Perjuangan Hasan al bana

1,182 views
1,093 views

Published on

sejarah perjuangan hasan al bana

Published in: Education
1 Comment
3 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
1,182
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
52
Comments
1
Likes
3
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Perjuangan Hasan al bana

  1. 1. A. Pendahuluan Islam berkembang cepat dan memiliki akar yang begitu banyak. Tradisi Islam senantiasa memandang penyebaran Islam yang luar biasa ini sebagai bukti keajaiban dan kesahihan historis akan kebenaran al-Qur’an dan klaim-klaim Islam dan sebagai tanda adanya petunjuk dari Allah. Akan tetapi kolonialisme bangsa- bangsa Eropa pada abad ke-18 hingga pertengahan pertama abad ke-20 dan kegagalan selanjutnya dari banyak negara Islam modern menyodorkan tantangan yang serius atas kepercayaan ini. Maka muncullah kelompok yang beranggapan bahwa Islam sudah tidak relevan lagi, namun di sisi lain muncul juga kalangan yang menggaungkan kembali kepada Islam yang kaffah dalam semua lini kehidupan. Islam adalah agama yang lengkap. Islam tidak memisahkan antara sesuatu yang duniawi dan ukhrawi, atau yang profan dan sakral. Islam mempunyai sejarah yang berwarna-warni dan panjang sejak kemunculannya hingga saat ini. Berbagai literature berupaya menceritakannya. Tidak hanya nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, tapi juga bersamaan dengan tokoh- tokoh yang turut berperan penting serta dianggap penting dalam menyebarluaskannya di muka bumi ini. Islam meliputi segala sesuatu, sebagai way of life. Islam meliputi alam semesta, ekonomi, sosial politik, dengan konsepsi umum yang kemudian melahirkan banyak interpretasi. Tafsiran antar para pemikir beragam macamnya, termasuk dalam hal pemikiran politik. Pemikiran Politik dalam Islam berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Al-Mawardi (w.1058 M), Ibn Taimiyyah (w.1328 M) Ibn Khaldun (w.1406 1
  2. 2. M), Ibnu Abdil Wahhab (w.1793 M), al-Afghani (w.1897 M) dan Abduh (w.1905 M) sebagai contoh adalah beberapa nama pemikir muslim yang menjadi rujukan dalam pemikiran politik. Namun selain beberapa nama itu, tokoh pergerakan Islam dari tanah Mesir, nama Hasan Al Banna tentulah tidak asing. Pemilik nama ini dikenal memiliki pemikiran serta pergerakan yang mendalam tentang Islam itu sendiri. Oleh karena itu, penulis merasa berkesempatan untuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan sang tokoh dalam bentuk penulisan makalah ini. Fokus uraian makalah bertumpu pada tiga bagiab berikut: 1. Sejarah kehidupan Hasan Al Banna 2. Pemikiran-pemikiran Pembaharuan Hasan Al Banna, serta 3. Pergerakan yang dilakukan Hasan Al Banna dalam menyebarluaskan ide pembaharuannya B. Pembahasan 1. Sejarah Kehidupan Hasan Al Banna (1906 M - 1949 M) Hassan Al Banna lahir pada tahun 1906, di sebuah kota Mahmudiah Propinsi Buhairah di Mesir. Namanya adalah Hasan al-Banna al-Syahid Hasan bin Ahmad abd. Al-Rahim al-Banna. 1 Beliau dibesarkan dalam keluarga yang amat kuat berpegang pada Islam. Hassan al Banna merupakan anak sulung daripada lima beradik. Ayahnya, Syeikh Ahmad ibn Abd al Rahman al-Banna. adalah seorang ulama, imam, guru dan pengarang beberapa buah kitab hadis dan fikih perundangan 1 Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam (Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia), ( Ciputat: Quantum Teaching, 2005), h. 85 2
  3. 3. Islam, yang lulus dari Universitas Al Azhar Mesir. Beliau bekerja memperbaiki jam pada waktu malam sebagai sumber rezeki untuk menghidupi keluarganya. Pada siang hari, beliau menjadi Imam di sebuah masjid di kampungnya. Disinilah Al-Banna mendapatkan pengajaran tentang prinsip-prinsip Islam dan berdakwah. Diantara karya sang ayah adalah kitab Tafsir Musnad Imam Ahmad Ibn. Hanbal. 2 Sedangkan ibunda dari Hasan al-Banna bernama Ummu Sa’ad Ibrahim Saqr. Ibundanya adalah wanita bertipologi cerdas, disiplin, cerdik dan teguh pendirian. Apabila telah memutuskan sesuatu, maka akan sulit bagi Ummu Sa’ad untuk menarik keputusannya. Perhatiannya pada pendidikan, membuat sang ibu bertekad untuk menyekolahkan Al-Banna hingga ke pendidikan tinggi. Ummu Sa’ad memiliki delapan delapan orang anak, yaitu Hasan Al-Banna, Abdurrahman, Fatimah, Muhammad, Abdul Basith, Zainab, Ahmad Jamaluddin, dan Fauziyah.3 Al Banna berguru pada ayahnya sehingga bisa menghafal Qur'an 30 juz. Pada usia remaja, ayahnya mengizinkan menggunakan kitab-kitab simpanannya untuk dibaca, hingga akhirnya Al Banna dapat memahami Islam dan bahasa Arab dengan baik. 2 http://yankoer.multiply.com/journal/item/270/Pemikiran_Politik_Hasan_al-Banna, diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/210 3 http://yankoer.multiply.com/journal/item/270/Pemikiran_Politik_Hasan_al-Banna, diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/210 3
