji tugas-tugas supervisi meliputi hal-hal terkait dengan unsur- pengajaran tersebut di atas, dapat unsur manajemen, antara lain (1) ditelaah dari tujuan supervisi kegiatan perencanaan (planning), (2) pengajaran itu sendiri. Sesuai dengan kegiatan pengorganisasian fungsi pokok supervisi, yaitu (organizing), (3) kegiatan pengarahan memperbaiki dan mengembangkan (actuating) yang meliputi kegiatan situasi belajar mengajar dalam rangka pengarahan (directing) dan kegiatan mencapai tujuan pendidikan nasional, pengkoordinasian (coordinating), dan maka tujuan supervisi pendidikan (4) kegiatan pengawasan (controlling). mencakup tujuan dasar, tujuan umum Berdasarkan uraian tersebut di dan tujuan khusus. atas, dapat dikemukakan bahwa untuk Tujuan dasar supervisi meningkatkan kualitas belajar pendidikan, adalah membantu mengajar, guru adalah faktor sentral tercapainya tujuan pendidikan nasional yang perlu mendapatkan perhatian dan tujuan pendidikan institusional. secara optimal. Media untuk Tujuan pendidikan nasional secara meningkatkan profesionalisme guru rinci dan jelas dirumuskan dalam adalah melalui supervisi pengajaran.
  • 14.
    Supervisi pengajaran padahakikatnya suatu kegiatan pelajaran yang adalah ditujukan untuk meningkatkan disediakan untuk membantu para guru kualitas pembelajaran yang dilakukan menjalankan pekerjaan mereka dengan oleh guru di kelas, sehingga tujuan lebih baik. Peranan supervisor adalah akhirnya adalah kualitas hash belajar mendukung, membantu, dan membagi, siswa dapat ditingkatkan secara bukan menyuruh. Wiles (1982) optimal. selanjutnya mengatakan bahwa supervisi yang baik hendaknya SUPERVISI PENGAJARAN mengembangkan kepemimpinan di Dalam pemakaiannya secara dalam kelompok, membangun program umum supervisi diberi arti sama latihan dalam jabatan untuk dengan director, manager. Dalam meningkatkan keterampilan guru, dan bahasa umum ini ada kecenderungan membantu guru meningkatkan untuk membatasi pemakaian istilah kemampuannya dalam menilai hasil supervisor kepada orang-orang yang pekerjaannya. berada dalam kedudukan yang lebih bawah dalam hicrarkhi manajemen. SUPERVISI PENGAJARAN SEBAGAI Dalam sistem sekolah, PEMBINAAN PROFESIONAL GURU khususnya dalam sistem sckolah yang Memperhatikan penting dan ialah berkembang, situasinya agak lain. peranannya pendidikan dasar dan Dalam Good (1976) supervisi menengah yang demikian besar, maka didefinisikan sebagai segala usaha dari pendidikan dasar dan menengah harus para pejabat sekolah yang diangkat dipersiapkan dengan sebaik-baiknya. yang diarahkan kepada penyediaan Oleh karena itu, pembinaan terhadap kepemimpinan bagi para guru dan para guru di sekolah dasar merupakan tenaga kependidikan lain dalam suatu kebutuhan yang tidak dapat perbaikan pengajaran, melihat ditunda-tunda lagi. Pembinaan stimulasi pertumbuhan professional terhadap guru sekolah dasar, terutama dan perkembangan dari para guru, diarahkan pada pembinaan proses seleksi dan revisi tujuan-tujuan belajar mengajar. Pembinaan proses peudidikan, bahan pengajaran, dan belajar mengajar adalah usaha metoda-metoda mengajar, dan evaluasi memberi bantuan pada guru untuk pengajaran. memperluas pengetahuan, Wiles (1982) menjelaskan bahwa meningkatkan keterampilan mengajar supervisi sebagai bantuan dalam dan menumbuhkan sikap profesional, pengembangan situasi belajar- schingga guru menjadi lebih ahli dalam mengajar yang lebih baik; ia adalah mengelola KBM untuk membclajarkan
  • 15.
    anak didik dalamrangka mencapai mengelo la kelas sehingga tercipt a tujuan pembelajaran dan tujuan lingkungan belajar yang pendidikan di SD (Depdikbud, menyenangkan, dan (8) menyusun 1999/2000). dan mengelola catatan kemajuan Supervisi pendidikan di sekolah anak (record keeping) (Depdikbud, dasar lebih diarahkan untuk 1999/2000). meningkatkan kemampuan guru Menurut Mantja (1990) sekolah dasar dalam rangka supervisi atau pembinaan peningkatan kualitas proses belajar profesional adalah bantuan atau mengajar. Supervisi ini dapat layanan yang dib erikan kepada dilakukan oleh siapa saja, baik Kepala guru, agar ia belajar b agaimana Sekolah maupun Pengawas Sekolah mengembangkan kemampuannya yang bertugas sebagai supervisor untuk meningkatkan proses belajar - melalui pemberian bantuan yang mengajar di kelas. Supervisor at au bercorak pelayanan dan bimbingan pembina, yaitu Pengawas S ekolah, profesional, sehingga guru dapat Kepala Seko lah, atau semua pejaba t melaksanakan tugasnya dalam proses yang terlibat dalam layanan belajar mengajar dengan lebih baik supervisi, adalah pihak yang selama dari prestasi sebelumnya. ini dipandang berwewenang, dan Supervisi pendidikan di seko lah karena itu pula dianggap paling pada hakekatnya adalah dalam bertanggung jawab dalam kegiatan rangka pembinaan terh adap para supervisi. guru. Adapun sasaran Kilas balik kaji historis pembinaannya, ant ara lain (1) supervisi p engajaran, pada awalnya merencanakan kegiatan belajar istilah yang dimunculk an adalah mengajar s esuai dengan strategi supervisi pendidikan (Kurikulum belajar aktif, ( 2) mengelola 1975). Kemudian. p ada Kurikulum kegiatan belajar menga jar yang 1984 dan 1994 digunakan istilah menant ang dan menarik, (3) pembinaan profesio nal guiu at au menilai kemajuan anak belajar, (4) pembinaan guru untuk jenjang memberikan umpan balik yang sekolah dasar. Walaupun demikian bermakna, (5) memanfaatkan istilah sup ervisi pendidikan dalam lingkungan seb agai sumber dan Kurikulum SMU 1994 ma sih t etap media pengajaran, (6) membimbing digunakan. Dengan demikian dapat dan melayani siswa yang mengalami disimpulkan bah wa kegiat an kesulitan b elajar, terutama bagi supervisi p endidikan maupun anak lamb an dan anak pandai, ( 7) pembinaan profesional merup akan
  • 16.
    nama layanan yang digunakan BEBERAPA PENDEKATAN DALAM secara b ergantian dalam praktik SUPERVISI PENDIDIKAN pendidikan pada s ekolah -s eko lah di Secara garis besar ada tiga Indones ia. pendekatan dalam supervisi Dengan demikian dapa t pendidikan, yaitu (1) pendekatan dikemukakan bah wa sup ervisi langsung (directive approach), (2) (pembinaan profes ional guru ) pendekatan tidak langsung (non dimaksudkan untuk meningkatkan directive approach), dan (3) kemampuan dan ket erampilan guru pendekatan kolaboratif dalam melaks anakan tugas (collaborative approach). Pendekatan pokoknya s ehari -hari yaitu langsung adalah seb uah pendekatan mengelo la proses belajar -mengajar supervisi, di mana dalam up aya dengan s egala asp ek pendukungnya peningkatan kemampuan guru sehingga berjalan dengan b aik peran kepala sekol ah dasar, khususnya dalam kegiat an belajar pengawas TK/SD, dan pembina mengajar, sehingga tujuan lainnya lebih b esar dari pada peran pendidikan dasar dapat t ercap ai guru yang bersangkutan. secara optimal. Pendekatan tidak langsung adalah Pada h akikat nya kegiatan sebuah pendekatan supervisi, di pembinaan menyangkut dua b elah mana dalam upaya peningkat an pihak yaitu pihak yang dilayani atau kemampuan guru peran kepala pihak yang dibina dan pih ak yang sekolah, pengawas TK/SD, dan melayani atau yang membina Pembina lainnya lebih kecil (Ekosusilo, 2003). Baik yang dibina daripada peran guru yang maupun p embina harus sama -sama bersangkutan. Pendekatan memiliki kemampuan yang kolaboratif adalah sebuah berkemb ang s ecar a serasi sesuai pendekatan sup ervisi, di mana dengan kedudukan dan p eran dalam upaya peningkatan masing -masing. Oleh sebab itu, kemampuan guru peran kepala sasaran pembinaan profesional ini sekolah, pengawas TK/SD, dan adalah kedua belah p ihak yaitu guru pembina lainnya sama besarnya sebagai pihak yang dibina dan dengan p eran guru yang kepala sekolah atau pengawas bersangkutan. sekolah s ebagai pihak yang Penggunaan pendekat an membina. tersebut disesuaikan dengan dua karakteristik guru yang akan dib eri supervisi, yaitu tingkat abstraks i
  • 17.
    guru (level ofteacher abstraction) supervisi pendidikan yang lazim dan tingkat komitmen guru (level of digunakan dalam pelaksanaan teacher commitment). Daya abstraksi supervisi pengajaran. Ada ters edia guru bisa tinggi, s edang, dan bisa sejumlah teknik supervisi yang juga rendah. Demikian pula dengan dipandang b ermanlaat untuk komitmen guru bisa tinggi, sedang, merangsang dan mengarahkan dan rendah. Pendekatan supervisi perhatian guru -guru terhadap yang digunakan har us disesuaikan kurikulum dan pengajaran, untuk dengan tinggi -r endahnya daya mengidentifikasi masalah -mas alah abstraksi dan komit men guru yang yang b ertalian dengan mengajar dan disupervisi. belajar, dan untuk menganalisis 1. Guru yang memil iki daya kondisi -kondisi yang mengelilingi abstraksi dan komitmm yang mengajar dan belajar. Yang b erikut rendah sebaiknya disupervisi ini pada umumnya dipandang dengan pendekat an langsung. teknik yang paling bermanfaat bagi 2. Guru yang memiliki daya supervisi. abstraksi yang r endah, tetapi komitmennya tinggi, seb aiknya 1. Kunjungan kolas. disupervisi dengan pendekatan Kunjungan kelas (sering kolaboiat if. disebut kunjungan supervisi) yang 3. Guru yang memiliki daya dilakukan kep ala sekolah (at au abstraksi yang tinggi tetapi pengawas/penilik) adalah teknik komitmennya r endah, sebaiknya paling efektif untuk mengamati disupervisi dengan pendekatan guru bekerja, alat, metode, dan kolaboratif. teknik mengajar tertentu yang 4. Guru yang memiliki daya dipakainya, dan untuk mem -pelajari abstraksi dan komitmen yang situasi belajar secara keseluruhan tinggi s ebaiknya disupervisi dengan memperh atikan s emua dengan pendekat an tidak faktor yang mempengaruhi langsung (Bafadal, 2003). pertumbuhan murid. Dengan menggunakan h asil anali sis observasinya, ia bersama dengan TEKNIK-TEKNIK SUPERVISI guru dapat menyusun suatu Bagaimana Kepala Sekolah program yang baik untuk dalam mensup ervisi para guru ?. memperbaiki ko ndisi yang Dalam kont eks ini, maka Kepala melingkari mengajar -belajar di Sekolah p erlu mengenal dan kelas tertentu. Sudan tentu, memprakt ekkan teknik -teknik
  • 18.
    kunjungan kelas, agar efektif, kelompok) dimaksud sualu kegiatan hendaknya dipersiapkan dengan dimana sekelompok orang berkumpul teliti dan dilaks anakan dengan dalam situasi bcrlatap muka dan sangat berhati -hati dengan disertai melalui interaksi lisan bertukar budi bahasa yang baik pula. informasi atau berusaha untuk Pada umumnya kunjungan kelas mencapai suatu keputusan tentang hendaknya diikuti oleh pembicaraan masalah-masalah bersama. Kegiatan individual antara kepada sekolah diskusi ini dapal mengambil beberapa dengan guru. bentuk pertemuan staf pengajar, seperti: diskusi panel, seminar, 2. Pembicaraan individual lokakarya, konperensi, kelompok studi, Pembicaraan individual pekerjaan komisi, dan kegiatan lain merupakan teknik supervisi yang yang bertujuan untuk bersama-sama sangat penting karena kesempatan membicarakan dan menilai masalah- yang diciptakannya bagi kepala sekolah masalah tentang pendidikan dan (pengawas/penilik) untuk bekerja pengajaran. Pertemuan-pertemuan secara individual dengan guru serupa ini dipadang suatu kegiatan sehubungan dengan masalah-masalah yang begitu penting dalam program profesional pribadinya. Masalah- supervisi modern, sehingga guru masalah yang mungkin dipecahkan sebenarnya hidup dalam suasana melalui pembicaraan individual bisa pelbagai jenis pertemuan kelompok. macam-macam: masalah-masalah yang bertalian dengan mengajar, dengan 4. Demonstrasi mengajar kebutuhan yang dirasakan oleh guru, Demonstrasi mengajar dengan pilihan dan pemakaian alat merupakan teknik yang berharga pula. pengajaran, teknik dan prosedur, atau Rencana demonstrasi yang telah bahkan masalah-masalah yang oleh disusun dengan teliti dan dicetak lebih kepala sekolah dipandang perlu untuk dulu, dengan menekankan pada hal-hal dimintakan pendapat guru. Apapun yang dianggap penting atau pada nilai yang dijadikan pokok pembicaraan, ia teknik mengajar mewakili teknik yang sangat baik untuk tertentu, akan sangat membantu. membantu guru mengembangkan arah Pembicaraan sehabis demonstrasi bisa diri dan tumbuh dalam pekerjaan. menjelaskan banyak aspek. Suatu analisis observasi adalah perlu. 3. Diskusi Kclompok Dengan diskusi kelompok (atau 5. Kunjungan kelas antar guru sering pula disebut pertemuan
  • 19.
    Sejumlah studi telahmengungkapkan berisi pengumuman-pengumuman, bahwa kunjungan kelas yang dilakukan ikhtisar tentang penelitian-penelitian, guru-guru di antara mereka sendiri analisis presentasi dalam pertemuan- adalah efektif dan disukai. Kunjungan pertemuan organisasi professional, dan ini biasanya direncanakan atas perkembangan dalam berbagai bidang permintaan guru-guru. Teknik ini akan studi. lebih efektif lagi jika tiap observasi diikuti oleh suatu analisis yang berhati-hati. 7. Perpustakaan Profesional Perpustakaan professional 6. Pengembangan kurikulum sekolah merupakan sumber informasi Perencanaan penyesuaian dan yang sangat membantu kepada pengembangan kurikulum peitumbuhan professional personil menyediakan kesempatan yang sangat pengajar di sekolah. Perpustakaan baik bagi partisipasi guru. Pentingnya professional menyediakan tidak saja relevansi kurikulum dengan kebutuhan suatu sumber informasi, tapi ia juga murid dan masyarakat bagi suatu rangsangan bagi kepuasan pemeliharaan dan peningkatan kualitas pribadi. Buku-buku tentang pandangan pendidikan di negara kita diakui. professional, bacaan suplementer yang Tetapi dalam prakteknya, sekolah- lebih baru, dan majalah professional sekolah secara individual tidak banyak yang banyak jumlah-nya itu hendaknya melakukan usaha untuk menyesuaikan tersedia bagi semua guru. Juga dan mengembangkan kurikulum sumbangan-sumbangan dari guru standar itu dengan kebutuhan murid dapat menjadi bagian dari "gudang" dan masyarakat terus berubah. informasi ini. Terserah kepada kepala sekolah untuk menciptakan perhatian dan keinginan 8. Lokakarya bagi pekerjaan penting dan terus- Lokakarya menyediakan menerus itu. Penyesuaian dan kesempatan untuk Kerjasama, untuk pengembangan kurikulum dilakukan di memperteukan ide-ide, untuk sekolah dengan mengembangkan mendiskusikan masalah-masalah materi muatan lokal. Muatan lokal ini bersama alau khuais, dan untuk sesuai dengan potensi lingkungan pertumbuhan pribadi dan professional sekitar sekolah. dalam berbagai bidang studi. Ada banyak jenis lokakarya itu. Dalam 6. Buletin supervisi lokakarya seni, barangkali sebagian Buletin supervisi merupakan bcsar waktu akan diisi dengan alat komunikasi yang efektif. Ia bisa
  • 20.
    partisipasi sungguh dengan adalah seperti: (1) laporan kepada mempelajari keterampilan dan teknik- orang tua murid, (2) majalah sekolah, teknik kegiatan scni. Dalam lokakarya (3) surat kabar sekolah, (4) pameran matematika lebih banyak tckanan sekolah, (5) open house, (6) kunjungan mungkin diberikan kepada ke sekolah, (7) kunjungan ke rumah menganalisis dan memilih pengalaman murid, (8) melalui penjelasan yang belajar yang sesuai, menemukan bahan diberikan oleh perso nil sekolah, (9) teknologi pengajaran dan metode- gambaran keadaan sekolah melalui metode presentasi ini, dan menilai murid-murid, (10) melalui radio program-program baru. dan televisi, (11) laporan tahunan, (12) organisasi perkumpulan alumni 9. Survey sekolah-masyarakat sekolah, (13) melalui kegiatan Suatu studi yang komprehensif ekstra kurikulum, dan (14) tentang masyarakat akan membantu pendekatan secara akrab. guru dan kepala sekolah untuk memahami dengan lebih jelas program RESPON DAN SIKAP GURU sekolah yang akan memenuhi TERHADAP SUPERVISI kebutuhan dan kepentingan murid. PENGAJARAN Sebenarnya ada teknik-teknik Kajian tentang sikap guru lain, tetapi yang diterapkan di atas terhadap supervisi menjadi dengan singkat adalah teknik-teknik perhatian Neagley & Evans (dalam yang dalam sejumlah penelitian Mantja, 1998) dengan merujuk dipandang telah menunjukkan sejumlah hasil penelitian beb erapa manfaatnya bagi supervisi. Untuk pakar supervisi pengajaran. pembahasan yang lebih terurai Temuan-temuan yang dilaporkan, pembaca disarankan untuk membaca antara lain (1) supervisi yang sumber-sumber lain. efektif harus di dasarkan atas Pada hakekatnya tidak ada satu prinsip-prinsip yang sesuai dengan teknik tunggal yang bisa memenuhi perubahan sosial dan dinamika segala kebutuhan; dan bahwa sualu kelompok, (2) para guru teknik tidaklah baik alau buruk pada mengh endaki sup ervisi dari kepala umumnya, melainkan dalam kondisi sekolah, seb agaimana yang tertentu. Masalah yang utama adalah seharusnya dikerjakan oleh tenaga menetapkan kebutuhan. Beberapa personel yang berjabat an teknik hubungan antara sekolah supervisor, (3) kepala sekolah tid ak dengan masyarakat yang diperkenalkan melakukan sup ervisi dengan baik, oleh Sahertian (1989) antara lain (4) semua guru membutuhkan
  • 21.
    supervisi dan mengharapkanuntuk Krisis Menuju Pembaruan, yang disupervisi, (5) para guru lebih diikuti para pakar yang kompclen. menghargai dan menilai secara Salali satu rekomendasi dari positif perilaku s upervisi yang konferensi ini, khusu'snya yang "hangat", s aling mempercayai, berkaitan langsung dengan masalah bersahabat, dan menghargai guru, supervisi dikemukakan sebagai berikut (6) supervisi dianggap bermanfaat ini. bila direncanakan dengan baik, Rekomendasi 23 supervisor menunjukkan sifat Fungsi-fungsi pengawasan pada membantu dan menyediakan model - semua jenjang pendidikan model pengajaran yang efektif, (7) dioptimalkan seba-gai sarana supervisor memberikan peran serta untuk memacu mutu yang cukup tinggi kep ada guru pendidikan. Pengawasan untuk p engambilan keputusan dimaksud dengan dalam wawancar a supervisi, (8) mengutamakan aspek-aspek supervisor mengutamakan akademik daripada administratif pengembangan ket er ampilan sebagaimana berlaku selama ini hubungan ins ani, seperti h alnya (Jalal & Supriadi, 2001). dengan ket erampilan teknis dan (9) Keefektifan penerapan orientasi supervisor seharus nya menciptakan dan pendekptan supervisi di atas, tidak iklim organis asional yang t erbuka, hanya tergangung pada supervisor saja, yang memungkinkan pemantapan melainkan juga sangat dipengaruhi hubungan yang s aling menunjang oleh persepsi, respon, dan sikap guru (supportive). terhadap orientasi dan supervisi yang Dalam praktiknya supervisi dilakukan oleh supervisor. Penelitian pengajaran yang dilaks anakan mengenai sikap guru terhadap selama ini mas ih cenderung supervisi dikemukakan oleh Ekosusilo berorient asi pada administratif (2003) bahwa guru tidak terlalu positif saja. Walaupun sudah dirumuskan terhadap supervisi yang dilakukan dalam kegiat an supervisi bahwa supervisor. Selanjutnya dikemukakan aspek yang disupervisi adalah oleh Ekosusilo dalam simpulan administr atif dan e dukatif, namun penelitiannya bahwa supervisi yang pada kenyat aannya masih dilakukan supervisor dianggap biasa- cenderung lebih dominan aspek biasa saja dan monoton itu-itu saja, administr atif. Feno mena ini dikaji bahkan nampak diacuhkan. Namun secara khusus dalam Konferensi guru tidak menampakkan ketidak- Pendidikan di Indo nesia: Mengatasi setujuannya di hadapan supervisor,
  • 22.
    karena dilandasi rasahormat sekaligus nampaknya mempunyai kadar tidak ingin menimbulkan konflik. transferabilitas yang cukup tinggi, Penelitian yang dilakukan Mantja karena kendala-kendala di jenjang (1989) juga menyimpulkan bahwa pendidikan dasar berkisar pada respon dan sikap guru terhadap permasalahan-permasalahan temuan supervisi ditentukan oleh kemanfaatan, tersebut di atas. Isvanto (1999) data pengamatan yang obyektif, mengemukakan bahwa permasalahan kesempatan menanggapi balikan, pendidikan, antara lain adalah perhatian supervisor terhadap gagasan manajemen sekolah yang tidak efektif, guru. Supervisi yang teratur dan dan kemampuan manajemen kepala hubungan yang diciptakan dapal sekolah pada umumnya rendah mengurangi ketegangan emosional terutama di sekolah negeri dan guru. Guru lebih menyukai pendekatan pembinaan karier dan kesejahteraan supervisi kolaboratif atau non direktif. guru yang tidak konsisten. Mengkaji perihal kendala- kendala dalam pelaksanaan supervisi, KENDALA-KENDALA PELAKSANAAN temuan Ekosusilo (2003) menarik SUPERVISI PENGAJARAN untuk dikemukakan di sink Temuan Dalam pelaksanaannya, penelitian Ekosusilo tentang supervisi pengajaran di sekolah banyak pelaksanaan supervisi antara lain: (1) menghadapi kendala. Mantja (1990) supervisor tidak mengkomunikasikan dalam temuan disertasinya meuyalakan rencana/program supervisinya kepada bahwa kendala-kendala yang kurang para guru sebagai subyek supervisi, (2) menunjang keefektifan supervisi, fokus supervisi hanya terarah pada antara lain: sikap personil sekolah aspek administrasi, kurang menyentuh yang kurang positif terhadap supervisi pada pengembangan kemampuan guru pengelola teknis edukatif; kurangnya dalam mengelola proses belajar keterampilan supervisi kepala sekolah; mengajar, (3) supervisor tidak pengendalian emosional supervisor melaksanakan kunjungan kelas secara dalam menerima respons guru; kepala serius, (4) supervisor mendominasi sekolah yang karena kurangnya tenaga pembicaraan dan berjalan satu arah, guru haras memegang kelas atau (5) tidak ada penilaian umpan balik, bidang studi tertentu, sehingga dan (6) supervisor tidak pernah supervisi menjadi kurang efektif; dan meminta pada guru untuk meminta adanya guru yang tingkat pada guru untuk memberikan pendidikannya lebih tinggi dari kepala komentar maupun penilaian terhadap sekolahnya. Temuan Mantja ini, supervisi yang telah dilaksanakan.
  • 23.
    Kendala-kendala inilah yang di kelas; (3) supervisor atau pembina, mengakibatkan supervisi pengajaran yaitu Pengawas Sekolah, Kepala yang dilaksanakan oleh Pengawas Sekolah, atau semua pejabat yang Sekolah di sekolah dasar tidak dapat terlibat dalam layanan supervisi, optimal, sehingga tujuan pokok adalah pihak yang dianggap paling pelaksanaan supervisi untuk bertanggung jawab dalam kegiatan meningkatkan kualitas kegiatan belajar supervisi; (4) ada tiga pendekatan mengajar tidak dapat tercapai. Temuan dalam supervisi pengajaran, yaitu (a) Ekosusilo (2003) ini memberikan pendekatan langsung, (b) pendekatan gambaran bahwa pembinaan tidak langsung, dan (c) pendekatan profesional guru masih perlu kolaboratif; (5) teknik-teknik supervisi ditingkatkan lebih lanjut. pendidikan yang paling bermanfaat bagi supervisi antara lain adalah: (a) kunjungan kelas, (b) pembicaraan individual, (c) diskusi kelompok, (d) demonstrasi mengajar, (e) kunjungan kelas antar guru, (1) pengembangan kurikulum, (g) bulletin supervisi, (h) perpustakaan profcsioml, (i) lokakarya, (j) survey sekolah-masyarakat; (6) para SIMPULAN DAN SARAN guru lebih menghargai dan menilai Simpulan secara positif perilaku supervisi yang Berdasarkan uraian tentang "hangat", saling mempercayai, peningkatan mutu pendidikan melalui bersahabat, dan menghargai guru; dan supervisi pengajaran di atas, maka (7) dalam praktiknya supervisi dapatlah disimpulkan hal-hal sebagai pengajaran yang dilaksanakan selama berikut: (1) masalah-masalah dalam ini masih cenderung berorientasi pada bidang pendidikan adalah (a) masalah administratif saja. kuantitatif, (b) masalah kualitatif, (e) Saran-saran masalah relevansi, (d) masalah Berdasarkan simpulan di atas, efisiensi, (e) masalah efektivitas, dan maka dapatlah dikemukakan saran- (f) masalah khusus; (2) supervisi saran sebagai berikut: (1) untuk pengajaran pada hakikatnya adalah meningkatkan kemampuan supervisor, untuk meningkatkan kemampuan dan maka perlu secara rutin ada program keterampilan guru dalam penyegaran bagi para supervisor, melaksanakan tugas pokoknya sehari- sehingga dalam melaksanakan hari yaitu mengajar para peserta didik tugasnya sesuai dengan tujuau
  • 24.
    supervisi dan sesuaidengan keinginan guru di sekolah; (3) dalam pelaksanaan para guru; (2) arah supervisi perlu supervisi di sekolah, para supervisor difokuskan/ditekankan kepada aspek perlu membekali format dokumen yang akademik tanpa mengabaikan faktor dapat merekam dan mencatat kegiatan administratif sebagai pelengkap guru dalam melaksanakan tugas- pelaksanaan supervisi tcrhadap para tugasnya di sekolah; (4) dalam melaksanakan supervisi pengajaran disarankan untuk menggunakan prosedur supervisi klinis, dan (5) perlu ada pertemuan sesuai supervisi untuk mendiskusikan hasil supervisi yang telah dilakukan oleh Kepala Sekolah atau Pengawas Sekolah, sebagai upaya tindak lanjut setelah pelaksanaan supervisi dilaksanakan.
  • 25.
    DAFTAR RUJUKAN Bafadal, I.2003. S eri Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Seko lah, Peningkat an Profes ionalisme Guru Sekolah Dasar, Dalam Kerangka Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara. Benty, D.D.N. 1992. Kemampuan Kepi'la S ekolah Dasar Membantu Guru dalam Mengembangkan Pengajaran Menurut Persepsi Guru -Guru SD Negeri di Kecamatan Lowokwaru Kodya Malnng. Tesis tidak diterbitkan. Malang: Program Pasa Sarjana, Institut Keguruan dan Ilmu pendidikan Malang. Depdikbud. 1976. Kurikulum Sekolah Dasar 1975, Garis -Garis Besar Program Pengajaran Buku III D Pedoman Administrasi dan Sup ervisi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Depdikbud. 1994/1995. Pedoman Kerja Pelaksanaan Sup ervisi. Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SD, TK dan SLB, Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menenga,'., Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Depdikbud. 1995. Pedoman Pembinaan Profesional Guru Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Pendidikan Dasar, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Depdiknas. 2000. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis S ekolah. Jakarta: Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional. Ekosusilo, M. 2003. Iiasil Penelitian Kualitatif, Sup ervisi Pengajaran Dalam Latar Budaya Jawa, Studi Kasus Pembinaan Guru SD di Kralon Surakart a. Sukoharjo: Penerbit Uvitet Bantara Press. Indrafachrudi, S.(Koordinator). 1989. Administrasi Pendidikan. Malang: Penerbit IKIP Malang. Idrus, N., dkk. 2000. Quality Assurance, Handbook. 3 -Edition. Jakarta: Engineering Education Development Project, Du Malcomlm Jones (ed)., Director General of Higher Education. Iswanto, B. 1999. Olonomi Daerah: Imp likasi bagi Pengelo laan Pendidikan. Makalah disajikan dalam seminar nasional Formula Manajemen Pendidikan dalam Kerangka Otonomi Daerah di Bidang Pendidikan pada tanggal 23 Aeustus 1999 di Universitas Neseri Malane. Jalal, F. & Supriadi, D. 2001. Reformasi Penclidikan Dalam Konteks Otonomi Daerah. Jakarta: Diterbitkan atas kerjasama Depdiknas -Bappenas-Adicita Karya Nusa.
  • 26.
    Mantja, W. 1998.Manajemen Pembinaan Profesional Guru Berwawasan Pengembangan Sumber Daya Manusia: Suatu Kajian Ko.tseptual -historik dan Empirik. Pidalo Pengukuhan Guru Besar [KIP Malang. Making: Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Malang, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Mastuhu. 2003. Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21 (The New Mind Set of National Education in the 21 s ' Century). Yogyakarta: Safiria Insania Press bekerjasama dengan Magister Studi Islam Universitas Islam Indonesia (MSI UII). Sahertian, P.A. & Mataheru, F. 1982. Prinsip & Tehnik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Supriadi, D. 2004. Satuan Biaya Pendidikan, Dasar dan Menengah: Rujukan Bagi Penetapan Kebijakan Pendidikan Pada Era Otonomi dan Manajemen Berbasi s Sekolah. Bandung: PT Lemadja Rosdakarya.
  • 27.
    PENGARUH BIMBINGAN ORANGTUA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SD TUNAS BANGSA KECAMATAN WONOKROMO SURABAYA Etiyasningsih*) Abstrak, Bahasa Indonesia dipakai di sekolah dari tingkat paling rendah sampai perguruan tinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada pemerintahan termasuk kehakiman pengadilan, serta di segala bentuk komunikasi tingkat nasional. Dari segi ilmiah dapat dijadikan kunci untuk membuka pintu untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya, dengan pertimbangan tersebut maka yang perlu diperjatikan adalah bimbingan orang tua dalam menunjang prestasi anak di sekolah. Pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, guru dan masyarakat. Namun berperan serta orang tua dan masyarakat dalam menunjang prestasi belajar anaknya belum tampak menggembirakan, apabila status pendidikan orang tuanya atau masyarakat pada umumnya masih rendah, maka semata-mata pendidikan anaknya diserahkan kepada guru di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian dilakukan di SD Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo Surabaya. Populasi sebanyak 34 anak dan orang tua. Sampel diambil dengan teknik total sampling diperoleh 34 responden anak dan orang tua siswa. Pengumpulan data dengan dokumentasi dan kuesioner, selanjutnya dilakukan uji regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 16,995 > Ftabel = 4,17. Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,000 jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan orang tua lebih banyak memberikan bimbingan kepada anaknya terutama dalam belajar bahasa Indonesia, bimbingan di keluarga hendaknya mencakup bantuan belajar, pengawasan, pengaturan waktu belajar dan keteladanan yang ditunjukkan secara rutin, dan orang tua wali murid selalu mengawasi cara belajar anaknya dan selalu berkonsultasi dengan guru atau orang lain. Pihak sekolah diharapkan dapat sering mengadakan hubungan dan konsultasi mengenai perkembangan belajar anak dan juga memecahkan kesulitan yang timbul dalam bimbingan belajar anak dengan wali murid atau orang tua siswa
  • 28.
