Pendidikan Seksualitas Berbasis Sekolah
Azimatul Karimah
Konas 2 Psikoseksual dan Marital
Hotel Harris, Malang, 20 Maret 2017
Latar belakang
• 5 % remaja melakukan aktivitas seksual
Riskesdas
(2010)
• > 32% remaja pernah melakukan hubungan
seksual
KPAI
(2012)
• 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan
hubungan seks di luar nikah.
KPAI
(2013)
• 20% dari 94.270 perempuan  hamil di luar
nikah berasal dari usia remaja
• 21% diantaranya pernah melakukan aborsi.
• Pada 10.203 kasus HIV 30% penderitanya
berusia remaja
Persada
(2014)
Mengapa Isu Seksualitas Harus Dibahas?
Distribusi remaja menurut usia pertama kali pacaran, tahun 2012
Apakah Tidak Terlalu Dini?
Presentase seks pra nikah pada remaja, tahun 2007 dan 2012.
Sumber Infodatin
Apakah Selama Ini Remaja
Membicarakan Tentang Seks?
(Kiri) Presentase teman diskusi
kesehatan reproduksi remaja usia
15-19 tahun di Indonesia tahun
2013
(Kanan) Prosentase sumber
informasi kesehatan reproduksi
yang disukai remaja di
Indonesia tahun 2013.
Bagaimana Peran Orang Tua?
• Idealnya orang tua yang menyampaikan pendidikan
seksualitas
• Orang tua kurang mampu mengkomunikasikan
• Orang tua menggunakan pendekatan moral Nasehat
• Nyatanya…. Perilaku seksual pra nikah makin tinggi
Remaja perlu informasi mengenai seksualitas agar
mereka merasa bertanggung jawab untuk
menjaganya.
(Pardini, 2004)
Pendidikan Seksualitas
• “sebuah pendekatan yang relevan terhadap umur dan
budaya akan pengajaran seks serta keterkaitannya
dengan menyediakan informasi yang ilmiah, akurat,
realistik dan tidak menghakimi.
• Pendidikan seksualitas membuka peluang seseorang untuk
mengekplorasi tata nilai serta perilakunya serta
membangun ketrampilan membuat keputusan (decision
making), komunikasi dan ketrampilan mengurangi resiko
terhadap segala aspek seksualitas.”
(UNESCO, International Technical Guidance on Sexuality Education, 2009)
Tantangan Pendidikan Seksual
• False belief “Mendorong siswa melakukan perilaku seksual??”
• Tabu?
• Dari 9 penelitian intervensi program pendidikan seks di
sekolah  mampu menurunkan 34% remaja yang melakukan
perilaku seksual aktif dibandingkan grup yang tidak mengikuti
program ini.
• Lima penelitian terhadap remaja yang mendapatkan
pendidikan seks menunjukkan adanya penurunan jumlah
remaja yang melakukan perilaku seksual aktif pada kelas 6
dan kelas 7 dibandingkan dengan grup non intervensi
(USAID, 2013).
Pardini, 2004
Tantangan Pendidikan Seksual
di beberapa Negara
• Sensitivitas topik seksualitas  konsekuensi terhadap
metode, pendekatan program, karakter pembelajaran
(komprehensif atau hanya abstinen saja) dan cakupan 
pembiayaan + dampak yang bisa dicapai.
• India dan Estonia  pendidikan seksualitas komprehensif,
terintegrasi
• Nigeria tidak komprehensif  perilaku seksual aktual serta
perilaku preventif termasuk penggunaan kontrasepsi dan
kondom harus dihilangkan.
• Kenya dan Indonesia dimulai oleh LSM, karena adanya
resistensi dari pemerintahan  ektrakurikuler, sukarela dan
terbatas cakupannya
(UNESCO, 2011).
Kurikulum Pendidikan Seksual di Sekolah
Sejak usia dini
• Sejak kecil  belajar siapa yang berhak
menyentuh mereka.
