POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH : …………………………………................
TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU) :
Mata Kuliah ini membahas bagaimana melakukan proses pemeriksaan yang meliputi tahapan per...
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN I
PENGERTIAN AUDITING
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti tentang
informasi yang d...
ternyata assurance services memiliki ruang lingkup yang lebih luas
disbanding auditing atau atestasi.
Gambar 1.1
Hubungan ...
Laporan keuangan yang wajar adalah yang disusun berdasarkan prinsip
akuntansi yang berlaku umum (di Indonesia : Prinsip ak...
Gambar 1.2
Perbedaan Auditing dan Accounting
Jenis Audit
 Audit Atas Laporan Keuangan/Financial Audit adalah audit yang
b...
 Auditor Pajak, yaitu auditor yang bertanggung jawab melaksanakan
pemeriksaan atas tercapainya penerimaan negara dari sek...
seperti ini, tentu disimpan oleh para manajemen tersebut. Oleh karena itu,
sangatlah penting bagi auditor untuk menjalin h...
Aktivitas Kantor Akuntan Publik
Kantor Akuntan Publik terutama melaksanakan empat jenis jasa, yaitu :
 Atestasi, di mana ...
B. Standar Pekerjaan Lapangan, meliputi :
 Perencanaan dan supervisi yang pantas .
 Pemahaman yang cukup tentang struktu...
 Independensi
 Penugasan para auditor, dalam hal ini harus memiliki kemampuan dan
pelatihan teknis yang memadai
 Konsul...
Contoh Engagement letter ;
Kepada
[Pihak yang Mengadakan Perikatan]
Saudara telah meminta kami untuk mengaudit neraca …………...
Sebagai tambahan laporan audit kami atas laporan keuangan, kami akan
menyampaikan surat terpisah tentang kelemahan signifi...
Soal Latihan PERTEMUAN I
1. Mengapa laporan keuangan perlu diaudit?
2. Syarat-syarat apa saja yang perlu dimiliki oleh seo...
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN II
STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK
DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA
ETIKA PROFESIONAL
Apakah Etika Itu?
Etika ...
Etika Dalam Bisnis
Ada beberapa akibat potensial dari kasus-kasus dan terdapat banyak kritik
terhadap bisnis yang ditampil...
Bagi akuntan public, penting untuk meyakinkan klien dan pemakai laporan
keuangan akan kualitas audit dan jasa lainnya. Jik...
Upaya Memelihara Independensi
Banyak elemen-elemen dan persyaratan atau dorongan lain bagi akuntan
untuk mempertahankan in...
Peraturan 301 – Kerahasiaan, Anggota dalam praktek publik tidak dibenarkan
mengungkapkan semua informasi rahasia klien tan...
B. Peraturan 503 -B. Pengungkapan komisi yang diijinkan Anggota
diijinkan untuk memberikan jasa dengan menerima komisi dan...
bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat
keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus
din...
Soal Latihan PERTEMUAN II
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN III
LAPORAN AUDIT
Auditing adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi
bukti yang berhubun...
JENIS-JENIS PENDAPAT AKUNTAN
1. Laporan Audit Standar Dengan Pendapat Wajar tanpa Pengeculian
Bentuk laporan audit yang pa...
memberi pendapat (disclaimer of opinion), dan pendapat wajar dengan
pengecualian (qualified opinion).
a. Wajar tanpa syara...
Bagian-Bagian Dari Laporan Audit Bentuk Baku
Terlepas dari siapa auditornya,ketujuh bagian laporan audit berikut ini akan ...
Penyimpangan dari Laporan Bentuk Baku
Auditor sering menjumpai keadaan dimana tidak mungkin memberiikan pendapat
wajar tan...
Contoh Laporan Audit oleh Akuntan Publik ;
LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN
Kepada
Yth. Pemegang Saham dan Dewan Komisaris
PT HU...
Latihan Soal PERTEMUAN III
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN IV
STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN
TERMINOLOGI
Audit Objecktive
Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasi...
ARTI PENTING
Arti pentingnya pengendalian intern:
1. Lingkup dan besarnya perusahaan sudah menjadi sedemikian kompleks dan...
KOMPONEN
Adapun komponen pengedalian intern adalah:
1. Lingkungan pengendalian
2. Perhitungan risiko
3. Informasi dan komu...
2) Pengalaman dan kedudukan
3) Keterlibatan dalam aktivitas manajemen
4) Ketepatan tindakan yang diambil
5) Pertanyaan yan...
1) Rekruitmen dan screening dalam pengangkatan karyawan
2) Orientasi pegawai baru terhadap kultur perusahaan
3) Kebijakan ...
5. Monitoring
Monitoring adalah suatu proses penilaian kualitas kinerja sistem pengendalian
intern sepanjang masa. Hal ini...
SOAL LATIHAN PERTEMUAN IV
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN V
Test Transaksi
Audit Evidence ( Bukti Audit )
Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka a...
Bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan
ke Sembilan jenis bulti tersebut:
1. Struk...
Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan:
o Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien
o P...
kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan
ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan ter...
Dalam rangka merencanakan setrategi auditor seharusnya :
 Menguji pengendalia aplikasi komputer
 Menguji pengendalian um...
Menilai Pengendalian Teknologi Informasi
1. Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur untuk
memperoleh sua...
KETIDAKPASTIAN DAN SAMPLING AUDIT
Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep “sebagai
dasar mem...
SAMPLING DALAM PENGUJIAN PENGENDALIAN
Perencanaan Sampel
Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendal...
SOAL LATIHAN PERTEMUAN V
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN VI
KERTAS KERJA AUDIT
KERTAS KERJA AUDIT (WORKING PAPER)
Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang diperol...
Isi Kertas Kerja Audit
Kertas kerja harus cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok
dengan laporan keuangan atau ...
Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja audit :
a) Kertas Kerja kerja harus dibuat lengkap.
b) Teliti....
TAHAP PENYUSUNAN AUDITED FINANCIAL STATEMENTS.
a. Pembuatan atau pengumpulan daftar pendukung (supporting schedules)
sebag...
Tujuan dari permanent file :
• Sebagai acuan yang digunakan untuk pemeriksaan tahun-tahun mendatang.
• Memberikan ringkasa...
diproses dan sebagai gantinya dicetak suatu laporan pengecualian atau
exception report.
Auditor dapat menguji efektivitas ...
Test Of Transaction
Test of transactions atau dalam bahasa indonesia disebut test atas transaksi
merupakan bagian dari pro...
LATIHAN SOAL PERTEMUAN VI
POLITEKNIK LP3I BANDUNG
SATUAN ACARA PENGAJARAN
(SAP)
MATA KULIAH : AUDITING
KODE MATA KULIAH :
KREDIT : 2 SKS
PERTEMUAN :...
PERTEMUAN VII
AUDIT PROGRAM
Personel yang mengelola program audit hendaknya mengimplementasikan
program audit dengan cara ...
4. Evaluasi efektivitas sistem manajemen terhadap tujuan yang spesifik
5. Identifikasi area perbaikan potensial pada siste...
Dalam memutuskan ukuran dan komposisi tim audit untuk audit yang speisifik,
pertimbangan hendaknya diberikan pada hal-hal ...
Peran dan Tanggung Jawab Personel yang Mengelola Program Audit
Personel yang mengelola program audit hendaknya:
1. Menetap...
Faktor lain yang memberi pengaruh pada ruang lingkup program audit mencakup
hal-hal berikut:
1. Tujuan, cakupan, dan duras...
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Modul audit jadi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Modul audit jadi

22,922

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
22,922
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
546
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Modul audit jadi

  1. 1. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : …………………………………...............…………............................. KREDIT : 2 SKS SEMESTER : 3 GANJIL PENANGGUNG JAWAB MATA KULIAH : PEMBUAT (REVISI) : Budi Lesmana, S.E.,M.M DESKRIPSI SINGKAT : Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar mengenai pengauditan serta aplikasinya terhadap dunia kerja. Pembahasan mata kuliah ini meliputi : Auditing, Standar Profesional Akuntan Publik (PSAP), Indonesian Institute of Auditing (IIA) dan Kode Etik Akuntan Indonesia,Tujuan Audit dan Laporan Audit, Laporan Audit, Pengendalian Internal, Bukti Audit, Resiko Audit, Rencana Pemeriksaan, Pemeriksaan Kas dan Setara Kas, Piutang, Surat Berharga, Penghitungan Aktiva tetap, berwujud & tidak berwujud, persediaan barang Dagangan, program Pemeriksaan, Prosedur Audit, Pemeriksaan dengan elektronik, kertas kerja pemeriksaan
  2. 2. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU) : Mata Kuliah ini membahas bagaimana melakukan proses pemeriksaan yang meliputi tahapan perencanaan, proses pemeriksaan sampai membuat laporan hasil pemeriksaan dengan membuat satu pernyataan atas hasil pemeriksaan. MATERI :  Auditing, Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Kode Etik Akuntan Indonesia  Tujuan Audit dan Laporan Audit  Pengendalian Intern  Bukti Audit dan Tes Transaksi  Kertas Kerja Pemeriksaan  Rencana pemeriksaan, Program Pemeriksaan dan Prosedure Pemeriksaan
  3. 3. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 1 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian auditing, profesi- profesi dalam auditing Pengertian auditing dan profesi dalam dunia auditing 1) Pengertian Auditing 2) Perbedaan auditing dan akuntansi 3) Perlunya dilakukan audit 4) Jenis-jenis audit 5) Profesi akuntan di Indonesia dan di Negara lain. 6) Peer Review Ceramah Data Primer dan sekunder 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 1 Alvin A Arrens PERTEMUAN1 BUKU REFERENSI : 1) Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2) Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3) Standar pemeriksaan Akuntan Publik
  4. 4. PERTEMUAN I PENGERTIAN AUDITING Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria - kriteria yang telah ditetapkan yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen .(disimpulkan dari beberapa sumber yang penulis baca) Beberapa keyword dari definisi tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut:  Entitas Ekonomi, adalah satuan usaha yang legal seperti PT,CV, Fa, lembaga pemerintah, atau perusahaan perorangan .  Pengumpulan dan pengevaluasian bukti .  Bukti-bukti merupakan segala sesuatu yang merupakan informasi yang digunakan auditor seperti pernyataan lisan dari auditee , komunikasi tertulis dan pengamatan .  Orang yang kompeten dan independen maksudnya adalah orang yang mempunyai kemampuan dan sikap mental yang independen .  Pelaporan sebagai alat penyampaian temuan-temuan kepada auditee . Oleh sePERTEMUAN itu Auditing merupakan salah satu bentuk atestasi. Atestasi, pengertian umumnya, merupakan suatu komunikasi dari seorang expert mengenai kesimpulan tentang reabilitas dari pernyataan seseorang. Dalam pengertian lebih sempit atestasi merupakan “komunikasi tertulis yang menjelaskan suatu kesimpulan mengenai reabilitas dari asersi tertulis yang merupakan tanggung jawabdari pihak lainnya”. Seorang akuntan public dalam kapasitasnya sebagai seorang auditor memberikan atestasi mengenai kewajaran dari laporan keuangan sebuah entitas. Akuntansi berfungsi menyajikan informasi kuantitatif untuk pengambilan keputusan . Sementara dalam auditing, aturan-aturan akuntansi menjadi kriteria untuk membandingkan kesesuaian informasi. Dengan demikian, akuntansi dan auditing berbeda dalam esensinya. Sehingga akhir-akhir ini akuntan publik mulai melakukan jenis jasa assurance lainnya. Committee Assurance Service dari AICPA mendefinisikan assurance services sebagai berikut : “Jasa seorang professional yang independen yang meningkatkan kualitas informasi untuk para pengambil keputusan” yang