    Kata Kunci :Bimbingan Orang Tua terhadap Prestasi Belajar Siswa Pendidikan yang berlangsung seumur suatu pendidikan itu ditentukan oleh tiga hidup dan dilaksanakan sedini mungkin komponen, yaitu orang tua (keluarga), merupakan tanggung jawab keluarga, guru (pemerintah), dan masyarakat masyarakat dan pemerintah. Banyak (lingkungan). orang tua berpendapat bahwa tugas mencerdaskan anak adalah tugas guru dan Dalam mendidik seseorang anak tidak institusi pendidikan, sementara mereka akan berhasil tanpa ada kerjasama yang selaku orang tua asyik dengan profesinya baik antara orang tua yang mendidik di sendiri, implikasi dari pendapat semacam rumah, dengan guru yang mendidik di ini adalah memunculkan ketidakpedulian sekolah. Demikian juga dengan orang tua terhadap spiritual, intelektual lingkungan di sekitarnya juga menunjang. dan moral anaknya sendiri. Masih banyak Antara orang tua, guru dan lingkungan di antara orang tua yang lalai akan dalam menangani anak harus ada tugasnya dalam membantu perkembangan kerjasama yang baik sehingga merupakan dan pemahaman diri putra putrinya, tri tunggal yang tidak dapat dipisahkan. mereka menyibukkan dirinya dengan Sehubungan dengan hal tersebut, jika urusan masing-masing. ditinjau ari segi waktu belajar antara pendidikan sekolah dan ada dirumah, Bagi orang tua yang taraf ekonominya maka waktu belajar tersebut lebih banyak kuat, waktunya banyak digunakan untuk dirumah. Oleh sebab itu sebagai orang tua acara-acara yang dianggap sesuai dengan harus benar-benar dapat membantu dan martabat sosialnya, sementara bagi orang mengarahkan putra putrinya, memahami tua yang taraf ekonominya lemah, lebih jauh dan mendalam tentang pola dan waktunya banyak digunakan kegiatan upaya mencerdaskan. Orang tua harus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. mengerti tentang dasar-dasar pendidikan, Sehingga dengan keadaan ini timbulah psikologi perkembangan, proses belajar berbagai kesulitan yang dihadapi oleh mengajar dan pengetahuan lain guna anak terutama kesulitan alam belajar yang mencapai tujuan yang sesuai dengan mengakibatkan prestasi belajar mereka harapan dan cita-citanya. semakin menurun. Negara Indonesia merupakan Negara Ketika anaknya gagal memenuhi yang sedang berkembang, dan sedang harapannya, pihak pertama yang dituding getol-getolnya membangun, seiring adalah guru dan institusi pendidikan, dengan pembangunan itu, maka di segala kalau kita renungkan anggapan orang tua bidang harus dikembangkan pemerintah. bahwa pencapaian itu hanyalah Di dalam persiapan pembangunan yang tergantung pada lembaga sekolah, siap dipakai perlu sumber daya manusia pendapat seperti ini kurang tepat, dan yang handal, maka pemerintah akan merugikan diri sendiri. menggalakkan pembangunan di bidang Bagaimanapun guru, sekolah, dan institusi pendidikan. pendidikan yang lainnya hanyalah pihak yang membantu mencerdaskan peserta Maka tidaklah mengherankan apabila didik. Sedangkan keberhasilan dalam pemerintah selalu berusaha dengan getol untuk meningkatkan pendidikan baik
  • 29.
    secara kuantitatif maupunkualitatif, guna terpelihara rasa persatuan dan kesatuan mempercepat tercapainya tujuan bangsa. Berkomunikasi antara suku kita pendidikan yang telah ditetapkan. Untuk harus menggunakan bahasa Indonesia itu di dalam merealisir tujuan pendidikan yang baik dan benar. Dalam hal ini itu, maka diseluruh jalur, jenis dan jenjang termuat dalam dokumen resmi Negara, pandidikan baik dengan jalur formal seperti : Sumpah Pemuda dan dalam maupun non formal berkewajiban untuk Undang-undang Dasar 1945, Bab XV pasal segera mendukung dan mewujudkannya. 36 : Bahasa Negara adalah bahasa Bahkan dilingkungan keluargapun di Indonesia. harapkan peran serta aktifnya, karena suatu program akan berhasil dengan baik Bahasa Indonesia dipakai di sekolah apabila aktifitas di dukung oleh semua dari tingkat paling rendah sampai pihak. perguruan tinggi, dipakai juga dalam acara resmi pada pemerintahan termasuk Di dalam Undang-undang pendidikan kehakiman pengadilan, serta di segala Nomor 2 tahun 1989, disebutkan bahwa bentuk komunikasi tingkat nasional. Dari tujuan pendidikan di Indonesia adalah segi ilmiah dapat dijadikan kunci untuk sebagai berikut : ―Pendidikan nasional membuka pintu untuk mempelajari ilmu- bertujuan mencerdaskan kehidupan ilmu yang lainnya, dengan pertimbangan bangsa dan mengembangkan manusia tersebut maka yang perlu diperjatikan yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan adalah bimbingan orang tua dalam Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang menunjang prestasi anak disekolah. luhur, memiliki pengetahuan dan Pendidikan merupakan tanggung jawab ketrampilan, kesehatan jasmani dan bersama antara orang tua, guru dan rohani, kepribadian yang mantap dan masyarakat. Namun berperan serta orang mandiri serta rasa tanggung jawab tua dan masyarakat dalam menunjang kemasyarakatan dan kebangsaan‖. prestasi belajar anaknya belum tampak Pendidikan Nasional harus juga menggembirakan, apabila status menumbuhkan jiwa patriotic dan pendidikan orang tuanya atau masyarakat mempertebal rasa cinta tanah air, pada umumnya masih rendah, maka meningkatkan semangat kebangsaan dan semata-mata pendidikan anaknya kesetiakawanan social serta kesadaran diserahkan kepada guru di sekolah. pendidikan sejarah perjuangan bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan Kesadaran bahwa tugas utama serta berorientasi ke masa depan. Iklim memberi bimbingan anak adalah tugas belajar mengajar yang dapat orang tua, maka akan memberikan menumbuhkan rasa percaya diri dan pengaruh positif dalam pembentukan budaya belajar di lingkungan masyarakat, tanggung jawab dan mendorong motivasi terus juga di kembangkan agar tumbuh belajar, mempermudah proses belajar sikap dan perilaku yang kreatif, dan pada anak dan pengkoordinasian berkeinginan untuk maju. lingkungan keluarga untuk mewujudkan anak-anak cerdas dan berprestasi Dan sebagai bangsa Indonesia harus terutama pada bidang studi bahasa berkomunikasi di antara suku satu dengan Indonesia. Pemikiran inilah yang suku yang lainnya dengan baik, agar tetap menjadikan penulis mengangkat judul
  • 30.
    skripsi ini denganharapan dapat Y = a + bX mengetahui pengaruh bimbingan orang tua terhadap prestasi belajar siswa pada Y = Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Bidang Studi Bahasa Indonesia di SD X = Bimbingan Orang Tua Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo Surabaya. a = Nilai konstanta b = Nilai arah sebagai penentu ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilai METODE PENELITIAN peningkatan (+) atau nilai penurunan (–) variabel Y. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil populasi seluruh siswa kelas IV SD Tunas Bangsa Kecamatan Wonokromo Surabaya. Sampel diambil HASIL PENELITIAN dengan teknik total sampling diperoleh responden sebanyak 34 siswa. Variabel bebas (X) dalam penelitian Hasil Pengujian Validitas ini yakni bimbingan orang tua, yang Validitas menunjukkan sejauh dimaksud bimbingan orang tua adalah mana alat ukur yang digunakan mengukur suatu proses pemberi bentuan secara terus apa yang diinginkan dan mengungkap menerus dan sistematik dari pembimbing data dari variabel yang diteliti secara kepada peserta bimbingan agar tercapai tepat. Instrument valid berarti alat ukur pemahaman dari penerima diri, yang digunakan untuk mendapat data itu pengarahan diri dan perwujudan diri valid. Dalam uji validitas ini suatu butir dalam mencapai tingkat perkembangan pernyataan dikatakan valid jika corrected yang optimal sehingga dapat item total correlation lebih besar dari menyesuaikan diri dengan lingkungan dan 0,339 (untuk jumlah responden 34 orang) memperoleh kebahagian hidup. Variabel sebagaimana tabel r produk momen prestasi belajar Bahasa Indonesia (Y) yaitu terlampir. Hasil pengujian validitas suatu suatu hasil yang teah dicapai setelah terhadap variabel bimbingan orang tua (X) kegiatan belajar mengajar Bahasa dan Prestasi Belajar Siswa (Y) dapat Indonesia. Dalam penelitian ini, indikator dilihat sebagai berikut : yang digunakan adalah nilai ulangan mata Tabel 1 Hasil Uji Validitas Variabel pelajaran Bahasa Indonesia. Prestasi Belajar Siswa (X) Data yang telah terkumpul kemudian Pernya- Corrected item Ket dilakukan analisis. Uji hipotesis dilakukan taan total correlation untuk menjawab hipotesa yang telah 1 0,843 Valid diajukan sebelumnya. Uji yang digunakan 2 0,372 Valid dalam penelitian ini adalah uji Regresi 3 0,638 Valid Sederhana dengan rumus persamaan 4 0,601 Valid regresi sederhana : 5 0,540 Valid
  • 31.
    Pernya- Corrected item Ket sehingga dapat diputuskan bahwa item taan total correlation kuesioner telah reliabel. 6 0,541 Valid 7 0,767 Valid 8 0,476 Valid 9 0,642 Valid Uji Asumsi Klasik 10 0,620 Valid 11 0,686 Valid Uji normalitas 12 0,355 Valid 13 0,677 Valid Dalam penelitian ini uji normalitas 14 0,793 Valid kriterianya adalah jika distribusi data 15 0,543 Valid adalah normal, maka garis yang 16 0,439 Valid menggambarkan data sesungguhnya akan 17 0,354 Valid mengikuti garis diagonalnya. 18 0,495 Valid Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual 19 0,535 Valid 20 0,651 Valid Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa 1,0 Sumber : Hasil Olah Data SPSS ,8 Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa untuk item pernyataan variabel Expected Cum Prob ,5 bimbingan orang tua, corrected item total correlation yang diperoleh untuk seluruh ,3 item pernyataan adalah lebih besar dari 0,339 (untuk jumlah responden 34 orang), 0,0 hal tersebut berarti bahwa secara 0,0 ,3 ,5 ,8 1,0 keseluruhan item pernyataan mengenai Observ ed Cum Prob bimbingan orang tua adalah valid. Hasil Uji Reliabilitas Gambar 1 Grafik Normalitas Standar Residual Regresi Suatu alat ukur dikatakan reliabel atau handal, jika alat itu dalam mengukur suatu gejala pada waktu yang berbeda senantiasa menunjukkan hasil yang relatif Sesuai kriterianya grafik normal plot sama. Untuk menguji reliabilitas suatu di atas terlihat titik-titik menyebar di instrument dapat digunakan uji statistic sekitar garis diagonalnya, serta Cronbach Alpha (α), dimana suatu alat penyebarannya mengikuti arah garis ukur dikatakan reliabel jika nilai Cronbach diagonal. Dengan demikian menunjukkan Alpha lebih besar dari 0,60. Hasil bahwa model regresi layak dipakai karena pengujian reliabilitas terhadap variabel memenuhi asumsi normalitas. bimbingan orang tua (X) diperoleh alpha sebesar 0,7483 lebih besar dari 0,6 Uji Heteroskedastisitas
  • 32.
    Indikator uji iniadalah melihat grafik Dimana : Scatterplot, jika titik-titik menyebar secara acak serta tersebar di atas maupun di Y = Prestasi Belajar Siswa bawah angka 0 pada suhu Y, maka tidak X = Bimbingan Orang Tua terjadi heteroskedastisitas. b3 = Koefisien regresi X Scatterplot Dependent Variable: Prestasi Belajar Siswa Output perhitungan dengan program 2,0 SPSS for Windows seperti terlihat dalam 1,5 gambar berikut. 1,0 ANOVAb ,5 Sum of 0,0 Model Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 151,891 1 151,891 16,995 ,000 a -,5 Residual 285,991 32 8,937 -1,0 Total 437,882 33 a. Predictors: (Constant), Bimbingan Orang Tua -1,5 b. Dependent Variable: Prestasi Belajar Sisw a -2,0 -3 -2 -1 0 1 2 Regression Standardized Predicted Value Gambar 3 Uji F Gambar 2 Grafik Scatterplot Gambar 3 di atas menunjukkan hasil uji F dengan program SPSS for Windows, Dari grafik scatterplot di atas terlihat dengan Fhitung sebesar 16,995. Angka ini titik menyebar secara acak dan tersebar di selanjutnya dibandingkan dengan Ftabel df atas maupun di bawah angka 0 pada suhu = 32 sebagaimana Tabel F pada lampiran Y, hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak (Critical Values for the F Distribution terjadi heteroskedastisitas pada model α=0,05). Tabel F dengan df = 32 dan n =1 regresi sehingga model regresi layak diperoleh Ftabel = 4,17. Sehingga Fhitung = dipakai untuk mengetahui pengaruh 16,995 > Ftabel = 4,17. bimbingan orang tua terhadap prestasi Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha belajar siswa. diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan bimbingan Hasil Pengujian Regresi Linier orang tua terhadap prestasi belajar siswa. Sederhana Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,000 jauh di bawah 0,05, yang Untuk mengetahui ada atau tidaknya menandakan pengaruh yang signifikan. pergaruh antara variabel bebas bimbingan Selain adanya pengaruh yang orang tua terhadap variabel terikat yang signifikan, pada uji korelasi juga terlihat dalam hal ini adalah prestasi belajar siswa adanya korelasi positif antar kedua (Y), maka digunakan analisis model agresi variabel yang diperoleh Pearson linier sederhana dengan model persamaan Correlation sebesar 0,589 lebih dari rtabel sebagai berikut : sebesar 0,339 (Sebagaimana r tabel Product Moment pada df = 32 terlampir). Y = α + bX1
  • 33.
    Cor relations Selanjutnya berdasarkan persamaan Prestas i Belajar Sis w a Bimbingan Orang Tua di atas deskripsi pengaruh bimbingan Pearson Correlation Prestas i Belajar Sisw a Bimbingan Orang Tua 1,000 ,589 ,589 1,000 orang tua terhadap prestasi belajar siswa Sig. (1-tailed) Prestas i Belajar Sisw a , ,000 berdasarkan unstandarized coeffisients Bimbingan Orang Tua ,000 , N Prestas i Belajar Sisw a 34 34 beta adalah sebagai berikut: Bimbingan Orang Tua 1) Konstanta sebesar 35,537 menyatakan 34 34 bahwa jika variabel tingkat pendidikan Gambar Pearson Correlations dianggap konstan (tidak ada upaya membimbing), maka prestasi belajar Besarnya pengaruh atau kontribusi siswa sebesar 35,537 point. tingkat pendidikan terhadap 2) Koefisien regresi tingkat pendidikan perkembangan perusahaan dapat dilihat sebesar 0,190 menyatakan bahwa pada gambar Uji t berikut ini. setiap peningkatan 1 poin bimbingan orang tua akan meningkatkan prestasi belajar siswa sebesar 0,190 poin. Jika a Coe fficients angka tersebut dikalikan 1000, Unstandardized Standardized Model B Coefficients Std. Error Coefficients Beta t Sig. Zero-order Correlations Partial Part deskripsinya menjadi setiap ada upaya 1 (Constant) Bimbingan Orang Tua 35,537 ,190 3,292 ,046 ,589 10,797 4,123 ,000 ,000 ,589 ,589 ,589 bimbingan orang tua sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan a. Dependent Variable: Prestasi Belajar Sisw a prestasi belajar siswa sebesar 190 Gambar 4 Uji t point. Sebagaimana Uji F di atas yang menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga INTERPRETASI seperti pada Gambar 4.5 memperlihatkan thitung sebesar 4,123 > ttabel sebesar 2,042 Bimbingan orang tua sangat (sebagaimana Critical Value for the t berpengaruh terhadap prestasi belajar Distribution terlampir) artinya terdapat siswa. Memang bimbingan orang tu sangat pengaruh bimbingan orang tua terhadap diperlukan oleh siswa mengingat belajar di prestasi belajar siswa. sekolah tanpa diulang di rumah Untuk menunjukkan besarnya kemungkinan lupa atau kurang pengaruh atau kontribusi tingkat memahami. Jika orang tua mau dan pendidikan terhadap perkembangan mampu membimbing anaknya maka anak perusahaan dapat dilihat koefisien regresi akan lebih mengingat dan memahami (standarized coefficients Beta) pada pelajaran yang diberikan oleh guru di gambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya sekolah. sesuai dengan rumus regresi sederhana Secara umum hal ini sesuai dengan dapat dimasukkan angka-angka tersebut Ketut Sukardi bahwa bimbingan adalah sebagai berikut : suatu proses bantuan yang diberikan pada seseorang agar mengembangkan potensi- Y = a + bX potensi yang dimiliki, mengenali dirinya = 35,537 + 0,190 sendiri, mengatasi persoalan sehingga mereka dapat menentukan sendiri jalan
  • 34.
    hidupnya, secara bertanggungjawab tanpa perencanaan dan pemikiran yang ilmiah, bergantung pada seseorang atau orang (3) Pertolongan yang proses pemecahan lain. Selain itu bimbingan merupakan dari persoalan yang membutuhkan suatu proses pemberi bantuan yang terus aktivitas dan tanggung jawab bersama menerus dan sistematis terhadap individu antara yang menolong dan yang ditolong, dalam memecahkan masalah yang (4) Pertolongan yang isi, bentuk dan dihadapi agar tercapai kemampuan untuk caranya disesuaikan kebutuhan tiap-tiap memahami dirinya (self undertanding), kasus. kemampuan untuk menerima dirinya (self aceptaince), kemampuan untuk Secara spesifik tujuan bimbingan mencurahkan dirinya (self direction), oleh orang tua ataupun pihak tertentu sesuai dengan potensi atau kemampuan adalah dapat mengetahui keadaan pribadi dalam mencapai penyesuaian diri dengan siswa untuk membantu kesulitan belajar lingkungan, baik keluarga, sekolah yang mungkin dihadapi. Tujuan maupun masyarakat. Bantuan yang bimbingan belajar yang dimaksudkan diberikan orang-orang yang memiliki adalah untuk memperoleh tingkat keahlian dan pengalaman khusus dalam perkembangan belajar yang optimal bagi bidang tertentu yaitu bidang pendidikan. setiap siswa sesuai dengan Bimbingan mencakup pertolongan kemampuannya agar dapat menyesuaikan yang diberikan seseorang dengan tujuan diri terhadap lingkungannya. untuk menolong orang itu kemana ia ingin Selain itu bimbingan bertujuan atau harus pergi, apa yang ia inginkan untuk membantu siswa agar mencapai dilakukan dan bagaimana cara yang perkembangan yang optimal yaitu siswa sebaik-baiknya tersebut memecahkan dapat menemukan dirinya sendiri, masalah yang timbul dalam kehidupan. mengenal lingkungan, dan merencanakan Dari uraian diatas maka dapat masa depan sehingga dapat mewujudkan disimpulkan mengenai bimbingan, yaitu: dirinya sebagai pribadi yang mandiri dan Bimbingan ialah suatu proses pemberi bertanggung jawab, pelajar yang kreatif bentuan secara terus menerus dan dan pekerja yang produktif. Drs. Bimo sistematik dari pembimbing kepada Walgito menyatakan bahwa tujuan utama peserta bimbingan agar tercapai bimbingan belajar agar masing-masing pemahaman dari penerima diri, siswa dapat mengembangkan kemampuan pengarahan diri dan perwujudan diri yang ada pada mereka sehingga tercapai dalam mencapai tingkat perkembangan prestasi yang optimal. yang optimal sehingga dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan dan Dengan demikian jelaslah bahwa memperoleh kebahagian hidup (Totok tujuan belajar adalah untuk mengenali Santoso, 1986:25). kemampuan-kemampuan yang terendam dalam diri anak sehingga dapat Pertolongan dalam bimbingan diharapkan anak tersebut dapat menurut Slamet (1989:25) antara lain (1) mengembangkan bakat atau kemampuan Pertolongan di arahkan peningkatan yang terpendam, jadi bimbingan belajar kemampuan dalam menghadapi hidup sangat penting untuk keberhasilan siswa. dengan segala persoalan, (2) Pertolongan yang kontinyu yang diberikan atas dasar
  • 35.
    Tujuan bimbingan orangtua Suhartini Arikunto. 1981. Prosedur terhadap anaknya antara lain (1) Untuk Penelitian , Rineka Cipta Jakarta. mengetahui keadaan pribadi anak yang dianggap mempunyai masalah, (2) Untuk Siti Rahaju Hadi Noto, 1982. Prinsip- memahami jenis atau sifat kesulitan prinsip Bimbingan dan Penyuluhan. belajar yang dihadapi, (3) Untuk Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi mengetahui faktor penyebab kesulitan UGM Yogyakarta. anak dalam pelajaran, (4) Untuk mengetahui baik secara kuratif Sutrisno Hadi, 1983. Metodologi Research (penyembuhan) maupun secara prefentif I dan II, Fakultas Psikologi UGM (pencegahan) kelemahan-kelemahan Yogyakarta. belajar yang dihadapi oleh anak. Undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Winamo Surahmad, Drs. Msc. 1976. Pengantar Penyelidikan Ilmiah. CV. DAFTAR PUSTAKA Jenmars Bandung. Wjs. Poerwodarminto, 1961. Kamus Drs. Bimo Walgito. 1982. Bimbingan dan Bahasa Indonesia. Penerbit Balai Penyuluhan Sekolah. Yayasan Pustaka Jakarta. penerbit Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta. Dep. Dik. Bud. 1984. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta Jakarta. Dewa Ketut Sukerdi, Drs . 1983 . Bimbingan dan Penyuluhan Belajar di Sekolah. Penerbit Indonesia. GBHN, Ketetapan MPR RI No. 11/MPR/1008, Bima Pustaka Surabaya. I. Djumhur dan Moh. Surya. 1975 Bimbingan dan Penyulahan di Sekolah (Guiedence Counseling). Penerbit CV. Ilmu Bandung. Ngalim Purwanto MP, Drs. 1997. Psikologi Pendidikan. Remaja Resdakarya Bandung.
  • 36.
    Pengaruh Pembelajaran BerbasisMasalah dan Gaya Kognitif terhadap Pemahaman Uniflying Geography Syaiful Khafid Email: syaiful.khafid@yahoo.co.id Abstract: Penelitian ini dilaksanakan untuk membandingkan pemaha-man ‗uniflying geography‘ antara siswa yang diajar dengan menggu-nakan pembelajaran berbasis masalah dan siswa yang diajar secara konvensional, dan antara siswa bergaya kognitif field independent dan siswa yang bergaya kognitif field dependent yang menggunakan desain kuasi eksperimental. Penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang diajar dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah mempe-roleh skor signifikan lebih tinggi dalam bidang geografi dari siswa yang diajar secara konvensional. Lagi pula, siswa dengan gaya field inde-pendent ternyata memperoleh skor signifikan lebih tinggi daripada siswa dengan gaya kognitif field dependent, Akan tetapi, penelitian tersebut tidak menunjukkan pengaruh interaksional dari model pembe-lajaran dan gaya kognitif terhadap pemahaman ‗uniflying geography‘ siswa. Kata kunci: pembelajaran berbasis masalah, gaya kognitif, pemahaman geografi 1
  • 37.
    Geografi sebagai matapelajaran ‗uniflying geography‘ yang dilakukan formal pertama yang membawa guru geografi di kelas hanya siswa kontak dengan realitas menekankan ranah kognitif dan kehidupan seharusnya dapat hafalan serta kurang mendorong menjadi satu mata pelajaran yang siswa berpikir kritis dan kreatif cukup menarik. Bahkan arti penting (Khafid, 2008:19) Menurut geografi bagi kehidupan diakui juga penilaian Sudradjat (dalam oleh tokoh atau pejabat dari Daldjoeni, 1997:129) permasalahan kalangan ketentaraan maupun yang menonjol adalah rendahnya pemerintahan. Kalau dalam partisipasi siswa dalam mempelajari kenyataan geografi menjadi kurang geografi baik secara intelektual menarik sebagian besar siswa tentu maupun emosional. Pertanyaan yang ada faktor-faktor penyebab yang berasal dari siswa yang berupa menjadikan demikian (Suharyono gagasan atau sanggahan jarang dan Amien, 1994) sehingga muncul. Jikapun ada yang berakibat rendahnya pemahaman berpendapat jarang diikuti oleh geografi (Khafid, 2010). gagasan lain, sehingga sebagian siswa merasakan bahwa Rendahnya pemahaman pembelajaran geografi ‗uniflying geography‘ disebabkan membosankan, kering, tidak jelas, paradigma pendidikan konvensional dan sulit dipahami. yang menggunakan metode pembelajaran klasikal dan ceramah, Ada lima faktor penyebab tanpa diselingi aneka metode rendahnya kualitas pemahaman pembelajaran inovatif, termasuk ‗uniflying geography‘, yaitu: (1) siswa adanya penyekat ruang struktural belum mampu menerapkan objek antara guru dan siswa. Pembelajaran formal studi geografi ketika 1
  • 38.
    mengkaji fenomena geosfer(objek memperhatikan gaya kognitif belajar material studi geografi), (2) siswa siswa. kurang memiliki kemampuan untuk Untuk meningkatkan merumuskan gagasan sendiri, (3) pemahaman ‗uniflying geography‘ siswa kurang memiliki keberanian diperlukan perubahan paradigma untuk menyampaikan pendapat yang digunakan sebagai landasan kepada orang lain, (4) siswa belum terbiasa menggunakan media peta dalam pembelajaran. Perubahan ketika belajar geografi. dan (5) siswa paradigma perlu memikirkan belum terbiasa bersaing bagaimana siswa belajar dan menyampaikan pendapat dengan bagaimana guru mengelola teman yang lain (Khafid, 2008:19). pembelajaran, bukan hanya Di samping itu, ada tiga faktor yang berfokus pada hasil belajar. mempengaruhi hasil belajar siswa, Menurut Degeng (2001a) tujuan yaitu: (a) faktor endogen, berasal utama pembelajaran adalah dari siswa, (b) faktor eksogen, mengembangkan kemampuan berasal dari lingkungan, dan (c) mental yang memungkinkan faktor jenis gaya kognitif yang seseorang dapat belajar. Riyanto digunakan siswa (Syah, 2001:130). Hasil belajar geografi yang rendah (2005:98) mengatakan bahwa tersebut bukan hanya dibebankan peran guru adalah memberikan kepada siswa, melainkan yang kemudahan kepada siswa untuk pertama bertanggung jawab adalah membangun sendiri pengetahuan guru geografi. Karena itu, guru perlu dalam benaknya. Guru memberi merefleksi model pembelajaran yang siswa anak tangga yang pernah diterapkan untuk mengubah membawa siswa ke pemahaman paradigma pembelajaran dengan 2
  • 39.
    yang lebih tinggidengan catatan fasilitas yang diperlukan siswa. siswa sendiri harus memanjat Selain itu, guru memberikan anak tangga tersebut. Jadi, dukungan dalam upaya belajar itu sendirilah yang meningkatkan temuan dan menjadi tujuan pembelajaran. perkembangan intelektual siswa. Keaktifan siswa menjadi unsur Beberapa kelebihan yang sangat penting dalam penerapan pembelajaran berbasis menentukan kesuksesan belajar. masalah di antaranya: (1) siswa Sebenarnya target yang harus lebih memahami konsep yang dipenuhi guru adalah siswa diajarkan sebab mereka sendiri mampu merekonstruksi sebuah yang menemukan konsep kejadian yang Model tersebut, (2) melibatkan secara pembelajaran berbasis masalah aktif memecahkan masalah dan menurut Mustaji (2004:73) menuntut keterampilan berikir penggunaannya di dalam siswa yang lebih tinggi, (3) pengembangan tingkat berpikir pengetahuan tertanam yang lebih tinggi dalam situasi berdasarkan skemata yang yang berorientasi pada masalah, dimiliki siswa sehingga termasuk pembelajaran pembelajaran lebih bermakna, bagaimana belajar. Pada (4) siswa dapat merasakan pembelajaran ini, guru bereran manfaat pembelajaran sebab mengajukan permasalahan atau masalah-masalah yang pertanyaan, memberikan diselesaikan langsung dikaitkan dorongan, memotivasi dan dengan kehidupan nyata, hal ini menyediakan bahan ajar, dan dapat meningkatkan motivasi 3
  • 40.
    dan ketertarikan siswaterhadap dideskripsikan sebagai cara bahan yang dipela-jari, (5) bagaimana seseorang siswa menjadikan siswa lebih mandiri mengolah informasi, dan lebih dewasa, mampu sehingga ia dapat mencapai prestasi memberi aspirasi dan menerima belajar yang maksimal (Degeng, pendapat orang lain, 2001b:1). menanamkan sikap sosial yang Pendapat Atkinson sebagaimana positif di antara siswa, dan (6) dikutip Lamba (2006:124) pengondisian siswa dalam belajar membedakan gaya kognitif, yaitu kelompok yang saling gaya kognitif field independent berinteraksi terhadap guru dan (articulated) dan field dependent (global). Siswa yang bergaya kognitif temannya sehingga pencapaian field independent mempunyai ketuntasan belajar siswa dapat kecenderungan untuk mencapai diharapkan. prestasi lebih tinggi daripada Gaya kognitif dapat kecenderungannya menghindari dikonsepsikan sebagai sikap, pilihan kegagalan. Mereka selalu optimis atau strategi yang secara stabil akan berhasil dan cenderung akan menemukan cara-cara siswa yang mencapai prestasi yang maksimal. khas dalam menerima, mengingat, Pendapat Witkin sebagaimana berpikir, dan memecahkan masalah. dikutip Degeng (2001b:3) siswa yang Menurut Slameto (2003:162) gaya bergaya kognitif field independent kognitif adalah ‖variabel penting cenderung melakukan analisis dan dalam pilihan-pilihan yang dibuat sintesis terhadap informasi yang oleh siswa dalam sejumlah hal dipelajari. Sebaliknya, siswa yang berhubungan dengan perkembangan bergaya kognitif field dependent akademik‖. Jadi, gaya kognitif 4
  • 41.
    lebih cenderung mengantisipasi tantangan, kegairahan, dan kerja kegagalan dengan memilih tugas- keras. tugas yang mudah dan sifatnya Kemungkinan berhasil atau harus banyak bimbingan, serta gagal dalam konsep gaya kognitif kurang mampu memisahkan hal-hal ada dua kecenderungan yaitu yang relevan dan tidak relevan kecenderungan mendekati dalam suatu situasi. Individu yang keberhasilan dan kecenderungan mempunyai gaya kognitif field menjauhi kegagalan. Gaya kognitif independent jika dihadapkan pada sebagai gaya usaha untuk berhasil tugas-tugas yang kompleks dan dan menganggapnya sebagai bersifat analisis cenderung dorongan dengan kecenderungan melakukannya dengan baik, dan mendekati suatu keberhasilan atau apabila berhasil, antusias untuk suatu yang berkaitan dengan melakukan tugas-tugas yang lebih prestasi. Gaya kognitif seseorang berat lebih baik lagi dan mereka individu ditentukan oleh kedua lebih senang untuk bekerja secara kecenderungan tersebut. mandiri. Gaya kognitif sebagai keinginan untuk mengalami Gaya kognitif memiliki landasan keberhasilan dan peran serta dalam teoretik dan empirik yang kokoh. kegiatan di mana keberhasilan Perilaku ini telah banyak diamati bergantung pada upaya dan pada bidang bisnis, pendidikan, dan kemampuan seseorang (Slavin, latar lainnya. Kajian Heller (1992) 1995). Gaya kognitif seseorang dapat menyimpulkan ada enam dilihat dari sikap dan perilaku, karakteristik gaya kognitif yang misalnya keuletan, ketekunan, daya konsisten ditemukan dalam konteks tahan, keberanian menghadapi sekolah yaitu: (1) siswa yang bergaya kognitif field independent lebih 5
  • 42.
    menyukai terlibat dalamsituasi ada Kajian tingkat gaya kognitif risiko kegagalan. Sebaliknya, siswa dalam penelitian ini terbatas pada yang bergaya kognitif field tingkat gaya kognitif yang dapat dependent cenderung memilih dilihat dari perilaku subjek. tugas-tugas mudah, (2) faktor kunci Misalnya, siswa mudah dipengaruhi yang memotivasi siswa bergaya oleh lingkungannya ataupun sulit kognitif field independent adalah dipengaruhi oleh lingkungan di kepuasan intrinsik dari keberhasilan mana siswa itu berada, harapan itu sendiri, bukan pada ganjaran untuk sukses, bekerja keras, ekstrinsik, seperti uang atau kekhawatiran akan gagal, dan prestise. Siswa yang bergaya kognitif keinginan memperoleh nilai yang field independent akan bekerja keras tinggi (Lamba, 2006) agar berhasil, (3) cenderung Mata pelajaran geografi membuat pilihan atau tindakan yang membangun dan mengembangkan realistis, dalam menilai pemahaman siswa tentang variasi kemampuannya dengan tugas-tugas dan organisasi spasial masyarakat, yang dikerjakan, (4) siswa yang tempat, dan lingkungan di bergaya kognitif field independent permukaan bumi. Dengan menyukai situasi yang dapat menilai karakteristik yang kompleks ini sendiri kemajuan dan pencapaian merupakan tantangan bagi siswa, tujuannya, (5) siswa yang bergaya sehingga siswa yang bergaya kognitif kognitif field independent perspektif field independent akan lebih tekun waktu jauh ke depan, dan (6) siswa belajar, bekerja keras, berusaha yang bergaya kognitif field semaksimal mungkin, dan tidak independent tidak selalu membuang-buang waktu karena menunjukkan rata-rata nilai yang merasa tertantang, mereka ingin tinggi di sekolah. 6
  • 43.
