BAB I
                                     PENDAHULUAN




    A. Latar Belakang
        Akhir-akhir ini dunia pendidikan mendapat sorotan dan kritikan yang sangat tajam
dari berbagai kalangan, hal ini dikarenakan dari rendahnya kualitas hasil belajar siswa. Oleh
karena itu perlulah di desain sebuah sistem yang merupakan satu kesatuan yang terorganisir
atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka
mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai satu sistem, pengajaran mengandung sejumlah
komponen antara lain materi pelajaran, metode, alat evaluasi yang kesemuanya berinteraksi
satu sama lainnya dalam rangkai mencapai tujuan yang telah dirumuskan.
        Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut dioerlukan berbagai model
pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pembelajaran. Maksud dengan kondisi
pembelajaran di sini adalah tujuan bidang studi, kendala bidang studi, dan karakteristik siswa
yang berbeda memerlukan model pembelajaran yang berbeda pula.
        Ada beberapa factor sehingga perlu dilaksanakannya desain sistem intruksional,
antara lain:
       1. Tingkat dan hasil belajar siswa yang masih berada di bawah harapan
       2. Biaya program pengajaran yang tinggi
       3. Adanya keinginan mengubah metode pengajaran.
       4. Adanya ketidakpuasan dari peserta didik atas pengajaran yang telah disampaikan
           (kurangnya gairah belajar siswa)
       5. Perubahan sisten pengajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat kepada
           siswa.


       Berdasarkan beberapa alasan di atas maka perlu diadakannya perencanaan yang
matang dalam pendesainan sistem intruksional agar tercapai apa yang diharapkan.
Berdasarkan atas latar belakang di atas maka sangatlah perlu terlebih dahulu kita memahami
prinsip dan prosedur pengembangan sistem intruksional agar tujuan yang diharapkan setiap
guru dapat terwujud sesuai dengan yang diharapkan dan yang telah dirumuskan.
B. Rumusan Masalah
       Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah
dalam makalah ini adalah:
       1.   Apa prinsip pengembangan sistem intruksional?
       2.   Bagaimana prosedur pengembangan sistem intruksional?


   C. Tujuan
       Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah supaya mahasiswa peserta kuliah: dapat
memahami prinsip pengembangan sistem intrukional, dan dapat mengikuti prosedur
penyusunan desain instruksional.
BAB II
                                      PEMBAHASAN


