SISTEM PENGENDALIAN
INTERNAL DAN SPIP
(contoh Hasil Survei Pelaksanaan Pelayanan Integritas
SPI Kementrian)
• Dalam teori akuntansi dan organisasi, pengendalian internal didefinisikan
sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan
sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi
mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian internal
merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur
sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan
mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi
baik yang berwujud (seperti mesin,lahan dan bangunan) maupun yang tidak
berwujud (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek
dagang).
• Sistem Pengendalian Intern : suatu proses, yang dilaksanakan secara terus
menerus oleh dekom, direksi, manajemen dan staf pendukung dirancang
untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance), dalam
pencapaian visi, misi, sasaran dan tujuan perusahaan.
TUJUAN PENGENDALIAN INTERNAL &
KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL
Pengendalian internal merupakan tanggapan manajemen terhadap resiko yang diketahui.
Dengan lain perkataan, pengendalian internal mencapai tujuan pengendalian (control
objective) tertentu.
Tujuan pengendalian internal secara garis besarnya dapat dibagi dalam empat kelompok
sebagai berikut :
1.Tujuan strategis, dengan sasaran-sasaran utama mendukung misi entitas.
2.Tujuan pelaporan keuangan, agar laporan keuangan bebas dari salah saji material tepat
waktu dan tepat guna.
3.Tujuan operasional, dimana pengendalian mengamnakan operasi entitas, yang dikenal
sebagai operational contols.
4.Tujuan kepatuhan terhadap peraturan hukum dan ketentuan perundang-undangan,
pengendalian internal yang relevan untuk suatu audit ialah pengendalian dengan tujuan
pelaporan keuangan, khususnya yang berhubungan dengan tujuan entitas membuat
laporan keuangan untuk keperluan eksternal.
TUJUAN PENGENDALIAN INTERNAL &
KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL
Komponen Pengendalian Internal
Istilah “internal control” yang digunakan ISA 315 lebih luas dari kegiatan pengendalian
(control activities) seperti pemisahan tugas (segregation of duties), proses otorisasi
(authorization), dan rekonsiliasi saldo. Pengendalian internal dalam ISA 315 terdiri atas lima
komponen, yaitu :
1. Control Envirotment (Lingkungan Pengendalian)
2. Risk Assessment (Penilaian Resiko)
3. Information System (Sistem Informasi)
4. Control Activities (Kegiatan Pengendalian)
5. Monitoring (Pemantauan)
KOMPONEN DAN PRINSIP SPI
7. Identifikasi dan analisis risiko
11. Memilih dan mengembangkan pengendalian umum atas teknologi
14. Komunikasi internal
Aktivitas Pemantauan
16. Melakukan evaluasi berkelanjutan dan / atau terpisah
17. Evaluasi dan komunikasi kelemahan / kekurangan pengendalian
13. Penggunaan informasi yang relevan
15. Komunikasi eksternal
Informasi & Komunikasi
10. Memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian
12. Menerapkan aktivitas pengendalian melalui kebijakan dan prosedur
Aktivitas Pengendalian
6. Menetapkan tujuan yang tepat
8. Penilaian risiko kecurangan
9. Identifikasi dan analisis perubahan yang signifikan
Penilaian Risiko
1. Komitmen terhadap integritas dan nilai etika
2. Melaksanakan tanggung jawab pengawasan
3. Menetapkan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan
4. Memiliki komitmen terhadap kompetensi
5. Menegakkan akuntabilitas
Lingkungan Pengendalian
TUJUAN DITERAPKANNYA SPI
Tujuan Kepatuhan
• Patuh terhadap
hukum dan
perundang undangan
yang berlaku
Tujuan Pelaporan
• Penyusunan laporan
keuangan dan non
keuangan untuk
kebutuhan internal
maupun eksternal,
yang dapat dipercaya,
tepat waktu,
transparan sesuai
dengan aturan yang
disusun pihak
regulator, penyusun
standar dan
kebijakanperusahaan.
Tujuan Operasional
• Efektifitas dan
efisiensi operasi
perusahaan,
termasuk tujuan
kinerja keuangan &
operasional dan
menjaga asset dari
kerugian.
Keterbatasan Internal Control
PROSES
MANAJEMEN
TUJUAN
IC
1. Prakondisi Pengendalian Intern
2. Kesalahan pertimbangan
3. Human Errors
4. Management Override
5. Kolusi
KETERBATASAN SPI
PIHAK YANG BERPERAN DALAM SPI
D E W A N
K O M I S A R I S
P E G A W A I
( G M / S M /
M N J R /
S T A F )
P I H A K
E K S T E R N A L D I R E K S I
I N T E R N A L
A U D I T O R
Ilustrasi…………..
