PENERAPAN KONSEP ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP)
PADA APLIKASI BE ONE ENTERPRISE (BOE/B-1)
(STUDI KASUS : PT BENTOEL PRIMA)
DISUSUN OLEH :
ROFDIYAN : 30811003
BENHIL MAKBULLAH : 30811
ANDE PRASTOWO : 30811
SUSI : 30811
ELY :30811
.....?
....?
PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI (SI)
SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA
DAN TEKNIK KOMPUTER INDONESIA
JAKARTA
2014
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan Ridha-Nya
penulis bisa menyelesaikan tugas kelompok dengan berjudul
PENERAPAN KONSEP ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP)
PADA APLIKASI BE ONE ENTERPRISE (BOE/B-1)(STUDI KASUS : PT
BENTOEL PRIMA).
Dengan semua kemampuan yang ada, kami terus berusaha semaksimal
mungkin untuk menyajikan karya ilmiah ini dalam bentuk sebaik- baiknya, namun
peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam hasil laporan studi
kasus ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik guna
kesempurnaan hasil laporan karya ilmiah yang penulis buat ini.
Dengan mengucapkan Alhamdullilah semoga hasil penulisan dan penelitian
ini bermanfaat dan bisa diterima oleh pembaca.
Wassalamualaikum Wr.Wb.
Jakarta, 2014
DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsep ERP adalah sebuah sistem yang mengintegrasikan proses setiap line
dalam manajemen perusahaan secara transparasi dan memiliki akuntabilitas yang
cukup tinggi.Untuk memasuki pasar internasional, ERP merupakan salah satu
yang menjadi pra-syarat dasar bagi perusahaan. Indonesia merupakan negara yang
sedang berkembang, dimanabasis perekonomiannya bertumpu di bidang bisnis,
makaefisiensi menjadi salah satu faktor yang cukup penting dalam setiap
perusahaan.
Pada kenyataannya, masih didapati banyak perusahaan berskala besar
yang masih kurang efisien contohnya saja dalam penerapan ERP yang merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi perusahaan. Jika dilihat dari kondisi
perusahaan-perusahaan di Indonesia, banyak perusahaan besar yang belum cukup
optimal dalam mengintegrasikansetiap proses dalam perusahaan tersebut ke dalam
suatu sistem komputerisasi. Terlebih lagi pada perusahaan - perusahaan yang
lebih kecil, pengimplementasian ERP terasa sulit untuk diaplikasikan bahkan
pemikiran untuk menerapkan sistem yang terintegrasi tersebut seolah-olah masih
menjadi suatu hal yang baru. Oleh karena i tu, dalam paper ini akan dilakukan
observasi untuk menganalisadan mengevaluasi mengenai penerapan ERP di
perusahaan-perusahaan yang saat ini telah menggunakan sistem ERP dalam
perusahaannya. Dari paper ini diharapkan dapat memberi gambaran dan masukan
bagi perusahaan-perusahaan yang belum menerapkan ERP untuk mengenal sistem
yang terintegrasi dan keuntungan yang diperoleh dalampengimplementasian ERP.
Selain itu dari paper ini diharapkan dapat memberi evaluasi yang cukup berguna
bagi perusahaan yang telah mengimplementasikan ERP serta memberikan
informasi yang cukup penting mengenai pengaruh ERP terhadap efisiensi dalam
sistem di perusahaan.
Pada suatu organisasi yang kompleks dengan banyak departemen yang
menjalankan fungsi dan objekttif masing-masing, kerap kali terjadi bias
informasi.persepsi danpengambilan keputusan antara satu unit departemen dengan
unit yang lain.ERP merupakan sebuah konsep, teknik, ataupun metode guna
mengintegrasikan seluruhdepartemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam suatu
sistem automasi keseluruhan proses bisnis guna meningkatkan efektivitas dan
efisiensi perusahaan. Manfaat dari ERP ini adalah integrasi bisnis secara
keseluruhan, fleksibilitias dalam organisasi untuk bertransfomasi dan
meningkatkan turn-overnya, menciptakan analisa dan peningkatankapabilitas
yang lebih baik, serta penggunaan teknologi terbaru.
Pada ERP sendiri terjadi perubahan paradigma dari sistem konvensional
yang serba terisolasi ke arah penggunaan informasi teknologi yang lebih
terintegrasi menghasilkan aliran informasi yang lebih lancar pada level
organisasional maupun departemental. Untuk melakukan implementasi ERP yang
sukses, ERP sebenarnya bertujuan menyatukan semua department/divisi dan
seluruh fungsi dalam perusahaan anda menjadi sebuah perusahaan yang mampu
dipantau melalui sistem terkomputerisasi dan terlayani dengan sebuah sistem yang
meminimalkan biaya dengan efisiensi proses yang terkomputerisasi.
