IDENTIFIKASI CACING EURYTREMA SP. PADA TERNAK SAPI                             BERDASARKAN CIRI-CIRI MORFOLOGIS           ...
berbeda sehingga diperoleh informasi tentang spesies cacing tersebut di Indonesia . Penelitian iniberukuan untuk mengetahu...
berlobus, ovarium tidak berlobus dan ada juga yang berlobus dan follikel vitellaria berkelompok yangjelas batasannya. Sesu...
PanjangLebarCab. sekum keUAT (mm)KETERANGAN : BIM = batil isap mulut           BIP = batil isap perut             UAT = uj...
Keterangan : ND = tidak ada data             * =diameter             (NEVEU-LEMAIRE, 1936)Sampel asal Makassar dan D .I. A...
EKINOKOKOSIS/HIDATIDOSIS, SUATU ZOONOSIS          PARASIT CESTODA PENTING TERHADAP KESEHATAN                          MASY...
Alveolar Echinococcosis (AE). CE dan AE merupakan problem utama di wilayah peternakan dombaintensif dengan transmisi anjin...
jackal) sebagai ISD. Proglottid (gravid) yang mengandung telur-telur infektif dikeluarkan bersama feses.Apabila telur infe...
fertile (90% fertile) dibanding dengan kista pada sapi (90% steril) atau babi (80% steril) (JUBB danKENNEDY, 1970). Di Bro...
kapiler hati akan masuk ke sirkulasi darah secara sistemik masuk paruparu dan atau organ tubuh lainnya(EDINGTON dan GILLES...
hidatid dalam tubuh manusia (WOODS, 1986). Menurut MULLER (1975), diagnosis dapat dilakukansbb: 1. secara klinik dan parsi...
harus membiasakan diri dengan menjaga kebersihan, terutama harus mencuci tangan sebelum makan danminum bagi mereka sering ...
Analisis Faktor-Faktor Resiko Infeksi Cacing Pita                        pada Ayam Ras Petelur Komersial di Bogor         ...
cestodosis khususnya pada ayam ras. Laporan terbaru kasus cestodosis ini ditemukan pada beberapapeternakan ayam ras petelu...
pemeliharaan kutuk, periodisasi pembuangan limbah manur, serta manajemen pemberian anthelmintikatidak terbukti secara nyat...
secara longgar. Hubungan tersebut dapat dilihat dari hasil analisis sehingga memperoleh nilai crude ORdan adjusted OR. Pad...
ANALISA INFEKSI CACING ENDOPARASIT PADA IKAN KAKAP PUTIH DARI PERAIRAN                            PANTAI DEMAK
TAENIASIS DAN SISTISERKOSIS MERUPAKAN PENYAKIT                                      ZOONOSIS PARASITER                    ...
Asia Tenggara dan negara-negara di Eropa Timur. Di Indonesia terdapat tiga provinsi yang berstatusendemi penyakit Taeniasi...
dari DHARMAWAN et al. (1996) berdasarkan hasil penelitiannya disebutkan bahwa babi yang diinfeksitelur T. saginata ternyat...
dimungkinkan bisa ditularkan secara langsung antar manusia yaitu melalui telur dalam tinja manusia yangterinfeksi langsung...
pemeriksaan palpasi lidah, tetapi dengan uji ELISA (Enzyme-linked Immunoabsorbent Assay) dinyatakanseropositif. Dalam hal ...
(anjing/ kucing). Penularan Taeniasis melalui makanan yaitu memakan daging yang mengandung larva,baik yang terdapat pada d...
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Penelitian platyhelmintes
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Penelitian platyhelmintes

3,788 views
3,642 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,788
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
15
Actions
Shares
0
Downloads
24
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Penelitian platyhelmintes

  1. 1. IDENTIFIKASI CACING EURYTREMA SP. PADA TERNAK SAPI BERDASARKAN CIRI-CIRI MORFOLOGIS (Identification of Eurytrema Sp. in Cattle Based on Morphological Characteristics) Keywords : Identification, Eurytrema sp ., morphology, cattleABSTRACTThe study was conducted to identify the Eurytrema sp. morphologically . The specimens of Eurytrema sp. were obtained from the pancreatic duct of cattle slaughtered in Makassar, Yogyakarta and Aceh. Theflukes were fixated in 70% ethanol for morphological examination. The morphological examination wasconducted by using at least 3 flukes of each sample. The parameter which were measured included thebody size, oral and ventral succer, pharynx, testis, ovary and eggs. The measurement was conducted afterstaining. Based on the morphological features it was found that there were 3 species, i.e. Eurytremapancreaticum, Eurytrema dajii and Eurytrema spp.PENDAHULUANPenelitian tentang infeksi cacing pada ternak domba pernah dilakukan oleh DORNY et al. (1996) diSumatra Utara. Di sana terdapat 13 spesies cacing yang menginfeksi domba diantaranya 8 spesiesnematoda, 1 spesies cestoda dan 4 spesies trematoda . Semua domba mengalami infeksi campuran lebihdari 1 spesies cacing . Di antara 4 spesies trematoda salah satunya ialah Eurytrema pancreaticum dengantingkat infeksi mencapai 23,3%. Kejadian E. pancreaticum juga pernah dilaporkan di Jawa Timur padasapi dan kambing (WIRORENO et al ., 1987) dan di Sumatera Utara pada domba (ARASU et al., 1991).Genus Eurytrema sering juga disebut dengan cacing pankreas yang ditemukan di dalam pankreas dansaluran empedu sapi, kerbau air, domba, kambing, man-nut, babi, unta, monyet dan manusia (TANG,1950).Kejadiannya pada manusia yang kedua kalinya dilaporkan oleh ISHII et al. (1983) . Infeksi padainduk semang definitif terjadi karena termakannya belalang yang terinfeksi oleh sporosista (GATENBYet al., 1992). Cacing pankreas termasuk dalam kelas Trematoda sub kelas Digenea, famili Dicrocoelfdae.Genus Eurytrema terdiri dari 6 spesies masing-masing : E. pancreaticum, E. coelomaticum, E. parvum, E.rebelle, E. dajii, dan E. ovis . Secara morfologis, panjang dan lebar tubuh E. pancreaticum lebih besardaripada Eurytrema sp. lainnya. Batil isap mulut lebih besar daripada batil isap perut. Eurytremacoelomaticum identik dengan E. pancreaticum, perbedaannya dijumpai pada perbandingan antaradiameter batil isap perut dengan batil isap mulut. Eurytrema coelomaticum mempunyai diameter batil isapmulut yang sama dengan batil isap perut. Eurytrema rebelle mempunyai batil isap perut yang lebih besardaripada batil isap mulut, serta testisnya asimetris dan terletak lebih di bawah batil isap perut. Eurytremadajii mempunyai batil isap perut lebih besar daripada batil isap mulut dan testisnya berlobus . Eurytremaovis lebih mirip dengan E. pancreaticum dan E. coelomaticum, namun ukuran tubuhnya lebih kecildaripada E. coelomaticum, dan ukuran batil isap mulut hampir sama dengan batil isap perut (NEVEU-LEMAIRE, 1936). Perbedaan antara satu spesies dengan spesies lainnya didasarkan atas ciri-cirimorfologisnya seperti ukuran tubuh, telur, dan perbandingan ukuran batil isap perut dengan batil isapmulut (NEVEU-LEMAIRE, 1936) . Cacing pankreas mempunyai dua induk semang perantara yaitu siputtanah (TANG, 1950) dan belalang (BASCH, 1965). Induk semang perantara pertama adalah dua jenissiput tanah yaitu Bradybaena similaris dan Cathaica ravida sieboldtiana yang termasuk ke dalam familiFruiticoidolidae (TANG, 1950). Induk semang perantara kedua adalah belalang Conocephalus chinensis(CHINONE et al., 1984; GU et al ., 1990). Belalang ini merupakan famili Tettigoniidae (METCALF danFLINT, 1979). Pengklasifikasian Eurytrema sp . sampai saat ini masih tetap kontroversial (MORIYAMA,1982). Informasi tentang ciri-ciri morfologis cacing tersebut di Indonesia sangat minim, sehingga sampaisaat ini belum diketahui dengan jelas spesies yang terdapat di Indonesia . Oleh karena itu, dirasakan perluuntuk dilakukan penelitian tentang identifikasi Eurytrema sp. pada sampel yang berasal dari daerah
  2. 2. berbeda sehingga diperoleh informasi tentang spesies cacing tersebut di Indonesia . Penelitian iniberukuan untuk mengetahui spesies serata ciri-ciri morfologi cacing Eurytrema sp. yang berasal dariternak ruminansia di Jawa, Sumatera dan Sulawesi.TEMPAT DAN WAKTU-acetic dengan Koleksi bahan cacing Eurytrema sp. dewasa dilaksanakan di tiga lokasi yaitu Makassar,Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Daerah Istimewa Aceh (DIA) yang pelaksanaannya dilakukanpada bulan Agustus 2000 sampai dengan April 2001 . Pemeriksaan morfologi dilaksanakan diLaboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada. Bahan dan alat Penelitianini menggunakan cacing Eurytrema sp. dewasa yang diperoleh dari 13 buah pankreas sapi yang dipotongdi rumah potong hewan (RPH) Makassar (kode M), RPH Ngampilan, DIY (kode J) dan RPH Keudah, DIAceh (kode A). Sampel dari Makassar diperoleh dari 3 buah pankreas yang berasal dari sapiBali, dariDIY 5 buah pankreas dari sapi cross breed, dan dari DI Aceh 5 buah pankreas dari sapi lokal (sapi Aceh).Sapi yang digunakan berumur di atas 1 tahun. Pemeriksaan morfologi Prosedur penyiapan dan fiksasisampel mengikuti metode CABLE (1961). Seratus individu cacing dewasa yang diperoleh dari pankreasyang terinfeksi dicuci dengan aquades, diletakkan di atas gelas nako yang berukuran 15 x 10 x 0,5 cm,ditutup dengan gelas nako lainnya dan di atasnya diberi beban _+ 0,5 kg selama 15 menit. Sampel cacingyang telah pipih difiksasi dalam larutan etanol 70%. Pemeriksaan morfologi hanya dilakukan terhadap 3-9individu cacing yang telah diwarnai dari masingmasing sampel pankreas yang terinfeksi. Parameter yangdiukur meliputi ; ukuran tubuh, batil isap mulut dan perut, farinks, testis, ovarium, telur dan jarakpercabangan sekum ke ujung anterior tubuh. Pengukuran ukuran tubuh dilakukan dengan menggunakanpenggaris sedangkan ukuran batil isap mulut dan perut, farinks, testis, ovarium, telur danjarakpercabangan sekum ke ujung anterior tubuh menggunakan mikrometer. Identifikasi cacing berdasarkanciri morfologis mengacu pada metode standar menurut CABLE (1961). Cacing yang akan diwarnaidiletakkan di antara 2 gelas obyek sedemikian rupa agar tidak mengkerut dan dimasukkan ke dalamcawan petri yang berisi larutan fiksatif AFA (alcoholformolkonsentrasi formalin 10 bagian, alkohol 95%50 bagian,asam asetat 2 bagian dan air 40 bagian) dan dibiarkan selama _+24 jam. Cacing yang telahdifiksasi dicuci dengan air selama 15 menit dan dimasukkan ke dalam larutan alkohol bertingkat 30%,50% dan 70% masingmasing selama 15 menit. Cacing diwarnai dengan Semichons carmin selama 1 jam,kemudian dicuci dengan larutan alkohol 70% selama 15 menit. Cacing dicuci dengan larutan HCl-alkohol1 % selama 30 menit, dimasukkan dalam larutan alkohol 70%, 80%, 95%, 100% masing-masing selama15 menit. Cacing dipindahkan ke dalam larutan xylol 2 kali masingmasing selama 15 menit, diletakkan diatas gelas obyek dengan bagian ventral menghadap ke atas dan ditutup dengan entellan.ANALISIS DATAUkuran morfologi cacing yang meliputi ukuran tubuh, ukuran batil isap mulut dan perut, ukuran testis,ukuran ovarium, ukuran farinks dan ukuran telur dianalisis secara statistik .HASIL DAN PEMBAHASANRata-rata jumlah cacing per pankreas dari sampel DI Aceh adalah 326 (224-425) . Secara morfologicacing yang didapat mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Batil isap mulut lebih besar dari batil isap perut,testes berlobus, ovarium tidak berlobus dan ada juga yang berlobus, follikel vitellaria berkelompok yangjelas batasannya. Sesuai dengan pendapat NEVEU-LEMAIRE (1936), LAPAGE (1959), MORIYAMA(1982), dan INOUE et al. (1986) cacing tersebut termasuk E. pancreaticum (Gambar 1) . Selain itu jugaditemukan Eurytrema dengan ciri-ciri sebagai berikut : Batil isap mulut lebih kecil dari batil isap perut,testes berlobus, ovarium tidak berlobus dan ada juga yang berlobus dan follikel vitellaria berkelompok.Sesuai dengan pendapat Neveu- LEMAIRE (1936), cacing tersebut tergolong E. dajii (Gambar 2).Rata-rata jumlah cacing per pankreas dari sampel DIY adalah 1351 (134 - 2407). Secara morfologi cacingtersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Batil isap mulut lebih kecil dari batil isap perut, testes