  4. 4. Semangat perjuangan Islam dan sifat kepimpinan telah mulai nampak pada umur yang masih muda. Sejak dini Hasan Al-Banna sudah ditempa oleh keluarganya yang taat beragama untuk meraih dan memperdalam ilmu di berbagai tempat dan majelis ilmu. Pertama kali beliau menggali ilmu di Madrasah Ar Rasyad dengan seorang guru bernama syekh Muhammad Zahran yang juga merupakan pemilik madrasah tersebut. Di madrasah ini, Al-Banna belajar hadits nabi dengan target menghapal dan memahaminya. Selain hadits, Al-Banna juga belajar insyak, qawa’id dan lain sebagainya. Kemudian dia pindah ke madrasah ‘Idadiyah dan madrasah al-Muallimin al-Awwaliyah di Damanhur, kemudian melanjutkan ke Darul Ulum Mesir pada tahun 1923 M dalam usia 16 tahun.4 Pada usianya yang masih muda, Hasan Al-Banna sudah memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan da’wah. Ia pun mampu beraktifitas untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Bersama teman-temannya di sekolah, dibentuklah perkumpulan “Akhlaq Adabiyah” dan “Al-Man’il Muharramat”. Nampaknya sejak muda ia memang menginginkan da’wah Islamiyah tegak dan kokoh. Pada tahun 1920 Hasan Al-Banna melanjutkan pendidikannya di Darul Mu’allimin Damanhur, hingga menyelesaikan hafalan Qur’an diusianya yang belum genap 14 tahun. Beliaupun aktif dalam pergerakan melawan penjajah. Tahun 1923 ia melanjutkan pendidikannya di Darul Ulum Kairo. Disinilah ia banyak mendapatkan wawasan yang luas dan mendalam. Pendidikannya di Darul Ulum diselesaikan pada tahun 1927 M, dengan hasil yang memuaskan, menduduki rangking pertama di Darul 4 Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam (Mengenal Tokoh Pendidikan Islam di Dunia Islam dan Indonesia), ( Ciputat: Quantum Teaching, 2005), h. 86 4
  5. 5. Ulum dan rangking kelima di seluruh Mesir dalam usianya yang baru menginjak 21 tahun.5 Hasan Al-Banna menikah dengan putri salah seorang tokoh Ismailiyah Al Haj Husain As Shuly pada malam 27 Ramadhan 1351 H. Ia kemudian dikaruniai 5 ornag anak, 4 orang anak perempuan yaitu Wafa’, Sinai, Raja dan Hajar. Adapun anak lelaki beliau adalah Ahmad Saiful Islam. Hasan Al-Banna memberikan perhatian yang besar pada pendidikan keluarganya dengan adab dan akhlaq Islam. Hasil perhatiannya terhadap keluarga dapat kita lihat pada anak beliau yang sangat dihormati Ahmad Saiful Islam. Pemikiran Al Banna sangat jauh berbeda dengan cara berfikir penguasa dunia Islam saat itu, dimana seruan agar mencontohi cara barat oleh Kamal Attaturk bertiup kencang dan tidak ada henti. bukan hanya itu, bahkan majalah-majalah dan surat khabar yang membuat propaganda dengan slogan 'Mesir adalah sebahagian dari Eropa' telah membanjiri pasaran. Para nasionalis mendesak pemerintahan Mesir agar kembali ke puncak kejayaan Firaun dan mencungkil adat-adat bangsa Mesir purba. Melihat fenomena ini membuat Hassan al Banna merasa sedih, sebab sebahagian besar orang terhormat dan berpengaruh menyertai barisan modernis yang menyesatkan umat Islam. Dalam keadaan sedih dan pilu ini, beliau berusaha merapatkan diri dengan Sayyid Rashid Rida' serta murid-muridnya. Di sinilah titik permulaan berdirinya satu harakah Islam yang besar dan tersusun untuk menghancurkan Jahilliah Modern dengan segala pemikirannya. Beliau mulai 5 http://harakatuna.wordpress.com/2008/12/01/sejarah-kehidupan-hasan-al-banna/, diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/p10 5
  6. 6. mendidik orang-orang dengan penuh sabar tentang pentingnya Islam dalam kehidupan individual dan masyarakat. Hasan Al-Banna dikenal sebagai seorang yang ahli dalam berpidato, lidahnya sangat fasih, ahli dalam sastera dan pandai memilih kata-kata yang tepat. Pada tahun 1941, dia dipenjara selama sebulan berkaitan dengan pidato yang disampaikannya yang isinya mengkritik sistem politik Inggeris pada Perang Dunia ke II. Masih pada tahun yang sama, dia dipaksa pindah ke Qana. Di tempat barunya ini, Al-Banna terus melanjutkan perjuangannya dengan menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam kepada umat dari satu tempat ke tempat yang lain. Dia juga mengirimkan delegasi-delegasi ke seluruh penjuru dunia untuk mengetahui keadaan umat Islam. Delegasi-delegasinya menginformasikan tentang realiti dunia Islam. Pada tahun 1948, dia mengirimkan satu batalion pasukan ke Palestin. Pasukan yang dikirim ke Palestin itu terdiri daripada orang-orang Ikhwanul Muslimin. Dalam pertempuran melawan orang-orang Ikhwanul Muslimin, pasukan Yahudi mendapatkan kekalahan yang teruk. Salah satu jenderalnya berkata, ‘Seandainya mereka memberikan kepadaku satu batalion orang-orang Ikhwanul Muslimin, maka dengan pasukan tersebut saya pasti menaklukkan dunia.’6 6 http://zahirzainudin.blogspot.com/2009/09/hasan-al-banna-tokoh-pembaharu-islam.html, diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/p10 6