   A. Prinsip Instruksional
       Prinsip dikatakan juga landasan. Prinsip Instruksional adalah kerangka teoritis sebuah
metode pembelajaran. Kerangka teoritis adalah teori-teori yang mengarahkan harus
bagaimana sebuah metode dilihat dari segi: bahan yang dibelajarkan, prosedur pembelajaran,
guru dan siswanya.
       Dengan demikian, prisnsip pembelajaran adalah kerangka teoritis, petunjuk-petunjuk
teoritis bagi penyusunan sebuah metode pembelajaran dalam hal:
   1. Pemilihan dan penyusunan bahan pembelajaran yang akan dibelajarkan.
   2. Pengaturan proses belajar mengajarnya: bagaimana mengajarkan dan mempelajarinya,
       hal-hal yang berhubungan dengan pendekatan, tehnik, media.
   3. Guru yang akan mengajarkannya, persyaratan yang harus dimiliki, serta aktifitas yang
       harus dilaksanakan
   4. Siswa yang mempelajarinya, berkenaan dengan aktifitasnya, dan
   5. Hal-hal lain yang terlibat dalam proses belajar-mengajar.
       Setiap teknologi dibangun atas dasar teori tertentu, teknologi Instruksional di bangun
atas dasar prinsip-prinsip yang di tarik dari teori psikologi terutama teori belajar dan hasil-
hasil penelitian dalam kegiatan Instruksional. Menurut Atwi Suparman (dalam Fieldbeck
1974) prisip yang digunakan dalam pengembangan Instruksional antara lain:
   1. Dengan mengulang respon-respon baru
       Pemberian umpan balik yang positif dengan segera atas keberhasilan atau respon yang
       benar dari siswa akan menyenangkan, siswa lebih cenderung untuk mengulang respon
       tersebut kerena ingin memelihara akibat yang menyenangkan, sebaliknya apabila
       respon itu kurang menyenangkan siswa cenderung mencari jalan dapat menyenangi
       rasa tidak menyenangkan tersebut dengan cara menghindari respon yang sama.
   2. Perlunya menyatakan tujuan Instruksional secara jelas kepada siswa sebelum
       pelajaran dimulai.
       Tujuan Instruksional harus dijelaskan kepada siswa sebelum pelajaran dimulai dengan
       tujuan agar siswa mengetahui tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajarannya
       tersebut. Tujuan Instruksional berisi pengetahuan,ketrampilan, atau perilaku. Agat
       tujuan Instruksional jelas bagi siswa maka tehnik perumusan menggunakan kata kerja
       operasional yaitu perilaku siswa yang telah nampak oleh mata dan dapat di ukur. Hal
ini tentunya diharapkan menggunakan media dan metode yang dapat mendorong
   keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar.
3. Pemberian Reward
   Dengan memberikan isi pelajaran yang berguna bagi siswa didalam maupun di luar
   ruangan kelas dan memberikan umpan balik kepada siswa. Guru diharapkan dapat
   memberikan reward ataupun imbalan serta penghargaan terhadap keberhasilan siswa.
   Guru harus sering memberikan tes dan memberikan penghargaan berupa pujian bagi
   siswa yang berhasil ataupun yang belum berhasil guna membangun semangat belajar
   pada siswa.
4. Siswa diharapka dapat mentrasfer pengetahuan yang dicapainya dalam memecahkan
   masalah hidup yang penuh variasi.
   Dalam hal ini kita sebagai guru dalam memberikan isi pelajaran harus dapat
   memberikan contoh-contoh penerapan yang nantinya berguna demi kelangsungan
   hidup siswa nantinya.
5. Pengembangan Instruksional perlu diperjelas dengan contoh yang positif dan yang
   negative.
   Guru haru memberikan atau menjelaskan norma-norma yang benar yang sesuai dan
   juga memberikan serta menjelaskan norma-norma yang tidak sesuai agar siswa dapat
   membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar dalam mencapai tujuan
   yang sesuai.
6. Guru harus mempersiapkan mental siswa untuk mempelajari isi pelajaran
   Dalam hal ini seorang guru dapat menjelaskan terlebih dahulu pendahuluan yang
   berisi tujuan Instruksional. Dengan menggunakan pengetahuan yang diketahui oleh
   siswa, bagaimana pelajaran yang diterimanya nanti akan berintegrasi dengan pelajaran
   yang diketahuinya dan bagaimana prosedur yang diikuti untuk mencapai tujuan
   Instruksional, atau keuntungan apa yang akan diperoleh siswa dari tujuan
   Instruksional tersebut.
7. Kegiatan belajar dibagi menjadi bagian-bagian kecil yang saling berkaitan.
   Materi pelajaran dibagi-bagi menjadi langkah-langkah kecil dengan situasi umpan
   balik untuk penyelesaian setiap langkah dengan materi pelajaran luas dan kompleks.
   Setiap bagian merupakan bagian tersendiri secara utuh atau bulat yang di sebut
   bagian tersendiri secara utuh atau bulat yang di sebut dengan modul Instruksional
   dengan demikian siswa dapat mempelajarinya secara bertahap dan berkala.
8. Penggunaan media untuk mengurangi kekomplekan dari materi.
Penggunaan media dalam pembelajaran dibutuhkan guna untuk mempermudah
       penyampaian dari meteri pelajaran agar tujuan Instruksional tercapai.
   9. Merumuskan tujuan Instruksional umum menjadi tujuan Instruksional khusus.
       Tujuannya adalah agar perilaku yang kompleks dapat menjadi perilaku yang lebih
       sederhana. Tanpa pemecahan perilaku yang kompleks menjadi perilaku yang khusus
       kegiatan Instruksional tidak dapat dilakukan secara sistematik atau bertahap.
   10. Menggunakan tes formatif dan melaksanakan umpan balik serta tindak lanjut pada
       setiap bagian pelajaran.
       Ketiga komponen tersebut merupakan kewajiban pendidik untuk membangkitkan dan
       meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih giat.
   11. Memberikan Perlakuan
       Dalam hal ini seorang guru harus mampu memberikan perlakuan yang berbeda-beda
       kepada setiap siswa, agar setiap siswa dapat mengikuti pembelajaran secara bersama-
       sama. Hal ini dapat berupa bimbingan dalam kelas ataupun di luar kelas, pemberian
       tugas tembahan serta penggunaan metode yang dapat membantu siswa yang lambat
       namun tidak merugikan bagi siswa yang cepat. Hal ini dilakukan karena
       perkembangan dan kecepatan belajar siswa bervariasi.
   12. Siswa diberikan kebebasan memiliki cara, waktu dan sumber lain untuk belajar.
       Hal ini guna untuk memperluas wawasan siswa, akan tetapi guru harus memberikan
       panduan yang benar agar siswa memahami serta mengetahui tujuan yang akan
       dicapainya tersebut, serta siswa diharapkan dapat menyusun persiapan guna
       penyelesaian tugas tanpa tergantung kepada kegiatan belajar di dalam kelas.