    berprestasi. Siswa yang bergaya kognitif field dependent tidak begitu rela untuk melibatkan diri sepenuhnya dalam mengerjakan tugas-tugas yang kompleks, karena takut gagal tidak mau menanggung risiko. Untuk menjadi geografi terpadu (unifying geography) perlu ditegaskan komponen inti geografi. Matthews dan Herbert (2004:379) Gambar 1. Konsep ‗Uniflying mengusulkan empat komponen inti Geography‘ geografi, yaitu: (1) ruang (space), Berdasarkan uraian di atas, tempat (place), lingkungan permasalahan penelitian ini dapat (environment), dan peta (maps). dirumuskan sebagai berikut: (1) Ruang, tempat, lingkungan, dan peta adakah perbedaan pemahaman menjadi label geografi. Keempat ‗uniflying geography‘ secara komponen tersebut mempunyai signifikan antara pembelajaran kedudukan yang sama dalam kajian berbasis masalah dan pembelajaran geografi, baik kajian geografi fisik konvensional?, (2) adakah maupun geografi manusia. Demikian perbedaan pemahaman ‗uniflying juga dapat menjadi dasar konsep geography‘ secara signifikan antara untuk disiplin geografi terpadu. siswa yang bergaya kognitif field independent dan siswa yang bergaya kognitif field dependent?, dan (3) adakah interaksi antara metode 7
  • 44.
    pembelajaran dan gaya kognitif pembelajaran berbasis masalah dan terhadap pemahaman ‗uniflying pembelajaran konvensional, (2) geography‘? variabel moderator yaitu gaya kognitif yang dikategorikan atas gaya Penelitian ini bertujuan untuk kognitif field independent dan gaya (1) menguji signifikansi pemahaman kognitif field dependent, dan (3) ‗uniflying geography‘ yang berbeda variabel terikat yaitu pemahaman antara pembelajaran berbasis ‗uniflying geography‘. Populasi masalah dan pembelajaran penelitian ini adalah siswa kelas X konvensional, (2) menguji SMAN 1 Sidayu semester genap perbedaan pemahaman ‗uniflying tahun pelajaran 2010/2011 dengan geography‘ secara signifikan antara jumlah siswa 280 orang. Sampel siswa yang bergaya kognitif field penelitian berjumlah 64 siswa independent dan siswa yang bergaya diambil dengan teknik random yang kognitif field dependent, dan (3) terdiri atas 32 siswa yang bergaya menguji interaksi antara metode kognitif field independent dan 32 pembelajaran dan gaya kognitif siswa yang bergaya kognitif field terhadap pemahaman ‗uniflying dependent. geography‘ Instrumen penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data METODE terdiri atas dua yaitu (a) tes gaya Jenis penelitian ini adalah kognitif, dan (b) tes pemahaman penelitian kuasi eksperimental geografi. Instrumen gaya kognitif dengan desain faktorial 2 x 2. terdiri dari 20 soal yang berbentuk Variabel-variabel yang diteliti adalah gambar-gambar yang rumit. Dalam (1) variabel bebas yaitu metode gambar-gambar yang rumit itu pembelajaran yang terdiri atas 8
  • 45.
    ditempatkan gambar yang Analisis data dalam penelitian ini sederhana. Sebagai jawabannya menggunakan teknik analisis siswa disuruh mencari gambar yang kovarian (anakova). sederhana itu di dalam gambar yang rumit dengan jalan menebalkan HASIL DAN PEMBAHASAN gambar yang sederhana tersebut. Hasil analisis dan pengujian Tes gaya kognitif dilaksanakan pada hipotesis menunjukkan bahwa ada minggu pertama bulan Januari 2011. perbedaan pemahaman ‗uniflying Tes pemahaman ‗uniflying geography‘ secara signifikan antara geography‘ dengan menggunakan 40 pembelajaran berbasis masalah dan soal pilihan ganda yang setelah pembelajaran konvensional. Temuan diujicobakan diperoleh soal yang ini membuktikan bahwa hipotesis memenuhi syarat valid dan reliabel yang diajukan dalam penelitian ini sebanyak 35 soal untuk setiap soal yaitu ada perbedaan pemahaman terdapat lima kemungkinan ‗uniflying geography‘secara jawaban. Sebelum dilakukan signifikan antara pembelajaran pengujian hipotesis, terhadap semua berbasis masalah dan pembelajaran data dilakukan uji prasyarat dengan konvensional siswa kelas X SMAN 1 uji normalitas dan uji homogenitas. Sidayu. Jadi, hipotesis yang diajukan Uji normalitas digunakan uji dalam penelitian ini diterima. Kolmogorov-Smirnov. Uji Maksudnya, metode pembelajaran homogenitas menggunakan berbasis masalah lebih unggul perangkat analisis Levene Statistic. daripada metode pembelajaran Dari pengujian ternyata bahwa konvensional dalam mempengaruhi semua kelompok data memenuhi pemahaman ‗uniflying geography‘. asumsi normalitas dan homogenitas. 9
  • 46.
    geography‘. Jadi, hipotesis yang diajukan dalam penelitian yaitu ada interaksi antara metode Hasil analisis dan pengujian pembelajaran dan gaya kognitif hipotesis menunjukkan bahwa ada terhadap pemahaman ‗uniflying perbedaan pemahaman ‗uniflying geography‘ siswa kelas X SMAN 1 geography‘ secara signifikan antara Sidayu ditolak. siswa yang bergaya kognitif field independent dan siswa yang bergaya Pengaruh Metode kognitif field dependent siswa kelas Pembelajaran terhadap X SMAN 1 Sidayu. Temuan ini Pemahaman „Uniflying menunjukkan bahwa siswa yang Geography‟ bergaya kognitif field independent rerata hasil belajarnya lebih tinggi Hasil analisis dan pengujian daripada siswa yang bergaya kognitif hipotesis menunjukkan bahwa ada field dependent. Jadi, hipotesis yang perbedaan pemahaman ‗uniflying diajukan dalam penelitian ini grography‘ secara signifikan antara diterima. Maksudnya, siswa yang metode pembelajaran berbasis bergaya kognitif field independent masalah dan metode pembelajaran lebih baik pemahaman geografinya konvensional. Temuan ini daripada siswa yang bergaya kognitif membuktikan bahwa hipotesis yang field dependent. diajukan dalam penelitian ini yaitu ada perbedaan pemahaman Hasil analisis dan pengujian .uniflying geography‘ siswa kelas X hipotesis menunjukkan bahwa tidak SMAN 1 Sidayu. ada interaksi antara metode pembelajaran dan gaya kognitif Geografi merupakan ilmu terhadap pemahaman ‗uniflying integratif yang mempelajari 10
  • 47.
    fenomena geografis mencakup dimensi fisik dan sosial di permukaan bumi dalam perspektif keruangan untuk pembangunan wilayah supaya manusia hidup sejahtera. Geografi sebagai disiplin ilmu dan mata pelajaran dengan kajian fenomena geografis yang cukup luas, kompleks, dan sulit sehingga menuntut kemampuan siswa memecahkan masalah untuk dapat memahami fenomena fisik Gambar 2. Geografi dan bidang- dan sosial secara komprehensif bidang ilmu bantunya (Haggett, dengan pendekatan spasial maka 2001:766). guru geografi harus melakukan Geografi dan bidang-bidang ilmu pembelajaran berbasis masalah bantunya dapat dikuasai oleh siswa, dengan melibatkan siswa secara antara lain jika digunakan metode aktif. Untuk dapat memahami pembelajaran berbasis masalah. Hal fenomena fisik dan sosial di ini menurut Khafid (2010:77) karena permukaan bumi dalam perspektif siswa akan lebih banyak kesempatan spasial maka siswa perlu mendalami untuk berpartisipasi, memberi dan ilmu geografi dan ilmu bantu menerima bantuan dalam geografi dengan bimbingan guru menjelaskan dan meningkatkan melalui kajian Gambar 2. belajar dalam kelompok, meningkatkan motivasi untuk sukses karena sukses tidak hanya untuk 11
  • 48.
    dirinya sendiri tetapijuga untuk Pengaruh Gaya Kognitif kelompoknya. Motivasi yang baik terhadap ‟Uniflying Geography‟ dalam mengerjakan tugas akan Hasil analisis dan pengujian membantu perkembangan belajar, hipotesis menunjukkan ada siswa tidak terisolasi, siswa diberi perbedaan pemahaman ‘uniflying lebih banyak tanggung jawab. geography‘ secara signifikan antara Metode pembelajaran berbasis siswa yang bergaya kognitif field masalah menggunakan level yang independent dan siswa yang bergaya lebih tinggi dalam berpikir. kognitif field dependent. Temuan ini Berinteraksi dengan teman atau menunjukkan bahwa siswa yang orang lain mendorong orang untuk bergaya kognitif field independent membangun kembali pikiran mereka rerata hasil belajarnya lebih tinggi seperti merangkum, menguraikan, daripada siswa yang bergaya kognitif dan menjelaskan. Ketidaksetujuan, field dependent. Jadi, hipotesis yang jika ditangani dengan baik akan diajukan dalam penelitian ini membantu dalam kejernihan diterima dan siswa yang bergaya berpikir dan meningkatkan untuk kognitif field independent lebih baik membangun kembali pengetahuan pemahaman geografinya daripada yang baru. Mendengarkan perspektif siswa yang bergaya kognitif field orang lain, terutama dalam dependent. Temuan ini memperkuat kelompok yang heterogen, penelitian McCelland (dalam meningkatkan kesadaran bahwa Slameto, 2003) yang menyatakan banyak cara pandang, menghargai bahwa seorang yang bergaya kognitif keberagaman sebagaimana tuntutan field independent lebih baik hasil studi geografi. belajarnya (pemahaman geografi) 12
  • 49.
    dibandingkan dengan yangbergaya tidak begitu rela untuk melibatkan kognitif field dependent. diri sepenuhnya dalam mengerjakan tugas belajar yang dihadapinya. Dalam rangka belajar di sekolah Pada siswa yang bergaya kognitif gaya kognitif terwujud sebagai daya field independent berusaha secara penggerak siswa, sikap, dan perilaku maksimal, ukuran mengenai prestasi untuk mengusahakan kemajuan banyak ditentukan oleh usaha belajar dan berprestasi yang mereka sendiri ataupun belajar maksimal. Siswa yang bergaya dengan teman-teman. Siswa yang kognitif field independent keinginan bergaya kognitif field dependent untuk sukses benar-benar berasal dengan mudah dipengaruhi oleh dari dalam diri sendiri. Siswa ini lingkungannya, baik lingkungan tetap bekerja keras baik dalam belajar maupun lingkungan situasi bersaing dengan orang lain, hidupnya. Ia ingin menghindari maupun dalam bekerja sendiri. kegagalan dan bersamaan dengan itu Siswa yang bergaya kognitif field memiliki aspirasi yang tidak independent untuk memperoleh realistis, menentukan target yang prestasi baik, dia mencapai sesuai sebenarnya terlalu rendah atau dengan taraf kemampuannya. Untuk terlalu tinggi untuk mencari jaminan itu, lebih tekun belajar, bekerja tidak akan mengalami kegagalan. keras, ingin berkompetisi sehingga Siswa yang bergaya kognitif field tidak pernah membuang-buang independent memiliki harapan waktu. Pengalamannya bersukses untuk sukses dan bekerja secara meningkatkan usaha untuk sukses mandiri. Mereka tidak mudah lagi dikemudian hari. Sebaliknya, dipengaruhi oleh lingkungannya siswa yang bergaya kognitif field sehingga selalu mau belajar terus dependent untuk berprestasi baik sepanjang hayat. 13
  • 50.
    lainnya. Dalam penelitian ini Interaksi Metode Pembelajaran terungkap bahwa tidak ada interaksi, dan Gaya Kognitif terhadap ini berarti bahwa metode Pemahaman „Uniflying pembelajaran bekerja sendiri-sendiri Geography‟ memengaruhi pemahaman belajar geografi, demikian juga dengan gaya Hasil analisis dan pengujian kognitif bekerja sendiri-sendiri hipotesis menunjukkan bahwa tidak terhadap pemahaman belajar ada interaksi antara metode geografi. Atau dengan kata lain pembelajaran dan gaya kognitif metode pembelajaran berbasis terhadap pemahaman ‗uniflying masalah dan metode pembelajaran geography‘. Jadi, hipotesis yang konvensional membawa suatu akibat diajukan dalam penelitian yaitu ada terhadap hasil belajar geografi siswa interaksi antara metode kelas X SMAN 1 Sidayu apapun juga pembelajaran dan gaya kognitif tingkat gaya kognitifnya. Demikian terhadap pemahaman ‗uniflying dengan gaya kognitif, gaya kognitif geography‘ siswa kelas X SMAN 1 field independent dan gaya kognitif Sidayu terbukti tidak ada interaksi. field dependent membawa suatu Interaksi dalam penelitian ini akibat terhadap pemahaman diartikan kerja sama dua variabel ‗uniflying geography‘ siswa kelas X bebas atau lebih dalam SMAN 1 Sidayu apapun juga metode mempengaruhi suatu variabel pembelajarannya. terikat. Interaksi terjadi manakala Belajar adalah penyusunan suatu variabel bebas memiliki efek- pengetahuan dari pengalaman efek yang berbeda terhadap suatu konkrit, aktivitas kolaborasi, refleksi, variabel terikat pada berbagai dan interpretasi. Aktivitas belajar tingkat dari suatu variabel bebas 14
  • 51.
    lebih banyak didasarkandata primer mata pelajaran tertentu dalam dan bahan manipulatif dengan pembelajaran, sehingga tujuan penekanan pada keterampilan pembelajaran dapat tercapai. Proses berpikir kritis dan kompleks. belajar itu sendiri merupakan suatu Karakteristik siswa begitu sangat sistem pembelajaran yang secara kompleks meliputi antara lain otomatis terjadi dalam diri intelegensia, sikap, gaya belajar, seseorang. Tugas pendidik adalah gaya kognitif, gaya berpikir, dan bagaimana membelajarkan peserta motivasi. didik di sekolah supaya mereka memiliki kecakapan hidup dan Gaya kognitif hanyalah salah berkembang kecerdasan satu bagian dari sekian banyak majemuknya. karakter sehingga kalau interaksi belum tampak dalam penelitian ini, hal itu dapat dimaklumi, masih SIMPULAN DAN SARAN memerlukan pengkajian lebih Ada perbedaan pemahaman mendalam dengan memasukkan ‗uniflying geography‘ secara variabel-variabel lain sebagai signifikan antara pembelajaran variabel kovarian atau berbasis masalah dan pembelajaran mengeliminasi variabel-variabel konvensional siswa kelas X SMAN 1 tersebut dalam penelitian. Demikian Sidayu. Motode pembelajaran juga metode pembelajaran, begitu berbasis masalah lebih unggul banyaknya model-model daripada metode pembelajaran pembelajaran dan memang harus konvensional dalam mempengaruhi diakui bahwa tidak ada ketentuan pemahaman ‗uniflying geography‘. yang pasti mengenai metode Ada pemahaman ‗uniflying pembelajaran yang cocok untuk satu geography‘ yang berbeda secara 15
  • 52.
    signifikan antara siswayang bergaya dependent) membawa suatu akibat kognitif field independent dan siswa terhadap pemahaman ‗uniflying yang bergaya kognitif field geography‘ apapun juga metode dependent di kelas X SMAN 1 pembelajarannya. Sidayu. Siswa yang bergaya kognitif Pembelajaran berbasis masalah field independent pemahaman adalah salah satu model belajar geografinya lebih tinggi pembelajaran yang dapat daripada siswa yang bergaya kognitif meningkatkan prestasi akademik, field dependent. kecakapan sosial, dan kecakapan Tidak ada interaksi antara komunikasi, siswa menjadi lebih metode pembelajaran (metode aktif, aktivitas belajar pembelajaran berbasis masalah dan menyenangkan, dan menggairahkan. metode pembelajaran konvensional) Guru geografi disarankan untuk dan gaya kognitif (gaya kognitif field memulai dengan model independent dan gaya kognitif field pembelajaran berbasis masalah, dependent) terhadap pemahaman karena model pembelajaran ini ‗uniflying geography‘ siswa kelas X adalah sebagai salah satu metode SMAN 1 Sidayu. Metode yang mampu memahami konsep pembelajaran (metode pembelajaran esensial geografi dan memecahkan berbasis masalah dan metode permasalahan spasial global. pembelajaran konvensional) Gaya kognitif adalah salah satu membawa suatu akibat terhadap karakteristik siswa yang perlu pemahaman belajar geografi apapun mendapat perhatian guru di sekolah. juga tingkat gaya kognitif siswa. Siswa yang bergaya kognitif field Gaya kognitif (gaya kognitif field independent berikanlah tugas-tugas independent dan gaya kognitif field yang menantang namun 16
  • 53.
    memungkinkan untuk sukses, mencoba berbagai metode mulailah dengan tugas-tugas yang pembelajaran inovatif sedang. Sebaliknya, siswa yang bergaya kognitif field dependent berikanlah motivasi terutama dalam hal tujuan belajar di sekolah, mulailah dengan tugas-tugas yang mudah. Peningkatan kualitas belajar bukan merupakan kegiatan yang insidental, melainkan harus merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Tidak ada ketentuan yang pasti mengenai metode pembelajaran yang paling tepat digunakan. Tepat tidaknya suatu metode baru terbukti dari hasil belajar siswa melalui evaluasi yang berkelanjutan dan beragam yang mampu memahami konsep geografi yang satu (uniflying geography) dan fenomena geosfer atau masalah kegeografian melalui pendekatan spasial dengan sudut pandang ekologi manusia dan regional. Guru geografi disarankan melakukan penelitian dengan 17
  • 54.
    DAFTAR RUJUKAN Daldjoeni, N.1997. Pengantar Geografi untuk Mahasiswa dan Guru Sekolah Bandung: Alumni. Degeng, I.N.S. 2001a. Teori Belajar dan Pembelajaran. Malang: LP3 UM. Degeng, I.N.S. 2001b. Karakteristik Belajar Mahasiswa: Kajian Temuan Peneli- Tian dan Terapannya dalam Rancangan Pembelajaran. Malang: LP3 UM. Heller, P.1992. Teaching Problem Solving Through Cooperative Grouping, Part I: Group versus Individual Problem Solving. New York: McGraw-Hill. Haggett, P. 2001. Geography A Global Synthesis. London: Prentice Hall. Khafid, S. 2003. Pengembangan Rancangan Pembelajaran dengan Pendekatan Konstruktivistik pada Mata Pelajaran Geografi. Tesis tidak diterbitkan. Sura- baya: PPS Teknologi Pembelajaran Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Khafid, S. 2007. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model Jigsaw dan Gaya Kognitif terhadap Prestasi Belajar Geografi Siswa Kelas X SMAN 1 Sidayu. Jurnal Forum Pendidikan & Ilmu Pengetahuan, II (04): 31-40. Khafid, S. 2008. Peningkatan Pemahaman Konsep Geografi melalui Implementasi Ayat-Ayat Pembelajaran Kontekstual Siswa SMAN 1 Sidayu. Jurnal Kajian Teori dan Praktik Kependidikan, 35 (1): 17-28. Khafid, S. 2010. Pembelajaran Kooperatif Model Investigasi Kelompok, Gaya Kognitif, dan Hasil Belajar Geografi. Jurnal Ilmu Pendidikan, 17 (1): 73-78. Lamba, H.A. 2006. Pengaruh Pembelajaran Kooperatif Model STAD dan Gaya Kognitif terhadap Hasil Belajar Fisika Siswa SMA. Jurnal Ilmu Pendidikan, 13 (2): 122-128. Matthews, J.A. and Herbert, D.T. 2004. Unifying Geography Common Heritage, Shared Future. London: Routledge. Mustaji. 2004. Pembelajaran Berbasis Konstruktivistik. Surabaya: Unesa Univer- sity Press. Nur, M. dan Wikandari, P.R. 1999. Pengajaran Berpusat kepada Siswa dan 18
  • 55.
    Pendekatan Konstruktivis dalamPengajaran. Surabaya: Unesa University Press. Riyanto, Y. 2005. Paradigma Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press. Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. Slavin, R.E. 1995. Cooperative Learning Research, Theory and Practice. Boston: Allyn and Bacon. Suharyono dan Amien, M. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: Dirjen. Dikti. Depdikbud. Suparno, P. 1997. Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius. Syah, M. 2001. Psikologi Belajar. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. IKLIM KERJA LEMBAGA DI PONDOK PESANTREN AL-FUTUHIYAH GENDONGKULON-BABAT LAMONGAN 19
  • 56.
    Sri Sundari *) Abstrak,Iklim kerja yang kondusif adalah suatu kondisi, keadaan atau suasana kerja yang dirasakan menyenangkan oleh setiap individu yang ada dalam lembaga sehingga orang- orang di dalamnya selalu terdorong untuk terlibat secara produktif guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien. Lembaga penyelenggara pendidikan salah satunya memiliki fungsi dalam usaha-usaha mengembangkan pendidikan dalam rangka ikut dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keadaan iklim kerja di Pondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan fokus penelitian adalah iklim kerja di Pondok Pesantren Al Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan. Data dikumpulkan dengan kuesioner selanjutnya data ditampilkan dengan tabel dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklim kerja organisasi yang meliputi, suasana kerja, orientasi nilai, citra diri, gaya kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, dan sistem ganjaran dirasakan nyaman, kondusif, penuh keakraban dan kekeluargaan, saling menghargai oleh pegawainya, dan terlaksananya kepemimpinan dengan baik. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan pimpinan pesantren dapat mempertahankan dan meningkatkan iklim kerja yang ada khususnya suasana kerja, orientasi nilai, gaya kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap, ganjaran dan meningkatkan citra diri orgaisasi di Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan. Kata Kunci : Iklim Kerja PENDAHULUAN dengan baik, apabila setiap personil yang ada baik pimpinan maupun staf Peningkatan prestasi kerja dalam mempunyai pandangan bahwa suatu lembaga merupakan tujuan yang ―Keseluruhan lebih berarti dan bagian‖. diinginkan oleh lembaga. Sebagai satu Sebagai faktor utama dalam lembaga, kesatuan yang kompleks dimana di kelangsungan hidup dan keberhasilan dalamnya terdapat sekelompok manusia lembaga bergantung pada manusia yang yang memiliki kesamaan tujuan dan berperan dibalik alat-alat ataupun kepentingan, mereka kurang bekerja sumber-sumber daya lainnya. Oleh sebab secara produktif jika tidak disertai dengan itu, seharusnyalah lembaga sebagai wadah adanya iklim kerja yang menyenangkan. manusia beraktifitas mempunyai Lembaga sebagai suatu proses, di tanggungjawab penuh untuk dalamnya terdapat kerjasama antara mengembangkan kualitas sumber daya pimpinan dan pegawai dalam pencapaian manusia yang dimiliki serta selalu tujuan lembaga. Kerjasama dapat tercipta menciptakan iklim kerja yang kondusif 20
  • 57.
    dalam pencapaian tujuanyang telah kondusif telah dikemukakan oleh Stoner ditetapkan. (dalam Mulyono, 1993:67) yang mana iklim kerja yang permisifdan kreatifakan Lingkungan tempat bekerja terpupuk apabila para individu merupakan faktor penting yang dapat mempunyai kesempatan untuk mempengaruhi kinerja pegawai di berinteraksi dengan para anggota dalamnya, walaupun ada faktor-faktor lain kelompoknya sendiri maupun dengan yang menentukan maupun kelompok-kelompok kerja lainnya. mempengaruhinya. Orang-orang yang Interaksi semacam ini mendorong berada di dalam lembaga, tempat bekerja terjadinya pertukaran informasi yang haruslah mampu menciptakan iklim kerja bermanfaat, arus gagasan yang bebas dan yang memberikan rasa aman, pengakuan perspektif yang sehat mengenai masalah dan penghargaan serta menjanjikan yang ada. kepuasan kerja kepada anggotanya sehingga nanti pada akhirnya mampu Berkenaan dengan iklim kerja berkinerja dengan baik. Iklim lembaga lembaga menurut Stoner (1982) ada dua yang menyenangkan akan tercipta, golongan yang mempengaruhi situasi bilamana hubungan antar manusia pekerjaan, yaitu lingkungan kerja (human relationship) berkembang dengan langsung di dalamnya termasuk sistem harmonis. Lingkungan kerja yang imbalan lembaga dan kebijakan serta harmonis yang mendukung lembaga tindakan lembaga. Sedangkan Cribbin, dibutuhkan oleh orang-orang dalam (1981) menjelaskan salah satu unsur iklim lembaga baik atasan maupun bawahan. kerja lembaga yang kondusif adalah gaya Hal ini sejalan dengan pemikiran Stoner kepemimpinan. Dengan demikian iklim dalam Mulyono (1993:88) iklim kerja / kerja yang kondusif adalah suatu kondisi, suasana lembaga (work situation keadaan atau suasana kerja yang characteristic) adalah faktor lingkungan dirasakan menyenangkan oleh setiap kerja individu. Di dalam lembaga individu yang ada dalam lembaga sehingga hendaknya timbul dinamika kerjasama. orang-orang di dalamnya selalu terdorong Kerja sama ini adalah bagian yang vital untuk terlibat secara produktif guna dalam kehidupan berlembaga. Adanya mencapai tujuan yang telah ditetapkan interaksi dan proses kerja sama anggota secara efektif dan efisien. satu dengan anggota lainnya, antara bagian satu dengan bagian yang lainnya Sebagai lembaga penyelenggara maupun antara atasan dan pegawainya pendidikan, Pondok Pesantren Al- akan menimbulkan pemahaman terhadap Futuhiyah Gendongkulon-Babat suatu kondisi dan lingkungan kerja Lamongan memiliki fungsi yang urgen sehingga mudah untuk mencrima dalam usaha-usaha mengembangkan informasi dan arus gagasan (ide) dalam pendidikan di daerah dalam rangka ikut melakukan kerjasama guna mencapai dalam meningkatkan pendidikan daerah. tujuan. Secara keseluruhan keadaan iklim kerja di lingkungan Pondok Pesantren Al- Pentingnya kebebasan berinteraksi Futuhiyah Gendongkulon-Babat dan menjalin hubungan dalam lembaga Lamongan dapat dikatakan kondusif. Hal untuk menciptakan iklim kerja yang ini bisa dilihat bagaimana masing-masing 21
  • 58.
    unit kerja begituberhati-hati dalam lalu dan sekarang dengan melihat variabel menjalankan tugas dan wewenang yang yang ada. diberikan oleh. Contohnya, informasi internal lembaga benar-benar dijaga Penelitian ini berupa penelitian kerahasiaannya, meskipun berusaha deskriptif karena penelitian ini bertujuan mendapatkannya dengan prosedur yang untuk mencatat, mendeskripsikan, benar. Setiap unit menjalankan tugasnya menganalisis dan menginterpretasikan dengan sistem birokrasi lembaga yang keadaan-keadaan yang ada tentang objek baik sesuai dengan fungsi tiap-tiap yang akan diteliti (Mardalis, 1990: 26). unit/bagian yang terdapat pada struktur Dengan melihat variabel yang ada di lembaga. Dengan kata lain tiap-tiap dalam penelitian ini, penelitian ini unit/bagian bekerja benar-benar merupakan penelitian deskriptif dengan mengikuti aturan sistem ―pintu ke pintu‖ menggunakan pendekatan kuantitatif. (door to door). Begitu juga hubungan antar rekan kerjanya yang terjalin dengan baik antara satu dengan yang lain, Populasi dan Sampel Penelitian meskipun masih terdapat hubungan yang kurang baik. Populasi Populasi sebagai ―keseluruhan subjek yang diteliti yang didapat dan suatu METODE PENELITIAN informasi tentang masalah penelitian yang akan dilakukan‖ (Arikunto. 1992:102). Latunussa (1988:11) menjelaskan ― Rancangan Penelitian populasi adalah sekumpulan objek yang diteliti‖. Dalam penelitian ini, yang Rancangan penelitian pada dasarnya menjadi populasi adalah seluruh staf di merupakan keseluruhan proses dan Pondok Pesantren Al-Futuhiyah penentuan secara matang hal-hal yang Gendongkulon-Babat Lamongan yang dilakukan untuk dijadikan pedoman berjumlah 67 orang. Lebih jelasnya dapat selama pelaksanaan penelitian. Suatu dilihat pada tabel berikut. penelitian diselenggarakan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Tabel 1 diperlukan metode penelitian yang sesuai. Berkaitan dengan metode penelitian, Jumlah Staf Pondok Pesantren Al- Surakhmad (1982: 131) mengemukakan Futuhiyah Gendongkulon-Babat tiga macam metode penelitian yaitu : Lamongan historis, deskriptif dan eksperimen. Ditinjau dan masalah dan tujuan No Sub. Bagian Jumlah penelitian, maka penelitian ini menggunakan rancangan penelitian 1. Penasehat 4 2. Penanggungjawab 1 deskriptif yang bertujuan untuk 3. Pimpinan 4 mendeskripsikan kejadian-kejadian masa 4. Staf Pengajar 25 5. Tata Usaha 5 22
  • 59.
    6. Dewan Pengurus 10 Dengan melihat penjelasan di atas 7. Bendahara 2 untuk mendapatkan sampel yang 8. Sekretaris 2 representatif maka sampel yang 9. Pegawai 8 digunakan dalam penelitian ini adalah Jumlah 67 sampel total. Dengan kata lain semua Sumber Pondok Pesantren AI-Futuhiyah populasi akan menjadi subjek penelitian. Gendongkulon Babat Lamongan Sampel Penelitian Tujuan pengambilan sampel Instrumen Penelitian penelitian dimaksudkan untuk mengatasi Instrumen penelitian adalah alat keterbatasan tenaga, waktu dan biaya, yang digunakan oleh seorang peneliti namun sampel harus mewakili atau dalam pengumpulan data. Instrumen mencerminkan seluruh populasi yang penelitian yang digunakan untuk menjadi objek penelitian. menyimpulkan data dari lapangan untuk Definisi sampel penelitian banyak variabel iklim kerja lembaga adalah dikemukakan oleh para ahli, Arikunto angket. Alasan menggunakan angket (1996:117) menjelaskan sampel adalah adalah karena pertimbangan keterbatasan ―Sebagian atau wakil populasi yang waktu, tenaga dan biaya. diteliti‖. Sedangkan Hadi (1997:21) mengemukakan bahwa sampel adalah ―Sejumlah penduduk yang jumlahnya Prosedur Pengembangan Instrumen kurang dari populasi‖. Sampel penelitian ini diambil acuan sebagai wakil populasi Berkaitan dengan pengembangan yang representatif. Ukuran besarnya instrumen, maka langkah berikutnya yaitu sampel yang pasti memang tidak ada, menyusun instrumen masing-masing namun untuk menjaga validitas data variabel yang berpedoman pada indikator penelitian harus mempunyai pedoman yang disajikan pada jabaran-jabaran. tertentu. Seperti yang dikemukakan oleh Kemudian jabaran masing-masing Arikunto (1996: 120) ―Apabila subjeknya variabel ditetapkan dan disajikan dalam kurang dari 100, lebih baik diambil bentuk matrik jabaran variabel, sub seluruhnya, sehingga merupakan variabel dan indikator penelitian. Sebaran penelitian populasi, selanjutnya jika nomer item instrumen penelitian ini dapat jumlah subjeknya besar dapat diambil dilihat pada tabel 2 berikut. antara 10-15% atau 20-50 atau lebih‖. 23
  • 60.
