PENGARUH PROSES BLANCHING DAN PASTEURISASI
TERHADAP MUTU BUAH TOMAT DAN SUSU SEGAR

LAPORAN

Oleh :
Grup I Pas 05
Gita Lestari Harahap
Cherlin
Winda Widyastuti
M. Bobby Kurniawan
Martha Junita Manurung

120305007
120305027
120305028
120305032
120305054

LABORATORIUM ANALISA KIMIA BAHAN PANGAN
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2013
DAFTAR ISI

Hal
DAFTAR TABEL ........................................................................................

ii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................... iii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ iv
I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................................

1

B. Tujuan Percobaan ..........................................................................

1

II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................

2

III. PROSEDUR
A. Bahan ................................................................................................

4

B. Alat ....................................................................................................

4

C. Prosedur............................................................................................

4

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ..............................................................

6

V. KESIMPULAN .....................................................................................

9

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 10
LAMPIRAN ................................................................................................. 11

i
DAFTAR TABEL

Hal
Tabel 1. Data pengamatan mutu buah tomat yang diberi perlakuan
blansing ........................................................................................

6

Tabel 2. Data pengamatan karakteristik mutu susu segar sebelum dan
sesudah pasteurisasi .....................................................................

7

Tabel 3. Data pengamatan karakteristik mutu susu tanpa pasteurisasi
dan susu pasteurisasi setelah penyimpanan pada suhu ruang
dan suhu 10oC ..............................................................................

ii

8
DAFTAR GAMBAR

Hal
Gambar 1. Susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan
selama 7 hari pada suhu kamar .............................................. 14
Gambar 2. Susu segar yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan
disimpan selama 7 hari pada suhu kamar .............................. 15
Gambar 3. Susu segar yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan
disimpan selama 7 hari pada suhu 10oC ................................. 16
Gambar 4. Susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan
selama 7 hari pada suhu 10oC ................................................. 17

iii
DAFTAR LAMPIRAN

Hal
Lampiran 1. Data per pass yang sudah di ACC ....................................... 11
Lampiran 2. Gambar susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan
tidak dikenai proses pasteurisasi setelah disimpan pada
suhu ruang dan suhu 10oC selama 7 hari ............................. 13

iv
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mutu merupakan suatu parameter baik atau tidaknya suatu bahan hasil
pertanian ataupun hasil olahannya terutama makanan. Mutu sangat erat kaitannya
dengan umur simpan dan karakteristik fisik suatu bahan pangan. Semakin lama suatu
bahan dapat disimpan tanpa mengubah zat gizi yang terkandung di dalamnya maka
semakin baik mutu bahan tersebut begitu juga sebaliknya.
Faktor utama yang mempengaruhi mutu akhir suatu bahan adalah perlakuan
sebelum penyimpanan. Seperti proses blansing pada buah dan pasteurisasi pada susu.
Blansing merupakan proses pemanasan awal pada suhu < 100oC selama 8-15 menit
yang bertujuan untuk menginaktifkan enzim polifenol oksidase, enzim asam askorbat,
enzim peroksidase dan katalase yang terdapat pada bahan pangan. Sedangkan
pasteurisasi merupakan proses pemanasan pada suhu ≤ 100 oC selama selang waktu
tertentu tergantung jenis bahan, yang bertujuan untuk mengurangi bakteri patogen
pada bahan pangan.
Ditinjau dari segi proses, proses blansing tidak jauh berbeda dengan proses
pasteurisasi, dan tujuannya juga hampir sama. Namun perbedaan keduanya terletak
pada bahan yang digunakan. Proses blansing digunakan pada bahan yang padat,
sedangkan proses pasteurisasi digunakan pada bahan yang cair.

B. Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh proses
pasteurisasi terhadap mutu dan umur simpan susu segar, dan untuk mengetahui
pengaruh proses blansing terhadap mutu buah tomat.