  5. 5. ternyata assurance services memiliki ruang lingkup yang lebih luas disbanding auditing atau atestasi. Gambar 1.1 Hubungan antara Assurance, Attestation dan Auditing Ada beberapa hal yang penting perlu diperhatikan lebih lanjut, yaitu ; Pertama ; yang diperiksa adalah laporang keuangan yang telah disusun oleh pihak manajemen beserta catatan-catatan dari pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya. Laporan keuangan yang harus diperiksa terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas. Catatan-catatan pembukuan terdiri dari buku harian (buku kas/Bank, buku penjualan/pembelian, Buku serba-serbi) buku besar, sub buku besar (piutang, utang, kartu persediaan, aktiva tetap). Kedua ; Pemeriksaan dilakukan secara kritis dan sistematis, dalam melakukan pemeriksaannya, akuntan public berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik, mentaati kode etik IAI dan aturan etika IAI serta memenuhi Standar Pengendalian Mutu Ketiga ; Pemeriksaan dilakukan oleh pihak yang independent yaitu akuntan public yang tidak memiliki hubungan, kepentingan tertentu dengan dewan direksi baik itu sebagai pemegang saham ataupun hubungan relasi lainnya, auditor harus bersifat objective tidak memihak kepada siapapun dan melaporkan apa adanya. Keempat ; tujuan dari pemeriksaan akuntan adalah untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa. Assurance Services Attestation Auditing
  6. 6. Laporan keuangan yang wajar adalah yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum (di Indonesia : Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang dikodefikasi dalam Standar Akuntansi Keuangan) Auditing dan Asersi Manajemen Asersi adalah representasi manajemen mengenai kewajaran laporan keuangan Auditing Standards Board (ASB), suatu badan yang dibentuk AICPA untuk memformulasikan standar auditing dan interpretasinya, mengklasifikasinya asersi laporan keuangan sebagai berikut ; 1. Existence atau Occurance adalah standard yang dibuat untuk meyakinkan keberadaan dari semua harta, utang dan ekuitas yg tercantum dalam neraca betul-betul ada dan apakah semua transaksi yang terangkum dalam laba rugi betul-betul terjadi. 2. Completeness ; apakah ada harta, utang dan ekuitas yang dihilangkan dari laporan keuanga 3. Right and Obligations adalah hak dan pengakuan dari harta yang tercantum dalam neraca adalah milik perusahaan ?, apakah kewajiban perusahaan merupakan kewajiban perusahaan pertanggal neraca ? 4. Valuation atau allocation adalah standar penilaian atas harta, utang dan ekuitas berdasarkan nilai yang tepat dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. 5. Presentation and disclosure, berkaitan dengan pengujian dari laporan keuangan yang disajikan apakah sudah tereflesikan kondisi keuangan yang sesungguhnya. Perbedaan Auditing dan Akuntansi Akuntansi dalam pengerjaannya mempunyai sifat konstruktif karena disusun mulai dari bukti-bukti pembukuan, buku harian, buku besar dan sub buku besar, neraca saldo sampai pada laporan keuangan. Auditing mempunyai sifat analitis, karena akuntan public memulai pemeriksaannya dari angka-angka dalam laporan keuangan lalu dicocokan dengan neraca saldo (trial balance), buku besar (General Ledger), buku harian dan buku khusus sampai pada bukti-bukti transaksi
  7. 7. Gambar 1.2 Perbedaan Auditing dan Accounting Jenis Audit  Audit Atas Laporan Keuangan/Financial Audit adalah audit yang bertujuan untuk menentukan kesesuaian informasi terukur yang akan diverifikasi dengan kriteria tertentu sepeti GAAP atau Standar Akuntansi yang berlaku umum ( PSAK).  Audit Operasional adalah penelaahan bagian dari prosedur atau metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya Hasilnya berupa rekomendasi perbaikan operasi.  Audit Ketaatan adalah audit atas ketaatan auditee terhadap prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan baik aturan yang ditetapkan perusahaan maupun aturan yang ditetapkan oleh atau dengan pihak luar seperti pemerintah , bank , kreditor atau pihak lainnya. Audit atas laporan keuangan pada hakekatnya adalah audit ketaatan terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jenis Auditor  Kantor Akuntan Publik Terdaftar, yaitu auditor yang mempunyai tanggung jawab atas kinerja audit laporan keuangan bagi semua perusahaan publik, perusahaan-perusahaan besar dan beberapa perusahaan kecil dan organisasi nirlaba.  Auditor Pemerintah, yaitu auditor yang mempunyai tanggung jawab mengevaluasi efisiensi, efektifitas, dan keekonomisan dari program/proyek pemerintah. Di Indonesia ada beberapa lembaga yaitu BPKP, BEPEKA, serta Itjen pada departemen-departemen pemerintah . Transaksi yg mempunyai nilai uang Bukti Pembukuan Special Journal General Journal Trial Balance Worksheet Financial Report Sub- Ledger Ledger Accounting Auditing
  8. 8.  Auditor Pajak, yaitu auditor yang bertanggung jawab melaksanakan pemeriksaan atas tercapainya penerimaan negara dari sektor perpajakan dan penegakan hukum dalam pelaksanaan perpajakan. Di Amerika ada Internal Revenue Service ( IRS ), sementara di Indonesia dilaksanakan oleh KPP dan Karikpa sebagai tenaga teknis pemeriksaan pajak dari Direktorat Jenderal Pajak ( DJP ).  Internal Auditor, yaitu auditor yang bekerja di suatu perusahaan untuk melaksanakan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan. Sebagai contoh di BUMN-BUMN di Indonesia ada unit SPI yang menangani hal tersebut. Kebutuhan akan Auditing Jasa auditing yang digunakan di kalangan pengusaha, pemerintah, dan lain- lain pada hakikatnya adalah untuk mengurangi risiko informasi antara dua pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini adalah manajemen sebagai pembuat laporan dan user sebagai pemakai laporan. Hal ini karena semakin kompleksnya kondisi masyarakat yang memungkinkan para pengambil keputusan akan memperoleh informasi yang tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diandalkan yang secara umum disePERTEMUANkan oleh 4 hal yaitu:  Hubungan yang tidak dekat (Jauhnya sumber informasi) antara penerima dan pemberi informasi .  Sikap memihak/bias dan motif lain yang melatarbelakangi pemberian informasi.  Data yang berlebihan  Transaksi pertukaran yang kompleks Untuk menanggulangi risiko informasi tersebut ada tiga cara yang dapat dilaksanakan :  Verifikasi Informasi oleh pihak pemakai/pengguna informasi  Pengguna informasi menanggung risiko informasi secara bersama- sama dengan manajemen  Dilakukan audit atas Laporan Keuangan . PIHAK-PIHAK YANG BERINTERAKSI DENGAN AUDITOR 1. Manajemen Dalam konteks audit, yang dimaksud manajemen meliputi pejabat pimpinan, kontroler, dan para personil kinci perusahaan. Selama audit berlangsung, auditor sangat sering berhubungan atau berinteraksi dengan manajemen. Untuk mendapatkan bukti yang diperlukan dalam suatu audit, auditor sering kali meminta data perusahaan yang bersifat rahasia. Data
  9. 9. seperti ini, tentu disimpan oleh para manajemen tersebut. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi auditor untuk menjalin hubungan baik dengan manajemen atas dasar saling percaya dan saling menghormati (tanpa mengurangi professional skepticism). 2. Dewan Komisaris dan Komite Audit Dewan Komisaris dan Komite Audit bertindak sebagai penengah antara auditor dan manajemen. Fungsi dewan dan komite ini yang berhubungan langsung dengan akuntan publik adalah: a. Menunjuk kantor akuntan publik yang akan diberi penugasan audit. b. Mendiskusikan lingkup audit dengan auditor c. Mengundang auditor untuk mendiskusikan masalah-masalah yang timbul selama audit berlangsung d. Mereview laporan keuangan dan laporan auditor dengan auditor menjelang selesainya penugasan audit. 3. Auditor Intern Akuntan publik biasanya menjalin kerja sama dengan auditor intern pada perusahaan klien, karena akuntan publik mempunyai kepentingan langsung dengan pekerjaan auditor intern yang merupakan bagian dari pelaksanaan sistem pengendalian intern klien. Di samping itu, auditor intern akan memberi bantuan langsung kepada akuntan publik dalam pelaksanaan audit atas laporan keuangan. Pekerjaan auditor intern merupakan pelengkap bagi akuntan publik. 4. Pemegang Saham Para pemegang saham mengandalkan pada laporan keuangan yang telah diaudit untuk mendapatkan keyakinan bahwa manajemen telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Oleh karena itu, auditor memiliki tanggung jawab yang penting terhadap mereka sebagai pemakai utama laporan auditor. KETERBATASAN AUDIT LAPORAN KEUANGAN 1. Keterbatasan yang melekat pada laporan keuangan (adanya berbagai metode, adanya pertimbangan tertentu dalam suatu kejadian atau transaksi, dan lain-lain) 2. Keterbatasan dalam pelaksanaan audit (misalnya: sampling bukti) sehingga dalam standar hanya mengatakan “ ….bukti yang cukup …” bukan bukti yang menjamin 100% benar, dan pendapat yang diberikan oleh akuntan publik adalah “wajar” bukan absolut benar (namun akhir- akhir ini berkembang wacana dalam akuntansi adanya “true and fair value”).
  10. 10. Aktivitas Kantor Akuntan Publik Kantor Akuntan Publik terutama melaksanakan empat jenis jasa, yaitu :  Atestasi, di mana KAP mengeluarkan laporan tertulis yang menyatakan kesimpulan atas keandalan pernyataan tertulis yang telah dibuat dan ditanggungjawabi pihak lain.Terdapat tiga jenis atestasi yaitu : audit laporan keuangan historis , review/penelaahan laporan keuangan historis dan jasa atestasi lainnya .  Jasa Perpajakan berupa SPT PPh, PBB, PPN , perencanaan perpajakan dan jasa perpajakan lainnya.  Konsultasi Manajemen yaitu dalam peningkatan aktivitas operasi .  Jasa Akuntansi dan Pembukuan . Ketiga jasa terakhir sering disebut sebaga jasa non assurance. AICPA American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) atau di Indonesia IAI mempunyai tiga fungsi utama yaitu : 1. Penetapan Standar dan Aturan, ada empat bidang utama dalam auditing yang perlu dibuat standar aturannya yaitu ; Standar Audit , Standar Kompilasi dan Penelaahan Laporan Keuangan , Standar Atestasi Lainnya, Kode Etik Profesi . 2. Penelitian dan Publikasi. Kegiatan ini menghasilkan jurnal -jurnal seperti jurnal berkala , jurnal akuntansi dan lain-lain. 3. Pelaksanaan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik/USAP 4. Pendidikan lanjutan . Terdapat tiga persyaratan utama untuk menjadi akuntan public bersertifikat yaitu persyaratan pendidikan, persyaratan ujian akuntan dan persyaratan pengalaman. Standar Auditing yang berlaku umum/GAAS GAAS merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Terdiri dari sepuluh standar yang terdiri dari tiga bagian besar (Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan), yaitu : A. Standar Umum, merupakan kualifikasi dan perilaku umum yang terdiri dari :  Keahlian dan pelatihan teknis yang cukup .  Independensi dalam sikap mental .  Kemahiran profesional yang cermat dan seksama .
