Cara Pembuatan Kosmetik
yang Baik (CPKB)
Tim Pengampu Kosmetik
WHY ???
Pokok CPKB
 Sistem Manajemen Mutu
 Personalia
 Bangunan dan Fasilitas
 Peralatan
 Sanitasi dan Higiene
 Produksi
PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN
NOMOR 31 TAHUN 2020
TENTANG
PEDOMAN CARA PEMBUATAN KOSMETIK YANG BAIK
Penerapan CPKB merupakan persyaratan kelayakan
dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan
keamanan yang diakui dunia internasional
 Pengawasan mutu
 Dokumentasi
 Audit Internal
 Penyimpanan
 Kontrak Produksi dan Pengujian
 Penanganan keluhan dan penarikan Produk
5 Years
Guarantee
CPKB
• CPKB adalah seluruh aspek kegiatan
pembuatan Kosmetika yang
bertujuan untuk menjamin agar
produk yang dihasilkan senantiasa
memenuhi persyaratan mutu yang
ditetapkan sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
Penerapan Pedoman CPKB
Dibuktikan Dengan:
 SERTIFIKAT CPKB
 SERTIFIKAT PEMENUHAN ASPEK (SPA) CPKB
SERTIFIKAT CPKB???
adalah dokumen sah yang merupakan
bukti bahwa Industri Kosmetika telah
menerapkan CPKB dalam pembuatan
Kosmetika.
SERTIFIKAT PEMENUHAN ASPEK (SPA)
CPKB
• Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA)
CPKB adalah dokumen sah yang
merupakan bukti bahwa Industri
Kosmetika, secara bertahap atau
tidak bertahap telah menerapkan
CPKB.
KETENTUAN UMUM
 Bahan Awal : Bahan baku dan bahan pengemas yang digunakan
dalam pembuatan suatu produk.
 Bahan Baku : Semua bahan utama dan bahan tambahan yang
digunakan dalam pembuatan produk kosmetik
 Kalibrasi : Kombinasi pemeriksaan dan penyetelan suatu
instrumen untuk menjadikannya memenuhi syarat batas
keakuratan menurut standar yang diakui.
 Karantina : Status suatu bahan atau produk yang dipisahkan baik
secara fisik maupun secara sistem, sementara menunggu
keputusan pelulusan atau penolakan untuk diproses, dikemas atau
didistribusikan
KETENTUAN UMUM
 Batch : sejumlah produk kosmetika yang mempunyai
sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam
suatu siklus pembuatan atas suatu perintah pembuatan
tertentu.
 Lot : Bagian tertentu dari suatu batch yang memiliki sifat
dan mutu yang seragam dalam batas yang telah
ditetapkan.
 Produk antara : tiap bahan atau campuran bahan yang
masih memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan
lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan.
 Produk ruahan : tiap bahan atau campuran bahan yang
telah selesai diolah tinggal memerlukan pengemasan
untuk menjadi produk jadi.
1.Sistem Manajemen Mutu
 Manajemen mutu adalah fungsi
manajemen yang menetapkan dan
mengimplementasikan kebijakan mutu
yang memuat visi dan misi perusahaan
yang menunjukkan komitmen terhadap
mutu, keamanan dan kemanfaatan
produk yang diproduksi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan
2. Personalia
 Jumlah karyawan di semua tingkatan hendaklah cukup serta memiliki
pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya.
 Struktur organisasi perusahaan hendaklah sedemikian rupa sehingga
bagian produksi dan bagian pengawasan mutu dipimpin oleh orang yang
berlainan yang tidak saling bertanggungjawab satu dengan yang lain.
 Manager produksi dan manager pengawasan mutu hendaklah apoteker-
apoteker yang cakap, terlatih dan memiliki pengalaman praktek yang
memadai.
Training
Program
Struktur Organisasi
jelas & bebas
kepentingan antar
divisi
Health&
Hygiene
Policy
3. BANGUNAN DAN FASILITAS
 Permukaan bagian dalam ruangan (dinding, lantai dan langit-langit)
hendaklah licin, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka.
 Mudah dibersihkan, mudah didesinfektan, saluran limbah hendaklah
cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta ventilasi yang baik.
 Bangunan hendaklah mendapat penerangan yang efektif.
Protect
Product
Easy to Clean
Floor & pipe
work free of
dust & dirt
contamination
Prevent
Mix Up
Bangunan
 Penerimaan bahan
 Karantina barang masuk
 Penyimpanan bahan awal
 Penimbangan dan penyerahan
 Pengolahan
 Penyimpanan produk ruahan
 Pengemasan
 Karantina produk jadi selama
menunggu pelulusan akhir
 Penyimpanan produk jadi
 Pengiriman barang
 Laboratorium
 Pencucian peralatan
Daerah dalam bangunan terdiri dari:
4. Peralatan
Peralatan yang digunakan dalam pembuatan
kosmetika hendaklah memiliki rancang-bangun dan
konstruksi yang tepat.
 Rancang-bangun dan Konstruksi
 Pemasangan dan Penempatan
 Pemeliharaan
Cleaning &
Sanitation
Calibration &
Maintenance
Designed to
prevent
contamination
4. PERALATAN
Desain dan Konstruksi
 Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan
baku, produk antara, produk ruahan atau produk jadi,
tidak boleh bereaksi, mengadisi atau mengabsorbsi, yang
dapat mengubah identitas, mutu dan kemurnian produk
di luar batas yang telah ditentukan.
 Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah,
baik bagian dalam maupun bagian luarnya.
 Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur,
menguji dan mencatat, hendaklah diperiksa ketelitiannya
secara teratur serta ditera menurut suatu program dan
prosedur yang tepat.
 Dan lain-lain demi keamanan karyawan dan kebaikan
produksi.
4. PERALATAN
Instalasi dan penempatan
 Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa
untuk memperkecil kemungkinan pencemaran silang
antar bahan di daerah yang sama.