• Ketika mereka disentuh pada bagian yang
mereka tidak kehendaki  harus
menceritakan hal demikian pada
seseorang.
• Harus dilakukan secara berulang.
Pardini, 2004
Kurikulum Pendidikan Seksual di Sekolah (2)
• Anak yang lebih besar belajar mengenai perubahan
biologis & seksualitas
• Remaja di sekolah menengah  belajar untuk punya rasa
tanggung jawab dan punya paham kesetaraan antara laki-laki
dan perempuan dalam menjaga kesehatan seksualitasnya
Pardini, 2004
Kurikulum Pendidikan Seksualitas
(UNESCO, 2011)
1. Sistem reproduksi dan kehamilan
2. Hak seksual dan hak reproduksi (keperawanan/virginitas dan
kesetaraan gender)
3. Perilaku seksual
4. Kontrasepsi
5. Penyakit menular seksual
6. HIV dan Intervensi preventif HIV (termasuk VCT, sosialisasi
penggunaan kondom)
Kurikulum Long Life Love (LLL)
• Di Belanda sejak tahun 1999
• Sekolah menengah dan sekolah kejuruan
• Program pendidikan seksual dan pendidikan relasi
(intrakurikuler)
• Melatih para guru terutama guru biologi (26x tatap muka)
• Media pembelajaran : buku manual, majalah untuk siswa+DVD
• Tujuan utama kurikulum ini adalah mencegah penularan
PMS/HIV dan KTD
(Schutte, 2014; http://www.langlevedeliefde.nl/extra-module/long-live-love/ ).
Panduan Pendidikan Seksualitas dan
Relasi
Perilaku dan tata nilai
• mempelajari pentingnya tata nilai dan kesadaran individu
termasuk pertimbangan moral
• mempelajari nilai kehidupan berkeluarga, perkawinan dan
relasi yang stabil dan saling mencintai untuk membesarkan
anak
• mempelajari nilai sebuah rasa hormat, cinta dan kepedulian
• menggali, mempertimbangkan dan memahami dilema moral
• Mengembangkan pemikiran kritis  membuat keputusan
Department for Education and Employment, UK, 2000
Ketrampilan personal dan ketrampilan sosial
• Mengelola emosi dan sebuah hubungan dengan percaya diri dan sensitif
• Mengembangkan rasa hormat pada diri sendiri dan empati pada orang lain
• Mempelajari cara membuat pilihan dan konsekuensi sebuah pilihan
• Mengelola konflik
• Mengenali dan menghindari eksploitasi dan pelecehan
Pengetahuan dan pemahaman
• Memahami perkembangan fisik serta tahapannya
• Memahami seksualitas manusia, reproduksi, kesehatan seksual, emosi dan
relasi
• Mempelajari kontrasepsi dan kebijakan-kebijakan loka maupun nasional
mengenai kesehatan seksual, layanan kontrasepsi dan dukungannya
• Mempelajari alasan menunda aktivitas seksual dan manfaatnya
• Menghindari KTD
Panduan Pendidikan Seksualitas dan
Relasi
Department for Education and Employment, UK, 2000
Bagaimana peran Psikiater?
• Sebagai edukator > klinisi
– Menyampaikan isu seksual secara biologis
– Pemahaman ilmu perkembangan membantu
penyampaian dari sudut pandang psikososial.
• Sebagai konsultan program terkait pendidikan seksualitas
– ketrampilan bekerja di komunitas khususnya di sekolah
– Kerjasama antara guru dan konsultan
(Myerr dan Wyatt, 1979)
Simpulan
• Pendidikan seksualitas itu perlu
• Pendidikan seksualitas tidak melulu tentang seks (biologi) tapi
juga nilai-nilai keluarga, kehidupan serta moral
• Pendidikan seksualitas bisa diajarkan sejak dini
• Yang terbaik : NO SEX before marriage !!!
Azimatul Karimah
 azimatul.karimah@fk.unair.ac.id, uci.nugroho@gmail.com
 +62-81-55-44444-06
Uci Nugroho

Pendidikan seksualitas berbasis sekolah

  • 1.