25
Kami telah memiliki prosedur kerja yang standar dan
secara berkala dievaluasi untuk memastikan dapat
diterapkan di perusahaan dan efektif
Kami telah memiliki prosedur kerja sebagai acuan
bekerja sehari-hari
Beberapa jenis pekerjaan atau unit tertentu karena
rawan, maka telah kami kendalikan
Meskipun tidak ada prosedur kerja, tetapi kami
memiliki orang-orang yang mengawasi dan
mengendalikan operasional
Ditempat kami bekerja, tidak ada panduan
bagaimana saya harus bekerja (masing-masing
orang bekerja dengan caranya sendiri)
DASAR HUKUM
• Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah;
• Peraturan Presiden Nomor 192 tahun 2014 tentang Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan;
• Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan Kualitas
Sistem Pengendalian Intern dan Keandalan Penyelenggaraan Fungsi
Pengawasan Intern dalam Rangka Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat;
11
INPRES NO 9 TAHUN 2014 TENTANG PENINGKATAN KUALITAS SPI DAN KEANDALAN PENYELENGGARAAN FUNGSI PENGAWASAN INTERN DALAM RANGKA
MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT
KETIGA: Menugaskan Ka BPKP untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan
penerimaan negara/daerah serta efisiensi dan efektivitas anggaran pengeluaran negara/daerah, meliputi:
Audit dan evaluasi terhadap pengelolaan penerimaan pajak, bea dan cukai; pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Instansi Pemerintah, Badan Hukum
lain, dan Wajib Bayar; pengelolaan Pendapatan Asli Daerah; pemanfaatan aset negara/daerah; program/kegiatan strategis di bidang kemaritiman, ketahanan
energi, ketahanan pangan, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan; pembiayaan pembangunan nasional/daerah; evaluasi terhadap penerapan sistem
pengendalian intern dan sistem pengendalian kecurangan yang dapat mencegah, mendeteksi, dan menangkal korupsi; audit investigatif terhadap penyimpangan
yang berindikasi merugikan keuangan negara/daerah untuk memberikan dampak pencegahan yang efektif; audit dalam rangka penghitungan kerugian keuangan
negara/daerah dan pemberian keterangan ahli sesuai dengan peraturan perundangan.
Instruksi kepada: Para Menteri Kabinet Kerja, Sekkab, Kapolri, Jagung, Panglima TNI, Ka LPNK,
Pimpinan Set Lem Neg, Para Gubernur, Para Bupati/Walikota
PERTAMA: Mempercepat efektivitas penerapan sistem pengendalian intern pemerintah dalam pengelolaan
keuangan negara/daerah dan pembangunan nasional sesuai lingkup tugas dan fungsi masing-masing
KEDUA: Mengintensifkan peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah di lingkungan masing-masing
dalam rangka meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara/daerah dan pembangunan nasional serta meningkatkan
upaya pencegahan korupsi
KEEMPAT: Bersinergi, berkoordinasi, dan memberikan akses kepada Kepala BPKP
untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada diktum KETIGA.
PERMASALAHAN AKUNTABILITAS
PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
1. RPJMN Blm Menjadi Dasar Penyusunan
Renstra, RKT & Tapkin
2. Indikator Kinerja belum Terukur;
3. Pedoman Evaluasi belum Dibuat, dll
1. Penganggaran tdk sesuai ketentuan
2. Penyerapan Anggaran Rendah
3. Msh ada catatan dlm Opini
4. Pajak/PNBP terlambat/tdk disetor/dipakai
5. Pengelolaan aktiva tetap belum memadai
6. Pengadaan Barang/Jasa belum sesuai
ketentuan
7. Pengeluaran fiktif, dll
Akuntabilitas
Keuangan
Akuntabilitas
Kinerja
Permasalahan
Penguatan SPIP:
• Komitmen
• Manajemen Aset Tertib
• Identifikasi Risiko PBJ
• Peningkatan SDM
Keuangan dan PBJ
Upaya-Upaya
Public Trust
Meningkat
Akunta-bilitas
Keuangan
Negara
Permasalahan
SPIP
Pemantauan
Pengendalian
Intern
Informasi & Komunikasi
Kegiatan Pengendalian
Penilaian Risiko
Lingkungan Pengendalian
Identifikasi Risiko
Sarana Komunikasi
Manajemen Sistem Informasi
Pemantauan Berkelanjutan
Evaluasi Terpisah
Tindak Lanjut
Pembinaan Sumber Daya Manusia
Pengendalian Pengelolaan Sistem Informasi
Pengendalian Fisik atas Aset
Penetapan & Reviu Indikator & Ukuran Kinerja
Pemisahan Fungsi
Otorisasi Transaksi dan Kejadian Penting
Pencatatan yang Akurat dan Tepat Waktu
Pembatasan Akses atas Sumber Daya
Akuntabilitas terhadap Sumber Daya
Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah
Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern
Kebijakan yang Sehat tentang Pembinaan SDM
Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab
Struktur Organisasi yang Sesuai Kebutuhan
Kepemimpinan yang Kondusif
Komitmen terhadap Kompetensi
Penegakan Integritas dan Etika
Peran APIP yang Efektif
Hubungan Kerja yang Baik
Ps. 4
Ps. 13
Ps. 18
Ps. 41
Ps. 43
Analisis Risiko
PENGELOLAAN
KEUANGAN NEGARA
Peru-musan
Kebijakan
Perenca-
naan
Pengang-
garan
Pelaksa-
naan
Anggaran
Panata-
usahaan
Pelapo-
ran
Moni-
toring
dan
Evaluasi AKUNTABILITAS
KEUANGAN
AKUNTABILITAS
KINERJA
WILAYAH TERTIB
ADMINISTRASI WTA
WAJAR TANPA
PENGECUALIAN
WILAYAH
BEBAS
KORUPSI
WTP
WBK
GOOD GOVERNANCE
& CLEAN GOVERNMENT
SPIP yang Efektif pada Seluruh Tahapan Proses Manajemen/
Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah
Peran APIP yang Optimal (Consulting & Assurance)
15
Analisis
Tujuan
Perumusan
Lingkungan
Pengendalian yang
Diharapkan
Analisa
Risiko
Evaluasi
Pengendalian
Terpasang
Monitoring dan
Evaluasi Hasil
Revisi
Pengomunikasian
Revisi Pengendalian
Revisi atas
Kebijakan dan
Prosedur
Rencana Tindak
Pengendalian Intern
Proses SPIP
SISTEM PENGENDALIAN INTERN SBG CULTURE
Menjaring SDM yang
capable dan
berintegritas
(1)
Budaya
pengendalian intern
melalui awareness
terhadap risiko
(2)
Meningkatkan kualitas
proses pengawasan
(3)
Pembinaan
penyelenggara-an SPI
(4)
16
MEMBUDAYAKAN SPI
SPI
SEBAGAI
CULTURE
Membentuk
built in control
atau
pengawasan by
system
SPI bekerja
secara otomatis
melakukan
fungsi
pengawasan
Kondisi tersebut
dipertahankan
sehingga tercipta
“Internal control
culture”, sehingga
SPI menjadi
bagian dari
budaya
KARAKTERISTIK LEVEL MATURITAS SPIP
Belum memiliki kebijakan dan prosedur Level 0
Belum Ada
Level 1
Rintisan
Level 5
Optimum
Menerapkan pengendalian intern yang berkelanjutan, terintegrasi dalam
pelaksanaan kegiatan. Pemantauan otomatis menggunakan aplikasi komputer
Level 4
Terkelola & Terukur
Ada praktik pengendalian internal yang efektif. Evaluasi formal dan
terdokumentasi.