  11. 11. B. Standar Pekerjaan Lapangan, meliputi :  Perencanaan dan supervisi yang pantas .  Pemahaman yang cukup tentang struktur pengendalian intern.  Bahan bukti kompeten yang cukup . C. Standar Pelaporan, pelaporan hasil audit yang meliputi :  Apakah laporan keuangan disusun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku umum.  Keadaan dimana standar akuntansi tidak diikuti secara konsisten .  Kecukupan pengungkapan informasi .  Pernyataan pendapat terhadap laporan keuangan secara keseluruhan . Gambar 1.3 Diagram Standar Auditing Pengendalian Mutu/Quality Control Pengendalian mutu adalah prosedur yang digunakan KAP untuk membantu mentaati standar secara konsisten dalam setiap kontrak kerja yang mengikatnya. Komite standar pengendalian mutu menetapkan sembilan elemen pengendalian mutu yaitu :  Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai  Independensi dalam sikap mental  Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama Standar Umum Standar Auditing Standar Pekerjaan Lapaangan  Perencanaan dan supervisi audit  Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern  Bukti audit kompeten yang cukup Standar Pelaporan  Pernyataan ttg kesesu- aian lap keu dgn prinsip akuntansi yg berlaku umum  Pernyataan mengenai ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi yg berlaku umum  Pengungkapan informatif dlm lap keu.  Pernyataan pendapat atas lap keu secara keseluruhan
  12. 12.  Independensi  Penugasan para auditor, dalam hal ini harus memiliki kemampuan dan pelatihan teknis yang memadai  Konsultansi , auditor harus meminta petunjuk dari ahli bila menemui kesulitan dalam pelaksanaan auditing  Supervisi  Pengangkatan Auditor  Pengembangan professional  Promosi  Penerimaan dan Pemeliharaan hubungan dengan klien  Inspeksi, diperlukan untuk penunjang delapan unsur diatas . Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi Kantor Akuntan Publik ( tiga persyaratan pertama juga berlaku bagi KAP yang tidak menjadi anggota forum) yang ditetapkan AICPA dengan divisinya yaitu SEC dan Kantor Akuntan Publik atau di Indonesia Forum IAI - SAP yaitu :  Ketaatan pada standar pengendalian mutu .  Penelaahan sejawat ( peer review ) , harus dari KAP lain yang memenuhi persyaratan  Pendidikan lanjutan  Rotasi partner  Penelaahan oleh partner lain  Larangan pemberian atas jasa tertentu  Pelaporan ketidaksepakatan  Pelaporan jasa konsultasi manajemen.
  13. 13. Contoh Engagement letter ; Kepada [Pihak yang Mengadakan Perikatan] Saudara telah meminta kami untuk mengaudit neraca …………(selanjutnya disebut"Perusahaan") tanggal……………….., dan laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Surat ini menegaskan penerimaan kami dan pemahaman kami atas perikatan ini. Audit kami akan kami laksanakan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan tersebut. Kami akan melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga akan meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasisignifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian atas penyajian laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Pendapat kami atas laporankeuangan tersebut adalah tergantung dari hasil penerapan prosedur-prosedur audit yang akan kami laksanakan, oleh karena itu, kami tidak memberikan jaminan bahwa kami dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan tersebut di atas. Sebagai bagian dari proses audit, kami akan melakukan permintaan keterangan dari manajemen tentang pernyataan manajemen yang disajikan dalam laporan keuangan. Kami juga akan meminta pernyataan tertulis clien manajemen yang menjelaskan bahwa penyajian laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen dan penegasan tertulis lainnya untuk mengkonfirmasi beberapa pernyataan yang dibuat oleh manajemen kepada kami selama proses audit kami. Tanggapan manajemen atas permintaan keterangan kami dan pemerolehan pernyataan tertulis dari manajemen diwajibkan oleh standar auditing sebagai bagian dari bukti audit yang akan kamiandalkan sebagai dasar dalam memberikan pendapat atas laporan keuangan. Karena pentingnya surat pernyataan manajemen tersebut, Perusahaan setuju untuk membebaskan dan mengganti rugi kepada……………(nama KAP yang bersangkutan) dan stafnya atas segala tuntutan, kewajiban, dan biaya-biaya yang akan dikeluarkan sebagai akibat dari kesalahan pernyataan manajemen berkaitan dengan jasa audit yang kami berikan sesuai dengan perikatan ini. Audit kami mengandung risiko bawaan bahwa bila terdapat kekeliruan dan ketidakberesan material, termasuk kecurangan atau pemalsuan, mungkin tidak akan terdeteksi. Namun, bila kami menemukan adanya hal-hal tersebut dalam audit kami,informasi tersebut akan kami sampaikan kepada Saudara.
  14. 14. Sebagai tambahan laporan audit kami atas laporan keuangan, kami akan menyampaikan surat terpisah tentang kelemahan signifikan pengendalian intern yang kami temukan dalam audit yang kami lakukan. Kami mengingatkan Saudara bahwa tanggung jawab atas penyusunan laporan keuangan, termasuk pengungkapan memadai merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab ini mencakup pula penyelenggaraan catatan akuntansi dan pengendalian intern memadai, pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, dan penjagaan keamanan aktiva perusahaan..Sebagai bagian dari proses audit, kami akan meminta penegasan tertulis dari Saudara tentang representasi yang Saudara buat untuk kami dalam rangka audit yang kami laksanakan. Kami mengharapkan kerja sama penuh dari staf Saudara dan kami yakin bahwa mereka akan menyediakan catatan, dokumentasi, dan informasi lain yang kami perlukan dalam rangka audit kami. Berdasarkan diskusi tentang operasi perusahaan dan perencanaan audit kami, fee audit kami perkirakan sebesar Rp …………. Ditambah direct out of pocket expenses dan Pajak Pertambahan Nilai. Fee tersebut kami hitung berdasarkan waktu yang diperlukan oleh staf yang kami tugasi untuk melaksanakan audit ini dan tarif per jam staf yang kami tugasi, yang bervariasi sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang dipikul dan pengalaman serta keahlian yang diperlukan. Jumlah tersebut akan kami tagih sesuai dengan kemajuan pekerjaan kami. Surat perikatan audit ini akan efektif berlaku untuk tahun-tahun yang akan datang kecuali jika dihentikan, diubah, atau diganti. Silakan menandatangani dan mengembalikan copy surat perikatan audit terlampir yang menunjukkan kesepakatan Saudara atas pengaturan tentang audit atas laporan keuangan tersebut di atas. Terima kasih atas kesempatan yang Saudara berikan kepada kami untuk menyediakan jasa audit bagi Saudara. PT KXT Kantor Akuntan Publik
  15. 15. Soal Latihan PERTEMUAN I 1. Mengapa laporan keuangan perlu diaudit? 2. Syarat-syarat apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang auditor? 3. Jelaskan standar audit dan sebutkan apa saja! 4. Akuntan Publik (auditor) bertanggung jawab atas opini yang diberikannya dan alas laporan keuangan yang tercantum dalam audit report ? 5. Menurut Standar Akuntansi Keuangan, laporan keuangan yang lengkap terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan Atas Laporan Keuangan ? 6. Independent auditing dilakukan untuk memeriksa kebenaran dari laporan keuangan klien beserta catatan pembukuan dan dokumen-dokumen perusahaan yang di audit ? 7. Pemeriksaan akuntan harus dilakukan berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK ? 8. Auditing mempunyai sifat analitis, sedangkan accounting mempunyai sifat konstruktif ? 9. Audit proposal yang sudah disetujui klien, merupakan dasar bagi auditor untuk melakukan pemeriksaan dan disebut Management Letter ? 10.Beberapa unsur dari pengendalian mutu: independensi, konsultasi, supersive, materiality ?
  16. 16. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 2 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Mahasiswa dapat memahami apa yang di maksud dengan auditing standart dan dalam fungsinya dalam pelaksanaan profesi auditor, serta kode etik dalam dunia auditing Auditing standard dan kode etik auditing 1. Pengetian auditing standard dan fungsinya dalam pelaksanaan profesi auditor. 2. Kode etik akuntan Indonesia 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 2 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  17. 17. PERTEMUAN II STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA ETIKA PROFESIONAL Apakah Etika Itu? Etika secara umum didefinisikan sebagai perangkat prinsip moral atau nilai. Daftar prinsip-prinsip berikut ini berhubungan dengan karakteristik dan nilai- nilai yang sebagian besar dihubungkan dengan prilaku etis  Kejujuran  Integritas  Mematuhi Janji  Loyalitas  Keadilan  Kepedulian kepada Orang Lain  Menghargai Orang Lain  Menjadi Warga Yang Bertanggungjawab  Mencapai Yang Terbaik  Ketanggunggugatan Kebutuhan akan Etika Kebutuhan akan etika dalam masyarakat cukup penting sehingga banyak diantara nilai-nilai etika yang dimasukkan dalam undang-undang. Sejumlah besar nilai etika dalam masyarakat tidak dapat dimasukkan dalam undang- undang karena sifat nilai tertentu yang memerlukan pertimbangan. Mengapa Orang Bertindak Tidak Beretika Terdapat dua alasan utama mengapa orang bertindak tidak beretika ; 1. Standar etika seseorang berbeda dari masyarakat umum 2. Seseorang memilih bertindak semaunya
  18. 18. Etika Dalam Bisnis Ada beberapa akibat potensial dari kasus-kasus dan terdapat banyak kritik terhadap bisnis yang ditampilkan filem, televisi, surat kabar dan media lainnya. Contoh kasus pertama tadi menunjukkan upaya untuk membuat perilaku bisnis yang tidak beretika seolah-olah normal saja. Kasus kedua menyimpulkan bahwa perilaku manajemen tersebut tidak beretika dan bisnisnya tetap sukses. Akhirnya, dan barangkali merupakan yang terpenting, adalah menyimpulkan bawa suatu tindakan haruslah benar-benar ekstrim untuk dinyatakan sebagai tidak beretika. Sebagai contoh, merupakan tanggungjawab social untuk memperlakukan pegawai, pelanggan dan pemasok secara jujur dan adil, tetapi dalam jangka panjang banyak kemungkinan tindakan yang akan diambil untuk keberhasilan bisnis. Dilema Etika Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang pantas harus dibuat. Contoh sederhana dari dilema etika adalah pada saat kita menemukan cicin berlianyang memaksa kita untuk memutuskan mengembalikan pada pemiliknya atau untuk kita saja. Auditor, akuntan dan kalangan bisnis lainnya menghadapi banyak dilema etika dalam karier bisnis mereka Memecahkan Dilema Etika Ada beberapa alternative pemecahan dilemma etika, tetapi harus berhati-hati untuk menghidari cara yang merupakan rasionalisasi perilakutidak beretika. Berikut ini adalah metode rasionalisasi yang biasanya digunakan bagi perilaku tidak beretika ; - Semua orang melakukannya - Jika itu legal, maka itu beretika - Kemungkinan ketahuan dan konsekuensinya - Fakta Relevan - Masalah etika - Konsekuensi dari setiap alternative Kebutuhan Khusus Berperilaku Beretika Dalam Profesi Alasan yang mendasari diperlukannya perilaku professional yang tinggi pada setiap profesi adalah kebutuan akan kepercayaan public terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi, terlepas dari yang dilakukan secara peorangan.
  19. 19. Bagi akuntan public, penting untuk meyakinkan klien dan pemakai laporan keuangan akan kualitas audit dan jasa lainnya. Jika pmakai jasa tidak mempunyai keyakinan pada ali medis, hakim atau akuntan public, kemampuan professional itu untuk memberikan jasa kepada klien dan asyarakat secara efekti berkurang. Prinsip Prilaku Profesional Prinsip-prinsip Etika 1. Tanggungjawab 2. Kepentingan masyarakat 3. Integritas 4. Objektivitas dan Independen 5. Keseksamaan 6. Lingkup dan Sifat Jasa 7. Standar teknis 8. Kerahasiaan Independensi Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Apabila auditor adalah seorang penasehat klien,seorang banker atau yang lainnya, dia tidak dapat dikatakan independen. Hubungan Keuangan Dengan Klien Di Amerika Serikat, tedapat aturan yang lebih rinci mengenai peilikan saham tersebut. Ada tiga perbedaan dalamperaturan 101 da Amerika Serikat sehubungan dengan independensi dan kepemilikan saham ; - Partner atau pemegang saham kontra non-partner atau non-pemegang saham - Kepentingan keuangan langsung dan tidak langsung - Material dan tidak material - Mantan praktisi - Prsedur peminjaman yang normal - Kepentingan keuangan pada hubungan keluarga - Hubungan investor atau investee bersama dengan klien - Komisaris, direksi, manajemen atau pegawai perusahaan
  20. 20. Upaya Memelihara Independensi Banyak elemen-elemen dan persyaratan atau dorongan lain bagi akuntan untuk mempertahankan independensi dalam kenyataan dalam penampilan. Hal-hal itu yang yang terutama berlaku di Amerika Serikat, akan diikhtisarkan secara ringkas sebagai berikut. - Kewajiban Hukum - Peraturan 101, interperestasi dan ketentuannya - Standar auditing yang berlaku umum - Standar pengendalian mutu IAI (dan AICPA di Amerika Serikat) - Pendivisian Perusahaaan - Komite Audit - Kominikasi denagn auditor pendahuluan - Menjajangi pendapat mengenai penerapan prinsip akuntansi - Pengesahan auditor oleh pemegang saham Standar-Standar Teknis Di Amerika Serikat terdapat aturan-atuaran perilaku bagi anggota AICPA yang berkaitan dengan standar teknis, sebagai berikut ; Peraturan 102 - Auditor harus mempertahankan integritas dan obyektifitas dan bebas dari perbedaan kepentingan dan tidak dengan sengaja salah mengemukakan fakta-fakta atau mendelegasikan pertimbangan- pertimbangannya pada orang lain . Peraturan 201 - standar umum , Anggota harus mentaati standar -standar berikut dan interpretasinya yaitu : kompetensi profesional, kepedulian profesional, perencanaan dan pengwasan, dan data relevan yang mencukupi. Ketaatan pada standar Peraturan 202 - Anggota yang melaksanakan audit, penelaahan, kompilasi, bantuan manajemen, perpajakan , atau jasa profesional lainnya harus taat pada standar yang diumumkan oleh lembaga yang ditetapkan dewan . Peraturan 203 - Prinsip Akuntansi, Anggota tidak dibenarkan menyatakan laporan keuangan tidak menyimpang dari GAAP atau menyatakan tidak mengetahui setiap modifikasi yang material jika laporan keuangan menyimpang dari prinsip akuntansi ditetapkan oleh badan perumus yang ditunjuk dewan. Dan kalau ada penyimpangan atau yang dapat menyePERTEMUANkan penyimpangan maka dia harus menjelaskan mengenai penyimpangan tersebut, akibatnya, alasan mengapa menyatakan penyimpangan.