    Pendidikan Seksualitas BerbasisSekolah Azimatul Karimah Konas 2 Psikoseksual dan Marital Hotel Harris, Malang, 20 Maret 2017
  • 4.
    Latar belakang • 5% remaja melakukan aktivitas seksual Riskesdas (2010) • > 32% remaja pernah melakukan hubungan seksual KPAI (2012) • 62,7% remaja di Indonesia telah melakukan hubungan seks di luar nikah. KPAI (2013) • 20% dari 94.270 perempuan  hamil di luar nikah berasal dari usia remaja • 21% diantaranya pernah melakukan aborsi. • Pada 10.203 kasus HIV 30% penderitanya berusia remaja Persada (2014)
  • 5.
    Mengapa Isu SeksualitasHarus Dibahas? Distribusi remaja menurut usia pertama kali pacaran, tahun 2012
  • 6.
    Apakah Tidak TerlaluDini? Presentase seks pra nikah pada remaja, tahun 2007 dan 2012. Sumber Infodatin
  • 7.
    Apakah Selama IniRemaja Membicarakan Tentang Seks? (Kiri) Presentase teman diskusi kesehatan reproduksi remaja usia 15-19 tahun di Indonesia tahun 2013 (Kanan) Prosentase sumber informasi kesehatan reproduksi yang disukai remaja di Indonesia tahun 2013.
  • 8.
    Bagaimana Peran OrangTua? • Idealnya orang tua yang menyampaikan pendidikan seksualitas • Orang tua kurang mampu mengkomunikasikan • Orang tua menggunakan pendekatan moral Nasehat • Nyatanya…. Perilaku seksual pra nikah makin tinggi Remaja perlu informasi mengenai seksualitas agar mereka merasa bertanggung jawab untuk menjaganya. (Pardini, 2004)
  • 9.
    Pendidikan Seksualitas • “sebuahpendekatan yang relevan terhadap umur dan budaya akan pengajaran seks serta keterkaitannya dengan menyediakan informasi yang ilmiah, akurat, realistik dan tidak menghakimi. • Pendidikan seksualitas membuka peluang seseorang untuk mengekplorasi tata nilai serta perilakunya serta membangun ketrampilan membuat keputusan (decision making), komunikasi dan ketrampilan mengurangi resiko terhadap segala aspek seksualitas.” (UNESCO, International Technical Guidance on Sexuality Education, 2009)
  • 10.
    Tantangan Pendidikan Seksual •False belief “Mendorong siswa melakukan perilaku seksual??” • Tabu? • Dari 9 penelitian intervensi program pendidikan seks di sekolah  mampu menurunkan 34% remaja yang melakukan perilaku seksual aktif dibandingkan grup yang tidak mengikuti program ini. • Lima penelitian terhadap remaja yang mendapatkan pendidikan seks menunjukkan adanya penurunan jumlah remaja yang melakukan perilaku seksual aktif pada kelas 6 dan kelas 7 dibandingkan dengan grup non intervensi (USAID, 2013). Pardini, 2004
  • 11.
    Tantangan Pendidikan Seksual dibeberapa Negara • Sensitivitas topik seksualitas  konsekuensi terhadap metode, pendekatan program, karakter pembelajaran (komprehensif atau hanya abstinen saja) dan cakupan  pembiayaan + dampak yang bisa dicapai. • India dan Estonia  pendidikan seksualitas komprehensif, terintegrasi • Nigeria tidak komprehensif  perilaku seksual aktual serta perilaku preventif termasuk penggunaan kontrasepsi dan kondom harus dihilangkan. • Kenya dan Indonesia dimulai oleh LSM, karena adanya resistensi dari pemerintahan  ektrakurikuler, sukarela dan terbatas cakupannya (UNESCO, 2011).
  • 12.