  3. 3. berlobus, ovarium tidak berlobus dan ada juga yang berlobus dan follikel vitellaria berkelompok yangjelas batasannya. Sesuai dengan pendapat NEVEU-LEMAIRE (1936),cacing tersebut tergolong E. dajii .Rata-rata jumlah cacing per pankreas dari sampel Makassar tidak dihitung karena sampel cacing yangdikoleksi dari masing-masing pankreas hanya diambil sebagian . Sampel cacing tersebut mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : Batil isap mulut lebih kecil dari batil isap perut, testes berlobus, ovarium tidakberlobus dan ada juga yang berlobus dan follikel vitellaria berkelompok yang jelas batasannya. Sesuaidengan pendapat NEVEU-LEMAIRE (1936), cacing tersebut termasuk E. dajii . Selain itu jugaditemukan Eurytrema dengan ciri-ciri sebagai berikut : Batil isap mulut lebih kecil dari batil isap perut,testes dan ovarium kurang berlobus dan follikel vitellaria berkelompok yang tidak jelas batasannya .Eurytrema ini belum diperoleh kunci identifikasinya sehingga spesies ini diduga sebagai spesies baru dandi beri nama Eurytrema spp. (Gambar 3) . Sampel cacing yang berasal dari DI Aceh, DIY dan Makassarmempunyai ukuran morfologi seperti tercantum pada Tabel 1 . Perbandingan ciri morfologis dari masing-masing spesies seperti tercantum pada Tabel 2 . Ukuran tubuh E. pancreaticum lebih besar dari E. dajiidan Eurytrema spp, E. dajii lebih besar dari Eurytrema spp. Meskipun rata-rata ukuran tubuh E.pancreaticum lebih besar dari E. dajii namun E. dajii ada juga yang berukuran besar sehingga untukmembedakannya hanya berdasarkan ukuran tubuh saja kurang tepat . Eurytrema pancreaticummempunyai batil isap mulut yang lebih besar daripada batil isap perut, hal ini sesuai dengan yangdilaporkan NEVEU-LEMAIRE (1936), LAPAGE (1959), MORIYAMA (1982), dan INOUE et al.(1986). Batil isap perut E. dajii lebih besar daripada batil isap mulut, sesuai dengan yang dilaporkan olehNEVEU-LEMAIRE (1936). Eurytrema spp. juga mempunyai batil isap perut yang lebih besar daripadabatil isap mulut. NOSAKA et al. Sit. CHINONE et al. (1984) melaporkan bahwa perbandingan batil isapmulut dengan batil isap perut merupakan salah satu ciri yang bermanfaat untuk identifikasi spesies .Perbandingan diameter batil isap perut dan batil isap mulut E. pancreaticum dan E. dajii yang diperolehdari penelitian ini (Tabel 2) sesuai dengan laporan terdahulu (NEVEU-LEMAIRE, 1936) (Tabel 3) .Tabel 1 . Rata-rata ukuran morfologis Eurytrema sp . sampel asal DI Aceh, DIY dan Makassar Ciri-ciri# tubuhPanjang (mm)Lebar (mm)Diameter BIM(mm)Diameter BIP(mm)DiameterBIM/BIP# faringPanjang (mm)Lebar (mm)# Testes kiriPanjangLebar#testes kananPanjangLebar# ovariumPanjangLebar# telur
  4. 4. PanjangLebarCab. sekum keUAT (mm)KETERANGAN : BIM = batil isap mulut BIP = batil isap perut UAT = ujung anterior tubuh Ed = Eurytrema dajii E.p = Eurytrema pancreaticum E.spp = Eurytrema new spesiesBentuk testis E. pancreaticum dan E. dajii lebih berlobus daripada Eurytrema spp, demikian juga bentuk ovariumnya .Lobulasi testis ini merupakan sifat yang menciri untuk E. pancreaticum (CHINONE et al., 1984) dan E. dajii (NEVEu-LEMAIRE, 1936). Kelompok folikel vitellaria E. pancreaticum dan E. dajii jelas batasannya sedangkan padaEurytrema spp. tidak jelas. Secara morfologis E. pancreaticum lebih mirip dengan E. dajii, perbedaan yang menciridijumpai pada perbandingan antara diameter batil isap mulut dengan batil isap perut (Tabel 2) . Perbedaan antaraEurytrema spp. dengan E. pancreaticum dan E. dajii dijumpai pada semua parameter morfologis, kecuali padaukuran telur. Ukuran telur dari masing-masing spesies relatif sama, hal ini berbeda dengan laporan sebelumnya yangmengatakan bahwa ukuran telur E. pancreaticum lebih besar dari telur E. dajii (NEVEU-LEMAIRE, 1936) . Cirimorfologis yang sama antara Eurytrema spp. dan E. dajii adalah pada perbandingan antara batil isap mulut denganbatil isap perut. Secara umum ukuran morfologi E. dajii sampel asal DI Aceh lebih besar daripada E. dajii sampel asalDIY dan Makassar, namun ukuran testes kiri dan ovarium lebih besar pada sampel asal DIY.Tabel 2. Rata-rata ciri morfologis Eurytrema sp.Keterangan:UAT= ujung anterior tubuhBIM= batil isap mulutBIP= batil isap perutpt= panjang tubuh*= rerata ukuran tubuh setelah diwamaiTabel 3. Ciri-ciri morfologis spesies Eurytrema
  5. 5. Keterangan : ND = tidak ada data * =diameter (NEVEU-LEMAIRE, 1936)Sampel asal Makassar dan D .I. Aceh dijumpai 2spesies cacing yang berbeda sedangkan sampel asalDIY hanya 1 spesies pada 1 induk semang yang sama. Hal ini berbeda dengan laporan sebelumnyayang menyebutkan bahwa spesies yang berbeda mungkin tidak hidup bersama pada induk semangdefinitif yang sama (MORIYAMA, 1982). Tidak dijumpainya E. pancreaticum di DIY dan Makassar sertaEurytrema spp. di DI Aceh dan DIY diduga karena faktor lingkungan dan induk semang definitif yangberbeda dan juga mungkin karena waktu pengambilan sampel yang relatif singkat yaitu lebih kurang 1minggu. Untuk penelitian selanjutnya dirasakan perlu untuk mempertimbangkan faktor tersebut di atassehingga dapat memberikan gambaran tentang spesies Eurytrema yang ada di Indonesia .KESIMPULAN DAN SARANHasil identifikasi menunjukkan bahwa secara morfologis genus Eurytrema yang berasal dari DI. Aceh,Yogyakarta dan Makassar ada 3 spesies yaitu E. pancreaticum, E. dajii dan Eurytrema spp. Eurytremapancreaticum hanya dijumpai pada sampel asal DI. Aceh, E. dajii pada semua sampel dan Eurytremaspp . hanya dijumpai pada sampel asal Makassar. Induk semang definitif dapat terinfeksi lebih dari satuspesies Eurytrema. Penelitian yang sama perlu dilakukan lebih lanjut terutama di daerah lainnya, dengandemikian akan diperoleh tambahan informasi tentang spesies Eurytrema yang ada di Indonesia .
  6. 6. EKINOKOKOSIS/HIDATIDOSIS, SUATU ZOONOSIS PARASIT CESTODA PENTING TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT TARMUDJI Balai Penelitian Veteriner Jl. R.E. Martadinata No. 30, P.O. Box 151, Bogor 16114ABSTRAKEkinokokosis/hidatidosis adalah suatu penyakit zoonosis cestoda yang disebabkan oleh infeksi stadiumlarva Echinococcosis granulosus. Parasit cacing pita ini berukuran kecil (panjangnya < 1 cm) danmempunyai tiga segmen. Untuk melengkapi siklus hidupnya, E. granulosus memerlukan dua mamaliasebagai inangnya. Cacing dewasanya hidup di dalam usus kecil hewan carnivora, terutama anjing (induksemang definitif) dan menghasilkan telur yang mengandung larva infektif. Sedangkan stadium larva,metacestode berkembang di dalam organ internal hewan ungulata, misalnya, domba, sapi, babi dan onta(induk semang antara). Secara asidental E. granulosus dapat menginfeksi manusia (bila tertelan telurinfektif) dan dalam perkembangan stadium larva (hidatid) dapat membentuk kista pada organ tubuhinangnya (terutama hati dan paru-paru). Penyebaran penyakit hidatid secara kosmopolitan, terutama didaerah yang mempunyai populasi domba dan sapi yang sangat banyak. Penyakit ini merupakan problemutama di daerah Timur Tengah, Afrika utara dan sub sahara serta di Amerika Utara. E. granulosus kurangpatogen pada anjing, tetapi bersifat patogen pada manusia dan menyebabkan hidatidosis (cystichydatidosis). Penyakit ini, pada stadium awal tidak memperlihatkan gejala klinik (aymptomatic). Gejalaklinis dapat terjadi setelah masa inkubasi yang cukup lama (diperkirakan beberapa bulan hingga tahunan).Dan, tergantung dari jumlah, besar dan lokasi kista, perkembangannya (aktif/inaktif) serta terjadinyapenekanan kista terhadap jaringan di sekitarnya. Ukuran kista pada organ tubuh manusia sangatbervariasi, biasanya sekitar 1-15 cm, tetapi bisa juga lebih besar (diameter > 15 cm). Kista pada hati dapatmenimbulkan rasa nyeri perut di bagian atas, hepatomegali dan berbagai macam gejala yang lain. Batukkronik, sesak nafas dan hemoptysis dapat disebabkan oleh kista pada paru-paru. Pada induk semangantara, diagnosa tergantung ada/tidaknya kista pada organ, terutama pada hati dan paru-paru. Diagnosispada anjing dengan ditemukannya cacing (dewasa) E. granulosus. Sedang pada manusia diagnosisekinokokosis didasarkan pada gejala klinik, ultrasonografi dan pemeriksaan dengan sinar X (X-Ray) danmetode lain yang dapat mendukung diagnosis yaitu dengan deteksi serum spesifik antibodi/ujiimunodiagnostik. Di Indonesia, secara serologi pernah ditemukan pada penduduk di sekitar danau Lindu,Sulawesi Tengah, namun pada anjing tidak ditemukan cacing E. granulosus.Kata kunci : Ekinokokosis/hidatidosis, E. granulosus, zoonosis, anjing, hewan ungulata, manusiaPENDAHULUANBeberapa parasit cestoda pada hewan ada yang bersifat zoonosis dan salah satu diantaranya adalah genusEchinococcus (SOULSBY, 1965). Echinococcus sp. adalah cacing kecil (panjang <1cm) yang daurhidupnya melibatkan dua mamalia (ECKERT et al., 1982). Cacing dewasanya hidup di dalam usus kecil(intestine) hewan carnivora, terutama anjing sebagai induk semang definitive/ISD (Definitive Host),sedangkan stadium larvanya (hidatid) hidup di dalam tubuh hewan ungulata (misalnya, domba, sapi, babi,kuda, onta, dsb) sebagai induk semang antara/ISA (Intermediate Host). Di dalam usus, Echinococcus sp.memproduksi telur yang dikeluarkan bersama feses anjing, sehingga dapat mencemari lingkungan. Bilatelur tersebut termakan oleh ISA, akan berkembang dan membentuk kista yang menyerupai tumor didalam organ tubuh inangnya, terutama pada organ hati dan paru-paru. Manusia dapat terinfeksi parasittersebut secara asidental, bila ia tertelan oleh telur cacing infektif melalui jari tangannya atau makananyang terkontaminasi feses anjing tersebut (FAO, 1957; ECKERT et al., 1982). Dua bentuk larvaEchinococcus yang merupakan masalah penting bagi kesehatan masyarakat yaitu, Echinococcusgranulosus yang menyebabkan Cystic Echinococcosis (CE) dan E. multilocularis yang menyebabkan
