LAPORAN PENDAHULUAN
ASMA
A. PENGERTIAN
Asma merupakan penurunan fungsi paru dan hiperresposivitas jalan nafas
terhadap berbagai rangsangan (stimulus).
Karakteristik penyakit merupakan bronkosphasme, hipeasekresi mukosa dan
perubahan inflamasi pada jalan nafas. (Campbel, Haggerety, 1990)
Status asmatikus mengacu pada kasus asma yang berat yang tidak
berespon pada tindakan konversional ini merupakan situasi yang mengancam
kehidupan dan memerlukan tindakan segera.
B. PATOFISIOLOGI
Alergen masuk kedalam tubuh, kemudian alergen ini akan merangsang
sel B untuk menghasilkan Sel Anti Alergen, karena terjadi penyimpangan dalam
sistem pertahanan tubuh, maka terbentuklah Ig. E. pada penderita alergi sangat
mudah memperoduksi Ig. E dan selain beredar didalam darah juga akan
menempel pada basofit dan metosit.
Bila suatu saat penderita berhubungan dengan allergen lagi, maka alergen
akan berikatan dengan Ig. E yang menempel pada matosit, dan selanjutnya sel ini
mengeluarkan zat kimia yang disebut mediator kejaringan sekitarnya. Mediator
yang dilepas di sekitar daerah hidung akan menyebabkan bersin-bersin dan pilek.
Sedangkan mediator yang dilepas pada saluran pernafasan akan menyebabkan
saluran nafas menkerut, produksi lendir meningkat, selaput lendir saluran
pernafasan membengkak dan sel-sel peradangan berkumpul disekitar saluran
nafas, komponen-komponen itu menyebabkan penyempitan saluran pernafasan.
C. FAKTOR PENCETUS
Alergen
Infeksi saluran
nafas
Obat-obatan
Lingkungan dan
lain-lain
Salurann nafas
normal
Kepekaan saluran
nafas yang
berlebihan
Tidak terjadi asma
Terjadi asma
D. ETIOLOGI
Dua tipe dasar immonologik dan immonulogik, asma alergik (extrensik)
yang terjadi pada saat anak-anak terjadi karena kontak dengan elergen dengan
penderita yang sensitif.
Asma non immonologik dan non alergik (intrunsik), biasanya terjadi pada
usia 3 tahun keatas, serangan dicetuskan oleh infeksi pada sinus atau cabang
Bronchial.
Asma campuran yang serangannya diawali oleh infeksi virus, bakteri atau
alergen, pada saat lain serangan dicetuskan oleh faktor yang berbeda juga dapat
dicetuskan oleh perubahan suhu dan kelemahan, uap, mengiritasi, asap, bau-
bauan dan lain-lain.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Test fungsi paru (spirometer)
• Foto thorak
• Pemeriksaaan darah (DL, BGA)
• Skin test
• Test Provakasi Bronchial
F. MANIFESTASI KELINIS
Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat
hiparaktivitas bronchus. Obstruksi jalan nafas dapat reversible secara spontan
maupun dengan pengobatan.
Gejala asma antara lain :
a. Wheizing
b. Bentuk produktif, biasanya malam hari.
c. Sesak nafas
d. Dada seperti tertekan / terikat.
e. Pernafasan cuping hidung.
G. TERAPI
• Oksigen 4 – 6 liter/menit.
• Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau Feneterol 2,5 mg)
Intansi mebulasi dan pemberian dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam.
Pemberian agonis B2 dapat secara subcutan atau IV dengan dosis salbutamol
0,25 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam berutan dextrose 5% dan diberikan
perubahan.
• Aminophilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini
dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.
• Kortikosteroid hidrokortison 100 – 200mg IV jika tidak ada respon segera tau
pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
 Pengkajian Data Dasar
1) Riwayat pemajanan pada faktor-faktor yang biasanya mencetuskan serangan
Asma
• Stress emosi
• Infeksi saluran nafas atas
• Alergen
• Kegagalan dalam mengobatan asma
2) Pemeriksaan fisik yang didasarkan pada suatu pengkajian
• Sistem pernafasan
Mengi (wheizing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoscope
Sesak bernafas
Orthopnea
Penggunaan otot – otot asesori pernafasan (cuping hidung, retreksi
strum, pengangkatan bahu sewaktu bernafas)
• Sistem hemodinamik
Dehidrasi
Sianosis
Takikardi
• Sistem urinarie
Produksi urin
Frekuensi BAK
• Sistem kardiovaskuler.