 Peralatan hendaklah ditempatkan dengan jarak yang
cukup renggang dari peralatan lain untuk memberikan
keleluasaan kerja dan memastikan tidak terjadinya
tercampur-campur atau kekeliruan.
 Semua pipa, tangki, selubung pipa uap atau pipa
pendingin, hendaklah diberi isolasi yang baik untuk
mencegah kemungkinan terjadinya cacad dan
memperkecil kehilangan enersi.
4.PERALATAN
Pemeliharaan
 Peralatan untuk menimbang, mengukur, menguji
dan mencatat, dirawat dan dikalibrasi secara
berkala. Semua catatan perawatan dan kalibrasi
disimpan dengan baik.
5.Sanitasi dan Higiene
 Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi
hendaklah diterapkan pada setiap pembuatan
kosmetika.
 Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi
personalia, bangunan, peralatan dan
perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya,
dan setiap hal yang dapat merupakan sumber
pencemaran produk.
6. Produksi
 Bahan awal
 Sistem penomoran batch
 Penimbangan dan pengukuran
 Prosedur dan Pengolahan
Bulk & Waste
product
storage
Process issues
&
improvements
Start up &
other critical
process
Documentation
 Produk Kering
 Produk Basah
 Pelabelan dan Pengemasan
 Karantina dan pengiriman ke gudang
produk jadi
Produksi dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, yang
dapat menjamin senantiasa menghasilkan produk jadi yang memenuhi
spesifikasi ang ditentukan, meliputi :
7. Pengawasan Mutu
 Pengawasan mutu adalah bagian yang esensial dari cara
pembuatan kosmetika yang baik agar tiap kosmetika yang dibuat
memenuhi persyaratan mutu yang sesuai dengan tujuan
penggunaannya.
Statistically
Based Sampling
Plans
Risk Based
Release Criteria
Procedures &
Validated
Methods
Out of Specs &
Improvements
Re-processing Retur Product
8. Dokumentasi
 Dokumentasi pembuatan kosmetika merupakan bagian dari
sistem informasi manajemen yang meliputi :
spesifikasi,
prosedur,
metode dan instruksi.
 Catatan dan laporan serta jenis dokumentasi lain yang
diperlukan dalam perencanaan, pelaksanaan pengendalian
serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan
kosmetika:
Dokumen induk
Catatan Pembuatan Batch
Catatan Pengawasan Mutu
9.Audit Internal (Inspeksi Diri)
 Tujuan inspeksi diri adalah untuk melaksanakan penilaian
secara teratur tentang keadaan dan kelengkapan fasilitas
pabrik kosmetika dalam memenuhi persyaratan Cara
Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB).
Prosedur inspeksi diri terdiri dari:
 Tim inspeksi
 Selang waktu inspeksi diri
 Hal-hal yang diinspeksi
 kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua aspek,
mulai pengadaan bahan sampai pengemasan dan
penetapan tindakan perbaikan yang dilakukan sehingga
seluruh aspek produksi tersebut selalu memenuhi CPKB.
 terdiri dari kegiatan penilaian dan pengujian seluruh
atau sebagian dari sistem mutu dengan tujuan untuk
meningkatkan system mutu
 Daftar pemeriksaan inspeksi diri
 Laporan inspeksi diri
 Tindak lanjut inspeksi diri
10.Penyimpanan
Area Penyimpanan
penyimpanan untuk bahan awal,
produk antara, produk ruahan, produk jadi,
produk yang dikarantina, dan
produk yang lulus uji,
ditolak, dikembalikan atau ditarik dari
peredaran.
bersih, kering dan dirawat dengan baik. Apabila
diperlukan kondisi penyimpanan khusus, misal
suhu dankelembapan tertentu, maka disediakan,
diperiksa dan dipantau.
Penanganan dan Pengawasan Persediaan
11.Kontrak Produksi dan Pengujian
 Pelaksanaan kontrak produksi dan
pengujian hendaknya secara jelas
dijabarkan, disepakati dan diawasi,
agar tidak terjadi kesalahpahaman
atau salah dalam penafsiran di
kemudian hari, yang dapat berakibat
tidak memuaskannya mutu produk
atau pekerjaan.
 Guna mencapai mutu-produk yang
memenuhi standard yang disepakati,
hendaknya semua aspek pekerjaan
yang dikontrakkan ditetapkan secara
rinci pada dokumen kontrak.
 Hendaknya ada perjanjian tertulis
antara pihak yang memberi kontrak
dan pihak penerima kontrak yang
menguraikan secara jelas tugas dan
tanggungjawab masingmasing pihak.
 Dalam hal kontrak pengujian,
keputusan akhir terhadap hasil
pengujian suatu produk, tetap
merupakan tanggung jawab
pemberi kontrak.
 Penerima kontrak hanya
bertanggungjawab terhadap
pelaksanaan pengujian sampai
diperoleh hasil pengujian.
12.Penanganan Keluhan, dan
Penarikan Produk
Penarikan kembali produk jadi
Keluhan dan laporan
Kosmetika kembalian
Prosedur penanganan kosmetika kembalian
Kosmetika kembalian yang tidak dapat diolah ulang
Pencatatan
Dokumen Sistem Mutu untuk Pengajuan
Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA) CPKB
 A. HIGIENE DAN SANITASI
 hygiene perorangan
 Pemeriksaan Kesehatan Personel Produksi
 Kebersihan dan Sanitasi Ruangan
 Kebersihan dan Sanitasi Peralatan
 B. DOKUMENTASI
 Spesifikasi
 Struktur Organisasi, Program dan Prosedur Operasional Baku (POB)
 Catatan
 Label
HARMONISASI
ASEAN BIDANG
KOSMETIK
Harmonisasi ASEAN di bidang kosmetik atau ASEAN Harmonized Cosmetics
Regulatory Scheme (AHCRS) ditandatangani oleh 10 negara ASEAN pada
tanggal 2 September 2003. Isi dari AHCRS itu sendiri berisi dua schedule,
yaitu:
 ASEAN Mutual Recognition Arrangement of Product Registration
Approval for Cosmetic, yang diterapkan pada tahun 2003-2007.