Sebuah implementasi ERP, meskipun pada ideal-nya akan membantu dalam
mendapatkan informasi planning/perencanaan dan fungsi advance (lanjut) yang
dapat mempridiksi apapun, tentunya-memiliki syarat untuk sampai pada titik ideal
tersebut. Ketika melakukan implementasi penting untuk mengerti bahwa akan ada
efek baik yang positif maupun kurang menyenangkan bagi pengguna dan
perusahaan, sehingga yang terbaik yang bisa dilakukan adalah merancang
implementasi sebaik mungkin untuk mengurangi side effect yang kurang
menguntungkan. Adalah penting untuk mengerti bahwa masing-masing
perusahaan memiliki keunikan dalam melakukan implementasi ERP, namun hal
terbaik yang bisa dilakukan adalah impelementasi secara bertahap berdasarkan
kebutuhan dasar dan kemampuan perusahaan, termasuk budget dan kemampuan
SDM, atau jika perusahaan benarbenar mempertimbangkan merombak
keseluruhan proses bisnis, maka cara „big bang’ atau full modul implement secara
berkesinambungan.
1.2 Rumusan Masalah
A. Mengapa PT Bantoel International memilih sistem BOE 1 dengan berbasis
penerapan ERP (jawaban hal 16)
B. Apa dampak dari penerapan ERP pada aplikasi sistem BOE 1 ini (jawaban
22).
1.3 Batasan Masalah
A. Implementasi konsep ERP pada aplikasi sistem BOE 1 hanya pada
cangkupan yang terintegrasi pada departement lain tidak dengan suplier
lain (Back Office).
B. Untuk penerapan industri ini menggunakan ERP Proven Path.
C. Pembahasan ini dilakukan pada proses manufaktur rokok Bantoel Prima
1.4 Tujuan Penelitian
A. Untuk mengelolah data penanggulangan terhadap sistem softwere
development PT Batoel Prima.
B. Membantu pihak user dalam hal peningkatan efektivitas kerja terhadap
departement lain dalam mengelolah data yang saling terintegrasi.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem Informasi Manajemen
Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe (1999) Sistem informasi adalah
sebuah sistem informasi yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses,
menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang
spesifik.
Menurut Bodnar dan HopWood (1993) Sistem informasi adalah kumpulan
perangkat keras dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke
dalam bentuk informasi yang berguna.
Menurut Alter (1992) Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur
kerja,informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk
mencapai tujuan dalam sebuah perusahaan.
Menurut Ferdinand Magaline, suatu sistem pada dasarnya adalah
sekolompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi
bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.Secara sederhana, suatu sistem
dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen,
atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama
lain, dan terpadu. Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem
secara umum, yaitu:
a. Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur
b. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan.
c. Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem.
d. Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar.
Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan
data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya
yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk
pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan
atau diolah atau diinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengabilan
keputusan.
Sistem informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang
mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi
operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu
organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi
yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. Sistem informasi dalam suatu
organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi
semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini
menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan
informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan
sistem lainnya.
Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan
data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya
yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk
pengambilan keputusan.
Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Sistem
Informasi Manajemen adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan
informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen
dalam suatu organisasi.
Atau bisa dijabarkan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah
serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara
rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi
lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya
dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan.
2.2 Enterprise Resource Planning (ERP)
A. Defenisi ERP dan Implementasi ERP
Pengertian ERP atau Enterprise Resources Planning, memiliki banyak versi.
Berikut ini merupakan beberapa pengertian tentang Enterprise Resources
Planning. Diantaranya :
1. ERP adalah suatu proses perencanaan bisnis terintegrasi beserta
eksekusinya guna mencapai fungsi-fungsi dari proses bisnis itu. ERP
mengelola operasi dan fungsifungsi pendukung dari industri manufaktur
dengan harus memperhatikan sumber - sumber daya kritis dari perusahaan.
2. ERP adalah suatu tulang punggung lintas fungsi perusahaan yang
mengintegrasikan dan mengotomatisasikan banyak proses interal dan
sistem informasi dalam hal fungsi produksi, logistik, distribusi, akutansi,
keuangan dan sumber daya manusia pada perusahaan.( O‟Brien, 2006).
3. ERP adalah sebuah konsep untuk merencanakan dan mengelola sumber
daya perusahaan meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu,
material dan kapasitas yang berpengaruh luas mulai dari manajemen
paling atas hingga operasional di sebuah perusahaan agar dapat
dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan nilai tambah bagi
seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) atas perusahaan tersebut.
4. ERP adalah tulang punggung teknologi dari e-bisnis, sebuah kerangka
kerja transaksi keseluruhan perusahaan dengan berbagai hubungan
pemrosesan pesanan penjualan, manajemen dan pengendalian persediaan,
perencanaan produksi dan distribusi serta keuangan.