  21. 21. Peraturan 301 – Kerahasiaan, Anggota dalam praktek publik tidak dibenarkan mengungkapkan semua informasi rahasia klien tanpa ijin khusus dari klien . Terdapat empat pengecualian yang berkaitan dengan tanggung jawab yang lebih penting dari sekedar mempertahankan hubungan rahasia dengan klien yaitu :  Kewajiban sehubungan dengan standar teknis  Dakwaan pengadilan  Penelaahan sejawat  Tanggapan kepada divisi etik. Peraturan 302 - Honor bersyarat, Anggota dalam praktek publik tidak boleh membuat honor bersyarat untuk setiap jasa profesional atau menerima ongkos dari klien yang anggota perusahaannya juga melakukan ; audit atau penelaahan, kompilasi, Pemeriksaan prospektif . Peraturan 501- Tindakan yang mendatangkan aib tindakan tercela Anggota tidak akan melakukan tindakan yang mendatangkan aib bagi profesinya . Interpretasi dari tindakan yang mendatangkan aib diatas adalah sebagai berikut : 1. Menahan catatan klien setelah mereka meminta. 2. Melakukan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin dan lainnya 3. Jika melakukan audit atas badan pemerintah yang prosedurnya lain dari GAAS , auditor tidak mengikuti keduanya kecuali dinyatakan dan beserta alasannya pada laporan Peraturan 502 - Periklanan dan Penawaran , Anggota tidak dibenarkan melakukan periklanan dan penawaran yang bersifat mendustai, menyesatkan dan menipu. Dan penawaran yang menggunakan pemaksaan, desakan yang berlebihan, dan hasutan dilarang . Peraturan 503 - Komisi dan Honor Perujukan A. Komisi yang dilarang, Anggota tidak diperkenankan merekomendasi atau mereferensi produk atau jasa yang pihak lain bagi klien atau yang disediakan oleh klien demi untuk memperoleh komisi atau menerima komisi , apakah anggota atau perusahaan anggota juga memberikan jasa kepada klien untuk audit atau penelaahan, kompilasi, pemeriksaan prospektif .
  22. 22. B. Peraturan 503 -B. Pengungkapan komisi yang diijinkan Anggota diijinkan untuk memberikan jasa dengan menerima komisi dan harus mengungkapkan kepada siapa merekomendasikannya. Peraturan 505 - Bentuk dan Nama praktek , Anggota dapat membuka praktek dalam bentuk perusahaan perorangan, persekutuan, atau perseroan profesional sesuai dengan ketentuan dewan dan tidak diperkenankan membuka praktek dengan nama yang menyesatkan dan tidak boleh menyebut dirinya sebagai “ AICPA” kecuali semua partner dan pemegang sahamnya anggota dari lembaga tersebut . Berikut ini merupakan Standar Auditing di Indonesia berdasarkan pada ; A. Standar Umum 1. Audit harus dilakukan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor 2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor 3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. B. Standar Pekerjaan Lapangan 1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan ssemestinya/. 2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. 3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. C. Standar Pelaporan 1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 2. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan dalam periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. 3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. 4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi
  23. 23. bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor. Aturan tambahan ; PSA No. 04 (SA Seksi 220) PSA No. 04 (SA Seksi 230) PSA No. 07 (SA Seksi 326) PSA No. 08 (SA Seksi 410) PSA No. 09 (SA Seksi 420) PSA No. 10 (SA Seksi 431)
  24. 24. Soal Latihan PERTEMUAN II
  25. 25. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 3 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 3 Mahasiswa dapat memahami bentuk-bentuk laporan audit Laporan Audit/ akuntan 1. Jenis-jenis pendapat Akuntan 2. Jenis-jenis Laporan Akuntan 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 3 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  26. 26. PERTEMUAN III LAPORAN AUDIT Auditing adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian- kejadian ekonomi secara objektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Ada tiga (3) macam audit: 1) Audit Laporan Keuangan, 2) Audit Ketaatan/Kesesuaian, dan 3) Audit Manajemen/Operasional/Kinerja. Modul ini hanya membahas yang pertama. Dengan demikian audit laporan keuangan adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara objektif terhadap laporan keuangan suatu entitas guna memberiikan pendapat atas laporan keuangan tersebut dan mengkomunikasikan hasil audit tersebut kepada pihak yang berkepentingan. Kriteria yang lazim digunakan dalam audit keuangan adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum. Salah satu prinsip akuntansi yang berlaku umum yang ada di Indonesia adalah standar akuntansi keuangan (SAK). Sedangkan laporan keuangan yang diaudit adalah neraca (laporan posisi keungan), laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Orang yang melakukan audit terhadap laporan keuangan disebut auditor. Auditor bekerja pada kantor akuntan publik (KAP). Walaupun menerima honorarium dari manajemen (klien), auditor harus menjaga independensinya tehadap manajemen tersebut (bandingkan dengan profesi pengacara atau dokter). Independensi tersebut dalam hal hubungan darah (semenda), hubungan usaha, dan penampilan (in appearance). Dalam melakukan audit, seorang auditor berpedoman pada standar professional akuntan publik (SPAP). Standar tersebut terdiri atas: 1. Standar Auditing 2. Standar Atestasi 3. Standar Jasa Akuntansi dan Review 4. Standar Jasa Konsultasi 5. Standar Pengendalian Mutu
  27. 27. JENIS-JENIS PENDAPAT AKUNTAN 1. Laporan Audit Standar Dengan Pendapat Wajar tanpa Pengeculian Bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapatan wajar tanpa pengecualian. Lebih dari 90 persen laporan audit menggunakan bentuk ini. Laporan audit standar wajar tanpa pengecualian digunakan bila kondisi berikut terpenuhi. Kondisi Untuk Laporan Wajar Tanpa Pengecualian : 1. Semua Laporan keuangan – neraca, laporan laba rugi, saldo laba dan laporan arus kas – sudah tercakup didalam laporan keuangan. 2. Ketiga strandar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan. 3. Bahan bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tesebut telah melaksanakan penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangn telah dipenuhi. 4. Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum ini berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah disertakan dalam catatan kaki dan bagian-bagian lain laporan keuangan. Tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan. Keadaan Yang MenyePERTEMUANkan Panyimpangan Pendapat Dari Wajar Tanpa Pengecualian Dalam membahas laporan audit yang menyimpang dari laporan audit standar ada tiga topik yang berhubungan, yaitu : yang menyePERTEMUANkan penyimpangn dari pendapat wajar tanpa pengecualian, jelas pendapat selain dari pendapat wajar tanpa pengecualian, dan materialitas. Kondisi 1. Pembatasan lingkup audit. Kondisi 2. Laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 2. Laporan Audit Selain Laporan Wajar Tanpa Pengecualian Jika salah satu dari ketiga kondisi diatas, yang menuntut penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian, ditemukan dalam audit dan dampaknya material, auditor harus memberikan pendapat selain wajar tanpa pengecualian dalam laporannya. Pendapat tidak wajar (adverse opinion), pernyataan tidak
  28. 28. memberi pendapat (disclaimer of opinion), dan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion). a. Wajar tanpa syarat dengan paragraph penjelasan atau dengan modifikasi kalimat: Suatu proses audit telah dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan serta laporan keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi auditor merasa perlu memberikan informasi tambahan b. Wajar dengan pengecualian: auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan memang telah disajikan dengan wajar, tetapi lingkup audit telah dibatasi secara material atau terjadi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum. c. Tidak wajar (adverse) atau menolak memberikan pendapat (disclaimer): Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara wajar (adverse), auditor tidak dapat memberikan opininya mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar (disclaimer). Pendapat disclaimer dapat disePERTEMUANkan dua hal yaitu dibatasinya lingkup audit dan ketidakindependennya auditor. PenyePERTEMUAN-penyePERTEMUAN utama ditambahkannya suatu paragraph penjelasan atau modifikasi kalimat dalam laporan audit bentuk baku a. Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum b. Ketidakpastian atas kelangsungan hidup perusahaan c. Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum d. Penekanan pada suatu masalah e. Laporan yang melibatkan auditor lainnya Contoh perubahan yang dapat mempengaruhi konsistensi palaporan dan memerlukan paragraph penjelasan d. Perubahan prinsip akuntansi, seperti perubahan FIFO ke LIFO e. Perubahan dalam entitas pelaporan, seperti penambahan suatu perusahaan baru dalam lapran keuangan gabungan f. Perbaikan kesalahan yang melibatkan prinsip akuntansi, yaitu dengan melakukan perubahan dari prinsip akuntansi yang tidak diterima umum pada prinsip akuntansi yang diterima secara umum, termasuk di dalamnya perbaikan atas akibat dari kesalahan penggunaan prinsip akuntansi.
  29. 29. Bagian-Bagian Dari Laporan Audit Bentuk Baku Terlepas dari siapa auditornya,ketujuh bagian laporan audit berikut ini akan tetap sama.  Judul laporan, Contoh: Laporan Auditor Independen  Alamat laporan audit  Paragraf pendahuluan o Membuat suatu pernyataan sederhana bahwaKAP telah melakukan audit o Menyatakan laporan keuangan yang telah diaudit termasuk tanggal neraca serta periode akuntansi dari laporan laba rugi dan laporan arus kas. o Menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pelaksanaan audit..  Paragraf scope. o Paragraf ini berisi pernyataan factual tentang apa yang dilakukan auditor selama proses audit. o Menyatakan bahwa auditor melaksanakan audit berdasarkan standar audit profesioanal akuntan pulik. o Menyatakan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.  Paragraf pendapat  Nama KAP  Tanggal laporan audit Laporan audit bentuk baku (laporan audit wajar tanpa syarat) diterbitkan bila kondisi-kondisi berikut ini terpenuhi g. Seluruh laporan keuangan yang meliputi neraca, laba rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas lengkap h. Semua aspek dari ketiga standar umum GAAS/SPAP telah dipatuhi dalam penugasan audit tersebut i. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan sang auditor telah melaksanakan penugasan audit ini dengan sedemikian rupa sehingga membuatnya mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah terpenuhi. j. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. k. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat dalam laporan audit.