    Tabel 2 Jabaran variabel, sub variabel, indikator penelitian san nomor item dalam instrumen penelitian (sebelum uji coba) Variabel Sub Variabel Indikator No. Item Iklim kerja a. Suasana kerja a. Suasana kerja yang hangat, ramah, santai dan penuh 1,2,3 lembaga kesungguhan b. Saling menghargai 4 c. Saling menolong 5 d. Terbuka terhadap gagasan baru 6 b. Orientasi a. Mengerjakan yang baik-baik 7 nilai b. Kerjasama dengan orang lain 8 c. Perlakuan etis 9 d. Memperbaiki prestasi 10 e. Memutuskan tujuan unit atau lembaga 11 c. Citra diri a. Cakap 12 b. Percaya diri 13 c. Sangat konservatif dan hati-hati 14 d. Gaya a. Konsultatif dan partisipatif 15,16 kepemimpina b. Berorientasi pada pemecahan masalah bersama 17 n c. Memberikan pengarahan dan pengendalian 18 d. Berorientasi pada manusia 19 e. Banyak membantu dan memudahkan 20 f. Adil 21 g. Inovatif 22 h. Berorientasi pada kebaikan dan terpusat pada perspektif 23,24 jangka pendek dan jangka panjang 25,26,27,28 e. Daya tolak a. Tumbuh sesuai rencana 29 atau daya b. Mempertahankan kedudukan 30 dorong c. Menekan inovasi dan teknologi 31,32,33 d. Menekannkan sumber daya manusia dan manajemen 34,35 f. Daya tangkap a. Kecepatan lembaga yang tinggi 36 b. Tidak tergesa-gesa 37 c. Direncanakan 38 g. Ganjaran a. Ganjaran materi 1. Gaji 39 2. Tunjangan 40,41,42,43 b. Ganjaran psikologis 1. Pengakuhan dan penghargaan 44 2. Perhatian dan tanggung jawab 45 24
  • 61.
    Analisis Data Analisis data merupakan bagian Banyaknya interval/kategori kelas dalam metode penelitian yang sangat penting penelitian ini ditetapkan berjumlah 4 dalam mencari makna data untuk yaitu: memecahkan masalah penelitian. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan Tabel 3 dalam penelitian ini. Untuk menentukan teknik analisis yang tepat, maka harus Kategori dan Penafsiran Skala Sikap memperhatikan tujuan penelitian dan data Katagori Penafsiran yang tersedia. Skor interval kelas skala sikap Sangat tinggi Selalu 3,24 – 4 Teknik analisis data yang digunakan Tinggi Sering 2,6 – 3,25 dalam penelitian ini adalah teknik analisis Cukup Kadang- 1,76 – 2,5 deskriptif. Teknik ini digunakan untuk kadang mendeskripsikan atau menggambarkan Kurang Tidak pernah 1 – 1,75 kondisi yang ada/tingkat iklim kerja lembaga yang dirasakan oleh pegawai di Menentukan besarnya persentase Lingkungan Pondok Pesantren Al- Futuhiyah Gendongkulon-Babat Untuk menyatakan kondisi masing- Lamongan (tujuan umum) serta masing variabel dengan rumus : keadaan/tingkat lingkungan kerja langsung, orientasi nilai, citra diri, gaya %= kepemimpinan, daya dorong, daya tanggap dan pemberian kompensasi Keterangan : f = Frekuensi N = Jumlah pegawai di Lingkungan Pondok Pesantren subyek Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan (tujuan khusus). Adapun langkah-langkah yang perlu dilaksanakan HASIL PENELITIAN adalah : Tabel 4 Menentukan kualifikasi Deskripsi Data Variabel Iklim Kerja Langkah ini dilakukan untuk Lembaga menentukan kualifikasi penilaian terhadap variabel penelitian, yang harus ditentukan B. Kelas No. Kualifikasi f % terlebih dahulu lebar kelas intervalnya. interval Sedangkan untuk menentukan lebar kelas 1. Sangat tinggi 131 – 160 25 37,31 2. Tinggi 101 – 130 39 58,20 interval (i) adalah rentang (R)= skor 3. Cukup 71 – 100 3 4,47 tertinggi dikurangi dengan skor terendah, 4. Kurang 40 – 70 - - dibagi dengan banyaknya interval (k). Total 67 100 Dengan demikian rumus untuk menentukan panjang interval (i) adalah : 25
  • 62.
    Berdasar hasil pengolahandata sponden dengan persentase 11,95% variabel iklim kerja lembaga di Pondok menyatakan bahwa suasana kerja di Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- Pondok Pesantren Al-Futuhiyah Babat Lamongan menunjukkan bahwa Gendongkulon-Babat Lamongan berada secara umum berada pada kategori tinggi dalam kategori sangat tinggi dan 8 orang yaitu sebesar 58,20% atau sebanyak 39 reponden lainnya dengan persentase dari 67 responden menyatakan bahwa sebesar 11,95% menyatakan bahwa iklim kerja lembaga di Pondok Pesantren suasana kerja di Pondok Pesantren Al- Al- Futuhiyah Gendongkulon-Babat Futuhiyah Gendongkulon Babat Lamongan berada dalam kategori tinggi. Lamongan berada dalam kategori cukup. Hal ini sesuai dengan pendapat Kossen (1986) menjelaskan bahwa hubungan manusiawi merupakan tanggungjawab Tabel 6 setiap orang dalam lembaga. Manajer mempunyai tanggung jawab utarna untuk Deskripsi Data untuk Sub Variabel menegakkan iklim hubungan manusiawi Orientasi Nilai yang menyenangkan, demikian pula para anggota (sub ordinal) dan para karyawan D. Kelas No. Kualifikasi f % interval operasional lembaga juga mempunyai 1. Sangat tinggi 16,26 – 20 12 17,91 pengaruh terhadap iklim dan seyogyanya 2. Tinggi 12,51 – 16,25 43 64,17 berbagi tanggungjawab. 3. Cukup 8,76 – 12,50 12 17,91 4. Kurang 5 – 8,75 - - Total 67 100 Hasil pengolahan data untuk sub Tabel 5 variabel orientasi nilai dengan Deskripsi Data untuk Sub Variabel menggunakan teknik persentase Suasana Kerja menunjukkan bahwa secara umum orientasi nilai di Pondok Pesantren Al- C. Kelas Futuhiyah Gendongkulon-Babat No. Kualifikasi f % interval Lamongan berada pada kategori tinggi 1. Sangat tinggi 16,26 – 20 8 11,95 yaitu sebesar 64,17% atau sebanyak 43dari 2. Tinggi 12,51 – 16,25 51 76,12 67 responden menyatakan bahwa orientasi 3. Cukup 8,76 – 12,50 8 11,95 4. Kurang 5 – 8,75 - - nilai pegawai di Pondok Pesantren Al- Total 67 100 Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan berada dalam kategori tinggi. Sedangkan masing-masing 15 responden Tabel 5 menunjukkan bahwa secara dengan persentase sebesar 17,91% umum suasana kerja di Pondok Pesantren menyatakan bahwa orientasi nilai di Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan berada pada kategori tinggi Lamongan berada dalam kategori sangat yaitu sebesar 76,12% atau sebanyak 51 dan tinggi dan kategori cukup 67 responden menyatakan bahwa suasana kerja di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan berada dalam kategori tinggi. Sedangkan 8 Tabel 7 26
  • 63.
    Deskripsi Data untukSub Variabel Citra Diri Tabel 8 menunjukkan bahwa secara umum gaya kepemimpinan di pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- E. Kelas Babat Lamongan berada pada kategori No. Kualifikasi f % interval sangat tinggi dengan persentase 53,73% 1. Sangat tinggi 9,76 – 12 17 25,37 2. Tinggi 7,51 – 9,75 10 14,93 atau sebanyak 36 dari 67 responden 3. Cukup 5,26 – 7,50 30 44,78 menyatakan bahwa gaya kepemimpinan di 4. Kurang 3 – 5,25 10 14,93 kantor Dinas Penididikan Kabupaten Total 67 100 Situbondo berada dalam kategori sangat tinggi. Ini menunjukkan bahwa para Tabel 7 menunjukkan bahwa secara umum pegawai merasa puas dengan gaya citra diri di Pondok Pesantren Al- pemimpinan atasannya, mereka merasa Futuhiyah Gendongkulon-Babat diperhatikan, diarahkan dan dilibatkan Lamongan berada pada kategori cukup dalam setiap pemecahan masalah di dalam dengan persentase sebesar 44,80% atau lembaga, selain itu mereka merasa 30 dari 67 responden menyatakan bahwa dimudahkan dan dibantu oleh atasan. citra din lembaga di Pondok Pesantren Al- Sedangkan 23 responden dengan Futuhiyah Gendongkulon-Babat persentase sebesar 34,32% menyatakan Lamongan berada dalam kategori cukup. bahwa gaya kepemimpinan atasan berada Sedangkan 17 responden dengan dalam kategori tinggi dan 8 responden persentase sebesar 23,90% menyatakan dengan prentase sebesar 11,94% bahwa citra diri lembaga berada dalam menyatakan dalam kategori cukup. kategori sangat tinggi, 10 responden Semakin efektif gaya kepemimpinan yang dengan persentase sebesar 14,92% dilakukan maka akan mempermudah menyatakan berada dalam kategori tinggi pencapaian tujuan lembaga yang dan 10 responden dengan persentase yang ditetapkan. sama sebesar 14.92% menyatakan berada pada kategori kurang Tabel 8 Deskripsi Data untuk Sub Variabel Gaya Kepemimpinan F. Kelas Tabel 9 No. Kualifikasi f % interval 1. Sangat tinggi 40 – 48 36 53,73 Deskripsi Data untuk Sub Variabel 2. Tinggi 31 – 39 23 34,33 Daya Dorong 3. Cukup 22 – 30 8 11,94 4. Kurang 12 – 21 - - Total 67 100 27
  • 64.
    G. Kelas 85,07% atau 57 dari 67 responden No. Kualifikasi f % interval menyatakan bahwa daya tanggap lembaga 1. Sangat tinggi 19,51 – 24 37 55,22 berada dalam kategori sangat tinggi. 2. Tinggi 15,01 – 19,50 23 34,33 Sedangkan 9 responden dengan 3. Cukup 10,51 – 15,00 7 10,45 4. Kurang 6 – 10,50 - - persentase sebesar 13,43% menyatakan Total 67 100 bahwa daya tanggap lembaga berada dalam kategori tinggi dan 1 responden dengan persentase sebesar 1,50% Tabel 9 menunjukkan bahwa secara menyatakan berada pada kategori cukup. umum daya dorong di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon-Babat Lamongan berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 55,22% Tabel 4.11 atau 37dari 67 responden menyatakan Deskripsi Data untuk Sub Variabel bahwa daya dorong lembaga di Pondok Ganjaran Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- Babat Lamongan berada dalam kategori sangat tinggi. Sedangkan 23 responden dengan persentase sebesar 34,32% I. Kelas No. Kualifikasi f % menyatakan bahwa daya dorong lembaga interval 1. Sangat tinggi 19,51 – 24 31 46,27 berada dalam kategori tinggi dan 7 2. Tinggi 15,01 – 19,50 21 31,34 responden dengan persentase 10,44% 3. Cukup 10,51 – 15,00 15 22,39 menyatakan bahwa daya dorong lembaga 4. Kurang 6 – 10,50 - - berada dalam kategori cukup. Total 67 100 Tabel 10 Tabel 4.11 menunjukkan bahwa secara umum pemberian ganjaran di Pondok Deskripsi Data untuk Sub Variabel Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- Daya Tanggap Babat Lamongan berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 46,27% atau sebanyak 31 dan 67 H. Kelas responden menyatakan bahwa pemberian No. Kualifikasi f % ganjaran di Pondok Pesantren Al- interval 1. Sangat tinggi 9,76 – 12 57 85,07 Futuhiyah Gendongkulon-Babat 2. Tinggi 7,51 – 9,75 9 13,43 Lamongan berada dalam kategori sangat 3. Cukup 5,26 – 7,50 1 1,50 tinggi. Sedangkan 21 reponden dengan 4. Kurang 3 – 5,25 - - Total 67 100 persentse sebesar 31,34% menyatakan pemberian ganjaran/kompensasi berada dalam kategori tinggi dan 15 responden Tabel 10 menunjukkan bahwa secara dengan persentase 22,39% menyatakan umum daya tanggap lembaga di Pondok pemberian ganjaran berada dalam Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulon- kategori cukup. Babat Lamongan berada pada kategori sangat tinggi dengan persentase sebesar 28
  • 65.
    Adair, J. 1993.Membina Colon Pimpinan (Sepuluh Prinsip Pokok). Jakarta : KESIMPULAN Bumi Aksara. Albert. K. 1983. Pengemhangan Organisasi. Bandung : PT. Angkasa. 1. Iklim kerja organisasi di Pondok Pesantren Al-Futuhiyah Gendongkulo Anwar. 1985. Pengembangan Organisasi. Babat Lamongan para pegawainya Bandung : PT. Angkasa. merasa nyaman dengan suasana kerja, kepemimpinan dan ganjaran. Arikunto, S. 1992. Prosedur Penelitian, 2. Suasana kerja di kantor menunjukkan Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : para pegawainya benar-benar Rineka Cipta. merasakan adanya suasana kerja yang penuh keakraban, saling menghargai, Arikunto, S. 1996. Prosedur Penelitian, saling menolong dan penuh Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : kekeluargaan. Rineka Cipta. 3. Orientasi nilai menunjukkan bahwa Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian, para pegawai memiliki rasa tanggungjawab, disiplin, berusaha Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : meningkatkan prestasi kerja dan loyal. Rineka Cipta. 4. Citra diri menunjukkan bahwa Burhanuddin. 1994. Analisis Administrasi kurangnya kecakapan pegawai dalam bekerjasama dengan orang dan luar Manajemen dan Kepemimpinan organisasi. Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. 5. Gaya kepemimpinan menunjukkan Cribbin, J.J. 1981. Kepemimpinan bahwa pegawainya merasa pimpinan Strategi Mengefektifkan Organisasi. telah melaksanakan kepemimpinan dengan baik. Jakarta : Pustaka Binaman 6. Daya dorong menunjukkan bahwa Pressindo. pegawai dalam menjalankan Faisal, S. 1981. Dasar dan Teknik tanggungjawabnya penuh dengan perencanaan, dapat memanfaatkan Menyusun Angket. Surabaya : Usaha teknologi dengan baik dan mau Nasional. mengikuti peraturan. Furchan. 1982. Pengantar Penelitian 7. Daya tanggap menunjukkan para dalam Pendidikan. Surabaya : pegawainya bekerja sesuai dengan perintah atasan tanpa cenderung Usaha Nasional. menunda pekerjaan. Hadi, S. 1997. Statistik Jilid I. Yogyakarta : 8. Sistem menunjukkan para pegawai Andi Offset. diperhatikan dan diberi kemudahan untuk kesejahteraannya. Hakim. 1994. Pengantar Sederhana Penelitian Pendidikan. Jakarta : Proyek Pengembangan Pendidikan Guru. DAFTAR PUSTAKA Hamzah, R. 1990. Kepemimpinan Strategi Mengefektifkan Organisasi. Jakarta : Gramedia. 29
  • 66.
    Handoko. 1987. ManajemenPersonalia Santoso. 2001. Latihan SPSS Statistik dan Sumber Daya Manusia Jilid 2. Parametrik. Jakarta : PT. Elex Yogyakarta : BPFE. Media Komputindo Indrawijaya. 1986. Pertumbuhan dan Sari, D.N. 2003. Gaya Kepemimpinan Pengembangan Organisasi. Kepala Sekolah Dalam Rangka Bandung : Sinar Baru. Penciptaan lklim Kerja Organisasi Di Sekolah Dasar Negeri Se- Kamalluddin. 1982. Manajemen. Jakarta : Kecamatan Sukun Kota Malang. Dirjen Dikti P2LPTK. Skripsi tidak diterbitkan. Kossen, S. 1986. Aspek Manusia Dalam Sari, L. 2000. Iklim Organisiasi Organisasi. Bandung : Rineka Cipta. Hubungannya Dengan Unjuk Kerja Latif, A.G. 1988. Memberikan Pimpinan Dosen Dalam Mengajar Di IKIP dengan Kerja Sama. Jakarta : UI Budi Utomo Malang. Tesis tidak Press. diterbitkan. Latunussa. 1988. Penelitian Pendidikan, Soepardi. 1988. Dasar-DasarAdministrasi Suntu Pengantar. Jakarta : P2LPTK. Pendidikan. Jakarta : Dirjen Dikti Mardalis. 1990. Mefodologi Penelitian P2LPTK. Suatu Pendekatan Proposal. Jakarta : Bumi Aksara. Marzuki. 1989. Metodologi Penelitian. Jakarta : Militon. Muhyadi. 1989. Organisasi Teori, Struktur dan Proses. Jakarta : Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi. Mulyono, M. 1993. Penerapan Produktivitas dalam Organisasi. Jakarta : Bumi Aksara - UI. Owens. 1981. Organizational Behaviour in Education. Boston : Allyn Bacon. Prayitno. 2003. Korelasi Antara lklim Organisasi Dan Motivasi Berprestasi Dengan Unjuk Kerja Guru Pada Sekolah Menengah Umum Negeri Di Kabupaten Pasuruan. Tesis tidak diterbitkan. Purwanto, N. 1988. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Jakarta : CV. Remaja Karya. 30
  • 67.
  • 68.
    PENDIDIKAN KARAKTER: WACANA KONSEP DAN IMPLEMENTASINYA Soesetijo *) Abstrak: pendidikan karakter menjadi perhatian serius untuk diimplementa- sikan di sekolah. Fenomena menunjukkan bahwa banyak keluhan masyarakat tentang menurunnya tata krama, etika dan kreativitas siswa, karena melemah-nya pendidikan budaya dan karakter bangsa. Sebagai langkah awal pendidikan karakter harus dimulai sejak dini, yakni pada jenjang pendidikan sekolah da-sar. Pada jenjang sekolah dasar, ini porsinya mencapai 60 persen dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Menurut Wamendiknas telah terdapat 5 dari 8 potensi peserta didik yang implementasinya sangat lekat dengan tujuan pembentukan karakter. Kelekatan inilah yang menjadi dasar hukum begitu pentingnya pelaksanaan pendidikan karakter. Pendidikan budaya dan karakter bangsa ini memang harus dipraktekkan, titik beratnya bukan pada teori. Pendidikan budaya dan karakter bangsa seperti kurikulum yang tersembunyi. Bukan berarti akan diterapkan secara teoritis, tetapi menjadi penguat kuri-kulum yang sudah ada, yaitu dengan mengimplementasikanya dalam mata pelajaran dan keseharian peserta didik. Permasalahannya, mayoritas guru be-lum punya kemauan untuk melaksanakan. Kesadaran sudah ada, hanya saja belum menjadi sebuah aksi nyata. Oleh karena itu diperlukan buku pinter se-bagai acuan untuk implementasi pendidikan karakter di lembaga pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi serta perlu segera disosialisasikan grand design pendidikan karakter. Kata-kata kunci: pendidikan karakter, wacana konsep, implementasi 2
  • 69.
    Indonesia memerlukan sumberdaya tujuan pendidikan nasional tersebut di manusia dalam jumlah dan mutu yang atas. Hal tersebut berkaitan dengan memadai sebagai pendukung utama pembentukan karakter peserta didik dalam pembangunan. Untuk sehingga mampu bersaing, beretika, memenuhi sumberdaya manusia bermoral, sopan santun dan tersebut, pendidikan memiliki peran berinteraksi dengan masyarakat. yang sangat penting. Hal ini sesuai Berdasarkan penelitian di Harvard dengan UU No. 20 Tahun 2003 University Amerika Serikat (Ali tentang Sistem Pendidikan Nasional Ibrahim Akbar, 2000 dalam pada Pasal 3 yang menyebutkan Mendiknas, 2010) ternyata kesuksesan bahwa pendidikan nasional berfungsi seseorang tidak ditentukan semata- mengembangkan kemampuan dan mata oleh kemampuan mengelola diri membentuk karakter serta dan orang lain (soft skills). Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya peradaban bangsa yang bermartabat ditentukan sekitar 20 persen oleh hard dalam rangka mencerdaskan skills dan sisanya 80 persen soft skills. kehidupan bangsa. Pendidikan Bahkan orang-orang tersukses di dunia Nasional bertujuan untuk bisa berhasil dikarenakan lebih banyak berkembangnya potensi peserta didik didukung kemampuan soft skills agar menjadi manusia yang beriman daripada hard skills. Hal ini dan bertakwa kepada Tuhan Yang mengisyaratkan bahwa mutu Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, pendidikan karakter peserta didik berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan sangat penting untuk ditingkatkan. menjadi warga Negara yang Oleh karena itu, Kementerian demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan Nasional (Kemendiknas) *)Soesetijo, staf pengajar Universitas telah menyusun grand design Gresik. pendidikan karakter bangsa. Berdasarkan fungsi dan tujuan Ditargetkan, seluruh satuan pendidikan nasional, jelas bahwa pendidikan telah mengembangkannya pendidikan di setiap jenjang pada tahun 2014.(Media pendidikan selalu mengacu pada Indonesia.com, 15-9-2010). 3
  • 70.
    Data dan faktamenunjukkan, bahwa dari hasil penelitian psikologi sosial menun-jukkan bahwa orang yang sukses di dunia ditentukan oleh Konsep Pendidikan peranan ilmu sebesar 18%. Sisanya, Karakter 82% dijelaskan oleh keterampilan emosional, soft skills dan Karakter adalah ―cara berpikir sejenisnya.(Elfindri, 2010). Ini dan berperilaku yang menjadi ciri khas menunjukkan bahwa soft skills setiap individu untuk hidup dan memberikan kontribusi bagi bekerjasama, baik dalam lingkup keberhasilan karir seseorang. kehidupan keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.(Suparlan, 2010). Wacana pendidikan karakter pada akhir-akhir ini memperoleh Pendidikan karakter meliputi 9 perhatian yang cukup intens dari (sembilan) pilar yang saling kait pemerhati pendidikan. Pemerintah mengkait, yaitu: (1) responsibility menyatakan, bahwa pendidikan (tanggung jawab), (2) respect (rasa budaya dan karakter bangsa selama ini hormat), (3) fairness (keadilan), (4) telah diterapkan dan menjadi kesatuan courage (keberanian), (5) honesty dengan kurikulum pendidikan yang (kejujuran), (6) citizenship sesungguhnya telah dipraktekkan (kewarganegaraan), (7) self-discipline dalam kegiatan belajar mengajar di (disiplin diri), (8) caring (peduli), dan sekolah. Menurut Direktur (9) perseverance (ketekunan). Pembinanan SMP, Ditjen Manajemen Penyelenggaraan pendidikan Pendidikan Dasar dan Menengah, nasional tidak semata mentransfer Didik Suhardi (KOMPAS.Com, Jumat, ilmu dan pengetahuan serta teknologi 15 Januari 2010) pendidikan budaya kepada peserta didik. Lebih dari itu, dan karakter bangsa ini memang harus pendidikan harus bisa menumbuhkan dipraktekkan, titik beratnya bukan semangat kebangsaan sebagai warga pada teori. Pendidikan budaya dan bangsa dengan karakter ke-Indonesia- karakter bangsa seperti kurikulum an.(Rumapea, 2010). yang tersembunyi. 4
  • 71.
    Karakter merupakan nilai-nilai kerja seluruh warga dan lingkungan perilaku manusia yang berhubungan sekolah. dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri Terlepas dari berbagai sendiri, sesama manusia, lingkungan, kekurangan dalam praktik pendidikan dan kebangsaan yang terwujud dalam di Indonesia, apabila dilihat dari pikiran, sikap, perasaan, perkataan, standar nasional pendidikan yang dan perbuatan berdsarkan norma- menjadi acuan pengembangan norma agama, hukum, tata krama, kurikulum (KTSP), dan implementasi budaya, dan adat istiadat. pembelajaran dan penilaian di sekolah, Pendidikan karakter adalah tujuan di lembaga pendidikan suatu sistem penanaman nilai-nilai sebenarnya dapat dicapai dengan baik. karakter kepada warga sekolah yang Pembinaan karakter juga termasuk meliputi komponen pengetahuan, dalam materi yang harus diajarkan dan kesadaran atau kemauan, dan tindakan dikuasai serta direalisasikan oleh untuk melaksanakan nilai-nilai peserta didik dalam kehidupan sehari- tersebut, baik terhadap Tuhan Yang hari. Menurut Dr. Anita Lie (2010) Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, syarat menghadirkan pendidikan lingkungan, maupun kebangsaan karakter dan budaya di sekolah harus sehingga menjadi manusia insan dilakukan secara holistik. kamil. Dalam pendidikan karakter di Sebagai upaya untuk sekolah, semua komponen meningkatkan kesesuaian dan mutu (stakeholders) harus dilibatkan, pendidikan karakter, Kementerian termasuk komponen-komponen Pendidikan Nasional mengembangkan pendidikan itu sendiri, yaitu isi grand design pendidikan karakter kurikulum, proses pembelajaran dan untuk setiap jalur, jenjang, dan jenis penilaian, kualitas hubungan, satuan pendidikan. Grand design penanganan atau pengelolaan mata menjadi rujukan konseptual dan pelajaran, pengelolaan sekolah, operasional pengembangan, pelaksanaan aktivitas atau kegiatan ko- pelaksanaan, dan penilaian pada setiap kurikuler, pemberdayaan sarana jalur dan jenjang pendidikan. prasarana, pembiayaan, dan ethos 5
  • 72.
    Konfigurasi karakter dalamkonteks berkontribusi hanya sebesar 30% totalitas proses psikologis dan social- terhadap hasil pendidikan peserta kultural tersebut dikelompokkan didik. dalam: Olah Hati (Spiritual and Selama ini, pendidikan informal emotional development), Olah Pikir terutama dalam lingkungan keluarga (intellectual development), Olah Raga belum memberikan kontribusi berarti dan Kinestetik (Physical and kinestetic dalam mendukung pencapaian development), dan Olah Rasa dan kompetensi dan pembentukan karakter Karsa (Affective and Creativity peserta didik. Kesibukan dan aktivitas development). Pengembangan kerja orang tua yang relative tinggi, danimplementasi pendidikan karakter kurangnya pemahaman orang tua perlu dilakukan dengan mengacu pada dalam mendidik anak di lingkungan grand design tersebut. keluarga, pengaruh pergaulan di Menurut UU No. 20 Tahun lingkungan sekitar dan pengaruh 2003 tentang Sistem Pendidikan media elektronik ditengarai bisa Nasional pada 13 ayat 1 menyebutkan berpengaruh negatif terhadap bahwa jalur pendidikan terdiri dari perkembangan dan pencapaian hasil atas pendidikan formal, nonformal, belajar peserta didik. Salah satu dan informal yang saling melengkapi alternatif untuk mengatasai dan memperkaya. Pendidikan informal permasalahan tersebut adalah melalui adalah jalur pendidikan keluarga dan pendidikan karakter terpadu, yaitu lingkungan. Pendidikan informal memadukan dan mengoptimalkan sesungguhnya memiliki peran dan kegiatan pendidikan informal kontribusi yang sangat besar dalam lingkungan keluarga dengan keberhasilan pendidikan. Peserta didik pendidikan formal di sekolah. Dalam mengikuti pendidikan di sekolah hanya hal ini, waktu belajar peserta didik di sekitar 7 jam per hari, atau kurang dari sekolah perlu dioptimalkan agar 30%. Selebihnya (70%), peserta didik peningkatan mutu hasil belajar dapat berada dalam keluarga dan lingkungan dicapai, terutama dalam pembentukan sekitarnya. Jika dilihat dari aspek karakter peserta didik. kuantitas waktu, pendidikan di sekolah 6
  • 73.
    Pendidikan karakter dapat yang dimaksud adalah bagaimana diintegrasikan dalam pembelajaran pendidikan karakter direncanakan, pada setiap mata pelajaran. Materi dilaksanaan dan dikendalikan dalam pembelajaran yang berkaitan dengan kegiatan-kegiatan pendidikan di norma atau nilai-nilai pada setiap mata sekolah secara memadai. Pengelolaan pelajaran perlu dikembangkan, tersebut antara lain mengikuti, nilai- dieksplisitkan, dikaitkan dengan nilai yang perlu ditanamkan, muatan konteks kehidupan sehati-hari. Dengan kurikulum, pembelajaran, penilaian, demikian, pembelajaran nilai-nilai pendidik dan tenaga kependidikan, karakter tidak hanya pada tataran dan komponen terkait lainnya. Dengan kognitif, tetapi menyentuh pada demikian, manajemen sekolah internalisasi, dan pengalaman nyata merupakan salah satu media yang dalam kehidupan peserta didik sehari- efektif dalam pendidikan karakter di hari di masyarakat. sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler yang selama ini diselenggarakan sekolah Pendidikan Karakter yang merupakan salah satu media yang Efektif potensial untuk pembinaan karakter dan peningkatan mutu akademik Menurut Lickona, dkk. (2007) peserta didik. Kegiatan ekstra terdapat 11 pinsip agar pendidikan kurikuler merupakan kegiatan karakter dapat berjalan efektif: (1) pendidikan di luar mata pelajaran kembangkan nilai-nilai etika inti dan untuk membantu pengembangan nilai-nilai kinerja pendukungnya peserta didik sesuai dengan sebagai fondasi karakter yang baik, (2) kebutuhan, potensi, bakat, dan minat definisikan ‗karakter‘ secara mereka melalui kegiatan yang secara komprehensif yang mencakup pikiran, khusus perasaan, dan perilaku, (3) gunakan pendekatan yang komprehensif, Pendidikan karakter di sekolah disengaja, dan proaktif dalam juga sangat terkait dengan manajemen pengembangan karakter, (4) ciptakan atau pengelolaan sekolah. Pengelolaan komunitas sekolah yang penuh 7
  • 74.
    perhatian, (5) berisiswa kesempatan kerja pendukungnya seperti untuk melakukan tindakan moral, (6) ketekunan, etos kerja yang tinggi, dan buat kurikulum akademik yang kegigihan—sebagai basis karakter yang bermakna dan menantang yang baik. Sekolah harus berkomitmen menghormati semua peserta didik, untuk mengembangkan karakter mengembangkan karakter, dan peserta didik berdasarkan nilai-nilai membantu siswa untuk berhasil, (7) dimaksud mendefinisikan-nya dalam usahakan mendorong motivasi diri bentuk perilaku yang dapat diamati siswa, (8) libatkan staf sekolah sebagai dalam kehidupan sekolah sehari-hari, komunitas pembelajaran dan moral men-contohkan nilai-nilai itu, yang berbagi tanggung jawab dalam mengkaji dan mendiskusikannya, pendidikan karakter dan upaya untuk menggunakannya sebagai dasar dalam mematuhi nilai-nilai inti yang sama hubungan antarmanusia, dan yang membimbing pendidikan siswa, mengapresiasi manifestasi nilai-nilai (9) tumbuhkan kebersamaan dalam tersebut di sekolah dan masyarakat. kepemimpinan moral dan dukungan Yang terpenting, semua komponen jangka panjangbagi inisiatif sekolah bertanggung jawab terhadap pendidikan karakter, (10) libatkan standar-standar perilaku yang keluarga dan anggota masyarakat konsisten sesuai dengan nilai-nilai inti. sebagai mitra dalam upaya Karakter yang baik mencakup pembangunan karakter, (11) evaluasi pengertian, kepedulian, dan tindakan karakter sekolah, fungsi staf sekolah berdasarkan nilai-nilai etika inti. sebagai pendidik karakter, dan sejauh Karenanya, pendekatan holistik dalam mana siswa memanifestasikan pendidikan karakter berupaya untuk karakter yang baik. mengembangkan keseluruhan aspek Dalam pendidikan karakter kognitif, emosional, dan perilaku dari penting sekal dikembangkan nilai-nilai kehidupan moral. Siswa memahami etika inti seperti kepedulian, nilai-nilai inti dengan mempelajari dan kejujuran, keadilan, tanggung jawab, mendiskusikannya, mengamati dan rasa hormat terhadap diri dan perilaku model, dan mempraktekkan orang lain bersama dengan nilai-nilai pemecahan masalah yang melibatkan 8
  • 75.
    nilai-nilai. Siswa belajar peduli inti, termasuk kurikulum kesehatan terhadap nilai-nilai inti dengan jasmani), dan program-program mengembangkan keteram-pilan ekstrakurikuler, extracurricular empati, membentuk hubungan yang programs (tim olahraga, klub, proyek penuh perhatian, membantu pelayanan, dan kegiatan-kegiatan menciptakan komunitas bermoral, setelah jam sekolah). mendengar cerita ilustratif dan Di samping itu, sekolah dan inspiratif, dan merefleksikan keluarga perlu meningkatkan pengalaman hidup. efektivitas kemitraan dengan merekrut Sekolah yang telah bantuan dan komunitas yang lebih luas berkomitmen untuk mengembangkan (bisnis, organisasi pemuda, lembaga karakter melihat diri mereka sendiri keagamaan, pemerintah, dan media) melalui lensa moral, untuk menilai dalam mempromosikan pembangunan apakah segala sesuatu yang karakter. Kemitraan sekolah-orang tua berlangsung di sekolah mempengaruhi ini dalam banyak hal seringkali tidak perkembangan karakter siswa. dapat berjalan dengan baik karena Pendekatan yang komprehensif terlalu banyak menekankan pada menggunakan semua aspek penggalangan dukungan financial, persekolahan sebagai peluang untuk bukan pada dukungan program. pengembangan karakter. Ini mencakup Berbagai pertemuan yang dilakukan apa yang sering disebut dengan istilah tidak jarang terjebak kepada tawar kurikulum tersembunyi, hidden menawar sumbangan, bukan curriculum (upacara dan prosedur bagaimana sebaiknya pendidikan sekolah; keteladanan guru; hubungan karakter dilakukan bersama antara siswa dengan guru, staf sekola lainnya, keluarga dan sekolah. dan sesama mereka sendiri; proses Pendidikan karakter yang efektif pengajaran; keanekaragaman siswa; harus menyertakan usaha untuk penilaian pembelajaran; pengelolaan menilai kemajuan. Terdapat tiga hal lingkungan sekolah; kebijakan penting yang perlu mendapat disiplin); kurikulum akademik, perhatian: (1) karakter sekolah: sampai academic curriculum (mata pelajaran 9
  • 76.