  7. 7. Sebuah pertemuan direkayasa antara Hasan Al-Banna dengan Mohammad An Naqhi (salah satu pengurus Dar Asy-Syubban) pada hari Jum’at tanggal 11 Desember 1949 pukul 17.00. Namun hingga pukul 20.00 masalah yang diagendakan belum ada kejelasan ,yaitu salah seorang menteri yang diharapkan dapat membantu menyelesaikan masalah Ikhwan. Lalu pulanglah ia dengan menantunya Ustadz Mansur dan sepakat akan datang kembali esok harinya. Namun tiba-tiba ia mendapati suasana yang berbeda di jalan protokol Quin Ramses, yang biasanya ramai dengan hiruk pikuk lalu lintas lalu lalang manusia, saat itu tak sebuah mobil dan seorangpun yang lewat kecuali sebuah taxi yang ada di depan gerbang pintu Dar Asy Syubban. Toko-toko dan rumah-rumah makan yang berdekatan juga sudah tutup. Kecurigaan semakin tinggi ketika baru akan melangkahkan kaki menuju jalan raya tiba-tiba seluruh lampu penerang jalan mati. Saat itulah beberapa peluru meluncur, sebagian mengenainya dan peluru yang lain mengenai Ustadz Mansur. Namun Hasan Al-Banna masih kuat untuk naik sendiri menuju gedung Dar Asy Syubban dan memutar telepon untuk meminta pertolongan ambulance. Meskipun demikian, ia kemudian terlantar di salah satu kamar Rumah Sakit “Qosr Aini” karena tak seorangpun dari perawat atau dokter yang berani menolongnya, sekalipun banyak dokter muslim yang ingin merawatnya karena kepala RS tidak mengizinkan hal tersebut sesuai perintah kerajaan. Dering telepon tak henti-hentinya untuk meyakinkan kematian Hasan Al- Banna hingga ia menemui Robbul izzah dengan kepahlawanannya. Tepat hari Sabtu malam Minggu tanggal 12 Desember 1949 beliau pulang ke Rahmatullah. Hari itu dunia diliputi kesedihan yang mendalam karena dengan 7
  8. 8. kematiannya berarti hilang pula seorang pembela kebenaran penegak keadilan di tengah-tengah kelaliman. Pagi hari Minggu tanggal 12 Desember 1949 sampailah berita kematian kepada orang tuanya, Syaikh Ahmad Al Banna. Sangat lebih menyedihkan lagi, rezimpun tidak mengizinkan ummat Islam untuk merawat jenazahnya dan berta’ziyah ke rumah shohibul musibah. Untuk menunjukkan keangkuhan serta kedengkiannya terhadap Hasan Al-Banna mereka menyusun penjagaan militer dengan ketat, seperti siap untuk bertempur serta tank-tank yang seakan-akan hendak menghadapi sebuah pertempuran yang dahsyat. Tidak seorangpun diizinkan membawa jenazahnya menuju makam kecuali orang tua beserta kedua saudari perempuannya. 2. Pemikiran Hasan Al Banna terkenal dengan pemikiran politiknya Di setiap tempat selalu ada pemikir dalam bidang politik dalam skala yang berbeda. Dalam skala Timur Tengah, pemikiran politik dari Mesir Kuno hingga Mesir Modern memiliki pengaruh bagi wilayah, bahkan lintas daerah. Nasionalisme Arab, sebagai salah satu contoh selain tentang Zionisme dan ideologi kiri Islam, menurut A. Rahman Zainuddin adalah jenis pemikiran yang dianggap sangat menentukan dewasa ini.7 Di Mesir, menurut Yusuf al-Qaradhawi, sebelum adanya dakwah Hasan al-Banna dan lembaga pendidikan yang beliau dirikan, aspek politik tidak mendapatkan perhatian sama sekali oleh masyarakat Islam. Dari sini kemudian terjadi dikotomi antara seorang agamis dan seorang politisi. “Seorang agamis,” tulis ulama yang kini bermukim di Qatar itu, “dilarang berkecimpung dalam masalah politik,” 7 AR Zainuddin, Pemikiran Politik Islam: Islam, Timur Tengah, dan Benturan Ideologi (Hermawan Sulistyo, ed.), cet.1. Jakarta: Pensil-324, 2004 8
  9. 9. sebaliknya juga, “seorang politisi dilarang berkecimpung dalam masalah agama.”8 Hasan al-Banna sebagai salah satu tokoh pergerakan Islam yang memiliki pengaruh di Mesir, bahkan dunia Islam memiliki pemikiran dan praksis dalam kancah politik. Pemikiran politik Hasan al-Banna, setidaknya ada empat hal, yaitu: ‘Urubah (Arabisme), Wathaniyah (Patriotisme), Qaumiyah (Nasionalisme), dan ‘Alamiyah (Internasionalisme) dilandasi beberapa prinsip yakni sebagai berikut:9 1. Prinsip Pertama(Persatuan Batil) Dalam perjalanan hidupnya, Hasan Al-Banna bermukim di negara Mesir yang memiliki banyak partai. Ada partai sekuler, sosialis, dan nasionalis. Ia hendak menyatukan golongan-glongan itu ke dalam wadah Ikhwanul Muslimin. Golongan yang dia ketuai ini, hendak mengumpulkan semua golongan dalam satu nama. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya itu adalah suatu "trik politik". Dengan semboyan persatuan ia bermaksud mengumpulkan lawan-lawan dalam akidahnya tersebut. Ia mengikat mereka dengan nama Islam yang umum tanpa melihat pemahaman Islam yang benar dan kewajiban berpegang teguh dengannya. Secara faktual ia mempraktekkan prinsip, "Kami sepakat dengan apa yang kita sepakati dan saling memaafkan pada perkara yang kita perselisihkan." Itulah prinsip pertama Hasan Al-Banna 8 Yusuf Al-Qaradhawi. Sistem Kaderisasi Ikhwanul Muslimin (at-Tarbiyah al-Islamiyah wa Madrasah Hasan al-Banna—terj. Ghazali Mukri). Solo: CV. Pustaka Mantiq, 1992 9 http://ahlulahwa.wordpress.com/2007/11/28/membongkar-pemikiran-hasan-al-banna-2/, diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/p10 9