1
II. TINJAUAN PUSTAKA

Blansir dilakukan pada suhu sekitar 70 - 80°C pada waktu tertentu yang diuji
dengan uji kecukupan waktu blansir. Waktu blansir dikatakan cukup jika tidak timbul
lagi gelembung gas pada sampel yang telah diblansir. Gas yang timbul tersebut
adalah oksigen, yang merupakan hasil pemecahan hidrogen peroksida menjadi air dan
oksigen yang dikatalisis oleh enzim peroksidase. Waktu yang optimal untuk blansir
yaitu selama 9 menit, dimana sudah tidak terdapat gelembung-gelembung gas pada
sampel, yang berarti enzim peroksidase sudah tidah aktif lagi (Novianna, dkk., 2004).
Susu segar diperoleh dari proses pemerahan puting susu sapi yang belum
dicampur atau diberikan penambahan apapun. Susu segar tersebut kemudian
dimasukkan dalam wadah besar untuk menghomogenisasi butiran-butiran lemak yang
terkandung di dalamnya. Jika susu segar dibiarkan, butiran lemak tersebut akan
menjadi lapisan krim yang mengapung di permukaan. Oleh karena itu, perlu
dilakukan proses pasteurisasi agar pembentukan lapisan krim terhambat. Ada empat
jenis proses pasteurisasi, yaitu pasteurisasi suhu rendah berkelanjutan (LTLT = low
temperature long time/suhu rendah waktu lama) pada suhu 62,2o-65oC selama 30
menit, pasteurisasi suhu tinggi berkelanjutan (HTLT = high temperature long
time/suhu tinggi waktu lama) pada suhu >75 oC selama lebih dari 15 menit,
pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat (HTST = high temperature short time) pada
suhu >72oC selama lebih dari 15 menit, dan pasteurisasi suhu sangat tinggi waktu
singkat (UHT = ultra high temperature) pada suhu 120o-130oC selama 2 detik. Cara
yang paling banyak digunakan adalah HTST (Shinya, 2008).
Untuk pertama kalinya susu di pasteurisasi oleh Franz von Soxhlet pada
tahun 1886. Proses pasteurisasi berlangsung dengan cara memanaskan susu pada
suhu minimum 161oF selama 15 detik. Meskipun proses pasteurisasi bertujuan untuk
membunuh bakteri patogen yang terkandung dalam susu, namun ada beberapa jenis
bakteri yang resisten terhadap suhu pasteurisasi sehingga untuk memperoleh susu
dengan mutu terbaik maka susu harus segera dikemas pada kondisi yang bersih dan

2
terjaga sanitasinya kemudian disimpan pada suhu dingin untuk menghambat
kembalinya bakteri-bakteri termofilik tersebut (Budiyono, 2009).
Kualitas fisikokimia susu pasteurisasi setelah disimpan selama lima hari di
dalam refrigator masih menunjukkan warna dan aroma yang normal dan khas. Lain
halnya dengan pH yang dihasilkan, setelah melelui proses pasteurisasi dan proses
penyimpanan selama lima hari di dalam refrigator, pH susu mengalami penurunan
disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme yang tumbuh (developed acidity). Adanya
aktivitas pertumbuhan mikroorganisme meskipun telah dilakukan proses pasteurisasi
disebabkan oleh metode pasteurisasi yang menggunakan suhu sedang (dibawah titik
didih air) sehingga tidak secara sempurna membunuh mikroorganisme hingga
sporanya (Sawitri, dkk., 2010).
Susu yang telah dipasteurisasi dan disimpan dalam refrigator selama 9 hari
belum mengalami perkembangan jumlah mikroorganisme yang signifikan. Kerusakan
susu pasteurisasi akan terjadi pada hari ke-12 dalam suhu freezer atau refrigator.
Pertumbuhan mikroorganisme dalam susu pasteurisasi dapat disebabkan oleh metode
pasteurisasi dan kontaminasi peralatan yang digunakan. Namun yang mempengaruhi
adalah suhu dan lama penyimpanan (Habibah dan Mu’ammar, 2011).

3
III. PROSEDUR

A. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah 1 liter
susu segar untuk diamati apa yang terjadi setelah proses pasteurisasi, 4 buah tomat
dan air es yang diperoleh dari pasar tradisional jalan jamin ginting untuk diamati apa
yang terjadi setelah proses blansing.

B. Alat
Adapun alat yang digunakan adalah 1 panci perebusan untuk melakukan
proses sterilisasi 4 botol kaca yang akan digunakan untuk menyimpan susu segar, 1
panci digunakan untuk proses blansing dengan uap dan dengan air, 1 panci digunakan
untuk proses pasteurisasi, dan termometer untuk mengukur suhu bahan sebelum
ataupun sesudah proses blanching.

C. Prosedur
Dalam praktikum kali ini ada dua perlakuan yaitu blansing buah tomat dan
pasteurisasi susu segar.
1. Blansing buah tomat
-

Tomat dicuci pada air mengalir kemudian ditiriskan.

-

Tomat dibagi menjadi dua bagian.

-

Tomat bagian I diblansing dengan cara dikukus selama 10 menit dan
tomat bagian II diblansing dengan cara direbus selama 10 menit.

-

Diamati perubahan suhu tomat sebelum dan sesudah proses blansing.

-

Setelah 10 menit, tomat diangkat dan didinginkan dengan air es.

-

Suhu air es diamati sebelum dan sesudah dimasukkan tomat yang telah
diblansing.

-

Dilakukan pengamatan terhadap warna, aroma, tekstur, untuk mengetahui
mutu buah tomat.

4
2. Pasteurisasi susu segar
-

Botol kaca disterilisasi dalam panci berisi air mendidih selama 15 menit.

-

Susu dipisah menjadi dua bagian, bagian I susu tanpa pasteurisasi dan
bagian II susu dengan pasteurisasi.