       Prinsip-prinsip perancangan pengembangan sistem Instruksional menurut Gagne dan
Briggs antara lain:
   1. Desain Intruksional memperhatikan kondisi yang ada dalam diri peserta didik dan
       kondisi yang di luar peserta didik.
   2. Berorientasi pada kurikulum yang berlaku. Dalam kurikulum secara umum telah
       dirumuskan tujuan dan aspek materi yang harus diberikan.
   3. Waktu yang diperlukan serta sarana dan alat peraga apa yang tersedia.
   4. Urutan kegiatan pembelajaran dikembangkan secara sistematis.
   5. Melengkapi rancangan pembelajaran dengan lembaran kerja dan lembaran tugas.
   6. Rancangan pembelajaran harus bersifat fleksibel, dan
   7. Berdasarkan pendekatan sistem.
B. Fungsi Prinsip Instruksional
       Istilah fungsi berasal dari bahasa Inggris function yang memiliki banyak arti,
diantaranya: jabatan, kedudukan, kegiatan,dll. Jadi prinsip Instruksional berfungsi sebagai
kerangka teori dan pedoman pelaksanaan bagi komponen-komponen pengajaran. Sebagai
pedoman/kerangka teori, setiap butir prinsip pengajaran memberikan arah yang harus
ditempuh dalam pelaksanaan pengajaran.
   C. Prosedur Instruksional
       Prosedur adalah urutan langkah-langkah untuk mencapai tujuan memecahkan masalah
tertentu atau membuat sesuatu, misalnya prosedur penelitian. Komponen yang merupakan
unsur-unsur dalam perancangan dan pengembangan pembelajaran, antara lain:
          Spesifikasi isi pokok bahasan
          Spesifikasi tujuan pengajaran
          Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa
          Penentuan cara, metode, tehnik mengajar.
          Pengelompokan siswa
          Penyediaan waktu
          Pengaturan ruangan
          Pemilihan media
          Evaluasi
          Analisis umpan balik
      Secara garis besar, setiap perancangan dan pengembangan mengandung tiga kegiatan
  yang dapat dikelompokkan:
      a) Kegiatan yang membantu menentukan masalah pendidikan dan mengorganisasi
          alat untuk memecahkan masalah tersebut.
      b) Kegiatan yang membantu menganalisis dan mengembangkan pemecahan masalah.
      c) Kegiatan yang melayani keperluan evaluasi pemecahan masalah tersebut.
      Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep paling
ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran, oleh karena itu dalam
menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran
tergantung pada pertimbangan si perancang terhadap model yang akan dipilih. Dari sekian
banyak prosedur pengembangan yang terkenal di antaranya: Model Dick and Carey,
Instrucsional System Design (Gagne, 1979), Model 4-D Thigarajan, Model Kemp, dan
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
Model Dick and Carey