Enterprise Resources Planning (ERP) adalah sebuah sistem yang membantu untuk
mengatur proses bisnis dalam suatu kesatuan yang terintegrasi seperti marketting,
produksi, pembelian dan accounting dan menyimpan semua transaksi dalam suatu
database yang digunakan perusahaan serta menyediakan manajemen reporting
tools.(Brady, Monk dan Wagner 2001).
B. Konsep Dasar ERP
1. Perencanaan sumber daya perusahaan, atau sering disingkat ERP dari
istilah bahasa Inggrisnya, enterprise resource planning, adalah sistem
informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa
yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang
berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di
perusahaan bersangkutan.
2. ERP sering disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan
bahwa pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem
ini. Berbeda dengan Front Office System yang langsung berurusan dengan
pelanggan seperti sistem untuk e-Commerce, Customer Relationship
Management (CRM), e-Government dan lain-lain.
Gambar 1. Konsep Dasar ERP
Sistem ERP adalah solusi bisnis yang terintegrasi bagi perusahaan untuk
mencapai sasaran bersaing yang kuat dengan kompetitor. Sistem ERP
memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi bisnis ke dalam
proses bisnis yang unified dan terintegrasi. Bagi perusahaan yang
mengimplementasikan sistem ERP, masalah yang sulit dan besar dihadapi adalah
mengintegrasikan sistem yang terpisah-pisah diperusahaan, berpindah area
fungsional yang terpisah menjadi sebuah sistem komputer yang dapat melayani
kebutuhan antar departemen yang berbeda (Ethie dan Madsen, (2005) dalam
Amaranti (2006).
Sayangnya, kebanyakan implementasi sistem ERP tidak dapat memenuhi
harapan. Banyak perusahaan yang telah mengeluarkan biaya besar untuk
implementasi sistem ERP akan tetapi tidak berhasil memperoleh manfaat dan
keuntungan dari implementasi sistem ERP tersebut. Kegagalan dalam
implementasi sistem ERP pada dasarnya bukan terletak pada kesalahan instalasi
software tapi sebagianbesar disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan
perusahaan untuk menentukan sistem yang tepat untuk menyelesaikan masalah
bisnis dan kebutuhan yang sebenarnya (Brynjolfsson, et.al, 1993 dalam Amaranti
(2006)). Hal lain yang menyebabkan tidak diperolehnya manfaat dan keuntungan
darisistem ERP adalah adanya keengganan dan penolakan dari user dan
ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk menentukan perubahan pada
desain dan struktur organisasi sesuai dengan manfaat teknologi yang dipilih (Ethie
dan Madsen, 2005 dalam Amaranti, 2006).
Penggunaan sistem ERP adalah keharusan bagi user atau sering disebut
sebagai penggunaan yang bersifat mandatory. Keengganan atau penolakan user
untuk mengadopsi atau menggunakan sistem baru (sistem ERP) adalah salah satu
alasan kegagalan implementasi yang harus diperhatikan perusahaan (Barker &
Frolick, 2003; Krasner, 2000; Scott & Vessey, 2002; Umble & Umble, 2002;
Wah, 2000 dalam Nah et al, (2004)). Kurangnya penerimaan User tersebut dapat
menyebabkan user hanya sekedar terpaksa menggunakan dan tanpa diimbangi
dengan penggunaan yang handal pada sistem ERP. Selain itu juga dapat
menyebabkan masalah ketidakpuasan bagi user terhadap sistem ERP.
Beberapa literatur review yang mengkaji penerimaan user pada sistem
implementasi sistem ERP adalah sedikit dan belum ada yang memasukkan
pengaruh variabel yang berkaitan dengan konteks individu dan organisasi untuk
mengkaji penerimaan end-user pada sistem ERP.
C. ERP Critical Success Factor dan terhadap Implementasi ERP
Critical Success Factor (CSF) merupakan suatu parameter pengukuran
dalam mengukurkinerja dari suatu fungsi ERP dalam perusahaan. Asumsi yang
dipergunakan adalah bahwa fungsi ERP yang dikembangkan oleh perusahaan
secara otodidak sendiri tanpamelibatkan konsultan ataupun pihak ketiga tetap
dianggap sebagai aplikasi ERP.Berdasarkan metode CSF (Cri tical Success
Factor), faktor-faktor kesuksesan dalam ERP dibagi menjadi 5 kelompok yaitu:
1. Management/organisasi;meliputi komitmen, edukasi , keterlibatan,
pemilihan tim, pelatihan, serta peran dan tanggung jawab.
2. Proses; meliputi ; alignment , dokumentasi, integrasi, dan re-desain proses.
3. Teknologi; meliputi : hardware, software, manajemen sistem, dan
interface.
4. Data; meliputi ;file utama, file transaksi, struktur data, dan maintenance
dan integrasi data.
5. Personel; meliputi ; edukasi, pelatihan, pengembangan skill, dan
pengembangan pengetahuan.