  7. 7. Alveolar Echinococcosis (AE). CE dan AE merupakan problem utama di wilayah peternakan dombaintensif dengan transmisi anjing-domba-anjing (LEECH et al., 1988). Masih ada dua spesies lagi yaitu E.vogeli dan E.oligarthrus yang dapat menyebabkan Polycystic Echinococcosis, namun tidak begitu pentingkarena frekuensi kejadiannya sangat rendah. (ECKERT dan DEPLAZES, 2004). Meskipun secarageografis CE dan AE penyebarannya luas dan berdampak terhadap ekonomi dan kesehatan masyarakat,namun CE yang paling penting diantara keduanya. Karena penyebaran CE sangat luas, paling sedikitsudah dilaporkan terdapat di 100 negara dan variasi inangnya juga banyak (ECKERT dan DEPLAZES,2004). E. granulosus bersifat kosmopolitan dan mampu beradaptasi dengan berbagai jenis inangnya padahewan-hewan di Eropa dan di belahan bumi lainnya. Di sebagian besar negara-negara Mediterraneanyang paling timur, infeksinya hiper-endemik pada domba, onta, kambing dan keledai. E. granulosus jugadilaporkan di sebagian besar negara Asia, termasuk China, Kampuchea, Vietnam, Philipina, Taiwan danIndonesia dan daerah yang prevalensinya tertinggi adalah Iran, India, Nepal dan Pakistan. (ECKERT etal., 1982). E. granulosus ini kurang patogen terhadap anjing, tetapi patogenitasnya cukup tinggi padamanusia dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan (di daerah endemik), yang disebut penyakithidatid (Hydatid Disease/ Hidatidosis) atau Ekinokokosis (THOMPSON dan ROBERTSON, 2003).Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran tentang ekinokokosis/ hidatidosis yang disebabkanoleh infeksi E. granulosus dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat.EKINOKOKOSIS/HIDATIDOSISEkinokokosis dan hidatidosis merupakan suatu istilah yang biasa digunakan untuk menyatakan penyakityang disebabkan oleh infeksi cacing dewasa dan stadium larva (metacestoda) dari genus Echinococcus(Family: Taeniidae). Istilah hidatidosis terbatas untuk infeksi metacestoda, sedang ekinokokosis untukkeduanya (infeksi cacing dewasa maupun larvanya) (ECKERT et al., 1982). Penyebaran geografis E.granulosus Phenotipe dan varietas dari spesies E. granulosus telah diisolasi dan diidentifikasi, adabeberapa strain E. granulosus yang terdapat pada hewan piaraan/ternak (ISD – ISA) yang berpotensidapat menginfeksi manusia. Penyebaran E. granulosus secara geografis pada berbagai jenis hewan antaralain sbb:1. Anjing – Domba (strain domba/common sheep strain): di Eropa, Timur Tengah, Afrika, Iran, India,Nepal, China, Rusia, Australia, Tasmania, New Zeland, USA dan Amerika Selatan.2. Anjing – Sapi (strain sapi/cattle strain): di Eropa, Afrika Selatan, India, Nepal, Sri Lanka, Rusia,Amerika Selatan.3. Anjing – Babi (strain babi/pig strain): di Polandia, Slowakia, Ukraina, Rusia dan Argentina.4. Anjing – Onta (strain onta/camel strain): Timur Tengah, Iran, Afrika, China, Nepal dan Argentina.5. Anjing – Rusa (strain rusa/deer strain): di Norwegia, Swedia dan Alaska. Selain itu, ada strain E.granulosus yang lainnya yang infektivitasnya pada manusia masih dipertanyakan/belum diketahui secarapasti yaitu, strain kerbau/bufallo strain (di Asia), strain kuda/horse strain (di Timur Tengah, Eropa danAfrika Selatan) dan Lion strain (di Polandia dan Afrika) (OIE, 2000; ECKERT dan DEPLAZES, 2004).Morfologi dan Daur Hidup E. granulosusE. granulosus adalah cacing cestoda kecil, panjangnya 3-8,5 mm. Terdiri dari kepala (scolex), leher(neck) dan proglottid (3-4 segmen). Scolex mempunyai empat alat penghisap (oral suckers), danmempunyai dua deret kait (hooks). Segmen terakhir (gravid proglottid), panjangnya lebih dari setengahdari panjang total cacing dewasa dan mengandung sekitar 5000 butir telur. Setiap telur berbentuk ovoiddengan diameter 30 – 40 mikron. Di dalam telur terdapat hexacanth embrio, yaitu embrio yang memilikitiga pasang kait (Oncosphere) (MULLER, 1975). Selanjutnya oncosphere di lokasi akhir (organ tubuhISA) akan berkembang menjadi metacestoda (larva hidatid) selama beberapa bulan dan menghasilkanprotoscolices (metcestoda fertile) atau tidak menghasilkan protoscolices (metcestoda steril) (ECKERT etal., 1982). Metacestoda fertile inilah yang akan menjadi cacing dewasa bila berada dalam tubuh ISD. E.granulosus dewasa, hidupnya menempel pada usus kecil anjing atau carnivora lainnya (wolf, dingo,
  8. 8. jackal) sebagai ISD. Proglottid (gravid) yang mengandung telur-telur infektif dikeluarkan bersama feses.Apabila telur infektif E. granulosus termakan/tertelan oleh ISA (domba, sapi, babi, kuda, onta dsb) ataumanusia, maka telur tersebut akan menetas menjadi larva di dalam duodenum inangnya. Kemudianoncosphere, dengan bantuan kait yang dimilikinya menembus mukosa usus, menuju pembuluh darahportal dan mengikuti aliran darah ke berbagai organ tubuh. Dalam perkembangannya metacestoda inimembentuk kista hidatid pada organ sasaran (hati, paruparu dan organ lainnya) (EDINGTON danGILLES, 1976). Perkembangan kista sangat lambat, tetapi pasti dan makin lama makin membesar.Ukurannya baru mencapai 1mm setelah satu bulan dan setelah lima bulan ukurannya bertambah besar,menjadi 10-55 mm dan mulai membentuk gelembung berbentuk kapsula yang berisi cairan beningdan steril. Cairan tersebut mengandung garam, enzim,sedikit protein dan substansi toksik (MULLER,1975). Kasus hidatidosis pada manusia terjadi secara asidental, bila telur cacing yang infektif tertelanolehnya dan selanjutnya akan berkembang menjadi metacestoda di organ tubuhnya. Sedangkanmetacestoda fertile dengan protoscolices (scolex pada metacestoda) merupakan stadium larva yanginfektif. Siklus hidup cacing E. granulosus akan sempurna, apabila metacestoda fertile (pada organdomba atau hewan lain) tersebut dimakan oleh anjing atau carnivora lainnya yang peka dan larva tersebutakan menjadi dewasa di dalam usus anjing (Gambar 1) (ECKERT et al., 1982). Untuk kelangsunganhidup E. granulosus, maka domba merupakan ISA yang penting dan menjadi sumber utama untuktransmisi kista hidatid, karena metacestoda ini daya fertilitasnya tinggi. (1) Cacing dewasa di dalam usushalus anjing atau Canidae lain. (2) Proglottid dengan telurtelurnya dikeluarkan bersama feses, (3) Telur,(4) ISA - domba. Metacestoda (kista hidatid ) berkembang dalam hati, paru-paru dan organ visceralainnya. (4a) Infeksi secara asidental pada manusia (5) Hati yang terinfeksi metacestoda (5a) Metacestodafertile dengan protoscolex. Ini merupakan stadium infectif. Siklus hidup lengkap, bila metacestoda fertiledimakan oleh carnivora yang peka.Ekinokokosis pada hewan dan manusiaAdanya kista hidatid pada organ tubuh ternak dapat menimbulkan problem ekonomi, karena sebagianproduk ternaknya tidak layak dikonsumsi dan harus diafkir. Ditinjau dari segi kesehatan masyarakat,adanya kista hidatid pada manusia yang terus membesar, meskipun dalam waktu yang lama, dapatmenimbulkan penyakit kronik. Bagi penderitanya hal ini menjadi beban karena untuk pengobatannyamaupun operasi (pembedahan) memerlukan biaya yang tidak sedikit.Pada HewanDi Algeria, siklus anjing-domba-anjing biasanya merupakan sumber utama penularan pada manusia.Namun, kapan strain E. granulosus tersebut terlibat dalam kontaminasi dan peranan hewan lainnya,tidak/belum diketahui (BARDONNET et al., 2003). Di Australia, E. granulosus (sheep strain) sudahlama terjadi, yaitu semasa kolonisasi bangsa Eropa di sana. Ternyata siklus anjing-dombaanjing iniberkembang di daerah peternakan (banyak anjing yang diberi makan jerohan domba) dan kejadian initerus meluas dan menimbulkan masalah kesehatan di daerah perkotaan (urban area). Kista hidatid jugadiketemukan pada kanguru (THOMPSON dan ROBERTSON, 2003). Studi ekinokokosis di Iran bagianBarat, selama tiga tahun (1997-2000) yang meliputi lima propinsi dapat ditemukan pada ISD dan kistahidatid pada ISA. Pada ISD, 19,1% dari 115 ekor anjing yang positip E. granulosus. Demikian pula padajackal (2,3% dari 86) dan fox (5% dari 60) juga positip E. granulosus. Sedangkan kista hidatid dapatdijumpai pada domba (19,1% dari 32.898), kambing (6,3% dari 10.691), sapi (16,4% dari 15.799) dankerbau (12,4% dari 659). Kista (pada hati dan paru-paru) pada domba lebih fertile disbanding dengankista dari hewan lainnya (DALIMI et al., 2002). Hal ini menunjukkan bahwa, anjing berpotensi dalampenularan penyakit hidatid ke hewan lain dan semua ruminansia berisiko terserang penyakit hidatid ini,terutama domba. Meskipun kista hidatid dapat terbentuk pada hewan ungulata, namun metacestoda fertiletidak berkembang pada semua hewan, adakalanya steril dan perkembangan stadium fertile (terbentukprotoscolices) yang terbaik hanya pada domba (EUZEBY, 1974). Karena kista hidatid pada domba lebih
  9. 9. fertile (90% fertile) dibanding dengan kista pada sapi (90% steril) atau babi (80% steril) (JUBB danKENNEDY, 1970). Di Brosov, kerbau berisiko tinggi terinfeksi ekinokokosis, hal ini ditunjukkan dengantingginya kasus tersebut. Dari hasil survai mencapai 86% (37 dari 43 ekor) kerbau betina positipekinokokosis. Sebagian besar kista E. granulosus ditemukan di paru-paru dan hati, dengan diameter kista1-5,1 cm (COMAN et al., 2001). Kasus yang sama juga pernah dilaporkan di Punjab. Empat dari tujuhekor kerbau betina (7-9 tahun) menderita ekinokokosis paru-paru (pulmonary echinococcosis). Selain diparu-paru, kista juga ditemukan pada organ hati. Pada pemeriksaan post mortem, ditemukan sejumlahkista hidatid dengan ukuran bervariasi, dari sebesar buah anggur sampai sebesar bola yang memenuhirongga thorax. Kista hidatid juga ditemukan pada organ hati (PANDEY et al., 1978).Pada manusiaHidatidosis yang disebabkan oleh stadium larva E. ganulosus ini menjadi penting karena dapatmenginfeksi manusia. Satu atau lebih kista besar dapat menimbulkan lesi kronik (ANDERSON, 1986).Menurut MAEINTYRE dan DIXON (2001), protoscolices dapat menyebabkan reaksi local danmenginduksi mitosis sel-sel B dan se-sel T yang berpotensi terjadinya proliferasi dan deplesi sel-seltersebut di sekitar lokasi kista. Waktu yang dibutuhkan untuk perkembangan kista membentukprotoscolices tidak diketahui, tetapi diperkirakan lebih dari 10 bulan post infeksi (ECKERT danDEPLAZES, 2004). Bahkan mungkin tahunan, seperti yang dikatakan oleh MULLER (1975) bahwa,periode inkubasi biasanya paling sedikit lima tahun, kecuali kista pada otak atau kelopak mata. Kistaprimer dapat berkembang di berbagai organ tubuh, tetapi kista sekunder (metastasis dari serpihan kistabesar yang rupture akibat trauma) dapat terjadi di ruang abdomen. Kista yang kecil (dari metastasistersebut) terus berkembang dan tumbuh menjadi besar (ECKERT dan DEPLAZES, 2004).Prevalensi hidatidosis pada manusia di setiap negara bervariasi. ECKERT et al. (1982) menyebutkanbahwa, prevalensi kasus per 100.000 populasi/penduduk per tahun di beberapa negara adalah sbb : DiUruguay 20,7 kasus per 100.000, selanjutnya terjadi 12,9 kasus di Cyprus, 7,8 di Chili, 7,5-8,3 di Greece,5,1-6,1 di Algeria dan 3,7 di Yugoslavia. Kasus Ekinokokosis pada manusia ini, di daerah endemik E.granulosus cukup banyak dan merupakan masalah yang serius. Di daerah urban di Brazil (dekatperbatasan Argentina-Uruguay), ekinokokosis ini menimbulkan problema kesehatan masyarakat yangserius (HOFFMANN et al., 2001). Sementara itu, di Spanyol, selama kurun waktu 15 tahun (1981-1996),pernah didiagnosa adanya 575 kasus hidatidosis pada manusia di salah satu rumah sakit di sana dan 321pasien diantaranya dilakukan terapi dengan operasi/ pembedahan (CAMPOS-BUENO et al., 2000). Dan,pada penelitian selanjutnya mereka menyimpulkan bahwa, faktor resiko terjadinya penyakit ini, berkaitandengan lingkungan keluarga (lingkungan peternakan, tempat tinggal di kota kecil dan sering kontakdengan anjing). Resiko mereka untuk terkena ekinokokosis secara asidental lebih besar dibanding pekerjapada peternakan itu sendiri. Karena mereka sering bergaul dengan anjing dan kurang menjaga kebersihandiri maupun lingkungannya agar terbebas dari pencemaran kotoran anjing tersebut (FAO, 1957).Sementara itu, REINECKE (1983) mengatakan bahwa, penyakit ini dapat ditularkan ke manusia (orangyang selalu kontak dengan anjing) melalui embriophore yang menempel pada rambut dan cakar anjing.Kista hidatid pada manusia dapat terjadi di berbagai lokasi organ tubuh, namun yang terbanyak padaorgan hati. Ukuran kista pada tubuh manusia sangat bervariasi dengan diameter 1-15cm, tetapi bisa jugalebih besar (>15 cm atau lebih), tergantung dari umur dan perkembangan kista (ECKERT danDEPLAZES, 2004). Dilaporkannya bahwa, di rumah sakit di Mediterranean, didapatkan adanya 459kasus hidatidosis. Kista hidatid secara tunggal (single site), paling banyak dijumpai pada organ hati (68,8%) dan paru-paru (17,2 %). Selebihnya terjadi pada organ ginjal (3,7 %), limpa (3,3%), otot dan kulit(2,2%), rongga abdominal dan rongga pelvis (2,0%), jantung (1,1%), otak (0,9%), tulang (0,6%) danovarium (0,2%). Demikian pula di China, kasus hidatidosis pada pasien bedah (15.289 kasus), ditemukankista pada berbagai organ yang bersifat tunggal (single) dan ganda (multiple), sebanyak 75,2% dijumpaipada organ hati, 22,4% pada paruparu dan selebihnya pada organ lainnya (ECKERT dan DEPLAZES,2004). Banyaknya kista pada organ hati ini, disebabkan pada tahap awalnya larva yang masuk vena portaltersaring dan tidak mampu melewati filter kapiler hati. Sedangkan larva yang dapat lolos dari filter di