    sejauh mana sekolah menjadi di dalam kelas. Konteks pendidikan komunitas yang lebih peduli dan saling karakter adalah proses relasional menghargai?, (2) pertumbuhan staf komunitas kelas dalam konteks sekolah sebagai pendidik karakter: pembelajaran. Relasi guru-pembelajar sampai sejauh mana staf sekolah bukan monolog, melainkan dialog mengembangkan pemahaman tentang dengan banyak arah sebab komunitas apa yang dapat mereka lakukan untuk kelas terdiri dari guru dan siswa yang mendorong pengembangan karakter?, sama-sama berinteraksi dengan (3) Karakter siswa: sejauh mana siswa materi. Memberikan pemahaman dan memanifestasikan pemahaman, pengertian akan keutamaan yang komitmen, dan tindakan atas nilai- benar terjadi dalam konteks nilai etis inti? Hal seperti itu dapat pengajaran ini, termasuk di dalamnya dilakukan di awal pelaksanaan pula adalah ranah noninstruksional, pendidikan karakter untuk seperti manajemen kelas, konsensus mendapatkan baseline dan diulang lagi kelas, dan lain-lain, yang membantu di kemudian hari untuk menilai terciptanya suasana belajar yang kemajuan.(http://www.mediaindonesi nyaman. a.com, diakses tanggal 14 September Kedua, desain pendidikan 2010). karakter berbasis kultur sekolah. Menurut Doni Koesoemo A Desain ini mencoba membangun (2010) pendidikan karakter jika ingin kultur sekolah yang mampu efektif dan utuh mesti menyertakan membentuk karakter anak didik tiga basis desain dalam dengan bantuan pranata sosial sekolah pemrogramannya. Tanpa tiga basis itu, agar nilai tertentu terbentuk dan program pendidikan karakter di terbatinkan dalam diri siswa. Untuk sekolah hanya menjadi wacana semata. menanamkan nilai kejujuran tidak cukup hanya dengan memberikan Pertama, desain pendidikan pesan-pesan modal kepada anak didik. karakter berbasis kelas. Desain ini Pesan moral ini mesti diperkuat berbasis pada relasi guru sebagai dengan penciptaan kultur kejujuran pendidik dan siswa sebagai pembelajar melalui pembuatan tata peraturan 10
  • 77.
    sekolah yang tegasdan konsisten Implementasi Pendidikan terhadap setiap perilaku Karakter di Lembaga ketidakjujuran. Pendidikan Ketiga, desain pendidikan Pendidikan karakter yang bakal karakter berbasis komunitas. Dalam diterapkan di sekolah-sekolah tidak mendidik, komunitas sekolah tidak diajarkan dalam mata pelajaran hanya berjuang sendirian. Masyarakat khusus. Namun, pendidikan karakter di luar lembaga pendidikan, seperti tersebut akan diintegrasikan dengan keluarga, masyarakat umum, dan mata pelajaran yang sudah ada serta Negara, juga memiliki tanggung jawab melalui keseharian pembelajaran di moral untuk mengintegrasikan sekolah. Menurut Wakil Menteri pembentukan karakter dalam konteks Pendidikan Nasional, Fasli Jalal, kehidupan mereka. Ketika lembaga dikemukakan bahwa pendidikan Negara lemah dalam penegakan karakter yang didorong pemerintah hukum, ketika mereka yang bersalah untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah tidak pernah mendapatkan sanksi yang tidak akan membebani guru dan siswa. setimpal, Negara telah mendidik Sebab, hal-hal yang terkandung dalam masyarakatnya untuk menjadi pendidikan karakter sebenarnya sudah manusia yang tidak menghargai makna ada dalam kurikulum, tetapi selama ini tatanan sosial bersama. tidak dikedepankan dan diajarkan Pendidikan karakter hanya secara akan bisa efektif jika tiga desain tersurat.(http://bukuohbuku.wordpres pendidikan karakter ini dilaksanakan s.com, 1 September 2010). secara simultan dan sinergis. Tanpanya, pendidikan kita hanya akan Beberapa Upaya Pencarian Soft bersifat parsial, inkonsisten dan tidak Skills di Beberapa Negara efektif. Upaya di berbagai Negara mengenai pentingnya solft skills juga beragam. Dari berbagai liteatur yang 11
  • 78.
    disarikan dalam modulbahan ajar oleh adalah dengan mengimplementasikan suatu Tim di Dirjen Dikti (2008) telah aturan di sekolah sebagai cara diupayakan di berbagai negara seperti meningkatkan nilai-nilai moral dan Taiwan, Korea Selatan, Jepang, etika. Taiwan menyadari bahwa Australia, dan Indonesia. berpikir kritis adalah penting maka arah pengembangan ditujukan pada ranah ini, termasuk kewarganegaraan, 1. Pengalaman di Taiwan dan nilai-nilai sosial. Taiwan sebagai salah satu Negara yang memandang kemajuan pembangunan Ilmu Pengetahuan dan 2. Pengalaman di Korea Selatan Teknologi hasilnya dirasakan tanpa Di Korea Selatan, sebagai salah meningkatkan harkat dan martabat satu Negara yang juga mengalami dari manusia. Moral menjadi salah kemajuan kemajuan yang pesat satu tuntutan yang ingin dilengkapi pendidikannya, juga sadar akan seiring dengan kemajuan dari ranah pentingnya soft skills. Ini pengetahuan. dikembangkan dengan seperangkat upaya. Secara makro, meningkatkan Upaya ini dilakukan melalui anggaran pendidikan dan berbagai pendekatan, diantaranya mempertahankan kebijakan komitmen adalah dengan membentuk komite yang tinggi semenjak tahun 1945. disiplin dan moral di bawah Semangat dan komitmen ini dilahirkan Kementerian Pendidikan. Komite sebagai akibat dari Korea Selatan juga disiplin kemudian mencoba ingin me-nyaingi perkembangan menetapkan berbagai standar etika kemajuan ilmu dan teknologi yang yang mesti diterapkan di masing- dihasilkan oleh Jepang, sebagai sebuah masing satuan pendidikan, termasuk Negara tetangga yang lebih dulu memonitor implementasinya. berhasil. Kemudian mengembangkan Diantaranya adalah dengan kurikukum moral dan etika yang mengupayakan perbaikan metode nantinya diterapkan dalam system pengajaran dan pe-nyampaian materi pembelajaran. Tahap selanjutnya 12
  • 79.
    ajar, misalnya denganmenekankan Scribner (2007) dalam Tim Dikti kesadaran guru akan pentingnya ka- (2008) untuk memenuhi aspek soft rakter; mulai dari suasana, skills, dimasukkan ke dalam kegiatan- kemampuan, dan fasilitas yang kegiatan ko-kurikuler di sekolah dan di mengarah kepada pembentukan rumah. karakter. Anak-anak Jepang diberi rasa tanggungjawab yang tinggi dalam Hasil dari upaya ini telah mengembangkan fungsinya kepada menyebabkan Korea Selatan tampil adik-adik sewilayahnya, dimulai sebagai salah satu Negara yang dengan proses datang ke sekolah, memiliki karakter khas, untuk tampil metode belajar di sekolah sampai pada menyaingi Jepang. Dengan karakter menanamkan rasa kemandirian yang kerja keras, salah satunya, telah pula tinggi dan semangat untuk menang. menghasilkan produk manufaktur Kemudian terbiasa untuk yang mampu masuk ke kancah mengembangkan kreativitas di dalam internasional. kelas, Sudah menjadi motto bagi anak Sebagai catatan tambahan, didik Jepang, bahwa kerja kelompok Korea Selatan tercatat sebagai salah menjadi salah satu yang perlu satu Negara dimana tingkat akses dibiasakan. masyarakat mudanya terhadap Karakter kerja keras dan pendidikan tinggi termasuk tertinggi di mandiri yang dibangun dalam prinsip dunia. Memulai kerja kerasnya bushido, menyebabkan bangsa Jepang semenjak tahun 1945. Sekarang menghasilkan generasi yang sanggup komitmen anggaran dan dukungan menguasai berbagai iptek untuk masyarakat adalah sangat besar dalam berbagai bidang dan proses memajukan pendidikan. industrialisasi. Sayang sekali, Jepang dalam membangun karakter bangsa masih 3. Pengalaman di Jepang dibatasi oleh berbagai kendala. Merespons akan tuntutan Dimana kendala utama dari proses pentingnya membangun karakter pembangunan manusia di Jepang anak, maka di Jepang menurut 13
  • 80.
    masih belum sanggup mengkikis hak dan tanggungjawabnya. kebiasaan ―bunuh diri‖ dari sebagian Termasuk share bekerja dan hidup dari mereka yang frustasi. berkelompok. Itulah pemandangan pada sekolah-sekolah dasar sampai menengah yang dikembangkan. 4. Pengalaman di Australia Sementara di Australia, pengembangan soft skills dilakukan 5. Pengalaman di Indonesia semenjak usia dini, melalui system Kesadaran akan soft kills juga penyampaian dan desain berkembang di Indonesia, namun pemebelajaran. Desain pembelajaran dalam waktu yang terlalu lama dan yang menyebabkan unsur-unsur soft metode yang tidak tepat. Upaya skills terintegrasi dalam setiap proses menekankan pentingnya pendidikan P- pembelajaran. 4 sewaktu zaman Presiden Suharto Di Australia pembentukan telah didesain kegiatan-kegiatan yang kepercayaan diri anak-anak mulai lebih terpusat. Oleh karena penekanan pada pra sekolah. Pembiasaan anak- hanya kepada civic education, atau anak untuk mengisi masa akhir pendidikan civic, maka hasil dari minggu dengan orang tua, baik untuk usaha P-4 hanya sebatas bagaimana kepentingan olah raga dan rekreasi. hidup bermasyarakat dan bernegara saja. Anak-anak Australia terbiasa Kelemahan utama yang percaya diri. Karena setiap minggu dirasakan bahwa pengembangan soft mereka didorong untuk sanggup skills lebih bersifat indoktrinasi. menyampaikan pengalaman kepada Dengan kata lain upaya Indonesia teman se kelasnya. Dan model seperti dalam mendorong soft skills selama ini dilaksanakan secara terus berpuluh-puluh tahun melalui menerus. penataran P-4 dianggap gagal, Guru sangat berperan dalam mengingat model itu saat sekarang mengkomunikasikan soft skills di sudah tidak dipakai lagi. Bahkan sekolah. Anak-anak diajarkan akan dianggap kegiatan P-4 dapat saja 14
  • 81.
    menyimpang dari yangdipahami oleh di berbagai Negara ? Negara maju Asia kebanyakan para ilmuwan. Timur serta Indonesia ? Maka upaya Diantaranya bahkan yang diberikan untuk mengembangkan karakter masih lebih kepada ilmuwan, bukanlah dalam batas keterbasan. Keterbatasan bagaimana membentuk keterampilan terutama masih menganggap bahwa perangkat lunak warga Negara. Selain taksonomi ranah keilmuan menjadi dari itu para instruktur banyak yang menonjol. tidak terbekali dengan baik. Sehingga Sekalipun ada upaya untuk kegatan soft skills semacam itu lebih meningkatkan ranah soft skills, namun diartikan kepada proyek-proyek juga kelihatannya sangat beragam kegiatan oleh mereka yang berkuasa. dalam melihat komponen- Akselerasi adat juga merupakan komponennya. Diantaranya, masih upaya-upaya untuk mempertahankan luputnya memasukkan unsur soft skills, mengingat kandungan bagaimana anak didik kita semakin budaya lokal adalah menuntun soft berilmu dia sadar semakin sadar akan skills. Misalnya bagaimana budaya eksistensinya, posisinya dengan Sang dalam bertutur kata sepantasnya. Pencipta. Hal inilah yang Maka proses tutur kata masyarakat menyebabkan bahwa dimensi adat mesti dipertahankan. Upaya ini trancedental skills menjadi bahan dilakukan oleh kaum adat. Namun hal yang mesti disadari penting masuk ini belum terlalu baik diupayakan sebagai salah satu taksonomi soft dalam mendiseminasikan soft skills. skills.(Elfindri, dkk, 2010). Demikian juga, bagaimana kehidupan bergotong-royong Penerapan Pendidikan Karakter diupayakan masih eksis. Sayang sekali Dimulai SD kehidupan yang semacam itu semakin Pendidikan karakter yang sirna. Singkat kata soft skills belum dicanangkan Kementerian Pendidikan secara konsisten untuk digarap dan Nasional (Kemendiknas) akan dipelajari. diterapkan pada semua jenjang Apa yang dapat dimaknai dari pendidikan, namun porsinya akan segala upaya untuk mencari solf skills lebih besar diberikan pada Sekolah 15
  • 82.
    Dasar (SD). Menurut Menteri Pertimbangan yang rasional Pendidikan Nasional (Mendiknas) tentang mengapa penerapan Muhammad Nuh, mengatakan pendidikan karakter harus dimulai pendidikan karakter harus dimulai pada siswa SD, karena siswa SD masih sejak dini yakni dari jenjang belum terkontaminasi dengan sifat pendidikan sekolah dasar SD). Pada yang kurang baik sangat jenjang SD ini porsinya mencapai 60 memungkinkan untuk ditanamkan persen dibandingkan dengan jenjang sifat-sifat atau karakter untuk pendidikan lainnya. Hal ini agar lebih membangun bangsa. Oleh karena itu, mudah diajarkan dan melekat di jiwa selain orang tua, guru SD juga anak-anak itu hingga kelak ia dewasa. mempunyai peranan yang sangat vital Pendidikan karakter harus dimulai untuk menempuh karakter siswa. dari SD karena jika karakter tidak Pembinaan karakter yang termudah terbentuk sejak dini maka akan susah di-lakukan adalah ketika anak-anak untuk merubah karakter seseorang. masih di bangku SD. Itulah sebabnya Pendidikan karakter tidak kita memprioritas-kan pendidikan mendapatkan porsi yang besar pada karakter di tingkat SD. Bukan berarti tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) atau pada jenjang pendidikan lainnya tidak sejenisnya karena TK bukan mendapat perhatian namun porsinya merupakan sekolah tetapi taman saja yang berbeda. bermain. TK itu taman bermain untuk Dengan demikian maka merangsang kreativitas anak, bukan diharapkan dunia pendidikan dapat tempat belajar. Oleh karena itu, jika sebagai motor pengge-rak untuk ada guru yang memberikan tugas atau memfasilitasi peserta didik menjadi PR maka guru tersebut tidak cerdas, juga mempunyai budi pekerti memahami tugasnya. Sedangkan dan sopan santun sehingga dalam menanamkan karakter pada keberadaannya sebagai anggota seseorang yang paling penting adalah masyarakat menjadi bermakna baik kejujuran, karena kejujuran bersifat bagi dirinya maupun orang lain. universal. Esensinya pembinaan karakter harus dilakukan pada semua tingkat 16
  • 83.
    pendidikan hinga PerguruanTinggi terpadu, dan seimbang, sesuai standar (PT) karena PT harus mampu berperan kompetensi lulusan. Melalui sebagai mesin informasi yang pendidikan karakter diharapkan membawa bangsa ini menjadi bangsa peserta didik SMP mampu secara yang cerdas, sejahtera dan bermanfaat mandiri meningkatkan dan serta mampu bersaing dengan bangsa menggunakan pengetahuannya, manapun. mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud Model Pendidikan Karakter di dalam perilaku sehari-hari. Sekolah Menengah Pertama (SMP) Pendidikan karakter pada tingkatan institusi mengarah pada Menurut Mochtar Buchori pembentukan budaya sekolah, yaitu (2007) dalam Kemendiknas (2010) nilai-nilai yang melandasi perilaku, ―Pembinaan Karakter di Sekolah tradisi, kebiasaan keseharian, dan Menengah Pertama‖, bahwa simbol-simbol yang dipratikkan oleh pendidikan karakter seharusnya semua warga sekolah, dan masyarakat membawa peserta didik ke pengenalan sekitar sekolah. Budaya sekolah nilai secara kognitif, penghayatan nilai merupakan ciri khas, karakter atau secara afektif, dan akhirnya ke watak, dan citra sekolah tersebut di pengamalan nilai secara nyata. mata masyarakat luas. Permasalahan pendidikan karakter yang selama ini ada di SMP perlu Sasaran pendidikan karakter segera lebih operasional sehingga adalah seluruh Sekolah Menengah mudah diimplementasikan di sekolah. Pertama (SMP) di Indonesia negeri maupun swasta. Semua warga sekolah, Pendidikan karakter bertujuan meliputi para peserta didik, guru, untuk meningkatkan mutu karyawan administrasi, dan pimpinan penyelenggaraan dan hasil pendidikan sekolah menjadi sasaran program ini. di sekolah yang mengarah pada Sekolah-sekolah yang selama ini telah pencapaian pembentukan katakter dan berhasil melaksanakan pendidikan akhlak mulia peserta didik secara utuh, 17
  • 84.
    karakter dengan baikdijadikan sebagai 4. Mematuhi aturan-aturan best practices, yang menjadi contoh social yang berlaku dalam untuk disebarluaskan ke sekolah- lingkungan yang lebih luas; sekolah lainnya. 5. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, Memalui program ini dan golongan social ekonomi diharapkan lulusan SMP memiliki dalam lingkup nasional; keimanan dan ketaqwaan kepada 6. Mencari dan menerapkan Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak informasi dari lingkungan mulia, berkarakter mulia, kompetensi sekitar dan sumber-sumber akademik yang utuh dan terpadu, lain secara logis, kritis dan sekaligus memiliki kepribadian yang kreatif; baik sesuai norma-norma dan budaya 7. Menunjukkan kemampuan Indonesia. Pada tataran yang lebih berpikir logis, kritis, kreatif, luas, pendidikan karakter nantinya dan inovatif; diharapkan menjadi budaya sekolah. 8. Menunjukkan kemampuan Keberhasilan program belajar secara mandiri sesuai pendidikan karakter dapat diketahui dengan potensi yang melalui pencapaian indicator oleh dimilikinya; peserta didik sebagaimana tercantum 9. Menunjukkan kemampuan dalam Standar Kompetensi Lulusan menganalisis dan SMP, yang antara lain meliputi sebagai memecahkan masalah dalam berikut : kehidupan sehari-hari; 10. Mendeskripsikan gejala alam 1. Mengamalkan ajaran agama dan social; yang dianut sesuai dengan 11. Memanfaatkan lingkungan tahap perkembangan secara bertanggung jawab; remaja; 12. Menerapkan nilai-nilai 2. Memahami kekurangan dan kebersamaan dalam kelebihan diri sendiri; kehidupan bermasyarakat, 3. Menunjukkan sikap percaya berbangsa, dan bernegara diri; 18
  • 85.
    demi terwujudnya persatuan mengikuti pendidikan dalam Negara kesatuan menengah; Republik Indonesia; 21. Memiliki jiwa 13. Menghargai karya seni dan kewirausahaan. budaya nasional; Pada tataran sekolah, kriteria 14. Menghargai tugas pekerjaan pencapaian pendidikan karakter dan memiliki kemampuan adalah terbentuknya budaya sekolah untuk berkarya; yaitu perilaku, tradisi, kebiasaan 15. Menerapkan hidup bersih, keseharian, dan simbol-simbol yang sehat, bugar, aman, dan dipratikkan oleh semua warga sekolah, memanfaatkan waktu luang dan masyarakat sekitar sekolah harus dengan baik; berlandaskan nilai-nilai 16. Berkomunikasi dan tersebut.(Kemendiknas, 2010). berinteraksi secara efektif Penyelenggaraan pendidikan dan santun; nasional tidak semata mentransfer 17. Memahami hak dan ilmu dan pengetahuan serta teknologi kewajiban diri dan orang lain kepada peserta didik. Lebih dari itu, dalam pergaulan di pendidikan harus bisa menumbuhkan masyarakat; menghargai semangat kebangsaan sebagai warga adanya perbedaan pendapat; bangsa dengan karakter ke-Indonesia- 18. Menunjukkan kegemaran an. Bangsa ini harus kembali kepada membaca dan menulis bangsa yang berbudi. Mampu memiliki naskah pendek sederhana; budi pekerti yang luhur yang diajarkan 19. Menunjukkan keterampilan oleh para leluhur bangsa. Caranya, menyimak, berbicara, dengan mengajarkan pendidikan membaca, dan menulis karakter kepada anak-anak mulai dari dalam bahasa Indonesia dan bangku sekolah. Memberikan mereka bahasa Inggris sederhana; pemahaman yang jelas tentang 20. Menguasai pengetahuan karakter yang harus dimiliki manusia yang diperlukan untuk Indonesia di masa depan. 19
  • 86.
    Dengan olah raga,olah raga, bersifat kontraproduktif bagi dan olah jiwa sekolah kami terus pembentukan karakter anak didik. menerus menanamkan nilai-nilai luhur Pendekatan parsial yang tidak yang harus dimiliki manusia didasari pendekatan pedagogi yang Indonesia. Oleh karena itu, kami kokoh alih-alih menanamkan nilai- mengemasnya dalam berbagai bentuk nilai keutamaan dalam diri anak, kegiatan kesiswaan yang dimulai dari malah menjerumuskan mereka pada saat siswa pertama kali masuk sekolah perilaku kurang bermoral. Selama ini, sampai keluar (lulus) dari sekolah. jika kita berbicara tentang pendidikan Pembangunan karakter dan karakter, yang kita bicarakan pendidikan karakter menjadi suatu sesungguhnya adalah sebuah proses keharusan, karena pendidikan tidak penanaman nilai yang seringkali hanya menjadikan peserta didik dipahami secara sempit, hanya menjadi cerdas, tetapi juga terbatas pada ruang kelas, dan mempunyai budi pekerti dan sopan seringkali pendekatan ini tidak santun, sehingga keberadaannya didasari prinsip pedagogi pendidikan sebagai anggota masyarakat menjadi yang kokoh. bermakna baik bagi dirinya maupun Sebagai contoh, untuk orang lain. Menanamkan karaker pada menanamkan nilai kejujuran, banyak seseorang yang paling penting adalah skolah beramai-ramai membuat kantin kejujuran, karena kejujuran bersifat kejujuran. Di sini, anak diajak untuk universal. (Mahatma, 2010). jujur dalam membeli dan membayar barang yang dibeli tanpa ada yang Pendidikan Karakter Integral mengontrolnya. Dengan praksis ini Pendidikan karakter hanya akan diharapkan anak-anak kita akan menjadi sekadar wacana jika tidak menghayati nilai kejujuran dalam dipahami secara lebih utuh dan hidup mereka. Namun, sayang, menyeluruh dalam konteks pendidikan gagasan yang tampaknya relevan nasional kita. Bahkan, pendidikan dalam mengembangkan nilai kejujuran karakter yang dipahami secara parsial ini mengabaikan prinsip dasar dan tidak tepat sasaran justru malah pedagogi pendidikan berupa 20
  • 87.
    kedisiplinan sosial yang mampu berfungsi, sebab anak malah tergoda mengarahkan dan membentuk pribadi menjadi pencuri. Kegagalan kantin anak didik. kejujuran adalah sebuah indikasi, Alih-alih mendidik anak bahwa para pendidik memiliki menjadi jujur, dibanyak tempat anak kesalahan pemahaman tentang makna yang baik malah tergoda menjadi kejujuran dalam konteks pendidikan. pencuri dan kantin kejujuran malah Mereka tidak mampu melihat bangkrut. Ini terjadi karena kultur persoalan yang lebih mendalam yang kejujuran yang ingin dibentuk tidak menggerogoti sendi pendidikan disertai dengan pemangunan kita.(Doni Koesoema A, 2010). perangkat sosial yang dibutuhkan Sementara itu, untuk dalam kehidupan bersama. Tiap orang mengembangkan pendidikan karakter bisa tergoda menjadi pencuri jika ada di sekolah, Kementerian Pendidikan kesempatan. Nasional (Kemendiknas) memberikan Masifnya perilaku bantuan kepada sekolah-sekolah yang ketidakjujuran itu telah menyerambah ditunjuk sebagai percontohan. Sebagai dalam diri para pendidik, siswa dan contoh sebanyak 10 sekolah di semua anggota komunitas sekolah lain. Untuk jenjang pendidikan di Nusa Tenggara itu, pendekatan yang lebih utuh dan Barat mendapatkan bantuan dari integrallah yang dibutuhkan untuk Kementerian Pendidikan Nasional melawan budaya tidak jujur ini. untuk mengembangkan pendidikan Pendidikan karakter semestinya karakter. Setiap sekolah yang terarah pada pengembangan kultur mendapatkan percontohan menerima edukatif yang mengarahkan anak didik bantuan sebesar Rp. 10.000.000,00 untuk menjadi pribadi yang integral. untuk menerapkan dan membina Adanya bantuan sosial untuk pengembangan pendidikan mengembangkan keutamaan karakter.(http://www.antaranews.com merupakan ciri sebuah lembaga , diakses tanggal 7 September 2010). pendidikan. Sementara itu, Mendiknas, Dalam konteks kantin Muhammad Nuh mengemukakan kejujuran, bantuan sosial ini tidak bahwa intinya pembinaan karakter 21
  • 88.
    harus dilakukan padasemua tingkat dilaksanakan pada semua tingkat pendidikan hingga Perguruan Tinggi pendidikan hingga Perguruan Tinggi (PT) karena PT harus mampu berperan (PT), (4) pembangunan karakter dan sebagai mesin informasi yang pendidikan karakter menjadi suatu membawa bangsa ini menjadi bangsa keharusan karena pendidikan tidak yang cerdas, santun, sejahtera dan hanya menjadikan peserta didik bermartabat serta mampu bersaing menjadi cerdas, juga mempunyai budi dengan bangsa manapun. pekerti dan sopan santun, sehingga keberadaannya sebagai anggota Simpulan dan Saran masyarakat menjadi bermakna baik Simpulan bagi dirinya maupun orang lain, (5) Berdasarkan pemaparan pendidikan karakter yang didalamnya tersebut di atas, maka dapatlah ada akhlak mulia akan menjadi jati diri dikemukakan beberapa simpulan bangsa untuk mencapai kejayaan dan sebagai berikut: (1) karakter adalah kemajuan di dunia internasional, (6) cara berpikir dan berperilaku yang pendidikan budaya dan karakter menjadi ciri khas setiap individu untuk bangsa harus dipraktekkan, titik hidup dan bekerjasama, baik dalam beratnya bukan teori, (7) lingkup kehidupan keluarga, menghadirkan pendidikan karakter masyarakat, bangsa dan Negara; (2) dan budaya di sekolah harus dilakukan Pendidikan karakter meliputi 9 secara holistik, karena tidak bisa (sembilan) pilar yang saling kait terpisah dengan pendidikan sifatnya mengkait, yaitu: (a) responsibility kognitif atau akademik, (8) (tanggung jawab), (b) respect (rasa permasalahannya, mayoritas guru hormat), (c) fairness (keadilan), (d) belum punya kemauan untuk courage (keberanian), (e) honesty melaksanakan pendidikan karakter, (kejujuran), (f) citizenship kesadaran sudah ada hanya saja belum (kewarganegaraan), (g) self-discipline menjadi sebuah aksi nyata, (9) grand (disiplin diri), (h) caring (peduli), dan design tentang pendidikan karakter (i) perseverance (ketekunan); (3) sudah tersusun, hanya belum pembinaan karakter harus disosialisasikan ke seluruh pelosok 22
  • 89.
    nusantara, terutama ke lembaga- konteks pembelajaran di kelas atau lembaga pendidikan, dan (10) program ruang kuliah, pendidikan karakter pendidikan karakter tidak hanya dapat diintegrasikan pada mata dilakukan satu sampai dua tahun, pelajaran atau mata kuliah yang namun secara berkesinambungan relevan, (4) agar tenaga kependidikan hingga 2025. (guru dan dosen) mempunyai acuan yang baku tentang penerapan Saran pendidikan karakter, maka perlu Berdasarkan butir-butir segera disosialisasikan grand design simpulan di atasa, maka untuk tentang pendidikan karakter, (5) mengimplemetasikan pendidikan pendidikan karakter harus diwujudkan karakter di lembaga pendidikan untuk kepentingan anak-anak dikemukakan saran sebagai berikut : Indonesia dalam konteks kehidupan (1) untuk implementasikan pendidikan social dan buaya masyarakat, (6) perlu karakter di sekolah dasar (SD), sebagai diadakan TOT (Training of Trainer) porsi yang cukup besar (60%), maka untuk pendidikan karakter bagi perlu disusun buku petunjuk seluruh tenaga tenaga kependidikan, pelaksanaan (juklak) yang dapat baik guru maupun dosen, (7) digunakan sebagai acuan para tenaga pelaksanaan pendidikan karakter di kependidikan pada jenjang pendidikan sekolah jangan hanya bersifat instan, dasar, (2) sebagaimana telah karena pemerintah saat ini sedang dikemukakan di atas, bahwa intens dengan soal ini, tantangannya penerapan pendidikan karakter dapat justru bagaimana pendidikan di diimplementasikan mulai pada jenjang sekolah itu berjalan seimbang antara pendidikan dasar sampai dengan penguasaan pengetahuan dan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, pembentukan karakter siswa, dan (8) untuk mempersiapkan semuanya perlu segera disosialisiasikannya grand secara cermat, perlu diterbitkan buku design pendidikan karakter di lembaga pinter yang memberikan acuan kepada pendidikan mulai jenjang pendidikan guru dan dosen agar pendidikan Taman Kanak-Kanak sampai dengan karakter dapat diterapkan sesuai perguruan tinggi. dengan yang diharapkan, (3) dalam 23
  • 90.
    PENGARUH DISIPLIN GURU TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA 24
  • 91.
    DI SDN BANJARSARICERME diikutkan adalah guru komputer, GRESIK diperoleh responden sebanyak 19 orang. Data dikumpulkan dengan observasi, dokumentasi dan wawancara dengan instrumen check list. Selanjutnya untuk Etiyasningsih*) mengetahui pengaruh disiplin guru terhadap prestasi belajar digunakan uji regresi linier berganda. Abstrak, Disiplin merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Agar guru Hasil penelitian menunjukkan dapat berhasil dalam melaksanakan tugas Fhitung = 6,171. > Ftabel = 4,45. Oleh karena dan kewajibannya, maka guru tersebut Fhitung > Ftabel maka Ha diterima dan Ho harus mentaati dan menyadari akan ditolak yang berarti terdapat pengaruh pentingnya kedisiplinan. Kedisiplinan signifikan disiplin guru terhadap prestasi guru tentunya akan berimbas kepada para belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil siswa, guru yang tidak atau kurang hitung αhitung = 0,024 jauh di bahwa 0,05, disiplin, siswanya pun akan cenderung yang menandakan pengaruh yang tidak displin dan sebaliknya. Kedisplinan signifikan. tidak hanya pada kehadiran guru semata, Berdasarkan hasil penelitian namun lebih dari itu disiplin dalam diharapkan para guru dapat menjalankan melaksanakan proses belajar mengajar. Dalam hal ini misalnya guru disiplin tugas dengan penuh rasa tanggung jawab, disiplin, jujur, dan penuh didekasi, karena dalam membuat persiapan mengajar, dengan sikap-sikap tersebut sangat Silabus, RPP, menyiapkan buku-buku membantu dalam tercapainya prestasi paket penunjang, alat peraga dan lain-lain. belajar siswa, selain itu hendaknya juga Dengan kedisiplinan guru yang tinggi lebih memperhatikan kehadiran, siswa akan lebih semangat belajar dan persiapan mengajar dan proses kegiatan mendapatkan urutan materi pelajaran belajar mengajar. Bagi kepala sekolah yang sistematis, hal ini akan dapat memberi motivasi agar para guru meningkatkan prestasi belajarnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui lebih disiplin dengan memberi stimulus yang proporsional. pengaruh disiplin guru terhadap prestasi belajar. Penelitian ini merupakan jenis Kata Kunci : Disiplin Guru, Prestasi regresional. Populasinya adalah seluruh Belajar Siswa guru di SDN Banjarsari Cerme Gresik berjumlah 20 orang. Sampel diambil dengan teknik purposive sampling yaitu sesuai dengan kebutuhan dan yang tidak PENDAHULUAN Sebenarnya telah banyak usaha pemerintah, dan aspek pendukung, guna Kita semua menyadari bahwa untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut. mencapai tujuan pendidikan sangatlah berat, lebih-lebih pada saat sekarang ini. 25
  • 92.
