Your SlideShare is downloading. ×
Modul audit jadi
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×

Saving this for later?

Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime - even offline.

Text the download link to your phone

Standard text messaging rates apply

Modul audit jadi

21,191
views

Published on


0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total Views
21,191
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
493
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : …………………………………...............…………............................. KREDIT : 2 SKS SEMESTER : 3 GANJIL PENANGGUNG JAWAB MATA KULIAH : PEMBUAT (REVISI) : Budi Lesmana, S.E.,M.M DESKRIPSI SINGKAT : Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dasar mengenai pengauditan serta aplikasinya terhadap dunia kerja. Pembahasan mata kuliah ini meliputi : Auditing, Standar Profesional Akuntan Publik (PSAP), Indonesian Institute of Auditing (IIA) dan Kode Etik Akuntan Indonesia,Tujuan Audit dan Laporan Audit, Laporan Audit, Pengendalian Internal, Bukti Audit, Resiko Audit, Rencana Pemeriksaan, Pemeriksaan Kas dan Setara Kas, Piutang, Surat Berharga, Penghitungan Aktiva tetap, berwujud & tidak berwujud, persediaan barang Dagangan, program Pemeriksaan, Prosedur Audit, Pemeriksaan dengan elektronik, kertas kerja pemeriksaan
  • 2. TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM (TPU) : Mata Kuliah ini membahas bagaimana melakukan proses pemeriksaan yang meliputi tahapan perencanaan, proses pemeriksaan sampai membuat laporan hasil pemeriksaan dengan membuat satu pernyataan atas hasil pemeriksaan. MATERI :  Auditing, Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan Kode Etik Akuntan Indonesia  Tujuan Audit dan Laporan Audit  Pengendalian Intern  Bukti Audit dan Tes Transaksi  Kertas Kerja Pemeriksaan  Rencana pemeriksaan, Program Pemeriksaan dan Prosedure Pemeriksaan
  • 3. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 1 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 1 Mahasiswa dapat menjelaskan pengertian auditing, profesi- profesi dalam auditing Pengertian auditing dan profesi dalam dunia auditing 1) Pengertian Auditing 2) Perbedaan auditing dan akuntansi 3) Perlunya dilakukan audit 4) Jenis-jenis audit 5) Profesi akuntan di Indonesia dan di Negara lain. 6) Peer Review Ceramah Data Primer dan sekunder 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 1 Alvin A Arrens PERTEMUAN1 BUKU REFERENSI : 1) Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2) Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3) Standar pemeriksaan Akuntan Publik
  • 4. PERTEMUAN I PENGERTIAN AUDITING Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi untuk menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi yang dimaksud dengan kriteria - kriteria yang telah ditetapkan yang dilakukan oleh seorang yang kompeten dan independen .(disimpulkan dari beberapa sumber yang penulis baca) Beberapa keyword dari definisi tersebut di atas dapat diuraikan sebagai berikut:  Entitas Ekonomi, adalah satuan usaha yang legal seperti PT,CV, Fa, lembaga pemerintah, atau perusahaan perorangan .  Pengumpulan dan pengevaluasian bukti .  Bukti-bukti merupakan segala sesuatu yang merupakan informasi yang digunakan auditor seperti pernyataan lisan dari auditee , komunikasi tertulis dan pengamatan .  Orang yang kompeten dan independen maksudnya adalah orang yang mempunyai kemampuan dan sikap mental yang independen .  Pelaporan sebagai alat penyampaian temuan-temuan kepada auditee . Oleh sePERTEMUAN itu Auditing merupakan salah satu bentuk atestasi. Atestasi, pengertian umumnya, merupakan suatu komunikasi dari seorang expert mengenai kesimpulan tentang reabilitas dari pernyataan seseorang. Dalam pengertian lebih sempit atestasi merupakan “komunikasi tertulis yang menjelaskan suatu kesimpulan mengenai reabilitas dari asersi tertulis yang merupakan tanggung jawabdari pihak lainnya”. Seorang akuntan public dalam kapasitasnya sebagai seorang auditor memberikan atestasi mengenai kewajaran dari laporan keuangan sebuah entitas. Akuntansi berfungsi menyajikan informasi kuantitatif untuk pengambilan keputusan . Sementara dalam auditing, aturan-aturan akuntansi menjadi kriteria untuk membandingkan kesesuaian informasi. Dengan demikian, akuntansi dan auditing berbeda dalam esensinya. Sehingga akhir-akhir ini akuntan publik mulai melakukan jenis jasa assurance lainnya. Committee Assurance Service dari AICPA mendefinisikan assurance services sebagai berikut : “Jasa seorang professional yang independen yang meningkatkan kualitas informasi untuk para pengambil keputusan” yang
  • 5. ternyata assurance services memiliki ruang lingkup yang lebih luas disbanding auditing atau atestasi. Gambar 1.1 Hubungan antara Assurance, Attestation dan Auditing Ada beberapa hal yang penting perlu diperhatikan lebih lanjut, yaitu ; Pertama ; yang diperiksa adalah laporang keuangan yang telah disusun oleh pihak manajemen beserta catatan-catatan dari pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya. Laporan keuangan yang harus diperiksa terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Laporan Arus Kas. Catatan-catatan pembukuan terdiri dari buku harian (buku kas/Bank, buku penjualan/pembelian, Buku serba-serbi) buku besar, sub buku besar (piutang, utang, kartu persediaan, aktiva tetap). Kedua ; Pemeriksaan dilakukan secara kritis dan sistematis, dalam melakukan pemeriksaannya, akuntan public berpedoman pada Standar Profesional Akuntan Publik, mentaati kode etik IAI dan aturan etika IAI serta memenuhi Standar Pengendalian Mutu Ketiga ; Pemeriksaan dilakukan oleh pihak yang independent yaitu akuntan public yang tidak memiliki hubungan, kepentingan tertentu dengan dewan direksi baik itu sebagai pemegang saham ataupun hubungan relasi lainnya, auditor harus bersifat objective tidak memihak kepada siapapun dan melaporkan apa adanya. Keempat ; tujuan dari pemeriksaan akuntan adalah untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan yang diperiksa. Assurance Services Attestation Auditing
  • 6. Laporan keuangan yang wajar adalah yang disusun berdasarkan prinsip akuntansi yang berlaku umum (di Indonesia : Prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang dikodefikasi dalam Standar Akuntansi Keuangan) Auditing dan Asersi Manajemen Asersi adalah representasi manajemen mengenai kewajaran laporan keuangan Auditing Standards Board (ASB), suatu badan yang dibentuk AICPA untuk memformulasikan standar auditing dan interpretasinya, mengklasifikasinya asersi laporan keuangan sebagai berikut ; 1. Existence atau Occurance adalah standard yang dibuat untuk meyakinkan keberadaan dari semua harta, utang dan ekuitas yg tercantum dalam neraca betul-betul ada dan apakah semua transaksi yang terangkum dalam laba rugi betul-betul terjadi. 2. Completeness ; apakah ada harta, utang dan ekuitas yang dihilangkan dari laporan keuanga 3. Right and Obligations adalah hak dan pengakuan dari harta yang tercantum dalam neraca adalah milik perusahaan ?, apakah kewajiban perusahaan merupakan kewajiban perusahaan pertanggal neraca ? 4. Valuation atau allocation adalah standar penilaian atas harta, utang dan ekuitas berdasarkan nilai yang tepat dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku. 5. Presentation and disclosure, berkaitan dengan pengujian dari laporan keuangan yang disajikan apakah sudah tereflesikan kondisi keuangan yang sesungguhnya. Perbedaan Auditing dan Akuntansi Akuntansi dalam pengerjaannya mempunyai sifat konstruktif karena disusun mulai dari bukti-bukti pembukuan, buku harian, buku besar dan sub buku besar, neraca saldo sampai pada laporan keuangan. Auditing mempunyai sifat analitis, karena akuntan public memulai pemeriksaannya dari angka-angka dalam laporan keuangan lalu dicocokan dengan neraca saldo (trial balance), buku besar (General Ledger), buku harian dan buku khusus sampai pada bukti-bukti transaksi
  • 7. Gambar 1.2 Perbedaan Auditing dan Accounting Jenis Audit  Audit Atas Laporan Keuangan/Financial Audit adalah audit yang bertujuan untuk menentukan kesesuaian informasi terukur yang akan diverifikasi dengan kriteria tertentu sepeti GAAP atau Standar Akuntansi yang berlaku umum ( PSAK).  Audit Operasional adalah penelaahan bagian dari prosedur atau metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan efektifitasnya Hasilnya berupa rekomendasi perbaikan operasi.  Audit Ketaatan adalah audit atas ketaatan auditee terhadap prosedur atau aturan tertentu yang telah ditetapkan baik aturan yang ditetapkan perusahaan maupun aturan yang ditetapkan oleh atau dengan pihak luar seperti pemerintah , bank , kreditor atau pihak lainnya. Audit atas laporan keuangan pada hakekatnya adalah audit ketaatan terhadap prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Jenis Auditor  Kantor Akuntan Publik Terdaftar, yaitu auditor yang mempunyai tanggung jawab atas kinerja audit laporan keuangan bagi semua perusahaan publik, perusahaan-perusahaan besar dan beberapa perusahaan kecil dan organisasi nirlaba.  Auditor Pemerintah, yaitu auditor yang mempunyai tanggung jawab mengevaluasi efisiensi, efektifitas, dan keekonomisan dari program/proyek pemerintah. Di Indonesia ada beberapa lembaga yaitu BPKP, BEPEKA, serta Itjen pada departemen-departemen pemerintah . Transaksi yg mempunyai nilai uang Bukti Pembukuan Special Journal General Journal Trial Balance Worksheet Financial Report Sub- Ledger Ledger Accounting Auditing
  • 8.  Auditor Pajak, yaitu auditor yang bertanggung jawab melaksanakan pemeriksaan atas tercapainya penerimaan negara dari sektor perpajakan dan penegakan hukum dalam pelaksanaan perpajakan. Di Amerika ada Internal Revenue Service ( IRS ), sementara di Indonesia dilaksanakan oleh KPP dan Karikpa sebagai tenaga teknis pemeriksaan pajak dari Direktorat Jenderal Pajak ( DJP ).  Internal Auditor, yaitu auditor yang bekerja di suatu perusahaan untuk melaksanakan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan. Sebagai contoh di BUMN-BUMN di Indonesia ada unit SPI yang menangani hal tersebut. Kebutuhan akan Auditing Jasa auditing yang digunakan di kalangan pengusaha, pemerintah, dan lain- lain pada hakikatnya adalah untuk mengurangi risiko informasi antara dua pihak yang berkepentingan. Dalam hal ini adalah manajemen sebagai pembuat laporan dan user sebagai pemakai laporan. Hal ini karena semakin kompleksnya kondisi masyarakat yang memungkinkan para pengambil keputusan akan memperoleh informasi yang tidak dapat dipercaya dan tidak dapat diandalkan yang secara umum disePERTEMUANkan oleh 4 hal yaitu:  Hubungan yang tidak dekat (Jauhnya sumber informasi) antara penerima dan pemberi informasi .  Sikap memihak/bias dan motif lain yang melatarbelakangi pemberian informasi.  Data yang berlebihan  Transaksi pertukaran yang kompleks Untuk menanggulangi risiko informasi tersebut ada tiga cara yang dapat dilaksanakan :  Verifikasi Informasi oleh pihak pemakai/pengguna informasi  Pengguna informasi menanggung risiko informasi secara bersama- sama dengan manajemen  Dilakukan audit atas Laporan Keuangan . PIHAK-PIHAK YANG BERINTERAKSI DENGAN AUDITOR 1. Manajemen Dalam konteks audit, yang dimaksud manajemen meliputi pejabat pimpinan, kontroler, dan para personil kinci perusahaan. Selama audit berlangsung, auditor sangat sering berhubungan atau berinteraksi dengan manajemen. Untuk mendapatkan bukti yang diperlukan dalam suatu audit, auditor sering kali meminta data perusahaan yang bersifat rahasia. Data
  • 9. seperti ini, tentu disimpan oleh para manajemen tersebut. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi auditor untuk menjalin hubungan baik dengan manajemen atas dasar saling percaya dan saling menghormati (tanpa mengurangi professional skepticism). 2. Dewan Komisaris dan Komite Audit Dewan Komisaris dan Komite Audit bertindak sebagai penengah antara auditor dan manajemen. Fungsi dewan dan komite ini yang berhubungan langsung dengan akuntan publik adalah: a. Menunjuk kantor akuntan publik yang akan diberi penugasan audit. b. Mendiskusikan lingkup audit dengan auditor c. Mengundang auditor untuk mendiskusikan masalah-masalah yang timbul selama audit berlangsung d. Mereview laporan keuangan dan laporan auditor dengan auditor menjelang selesainya penugasan audit. 3. Auditor Intern Akuntan publik biasanya menjalin kerja sama dengan auditor intern pada perusahaan klien, karena akuntan publik mempunyai kepentingan langsung dengan pekerjaan auditor intern yang merupakan bagian dari pelaksanaan sistem pengendalian intern klien. Di samping itu, auditor intern akan memberi bantuan langsung kepada akuntan publik dalam pelaksanaan audit atas laporan keuangan. Pekerjaan auditor intern merupakan pelengkap bagi akuntan publik. 4. Pemegang Saham Para pemegang saham mengandalkan pada laporan keuangan yang telah diaudit untuk mendapatkan keyakinan bahwa manajemen telah melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik. Oleh karena itu, auditor memiliki tanggung jawab yang penting terhadap mereka sebagai pemakai utama laporan auditor. KETERBATASAN AUDIT LAPORAN KEUANGAN 1. Keterbatasan yang melekat pada laporan keuangan (adanya berbagai metode, adanya pertimbangan tertentu dalam suatu kejadian atau transaksi, dan lain-lain) 2. Keterbatasan dalam pelaksanaan audit (misalnya: sampling bukti) sehingga dalam standar hanya mengatakan “ ….bukti yang cukup …” bukan bukti yang menjamin 100% benar, dan pendapat yang diberikan oleh akuntan publik adalah “wajar” bukan absolut benar (namun akhir- akhir ini berkembang wacana dalam akuntansi adanya “true and fair value”).