 ASEAN Cosmetic Directive (ACD), yang diterapkan mulai 1 Januari
2008 sampai sekarang.
 Setiap produsen kosmetik yang akan memasarkan produknya harus
menotifikasikan produk tersebut terlebih dahulu kepada pemerintah
di tiap Negara ASEAN dimana produk tersebut akan dipasarkan.
 Setiap produsen yang menotifikasi produknya harus menyimpan data
mutu dan keamanan produk (Product Information File) yang siap
diperiksa sewaktu-waktu oleh petugas pengawas Badan POM RI (atau
petugas lain yang berwenang di tiap negara).
Penerapan harmoninasi ASEAN
HISTORY
PERBEDAAN yang mendasar dari
harmonisasi ASEAN dengan sistem
terdahulu (sistem registrasi)
1. SISTEM PENGAWASAN
pada sistem registrasi pengawasan dilakukan sebelum produk beredar (pre
market approval) oleh pemerintah, sedangkan pada harmonisasi ASEAN
pengawasan dilakukan setelah beredar (post market surveillance).
 Alasannya karena dari analisa penilaian resiko, kosmetik merupakan
produk beresiko rendah sepanjang peraturan/regulasi kosmetik telah
dipatuhi oleh produsen. Hal tersebut menguntungkan produsen karena
dapat mempersingkat proses untuk memperoleh izin edar , karena tidak
perlu evaluasi pre market terlebih dahulu, tetapi konsumen tetap
terlindungi karena adanya pengawasan post market berupa sampling dan
pengujian mutu dan keamanan dari Badan POM. Industri kosmetik
dituntut untuk bertanggung jawab penuh terhadap mutu dan keamanan
produknya, untuk itu perusahaan kosmetik harus memahami semua
ketentuan ACD dan membuat database keamanan bahan dan produknya.
 Nomor izin edar kosmetik (sistem
registrasi), terdiri atas 12-14 digit:
2 digit huruf + 10 digit angka + 1-2 digit
huruf (opsional, tergantung produk)
Contoh :
CD / CL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 E / L / EL
CD : kosmetik dalam negeri
CL : kosmetik luar negeri (impor)
Angka 1-10 : menunjukkan jenis
kosmetik, tahun registrasi, dan nomor
urut registrasi
E : kosmetik khusus untuk ekspor
L : kosmetik golongan 2 (resiko tinggi)
2. Sistem penomoran
 Nomor izin edar kosmetik harmonisasi
ASEAN, terdiri atas 13 digit:
2 digit huruf + 11 digit angka
Contoh :
NA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
N : Notifikasi
A : kode benua (Asia)
B : kode benua (Australia)
C : kode benua (Eropa)
D : kode benua (Afrika)
E : kode benua (Amerika)
Angka 1-11 : kode negara, tahun
notifikasi, jenis produk, dan nomor urut
notifikasi.
PERBEDAAN yang mendasar dari
harmonisasi ASEAN dengan sistem
terdahulu (sistem registrasi)
ASEAN Cosmetic Directive (ACD)
Yaitu peraturan di bidang kosmetik yang menjadi acuan peraturan bagi
Negara ASEAN dalam pengawasan kosmetik yang beredar di ASEAN.
ACD merupakan aturan baku yang terdiri dari:
Artikel 1 : Ketentuan Umum
Artikel 2 : Definisi dan Ruang Lingkup Produk Kosmetik
Artikel 3 : Persyaratan Keamanan
Artikel 4 : Daftar Bahan Kosmetik, terdiri dari:
 Negative list: daftar bahan yang dilarang
 Positive list: daftar bahan yang diizinkan, meliputi:
pewarna, pengawet, dan tabir surya
Adalah daftar bahan kosmetik yang masih diizinkan
penggunaannya di Negara ASEAN tertentu, walaupun tidak
termasuk dalam daftar bahan kosmetik ASEAN. Negara
anggota dapat menggunakan bahan kosmetik yang tidak
tercantum dalam daftar bahan yang diperbolehkan, dengan
syarat:
 maksimal digunakan selama 3 tahun
 harus dilakukan pengawasan terhadap produk tersebut
sebelum 3 tahun, bahan tersebut harus diusulkan untuk
dimasukkan ke dalam AHCI untuk dievaluasi
keamanannya.
Artikel 5 :
ASEAN Handbook of Cosmetic Ingredient (AHCI)
 Artikel 6 : Penandaan
 Artikel 7 : Klaim Produk
 Klaim didukung dengan data ilmiah dan formulasi dari bentuk
sediaan. Penentuan suatu produk termasuk dalam “kosmetik”
atau “obat” didasarkan pada dua factor, yaitu komposisi dan
tujuan penggunaan dari produk tersebut. Klaim yang dimaksud
disini adalah klaim mengenai manfaat kosmetik dan bukan klaim
sebagai obat/efek terapi.
 Artikel 8 : Product Information File (PIF)
 Meliputi data kemanan dan data pendukung untuk komposisi dan
pembuatan sesuai dengan cara pembuatan kosmetik yang baik.
 Artikel 9 : Metode Analisa
 Artikel 10 : Pengaturan Institusional
 Artikel 11 : Kasus Khusus
 Artikel 12 : Implementasi
 Aneks (Tambahan)
ASEAN
Cosmetic
Directive
(ACD)
PROSEDUR NOTIFIKASI
KOSMETIK
Pendahuluan
 Setiap kosmetik hanya dapat diedarkan setelah
mendapatkan izin edar dari MenKes, yaitu berupa
notifikasi. Kecuali kosmetika yang digunakan untuk
penelitian dan sampel kosmetika untuk pameran dalam
jumlah terbatas dan tidak diperjual belikan.