    Untuk mewujudkan tujuan berhasil dalam melaksanakan tugas dan pendidikan tersebut pemerintah berusaha kewajibannya, maka guru tersebut harus melak-sanakan kegiatan antara lain, (1) mentaati dan menyadari akan pentingnya Menyempurnakan sistem pendidikan, (2) kedisiplinan. Karena gurulah yang ikut Memperluas kesempatan untuk mem- bertanggung jawab dalam keberhasilan peroleh pendidikan, (3) Sarana dan penyelenggaraan kegiatan belajar prasarana pendidikan terus mengajar di sekolah, agar selalu berupaya disempurnakan dan ditingkatkan serta untuk meningkatkan keberhasilan prestasi lebih didayagu-nakan, (4) Meningkatkan belajar siswa. Selain itu para guru jumlah guru dan mutunya, baik formal hendaknya selalu memberikan bimbingan maupun non formal serta terus dan pengajaran secara baik dengan selalu ditingkatkan pengembangan karier dan berpedoman pada petunjuk dan kesejahteraannya. peraturan-peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Mengelola pendidikan tidak semudah Departemen Pendidikan Nasional. yang kita bayangkan selama ini, sebab pendidikan berperan penting sebagai alat Kedisiplinan guru tentunya akan atai tempat untuk membentuk manusia berimbas kepada para siswa, guru yang Indonesia dan sebagai warga masyarakat tidak atau kurang disiplin, siswanya pun sekaligus sebagai warga Negara yang akan cenderung tidak displin dan berbudi pekerti luhur, beriman dan taqwa sebaliknya. Kedisplinan tidak hanya pada terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta kehadiran guru semata, namun lebih dari berkemampuan dan mempunyai itu disiplin dalam melaksanakan proses ketrampilan dasar untuk bekal pendidikan belajar mengajar. Dalam hal ini misalnya selanjutnya dan bekal hidup di guru disiplin dalam membuat persiapan masyarakat. mengajar, Silabus, RPP, menyiapkan buku-buku paket penunjang, alat peraga Guru kelas sebagai administrator dan lain-lain. Dengan kedisiplinan guru menempati posisi yang sangat penting yang tinggi siswa akan lebih semangat karena memikul tanggung jawab untuk belajar dan mendapatkan urutan materi meningkatkan dan mengembangkan pelajaran yang sistematis, hal ini akan kemajuan sekolah secara keseluruhan. meningkatkan prestasi belajarnya. Sedangkan murid dan guru yang menjadi komponen penggerak aktifitas kelas harus didayagunakan secara maksimal agar dapat tercapai suatu kesatuan yang METODE PENELITIAN dinamis di dalam organisasi sekolah. Pada dasarnya sekarang ini banyak Deskripsi Populasi para guru yang kurang siap dalam mengajar, dikarenakan guru tersebut Arikunto (2002) menyatakan bahwa belum membuat persiapan mengajar, dan populasi adalah obyek yang akan diteliti juga melanggar tata tertib. hasilnya, dianalisis, disimpulkan dan kesimpulan itu berlaku untuk seluruh Disiplin merupakan salah satu faktor populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskan yang sangat penting. Agar guru dapat 26
  • 93.
    popupasi adalah totalitassemua nilai yang 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, mungkin, hasil menghitung atau 10% pengukuran, kuantitatif, atau kualitatif P = Q = 0,5 d = 0,05 s = jumlah sampel mengenai karateristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jenis yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Namun dari rumus tersebut telah Penelitian ini dilakukan dengan dihitung untuk populasi-populasi dengan mengambil populasi seluruh guru di SDN jumlah tertentu mulai 10 hingga Banjarsari Cerme Gresik berjumlah 20 1.000.000 oleh Sugiono (2009:126) orang. sebagaimana tabel terlampir. Untuk jumlah populasi 20 orang dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyak Penentuan Sampel 19 orang. Oleh karena itu dalam penelitian Pengambilan sampel ini didasari ini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknik pendapat Arikunto (1998:120-121) berikut purposive sampling yaitu sesuai dengan : ―Untuk sekedar ancer-ancer maka kebutuhan dan yang tidak diikutkan apabila subjeknya kurang dari 100, lebih adalah guru komputer. baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian Definisi Operasional Variabel populasi. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10- Agar tujuan penelitian dapat tercapai 15% atau lebih tergantung setidak- maka variabel harus didefinisikan dengan tidaknya dari : a) kemampuan peneliti dari jelas dan menyebutkan indikator- waktu, tenaga dan dana, b) Sempit luasnya dindikatornya, cara pengukurannya, dan wilayah pengamatan dari setiap subyek, skala atau kategori penilaian yang karena hal ini menyangkut banyak digunakan. Berikut ini adalah definisi sedikitnya data, c) Besar kecilnya risiko operasional masing-masing variabel. yang ditanggung oleh peneliti. Untuk 1. Variabel bebas (X) yakni disiplin penelitian yang risikonya besar, tentu saja guru adalah suatu sikap mental seoang jika sampel besar, hasilnya akan lebih guru yang mengandung kesadaran dan baik.‖ kerelaan untuk mematuhi semua Sugiyono (2009:124) menyatakan ketentuan, peraturan dan norma yang jumlah sampel tergantung dari tingkat berlaku dalam menunaikan tugas dan ketelitian atau kesalahan yang tanggung jawab. Disiplin guru tersebut dikehendaki, misalnya tingat kesalahan diukur dengan indikator-indikator 1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar sebagai berikut : tingkat kesalahan makin kecil sampel. a. Kehadiran di sekolah Rumus untuk menghitung ukuran sampel b. Ketepatan waktu mengajar dari populasi yang diketahui jumlahnya c. Persiapan mengajar yaitu silabus, adalah : RPP d. Kegiatan belajar mengajar antara s = lain alat peraga, buku penunjang, buku absen siswa, daftar nilai, dan lain-lain. 27
  • 94.
    2. Variabel terikatprestasi belajar (Y) Pengumpulan data yang yaitu suatu suatu hasil yang teah dilakukan dengan wawancara adalah dicapai setelah kegiatan belajar meyakinkan hasil observasi tentang mengajar. Dalam penelitian ini, disiplin guru. Wawancara dilakukan indikator yang digunakan adalah nilai kepada masing-masing guru yang rata-rata hasil ulangan tiap mata bersangkutan dan kepala sekolah. pelajaran bagi guru mata pelajaran dan tiap kelas pada guru kelas. Teknik Pengumpulan Data Teknik Analisis Data Adapun proses pengumpulan data Data yang telah terkumpul dalam penelitian ini dilakukan dengan kemudian dilakukan analisis dengan prosedur sebagai berikut : urutan analisa sebagai berikut : 1. Survey Pendahuluan Dalam kegiatan ini, penelitian 1. Coding, adalah memberi kode pada dilakukan dengan mengumpulkan lembar check list sesuai dengan data-data intern perusahaan di kategori yang telah ditentukan. antaranya adalah profil SDN 2. Tabulating, adalah mentabulasi Banjarsari Cerme Gresik. seluruh data hasil chek list ke dalam 2. Dokumentasi tabel-tabel yang diperlukan sehingga Teknik dokumentasi adalah mudah dibaca. mencari data mengenai hal-hal atau 3. Skoring, adalah memberi skor dari variabel yang berupa catatan, kategori-kategori tersebut sesuai skor transkrip, buku, surat kabar, majalah, yang telah ditentukan. Disiplin guru prasasti, notulen rapat, legger, agenda diberi skor tinggi, sedang dan rendah. dan sebagainya (Suharsimi, 2002 : Skor tinggi jika penjumlahan dari hasil 236). penilaian mencapai >75%, skor sedang Dalam penelitian ini teknik jika penjumlahan dari hasil penilaian dokumentasi digunakan untuk mencapai 56-75%, dan rendah jika memperoleh data nilai siswa. Dalam penjumlahan dari hasil penilaian data sekunder yang diperoleh dengan <56%. teknik dokumentasi ini, peneliti juga 4. Uji Hipotesis menggunakan lembar cek list untuk Uji hipotesis berfungsi untuk menjawab mencatat indikator disiplin guru. hipotesa yang telah diajukan sebelumnya. 3. Wawancara Uji ini sekaligus juga menjawab rumusan Wawancara atau interview masalah yang telah ditulis pada Bab I. Uji adalah suatu metode yang tujuannya yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh data evaluasi, adalah uji Regresi Sederhana dengan secara berhadapan muka dengan rumus persamaan regresi sederhana : secara individu, orang yang Y = a + bX diinterview memberikan informasi- Y = Prestasi siswa informasi yang diperlukan secara X = Disiplin guru ilmiah dalam suatu relasi face to face‖ a = Nilai konstanta (Drs. Amatembun MA, supervise b = Nilai arah sebagai penentu ramalan Pendidikan, 1975:191). (prediksi) yang menunjukkan nilai 28
  • 95.
    peningkatan (+) atau nilai 1 Kurang 1 5,2 penurunan (–) variabel Y. 2 Cukup 4 21,1 3 Baik 14 73,7 Dalam penelitian ini perhitungan regresi Jumlah 19 100 dilakukan dengan bantuan program SPSS for Windows. Langkah menguji hipotesis : Tabel 1 di atas menunjukkan bahwa 1) Membuat Ha dan Ho dalam bentuk disiplin guru dalam melaksanakan kalimat : tugasnya sebagian besar (73,7%) baik, Ha : Terdapat pengaruh disiplin 21,1% cukup, dan 5,2% kurang. guru dengan prestasi siswa Ho : Tidak terdapat pengaruh disiplin guru dengan prestasi siswa Sedangkan Prestasi belajar siswa 2) Kaidah pengujian signifikansi : diukur dari nilai rata-rata mata pelajaran Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ha dari guru yang bersangkutan jika guru diterima dan Ho ditolak artinya tersebut adalah guru mata pelajaran, dan terdapat pengaruh disiplin guru nilai rata-rata kelas jika guru yang dengan prestasi siswa. bersangkutan adalah guru kelas. Nilai Jika Fhitung < Ftabel maka Ha tersebut diperoleh selama 6 kali evaluasi ditolak dan Ho diterima artinya tidak terakhir yang datanya diperoleh dari terdapat pengaruh disiplin guru dokumentasi pada guru mata pelajaran dengan prestasi siswa. atau guru kelas masing-masing. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 2 Nilai Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai Rata-rata Mata Pelajaran (6 x evaluasi terakhir) Terdapat 8 indikator dalam menjelaskan disiplin guru yang diperoleh datanya melalui observasi dan Nilai Rata-Rata Kelas atau Nilai dokumentasi yaitu, kehadiran, ketepatan Rata-rata Mata Pelajaran waktu mengajar, silabus, RPP, alat peraga, No Resp (6 x evaluasi terakhir) buku, absensi murid, buku penunjang, daftar nilai. . Rata 1 2 3 4 5 6 - Rata Tabel 1 Disiplin Guru di Sekolah Dasar 1 7,60 7,90 7,95 8,10 8,20 8,64 8,07 Negeri Banjarsari Kec. Cerme Kabupaten Gresik 2 6,54 5,95 7,00 7,10 6,52 6,43 6,59 3 8,00 8,50 7,93 7,87 8,30 8,00 8,10 Persentase 4 8,20 7,50 7,90 7,60 7,90 7,42 7,75 No Daftar Nilai Jumlah (%) 29
  • 96.
    Nilai Rata-Rata Kelasatau Nilai pada lampiran. Pada analisa data ini akan Rata-rata Mata Pelajaran dipaparkan uji hipotesis dengan regresi No linier sederhana. Output perhitungan Resp (6 x evaluasi terakhir) dengan program SPSS for Windows . seperti terlihat dalam gambar berikut. Rata 1 2 3 4 5 6 - Rata ANOVAb Sum of 5 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 8,00 Model 1 Regression Squares 1,918 df 1 Mean Square 1,918 F 6,171 Sig. ,024 a Residual 5,282 17 ,311 6 7,20 7,56 7,85 7,98 8,20 8,20 7,83 Total 7,200 a. Predictors: (Constant), Disiplin Guru 18 b. Dependent Variable: Prestas i Sisw a 7 8,60 8,40 8,00 8,21 7,58 7,49 8,05 Gambar 1 Uji F 8 7,98 7,12 7,59 7,87 8,67 8,12 7,89 9 7,90 7,92 8,00 8,20 8,40 8,50 8,15 Gambar 4.2 di atas menunjukkan 10 6,90 6,90 6,65 6,00 7,15 7,26 6,81 hasil uji F dengan program SPSS for 11 6,70 6,80 6,90 6,23 6,50 6,21 6,56 Windows, dengan Fhitung sebesar 6,171. Angka ini selanjutnya dibandingkan 12 8,00 8,50 8,50 8,00 7,90 9,40 8,38 dengan Ftabel pada df = 17 sebagaimana Tabel F pada lampiran (Critical Values for 13 7,50 7,60 7,70 7,54 7,80 8,00 7,69 the F Distribution α=0,05). Tabel F dengan df = 13 dan n =1 diperoleh Ftabel = 14 6,10 6,00 6,58 6,98 7,16 7,90 6,79 4,45. Sehingga Fhitung = 6,171 > Ftabel = 4,45. 15 8,20 8,00 8,10 8,23 8,21 8,60 8,22 Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha 16 7,59 8,00 8,10 8,20 8,50 8,42 8,14 diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh signifikan disiplin guru 17 8,50 8,40 8,60 8,21 8,24 8,21 8,36 terhadap prestasi belajar siswa. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,024 18 6,80 7,10 6,85 6,98 6,85 6,20 6,80 jauh di bahwa 0,05, yang menandakan 19 7,23 8,00 8,00 8,20 8,10 8,65 8,03 pengaruh yang signifikan. Selain adanya pengaruh yang signifikan, pada uji korelasi juga terlihat adanya korelasi positif (Gambar 4.3) antar kedua variabel yang diperoleh Pearson Uji Regresi Linier Sederhana Correlation sebesar 0,516 lebih dari rtabel Data yang terkumpul sebagaimana sebesar 0,456 (Sebagaimana r tabel paparan sebelumnya selanjutnya dianalisis Product Moment pada df = 17 terlampir). untuk mengetahui pengaruh disiplin guru dengan prestasi belajar siswa. Koding, skoring, dan tabulating telah dilaksanakan peneliti yang hasilnya tertera 30
  • 97.
    Cor relations = 6,191 + 0,560 Prestasi Sisw a Disiplin Guru Selanjutnya berdasarkan persamaan Pearson Correlation Prestasi Sisw a 1,000 ,516 di atas deskripsi pengaruh tingkat Disiplin Guru ,516 1,000 Sig. (1-tailed) Prestasi Sisw a , ,012 pendidikan terhadap perkembangan Disiplin Guru ,012 , perusahaan berdasarkan unstandarized N Prestasi Sisw a 19 19 Disiplin Guru 19 19 coeffisients beta adalah sebagai berikut: 1) Konstanta sebesar 6,191 menyatakan Gambar 2 Uji Korelasi bahwa jika variabel disiplin guru dianggap konstan (tidak ada upaya meningkatkan disiplin guru), maka prestasi belajar siswa sebesar Besarnya pengaruh atau kontribusi 6,191point. disiplin guru terhadap prestasi belajar 2) Koefisien regresi disiplin guru sebesar siswa dapat dilihat pada gambar Uji t 0,560 menyatakan bahwa setiap berikut ini. peningkatan 1 poin tingkat disiplin guru akan meningkatkan a Coe fficients perkembangan perusahaan sebesar Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Correlations 0,560 poin. Jika angka tersebut Model 1 (Constant) B 6,191 Std. Error ,619 Beta t 10,003 Sig. ,000 Zero-order Partial Part dikalikan 1000, deskripsinya menjadi Disiplin Guru ,560 a. Dependent Variable: Prestasi Sisw a ,226 ,516 2,484 ,024 ,516 ,516 ,516 setiap ada upaya peningkatan disiplin guru sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan prestasi belajar siswa Gambar 3 Uji t sebesar 560 point. Sebagaimana Uji F di atas yang menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga PEMBAHASAN seperti pada Gambar 4.4 memperlihatkan thitung sebesar 2,484 > ttabel sebesar 2,110 (sebagaimana Critical Value for the t Distribution terlampir untuk df = 17) Hasil penelitian menunjukkan disiplin artinya terdapat pengaruh disiplin guru guru dipengaruhi oleh tanggung jawab terhadap prestasi belajar siswa. yang dibebankan kepadanya. Tanggung jawab tersebut berasal dari pemerintah Untuk menunjukkan besarnya karena para guru adalah Pegawai Negeri pengaruh atau kontribusi disiplin guru Sipil yang mempunyai tugas pokok dan terhadap prestasi belajar siswa dapat fungsi yang jelas. dilihat koefisien regresi (unstandarized coefficients Beta) pada gambar 4.4 di atas Selain itu para guru juga bertanggung sebesar 0,560. Selanjutnya sesuai dengan jawab atas prestasi belajar para siswanya. rumus regresi sederhana dapat Guru cera umum akan merasa bangga dimasukkan angka-angka tersebut sebagai apabila siswanya dapat berprestasi dan berikut : memiliki kemampuan yang baik. Y = a + bX Disebutkan bahwa faktor-faktor kesehatan jasmani dan rohani, ekonomi, 31
  • 98.
    status sosial, kepemimpinan dan karena mereka menyadari bahwa guru peraturan dan tata tertib juga berpengaruh memegang peranan penting dalam terhadap disiplin guru. pelaksanaan pembangunan di bidang pendidikan, karena pendidikan akan Kesehatan seluruh guru secara umum berjalan lancar dan berkembang baik terlihat sehat jasmani maupun rohaninya. apabila guru secara aktif ikut memajukan Dikatakan bahwa kesehatan seorang guru pendidikan di dalam masyarakat. mempengaruhi terhadap tugas sehari-hari. Sudah sewajarnyalah bila setiap guru Faktor kepemimpinan merupakan menginginkan rasa aman dalam faktor penting dalam membentuk disiplin kehidupannya sehingga akan terhindar para guru. Kepemimpinan yang dimaksud dari segala gangguan kesehatan. Sehingga ini adalah kepemimpinan kepala sekolah. ia dapat melaksanakan tugas-tugasnya Dikatakan bahwa kepala sekolah, jika dengan yang akhirnya dapat membawa kepemimpinannya efektif, maka guru- hasil yang baik pula. guru akan memperoleh sumbangan yang berharga dalam merumuskan tujuan- Selanjutnya masalah ekonomi secara tujuan pendidikan, berlangsung umum Pegawai Negeri Sipil telah pengajaran yang efektif, terciptanya mendapatkan penghasilan yang cukup suasana yang kondusif (berguna) sehingga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. hal demikian itu akan mendukung Pemerintah melalui Presiden terciptanya kedisiplinan guru yang baik. Abdurrahman Wahid pada tahun 2001 Dengan demikian maka factor menaikkan gaji Pegawai Negeri Sipil kepemimpinan dapat mempengaruhi mencapai 200% atau dua kali lipat, kedisiplinan guru. Di SDN Banjarsari Kec sehingga jika dibandingkan dengan Cerme Kabupaten Gresik, kepemimpinan penghasilan rata-rata penduduk di kepala sekolah sukup baik, dan Indonesia Pegawai Negeri Sipil sudah komunikasi kepala sekolah dengan para cukup baik. Memang masalah ekonomi guru juga berlangsung dengan baik. sangat penting terhadap disiplin guru. Dikatakan bahwa faktor ekonomi Tidak kalah penting adalah peraturan menambah beban bagi guru-guru dan dan tata tertib sekolah yang menjadi persoalan pribadi yang dapat mempengaruhi disiplin guru. Disiplin memungkinkan terganggunya tugas-tugas guru dan tata tertib sekolah merupakan di sekolah. Padahal guru-guru dua hal yang saling terkait. Artinya menginginkan rasa aman, tentram dalam disiplin guru tidak akan tercapai bila tidak kehidupannya yang antara lain yaitu ada peraturan atau ketentuan-ketentuan penerimaan gaji lancar, segala haknya yang mengikat, sehingga menyebabkan dapat diterima dengan baik dan tepat pada guru untuk berbuat semaunya sendiri yang waktunya, juga memiliki tempat tinggal mengarah terciptanya sekolah yang tidak untuk keluarganya dan lain-lain. teratur/tertib. Tata tertib yang ada di SDN Banjarsari sudah cukup baik dan tercatat Kemudian tentang status sosial guru dan ditempatkan di posisi yang mudah di dalam masyarakat mempunyai status dilihat. yang cukup baik. Masyarakat memandang guru sebagai orang yang patut dihargai, 32
  • 99.
    Hasil uji menunjukkanpengaruh yang signifikan disiplin guru terhadap prestasi belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA Ketika belajar di sekolah, faktor guru dan cara mengajarkannya merupakan faktor Ametembun, Drs.M.A, “Supervisi yang paling penting pula. Bagaimana sikap Pendidikan”, Penerbit IKIP dan kepribadiannya guru, disiplinnya, Bandung, 1975 tinggi rendahnya pengetahuan yang dimiliki guru, dan bagaimana cara guru itu Ametembun, Drs.M.A, “Manajemen mengajarkan pengetahuan kepada anak Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbit didiknya, turut menentukan bagaimana IKIP Bandung, 1981 hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa. Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik Penilaian Pendidikan”, Penerbit Kesimpulan IKIP Bandung, 1984 Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs., “Administrasi Pendidikan Dasar”, 1. Disiplin guru di SDN Banjarsari Penerbit Departemen Pendidikan Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik dan Kebudayaan, 1976 sebagian besar baik. 2. Terdapat pengaruh positif disiplin M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi guru terhadap prestasi belajar siswa di Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda SDN Banjarsari Kecamatan Cerme Karya Bandung 1990 Kabupaten Gresik. M. Dimyati Mahmud, “Psykologi Pendidikan”, Suatu Pendekatan Saran-saran Terapan Edisi I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta 1. Para guru diharapkan agar dapat menjalankan tugas dengan penuh rasa Sutrisno Hadi, Prof. Dr. M.A., “Metodologi tanggung jawab, disiplin, jujur, dan Reseach”, Jilid II Penerbit FKP penuh didekasi, karena dengan sikap- IKIP Yogyakarta 1967 sikap tersebut sangat membantu dalam tercapainya prestasi belajar Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs siswa. “Supervisi Pendidikan”, Dalam 2. Para guru hendaknya juga lebih Rangka Program Insenvice memperhatikan kehadiran, persiapan Education, Penerbit IKIP Malang mengajar dan proses kegiatan belajar 1971 mengajar. 3. Bagi kepala sekolah dapat memberi S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan motivasi agar para guru lebih disiplin Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit dengan memberi stimulus yang Jemara Bandung 1989 proporsional. 33
  • 100.
    Westy Sumanto, Drsdan Hendyat Sutopo “Kepemimpinan Pendidikan”, Peberbit Usaha Nasional Surabaya 1982 Subari, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar Penerbit Bumi Aksara Jakarta 1994 Departeman Pendidikan dan Kebudayaan “Buku II Petunjuk Administrasi Sekolah Dasar”, tahun 1989 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Jawa Timur “Media Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei 1991 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia “Kamus Besar Bahasa Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka 1989 TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis Besar Haluan” Negara 1993-1998, Penerbit Bina Pustaka Surabaya 1989 34
  • 101.
    PENGARUH PELAKSANAAN SUPERVISIKEPALA SEKOLAH TERHADAP KEDISIPLINAN GURU DALAM PELAKSANAKAN PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SDN NGAGELREJO II/397 KECAMATAN WONOKROMO KOTA SURABAYA Sri Sundari *) Abstrak, Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru juga perlu menaruh perhatian terhadap kemajuan murid di samping evaluasi belajar memecahkan masalah atau problem yang dihadapi murid dan lain-lainnya. Di dalam memperbaiki dan mensukseskan proses belajar mengajar serta memecahkan masalah lain, banyak dipengaruhi oleh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap guru dan lingkungan sekolahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap kedisiplinan guru dalam pelaksanakan proses belajar mengajar. Penelitian ini merupakan jenis regresional. Populasinya adalah seluruh guru di SDN Ngagelrejo II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya berjumlah 18 orang. Sampel diambil dengan teknik total sampling diperoleh responden sebanyak 18 orang. Data dikumpulkan dengan kuesioner, observasi, dan dokumentasi. Selanjutnya untuk mengetahui pengaruh pelaksanaan supervisi kepala terhadap disiplin guru digunakan uji regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49. Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha diterima dan Ho ditolak yang berarti terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru. Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung = 0,026 jauh di bawah 0,05, yang menandakan pengaruh yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diharapkan supervisi kepala sekolah dilaksanakan sebaik- baiknya sehingga lebih meningkatkan disiplin guru. Guru hendaknya ikut mensukseskan pelaksanaan supervisi kepala sekolah agar kegiatan proses belajar mengajar lebih meningkat dan bermutu. Bagi pihak-pihak terkait khususnya pemerintah hendaknya memperhatikan pelaksanaan supervisi kepala sekolah dan membantu memberikan instrumen yang valid dan handal. Kata Kunci : Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah, Kedisiplinan Guru PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi meliputi seluruh bidang 35
  • 102.
    kehidupan, misalnya bidang dijamin haknya untuk mendapatkan komunikasi, transportasi serta pengajaran sebagaimana tercantum pembangunan fisik lainnya. Karena dalam Batang Tubuh UUD 1945 Bab perkembangan ilmu pengetahuan dan XIII pasal 31 ayat 1 yang berbunyi teknologi semakin canggih, maka ―Tiap-tiap warga negara berhak hubungan antara negara-negara di mendapatkan pengajaran‖. Untuk dunia ini semakin berkembang. Jarak pelaksanaan tersebut diatas, maka antara negara yang satu dengan negara pemerintah berupaya serta yang lainnya seolah-olah semakin mempunyai tanggung jawab dalam dekat. Perkembangan ilmu pendidikan. Hal ini diperkuat dengan pengetahuan dan teknologi ayat berikutnya (pasal 31 ayat 2) yang mendekatkan dan menyatukan negara berbunyi : ―Pemerintah mengusahakan yang satu dengan negara yang lain dan menyelenggarakan satu sistem sehingga seolah-olah dunia ini pengajaran nasional yang diatur oleh mengglobal. Undang-undang‖. Oleh karena itu, bangsa Indonesia Dengan melihat pernyataan diatas, juga berusaha untuk meningkatkan maka pendidikan mencetuskan ilmu pengetahuan dan teknologi agar harapan, karena harapan terletak pada sesuai dengan perkembangan jaman. pendidikan, harapan juga menjiwai Hal ini sesuai dengan cita-cita dan perjuangan kemerdekaan. Karena itu tujuan negara yang tercantum dalam pendidikan merupakan bagian mutlak UUD 1945 alinea 4 yang berbunyi: dari perjuangan dan merupakan “Mencerdaskan kehidupan bangsa investasi yang paling utama dari setiap dan ikut melaksanakan ketertiban bangsa. dunia berdasarkan kemerdekaan, Oleh karena itu, mutu pendidikan perdamaian abadi dan keadilan lebih banyak cenderung dan sosial”. tergantung pada guru dalam Untuk melaksanakan hal tersebut membimbing/mendidik proses belajar diatas, maka salah satu bidang yang mengajar, serta kedisiplinan dalam harus diutamakan dalam rangka pelaksanaan kegiatan belajar mengajar meningkatkan kualitas sumber daya di sekolah. Kedisiplinan perlu sekali manusia adalah dalam bidang ditingkatkan untuk mencapai pendidikan, karena pendidikan modal keberhasilan pendidikan, baik disiplin paling utama dalam menciptakan waktu maupun tugas. manusia yang cerdas dalam arti Sebagai tenaga pendidik di terampil, dapat berdiri sendiri serta sekolah, guru harus ikut aktif dalam bertanggung jawab terhadap bangsa rangka pencapaian tujuan pendidikan dan negara. nasional, sebagaimana yang tercantum Dalam pendidikan atau dalam Ketetapan MPR No. 11/83 pengajaran, warga negara Indonesia tentang GBHN halaman 93 yang 36
  • 103.
    berbunyi : ―Pendidikannasional sekedar descriptive, sedangkan bentuk berdasarkan Pancasila bertujuan untuk penelitian verifikatif menurut Moh. Nazir meningkatkan ketaqwaan terhadap (1988:63) digunakan untuk menguji ―Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan hipotesis yang menggunakan perhitungan- perhitungan statistik. dan ketrampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan seta cinta tanah air agar dapat Deskripsi Populasi dan Penentuan Sampel membangun dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas Deskripsi Populasi pembangunan bangsa dan negara‖. Arikunto (2002) menyatakan bahwa Untuk mencapai tujuan populasi adalah obyek yang akan diteliti pendidikan tersebut diatas, maka tugas hasilnya, dianalisis, disimpulkan dan guru juga perlu menaruh perhatian kesimpulan itu berlaku untuk seluruh terhadap hal-hal lain. Laporan tentang populasi itu. Sudjana (1996) menjelaskan kemajuan murid di samping evaluasi popupasi adalah totalitas semua nilai yang belajar memecahkan masalah atau mungkin, hasil menghitung atau problem yang dihadapi murid dan lain- pengukuran, kuantitatif, atau kualitatif lainnya. mengenai karateristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jenis Di dalam memperbaiki dan yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. mensukseskan proses belajar mengajar serta memecahkan masalah lain Penelitian ini dilakukan dengan sebagaimana tersebut, banyak dipengaruhi mengambil populasi seluruh guru di SDN oleh pelaksanaan supervisi Kepala Sekolah Ngagelrejo II Wonokromo Surabaya terhadap guru dan lingkungan sekolahnya. berjumlah 18 orang. Penentuan Sampel METODE PENELITIAN Pengambilan sampel ini didasari pendapat Arikunto (1998:120-121) ―Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik Jenis Penelitian diambil semua sehingga penelitiannya Penelitian ini menggunakan metode merupakan penelitian populasi. penelitian explanatory survey. Selanjutnya jika jumlah subyeknya besar Pendekatan explanatory survey ini, dapat diambil antara 10-15% atau lebih sebagaimana simpulan Cooper dan tergantung setidak-tidaknya dari : a) Pamela (2003:13), Masri Singarimbun dan kemampuan peneliti dari waktu, tenaga Sofyan Effendi (1995:3) terbukti mampu dan dana, b) Sempit luasnya wilayah dengan baik menjelaskan hubungan antar pengamatan dari setiap subyek, karena hal aspek yang diamati dan bukan hanya ini menyangkut banyak sedikitnya data, c) 37
  • 104.
    Besar kecilnya risikoyang ditanggung oleh Agar tujuan penelitian dapat tercapai peneliti. Untuk penelitian yang risikonya maka variabel harus didefinisikan dengan besar, tentu saja jika sampel besar, jelas dan menyebutkan indikator- hasilnya akan lebih baik.‖ dindikatornya, cara pengukurannya, dan skala atau kategori penilaian yang Sugiyono (2009:124) menyatakan digunakan. Berikut ini adalah definisi jumlah sampel tergantung dari tingkat operasional masing-masing variabel. ketelitian atau kesalahan yang 1. Variabel bebas (X) yakni dikehendaki, misalnya tingat kesalahan pelaksanaan supervisi kepala sekolah 1%, 5%, 10% atau lainnya. Makin besar adalah suatu usaha untuk mewujudkan tingkat kesalahan makin kecil sampel. kemajuan sekolah yang bersifat teratur Rumus untuk menghitung ukuran sampel dan kontinyu dengan jalan membina, dari populasi yang diketahui jumlahnya memperbaiki, meningkatkan adalah : kedisiplinan guru dalam pelaksanaan proses belajar mengajar untuk s = mempertinggi mutu pendidikan yang diberikan kepada siswa. Pelaksanaan 2dengan dk = 1, taraf kesalahan bisa 1%, 5%, supervisi kepala sekolah diukur 10% dengan indikator-indikator sebagai berikut : P = Q = 0,5 d = 0,05 s = jumlah sampel a. Prinsip konstruktif b. Prinsip kreatifitas Namun dari rumus tersebut telah c. Prinsip kooperatif dihitung untuk populasi-populasi dengan d. Prinsip demokrasi jumlah tertentu mulai 10 hingga e. Prinsip kontinyuitas 1.000.000 oleh Sugiono (2009:126) f. Prinsip ilmiah sebagaimana tabel terlampir. Untuk jumlah populasi 18 orang dengan taraf signifikan 0,05 diperoleh sampel sebanyak 2. Variabel terikat (Y) yakni disiplin 18 orang. Oleh karena itu dalam penelitian guru adalah suatu sikap mental seoang ini Dari 19 orang ini dipilih dengan teknik guru yang mengandung kesadaran dan total sampling yaitu mengambil seluruh kerelaan untuk mematuhisemua guru menjadi responden. ketentuan, peraturan dan norma yang berlaku dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab. Disiplin guru tersebut Variabel Penelitian diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut : Dalam penelitian yang dilakukan ini, a. Kehadiran di sekolah variabel yang digunakan terdiri dari satu b. Ketepatan waktu mengajar variabel bebas yaitu disiplin guru dan satu c. Persiapan mengajar yaitu silabus, variabel terikat yaitu prestasi belajar. RPP d. Kegiatan belajar mengajar antara lain alat peraga, buku penunjang, Definisi Operasional Variabel buku absen siswa, daftar nilai, dan lain-lain. 38
  • 105.
