Anggota :
 Feppy Nurinda Fitria (10)
 Hana Verdian Y. (13)
 Herlangga Dui Cahyo (14)
 Inka Muthia Ardhana (15)
 Nida Adi Sausan S. (23)
 Wisnu Dharma Basudewa (34)
Pengertian Taubat
 Menurut bahasa Arab, taubat bermakna al-inbah wal
iql ’ (kembali dan mencabut). Sedangkan menurut
istilah para ulama, taubat adalah kembali kepada Allah
untuk mendapatkan ampunan-Nya dengan cara
meninggalkan kemaksiatan. Hukum bertaubat atas
segala kemaksiatan adalah wajib. Jadi dapat
disimpulkan bahwa, taubat adalah kembali dan
meninggalkan segala perbuatan tercela (dosa) untuk
melakukan perbuatan yang terpuji
Artinya :
“Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan
menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon
ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah
Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’:
110)
Dalil Taubat
Syarat Taubat
 Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat
(nadam)
 Meninggalkan perbuatan maksiat itu.
 Bertekad dan berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan
lagi mengulangi perbuatan maksiat itu.
 Mengikuti dengan perbuatan baik. Karena perbuatan baik
akan menghapus keburukan.
 Taubat harus dilakukan seketika itu juga.
 Taubat harus dilakukan dalam keadaan tidak mempunyai
tanggungan ( hutang).
 Taubat harus merupakan taubat nashuha.
 Taubat harus disertai dengan pengakuan dan kesadaran.
Syarat diterimanya Taubat
 Ikhlas artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata
karena Allah, bukan karena lainnya.
 Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.
 Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya.
 Tidak mengulangi artinya, seorang muslim harus bertekad tidak
mengulangi perbuatan dosa tersebut.
 Istighfar yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa yang
dilakukan terhadap hak-Nya.
 Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka
melepaskan haknya tersebut.
 Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya,
sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam :
“Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hambaNya
selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi, Hasan).
Contoh perilaku Taubat
 Berhenti dari perbuatan maksiat dan dosa yang selama
ini dilakukannya, baik disengaja atau tidak, baik
terhadap Allah Swt. maupun kepada sesama manusia.
 Menyesali segala dosa dan salah yang telah diperbuat,
dengan penyesalan yang sangat dalam.
 Berjanji dengan sepenuh hati untuk tidak mengulangi
perbuatan dosa dan salah dikemudian hari.
 Jika dosa tersebut berhubungan dengan sesama
manusia, maka sebelum memohon ampun kepada
Allah Swt., harus meminta maaf dahulu kepada
mereka yang menjadi korban perbuatannya itu.
Karena Allah Swt. tidak akan mengampuni dosa yang
ada kaitannya dengan manusia, sebelum mereka
saling memaafkan.
Keutamaan Taubat
 Taubat adalah sebab untuk meraih kecintaan Allah ‘azza wa jalla.
 Taubat merupakan sebab keberuntungan.
 Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan
turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.
 Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari
siksa neraka.
 Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat.
 Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan
berbagai kebaikan.
 Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan.
 Taubat adalah sebab untuk menggapai keimanan dan pahala
yang besar.
 Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta
bertambahnya kekuatan.
 Taubat juga menjadi sebab hati menjadi bersinar dan bercahaya.
Hikmah taubat
 Mendapatkan cinta dari Allah Swt.
 Mendapatkan do`a dari para malaikat.
 Masuk dalam golongan `Ibadurrahman.
 Mendapatkan ampunan Allah Swt.
 Sebagai penolak bala dan azab dari Allah Swt.
 Memperlancar rezeki.
 Taubat menjadi obat mandul.
Cara membiasakan perilaku Taubat
 Tanamkan keimanan yang kuat di dalam hati, agar tidak
mudah terjerumus ke dalam jurang maksiat dan dosa.
 Tanamkan keyakinan bahwa perbuatan maksiat dan dosa
itu dapat mendatangkan bahaya dan malapetaka, baik bagi
pelaku maupun orang lain, baik di dunia maupun di
akhirat.
 Hindari berbuat dosa dan berbuat salah.
 Jika terlanjur berbuat dosa dan salah, hendaklah segera
bertaubat dan memohon maaf antar sesama, dan berjanji
tidak akan mengulanginya lagi.
 Jangan malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang
diperbuat agar hidup bebas dari malapetaka.
 Tanamkan sikap jiwa ksatria dan sportif untuk mengakui
kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat, sehingga
menjalani hidup akan tenang tanpa ada perasaan dikejar
dosa dan salah.
