Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

10. chapter iii

595 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

10. chapter iii

  1. 1. BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi dan Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah SDN 1 Balandongan yang beralamat di Jl. Parakansalak Km. 6 Kec. Parakansalak Kabupaten Sukabumi. Sekolah Dasar Negeri 1 Balandongan adalah sekolah yang telah berdiri sejak tahun 1974 yang pada awalnya merupakan salah satu SD Inpres. Sekolah ini sangat strategis terletak dipusat pedesaan sehingga sekolah ini sangat strategi karena tidak jauh dari rumah penduduk dan memberikan kemudahan bagi para peserta didik untuk pergi bersekolah. Jumlah siswa secara keselurahan pada tahun ajaran 2014/2015 adalah 256 yang terbagi kedalam 6 (enam) rombongan belajar sedangkan jumlah gurunya sebanyak 9 yang terdiri dari 6 guru PNS dan 3 guru Non PNS. Luas tanah bangunan SDN 1 Balandongan secara keseluruhan 554 M2 . 2. Subjek Penelitian Adapun yang menjadi subjek penelitian yang dipilih adalah semua siswa kelas V yang aktif dan terdaftar pada semester genap tahun ajaran 2014/2015 dengan jumlah siswa sebanyak 51 siswa, yang teridiri dari 28 orang peremuan dan 23 orang laki-laki. Waktu yang diperlukan peneliti untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas ini adalah 3 bulan terhitung dari 06 April sampai dengan 06 Juni 2015.Tindakan Siklus I dan II dilaksanakan pada tanggal21 dan 29 April2015. 37
  2. 2. 2 B. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action reseach) yang bertujuan untuk mengadakan perbaikan atau meningkatkan praktek- praktek pembelajaran di kelas yang seharusnya dilakukan oleh guru dalam materi/bahan pelajaran. Desain atau model penelitian tindakan kelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah model yang dikembankan oleh Stephen Kemmis dan Robbin Mc Taggart (Ekawarna,2013:20), mengemukakan bahwa ‘Penelitian tindakan dapat dipandang sebagai suatu siklus spiral dari penyusunan perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi. Alur penelitian adaptasi Model Kemmis & Taggart dapat disajikan pada bagan berikut : Bagan3.1 Model Action Research Adaptasi Kemmis & Taggart (Sumber : Ekawarna Hal. 20) Identifikasi Masalah SIKLUS 1 Menyusun Rencana (planning) Tindakan 1 Pelaksanaan Pembelajaran (action) Pengamatan / Pengumpulan Data I (observation) Refleksi Tindakan Analisis Temuan (reflection) SIKLUS 2 Menyusun Rencana Ulang (revised plan) Tindakan 2 Pelaksanaan Pembelajaran (action) Pengamatan / Pengumpulan Data II (observation) Refleksi Tindakan Analisis Temuan (reflection) TUJUAN PEMBELAJARAN TERCAPAI SESUAI TARGET
  3. 3. 3 Dalam pelaksanaannya penilitian secara rinci terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: 1. Perencanaan Dalam penelitian tindakan kelas tahapan yang pertama perencanaan, padatahapan ini peneliti harus mempersiapkan beberapa hal diantaranya rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), instrumen penelitian, media pembelajaran, bahan ajar, dan aspek-aspek lain yang sekiranya diperlukan. 2. Pelaksanaan Tahap pelaksanaan adalah kegiatan menerapkan perencanaan yang telah dibuat, peneliti harus mentaati apa yang telah dirumuskan pada tahap perencanaan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan apa yang diharapkan. 3. Observasi