Turbit (2005) menyatakan bahwa kunci kesuksesan dalam implementasi ERP
adalah :
1. Manajemen perubahan yang baik. Manajemen perubahan sangat
diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada user yang akan
bersentuhan langsung dengan sistem yang baru. Secara praktek, untuk
mengelola perubahan-perubahan tersebut perusahaan dapat mengadopsi
beberapa metode yang ada diantaranya Change Acceleration Project
(CAP) atau model yang diusulkan oleh Aladwani (2001). Dari penjelasan
pada sub bab implementasi ERP dapat dilihat bahwa perusahaan tersebut
telah mengelola perubahan - perubahan dengan cukup baik, terbukti
dengan dilakukannya aktivitas berikut :
2. Mengelola perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat implementasi
dengan mengadopsi CAP.
3. Melakukan pendekatan-pendekatan kepada departemen yang akan
diimplementasi untuk mendapatkan komitmen. Komitmen ini sangat
penting untuk meyakinkan bahwa mereka akan menggunakan dan
mendukung sistem ERP. Disamping itu pendekatan kepada departemen
dilakukan untuk mengatasi kendala politis yang diakibatkan ketakutan
akan kehilangan pekerjaan, keraguan akan manfaat dari implementasi
sistem tersebut dan sebagainya.
D. Faktor – Faktor Penyebab Kegagalan Dalam Implementasi ERP
Beberapa penyebab kegagalan implementasi ERP adalah :
1. Manajemen perubahan dan training. Kesulitan terletak pada perubahan
praktek pekerjaan yang dilakukan. Training yang melibatkan banyak
modul harus dilaksanakan seawal mungkin.
2. To BPR* or not to BPR. Perusahaan harus memilih antara merubah bisnis
proses untuk menyesuaikan sistem atau sebaliknya, dengan implikasi
berupa biaya dan waktu untuk merubah sistem. (* Business Process
Reengineering)
3. Perencanaan yang buruk. Perencanaan harus mencakup beberapa area
seperti hal-hal bisnis dan ketersediaan user untuk membuat keputusan
pada konfigurasi sistem.
4. Meremehkan keahlian IT. Implementasi ERP membutuhkan keahlian staff
ditingkatkan dengan baik.
5. Manajemen proyek yang buruk. Hanya sedikit organisasi yang
mengimplementasi ERP tanpa melibatkan konsultan. Namun sering kali
konsultan melakukan perbuatan yang merugikan kliennya dengan tidak
membagi tanggung jawab.
6. Percobaan-percobaan teknologi. Usaha-usaha untuk membangun interface,
merubah laporan-laporan, menyesuaikan software dan merubah data
biasanya diremehkan.
7. Rendahnya keterlibatan Eksekutif. Implementasi membutuhkan
keterlibatan eksekutif senior untuk memastikan adaya partisipasi yang
terdiri dari bisnis dan IT dan membantu penyelesaian konflik-konflik.
8. Meremehkan sumber daya. Sebagian besar budget melebihi target
terutama untuk manajemen perubahan dan training user, pengujian
integrasi, proses-proses pengerjaan ulang, kustomisasi laporan dan biaya
konsultan.
9. Evaluasi software yang tidak mencukupi.Organisasi biasanya tidak cukup
memahami apa dan bagaimana software ERP bekerja sampai mereka
sepakat untuk membeli. Untuk mengatasi tersebut ada dua cara yang
disarankan oleh Turbit (2005) yaitu melakukan perubahan budaya dan
manajemen perubahan yang baik
10. Beberapa perubahan budaya yang harus dilakukan organisasi diantaranya :
a. Karyawan / user harus merubah fokus dari pekerjaan milik saya menjadi
pekerjaan keseluruhan organisasi.
b. Perubahan budaya biasanya memerlukan waktu beberapa waktu.
c. Perubahan dari sistem lama yang mempunyai fleksibilitas tinggi (misal
dalam pengambilan keputusan) dan tidak menaruh perhatian pada
konsistensi menjadi sistem baru yang menaruh perhatian pada konsistensi.

Bab i & ii

  • 1.
    PENERAPAN KONSEP ENTERPRISERESOURCE PLANNING (ERP) PADA APLIKASI BE ONE ENTERPRISE (BOE/B-1) (STUDI KASUS : PT BENTOEL PRIMA) DISUSUN OLEH : ROFDIYAN : 30811003 BENHIL MAKBULLAH : 30811 ANDE PRASTOWO : 30811 SUSI : 30811 ELY :30811 .....? ....? PROGRAM STUDI SISTEM INFORMASI (SI) SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN TEKNIK KOMPUTER INDONESIA JAKARTA 2014
  • 2.