 Notifikasi dilakukan sebelum produk beredar
 Permohonan notifikasi diajukan oleh pemohon kepada
Kepala Badan POM.
 Wajib notifikasi ini berlaku mulai tanggal 1 Januari 2011.
Untuk kosmetika yang telah memiliki izin edar, masih
tetap berlaku dalam jangka waktu paling lama 3 tahun
sejak dikeluarkannya Permenkes 1176.
 Industri kosmetika yang berada di wilayah Indonesia yang telah
memiliki izin produksi,
 Importir kosmetika yang mempunyai Angka Pengenal Impor (API)
dan surat penunjukkan keagenan dari produsen negara asal,
dan/atau
 Usaha perorangan/badan usaha yang melakukan kontrak produksi
dengan industri kosmetika yang telah memiliki izin produksi.
 Pemohon tersebut diatas harus memiliki Dokumen Informasi
Produk (DIP) sebelum kosmetika dinotifikasi. DIP tersebut harus
disimpan oleh pemohon, dan harus ditunjukkan jika sewaktu-
waktu diperiksa atau diaudit oleh Badan POM.
 Kosmetika yang akan dinotifikasi harus dibuat dengan
menerapkan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) dan
memenuhi persyaratan teknis, meliputi keamanan, bahan,
penandaan, dan klaim.
Pemohon Notifikasi
 Pemohon mendaftarkan diri kepada Kepala Badan POM.
 Pemohon yang telah mendaftarkan diri dapat mengajukan permohonan notifikasi
dengan mengisi formulir (template) secara elektronik melalui website Badan POM
(https://notifkos.pom.go.id/).
 Apabila dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak pengajuan permohonan
notifikasi diterima oleh Kepala Badan POM tidak ada surat penolakan, terhadap
kosmetika yang dinotifikasi dianggap disetujui dan dapat beredar di wilayah Indonesia.
 Setelah permohonan disetujui, maka dalam jangka waktu 6 bulan kosmetik yang telah
dinotifikasi wajib diproduksi atau diimpor dan diedarkan.
 Kepala Badan POM dapat menolak permohonan notifikasi jika kosmetik yang diajukan
tidak memnuhi persyaratan yang telah ditetapkan, dan atau tidak memenuhi
peraturan perundang-undangan di bidang kosmetika.
 Notifikasi berlaku selama 3 tahun, dan dapat diperpanjang jika telah habis masa
berlakunya.
 Untuk permohonan notifikasi dikenakan biaya sebagai penerimaan negara bukan pajak
sesuai ketentuan perundang-undangan. Untuk sementara ini, biaya notifikasi sama
dengan biaya untuk pembuatan izin edar, selama peraturan perundang2an tentang
biaya notifikasi kosmetika belum berlaku.
Tata
Cara
Pengajuan
Notifikasi
PEMBATALAN NOTIFIKASI
Notifikasi dapat menjadi batal atau dibatalkan, apabila:
 Izin produksi kosmetika, izin usaha industri, atau tanda daftar industri
sudah tidak berlaku, atau Angka Pengenal lmportir (API) sudah tidak
berlaku,
 Berdasarkan evaluasi, kosmetika yang telah beredar tidak memenuhi
persyaratan,
 Atas permintaan pemohon notifikasi,
 Perjanjian kerjasama antara pemohon dengan perusahaan pemberi
lisensi/industri penerima kontrak produksi, atau surat penunjukkan
keagenan dari produsen negara asal sudah berakhir dan tidak
diperbaharui,
 Kosmetika yang telah beredar tidak sesuai dengan data dan/atau
dokumen (DIP) yang disampaikan pada saat permohonan notifikasi, atau
 Pemohon notifikasi tidak memproduksi, atau mengimpor dan
mengedarkan kosmetika dalam jangka waktu 6 bulan setelah permohonan
notifikasi disetujui.
Pertanggungjawaban Produk
 Industri kosmetika, importir kosmetika, atau usaha perorangan/badan usaha
yang melakukan kontrak produksi bertanggung jawab terhadap kosmetika
yang diedarkan meliputi :
 wajib melakukan monitoring dan menangani keluhan dan/atau menarik
kosmetika yang bersangkutan dari peredaran atas inisiatif sendiri atau atas
perintah Kepala Badan POM apabila terjadi kerugian atau kejadian yang
tidak diinginkan akibat penggunaan kosmetika :
 kosmetik yang tidak memenuhi standar dan/persyaratan serta
membahayakan kesehatan dilakukan pemusnahan.
 Untuk kasus efek yang tidak diinginkan, harus dilaporkan kepada Kepala
Badan POM melalui mekanisme Monitoring Efek Samping Kosmetik
(Meskos)
 harus melaporkan kepada Kepala Badan POM apabila kosmetika yang sudah
dinotifikasi tidak lagi diproduksi atau diimpor.
 kosmetika yang tidak lagi diproduksi atau diimpor yang masih ada di
peredaran.
Peraturan tentang kosmetika di
Indonesia sudah di sesuaikan dengan
Harmonisasi ASEAN, sehingga
diharapkan kosmetika Indonesia
dapat di eksport ke seluruh negara
ASEAN dan produk ASEAN dapat
diedarkan di Indonesia
Tugas buatlah makalah:
1. KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN
MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR :
31 TAHUN 2020 TENTANG PEDOMAN CARA
PEMBUATAN KOSMETIK YANG BAIK
2. PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN
MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33
TAHUN 2021 TENTANG SERTIFIKASI CARA
PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK
TERIMA
KASIH

9. C P K B Harmonisasi ASEAN (wecompress.com).pptx

  • 1.