  4. 4. 4 Dalam tahap observasi yang melakukannya adalah pengamat, kegiatan ini berlangsung bersamaan dengan kegiatan pelaksanaan. Tahapan ini adalah mengamati bagaimana proses pelaksanaan berlangsung, serta mengetahui dampakapakah yang dihasilkan dari proses pelaksanaan. 4. Refleksi Tahapan refleksi ini adalah tahapan kita dapat mengetahui kelemahan apa saja yang terjadi dari proses pelaksanaan, hingga akhirnya dapat diperbaiki pada siklus selanjutnya, apabila proses siklus sudah selesai maka tahapan ini bisa dijadikan tahapan untuk menarik kesimpulan dari keseluruhan kegiatan. C. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian tindakan kelas (Class Action Research).PTK diperkenalkan oleh ahli psikologi soial Amerika yang bernama Kurt Lewin, menurut pendapatnya (Kunandar, 2008:42) mengemukan bahwa ‘penelitian tindakan kelas suatu rangkaian langkah yang teridiri atas empat tahap, yakni perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi’. Arikunto (Ekawarna, 2013:5) bahwa ‘PTK merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan pembelajaran berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersamaan’. Sedangkan menurut John Elliot (Elfanani, 2012:12) yang dimaksud dengan penelitian tindakan kelas ialah: Kajian tentang situasi social dengan maksud untuk meningkatkan kualitas tindakan didalamnya’.Seluruh prosesnya, telaah, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan pengaruh menciptakan
  5. 5. 5 hubungan yang diperlukanan antara evaluasi diri dari perkembangan professional. Pendapat yang hampir senada dikemukakan oleh Kemmis dan Mc Taggart (Elfanani, 2012:12) yang mengatakan bahwa : PTK adalah suatu bentuk refleksi diri kolektif yang dilakukan oleh peserta-pesertanya dalam situasi sosial untuk meningkatkan penalaran dan keadilan praktik-praktik itu dan terhadap situasi tempat dilakukan praktik-praktik tersebut. Penelitian ini berbasis kolaboratif, sehingga dalam pelaksanaannya penelitian dilakukan melalui kerja sama dengan guru wali kelas V SDN 1 Balandongan. Peneliti berperan sebagai guru untuk melakukan tindakan pembelajaran sesuai perencanaan tindakan yang dibuat. Penelitian tindakan kelas memiliki tujuan seperti yang telah ungkapkan oleh Ekawarna (2013:13) yaitu sebagai berikut: 1. Memperbaiki dan meningkatkan mutu praktik pembelajaran yang dilaksanakan guru demi tercapianya tujuan pembelajaran yang bermutu. 2. Memperbaiki dan meningkatkan kinerja-kinerja pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. 3. Mengidentifikasi, menemukan solusi, dan mengatasi masalah pembelajaran yang dikelas agar pembelajaran bermutu. 4. Meningkatkan dan memperkuat kemampuan guru dalam memecahkan masalah-masalah pembelajaran dan membuat keputusan yang tepat bagi siswa dan kelas yang diajarnya. 5. Mengeksplorasi dan membuahkan kreasi-kreasi dan inovasi-inovasi pembelajaran (misalnya, pendekatan, metode, strategi, dan media) yang dapat dilakukan oleh guru demi peningkatan mutu proses dan hasil pembelajaran. 6. Mengeksplorasi pembelajaran yang selalu berwawasan atau berbasis penelitian agar pembelajaran dapat bertumpu pada realitas empiris kelas, bukan semata-mata bertumpu pada kesan atau asumsi. Prosedur penelitian yang dilaksanakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah dalam bentuk pengkajian siklus yang terdiri dari empat tahap,
  6. 6. 6 yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Rencana pelaksanaannya terdiri dari dua siklus dan akan dilakukan sesuai dengan perubahan yang akan dicapai pada setiap siklusnya. Langkah-langkah yang peneliti laksanakan sebagai berikut : 1. Perencanaan Sebelum melakukan tindakan, peneliti terlebih dahulu melakukan perencanan. Kegiatan yang dilakukan selama tahap perencanaan diantaranya adalah meminta izin penelitian kepada pihak sekolah, melakukan observasi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung sebelumnya, mengkaji data hasil nilai mata pelajaran IPA khususnya pembelajaran sifat-sifat cahaya pada tahun pelajaran sebelumnya dan melakukan refleksi dari hasil observasi awal. 2. Pelaksanaan tindakan Pelaksanaan tindakan dilakukan langsung oleh penulis sebagai peneliti sekaligus mempraktikan tindakan dalam pembelajaran di kelas. Pelaksanaan dilakukan pada bulan April 2015 dengan menerapkan model discovery learning pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya. Pelaksanaan tindakan dalam pembelajaran dilakukan dalam dua siklus. Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini yaitu melaksanakan rencana pembelajaran yang telah direncanakan sebelumnya, yaitu sebagai berikut: a. Siklus I: 1) Perencanaan (Planning) Sebelum melakukan kegiatan pelaksanaan, peneliti melakukan persiapan perencanaan diantaranya sebagai berikut :