  10. 10. kapiler hati akan masuk ke sirkulasi darah secara sistemik masuk paruparu dan atau organ tubuh lainnya(EDINGTON dan GILLES, 1976).EKINOKOKOSIS DI INDONESIAKejadian ekinokokosis di Indonesia belum banyak diketahui. Kemungkinan tidak ada kasus atau sedikitkejadiannya, sehingga kurang menarik bagi peneliti untuk melakukan penelitian penyakit tersebut.Penyakit ini bukanlah penyakit zoonosis yang diprioritaskan untuk diteliti di Indonesia, baik pada hewanmaupun pada manusia. Meskipun di daerah endemik di beberapa negara lain telah banyak dilakukanpenelitian penyakit ini, karena ekinokokosis merupakan salah satu zoonosis penting yang berdampakterhadap kesehatan masyarakat. ECKERT et al. (1982) memang pernah melaporkan adanya E. granulosusdi Indonesia. Sementara itu, PALMIERI et al (1984) dalam laporannya menyebutkan bahwa, secaraserologis serum darah dari penduduk asli (berumur lebih dari 10 tahun) di sekitar danau Lindu SulawesiTengah, ditemukan reaksi positip mengandung antibodi Echinococcus. Namun di lokasi yang sama, padapemeriksaan material intestin dari anjing tidak ditemukan adanya cacing E. granulosus. Material intestinini diperoleh setelah anjing (63 ekor) diberi purgative arecoline hydrobromida (1,5%) melalui oral. Yangditemukan adalah endoparasit lain selain E. granulosus, antara lain Toxocara sp. dan Diphyllobotrium sp.Sementara itu, secara serologis (dengan metoda indirect hemagglutination test), ditemukan 17 dari 903(1,8%) sera yang bereaksi positip mengandung antibodi echinococcus (titer: 1: 64 sampai 1: 512)(PALMIERI et al., 1984). Hal ini menunjukkan bahwa, orang-orang tersebut diperkirakan pernah terpaparoleh larva echinococcus, namun belum cukup untuk menimbulkan gejala klinik, mengingat timbulnyagejala klinik cukup lama.Gejala klinik dan patologikManifestasi klinik sangat tergantung dari banyaknya kista hidatid dan di mana kista tersebut berada. Kistabiasanya ditemukan secara tunggal dan 50% menginfeksi orang dewasa pada organ hati, di lobus kanan.Sedang pada anak-anak lebih sering dijumpai pada paru-parunya daripada di hati (MULLER, 1975). Padaphase awal infeksi primer, tidak memperlihatkan gejala klinik (asymptomatic), karena bentuk kistanyamasih kecil dan dilindungi kapsula sehingga tidak menimbulkan reaksi tubuh dan tidak menunjukkangejala klinik. Namun dalam perkembangan selanjutnya, untuk dapat menimbulkan gejala kliniktergantung dari jumlah, besar dan perkembangan kista (aktif atau inaktif), organ yang terlibat (lokasikista), tekanan kista terhadap jaringan di sekitarnya dan mekanisme pertahanan tubuh dari inangnya(ECKERT dan DEPLAZES, 2004). Kista ekinikokosis terlihat sebagai gelembung-gelembung yangterdiri dari dinding parasit dan isinya yaitu cairan bening. Membran ekinokokosis terdiri dari kutikulayang strukturnya berlapis-lapis (terdapat di sebelah luar). Sedang lapisan parenkim terletak di sebelahdalam, terdiri dari serabut-serabut otot dan endapan-endapan kapur. Lapisan parenkim menjadi scolices didalam gelambung-gelembung fertile. Scolices tidak terbentuk di dalam gelambung-gelembung steril(RESSANG, 1984). Efek patologi dari kista hidatid berupa tekanan pada organ yang dapat menyebabkannekrosis pada hati atau organ lainnya.. Reaksi allergi (pruritis dan urticaria) dapat terjadi bila kista hidatidsecara spontan robek (ruptur) akibat trauma atau pembedahan (operasi). Serpihan antigen hidatidmenimbulkan reaksi dengan gejala-gejala dyspnoe, sianosis (MULLER, 1975; ANDERSON, 1985). Kistapada hati dapat menyebabkan rasa sakit di bagian atas abdomen, gangguan pencernaan, hepatomegali,cholestasis, sirosis dan berbagai manifestasi klinik lainnya. Sedang kista pada paru-paru yang ruptur kedalam ruang peritoneum dapat menyebabkan batuk kronis, sesak nafas, hemoptysis, pleuritis dan absesparu-paru dan kista di otak dapat menyebabkan gangguan syaraf (ECKERT dan DEPLAZES, 2004).Teknologi DiagnosisTehnik dan prosedur diagnosis yang digunakan untuk identifikasi E. granulosus tergantung infeksinya(secara alami), inangnya (ISD & ISA) yang akan diperiksa. Diagnosis juga untuk menentukan stadia larva
  11. 11. hidatid dalam tubuh manusia (WOODS, 1986). Menurut MULLER (1975), diagnosis dapat dilakukansbb: 1. secara klinik dan parsitologi, bila ditemukan adanya protoscolices dalam sputum penderita akibatkista paru-paru yang ruptur, 2. secara radiology, dengan sinar X (Xray), 3.secara imunologi (Uji Casoni,uji Haemaglutinasi, uji Complement Fixation Test/CFT). DOGANAY et al. (2003) menambahkan bahwadengan uji Indirect Flourescent Antibody Technique (IFAT) dapat untuk diagnosis ekinokokosis padamanusia dan domba. Sementara BARDONNET et al. (2003) mengatakan bahwa, untuk mengetahuiperanan inang lain (terutama sapi) yang dapat menjadi transmisi (reservoar) ke manusia dapat dilakukananalisis DNA dengan PCR.DIAGNOSIS HIDATIDOSIS PADA ISADiagnosis ini dapat dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH). Kista hidatid dari E. granulosus padaberbagai organ (domba dan sapi) dapat diobservasi secara palpasi dan insisi. Tetapi pada babi dankambing, kadang kadang sulit dilakukan, karena dapat dikelirukan dengan infeksi cacing pita yang lain(Taenia hydatigena ), bila kedua parasit tersebut menginfeksi organ hati yang sama. Namun denganpemeriksaan histopatologi dari potongan organ tersebut, dengan pewarnaan Periodic-acid Schiff (PAS),dapat diketahui perbedaannya, yakni terdapat protoscolex dengan brood capsule atau “hydatid sand” yangmerupakan ciri khas E. granulosus (OIE, 2000).DIAGNOSIS E. GRANULOSUS PADA ANJINGDiagnosis dengan mengidentifikasi telur E. granulosus dari feses anjing secara mikroskopis sulitdilakukan, karena tidak mudah untuk membedakan antara telur E. granulosus dan telur Taenia sp.(ECKERT dan DEPLAZES, 2004). Namun dengan nekropsi anjing, dapat dilakukan identifikasi cacingdewasanya dengan bantuan mikroskup stereo, biasanya E. granulosus dapat dijumpai pada sepertigabagian usus kecil anjing (OIE, 2000). Menurut HOFFMANN et al. (2001), ada tiga cara untuk diagnosisekinokokosis yaitu, pertama, purgasi dengan arecoline bromida untuk verifikasi adanya parasit. Kedua,Uji ELISA untuk mendeteksi coproantigen dan ketiga dengan indirect immunosorbent antibody test untukmendeteksi adanya antibody terhadap E. granulosus.Diagnosis hidatidosis pada manusiaDiagnosis larva hidatid pada manusia didasarkan pada pemeriksaan sinar X (XRAY), ultrasonographydan metode lainnya dan didukung dengandeteksi antibody terhadap antigen echinococcus. Kemudiandikonfirmasi dengan adanya parasit tersebut. Diagnosis secara serologis dapat dilakukan secaraimunodiagnostik yakni, mendeteksi serum antibody spesifik dengan metode ELISA (Enzyme Linkedimmunosorbent Assay) dengan Crude Antigen EgCF (ECKERT dan DEPLAZES, 2004). Sementara itu,DOGANAY et al. (2003) menyatakan bahwa, diagnosis kejadian awal hidatidosis yang dilakukan denganmetoda IFAT dapat memberikan tingkat specifisitas dan sensitivitas masing-masing pada manusia 80 dan90% dan pada domba keduanya 90%.PENCEGAHAN DAN KONTROLDi daerah endemik, perlu dilakukan pencegahan dan kontrol terhadap kemungkinan penularan parasitlebih lanjut. Yaitu, memutus siklus hidup parasit dengan mencegah anjinganjing di wilayah tersebutmemperoleh kemudahan/mendapatkan ases makanan atau makan visceral domba (yang berasal dariRPH). Karena organ visceral tersebut diperkirakan ada yang mengandung kista hidatid fertile, sehinggadapat merupakan sumber penularan. Memberi makan anjing dengan visceral domba yang telah dimasakterlebih dulu, agar parasitnya mati (WOODS, 1986). Infeksi telur cacing E.granulosus pada domba sulitdicegah, namun hal ini dapat diatasi dengan vaksinasi domba dengan vaksin rekombinan antigenoncosphere yang dapat memproteksi hewan itu terhadap parasit tersebut (OIE, 2000). Pada manusia,
  12. 12. harus membiasakan diri dengan menjaga kebersihan, terutama harus mencuci tangan sebelum makan danminum bagi mereka sering kontak dengan anjing.Penyuluhan kepada masyarakat akan bahayanya penyakit hidatidosis ini (WOODS, 1986). Sementarapasien penderita hidatidosis dapat dilakukan pembedahan (operasi) untuk membuang kistanya dandilakukan pengobatan /khemoterapi dengan Benzimedazole (Albendazole atau Mebendazole) (ECKERTdan DEPLAZES, 2004).KESIMPULANDari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :1. E. granulosus, cacing cestoda kecil (< 1cm), hidup di dalam usus kecil anjing atau carnivora lainnya(ISD). Sedangkan stadium larvanya (metacestoda) berkembang di dalam tubuh ISA (domba, sapi, babi, kuda, onta dsb). Di dalam organ tubuh (terutama hati atau paru-paru), terbentuk kista yang mempunyai protoscolices (metacestoda fertile). Daur hidup menjadi lengkap, bila metacestoda fertile pada organ tubuh ISA tersebut dimakan oleh anjing atau carnivora lainnya.2. Kasus hidatidosis pada manusia terjadi secara asidental, bila ia tertelan/termakan telur E. granulosusinfektif. Kejadian semacam ini sering terjadi di daerah endemic parasit tersebut, terutama bagi mereka yang sering kontak dengan anjing dan tidak menjaga kebersihan diri dan lingkungannya. Gejala klinis yang ditimbulkan oleh hidatidosis tergantung stadium larva, lokasi dan besarnya kista di dalam organ tubuh inangnya. 3. Pada anjing, ekinokokosis kurang pathogen terhadap inangnya, tetapi pada ternak/ISA dapat menimbulkan masalah ekonomi akibat sebagian produknya banyak yang harus diafkir dan menimbulkan problem kesehatan masyarakat terhadap penduduk di daerah endemik parasit tersebut.