Hard rate
Irama
• Psikososial
Gelisah
Ketakutan
kecemasan
3) Pemeriksaan laboratorium
GDA menyatakan Hipokepneua (Pa CO2 < 35 mmHg) di sebabkan
menurunnya perfusi ventilasi, selanjutnya Pa CO2 meningkat diatas
normal sesuai dengan meningkatnya tahanan jalanan nafas.
Jumlah sel darah menunjukkan peningkatan eosinofil
Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan penurunan kekuatan kapasitas
vital.
Pemgumpulan sputum untuk pemeriksaan kultur dan test sensivitas untuk
menentukan infeksi dan mengidentifikasi antimikroba yang cocok dalam
mengobati infeksi yang terjadi.
Sinar x perlu memperlihatkan disfensi alveoli.
4) Pada episode akut
Masalah kolaboratif
Potensial komplikasi → * Hipoksemia
* Gagal nafas akut
5) Diagnosa keperawatan
Gangguan pemenuhan oksigen berhubungan dengan Asma kronik.
Infektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
mocus, sekresi kental dan bronkosposme
Resiko tinggi terhadap infektif pola pernafasan berhubungan dengan
peningkatan kerja pernafasan, hipoksemia, agitasi dan ancaman gagal
nafas.
6) Intervensi dan relevansi
a) Pantau
• Status pernafasan setiap 4 jam.
• Hasil BGA.
• Nadi okasimetri.
• Hasil sinar X dada, fungsi paru dan analisa sputum
• Intake dan output.
Rasional : Untuk mengidentifikasi kearah kemajuan / penyimpangan dari
hasil pasien.
b) Tempatkan posisi pasien pada fowler
Rasional : Posisi tegak menunjukkan ekspansi paru lebih baik.
c) Berikan O2 melalui karulanasol 4 lit/menit
Rasional : Pemberian oksigen mengurangi kerja otot pernafasan.
d) Pemberian IV therapy sesuai anjuran, lakukan perawatan infus.
Rasional : Untuk menunjukkan rehidrasi yang cepat dapat mengkaji
keadaan vaskuler untuk pemberian obat-obatan darurat.
Kebanyakan Px mengalami dehidrasi ketika mereka meminta
pertolongan medis.
e) Berikan pengobatan yang telah ditentukan, seperti : epineprin,
Terbuthalin, animo philin dan kertikosteroid.
Rasional : Epineprin dan terbutalin menghentikan reaksi alergen dan
dilatasi broncholus dengan meniadakan aktivitas Histamin,
Aminophilin melebarkan bronchulus dengan merangsang
produksi zat kimia yang menghambat penyempitan otot
Bronchial, kortikosteroid mengurangi peradangan lapisan
mukosa bronchial
f) Gunakan spirometez setiap 2 jam.
Rasional : Untuk memudahkan nafas dalam mencegah eteletasis
g) Gunakan penjelasan yang mudah dan sungkat bila memberikan informasi
atau instruksi dan jelaskan tujuan dari semua pengobatan dan
pemeriksaan fisik dan diagnostik.
Rasional : tingkat kecemasan yang tinggi menghambat pembelajaran,
penjelasan tentang apa diharapkan membantu mengontrol cemas.
ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN MASALAH
KEPERAWATAN ASMA
Pengkajian
I) Identitas : Usia :
Nama : Agama :
Jenis kelamin : Pendidikan :
Suku : Alamat :
Pekerjaan :
Tanggal MRS :
Diagnosa :
II) Status kesehatan saat ini
a) Alasan datang ke RS.
b) Keluhan utama MRS
c) Faktor pencetus
d) Lama keluhan
e) Faktor yang mempercepat
III) Riwayat penyakit dahulu
Pernah masuk RS. Dr. Soetomo untuk check up paru, dan RS. Haji selama 3 x
berturut-turut karena sesak nafas (1996, 1998, 2001). Sejak SMP – SMU suka
merokok.