  7. 7. 7 a) Mendiskusikan dengan guru tentang langkah-langkah, model, dan alat yang akan digunakan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran b) Menyesuaikan rancangan penelitian dengan pokok bahasan c)Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) d) Mempersiapkan alat-alat yang akan digunakan untuk mengaplikasikan kegiatan eksperimen e) Mempersiapkan perangkat-perangkat pembelajaran yang perlu disiapkan dan dikembangkan, yaitu: lembaran-lembaran evaluasi dan instrumen lain berikut kriteria penilaian dan kunci jawaban yang akan disiapkan dan dikembangkan. f)Menyusun alat observasi yang digunakan untuk mengamati guru dansiswa selama pembelajaran berlangsung. g) Mempersiapkan alat-alat untuk dokumentasi kegiatan pembelajaran. h) Melaksanakan diskusi dengan observer. i) Melakukan prates terlebih dahulu untuk mengukur kemampuan awal peserta didik pada materi sifat-sifat cahaya. j) Memberikan informasi kepada peserta didik agar membawa peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan siklus I. 2) Pelaksanaan (Acting)
  8. 8. 8 Pelaksanaan penelitian dilakukan berdasarkan dengan rencana yang telah dibuat sebelumnya. Pada kegiatan pembelajaran sifat-sifat cahaya ini disesuaikan dengan model Discovery learning. 3) Pengamatan (Observation) Dalam penelitian ini pengamatan yang dilakuakan menggunakan Observasi non partisipasi yaitu observasi yang dalam pelaksanaannya tidak melibatkan peneliti sebagai partisipasi atau kelompok yang diteliti. Akan tetapi melibatkan observer sehingga dalam pelaksanaannya penelitian dilakukan melalui kerja sama dengan guru wali kelas V SDN 1 Balandongansebagai observer/pengamat. Pengamatan dilakukan pada saat pembelajaran berlangsung karena untuk mengetahui : a) Situasi belajar mengajar yang terjadi di dalam kelas. b) Aktivitas aktivitas yang terjadi selama proses belajar mengajar c) Kinerja guru dalam mengajar d) Respon siswa terhadap proses belajar mengajar e) Kemampuan peserta didik saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari guru. 4) Refleksi (Reflecting) Kegiatan refleksi ini bertujuan memperbaiki pelaksanaan penelitian pada siklus selanjutnya, penelitian pada siklus pertama dianggap berhasil apabila sebagian besar (85% dari peserta didik) mampu memenuhi aspek indikator kemampuan kerjasama dan lebih dari 85% peserta didik dapat menjawab soal evaluasi dengan benar. Penulis dan observer
  9. 9. 9 melakukan analisis dan refleksi terhadap pelaksanaan tindakan dan hasil observasi pada siklus I, apabila ditemukan kelemahan dan kekurangan pada siklus I maka dilakukan siklus II sebagai upaya perbaikan pembelajaran materi sifat-sifat cahaya. Hasil refleksi digunakan sebagai rekomendasi dan revisi untuk perencanaan dan pelaksanaan tindakan pembelajaran yang berikutnya. b. Siklus II Siklus II dilaksanan apabila pelaksanaan siklus I masih kurang memuaskan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan ditemukannya kekurangan pada pelaksanaan siklus I dan mencapai target / tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu peneliti harus benar-benar merumuskan serta merencanakan langkah-langkah yang tepat dan efektif agar kekurangan pada siklus I dapat diperbaiki. tahapan kegiatan pada siklus II dapat dijelaskan sebagai beirkut: 1) Perencanaan (Planning) Peneliti membuat perencanaan pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada siklus pertama. 2) Pelaksanaan (Acting) Guru melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan model discovery learning berdasarkan perencanaan hasil refleksi pada siklus pertama. 3) Pengamatan (Observation) Dibantu oleh observer Peneliti melakuakn pengamatan terhadap aktivitas pembelajarandengan menerapkan model discovery learning.