                      Analisis Pembelajaran




Analisis Kebutuhan
 Untuk Menetukan                             Merumuskan Tujuan           Menyusun Tes
Tujuan Pembelajaran                          Pembelajaran Khusus         Acuan Patokan
Umum Dan Analisis
      Konteks

                                                                         Mengembangkan
                                                                         Strategi
                       Identifikasi                                      Pembelajaran
                       Karakteristik Siswa

                                                                         Mengembangkan
                                                                         Bahan
                                                                         Pembelajaran



                                                                         Melakukan
                                                                         Eveluasi Formatif
                             Gambar 1. Model Dick and Carey


Instrucsional System Design (Gagne, 1979)
      Langkah model Gagne adalah:
          1) Analisis kebutuhan, tujuan umum dan prioritas
          2) Analisis sumber, hambatan, alternative sistem peluncuran.
          3) Penentuan lingkup dan urutan kurikulum mata pelajaran.
          4) Menentukan sistem matapelajaran dan urutan.
          5) Analisis tujuan mata pelajaran
          6) Pendefinisian tujuan penampilan
          7) Mempersiapkan rencana matasajian
          8) Mengembangkan, memilih bahan, media.
          9) Menilai penampilan pebelajar.
          10) Persiapan pengajar.
          11) Evaluasi formatif
          12) Tes lapangan
          13) Evaluasi sumatif
          14) Pelaksanaan dan difusi.
Model 4-D Thigarajan




        Gambar 2. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran 4-D Thigarajan
Model Kemp




Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)




                       Gambar 4. Model pengembangan PPSI
BAB III
                                      KESIMPULAN


   A. KESIMPULAN
       Prinsip dikatakan juga landasan. Prinsip Instruksional adalah kerangka teoritis sebuah
metode pembelajaran. Kerangka teoritis adalah teori-teori yang mengarahkan harus
bagaimana sebuah metode dilihat dari segi: bahan yang dibelajarkan, prosedur pembelajaran,
guru dan siswanya.
       Prinsip Instruksional berfungsi sebagai kerangka teori dan pedoman pelaksanaan bagi
komponen-komponen pengajaran. Sebagai pedoman/kerangka teori, setiap butir prinsip
pengajaran memberikan arah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pengajaran.
      Prosedur adalah urutan langkah-langkah untuk mencapai tujuan memecahkan masalah
tertentu atau membuat sesuatu, misalnya prosedur penelitian, dan prosedur Instruksional.
Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep paling ampuh
untuk mengembangkan suatu program pembelajaran, oleh karena itu dalam menentukan
model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung               pada
pertimbangan si perancang terhadap model yang akan dipilih. Dari sekian banyak prosedur
pengembangan yang terkenal di antaranya: Model Dick and Carey, Instrucsional System
Design (Gagne, 1979), Model 4-D Thigarajan, Model Kemp, dan Model PPSI (Prosedur
Pengembangan Sistem Instruksional).


   B. SARAN
   o Untuk keberhasilan pembelajaran disarankan dalam menyusun dan merancang
       pembelajaran harus disesuaikan dengan prinsip dan prosedur instruksional.
   o Model pembelajaran harus disesuaikan dengan keadaan karakteristik siswa, kondisi,
       bahan ajar, dll.
Daftar Pustaka


Gagne, Robert M & Briggs, Leslie J. 1979. Principles of Intuctional Design. New York.