  13. 13. Analisis Faktor-Faktor Resiko Infeksi Cacing Pita pada Ayam Ras Petelur Komersial di Bogor (RISK FACTORS ANALYSIS OF CESTODES INFECTION OF COMMERCIAL CAGED LAYER CHICKENS IN BOGOR) Elok Budi Retnani*, Fadjar Satrija, Upik Kesumawati Hadi, Singgih Harsoyo Sigit Bagian Parasitologi dan Entomologi Kesehatan Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor, Jl Agatis, Dramaga, Bogor. Telpon 0251-627272, Email: elokbeer@yahoo.comABSTRACTA cross-sectional study was conducted in Bogor Region, West Java for two months from June to July2006. The aim of this research was to identify the risk factors of cestode infection in commercial cagedlayer chickens. A total of 202 chicken samples were collected from ten commercial caged layer chickenfarms. The risk factors assumption included host factors, farm environment and managementcharacteristic. Logistic regression model showed that cestode infection risk association (P<0,01) to hostage, (P<0,05) to dry climate condition and open house farm management characteristic. This suggests that>50 months have higher risk (OR=5.6) than <20 months host age, dry climate condition have higher risk(OR=3.75) than wet, and open house farm management have higher risk (OR=27.24) than close house onthe cestodes infection. Key words: Cestodes, caged layer chickens, infection risk factors, Oods-Ratio, BogorPENDAHULUANKejadian infeksi cestoda atau Cestodosis pada ternak ayam buras cukup tinggi karena pemeliharaannyadilakukan secara tradisional (Poulsen et al., 2000) . Prevalensi yang dilaporkan selama tiga dekadeterakhir di wilayah Indonesia mencapai 60% hingga 100% pada ayam buras (Kusumamiharja, 1973;Sasmita, 1980; Ketaren dan Ari, 1988; He et al., 1991; Siahaan, 1993). Prevalensi yang tinggi pada ayamburas tersebut berpotensi sebagai sumber infeksi bagi ternak ayam ras dengan manajemen modern yangseharusnya rendah infeksinya (Eckman, 2001). Sebagai contohnya adalah pemeliharaan ayam ras petelurkomersial dengan sistem baterei memiliki beberapa keuntungan, yaitu ruang gerak terbatas, hemat tempatper unit area, dan biaya pakan yang rendah sehingga lebih ekonomis dan praktis. Selain itu pemantauanmudah, berisiko kecil terhadap predator, pengaruh luar seperti dingin, panas, angin atau kelembaban,yang besar pengaruhnya terhadap kesehatan ternak. Faktor pakan yang selektif juga mengurangi peluangterjadinya penyakit yang ditularkan secara oral seperti kecacingan, baik penularan langsung mau punmelalui inang antara seperti cacing pita. Namun, masalah kecacingan pada ayam ras petelur justru secarasignifikan menyebabkan kerugian cukup besar. Hal tersebut merupakan topik yang banyak dibahas dalammajalah-majalah ilmiah populer bidang peternakan maupun media massa lainnya oleh para praktisi baikpeternak, konsultan kesehatan ternak termasuk dokter hewan. Mereka mengatakan bahwa infestasi cacingyang sering menggerogoti ayam petelur adalah cestoda. Ayam-ayam tersebut mendadak lesu, diare,radang usus disertai diare yang meluas jika terinfeksi berat, sehingga produksi menurun di bawah rata-rata, termasuk berat badan, laju pertumbuhan turun, produksi daging mau pun telur. Menurut mereka telahbanyak dilakukan kajian berkelanjutan tentang upaya melenyapkan kecacingan tetapi tidak membuahkanhasil. Pemberantasan lalat dan kumbang di sekitar kandang merupakan prioritas utama yang disarankanselain pemberian anthelmintika tetapi cestodosis tetap terjadi. Berdasarkan bukti-bukti di atas kiranyaperlu kajian secara ilmiah yang sampai saat ini masih sangat kurang dilakukan, baik melalui surveilapangan mau pun eksperimental di laboratorium untuk menganalisis kejadian
  14. 14. cestodosis khususnya pada ayam ras. Laporan terbaru kasus cestodosis ini ditemukan pada beberapapeternakan ayam ras petelur di wilayah sentra peternakan ayam petelur komersial di Kabupaten Bogor,Jawa Barat (Zalizar, 2006) dengan prevalensi 24,75% (Retnani et al., 2007) dan rataan derajat infeksi0,273±0,905 hingga 17,913±53,954 ekor cacing per ekor ayam. Tiga genus cestoda yang ditemukan padapengamatan tersebut adalah Raillietina, Choanotaenia, dan Hymenolepis. Hasil pengamatan tersebutmerupakan informasi awal yang penting walau pun belum cukup sebagai landasan pengetahuan untukpengendalian cestodosis, mengingat adanya faktor-faktor terkait lingkungan serta manajemen peternakansecara umum yang mungkin memiliki kontribusi terhadap cestodosis. Penelitian ini bertujuan untukmenduga faktor-faktor risiko infeksi cestoda dengan menghitung nilai Odds-Ratio (OR) terhadap setiapfaktor yang terkait lingkungan dan manajemen peternakan. Telaah tentang berbagai faktor yang dapatmenghambat tindakan pengendalian cestodosis di lingkungan peternakan ayam ras petelur di Indonesiasampai saat ini belum ada laporan ilmiahnya. Hasil penelitian yang diperoleh disertai dengan kajianilmiah tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan transmisinya merupakan informasi sangat pentinguntuk merancang strategi pengendalian khususnya bagi kondisi peternakan dan budaya beternak diIndonesia.METODE PENELITIANPenelitian ini dilakukan selama bulan Juni- Juli 2006 dengan metode Cross-sectional. Sebanyak 202 ekorsampel ayam asal 10 peternakan ayam ras di Kabupaten Bogor dikumpulkan secara acak sederhanamenurut rumus ukuran sampel oleh Thrushfield (1995) Pencatatan data beberapa dugaan faktor risikoterjadinya infeksi cestoda dikelompokkan berdasarkan faktor ayam (berat badan, umur, ras, adanya kutuk,dan populasi), lingkungan (tipe iklim dan pembuangan manur), dan manajemen (kandang, strukturkandang, dan pemberian anthelmintika). Saluran pencernaan ayam dikeluarkan untuk mengumpulkancestoda. Jumlah ayam yang terinfeksi serta jumlah cacing pada setiap individu yang terinfeksi dihitung.Untuk melihat ada atau tidak adanya pengaruh faktor-faktor risiko terhadap tingkat kejadian (prevalensi)infeksi dianalisis dengan Chi-square (Steel dan Torrie, 1999). Sedangkan besarnya pengaruh dari faktor-faktor tersebut dianalisis dengan Uji Korelasi Non-Parametrik dan Regresi Logistik.HASIL DAN PEMBAHASANPengaruh Faktor-Faktor Ayam, Lingkungan, dan Manajemen terhadap Prevalensi CestodosisSampel ayam yang terkumpul dari 10 peternakan berasal dari berbagai variasi umur, populasi, dan rasayam serta adanya pemeliharaan kutuk (anak ayam) pada peternakan yang sama. Berdasarkan faktorlingkungan dan manajemen yang bervariasi kondisi tipe iklimnya, periodisasi pembuangan limbah manur,serta manajemen kandang dan pemberian anthelmintika. Infeksi cestoda ditemukan pada sebagian besarpeternakan yaitu pada 8 peternakan selain peternakan Gung dan Gundur. Satu di antara dua peternakanyang tidak terinfeksi pada penelitian ini adalah peternakan dengan sistem kandang tertutup (close house)yaitu Gundur. Prevalensi cestodosis dihitung berdasarkan berbagai faktor risiko terjadinya infeksi. Tidaksemua faktor yang diamati berpengaruh secara nyata terhadap terjadinya infeksi. Tingkat prevalensiberdasarkan faktor inang, lingkungan serta manajemen peternakan disajikan pada Tabel 1. Pada penelitianini umur dan populasi ayam (P<0,01), tipe iklim lokasi peternakan (P<0,05), serta manajemen kandang(P<0,01) secara nyata mempengaruhi tingginya tingkat kejadian cestodosis. Ayam yang lebih banyakterinfeksi (37%) berumur di atas 50 minggu, sedangkan yang berumur di bawah 20 minggu dan 20-50minggu hanya terinfeksi sebanyak 10,34% dan 15,91%. Kejadian infeksi lebih tinggi (31,20%) terdapatpada kelompok peternakan yang populasi ternak ayamnya >65 ribu ekor. Prevalensi tinggi (29,41%) jugaterjadi pada peternakan yang terletak di daerah bertipe iklim kering dari pada yang beriklim basah(15,15%). Pengaruh yang nyata juga ditunjukkan oleh peternakan dengan sistem kandang terbuka.Manajemen kandang dengan sistem tersebut ternyata menyebabkan kejadian infeksi yang sangat tinggi(49%) dibandingkan dengan sistem tertutup yang hanya 1%. Faktor-faktor lain yaitu ras ayam, adanya