IV) Aspek psikososial
a) Pola motorik / sensori
Normal
b) Persepsi diri
Hal yang diperkirakan saat ini : Takut pada kematian dan pembiayaan
Harapan setelah perawatan : Klien sembuh dan bisa bekerja kembali.
Hubungan dan komunikasi : Hubungan dengan petugas kesehatan agak
acuh dan pola komunikasi terputus karena
sesak.
V) Pemeriksaan Fisik
TD :
RR :
TB :
BB :
S :
N :
• Sistem pernafasan
a) Pernafasan : cuping hidung seperti tercekik.
b) Tampak kesulitan dalam bernafas atau sesak.
c) Pengangkatan bahu sewaktu bernafas
d) Suara nafas wheizing
e) Expensi paru : normal / simetris
f) Batuk + mukus sulit dikeluarkan
• Sistem hemodinamik
a) Sianosis (-)
b) Diaporesis (+)
c) Dehidrasi (-)
d) Nadi : 100 x/mnt (takikardia)
e) Irama : reguler
• Sistem urinarie
a) Produksi urine (+)
b) Frek. BAK 2x (± 400 CC)
• Sistem integumen
a) Kulit : Tampak pucat
b) Kelembaban : Lembab
c) Turgor : Baik
VI) Pemeriksaan penunjang
HB Leukosit
Trombosit DCV
GDA SGOT
Creat Elektrolit : K
N
• Sputum : TTH –
• BGA
PH PCO2
PO2 HCO2
BE SaO2
Et CO2
• Faal Paru
V Kapasity
FVC
FEV. I. O
MBC
VII) Terapi
• Oksigen : 4 liter/mnt
• Inf. NaCl + aminophilin 2 amp 15 tts/mnt dalam 12 jam
• Dexametasol 3x 1 amp IV
• Bricasma 3 x ½ amp SC
• Nebuliser : ventalin + nasal
• Fisioterapi dada
• Bisolvan syrup
VIII) Analisa data
Data Kemungkinan penyebab Masalah
• Obyektif
Sesak nafas, pernafasan
cuping hidung
Pengangkatan bahu
sewaktu bernafas
* Whezing +
* PCO2 : 47,5
* N : 100x/mnt
* RR : 32/mnt
* HCO2 : 28,7
Bronkospasme Gangguan pertukaran
gas
• Subyektif
Merasa sakit bernafas
dan terasa tercekik
IX) Diagnosa keperawatan
a) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkhopasme
b) Inefektir bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi
mulkus, sekresi kental
c) Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan hiperventilasi dan
diaphoresis
X) Intervensi dan rasionalisasi
1) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkhopasme
a) Pemberian suplement oksigen 4 L/mnt
Rasional : mengurangi beban kerja otot-otot pernafasan
b) Penempatan pasien pada posisi fowlers
Rasional : memungkinkan ekspansi paru lebih baik
c) Pemberian obta ingalasi dengan nebilizer (ventalin 2,5 mg)
Rasional : Bronchus menjadi dilatasi karena ventalin bersifat
bronchodilator
d) Pemberian aminophilin dripdan + 3 x 1/2 amp Bricasma SC
Rasional : Aminophilin melebarkan bronchus dengan merangsang
peningkatan produksi zat kimia yang menghambat
penyempitan otot bronchial
XI) Faktor pemulangan
Health education
a) Mengenalkan faktor-faktor pencetus dan mengenalkannya, seperti :
Makanan alergen
Menghindarkan aktivitas fisik yang berlebihan
Menghindari strees emotional
Memakai kasur busa dan lain-lain
DAFTAR PUSTAKA
• Carpeniti J L (1999), “Rencana Asuhan Keperawatan Dan Dokumentasi
Keperawatan” edisi 2
• FKUI (1999), “Kapita Selecta Kedokteran”, Edis II
• Sundaru, Heru (1995), Asma, Apa dan Bagaiman Pengobatannya”, Edisi III
LAPORAN PENDAHULUAN
TENTANG ASMA BRONCHIALE
Oleh :
ACH. FIQQY FIERLY
Nim : 05.113.001
PROGRAM STUDI D III KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN UM SURABAYA
2006

Asma

  • 1.