  • 10. Aktivitas Kantor Akuntan Publik Kantor Akuntan Publik terutama melaksanakan empat jenis jasa, yaitu :  Atestasi, di mana KAP mengeluarkan laporan tertulis yang menyatakan kesimpulan atas keandalan pernyataan tertulis yang telah dibuat dan ditanggungjawabi pihak lain.Terdapat tiga jenis atestasi yaitu : audit laporan keuangan historis , review/penelaahan laporan keuangan historis dan jasa atestasi lainnya .  Jasa Perpajakan berupa SPT PPh, PBB, PPN , perencanaan perpajakan dan jasa perpajakan lainnya.  Konsultasi Manajemen yaitu dalam peningkatan aktivitas operasi .  Jasa Akuntansi dan Pembukuan . Ketiga jasa terakhir sering disebut sebaga jasa non assurance. AICPA American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) atau di Indonesia IAI mempunyai tiga fungsi utama yaitu : 1. Penetapan Standar dan Aturan, ada empat bidang utama dalam auditing yang perlu dibuat standar aturannya yaitu ; Standar Audit , Standar Kompilasi dan Penelaahan Laporan Keuangan , Standar Atestasi Lainnya, Kode Etik Profesi . 2. Penelitian dan Publikasi. Kegiatan ini menghasilkan jurnal -jurnal seperti jurnal berkala , jurnal akuntansi dan lain-lain. 3. Pelaksanaan Ujian Sertifikasi Akuntan Publik/USAP 4. Pendidikan lanjutan . Terdapat tiga persyaratan utama untuk menjadi akuntan public bersertifikat yaitu persyaratan pendidikan, persyaratan ujian akuntan dan persyaratan pengalaman. Standar Auditing yang berlaku umum/GAAS GAAS merupakan pedoman bagi auditor dalam menjalankan tanggung jawab profesionalnya. Terdiri dari sepuluh standar yang terdiri dari tiga bagian besar (Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan dan Standar Pelaporan), yaitu : A. Standar Umum, merupakan kualifikasi dan perilaku umum yang terdiri dari :  Keahlian dan pelatihan teknis yang cukup .  Independensi dalam sikap mental .  Kemahiran profesional yang cermat dan seksama .
  • 11. B. Standar Pekerjaan Lapangan, meliputi :  Perencanaan dan supervisi yang pantas .  Pemahaman yang cukup tentang struktur pengendalian intern.  Bahan bukti kompeten yang cukup . C. Standar Pelaporan, pelaporan hasil audit yang meliputi :  Apakah laporan keuangan disusun berdasarkan standar akuntansi yang berlaku umum.  Keadaan dimana standar akuntansi tidak diikuti secara konsisten .  Kecukupan pengungkapan informasi .  Pernyataan pendapat terhadap laporan keuangan secara keseluruhan . Gambar 1.3 Diagram Standar Auditing Pengendalian Mutu/Quality Control Pengendalian mutu adalah prosedur yang digunakan KAP untuk membantu mentaati standar secara konsisten dalam setiap kontrak kerja yang mengikatnya. Komite standar pengendalian mutu menetapkan sembilan elemen pengendalian mutu yaitu :  Keahlian dan pelatihan teknis yang memadai  Independensi dalam sikap mental  Penggunaan kemahiran professional dengan cermat dan seksama Standar Umum Standar Auditing Standar Pekerjaan Lapaangan  Perencanaan dan supervisi audit  Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern  Bukti audit kompeten yang cukup Standar Pelaporan  Pernyataan ttg kesesu- aian lap keu dgn prinsip akuntansi yg berlaku umum  Pernyataan mengenai ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi yg berlaku umum  Pengungkapan informatif dlm lap keu.  Pernyataan pendapat atas lap keu secara keseluruhan
  • 12.  Independensi  Penugasan para auditor, dalam hal ini harus memiliki kemampuan dan pelatihan teknis yang memadai  Konsultansi , auditor harus meminta petunjuk dari ahli bila menemui kesulitan dalam pelaksanaan auditing  Supervisi  Pengangkatan Auditor  Pengembangan professional  Promosi  Penerimaan dan Pemeliharaan hubungan dengan klien  Inspeksi, diperlukan untuk penunjang delapan unsur diatas . Terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi Kantor Akuntan Publik ( tiga persyaratan pertama juga berlaku bagi KAP yang tidak menjadi anggota forum) yang ditetapkan AICPA dengan divisinya yaitu SEC dan Kantor Akuntan Publik atau di Indonesia Forum IAI - SAP yaitu :  Ketaatan pada standar pengendalian mutu .  Penelaahan sejawat ( peer review ) , harus dari KAP lain yang memenuhi persyaratan  Pendidikan lanjutan  Rotasi partner  Penelaahan oleh partner lain  Larangan pemberian atas jasa tertentu  Pelaporan ketidaksepakatan  Pelaporan jasa konsultasi manajemen.
  • 13. Contoh Engagement letter ; Kepada [Pihak yang Mengadakan Perikatan] Saudara telah meminta kami untuk mengaudit neraca …………(selanjutnya disebut"Perusahaan") tanggal……………….., dan laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Surat ini menegaskan penerimaan kami dan pemahaman kami atas perikatan ini. Audit kami akan kami laksanakan dengan tujuan untuk menyatakan pendapat kami atas laporan keuangan tersebut. Kami akan melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mengharuskan kami merencanakan dan melaksanakan audit agar memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga akan meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasisignifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian atas penyajian laporan keuangan secara keseluruhan sesuai dengan ketentuan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Pendapat kami atas laporankeuangan tersebut adalah tergantung dari hasil penerapan prosedur-prosedur audit yang akan kami laksanakan, oleh karena itu, kami tidak memberikan jaminan bahwa kami dapat memberikan pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan tersebut di atas. Sebagai bagian dari proses audit, kami akan melakukan permintaan keterangan dari manajemen tentang pernyataan manajemen yang disajikan dalam laporan keuangan. Kami juga akan meminta pernyataan tertulis clien manajemen yang menjelaskan bahwa penyajian laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen dan penegasan tertulis lainnya untuk mengkonfirmasi beberapa pernyataan yang dibuat oleh manajemen kepada kami selama proses audit kami. Tanggapan manajemen atas permintaan keterangan kami dan pemerolehan pernyataan tertulis dari manajemen diwajibkan oleh standar auditing sebagai bagian dari bukti audit yang akan kamiandalkan sebagai dasar dalam memberikan pendapat atas laporan keuangan. Karena pentingnya surat pernyataan manajemen tersebut, Perusahaan setuju untuk membebaskan dan mengganti rugi kepada……………(nama KAP yang bersangkutan) dan stafnya atas segala tuntutan, kewajiban, dan biaya-biaya yang akan dikeluarkan sebagai akibat dari kesalahan pernyataan manajemen berkaitan dengan jasa audit yang kami berikan sesuai dengan perikatan ini. Audit kami mengandung risiko bawaan bahwa bila terdapat kekeliruan dan ketidakberesan material, termasuk kecurangan atau pemalsuan, mungkin tidak akan terdeteksi. Namun, bila kami menemukan adanya hal-hal tersebut dalam audit kami,informasi tersebut akan kami sampaikan kepada Saudara.
  • 14. Sebagai tambahan laporan audit kami atas laporan keuangan, kami akan menyampaikan surat terpisah tentang kelemahan signifikan pengendalian intern yang kami temukan dalam audit yang kami lakukan. Kami mengingatkan Saudara bahwa tanggung jawab atas penyusunan laporan keuangan, termasuk pengungkapan memadai merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab ini mencakup pula penyelenggaraan catatan akuntansi dan pengendalian intern memadai, pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, dan penjagaan keamanan aktiva perusahaan..Sebagai bagian dari proses audit, kami akan meminta penegasan tertulis dari Saudara tentang representasi yang Saudara buat untuk kami dalam rangka audit yang kami laksanakan. Kami mengharapkan kerja sama penuh dari staf Saudara dan kami yakin bahwa mereka akan menyediakan catatan, dokumentasi, dan informasi lain yang kami perlukan dalam rangka audit kami. Berdasarkan diskusi tentang operasi perusahaan dan perencanaan audit kami, fee audit kami perkirakan sebesar Rp …………. Ditambah direct out of pocket expenses dan Pajak Pertambahan Nilai. Fee tersebut kami hitung berdasarkan waktu yang diperlukan oleh staf yang kami tugasi untuk melaksanakan audit ini dan tarif per jam staf yang kami tugasi, yang bervariasi sesuai dengan tingkat tanggung jawab yang dipikul dan pengalaman serta keahlian yang diperlukan. Jumlah tersebut akan kami tagih sesuai dengan kemajuan pekerjaan kami. Surat perikatan audit ini akan efektif berlaku untuk tahun-tahun yang akan datang kecuali jika dihentikan, diubah, atau diganti. Silakan menandatangani dan mengembalikan copy surat perikatan audit terlampir yang menunjukkan kesepakatan Saudara atas pengaturan tentang audit atas laporan keuangan tersebut di atas. Terima kasih atas kesempatan yang Saudara berikan kepada kami untuk menyediakan jasa audit bagi Saudara. PT KXT Kantor Akuntan Publik
  • 15. Soal Latihan PERTEMUAN I 1. Mengapa laporan keuangan perlu diaudit? 2. Syarat-syarat apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang auditor? 3. Jelaskan standar audit dan sebutkan apa saja! 4. Akuntan Publik (auditor) bertanggung jawab atas opini yang diberikannya dan alas laporan keuangan yang tercantum dalam audit report ? 5. Menurut Standar Akuntansi Keuangan, laporan keuangan yang lengkap terdiri dari Neraca, Laporan Laba Rugi, Laporan Perubahan Ekuitas dan Catatan Atas Laporan Keuangan ? 6. Independent auditing dilakukan untuk memeriksa kebenaran dari laporan keuangan klien beserta catatan pembukuan dan dokumen-dokumen perusahaan yang di audit ? 7. Pemeriksaan akuntan harus dilakukan berdasarkan Standar Profesional Akuntan Publik dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK ? 8. Auditing mempunyai sifat analitis, sedangkan accounting mempunyai sifat konstruktif ? 9. Audit proposal yang sudah disetujui klien, merupakan dasar bagi auditor untuk melakukan pemeriksaan dan disebut Management Letter ? 10.Beberapa unsur dari pengendalian mutu: independensi, konsultasi, supersive, materiality ?
  • 16. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 2 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Mahasiswa dapat memahami apa yang di maksud dengan auditing standart dan dalam fungsinya dalam pelaksanaan profesi auditor, serta kode etik dalam dunia auditing Auditing standard dan kode etik auditing 1. Pengetian auditing standard dan fungsinya dalam pelaksanaan profesi auditor. 2. Kode etik akuntan Indonesia 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 2 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 17. PERTEMUAN II STANDAR PROFESIONAL AKUNTAN PUBLIK DAN KODE ETIK AKUNTAN INDONESIA ETIKA PROFESIONAL Apakah Etika Itu? Etika secara umum didefinisikan sebagai perangkat prinsip moral atau nilai. Daftar prinsip-prinsip berikut ini berhubungan dengan karakteristik dan nilai- nilai yang sebagian besar dihubungkan dengan prilaku etis  Kejujuran  Integritas  Mematuhi Janji  Loyalitas  Keadilan  Kepedulian kepada Orang Lain  Menghargai Orang Lain  Menjadi Warga Yang Bertanggungjawab  Mencapai Yang Terbaik  Ketanggunggugatan Kebutuhan akan Etika Kebutuhan akan etika dalam masyarakat cukup penting sehingga banyak diantara nilai-nilai etika yang dimasukkan dalam undang-undang. Sejumlah besar nilai etika dalam masyarakat tidak dapat dimasukkan dalam undang- undang karena sifat nilai tertentu yang memerlukan pertimbangan. Mengapa Orang Bertindak Tidak Beretika Terdapat dua alasan utama mengapa orang bertindak tidak beretika ; 1. Standar etika seseorang berbeda dari masyarakat umum 2. Seseorang memilih bertindak semaunya
  • 18. Etika Dalam Bisnis Ada beberapa akibat potensial dari kasus-kasus dan terdapat banyak kritik terhadap bisnis yang ditampilkan filem, televisi, surat kabar dan media lainnya. Contoh kasus pertama tadi menunjukkan upaya untuk membuat perilaku bisnis yang tidak beretika seolah-olah normal saja. Kasus kedua menyimpulkan bahwa perilaku manajemen tersebut tidak beretika dan bisnisnya tetap sukses. Akhirnya, dan barangkali merupakan yang terpenting, adalah menyimpulkan bawa suatu tindakan haruslah benar-benar ekstrim untuk dinyatakan sebagai tidak beretika. Sebagai contoh, merupakan tanggungjawab social untuk memperlakukan pegawai, pelanggan dan pemasok secara jujur dan adil, tetapi dalam jangka panjang banyak kemungkinan tindakan yang akan diambil untuk keberhasilan bisnis. Dilema Etika Dilema etika adalah situasi yang dihadapi seseorang dimana keputusan mengenai perilaku yang pantas harus dibuat. Contoh sederhana dari dilema etika adalah pada saat kita menemukan cicin berlianyang memaksa kita untuk memutuskan mengembalikan pada pemiliknya atau untuk kita saja. Auditor, akuntan dan kalangan bisnis lainnya menghadapi banyak dilema etika dalam karier bisnis mereka Memecahkan Dilema Etika Ada beberapa alternative pemecahan dilemma etika, tetapi harus berhati-hati untuk menghidari cara yang merupakan rasionalisasi perilakutidak beretika. Berikut ini adalah metode rasionalisasi yang biasanya digunakan bagi perilaku tidak beretika ; - Semua orang melakukannya - Jika itu legal, maka itu beretika - Kemungkinan ketahuan dan konsekuensinya - Fakta Relevan - Masalah etika - Konsekuensi dari setiap alternative Kebutuhan Khusus Berperilaku Beretika Dalam Profesi Alasan yang mendasari diperlukannya perilaku professional yang tinggi pada setiap profesi adalah kebutuan akan kepercayaan public terhadap kualitas jasa yang diberikan profesi, terlepas dari yang dilakukan secara peorangan.