Kemp, Jerrolole. 1985. Proses Perancangan Pengajaran. Bandung. ITB Press.

Mudhoffir. 1996. Teknologi Instruksional. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Suparman, Atwi. 2001. Desain Instruksional. Jakarta. PAU PPAI

Bg ucok i

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Akhir-akhir ini dunia pendidikan mendapat sorotan dan kritikan yang sangat tajam dari berbagai kalangan, hal ini dikarenakan dari rendahnya kualitas hasil belajar siswa. Oleh karena itu perlulah di desain sebuah sistem yang merupakan satu kesatuan yang terorganisir atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagai satu sistem, pengajaran mengandung sejumlah komponen antara lain materi pelajaran, metode, alat evaluasi yang kesemuanya berinteraksi satu sama lainnya dalam rangkai mencapai tujuan yang telah dirumuskan. Upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran tersebut dioerlukan berbagai model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pembelajaran. Maksud dengan kondisi pembelajaran di sini adalah tujuan bidang studi, kendala bidang studi, dan karakteristik siswa yang berbeda memerlukan model pembelajaran yang berbeda pula. Ada beberapa factor sehingga perlu dilaksanakannya desain sistem intruksional, antara lain: 1. Tingkat dan hasil belajar siswa yang masih berada di bawah harapan 2. Biaya program pengajaran yang tinggi 3. Adanya keinginan mengubah metode pengajaran. 4. Adanya ketidakpuasan dari peserta didik atas pengajaran yang telah disampaikan (kurangnya gairah belajar siswa) 5. Perubahan sisten pengajaran yang berpusat pada guru menjadi berpusat kepada siswa. Berdasarkan beberapa alasan di atas maka perlu diadakannya perencanaan yang matang dalam pendesainan sistem intruksional agar tercapai apa yang diharapkan. Berdasarkan atas latar belakang di atas maka sangatlah perlu terlebih dahulu kita memahami prinsip dan prosedur pengembangan sistem intruksional agar tujuan yang diharapkan setiap guru dapat terwujud sesuai dengan yang diharapkan dan yang telah dirumuskan.
  • 2.
    B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah: 1. Apa prinsip pengembangan sistem intruksional? 2. Bagaimana prosedur pengembangan sistem intruksional? C. Tujuan Adapun tujuan dari pembahasan ini adalah supaya mahasiswa peserta kuliah: dapat memahami prinsip pengembangan sistem intrukional, dan dapat mengikuti prosedur penyusunan desain instruksional.
  • 3.
    BAB II PEMBAHASAN A. Prinsip Instruksional Prinsip dikatakan juga landasan. Prinsip Instruksional adalah kerangka teoritis sebuah metode pembelajaran. Kerangka teoritis adalah teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi: bahan yang dibelajarkan, prosedur pembelajaran, guru dan siswanya. Dengan demikian, prisnsip pembelajaran adalah kerangka teoritis, petunjuk-petunjuk teoritis bagi penyusunan sebuah metode pembelajaran dalam hal: 1. Pemilihan dan penyusunan bahan pembelajaran yang akan dibelajarkan. 2. Pengaturan proses belajar mengajarnya: bagaimana mengajarkan dan mempelajarinya, hal-hal yang berhubungan dengan pendekatan, tehnik, media. 