    KATA PENGANTAR Assalamualaikum Puji dansyukur kehadirat Allah SWT, karena hanya dengan Ridha-Nya penulis bisa menyelesaikan tugas kelompok dengan berjudul PENERAPAN KONSEP ENTERPRISE RESOURCE PLANNING (ERP) PADA APLIKASI BE ONE ENTERPRISE (BOE/B-1)(STUDI KASUS : PT BENTOEL PRIMA). Dengan semua kemampuan yang ada, kami terus berusaha semaksimal mungkin untuk menyajikan karya ilmiah ini dalam bentuk sebaik- baiknya, namun peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam hasil laporan studi kasus ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik guna kesempurnaan hasil laporan karya ilmiah yang penulis buat ini. Dengan mengucapkan Alhamdullilah semoga hasil penulisan dan penelitian ini bermanfaat dan bisa diterima oleh pembaca. Wassalamualaikum Wr.Wb. Jakarta, 2014
  • 3.
    DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL KATAPENGANTAR DAFTAR ISI
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Konsep ERP adalah sebuah sistem yang mengintegrasikan proses setiap line dalam manajemen perusahaan secara transparasi dan memiliki akuntabilitas yang cukup tinggi.Untuk memasuki pasar internasional, ERP merupakan salah satu yang menjadi pra-syarat dasar bagi perusahaan. Indonesia merupakan negara yang sedang berkembang, dimanabasis perekonomiannya bertumpu di bidang bisnis, makaefisiensi menjadi salah satu faktor yang cukup penting dalam setiap perusahaan. Pada kenyataannya, masih didapati banyak perusahaan berskala besar yang masih kurang efisien contohnya saja dalam penerapan ERP yang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi perusahaan. Jika dilihat dari kondisi perusahaan-perusahaan di Indonesia, banyak perusahaan besar yang belum cukup optimal dalam mengintegrasikansetiap proses dalam perusahaan tersebut ke dalam suatu sistem komputerisasi. Terlebih lagi pada perusahaan - perusahaan yang lebih kecil, pengimplementasian ERP terasa sulit untuk diaplikasikan bahkan pemikiran untuk menerapkan sistem yang terintegrasi tersebut seolah-olah masih menjadi suatu hal yang baru. Oleh karena i tu, dalam paper ini akan dilakukan observasi untuk menganalisadan mengevaluasi mengenai penerapan ERP di perusahaan-perusahaan yang saat ini telah menggunakan sistem ERP dalam perusahaannya. Dari paper ini diharapkan dapat memberi gambaran dan masukan bagi perusahaan-perusahaan yang belum menerapkan ERP untuk mengenal sistem yang terintegrasi dan keuntungan yang diperoleh dalampengimplementasian ERP. Selain itu dari paper ini diharapkan dapat memberi evaluasi yang cukup berguna bagi perusahaan yang telah mengimplementasikan ERP serta memberikan informasi yang cukup penting mengenai pengaruh ERP terhadap efisiensi dalam sistem di perusahaan. Pada suatu organisasi yang kompleks dengan banyak departemen yang menjalankan fungsi dan objekttif masing-masing, kerap kali terjadi bias
  • 5.
    informasi.persepsi danpengambilan keputusanantara satu unit departemen dengan unit yang lain.ERP merupakan sebuah konsep, teknik, ataupun metode guna mengintegrasikan seluruhdepartemen dan fungsi suatu perusahaan ke dalam suatu sistem automasi keseluruhan proses bisnis guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi perusahaan. Manfaat dari ERP ini adalah integrasi bisnis secara keseluruhan, fleksibilitias dalam organisasi untuk bertransfomasi dan meningkatkan turn-overnya, menciptakan analisa dan peningkatankapabilitas yang lebih baik, serta penggunaan teknologi terbaru. Pada ERP sendiri terjadi perubahan paradigma dari sistem konvensional yang serba terisolasi ke arah penggunaan informasi teknologi yang lebih terintegrasi menghasilkan aliran informasi yang lebih lancar pada level organisasional maupun departemental. Untuk melakukan implementasi ERP yang sukses, ERP sebenarnya bertujuan menyatukan semua department/divisi dan seluruh fungsi dalam perusahaan anda menjadi sebuah perusahaan yang mampu dipantau melalui sistem terkomputerisasi dan terlayani dengan sebuah sistem yang meminimalkan biaya dengan efisiensi proses yang terkomputerisasi. Sebuah implementasi ERP, meskipun pada ideal-nya akan membantu dalam mendapatkan informasi planning/perencanaan dan fungsi advance (lanjut) yang dapat mempridiksi apapun, tentunya-memiliki syarat untuk sampai pada titik ideal tersebut. Ketika melakukan implementasi penting untuk mengerti bahwa akan ada efek baik yang positif maupun kurang menyenangkan bagi pengguna dan perusahaan, sehingga yang terbaik yang bisa dilakukan adalah merancang implementasi sebaik mungkin untuk mengurangi side effect yang kurang menguntungkan. Adalah penting untuk mengerti bahwa masing-masing perusahaan memiliki keunikan dalam melakukan implementasi ERP, namun hal terbaik yang bisa dilakukan adalah impelementasi secara bertahap berdasarkan kebutuhan dasar dan kemampuan perusahaan, termasuk budget dan kemampuan SDM, atau jika perusahaan benarbenar mempertimbangkan merombak keseluruhan proses bisnis, maka cara „big bang’ atau full modul implement secara berkesinambungan. 1.2 Rumusan Masalah
  • 6.