  10. 10. yang merupakan prinsip politik : prinsip persatuan. Umar At-Tilmisani dalam bukunya "Dzikriyat la Muzdakarat" menyebutkan bahwa manhaj Ikhwanul Muslimin sudah semakin jauh menyimpang, misalnya saja sampai pada tingkat berupaya menjalin kerjasama dengan Syi'ah. Ketika ia bertanya kepada Hasan Al-Banna tentang apa sikap kita terhadap Syi'ah, Hasan Al- Banna menjawab, "Syi'ah seperti empat mazhab yang ada.". 2. Prinsip kedua (Bai'at) Bai'at Ikhwanul Muslimin adalah bai'at shufiyah dan bai'at kemiliteran, sebagaimana yang telah ditetapkan Hasan Al-Banna ketika menerangkan rukun bai'at yang sepuluh. Ia menerangkan rukun bai'at ini adalah bai'at shufiyah dan militer. Ikrarnya berbunyi, "Mendengar, taat, tidak merasa berat, ragu, dan bimbang." 3. Prinsip ketiga (Marhalah atau Fase-fase dalam Dakwah) Inilah prinsip aliran batiniyah sebagaimana yang disebutkan Al-Ghazali dalam bukunya Ihya 'Ulumuddin. Aliran sufyah memiliki fase-fase (marhalah) dalam dakwah. Maksudnya, pertama kali orang-orang yang didakwahi diberi ajaran Islam secara umum. Kemudian jika hal ini diterima, maka mereka diberikan ajaran-ajaran khusus sampai kepada apa yang mereka inginkan. Dalam risalahnya, Hasan Al-Banna menyebutkan bahwa dakwahnya meliputi tiga marhalah. Marhalah pertama adalah marhalah umum yaitu dakwah kepada Islam secara umum seperti dakwah untuk meninggalkan riba, maksiat- 10
  11. 11. maksiat, menampakkan syiar-syiar Islam dan membantu kebutuhan kaum muslimin. Marhalah kedua adalah marhalah khusus yang lepas dari marhalah petama. Ketika seorang masuk ke dalam Ikhwanul Muslimin, dia tetap dalam keadaan buta tentang Ikhwanul Muslimin, kecuali bahwa organisasi ini berusaha menolong Islam dan kaum muslimin, hajat-hajat, kemiskinan, kelaparan kaum muslimin dan seterusnya. Kemudian Al-Banna berkata, kita melihat orang yang kita pilih dari marhalah kedua ini dan ketika itu kita akan menggembleng orang-orang tertentu lalu kita masukkan mereka ke marhalah ini. Dan marhalah kedua adalah marhalah khusus yang membina pribadi untuk taat, mendengar, jihad, membunuh, membuat teror, semua urusan yang diinginkan pemimpin dan mengkafirkan pemerintah. Setelah itu Al-Banna berkata, ”tibalah saatya marhalah ketiga yaitu marhalah jihad”. Al-Banna sendiri telah sampai pada marhalah ketiga dan menjalankannya. Dia telah mencipta marhalah pertama hingga banyak kaum muslimin yang masuk ke dalamnya kemudian dia mencipta marhalah kedua melalui As-Sindi dan Tanzhim khusus. Terakhir dia membentuk marhalah ketiga dan terbunuh pada tahun 1948 sebelum dapat merealisasikan konsepnya. Marhalah ketiga baru dapat direalisasikan oleh penerusnya, Al-Hudhaibi, pada tahun 1952 dengan keberhasilan mengkudeta pemerintah Al-Faruq. Jadi secara hakikat Hasan Al- Bannalah yang membuat pondasi-pondasi tadi sebelum Sayyid Quthub, dialah yang mencipta prinsip pengkafiran pemerintah muslim, terorisme, dan kudeta yang semuanya telah ia ucapkan, lakukan dan tuangkan ke dalam buku- bukunya. Sedangkan Sayyid Quthub adalah salah satu individu yang 11
  12. 12. terpengaruh oleh konsep Hasan Al-Banna yang insya Allah kita bicarakan sebentar lagi. Maksudnya bahwa Ikhwanul Muslimin memiliki fase-fase (marhalah-marhalah) yang menjadi prinsip gerakan mereka, dan marhalah ini menampilkan sesuatu yang umum kemudian memasukkan sesuatu yang lebih khusus. 4. Prinsip keempat (Dusta ) Termasuk prinsip yang mereka pegangi adalah berbohong (taqiyah) dan menampakkan apa yang tidak sama dengan yang disembunyikan. Prinsip ini telah dijelaskan oleh Hasan Al-Banna. Dan dia pada tahun 1940 telah membentuk tanzhim khusus yang di antara sekian banyak prioritas utamanya adalah membuat teror di mana-mana. Hal ini disesbutkan oleh Mahmud Abdul Halim dalam bukunya 'Ikhwanul Muslimin wa Ahwal Tsintai 'Asyara Tarikh.' Pada tahun 1944 M Jamal Abdul Nasher mambai'at tanzhimnya, tanzhim yang berupaya mengkudeta pemerintahan Faruq. Pada tahun 1946 M, Hasan Al- Banna mengirim surat terbuka kepada Raja Faruq, ia memuji Raja Faruq dan berkata, 'Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin merasa takut terhadap kemuliaan Anda dan Ikhwanul Muslimin begini dan begini,' demikianlah ia memuji Raja faruq dan mendoakan kebaikan untuknya. Sementara itu dia merencanakan kudeta dari tahun 1944 M dan mengorganisir tanzhim khusus pada tahun 1940 M, 6 tahun sebelum mengirim surat. Maka hal ini bisa dikatakan termasuk masalah tipu daya (taqiyah). Sebelumnya kita telah menyebutkan dari Mahmud Ash-Shabagh bahwa Hasan Al-Banna cuci tangan dari aksi teror 12
  13. 13. salah seorang anggotanya. Ia lakukan ini dalam rangka perang, sedangkan perang adalah tipu daya! 5. Prinsip kelima (Tanzhim Hizb) Setelah itu bagaimanakah cara Hasan Al-Banna mengikat tali kendali dakwah dan golongan ini? Dia membentuk prinsip lainnya, yaitu organisasi kepartaian (tanzhim hizb). Ia membentuk kepemimpinan umum dengan sistem kepemimpinan 'ala mursyid' dan dinamakan 'Maktab Al-Irsyad' (kantor bimbingan). Dia sendiri adalah pimpinan puncak. Bagi tiap-tiap maktab terdapat anggota-anggota, kepala keluarga, dan wakil- wakilnya yang menyebarkan prinsip ini ke keluarga-keluarga mereka. Bila terjadi kasus tertentu dalam satu keluarga maka masalah itu harus disampaikan kepada kepala keluarga. Kepala keluarga menyampaikannya kepada wakil. Wakil- wakil menyampaikannya kepada kantor bimbingan umum yang bermarkas di Mesir dan akhirnya sampai ke Hasan Al-Banna. Dengan demikian mereka menempuh organisasi negara dalam prinsip-prinsip yang telah dibentuk Al- Banna dan tidak ditemukan pada zaman salaf. 6. Prinsip keenam( Pemimpin dakwah bukan orang alim atau thalibul ilmi tetapi seorang yang telah mencapai strata kepemimpinan) Sesungguhnya sejak zaman Nabi Adam 'alaihssalam, orang yang paling tahu mengenai agama akan menjadi rujukan masyarakat. Dan kalau kita membaca sejarah Bani Israil, kita akan melihat bahwa orang yang paling tahu 13