    Cara Pembuatan Kosmetik yangBaik (CPKB) Tim Pengampu Kosmetik
  • 2.
  • 3.
    Pokok CPKB  SistemManajemen Mutu  Personalia  Bangunan dan Fasilitas  Peralatan  Sanitasi dan Higiene  Produksi PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 31 TAHUN 2020 TENTANG PEDOMAN CARA PEMBUATAN KOSMETIK YANG BAIK Penerapan CPKB merupakan persyaratan kelayakan dasar untuk menerapkan sistem jaminan mutu dan keamanan yang diakui dunia internasional  Pengawasan mutu  Dokumentasi  Audit Internal  Penyimpanan  Kontrak Produksi dan Pengujian  Penanganan keluhan dan penarikan Produk 5 Years Guarantee
  • 4.
    CPKB • CPKB adalahseluruh aspek kegiatan pembuatan Kosmetika yang bertujuan untuk menjamin agar produk yang dihasilkan senantiasa memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan sesuai dengan tujuan penggunaannya.
  • 6.
    Penerapan Pedoman CPKB DibuktikanDengan:  SERTIFIKAT CPKB  SERTIFIKAT PEMENUHAN ASPEK (SPA) CPKB
  • 8.
    SERTIFIKAT CPKB??? adalah dokumensah yang merupakan bukti bahwa Industri Kosmetika telah menerapkan CPKB dalam pembuatan Kosmetika.
  • 9.
    SERTIFIKAT PEMENUHAN ASPEK(SPA) CPKB • Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA) CPKB adalah dokumen sah yang merupakan bukti bahwa Industri Kosmetika, secara bertahap atau tidak bertahap telah menerapkan CPKB.
  • 10.
    KETENTUAN UMUM  BahanAwal : Bahan baku dan bahan pengemas yang digunakan dalam pembuatan suatu produk.  Bahan Baku : Semua bahan utama dan bahan tambahan yang digunakan dalam pembuatan produk kosmetik  Kalibrasi : Kombinasi pemeriksaan dan penyetelan suatu instrumen untuk menjadikannya memenuhi syarat batas keakuratan menurut standar yang diakui.  Karantina : Status suatu bahan atau produk yang dipisahkan baik secara fisik maupun secara sistem, sementara menunggu keputusan pelulusan atau penolakan untuk diproses, dikemas atau didistribusikan
  • 11.
    KETENTUAN UMUM  Batch: sejumlah produk kosmetika yang mempunyai sifat dan mutu yang seragam yang dihasilkan dalam suatu siklus pembuatan atas suatu perintah pembuatan tertentu.  Lot : Bagian tertentu dari suatu batch yang memiliki sifat dan mutu yang seragam dalam batas yang telah ditetapkan.  Produk antara : tiap bahan atau campuran bahan yang masih memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi produk ruahan.  Produk ruahan : tiap bahan atau campuran bahan yang telah selesai diolah tinggal memerlukan pengemasan untuk menjadi produk jadi.
  • 12.
    1.Sistem Manajemen Mutu Manajemen mutu adalah fungsi manajemen yang menetapkan dan mengimplementasikan kebijakan mutu yang memuat visi dan misi perusahaan yang menunjukkan komitmen terhadap mutu, keamanan dan kemanfaatan produk yang diproduksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan
  • 13.
    2. Personalia  Jumlahkaryawan di semua tingkatan hendaklah cukup serta memiliki pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan sesuai dengan tugasnya.  Struktur organisasi perusahaan hendaklah sedemikian rupa sehingga bagian produksi dan bagian pengawasan mutu dipimpin oleh orang yang berlainan yang tidak saling bertanggungjawab satu dengan yang lain.  Manager produksi dan manager pengawasan mutu hendaklah apoteker- apoteker yang cakap, terlatih dan memiliki pengalaman praktek yang memadai. Training Program Struktur Organisasi jelas & bebas kepentingan antar divisi Health& Hygiene Policy
  • 14.
    3. BANGUNAN DANFASILITAS  Permukaan bagian dalam ruangan (dinding, lantai dan langit-langit) hendaklah licin, bebas dari keretakan dan sambungan terbuka.  Mudah dibersihkan, mudah didesinfektan, saluran limbah hendaklah cukup besar dan mempunyai bak kontrol serta ventilasi yang baik.  Bangunan hendaklah mendapat penerangan yang efektif. Protect Product Easy to Clean Floor & pipe work free of dust & dirt contamination Prevent Mix Up
  • 15.
    Bangunan  Penerimaan bahan Karantina barang masuk  Penyimpanan bahan awal  Penimbangan dan penyerahan  Pengolahan  Penyimpanan produk ruahan  Pengemasan  Karantina produk jadi selama menunggu pelulusan akhir  Penyimpanan produk jadi  Pengiriman barang  Laboratorium  Pencucian peralatan Daerah dalam bangunan terdiri dari:
  • 16.
    4. Peralatan Peralatan yangdigunakan dalam pembuatan kosmetika hendaklah memiliki rancang-bangun dan konstruksi yang tepat.  Rancang-bangun dan Konstruksi  Pemasangan dan Penempatan  Pemeliharaan Cleaning & Sanitation Calibration & Maintenance Designed to prevent contamination
  • 17.
    4. PERALATAN Desain danKonstruksi  Permukaan peralatan yang bersentuhan dengan bahan baku, produk antara, produk ruahan atau produk jadi, tidak boleh bereaksi, mengadisi atau mengabsorbsi, yang dapat mengubah identitas, mutu dan kemurnian produk di luar batas yang telah ditentukan.  Peralatan hendaklah dapat dibersihkan dengan mudah, baik bagian dalam maupun bagian luarnya.  Peralatan yang digunakan untuk menimbang, mengukur, menguji dan mencatat, hendaklah diperiksa ketelitiannya secara teratur serta ditera menurut suatu program dan prosedur yang tepat.  Dan lain-lain demi keamanan karyawan dan kebaikan produksi.