  • 19. Bagi akuntan public, penting untuk meyakinkan klien dan pemakai laporan keuangan akan kualitas audit dan jasa lainnya. Jika pmakai jasa tidak mempunyai keyakinan pada ali medis, hakim atau akuntan public, kemampuan professional itu untuk memberikan jasa kepada klien dan asyarakat secara efekti berkurang. Prinsip Prilaku Profesional Prinsip-prinsip Etika 1. Tanggungjawab 2. Kepentingan masyarakat 3. Integritas 4. Objektivitas dan Independen 5. Keseksamaan 6. Lingkup dan Sifat Jasa 7. Standar teknis 8. Kerahasiaan Independensi Independensi dalam audit berarti cara pandang yang tidak memihak di dalam pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit. Apabila auditor adalah seorang penasehat klien,seorang banker atau yang lainnya, dia tidak dapat dikatakan independen. Hubungan Keuangan Dengan Klien Di Amerika Serikat, tedapat aturan yang lebih rinci mengenai peilikan saham tersebut. Ada tiga perbedaan dalamperaturan 101 da Amerika Serikat sehubungan dengan independensi dan kepemilikan saham ; - Partner atau pemegang saham kontra non-partner atau non-pemegang saham - Kepentingan keuangan langsung dan tidak langsung - Material dan tidak material - Mantan praktisi - Prsedur peminjaman yang normal - Kepentingan keuangan pada hubungan keluarga - Hubungan investor atau investee bersama dengan klien - Komisaris, direksi, manajemen atau pegawai perusahaan
  • 20. Upaya Memelihara Independensi Banyak elemen-elemen dan persyaratan atau dorongan lain bagi akuntan untuk mempertahankan independensi dalam kenyataan dalam penampilan. Hal-hal itu yang yang terutama berlaku di Amerika Serikat, akan diikhtisarkan secara ringkas sebagai berikut. - Kewajiban Hukum - Peraturan 101, interperestasi dan ketentuannya - Standar auditing yang berlaku umum - Standar pengendalian mutu IAI (dan AICPA di Amerika Serikat) - Pendivisian Perusahaaan - Komite Audit - Kominikasi denagn auditor pendahuluan - Menjajangi pendapat mengenai penerapan prinsip akuntansi - Pengesahan auditor oleh pemegang saham Standar-Standar Teknis Di Amerika Serikat terdapat aturan-atuaran perilaku bagi anggota AICPA yang berkaitan dengan standar teknis, sebagai berikut ; Peraturan 102 - Auditor harus mempertahankan integritas dan obyektifitas dan bebas dari perbedaan kepentingan dan tidak dengan sengaja salah mengemukakan fakta-fakta atau mendelegasikan pertimbangan- pertimbangannya pada orang lain . Peraturan 201 - standar umum , Anggota harus mentaati standar -standar berikut dan interpretasinya yaitu : kompetensi profesional, kepedulian profesional, perencanaan dan pengwasan, dan data relevan yang mencukupi. Ketaatan pada standar Peraturan 202 - Anggota yang melaksanakan audit, penelaahan, kompilasi, bantuan manajemen, perpajakan , atau jasa profesional lainnya harus taat pada standar yang diumumkan oleh lembaga yang ditetapkan dewan . Peraturan 203 - Prinsip Akuntansi, Anggota tidak dibenarkan menyatakan laporan keuangan tidak menyimpang dari GAAP atau menyatakan tidak mengetahui setiap modifikasi yang material jika laporan keuangan menyimpang dari prinsip akuntansi ditetapkan oleh badan perumus yang ditunjuk dewan. Dan kalau ada penyimpangan atau yang dapat menyePERTEMUANkan penyimpangan maka dia harus menjelaskan mengenai penyimpangan tersebut, akibatnya, alasan mengapa menyatakan penyimpangan.
  • 21. Peraturan 301 – Kerahasiaan, Anggota dalam praktek publik tidak dibenarkan mengungkapkan semua informasi rahasia klien tanpa ijin khusus dari klien . Terdapat empat pengecualian yang berkaitan dengan tanggung jawab yang lebih penting dari sekedar mempertahankan hubungan rahasia dengan klien yaitu :  Kewajiban sehubungan dengan standar teknis  Dakwaan pengadilan  Penelaahan sejawat  Tanggapan kepada divisi etik. Peraturan 302 - Honor bersyarat, Anggota dalam praktek publik tidak boleh membuat honor bersyarat untuk setiap jasa profesional atau menerima ongkos dari klien yang anggota perusahaannya juga melakukan ; audit atau penelaahan, kompilasi, Pemeriksaan prospektif . Peraturan 501- Tindakan yang mendatangkan aib tindakan tercela Anggota tidak akan melakukan tindakan yang mendatangkan aib bagi profesinya . Interpretasi dari tindakan yang mendatangkan aib diatas adalah sebagai berikut : 1. Menahan catatan klien setelah mereka meminta. 2. Melakukan diskriminasi berdasarkan ras, warna kulit, agama, jenis kelamin dan lainnya 3. Jika melakukan audit atas badan pemerintah yang prosedurnya lain dari GAAS , auditor tidak mengikuti keduanya kecuali dinyatakan dan beserta alasannya pada laporan Peraturan 502 - Periklanan dan Penawaran , Anggota tidak dibenarkan melakukan periklanan dan penawaran yang bersifat mendustai, menyesatkan dan menipu. Dan penawaran yang menggunakan pemaksaan, desakan yang berlebihan, dan hasutan dilarang . Peraturan 503 - Komisi dan Honor Perujukan A. Komisi yang dilarang, Anggota tidak diperkenankan merekomendasi atau mereferensi produk atau jasa yang pihak lain bagi klien atau yang disediakan oleh klien demi untuk memperoleh komisi atau menerima komisi , apakah anggota atau perusahaan anggota juga memberikan jasa kepada klien untuk audit atau penelaahan, kompilasi, pemeriksaan prospektif .
  • 22. B. Peraturan 503 -B. Pengungkapan komisi yang diijinkan Anggota diijinkan untuk memberikan jasa dengan menerima komisi dan harus mengungkapkan kepada siapa merekomendasikannya. Peraturan 505 - Bentuk dan Nama praktek , Anggota dapat membuka praktek dalam bentuk perusahaan perorangan, persekutuan, atau perseroan profesional sesuai dengan ketentuan dewan dan tidak diperkenankan membuka praktek dengan nama yang menyesatkan dan tidak boleh menyebut dirinya sebagai “ AICPA” kecuali semua partner dan pemegang sahamnya anggota dari lembaga tersebut . Berikut ini merupakan Standar Auditing di Indonesia berdasarkan pada ; A. Standar Umum 1. Audit harus dilakukan oleh seorang atau lebih yang memiliki keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor 2. Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor 3. Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama. B. Standar Pekerjaan Lapangan 1. Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan ssemestinya/. 2. Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan. 3. Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit. C. Standar Pelaporan 1. Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. 2. Laporan auditor harus menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan dalam periode berjalan dibandingkan dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya. 3. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor. 4. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi
  • 23. bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor. Aturan tambahan ; PSA No. 04 (SA Seksi 220) PSA No. 04 (SA Seksi 230) PSA No. 07 (SA Seksi 326) PSA No. 08 (SA Seksi 410) PSA No. 09 (SA Seksi 420) PSA No. 10 (SA Seksi 431)
  • 24. Soal Latihan PERTEMUAN II
  • 25. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 3 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 3 Mahasiswa dapat memahami bentuk-bentuk laporan audit Laporan Audit/ akuntan 1. Jenis-jenis pendapat Akuntan 2. Jenis-jenis Laporan Akuntan 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 3 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 26. PERTEMUAN III LAPORAN AUDIT Auditing adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti yang berhubungan dengan asersi tentang tindakan-tindakan dan kejadian- kejadian ekonomi secara objektif untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Ada tiga (3) macam audit: 1) Audit Laporan Keuangan, 2) Audit Ketaatan/Kesesuaian, dan 3) Audit Manajemen/Operasional/Kinerja. Modul ini hanya membahas yang pertama. Dengan demikian audit laporan keuangan adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan mengevaluasi bukti secara objektif terhadap laporan keuangan suatu entitas guna memberiikan pendapat atas laporan keuangan tersebut dan mengkomunikasikan hasil audit tersebut kepada pihak yang berkepentingan. Kriteria yang lazim digunakan dalam audit keuangan adalah prinsip akuntansi yang berlaku umum. Salah satu prinsip akuntansi yang berlaku umum yang ada di Indonesia adalah standar akuntansi keuangan (SAK). Sedangkan laporan keuangan yang diaudit adalah neraca (laporan posisi keungan), laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, dan catatan atas laporan keuangan. Orang yang melakukan audit terhadap laporan keuangan disebut auditor. Auditor bekerja pada kantor akuntan publik (KAP). Walaupun menerima honorarium dari manajemen (klien), auditor harus menjaga independensinya tehadap manajemen tersebut (bandingkan dengan profesi pengacara atau dokter). Independensi tersebut dalam hal hubungan darah (semenda), hubungan usaha, dan penampilan (in appearance). Dalam melakukan audit, seorang auditor berpedoman pada standar professional akuntan publik (SPAP). Standar tersebut terdiri atas: 1. Standar Auditing 2. Standar Atestasi 3. Standar Jasa Akuntansi dan Review 4. Standar Jasa Konsultasi 5. Standar Pengendalian Mutu
  • 27. JENIS-JENIS PENDAPAT AKUNTAN 1. Laporan Audit Standar Dengan Pendapat Wajar tanpa Pengeculian Bentuk laporan audit yang paling umum adalah laporan audit standar dengan pendapatan wajar tanpa pengecualian. Lebih dari 90 persen laporan audit menggunakan bentuk ini. Laporan audit standar wajar tanpa pengecualian digunakan bila kondisi berikut terpenuhi. Kondisi Untuk Laporan Wajar Tanpa Pengecualian : 1. Semua Laporan keuangan – neraca, laporan laba rugi, saldo laba dan laporan arus kas – sudah tercakup didalam laporan keuangan. 2. Ketiga strandar umum telah diikuti sepenuhnya dalam penugasan. 3. Bahan bukti yang cukup telah dikumpulkan dan auditor tesebut telah melaksanakan penugasan dengan cara yang memungkinkan baginya untuk menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangn telah dipenuhi. 4. Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum ini berarti bahwa pengungkapan yang memadai telah disertakan dalam catatan kaki dan bagian-bagian lain laporan keuangan. Tidak terdapat situasi yang memerlukan penambahan paragraf penjelasan atau modifikasi kata-kata dalam laporan. Keadaan Yang MenyePERTEMUANkan Panyimpangan Pendapat Dari Wajar Tanpa Pengecualian Dalam membahas laporan audit yang menyimpang dari laporan audit standar ada tiga topik yang berhubungan, yaitu : yang menyePERTEMUANkan penyimpangn dari pendapat wajar tanpa pengecualian, jelas pendapat selain dari pendapat wajar tanpa pengecualian, dan materialitas. Kondisi 1. Pembatasan lingkup audit. Kondisi 2. Laporan keuangan tidak disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. 2. Laporan Audit Selain Laporan Wajar Tanpa Pengecualian Jika salah satu dari ketiga kondisi diatas, yang menuntut penyimpangan dari pendapat wajar tanpa pengecualian, ditemukan dalam audit dan dampaknya material, auditor harus memberikan pendapat selain wajar tanpa pengecualian dalam laporannya. Pendapat tidak wajar (adverse opinion), pernyataan tidak
  • 28. memberi pendapat (disclaimer of opinion), dan pendapat wajar dengan pengecualian (qualified opinion). a. Wajar tanpa syarat dengan paragraph penjelasan atau dengan modifikasi kalimat: Suatu proses audit telah dilaksanakan dengan hasil yang memuaskan serta laporan keuangan telah disajikan dengan wajar, tetapi auditor merasa perlu memberikan informasi tambahan b. Wajar dengan pengecualian: auditor menyimpulkan bahwa keseluruhan laporan keuangan memang telah disajikan dengan wajar, tetapi lingkup audit telah dibatasi secara material atau terjadi penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum. c. Tidak wajar (adverse) atau menolak memberikan pendapat (disclaimer): Auditor menyimpulkan bahwa laporan keuangan tidak disajikan secara wajar (adverse), auditor tidak dapat memberikan opininya mengenai apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar (disclaimer). Pendapat disclaimer dapat disePERTEMUANkan dua hal yaitu dibatasinya lingkup audit dan ketidakindependennya auditor. PenyePERTEMUAN-penyePERTEMUAN utama ditambahkannya suatu paragraph penjelasan atau modifikasi kalimat dalam laporan audit bentuk baku a. Tidak adanya konsistensi dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum b. Ketidakpastian atas kelangsungan hidup perusahaan c. Auditor menyetujui terjadinya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum d. Penekanan pada suatu masalah e. Laporan yang melibatkan auditor lainnya Contoh perubahan yang dapat mempengaruhi konsistensi palaporan dan memerlukan paragraph penjelasan d. Perubahan prinsip akuntansi, seperti perubahan FIFO ke LIFO e. Perubahan dalam entitas pelaporan, seperti penambahan suatu perusahaan baru dalam lapran keuangan gabungan f. Perbaikan kesalahan yang melibatkan prinsip akuntansi, yaitu dengan melakukan perubahan dari prinsip akuntansi yang tidak diterima umum pada prinsip akuntansi yang diterima secara umum, termasuk di dalamnya perbaikan atas akibat dari kesalahan penggunaan prinsip akuntansi.
  • 29. Bagian-Bagian Dari Laporan Audit Bentuk Baku Terlepas dari siapa auditornya,ketujuh bagian laporan audit berikut ini akan tetap sama.  Judul laporan, Contoh: Laporan Auditor Independen  Alamat laporan audit  Paragraf pendahuluan o Membuat suatu pernyataan sederhana bahwaKAP telah melakukan audit o Menyatakan laporan keuangan yang telah diaudit termasuk tanggal neraca serta periode akuntansi dari laporan laba rugi dan laporan arus kas. o Menyatakan bahwa laporan keuangan merupakan tanggung jawab manajemen dan tanggung jawab auditor terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan pelaksanaan audit..  Paragraf scope. o Paragraf ini berisi pernyataan factual tentang apa yang dilakukan auditor selama proses audit. o Menyatakan bahwa auditor melaksanakan audit berdasarkan standar audit profesioanal akuntan pulik. o Menyatakan bahwa audit dirancang untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material.  Paragraf pendapat  Nama KAP  Tanggal laporan audit Laporan audit bentuk baku (laporan audit wajar tanpa syarat) diterbitkan bila kondisi-kondisi berikut ini terpenuhi g. Seluruh laporan keuangan yang meliputi neraca, laba rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas lengkap h. Semua aspek dari ketiga standar umum GAAS/SPAP telah dipatuhi dalam penugasan audit tersebut i. Bukti audit yang cukup memadai telah terkumpul, dan sang auditor telah melaksanakan penugasan audit ini dengan sedemikian rupa sehingga membuatnya mampu menyimpulkan bahwa ketiga standar pekerjaan lapangan telah terpenuhi. j. Laporan keuangan telah disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. k. Tidak terdapat situasi yang membuat auditor merasa perlu untuk menambahkan sebuah paragraf penjelasan atau memodifikasi kalimat dalam laporan audit.