  14. 14. tentang agamalah yang dijadikan pemimpin tanpa melihat apakah ia seorang ahli ibadah yang rusak akhlaknya atau bukan, apakah ia masih berpegang teguh dengan agama Musa atau tidak, apakah ia sudah mengganti agama Musa atau belum. Yang penting, pemimpin ini paling tahu tentang agama. Demikian juga seperti pada zaman Nabi Isa 'alaihissalam sampai zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang pernah mengutus sahabat yang paling alim, Muadz bin Jabal dan selainnya sebagai pemimpin. 7. Prinsip ketujuh ( Cara Bermuamalah dengan Negara) Termasuk prinsip yang telah dirancang Hasan Al-Banna adalah bagaimana jama'ah bermuamalah bersama negara. Prinsip yang diambil dari (golongan- gologan) partai- partai sebelumnya seperti partai Yasariyah, Rubiyah atau Rusiah atau selainnya. 8. Prinsip kedelapan (Masuk ke Parlemen-parlemen dan Pemilu) Hasan Al-Banna berdakwah dengan memasuki parlemen, bersatu, melobi dan berbasa-basi dengan partai lain dengan tujuan untuk mendesak pemerintah dan mencapai maksud-maksud tertentu, seperti yang pernah ia lakukan bersama partai Al-Yasari dan selainnya. Prinsip-prinsip di atas kemudian melandasi pemikiran Al-Banna berikut: a. ‘Urubah (Arabisme) Arabisme memiliki tempat tersendiri dan peran yang berarti dalam dakwah Hasan al-Banna. Bangsa Arab adalah bangsa yang pertama kali menerima 14
  15. 15. kedatangan Islam. Dia juga merupakan bahwa yang terpilih. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw, “Jika bangsa Arab hina, maka hina pulalah Islam.” Arabisme menurut al-Banna adalah kesatuan bahasa. Ia berkata dalam Muktamar Kelima Ikhwan,“…Bahwa Ikhwanul Muslimin memaknai kata al-‘Urubah (Arabisme) sebagaimana yang diperkenalkan Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Ibnu Katsir dari Mu’adz bin Jabal ra, ”Ingatlah! Sesungguhnya Arab itu adalah sebuah bahasa. Menurut al-Banna, Arab adalah umat Islam yang pertama, yang merupakan bangsa pilihan. Islam, menurutnya, tidak pernah bangkit tanpa bersatunya bangsa Arab. Batas-batas geografis dan pemetaan politis tidak pernah mengoyak makna kesatuan Arab dan Islam. Islam juga tumbuh pertama kali di tanah Arab, kemudian berkembang ke berbagai bangsa melalui orang-orang Arab. Kitabnya datang dengan bahasa Arab yang jelas, dan berbagai bangsa pun bersatu dengan namanya. Dalam riwayat Ibnu Asakir, dengan sanad dari Malik bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan itu satu, bapak itu satu, dan agama itu satu. Bukanlah Arab di kalangan kamu itu sebagai bapak atau ibu. Sesungguhnya, Arab itu adalah lisan (bahasa), maka barangsiapa yang berbicara dengan bahasa Arab, dia adalah orang Arab.” Dalam hadits ini, tulis Hasan al-Banna, kita mengetahui bahwa bangsa-bangsa Arab yang membentang dari Teluk Persi sampai Maroko dan Mauritania di 15
  16. 16. Lautan Atlantik, semuanya adalah bangsa Arab. Mereka dihimpun oleh akidah serta dipersatukan oleh bahasa dan teritorial yang satu. Tidak ada yang memisahkan bahkan tak ada juga yang membatasinya. Atas dasar ini, menurut Abdul Hamid al-Ghazali, dalam bukunya Meretas Jalan Kebangkitan Islam, kita dapat menyimpulkan beberapa unsur dari pemikiran al- Banna bahwa berbangga dengan Arabisme tidak termasuk fanatisme dan tidak berarti merendahkan pihak lain.10 b. Wathaniyah (Patriotisme) Ada banyak definisi tentang patriotisme. Bisa disebut sebagai kecintaan seseorang yang mendalam terhadap bangsa, negara serta tanah air. Dalam memaknai Wathaniyah (patriotisme), ada tiga arti yang dikemukakan oleh Hasan al-Banna, yaitu: Pertama, Patriotisme Kerinduan (Cinta Tanah Air). Al-Banna berkata: “Jika yang dimaksud dengan patriotisme oleh para penyerunya adalah cinta negeri ini, keterikatan padanya, kerinduan padanya, dan ikatan emosional dengannya, maka hal itu sudah tertanam secara alami dalam fitrah manusia di satu sisi, dan dianjurkan Islam di sisi lainnya.” Kedua, Patriotisme Kemerdekaan dan Kehormatan (Kemerdekaan Negeri). Al-Banna berkata: “Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme 10 Abdul Hamid al-Ghazali, . Meretas Jalan Kebangkitan Islam: Peta Pemikiran Hasan al-Banna (Haula Asasiyat al-Masyru’ al-Islami Linahdhah al-Ummah—terj. Wahid Ahmadi & Jasiman). Solo: Era Intermedia 16