-

Susu bagian II dipasteurisasi pada suhu 65oC selama 30 menit.

-

Diamati karakteristik warna, aroma, kekentalan, dan ada tidaknya lapisan
krim pada permukaan susu sebelum dan sesudah pasteurisasi.

-

Susu bagian I dan II dipisah menjadi dua bagian lagi untuk disimpan pada
suhu kamar dan pada suhu 10oC.

-

Diamati perubahan karakteristik susu yang meliputi warna, aroma,
kekentalan, dan ada tidaknya lapisan krim pada permukaan susu setelah
disimpan selama 7 hari pada masing-masing botol.

5
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Blansing merupakan proses pemanasan awal yang dilakukan pada sayuran
ataupun buah-buahan dengan menggunakan medium air untuk proses perebusan dan
medium uap air untuk proses pengukusan selama selang waktu tertentu tergantung
jenis buah atau sayuran yang bertujuan untuk menginaktifkan enzim-enzim dan
mengurangi kontaminasi mikroorganisme. Pada praktikum kali ini jenis sayuran yang
akan dikenai proses blansing adalah tomat. Tomat diblansing dengan dua metode,
yaitu metode perebusan dan metode pengukusan yang dilakukan selama 10 menit.
Perubahan yang terjadi pada buah tomat sebelum dan sesudah proses blansing dapat
dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 1. Data pengamatan mutu buah tomat yang diberi perlakuan blansing.
Parameter

Sebelum

Keadaan bahan setelah diblansing

Blansing

Blansing dengan Air

Blansing dengan Uap

Warna

Merah-orange

Orange

Merah-kekuningan

Aroma

Netral

Netral

Netral

Tekstur

Keras

Sangat Lunak

Lunak

-

Lebih mudah dikupas

Lebih mudah dikupas

32oC

- Awal Blansing : 44oC

- Awal Blansing : 42oC

- Akhir Blansing : 88oC

- Akhir Blansing : 55oC

Kemudahan
mengupas
Suhu
Tomat
Suhu
Es

Air

26oC

- Sebelum dimasukkan - Sebelum dimasukkan
bahan : 25oC

bahan : 25oC

- Sesudah dimasukkan - Sesudah dimasukkan
bahan : 30oC

bahan : 40oC

Dapat dilihat bahwa proses blansing pada buah tomat mengakibatkan
terjadinya beberapa perubahan, diantaranya perubahan warna dari merah segar
menjadi pucat/kekuningan, perubahan tekstur dari keras menjadi lunak, dan
perubahan suhu tomat serta air es yang semakin meningkat. Proses blansing selama
6
10 menit yang dilakukan pada buah tomat dapat dikatakan cukup karena menurut
Novianna dkk. (2004) waktu yang optimal untuk blansir yaitu selama 9 menit,
dimana sudah tidak terdapat gelembung-gelembung gas pada sampel, yang berarti
enzim peroksidase sudah tidah aktif lagi.
Pasteurisasi merupakan proses pemanasan pendahuluan yang dilakukan
terhadap bahan hasil pertanian yang bersifat cair seperti susu. Pasteurisasi dilakukan
pada suhu ≤100oC selama waktu tertentu yang bertujuan untuk membunuh bakteribakteri patogen pada susu. Pada paktikum kali ini jenis bahan hasil pertanian yang
akan dikenai proses pasteurisasi pada suhu 65 oC selama 30 menit adalah susu segar.
Proses pasteurisasi ini disebut juga dengan proses LTLT yaitu low temperature long
time. Hal ini sesuai dengan tulisan Shinya (2008) dalam bukunya yang menyatakan
bahwa ada empat jenis proses pasteurisasi, yaitu pasteurisasi suhu rendah
berkelanjutan (LTLT = low temperature long time/suhu rendah waktu lama) pada
suhu 62,2o-65oC selama 30 menit, pasteurisasi suhu tinggi berkelanjutan (HTLT =
high temperature long time/suhu tinggi waktu lama) pada suhu >75oC selama lebih
dari 15 menit, pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat (HTST = high temperature short
time) pada suhu >72oC selama lebih dari 15 menit, dan pasteurisasi suhu sangat tinggi
waktu singkat (UHT = ultra high temperature) pada suhu 120o-130oC selama 2 detik.
Pengamatan terhadap karakteristik mutu susu segar sebelum dan sesudah
pasteurisasi disajikan dalam tabel dibawah ini.
Tabel 2. Data pengamatan karakteristik mutu susu segar sebelum dan sesudah
pasteurisasi.
Karakteristik Susu