    1. Coding, adalahmemberi kode pada lembar check list sesuai dengan Teknik Pengumpulan Data kategori yang telah ditentukan. 2. Tabulating, Tabulating adalah Adapun proses pengumpulan data mentabulasi seluruh data hasil chek dalam penelitian ini dilakukan dengan list ke dalam tabel-tabel yang prosedur sebagai berikut : diperlukan sehingga mudah dibaca. 1. Survey Pendahuluan Dalam kegiatan ini, penelitian 3. Skoring, Skoring adalah memberi skor dari kategori-kategori tersebut sesuai dilakukan dengan mengumpulkan skor yang telah ditentukan. data-data intern perusahaan di Pelaksanaan supervisi kepala sekolah antaranya adalah profil SDN dan disiplin guru diberi skor tinggi, Ngagelrejo II Wonokromo Surabaya. sedang dan rendah. Skor tinggi jika 2. Dokumentasi penjumlahan dari hasil penilaian Teknik dokumentasi adalah mencapai >75%, skor sedang jika mencari data mengenai hal-hal atau penjumlahan dari hasil penilaian variabel yang berupa catatan, mencapai 56-75%, dan rendah jika transkrip, buku, surat kabar, majalah, penjumlahan dari hasil penilaian prasasti, notulen rapat, legger, agenda <56%. dan sebagainya (Suharsimi, 2002 : 4. Uji Hipotesis 236). Uji hipotesis berfungsi untuk Dalam penelitian ini teknik menjawab hipotesa yang telah dokumentasi digunakan untuk diajukan sebelumnya. Uji ini sekaligus mencatat indikator disiplin guru. juga menjawab rumusan masalah yang 3. Kuesioner telah ditulis pada Bab I. Uji yang Dalam penelitian ini digunakan digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup dengan skala uji Regresi Sederhana dengan rumus Likert. Menurut Arikunto (1998:151) persamaan regresi sederhana : kuesioner tertutup adalah Y = a + bX kuesioner yang telah disediakan Y = Disiplin guru jawabannya sehingga responden X = Pelaksanaan supervisi kepala tinggal memilih jawaban pada kolom sekolah yang sudah disediakan dengan a = Nilai konstanta memberi tanda cross (x). Dalam b = Nilai arah sebagai penentu penelitian ini kuesioner digunakan untuk megambil data tentang ramalan (prediksi) yang menunjukkan nilai peningkatan pelaksanaan supervisi kepala sekolah. (+) atau nilai penurunan (–) variabel Y. Teknik Analisis Data Dalam penelitian ini perhitungan regresi dilakukan dengan bantuan Data yang telah terkumpul program SPSS for Windows. kemudian dilakukan analisis dengan Langkah menguji hipotesis : urutan analisa sebagai berikut : 39
  • 106.
    a. Membuat Hadan Ho dalam bentuk pelaksanaan supervisi kepala sekolah kalimat : 72,2% menyatakan cukup, 16,7% Ha : Terdapat pengaruh menyatakan kurang, dan 11,1% masing pelaksanaan supervisi menyatakan baik. kepala sekolah terhadap disiplin guru Ho : Tidak terdapat pengaruh Tabel 2 Disiplin Guru di SDN Ngagelrejo pelaksanaan supervisi II/397 Kec. Wonokromo Kota Surabaya kepala sekolah terhadap disiplin guru b. Kaidah pengujian signifikansi : Dis iplin Gur u Jika Fhitung ≥ Ftabel maka Ha Frequenc y Percent Valid Percent Cumulativ e Percent diterima dan Ho ditolak artinya Valid Cukup 3 16,7 16,7 16,7 Baik 15 83,3 83,3 100,0 terdapat pengaruh pelaksanaan Total 18 100,0 100,0 supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru. Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa Jika Fhitung < Ftabel maka Ha disiplin guru dalam melaksanakan ditolak dan Ho diterima artinya tugasnya sebagian besar (83,3%) baik, dan tidak terdapat pengaruh 16,7% cukup. pelaksanaan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin guru. Analisis Data Hasil Pengujian Validitas Validitas menunjukkan sejauh mana alat ukur yang digunakan mengukur apa yang diinginkan dan mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat. HASIL PENELITIAN Instrument valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapat data itu valid. Dalam uji validitas ini suatu butir Tabel 1 pernyataan dikatakan valid jika corrected item total correlation lebih besar dari Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah 0,468 (untuk jumlah responden 18 orang df = 16) sebagaimana tabel r produk Pelak s anaan Supe rvis i Keps ek momen terlampir. Hasil pengujian Cumulativ e validitas terhadap variabel pelaksanaan Valid Kurang Frequenc y 3 Percent 16,7 Valid Percent 16,7 Percent 16,7 supervisi kepala sekolah dapat dilihat Cuku 13 72,2 72,2 88,9 sebagai berikut : Baik 2 11,1 11,1 100,0 Total 18 100,0 100,0 Tabel 3 Hasil Uji Validitas Variabel Tabel 1 menunjukkan dari 18 guru Pelaksanaan Supervisi Kepala Sekolah sebagai responden dalam menanggapi 40
  • 107.
    Corrected terhadap variabel terikat yang dalam hal Pernya- Keterangan item total ini adalah disiplin guru (Y), maka taan correlation digunakan analisis model regresi linier 1 0,720 Valid sederhana dengan model persamaan 2 0,692 Valid sebagai berikut : 3 0,623 Valid 4 0,668 Valid 5 0,612 Valid Y = α + bX1 6 0,622 Valid Dimana : Sumber : Hasil Olah Data SPSS Dari tabel di atas dapat diketahui Y = Disiplin guru bahwa untuk item pernyataan variabel pelaksanaan supervisi kepala sekolah, X = Pelaksanaan supervisi kepala corrected item total correlation yang sekolah diperoleh untuk seluruh item pernyataan b = koefisien regresi X adalah lebih besar dari 0,468 hal tersebut berarti bahwa secara keseluruhan item pernyataan mengenai pelaksanaan supervisi kepala sekolah adalah valid. Output perhitungan dengan program SPSS for Windows seperti terlihat dalam gambar berikut. Hasil Uji Reliabilitas ANOVAb Suatu alat ukur dikatakan reliabel Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. atau handal, jika alat itu dalam mengukur 1 Regression Residual ,680 1,820 1 16 ,680 ,114 5,975 ,026 a suatu gejala pada waktu yang berbeda Total 2,500 17 a. Predictors: (Constant), Pelaksanaan Superv isi Kepsek senantiasa menunjukkan hasil yang relatif b. Dependent Variable: Dis iplin Guru sama. Untuk menguji reliabilitas suatu instrument dapat digunakan uji statistic Gambar 1 Uji F Cronbach Alpha (α), dimana suatu alat ukur dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dari 0,60. Hasil Gambar 4.3 di atas menunjukkan pengujian reliabilitas terhadap variabel hasil uji F dengan program SPSS for pelaksanaan supervisi kepala sekolah Windows, dengan Fhitung sebesar 5,975. diperoleh alpha sebesar 0,8773 lebih besar Angka ini selanjutnya dibandingkan dari 0,6 sehingga dapat diputuskan bahwa dengan Ftabel df = 16 sebagaimana Tabel F item kuesioner telah reliabel. pada lampiran (Critical Values for the F Distribution α=0,05). Tabel F dengan df = 16 dan n =1 diperoleh Ftabel = 4,49. Hasil Pengujian Regresi Linier Sehingga Fhitung = 5,975 > Ftabel = 4,49. Sederhana Oleh karena Fhitung > Ftabel maka Ha Untuk mengetahui ada atau tidaknya diterima dan Ho ditolak yang berarti pergaruh antara variabel bebas terdapat pengaruh pelaksanaan supervisi pelaksanaan supervisi kepala sekolah (X) 41
  • 108.
    kepala sekolah terhadapdisiplin guru. (sebagaimana Critical Value for the t Terlihat pula signifikan hasil hitung αhitung Distribution terlampir) artinya terdapat = 0,026 jauh di bawah 0,05, yang pengaruh pelaksanaan supervisi kepala menandakan pengaruh yang signifikan. sekolah terhadap disiplin guru. Selain adanya pengaruh yang Untuk menunjukkan besarnya signifikan, pada uji korelasi juga terlihat pengaruh atau kontribusi pelaksanaan adanya korelasi positif antar kedua supervisi kepala sekolah terhadap disiplin variabel seperti tampak pada Gambar 4.2. guru dapat dilihat koefisien regresi Hasil Pearson Correlation sebesar 0,521 (unstandarized coefficients Beta) pada lebih dari rtabel sebesar 0,468 gambar 4.2 sebesar 0,589. Selanjutnya (Sebagaimana r tabel Product Moment sesuai dengan rumus regresi sederhana pada df = 16 terlampir). dapat dimasukkan angka-angka tersebut sebagai berikut : Cor relations Pelaksanaan Y = a + bX Supervis i Disiplin Guru Keps ek Pearson Correlation Disiplin Guru 1,000 ,521 = 2,112 + 0,371 Pelaksanaan ,521 1,000 Supervis i Keps ek Sig. (1-tailed) Disiplin Guru , ,013 Selanjutnya berdasarkan persamaan Pelaksanaan Supervis i Keps ek ,013 , di atas deskripsi pengaruh pelaksanaan N Disiplin Guru Pelaksanaan 18 18 supervisi kepala sekolah terhadap disiplin Supervis i Keps ek 18 18 guru berdasarkan unstandarized coeffisients beta adalah sebagai berikut: Gambar 4.2 Pearson Correlations 1) Konstanta sebesar 2,112 menyatakan bahwa jika variabel pelaksanaan supervisi kepala sekolah dianggap Besarnya pengaruh atau kontribusi konstan (tidak ada upaya supervisi), tingkat pendidikan terhadap maka disiplin guru sebesar 2,112 point. perkembangan perusahaan dapat dilihat 2) Koefisien regresi pelaksanaan pada gambar Uji t berikut ini. supervisi kepala sekolah sebesar 0,371 a Coe fficients menyatakan bahwa setiap peningkatan Unstandardized Standardized 1 poin pelaksanaan supervisi kepala sekolah akan meningkatkan disiplin Coefficients Coefficients Model B Std. Error Beta t Sig. 1 (Constant) Pelaksanaan 2,112 ,305 6,915 ,000 guru sebesar 0,371 poin. Jika angka ,371 ,152 ,521 2,444 ,026 Supervisi Kepsek a. Dependent Variable: Disiplin Guru tersebut dikalikan 1000, deskripsinya menjadi setiap ada upaya pelaksanaan Gambar 4.3 Uji t supervisi kepala sekolah sebesar 1000 poin maka akan meningkatkan disiplin guru sebesar 371 point. Sebagaimana Uji F di atas yang menunjukkan adanya pengaruh, Uji t juga Hasil uji regresi linier sederhana seperti pada Gambar 4.3 memperlihatkan menunjukkan adanya pengaruh thitung sebesar 2,444 > ttabel sebesar 2,120 pelaksanaan supervisi kepala sekolah 42
  • 109.
    terhadap disiplin guru.Adanya pengaruh suatu hal pengetahuan, sikap atau nilai ini menunjukkan betapa pentingnya dan ketrampilan, profesi. Maka pelaksanaan supervisi kepala sekolah. maksudnya, supervisor hendaknya menyadari sepenuhnya bahwa setiap guru Dalam kaitan pentingnya pelaksanaan pasti mempunyai kelebihan dan supervisi kepala sekolah terhadap disiplin kekurangan. guru, Soewadji (1980:33) menyatakan supervisi merupakan rangsangan, Prinsip kreativitas juga tidak kalah bimbingan atau bantuan yang diberikan penting, Dolok Saribu dan Berlian T. kepada guru-guru agar kemampuan Simbolon (1984:236) mengemukakan profesionalnya semakin bertambah, bahwa supervisi hendaknya mendorong sehingga situasi belajar mengajar lebih guru untuk berinisiatif, melalui supervisi efektif dan efisien. Kemampuan hendaknya guru dapat memperoleh profesional tidak lepas dari disiplin guru, pengetahuan, juga berkreasi atau dikatakan profesional berarti seorang guru mencipta dengan sikap atau nilai dan juga bisa melaksanakan disiplin dengan ketrampilan guru atas inisiatif sendiri baik. tidak bergantung kepada kepala sekolah atau pemimpinannya. Baharudun Harahap menjelaskan masalah supervisi dalam administrasi Sedangkan prinsip kooperatif, juga pendidikan adalah pembinaan telah dikembangkan oleh kepala sekolah administrasi atau kepegawaian, yaitu yang dilaksanakan atas kerja sama antara masalah pengaturan, penyusunan dan kepala sekolah dan guru, sehingga terjalin penyimpanan data sebagai dasar kehamonisan kerja yang baik, saling dukungan keputusan mutasi yang mengisi dan menyadari kekurangan menyangkut kepentingan pegawai dalam masing-masing. Supervisor tidak dianggap kedudukan sebagai seorang Pegawai momok yang menakut-nakuti, namun di Negeri Sipil. Sedangkan yang dimaksud sini sebagai pemimpin mereka yang harus data di sini meliputi dokumen perorangan bias membantu kelancaran tugas para maupun data hasil olahan atau laporan. guru. Laporan yaitu kartu merah, Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DP3) Prinsip demokrasi dilaksanakan oleh dan selain itu untuk mengetehui kepala sekolah tidak hanya atas bagaimana kenaikan pangkat para guru kemampuannya, tetapi juga ternyata perlu atau pegawai dan pembagian tugasnya. mempertimbangkan kemauan/pendapat para guru. Kepala Sekolah sebagai Apalagi jika pelaksanaan supervisi supervisor menghargai kepribadian guru, kepala sekolah yang memenuhi prinsip- dalam pembicaraan bersama ia harus prinsip yang telah ditentukan maka memberi kesempatan kepada guru untuk semakin jelas hasilnya terhadap disiplin mengeluarkan pendapatnya dalam guru. Prinsip konstruktif misalnya, bahwa mengambil keputusan. Keputusan yang pelaksanaan bersifat membangun yaitu diambil hendaknya dengan jalan harus tampak perbedaan antara sebelum musyawarah. diadakan supervisi dengan sesudah supervisi yaitu makin majunya dalam Prinsip kontinyuitas yaitu melaksanakan terus-menerus secara 43
  • 110.
    teratur, tidak hanyakarena akan ada inspeksi atasan, sehingga para guru sudah terbiasa bekerja dengan teratur disertai dengan rasa disiplin dan tanggung jawab. Prinsip ilmiah menurut Made Pidharta (1986:39) bahwa supervisi dilaksanakan hendaknya dengan sistematika, objektif dan berdasarkan data atau informasi. Dalam hal ini tugas supervisi diharuskan pada pembinaan guru-guru. Supervisi berpegang pada tujuan sekolah, koordinasi merode belajar DAFTAR PUSTAKA dan kualifikasi dengan segala aktifitasnya yang sudah ditentukan secara jelas. Ametembun, Drs.M.A, “Supervisi Pendidikan”, Penerbit IKIP SARAN Bandung, 1975 Ametembun, Drs.M.A, “Manajemen Kelas”, Terbitan Ketiga Penerbit 1. Pelaksanaan supervisi kepala sekolah IKIP Bandung, 1981 seyogyanya dilaksanakan sebaik- baiknya sehingga lebih meningkatkan Ghozali, Imam. Aplikasi Analisis disiplin guru. Multivariate dengan Program 2. Guru hendaknya ikut mensukseskan SPSS. Badan Penerbit Undip, pelaksanaan supervisi kepala sekolah Semarang. 2002. agar kegiatan proses belajar mengajar lebih meningkat dan bermutu. Hendyat Sutopo, Dr., “Ikhtiar Teknik 3. Bagi pihak-pihak terkait khususnya Penilaian Pendidikan”, Penerbit pemerintah hendaknya IKIP Bandung, 1984 memperhatikan pelaksanaan supervisi kepala sekolah dan membantu Ismed Syarif, Drs dan Nawas Riza, Drs., memberikan instrumen yang valid dan “Administrasi Pendidikan Dasar”, handal. Penerbit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976 M. Ngalim Purwanto, Drs.M.P., “Pyskologi Pendidikan”, Penerbit PT. Rosda Karya Bandung 1990 M. Dimyati Mahmud, “Psykologi Pendidikan”, Suatu Pendekatan Terapan Edisi I Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Yogyakarta 44
  • 111.
    Sutrisno Hadi, Prof.Dr. M.A., “Metodologi Reseach”, Jilid II Penerbit FKP IKIP Yogyakarta 1967 Suhertin, Drs. Dan Nata Her, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Program Insenvice Education, Penerbit IKIP Malang 1971 S. Nasution, Prof.Dr.M.A “Didaktik dan Azas-Azas Kurikulum”, Penerbit Jemara Bandung 1989 Westy Sumanto, Drs dan Hendyat Sutopo “Kepemimpinan Pendidikan”, Peberbit Usaha Nasional Surabaya 1982 Subari, Drs “Supervisi Pendidikan”, Dalam Rangka Perbaikan Situasi Mengajar Penerbit Bumi Aksara Jakarta 1994 Departeman Pendidikan dan Kebudayaan “Buku II Petunjuk Administrasi Sekolah Dasar”, tahun 1989 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Wilayah Jawa Timur “Media Pendidikan”, Nomor 3 Edisi Mei 1991 Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia “Kamur Besar Bahasa Indonesia”, Penerbit Balai Pustaka 1989 TAP MPR No. II/MPR/1993 “Garis-Garis Besar Haluan” Negara 1993-1998, Penerbit Bina Pustaka Surabaya 1989. 45
  • 112.
    TELAAH KRITIS PENDIDIKANUNTUK SEMUA (EDUCATION FOR ALL) DALAM KONTEKS MANAJEMEN PENDIDIKAN Soesetijo *) Abstrak: pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Undang-Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga Negara Indonesia untuk mendapatkan pengajaran. Indonesia juga merupakan salah satu Negara yang menan- datangani “Education for All”. Oleh karena itu, Indonesia mencanang-kan Wajib Belajar 6 tahun pada tahun 1984 dan Wajib Belajar 9 tahun pada tahun 1994. Hakikat dari “Pendidikan untuk Semua dan Semua un-tuk Pendidikan” adalah mengupayakan agar setiap warga Negara dapat memenuhi haknya. Untuk mewujudkan program PUS (Pendidikan Untuk Semua) tersebut, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga- lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warganegara secara individual, secara bersama- sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk barpartisipasi aktif dalam menyukseskan pendidikan untuk semua. Agar program PUS dapat memenuhi target ca-paian sesuai dengan yang diharapkan, maka perlu dikelola secara profe-sional. Dalam konteks menejemen pendidikan, secara struktural penge-lolaan PUS perlu ada kosistensi dan komitmen yang sama dalam pelak-sanaannya, terutama dalam penerapannya di lembaga-lembaga pendi- dikan yang terkait. Kata-kata kunci: telaah kritis, pendidikan untuk semua, manajemen pendidikan. 1
  • 113.
    Manusia membutuhkan “Education for All”. Berkaitan dengan pendidikan dalam kehidupannya. deklarasi ini dan sekaligus juga sebagai Pendidikan merupakan usaha agar wujud keseriusan Indonesia manusia dapat mengembangkan mensukseskannya, maka Indonesia potensi dirinya melalui proses telah mencanangkan Wajib Belajar 6 pembelajaran dan/atau cara lain yang Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahun dikenal dan diakui oleh masyarakat. berikutnya, yaitu pada tahun 1994, Undang-Undang Dasar Negara Indonesia mencanangkan Wajib Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal Belajar 9 Tahun. Melalui Wajib Belajar 31 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap 6 Tahun diharapkan anak-anak usia warga Negara berhak mendapat Sekolah Dasar (7-12 tahun) dapat pendidikan, dan ayat (3) menegaskan menikmati layanan pendidikan bahwa Pemerin-tah mengusahakan Sekolah Dasar (SD). Artinya, anak- dan menyelenggarakan satu sistem anak usia SD dapat menyelesaikan pendidikan nasional yang pendidikan SD. Demikian juga halnya meningkatkan keimanan dan melalui pencanangan Wajib Belajar 9 ketakwaan serta akhlak mulia dalam Tahun diharapkan anak-anak usia rangka mencerdaskan SMP (13-15 tahun) dapat menyelesaikan pendidikan SMP. kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang. Untuk itu, Dalam lingkungan masyarakat seluruh komponen Indonesia yang pluralistis di mana setiap anak yang mengalami berbagai jenis kebudayaan diharapkan belajar *) Soesetijo, staf pengajar Universitas beradaptasi terhadap kebudayaan Gresik. utama Indonesia (mainstream culture), upaya pendekatan belajar bagi setiap anak harus lebih banyak dikaji secara mendalam sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman bangsa wajib mencerdaskan dan sesuai dengan kebutuhan kehidupan bangsa yang merupakan perkembangan anak (Developmentally salah satu tujuan negara Indonesia. Appropriate Practice, DAP). Sejak Indonesia merupakan salah satu kemerdekaan bangsa ini maka telah Negara yang menandatangi deklarasi 2
  • 114.
    disebutkan dalam UUD1945 pasal 31 mendapatkan layanan pendidikan ayat 1 bahwa setiap anak Indonesia dasar (Wajib Belajar 9 Tahun). Untuk berhak untuk belajar. UUD ini dapat mewujudkan ―Pendidikan untuk dilandasi oleh filsafat yang serasi Semua dan Semua untuk Pendidikan‖, dengan hak asasi manusia yang semua komponen bangsa, baik menjaga kedaulatan manusia yang pemerintah, swasta, lembaga-lembaga memiliki hak untuk belajar. sosial kemasyarakatan, maupun warga Negara secara individual, secara Berbagai program yang bersama-sama atau sendiri-sendiri, diarahkan untuk mendukung berkomitmen untuk berpartisipasi keberhasilan pelaksanaan Wajib aktif dalam menyukseskan Belajar 6 Tahun dan 9 Tahun telah ―Pendidikan untuk Semua dan Semua dilaksanakan secara terencana dan untuk Pendidikan‖ sesuai dengan bertahap. Berkaitan dengan hal ini, potensi dan kapasitas masing-masing. satu hal yang menjadi keprihatinan di Sebagai unit organisasi terkecil, berbagai Negara adalah mengenai orang tua dari setiap keluarga tergugah anak-anak yang karena satu dan lain dan ter-panggil untuk setidak-tidaknya hal terpaksa tidak dapat membimbing dan membelajarkan menyelesaikan pendidikan SD, anak-anaknya, baik melalui sehingga mereka ini menjadi warga pendidikan formal persekolahan, Negara yang buta aksara. Demikian lembaga pendidikan non-formal, juga dengan anak-anak yang terpaksa maupun melalui lembaga pendidikan tidak dapat menyelesaikan pendidikan informal. Mengirimkan anak untuk SMP, maka mereka akan cenderung belajar melalui lembaga pendidikan masuk ke dalam kelompok tenaga sekolah sudah jelas yaitu mulai dari kerja kasar. Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan pendidikan tinggi. Konsep Pendidikan untuk Semua Apabila karena satu dan lain (PUS) hal, seorang anak tidak Hakekat dari ―Pendidikan untuk memungkinkan untuk mengikuti Semua dan Semua untuk Pendidikan‖ pendidikan persekolahan, maka orang adalah mengupayakan agar setiap tua dapat mengirimkan anaknya untuk warga Negara dapat memenuhi mengikuti kegiatan pembelajaran pada haknya, yaitu setidak-tidaknya untuk pendidikan non-formal, seperti Paket 3
  • 115.
    A setara SD,Paket B setara SMP, dan terse-but, perlu koalisi yang luas dari Paket C setara SMA. Seandainya pemerintah nasional, masyarakat sipil seorang anak tidak memungkinkan kelompok, dan lembaga pembangunan juga mengikuti pendidikan melalui seperti UNESCO dan Bank Dunia. pendidikan formal dan non-formal, Mereka berkomitmen untuk mencapai maka masih ada model pendidikan enam tujuan pendidikan yaitu : alternatif yang dapat ditempuh, yaitu 1. Memperluas dan meningkatkan ―Sekolah di Rumah‖ (Home perawatan anak usia dini yang Schooling). Dalam kaitan ini, orang komprehensif dan pendidikan, tua dapat mengidentifikasi lembaga- terutama bagi yang paling lembaga sosial kemasyarakatan atau rentan dan anak-anak yang unit-unit pendidikan prakarsa anggota kurang beruntung. masyarakat yang menyelenggarakan 2. Memastikan bahwa pada 2015 Sekolah di Rumah‖ dan kemudian semua anak, khususnya anak mengirimkan anaknya untuk perempuan, yang dalam mengikuti pendidikan di lembaga atau keadaan sulit, dan mereka yang unit pendidikan tersebut. Atau, orang termasuk etnik minoritas, tua sendiri dengan latar belakang memiliki akses lengkap dan pendidikan dan pengetahuan yang bebas ke wajib pendidikan dimiliki, dapat membimbing dan dasar yang berkualitas baik. membelajarkan anak-anaknya 3. Memastikan bahwa kebutuhan sehingga pada akhirnya sang anak belajar semua pemuda dan dapat mengikuti ujian persamaan dewasa dipenuhi me-lalui akses (Upers), baik pada satuan pendidikan adil untuk pembelajaran yang SD, SMP atau SMA. tepat dan program keterampilan hidup. Pendidikan untuk Semua (PUS) 4. Mencapai 50% peningkatan Pada tanggal 5-9 Maret 1990 di dalam keaksaraan orang dewasa Jomtien, Thailand , 115 negara dam pada tahun 2015, khususnya 150 organi-sasi saling bertemu dan bagi perempuan, dan akses ke mengadakan Konferensi Dunia pendidikan dasar dan membahas Education for All (EFA) pendidikan ber-kelanjutan bagi atau Pendidikan Untuk Semua (PUS). semua orang dewasa secara Dalam rangka mewujudkan tujuan adil. 4
  • 116.
    5. Menghilangkan perbedaan pendidikan dasar dan universal serta gender pada pendidikan dasar MDG 3 mengenai kesetaraan jender dan menengah pada tahun dalam pendidikan pada tahun 2015. 2005, dan mencapai kesetaraan Indonesia, sebagai anggota gender dalam pendidikan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dengan 2015, dengan fokus turut menyepa-kati komitmen dunia pada perempuan bahwa mereka untuk menyelenggarakan program dipastikan mendapat akses Education for All (EFA) atau penuh dan sama ke dalam Pendidikan untuk Semua (PUS). pendidikan dasar dengan Komitmen dunia itu telah kualitas yang baik. dikumandangkan pada kon-ferensi 6. Meningkatkan semua aspek dunia di Jomtien, Thailand, pada kualitas pendidikan dan tahun 1990. Namun baru menjamin semua, sehingga dideklarasikan seba-gai sebuah diakui dan diukur hasil gerakan dunia pada pertemuan di pembelajaran yang dicapai oleh Dakar, Senegal, pada 26-28 April semua, khususnya dalam 2000. The Dakar Framework for keaksaraan, berhitung dan Action berisikan enam tujuan utama: kecakapan hidup yang esensial. 1) memperluas pendi-dikan untuk Setelah satu dekade, karena anak usia dini; 2) menuntaskan wajib lambatnya kemajuan dan banyaknya belajar untuk semu (2015); 3) Negara yang jauh dari keharusan mengembangkan proses untuk mencapai tujuan tersebut, pembelajaran/keahlian untuk orang masyarakat internasonal menegas-kan muda dan dewasa; 4) me-ningkatnya kembali komitmennya terhadap 50% orang dewasa yang melek huruf Pendidikan Untuk Semua di Dakar, (2015) khususnya perempuan; 5) me- Senegal, pada 26-28 April 2000 dan ningkatkan mutu pendidikan; dan (6) sekali lagi pada bulan September menghapuskan kesenjangan gender. tahun itu. Pada pertemuan terakhir, Target pencapaian EFA pada 189 negara dan mitra mereka 2015 itu kemudian disepakati untuk mengadopsi dua dari delapan tujuan dipercepat. Komitmen mempercepat Pendidikan Untuk Semua yang dikenal target EFA digaungkan E-9 Ministerial dengan nama Millenium Development Review Meeting on Educationfor All Goals (MDG) yaitu MDG 2 mengenai atau para menteri pendidikan dari 5
  • 117.
    Sembilan Negara berpenduduk dijabarkan ke dalam Rancangan Aksi terbesar dunia, pada pertemuan di Daerah Pendidikan Untuk Semua Denpasar, Bali, 12 Maret 2008. (RAD-PUS) pada semua provinsi dan Anggota E-9 adalah Negara dengan sebagian besar kabupaten/kota. jumlah penduduk sekitar 60% Sebagian dari komitmen populasi dunia. Selain Indonesia, menjalankan Pendidikan untuk anggota E-9 adalah Bangladesh, Brazil, Semua, pemerintah mencanangkan Cina, Mesir, India, Meksiko, Nigeria, penuntasan program Wajib Belajar dan Pakistan. Pendidikan Dasar 9 Tahun. Wajar Indonesia merasa Dikdas 9 Tahun mencakup jenjang berkepentingan menandatangani pendidikan SD/MI/pendidikan setara konvensi tersebut untuk memperkuat dan SMP/MTs/ pendidikan setara. komitmen bersama sebagai bangsa Program ini secara resmi dicanangkan dalam memenuhi hak-hak setiap anak Presiden Soeharto pada tanggal 2 Mei memperoleh pendidikan. Upaya 1994. Saat itu, Presiden Soeharto mencapai target EFA merupakan menargetkan program tersebut tuntas bagian dari upaya pembangunan pada tahun 2004, dengan indikator pendidikan nasional secara utama berupa angka partisipasi kasar keseluruhan. Sudah banyak yang dapat (APK) SMP/ MTs/pendidikan setara dica-pai dalam pembangunan minimal 95%. Pada tahun 2004, pendidikan sejak kemerdekaan. Tapi Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI juga besar pekerjaan ru-mah dan sebesar 94,12% dan Angka Partisipasi tantagan era sekarang dalam rangka Kasar (APK) SMP/MTs 81,22%. Han- menghasilkan sumber daya manusia taman krisis ekonomi yang merangsek yang unggul untuk pembangunan. sejak akhir tahun 1997 itu, membuat Kaitannya dengan Kerangka target dire-visi menjadi akhir tahun Aksi Dakar Pendidikan untuk Semua, 2008. Keputusan menjadwal ulang itu seluruh war-ga yang menandatangani dilakukan pada tahun 2000, saat deklarasi termasuk Indonesia, Abdurrahman Wahib menjadi berupaya memegang komitmen Presiden RI. memperluas dan memperbaiki Landasan Pendidikan Untuk pendidikan. Indonesia telah menyusun Semua di Indonesia Rencana Aksi Nasional Pendidikan Untuk Semua (RAN-PUS), yang 6
  • 118.