  10. 10. 10 4) Refleksi (Reflection) Setelah melakukan penelitian tindakan kelas dengan dua siklus maka peneliti membuat refleksi berupa kesimpulan atas pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model discovery learning dalam meningkatkan penguasaan konsep siswa pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya. D. Instrumen Penelitian Dalam penelitian tindakan kelas ini memerlukan data yang otentik dan sistematis. Untuk mendapatkan data yang otentik dan sistematis tersebut diperlukan alat pengumpul data yang tepat sesuai dengan permasalahan dalam penelitian. “Jadi instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati”. (Sugiyono, 2013:148). Dengan demikian pemilihan instrumen menentukan hasil data yang akan diperoleh dalam penelitian. Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua, yaitu instrumen utama dan instrumen pendukung: 1. Instrumen Utama Instrumen utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri. ‘Dalam penelitian kualitatif, tidak ada pilihan lain daripada menjadikan manusia sebagai instrumen penelitian utama. Alasanya ialah bahwa, segala sesuatunya belum mempunyai bentuk yang pasti. Masalah, fokus penelitian, prosedur penelitian, hipotesis yang digunakan, bahkan hasil yang diharapkan, itu semuanya tidak dapat ditentukan secara pasti dan jelas sebelumnya. Segala sesuatu masih perlu dikembangkan sepanjang penelitian itu. Dalam keadaan yang serba tidak pasti dan tidak jelas itu, tidak ada pilihan lain dan hanya peneliti itu sendiri sebagai alat satu-satunya yang dapat mencapainya’Nasution (Sugiyono, 2013:306-307)
  11. 11. 11 2. Instrumen Pendukung Selain memusatkan pada manusia sebagai instrumen utama yang paling berpengaruh dalam pengumpulan data, peneliti juga membutuhkan instrumen pendukung yang nantinya akan membantu kinerja peneliti dalam penelitiannya. Instrumen pendukung yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Lembar Soal Tes Formatif Lembar soal merupakan salah satu instrumen pendukung yang berperan dalam pengukuran tingkat kemampuan dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan, dalam hal ini materi sifat-sifat cahaya. Adapun bentuk tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda sebanyak 20 soal. Dengan penyusunan langkah-langkah sebagai berikut: 1) Mengidentifikasi materi yang diteliti 2) Menyusun kisi-kisi butir soal tes b. LKS Kelompok LKS kelompok yang digunakan dalam penelitian ini bertujuan agar siswa dapat bekerjasama, bertukar informasi/pengetahuan serta bersosialisasi dengan teman-temannya. Tidak hanya itu saja, LKS kelompok dibuat karena pada dasarnya model pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model discovery learning dalam pelaksanaannya juga dilakukan melalui kegiatan diskusi bersama kelompok. c. Lembar Panduan Observasi KBM (chek-list)