  • 18.
    4. PERALATAN Instalasi danpenempatan  Peralatan hendaklah ditempatkan sedemikian rupa untuk memperkecil kemungkinan pencemaran silang antar bahan di daerah yang sama.  Peralatan hendaklah ditempatkan dengan jarak yang cukup renggang dari peralatan lain untuk memberikan keleluasaan kerja dan memastikan tidak terjadinya tercampur-campur atau kekeliruan.  Semua pipa, tangki, selubung pipa uap atau pipa pendingin, hendaklah diberi isolasi yang baik untuk mencegah kemungkinan terjadinya cacad dan memperkecil kehilangan enersi.
  • 20.
    4.PERALATAN Pemeliharaan  Peralatan untukmenimbang, mengukur, menguji dan mencatat, dirawat dan dikalibrasi secara berkala. Semua catatan perawatan dan kalibrasi disimpan dengan baik.
  • 21.
    5.Sanitasi dan Higiene Tingkat sanitasi dan higiene yang tinggi hendaklah diterapkan pada setiap pembuatan kosmetika.  Ruang lingkup sanitasi dan higiene meliputi personalia, bangunan, peralatan dan perlengkapan, bahan produksi serta wadahnya, dan setiap hal yang dapat merupakan sumber pencemaran produk.
  • 22.
    6. Produksi  Bahanawal  Sistem penomoran batch  Penimbangan dan pengukuran  Prosedur dan Pengolahan Bulk & Waste product storage Process issues & improvements Start up & other critical process Documentation  Produk Kering  Produk Basah  Pelabelan dan Pengemasan  Karantina dan pengiriman ke gudang produk jadi Produksi dilaksanakan dengan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan, yang dapat menjamin senantiasa menghasilkan produk jadi yang memenuhi spesifikasi ang ditentukan, meliputi :
  • 23.
    7. Pengawasan Mutu Pengawasan mutu adalah bagian yang esensial dari cara pembuatan kosmetika yang baik agar tiap kosmetika yang dibuat memenuhi persyaratan mutu yang sesuai dengan tujuan penggunaannya. Statistically Based Sampling Plans Risk Based Release Criteria Procedures & Validated Methods Out of Specs & Improvements Re-processing Retur Product
  • 24.
    8. Dokumentasi  Dokumentasipembuatan kosmetika merupakan bagian dari sistem informasi manajemen yang meliputi : spesifikasi, prosedur, metode dan instruksi.  Catatan dan laporan serta jenis dokumentasi lain yang diperlukan dalam perencanaan, pelaksanaan pengendalian serta evaluasi seluruh rangkaian kegiatan pembuatan kosmetika: Dokumen induk Catatan Pembuatan Batch Catatan Pengawasan Mutu
  • 25.
    9.Audit Internal (InspeksiDiri)  Tujuan inspeksi diri adalah untuk melaksanakan penilaian secara teratur tentang keadaan dan kelengkapan fasilitas pabrik kosmetika dalam memenuhi persyaratan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB). Prosedur inspeksi diri terdiri dari:  Tim inspeksi  Selang waktu inspeksi diri  Hal-hal yang diinspeksi  kegiatan yang dilakukan untuk menilai semua aspek, mulai pengadaan bahan sampai pengemasan dan penetapan tindakan perbaikan yang dilakukan sehingga seluruh aspek produksi tersebut selalu memenuhi CPKB.  terdiri dari kegiatan penilaian dan pengujian seluruh atau sebagian dari sistem mutu dengan tujuan untuk meningkatkan system mutu  Daftar pemeriksaan inspeksi diri  Laporan inspeksi diri  Tindak lanjut inspeksi diri
  • 26.
    10.Penyimpanan Area Penyimpanan penyimpanan untukbahan awal, produk antara, produk ruahan, produk jadi, produk yang dikarantina, dan produk yang lulus uji, ditolak, dikembalikan atau ditarik dari peredaran. bersih, kering dan dirawat dengan baik. Apabila diperlukan kondisi penyimpanan khusus, misal suhu dankelembapan tertentu, maka disediakan, diperiksa dan dipantau. Penanganan dan Pengawasan Persediaan
  • 27.
    11.Kontrak Produksi danPengujian  Pelaksanaan kontrak produksi dan pengujian hendaknya secara jelas dijabarkan, disepakati dan diawasi, agar tidak terjadi kesalahpahaman atau salah dalam penafsiran di kemudian hari, yang dapat berakibat tidak memuaskannya mutu produk atau pekerjaan.  Guna mencapai mutu-produk yang memenuhi standard yang disepakati, hendaknya semua aspek pekerjaan yang dikontrakkan ditetapkan secara rinci pada dokumen kontrak.  Hendaknya ada perjanjian tertulis antara pihak yang memberi kontrak dan pihak penerima kontrak yang menguraikan secara jelas tugas dan tanggungjawab masingmasing pihak.  Dalam hal kontrak pengujian, keputusan akhir terhadap hasil pengujian suatu produk, tetap merupakan tanggung jawab pemberi kontrak.  Penerima kontrak hanya bertanggungjawab terhadap pelaksanaan pengujian sampai diperoleh hasil pengujian.
  • 28.
    12.Penanganan Keluhan, dan PenarikanProduk Penarikan kembali produk jadi Keluhan dan laporan Kosmetika kembalian Prosedur penanganan kosmetika kembalian Kosmetika kembalian yang tidak dapat diolah ulang Pencatatan
  • 30.
    Dokumen Sistem Mutuuntuk Pengajuan Sertifikat Pemenuhan Aspek (SPA) CPKB  A. HIGIENE DAN SANITASI  hygiene perorangan  Pemeriksaan Kesehatan Personel Produksi  Kebersihan dan Sanitasi Ruangan  Kebersihan dan Sanitasi Peralatan  B. DOKUMENTASI  Spesifikasi  Struktur Organisasi, Program dan Prosedur Operasional Baku (POB)  Catatan  Label
  • 31.