  30. 30. Penyimpangan dari Laporan Bentuk Baku Auditor sering menjumpai keadaan dimana tidak mungkin memberiikan pendapat wajar tanpa pengecualian tetapi juga bukan pendapat yang nomor 3, 4, atau 5 seperti di atas.. Dalam keadaan seperti itu berarti ia tetap memberiikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan. Keadaan yang memerlukan paragraf penjelasan atas laporan bentuk baku dengan pendapat wajar tanpa pengecualian adalah: 1. Ketidak sesuaian dengan suatu prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh IAI 2. Tidak konsisten dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum 3. Ketidakpastian peristiwa masa yang akan datang yang hasilnya belum bisa diperkirakan pada tanggal laporan audit 4. Keraguan besar tentang kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya 5. Pemberian tekanan atas masalah tertentu oleh auditor Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketidakpastian atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya a. Terjadinya kerugian operasional atau kekurangan modal kerja yang signifikan b. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jatuh tempo c. Kehilangan pelanggan-pelanggan utama, terjadi bencana yang tidak dijamin oleh asuransi, atau masalah ketenagakerjaan yang tidak umum d. Pengadilan, perundang-undangan, atau hal-hal serupa yang dapat mengancam kemampuan operasional perusahaan
  31. 31. Contoh Laporan Audit oleh Akuntan Publik ; LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kepada Yth. Pemegang Saham dan Dewan Komisaris PT HUMAIRA INDAH SADIDA Kami telah mengaudit neraca PT Humaira Indah Sadida tanggal 31 Desember 2010 serta laporan laba-rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mangharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberiikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT Humaira Indah Sadida tanggal 31 Desember 2010, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kantor Akuntan Publik Price Waterhouse Cooper Abdullah Taman, M.Si. Ak. Register Akuntan Negara No. D-7316
  32. 32. Latihan Soal PERTEMUAN III
  33. 33. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 4 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 4 Mahasiswa dapat memahami tujuan utama audit dan konsep tentang internal control structure Audit objective dan konsep tentang internal control 1. Pengertian dan fungsi external control system 2. Penilaian terhadap internal control system yang dimliki perusahaan 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 4 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  34. 34. PERTEMUAN IV STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN TERMINOLOGI Audit Objecktive Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Pengendalian Intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personil satuan usaha lainnya, yang dirancang untuk ;mendapatkan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal-hal : 1) keandalan pelaporan keuangan, 2) kesesuaian dengan UU dan peraturan lainnya, dan 3) efektivitas dan efisiensi operasi. Dari terminologi di atas, dapat ditarik beberapa konsep dasar tentang pengendalian intern: 1. Pengendalian intern merupakan suatu proses. Artinya bahwa pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. 2. Pengendalian intern dipengaruhi oleh manusia. Pengendalian intern bukan hanya terdiri dari buku pedoman, aturan, atau formulir-formulir semata, tetapi juga orang-orang yang berada di berbagai jenjang dalam struktur organisasi. 3. Pengendalian intern diharapkan hanya memberiikan keyakinan memadai, bukannya keyakinan penuh (mutlak) bagi manajemen, karena adanya kelemahan bawaan yang melekat (inherent) pada sistem pengendalian itu sendiri. 4. Pengendalian intern adalah alat untuk mencapai tujuan dalam berbagai hal, ada kemungkinan adanya tumpang-tindih antara pelaporan keuangan, kesesuaian dan operasional. TUJUAN Tujuan sistem pengendalian intern adalah untuk: 1. keandalan pelaporan keuangan, 2. kesesuaian dengan UU dan peraturan lainnya, dan 3. efektivitas dan efisiensi operasi.
  35. 35. ARTI PENTING Arti pentingnya pengendalian intern: 1. Lingkup dan besarnya perusahaan sudah menjadi sedemikian kompleks dan luas sehingga manajemen tidak mungkin lagi mengendalikan secara langsung. Untuk mengatasi hal itu manejemen harus mengendalikan sejumlah laporan dan analisis agar perusahaan dapat berjalan dengan efektif. 2. Pengecekan dan review yang melekat pada sistem pengendalian intern yang baik, akan dapat melindungi perusahaan dari kelemahan manusiawi dan mengurangi kemungkinan terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan. 3. Ditinjau dari segi auditing, sistem pengendalian yang berlaku pada perusahaan klien akan sangat bermanfaat dalam membatasi lingkup audit. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB Pihak-pihak yang bertanggungjawab dan perannya masing-masing 1. Manajemen. Penetapan dan pemeliharaan suatu sistem pengendalian intern yang efektif merupakan tanggung jawab manajemen. Manajemen puncak wajib menciptakan iklim yang kondusif pada setiap bagian perusahaan dengan menunjukkan kesadaran yang tinggi tentang perlunya pengendalian intern. Ia harus yakin bahwa setiap komponen pengendalian intern telah ditempatkan dan dilaksanakan dengan benar dan konsisten. 2. Dewan Komisaris dan Komite Audit. Anggota dewan komisaris harus menentukan apakah manajemen telah memenuhi tanggung jawabnya dalam penetapan dan pemeliharaan stistem pengendalian intern. Komite audit (bila tidak ada, dilaksanakan sendiri oleh dewan komisaris) harus mengawasi kemungkinan manajemen melakukan kecurangan dan mendeteksi kecurangan pelaporan keuangan, serta mengambil tindakan yang diperlukan. 3. Auditor Intern. Auditor intern harus memeriksa dan mengevaluasi kecukupan sistem pengendalian intern perusahaan secara periodic dan membuat rekomendasi tentang perbaikan-perbaikan yang diperlukan. 4. Personil Perusahaan Lainnya. Peran dan tanggung jawab personil perusahaan lainnya yang harus memberii informasi untuk sistem pengendalian intern dan yang akan menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem pengendalian intern, harus dirumuskan dengan jelas dan menyadari perannya. 5. Akuntan Independen atau Akuntan Publik. Ada kemungkinan hasil dari prosedur audit laporan keuangan, auditor ektern dapat menemukan adanya kelemahan dalam pengendalian intern. Informasi tentang hal tersebut dikomunikasikan kepada manajemen, dewan komisaris, komite audit, beserta rekomendasi untuk perbaikan yang diperlukan. 6. Pihak Luar Lainnya. Instansi atau pihak yang berwenang lainnya membuat ketentuan atau persyaratan minimum tentang keharusan menetapkan pengendalian intern dalam perusahaan.
  36. 36. KOMPONEN Adapun komponen pengedalian intern adalah: 1. Lingkungan pengendalian 2. Perhitungan risiko 3. Informasi dan komunikasi 4. Aktivitas pengendalian 5. Monitoring Penjelasan : 1. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian mempengaruhi suasana suatu organisasi,mempengaruhi kesadaran tentang pengendalian kepada orang- orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan landasan bagi komponen- komponen lainnya, dengan menciptakan disiplin dan sistem. Lingkungan pengendalian terdiri atas: a. Integritas dan etika Untuk menekankan pentingnya integritas dan nilai-nilai etika di antara para personil suatu organisasi, manajemen puncak harus: 1) Menciptakan iklim dengan memberi/menjadi contoh, yaitu dengan menunjukkan integritas dan berperilaku dengan standar etika yang tinggi 2) Mengkomunikasikan kepada semua karyawan, secara lisan dan melalui kebijakan serta aturan-aturan perilaku tertulis. 3) Memberii pedoman moral kepada para karyawan yang karena latar belakang moralnya buruk, membuat mereka tidak bisa membedakan baik dan buruk. 4) Mengurangi atau menghilangkan dorongan dan godaan yang bisa membuat orang menjadi tidak jujur, melanggar hukum, dan bertindak tidak etis. b. Komitmen terhadap kompetensi Komitmen terhadap kompetensi meliputi pertimbangan manajemen tentang pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan, dan perpaduan antara intelegensia, ketrampilan dan pengalaman yang diminta untuk pengembangan kompetensi. c. Dewan komisaris dan komite audit Komposisi dewan komisaris dan komite audit serta cara bagaimana mereka melaksanakan tanggung jawab pengawasan memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan pengendalian. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dewan komisaris dan komite audit adalah: 1) Independensi
  37. 37. 2) Pengalaman dan kedudukan 3) Keterlibatan dalam aktivitas manajemen 4) Ketepatan tindakan yang diambil 5) Pertanyaan yang diajukan kepada manajemen 6) Interaksi dengan auditor intern dan ekstern d. Falsafah manajemen dan gaya operasi Beberapa karakteristik yang membentuk falsafah dan gaya operasi adalah: 1) Pendekatan untuk mengambil dan memonitor risiko bisnis 2) Pendekatan pada kontak-kontak informal langsung dengan manjemen 3) Kebiasaan dan tindakan terhadap pelaporan keuangan 4) Pemilihan prinsip akuntansi alternatif yang tersedia secara konservatif atau agresif 5) Kehati-hatian dan konservatif dalam mengembangkan taksiran-taksiran akuntansi 6) Kebiasaan dalam mengolah informasi dan fungsi akuntansi serta personalia. Karakteristik nomor 4-6 di atas sangat berpengaruh dalam membentuk lingkungan pengendalian atas pelaporan keuangan. e. Struktur organisasi Struktur organisasi memberiikan kerangka menyeluruh untuk perencanaan,pelaksanaan, dan pengawasan, serta monitoring aktivitas perusahaan. Pengembangan struktur organisasi untuk suatu perusahaan menyangkut perumusan kewenangan dan tanggung jawab serta alur pelaporan. f. Perumusan kewenangan dan tanggung jawab Perumusan kewenangan dan tanggung jawab merupakan kelanjutan dari pengembangan struktur organisasi. Adanya perumusan kewenangan dan tanggung jawab ini akan membuat setiap individu mengetahui 1) bagaimana tindakannya berkaitan dengan pihak lain dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan, dan 2) untuk hal apa masing-masing individu harus bertanggung jawab. Selain itu, perusahaan biasanya menyusun deskripsi jabatan yang menggambarkan dengan jelas tugas-tugas spesifik masing-masing jabatan dan hubungan pelaporannya. g. Kebijakan dan praktik di bidang sumber daya manusia Efektif tidaknya sistem pengendalian intern akan sangat bergantung kepada kebijakan dan praktik tentang sumber daya manusia yang dianut, yang akan menentukan apakah personil perusahaan memiliki tingkat integritas yang diharapkan, nilai-nilai etika, dan kompetensi. Praktik yang sehat mengenai hal ini menyangkut:
  38. 38. 1) Rekruitmen dan screening dalam pengangkatan karyawan 2) Orientasi pegawai baru terhadap kultur perusahaan 3) Kebijakan pelatihan 4) Tindakan pendisiplinan atas pelanggaran 5) Evaluasi, konseling dan promosi berdasarkan kinerja yang lalu 6) Program kompensasi yang memotivasi dan memberii penghargaan atas kinerja istimewa 2. Perhitungan Risiko Perhitungan risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko suatu perusahaan berkenaan dengan penyusunan laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum. 3. Informasi dan Komunikasi Sistem informasi yang berhubungan dengan tujuan pelaporan keuangan (yang mencakup sistem akuntansi) terdiri dari metode dan catatan-catatan yang digunakan untuk mengidentifikasi, menggabungkan, menganalisis, menggolongkan, mencatat, dan melaporkan transkasi perusahaan dan menyelenggarakan pertanggungjawaban atas aktiva dan kewajiban yang bersangkutan. Komunikasi menyangkut pemberian pemahaman yang jelas tentang peran dan tanggung jawab masing-masing individu berkenaan dengan sistem pengendalian intern atas pelaporan keuangan. 4. Aktivitas Pengendalian AKtivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa perintah manajemen telah dijalankan. Kebijakan dan prosedur itu membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah dijalankan untuk mencapai tujuan perusahaan. Aktivitas pengendalian memiliki berbagai tujuan dan diterapkan pada berbagai jenjang organisasi dan fungsi. Pengelompokan pengendalian dapat berdasarkan berikut ini: a. Pengendalian pengelolaan informasi Pengendalian ini terdiri atas: 1) Pengendalian umum 2) Pengendalian aplikasi Pengendalian aplikasi terdiri atas: a) Pengotorisasian secara tepat b) Dokumentasi dan catatan c) Pengecekan independen b. Pemisahan tugas c. Pengawasan fisik d. Review kinerja
  39. 39. 5. Monitoring Monitoring adalah suatu proses penilaian kualitas kinerja sistem pengendalian intern sepanjang masa. Hal ini menyangkut penilaian tentang rancangan dan pelaksanaan operasi pengendalian oleh orang yang tepat untuk setiap periode waktu tertentu, untuk menentukan bahwa SPI telah berjalan sesuai dengan yang dikehendaki dan bahwa modifikasi yang diperlukan, karena adanya perubahan kondisi, telah dilakukan. KELEMAHAN Struktu pengendalian intern memiliki kelemahan: o Kesalahan dalam pertimbangan. Seringkali terjadi, manajemen dan personil lainnya melakukan pertimbangan yang kurang matang dalam pengambilan keputusan bisnis atau dalam melakukan tugas-tugas rutin, karena kekurangan informasi, keterbatasan waktu, atau penyePERTEMUAN lainnya. o Kemacetan. Kemacetan pada pengendalian yang telah berjalan dapat terjadi karena salah mengerti instruksi, kecorobohan, kebingungan atau kelelahan. Kemacetan juga disePERTEMUANkan karena perpindahan personil dan perubahan sistem dan prosedur. o Kolusi. Kolusi atau persekongkolan dari bagian-bagian atau individu yang semestinya independen akan mengakibatkan sistem pengendalian intern tidak berfungsi dengan baik. o Pelanggaran oleh manajemen. Manajemen dapat melakukan pelanggaran atas kebijakan atau prosedur-prosedur untuk tujuan tidak sah, seperti untuk keuntungan pribadi, atau membuat laporan keuangan tampak baik (ingat: sisi negatif earnings management). o Biaya dan Manfaat. Biaya penyelenggaraan sistem pengendalian intern seyogyanya tidak melebihi manfaat penerapan sistem pengendalian intern.