  17. 17. adalah keharusan berjuang untuk membebaskan tanah air dari cengkeraman perampok imperialis, menyempurnakan kemerdekaannya, dan menanamkan kehormatan diri dan kebebasan dalam jiwa putra-putra bangsa, maka kami sepakat dengan mereka tentang itu.” Ketiga, Patriotisme Kebangsaan (Kesatuan Bangsa). Al-Banna berkata: “Jika yang mereka maksudkan dengan patriotisme adalah mempererat ikatan antara anggota masyarakat suatu Negara dan membimbingnya ke arah memberdayakan ikatan itu untuk kepentingan bersama, maka kami pun sepakat”. Patriotisme juga memiliki prinsip di mata Hasan al-Banna. Ia mengatakan: “Suatu kekeliruan bagi orang-orang yang menyangka bahwa Ikhwanul Muslimin berputus asa terhadap kondisi negeri dan tanah airnya. Sesungguhnya kaum Muslimin adalah orang-orang yang paling ikhlas berkorban bagi negara, habis- habisan berkhidmat untuknya, dan menghormati siapa saja yang mau berjuang dengan ikhlas dalam membelanya. Dan anda tahu sampai batas mana mereka menegakkan prinsip patriotisme mereka, serta kemuliaan macam apa yang mereka inginkan bagi umatnya. Hanya saja, perbedaan prinsip antara kaum muslimin dengan kaum yang lainnya dari para penyeru patriotisme murni adalah bahwa asas patriotisme Islam adalah akidah Islamiyah…Adapun tentang patriotisme Ikhwanul Muslimin, cukuplah bahwa mereka menyakini dengan kukuh bahwa sikap acuh terhadap sejengkal tanah yang ditinggali seorang muslim yang terampas merupakan tindakan kriminal yang tidak terampuni, hingga dapat mengembalikannya atau hancur dalam mempertahankannya. Tidak ada keselamatan bagi mereka dari siksa Allah kecuali dengan itu.” 17
  18. 18. Al-Banna juga mengkiritik pandangan tentang patriotisme yang hanya berpikir untuk membebaskan regionalnya saja. Seperti dalam kasus masyarakat Barat yang lebih cenderung pada pembangunan unsur fisik dalam tatanan kehidupannya, ini tidak dikehendaki oleh Islam. Adapun kami, kata beliau, “kami percaya bahwa di pundak setiap muslim terpikul amanah besar untuk mengorbankan seluruh jiwa, darah, dan hartanya demi membimbing umat manusia menuju cahaya Islam.” Dari sini, kita mendapatkan gambaran bahwa tujuan hidup seorang muslim tidaklah hanya dibatasi oleh daerah tertentu, akan tetapi dalam skala yang lebih luas. c. Qaumiyah (Nasionalisme) Menurut Ensiklopedia Wikipedia, Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris "nation") dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.11 Menurut Hasan al-Banna ada tiga unsur nasionalisme, yaitu: nasionalisme kejayaan, nasionalisme umat, dan berkata tidak pada nasionalisme yang bersifat jahiliyah. Tentang nasionalisme kejayaan, Al-Banna mendukung nasionalisme yang berarti bahwa generasi penerus harus mengikuti jejak para pendahulunya dalam mencapai kejayaannya. Ini adalah maksud yang baik, menurutnya dan mendukung. Hal ini sejalan dengan sabda Rasululllah Saw yang berbunyi, 11 http://id.wikipedia.org/wiki/Hasan_al-Banna , diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/210 18
  19. 19. “Manusia seperti tambang. Yang terbaik di antara mereka di masa jahiliahnya adalah juga yang terbaik di masa Islam, jika mereka memahami.” Menurutnya, jika yang dimaksud dengan nasionalisme adalah anggapan bahwa suatu kelompok etnis atau sebuah komunitas masyarakat adalah pihak yang paling berhak memperoleh kebaikan-kebaikan yang merupakan hasil perjuangannya, maka ia benar adanya. Jika yang mereka maksudkan dengan nasionalisme adalah bahwa setiap kita dituntut untuk bekerja dan berjuang, bahwa setiap kelompok harus mewujudkan tujuannya hingga kita bertemu—dengan izin Allah—di medan kemenangan, maka inilah pengelompokan terbaik. Semua makna nasionalisme ini adalah indah dan mengagumkan, tidak diingkari oleh Islam. Itulah tolak ukur terbaik menurut al-Banna. Nasionalisme Islam bersumber dari hadits Nabi: “Orang muslim itu saudara muslim yang lain.” Sedangkan sabdanya yang lain mengatakan: ”Orang-orang muslim itu satu darah, orang-orang yang berada di atas bekerja untuk menyantuni yang lain, dan mereka bersatu untuk melawan musuhnya.” Ini berarti bahwa nasionalisme Islam tidak terbatas pada satu negara saja, tetapi melingkupi negara secara luas. Islam datang untuk menghapus budaya jahiliyah. Nasionalisme yang jahiliyah haruslah ditinggalkan oleh umat Islam. Ia berkata bahwa jika yang dimaksudkan dengan nasionalisme adalah menghidupkan tradisi jahiliyah yang sudah lapuk, menegakkan kembali peradaban yang telah terkubur dan digantikan oleh peradaban baru yang telah eksis dan bermanfaat, atau melepaskan dirinya dari ikatan Islam dengan klaim demi nasionalisme dan harga diri kebangsaan, 19
  20. 20. maka pengertian nasionalisme seperti ini adalah buruk, hina akibatnya, dan jelek kesudahannya. d. ‘Alamiyah (Internasionalisme) Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an surat al-Anbiya ayat 107:       “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” 12 Ayat ini berarti bahwa diutusnya nabi Muhammad Saw adalah ditujukan untuk seluruh umat manusia dari seluruh suku bangsa. ”Rahmatan Lil’Alamin” adalah konsep yang menjelaskan tentang internasionalisme Islam yang tidak mengenal sekat teritorial. Jika internasionalisme diterjemahkan dengan “Pemerintahan Dunia”, maka pengertiannya yang bisa diberikan adalah “Sebuah kesatuan pemerintahan dengan otoritas mencakup planet Bumi. Tidak pernah ada satu Pemerintahan Dunia yang pernah terjadi sebelumnya, meskipun kerajaan besar dan superpower telah mendapatkan tingkatan kekuasaan yang mirip. Contoh sejarah telah dihambat oleh kenyataan bahwa komunikasi dan perjalanan yang tak memungkinkan membuat organisasi dunia ini tidak terjadi. Beberapa internasionalis mencari pembentukan pemerintahan dunia sebagai cara mendapatkan kebebasan dan sebuah peraturan hukum di seluruh dunia. Beberapa 12 Program The Holy Qur’an 20