  • 30. Penyimpangan dari Laporan Bentuk Baku Auditor sering menjumpai keadaan dimana tidak mungkin memberiikan pendapat wajar tanpa pengecualian tetapi juga bukan pendapat yang nomor 3, 4, atau 5 seperti di atas.. Dalam keadaan seperti itu berarti ia tetap memberiikan pendapat wajar tanpa pengecualian dengan paragraf penjelasan. Keadaan yang memerlukan paragraf penjelasan atas laporan bentuk baku dengan pendapat wajar tanpa pengecualian adalah: 1. Ketidak sesuaian dengan suatu prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh IAI 2. Tidak konsisten dalam penerapan prinsip akuntansi yang berlaku umum 3. Ketidakpastian peristiwa masa yang akan datang yang hasilnya belum bisa diperkirakan pada tanggal laporan audit 4. Keraguan besar tentang kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya 5. Pemberian tekanan atas masalah tertentu oleh auditor Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor independen lain Faktor-faktor yang dapat menimbulkan ketidakpastian atas kemampuan perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya a. Terjadinya kerugian operasional atau kekurangan modal kerja yang signifikan b. Ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajiban jatuh tempo c. Kehilangan pelanggan-pelanggan utama, terjadi bencana yang tidak dijamin oleh asuransi, atau masalah ketenagakerjaan yang tidak umum d. Pengadilan, perundang-undangan, atau hal-hal serupa yang dapat mengancam kemampuan operasional perusahaan
  • 31. Contoh Laporan Audit oleh Akuntan Publik ; LAPORAN AUDITOR INDEPENDEN Kepada Yth. Pemegang Saham dan Dewan Komisaris PT HUMAIRA INDAH SADIDA Kami telah mengaudit neraca PT Humaira Indah Sadida tanggal 31 Desember 2010 serta laporan laba-rugi, laporan laba ditahan, dan laporan arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami terletak pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan audit kami. Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan Ikatan Akuntan Indonesia. Standar tersebut mangharuskan kami untuk merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan memadai bahwa laporan keuangan tersebut bebas dari salah saji material. Suatu audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan. Audit juga meliputi penilaian atas prinsip akuntansi yang digunakan dan estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit kami memberiikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat. Menurut pendapat kami, laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT Humaira Indah Sadida tanggal 31 Desember 2010, dan hasil usaha serta arus kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kantor Akuntan Publik Price Waterhouse Cooper Abdullah Taman, M.Si. Ak. Register Akuntan Negara No. D-7316
  • 32. Latihan Soal PERTEMUAN III
  • 33. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 4 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 4 Mahasiswa dapat memahami tujuan utama audit dan konsep tentang internal control structure Audit objective dan konsep tentang internal control 1. Pengertian dan fungsi external control system 2. Penilaian terhadap internal control system yang dimliki perusahaan 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 4 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 34. PERTEMUAN IV STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN TERMINOLOGI Audit Objecktive Auditing adalah proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitas ekonomi yang dilakukan seorang yang kompeten dan independen untuk dapat menentukan dan melaporkan kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Pengendalian Intern adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personil satuan usaha lainnya, yang dirancang untuk ;mendapatkan keyakinan memadai tentang pencapaian tujuan dalam hal-hal : 1) keandalan pelaporan keuangan, 2) kesesuaian dengan UU dan peraturan lainnya, dan 3) efektivitas dan efisiensi operasi. Dari terminologi di atas, dapat ditarik beberapa konsep dasar tentang pengendalian intern: 1. Pengendalian intern merupakan suatu proses. Artinya bahwa pengendalian intern merupakan suatu cara untuk mencapai tujuan, bukan tujuan itu sendiri. 2. Pengendalian intern dipengaruhi oleh manusia. Pengendalian intern bukan hanya terdiri dari buku pedoman, aturan, atau formulir-formulir semata, tetapi juga orang-orang yang berada di berbagai jenjang dalam struktur organisasi. 3. Pengendalian intern diharapkan hanya memberiikan keyakinan memadai, bukannya keyakinan penuh (mutlak) bagi manajemen, karena adanya kelemahan bawaan yang melekat (inherent) pada sistem pengendalian itu sendiri. 4. Pengendalian intern adalah alat untuk mencapai tujuan dalam berbagai hal, ada kemungkinan adanya tumpang-tindih antara pelaporan keuangan, kesesuaian dan operasional. TUJUAN Tujuan sistem pengendalian intern adalah untuk: 1. keandalan pelaporan keuangan, 2. kesesuaian dengan UU dan peraturan lainnya, dan 3. efektivitas dan efisiensi operasi.
  • 35. ARTI PENTING Arti pentingnya pengendalian intern: 1. Lingkup dan besarnya perusahaan sudah menjadi sedemikian kompleks dan luas sehingga manajemen tidak mungkin lagi mengendalikan secara langsung. Untuk mengatasi hal itu manejemen harus mengendalikan sejumlah laporan dan analisis agar perusahaan dapat berjalan dengan efektif. 2. Pengecekan dan review yang melekat pada sistem pengendalian intern yang baik, akan dapat melindungi perusahaan dari kelemahan manusiawi dan mengurangi kemungkinan terjadinya kekeliruan dan ketidakberesan. 3. Ditinjau dari segi auditing, sistem pengendalian yang berlaku pada perusahaan klien akan sangat bermanfaat dalam membatasi lingkup audit. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB Pihak-pihak yang bertanggungjawab dan perannya masing-masing 1. Manajemen. Penetapan dan pemeliharaan suatu sistem pengendalian intern yang efektif merupakan tanggung jawab manajemen. Manajemen puncak wajib menciptakan iklim yang kondusif pada setiap bagian perusahaan dengan menunjukkan kesadaran yang tinggi tentang perlunya pengendalian intern. Ia harus yakin bahwa setiap komponen pengendalian intern telah ditempatkan dan dilaksanakan dengan benar dan konsisten. 2. Dewan Komisaris dan Komite Audit. Anggota dewan komisaris harus menentukan apakah manajemen telah memenuhi tanggung jawabnya dalam penetapan dan pemeliharaan stistem pengendalian intern. Komite audit (bila tidak ada, dilaksanakan sendiri oleh dewan komisaris) harus mengawasi kemungkinan manajemen melakukan kecurangan dan mendeteksi kecurangan pelaporan keuangan, serta mengambil tindakan yang diperlukan. 3. Auditor Intern. Auditor intern harus memeriksa dan mengevaluasi kecukupan sistem pengendalian intern perusahaan secara periodic dan membuat rekomendasi tentang perbaikan-perbaikan yang diperlukan. 4. Personil Perusahaan Lainnya. Peran dan tanggung jawab personil perusahaan lainnya yang harus memberii informasi untuk sistem pengendalian intern dan yang akan menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem pengendalian intern, harus dirumuskan dengan jelas dan menyadari perannya. 5. Akuntan Independen atau Akuntan Publik. Ada kemungkinan hasil dari prosedur audit laporan keuangan, auditor ektern dapat menemukan adanya kelemahan dalam pengendalian intern. Informasi tentang hal tersebut dikomunikasikan kepada manajemen, dewan komisaris, komite audit, beserta rekomendasi untuk perbaikan yang diperlukan. 6. Pihak Luar Lainnya. Instansi atau pihak yang berwenang lainnya membuat ketentuan atau persyaratan minimum tentang keharusan menetapkan pengendalian intern dalam perusahaan.
  • 36. KOMPONEN Adapun komponen pengedalian intern adalah: 1. Lingkungan pengendalian 2. Perhitungan risiko 3. Informasi dan komunikasi 4. Aktivitas pengendalian 5. Monitoring Penjelasan : 1. Lingkungan Pengendalian Lingkungan pengendalian mempengaruhi suasana suatu organisasi,mempengaruhi kesadaran tentang pengendalian kepada orang- orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan landasan bagi komponen- komponen lainnya, dengan menciptakan disiplin dan sistem. Lingkungan pengendalian terdiri atas: a. Integritas dan etika Untuk menekankan pentingnya integritas dan nilai-nilai etika di antara para personil suatu organisasi, manajemen puncak harus: 1) Menciptakan iklim dengan memberi/menjadi contoh, yaitu dengan menunjukkan integritas dan berperilaku dengan standar etika yang tinggi 2) Mengkomunikasikan kepada semua karyawan, secara lisan dan melalui kebijakan serta aturan-aturan perilaku tertulis. 3) Memberii pedoman moral kepada para karyawan yang karena latar belakang moralnya buruk, membuat mereka tidak bisa membedakan baik dan buruk. 4) Mengurangi atau menghilangkan dorongan dan godaan yang bisa membuat orang menjadi tidak jujur, melanggar hukum, dan bertindak tidak etis. b. Komitmen terhadap kompetensi Komitmen terhadap kompetensi meliputi pertimbangan manajemen tentang pengetahuan dan ketrampilan yang diperlukan, dan perpaduan antara intelegensia, ketrampilan dan pengalaman yang diminta untuk pengembangan kompetensi. c. Dewan komisaris dan komite audit Komposisi dewan komisaris dan komite audit serta cara bagaimana mereka melaksanakan tanggung jawab pengawasan memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan pengendalian. Faktor-faktor yang mempengaruhi efektivitas dewan komisaris dan komite audit adalah: 1) Independensi
  • 37. 2) Pengalaman dan kedudukan 3) Keterlibatan dalam aktivitas manajemen 4) Ketepatan tindakan yang diambil 5) Pertanyaan yang diajukan kepada manajemen 6) Interaksi dengan auditor intern dan ekstern d. Falsafah manajemen dan gaya operasi Beberapa karakteristik yang membentuk falsafah dan gaya operasi adalah: 1) Pendekatan untuk mengambil dan memonitor risiko bisnis 2) Pendekatan pada kontak-kontak informal langsung dengan manjemen 3) Kebiasaan dan tindakan terhadap pelaporan keuangan 4) Pemilihan prinsip akuntansi alternatif yang tersedia secara konservatif atau agresif 5) Kehati-hatian dan konservatif dalam mengembangkan taksiran-taksiran akuntansi 6) Kebiasaan dalam mengolah informasi dan fungsi akuntansi serta personalia. Karakteristik nomor 4-6 di atas sangat berpengaruh dalam membentuk lingkungan pengendalian atas pelaporan keuangan. e. Struktur organisasi Struktur organisasi memberiikan kerangka menyeluruh untuk perencanaan,pelaksanaan, dan pengawasan, serta monitoring aktivitas perusahaan. Pengembangan struktur organisasi untuk suatu perusahaan menyangkut perumusan kewenangan dan tanggung jawab serta alur pelaporan. f. Perumusan kewenangan dan tanggung jawab Perumusan kewenangan dan tanggung jawab merupakan kelanjutan dari pengembangan struktur organisasi. Adanya perumusan kewenangan dan tanggung jawab ini akan membuat setiap individu mengetahui 1) bagaimana tindakannya berkaitan dengan pihak lain dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan, dan 2) untuk hal apa masing-masing individu harus bertanggung jawab. Selain itu, perusahaan biasanya menyusun deskripsi jabatan yang menggambarkan dengan jelas tugas-tugas spesifik masing-masing jabatan dan hubungan pelaporannya. g. Kebijakan dan praktik di bidang sumber daya manusia Efektif tidaknya sistem pengendalian intern akan sangat bergantung kepada kebijakan dan praktik tentang sumber daya manusia yang dianut, yang akan menentukan apakah personil perusahaan memiliki tingkat integritas yang diharapkan, nilai-nilai etika, dan kompetensi. Praktik yang sehat mengenai hal ini menyangkut:
  • 38. 1) Rekruitmen dan screening dalam pengangkatan karyawan 2) Orientasi pegawai baru terhadap kultur perusahaan 3) Kebijakan pelatihan 4) Tindakan pendisiplinan atas pelanggaran 5) Evaluasi, konseling dan promosi berdasarkan kinerja yang lalu 6) Program kompensasi yang memotivasi dan memberii penghargaan atas kinerja istimewa 2. Perhitungan Risiko Perhitungan risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko suatu perusahaan berkenaan dengan penyusunan laporan keuangan yang disajikan secara wajar sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum. 3. Informasi dan Komunikasi Sistem informasi yang berhubungan dengan tujuan pelaporan keuangan (yang mencakup sistem akuntansi) terdiri dari metode dan catatan-catatan yang digunakan untuk mengidentifikasi, menggabungkan, menganalisis, menggolongkan, mencatat, dan melaporkan transkasi perusahaan dan menyelenggarakan pertanggungjawaban atas aktiva dan kewajiban yang bersangkutan. Komunikasi menyangkut pemberian pemahaman yang jelas tentang peran dan tanggung jawab masing-masing individu berkenaan dengan sistem pengendalian intern atas pelaporan keuangan. 4. Aktivitas Pengendalian AKtivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu meyakinkan bahwa perintah manajemen telah dijalankan. Kebijakan dan prosedur itu membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah dijalankan untuk mencapai tujuan perusahaan. Aktivitas pengendalian memiliki berbagai tujuan dan diterapkan pada berbagai jenjang organisasi dan fungsi. Pengelompokan pengendalian dapat berdasarkan berikut ini: a. Pengendalian pengelolaan informasi Pengendalian ini terdiri atas: 1) Pengendalian umum 2) Pengendalian aplikasi Pengendalian aplikasi terdiri atas: a) Pengotorisasian secara tepat b) Dokumentasi dan catatan c) Pengecekan independen b. Pemisahan tugas c. Pengawasan fisik d. Review kinerja
  • 39. 5. Monitoring Monitoring adalah suatu proses penilaian kualitas kinerja sistem pengendalian intern sepanjang masa. Hal ini menyangkut penilaian tentang rancangan dan pelaksanaan operasi pengendalian oleh orang yang tepat untuk setiap periode waktu tertentu, untuk menentukan bahwa SPI telah berjalan sesuai dengan yang dikehendaki dan bahwa modifikasi yang diperlukan, karena adanya perubahan kondisi, telah dilakukan. KELEMAHAN Struktu pengendalian intern memiliki kelemahan: o Kesalahan dalam pertimbangan. Seringkali terjadi, manajemen dan personil lainnya melakukan pertimbangan yang kurang matang dalam pengambilan keputusan bisnis atau dalam melakukan tugas-tugas rutin, karena kekurangan informasi, keterbatasan waktu, atau penyePERTEMUAN lainnya. o Kemacetan. Kemacetan pada pengendalian yang telah berjalan dapat terjadi karena salah mengerti instruksi, kecorobohan, kebingungan atau kelelahan. Kemacetan juga disePERTEMUANkan karena perpindahan personil dan perubahan sistem dan prosedur. o Kolusi. Kolusi atau persekongkolan dari bagian-bagian atau individu yang semestinya independen akan mengakibatkan sistem pengendalian intern tidak berfungsi dengan baik. o Pelanggaran oleh manajemen. Manajemen dapat melakukan pelanggaran atas kebijakan atau prosedur-prosedur untuk tujuan tidak sah, seperti untuk keuntungan pribadi, atau membuat laporan keuangan tampak baik (ingat: sisi negatif earnings management). o Biaya dan Manfaat. Biaya penyelenggaraan sistem pengendalian intern seyogyanya tidak melebihi manfaat penerapan sistem pengendalian intern.
  • 40. SOAL LATIHAN PERTEMUAN IV
  • 41. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 5 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 5 Mahasiswa dapat memahami apa yang di maksud dengan bukti audit ( audit evidence) dan cara melakukan tets (pengujian) transaksi Audit evidence dan tets of recorded transaction 1. Pengertian audit evidence 2. Bentuk bentuk audit evidence 3. Compliance test & substantive test 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 5 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 42. PERTEMUAN V Test Transaksi Audit Evidence ( Bukti Audit ) Bukti audit adalah segala informasi yang mendukung angka-angka atau informasi lain yang disajikan dalam laporan keuangan yang dapat digunakan oleh auditor sebagai dasar untuk menyatakan pendapatnya Tipe Bukti Audit Dan Prosedur Audit Ada delapan tipe bukti audit yang harus diperoleh auditor dalam auditnya: pengendalian intern, bukti fisik, bukti dokumenter, catatan akuntansi, perhitungan, bukti lisan, perbandingan dan ratio, serta bukti dari spesialis. Untuk memperoleh bukti audit, auditor melaksanakan prosedur audit yang merupakan instruksi terperinci untuk mengumpulkan tipe bukti audit tertentu yang harus diperoleh pada saat tertentu dalam audit. Prosedur audit yang dipakai oleh auditor untuk memperoleh bukti audit adalah inspeksi, pengamatan, wawancara, konfirmasi, penelusuran, pemeriksaan bukti pendukung, penghitungan, dan scanning. Dalam proses pengumpulan bukti audit, auditor melakukan empat pengambilan keputusan yang sating berkaitan, yaitu penentuan prosedur audit yang akan digunakan, penentuan besarnya sampel untuk prosedur audit tertentu, penentuan unsur tertentu yang harus dipilih dari populasi, dan penentuan waktu yang cocok untuk melaksanakan prosedur audit tersebut. Berikut ini adalah tiga strategi yang berhubungan dengan penilaian resiko pengendalian : 1. Menilai resiko pengendalian berdasarkan pemakai. 2. Merencanakan suatu penilaian resiko pengendalian yang rendah berdasarkan pengendalian aplikasi 3. Merencanakan suatu penilaian resiko pengendalian yang tinggi berdasarkan pada pengendalian umum dan tindak lanjut manual.