Sebelum Pasteurisasi

Sesudah Pasteurisasi

Warna

Putih susu

Putih pekat

Aroma

Netral

Netral

Kekentalan

Agak kental

Kental

Lapisan Krim

Tidak ada

Tidak ada

Setelah melalui proses pasteurisasi, susu segar harus melalui proses
penyimpanan yang tepat agar mutunya dapat dipertahankan. Susu segar yang tidak
dikenai proses pasteurisasi dan disimpan pada suhu kamar hanya dapat
7
mempertahankan mutunya selama ±11 jam. Sedangkan susu segar yang dikenai
proses pasteurisasi dan disimpan pada suhu dingin dapat mempertahankan mutunya
selama ±10 hari. Perbandingan karakteristik mutu susu segar tanpa pasteurisasi dan
dengan pasteurisasi setelah penyimpanan selama 7 hari disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 3. Data pengamatan karakteristik mutu susu tanpa pasteurisasi dan susu
pasteurisasi setelah penyimpanan pada suhu ruang dan suhu 10oC.
Penyimpanan suhu ruang selama 7

Penyimpanan suhu 10oC selama

hari

7 hari

Karakteristik
susu

Susu

Tanpa

Susu

pasteurisasi
Warna

Tanpa

pasteurisasi

pasteurisasi

Pasteurisasi

Putih susu

Putih susu

Basi

Basi

Basi

Sangat Kental

Sangat Kental

Kental namun

Bagian

atas Bagian

putih

krim, putih

bagian

Basi

Kekentalan

krim,

bawah bagian bawah

kuning bening
Aroma

atas

Sangat Kental

kuning bening

jika

dikocok

kembali cair
Lapisan

Banyak

Krim

permukaan

diatas Banyak diatas Banyak diatas
permukaan

Sedikit

permukaan

Dapat dilihat bahwa susu yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan
dalam suhu 10oC dapat mempertahankan mutunya selama 7 hari. Hal ini sesuai
dengan tulisan Habibah dan Mu’ammar (2011) yang menyatakan bahwa kerusakan
susu pasteurisasi akan terjadi pada hari ke-12 dalam suhu freezer atau refrigator.

8
V.

KESIMPULAN

Berdasarkan data pengamatan yang telah dihasilkan maka dapat disimpulkan
bahwasannya proses blansing akan mengakibatkan terjadinya perubahan mutu buah
tomat terutama jika dilihat dari segi warna, tekstur, dan penampakan. Metode
blansing yang cocok untuk dilakukan pada buah tomat adalah metode pengukusan
karena tidak menyebabkan perubahan yang terlalu signifikan baik dari segi warna
ataupun tekstur.
Sedangkan kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan
yang telah dilakukan terhadap susu segar adalah bahwasannya faktor yang
mempengaruhi mutu susu tidak hanya proses pasteurisasi melainkan juga proses
penyimpanan yaitu suhu dan lamanya penyimpanan berlangsung. Susu segar yang
hanya dikenai proses pasteurisasi dan tidak disimpan pada suhu refrigator hanya
dapat mempertahankan mutunya selama ±11 jam sedangkan susu segar yang tidak
dikenai proses pasteurisasi namun disimpan pada suhu refrigator mampu
mempertahankan mutunya lebih lama. Artinya untuk mempertahankan mutu susu
segar, proses yang paling penting untuk dilakukan adalah proses penyimpanan dan
bukan proses pasteurisasi.

9
DAFTAR PUSTAKA

Budiyono H. 2009. Analisis Daya Simpan Produk Susu Pasteurisasi Berdasarkan
Kualitas Bahan Baku Mutu Susu. Jurnal Paradigma 10 (2) : 203 - 205.
Habibah, dan Mu’ammar K. 2011. Pertumbuhan Mikroorganisme Selama
Penyimpanan Susu Pasteurisasi Pada Suhu Rendah. Jurnal Agroscientiae 18
(3) : 51 - 56.

Novianna EH, Djohan S, dan Shevica M. 2004. Pengaruh Penambahan Bahan Pengisi
Terhadap Kualitas Bubuk Minuman Lidah Buaya (Aloe Vera, L). Jurnal Ilmu
Dan Teknologi Pangan 2 (1) : 101 - 105.

Sawitri ME, Abdul M, Masdiana P, Tri ES, Umi W, dan Ghozi K. 2010. Kajian
Kualitas Susu Pasteurisasi Yang Diproduksi U.D. Gading Mas Selama
Penyimpanan Dalam Refrigerator. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak 5
(2) : 28 - 32.

Shinya, H. 2008. The Miracle of Enzyme. Penerjemah: Winny P. Qanita, Bandung.

10
LAMPIRAN

Lampiran 1. Data per pass yang sudah di ACC.

11
12
Lampiran 2. Gambar susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan tidak dikenai
proses pasteurisasi setelah disimpan pada suhu ruang dan suhu 10oC selama 7 hari.