  21. 21. orang khawatir bahwa pemerintah dunia harus dapat menghormati keragaman negara atau manusia yang tercakup di dalamnya. Dan di sisi lain memandang ide ini sebagai sebuah kemungkinan mimpi buruk, dalam dunia yang kacau pemerintah berusaha menciptakan negara totalitarian yang tak berakhir tanpa ada kemungkinan untuk kabur atau revolusi Internasionalisme menurut Hasan al-Banna inheren dalam Islam, karena Islam adalah agama yang diperuntukkan untuk seluruh umat manusia. “Adapun dakwah kita disebut internasional, karena ia ditujukan kepada seluruh umat manusia. Manusia pada dasarnya bersaudara; asal mereka satu, bapak mereka satu, dan nasab mereka pun satu. Tidak ada keutamaan selain karena takwa dan karena amal yang dipersembahkannya, meliputi kebaikan dan keutamaan yang dapat dirasakan semuanya,” Konsep internasionalisme merupakan lingkaran terakhir dari proyek politik al-Banna dalam program ishlahul ummah (perbaikan umat). Dunia, tidak bisa tidak, bergerak mengarah ke sana. Persatuan antar bangsa, perhimpunan antar suku dan ras, bersatunya sesama pihak yang lemah untuk memperoleh kekuatan, dan bergabungnya mereka yang terpisah untuk mendapatkan hangatnya persatuan, semua itu merupakan pengantar menuju terwujudnya kepemimpinan prinsip internasionalisme untuk menggantikan pemikiran rasialisme dan kesukuan yang diyakini umat manusia sebelum ini. Dahulu memang harus meyakini ini untuk menghimpun unsur-unsur dasar, lalu harus dilepaskan kemudian untuk menggabungkan berbagai kelompok besar, setelah itu terwujudlah kesatuan total 21
  22. 22. di akhirnya. Langkah ini, menurutnya memang terkesan lambat, akan tetapi memang harus terjadi. Untuk mewujudkan konsep ini juga Islam telah menyodorkan sebuah penyelesaian yang jelas bagi masyarakat untuk keluar dari lingkaran masalah seperti ini. Langkah pertama kali yang dilakukan adalah dengan mengajak kepada kesatuan akidah, kemudian mewujudkan kesatuan amal. Hal ini sejalan dengan ayat dalam al-Qur’an surat Asyura 13:          Dan (karenanya) sempitlah dadaku dan tidak lancar lidahku Maka utuslah (Jibril) kepada Harun. ”13 Maksudnya: agar Harun itu diangkat menjadi Rasul untuk membantunya. Dalam Risalah Pergerakan, Hasan al-Banna berharap pada negerinya yaitu Mesir yang mendukung upaya dakwah Islamiyah, menyatukan seluruh bangsa Arab untuk kemudian melindungi seluruh kaum muslimin di penjuru bumi. Namun, harapan ini tetaplah belum membuahkan hasil maksimal karena sejak Hasan al-Banna wafat sampai sekarang Mesir belum menjadi sentrum dari kesatuan umat Islam sedunia. Malah, pada beberapa kasus, seperti masalah invasi Israel ke Gaza Palestina (2009), Mesir banyak mendapat kecaman karena tidak kooperatif dengan aktivis pergerakan Islam namun dekat dan bahkan pada titik tertentu, mendapatkan intervensi dari Barat. 4. Pergerakan 13 Program Holy Qur’an 22
  23. 23. Pada bulan September tahun 1927 M, Hasan Al Banna diangkat menjadi guru SD di Kota Isma’iliyah, disanalah beliau memulai da’wahnya, di warung- warung kopi kemudian pindah ke masjid. Da’wah yang dilakukannya di warung- warung kopi ini bukan pengalaman yang pertama baginya, tapi beliau sudah terbiasa da’wah di tempat-tempat seperti ini, ketika beliau masih mahasiswa di Darul Ulum, Kairo. Da’wah Hasan Al Banna mendapat sambutan dari para pengunjung warung-warung kopi, sehingga sebagian diantara mereka bertanya kepadanya tentang apa yang harus dilakukan demi agama dan tanah air. Setelah beberapa lama berda’wah di warung-warung kopi kemudian Hasan Al Banna pindah dari warung kopi ke mushalla (Zawiyah). Di Zawiyah inilah beliau berbicara dan mengajarkan praktek ibadah, dan meminta kepada mereka agar meninggalkan kebiasaan hidup boros bermewah-mewahan. Para pendengar menyambutnya dengan baik. Hasan Al Banna juga memperluas interaksinya kepada seluruh unsur yang berpengaruh terhadap masyarakat, yaitu para ulama, Syaikh kelompok sufi, tokoh masyarakat (wujaha), dan berbagai perkumpulan-perkumpulan. Pada bulan Dzul Qo’dah tahun 1347 H atau bulan Maret 1928 M, datanglah 6 orang laki-laki yang tertarik dengan da’wah Hasan Al-Banna, mereka adalah: Hafiz Abdul Hamid (tukang bangunan), Ahmad Al Hushor (tukang cukur), Fuad Ibrahim (tukang gosok pakaian), Ismail Izz (penjaga kebun), Zaki Al Maghribi (tukang rental dan bengkel sepeda), dan Abdurrahman Hasbullah (supir). 23