  • 43. Bukti audit dapat dikelompokkan ke dalam 9 jenis bukti. Berikut ini dikemukakan ke Sembilan jenis bulti tersebut: 1. Struktur Pengendalian Intern Struktur pengendalian intern dapat dipergunakan untuk mengecek ketelitian dan dapat dipercayai data akuntansi. Kuat lemahnya struktur pengendalian intern merupakan indicator utama yang menentukan jumlah bukti yang harus dikumpulkan. Oleh karena itu, struktur pengendalian intern merupakan bukti yang kuat untuk menentukan dapat atau tidaknya informasi keuangan dipercaya. 2. Bukti Fisik Bukti fisik banyak dipakai dalam verifikasi saldo berwujud terutama kas dan persediaan. Bukti ini banyak diperoleh dalam perhitungan aktiva berwujud. Pemeriksaan langsung auditor secara fisik terhadap aktiva merupakan cara yang paling obyektif dalam menentukan kualitas yang bersangkutan. Oleh karena itu, bukti fisik merupakan jenis bukti yang paling dapat dipercaya. Bukti fisik diperoleh melalui prosedur auditing yang berupa inspeksi penghitungan, danobservasi. Pada umumnya biaya memperoleh bukti fdisik sangat tinggi. Bukti fisk berkaitan erat dengan keberadaan atau kejadian, kelengkapan, dan penilaian atau alokasi. 3. Catatan Akuntansi Catatan akuntansi seperti jurnal dan buku besar, merupakan sumber data untuk membuat laporan keuangan. Oleh karena itu, bukti catatan akuntansi merupakan obyek yang diperiksa dalam audit laporan keuangan. Ini bukan berarti catatan akuntansi merupakan obyek audit. Obyek audit adalah laporan keuangan. Tingkat dapat dipercayanya catatan akuntansi tergantung kuat lemahnya struktur pengendalian intern. 4. Konfirmasi Konfirmasi merupakan proses pemerolehan dan penilaian suatu komunikasi lansgung dari pihak ketiga sebagai jawaban atas permintaan informasi tentang unsure tertentu yang berdampak terhadap asersi laporan keuangan. Konfirmasi merupakan bukti yang sangat tinggi reliabilitasnya karena berisi informasi yang berasal dari pihak ketiga secara langsung dan tertulis. Konfirmasi sangat banyak menghabiskan waktu dan biaya. Ada tiga jenis konfirmasi, yaitu: a. Konfirmasi positif b. Blank confirmation c. Konfirmasi negative
  • 44. Konfirmasi yang dilakukan auditor pada umumnya dilakukan pada pemeriksaan: o Kas di bank dikonfirmasikan ke bank klien o Piutang usaha dikonfirmasikan ke pelanggan o Persediaan yang disimpan di gudang umum. Persediaan ini dikonfirmasikan ke penjaga atau kepala gudang o Hutang lease dikonfirmasikan kepada lessor 5. Bukti Dokumenter Bukti documenter merupakan bukti yang paling penting dalam audit. Menurut sumber dan tingkat kepercayaannya bukti, bukti documenter dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor secara langsung b. Bukti documenter yang dibuat pihak luar dan dikirim kepada auditor melalui klien c. Bukti documenter yang dibuat dan disimpan oleh klien Bukti documenter kelompok a mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok b. Bukti documenter kelompok b mempunyai kredibilitas yang lebih tinggi daripada kelompok c. bukti documenter meliputi notulen rapat, faktur penjualan, rekening Koran bank (bank statement), dan bermacam-macam kontrak. Reliabilitas bukti documenter tergantung sumber dokumen, cara memperoleh bukti, dan sifat dokumen itu sendiri. Sifat dokumen mengacu tingkat kemungkinan terjadinya kesalahan atau kekeliruan yang mengakibatkan kecacatan dokumen. Bukti documenter banyak digunakan secara luas dalam auditing. Bukti documenter dapat memberikan bukti yang dapat dipercaya (reliabel) untuk semua asersi. 6. Bukti Surat Pernyataan Tertulis Surat pernyataan tertulis merupakan pernyataan yang ditandatangani seorang individu yang bertanggung jawab dan berpengetahuan mengenai rekening, kondisi, atau kejadian tertentu. Bukti surat pernyataan tertulis dapat berasal dari manajemen atau organisasi klien maupun dari dari sumber eksternal termasuk bukti dari spesialis. Reprentation letter atau representasi tertulis yang dibuat manajemen merupakan bukti yang berasal dari organisasi klien. Surat pernyataan konsultan hokum, ahli teknik yang berkaitan dengan kegiatan teknik operasional organisasi klien merupakan bukti yang berasal dari pihak ketiga. Bukti ini dapat menghasilkan bukti yang reliable untuk semua asersi. 7. Perhitungan Kembali sebagai Bukti Matematis Bukti matematis diperoleh auditor melalui perhitungan kembali oleh auditor. Penghitungan yang dilakukan auditor merupakan bukti audit yang bersifat
  • 45. kuantitatif dan matematis. Bukti ini dapat digunakan untuk membuktikan ketelitian catatan akuntansi klien. Perhitungan tersebut misalnya: a. Footing untuk meneliti penjumlahan vertical b. Cross-footing untuk meneliti penjumlahan horizontal c. Perhitungan depresiasi Bukti matematis dapat diperoleh dari tugas rutin seperti penjumlahan total saldo, dan perhitugnan kembali yang rumit seperti penghitungan kembali anuitas obligasi. Bukti matematis menghasilkan bukti yang handal untuk asersi penilaian atau pengalokasian dengan biaya murah. 8. Bukti Lisan Auditor dalam melaksanakan tugasnya banyak berhubungan dengan manusia, sehingga ia mempunyai kesempatan untuk mengajukan pertanyaan lisan. Masalah yang ditanyakan antara lain meliputi kebijakan akuntansi, lokasi dokumen dan catatan, pelaksanaan prosedur akuntansi yang tidak lazim, kemungkinan adanya utang bersyarat maupun piutang yang sudah lama tak tertagih. Jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan merupaka bukti lisan. Bukti lisan harus dicatat dalam kertas kerja audit. Bukti ini dpat menghasilkan bukti yang berkaitan dengan semua asersi. 9. Bukti Analitis dan Perbandingan Bukti analitis mencakup penggunaan rasio dan perbandingan data klien dengan anggaran atau standar prestasi, trend industry, dan kondisi ekonomi umum. Bukti analitis menghasilkan dasar untuk menentukan kewajaran suatu pos tertentu dalam laporan keuangan dan kewajaran hubungan antas pos-pos dalam laporan keuangan. Keandalan bukti analitis sangat tergantung pada relevansi data pembanding. Bukti analitis berkaitan serta dengan asersi keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, dan penilaian atau pengalokasian. Bukti analitis meliputi perbandingan atas pos-pos tertentu antara laporan keuangan tahun berjalan dengan laporan keuangan tahun sebelumnya. Perbandingan in dilakukan untuk meneliti adanya perubahan yang terjadi dan untuk menilai penyePERTEMUANnya. Pengendalian Pemakai Dalam banyak kasus, klien mungkin merancang prosedur manual untuk menguji kelengkapan dan keakuratan dari transaksi yang diproses oleh komputer pengendali aplikasi.
  • 46. Dalam rangka merencanakan setrategi auditor seharusnya :  Menguji pengendalia aplikasi komputer  Menguji pengendalian umum komputer  Menguji tindak lanjut manual untuk pengecualian yang dicatat oleh pengendalian aplikasi Pengendalian Umum Dan Prosedur Tindak Lanjut Teknik Audit Berbantuan Komputer Simulasi Paralel 1. Data Pengujian Dengan pendekatan data pengujian, transaksi buatan dipersiapkan oleh auditor dan diproses menurut pengendalian auditor denghan program klien. Akan tetapi metode ini kelemahan :  Program klien diuji hanya pada titik waktu tertentu dan tidak sepanjang priode  Metode yang digunakan adalah suatu pengujian dimana hnayna pengendaliuan yang ada yang berfungsi oleh program.  Tidak terdapat pemeriksaan dokumentasi se4cara aktual diproses oleh sistem  Operator komputer mengetahui bahwa data pengujian sedang dijalankan, sehingga dapat mengurangi validitas output.  Lingkup pengujian terbatas pada imajinasi ouditor dan pengetahuan tentang pengendalian dalam aplikasi. Fasilitas Pengujian Terintegrasi Pendekatan fasilitas pengujian terintegrasi (integrated test facility/ITF approuch) membutuhkan pembentukan suatu sub sistem yang kecil (suatu perusahaan mini) dalam sistemteknologi reguler. Hal ini dapat dengan menciptakan file master buatan atau catatan arsip buatan ke dalam arsip klien yang ada.
  • 47. Menilai Pengendalian Teknologi Informasi 1. Mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur untuk memperoleh suatu pemahaman 2. Mengidentifikasi salah saji professional 3. Mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan Keberadaan Bukti Lain Auditor seharusnya mempertimbangkan keberadaan bukti lain dari pengujian pengendalian(existance of other evdence from test of controls). Keputusan Pemilihan Staff Suatu keputusan akhir audit melibatkan pemilihan staf untuk pengujian pengendalian (staffing for test of controls), atau siapa yang seharusanya melaksanakan pengujian pengendalian. Pertimbangan Tambahan Auditor secara khusus pertama kali menilai resiko pengendalian untuk asersi yang berkenaan dengan kelas transaksi seperti penerimaan kas dan pengeluaran kas. Penilaian tersebut kemudian digunakan untuk menilai resiko pengendalian asersi saldo akun yang signifikan sehingga kesesuaian dari tingkat pengujian substantif yang direncanakan untuk saldo akun dapat ditentukan, dan pengujian substantif khusus dapat dirancang. Proses ini dipertimbangkan selanjutnya, pertama untuk akun-akun yang dipengaruhi oleh suatu kelas transaksi tunggal dan kemudian untuk akun-akun yang dipengaruhi oleh kelas transaksi berganda. SAMPLE AUDIT Sampling audit adalah penerapan prosedur audit terhadap kurang dari seratus persen unsur dalam suatu saldo akun atau kelompok transaksi dengan tujuan untuk menilai beberapa karakteristik saldo akun atau kelompok transaksi tersebut.1 Seksi ini memberikan panduan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel audit. Ada dua pendekatan umum dalam sampling audit: nonstatistik dan statistik. Kedua pendekatan tersebut mengharuskan auditor menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian sampel, serta dalam menghubungkan bukti audit yang dihasilkan dari sampel dengan bukti audit lain dalam penarikan kesimpulan atas saldo akun atau kelompok transaksi yang berkaitan. Panduan dalam Seksi ini berlaku baik untuk sampling audit secara statistik maupun nonstatistik
  • 48. KETIDAKPASTIAN DAN SAMPLING AUDIT Beberapa tingkat ketidakpastian secara implisit termasuk dalam konsep “sebagai dasar memadai untuk suatu pendapat” yang diacu dalam standar pekerjaan lapangan ketiga. Dasar untuk menerima beberapa ketidakpastian timbul dari hubungan antara faktor-faktor seperti biaya dan waktu yang diperlukan untuk memeriksa semua data dan konsekuensi negatif dari kemungkinan keputusan yang salah yang didasarkan atas kesimpulan yang dihasilkan dari audit terhadap data sampel saja. Risiko Sampling Auditor harus menerapkan pertimbangan profesional dalam menentukan risiko sampling. Dalam menyelenggarakan pengujian substantif atas rincian, auditor memperhatikan dua aspek daririsiko sampling: Risiko keliru menerima (risk of incorrect acceptance), yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan basil sampel, bahwa saldo akun tidak berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun telah salah saji secara material. Risiko keliru menolak ( risk of incorrect reject ion) , yaitu risiko mengambil kesimpulan, berdasarkan hasil sampel, bahwa saldo akun berisi salah saji secara material, padahal kenyataannya saldo akun tidak berisi salah saji secara material. Sampling Dalam Pengujian Substantif Rinci Perencanaan Sampel Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk melaksanakan audit atas laporan keuangan. Untuk panduan umum perencanaan, lihat SA Seksi 311 [PSA No. 05] Perencanaan dan Supervisi. Dalam perencanaan sampel untuk pengujian substantif rinci, auditor harus mempertimbangkan: - Hubungan antara sampel dan tujuan audit yang relevan. Lihat SA Seksi 326 [PSA No. 07] Bukti Audit. Sampling Audit - Pertimbangan pendahuluan atas tingkat materialitas. - Tingkat risiko keliru menerima yang dapat diterima (allowable risk of incorrect acceptance). - Karakteristik populasi, yaitu unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi perhatian.
  • 49. SAMPLING DALAM PENGUJIAN PENGENDALIAN Perencanaan Sampel Dalam perencanaan sampel audit tertentu untuk pengujian pengendalian, auditor harus mempertimbangkan: a. Hubungan antara sampel dengan tujuan pengujian pengendalian. b. Tingkat penyimpangan maksimum dari pengendalian yang ditetapkan yang akan mendukung tingkat risiko pengendalian yang direncanakan. c. Tingkat risiko yang dapat diterima auditor atas penentuan risiko pengendalian yang terlalu rendah. d. Karakteristik populasi, yaitu, unsur yang membentuk saldo akun atau kelompok transaksi yang menjadi fokus perhatian. Pemilihan Sampel Unsur sampel harus dipilih sedemikian rupa sehingga sampel yang terpilih diharapkan dapat mewakili populasi. Oleh karena itu, semua unsur dalam populasi harus memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih. Pemilihan secara acak merupakan salah satu cara pemilihan sampel tersebut. Ada tiga metode pemilihan sampel yang umum digunakan: (1) pemilihan acak (random selection), yaitu setiap unsur dalam populasi atau dalam setiap strata memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, (2) pemilihan sistematik (systematic selection), yaitu pemilihan unsur dengan menggunakan interval konstan di antara yang dipilih, yang interval permulaannya dimulai secara acak, (3) pemilihan sembarang (haphazard selec-tion), yang merupakan alternatif pemilihan acak, dengan syarat auditor mencoba mengambil sampel yang mewakili dari keseluruhan populasi tanpa maksud untuk memasukkan atau tidak memasukkan unit tertentu ke dalam sampel yang dipilih. Idealnya, auditor harus menggunakan metode pemilihan yang memiliki kemampuan untuk memilih unsur dari seluruh periode yang diaudit. SA Seksi 319 [PSA No. 23] Pertimbangan Pengendalian Intern dalam Audit Laporan Keuangan paragraf 73 memberikan panduan yang dapat diterapkan dalam penggunaan sampling oleh auditor selama periode interim dan periode sisanya. Kinerja dan Penilaian Prosedur audit memadai untuk mencapai tujuan pengujian pengendalian harus dilaksanakan terhadap setiap unsur sampel. Jika auditor tidak dapat menerapkan prosedur audit yang direncanakan atau prosedur alternatif memadai terhadap unsur sampel yang terpilih, ia harus mempertimbangkan penyePERTEMUAN keterbatasan tersebut , dan ia biasanya harus mempertimbangkan unsur yang terpilih tersebut sebagai penyimpangan dari prosedur atau kebijakan yang telah ditetapkan untuk tujuan penilaian sampel.