    Landasan yuridis pelaksanaan yang akan terjadi pada sistem pendidikan untuk semua atau peradaban dan budaya (Suyanto, education for all di Indonesia didasari 2006) manusia. Dengan ilustrasi ini, oleh beberapa hal, diantaranya adalah: maka baik pemerintah maupun 1. UUD 1945 (amandemen) pasal 31 masyarakat berupaya untuk ayat 1 : ―setiap warga Negara melakukan pendidikan dengan berhak mendapat pendidikan.‖ standar kualitas yang diinginkan 2. UU No. 20 tahun 2003 tentang untuk memberdayakan manusia. Sistem Pendidikan Nasional ―Sistem pendidikan yang dibangun (Sisdiknas) : harus disesuaikan dengan tuntutan a) Kewajiban bagi orangtua untuk zamannya, agar pendidikan dapat memberikan pendidikan dasar menghasilkan outcome yang relevan bagi anaknya (pasal 7 ayat 2) dengan tuntutan zaman (Suyanto, b) Kewajiban bagi masyarakat 2006). memberikan dukungan sumber Indonesia, telah memiliki daya dalam penyelenggaraan sebuah sistem pendidikan dan telah pendidikan (pasal 9) dikokohkan dengan UU No. 20 tahun c) Pendanaan pendidikan menjadi 2003. Pembangunan pendidikan di tanggung jawab bersama Indonesia sekurang-kurangnya pemerintah, pemerintah menggunakan empat strategi dasar, daerah, dan masyarakat (pasal yakni; pertama, pemerataan 46 ayat 1). kesempatan untuk memperoleh pendidikan, kedua, relevansi Kebijakan Pendidikan di pendidikan, ketiga, peningkatan Indonesia kualiutas pendidikan, dan keempat, Bangsa yang maju adalah efesiensi pendidikan. Secara umum bangsa yang memperlihatkan strategi itu dapat dibagi menjadi dua pendidikan dalam pembangunannya. dimensi yakni peningkatan mutu dan Karena pendidikan merupakan proses pemerataan pendidikan. Proses pendidikan merupakan Pembangunan peningkatan mutu upaya sadar manusia yang tidak diharapkan dapat meningkatkan pernah ada hentinya. Sebab, jika efisiensi, efektivitas dan produktivitas manusia berhenti melakukan pendidikan. Sedangkan kebijkan pendidikan, sulit dibayangkan apa pemerataan pendidikan diharapkan 7
  • 119.
    dapat memberikan kesempatanyang meningkatkan kemampuan sama dalam memperoleh pendidikan masyarakat, sehingga terjadi bagi semua usia sekolah (Nana Fatah diversifikasi program pendidikan Natsir, dalam Hujair AH. Sanaky, sesuai dengan sifat multikultural 2003). Dari sini, pendidikan bangsa Indonesia, (f) secara bertahap dipandang sebagai katalisator yang mengurangi peran pemerintah menuju dapat menunjang faktor-faktor lain. ke peran fasilitator dalam Artinya, pendidikan sebagai upaya implementasi sistem pendidikan, (g) pengembangan sumberdaya manusia Merampingkan birokrasi pendidikan (SDM) menjadi semakin penting sehingga lebih lentur (fleksibel) untuk dalam pembangunan suatu bangsa. melakukan penyesuaian terhadap Untuk menjamin kesempatan dinamika perkembangan masyarakat memperoleh pendidikan yang merata dalam lingkungan global (Kelompok disemua kelompok strata dan wilayah Kerja Pengkajian, dalam Hujair AH. tanah air sesuai dengan kebutuhan dan Sanaky, 2003). tingkat perkembangannya perlu Empat strategi dasar kebijakan strategi dan kebijakan pendidikan, pendidikan yang dikemukakan di atas yaitu : (a) menyelenggarakan cukup ideal. Tetapi Muchtar Bukhori, pendidikan yang relevan dan bermutu seorang pakar pendidikan Indonesia, sesuai dengan kebutuhan masyarakat menilai bahwa kebijakan pendidikan Indonesia dalam menghadapi kita tak pernah jelas. Pendidikan kita tantangan global, (b) hanya melanjutkan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan yang elite dengan kurikulum yang elitis dapat dipertanggungjawabkan yang hanya dapat ditangkap oleh 30 (accountasle) kepada masyarakat % anak didik‖, sedangkan 70% sebagai pemilik sumberdaya dan dana lainnya tidak bisa mengikuti serta pengguna hasil pendidikan, (c) (Kompas, 4 September 2004). menyelenggarakan proses pendidikan Dengan demikian, tuntutan yang demokratis secara profesional peningkatan kualitas pendidikan, sehingga tidak mengorbankan mutu relevansi pendidikan, efesiensi pendidikan, (d) meningkatkan efisiensi pendidikan, dan pemerataan internal dan eksternal pada semua kesempatan untuk memperoleh jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, (e) pendidikan, belum terjawab dalam memberi peluang yang luas dan kebijakan pendidikan kita. Kondisi ini 8
  • 120.
    semakin mempersulit mewujudkan menyisihkan kegetiran-kegetiran bagi pendidikan yang egalitarian dan rakyat kecil yang tidak mampu SDM yang semakin merata di mengecap pendidikan di sekolah‖ berbagai daerah. (Suyanto, 2006). Proses menuju perubahan Pasca Reformasi tahun 1998, sistem pendidikan nasional banyak memang ada perubahan fundamental menuai kendala serius. Apalagi ketika dalam sistem pendidikan nasional. membicarakan konteks pendidikan Perubahan sistem pendidikan nasional sebagai bagian dari tersebut mengikuti perubahan sistem pergumulan ideologi dan politik pemerintah yang sentralistik menuju penguasa. Problem-problem yang desentralistik atau yang lebih dikenal dihadapi seringkali berkaitan dengan dengan otonomi pendidikan dan kebijakan-kebijakan (policies) yang kebijakan otonomi nasional itu sangat strategis. Maka, dalam mempengaruhi sistem pendidikan konteks kebijakan pendidikan kita (Suyanto, 2006). Sistem nasional, menurut Suyanto, banyak pendidikan kita pun menyesuaikan pakar dan praktisi pendidikan dengan model otonomi. Kebijakan mengkritisi pemerintah, dianggap otonomi di bidang pendidikan tidak memiliki komitmen yang kuat (otonomi pendidikan) kemudian untuk membenahi sistem pendidikan banyak membawa harapan akan nasional‖.(Suyanto,2006). Artinya, perbaikan sistem pendidikan kita. kebijakan-kebijakan pendidikan kita, Kebijakan tersebut masih sangat kurang menggambarkan rumusan- baru, maka sudah barang tertentu rumusan permasalahan dan banyak kendala yang masih belum ―prioritas‖ yang ingin dicapai dalam terselesaikan. jangka waktu tertentu. Hal ini, Otonomi yang didasarkan pada ―terutama berkaitan dengan anggaran UU No. 22 tahun 1999, yaitu pendidikan nasional yang semestinya memutuskan suatu keputusan dan sebesar minimal 20%, daimbil dari atau kebijakan secara mandiri. APBN dan APBD (pasal 31 ayat 4 Otonomi sangat erat kaitanya dengan UUD Amandemen keempat). Tetapi, desentralisasi. Dengan dasar ini, sampai sekarang kebijakan strategi maka otonomi yang ideal dapat belum dapat diwujudkan sepenuhnya, tumbuh dalam suasana bebas, pendidikan nasional masih demokratis, rasional dan sudah 9
  • 121.
    barang tentu dalamkalangan insan- kualitas lembaga pendidikan yang insan yang ―berkualitas‖. Oleh karena dikembangkan oleh berbagai pihak itu, rekonstruksi dan reformasi dalam secara efektif dan efisien terutama Sistem Pendidikan Nasional dan dalam pengembangan iptek, seni dan Regional, yang tertuang dalam GBHN budaya sehingga membangkitkan 1999, juga telah dirumuskan misi semangat yang pro-aktif, kreatif, dan pendidikan nasional kita, yaitu selalu reaktif dalam seluruh mewujudkan sistem dan iklim komponen bangsa. (Soedjiarto, 1999). pendidikan nasional yang demokratis Beberapa kalangan pakar dan dan bermutu, guna memperteguh praktisi pendidikan, mencermati akhlak mulia, kreatif, inovatif, kebijakan otonomi pendidikan sering berwawasan kebangsaan, cerdas, dipahami sebagai indikasi kearah sehat, berdisiplin, bertanggung jawab, ―liberalisasi‖ atau lebih parah lagi berketerampilan serta menguasai dikatakan sebagai indikasi kearah iptek dalam rangka mengembangkan ―komersialisasi pendidikan‖. Hal ini, kualitas manusia Indonesia. menurut Suyanto, semakin dikuatkan (Soedjiarto,1999). dengan terbentuknya Badan Hukum Untuk mewujudkan misi Pendidikan (BHP) yang oleh beberapa tersebut mesti diterapkan arah pengamat dianggap sebagai kebijakan sebagai berikut, yaitu : (1) pengejawantahan dari sistem yang perluasan dan pemerataan mengarah pada ―liberalisasi pendidikan, (2) meningkatkan pendidikan‖ (Suyanto, 2006). kemampuan akademik dan Persoalan sekarang, apakah profesionalitas serta kesejahteraan sistem pendidikan yang ada saat ini tenaga kependidikan, (3) melakukan telah efektif untuk mendidik bangsa pembaharuan dalam sistem Indonesia menjadi bangsa yang pendidikan nasional termasuk dalam modern, memiliki kemampuan daya bidang kurikulum, (4) saing yang tinggi di tengah-tengah memberdayakan lembaga pendidikan bangsa lain? Jawabannya tentu formal dan PLS secara luas, (5) dalam belum. Menurut Suyanto, berbicara realisasi pembaharuan pendidikan kemampuan, kita sebagai bangsa nasional mesti berdasarkan prinsip nampaknya belum sepenuhnya siap desentralisasi, otonomi keilmuan, dan benar menghadapi tantangan manajemen, (6) meningkatkan persaingan (Suyanto, 2006). 10
  • 122.
    Sementara, disatu sisi, bidang korban dari ketidakberesan sistem pendidikan kita menjadi tumpuan pendidikan kita yang masing sedang harapan bagi peningkatan kualitas merangka berbenah. Mungkin saja, Sumber Daya Manusia (SDM) kita sebagai insan yang Indonesia. Tetapi disisi lain, sistem berpendidikan, tentu saja terus atau pendidikan kita masih melahirkan banyakan berharap akan datangnya mismatch terhadap tuntutan dunia perubahan ―fundamental‖ terhadap kerja, baik secara nasional maupun sistem pendidikan (Suyanto, 2006) di regional. (Suyanto, 2006). Indonesia. Berbagai problem fundamental Posisi Indonesia dalam PUS yang dihadapi pendidikan nasional Indonesia merupakan salah saat ini, yang tercermin dalam satu Negara yang menandatangani ―realitas‖ pendidikan yang kita jalan. deklarasi “Education for All.” Seperti persoalan anggaran Berkaitan dengan deklarasi ini dan pendidikan, kurikulum, strategi sekaligus juga sebagai wujud pembelajaran, dan persoalan output keseriusan Indonesia pendidikan kita yang masih sangat mensukseskannya, maka Indonesia rendah kualitasnya. Problem- telah mencnangkan Wajib Belajar 9 problem pendidikan yang bersifat Tahun pada tahun 1984 dan 10 tahun metodik dan strategik yang berikutnya, yaitu pada tahun 1994, membuahkan output yang sangat Indonesia mencanangkan Sekolah memprihatinkan. Output, pendidikan Dasar (7-12 tahun) dapat menikmati kita memiliki mental yang selalu layanan pendidikan Sekolah Dasar tergantung kepada orang lain. Output (SD). Artinya, anak-anak usia SD pendidikan kita tidak memiliki dapat menyelesaikan pendidikan SD. mental yang bersifat mandiri, karena Demikian juga halnya melalui memang tidak kritis dan kreatif. pencanangan Wajib Belajar 9 Tahun Akhirnya, output yang pernah diharapkan anak-anak usia SMP (13-15 mengenyam pendidikan, malah Tahun) dapat menyelesaikan menjadi ―pengangguran terselubung‖. penddikan SMP. Ini artinya, setiap tahunnya, Jalal dan Supriadi (2001) pendidikan nasional kita mengemukakan meskipun strategi memproduksi pengangguran perluasan dan pemerataan terselubung. Mereka itu, adalah 11
  • 123.
    kesempatan pendidikan terfokus beruntng, termasuk kaum kepada program wajib belajar perempuan; pendidikan dasar sembilan tahun, 3. Mengembangkan layanan jenis dan jenjang pendidikan lainnya pendidikan alternatif tanpa yang tercakup. Indikator-indikator mengorbankan mutu program; keberhasilannya adalah: (a) mayoritas 4. Menetapkan standar kompetensi penduduk berpendidikan minimal minimal keluaran pendidikan; SMP dan partisipasi pendidikan 5. Melanjutkan program PMTAS meningkat yang ditunjukkan dengan secara terseleksi dan terkendali APK-SD 15%, APK SMP mencapai bagi yang benar-benar 80%, APK SLTA mencapai 47%, dan memerlukan; APK PT sebesar 12% dengan perluasan 6. Melanjutkan program beasiswa terkendali untuk bidang-bidang bagi kalangan anak-anak miskin; unggulan dan teknologi, (b) 7. Meningkatkan anggaran meningkatnya budaya belajar di pemerintah untuk pendidikan kalangan masyarakat yang secara bertahap dan terencana; dan ditunjukkan antara lain dengan 8. Meningkatkan partisipasi keluarga meningkatnya peserta program dan masyarakat dalam membiayai pendidikan berkelanjutan seperti pendidikan. kursus-kursus, program pendidikan Sebagai wujud komitmen masyarakat, meningkatnya penduduk pemerintah terhadap pentingnya melek huruf hingga mencapai 88% program Pendidikan Untuk Semua pada tahun 2005; (c) meningkatnya (Education for All/EFA), Kementerian proporsi penduduk kurang beruntung Pendidikan Nasional menggelar yang memperoleh kesempatan sejumlah kegiatan melalui Pekan Aksi pendidikan. Global Pendidikan Untuk Semua 2010. Kebijakan program yang harus Tema aksi tahun ini adalah dilakukan adalah: ―Pembiayaan Pendidikan Bermutu 1. Memperluas kesempatan Hak untuk Semua‖. Aksi ini yang pendidikan dengan prioritas pada dipusatkan di tiga kota, yaitu di pendidikan dasar; Jakarta, Bandung, dan Makasar pada 2. Meningkatkan layanan pendidikan 19-25 April 2010. kepada kelompok yang kurang Menurut Ela Yulaciawati (2010), aspek pembiayaan dalam 12
  • 124.
    program Pendidikan untukSemua mereka bisa mandiri dan sehat di usia cukup problematik. Sejumlah senja, maka biaya hidup me-reka akan pertanyaan muncul menyangkut aspek bisa lebih ditekan. Jadi arahnya untuk pembiaya-annya, terutama mengenai efisiensi bagi Negara. standar biaya pendidikan bermutu Dalam waktu yang bersamaan untuk semua orang. Berapa biaya juga diselenggarakan kegiatan untuk pendidikan anak-anak yang workshop layanan pendidikan bagi terpinggirkan (marjinal). Kemudian, anak-anak terpinggirkan, yaitu apakah pembiayaan itu akan keluarga korban eksploitasi seksual bermanfaat atau malah mubazir? anak (ESA), anak perempuan jalanan, Untuk mendidik anak-anak yang dan anak dari para pekerja rumah marjinal, pemerintah tidak cukup tangga. Seluruh rangkaian acara hanya memikirkan aspek tersebut merupakan bagian dari pendidikannya saja, melainkan juga kampanye tahunan dunia yang dise- memikirkan aspek kebutuhan dasar lenggarakan Kampanye Global mereka. Campaign for Education, sebuah Dikemukakan lebih lanjut oleh koalisi internasional organisasi Ela (2010) tidak semua program nonpemerintah dan serikat pendidikan yang diberikan bagi guru.(http://bataviase.co.id, diakses kelompok marjinal dapat tanggal 16 September 2010). menghasilkan produk pendidikan Identifikasi Kendala-kendala seperti yang diharapkan. Kegiatan lain Implementasi Progeram PUS dari pecan aksiglobal program Dalam implementasi PUS di Pendidikan untuk Semua adalah Indonesia tidak berjalan mulus, workshop layanan pendidikan bagi banyak kendala yang ditemui di para orang lanjut usia. Masih menurut lapangan. Dari sisi structural birokrasi Ela (2010) orang berusia lanjut di Kementerian Pendidikan Nasional umumnya tidak bisia mandiri, oleh (2007) masih dirasa perlu karena itu perlu ada materi pendidikan dioptimalkan masalah peningkatan kecakapan hidup. Pendidikan ini kinerja, peningkatan kerjasama, bertujuan mempersiapkan orang- koordinasi dan komunikasi dengan orang menjelang usia lanjut agar bisa berbagai instansi dan unit kerja hidup mandiri dan sehat pada saat terkait, baik di pusat maupun di mereka telah berusia lanjut. Jika 13
  • 125.
    daerah. Disamping itumasalah lainnya mengatasi permasalahan ini Dinas adalah menyesuaikan jadwal sesuai Pendidikan berupaya untuk target, memberdayakan dan mengembangkan berbagai kebijakan mengoptimalkan tenaga yang tersedia terkait dengan implementasi Program melalui pembentukan tim kerja Wajib Belajar Sembilan tahun. Namun sebagai wujud koordinasi fungsional, hal inipun ternyata tidak membawa dan mengoptimakan sarana dan perubahan yang signifikan, sebab fasilitas yang ada. dalam pelaksanaannya masih terdapat Temuan lainnya, dapat berbagai penyimpangan. Adapun diidentifikasi dari riset yang dilakukan faktor pendukungnya adalah: oleh Choiri (2006) dalam tersusunnya kurikulum dengan baik, penelitiannya yang berjudul koordinasi yang baik diantara pihak- ‗Akuntabilitas Kinerja Dinas pihak yang terlibat, serta partisipasi Pendidikan Kabupaten Malang (Studi masyarakat. Sedangkan faktor-faktor Kasus tentang Akuntabilitas yang menghambat diantaranya: Adminitrasi Pelaksana Program Wajib kapasitas dan kemampuan tenaga Belajar Pendidikan Dasar Sembilan pelaksana rendah, kemampuan dan Tahun di Kecamatan Bululawang motivasi tenaga pelaksana rendah, Kabupaten Malang). Berdasarkan dukungan dana operasional rendah, penelitiannya, Choiri (2006) respon orang tua yang belum memaparkan hasil penelitiannya maksimal, sikap moral masyarakat sebagai berikut: alasan perlunya serta lingkungan sosial yang tidak dilakukan akuntabilitas administrasi sehat. oleh Dinas Pendidikan adalah untuk Hasil analisis terhadap mempertanggungjawabkan suatu Pelaksanaan Akuntabilitas program/kebijakan baik proses Administrasi adalah sebagai berikut: maupun hasilnya, serta untuk dalam pelaksanaan program wajib memenuhi standar criteria yang sudah belajar Sembilan tahun di kabupaten ditetapkan oleh pemerintah. Namun Malang terlihat bahwa instansi dalam pelaksanaan program wajib (sekolah-sekolah) tidak melaksanakan belajar sembilan tahun di kabupaten akuntabilitas administrasinya. Hal ini Malang terlihat bahwa instansi terlihat misalnya tidak ada laporan (sekolah-sekolah) tidak melaksanakan pemberian beasiswa diberikan. akuntabilitas administrasinya. Untuk Sekolah-sekolah tidak merasa perlu 14
  • 126.
    memberikan laporan kepadainstansi global menjadi sala satu hambatan diatasnya yakni Dinas Pendidikan besar pencapaian target tersebut. Hal Kabupaten Malang. Mereka justru ini terungkap dalam pembukaan 1st hampir semua membuat kebijakan General Assembly Forum of Asia sendiri terkait dengan penyaluran Pasific Parliamentarians for dana beasiswa yang tidak sesuai Education (FASPED) atau Forum dengan pedoman yang diberikan oleh Parlemen untuk Pendidikan Asia Dinas Pendidiikan. Dilihat dari Pasifik, Selasa (6 Juli 2010). Sidang perspektif empat jenis Akuntabilitas, pertama yang diikuti oleh 26 parlemen belum satupun jenis akuntabilitas yang dan dua parlemen diwakili oleh dapat dipenuhi sesuai standar oleh perwakilannya di Jakarta. Dalam Dinas Pendidikan Kabupaten Malang, sambutannya, Presiden FASPED sehingga hal ini perlu mendapatkan Marzuki Alie mengatakan, krisis perhatian dari berbagai pihak yang keuangan global pada 2008 terlibat. Sedangkan faktor pendukung merupakan rintangan terbesar untuk maupun penghambat lebih merupakan pencapaian tujuan Education for All faktor-faktor yang memberikan (EFA). penekanan. Semuanya justru berada di Dampak krisis finansial global tangan pada penyelenggara telah mengancam akses pendidikan akuntabilitas sendiri, bagaimana bagi jutaan anak di seluruh dunia. Saat mereka-mereka bisa mengelola potensi ini sekitar 72 juta anak usia sekolah maupun tantangan yang dihadapinya. dasar belum mendapatkan pendidikan Sementara itu, diprediksikan dasar. Kombinasi kemiskinan, pendidikan untuk semua (PUS) yang lambatnya pembangunan ekonomi, telah dicanangkan oleh pemerintah dan krisis finansial global akan (Kementerian Pendidikan Nasional). menggerogoti pencapaian Negara- Sebagaimana diekspos dalam harian negara pada dekade sebelumnya. Hal Kompas, Rabu, 7 Juli 2010 bahwa tersebut berarti turut mengganggu target Pendidikan Untuk Semua target pencapaian Tujuan ataupun Education for All, terutama Pembangunan Milineum nomor dua, pendidikan dasar universal, yang indikatornya antara lain angka dikhawatirkan tidak tercapai pada partisipasi dasar angka melek huruf tahun 2015 saat tenggat Tujuan umur 15-25 tahun. Pendidikan Milenium. Krisis ekonomi 15
  • 127.
    Ancaman tentang melesetnya tidak bersekolah. Tahun 2007, pencapaian target terutama terjadi di jumlahnya meningkat menjadi 9 juta Negara berkembang yang sebagian anak. Sementara sejumlah Negara, besar di kawasan Asia Pasifik. terutama India, mencapai kemajuan Menurut Education for All Global sangat baik. ―Waktu yang tersisa Monitoring Report 2010, target EFA tinggal lima tahun lagi,― katanya. tercancam gagal tercapai di Negara Wakil Menteri Pendidikan berkembang. Resesi ekonomi yang Nasional Fasli Jalal mengatakan, terjadi pada tahun 2008 diperkirakan Indonesia masih dalam jalur telah menjerumuskan sekitar 90 juta pencapaian target EFA. Di tengah orang ke dalam kemiskinan ekstrem. krisis ekonomi dunia, Indonesia tetap Saat ini sebagian Negara yang terkena memprioritaskan anggaran dampak sangat besar masih dalam pendidikan, bantuan operasional proses pemulihan dari tingginya harga sekolah guna mengurangi hambatan pangan yang telah mengakibatkan 175 biaya anak ke sekolah, buku pelajaran juta kasus malnutrisi tahun 2007 dan online, program pendidikan 2008. Pendidikan juga tidak kebal dari kesetaraan, dan peningkatan pengaruh-pengaruh tersebut karena kualifikasi guru. Ini merupakan hal-hal itu kemudian rentan beberapa upaya pemerintah yang terus dikebelakangan. dilakukan. Sementara itu anggaran Kekhawatiran serupa juga untuk fungsi pendidikan dalam APBN diungkapkan Director of UNESCO tahun 2010 telah mencapai sekitar Rp Bangkok Office, Regional Bureau for 209,5 triliun. Education in The Asia Pasific, Gwang- Marzuki Alie mengatakan, perlu Jo Kim. ―Kita tetap belum on the track peran aktif anggota parlemen untuk (dalam jalur) untuk memenuhi target ikut aktif dalam proses pembangunan EFA pada tahun 2015. Akan nada 56 pendidikan. Di tengah sulitnya juta anak di luar sekolah jika kita tidak ekonomi dunia dan berbagai tekanan, melipatgandakan upaya kita, yang pemerintah telah menghadapi sebagiannya di wilayah Asia Pasifik.‖ berbagai pilihan kebijakan yang sulit. Ujarnya. Dia mencontohkan, pada Parlemen berkewajiban meminta tahun 1999 kawasan Asia Timur dan pemerintah mengalokasikan dana yang Pasifik merupakan tempat tinggal 6 cukup untuk pendidikan dan juta anak usia pendidikan dasar yang memonitor pemerintah dalam 16
  • 128.
    mengimplementasikan tujuan Meskipun demikian, negeri ini masih pembangunan nasional menghadapi masalah pendidikan yang pendidikan.(KOMPAS, Rabu, 7 Juli berkaitan dengan sistem yang tidak 2010). efisien dan kualitas yang rendah. Terbukti, misalnya, anak yang putus Kontribusi Pemerintah cq sekolah diperkirakan masih ada dua Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia dalam juta anak. Indonesia tetap belum Program PUS berhasil memberikan jaminan hak atas Dalam upayanya mencapai pendidikan bagi semua anak. Apalagi, tujuan ―Pendidikan untuk Semua‖ masih banyak masalah yang harus pada 2015, peme-rintah Indonesia saat dihadapi, seperti misalnya kualifikasi ini menekankan pelaksanaan program guru, metode pengajaran yang efektif, wajib belajar sembilan tahun bagi manajemen sekolah dan keterlibatan seluruh anak Indonesia usia 6 sampai masyarakat. Sebagian besar anak usia 15 tahun. Dalam hal ini, UNICEF dan 3 sampai 6 tahun kurang mendapat UNESCO member dukungan teknis akses aktifitas pengembangan dan dan dana. pembelajaran usia dini terutama anak- Bersama dengan pemerintah anak yang tinggal di pedalaman dan daerah, masyarakat dan anak-anak di pedesaan. Anak-anak Indonesia yang delapan propinsi di Indonesia, berada di daerah tertinggal dan UNICEF mendukung program terkena konflik sering harus belajar di Menciptakan Masyarakat Peduli bangunan sekolah yang rusak karena Pendidikan Anak (CLCC). Proyek ini alokasi anggaran dari pemerintah berkembang pesat dari 1.326 sekolah daerah dan pusat yang tidak memadai. pada tahun 2004 menjadi 1.496 pada Metode pengajaran masih berorientasi tahun 2005. Kondisi ini membantu pada guru dan anak tidak diberi 45.454 guru dan menciptakan kesempatan memahami sendiri. lingkungan belajar yang lebih Metode ini masih mendominasi menantang bagi sekitar 275.078 siswa. sekolah-sekolah di Indonesia. Dalam 20 tahun terakhir Ditambah lagi, anak-anak dari Indonesia telah mengalami kemajuan golongan ekonomi lemah tidak di bidang pendidikan dasar. Terbukti termotivasi dari pengalaman rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang belajarnya di sekolah. Apalagi biaya bersekolah mencapai 94 persen. pendidikan sudah relatif tak 17
  • 129.
    terjangkau bagi mereka.(UNICEF, - Biaya pendidikan yang tinggi. 2010). Untuk mencapai Pendidikan Indonesia telah mengalami Untuk Semua, pemerintah Indonesia kemajuan di bidang pendidikan dasar dibantu oleh UNICEF dan UNESCO dalam 20 tahun terakhir ini. Terbukti melakukan kegiatan-kegiatan antara rasio bersih anak usia 7-12 tahun yang lain : bersekolah mencapai 94 persen. Tetapi 1. Sistem Informasi Pendidikan Indonesia tetap belum berhasil Berbasis Masyarakat memberikan jaminan hak atas UNICEF mendukung langkah- pendidikan bagi semua anak. Apalagi, langkah pemerintah Indonesia masih banyak masalah yang harus untuk meningkatkan akses dihadapi, masalah tersebut antara lain pendidikan dasar melalui Sistem : Informasi Pendidikan Berbasis - Anak putus sekolah diperkirakan Masyarakat. Dengan system ini masih ada dua juta anak. memungkinkan penelusuran - Kualifikasi guru yang masih semua anak usia dibawah 18 tahun kurang. yang tidak bersekolah. - Metode pengajaran yang tidak 2. Program Wajib Belajar 9 Tahun efektif. Yaitu masih beroientasi Dalam upaya mencapai tujuan kepada guru dan anak didik tidak ―Pendidikan untuk Semua‖ pada diberi kesempatan memahami 2015, pemerintah Indonesia saat sendiri. ini menekankan pelaksanaan - Manajemen sekolah yang buruk. program wajib belajar Sembilan - Kurangnya keterlibatan tahun bagi seluruh anak Indonesia masyarakat. usia 6 sampai 15 tahun. Dalam hal - Kurangnya akses pengembangan ini, UNICEF dan UNESCO member dan pembelajaran usia dini bagi dukungan teknis dan dana. sebagian besar anak usia 3 sampai 3. Program Menciptakan Masyarakat 6 tahun terutama anak-anak yang Peduli Pendidikan Anak (CLCC) tinggal di pedalaman dan Bersama dengan pemerintah pedesaan. daerah, masyarakat dan anak-anak - Alokasi anggaran dari pemerintah di delapan propinsi di Indonesia, daerah dan pusat yang tidak UNICEF mendukung program memadai. Menciptakan Masyarakat Peduli 18
  • 130.
    Pendidikan Anak (CLCC).Proyek Simpulan dan Saran ini berkembang pesat dari 1.326 Simpulan sekolah pada 2004 menjadi 1.496 Berdasar pemaparan tersebut di pada 2005. Kondisi ini membantu atas, maka dapatlah disimpulkan 45.454 guru dan menciptakan sebagai berikut: (1) hakekat dari lingkungan belajar yang lebih ―Pendidikan untuk Semua dan Semua menantang bagi sekitar 275.078 untuk Pendidikan‖ adalah siswa. mengupayakan agar setiap warga Di samping itu, yang tidak kalah Negara dapat memenuhi haknya, yaitu pentingnya adalah peran Kepala setidak-tidaknya untuk mendapatkan Sekolah dan Pengawas Sekolah dalam layanan pendidikan dasar (Wajib menyukseskan program PUS yang Belajar 9 Tahun); (2) masalah yang dicanangkan pemerintah. Hal ini harus dihadapi dalam program PUS, sebagaimana dikemukakan oleh antara lain: (a) anak putus sekolah Direktur Jenderal Peningkatan Mutu diperkirakan masih ada dua juta anak, Pendidik dan tenaga Kependidikan, (b) kualifikasi guru yang masih Kementerian Pendidikan Nasional kurang, (c) metode pengajaran yang (Dirjen PMPTK Kemendiknas) tidak efektif itu masih beroientasi Baedhowi yang mengatakan bahwa kepada guru dan anak didik tidak peran Kepala Sekolah dan Pengawas diberi kesempatan memahami sendiri, Sekolah juga sangat penting guna (d) manajemen sekolah yang buruk, meningkatkan kualitas dan pelayanan (e) kurangnya keterlibatan pendidikan saat ini. Apabila masyarakat, (f) kurangnya akses kompetensi Kepala Sekolah baik, maka pengembangan dan pembelajaran usia hubungan yang signifikan terhadap dini bagi sebagian besar anak usia 3 peningkatan mutu pendidikan di sampai 6 tahun terutama anak-anak sekolah. Apabila Kepala Sekolahnya yang tinggal di pedalaman dan baik dan memiliki kompetensi bagus, pedesaan, (g) alokasi anggaran dari maka kepala sekolah itu diyakini bisa pemerintah daerah dan pusat yang melakukan pengelolaan sekolah tidak memadai, dan (h) biaya dengan baik pendidikan yang tinggi; (3) untuk pula.(http://bataviase.co.id, diakses mencapai Pendidikan Untuk Semua, tanggal 16 September 2010). pemerintah Indonesia dibantu oleh UNICEF dan UNESCO melakukan 19
  • 131.
    kegiatan-kegiatan antara lain: (a) saran-saran sebagai berikut: (1) dari sisi struktural Sistem Informasi Pendidikan Berbasis birokrasi di Kementerian Masyarakat, (b) Program Wajib Belajar Pendidikan Nasional masih dirasa perlu dioptimalkan 9 Tahun, dan (c) Program masalah peningkatan Menciptakan Masyarakat Peduli kinerja, peningkatan kerjasama, koordinasi dan Pendidikan Anak (CLCC); (4) dalam komunikasi dengan berbagai 20 tahun terakhir Indonesia telah instansi dan unit kerja terkait, baik di pusat mengalami kemajuan di bidang maupun di daerah, (2) untuk pendidikan dasar, terbukti rasio bersih dapat mewujudkan program PUS, semua komponen anak usia 7-12 tahun yang bersekolah bangsa, baik pemerintah, mencapai 94 persen; (5) pembangunan swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, pendidikan di Indonesia sekurang- maupun warga Negara kurangnya menggunakan empat secara individual, secara bersama-sama atau sendiri- strategi dasar, yakni; pertama, sendiri, berkomitmen untuk pemerataan kesempatan untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan “Pendidikan memperoleh pendidikan, kedua, untuk Semua dan Semua relevansi pendidikan, ketiga, untuk Pendidikan” sesuai dengan potensi dan peningkatan kualiutas pendidikan, dan kapasitas masing-masing; keempat, efesiensi pendidikan, (6) (3) pembangunan pendidikan makin disadari Indonesia tetap belum berhasil sebagai sektor yang strategis memberikan jaminan hak atas untuk menunjang pembangunan sektor secara pendidikan bagi semua anak; apalagi, keseluruhan, oleh karena itu masih banyak masalah yang harus pembangunan pendidikan harus sensitif dan tanggap dihadapi, seperti misalnya kualifikasi terhadap dinamika guru, metode pengajaran yang efektif, pembangunan sektor-sektor lainnya; (4) perlu peran manajemen sekolah dan keterlibatan aktif anggota parlemen masyarakat, dan (7) peran Kepala untuk ikut aktif dalam proses pembangunan Sekolah dan Pengawas Sekolah sangat pendidikan, parlemen penting guna meningkatkan kualitas berkewajiban meminta pemerintah mengalokasikan dan pelayanan pendidikan. dana yang cukup untuk pendidikan dan memonitor Saran pemerintah dalam mengimplementasikan Berdasarkan butir-butir tujuan pembangunan simpulan di atas, maka nasional pendidikan, dan (5) dapatlah dikemukakan pemerintah (Negara) harus 20
  • 132.
    menyiapkan seluruh sarana danprasarana dalam rangka menuntaskan pendidikan Sembilan tahun. 21
  • 133.