    A. Mengapa PTBantoel International memilih sistem BOE 1 dengan berbasis penerapan ERP (jawaban hal 16) B. Apa dampak dari penerapan ERP pada aplikasi sistem BOE 1 ini (jawaban 22). 1.3 Batasan Masalah A. Implementasi konsep ERP pada aplikasi sistem BOE 1 hanya pada cangkupan yang terintegrasi pada departement lain tidak dengan suplier lain (Back Office). B. Untuk penerapan industri ini menggunakan ERP Proven Path. C. Pembahasan ini dilakukan pada proses manufaktur rokok Bantoel Prima 1.4 Tujuan Penelitian A. Untuk mengelolah data penanggulangan terhadap sistem softwere development PT Batoel Prima. B. Membantu pihak user dalam hal peningkatan efektivitas kerja terhadap departement lain dalam mengelolah data yang saling terintegrasi.
  • 7.
    BAB II LANDASAN TEORI 2.1Sistem Informasi Manajemen Menurut Turban, McLean, dan Wetherbe (1999) Sistem informasi adalah sebuah sistem informasi yang mempunyai fungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan, menganalisis, dan menyebarkan informasi untuk tujuan yang spesifik. Menurut Bodnar dan HopWood (1993) Sistem informasi adalah kumpulan perangkat keras dan lunak yang dirancang untuk mentransformasikan data ke dalam bentuk informasi yang berguna. Menurut Alter (1992) Sistem informasi adalah kombinasi antara prosedur kerja,informasi, orang, dan teknologi informasi yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan dalam sebuah perusahaan. Menurut Ferdinand Magaline, suatu sistem pada dasarnya adalah sekolompok unsur yang erat hubungannya satu dengan yang lain, yang berfungsi bersama-sama untuk mencapai tujuan tertentu.Secara sederhana, suatu sistem dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen, atau variabel yang terorganisir, saling berinteraksi, saling tergantung satu sama lain, dan terpadu. Dari defenisi ini dapat dirinci lebih lanjut pengertian sistem secara umum, yaitu: a. Setiap sistem terdiri dari unsur-unsur b. Unsur-unsur tersebut merupakan bagian terpadu sistem yang bersangkutan. c. Unsur sistem tersebut bekerja sama untuk mencapai tujuan sistem. d. Suatu sistem merupakan bagian dari sistem lain yang lebih besar. Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Informasi merupakan data yang telah diklasifikasikan
  • 8.
    atau diolah ataudiinterpretasi untuk digunakan dalam proses pengabilan keputusan. Sistem informasi adalah suatu sistem dalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian yang mendukung fungsi operasi organisasi yang bersifat manajerial dengan kegiatan strategi dari suatu organisasi untuk dapat menyediakan kepada pihak luar tertentu dengan informasi yang diperlukan untuk pengambilan keputusan. Sistem informasi dalam suatu organisasi dapat dikatakan sebagai suatu sistem yang menyediakan informasi bagi semua tingkatan dalam organisasi tersebut kapan saja diperlukan. Sistem ini menyimpan, mengambil, mengubah, mengolah dan mengkomunikasikan informasi yang diterima dengan menggunakan sistem informasi atau peralatan sistem lainnya. Secara umum informasi dapat didefinisikan sebagai hasil dari pengolahan data dalam suatu bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian yang nyata yang digunakan untuk pengambilan keputusan. Dari definisi-definisi di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi guna mendukung pengambilan keputusan pada kegiatan manajemen dalam suatu organisasi. Atau bisa dijabarkan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah serangkaian sub sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan. 2.2 Enterprise Resource Planning (ERP) A. Defenisi ERP dan Implementasi ERP Pengertian ERP atau Enterprise Resources Planning, memiliki banyak versi. Berikut ini merupakan beberapa pengertian tentang Enterprise Resources Planning. Diantaranya :
  • 9.