  • 50. SOAL LATIHAN PERTEMUAN V
  • 51. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 6 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 6 Mahasiswa dapat mengenali bentuk, isi, fungsi, dan kegunaan kertas kerja audit, serta memahami mekanisme pengerjaan kertas kerja audit Kertas kerja pemeriksaan ( Audit Working Paper)  Pengertian kertas kerja audit  Tujuan kertas kerja audit  Current file dan permanent  Criteria pembuatn kertas kerja audit  Pemilikan dan penyimpanan kertas kerja audit  Working balance sheet & working profit and loss  Top schedule and supporting schedule 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 6 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 52. PERTEMUAN VI KERTAS KERJA AUDIT KERTAS KERJA AUDIT (WORKING PAPER) Kertas kerja audit merupakan kertas-kertas yang diperoleh akuntan selama melakukan pemeriksaan dan dikumpulkan untuk memperlihatkan pekerjaan yang telah dilaksanakan, metode dan prosedur pemeriksaan yang diikuti serta kesimpulan-kesimpulan yang telah dibuatnya. Contoh kertas kerja antara lain :Catatan memo ; Hasil analisa jawaban konfirmasi, Clients Representation Letter ; Komentar yang dibuat atau didapat oleh akuntan pemeriksa ; Tembusan (copy) dari dokumen penting dari suatu daftar baik yang diperoleh ataupun yang didapat dari klien dan diverifikasi oleh akuntan. Dengan kata lain kertas kerja audit dapat berasal dari pihak klien, hasil analisis yang dibuat auditor atau dari pihak ketiga yang independen baik secara langsung maupun tidak langsung. Berkas kertas kerja yang berasal dari klien dapat berupa :Neraca Saldo (Trial balance), Rekonsiliasi bank (Bank reconciliation), Analisa Umur Piutang (Accounts Receivable Aging Schedule), Rincian Persediaan (Final Inventory List), Rincian Utang, Rincian Biaya Umum dan Administrasi, Rincian Biaya Penjualan, Surat Pernyataan Langganan. Hasil analisis yang dibuat oleh auditor , misalnya : Berita Acara Kas Opname (Cash Count Sheet), Internal Control Questionare dan evaluasi serta hasil analisis pengendalian interen. Analisis Aktiva Tetap, Analisis kecukupan allowance for bad debt (penyisihan piutang/cadangan kerugian piutang), Working Trial Balance , atau dapat dipecah menjadi dua yaitu Working Balance sheet dan Working Profit and Loss, Top Schedule, Supporting Schedule, Konsep Laporan Audit . Berkas yang diperoleh dari pihak ketiga yang independen meliputi antara lain : Hasil konfirmasi piutang, Hasil konfirmasi utang, Informasi dari bank, Pernyataan dari penasihat hukum. Kertas kerja yang dikumpulkan oleh akuntan merupakan data-data rahasia yang menjadi milik perusahaan, oleh karenanya akuntan berkewajiban untuk menjaga kerahasiaan tersebut jangan sampai data tersebut jatuh pada pihak-pihak yang tidak diinginkan perusahaan.
  • 53. Isi Kertas Kerja Audit Kertas kerja harus cukup memperlihatkan bahwa catatan akuntansi cocok dengan laporan keuangan atau informasi lain yang dilaporkan serta standar auditing yang dapat diterapkan telah dilaksanakan. Dalam SA 339 dikemukakan bahwa kertas kerja biasanya berisi dokumentasi yang memperlihatkan : o Pemeriksaan telah direncanakan dan disupervisi dengan baik, yang menunjukkan dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan yang pertama. o Pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern telah diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang telah dilakukan. o Bukti audit telah diperoleh, prosedur pemeriksaan yang telah diterapkan dan pengujian yang telah dilaksanakan, yang memberikan bukti kompeten yang cukup sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan, yang menunjukkan dilaksanakannya standar pekerjaan lapangan yang ketiga. Tujuan Pembuatan Kertas Kerja Audit • Untuk mengkoordinasi dan mengorganisasi semua tahap pengauditan • Sebagai pendukung yang penting terhadap pendapat akuntan atas laporan keuangan yang diauditnya • Sebagai penguat kesimpulan akuntan dan kompetensi pengauditannya. • Sebagai Pedoman dalam pengauditan berikutnya. Teknik Dasar Pembuatan Kertas Kerja Audit Ada empat tehnik dasar yang digunakan dalam pembuatan kertas kerja. Keempat tehnik tersebut adalah : · Pembuatan heading. · Nomor indeks · Tick marks · Pencantuman tanda tangan pembuat maupun penelaah, dan tanggal pembuatan serta penelaahan.
  • 54. Faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan kertas kerja audit : a) Kertas Kerja kerja harus dibuat lengkap. b) Teliti. c) Ringkas. d) Jelas. e) Rapi. Tipe Kertas Kerja : • Audit program Agar tak menimbulkan kerancuan istilah maka perlu dipisahkan pengertian Audit program dan Audit Procedure. Audit program (program pemeriksaan) merupakan daftar prosedur pengauditan untuk seluruh pemeriksaan elemen tertentu. Sedangkan Procedure audit adalah instruksi terinci untuk mengumpulkan tipe bukti pemeriksaan tertentu yang harus diperoleh pada saat pemeriksaan. Program pemeriksaan dapat digunakan untuk merencanakan berapa orang yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan, serta jadwal pemeriksaan yang direncanakan. • Working Trial Balance Merupakan suatu daftar yang memuat saldo dari seluruh rekening buku besar pada akhir tahun yang diperiksa dari akhir tahun sebelumnya, koreksi yang diusulkan serta saldo menurut hasil pemeriksaan. Kertas kerja ini dapat pula dipisahkan menjadi Working Balance Sheet dan Working Profit and Loss. • Summary of adjusment journal entries Ringkasan ini merupakan daftar yang berisikan journal-journal koreksi yang diusulkan kepada klien yang diperoleh selama pemeriksaan berlangsung. • Top Schedules Merupakan kertas kerja pemeriksaan yang digunakan untuk meringkas informasi yang dicatat dalam daftar pendukung untuk rekening-rekening yang berhubungan. • Supporting schedules Merupakan kertas kerja yang memuat detail dari pada temuan hasil pemeriksaan, serta koreksi-koreksi yang ada, serta memuat berbagai informasi dan teknik pemeriksaan yang dilaksanakana oleh akuntan. Dengan kata lain supporting schedule merupakan rincian dari pada top schedule.
  • 55. TAHAP PENYUSUNAN AUDITED FINANCIAL STATEMENTS. a. Pembuatan atau pengumpulan daftar pendukung (supporting schedules) sebagai langkah pengumpulan bukti pemeriksaan. b. Penyusunan daftar utama (lead schedules atau top schedules) dengan cara meringkas supporting schedules dan summary of adjustment journals entris. c. Meringkas informasi yang tercantum dalam daftar utama dan daftar pendukung ke dalam Working Trial Balance. d. Menyusun Audited Financial Statements. SUSUNAN KERTAS KERJA AUDIT.  Draft laporan pemeriksaan ( audit report ).  Audited financial statements.  Ringkasan informasi bagi penelaah.  Program pemeriksaan.  Laporan keuangan atau neraca lajur yang dibuat klien.  Ringkasan journal adjustment.  Working trial balance.  Top schedule.  Supporting schedule. PENGARSIPAN KERTAS KERJA AUDIT. Current File, yaitu arsip pemeriksaan tahunan yang diperoleh dari pemeriksaan tahun berjalan, informasi dari current file pada umumnya mempunyai manfaat untuk tahun yang diperiksa.Contoh : Neraca saldo, Berita acara kas opname, Rekonsiliasi bank, Rincian piutang, Rincian persediaan Rincian utang, Rincian biaya dan lain lain. Permanent File, merupakan arsip kertas kerja yang secara relatif tidak mengalami perubahan. Arsip ini dapat digunakan berulang ulang untuk beberapa periode pengauditan. Contoh : Akte pendirian,Accounting manual (pedoman akuntansi), Kontrak kontrak,Notulen rapat
  • 56. Tujuan dari permanent file : • Sebagai acuan yang digunakan untuk pemeriksaan tahun-tahun mendatang. • Memberikan ringkasan mengenai kebijakan dan organisasi klien bagi staff yang baru pertamakali menangani pemeriksaan laporan keuangan. • Untuk menghindari pengulangan pembuatan kertas kerja yang sama dari tahun ke tahun. Corespondence file, merupakan arsi surat menyurat, facsimili dan lain lain. KEPEMILIKAN KERTAS KERJA AUDIT. Kertas kerja audit akuntan yang disusun selama pelaksanaan audit, baik yang disusun oleh auditor sendiri maupun yang disusunkan oleh klien untuk auditor, adalah milik auditor (akuntan publik) ; oleh karena itu semua kertas kerja tersebut harus disimpan oleh auditor dengan sebaik-baiknya, dalam arti disimpan secara teratur sesuai dengan urutan yang logis. Walaupun kertas kerja tersebut milik auditor, tetapi auditor dilarang memperlihatkan atau membocorkan informasi yang ada pada kertas kerja tersebut kepada pihak ketiga tanpa seizin kliennya, kecuali atas perintah pengadilan atau profesi akuntan. Selama melaksanakan audit, auditor memperoleh sejumlah informasi yang sifatnya rahasia antara lain berupa informasi tentang gaji karyawan penting (key personels), rencana advertensi, data biaya produksi dan metode penentuan harga jual produk. Jika auditor membocorkan informasi-informasi pada pihak ketiga atau kepada karyawan kliennya, maka auditor tersebut dapat dimintai pertanggung jawabannya atau dituntut ke pengadilan. Test Of Control Test of control atau dalam bahasa indonesia disebut sebagai uji pengendalian adalah prosedur audit yang umum dilakukan untuk mengetahui apakah sistem pengendalian yang dilakukan oleh organisasi sudah berjalan efektif. Pengujian pengendalian atau test of control dilakukan untuk memperoleh bukti audit tentang efektivitas rancangan dan operasi kebijakan atau prosedur struktur pengendalian internal. Sebagai contoh, prosedur pengendalian internal komputer menggunakan jumlah berkas [total batch] untuk memastikan bahwa semua berkas transaksi telah dicatat. Apabila jumlah nilai uang yang diproses dalam berkas tersebut tidak cocok, maka transaksi jumlah berkas tersebut tidak akan
  • 57. diproses dan sebagai gantinya dicetak suatu laporan pengecualian atau exception report. Auditor dapat menguji efektivitas pengendalian dengan cara memasukan data uji yang mengandung kesalahan pada total batch dan mengamati apa yang terjadi dengan data uji tersebut. Pengujian pengendalian juga meliputi permintaan keterangan kepada para pekerja mengenai apa yang mereka ketahui tentang efektivitas dari pengendalian tersebut da memeriksa laporan pengecualian yang telah dihasilkan oleh pengendalian internal klien. Kinerja pengujian pengendalian tidak diharuskan dalam audit laporan keuangan. Namun, hal itu dilaksanakan dalam banyak audit dengan populasi yang besar karena efektivitas biaya. Pengujian Substantif Pengujian substantif terdiri dari: 1. Prosedur analitis 2. Pengujian terinci atas transaksi 3. Pengujian terinci atas saldo Pengujian substantif memberikan bukti tentang kelayakan asersi laporan keuangan klien. Prosedur analitis meliputi penggunaan perbandingan untuk menilai kewajaran, misalnya membandingkan saldo suatu akun dengan data nonkeuangan yang terkait dengan saldo akun tersebut. Pengujian terinci atas transaksi meliputi pemeriksaan dokumen pendukung dari setiap satuan transaksi yang dibukukan pada sebuah akun tertentu, misalnya melakukan pemeriksaan dokumen pendukung [vouching] untuk sisi debet akun piutang usaha terdapat ayat jurnal pada jurnal penjualan serta faktur pendukung penjualan. Selain itu dilakukan juga penelusuran rinci dari dokumen asli atau dokumen sumber terhadap buku jurnal serta buku besar yang terkait dengan transaksi tersebut yang dapat digolongkan juga sebagai pengujian terenci atas transaksi. Sedangkan pengujian terinci atas saldo meliputi pemeriksaan dokumen pendukung untuk saldo akhir secara langsung, misalnya melakukan konfirmasi langsung kepada salah seorang pelanggan tentang saldo piutang uasaha. Ketiga jenis pengujian substantif tersebut merupakan hal yang komplementer. Pengujian mana yang akan digunakan untuk suatu akun tertentu dapat bervariasi berdasarkan faktor-faktor seperti efektivitas relatif untuk akun dan biaya.
  • 58. Test Of Transaction Test of transactions atau dalam bahasa indonesia disebut test atas transaksi merupakan bagian dari prosedur audit yang bertujuan untuk menguji pengendalian internal sebuah organisasi. Auditor menggunakan test terhadap transaksi untuk mengevaluasi apakah kesalahan atau proses yang tidak biasa terjadi pada transaksi yang mengakibatkan kesalahan pencatatan material pada laporan keuangan. Perbedaan test ini dengan test sebelumnya (test of control) adalah dalam test sebelumnya pengujian yang dilakukan tanpa memandang nilai moneter, namun dalam test of transactions nilai moneter menjadi salah satu objek yang akan di uji. Tes ini dilaksanakan dengan menelusuri jurnal transaksi dari sumber dokumen, memeriksa file, dan mengecek keakuratan. Hal ini perlu dilakukan karna sangat berpengaruh pada opini auditor yang akan diberikan mengenai kewajaran penyajian laporan keuangan. Umumnya Auditor akan mengambil sampel transaksi yang akan di uji dan melihat seberapa besar tingkat kesalahan yang dihasilkan, berdasarkan tingkat kesalahan tersebut auditor dapat menentukan apakah mereka dapat mengandalkan informasi yang tersedia baik di buku besar maupun jurnal pencatatan transaksi. Berdasarkan hasil tersebut pula maka auditor dapat menentukan ruang lingkup pekerjaan audit.