  15. 15. pemeliharaan kutuk, periodisasi pembuangan limbah manur, serta manajemen pemberian anthelmintikatidak terbukti secara nyata dapat mempengaruhi prevalensi cestodosis pada penelitian ini.Faktor-Faktor Risiko yang Diduga Mempengaruhi Tingkat Kejadian CestodosisBesarnya pengaruh faktor risiko terhadap kejadian infeksi cestoda pada penelitian ini dapat diduga darinilai Oods-Ratio (OR) yang disajikan pada Tabel 2, 3, 4, dan 5. Secara umum faktor yang berpengaruhbesar terhadap peluang terjadinya cestodosis pada penelitian ini adalah umur inang yaitu ayam yangberumur di atas 50 minggu berisiko infeksi 5,09:1,00 dibandingkan dengan yang berumur di bawah 20minggu (P<0,01). Peternakan yang populasi ayamnya >65 ribu ekor memiliki risiko terinfeksi lebih besar2,72:1,00 dibandingkan yang populasinya di bawah 65 ekor (P<0,01). Demikian pula dengan faktor iklimdan manajemen kandang. Pada area peternakan yang bertipe iklim kering berisiko infeksi 2,33 kali lipatdari iklim basah (P<0,05). Manajemen kandang dengan sistem kandang terbuka jauh lebih besar risikoinfeksinya yaitu 13,07:1,00 dibandingkan yang tertutup (P<0,05). Selain dengan nilai crude OR, nilaiadjusted OR dari faktor-faktor yang memiliki nilai korelasi nyata bahkan sangat nyata (Uji KorelasiNonParametrik) terhadap kejadian infeksi cestoda disajikan pada Tabel 6 dan 7. Hasil penghitungan(Tabel 6) menunjukkan bahwa ayam berumur >50 minggu memiliki risiko terinfeksi lebih tinggi 5,58 kalijika dibandingkan dengan yang berumur <20 minggu, sedangkan dengan umur 20-50 minggu walau punlebih tinggi risikonya namun tidak nyata. Tabel 7 adalah hasil analisis dengan menambahkan faktoranthelmintika walau pun faktor tersebut tidak menunjukkan korelasi yang nyata terhadap kejadian infeksi.Nilai adjusted OR pada Tabel 7 menggambarkan pengaruh yang hampir sama dengan nilai crude OR.Perubahan nilai OR pada adjusted OR terjadi karena perubahan keterkaitan atau variasi faktor-faktorrisiko yang dianalisis secara bersama-sama (Tabel 2, 3, 4, dan 5 dibandingkan dengan Tabel 6 dan 7).Jenis-jenis cestoda yang ditemukan di lokasi peternakan tertentu berhubungan dengan keberadaanserangga yang berpotensi sebagai inang antaranya. Pesatnya perkembangan peternakan ayammeningkatkan pula kuantitas limbah yang dihasilkan oleh aktifitas peternakan tersebut. Salah satulimbahnya adalah manur. Manur adalah material organic sebagai media yang ideal tempatperkembangbiakan serangga tertentu yang mungkin sebagai pengganggu atau pembawa agen penyakittermasuk telur cacing. Jika tinja ayam dalam manur mengandung telur cestoda kemudian tertelan olehinang antara yang cocok selanjutnya berkembang menjadi sistiserkoid sebagai larva infektif bagi ayam.Keberadaan dan jumlah sistiserkoid dalam tubuh inang antara menggambarkan tingkat kejadiancestodosis pada ayam di tempat dan waktu tertentu (Mond et al., 2001). Beragamnya kondisi fisikpeternakan termasuk manajemen maupun sanitasi secara umum menunjukkan pula gambaran prevalensicestodosis yang beragam pada setiap peternakan. Kejadian terendah terjadi di peternakan tertutup. Padasystem tersebut kadangnya berupa bangunan permanen dengan distribusi pakan dan minum dengannipple secara otomatis sehingga tumpahanpakan mau pun air minum diminimalisir Pemanenan telur jugamenggunakan roda berjalan dari dalam kandang selanjutnya diseleksi di luar kandang. Kedalaman pitfalluntuk penampungan tinja tidak terlalu tinggi namun pembuangan tinja disapu ke luar kandang secaraelektrik dan diatur otomatis. manajemen yang demikian tidak member peluang untuk perkembangbiakanserangga sebagai inang antara yang potensial. Pada kondisi yang demikian seharusnya tidak terjadicestodosis karena tidak ada peluang transmisi. Peternakan tersebut membeli ayam pulet dari perusahaan.Terjadinya infeksi diduga ketika sebelum ternak dimasukkan ke dalam kandang baterei yaitu pada masakutuk hingga pulet. Menurut pengamatan Siahaan (1993), Ueta dan Avancini (1994) infeksi sestoda padaayam buras yang diumbar dapat terjadi sejak sebelum pulet. Dua peternakan yang angka kejadiannya 0%salah satunya adalah peternakan tertutup dengan sistem kandang bongkar-pasang (knockdown) danmemelihara sendiri ayam petelur sejak kutuk. Satu-satunya peternakan terbuka yang angka cestodosisnya0% juga memelihara kutuk, sanitasi sekitar kandang relatif kering, jarak antar flock maupun antarakandang baterei dengan permukaan tanah relatif jauh. Keduanya memiliki kesamaan dalam hal pemberiananthelmintika secara periodik teratur dengan anthelmintika berspektrum luas.Faktor risiko infeksi parasit adalah semua faktor yang secara nyata meningkatkan peluang terjadinyatransmisi (stadium infektif) parasit sehingga menyebabkan inang sakit. Secara alami, berbagai faktortersebut tidak saling bebas dalam mendukung terjadinya penyakit baik berkaitan sangat erat mau pun
  16. 16. secara longgar. Hubungan tersebut dapat dilihat dari hasil analisis sehingga memperoleh nilai crude ORdan adjusted OR. Pada Tabel 2 ditunjukkan bahwa faktor risiko yang berpengaruh nyata terhadapterjadinya infeksi hanya faktor umur ayam yang berumur di atas 50 minggu. Selain pengaruh kepekaanayam terhadap infeksi cestoda adalah sepanjang umur produktif (Ueta dan Avancini, 1994), kemungkinankarena manajemen pemberian anthelmintika yang diaplikasikan oleh setiap peternak. Dalam hal aplikasianthelmintika ternyata peternakan dengan prevalensi cestodosis paling tinggi pemberiaannya tidak teratur.Walaupun menggunakan jenis obat yang berbeda secara selang-seling ternyata satu diantaranya samasekali tidak efektif untuk eliminasi cestoda. Manajemen peternakan (Retnani et al., 2001), periodepengangkatan manur, serta manajemen pemberian anthelmintika yang sangat beragam menunjukkanperbedaan dalam peluang transmisi cestoda. Walau pun hasil analisis faktor pemberian anthelmintika danpambuangan manur tidak menunjukkan pengaruh yang nyata, namun nilai korelasinya mendekati nyata.Dengan demikian perlu dipertimbangkan nilai ekonomisnya. Banyak faktor yang dapat meningkatkanketerpaparan terhadap parasit saluran pencernaan antara lain manajemen yang buruk (Ashenafi danEshetu, 2004). Peternakan dengan sistem kandang terbuka memiliki peluang terinfeksi lebih tinggidibandingkan dengan tertutup. Pemilihan sistem kandang yang digunakan harus diimbangi denganmemperhatikan faktor risiko yang lain karena secara alami faktor-faktor risiko tersebut tidak berdirisendiri. Faktor agroekolologi seperti faktor perbedaan klimat juga mempengaruhi infeksi cestoda (Retnaniet al., 2000; Mond et al., 2001). Di daerah dataran tinggi dengan suhu lebih rendah, peluang terinfeksilebih rendah (Eshetu et al., 2001) mungkin disebabkan terhambatnya perkembangan stadium awal larvainfektif. Kepadatan populasi inang serta sumber infeksi antar peternakan pasti berbeda, maka secaraumum dapat dikatakan bahwa faktor-faktor biotik mau pun abiotik yang meliputi inang, parasit,lingkungan, serta apa pun yang mendukung terjadinya transmisi sangat berpengaruh terhadap prevalensi.Sistem peternakan modern telah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat menekan frekuensi infeksiendoparasit. Namun endoparasitosis masih terjadi pada sistem lantai/ liter yaitu pada breeder dan broiler.Dari sudut pandang manajemen sistem baterei, jumlah mau pun prevalensi cestodosis yang ditemukanpada penelitian ini sulit dipahami. Perlu telaah lebih lanjut tentang waktu dan tempat terjadinya transmisiyang menyebabkan tingginya prevalensi pada peternakan ayam ras petelur dalam kandang baterei. Perlukajian mendalam untuk menjawab pertanyaan bagaimana prevalensi yang tinggi dapat terjadi padahalpeluang terjadinya infeksi rendah. Oleh karena itu, kompleksitas masalah endoparasitosis di peternakandengan manajemen tertentu harus dipecahkan dengan strategi pengendalian terpadu. Tidak cukup hanyadengan eliminasi parasit secara periodik, perbaikan manajemen yang dapat menekan terjadinya transmisiendoparasit perlu dilakukan termasuk menekan populasi serangga yang berperan sebagai inang antara.Hasil analisis risiko infeksi pada penelitian ini besar kemungkinan berlaku spesifik pada peternakantertentu dengan berbagai ragam manajemennya. Perlu memperbanyak jumlah dan waktu pengamatanuntuk dapat memperoleh standar rekomendasi pengendalian yang mendekati baku, walau punkenyataannya tidak sedikit kendala-kendala yang ditemukan di lapangan sehingga tidak sesuai denganrancangan pengamatan yang telah disusun sebelumnya. Kiranya nilai-nilai Oods-Ratio hasil penelitian inimerupakan pengetahuan yang perlu dipertimbangkan dalam praktek peternakan pada ayam ras petelurkomersial. Informasi standar manajemen pemeliharaan ternak merupakan salah satu hal yang menunjangperkembangan peternakan melalui pengembangan teknologi pengendalian penyakit secara terpadu dalamupaya meningkatkan produktivitas ternak (Talib et al., 2007).SIMPULANBerdasarkan penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa faktor inang yang berisiko terinfeksisestoda lebih tinggi (OR=5,06) adalah ayam yang berumur >50 minggu dibandingkan dengan umur <20minggu. Sedangkan faktor lingkungan dan manajemen yang berisiko terinfeksi cestoda lebih tinggi adalaharea bertipe iklim kering (OR=3,75) dan peternakan dengan sistem kandang terbuka (OR=27,24).Manajemen pemberian anthelmintikpada peternakan yang diamati tidak menunjukkan risiko yang nyata terhadap terjadinya infeksi cestoda.Besarnya peluang risiko infeksi dapat berubah dengan berubahnya variasi berbagai faktor-faktor terkait.