    1. ERP adalahsuatu proses perencanaan bisnis terintegrasi beserta eksekusinya guna mencapai fungsi-fungsi dari proses bisnis itu. ERP mengelola operasi dan fungsifungsi pendukung dari industri manufaktur dengan harus memperhatikan sumber - sumber daya kritis dari perusahaan. 2. ERP adalah suatu tulang punggung lintas fungsi perusahaan yang mengintegrasikan dan mengotomatisasikan banyak proses interal dan sistem informasi dalam hal fungsi produksi, logistik, distribusi, akutansi, keuangan dan sumber daya manusia pada perusahaan.( O‟Brien, 2006). 3. ERP adalah sebuah konsep untuk merencanakan dan mengelola sumber daya perusahaan meliputi dana, manusia, mesin, suku cadang, waktu, material dan kapasitas yang berpengaruh luas mulai dari manajemen paling atas hingga operasional di sebuah perusahaan agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan nilai tambah bagi seluruh pihak yang berkepentingan (stake holder) atas perusahaan tersebut. 4. ERP adalah tulang punggung teknologi dari e-bisnis, sebuah kerangka kerja transaksi keseluruhan perusahaan dengan berbagai hubungan pemrosesan pesanan penjualan, manajemen dan pengendalian persediaan, perencanaan produksi dan distribusi serta keuangan. Enterprise Resources Planning (ERP) adalah sebuah sistem yang membantu untuk mengatur proses bisnis dalam suatu kesatuan yang terintegrasi seperti marketting, produksi, pembelian dan accounting dan menyimpan semua transaksi dalam suatu database yang digunakan perusahaan serta menyediakan manajemen reporting tools.(Brady, Monk dan Wagner 2001). B. Konsep Dasar ERP 1. Perencanaan sumber daya perusahaan, atau sering disingkat ERP dari istilah bahasa Inggrisnya, enterprise resource planning, adalah sistem informasi yang diperuntukkan bagi perusahan manufaktur maupun jasa yang berperan mengintegrasikan dan mengotomasikan proses bisnis yang
  • 10.
    berhubungan dengan aspekoperasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. 2. ERP sering disebut sebagai Back Office System yang mengindikasikan bahwa pelanggan dan publik secara umum tidak dilibatkan dalam sistem ini. Berbeda dengan Front Office System yang langsung berurusan dengan pelanggan seperti sistem untuk e-Commerce, Customer Relationship Management (CRM), e-Government dan lain-lain. Gambar 1. Konsep Dasar ERP Sistem ERP adalah solusi bisnis yang terintegrasi bagi perusahaan untuk mencapai sasaran bersaing yang kuat dengan kompetitor. Sistem ERP memungkinkan perusahaan untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi bisnis ke dalam proses bisnis yang unified dan terintegrasi. Bagi perusahaan yang mengimplementasikan sistem ERP, masalah yang sulit dan besar dihadapi adalah mengintegrasikan sistem yang terpisah-pisah diperusahaan, berpindah area fungsional yang terpisah menjadi sebuah sistem komputer yang dapat melayani kebutuhan antar departemen yang berbeda (Ethie dan Madsen, (2005) dalam Amaranti (2006). Sayangnya, kebanyakan implementasi sistem ERP tidak dapat memenuhi harapan. Banyak perusahaan yang telah mengeluarkan biaya besar untuk
  • 11.
    implementasi sistem ERPakan tetapi tidak berhasil memperoleh manfaat dan keuntungan dari implementasi sistem ERP tersebut. Kegagalan dalam implementasi sistem ERP pada dasarnya bukan terletak pada kesalahan instalasi software tapi sebagianbesar disebabkan oleh kesalahan yang dilakukan perusahaan untuk menentukan sistem yang tepat untuk menyelesaikan masalah bisnis dan kebutuhan yang sebenarnya (Brynjolfsson, et.al, 1993 dalam Amaranti (2006)). Hal lain yang menyebabkan tidak diperolehnya manfaat dan keuntungan darisistem ERP adalah adanya keengganan dan penolakan dari user dan ketidakmampuan perusahaan-perusahaan untuk menentukan perubahan pada desain dan struktur organisasi sesuai dengan manfaat teknologi yang dipilih (Ethie dan Madsen, 2005 dalam Amaranti, 2006). Penggunaan sistem ERP adalah keharusan bagi user atau sering disebut sebagai penggunaan yang bersifat mandatory. Keengganan atau penolakan user untuk mengadopsi atau menggunakan sistem baru (sistem ERP) adalah salah satu alasan kegagalan implementasi yang harus diperhatikan perusahaan (Barker & Frolick, 2003; Krasner, 2000; Scott & Vessey, 2002; Umble & Umble, 2002; Wah, 2000 dalam Nah et al, (2004)). Kurangnya penerimaan User tersebut dapat menyebabkan user hanya sekedar terpaksa menggunakan dan tanpa diimbangi dengan penggunaan yang handal pada sistem ERP. Selain itu juga dapat menyebabkan masalah ketidakpuasan bagi user terhadap sistem ERP. Beberapa literatur review yang mengkaji penerimaan user pada sistem implementasi sistem ERP adalah sedikit dan belum ada yang memasukkan pengaruh variabel yang berkaitan dengan konteks individu dan organisasi untuk mengkaji penerimaan end-user pada sistem ERP. C. ERP Critical Success Factor dan terhadap Implementasi ERP Critical Success Factor (CSF) merupakan suatu parameter pengukuran dalam mengukurkinerja dari suatu fungsi ERP dalam perusahaan. Asumsi yang dipergunakan adalah bahwa fungsi ERP yang dikembangkan oleh perusahaan secara otodidak sendiri tanpamelibatkan konsultan ataupun pihak ketiga tetap
  • 12.