  • 59. LATIHAN SOAL PERTEMUAN VI
  • 60. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 7 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 7 Mahasiswa dapat memahami bagaimana cara melakukan perencanaan audit, membuat audit program, melaksanakan audit prosedur, dan konsep materialitas serta risiko audit Audit plan, program audit, audit procedures and Audit Technique, Audit risk and matreiality Audit plan Audit program Audit Prosedur dan teknik Audit Risiko audit dan materialitas 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 7 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 61. PERTEMUAN VII AUDIT PROGRAM Personel yang mengelola program audit hendaknya mengimplementasikan program audit dengan cara sebagai berikut: 1. Menginformasikan bagian yang terkait dalam program audit kepada pihak yang relevan dan menginformasikan perkembangannya secara berkala 2. Mendefinisikan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria dari setiap audit individual 3. Mengkoordinasikan dan menjadwalkan audit serta aktivitas lain yang terkait dengan program audit 4. Memastikan seleksi tim audit dilakukan berdasarkan kompetensi yang sesuai 5. Menyediakan sumber daya yang sesuai pada tim audit 6. Memastikan pelaksanaan audit dilakukan sesuai dengan program audit dan dalam rentang waktu yang disetujui 7. Memastikan aktivitas audit terdokumentasi dan dikelola serta dipelihara dengan baik Mendefinisikan Tujuan, Ruang Lingkup, dan Kriteria Setiap Audit Individual Setiap audit individual hendaknya didasarkan pada tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit yang terdokumentasi. Hal ini hendaknya ditetapkan oleh personel yang mengelola program audit dan konsisten dengan tujuan program audit secara umum. Tujuan audit merupakan hal yang harus dijawab secara tuntas oleh audit individual dan dapat mencakup: 1. Penentuan ruang lingkup kesesuaian pada sistem manajemen yang diaudit, atau bagian dari itu, dengan kriteria audit 2. Penentuan ruang lingkup kesesuaian aktivitas, proses, dan produk dengan persyaratan serta prosedur dari sistem manajemen 3. Evaluasi kapabilitas sistem manajemen untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan legal dan kontrak serta persyaratan lain yang dianut oleh organisasi
  • 62. 4. Evaluasi efektivitas sistem manajemen terhadap tujuan yang spesifik 5. Identifikasi area perbaikan potensial pada sistem manajemen Ruang lingkup audit hendaknya konsisten dengan program audit dan tujuan audit. Hal ini mencakup faktor seperti lokasi fisik, unit organisasi, aktivitas dan proses yang diaudit, sejalan dengan periode waktu yang tercakup oleh audit. Kriteria audit digunakan sebagai referensi guna menetapkan kesesuaian dan dapat mencakup kebijakan, prosedur, standar, persyaratan legal, persyaratan sistem manajemen, persyaratan kontrak, kode etik tertentu atau pengaturan perencanaan lain yang sesuai. Dalam kejadian setiap perubahan pada tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit, program audit hendaknya dimodifikasi jika perlu. Jika dua atau lebih sistem manajemen dari disiplin yang berbeda diaudit bersama dalam audit kombinasi, sangat penting untuk memastikan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria audit konsisten dengan tujuan dari program audit yang relevan. Pemilihan Metode Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menyeleksi dan menetapkan metode yang efektif untuk pelaksanaan audit, disesuaikan dengan tujuan, ruang lingkup, dan kriteria yang ditetapkan. Jika dua atau lebih organisasi audit melakukan audit bersama pada auditee yang sama, personel yang mengelola program audit yang berbeda hendaknya setuju pada metode audit dan mempertimbangkan implikasi untuk sumber daya dan perencanaan audit. Jika auditee menggunakan dua atau lebih sistem manajemen pada disipilin yang berbeda, audit kombinasi perlu dimasukkan ke dalam program audit. Pemilihan Anggota Tim Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menunjuk anggota tim audit, mencakup ketua tim dan tenaga ahli yang dibutuhkan untuk audit yang spesifik. Tim audit hendaknya diseleksi, sesuai kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit individual dalam ruang lingkup yang ditetapkan. Jika hanya terdapat 1 orang auditor, ia hendaknya tampil dalam kapasitas sebagai ketua tim.
  • 63. Dalam memutuskan ukuran dan komposisi tim audit untuk audit yang speisifik, pertimbangan hendaknya diberikan pada hal-hal berikut: 1. Kompetensi umum tim audit yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit dengan memperhitungkan ruang lingkup dan kriteria audit 2. Kompleksitas audit dan jika audit dilakukan secara kombinasi atau bersama-sama 3. Metode audit yang digunakan 4. Persyaratan kontrak dan legal serta lainnya yang dianut oleh organisasi 5. Keperluan untuk memastikan independensi anggota tim audit dari aktivitas yang diaudit dan untuk menghindari konflik atau kepentingan tertentu 6. Kemampuan anggota tim audit untuk berinteraksi secara efektif dengan perwakilan auditee dan untuk bekerja bersama 7. Bahasa yang digunakan saat audit, serta karakteristik sosial dan budaya auditee. Isu ini terkait dengan kemampuan auditor sendiri, atau melalui dukungan tenaga ahli. Untuk memastikan kompetensi umum tim audit, tahapan yang harus dilakukan adalah: 1. Identifikasi pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan audit 2. Seleksi tim audit sesuai pengetahuan dan kemampuan yang dibutuhkan tersebut Jika, semua kompetensi yang dibutuhkan tidak dimiliki oleh auditor di dalam tim audit, tenaga ahli dengan kompetensi tambahan hendaknya diikutsertakan di dalam tim. Tenaga ahli hendaknya bertugas di bawah arahan dari auditor namun tidak bertindak sebagai auditor. Auditor dalam pelatihan dapat diikutsertakan di dalam tim audit, namun partisipasinya dibawah arahan dari auditor. Penyesuaian ukuran dan komposisi tim audit perlu dilakukan selama audit, sebagai contoh jika konflik kepentingan atau isu kompetensi terjadi. Jika situasi tersebut terjadi, hendaknya didiskusikan dengan pihak yang terkait (ketua tim audit, personel yang mengelola program audit, klien audit, atau auditee) sebelum segala penyesuaian dibuat. (Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011)
  • 64. Peran dan Tanggung Jawab Personel yang Mengelola Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya: 1. Menetapkan ruang lingkup program audit 2. Mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko terhadap program audit 3. Menetapkan tanggung jawab audit 4. Menetapkan prosedur untuk program audit 5. Menentukan sumber daya yang dibutuhkan 6. Memastikan implementasi dari program audit, mencakup pelaksanaan tujuan audit, ruang lingkup, dan kriteria dari audit individual, menetapkan metode audit, dan menyeleksi tim audit serta melakukan evaluasi auditor 7. Memastikan catatan program audit yang ada dikelola dan dipelihara 8. Memonitor, meninjau kembali, dan melakukan perbaikan pada program audit Personil yang mengelola program audit hendaknya menginformasikan kepada manajemen puncak perihal muatan program audit, dan jika perlu meminta persetujuan Kompetensi Personel yang Mengelola Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya memiliki kompetensi yang diperlukan untuk mengelola program audit dan resiko yang berhubungan secara efektif dan efisien, sesuai pengetahuan dan kemampuan pada aspek berikut: 1. Prinsip, prosedur, dan metode audit 2. Standar sistem manajemen dan dokumen yang menjadi referensi 3. Aktivitas, produk, dan proses yang dilakukan auditee 4. Persyaratan legal atau lainnya yang relevan dengan aktivitas dan produk auditee 5. Pelanggan, pemasok, dan pihak lain yang terkait dengan auditee, jika dimungkinkan Personel yang mengelola program audit hendaknya melakukan aktivitas pengembangan profesional yang berkesinambungan untuk mempertahankan pengetahuan dan kekmampuan yang diperlukan guna mengelola program audit. Ruang Lingkup Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menetapkan ruang lingkup program audit, yang bisa sangat tergantng pada ukuran dan kebiasaan dari auditee, sesuai dengan keadaan, fungsi, kompleksitas, dan tingkat kematangan, serta hal-hal yang yang berdampak signifikan pada sistem manajemen yang diaudit. Pada kasus tertentu, tergantung pada struktur auditee dan aktivitas yang terjadi, program audit dapat saja hanya memuat audit tunggal.
  • 65. Faktor lain yang memberi pengaruh pada ruang lingkup program audit mencakup hal-hal berikut: 1. Tujuan, cakupan, dan durasi setiap audit dan jumlah audit yang akan dilaksanakan, mencakup juga tindak lanjut audit, jika memungkinkan. 2. Jumlah, kepentingan, kompleksitas, kesesuaian, dan lokasi aktivitas yang diaudit 3. Faktor-faktor yang memberikan pengaruh pada efektivitas sistem manajemen 4. Kriteria audit yang sesuai, seperti pengaturan terencana terhadap standar sistem manajemen yang sesuai, peraturan hukum, dan persyaratan kontrak, serta persyaratan lain yang dianut oleh organisasi 5. Kesimpulan dari audit sebelumnya, internal dan eksternal 6. Hasil dari review program audit sebelumnya 7. Bahasa, budaya, dan isu sosial lainnya 8. Hal-hal yang menjadi perhatian pihak luar, seperti keluhan pelanggan atau ketidaksesuaian dengan persyaratan legal 9. Perubahan signifikan pada auditee dan operasionalnya 10.Ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung aktivitas audit, umumnya pada metode audit di tempat terpencil 11.Kejadian internal dan eksternal, seperti produk gagal, kegagalan keamanan informasi, insiden kesehatan dan keselamatan, tindak kriminal atau insiden lingkungan Identifikasi dan Evaluasi Resiko Program Audit Terdapat banyak resiko berbeda yang berhubungan dengan penetapan, implenetasi, pemantauan, peninjauan dan perbaikan program audit yang bisa memberikan dampak pada tujuan. Personel yang mengelola program audit hendaknya mempertimbangkan resiko tersebut. Beberapa resiko yang relevan adalah sebagai berikut: 1. Perencanaan, contoh: kegagalan menetapkan tujuan audit yang relevan dan menetapkan ruang lingkup program audit 2. Sumber Daya, contoh: tidak cukup waktu yang memungkinkan untuk mengembagkan program audit atau melaksanakan audit 3. Seleksi Tim Audit, contoh: tim tidak memiliki kompetensi kolektif untuk melaksanakan audit secara efektif 4. Implementasi, contoh: komunikasi program audit yang tidak efektif 5. Catatan dan Pengendaliannya, contoh: kegagalan untuk melindungi catatan audit secara baik 6. Pemantauan, Peninjauan, dan Perbaikan Program Audit, contoh: pemantauan yang tidak efektif dari keluaran program audit
  • 66. Penetapan Prosedur untuk Program Audit Personel yang mengelola program audit hendaknya menetapkan satu atau lebih prosedur berikut, sejauh diperlukan: 1. Perencanaan dan penjadwalan audit dengan mempertimbangkan resiko 2. Pemastian keamanan dan kerahasiaan informasi 3. Penjaminan kompetensi audit dan ketua tim audit 4. Seleksi tim audit yang sesuai dan pemberian wewenang serta tanggung jawab 5. Pelaksanaan audit, mencakup penggunaan metode pengambilan sampel yang sesuai 6. Pelaksanaan tindak lanjut audit, jika diperlukan 7. Pelaporan kepada manajemen puncak terkait pencapaian umum dari program audit 8. Pemeliharaan catatan program audit 9. Pemantauan dan peninjauan performa dan resiko, serta perbaikan efektivitas dari program audit Identifikasi Sumber Daya Progam Audit Ketika mengidentifikasi sumber daya untuk program audit, personel yang mengelola program audit hendaknya mempertimbangkan: 1. Sumber daya finansial yang sesuai untuk pengembangan, implementasi, pengelolaan, dan perbaikan aktivitas audit 2. Metode audit 3. Ketersediaan auditor dan ahli teknis yang memiliki kompetensi yang sesuai terkait tujuan umum program audit 4. Ruang lingkup program audit dan resikonya 5. Waktu dan biaya perjalanan, akomodasi, dan kebutuhan audit lainnya 6. Ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi (Diterjemahkan dari ISO 19011: 2011) Tujuan dapat didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan berikut: 1. Prioritas manajemen 2. Tujuan komersial atau kepentingan bisnis lainnya 3. Karakteristik proses, produk, dan proyek serta segala perubahan yang relevan 4. Persyaratan sistem manajemen 5. Persyaratan legal dan kontrak, serta persyaratan lainnya yang dianut oleh organisasi 6. Keperluan untuk evaluasi pemasok 7. Keperluan dan ekspektasi pihak lain, termasuk pelanggan
  • 67. 8. Tingkat kinerja auditee, yang direfleksikan dari kejadian kegagalan atau insiden atau keluhan pelanggan 9. Resiko terhadap auditee 10.Hasil dari audit sebelumnya 11.Level kematangan dari sistem manajemen yang diaudit Contoh tujuan program audit adalah sebagai berikut: 1. Untuk memberikan kontribusi terhadap perbaikan sistem manajemen dan kinerjanya 2. Untuk memenuhi persyaratan eksternal, seperti sertifikasi suatu standar sistem manajemen 3. Untuk memverifikasi kesesuaian dengan persyaratan kontrak 4. Untuk mencapai dan mempertahankan kepercayaan terhadap kapabilitas pemasok 5. Untuk menentukan efektivitas sistem manajemen Untuk mengevaluasi kesesuaian tujuan sistem manajemen dengan kebijakan sistem manajemen dan tujuan organisasi secara keseluruhan. Contoh Audit Program: Budget Hours Procedures Completed by/Date W/P Ref. Scope This audit will review (Key or Internal) Performance Measures reported data for FY XXXX. Objectives 1. Meet the requirement of OAR 125-700-0050. 2. Determine accuracy/reliability of the data reported in the agencies (Key or Internal) Performance Measures report for FY XXXX. 3. Help ensure Management that the agency’s performance measures are:  Documented – appropriate information behind the measures exists;  Repeatable – can be accurately re-created; and  Consistent – reported the same year to year. General Audit Steps
  • 68. Budget Hours Procedures Completed by/Date W/P Ref. 1. During audit work be aware of management accomplishments and report as necessary. 2. During audit work be aware of potential areas for fraud and report to management as necessary. 3. Discuss the areas of greatest risk and exposure with management. Also, include suggested objectives and test procedures. Discuss with Management. 4. Document and perform any additional audit steps deemed necessary. Fieldwork 1. Conduct an entrance conference with the Performance Measure Coordinator and appropriate members of management. 2. Obtain and review appropriate background information including: a) pertinent laws, rules, regulations and performance measure reporting guidelines b) Agency strategic plan c) Any previous audit reports of agency’s performance measures 3. Obtain and review documentation of key performance measures to determine completeness. Each measure’s documentation should include: a) Definition of all components of the measure b) Identification of the source of the data c) Statement of all calculations involved in creating the final number d) Methodology used for calculations e) Definition of the timelines of data gathering and the frequency of reporting f) Reports include current performance data, trends, targets and/or required levels of performance and dates of performance 4. Interview the Performance Measure Coordinator, data owners, and other pertinent personnel as necessary to gain an understanding of performance measurement processes. Request and review any available documentation of the performance measure reporting process including procedures, desk manuals of appropriate staff, or flowcharts. 5. Determine which key performance measures to test using the following information: a) Risk assessment results b) Measures that represent the major business lines and their products and services, quality elements, outcomes and those of significant customer interest or input 6. Identify testing methodology and sample plan for each data set to be tested.  Determine number of reports to include in testing per each
  • 69. Budget Hours Procedures Completed by/Date W/P Ref. measure depending on length of reporting period. Include a reasonable represented sample for each measure – recommended use at least 2 reporting periods for each measure (For example, if a measure is based on a population survey conducted every 2 years, you may include the last 4 reports in testing.) Sufficient data for each measure must be reviewed to allow a conclusion to be drawn.  Review each measure’s definition and calculation for accuracy and determine the degree of deviation for each, if any.  For each measure, determine how the data is kept and identify the source of documentation review – manual (paper files) or automated (computer – application or spreadsheet) system. 7. Determine if adequate controls are in place for each measure being tested. Begin this review at the point of incoming information and end at the point when calculated performance information is reported.  For a manual system: Determine if documentation exists to outline how and when performance information is first recorded, and for collecting and calculating the information. There should be consistencies in staff understanding and application of the procedures and staff should understand the source of the information and be familiar with any modifications. Are regular reviews taking place to ensure consistency?  For an automated system: Ensure staff performing data entry have been trained and have access to guidelines and procedures. Perform testing to ensure the computer program being utilized is obtaining the correct data and making the correct calculations. System data, summary information and measure calculations should be reviewed for correctness on a regular cycle. 9. Determine if the performance data can be recreated. Obtain performance measure reports and all supporting raw data for measures selected for review. Using the documentation for each measure, determine the method used to collect and calculate the performance data. Using the raw data, recalculate all of the performance measure information based on the defined calculations in the documentation for each of the measures. Document any miscalculations in the performance measure reports. 10. Request a list of all data elements included in the performance measures to be tested or create a list based on the performance measure documentation already obtained. Verify with appropriate staff that the list is correct and all-inclusive. Obtain data to match the data elements. 11. Test the source documentation for accuracy. Verify that performance measure documentation is complete and accurate. The definition should be adequate to minimize any misunderstanding. The data elements should mirror the data element list. The directions for the calculation of each performance measure should support the performance reported.