    Kurikulum Pendidikan Seksualdi Sekolah Sejak usia dini • Sejak kecil  belajar siapa yang berhak menyentuh mereka. • Ketika mereka disentuh pada bagian yang mereka tidak kehendaki  harus menceritakan hal demikian pada seseorang. • Harus dilakukan secara berulang. Pardini, 2004
  • 13.
    Kurikulum Pendidikan Seksualdi Sekolah (2) • Anak yang lebih besar belajar mengenai perubahan biologis & seksualitas • Remaja di sekolah menengah  belajar untuk punya rasa tanggung jawab dan punya paham kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam menjaga kesehatan seksualitasnya Pardini, 2004
  • 14.
    Kurikulum Pendidikan Seksualitas (UNESCO,2011) 1. Sistem reproduksi dan kehamilan 2. Hak seksual dan hak reproduksi (keperawanan/virginitas dan kesetaraan gender) 3. Perilaku seksual 4. Kontrasepsi 5. Penyakit menular seksual 6. HIV dan Intervensi preventif HIV (termasuk VCT, sosialisasi penggunaan kondom)
  • 15.
    Kurikulum Long LifeLove (LLL) • Di Belanda sejak tahun 1999 • Sekolah menengah dan sekolah kejuruan • Program pendidikan seksual dan pendidikan relasi (intrakurikuler) • Melatih para guru terutama guru biologi (26x tatap muka) • Media pembelajaran : buku manual, majalah untuk siswa+DVD • Tujuan utama kurikulum ini adalah mencegah penularan PMS/HIV dan KTD (Schutte, 2014; http://www.langlevedeliefde.nl/extra-module/long-live-love/ ).
  • 16.
    Panduan Pendidikan Seksualitasdan Relasi Perilaku dan tata nilai • mempelajari pentingnya tata nilai dan kesadaran individu termasuk pertimbangan moral • mempelajari nilai kehidupan berkeluarga, perkawinan dan relasi yang stabil dan saling mencintai untuk membesarkan anak • mempelajari nilai sebuah rasa hormat, cinta dan kepedulian • menggali, mempertimbangkan dan memahami dilema moral • Mengembangkan pemikiran kritis  membuat keputusan Department for Education and Employment, UK, 2000
  • 17.
    Ketrampilan personal danketrampilan sosial • Mengelola emosi dan sebuah hubungan dengan percaya diri dan sensitif • Mengembangkan rasa hormat pada diri sendiri dan empati pada orang lain • Mempelajari cara membuat pilihan dan konsekuensi sebuah pilihan • Mengelola konflik • Mengenali dan menghindari eksploitasi dan pelecehan Pengetahuan dan pemahaman • Memahami perkembangan fisik serta tahapannya • Memahami seksualitas manusia, reproduksi, kesehatan seksual, emosi dan relasi • Mempelajari kontrasepsi dan kebijakan-kebijakan loka maupun nasional mengenai kesehatan seksual, layanan kontrasepsi dan dukungannya • Mempelajari alasan menunda aktivitas seksual dan manfaatnya • Menghindari KTD Panduan Pendidikan Seksualitas dan Relasi Department for Education and Employment, UK, 2000
  • 18.
    Bagaimana peran Psikiater? •Sebagai edukator > klinisi – Menyampaikan isu seksual secara biologis – Pemahaman ilmu perkembangan membantu penyampaian dari sudut pandang psikososial. • Sebagai konsultan program terkait pendidikan seksualitas – ketrampilan bekerja di komunitas khususnya di sekolah – Kerjasama antara guru dan konsultan (Myerr dan Wyatt, 1979)
  • 19.
    Simpulan • Pendidikan seksualitasitu perlu • Pendidikan seksualitas tidak melulu tentang seks (biologi) tapi juga nilai-nilai keluarga, kehidupan serta moral • Pendidikan seksualitas bisa diajarkan sejak dini • Yang terbaik : NO SEX before marriage !!!
  • 20.
    Azimatul Karimah  azimatul.karimah@fk.unair.ac.id,uci.nugroho@gmail.com  +62-81-55-44444-06 Uci Nugroho