Level 3
Terdefinisi
Ada praktik pengendalian intern yg terdokumentasi dengan baik. Evaluasi
atas pengendalian intern dilakukan tanpa dokumentasi yang memadai.
Level 2
Berkembang
Ada praktik pengendalian intern tapi tidak terdokumentasi dengan
baik. Pelaksanaan tergantung pada individu dan belum melibatkan
semua unit organisasi. Efektivitas pengendalian belum dievaluasi
Ada praktik pengendalian intern – ada kebijakan dan prosedur
tertulis, namun masih bersifat ad-hoc dan tidak terorganisasi
dengan baik. Tanpa komunikasi dan pemantauan
Target 2019
Target 2024
STRATEGI PENINGKATAN MATURITAS SPIP
•Belum memiliki
kebijakan dan
prosedur
LEVEL 0 – Belum ada
•Ada praktik
pengendalian intern –
ada kebijakan dan
prosedur tertulis
•Namun masih bersifat
ad-hoc dan tidak
terorganisasi dengan
baik,
•Tanpa komunikasi
dan pemantauan
LEVEL 1 -Rintisan
•Ada praktik pengendalian
intern,.
•Tidak terdokumentasi
dengan baik
•Pelaksanaan tergantung
pada individu dan belum
melibatkan semua unit
organisasi.
•Efektivitas pengendalian
belum dievaluasi
LEVEL 2 - Berkembang
•Ada praktik
pengendalian intern
•Terdokumentasi
dengan baik.
•Evaluasi atas
pengendalian intern
dilakukan tanpa
dokumentasi yang
memadai.
LEVEL 3 - Terdefinisi
•Ada praktik
pengendalian
internal yang
efektif,
•Evaluasi formal,
berkala dan
terdokumentasi.
LEVEL 4 – Terkelola
dan Terukur
•Menerapkan
pengendalian intern yang
berkelanjutan,
terintegrasi dalam
pelaksanaan kegiatan
•Pemantauan otomatis
menggunakan aplikasi
komputer
LEVEL 5 - Optimum
(+) Kebijakan dan
Prosedur Tertulis
(+) Pengkomunikasian Kebijakan
dan Prosedur
(+) Implementasi
kebijakan dan prosedur
(+) dokumentasi
(+) Evaluasi formal , berkala dan
terdokumentasi
(+ )Pemantauan/ pengembangan
berkelanjutan
(+) Vertikal: Unsur-unsur terpenuhi
(+) Horisontal: Jml unit kerja ber-SPIP bertambah
Grand design PENINGKATAN
MATURITAS SPIP
Penyiapan Perangkat
Kebijakan
Menyusun Grand Design Peningkatan Maturitas Penyelenggaraan SPIP
Kesadaran dan komitmen
instansi pemerintah
•Membentuk tim kerja
•Mengalokasikan sumber daya yang diperlukan
Self Assessment
•Mengacu kepada Pedoman Penilaian dan Peningkatan Maturitas SPIP
•Self Assessment oleh K/L/P
•Mengetahui Area of Improvement
Quality Assurance
oleh BPKP
•Mengetahui kecukupan penyelenggaraan SPIP (dari level maturitas)
•Gambaran umum permasalahan dan hambatan
•Meyakinkan pemenuhan bukti dan membantu tindakan perbaikan
Self Improvement
•Rencana tindak perbaikan terhadap Area of Improvement
•Berkesinambungan dan ada Komitmen yang kuat
•Pemantauan oleh Pimpinan K/L/P
•Peran BPKP: penyediaan panduan, konsultansi, asistensi,help desk
Pengembangan
Berkelanjutan
Pengembangan SPIP berkelanjutan
Pemantauan dan evaluasi secara berkala oleh Pimpinan K/L/P
Tujuan RB pada Area Pengawasan:
Terwujudnya pemerintahan
yg bersih, bebas dari KKN
APIP melakukan Peran yang Efektif (Psl 11, 59 PP 60
Th 2008)
APIP perlu meningkatkan kualitas hasil audit intern dan meningkatkan kapabilitas
organisasinya
KEBUTUHAN PENINGKATKAN LEVEL KAPABILITAS APIP
Semua Instansi Pemerintah berbenah diri
melakukan RB & SPIP
Pemerintahan Berkelas
Dunia (World Class)
Visi RB (Perpres 81 Tahun 2010)
Untuk
mempercepat tercapainya tata kelola
pemerintahan yang baik
Grand Design Peningkatan Kapabilitas APIP
Mengintensifkan peran APIP untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan
negara/daerah dan pembangunan nasional serta meningkatkan upaya pencegahan korupsi (Inpres 9 Tahun 2014)
1 2
First & Second
Lines of Defense
Third
Line of Defense
LEVEL 5
Optimizing
LEVEL 4
Managed
LEVEL 3
Integrated
LEVEL 2
Infrastructure
LEVEL 1
Initial
APIP menjadi agen perubahan
APIP mampu memberikan assurance secara keseluruhan
atas tata kelola, manajemen risiko dan pengendalian intern
APIP mampu menilai efisiensi, efektivitas, ekonomis suatu
kegiatan dan mampu memberikan konsultasi pada tata kelola,
manajemen risiko dan pengendalian intern
APIP mampu memberikan keyakinan yang
memadai proses sesuai dengan
peraturan,mampu mendeteksi terjadinya
korupsi
APIP belum dapat
memberikan jaminan atas
proses tata kelola sesuai
peraturan dan mencegah
korupsi
TINGKATAN OUTCOME LEVEL APIP
APIP yang
efektif (Ps. 11
PP 60)
Penyediaan Grand Design Peningkatan Kapabilitas APIP
Peningkatan kesadaran untuk memiliki tingkat kapabilitas berkelas dunia
Penilaian secara mandiri (self assessment) oleh APIP kapabilitas APIP sesuai
kriteria internasional (IACM) – Internal Audit Capability Model
Proses penjaminan kualitas (quality assurance) oleh BPKP
Peningkatan secara mandiri (self improvement) kapabilitas APIP oleh APIP
Peningkatan kompetensi SDM APIP melalui e-Learning oleh BPKP
STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS APIP
PENGAWALAN IMPLEMENTASI
PENGELOLAAN KEUANGAN
DESA
Oleh :
Padlah Riyadi, MM. MH. M. Ak. Akt. CA. Asean CPA. CISA., CFBE
LINGK.
STRATEGIS
UU 6/2014
UU 23/2014
PP 43/2014
PP 60/2014
PP 60/2008
PMK
Alokasi DD
Perka LKPP
13/2013
Permendagri
113/2014
114/2014
Permen.DesaPDTT
1/2015
3/2015
PENGAWALAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN DESA
TITIK KRITIS
Koordinasi Kementerian, Alokasi,
SDM, Kebijakan,
Sarana/Prasarana, SPIP
DESA
Pemerintah Pusat
Kemenku Kemendagri KDPDTT
Provinsi Kab/Kota
RPJMN/ RKP
RPJMD/ RKPD
DESA Sejahtera
Kepala Desa
Belanja Desa
70%
30%
Pemb. & pemberdayaan Masy.
Desa
Penghasilan Tetap / Operasional
Bel. Pegawai
Bel. Barang
Bel. Modal
Pembiayaan Desa
Pendapatan Desa: PADes, Transfer, Lainnya
Perangkat
Desa
BPD
Lembaga
Kemasy.
Desa
Laporan ke Bup/Wali:
- LRA Semesteran dan
Tahunan
- LPJ Realisasi APB Des
(Tahunan)
- LPPDesa tahunan (LRA,
LPJ, Lap.KMD) dan
LPPDesa akhir Masa
Jabatan
- Lap. Dana Desa per
Semester
Laporan ke BPD
- Lap. Keterangan
Penyelenggaran Pem.
Desa terdiri dari LRA
Desa & Lap. Kekayaan
Milik Desa (Tahunan)
RPJM Desa/ RKP Desa APB DESA
PENGELOLAAN KEUANGAN DESA
Dana Desa
(melalui APBD Kab/Kot) Ban.Keu ADD
Dana Bagi Hasil
Pajak/Ret
Prioritas Penggunaan Dana Desa
(Kem.DesaPDTT)
Pengawasan & Pembinaan
Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota (Kec/Insp)
SE KEMENDAGRI – APLIKASI KEU DESA
26
SIMDA DESA + Penambahan Fitur
Perencanaan => SISKEUDES
26
27
Surat KPK - SISKEUDES
SISKEUDES
PENGAWASAN FUNGSIONAL KEUANGAN DESA
28
DESA
INS. KAB/KOT
INSPEKTORAT
PROVINSI
Ban
Keu
Prov
Dana Desa, ADD, DBH, BanKeu
Ban
Keu
Prov
PADes,
Pendapatan
Lainnya
Ban.Keu/APBD Prov
Pengawalan BPKP
Pemeriksaan BPK-RI
UU 6/2014 Psl 115 huruf g
Perpres 192/2014
“Pengawalan Kebijakan Strategis”
+/+ Mengawasi Pemberian/Penyaluran Dana Desa, ADD &
DBH
(Permendagri 113/2014 Psl 44 ayat 1)
UU 15/2004: Pasal 2 Ayat 2
+/+ Membina dan Mengawasi Pelaksanaan
Pengelolaan Keuangan Desa
(Permendagri 113/2014 Psl 44 ayat 2)
TERIMA KASIH
Oleh :
Padlah Riyadi, MM. MH. M. Ak. Akt. CA. Asean
CPA. CISA., CFBE

0.3.SPI GCG PM.pdf

  • 1.
    SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL DANSPIP (contoh Hasil Survei Pelaksanaan Pelayanan Integritas SPI Kementrian)
  • 2.
    • Dalam teoriakuntansi dan organisasi, pengendalian internal didefinisikan sebagai suatu proses, yang dipengaruhi oleh sumber daya manusia dan sistem teknologi informasi, yang dirancang untuk membantu organisasi mencapai suatu tujuan atau objektif tertentu. Pengendalian internal merupakan suatu cara untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya suatu organisasi. Ia berperan penting untuk mencegah dan mendeteksi penggelapan (fraud) dan melindungi sumber daya organisasi baik yang berwujud (seperti mesin,lahan dan bangunan) maupun yang tidak berwujud (seperti reputasi atau hak kekayaan intelektual seperti merek dagang). • Sistem Pengendalian Intern : suatu proses, yang dilaksanakan secara terus menerus oleh dekom, direksi, manajemen dan staf pendukung dirancang untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable assurance), dalam pencapaian visi, misi, sasaran dan tujuan perusahaan.
  • 3.
    TUJUAN PENGENDALIAN INTERNAL& KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL Pengendalian internal merupakan tanggapan manajemen terhadap resiko yang diketahui. Dengan lain perkataan, pengendalian internal mencapai tujuan pengendalian (control objective) tertentu. Tujuan pengendalian internal secara garis besarnya dapat dibagi dalam empat kelompok sebagai berikut : 1.Tujuan strategis, dengan sasaran-sasaran utama mendukung misi entitas. 2.Tujuan pelaporan keuangan, agar laporan keuangan bebas dari salah saji material tepat waktu dan tepat guna. 3.Tujuan operasional, dimana pengendalian mengamnakan operasi entitas, yang dikenal sebagai operational contols. 4.Tujuan kepatuhan terhadap peraturan hukum dan ketentuan perundang-undangan, pengendalian internal yang relevan untuk suatu audit ialah pengendalian dengan tujuan pelaporan keuangan, khususnya yang berhubungan dengan tujuan entitas membuat laporan keuangan untuk keperluan eksternal.
  • 4.
    TUJUAN PENGENDALIAN INTERNAL& KOMPONEN PENGENDALIAN INTERNAL Komponen Pengendalian Internal Istilah “internal control” yang digunakan ISA 315 lebih luas dari kegiatan pengendalian (control activities) seperti pemisahan tugas (segregation of duties), proses otorisasi (authorization), dan rekonsiliasi saldo. Pengendalian internal dalam ISA 315 terdiri atas lima komponen, yaitu : 1. Control Envirotment (Lingkungan Pengendalian) 2. Risk Assessment (Penilaian Resiko) 3. Information System (Sistem Informasi) 4. Control Activities (Kegiatan Pengendalian) 5. Monitoring (Pemantauan)
  • 5.
    KOMPONEN DAN PRINSIPSPI 7. Identifikasi dan analisis risiko 11. Memilih dan mengembangkan pengendalian umum atas teknologi 14. Komunikasi internal Aktivitas Pemantauan 16. Melakukan evaluasi berkelanjutan dan / atau terpisah 17. Evaluasi dan komunikasi kelemahan / kekurangan pengendalian 13. Penggunaan informasi yang relevan 15. Komunikasi eksternal Informasi & Komunikasi 10. Memilih dan mengembangkan aktivitas pengendalian 12. Menerapkan aktivitas pengendalian melalui kebijakan dan prosedur Aktivitas Pengendalian 6. Menetapkan tujuan yang tepat 8. Penilaian risiko kecurangan 9. Identifikasi dan analisis perubahan yang signifikan Penilaian Risiko 1. Komitmen terhadap integritas dan nilai etika 2. Melaksanakan tanggung jawab pengawasan 3. Menetapkan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan 4. Memiliki komitmen terhadap kompetensi 5. Menegakkan akuntabilitas Lingkungan Pengendalian
  • 6.
    TUJUAN DITERAPKANNYA SPI TujuanKepatuhan • Patuh terhadap hukum dan perundang undangan yang berlaku Tujuan Pelaporan • Penyusunan laporan keuangan dan non keuangan untuk kebutuhan internal maupun eksternal, yang dapat dipercaya, tepat waktu, transparan sesuai dengan aturan yang disusun pihak regulator, penyusun standar dan kebijakanperusahaan. Tujuan Operasional • Efektifitas dan efisiensi operasi perusahaan, termasuk tujuan kinerja keuangan & operasional dan menjaga asset dari kerugian.
  • 7.
    Keterbatasan Internal Control PROSES MANAJEMEN TUJUAN IC 1.Prakondisi Pengendalian Intern 2. Kesalahan pertimbangan 3. Human Errors 4. Management Override 5. Kolusi KETERBATASAN SPI
  • 8.
    PIHAK YANG BERPERANDALAM SPI D E W A N K O M I S A R I S P E G A W A I ( G M / S M / M N J R / S T A F ) P I H A K E K S T E R N A L D I R E K S I I N T E R N A L A U D I T O R
  • 9.