  • 32.
    Harmonisasi ASEAN dibidang kosmetik atau ASEAN Harmonized Cosmetics Regulatory Scheme (AHCRS) ditandatangani oleh 10 negara ASEAN pada tanggal 2 September 2003. Isi dari AHCRS itu sendiri berisi dua schedule, yaitu:  ASEAN Mutual Recognition Arrangement of Product Registration Approval for Cosmetic, yang diterapkan pada tahun 2003-2007.  ASEAN Cosmetic Directive (ACD), yang diterapkan mulai 1 Januari 2008 sampai sekarang.  Setiap produsen kosmetik yang akan memasarkan produknya harus menotifikasikan produk tersebut terlebih dahulu kepada pemerintah di tiap Negara ASEAN dimana produk tersebut akan dipasarkan.  Setiap produsen yang menotifikasi produknya harus menyimpan data mutu dan keamanan produk (Product Information File) yang siap diperiksa sewaktu-waktu oleh petugas pengawas Badan POM RI (atau petugas lain yang berwenang di tiap negara). Penerapan harmoninasi ASEAN HISTORY
  • 33.
    PERBEDAAN yang mendasardari harmonisasi ASEAN dengan sistem terdahulu (sistem registrasi) 1. SISTEM PENGAWASAN pada sistem registrasi pengawasan dilakukan sebelum produk beredar (pre market approval) oleh pemerintah, sedangkan pada harmonisasi ASEAN pengawasan dilakukan setelah beredar (post market surveillance).  Alasannya karena dari analisa penilaian resiko, kosmetik merupakan produk beresiko rendah sepanjang peraturan/regulasi kosmetik telah dipatuhi oleh produsen. Hal tersebut menguntungkan produsen karena dapat mempersingkat proses untuk memperoleh izin edar , karena tidak perlu evaluasi pre market terlebih dahulu, tetapi konsumen tetap terlindungi karena adanya pengawasan post market berupa sampling dan pengujian mutu dan keamanan dari Badan POM. Industri kosmetik dituntut untuk bertanggung jawab penuh terhadap mutu dan keamanan produknya, untuk itu perusahaan kosmetik harus memahami semua ketentuan ACD dan membuat database keamanan bahan dan produknya.
  • 34.
     Nomor izinedar kosmetik (sistem registrasi), terdiri atas 12-14 digit: 2 digit huruf + 10 digit angka + 1-2 digit huruf (opsional, tergantung produk) Contoh : CD / CL 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 E / L / EL CD : kosmetik dalam negeri CL : kosmetik luar negeri (impor) Angka 1-10 : menunjukkan jenis kosmetik, tahun registrasi, dan nomor urut registrasi E : kosmetik khusus untuk ekspor L : kosmetik golongan 2 (resiko tinggi) 2. Sistem penomoran  Nomor izin edar kosmetik harmonisasi ASEAN, terdiri atas 13 digit: 2 digit huruf + 11 digit angka Contoh : NA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 N : Notifikasi A : kode benua (Asia) B : kode benua (Australia) C : kode benua (Eropa) D : kode benua (Afrika) E : kode benua (Amerika) Angka 1-11 : kode negara, tahun notifikasi, jenis produk, dan nomor urut notifikasi. PERBEDAAN yang mendasar dari harmonisasi ASEAN dengan sistem terdahulu (sistem registrasi)
  • 35.
    ASEAN Cosmetic Directive(ACD) Yaitu peraturan di bidang kosmetik yang menjadi acuan peraturan bagi Negara ASEAN dalam pengawasan kosmetik yang beredar di ASEAN. ACD merupakan aturan baku yang terdiri dari: Artikel 1 : Ketentuan Umum Artikel 2 : Definisi dan Ruang Lingkup Produk Kosmetik Artikel 3 : Persyaratan Keamanan Artikel 4 : Daftar Bahan Kosmetik, terdiri dari:  Negative list: daftar bahan yang dilarang  Positive list: daftar bahan yang diizinkan, meliputi: pewarna, pengawet, dan tabir surya
  • 36.
    Adalah daftar bahankosmetik yang masih diizinkan penggunaannya di Negara ASEAN tertentu, walaupun tidak termasuk dalam daftar bahan kosmetik ASEAN. Negara anggota dapat menggunakan bahan kosmetik yang tidak tercantum dalam daftar bahan yang diperbolehkan, dengan syarat:  maksimal digunakan selama 3 tahun  harus dilakukan pengawasan terhadap produk tersebut sebelum 3 tahun, bahan tersebut harus diusulkan untuk dimasukkan ke dalam AHCI untuk dievaluasi keamanannya. Artikel 5 : ASEAN Handbook of Cosmetic Ingredient (AHCI)
  • 37.
     Artikel 6: Penandaan  Artikel 7 : Klaim Produk  Klaim didukung dengan data ilmiah dan formulasi dari bentuk sediaan. Penentuan suatu produk termasuk dalam “kosmetik” atau “obat” didasarkan pada dua factor, yaitu komposisi dan tujuan penggunaan dari produk tersebut. Klaim yang dimaksud disini adalah klaim mengenai manfaat kosmetik dan bukan klaim sebagai obat/efek terapi.  Artikel 8 : Product Information File (PIF)  Meliputi data kemanan dan data pendukung untuk komposisi dan pembuatan sesuai dengan cara pembuatan kosmetik yang baik.  Artikel 9 : Metode Analisa  Artikel 10 : Pengaturan Institusional  Artikel 11 : Kasus Khusus  Artikel 12 : Implementasi  Aneks (Tambahan) ASEAN Cosmetic Directive (ACD)
  • 38.
  • 39.