  12. 12. 12 Instrumen ini digunakan untuk mengetahui aktivitas guru dan siswa serta respon siswa selama kegiatan pembelajaran dengan penerapan model discovery learning berlangsung. d. Pedoman Wawancara Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Dalam hal ini, peneliti menggunakan wawancara semi tersutruktur yaitu peneliti telah menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis. Kegiatan wawancara langsung dengan siswa kelas V SD Negeri 1 Balandongan, yang dilakukan setelah siklus berlangsung. Wawancara yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses kegiatan siswa selama mengikuti pembelajaran dan mengetahui penyebab dari siswa yang memperoleh nilai dibawah KKM yang telah ditetapakan sehingga nantinya dapat dijadikan perbaikan untuk siklus berikutnya. Pedoman wawacara (terlampir). e. Dokumentasi Dokumentasi adalah ditunjukan untuk memperoleh datalangsung dari tempat penelitian, meliputi foto-foto, laporan kegiatan, data yang relevan dengan penelitian dan sebagainya. Dokumentasi pada penelitian ini, dilakukan untuk mengumpulkan data tentang berbagai peristiwa dalam proses pembelajaran melalui foto, dokumen yang berupa karya siswa, dan hasil pembelajara E. Proses pengembangan Instrumen 1. Lembar Soal Tes Formatif
  13. 13. 13 Soal tes formatif yang dimaksud adalah soal evalulasi yang diberikan di awal dan di akhir proses pembelajaran. Soal yang dikerjakan siswa berupa soal tes objektif (pilihan ganda) sebanyak 20 soal. Peneliti terlebih dahulu membuat kisi-kisi soal berdasarkan indikator pencapaian kompetensi. Data dari hasil tes ini dapat dijadikan sebagai acuan tingkat keberhasilan hasil belajar siswa dan keberhasilan guru dalam penerapan model discovery learning. Adapun kisi-kisi penulisan soalnya sebagai berikut: a. Pohon penyebaran kisi-kisi soal Bagan 3.1 Pohon Penyebaran Kisi-Kisi (Sumber dari peneliti dan berpedoman dari model taksonomi Bloom) 7 7 6 Sedang, 35% Mudah, 35% Sukar, 30% Mudah, 30% 2 C1 Sukar, 30% 2 C3 Sedang, 40% 3 C2 Mudah, 30% 2 C1
  14. 14. 14 Sedang, 40% 3C2 Sukar, 30% 2 C3 Sukar, 33% 2 C3 Mudah, 50% 3C1 Sedang, 17% 1C2 Pg = 20 b. Penyebaran Soal Tabel 3.1 Penyebaran Soal Tes Formatif Aspek Kognitif Tingkat Kesukaran RAGAM SOAL PILIHAN GANDA Mudah Sedang Sukar Jumlah Ingatan C1 Mudah 2 7Sedang 3 Sukar 2 Pemahaman C2 Mudah 2 7 Sedang 3 Sukar 2 Penerapan C3 Mudah 3 6 Sedang 1 Sukar 2 JUMLAH TOTAL 7 7 6 20
  15. 15. 15 c. Kisi-kisi Penulisan Soal Tes Formatif Tabel 3.2 Kisi-kisi Penulisa Soal Tes Formatif Standar Kompetensi : Menerapkan sifat-sifat cahaya melalui kegiatan membuat suatu karya/model. Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan sifat-sifat cahaya Indikator Soal Ranah Kognitif Tingkat kesulitan No. Soal Siswa dapat memahami pengertian cahya dan sumber cahaya C1 C1 Mudah Sedang 7 16 Siswa dapat menyebutkan sifat-sifat cahaya C1 C2 C3 C2 Mudah Mudah Mudah Sedang 2 11 15 20 Siswa dapat mengidentfikasi sifat cahaya dapat merambat lurus C3 C2 Mudah Sedang 4 5 Siswa dapat mengidentfikasi sifat cahaya dapat menembus benda bening C1 Sukar 1 Siswa dapat mengidentfikasi sifat cahaya dapat dibiaskan C3 C1 Sukar Sedang 9 18 Siswa dapat mengidentfikasi sifat cahaya pada cermin datar C3 C3 C2 Mudah Sukar Sedang 8 12 19 Siswa dapat mengidentfikasi sifat cahaya pada cermin cekung C2 C1 C1 C2 Sukar Sedang Sukar Sukar 3 6 10 17 Siswa dapat mengidentfikasi sifat cahaya pada cermin cembung C3 C2 Sedang Mudah 13 14 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa Dalam pengisian lembar observasi ini menggunakan skala penilaian (rating scale) dengan rentang nilai 1 – 5. observer hanya perlu memberikan