    LAPORAN PENDAHULUAN ASMA A. PENGERTIAN Asmamerupakan penurunan fungsi paru dan hiperresposivitas jalan nafas terhadap berbagai rangsangan (stimulus). Karakteristik penyakit merupakan bronkosphasme, hipeasekresi mukosa dan perubahan inflamasi pada jalan nafas. (Campbel, Haggerety, 1990) Status asmatikus mengacu pada kasus asma yang berat yang tidak berespon pada tindakan konversional ini merupakan situasi yang mengancam kehidupan dan memerlukan tindakan segera. B. PATOFISIOLOGI Alergen masuk kedalam tubuh, kemudian alergen ini akan merangsang sel B untuk menghasilkan Sel Anti Alergen, karena terjadi penyimpangan dalam sistem pertahanan tubuh, maka terbentuklah Ig. E. pada penderita alergi sangat mudah memperoduksi Ig. E dan selain beredar didalam darah juga akan menempel pada basofit dan metosit. Bila suatu saat penderita berhubungan dengan allergen lagi, maka alergen akan berikatan dengan Ig. E yang menempel pada matosit, dan selanjutnya sel ini mengeluarkan zat kimia yang disebut mediator kejaringan sekitarnya. Mediator yang dilepas di sekitar daerah hidung akan menyebabkan bersin-bersin dan pilek. Sedangkan mediator yang dilepas pada saluran pernafasan akan menyebabkan saluran nafas menkerut, produksi lendir meningkat, selaput lendir saluran pernafasan membengkak dan sel-sel peradangan berkumpul disekitar saluran nafas, komponen-komponen itu menyebabkan penyempitan saluran pernafasan. C. FAKTOR PENCETUS Alergen Infeksi saluran nafas Obat-obatan Lingkungan dan lain-lain Salurann nafas normal Kepekaan saluran nafas yang berlebihan Tidak terjadi asma Terjadi asma
  • 2.
    D. ETIOLOGI Dua tipedasar immonologik dan immonulogik, asma alergik (extrensik) yang terjadi pada saat anak-anak terjadi karena kontak dengan elergen dengan penderita yang sensitif. Asma non immonologik dan non alergik (intrunsik), biasanya terjadi pada usia 3 tahun keatas, serangan dicetuskan oleh infeksi pada sinus atau cabang Bronchial. Asma campuran yang serangannya diawali oleh infeksi virus, bakteri atau alergen, pada saat lain serangan dicetuskan oleh faktor yang berbeda juga dapat dicetuskan oleh perubahan suhu dan kelemahan, uap, mengiritasi, asap, bau- bauan dan lain-lain. E. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Test fungsi paru (spirometer) • Foto thorak • Pemeriksaaan darah (DL, BGA) • Skin test • Test Provakasi Bronchial F. MANIFESTASI KELINIS Gejala yang timbul biasanya berhubungan dengan beratnya derajat hiparaktivitas bronchus. Obstruksi jalan nafas dapat reversible secara spontan maupun dengan pengobatan. Gejala asma antara lain : a. Wheizing b. Bentuk produktif, biasanya malam hari. c. Sesak nafas d. Dada seperti tertekan / terikat. e. Pernafasan cuping hidung. G. TERAPI • Oksigen 4 – 6 liter/menit. • Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau Feneterol 2,5 mg) Intansi mebulasi dan pemberian dapat diulang setiap 20 menit sampai 1 jam. Pemberian agonis B2 dapat secara subcutan atau IV dengan dosis salbutamol
  • 3.