    Pendahuluan  Setiap kosmetikhanya dapat diedarkan setelah mendapatkan izin edar dari MenKes, yaitu berupa notifikasi. Kecuali kosmetika yang digunakan untuk penelitian dan sampel kosmetika untuk pameran dalam jumlah terbatas dan tidak diperjual belikan.  Notifikasi dilakukan sebelum produk beredar  Permohonan notifikasi diajukan oleh pemohon kepada Kepala Badan POM.  Wajib notifikasi ini berlaku mulai tanggal 1 Januari 2011. Untuk kosmetika yang telah memiliki izin edar, masih tetap berlaku dalam jangka waktu paling lama 3 tahun sejak dikeluarkannya Permenkes 1176.
  • 40.
     Industri kosmetikayang berada di wilayah Indonesia yang telah memiliki izin produksi,  Importir kosmetika yang mempunyai Angka Pengenal Impor (API) dan surat penunjukkan keagenan dari produsen negara asal, dan/atau  Usaha perorangan/badan usaha yang melakukan kontrak produksi dengan industri kosmetika yang telah memiliki izin produksi.  Pemohon tersebut diatas harus memiliki Dokumen Informasi Produk (DIP) sebelum kosmetika dinotifikasi. DIP tersebut harus disimpan oleh pemohon, dan harus ditunjukkan jika sewaktu- waktu diperiksa atau diaudit oleh Badan POM.  Kosmetika yang akan dinotifikasi harus dibuat dengan menerapkan Cara Pembuatan Kosmetika yang Baik (CPKB) dan memenuhi persyaratan teknis, meliputi keamanan, bahan, penandaan, dan klaim. Pemohon Notifikasi
  • 41.
     Pemohon mendaftarkandiri kepada Kepala Badan POM.  Pemohon yang telah mendaftarkan diri dapat mengajukan permohonan notifikasi dengan mengisi formulir (template) secara elektronik melalui website Badan POM (https://notifkos.pom.go.id/).  Apabila dalam jangka waktu 14 (empat belas) hari kerja sejak pengajuan permohonan notifikasi diterima oleh Kepala Badan POM tidak ada surat penolakan, terhadap kosmetika yang dinotifikasi dianggap disetujui dan dapat beredar di wilayah Indonesia.  Setelah permohonan disetujui, maka dalam jangka waktu 6 bulan kosmetik yang telah dinotifikasi wajib diproduksi atau diimpor dan diedarkan.  Kepala Badan POM dapat menolak permohonan notifikasi jika kosmetik yang diajukan tidak memnuhi persyaratan yang telah ditetapkan, dan atau tidak memenuhi peraturan perundang-undangan di bidang kosmetika.  Notifikasi berlaku selama 3 tahun, dan dapat diperpanjang jika telah habis masa berlakunya.  Untuk permohonan notifikasi dikenakan biaya sebagai penerimaan negara bukan pajak sesuai ketentuan perundang-undangan. Untuk sementara ini, biaya notifikasi sama dengan biaya untuk pembuatan izin edar, selama peraturan perundang2an tentang biaya notifikasi kosmetika belum berlaku. Tata Cara Pengajuan Notifikasi
  • 42.
    PEMBATALAN NOTIFIKASI Notifikasi dapatmenjadi batal atau dibatalkan, apabila:  Izin produksi kosmetika, izin usaha industri, atau tanda daftar industri sudah tidak berlaku, atau Angka Pengenal lmportir (API) sudah tidak berlaku,  Berdasarkan evaluasi, kosmetika yang telah beredar tidak memenuhi persyaratan,  Atas permintaan pemohon notifikasi,  Perjanjian kerjasama antara pemohon dengan perusahaan pemberi lisensi/industri penerima kontrak produksi, atau surat penunjukkan keagenan dari produsen negara asal sudah berakhir dan tidak diperbaharui,  Kosmetika yang telah beredar tidak sesuai dengan data dan/atau dokumen (DIP) yang disampaikan pada saat permohonan notifikasi, atau  Pemohon notifikasi tidak memproduksi, atau mengimpor dan mengedarkan kosmetika dalam jangka waktu 6 bulan setelah permohonan notifikasi disetujui.
  • 43.
    Pertanggungjawaban Produk  Industrikosmetika, importir kosmetika, atau usaha perorangan/badan usaha yang melakukan kontrak produksi bertanggung jawab terhadap kosmetika yang diedarkan meliputi :  wajib melakukan monitoring dan menangani keluhan dan/atau menarik kosmetika yang bersangkutan dari peredaran atas inisiatif sendiri atau atas perintah Kepala Badan POM apabila terjadi kerugian atau kejadian yang tidak diinginkan akibat penggunaan kosmetika :  kosmetik yang tidak memenuhi standar dan/persyaratan serta membahayakan kesehatan dilakukan pemusnahan.  Untuk kasus efek yang tidak diinginkan, harus dilaporkan kepada Kepala Badan POM melalui mekanisme Monitoring Efek Samping Kosmetik (Meskos)  harus melaporkan kepada Kepala Badan POM apabila kosmetika yang sudah dinotifikasi tidak lagi diproduksi atau diimpor.  kosmetika yang tidak lagi diproduksi atau diimpor yang masih ada di peredaran.
  • 44.
    Peraturan tentang kosmetikadi Indonesia sudah di sesuaikan dengan Harmonisasi ASEAN, sehingga diharapkan kosmetika Indonesia dapat di eksport ke seluruh negara ASEAN dan produk ASEAN dapat diedarkan di Indonesia
  • 45.
    Tugas buatlah makalah: 1.KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 31 TAHUN 2020 TENTANG PEDOMAN CARA PEMBUATAN KOSMETIK YANG BAIK 2. PERATURAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2021 TENTANG SERTIFIKASI CARA PEMBUATAN KOSMETIKA YANG BAIK
  • 46.