13
Gambar 1. Susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari
pada suhu kamar.

14
Gambar 2. Susu yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari
pada suhu kamar.

15
Gambar 3. Susu yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari
pada suhu 10oC.

16
Gambar 4. Susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari
pada suhu 10oC.

17

Blanching dan pasteurisasi

  • 1.
    PENGARUH PROSES BLANCHINGDAN PASTEURISASI TERHADAP MUTU BUAH TOMAT DAN SUSU SEGAR LAPORAN Oleh : Grup I Pas 05 Gita Lestari Harahap Cherlin Winda Widyastuti M. Bobby Kurniawan Martha Junita Manurung 120305007 120305027 120305028 120305032 120305054 LABORATORIUM ANALISA KIMIA BAHAN PANGAN PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2013
  • 2.
    DAFTAR ISI Hal DAFTAR TABEL........................................................................................ ii DAFTAR GAMBAR .................................................................................... iii DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ iv I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................... 1 B. Tujuan Percobaan .......................................................................... 1 II. TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................ 2 III. PROSEDUR A. Bahan ................................................................................................ 4 B. Alat .................................................................................................... 4 C. Prosedur............................................................................................ 4 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 6 V. KESIMPULAN ..................................................................................... 9 DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 10 LAMPIRAN ................................................................................................. 11 i
  • 3.
    DAFTAR TABEL Hal Tabel 1.Data pengamatan mutu buah tomat yang diberi perlakuan blansing ........................................................................................ 6 Tabel 2. Data pengamatan karakteristik mutu susu segar sebelum dan sesudah pasteurisasi ..................................................................... 7 Tabel 3. Data pengamatan karakteristik mutu susu tanpa pasteurisasi dan susu pasteurisasi setelah penyimpanan pada suhu ruang dan suhu 10oC .............................................................................. ii 8
  • 4.
    DAFTAR GAMBAR Hal Gambar 1.Susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu kamar .............................................. 14 Gambar 2. Susu segar yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu kamar .............................. 15 Gambar 3. Susu segar yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu 10oC ................................. 16 Gambar 4. Susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu 10oC ................................................. 17 iii
  • 5.
    DAFTAR LAMPIRAN Hal Lampiran 1.Data per pass yang sudah di ACC ....................................... 11 Lampiran 2. Gambar susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan tidak dikenai proses pasteurisasi setelah disimpan pada suhu ruang dan suhu 10oC selama 7 hari ............................. 13 iv
  • 6.
    I. PENDAHULUAN A. LatarBelakang Mutu merupakan suatu parameter baik atau tidaknya suatu bahan hasil pertanian ataupun hasil olahannya terutama makanan. Mutu sangat erat kaitannya dengan umur simpan dan karakteristik fisik suatu bahan pangan. Semakin lama suatu bahan dapat disimpan tanpa mengubah zat gizi yang terkandung di dalamnya maka semakin baik mutu bahan tersebut begitu juga sebaliknya. Faktor utama yang mempengaruhi mutu akhir suatu bahan adalah perlakuan sebelum penyimpanan. Seperti proses blansing pada buah dan pasteurisasi pada susu. Blansing merupakan proses pemanasan awal pada suhu < 100oC selama 8-15 menit yang bertujuan untuk menginaktifkan enzim polifenol oksidase, enzim asam askorbat, enzim peroksidase dan katalase yang terdapat pada bahan pangan. Sedangkan pasteurisasi merupakan proses pemanasan pada suhu ≤ 100 oC selama selang waktu tertentu tergantung jenis bahan, yang bertujuan untuk mengurangi bakteri patogen pada bahan pangan. Ditinjau dari segi proses, proses blansing tidak jauh berbeda dengan proses pasteurisasi, dan tujuannya juga hampir sama. Namun perbedaan keduanya terletak pada bahan yang digunakan. Proses blansing digunakan pada bahan yang padat, sedangkan proses pasteurisasi digunakan pada bahan yang cair. B. Tujuan Percobaan Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh proses pasteurisasi terhadap mutu dan umur simpan susu segar, dan untuk mengetahui pengaruh proses blansing terhadap mutu buah tomat. 1