    Ilustrasi………….. 25 Kami telah memilikiprosedur kerja yang standar dan secara berkala dievaluasi untuk memastikan dapat diterapkan di perusahaan dan efektif Kami telah memiliki prosedur kerja sebagai acuan bekerja sehari-hari Beberapa jenis pekerjaan atau unit tertentu karena rawan, maka telah kami kendalikan Meskipun tidak ada prosedur kerja, tetapi kami memiliki orang-orang yang mengawasi dan mengendalikan operasional Ditempat kami bekerja, tidak ada panduan bagaimana saya harus bekerja (masing-masing orang bekerja dengan caranya sendiri)
  • 10.
    DASAR HUKUM • PeraturanPemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah; • Peraturan Presiden Nomor 192 tahun 2014 tentang Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan; • Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2014 tentang Peningkatan Kualitas Sistem Pengendalian Intern dan Keandalan Penyelenggaraan Fungsi Pengawasan Intern dalam Rangka Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat;
  • 11.
    11 INPRES NO 9TAHUN 2014 TENTANG PENINGKATAN KUALITAS SPI DAN KEANDALAN PENYELENGGARAAN FUNGSI PENGAWASAN INTERN DALAM RANGKA MEWUJUDKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT KETIGA: Menugaskan Ka BPKP untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan penerimaan negara/daerah serta efisiensi dan efektivitas anggaran pengeluaran negara/daerah, meliputi: Audit dan evaluasi terhadap pengelolaan penerimaan pajak, bea dan cukai; pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Instansi Pemerintah, Badan Hukum lain, dan Wajib Bayar; pengelolaan Pendapatan Asli Daerah; pemanfaatan aset negara/daerah; program/kegiatan strategis di bidang kemaritiman, ketahanan energi, ketahanan pangan, infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan; pembiayaan pembangunan nasional/daerah; evaluasi terhadap penerapan sistem pengendalian intern dan sistem pengendalian kecurangan yang dapat mencegah, mendeteksi, dan menangkal korupsi; audit investigatif terhadap penyimpangan yang berindikasi merugikan keuangan negara/daerah untuk memberikan dampak pencegahan yang efektif; audit dalam rangka penghitungan kerugian keuangan negara/daerah dan pemberian keterangan ahli sesuai dengan peraturan perundangan. Instruksi kepada: Para Menteri Kabinet Kerja, Sekkab, Kapolri, Jagung, Panglima TNI, Ka LPNK, Pimpinan Set Lem Neg, Para Gubernur, Para Bupati/Walikota PERTAMA: Mempercepat efektivitas penerapan sistem pengendalian intern pemerintah dalam pengelolaan keuangan negara/daerah dan pembangunan nasional sesuai lingkup tugas dan fungsi masing-masing KEDUA: Mengintensifkan peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah di lingkungan masing-masing dalam rangka meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan negara/daerah dan pembangunan nasional serta meningkatkan upaya pencegahan korupsi KEEMPAT: Bersinergi, berkoordinasi, dan memberikan akses kepada Kepala BPKP untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada diktum KETIGA.
  • 12.
    PERMASALAHAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGANNEGARA 1. RPJMN Blm Menjadi Dasar Penyusunan Renstra, RKT & Tapkin 2. Indikator Kinerja belum Terukur; 3. Pedoman Evaluasi belum Dibuat, dll 1. Penganggaran tdk sesuai ketentuan 2. Penyerapan Anggaran Rendah 3. Msh ada catatan dlm Opini 4. Pajak/PNBP terlambat/tdk disetor/dipakai 5. Pengelolaan aktiva tetap belum memadai 6. Pengadaan Barang/Jasa belum sesuai ketentuan 7. Pengeluaran fiktif, dll Akuntabilitas Keuangan Akuntabilitas Kinerja Permasalahan Penguatan SPIP: • Komitmen • Manajemen Aset Tertib • Identifikasi Risiko PBJ • Peningkatan SDM Keuangan dan PBJ Upaya-Upaya Public Trust Meningkat Akunta-bilitas Keuangan Negara Permasalahan
  • 13.
    SPIP Pemantauan Pengendalian Intern Informasi & Komunikasi KegiatanPengendalian Penilaian Risiko Lingkungan Pengendalian Identifikasi Risiko Sarana Komunikasi Manajemen Sistem Informasi Pemantauan Berkelanjutan Evaluasi Terpisah Tindak Lanjut Pembinaan Sumber Daya Manusia Pengendalian Pengelolaan Sistem Informasi Pengendalian Fisik atas Aset Penetapan & Reviu Indikator & Ukuran Kinerja Pemisahan Fungsi Otorisasi Transaksi dan Kejadian Penting Pencatatan yang Akurat dan Tepat Waktu Pembatasan Akses atas Sumber Daya Akuntabilitas terhadap Sumber Daya Reviu atas Kinerja Instansi Pemerintah Dokumentasi atas Sistem Pengendalian Intern Kebijakan yang Sehat tentang Pembinaan SDM Pendelegasian Wewenang dan Tanggung Jawab Struktur Organisasi yang Sesuai Kebutuhan Kepemimpinan yang Kondusif Komitmen terhadap Kompetensi Penegakan Integritas dan Etika Peran APIP yang Efektif Hubungan Kerja yang Baik Ps. 4 Ps. 13 Ps. 18 Ps. 41 Ps. 43 Analisis Risiko
  • 14.
    PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA Peru-musan Kebijakan Perenca- naan Pengang- garan Pelaksa- naan Anggaran Panata- usahaan Pelapo- ran Moni- toring dan Evaluasi AKUNTABILITAS KEUANGAN AKUNTABILITAS KINERJA WILAYAHTERTIB ADMINISTRASI WTA WAJAR TANPA PENGECUALIAN WILAYAH BEBAS KORUPSI WTP WBK GOOD GOVERNANCE & CLEAN GOVERNMENT SPIP yang Efektif pada Seluruh Tahapan Proses Manajemen/ Pengelolaan Keuangan Negara/Daerah Peran APIP yang Optimal (Consulting & Assurance)
  • 15.