  16. 16. 16 tanda cek () pada kolom yang telah disediakan. Adapun kisi-kisi lembar observasi adalah sebagai berikut: Tabel 3.3 Kisi-kisi Penulisan Observasi Aktivitas Siswa Indikator Butir Yang Diamati Skor 1 2 3 4 5 Rasa ingin tahu Antusias memperhatikan dan mengikuti pembelajaran dengan baik Senang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui model discovery learning Aktif dalam mengikuti pembelajaran Bekerja keras & Tekun Siswa melakukan percobaan dengan teliti unuk memahami materi pembelajaran Disiplin Membawa peralatan praktek, Tidak mengganggu, dan mengumpulkan tugas tepat waktu Percaya diri, Sikap berpikiran terbuka dan kerjasama Berani mengungkapkan pendapat, Menghargai pendapat siswa lain serta saling membantu dalam melakukan percobaan Jujur Mengisi lembar kerja siswa hasil penelitiannya dan tidak mencontek JUMLAH NILAI Keterangan : Skor 1 = Sangat Kurang, jika ≤ 10 siswa melakukannya Skor 2 = Kurang, jika 11−20 siswa melakukannya Skor 3 = Cukup, jika 21-30 siswa melakukannya
  17. 17. 17 Skor 4 = Baik, jika 31-40 siswa melakukannya Skor 5 = Sangat Baik, ≥ 40 siswa melakukannya 3. Lembar Observasi Aktivitas Guru Dalam pengisian lembar observasi ini observer hanya perlu memberikan tanda cek () pada kolom yang telah disediakan. Adapun kisi-kisi lembar observasi adalah sebagai berikut: Tabel 3.4 Kisi-kisi Penulisan Observasi Observasi Guru NO. KEGIATAN PEMBELAJARAN SKOR 1 2 3 4 5 I. TAHAP PENDAHULUAN 1. Guru memotivasi siswa 2. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran 3. Guru menggali pengetahuan awal siswa (apersepsi) II. TAHAP KEGIATAN INTI 1. Menggali konsepsi awal siswa dengan memberikan permasalahan mengenai sifat-sifat cahaya (Stimulasi) 2. Guru menyampaikan fokus masalah yang harus dikaji oleh siswa berkenaan denan sifat-sifat cahaya (identifikasi masalah) 3. Guru membimbing siswa untuk berdiskusi dalam kelompok untuk menetukan hipotesis dari permasalahan yang disajikan (identifikasi masalah) 4. Guru membimbing siswa untuk menguji hipotesis yang telah dibuat (Pengumpulan Data) 5. Memberikan pertanyaan arahan sebelum siswa melakukan percobaan (Pengumpulan Data) 6. Guru memberikan lembar kerja siswa kepada setiap kelompok (pemrosesan data) 7. Guru membimbing diskusi kelas (Verifikasi Data) 8. Guru mengoreksi kesalahan dan memberikan penguatan materi (Verifikasi Data) 9. Membimbing siswa dalam menyimpulkan seluruh kegiatan dalam pembelajaran
  18. 18. 18 NO. KEGIATAN PEMBELAJARAN SKOR (Generalisasi) III. 1. Guru mengajak siswa mengevaluasi kegiatan penyelidikan/pengamatan 2. Guru membimbing siswa membuat rangkuman materi pembelajaran 3. Memberikan gambaran tentang ketercapaian kompetensi yang diukur dengan hasil evaluasi JUMLAH NILAI Keterangan SKOR: Skor 1 = Tidak dilakukan Skor 2 = Dilakukan, tapi belum baik Skor 3 = Dilakukan dengan cukup baik Skor 4 = Dilakukan baik Skor 5 = Dilakukan dengan sangat baik 4. Lembar Pedoman Wawancara Adapun instrumen wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Apakah anda merasa senang dalam pembalajaran melalui model discovery learning? b. Apakah kamu bertukar pikiran dalam berdiskusi dan memecahkan masalah? c. Apakah kamu ikut membantu teman dalam melakukan percobaan untuk memecahkan masalah? d. Apakah kamu ikut berpendapat dalam diskusi tersebut?