  • 7.
    II. TINJAUAN PUSTAKA Blansirdilakukan pada suhu sekitar 70 - 80°C pada waktu tertentu yang diuji dengan uji kecukupan waktu blansir. Waktu blansir dikatakan cukup jika tidak timbul lagi gelembung gas pada sampel yang telah diblansir. Gas yang timbul tersebut adalah oksigen, yang merupakan hasil pemecahan hidrogen peroksida menjadi air dan oksigen yang dikatalisis oleh enzim peroksidase. Waktu yang optimal untuk blansir yaitu selama 9 menit, dimana sudah tidak terdapat gelembung-gelembung gas pada sampel, yang berarti enzim peroksidase sudah tidah aktif lagi (Novianna, dkk., 2004). Susu segar diperoleh dari proses pemerahan puting susu sapi yang belum dicampur atau diberikan penambahan apapun. Susu segar tersebut kemudian dimasukkan dalam wadah besar untuk menghomogenisasi butiran-butiran lemak yang terkandung di dalamnya. Jika susu segar dibiarkan, butiran lemak tersebut akan menjadi lapisan krim yang mengapung di permukaan. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses pasteurisasi agar pembentukan lapisan krim terhambat. Ada empat jenis proses pasteurisasi, yaitu pasteurisasi suhu rendah berkelanjutan (LTLT = low temperature long time/suhu rendah waktu lama) pada suhu 62,2o-65oC selama 30 menit, pasteurisasi suhu tinggi berkelanjutan (HTLT = high temperature long time/suhu tinggi waktu lama) pada suhu >75 oC selama lebih dari 15 menit, pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat (HTST = high temperature short time) pada suhu >72oC selama lebih dari 15 menit, dan pasteurisasi suhu sangat tinggi waktu singkat (UHT = ultra high temperature) pada suhu 120o-130oC selama 2 detik. Cara yang paling banyak digunakan adalah HTST (Shinya, 2008). Untuk pertama kalinya susu di pasteurisasi oleh Franz von Soxhlet pada tahun 1886. Proses pasteurisasi berlangsung dengan cara memanaskan susu pada suhu minimum 161oF selama 15 detik. Meskipun proses pasteurisasi bertujuan untuk membunuh bakteri patogen yang terkandung dalam susu, namun ada beberapa jenis bakteri yang resisten terhadap suhu pasteurisasi sehingga untuk memperoleh susu dengan mutu terbaik maka susu harus segera dikemas pada kondisi yang bersih dan 2
  • 8.
    terjaga sanitasinya kemudiandisimpan pada suhu dingin untuk menghambat kembalinya bakteri-bakteri termofilik tersebut (Budiyono, 2009). Kualitas fisikokimia susu pasteurisasi setelah disimpan selama lima hari di dalam refrigator masih menunjukkan warna dan aroma yang normal dan khas. Lain halnya dengan pH yang dihasilkan, setelah melelui proses pasteurisasi dan proses penyimpanan selama lima hari di dalam refrigator, pH susu mengalami penurunan disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme yang tumbuh (developed acidity). Adanya aktivitas pertumbuhan mikroorganisme meskipun telah dilakukan proses pasteurisasi disebabkan oleh metode pasteurisasi yang menggunakan suhu sedang (dibawah titik didih air) sehingga tidak secara sempurna membunuh mikroorganisme hingga sporanya (Sawitri, dkk., 2010). Susu yang telah dipasteurisasi dan disimpan dalam refrigator selama 9 hari belum mengalami perkembangan jumlah mikroorganisme yang signifikan. Kerusakan susu pasteurisasi akan terjadi pada hari ke-12 dalam suhu freezer atau refrigator. Pertumbuhan mikroorganisme dalam susu pasteurisasi dapat disebabkan oleh metode pasteurisasi dan kontaminasi peralatan yang digunakan. Namun yang mempengaruhi adalah suhu dan lama penyimpanan (Habibah dan Mu’ammar, 2011). 3
  • 9.