  17. 17. ANALISA INFEKSI CACING ENDOPARASIT PADA IKAN KAKAP PUTIH DARI PERAIRAN PANTAI DEMAK
  18. 18. TAENIASIS DAN SISTISERKOSIS MERUPAKAN PENYAKIT ZOONOSIS PARASITER SARWITRI ENDAH ESTUNINGSIH Balai Besar Penelitian Veteriner, Jl. R.E. Martadinata No. 30, Bogor 16114 (Makalah diterima 5 Pebruari 2009 – Revisi 22 Mei 2009)ABSTRAKTaeniasis adalah penyakit parasiter yang disebabkan oleh cacing pita dari genus Taenia dan infeksi olehlarvanya disebut Sistiserkosis. Beberapa spesies Taenia bersifat zoonosis dan manusia sebagai induksemang definitif, induk semang perantara atau keduanya. Manusia adalah induk semang definitif untukTaenia solium, T. saginata dan T. asiatica, akan tetapi untuk Taenia solium dan T. asiatica, manusiaberperan sebagai induk semang perantara. Hewan, seperti babi adalah induk semang perantara untuk T.solium dan T. asiatica, dan sapi sebagai induk semang perantara untuk T. saginata. Manusia dapatterinfeksi Taeniasis dengan memakan daging sapi atau daging babi yang mengandung larva (sistiserkus).Penularan sistiserkosis dapat melalui makanan atau minuman yang tercemar oleh telur cacing Taenia spp.Penularan juga bisa terjadi secara autoinfeksi akibat kurangnya kebersihan. Diagnosis taeniasisberdasarkan penemuan telur cacing atau proglotid dalam feses manusia. Diagnosis pada hewan hidupdapat dilakukan dengan palpasi pada lidah untuk menemukan adanya kista atau benjolan. Uji serologikbisa juga membantu dalam mendiagnosis sistiserkosis pada manusia ataupun hewan. Cacing pita dewasadi dalam usus dapat dibunuh dengan pemberian obat cacing dan pencegahannya dengan menghindaridaging mentah atau daging yang kurang matang, baik daging babi untuk T. solium dan T. asiatica, dandaging sapi untuk T. saginata. Selain itu, untuk mencegah terjadinya infeksi Taenia solium, T. saginataatau T. asiatica, ternak babi ataupun sapi dijauhkan dari tempat pembuangan feses manusia.Kata kunci: Taeniasis, sistiserkosis, zoonosis, babi, sapiPENDAHULUANTaenia spp. adalah cacing pita (tapeworm) yang panjang dan tubuhnya terdiri dari rangkaiansegmensegmen yang masing-masing disebut proglotid. Kepala cacing pita disebut skoleks dan memilikialat isap (sucker) yang mempunyai kait (rostelum). Cacing pita ini termasuk famili Taeniidae, subklasCestode dan genus Taenia. Beberapa spesies cacing Taenia antara lain, Taenia solium, T. saginata, T.crassiceps, T. ovis, T. taeniaeformis atau T. hydatigena, T. serialis, T. brauni dan T. asiatica. Larva daricacing Taenia disebut metasestoda, menyebabkan penyakit sistiserkosis pada hewan dan manusia.Sedangkan, cacing dewasa yang hidup di dalam usus halus induk semang definitive (carnivora) sepertimanusia, anjing dan sejenisnya, penyakitnya disebut Taeniasis. Berdasarkan laporan dari OIE (2005), T.asiatica merupakan spesies baru yang ditemukan di Asia yang semula dikenal dengan nama T.taewanensis. T. asiatica hanya ditemukan di beberapa negara di Asia seperti Taiwan, Korea, China(beberapa propinsi), Indonesia (di Sumatera Utara Papua dan Bali) dan Vietnam (EOM et al., 2002; ITOet al., 2003). T. saginata adalah cacing pita pada sapi dan T. solium adalah cacing pita pada babi,merupakan penyebab taeniasis pada manusia. Manusia adalah induk semang definitif dari T. solium danT. saginata, dan juga sebagai induk semang definitif dari T. asiatica (OIE, 2005). Sedangkan, hewanseperti anjing dan kucing merupakan induk semang definitif dari T. ovis, T. taeniaeformis, T. hydatigena,T. multiceps, T. serialis dan T. brauni. Pada T. solium dan T. asiatica, manusia juga bisa berperan sebagaiinduk semang perantara. Selain manusia, induk semang perantara untuk T. solium adalah babi, sedangkaninduk semang perantara T. saginata adalah sapi. T. solium yang terdapat pada daging babi menyebabkanpenyakit Taeniasis, dimana cacing tersebut dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan oleh cacingdewasa, dan bentuk larvanya dapat menyebabkan penyakit sistiserkosis. Cacing T. saginata pada dagingsapi hanya menyebabkan infeksi pada pencernaan manusia oleh cacing dewasa. Penyakit Taeniasistersebar di seluruh dunia dan sering dijumpai dimana orang-orang mempunyai kebiasaan mengkonsumsidaging sapi atau daging babi mentah atau yang dimasak kurang sempurna. Selain itu, pada kondisikebersihan lingkungan yang jelek, makanan sapi dan babi bisa tercemar feses manusia yang bisamenyebabkan terjadinya penyakit tersebut. Kejadian penyakit Taeniasis paling tinggi di Negara Afrika,
  19. 19. Asia Tenggara dan negara-negara di Eropa Timur. Di Indonesia terdapat tiga provinsi yang berstatusendemi penyakit Taeniasis/sistiserkosis yaitu: Sumatera Utara, Papua dan Bali (ITO et al., 2002a; b;2003; 2004; MARGONO et al., 2001; SIMANJUNTAK et al., 1997). Kasus Taeniasis juga pernah terjadidi Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, NTT dan Kalimantan Barat. Berdasarkan laporan dariSIMANJUNTAK et al. (1997) dan MARGONO et al. (2000) prevalensi sistiserkosis di Indonesiabervariasi antara 2% di Bali dan 48% di Papua. Selanjutnya, MARGONO et al. (2003) melaporkan bahwaada sekitar 8,6% (5/58) dari penduduk lokal di kota Wamena terinfeksi cacing dewasa T. solium.Sedangkan, prevalensi Taeniasis (T. saginata) di daerah urban sekitar Denpasar, Bali selama tahun 2002 –2004 adalah 14,1% (56/398) (WANDRA et al., 2006). Jumlah kasus tertinggi ditemukan pada laki-lakiyang berumur antara 30 – 40 tahun. Hal ini disebabkan karena di desa-desa laki-laki seringmenikmati/memakan daging mentah bersama sambil minum tuak. Selanjutnya, berdasarkan laporan dariDirektorat Kesehatan Hewan, prevalensi sistiserkosis pada sapi di 4 kabupaten di Bali (Badung, Gianjar,Klungkung dan Tabanan) tahun 1977 masing-masing adalah 3,3, 16,9, 1,2 dan 8,3% (SUROSO et al.,2006). Sistiserkosis pada sapi di Bali menurut laporan yang ada hanya terjadi pada tahun 1977 – 1980 dan1988, prevalensinya masing-masing adalah 0,31% (100/32.199), 0,30% (102/33.842), 1,51%(476/31.586), 2,39% (844/35.288) dan 1,93% (674/34.887). Infeksi sistiserkosis pada babi yang tertinggijuga terjadi di Bali dan Papua. Di Papua dilaporkan 70,4% (50/71) babi positif T. solium secara serologi(seropositif), dan dinyatakan bahwa babi tersebut telah terinfeksi oleh metasestoda dari T. solium(SUBAHAR et al., 2001), demikian juga 10,9% (7/64) anjing local dinyatakan seropositif terhadapsistiserkus dari T. solium (SUROSO et al., 2006). Pada umumnya, T. solium jarang ditemukan di daerahyang berpenduduk muslim karena tidak memakan daging babi. Akan tetapi, di beberapa daerah sepertiPapua dan Timor merupakan problem kesehatan masyarakat, karena penduduknya masih mengkonsumsidaging babi yang tercemar sistiserkus. Penyakit Taeniasis dan sistiserkosis sangat berkaitan erat denganfaktor sosio-kultural, seperti cara pemeliharaan ternak yang tidak dikandangkan dan kebiasaanpengolahan makanan yang kurang matang serta kebiasaan makan yang kurang sehat dan masih rendahnyapemahaman masyarakat tentang kesehatan lingkungan. Untuk itu, pada tulisan ini akan disampaikantentang beberapa jenis cacing Taenia, cara penularan, metode diagnosis yang dilakukan serta upayapencegahan dan pengobatan penyakit Taeniasis/ sistiserkosis baik pada hewan maupun pada manusia.BEBERAPA JENIS CACING TAENIAGenus cacing pita yang paling penting adalah Taenia. Cacing dewasa dan stadium larva dari beberapaspesies cacing Taenia merupakan bagian yang sangat penting terhadap kesehatan manusia dan veteriner.Induk semang definitif, induk semang perantara dan bentuk larvanya.Cacing Taenia yang bersifat zoonosisT. soliumPada umumnya cacing dewasa T. solium berada di dalam usus halus manusia, panjangnya bisa mencapai3 – 5 meter dan dapat hidup selama 25 tahu (SOULSBY, 1982). Manusia sebagai induk semang definitif,sedangkan, induk semang perantara adalah babi domestik dan babi liar. Larva dari T. solium kadang-kadang juga bisa ditemukan pada induk semang perantara lainnya termasuk domba, anjing, kucing, rusa,unta dan manusia (OIE, 2005). Larva T. solium disebut Cysticercus cellulose. Sistiserkus T. soliumbiasanya ditemukan pada otot daging, sangat jarang ditemukan di organ visceral dari babi dan kera (FANet al., 1987; FAN, 1988).T. saginataManusia sebagai induk semang definitif, cacing dewasa berada dalam usus halus dan panjangnya bisamencapai 3 – 8 meter dan bisa hidup selama 5 – 20 tahun (SOULSBY, 1982). Induk semang perantaranyaadalah sapi, kerbau, ilamas dan ruminansia liar lainnya termasuk jerapah. Bentuk larva T. saginatadisebut Cysticercus bovis. Pada umumnya, sistiserkus T. saginata ditemukan pada otot daging dan sangatjarang ditemukan pada organ visceral, otak dan hati sapi (FAN et al., 1987), kemungkinan karena ototdaging merupakan tempat yang memperoleh sirkulasi darah paling banyak. Akan tetapi, menurut laporan
  20. 20. dari DHARMAWAN et al. (1996) berdasarkan hasil penelitiannya disebutkan bahwa babi yang diinfeksitelur T. saginata ternyata menghasilkan pertumbuhan sistiserkus pada organ hati babi yangpertumbuhannya mirip dengan pola pertumbuhan sistiserkus T. saginata taiwanensis (T. asiatica) yaitupada organ hati. Oleh karena tempat pertumbuhan sistiserkus hanya ditemukan pada organ hati babi,maka diduga bahwa T. saginata (strain Bali) dan T. saginata taiwanensis berasal dari spesies yang sama.Selanjutnya, dimungkinkan bahwa babi Bali bisa bertindak sebagai induk semang perantara T. saginata(strain Bali).T. asiaticaCacing pita T. asiatica dewasa mirip dengan T. saginata dewasa yang terdapat pada usus manusia. Cacingini panjangnya mencapai 341 cm, dengan lebar maksimum 9,5 mm (EOM dan RUM, 1993). Adapun,induk semang perantara T. asiatica adalah babi domestik dan babi liar, kadang-kadang juga sapi, kambingatau kera (OIE, 2005). Bentuk larva T. asiatica disebut Cysticercus vicerotropika (EOM et al., 2002).Cacing Taenia pada anjing dan kucingT. hydatigenaInduk semang definitif T. hydatigena adalah anjing, serigala, anjing hutan dan jarang ditemukan padakucing. Cacing dewasanya mempunyai panjang antara 75 – 500 cm (SOULSBY, 1982). Sedangkan,induk semang perantaranya adalah domba, kambing, sapi, babi, rusa kutub dan hewan domestik lainnya.Kelinci dan manusia jarang terinfeksi oleh T. hydatigena. Larva T. hydatigena sangat besar berdiameter 8cm dan disebut sebagai Cysticercus tenuicollis (URQUHART et al., 1996). Biasanya C. tenuicollisditemukan pada domba pada saat pemeriksaan daging pada saat pemotongan.T. multicepsPanjang cacing dewasa mencapai 100 cm dan hidupnya dalam usus anjing dan serigala sebagai induksemang definitif. Sedangkan, induk semang perantara adalah domba, sapi dan kuda. Larva dari cacing inibisa mencapai otak yang disebut Coenurus cerebralis (URQUHART et al., 1996), memerlukan waktuselama 8 bulan untuk menjadi matang dan akan menimbulkan gejala klinis seperti hyperaesthesia atauparaplegia pada induk semang perantara (ruminansia).T. ovisT. ovis merupakan cacing pita pada anjing dan panjang cacing dewasanya mencapai 200 cm. Larva dari T.ovis disebut Cysticercus ovis yang bisa ditemukan pada daging domba dan kambing, sebagai induksemang perantara (URQUHART et al., 1996). Bentuk larvanya bisa menyebabkan muscular cysticercosispada domba dan kambing di beberapa negara (GAAFAR, 1985). Oleh karena bentuk kistanya yang kecildan biasanya sudah mati/mengalami kalsifikasi, sehingga mudah dideteksi pada karkas saat pemotongan.Kista yang mengalami kalsifikasi, kapsulnya tampak mengeras tanpa cairan dan ditemukan adanyapengapuran (DHARMAWAN et al., 1993).T. taeniaeformisCacing pita ini disebut juga Hydatigena taeniaeformis. Cacing dewasanya hidup di dalam usus haluskucing dan mempunyai panjang 60 cm (SOULSBY, 1982). Induk semang definitif selain kucing adalahanjing, serigala dan hewan sejenis kucing dan anjing lainnya. Infeksi pada kucing adalah lebih seringditemukan daripada infeksi pada anjing. Hewan rodensia termasuk tikus dan mencit adalah sebagai induksemang perantara dari T. taeniaeformis, dan larvanya disebut Cysticercus fasciolaris yang sering dijumpaidi parenkim hati. Manusia sangat jarang terinfeksi oleh cacing ini. Dari beberapa spesies cacing Taeniatersebut di atas yang paling penting sampai saat ini adalah T.solium, T. saginata dan T. asiatica karena sifatnya yang zoonosis.CARA PENULARAN DAN SIKLUS HIDUPCACING Taenia spp.Untuk kelangsungan hidupnya cacing Taenia spp. memerlukan 2 induk semang yaitu induk semangdefinitif (manusia) dan induk semang perantara (sapi untuk T. saginata dan babi untuk T. solium). T.saginata tidak secara langsung ditularkan dari manusia ke manusia, akan tetapi untuk T. solium