    0,25 mg atauterbutalin 0,25 mg dalam berutan dextrose 5% dan diberikan perubahan. • Aminophilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis. • Kortikosteroid hidrokortison 100 – 200mg IV jika tidak ada respon segera tau pasien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat berat. KONSEP DASAR KEPERAWATAN  Pengkajian Data Dasar 1) Riwayat pemajanan pada faktor-faktor yang biasanya mencetuskan serangan Asma • Stress emosi • Infeksi saluran nafas atas • Alergen • Kegagalan dalam mengobatan asma 2) Pemeriksaan fisik yang didasarkan pada suatu pengkajian • Sistem pernafasan Mengi (wheizing) yang terdengar dengan atau tanpa stetoscope Sesak bernafas Orthopnea Penggunaan otot – otot asesori pernafasan (cuping hidung, retreksi strum, pengangkatan bahu sewaktu bernafas) • Sistem hemodinamik Dehidrasi Sianosis Takikardi • Sistem urinarie Produksi urin Frekuensi BAK • Sistem kardiovaskuler. Hard rate Irama • Psikososial Gelisah Ketakutan
  • 4.
    kecemasan 3) Pemeriksaan laboratorium GDAmenyatakan Hipokepneua (Pa CO2 < 35 mmHg) di sebabkan menurunnya perfusi ventilasi, selanjutnya Pa CO2 meningkat diatas normal sesuai dengan meningkatnya tahanan jalanan nafas. Jumlah sel darah menunjukkan peningkatan eosinofil Pemeriksaan fungsi paru menunjukkan penurunan kekuatan kapasitas vital. Pemgumpulan sputum untuk pemeriksaan kultur dan test sensivitas untuk menentukan infeksi dan mengidentifikasi antimikroba yang cocok dalam mengobati infeksi yang terjadi. Sinar x perlu memperlihatkan disfensi alveoli. 4) Pada episode akut Masalah kolaboratif Potensial komplikasi → * Hipoksemia * Gagal nafas akut 5) Diagnosa keperawatan Gangguan pemenuhan oksigen berhubungan dengan Asma kronik. Infektif bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi mocus, sekresi kental dan bronkosposme Resiko tinggi terhadap infektif pola pernafasan berhubungan dengan peningkatan kerja pernafasan, hipoksemia, agitasi dan ancaman gagal nafas. 6) Intervensi dan relevansi a) Pantau • Status pernafasan setiap 4 jam. • Hasil BGA. • Nadi okasimetri. • Hasil sinar X dada, fungsi paru dan analisa sputum • Intake dan output. Rasional : Untuk mengidentifikasi kearah kemajuan / penyimpangan dari hasil pasien.
  • 5.
    b) Tempatkan posisipasien pada fowler Rasional : Posisi tegak menunjukkan ekspansi paru lebih baik. c) Berikan O2 melalui karulanasol 4 lit/menit Rasional : Pemberian oksigen mengurangi kerja otot pernafasan. d) Pemberian IV therapy sesuai anjuran, lakukan perawatan infus. Rasional : Untuk menunjukkan rehidrasi yang cepat dapat mengkaji keadaan vaskuler untuk pemberian obat-obatan darurat. Kebanyakan Px mengalami dehidrasi ketika mereka meminta pertolongan medis. e) Berikan pengobatan yang telah ditentukan, seperti : epineprin, Terbuthalin, animo philin dan kertikosteroid. Rasional : Epineprin dan terbutalin menghentikan reaksi alergen dan dilatasi broncholus dengan meniadakan aktivitas Histamin, Aminophilin melebarkan bronchulus dengan merangsang produksi zat kimia yang menghambat penyempitan otot Bronchial, kortikosteroid mengurangi peradangan lapisan mukosa bronchial f) Gunakan spirometez setiap 2 jam. Rasional : Untuk memudahkan nafas dalam mencegah eteletasis g) Gunakan penjelasan yang mudah dan sungkat bila memberikan informasi atau instruksi dan jelaskan tujuan dari semua pengobatan dan pemeriksaan fisik dan diagnostik. Rasional : tingkat kecemasan yang tinggi menghambat pembelajaran, penjelasan tentang apa diharapkan membantu mengontrol cemas.
  • 6.
    ASUHAN KEPERAWATAN DENGANMASALAH KEPERAWATAN ASMA Pengkajian I) Identitas : Usia : Nama : Agama : Jenis kelamin : Pendidikan : Suku : Alamat : Pekerjaan : Tanggal MRS : Diagnosa : II) Status kesehatan saat ini a) Alasan datang ke RS. b) Keluhan utama MRS c) Faktor pencetus d) Lama keluhan e) Faktor yang mempercepat III) Riwayat penyakit dahulu Pernah masuk RS. Dr. Soetomo untuk check up paru, dan RS. Haji selama 3 x berturut-turut karena sesak nafas (1996, 1998, 2001). Sejak SMP – SMU suka merokok. IV) Aspek psikososial a) Pola motorik / sensori Normal b) Persepsi diri Hal yang diperkirakan saat ini : Takut pada kematian dan pembiayaan Harapan setelah perawatan : Klien sembuh dan bisa bekerja kembali. Hubungan dan komunikasi : Hubungan dengan petugas kesehatan agak acuh dan pola komunikasi terputus karena sesak.