    III. PROSEDUR A. Bahan Adapunbahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah 1 liter susu segar untuk diamati apa yang terjadi setelah proses pasteurisasi, 4 buah tomat dan air es yang diperoleh dari pasar tradisional jalan jamin ginting untuk diamati apa yang terjadi setelah proses blansing. B. Alat Adapun alat yang digunakan adalah 1 panci perebusan untuk melakukan proses sterilisasi 4 botol kaca yang akan digunakan untuk menyimpan susu segar, 1 panci digunakan untuk proses blansing dengan uap dan dengan air, 1 panci digunakan untuk proses pasteurisasi, dan termometer untuk mengukur suhu bahan sebelum ataupun sesudah proses blanching. C. Prosedur Dalam praktikum kali ini ada dua perlakuan yaitu blansing buah tomat dan pasteurisasi susu segar. 1. Blansing buah tomat - Tomat dicuci pada air mengalir kemudian ditiriskan. - Tomat dibagi menjadi dua bagian. - Tomat bagian I diblansing dengan cara dikukus selama 10 menit dan tomat bagian II diblansing dengan cara direbus selama 10 menit. - Diamati perubahan suhu tomat sebelum dan sesudah proses blansing. - Setelah 10 menit, tomat diangkat dan didinginkan dengan air es. - Suhu air es diamati sebelum dan sesudah dimasukkan tomat yang telah diblansing. - Dilakukan pengamatan terhadap warna, aroma, tekstur, untuk mengetahui mutu buah tomat. 4
  • 10.
    2. Pasteurisasi sususegar - Botol kaca disterilisasi dalam panci berisi air mendidih selama 15 menit. - Susu dipisah menjadi dua bagian, bagian I susu tanpa pasteurisasi dan bagian II susu dengan pasteurisasi. - Susu bagian II dipasteurisasi pada suhu 65oC selama 30 menit. - Diamati karakteristik warna, aroma, kekentalan, dan ada tidaknya lapisan krim pada permukaan susu sebelum dan sesudah pasteurisasi. - Susu bagian I dan II dipisah menjadi dua bagian lagi untuk disimpan pada suhu kamar dan pada suhu 10oC. - Diamati perubahan karakteristik susu yang meliputi warna, aroma, kekentalan, dan ada tidaknya lapisan krim pada permukaan susu setelah disimpan selama 7 hari pada masing-masing botol. 5
  • 11.
    IV. HASIL DANPEMBAHASAN Blansing merupakan proses pemanasan awal yang dilakukan pada sayuran ataupun buah-buahan dengan menggunakan medium air untuk proses perebusan dan medium uap air untuk proses pengukusan selama selang waktu tertentu tergantung jenis buah atau sayuran yang bertujuan untuk menginaktifkan enzim-enzim dan mengurangi kontaminasi mikroorganisme. Pada praktikum kali ini jenis sayuran yang akan dikenai proses blansing adalah tomat. Tomat diblansing dengan dua metode, yaitu metode perebusan dan metode pengukusan yang dilakukan selama 10 menit. Perubahan yang terjadi pada buah tomat sebelum dan sesudah proses blansing dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel 1. Data pengamatan mutu buah tomat yang diberi perlakuan blansing. Parameter Sebelum Keadaan bahan setelah diblansing Blansing Blansing dengan Air Blansing dengan Uap Warna Merah-orange Orange Merah-kekuningan Aroma Netral Netral Netral Tekstur Keras Sangat Lunak Lunak - Lebih mudah dikupas Lebih mudah dikupas 32oC - Awal Blansing : 44oC - Awal Blansing : 42oC - Akhir Blansing : 88oC - Akhir Blansing : 55oC Kemudahan mengupas Suhu Tomat Suhu Es Air 26oC - Sebelum dimasukkan - Sebelum dimasukkan bahan : 25oC bahan : 25oC - Sesudah dimasukkan - Sesudah dimasukkan bahan : 30oC bahan : 40oC Dapat dilihat bahwa proses blansing pada buah tomat mengakibatkan terjadinya beberapa perubahan, diantaranya perubahan warna dari merah segar menjadi pucat/kekuningan, perubahan tekstur dari keras menjadi lunak, dan perubahan suhu tomat serta air es yang semakin meningkat. Proses blansing selama 6
  • 12.
    10 menit yangdilakukan pada buah tomat dapat dikatakan cukup karena menurut Novianna dkk. (2004) waktu yang optimal untuk blansir yaitu selama 9 menit, dimana sudah tidak terdapat gelembung-gelembung gas pada sampel, yang berarti enzim peroksidase sudah tidah aktif lagi. Pasteurisasi merupakan proses pemanasan pendahuluan yang dilakukan terhadap bahan hasil pertanian yang bersifat cair seperti susu. Pasteurisasi dilakukan pada suhu ≤100oC selama waktu tertentu yang bertujuan untuk membunuh bakteribakteri patogen pada susu. Pada paktikum kali ini jenis bahan hasil pertanian yang akan dikenai proses pasteurisasi pada suhu 65 oC selama 30 menit adalah susu segar. Proses pasteurisasi ini disebut juga dengan proses LTLT yaitu low temperature long time. Hal ini sesuai dengan tulisan Shinya (2008) dalam bukunya yang menyatakan bahwa ada empat jenis proses pasteurisasi, yaitu pasteurisasi suhu rendah berkelanjutan (LTLT = low temperature long time/suhu rendah waktu lama) pada suhu 62,2o-65oC selama 30 menit, pasteurisasi suhu tinggi berkelanjutan (HTLT = high temperature long time/suhu tinggi waktu lama) pada suhu >75oC selama lebih dari 15 menit, pasteurisasi suhu tinggi waktu singkat (HTST = high temperature short time) pada suhu >72oC selama lebih dari 15 menit, dan pasteurisasi suhu sangat tinggi waktu singkat (UHT = ultra high temperature) pada suhu 120o-130oC selama 2 detik. Pengamatan terhadap karakteristik mutu susu segar sebelum dan sesudah pasteurisasi disajikan dalam tabel dibawah ini. Tabel 2. Data pengamatan karakteristik mutu susu segar sebelum dan sesudah pasteurisasi. Karakteristik Susu Sebelum Pasteurisasi Sesudah Pasteurisasi Warna Putih susu Putih pekat Aroma Netral Netral Kekentalan Agak kental Kental Lapisan Krim Tidak ada Tidak ada Setelah melalui proses pasteurisasi, susu segar harus melalui proses penyimpanan yang tepat agar mutunya dapat dipertahankan. Susu segar yang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan pada suhu kamar hanya dapat 7