3. Guru yang akan mengajarkannya, persyaratan yang harus dimiliki, serta aktifitas yang harus dilaksanakan 4. Siswa yang mempelajarinya, berkenaan dengan aktifitasnya, dan 5. Hal-hal lain yang terlibat dalam proses belajar-mengajar. Setiap teknologi dibangun atas dasar teori tertentu, teknologi Instruksional di bangun atas dasar prinsip-prinsip yang di tarik dari teori psikologi terutama teori belajar dan hasil- hasil penelitian dalam kegiatan Instruksional. Menurut Atwi Suparman (dalam Fieldbeck 1974) prisip yang digunakan dalam pengembangan Instruksional antara lain: 1. Dengan mengulang respon-respon baru Pemberian umpan balik yang positif dengan segera atas keberhasilan atau respon yang benar dari siswa akan menyenangkan, siswa lebih cenderung untuk mengulang respon tersebut kerena ingin memelihara akibat yang menyenangkan, sebaliknya apabila respon itu kurang menyenangkan siswa cenderung mencari jalan dapat menyenangi rasa tidak menyenangkan tersebut dengan cara menghindari respon yang sama. 2. Perlunya menyatakan tujuan Instruksional secara jelas kepada siswa sebelum pelajaran dimulai. Tujuan Instruksional harus dijelaskan kepada siswa sebelum pelajaran dimulai dengan tujuan agar siswa mengetahui tujuan yang ingin dicapai melalui pembelajarannya tersebut. Tujuan Instruksional berisi pengetahuan,ketrampilan, atau perilaku. Agat tujuan Instruksional jelas bagi siswa maka tehnik perumusan menggunakan kata kerja operasional yaitu perilaku siswa yang telah nampak oleh mata dan dapat di ukur. Hal
  • 4.
    ini tentunya diharapkanmenggunakan media dan metode yang dapat mendorong keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar. 3. Pemberian Reward Dengan memberikan isi pelajaran yang berguna bagi siswa didalam maupun di luar ruangan kelas dan memberikan umpan balik kepada siswa. Guru diharapkan dapat memberikan reward ataupun imbalan serta penghargaan terhadap keberhasilan siswa. Guru harus sering memberikan tes dan memberikan penghargaan berupa pujian bagi siswa yang berhasil ataupun yang belum berhasil guna membangun semangat belajar pada siswa. 4. Siswa diharapka dapat mentrasfer pengetahuan yang dicapainya dalam memecahkan masalah hidup yang penuh variasi. Dalam hal ini kita sebagai guru dalam memberikan isi pelajaran harus dapat memberikan contoh-contoh penerapan yang nantinya berguna demi kelangsungan hidup siswa nantinya. 5. Pengembangan Instruksional perlu diperjelas dengan contoh yang positif dan yang negative. Guru haru memberikan atau menjelaskan norma-norma yang benar yang sesuai dan juga memberikan serta menjelaskan norma-norma yang tidak sesuai agar siswa dapat membedakan mana yang benar dan mana yang tidak benar dalam mencapai tujuan yang sesuai. 6. Guru harus mempersiapkan mental siswa untuk mempelajari isi pelajaran Dalam hal ini seorang guru dapat menjelaskan terlebih dahulu pendahuluan yang berisi tujuan Instruksional. Dengan menggunakan pengetahuan yang diketahui oleh siswa, bagaimana pelajaran yang diterimanya nanti akan berintegrasi dengan pelajaran yang diketahuinya dan bagaimana prosedur yang diikuti untuk mencapai tujuan Instruksional, atau keuntungan apa yang akan diperoleh siswa dari tujuan Instruksional tersebut. 7. Kegiatan belajar dibagi menjadi bagian-bagian kecil yang saling berkaitan. Materi pelajaran dibagi-bagi menjadi langkah-langkah kecil dengan situasi umpan balik untuk penyelesaian setiap langkah dengan materi pelajaran luas dan kompleks. Setiap bagian merupakan bagian tersendiri secara utuh atau bulat yang di sebut bagian tersendiri secara utuh atau bulat yang di sebut dengan modul Instruksional dengan demikian siswa dapat mempelajarinya secara bertahap dan berkala. 8. Penggunaan media untuk mengurangi kekomplekan dari materi.
  • 5.