  40. 40. SOAL LATIHAN PERTEMUAN IV
  41. 41. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 5 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 5 Mahasiswa dapat memahami apa yang di maksud dengan bukti audit ( audit evidence) dan cara melakukan tets (pengujian) transaksi Audit evidence dan tets of recorded transaction 1. Pengertian audit evidence 2. Bentuk bentuk audit evidence 3. Compliance test & substantive test 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 5 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  42. 42. PERTEMUAN V Test Transaksi Audit Evidence ( Bukti Audit ) Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya Tipe Bukti Audit Dan Prosedur Audit Ada delapan tipe bukti audit yang harus diperoleh auditor dalam auditnya: pengendalian intern, bukti fisik, bukti dokumenter, catatan akuntansi, perhitungan, bukti lisan, perbandingan dan ratio, serta bukti dari spesialis. Untuk memperoleh bukti audit, auditor melaksanakan prosedur audit yang merupakan instruksi terperinci untuk mengumpulkan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit. Prosedur audit yang dipakai oleh auditor untuk memperoleh bukti audit adalah inspeksi, pengamatan, wawancara, konfirmasi, penelusuran, pemeriksaan bukti pendukung, penghitungan, dan scanning. Dalam proses pengumpulan bukti audit, auditor melakukan empat pengambilan keputusan yang sating berkaitan, yaitu penentuan prosedur audit yang akan digunakan, penentuan besarnya sampel untuk prosedur audit tertentu, penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi, dan penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur audit tersebut. Berikut ini adalah tiga strategi yang berhubungan dengan penilaian resiko pengendalian : 1. Menilai resiko pengendalian berdasarkan pemakai. 2. Merencanakan suatu penilaian resiko pengendalian yang rendah berdasarkan pengendalian aplikasi 3. Merencanakan suatu penilaian resiko pengendalian yang tinggi berdasarkan pada pengendalian umum dan tindak lanjut manual.
  43. 43. Bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan ke Sembilan jenis bulti tersebut: 1. Struktur Pengendalian Intern Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern merupakan indicator utama yang menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya. 2. Bukti Fisik Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling obyektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya. Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi penghitungan, danobservasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fdisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi. 3. Catatan Akuntansi Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi merupakan obyek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti catatan akuntansi merupakan obyek audit. Obyek audit adalah laporan keuangan. Tingkat dapat dipercayanya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur pengendalian intern. 4. Konfirmasi Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya. Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu: a. Konfirmasi positif b. Blank confirmation c. Konfirmasi negative
  44. 44. Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan: o Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien o Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan o Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang o Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor 5. Bukti Dokumenter Bukti documenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Menurut sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti documenter dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor secara langsung b. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui klien c. Bukti documenter yang dibuat dan disimpan oleh klien Bukti documenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok b. Bukti documenter kelompok b mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok c. bukti documenter meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening Koran bank (bank statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti documenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen. Bukti documenter banyak digunakan secara luas dalam auditing. Bukti documenter dapat memberikan bukti yang dapat dipercaya (reliabel) untuk semua asersi. 6. Bukti Surat Pernyataan Tertulis Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang individu yang bertanggung jawab dan berpengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari spesialis. Reprentation letter atau representasi tertulis yang dibuat manajemen merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan hokum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang reliable untuk semua asersi. 7. Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali oleh auditor. Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti audit yang bersifat
  45. 45. kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan tersebut misalnya: a. Footing untuk meneliti penjumlahan vertical b. Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal c. Perhitungan depresiasi Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti penjumlahan total saldo, dan perhitugnan kembali yang rumit seperti penghitungan kembali anuitas obligasi. Bukti matematis menghasilkan bukti yang handal untuk asersi penilaian atau pengalokasian dengan biaya murah. 8. Bukti Lisan Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lisan. Masalah yang ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit. Bukti ini dpat menghasilkan bukti yang berkaitan dengan semua asersi. 9. Bukti Analitis dan Perbandingan Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan anggaran atau standar prestasi, trend industry, dan kondisi ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan dan kewajaran hubungan antas pos-pos dalam laporan keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding. Bukti analitis berkaitan serta dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian. Bukti analitis meliputi perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya. Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi dan untuk menilai penyePERTEMUANnya. Pengendalian Pemakai Dalam banyak kasus, klien mungkin merancang prosedur manual untuk menguji kelengkapan dan keakuratan dari transaksi yang diproses oleh komputer pengendali aplikasi.
  46. 46. Dalam rangka merencanakan setrategi auditor seharusnya :  Menguji pengendalia aplikasi komputer  Menguji pengendalian umum komputer  Menguji tindak lanjut manual untuk pengecualian yang dicatat oleh pengendalian aplikasi Pengendalian Umum Dan Prosedur Tindak Lanjut Teknik Audit Berbantuan Komputer Simulasi Paralel 1. Data Pengujian Dengan pendekatan data pengujian, transaksi buatan dipersiapkan oleh auditor dan diproses menurut pengendalian auditor denghan program klien. Akan tetapi metode ini kelemahan :  Program klien diuji hanya pada titik waktu tertentu dan tidak sepanjang priode  Metode yang digunakan adalah suatu pengujian dimana hnayna pengendaliuan yang ada yang berfungsi oleh program.  Tidak terdapat pemeriksaan dokumentasi se4cara aktual diproses oleh sistem  Operator komputer mengetahui bahwa data pengujian sedang dijalankan, sehingga dapat mengurangi validitas output.  Lingkup pengujian terbatas pada imajinasi ouditor dan pengetahuan tentang pengendalian dalam aplikasi. Fasilitas Pengujian Terintegrasi Pendekatan fasilitas pengujian terintegrasi (integrated test facility/ITF approuch) membutuhkan pembentukan suatu sub sistem yang kecil (suatu perusahaan mini) dalam sistemteknologi reguler. Hal ini dapat dengan menciptakan file master buatan atau catatan arsip buatan ke dalam arsip klien yang ada.
  47. 47. Menilai Pengendalian Teknologi Informasi 1. Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur untuk memperoleh suatu pemahaman 2. Mengidentifikasi salah saji professional 3. Mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan Keberadaan Bukti Lain Auditor seharusnya mempertimbangkan keberadaan bukti lain dari pengujian pengendalian(existance of other evdence from test of controls). Keputusan Pemilihan Staff Suatu keputusan akhir audit melibatkan pemilihan staf untuk pengujian pengendalian (staffing for test of controls), atau siapa yang seharusanya melaksanakan pengujian pengendalian. Pertimbangan Tambahan Auditor secara khusus pertama kali menilai resiko pengendalian untuk asersi yang berkenaan dengan kelas transaksi seperti penerimaan kas dan pengeluaran kas. Penilaian tersebut kemudian digunakan untuk menilai resiko pengendalian asersi saldo akun yang signifikan sehingga kesesuaian dari tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk saldo akun dapat ditentukan, dan pengujian substantif khusus dapat dirancang. Proses ini dipertimbangkan selanjutnya, pertama untuk akun-akun yang dipengaruhi oleh suatu kelas transaksi tunggal dan kemudian untuk akun-akun yang dipengaruhi oleh kelas transaksi berganda. SAMPLE AUDIT Sampling audit adalah penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.1 Seksi ini memberikan panduan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel audit. Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit: nonstatistik dan statistik. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan. Panduan dalam Seksi ini berlaku baik untuk sampling audit secara statistik maupun nonstatistik
  48. 48. KETIDAKPASTIAN DAN SAMPLING AUDIT Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep “sebagai dasar memadai untuk suatu pendapat” yang diacu dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Dasar untuk menerima beberapa ketidakpastian timbul dari hubungan antara faktor-faktor seperti biaya dan waktu yang diperlukan untuk memeriksa semua data dan konsekuensi negatif dari kemungkinan keputusan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang dihasilkan dari audit terhadap data sampel saja. Risiko Sampling Auditor harus menerapkan pertimbangan profesional dalam menentukan risiko sampling. Dalam menyelenggarakan pengujian substantif atas rincian, auditor memperhatikan dua aspek daririsiko sampling: Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance), yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan basil sampel, bahwa saldo akun tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji secara material. Risiko keliru menolak ( risk of incorrect reject ion) , yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji secara material. Sampling Dalam Pengujian Substantif Rinci Perencanaan Sampel Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan. Untuk panduan umum perencanaan, lihat SA Seksi 311 [PSA No. 05] Perencanaan dan Supervisi. Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substantif rinci, auditor harus mempertimbangkan: - Hubungan antara sampel dan tujuan audit yang relevan. Lihat SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti Audit. Sampling Audit - Pertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas. - Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima (allowable risk of incorrect acceptance). - Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi perhatian.
  49. 49. SAMPLING DALAM PENGUJIAN PENGENDALIAN Perencanaan Sampel Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendalian, auditor harus mempertimbangkan: a. Hubungan antara sampel dengan tujuan pengujian pengendalian. b. Tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang ditetapkan yang akan mendukung tingkat risiko pengendalian yang direncanakan. c. Tingkat risiko yang dapat diterima auditor atas penentuan risiko pengendalian yang terlalu rendah. d. Karakteristik populasi, yaitu, unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi fokus perhatian. Pemilihan Sampel Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampel yang terpilih diharapkan dapat mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Pemilihan secara acak merupakan salah satu cara pemilihan sampel tersebut. Ada tiga metode pemilihan sampel yang umum digunakan: (1) pemilihan acak (random selection), yaitu setiap unsur dalam populasi atau dalam setiap strata memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, (2) pemilihan sistematik (systematic selection), yaitu pemilihan unsur dengan menggunakan interval konstan di antara yang dipilih, yang interval permulaannya dimulai secara acak, (3) pemilihan sembarang (haphazard selec-tion), yang merupakan alternatif pemilihan acak, dengan syarat auditor mencoba mengambil sampel yang mewakili dari keseluruhan populasi tanpa maksud untuk memasukkan atau tidak memasukkan unit tertentu ke dalam sampel yang dipilih. Idealnya, auditor harus menggunakan metode pemilihan yang memiliki kemampuan untuk memilih unsur dari seluruh periode yang diaudit. SA Seksi 319 [PSA No. 23] Pertimbangan Pengendalian Intern dalam Audit Laporan Keuangan paragraf 73 memberikan panduan yang dapat diterapkan dalam penggunaan sampling oleh auditor selama periode interim dan periode sisanya. Kinerja dan Penilaian Prosedur audit memadai untuk mencapai tujuan pengujian pengendalian harus dilaksanakan terhadap setiap unsur sampel. Jika auditor tidak dapat menerapkan prosedur audit yang direncanakan atau prosedur alternatif memadai terhadap unsur sampel yang terpilih, ia harus mempertimbangkan penyePERTEMUAN keterbatasan tersebut , dan ia biasanya harus mempertimbangkan unsur yang terpilih tersebut sebagai penyimpangan dari prosedur atau kebijakan yang telah ditetapkan untuk tujuan penilaian sampel.