  • 7.
    V) Pemeriksaan Fisik TD: RR : TB : BB : S : N : • Sistem pernafasan a) Pernafasan : cuping hidung seperti tercekik. b) Tampak kesulitan dalam bernafas atau sesak. c) Pengangkatan bahu sewaktu bernafas d) Suara nafas wheizing e) Expensi paru : normal / simetris f) Batuk + mukus sulit dikeluarkan • Sistem hemodinamik a) Sianosis (-) b) Diaporesis (+) c) Dehidrasi (-) d) Nadi : 100 x/mnt (takikardia) e) Irama : reguler • Sistem urinarie a) Produksi urine (+) b) Frek. BAK 2x (± 400 CC) • Sistem integumen a) Kulit : Tampak pucat b) Kelembaban : Lembab c) Turgor : Baik VI) Pemeriksaan penunjang HB Leukosit Trombosit DCV
  • 8.
    GDA SGOT Creat Elektrolit: K N • Sputum : TTH – • BGA PH PCO2 PO2 HCO2 BE SaO2 Et CO2 • Faal Paru V Kapasity FVC FEV. I. O MBC VII) Terapi • Oksigen : 4 liter/mnt • Inf. NaCl + aminophilin 2 amp 15 tts/mnt dalam 12 jam • Dexametasol 3x 1 amp IV • Bricasma 3 x ½ amp SC • Nebuliser : ventalin + nasal • Fisioterapi dada • Bisolvan syrup VIII) Analisa data Data Kemungkinan penyebab Masalah • Obyektif Sesak nafas, pernafasan cuping hidung Pengangkatan bahu sewaktu bernafas * Whezing + * PCO2 : 47,5 * N : 100x/mnt * RR : 32/mnt * HCO2 : 28,7 Bronkospasme Gangguan pertukaran gas
  • 9.
    • Subyektif Merasa sakitbernafas dan terasa tercekik IX) Diagnosa keperawatan a) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkhopasme b) Inefektir bersihan jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi mulkus, sekresi kental c) Resiko kekurangan cairan berhubungan dengan hiperventilasi dan diaphoresis X) Intervensi dan rasionalisasi 1) Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan bronkhopasme a) Pemberian suplement oksigen 4 L/mnt Rasional : mengurangi beban kerja otot-otot pernafasan b) Penempatan pasien pada posisi fowlers Rasional : memungkinkan ekspansi paru lebih baik c) Pemberian obta ingalasi dengan nebilizer (ventalin 2,5 mg) Rasional : Bronchus menjadi dilatasi karena ventalin bersifat bronchodilator d) Pemberian aminophilin dripdan + 3 x 1/2 amp Bricasma SC Rasional : Aminophilin melebarkan bronchus dengan merangsang peningkatan produksi zat kimia yang menghambat penyempitan otot bronchial XI) Faktor pemulangan Health education a) Mengenalkan faktor-faktor pencetus dan mengenalkannya, seperti : Makanan alergen Menghindarkan aktivitas fisik yang berlebihan Menghindari strees emotional Memakai kasur busa dan lain-lain
  • 10.
    DAFTAR PUSTAKA • CarpenitiJ L (1999), “Rencana Asuhan Keperawatan Dan Dokumentasi Keperawatan” edisi 2 • FKUI (1999), “Kapita Selecta Kedokteran”, Edis II • Sundaru, Heru (1995), Asma, Apa dan Bagaiman Pengobatannya”, Edisi III
  • 11.
    LAPORAN PENDAHULUAN TENTANG ASMABRONCHIALE Oleh : ACH. FIQQY FIERLY Nim : 05.113.001
  • 12.
    PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN UM SURABAYA 2006