Akibat perilaku taubat
 Kemudian Allah SWT berfirman:
"Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka
itulah orang-orang yang zalim". Ini adalah dalil akan
kewajiban bertaubat. Karena jika ia tidak bertaubat
maka ia akan menjadi orang-orang zhalim. Dan orang-
orang yang zhalim tidak akan beruntung.
Pengertian Raja’
 Raja' menurut bahasa artinya berharap. Sedangkan
menurut istilah Raja’ adalah harapan sesorang untuk
menerima balasan yang layak atas perbuatanya. Raja’
termasuk akhlak yang terpuji yaitu suatu akhlak yang
dapat berguna untuk mempertebal iman dan taqwa
kepada Allah SWT.
 Artinya :
 “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan
tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya.” [Al-
Kahfi: 110].
Dalil Raja’
Sifat – sifat Raja’
 Optimis
Optimis adalah orang yang selalu berpengharapkan
(berpandangan) baik dalam menghadapi segala masalah atau
persoalan.
 Dinamis
Dinamis adalah giat bekerja, tidak mau tinggal diam,selalu
bergerak dan terus tumbuh. Dia akan terus berusaha sungguh-
sungguh untuk meningkatkan kualitas dirinya.
 Berfikir Kritis
Berfikir kritis artinya tajam dalam menganalisa ,bersifat tidak
lekas cepat percaya dan sikap selalu berusaha menemukan
kesalahan,kekeliruan atau kekurangan.
 Mengenali Diri Sendiri Dengan Mengharapkan Ridho Allah
SWT
 Seorang muslim yang mengenali dirinya ,tentu akan menyadari
bahwa dia adalah makhluk Allah yang harus tunduk dengan
ketentuan-ketentuan-Nya (Sunatullah).
Ciri-ciri Raja’
 Dalam berusaha, seseorang akan mengawali dengan
niat karena Allah.
 Senantiasa berfikir positif dan dinamis, memiliki
pengharapan yang baik bahwa usahanya akan
berhasil,serta siap menghadapi resiko.
 Munculnya sikap ulet, pantang menyerah dalam
menghadapi cobaan.
 Selalu bertawakkal kepada Allah. Selalu berusaha
meningkatkan diri untuk lebih baik.
 Memiliki sifat bersyukur kepada Allah.
Keutamaan Raja’
 Hati menjadi tentram.
 Menjauhkan diri dari sifat gunur, yakni berkhayal atau
berangan-angan kosong.
 Menjadi lebih giat dalam mencapai harapan atau
keinginan
Hikmah Raja’
 Memperoleh keridhoan Allah SWT
 Terhindar dari perbuatan dosa
 Mendapat kepuasan hidup
 Mendekatkan diri pada Allah SWT
 Sarana penyelesaian masalah hidup
 Memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat
 Menciptakan prasangka baik dan membuang prasangka
buruk
 Tidak mudah berputus asa
 Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut
pada siapapun kecuali Allah SWT
 Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah
Allah berikan padanya
 Menghilangkan rasa hasud, dengki dan sombong
Membiasakan perilaku Raja’
 Tanamkan keimanan yang kuat di dalam hati, agar terhindar dari
godaan setan yang selalu mengajak manusia berputus asa.
 Tanamkan keyakinan bahwa berputus asa adalah dosa dan
merupakan perbuatan tidak terpuji, baik dimata manusia
maupun dihadapan Allah Swt.
 Tanamkan keyakinan bahwa Allah Swt. Maha Kuasa dan Maha
Pemurah bagi hamba-hamba-Nya yang taat beribadah dan rajin
berusaha.
 Jangan berhenti berusaha karena adanya satu kegagalan, sebab
kegagalan hari ini merupakan kemenangan hari esok yang
tertunda.
 Jangan pernah berhenti berdoa dan berharap kepada Allah Swt.,
sebab usaha dan kerja keras yang tidak di ridhoi Allah Swt. tidak
akan membawa manfaat dan tidak akan membuahkan hasil.
 Ambillah hikmah dari setiap kegagalan, musibah atau kesulitan
dalam meraih cita-cita, sehingga tak ada kata menyerah dalam
memperjuangkan cita-cita mulia.
 Jangan sekali-kali menggantungkan harapan kepada selain Allah
Swt. sebab kekuasaan-Nya melebihi batas-batas kekuasaan
apapun di seluruh jagat raya ini.
TERIMA KASIH

agama islam taubat raja'

  • 3.
    Anggota :  FeppyNurinda Fitria (10)  Hana Verdian Y. (13)  Herlangga Dui Cahyo (14)  Inka Muthia Ardhana (15)  Nida Adi Sausan S. (23)  Wisnu Dharma Basudewa (34)
  • 5.