  50. 50. SOAL LATIHAN PERTEMUAN V
  51. 51. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 6 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 6 Mahasiswa dapat mengenali bentuk, isi, fungsi, dan kegunaan kertas kerja audit, serta memahami mekanisme pengerjaan kertas kerja audit Kertas kerja pemeriksaan ( Audit Working Paper)  Pengertian kertas kerja audit  Tujuan kertas kerja audit  Current file dan permanent  Criteria pembuatn kertas kerja audit  Pemilikan dan penyimpanan kertas kerja audit  Working balance sheet & working profit and loss  Top schedule and supporting schedule 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 6 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  52. 52. PERTEMUAN VI KERTAS KERJA AUDIT KERTAS KERJA AUDIT (WORKING PAPER) Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang diperoleh akuntan selama melakukan pemeriksaan dan dikumpulkan untuk memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakan, metode dan prosedur pemeriksaan yang diikuti serta kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuatnya. Contoh kertas kerja antara lain :Catatan memo ; Hasil analisa jawaban konfirmasi, Clients Representation Letter ; Komentar yang dibuat atau didapat oleh akuntan pemeriksa ; Tembusan (copy) dari dokumen penting dari suatu daftar baik yang diperoleh ataupun yang didapat dari klien dan diverifikasi oleh akuntan. Dengan kata lain kertas kerja audit dapat berasal dari pihak klien, hasil analisis yang dibuat auditor atau dari pihak ketiga yang independen baik secara langsung maupun tidak langsung. Berkas kertas kerja yang berasal dari klien dapat berupa :Neraca Saldo (Trial balance), Rekonsiliasi bank (Bank reconciliation), Analisa Umur Piutang (Accounts Receivable Aging Schedule), Rincian Persediaan (Final Inventory List), Rincian Utang, Rincian Biaya Umum dan Administrasi, Rincian Biaya Penjualan, Surat Pernyataan Langganan. Hasil analisis yang dibuat oleh auditor , misalnya : Berita Acara Kas Opname (Cash Count Sheet), Internal Control Questionare dan evaluasi serta hasil analisis pengendalian interen. Analisis Aktiva Tetap, Analisis kecukupan allowance for bad debt (penyisihan piutang/cadangan kerugian piutang), Working Trial Balance , atau dapat dipecah menjadi dua yaitu Working Balance sheet dan Working Profit and Loss, Top Schedule, Supporting Schedule, Konsep Laporan Audit . Berkas yang diperoleh dari pihak ketiga yang independen meliputi antara lain : Hasil konfirmasi piutang, Hasil konfirmasi utang, Informasi dari bank, Pernyataan dari penasihat hukum. Kertas kerja yang dikumpulkan oleh akuntan merupakan data-data rahasia yang menjadi milik perusahaan, oleh karenanya akuntan berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan tersebut jangan sampai data tersebut jatuh pada pihak-pihak yang tidak diinginkan perusahaan.
  53. 53. Isi Kertas Kerja Audit Kertas kerja harus cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok dengan laporan keuangan atau informasi lain yang dilaporkan serta standar auditing yang dapat diterapkan telah dilaksanakan. Dalam SA 339 dikemukakan bahwa kertas kerja biasanya berisi dokumentasi yang memperlihatkan : o Pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik, yang menunjukkan dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan yang pertama. o Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern telah diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang telah dilakukan. o Bukti audit telah diperoleh, prosedur pemeriksaan yang telah diterapkan dan pengujian yang telah dilaksanakan, yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, yang menunjukkan dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan yang ketiga. Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit • Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pengauditan • Sebagai pendukung yang penting terhadap pendapat akuntan atas laporan keuangan yang diauditnya • Sebagai penguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya. • Sebagai Pedoman dalam pengauditan berikutnya. Teknik Dasar Pembuatan Kertas Kerja Audit Ada empat tehnik dasar yang digunakan dalam pembuatan kertas kerja. Keempat tehnik tersebut adalah : · Pembuatan heading. · Nomor indeks · Tick marks · Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan tanggal pembuatan serta penelaahan.
  54. 54. Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja audit : a) Kertas Kerja kerja harus dibuat lengkap. b) Teliti. c) Ringkas. d) Jelas. e) Rapi. Tipe Kertas Kerja : • Audit program Agar tak menimbulkan kerancuan istilah maka perlu dipisahkan pengertian Audit program dan Audit Procedure. Audit program (program pemeriksaan) merupakan daftar prosedur pengauditan untuk seluruh pemeriksaan elemen tertentu. Sedangkan Procedure audit adalah instruksi terinci untuk mengumpulkan tipe bukti pemeriksaan tertentu yang harus diperoleh pada saat pemeriksaan. Program pemeriksaan dapat digunakan untuk merencanakan berapa orang yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan, serta jadwal pemeriksaan yang direncanakan. • Working Trial Balance Merupakan suatu daftar yang memuat saldo dari seluruh rekening buku besar pada akhir tahun yang diperiksa dari akhir tahun sebelumnya, koreksi yang diusulkan serta saldo menurut hasil pemeriksaan. Kertas kerja ini dapat pula dipisahkan menjadi Working Balance Sheet dan Working Profit and Loss. • Summary of adjusment journal entries Ringkasan ini merupakan daftar yang berisikan journal-journal koreksi yang diusulkan kepada klien yang diperoleh selama pemeriksaan berlangsung. • Top Schedules Merupakan kertas kerja pemeriksaan yang digunakan untuk meringkas informasi yang dicatat dalam daftar pendukung untuk rekening-rekening yang berhubungan. • Supporting schedules Merupakan kertas kerja yang memuat detail dari pada temuan hasil pemeriksaan, serta koreksi-koreksi yang ada, serta memuat berbagai informasi dan teknik pemeriksaan yang dilaksanakana oleh akuntan. Dengan kata lain supporting schedule merupakan rincian dari pada top schedule.
  55. 55. TAHAP PENYUSUNAN AUDITED FINANCIAL STATEMENTS. a. Pembuatan atau pengumpulan daftar pendukung (supporting schedules) sebagai langkah pengumpulan bukti pemeriksaan. b. Penyusunan daftar utama (lead schedules atau top schedules) dengan cara meringkas supporting schedules dan summary of adjustment journals entris. c. Meringkas informasi yang tercantum dalam daftar utama dan daftar pendukung ke dalam Working Trial Balance. d. Menyusun Audited Financial Statements. SUSUNAN KERTAS KERJA AUDIT.  Draft laporan pemeriksaan ( audit report ).  Audited financial statements.  Ringkasan informasi bagi penelaah.  Program pemeriksaan.  Laporan keuangan atau neraca lajur yang dibuat klien.  Ringkasan journal adjustment.  Working trial balance.  Top schedule.  Supporting schedule. PENGARSIPAN KERTAS KERJA AUDIT. Current File, yaitu arsip pemeriksaan tahunan yang diperoleh dari pemeriksaan tahun berjalan, informasi dari current file pada umumnya mempunyai manfaat untuk tahun yang diperiksa.Contoh : Neraca saldo, Berita acara kas opname, Rekonsiliasi bank, Rincian piutang, Rincian persediaan Rincian utang, Rincian biaya dan lain lain. Permanent File, merupakan arsip kertas kerja yang secara relatif tidak mengalami perubahan. Arsip ini dapat digunakan berulang ulang untuk beberapa periode pengauditan. Contoh : Akte pendirian,Accounting manual (pedoman akuntansi), Kontrak kontrak,Notulen rapat
  56. 56. Tujuan dari permanent file : • Sebagai acuan yang digunakan untuk pemeriksaan tahun-tahun mendatang. • Memberikan ringkasan mengenai kebijakan dan organisasi klien bagi staff yang baru pertamakali menangani pemeriksaan laporan keuangan. • Untuk menghindari pengulangan pembuatan kertas kerja yang sama dari tahun ke tahun. Corespondence file, merupakan arsi surat menyurat, facsimili dan lain lain. KEPEMILIKAN KERTAS KERJA AUDIT. Kertas kerja audit akuntan yang disusun selama pelaksanaan audit, baik yang disusun oleh auditor sendiri maupun yang disusunkan oleh klien untuk auditor, adalah milik auditor (akuntan publik) ; oleh karena itu semua kertas kerja tersebut harus disimpan oleh auditor dengan sebaik-baiknya, dalam arti disimpan secara teratur sesuai dengan urutan yang logis. Walaupun kertas kerja tersebut milik auditor, tetapi auditor dilarang memperlihatkan atau membocorkan informasi yang ada pada kertas kerja tersebut kepada pihak ketiga tanpa seizin kliennya, kecuali atas perintah pengadilan atau profesi akuntan. Selama melaksanakan audit, auditor memperoleh sejumlah informasi yang sifatnya rahasia antara lain berupa informasi tentang gaji karyawan penting (key personels), rencana advertensi, data biaya produksi dan metode penentuan harga jual produk. Jika auditor membocorkan informasi-informasi pada pihak ketiga atau kepada karyawan kliennya, maka auditor tersebut dapat dimintai pertanggung jawabannya atau dituntut ke pengadilan. Test Of Control Test of control atau dalam bahasa indonesia disebut sebagai uji pengendalian adalah prosedur audit yang umum dilakukan untuk mengetahui apakah sistem pengendalian yang dilakukan oleh organisasi sudah berjalan efektif. Pengujian pengendalian atau test of control dilakukan untuk memperoleh bukti audit tentang efektivitas rancangan dan operasi kebijakan atau prosedur struktur pengendalian internal. Sebagai contoh, prosedur pengendalian internal komputer menggunakan jumlah berkas [total batch] untuk memastikan bahwa semua berkas transaksi telah dicatat. Apabila jumlah nilai uang yang diproses dalam berkas tersebut tidak cocok, maka transaksi jumlah berkas tersebut tidak akan
  57. 57. diproses dan sebagai gantinya dicetak suatu laporan pengecualian atau exception report. Auditor dapat menguji efektivitas pengendalian dengan cara memasukan data uji yang mengandung kesalahan pada total batch dan mengamati apa yang terjadi dengan data uji tersebut. Pengujian pengendalian juga meliputi permintaan keterangan kepada para pekerja mengenai apa yang mereka ketahui tentang efektivitas dari pengendalian tersebut da memeriksa laporan pengecualian yang telah dihasilkan oleh pengendalian internal klien. Kinerja pengujian pengendalian tidak diharuskan dalam audit laporan keuangan. Namun, hal itu dilaksanakan dalam banyak audit dengan populasi yang besar karena efektivitas biaya. Pengujian Substantif Pengujian substantif terdiri dari: 1. Prosedur analitis 2. Pengujian terinci atas transaksi 3. Pengujian terinci atas saldo Pengujian substantif memberikan bukti tentang kelayakan asersi laporan keuangan klien. Prosedur analitis meliputi penggunaan perbandingan untuk menilai kewajaran, misalnya membandingkan saldo suatu akun dengan data nonkeuangan yang terkait dengan saldo akun tersebut. Pengujian terinci atas transaksi meliputi pemeriksaan dokumen pendukung dari setiap satuan transaksi yang dibukukan pada sebuah akun tertentu, misalnya melakukan pemeriksaan dokumen pendukung [vouching] untuk sisi debet akun piutang usaha terdapat ayat jurnal pada jurnal penjualan serta faktur pendukung penjualan. Selain itu dilakukan juga penelusuran rinci dari dokumen asli atau dokumen sumber terhadap buku jurnal serta buku besar yang terkait dengan transaksi tersebut yang dapat digolongkan juga sebagai pengujian terenci atas transaksi. Sedangkan pengujian terinci atas saldo meliputi pemeriksaan dokumen pendukung untuk saldo akhir secara langsung, misalnya melakukan konfirmasi langsung kepada salah seorang pelanggan tentang saldo piutang uasaha. Ketiga jenis pengujian substantif tersebut merupakan hal yang komplementer. Pengujian mana yang akan digunakan untuk suatu akun tertentu dapat bervariasi berdasarkan faktor-faktor seperti efektivitas relatif untuk akun dan biaya.