    Penggunaan media dalampembelajaran dibutuhkan guna untuk mempermudah penyampaian dari meteri pelajaran agar tujuan Instruksional tercapai. 9. Merumuskan tujuan Instruksional umum menjadi tujuan Instruksional khusus. Tujuannya adalah agar perilaku yang kompleks dapat menjadi perilaku yang lebih sederhana. Tanpa pemecahan perilaku yang kompleks menjadi perilaku yang khusus kegiatan Instruksional tidak dapat dilakukan secara sistematik atau bertahap. 10. Menggunakan tes formatif dan melaksanakan umpan balik serta tindak lanjut pada setiap bagian pelajaran. Ketiga komponen tersebut merupakan kewajiban pendidik untuk membangkitkan dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar lebih giat. 11. Memberikan Perlakuan Dalam hal ini seorang guru harus mampu memberikan perlakuan yang berbeda-beda kepada setiap siswa, agar setiap siswa dapat mengikuti pembelajaran secara bersama- sama. Hal ini dapat berupa bimbingan dalam kelas ataupun di luar kelas, pemberian tugas tembahan serta penggunaan metode yang dapat membantu siswa yang lambat namun tidak merugikan bagi siswa yang cepat. Hal ini dilakukan karena perkembangan dan kecepatan belajar siswa bervariasi. 12. Siswa diberikan kebebasan memiliki cara, waktu dan sumber lain untuk belajar. Hal ini guna untuk memperluas wawasan siswa, akan tetapi guru harus memberikan panduan yang benar agar siswa memahami serta mengetahui tujuan yang akan dicapainya tersebut, serta siswa diharapkan dapat menyusun persiapan guna penyelesaian tugas tanpa tergantung kepada kegiatan belajar di dalam kelas. Prinsip-prinsip perancangan pengembangan sistem Instruksional menurut Gagne dan Briggs antara lain: 1. Desain Intruksional memperhatikan kondisi yang ada dalam diri peserta didik dan kondisi yang di luar peserta didik. 2. Berorientasi pada kurikulum yang berlaku. Dalam kurikulum secara umum telah dirumuskan tujuan dan aspek materi yang harus diberikan. 3. Waktu yang diperlukan serta sarana dan alat peraga apa yang tersedia. 4. Urutan kegiatan pembelajaran dikembangkan secara sistematis. 5. Melengkapi rancangan pembelajaran dengan lembaran kerja dan lembaran tugas. 6. Rancangan pembelajaran harus bersifat fleksibel, dan 7. Berdasarkan pendekatan sistem.
  • 6.
    B. Fungsi PrinsipInstruksional Istilah fungsi berasal dari bahasa Inggris function yang memiliki banyak arti, diantaranya: jabatan, kedudukan, kegiatan,dll. Jadi prinsip Instruksional berfungsi sebagai kerangka teori dan pedoman pelaksanaan bagi komponen-komponen pengajaran. Sebagai pedoman/kerangka teori, setiap butir prinsip pengajaran memberikan arah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pengajaran. C. Prosedur Instruksional Prosedur adalah urutan langkah-langkah untuk mencapai tujuan memecahkan masalah tertentu atau membuat sesuatu, misalnya prosedur penelitian. Komponen yang merupakan unsur-unsur dalam perancangan dan pengembangan pembelajaran, antara lain: Spesifikasi isi pokok bahasan Spesifikasi tujuan pengajaran Pengumpulan dan penyaringan data tentang siswa Penentuan cara, metode, tehnik mengajar. Pengelompokan siswa Penyediaan waktu Pengaturan ruangan Pemilihan media Evaluasi Analisis umpan balik Secara garis besar, setiap perancangan dan pengembangan mengandung tiga kegiatan yang dapat dikelompokkan: a) Kegiatan yang membantu menentukan masalah pendidikan dan mengorganisasi alat untuk memecahkan masalah tersebut. b) Kegiatan yang membantu menganalisis dan mengembangkan pemecahan masalah. c) Kegiatan yang melayani keperluan evaluasi pemecahan masalah tersebut. Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep paling ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran, oleh karena itu dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan si perancang terhadap model yang akan dipilih. Dari sekian banyak prosedur pengembangan yang terkenal di antaranya: Model Dick and Carey, Instrucsional System Design (Gagne, 1979), Model 4-D Thigarajan, Model Kemp, dan Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional).