    15 Analisis Tujuan Perumusan Lingkungan Pengendalian yang Diharapkan Analisa Risiko Evaluasi Pengendalian Terpasang Monitoring dan EvaluasiHasil Revisi Pengomunikasian Revisi Pengendalian Revisi atas Kebijakan dan Prosedur Rencana Tindak Pengendalian Intern Proses SPIP
  • 16.
    SISTEM PENGENDALIAN INTERNSBG CULTURE Menjaring SDM yang capable dan berintegritas (1) Budaya pengendalian intern melalui awareness terhadap risiko (2) Meningkatkan kualitas proses pengawasan (3) Pembinaan penyelenggara-an SPI (4) 16 MEMBUDAYAKAN SPI SPI SEBAGAI CULTURE Membentuk built in control atau pengawasan by system SPI bekerja secara otomatis melakukan fungsi pengawasan Kondisi tersebut dipertahankan sehingga tercipta “Internal control culture”, sehingga SPI menjadi bagian dari budaya
  • 17.
    KARAKTERISTIK LEVEL MATURITASSPIP Belum memiliki kebijakan dan prosedur Level 0 Belum Ada Level 1 Rintisan Level 5 Optimum Menerapkan pengendalian intern yang berkelanjutan, terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan. Pemantauan otomatis menggunakan aplikasi komputer Level 4 Terkelola & Terukur Ada praktik pengendalian internal yang efektif. Evaluasi formal dan terdokumentasi. Level 3 Terdefinisi Ada praktik pengendalian intern yg terdokumentasi dengan baik. Evaluasi atas pengendalian intern dilakukan tanpa dokumentasi yang memadai. Level 2 Berkembang Ada praktik pengendalian intern tapi tidak terdokumentasi dengan baik. Pelaksanaan tergantung pada individu dan belum melibatkan semua unit organisasi. Efektivitas pengendalian belum dievaluasi Ada praktik pengendalian intern – ada kebijakan dan prosedur tertulis, namun masih bersifat ad-hoc dan tidak terorganisasi dengan baik. Tanpa komunikasi dan pemantauan Target 2019 Target 2024
  • 18.
    STRATEGI PENINGKATAN MATURITASSPIP •Belum memiliki kebijakan dan prosedur LEVEL 0 – Belum ada •Ada praktik pengendalian intern – ada kebijakan dan prosedur tertulis •Namun masih bersifat ad-hoc dan tidak terorganisasi dengan baik, •Tanpa komunikasi dan pemantauan LEVEL 1 -Rintisan •Ada praktik pengendalian intern,. •Tidak terdokumentasi dengan baik •Pelaksanaan tergantung pada individu dan belum melibatkan semua unit organisasi. •Efektivitas pengendalian belum dievaluasi LEVEL 2 - Berkembang •Ada praktik pengendalian intern •Terdokumentasi dengan baik. •Evaluasi atas pengendalian intern dilakukan tanpa dokumentasi yang memadai. LEVEL 3 - Terdefinisi •Ada praktik pengendalian internal yang efektif, •Evaluasi formal, berkala dan terdokumentasi. LEVEL 4 – Terkelola dan Terukur •Menerapkan pengendalian intern yang berkelanjutan, terintegrasi dalam pelaksanaan kegiatan •Pemantauan otomatis menggunakan aplikasi komputer LEVEL 5 - Optimum (+) Kebijakan dan Prosedur Tertulis (+) Pengkomunikasian Kebijakan dan Prosedur (+) Implementasi kebijakan dan prosedur (+) dokumentasi (+) Evaluasi formal , berkala dan terdokumentasi (+ )Pemantauan/ pengembangan berkelanjutan (+) Vertikal: Unsur-unsur terpenuhi (+) Horisontal: Jml unit kerja ber-SPIP bertambah
  • 19.
    Grand design PENINGKATAN MATURITASSPIP Penyiapan Perangkat Kebijakan Menyusun Grand Design Peningkatan Maturitas Penyelenggaraan SPIP Kesadaran dan komitmen instansi pemerintah •Membentuk tim kerja •Mengalokasikan sumber daya yang diperlukan Self Assessment •Mengacu kepada Pedoman Penilaian dan Peningkatan Maturitas SPIP •Self Assessment oleh K/L/P •Mengetahui Area of Improvement Quality Assurance oleh BPKP •Mengetahui kecukupan penyelenggaraan SPIP (dari level maturitas) •Gambaran umum permasalahan dan hambatan •Meyakinkan pemenuhan bukti dan membantu tindakan perbaikan Self Improvement •Rencana tindak perbaikan terhadap Area of Improvement •Berkesinambungan dan ada Komitmen yang kuat •Pemantauan oleh Pimpinan K/L/P •Peran BPKP: penyediaan panduan, konsultansi, asistensi,help desk Pengembangan Berkelanjutan Pengembangan SPIP berkelanjutan Pemantauan dan evaluasi secara berkala oleh Pimpinan K/L/P
  • 20.