  58. 58. Test Of Transaction Test of transactions atau dalam bahasa indonesia disebut test atas transaksi merupakan bagian dari prosedur audit yang bertujuan untuk menguji pengendalian internal sebuah organisasi. Auditor menggunakan test terhadap transaksi untuk mengevaluasi apakah kesalahan atau proses yang tidak biasa terjadi pada transaksi yang mengakibatkan kesalahan pencatatan material pada laporan keuangan. Perbedaan test ini dengan test sebelumnya (test of control) adalah dalam test sebelumnya pengujian yang dilakukan tanpa memandang nilai moneter, namun dalam test of transactions nilai moneter menjadi salah satu objek yang akan di uji. Tes ini dilaksanakan dengan menelusuri jurnal transaksi dari sumber dokumen, memeriksa file, dan mengecek keakuratan. Hal ini perlu dilakukan karna sangat berpengaruh pada opini auditor yang akan diberikan mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan. Umumnya Auditor akan mengambil sampel transaksi yang akan di uji dan melihat seberapa besar tingkat kesalahan yang dihasilkan, berdasarkan tingkat kesalahan tersebut auditor dapat menentukan apakah mereka dapat mengandalkan informasi yang tersedia baik di buku besar maupun jurnal pencatatan transaksi. Berdasarkan hasil tersebut pula maka auditor dapat menentukan ruang lingkup pekerjaan audit.
  59. 59. LATIHAN SOAL PERTEMUAN VI
  60. 60. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 7 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 7 Mahasiswa dapat memahami bagaimana cara melakukan perencanaan audit, membuat audit program, melaksanakan audit prosedur, dan konsep materialitas serta risiko audit Audit plan, program audit, audit procedures and Audit Technique, Audit risk and matreiality Audit plan Audit program Audit Prosedur dan teknik Audit Risiko audit dan materialitas 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 7 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  61. 61. PERTEMUAN VII AUDIT PROGRAM Personel yang mengelola program audit hendaknya mengimplementasikan program audit dengan cara sebagai berikut: 1. Menginformasikan bagian yang terkait dalam program audit kepada pihak yang relevan dan menginformasikan perkembangannya secara berkala 2. Mendefinisikan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria dari setiap audit individual 3. Mengkoordinasikan dan menjadwalkan audit serta aktivitas lain yang terkait dengan program audit 4. Memastikan seleksi tim audit dilakukan berdasarkan kompetensi yang sesuai 5. Menyediakan sumber daya yang sesuai pada tim audit 6. Memastikan pelaksanaan audit dilakukan sesuai dengan program audit dan dalam rentang waktu yang disetujui 7. Memastikan aktivitas audit terdokumentasi dan dikelola serta dipelihara dengan baik Mendefinisikan Tujuan, Ruang Lingkup, dan Kriteria Setiap Audit Individual Setiap audit individual hendaknya didasarkan pada tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit yang terdokumentasi. Hal ini hendaknya ditetapkan oleh personel yang mengelola program audit dan konsisten dengan tujuan program audit secara umum. Tujuan audit merupakan hal yang harus dijawab secara tuntas oleh audit individual dan dapat mencakup: 1. Penentuan ruang lingkup kesesuaian pada sistem manajemen yang diaudit, atau bagian dari itu, dengan kriteria audit 2. Penentuan ruang lingkup kesesuaian aktivitas, proses, dan produk dengan persyaratan serta prosedur dari sistem manajemen 3. Evaluasi kapabilitas sistem manajemen untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan legal dan kontrak serta persyaratan lain yang dianut oleh organisasi
  62. 62. 4. Evaluasi efektivitas sistem manajemen terhadap tujuan yang spesifik 5. Identifikasi area perbaikan potensial pada sistem manajemen Ruang lingkup audit hendaknya konsisten dengan program audit dan tujuan audit. Hal ini mencakup faktor seperti lokasi fisik, unit organisasi, aktivitas dan proses yang diaudit, sejalan dengan periode waktu yang tercakup oleh audit. Kriteria audit digunakan sebagai referensi guna menetapkan kesesuaian dan dapat mencakup kebijakan, prosedur, standar, persyaratan legal, persyaratan sistem manajemen, persyaratan kontrak, kode etik tertentu atau pengaturan perencanaan lain yang sesuai. Dalam kejadian setiap perubahan pada tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit, program audit hendaknya dimodifikasi jika perlu. Jika dua atau lebih sistem manajemen dari disiplin yang berbeda diaudit bersama dalam audit kombinasi, sangat penting untuk memastikan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit konsisten dengan tujuan dari program audit yang relevan. Pemilihan Metode Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menyeleksi dan menetapkan metode yang efektif untuk pelaksanaan audit, disesuaikan dengan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria yang ditetapkan. Jika dua atau lebih organisasi audit melakukan audit bersama pada auditee yang sama, personel yang mengelola program audit yang berbeda hendaknya setuju pada metode audit dan mempertimbangkan implikasi untuk sumber daya dan perencanaan audit. Jika auditee menggunakan dua atau lebih sistem manajemen pada disipilin yang berbeda, audit kombinasi perlu dimasukkan ke dalam program audit. Pemilihan Anggota Tim Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menunjuk anggota tim audit, mencakup ketua tim dan tenaga ahli yang dibutuhkan untuk audit yang spesifik. Tim audit hendaknya diseleksi, sesuai kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit individual dalam ruang lingkup yang ditetapkan. Jika hanya terdapat 1 orang auditor, ia hendaknya tampil dalam kapasitas sebagai ketua tim.
  63. 63. Dalam memutuskan ukuran dan komposisi tim audit untuk audit yang speisifik, pertimbangan hendaknya diberikan pada hal-hal berikut: 1. Kompetensi umum tim audit yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit dengan memperhitungkan ruang lingkup dan kriteria audit 2. Kompleksitas audit dan jika audit dilakukan secara kombinasi atau bersama-sama 3. Metode audit yang digunakan 4. Persyaratan kontrak dan legal serta lainnya yang dianut oleh organisasi 5. Keperluan untuk memastikan independensi anggota tim audit dari aktivitas yang diaudit dan untuk menghindari konflik atau kepentingan tertentu 6. Kemampuan anggota tim audit untuk berinteraksi secara efektif dengan perwakilan auditee dan untuk bekerja bersama 7. Bahasa yang digunakan saat audit, serta karakteristik sosial dan budaya auditee. Isu ini terkait dengan kemampuan auditor sendiri, atau melalui dukungan tenaga ahli. Untuk memastikan kompetensi umum tim audit, tahapan yang harus dilakukan adalah: 1. Identifikasi pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit 2. Seleksi tim audit sesuai pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan tersebut Jika, semua kompetensi yang dibutuhkan tidak dimiliki oleh auditor di dalam tim audit, tenaga ahli dengan kompetensi tambahan hendaknya diikutsertakan di dalam tim. Tenaga ahli hendaknya bertugas di bawah arahan dari auditor namun tidak bertindak sebagai auditor. Auditor dalam pelatihan dapat diikutsertakan di dalam tim audit, namun partisipasinya dibawah arahan dari auditor. Penyesuaian ukuran dan komposisi tim audit perlu dilakukan selama audit, sebagai contoh jika konflik kepentingan atau isu kompetensi terjadi. Jika situasi tersebut terjadi, hendaknya didiskusikan dengan pihak yang terkait (ketua tim audit, personel yang mengelola program audit, klien audit, atau auditee) sebelum segala penyesuaian dibuat. (Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)
  64. 64. Peran dan Tanggung Jawab Personel yang Mengelola Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya: 1. Menetapkan ruang lingkup program audit 2. Mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko terhadap program audit 3. Menetapkan tanggung jawab audit 4. Menetapkan prosedur untuk program audit 5. Menentukan sumber daya yang dibutuhkan 6. Memastikan implementasi dari program audit, mencakup pelaksanaan tujuan audit, ruang lingkup, dan kriteria dari audit individual, menetapkan metode audit, dan menyeleksi tim audit serta melakukan evaluasi auditor 7. Memastikan catatan program audit yang ada dikelola dan dipelihara 8. Memonitor, meninjau kembali, dan melakukan perbaikan pada program audit Personil yang mengelola program audit hendaknya menginformasikan kepada manajemen puncak perihal muatan program audit, dan jika perlu meminta persetujuan Kompetensi Personel yang Mengelola Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya memiliki kompetensi yang diperlukan untuk mengelola program audit dan resiko yang berhubungan secara efektif dan efisien, sesuai pengetahuan dan kemampuan pada aspek berikut: 1. Prinsip, prosedur, dan metode audit 2. Standar sistem manajemen dan dokumen yang menjadi referensi 3. Aktivitas, produk, dan proses yang dilakukan auditee 4. Persyaratan legal atau lainnya yang relevan dengan aktivitas dan produk auditee 5. Pelanggan, pemasok, dan pihak lain yang terkait dengan auditee, jika dimungkinkan Personel yang mengelola program audit hendaknya melakukan aktivitas pengembangan profesional yang berkesinambungan untuk mempertahankan pengetahuan dan kekmampuan yang diperlukan guna mengelola program audit. Ruang Lingkup Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menetapkan ruang lingkup program audit, yang bisa sangat tergantng pada ukuran dan kebiasaan dari auditee, sesuai dengan keadaan, fungsi, kompleksitas, dan tingkat kematangan, serta hal-hal yang yang berdampak signifikan pada sistem manajemen yang diaudit. Pada kasus tertentu, tergantung pada struktur auditee dan aktivitas yang terjadi, program audit dapat saja hanya memuat audit tunggal.
  65. 65. Faktor lain yang memberi pengaruh pada ruang lingkup program audit mencakup hal-hal berikut: 1. Tujuan, cakupan, dan durasi setiap audit dan jumlah audit yang akan dilaksanakan, mencakup juga tindak lanjut audit, jika memungkinkan. 2. Jumlah, kepentingan, kompleksitas, kesesuaian, dan lokasi aktivitas yang diaudit 3. Faktor-faktor yang memberikan pengaruh pada efektivitas sistem manajemen 4. Kriteria audit yang sesuai, seperti pengaturan terencana terhadap standar sistem manajemen yang sesuai, peraturan hukum, dan persyaratan kontrak, serta persyaratan lain yang dianut oleh organisasi 5. Kesimpulan dari audit sebelumnya, internal dan eksternal 6. Hasil dari review program audit sebelumnya 7. Bahasa, budaya, dan isu sosial lainnya 8. Hal-hal yang menjadi perhatian pihak luar, seperti keluhan pelanggan atau ketidaksesuaian dengan persyaratan legal 9. Perubahan signifikan pada auditee dan operasionalnya 10.Ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung aktivitas audit, umumnya pada metode audit di tempat terpencil 11.Kejadian internal dan eksternal, seperti produk gagal, kegagalan keamanan informasi, insiden kesehatan dan keselamatan, tindak kriminal atau insiden lingkungan Identifikasi dan Evaluasi Resiko Program Audit Terdapat banyak resiko berbeda yang berhubungan dengan penetapan, implenetasi, pemantauan, peninjauan dan perbaikan program audit yang bisa memberikan dampak pada tujuan. Personel yang mengelola program audit hendaknya mempertimbangkan resiko tersebut. Beberapa resiko yang relevan adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan, contoh: kegagalan menetapkan tujuan audit yang relevan dan menetapkan ruang lingkup program audit 2. Sumber Daya, contoh: tidak cukup waktu yang memungkinkan untuk mengembagkan program audit atau melaksanakan audit 3. Seleksi Tim Audit, contoh: tim tidak memiliki kompetensi kolektif untuk melaksanakan audit secara efektif 4. Implementasi, contoh: komunikasi program audit yang tidak efektif 5. Catatan dan Pengendaliannya, contoh: kegagalan untuk melindungi catatan audit secara baik 6. Pemantauan, Peninjauan, dan Perbaikan Program Audit, contoh: pemantauan yang tidak efektif dari keluaran program audit
  1. A particular slide catching your eye?

    Clipping is a handy way to collect important slides you want to go back to later.

×