  • 7.
    Model Dick andCarey Analisis Pembelajaran Analisis Kebutuhan Untuk Menetukan Merumuskan Tujuan Menyusun Tes Tujuan Pembelajaran Pembelajaran Khusus Acuan Patokan Umum Dan Analisis Konteks Mengembangkan Strategi Identifikasi Pembelajaran Karakteristik Siswa Mengembangkan Bahan Pembelajaran Melakukan Eveluasi Formatif Gambar 1. Model Dick and Carey Instrucsional System Design (Gagne, 1979) Langkah model Gagne adalah: 1) Analisis kebutuhan, tujuan umum dan prioritas 2) Analisis sumber, hambatan, alternative sistem peluncuran. 3) Penentuan lingkup dan urutan kurikulum mata pelajaran. 4) Menentukan sistem matapelajaran dan urutan. 5) Analisis tujuan mata pelajaran 6) Pendefinisian tujuan penampilan 7) Mempersiapkan rencana matasajian 8) Mengembangkan, memilih bahan, media. 9) Menilai penampilan pebelajar. 10) Persiapan pengajar. 11) Evaluasi formatif 12) Tes lapangan 13) Evaluasi sumatif 14) Pelaksanaan dan difusi.
  • 8.
    Model 4-D Thigarajan Gambar 2. Model Pengembangan Perangkat Pembelajaran 4-D Thigarajan
  • 9.
    Model Kemp Model PPSI(Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional) Gambar 4. Model pengembangan PPSI
  • 10.
    BAB III KESIMPULAN A. KESIMPULAN Prinsip dikatakan juga landasan. Prinsip Instruksional adalah kerangka teoritis sebuah metode pembelajaran. Kerangka teoritis adalah teori-teori yang mengarahkan harus bagaimana sebuah metode dilihat dari segi: bahan yang dibelajarkan, prosedur pembelajaran, guru dan siswanya. Prinsip Instruksional berfungsi sebagai kerangka teori dan pedoman pelaksanaan bagi komponen-komponen pengajaran. Sebagai pedoman/kerangka teori, setiap butir prinsip pengajaran memberikan arah yang harus ditempuh dalam pelaksanaan pengajaran. Prosedur adalah urutan langkah-langkah untuk mencapai tujuan memecahkan masalah tertentu atau membuat sesuatu, misalnya prosedur penelitian, dan prosedur Instruksional. Tidak ada suatu model rancangan pembelajaran yang dapat memberikan resep paling ampuh untuk mengembangkan suatu program pembelajaran, oleh karena itu dalam menentukan model rancangan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran tergantung pada pertimbangan si perancang terhadap model yang akan dipilih. Dari sekian banyak prosedur pengembangan yang terkenal di antaranya: Model Dick and Carey, Instrucsional System Design (Gagne, 1979), Model 4-D Thigarajan, Model Kemp, dan Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional). B. SARAN o Untuk keberhasilan pembelajaran disarankan dalam menyusun dan merancang pembelajaran harus disesuaikan dengan prinsip dan prosedur instruksional. o Model pembelajaran harus disesuaikan dengan keadaan karakteristik siswa, kondisi, bahan ajar, dll.
  • 11.
    Daftar Pustaka Gagne, RobertM & Briggs, Leslie J. 1979. Principles of Intuctional Design. New York. Kemp, Jerrolole. 1985. Proses Perancangan Pengajaran. Bandung. ITB Press. Mudhoffir. 1996. Teknologi Instruksional. Bandung. Remaja Rosdakarya. Suparman, Atwi. 2001. Desain Instruksional. Jakarta. PAU PPAI