  21. 21. dimungkinkan bisa ditularkan secara langsung antar manusia yaitu melalui telur dalam tinja manusia yangterinfeksi langsung ke mulut penderita sendiri atau orang lain. Di dalam usus manusia yang menderitaTaeniasis (T. saginata) terdapat proglotid yang sudah masak (mengandung embrio). Apabila telur tersebutkeluar bersama feses dan termakan oleh sapi, maka di dalam usus sapi akan tumbuh dan berkembangmenjadi onkoster (telur yang mengandung larva). Larva onkoster menembus usus dan masuk ke dalampembuluh darah atau pembuluh limpa, kemudian sampai ke otot/daging dan membentuk kista yangdisebut C. bovis (larva cacing T. saginata). Kista akan membesar dan membentuk gelembung yangdisebut sistiserkus. Manusia akan tertular cacing ini apabila memakan daging sapi mentah atau setengahmatang. Dinding sistiserkus akan dicerna di lambung sedangkan larva dengan skoleks menempel padausus manusia. Kemudian larva akan tumbuh menjadi cacing dewasa yang tubuhnya bersegmen disebutproglotid yang dapat menghasilkan telur. Bila proglotid masak akan keluar bersama feses, kemudiantermakan oleh sapi. Selanjutnya, telur yang berisi embrio tadi dalam usus sapi akan menetas menjadilarva onkoster. Setelah itu larva akan tumbuh dan berkembang mengikuti siklus hidup seperti di atas.Siklus hidup T. solium pada dasarnya sama dengan siklus hidup T. saginata, akan tetapi induk semangperantaranya adalah babi dan manusia akan terinfeksi apabila memakan daging babi yang mengandungkista dan kurang matang/tidak sempurna memasaknya atau tertelan telur cacing. T. saginata menjadidewasa dalam waktu10 – 12 minggu dan T. solium dewasa dalam waktu 5 – 12 minggu (OIE, 2005).Telur T. solium dapat bertahan hidup di lingkungan (tidak tergantung suhu dan kelembaban) sampaibeberapa minggu bahkan bisa bertahan sampai beberapa bulan. Proglotid T. saginata biasanya lebih aktif(motile) daripada T. solium, dan bisa bergerak keluar dari feses menuju ke rumput. Telur T. saginatadapat bertahan hidup dalam air dan atau pada rumput selama beberapa minggu/bulan. Pada hewan,Taeniasis disebabkan oleh T. ovis, T. taeniaeformis, T. hydatigena, T. multiceps, T. serialis dan T. brauni.Ini terjadi karena hewan memakan daging dari induk semang perantara termasuk ruminansia, kelinci dantikus. Pada sapi (C. bovis) mulai mati dalam waktu beberapa minggu, dan setelah 9 bulan akanmengalami kalsifikasi. Sedangkan, sistiserkus dari spesies lain bisa bertahan hidup sampai beberapatahun. T. solium pada babi, sistiserkus bisa ditemukan pada jaringan/otot jantung, hati dan otak. Padababi, sistiserkus juga bisa ditemukan pada daging bagian leher, bahu, lidah, jantung dan otak (KUMARdan GAUR, 1994). Pada manusia, sistiserkus ini sering ditemukan di jaringan bawah kulit, otot skeletal,mata dan otak. Pada kasusyang serius disebabkan oleh adanya sistiserkus pada jaringan otak bisamenyebabkan neurocysticercosis dan bisa menyebabkan kejang-kejang pada manusia. Sistiserkus T.saginata pada sapi dan sistiserkus T. ovis pada kambing ditemukan pada jaringan otot (muscles).Sistiserkus T. asiatica dan sistiserkus T. taeniaeformis biasanya ditemukan pada hati, sedangkansistiserkus T. hydatigena ditemukan dalam peritoneum.METODE DIAGNOSIS YANG DILAKUKANDiagnosis Taeniasis bisa dilakukan dengan menemukan dan mengidentifikasi proglotid atau telur cacingdalam feses di bawah mikroskop. Telur cacing Taenia berbentuk spherical, berwarna coklat danmengandung embrio. Telur cacing ini bisa ditemukan di feses dengan pemeriksaan menggunakan metodeuji apung. Proglotid Taenia dapat dibedakan dari cacing pita lainnya dengan cara membedakanmorfologinya. Cacing Taenia juga bisa diidentifikasi berdasarkan skoleks dan proglotidnya Untukdiagnosis sistiserkosis sangat sulit dilakukan pada hewan hidup. Pada hewan kecil, diagnosis dilakukandengan Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk melihat adanya kista yang sudah mengalamikalsifikasi, sedangkan, pada hewan besar biasanya dilakukan secara post mortem dengan melakukanpemeriksaan daging. Sistiserkus kadangkadang dapat dideteksi pada lidah babi atau sapi denganmelakukan palpasi akan teraba benjolan/nodul di bawah jaringan kulit atau intramuskular. Palpasi adalahmerupakan satu-satunya cara deteksi ante mortem pada hewan yang diduga terinfeksi sistiserkosis didaerah endemis pada negara yang berkembang (GONZALEZ et al., 2001). Meskipun diagnosissistiserkosis bisa dilakukan dengan cara palpasi pada lidah hewan dan telah dilaporkan sangat spesifik,tetapi sensitivitasnya sedang, terutama pada hewan yang infeksinya ringan (GONZALEZ et al., 1990).Berdasarkan hasil penelitian SATO et al. (2003), 34% (17/50) babi yang dinyatakan negatif dengan
  22. 22. pemeriksaan palpasi lidah, tetapi dengan uji ELISA (Enzyme-linked Immunoabsorbent Assay) dinyatakanseropositif. Dalam hal ini uji serologi lebih dapat dipercaya untuk deteksi infeksi T. solium daripadapemeriksaan palpasi lidah. Pada manusia, diagnosis Taeniasis dilakukan selain dengan menemukan telurcacing atau proglotid dalam feses, juga bisa dilakukan dengan cara pemeriksaan serologi yaitu denganELISA, Enzymelinked Immunoelectro Transfer Blot (EITB), Complement fixation dan haemagglutinationdan PCR (Polymerase Chain Reaction) (OIE, 2005). Sedangkan, diagnosis sistiserkosis dilakukan denganpemeriksaan Computed Tomography (CT) Scan dan MRI untuk mengidentifikasi adanya sistiserkusdalam otak. Kista yang sudah mati atau mengalami kalsifikasi dalam daging/jaringan bisa terdeteksidengan pemeriksaan X-Ray. Biopsi juga bisa dilakukan untuk memeriksa adanya benjolan/kista di bawahjaringan kulit. Diagnosis secara serologi digunakan juga untuk mendeteksi sistiserkosis pada ternak danELISA merupakan uji yang paling banyak digunakan (CHO et al., 1992; YONG et al., 1993).DHARMAWAN (1995) melaporkan bahwa dari 420 sampel serum babi yang diperiksa dengan ELISA,47 ekor babi (11,2%) menunjukkan seropositif terhadap sistiserkosis dan dari 210 sampel serum sapi, 11ekor sapi (5,23%) menunjukkan seropositif terhadap sistiserkosis. Uji ELISA sangat spesifik untukmendeteksi antibody sistiserkosis pada manusia dan babi (ITO et al., 1999). Selanjutnya, ITO et al.(2002b) melaporkan bahwa sistiserkosis pada anjing dapat juga terdeteksi secara serologi, tetapisensitivitas dan spesifisitasnya masih perlu dievaluasi. Sedangkan, kista yang ditemukan di anjingtersebut berdasarkan pemeriksaan morfologinya adalah T. solium.UPAYA PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN PENYAKITPenyakit sistiserkosis pada hewan dapat ditekan dengan cara mengobati induk semang definitif yangmenderita Taeniasis. Anjing yang sering berkeliaran dan bergabung dengan hewan ternak lain harusdihindarkan dan dicegah supaya tidak memakan bangkai hewan yang terinfeksi Taenia. Selain itu, untukmencegah terjadinya infeksi dengan T. solium, T. saginata dan T. asiatica, hewan ternak dilarang kontaklangsung dengan feses manusia. Taeniasis pada kucing dan anjing dapat ditekan dengan melarang hewantersebut memakan hewan pengerat (rodent) atau induk semang perantara lainnya dan dihindarkan darimemakan daging mentah. Untuk mencegah Taeniasis pada manusia, dapat dilakukan dengan menghindarimemakan daging yang kurang matang, baik daging babi (untuk T. solium) maupun daging sapi (untuk T.saginata). Daging yang terkontaminasi harus dimasak dahulu dengan suhu di atas 56 Selain itu, C.dengan membekukan daging terlebih dahulu, dapat mengurangi risiko penularan penyakit. MenurutFLISSER et al. (1986), daging yang direbus dan dibekukan pada suhu -20 dapat membunuh Csistiserkus. Sistiserkus akan mati pada suhu -20 tetapi pada suhu 0 – 20 akan tetap hidup selama 2 C, Cbulan, dan pada suhu ruang akan tahan selama 26 hari (BROWN dan BELDING, 1964). PengobatanTaeniasis pada hewan bisa dilakukan dengan pemberian obat cacing praziquantel, epsiprantel,mebendazole, febantel dan fenbendazole. Demikian juga untuk pengobatan Taeniasis pada manusia,pemberian obat cacing praziquantel, niclosamide, buclosamide atau mebendazole dapat membunuhcacing dewasa dalam usus. Adapun sistiserkosis pada hewan bisa diobati dengan melakukan tindakanoperasi (bedah). Berdasarkan laporan dari OIE (2005), hanya sedikit sekali informasi tentang penggunaanobat cacing terhadap penyakit sistiserkosis pada hewan. OIE (2008) melaporkan bahwa pengobatandengan albendazole dan oxfendazole pada sapi dan babi yang terinfeksi T. saginata dan T. soliumkistanya mengalami degenerasi.KESIMPULANTaeniasis adalah penyakit cacing pita yang disebabkan oleh cacing Taenia dewasa, sedangkansistiserkosis adalah penyakit pada jaringan lunak yang disebabkan oleh larva dari salah satu spesiescacing Taenia. Induk semang definitif dari T. saginata, T. solium dan T. asiatica hanya manusia, kecualiT. solium dan T. asiatica manusia juga berperan sebagai induk semang perantara. Sedangkan, babi adalahinduk semang perantara untuk T. solium dan sapi adalah induk semang perantara untuk T. saginata.Adapun induk semang definitif dari cacing Taenia selain ketiga spesies tersebut adalah hewan carnivora
  23. 23. (anjing/ kucing). Penularan Taeniasis melalui makanan yaitu memakan daging yang mengandung larva,baik yang terdapat pada daging sapi (C. bovis) ataupun daging babi (C. cellulose atau C. vicerotropika).Sedangkan, penularan sistiserkosis pada manusia melalui makanan atau minuman yang tercemar telurcacing T. solium atau T. asiatica. Telur T. saginata tidak menimbulkan sistiserkosis pada manusia.Diagnosis dapat dilakukan dengan palpasi pada hewan terutama di daerah endemis. Palpasi dilakukanuntuk melihat adanya benjolan/kista di jaringan bawah kulit atau intra muskular. Pemeriksaan fesesdilakukan untuk menemukan adanya telur cacing atau proglotid pada penderita Taeniasis terutama padamanusia. Diagnosis secara serologik dengan ELISA juga bisa diterapkan untuk hewan maupun manusia.Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan menghilangkan sumber infeksi dengan mengobati penderitaTaeniasis dan menghilangkan kebiasaan memakan daging setengah matang atau mentah. Pemeriksaandaging oleh dokter hewan atau mantra hewan di Rumah Potong Hewan (RPH) perlu dilakukan, sehinggadaging yang mengandung kista tidak sampai dikonsumsi masyarakat. Selain itu, ternak sapi atau babidipelihara pada tempat yang tidak tercemar atau dikandangkan sehingga tidak dapat berkeliaran.

×