  • 13.
    mempertahankan mutunya selama±11 jam. Sedangkan susu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan pada suhu dingin dapat mempertahankan mutunya selama ±10 hari. Perbandingan karakteristik mutu susu segar tanpa pasteurisasi dan dengan pasteurisasi setelah penyimpanan selama 7 hari disajikan dalam tabel berikut. Tabel 3. Data pengamatan karakteristik mutu susu tanpa pasteurisasi dan susu pasteurisasi setelah penyimpanan pada suhu ruang dan suhu 10oC. Penyimpanan suhu ruang selama 7 Penyimpanan suhu 10oC selama hari 7 hari Karakteristik susu Susu Tanpa Susu pasteurisasi Warna Tanpa pasteurisasi pasteurisasi Pasteurisasi Putih susu Putih susu Basi Basi Basi Sangat Kental Sangat Kental Kental namun Bagian atas Bagian putih krim, putih bagian Basi Kekentalan krim, bawah bagian bawah kuning bening Aroma atas Sangat Kental kuning bening jika dikocok kembali cair Lapisan Banyak Krim permukaan diatas Banyak diatas Banyak diatas permukaan Sedikit permukaan Dapat dilihat bahwa susu yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan dalam suhu 10oC dapat mempertahankan mutunya selama 7 hari. Hal ini sesuai dengan tulisan Habibah dan Mu’ammar (2011) yang menyatakan bahwa kerusakan susu pasteurisasi akan terjadi pada hari ke-12 dalam suhu freezer atau refrigator. 8
  • 14.
    V. KESIMPULAN Berdasarkan data pengamatanyang telah dihasilkan maka dapat disimpulkan bahwasannya proses blansing akan mengakibatkan terjadinya perubahan mutu buah tomat terutama jika dilihat dari segi warna, tekstur, dan penampakan. Metode blansing yang cocok untuk dilakukan pada buah tomat adalah metode pengukusan karena tidak menyebabkan perubahan yang terlalu signifikan baik dari segi warna ataupun tekstur. Sedangkan kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan terhadap susu segar adalah bahwasannya faktor yang mempengaruhi mutu susu tidak hanya proses pasteurisasi melainkan juga proses penyimpanan yaitu suhu dan lamanya penyimpanan berlangsung. Susu segar yang hanya dikenai proses pasteurisasi dan tidak disimpan pada suhu refrigator hanya dapat mempertahankan mutunya selama ±11 jam sedangkan susu segar yang tidak dikenai proses pasteurisasi namun disimpan pada suhu refrigator mampu mempertahankan mutunya lebih lama. Artinya untuk mempertahankan mutu susu segar, proses yang paling penting untuk dilakukan adalah proses penyimpanan dan bukan proses pasteurisasi. 9
  • 15.
    DAFTAR PUSTAKA Budiyono H.2009. Analisis Daya Simpan Produk Susu Pasteurisasi Berdasarkan Kualitas Bahan Baku Mutu Susu. Jurnal Paradigma 10 (2) : 203 - 205. Habibah, dan Mu’ammar K. 2011. Pertumbuhan Mikroorganisme Selama Penyimpanan Susu Pasteurisasi Pada Suhu Rendah. Jurnal Agroscientiae 18 (3) : 51 - 56. Novianna EH, Djohan S, dan Shevica M. 2004. Pengaruh Penambahan Bahan Pengisi Terhadap Kualitas Bubuk Minuman Lidah Buaya (Aloe Vera, L). Jurnal Ilmu Dan Teknologi Pangan 2 (1) : 101 - 105. Sawitri ME, Abdul M, Masdiana P, Tri ES, Umi W, dan Ghozi K. 2010. Kajian Kualitas Susu Pasteurisasi Yang Diproduksi U.D. Gading Mas Selama Penyimpanan Dalam Refrigerator. Jurnal Ilmu dan Teknologi Hasil Ternak 5 (2) : 28 - 32. Shinya, H. 2008. The Miracle of Enzyme. Penerjemah: Winny P. Qanita, Bandung. 10
  • 16.
    LAMPIRAN Lampiran 1. Dataper pass yang sudah di ACC. 11
  • 17.
  • 18.
    Lampiran 2. Gambarsusu segar yang dikenai proses pasteurisasi dan tidak dikenai proses pasteurisasi setelah disimpan pada suhu ruang dan suhu 10oC selama 7 hari. 13
  • 19.
    Gambar 1. Sususegar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu kamar. 14
  • 20.
    Gambar 2. Susuyang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu kamar. 15
  • 21.
    Gambar 3. Susuyang tidak dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu 10oC. 16
  • 22.
    Gambar 4. Sususegar yang dikenai proses pasteurisasi dan disimpan selama 7 hari pada suhu 10oC. 17