    dianggap sebagai aplikasiERP.Berdasarkan metode CSF (Cri tical Success Factor), faktor-faktor kesuksesan dalam ERP dibagi menjadi 5 kelompok yaitu: 1. Management/organisasi;meliputi komitmen, edukasi , keterlibatan, pemilihan tim, pelatihan, serta peran dan tanggung jawab. 2. Proses; meliputi ; alignment , dokumentasi, integrasi, dan re-desain proses. 3. Teknologi; meliputi : hardware, software, manajemen sistem, dan interface. 4. Data; meliputi ;file utama, file transaksi, struktur data, dan maintenance dan integrasi data. 5. Personel; meliputi ; edukasi, pelatihan, pengembangan skill, dan pengembangan pengetahuan. Turbit (2005) menyatakan bahwa kunci kesuksesan dalam implementasi ERP adalah : 1. Manajemen perubahan yang baik. Manajemen perubahan sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada user yang akan bersentuhan langsung dengan sistem yang baru. Secara praktek, untuk mengelola perubahan-perubahan tersebut perusahaan dapat mengadopsi beberapa metode yang ada diantaranya Change Acceleration Project (CAP) atau model yang diusulkan oleh Aladwani (2001). Dari penjelasan pada sub bab implementasi ERP dapat dilihat bahwa perusahaan tersebut telah mengelola perubahan - perubahan dengan cukup baik, terbukti dengan dilakukannya aktivitas berikut : 2. Mengelola perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat implementasi dengan mengadopsi CAP. 3. Melakukan pendekatan-pendekatan kepada departemen yang akan diimplementasi untuk mendapatkan komitmen. Komitmen ini sangat penting untuk meyakinkan bahwa mereka akan menggunakan dan mendukung sistem ERP. Disamping itu pendekatan kepada departemen dilakukan untuk mengatasi kendala politis yang diakibatkan ketakutan
  • 13.
    akan kehilangan pekerjaan,keraguan akan manfaat dari implementasi sistem tersebut dan sebagainya. D. Faktor – Faktor Penyebab Kegagalan Dalam Implementasi ERP Beberapa penyebab kegagalan implementasi ERP adalah : 1. Manajemen perubahan dan training. Kesulitan terletak pada perubahan praktek pekerjaan yang dilakukan. Training yang melibatkan banyak modul harus dilaksanakan seawal mungkin. 2. To BPR* or not to BPR. Perusahaan harus memilih antara merubah bisnis proses untuk menyesuaikan sistem atau sebaliknya, dengan implikasi berupa biaya dan waktu untuk merubah sistem. (* Business Process Reengineering) 3. Perencanaan yang buruk. Perencanaan harus mencakup beberapa area seperti hal-hal bisnis dan ketersediaan user untuk membuat keputusan pada konfigurasi sistem. 4. Meremehkan keahlian IT. Implementasi ERP membutuhkan keahlian staff ditingkatkan dengan baik. 5. Manajemen proyek yang buruk. Hanya sedikit organisasi yang mengimplementasi ERP tanpa melibatkan konsultan. Namun sering kali konsultan melakukan perbuatan yang merugikan kliennya dengan tidak membagi tanggung jawab. 6. Percobaan-percobaan teknologi. Usaha-usaha untuk membangun interface, merubah laporan-laporan, menyesuaikan software dan merubah data biasanya diremehkan. 7. Rendahnya keterlibatan Eksekutif. Implementasi membutuhkan keterlibatan eksekutif senior untuk memastikan adaya partisipasi yang terdiri dari bisnis dan IT dan membantu penyelesaian konflik-konflik. 8. Meremehkan sumber daya. Sebagian besar budget melebihi target terutama untuk manajemen perubahan dan training user, pengujian integrasi, proses-proses pengerjaan ulang, kustomisasi laporan dan biaya konsultan.
  • 14.
    9. Evaluasi softwareyang tidak mencukupi.Organisasi biasanya tidak cukup memahami apa dan bagaimana software ERP bekerja sampai mereka sepakat untuk membeli. Untuk mengatasi tersebut ada dua cara yang disarankan oleh Turbit (2005) yaitu melakukan perubahan budaya dan manajemen perubahan yang baik 10. Beberapa perubahan budaya yang harus dilakukan organisasi diantaranya : a. Karyawan / user harus merubah fokus dari pekerjaan milik saya menjadi pekerjaan keseluruhan organisasi. b. Perubahan budaya biasanya memerlukan waktu beberapa waktu. c. Perubahan dari sistem lama yang mempunyai fleksibilitas tinggi (misal dalam pengambilan keputusan) dan tidak menaruh perhatian pada konsistensi menjadi sistem baru yang menaruh perhatian pada konsistensi.