    Pengertian Taubat  Menurutbahasa Arab, taubat bermakna al-inbah wal iql ’ (kembali dan mencabut). Sedangkan menurut istilah para ulama, taubat adalah kembali kepada Allah untuk mendapatkan ampunan-Nya dengan cara meninggalkan kemaksiatan. Hukum bertaubat atas segala kemaksiatan adalah wajib. Jadi dapat disimpulkan bahwa, taubat adalah kembali dan meninggalkan segala perbuatan tercela (dosa) untuk melakukan perbuatan yang terpuji
  • 6.
    Artinya : “Dan barangsiapamengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya sendiri, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 110) Dalil Taubat
  • 7.
    Syarat Taubat  Menyesalterhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat (nadam)  Meninggalkan perbuatan maksiat itu.  Bertekad dan berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan lagi mengulangi perbuatan maksiat itu.  Mengikuti dengan perbuatan baik. Karena perbuatan baik akan menghapus keburukan.  Taubat harus dilakukan seketika itu juga.  Taubat harus dilakukan dalam keadaan tidak mempunyai tanggungan ( hutang).  Taubat harus merupakan taubat nashuha.  Taubat harus disertai dengan pengakuan dan kesadaran.
  • 8.
    Syarat diterimanya Taubat Ikhlas artinya, taubat pelaku dosa harus ikhlas semata-mata karena Allah, bukan karena lainnya.  Menyesali dosa yang telah diperbuatnya.  Meninggalkan sama sekali maksiat yang telah dilakukannya.  Tidak mengulangi artinya, seorang muslim harus bertekad tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.  Istighfar yaitu memohon ampun kepada Allah atas dosa yang dilakukan terhadap hak-Nya.  Memenuhi hak bagi orang-orang yang berhak, atau mereka melepaskan haknya tersebut.  Waktu diterimanya taubat itu dilakukan di saat hidupnya, sebelum tiba ajalnya. Sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam : “Sesungguhnya Allah akan menerima taubat seorang hambaNya selama belum tercabut nyawanya.” (HR. At-Tirmidzi, Hasan).
  • 9.
    Contoh perilaku Taubat Berhenti dari perbuatan maksiat dan dosa yang selama ini dilakukannya, baik disengaja atau tidak, baik terhadap Allah Swt. maupun kepada sesama manusia.  Menyesali segala dosa dan salah yang telah diperbuat, dengan penyesalan yang sangat dalam.  Berjanji dengan sepenuh hati untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan salah dikemudian hari.  Jika dosa tersebut berhubungan dengan sesama manusia, maka sebelum memohon ampun kepada Allah Swt., harus meminta maaf dahulu kepada mereka yang menjadi korban perbuatannya itu. Karena Allah Swt. tidak akan mengampuni dosa yang ada kaitannya dengan manusia, sebelum mereka saling memaafkan.
  • 10.
    Keutamaan Taubat  Taubatadalah sebab untuk meraih kecintaan Allah ‘azza wa jalla.  Taubat merupakan sebab keberuntungan.  Taubat menjadi sebab diterimanya amal-amal hamba dan turunnya ampunan atas kesalahan-kesalahannya.  Taubat merupakan sebab masuk surga dan keselamatan dari siksa neraka.  Taubat adalah sebab mendapatkan ampunan dan rahmat.  Taubat merupakan sebab berbagai kejelekan diganti dengan berbagai kebaikan.  Taubat menjadi sebab untuk meraih segala macam kebaikan.  Taubat adalah sebab untuk menggapai keimanan dan pahala yang besar.  Taubat merupakan sebab turunnya barakah dari atas langit serta bertambahnya kekuatan.  Taubat juga menjadi sebab hati menjadi bersinar dan bercahaya.
  • 11.
    Hikmah taubat  Mendapatkancinta dari Allah Swt.  Mendapatkan do`a dari para malaikat.  Masuk dalam golongan `Ibadurrahman.  Mendapatkan ampunan Allah Swt.  Sebagai penolak bala dan azab dari Allah Swt.  Memperlancar rezeki.  Taubat menjadi obat mandul.
  • 12.
    Cara membiasakan perilakuTaubat  Tanamkan keimanan yang kuat di dalam hati, agar tidak mudah terjerumus ke dalam jurang maksiat dan dosa.  Tanamkan keyakinan bahwa perbuatan maksiat dan dosa itu dapat mendatangkan bahaya dan malapetaka, baik bagi pelaku maupun orang lain, baik di dunia maupun di akhirat.  Hindari berbuat dosa dan berbuat salah.  Jika terlanjur berbuat dosa dan salah, hendaklah segera bertaubat dan memohon maaf antar sesama, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.  Jangan malu untuk meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat agar hidup bebas dari malapetaka.  Tanamkan sikap jiwa ksatria dan sportif untuk mengakui kesalahan dan kekhilafan yang telah diperbuat, sehingga menjalani hidup akan tenang tanpa ada perasaan dikejar dosa dan salah.