  19. 19. 19 e. Apa yang menarik dalam pembelajaran dengan menggunakan model discovery learning f. Apa yang menyulitkan anda dalam pembelajaran penemuan tadi? g. Manfaat apa yang anda peroleh setelah melakukan pembelajaran dengan penerapan model discovery learning ? F. Teknik Pengumpulan Data Sehubungan dengan rumusan masalah yang telah dijabarkan diatas yaitu meningkatkan proses dan hasil pembelajaran sifat-sifat cahaya maka teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes dan non test (observasi dan dokumentasi). 1. Tes Menurut Arikunto (2002:127) menyatakan bahwa, “Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lain yang digunan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat ang dimiliki oleh individu atau kelompok”. Jadi teknik pengumpulan data dengan tes ini dimaksudkan untuk menilai hasil belajar yang berkaitan dengan ranah kognitif yang menunjukan sejauh mana keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran. 2. Nontes
  20. 20. 20 Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini tidak hanya berupa tes yang berbentuk uraian ataupun tes objektif, tetapi dilakukan juga penilaian nontes yaitu sebagai berikut: a. Observasi “Observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran”. (Kunandar. 2008:143).Observasi yang dilakukan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah observasi selektif. Yaitu observasi yang dilakukan untuk mengetahui kompetensi tertentu yang dicapai siswa. Dalam peneltian ini kompetensi yang diamati meliputi kompetensi yang dicapai siswa dalam pembelajaran discovery learning, materi pembelajaran dan pembelajaran siswa dalam kelompok. b. Dokumentasi Teknik dokumenter (documentary study) merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen arsip, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Dokumen sehubungan penelitian harus sesuai dengan fokus masalah penelitian dan tujuan. c. Wawancara Menurut Arikunto (2002:132)“wawancara adalah sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi dari
  21. 21. 21 terwawancara”. Pada penelitian ini, wawancara digunakan untuk melengkapi data observasi. Wawancara yang dilakukan berisi pertanyaan yang diajukan kepada orang yang dianggap dapat memberikan informasi yang diperlukan. G. Analisis Data Analisis data digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan oleh peneliti. Penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif dan kuantitatif. 1. Analisis Data Kualitatif Data kualitatif diperoleh dari data hasil observasi terhadap siswa dan gurudalam pelaksanaan pembelajaran melalui model discovery learning yang akan diuraikan secara deskriptif. Data observasi yang telah diperoleh kemudian dilakukan analisis secara deskriptif, sehingga mampu memberikan gambaran yang jelas tentang pembelajaran yang dilakukan guru pada saat pembelajaran berlangsung. Adapun langkahlangkahnya sebagai berikut: a) Memberikan skor pada masing-masing aspek b) Menjumlahkan skor dari skor masing-masing aspek c) Menghitung nilai dengan rumus: Rumus untuk menghitung aktivitas siswa: NP= R SM x100 Keterangan:
  22. 22. 22 NP = Nilai Persen aktivitas siswa yang dicari atau diharapkan R = Skor mentah yang diperoleh siswa SM = Skor maksimum ideal yang diamati 100 = Bilangan tetap Rumus untuk menghitung aktivitas guru NP= R SM x100 Keterangan: NP = Nilai Persen aktivitas guru yang dicari atau diharapkan R = Skor mentah yang diperoleh guru SM = Skor maksimum ideal yang diamati 100 = Bilangan tetap (Sumber: Purwanto (2009: 102)) d) Konversi nilai tersebut pada tabel berikut: Tabel 3.5 Konversi Nilai Tingkat Keberhasilan Nilai Amat Baik (A) 90< A≤ 100 Baik (B) 75<B≤ 90 Cukup (C) 60<C ≤ 75 Kurang (K) ≤60 (Sumber: Kemendikbud (2013 : 314)) 2. Analisis Data Kuantitatif Data kuantitatif diperoleh dari hasil tes formatif dan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk melihat seberapa jauh peningkatan hasil belajar siswa. Tahap- tahap dalam menganalisis data kuantitatif adalah:
  23. 23. 23 a. Penskoran terhadap jawaban siswa Bentuk tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif peserta didik adalah tes pilihan ganda dan tes uraian bebas sehingga tidak ada rumus baku yang dijadikan sebagai dasar untuk mencari skor peserta didik. Namun, peneliti menerapkan kriteria penskoran untuk menentukan skor siswa. Kriteria penskoran yaitu : 1) Pilihan Ganda (Individu) Penskoran tanpa koreksi, yaitu penskoran dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar mendapat nilai satu (tergantung dari bobot butir soal), sehingga jumlah skor yang diperoleh peserta didik adalah dengan menghitung banyaknya butir soal yang dijawab benar. Rumus ketuntasan individual sebagai berikut: S= R N x100 Ket : S = Skor belajar siswa R= Banyaknya butir yang dijawab benar N= Skor Maksimum dari tes 100 = Bilangan tetap (Sumber : Poerwanti (Tiffani R. 2013:3)) Kategori nilai hasil belajar pengetahuan siswa dapat dilihatberdasarkan tabel di bawah ini: Tabel 3.6 Konversi Nilai Hasil Belajar Pengetahuan Siswa Nilai Skala Predikat Keterangan
  24. 24. 24 0-100 86 – 100 A Sangat Baik 81 – 85 A- 76 – 80 B+ Baik71 – 75 B 66 – 70 B- 61 – 65 C+ Cukup56 – 60 C 51 – 55 C- 46 – 50 D+ Kurang 0 - 45 D (Sumber: Kemendikbud (2013 : 8)) 2) Lembar Kerja Siswa (Kelompok) Penskoran nilai lembear kerja siswa (kelompok) dapat dihitung dengan rumus pada pilihan ganda diatas,dengan cara setiap butir soal yang dijawab benar mendapat nilai: 2 = Jika siswa dapat menyimpulkan dengan benar dan tepat 1 = Jika siswa menjawab kesimpulan, tetapi tidak tepat 0 = Jika siswa tidak menjawab kesimpulan b. Mencari rata-rata nilai yang diperoleh peserta didik melalui rumus yang diadaptasi dari Nana Sudjana (2013: 109). R= ∑ X ∑ N Keterangan : R = Nilai rata-rata peserta didik ∑ X = Jumlah seluruh nilai peserta didik ∑ N = Jumelah peserta didik c. Menghitung persentase ketuntasan belajar peserta didik.
  25. 25. 25 Pada penelitian ini terdapat dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara individu dan klasikal. Ketuntasan belajar secara individual didapat dari siswa yang mendapatkan nilai sekurang-kurangnya 65 dan di bawah 65 dinyatakan belum tuntas. Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal yaitu mengukur tingkat keberhasilan ketuntasan belajar siswa menyeluruh. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar klasikal digunakan rumus : P= ∑ P ∑ N x100 Keterangan : P = Persentase peserta didik yang lulus ΣP = Jumlah peserta didik yang lulus ΣN = jumlah seluruh peserta didik d. Penghitungan peningkatan presentase dari setiap siklus Dalam penelitian ini untuk menghitung peningkatan presentase dari setiap siklus menggunakan rumus: PP= Skor akhir−skor awal Skor awal x100 (Juariah, 2014:46)

×