  24. 24. Mereka berbicara kepada Hasan Al-Banna tentang apa yang harus mereka lakukan demi agama dan mereka menawarkan sebagian harta milik mereka yang sedikit. Mereka pun meminta Hasan Al-Banna menjadi pimpinan mereka. Lalu mereka berbai’at kepadanya untuk bekerja demi Islam dan mereka bermusyawarah tentang nama perkumpulan mereka. Imam Al Banna berkata : “Kita ikhwah dalam berkhidmat untuk Islam, dengan demikian kita Al Ikhwanul Muslimin”. Kemudian mereka menjadikan kamar di suatu rumah sewaan yang sangat sederhana sebagai “Kantor Jama’ah” dengan mengambil nama Madrosah At Tahzab. Disanalah Hasan Al-Banna mulai meletakkan manhaj tarbawi bersama pengikut-pengikutnya, manhaj tarbawi pada waktu itu adalah : 1. Al-Qur’anul Karim (tilawah dan hafalan). 2. As Sunnah An Nabawiyah (menghafal sejumlah hadits). 3. Pelatihan khutbah. 4. Pelatihan mengajar untuk umum. Setelah beberapa bulan jumlah pengikut jama’ah menjadi 76 orang, kemudian terus bertambah.Dan mereka mendermakan harta mereka untuk da’wah sampai dapat membeli sebidang tanah untuk dibangun diatasnya markas jama’ah: Darul Ikhwanul Muslimin, terdiri dari 1 masjid, 1 sekolah untuk putra, 1 sekolah untuk putri, dan nadi (tempat pertemuan) ikhwan. Pada bulan Oktober tahun 1932 M, Hasan Al-Banna dimutasi kerja oleh Pemerintah ke Kairo sebagai guru di Madrasah Abbas I, Distrik Sabtiah. 24
  25. 25. Perpindahan kerja ini menjadi peluang baginya untuk membawa da’wah ke Kairo ibukota Mesir. Di Kairo Hasan Al Banna dan ikhwan memilih rumah di jalan Nafi No.24 sebagai Markaz Amm, dan ia tinggal bertempat di lantai atas selama 7 tahun da’wah di Kairo dari tahun 1932 sampai 1939 M. Markaz Amm mengalami beberapa kali pindah : 1. Di jalan Nafi No.24 2. Di rumah di Suqus Silah 3. Di jalan Syamasyiji No.5 4. Di jalan Nashiriyah No.13 5. Di jalan Medan Atobah No.5 di perumahan wakaf 6. Di jalan Ahmad Bik Umar di Hilmiyah Di Kairo disamping banyaknya partai politik yang bersaing untuk menjadi partai yang berkuasa, didapati pula banyak organisasi Islam dan non Islam.Di tengah-tengah kehidupan Kairo, da’wah ikhwan terus meluncur membuktikan keberadaannya, efektifitasnya dan menarik banyak pengikut dan pendukungnya serta membuka syu’bah-syu’bah baru. Da’wah di Kairo belum sampai satu tahun Hasan Al-Banna telah mampu menyebarkan da’wah di seluruh kota Kairo dan telah membuka syu’bah-syu’bah baru lebih dari 50 kabupaten, dimana Ia mendatangi perkampungan negeri Mesir 25
  26. 26. untuk berda’wah tidak mengenal letih, apalagi malas. Hal itu dilakukannya disaat- saat musim liburan sekolah.14 Pada musim liburan di musim panas, beliau menjelajah seluruh Mesir dengan jalan kaki atau naik kereta api buruk kelas tiga yang penuh sesak. Beliau tidak melalui sebuah kampung dan kota melainkan berhenti dan bermalam di situ, guna menyampaikan dakwah Islam kepada orang kampung di masjid-masjid dan di rumah-rumah. Beliau sangat bersemangat dalam menyampaikan dakwah sehingga menyentuh hati mereka yang mendengarkannya, mulai dari buruh rendah dan kasar hingga para ulama yang mulia mengelilinginya untuk mendengar dakwahnya yang berapi-api. Pada tahun 1933, kantor Ikhwanul Muslimin dipindahkan dari Ismailiah ke Kairo. Dalam masa tiga tahun di sana, Harakah Ikhwanul Muslimin membuat penekanan yang berat dalam mendidik umat islam supaya menghayati islam, yaitu melalui cara menggerakkan masjid-masjid, mendirikan sekolah-sekolah dan pusat-pusat kebajikan di seluruh Mesir. Begitulah Hasan Al Banna membuat gebrakan baru yang belum di buat oleh para ulama besar di Al Azhar saat itu. Kota Kairo saat itu berkiblat ke Eropa. Umat Islam malu untuk sembahyang tempat umum. Murid-murid di sekolah belajar membenci apa saja perkara yang berkaitan dengan Islam. Di kota besar inilah Hassan Al Banna 14 http://harakatuna.wordpress.com/2008/12/01/sejarah-kehidupan-hasan-al-banna/, diakses pada tanggal 10/2/2013 2:43:48 a10/p10 26
  27. 27. berhasil mengajak ratusan pelajar didikan Barat kembali mencintai Islam dan menjadi muridnya yang gigih berjuang. Jama'ah Ikhwanul Muslimun bercita-cita untuk menjalankan tanggung jawabnya ke seluruh Mesir. tujuananya ialah menggantikan masyarakat Mesir secara menyeluruh kepada masyarakat yang berlandaskan Syariah Islam. C. Penutup Dari penjelasan makalah di atas, maka ada beberapa kesimpulan yang dapat penulis bagi menjadi beberapa bagian, yaitu: 1. Ada empat pemikiran politik Hasan al-Banna, yaitu: Urubah (Arabisme), Wathaniyah (Patriotisme), Qaumiyah (Nasionalisme), dan ‘Alamiyah (Internasionalisme). 2. Arabisme menurut Hasan al-Banna adalah karena faktor kesatuan bahasa. Tanpa Arab tidak ada Islam. Islam turun di dunia Arab, olehnya itu maka kaum muslimin perlu menjaga nama baik Arab. 3. Patriotisme dalam Islam dibolehkan selama tidak mengarah pada kesempitan pandangan jahiliyah. Kerinduan pada tanah air adalah sesuatu yang fitrawi, namun tetap dikendalikan oleh konsepsi Islam. 27
  28. 28. 4. Nasionalisme terbagi tiga yaitu nasionalisme kejayaan, nasionalisme umat, dan berkata tidak pada nasionalisme jahiliyah. 5. Internasionalisme adalah konsep Islam sebagai rahmatan lil’alamin. 28

×