  • 13.
    Akibat perilaku taubat Kemudian Allah SWT berfirman: "Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim". Ini adalah dalil akan kewajiban bertaubat. Karena jika ia tidak bertaubat maka ia akan menjadi orang-orang zhalim. Dan orang- orang yang zhalim tidak akan beruntung.
  • 15.
    Pengertian Raja’  Raja'menurut bahasa artinya berharap. Sedangkan menurut istilah Raja’ adalah harapan sesorang untuk menerima balasan yang layak atas perbuatanya. Raja’ termasuk akhlak yang terpuji yaitu suatu akhlak yang dapat berguna untuk mempertebal iman dan taqwa kepada Allah SWT.
  • 16.
     Artinya : “Barang siapa mengharap perjumpaan dengan tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya.” [Al- Kahfi: 110]. Dalil Raja’
  • 17.
    Sifat – sifatRaja’  Optimis Optimis adalah orang yang selalu berpengharapkan (berpandangan) baik dalam menghadapi segala masalah atau persoalan.  Dinamis Dinamis adalah giat bekerja, tidak mau tinggal diam,selalu bergerak dan terus tumbuh. Dia akan terus berusaha sungguh- sungguh untuk meningkatkan kualitas dirinya.  Berfikir Kritis Berfikir kritis artinya tajam dalam menganalisa ,bersifat tidak lekas cepat percaya dan sikap selalu berusaha menemukan kesalahan,kekeliruan atau kekurangan.  Mengenali Diri Sendiri Dengan Mengharapkan Ridho Allah SWT  Seorang muslim yang mengenali dirinya ,tentu akan menyadari bahwa dia adalah makhluk Allah yang harus tunduk dengan ketentuan-ketentuan-Nya (Sunatullah).
  • 18.
    Ciri-ciri Raja’  Dalamberusaha, seseorang akan mengawali dengan niat karena Allah.  Senantiasa berfikir positif dan dinamis, memiliki pengharapan yang baik bahwa usahanya akan berhasil,serta siap menghadapi resiko.  Munculnya sikap ulet, pantang menyerah dalam menghadapi cobaan.  Selalu bertawakkal kepada Allah. Selalu berusaha meningkatkan diri untuk lebih baik.  Memiliki sifat bersyukur kepada Allah.
  • 19.
    Keutamaan Raja’  Hatimenjadi tentram.  Menjauhkan diri dari sifat gunur, yakni berkhayal atau berangan-angan kosong.  Menjadi lebih giat dalam mencapai harapan atau keinginan
  • 20.
    Hikmah Raja’  Memperolehkeridhoan Allah SWT  Terhindar dari perbuatan dosa  Mendapat kepuasan hidup  Mendekatkan diri pada Allah SWT  Sarana penyelesaian masalah hidup  Memperoleh kebahagiaan hidup dunia dan akhirat  Menciptakan prasangka baik dan membuang prasangka buruk  Tidak mudah berputus asa  Menjadikan dirinya tenang, aman, dan tidak merasa takut pada siapapun kecuali Allah SWT  Dapat meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan padanya  Menghilangkan rasa hasud, dengki dan sombong
  • 21.
    Membiasakan perilaku Raja’ Tanamkan keimanan yang kuat di dalam hati, agar terhindar dari godaan setan yang selalu mengajak manusia berputus asa.  Tanamkan keyakinan bahwa berputus asa adalah dosa dan merupakan perbuatan tidak terpuji, baik dimata manusia maupun dihadapan Allah Swt.  Tanamkan keyakinan bahwa Allah Swt. Maha Kuasa dan Maha Pemurah bagi hamba-hamba-Nya yang taat beribadah dan rajin berusaha.  Jangan berhenti berusaha karena adanya satu kegagalan, sebab kegagalan hari ini merupakan kemenangan hari esok yang tertunda.  Jangan pernah berhenti berdoa dan berharap kepada Allah Swt., sebab usaha dan kerja keras yang tidak di ridhoi Allah Swt. tidak akan membawa manfaat dan tidak akan membuahkan hasil.  Ambillah hikmah dari setiap kegagalan, musibah atau kesulitan dalam meraih cita-cita, sehingga tak ada kata menyerah dalam memperjuangkan cita-cita mulia.  Jangan sekali-kali menggantungkan harapan kepada selain Allah Swt. sebab kekuasaan-Nya melebihi batas-batas kekuasaan apapun di seluruh jagat raya ini.
  • 22.