    Tujuan RB padaArea Pengawasan: Terwujudnya pemerintahan yg bersih, bebas dari KKN APIP melakukan Peran yang Efektif (Psl 11, 59 PP 60 Th 2008) APIP perlu meningkatkan kualitas hasil audit intern dan meningkatkan kapabilitas organisasinya KEBUTUHAN PENINGKATKAN LEVEL KAPABILITAS APIP Semua Instansi Pemerintah berbenah diri melakukan RB & SPIP Pemerintahan Berkelas Dunia (World Class) Visi RB (Perpres 81 Tahun 2010) Untuk mempercepat tercapainya tata kelola pemerintahan yang baik Grand Design Peningkatan Kapabilitas APIP Mengintensifkan peran APIP untuk meningkatkan kualitas, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara/daerah dan pembangunan nasional serta meningkatkan upaya pencegahan korupsi (Inpres 9 Tahun 2014) 1 2 First & Second Lines of Defense Third Line of Defense
  • 21.
    LEVEL 5 Optimizing LEVEL 4 Managed LEVEL3 Integrated LEVEL 2 Infrastructure LEVEL 1 Initial APIP menjadi agen perubahan APIP mampu memberikan assurance secara keseluruhan atas tata kelola, manajemen risiko dan pengendalian intern APIP mampu menilai efisiensi, efektivitas, ekonomis suatu kegiatan dan mampu memberikan konsultasi pada tata kelola, manajemen risiko dan pengendalian intern APIP mampu memberikan keyakinan yang memadai proses sesuai dengan peraturan,mampu mendeteksi terjadinya korupsi APIP belum dapat memberikan jaminan atas proses tata kelola sesuai peraturan dan mencegah korupsi TINGKATAN OUTCOME LEVEL APIP APIP yang efektif (Ps. 11 PP 60)
  • 22.
    Penyediaan Grand DesignPeningkatan Kapabilitas APIP Peningkatan kesadaran untuk memiliki tingkat kapabilitas berkelas dunia Penilaian secara mandiri (self assessment) oleh APIP kapabilitas APIP sesuai kriteria internasional (IACM) – Internal Audit Capability Model Proses penjaminan kualitas (quality assurance) oleh BPKP Peningkatan secara mandiri (self improvement) kapabilitas APIP oleh APIP Peningkatan kompetensi SDM APIP melalui e-Learning oleh BPKP STRATEGI PENINGKATAN KAPABILITAS APIP
  • 23.
    PENGAWALAN IMPLEMENTASI PENGELOLAAN KEUANGAN DESA Oleh: Padlah Riyadi, MM. MH. M. Ak. Akt. CA. Asean CPA. CISA., CFBE
  • 25.
    LINGK. STRATEGIS UU 6/2014 UU 23/2014 PP43/2014 PP 60/2014 PP 60/2008 PMK Alokasi DD Perka LKPP 13/2013 Permendagri 113/2014 114/2014 Permen.DesaPDTT 1/2015 3/2015 PENGAWALAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN DESA TITIK KRITIS Koordinasi Kementerian, Alokasi, SDM, Kebijakan, Sarana/Prasarana, SPIP DESA Pemerintah Pusat Kemenku Kemendagri KDPDTT Provinsi Kab/Kota RPJMN/ RKP RPJMD/ RKPD DESA Sejahtera Kepala Desa Belanja Desa 70% 30% Pemb. & pemberdayaan Masy. Desa Penghasilan Tetap / Operasional Bel. Pegawai Bel. Barang Bel. Modal Pembiayaan Desa Pendapatan Desa: PADes, Transfer, Lainnya Perangkat Desa BPD Lembaga Kemasy. Desa Laporan ke Bup/Wali: - LRA Semesteran dan Tahunan - LPJ Realisasi APB Des (Tahunan) - LPPDesa tahunan (LRA, LPJ, Lap.KMD) dan LPPDesa akhir Masa Jabatan - Lap. Dana Desa per Semester Laporan ke BPD - Lap. Keterangan Penyelenggaran Pem. Desa terdiri dari LRA Desa & Lap. Kekayaan Milik Desa (Tahunan) RPJM Desa/ RKP Desa APB DESA PENGELOLAAN KEUANGAN DESA Dana Desa (melalui APBD Kab/Kot) Ban.Keu ADD Dana Bagi Hasil Pajak/Ret Prioritas Penggunaan Dana Desa (Kem.DesaPDTT) Pengawasan & Pembinaan Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota (Kec/Insp)
  • 26.
    SE KEMENDAGRI –APLIKASI KEU DESA 26 SIMDA DESA + Penambahan Fitur Perencanaan => SISKEUDES 26
  • 27.
    27 Surat KPK -SISKEUDES SISKEUDES
  • 28.
    PENGAWASAN FUNGSIONAL KEUANGANDESA 28 DESA INS. KAB/KOT INSPEKTORAT PROVINSI Ban Keu Prov Dana Desa, ADD, DBH, BanKeu Ban Keu Prov PADes, Pendapatan Lainnya Ban.Keu/APBD Prov Pengawalan BPKP Pemeriksaan BPK-RI UU 6/2014 Psl 115 huruf g Perpres 192/2014 “Pengawalan Kebijakan Strategis” +/+ Mengawasi Pemberian/Penyaluran Dana Desa, ADD & DBH (Permendagri 113/2014 Psl 44 ayat 1) UU 15/2004: Pasal 2 Ayat 2 +/+ Membina dan Mengawasi Pelaksanaan Pengelolaan Keuangan Desa (Permendagri 113/2014 Psl 44 ayat 2)
  • 45.
    TERIMA KASIH Oleh : PadlahRiyadi, MM. MH. M. Ak. Akt. CA. Asean CPA. CISA., CFBE