  • 70. Budget Hours Procedures Completed by/Date W/P Ref. The data sources(s) listed should be complete and accurate. 12. Review testing results and conclude as to each performance measure’s verification category:  Verified: The performance reported is consistently accurate within plus or minus five percent and adequate controls are in place to ensure consistency and accuracy in collection of all supporting data and subsequent reports.  Verified with Qualifications: The performance reported is consistently accurate within plus or minus five percent, but adequate controls are not in place to ensure continued accuracy. The span of data is less than ideal or the performance measure definition is not followed but the calculation remained within the five percent error range.  Factors Prevented Verification: When documentation is not available and controls are not adequate to ensure consistency and accuracy or the performance measure definition is not followed and the correct measure result cannot be determined.  Inaccurate: The performance reported is commonly not within five percent of actual performance.  Not Applicable: Lack of adequate data exists for review for a justifiable reason, i.e. a new measure. 13. Review methodology behind measure calculations. Determine data type and verify appropriateness of methodology employed (reference guide). 14. Prepare findings for results in the Verified with Qualifications, Factors Prevented Verification and Inaccurate categories. 15. Conclude on the results including listing strengths and opportunities for process improvement in performance measure reporting processes regarding documentation, reports, calculations, data handling and verification category. Reporting 16. Complete and index working papers. 17. Prepare a preliminary draft of the report and forward to CAE, Performance Measure Coordinator, and appropriate Management for review. 18. Have report and supporting work papers reviewed and clear any review notes. 19. Hold exit conference and provide draft to agency; request response and action plan to implement recommendations, if appropriate. 20. Incorporate response into the final report. 21. Distribute final report to management; present to Internal Audit Committee; and submit summary to the Department of Administrative Services Internal Audit Section and Legislative Fiscal Office. 22. Complete quality control worksheet.
  • 71. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 8 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 8 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan kas dan bank secara sederhana Pemeriksaan kas dan bank Sifat dan contoh kas dan bank Tujuan audit kas dan bank Prosedur pemeriksaan kas dan bank 2 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 8 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 72. PERTEMUAN VIII KAS dan SETARA KAS A. Gambaran Umum transaksi siklus dan hubungannya dengan saldo kas Siklus penjualan dan penerimaan kas meliputi keputusan dan proses yang dibutuhkan untuk mengalihkan kepemilikan atas barang dan jasa yang telah tersedia untuk dijual kepada pelanggan. Siklus ini dimulai dengan permintaan oleh pelanggan dan berakhir dengan perubahan atau jasa menjadi piutang usaha dan akhirnya menjadi uang tunai. Didalam penerimaan dan pengeluaran kas terdapat 5 siklus yang secara langsung mempunyai hubungan dengan saldo rekening kas, yaitu : ™ Siklus pendanaan ™ Siklus pengeluaran ™ Siklus Investasi ™ Siklus pendanaan ™ Siklus Jasa jasa Personel Siklus produksi tidak mempunyai hubungan secara langsung dengan penyajian saldo rekening kas, meskipun diakui secara langsung hubungan tersebut ada. Transaksi yang mempengaruhi siklus kas mempunyai mutasi yang tinggi, hal ini dikarenakan kas yang menyangkut aktiva yang terkait dengan pengukuran nilai bersifat sangat likuid. Ini berarti resiko melekat dalam siklus ini sangat tinggi. Semakin tinggi volume transaksi yang terbentuk, maka akan meningkat pula resiko yang melekat dalam penyajian rekening kas dalam neraca. B. Permasalahan Audit Terhadap Saldo Kas Tujuan menyeluruh dalam audit atas siklus penjualan dan penerimaan kas adalah untuk mengevaluasi apakah saldo-saldo yang dipengaruhi oleh siklus ini telah disajikan secara wajar sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku umum. Auditor dalam rangka pelaksanaan audit terhadap saldo rekening kas menghadapi kemungkinan adanya risiko deteksi yang pada dasarnya dipengaruhi oleh tingkat risiko melekat dan risiko pengendalian. Mengingat transaksi yang terbentuk dalam siklus ini demikian besarnya (berpengaruh terhadap ke lima siklus yang lain) dengan sendirinya risiko melekat yang ada dalam siklus ini juga sangat tinggi. Oleh karenanya tujuan audit untuk memperoleh keyakinan terhadap eksistensi dan peristiwa yang melatar belakangi pembentukan transaksi, serta kesempurnaan penyajian elemen kas
  • 73. harus mendapat perhatian yang seksama.sangat berbeda dengan permasalahan dalam pencapaian tujuan memperoleh keyakinan terhadap hak dan kewajiban, maka dalam hal ini tingkat risiko salah saji menjadi sangat rendah. Demikian halnya terhadap tujuan penyajian dan pengungkapannya cenderung beresiko rendah. Namun demikian harus diingat, bahwasanya efektivitas pengendalian terhadap penerimaan dan pengeluaran kas sangat tergantung pada kelima siklus yang terkait dengan rekening kas. Memperhatikan hal-hal yang relevan dengan pengujian ini, maka langkah yang harus dipertimbangkan oleh auditor adalah: 1. auditor menentukan perencanaan pendahuluan auditor terhadap risiko deteksi sebagai dasar penentuan strategi audit terhadap setiap asresi kas, 2. menentukan revisi risiko C. Permasalahan audit terhadap saldo kas Metodologi dalam merancang pengukian atas transaksi penjualan, dapat digunakan untuk merancang pengujian atas transaksi penerimaan kas. Demikian pula, prosedur audit untuk pengujian atas transaksi penerimaan kas akan dikembangkan dengan kerangka kerja seperti yang digunakan dalam penjualan yakni, tujuan pengendalian intern ditentukan, pengendalian intern kunci bagi tiap tujuan ditentukan, pengujian atas pengendalian dikembangkan bagi masing-- masing tujuan, dan dikembangkan pengujian substansif atas transaksi bagi kekeliruan moneter yang dikaitkan dengan masing-masing tujuan. Prosedur audit yang bermanfaat untuk menguji apakah seluruh penerimaan kas telah disetor e rekening bank adalah pembuktian atas penerimaan kas. Dalam pengujian ini total penerimaan kas yang dicatat di jurnal penerimaan kas pada periode tertentu, misalnya satu bulan, direkonsiliasi dengan setoran actual yang dilakukan ke bank untuk periode yang sama. D. Pengendalian Intern terhadap Saldo kas Dokumen dan catatan penting yang biasanya digunakan dalam siklus penjualan dan penerimaan kas adalah sebagai berikut : Pesanan pelanggan (customer order) Merupakan permintaan barang dagangan oleh pelanggan, yaitu dapat diterima melalui telepon, surat, formulir isian yang dikirimkan ke pelanggan yang ada dan pelanggan potensial, melalui wiraniaga, atau cara yang lain. Pesanan Penjualan (sales Order) Merupakan dokumen untuk mencatat deskripsi, jumlah, dan informasi terkait atas barang yang dipesan oleh pelanggan. Dokumen Pengiriman (Shipping document) Merupakan dokumen yang dibuat untuk memulai pengiriman barang, yang menunjukkan deskripsi atas barang dagang, jumlah yang dikirim, dan data yang relevan.
  • 74. Faktur Penjualan (sales invoice) Merupakan dokumen yang menunjukkan deskripsi dan kuantitas barang yang dijual, harga termasuk ongkos angkut, asuransi, syarat pembayaran, dan data lain yang relevan. Jurnal penjualan (sales Journal) Merupakan jurnal untuk mencatat transaksi penjualan Laporan ikhtisar penjualan (summary sales report) Merupakan dokumen yang dihasilkan komputer yang mengikhtisarkan penjualan untuk satu periode. Notes kredit (credit memo) Merupakan dokumen yang berisi pengurangan jumlah yang ditagih dari pelanggan karena adanya pengembalian barang atau pengurangan harga. Notes pembayaran (remittance advice) Merupakan dokumen yang mendukung faktur penjualan yang dikirim ke pelanggan dan dikembalikan ke penjualan dengan pembayaran tunai. Jurnal penerimaan kas (cah receipt jurnal) Merupakan jumal untuk mencatat penerimaan kas hasil dari penerimaan kas, penjualan tunai dan penerimaan kas yang lain. Nota persetujuan penghapusan piutang (uncollectible account authorization form) Merupakan dokumen yang digunakan didalam perusahaan, yang menunjukkan kewenangan untuk menghapuskan piutang usaha menjadi tak tertagih. Berkas induk piutang usaha (account receivable master file) Merupakan berkas untuk mencatat setiap penjualan, penerimaan kas, dan retur dan pengurangan harga penjualan untuk masing-masing pelanggan dan mengelola saldo perkiman pelanggan Neraca saldo piutang usaha (account receivable trial balance) Merupakan daftar jumlah yang terutang kepada pelanggan pada waktu tertentu. Laporan bulanan (Monthly statement) Merupakan dukumen yang dikirimkan kepada tiap pelanggan yang menunjukkan saldo piutang usaha, jumlah dan tanggal setup penjualan,penerimaan pembayaran tunai, notes kredit yang diterbitkan, dan saldo akhir. Fungsi-fungsi yang terkait dalam transaksi kas Pemrosesan pesanan pelanggan Merupakan penawaran untuk membeli barang dengan ketentuan tertentuPersetujuan penjualan secara kredit Indikasi adanya persetujuan penjualan secara kredit atas permintaan penjualan adalah persetujuan untuk mengirim barang.
  • 75. Pengiriman barang Merupakan titik pertama dari siklus ini dimana aktiva perusahaan meningkat. Penagihan ke pelanggan dan pencatatan penjualan Merupakan alat pemberitahuan ke pelanggan mengenai jumlah yang ditagih atas barang tersebut. Pemrosesan dan pencatatan penerimaan kas Pemrosesan dan pencatatan retur dan pengurangan harga penjualan Bila pelanggan tidak puas dengan barang yang diterima, penjual seringkali menerima pengembalian barang atau memberikan pengurangan harga karena beban tersebut. Penghapusan piutang tak tertagih Bila perusahaan berkesimpulan bahwa suatu jumlah akan tidak tertagih lagi, jumlah tersebut harus dihapuskan. Penyisihan piutang tak tertagih Bila penjualan periode sekarang yang diperkirakan tidak dapat ditagih dimasa depan. E. Pengujian Subtantif terhadap saldo kas Prosedur Audit Awal 1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun yang akan diuji lebih lanjut - Usut saldo kas yang tercantum di neraca ke saldo akun kas yang bersangkutan didalam buku besar. - Hitung kembali saldo akun kas di dalam buku besar - Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun kas - Usut posting pendebitan akun kas ke dalam jurnal yang bersangkutan Prosedur Analitik 2. Lakukan prosedur analitik - Hitung ratio berikut ini : (1) Ratio kas dengan aktiva lancar - Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu, data industri, jumlah yang dianggarkan, atau data lain - Bandingkan saldo kas dengan jumlah yang dianggarkan atau saldo kas akhir tahun yang lalu Pengujian terhadap transaksi Rinci 3. Lakukan pengujian pisah batas transaksi kas • Buatlah rekonsiliasi saldo kas menurut cut off bank statement dengan saldo kas menurut catatan klien • Usut setoran dalam perjalanan (deposit in trnsit) pada tanggal neraca ke dalam cut off bank statement
  • 76. • Periksa tanggal yang tercantum didalam cek yang beredar pada tanggal neraca • Periksa adanya cek kosong yang tercantum di dalam cut off bank statement • Periksa semua cek didalam cut off bark statement mengenai kemungkinanan hilangnya cek yang tercantum sebagai cek yang beredar pada tanggal neraca. 4. Buatlah daftar transfer bank dalam periode sebelum dan sesudah tanggal neraca untuk menemukan kemungkinan terjadinya check kitting. 5. Buatlah dan lakukan analisis terhadap rekonsiliasi bank 4 kolom 6. Periksa adanya kemungkinan penggelapan kas dengan cara lapping penerimaan dan pengeluaran kas 2. Pengujian terhadap akun Rinci 7. Hitung kas yang ada ditangan klien 8. Rekonsiliasi catatan kas klien dengan Rekening Koran bank yang bersangkutan 9. Lakukan konfirmasi saldo kas di bank 10.Periksa cek yang beredar pada tanggal neraca kedalam rekening Koran bank Verifikasi Penyajian dan Pengungkapan Kas 11.Bandingkan penyajian utang usaha dengan prinsip akuntansi berterima umum - Periksa jawaban konfirmasi dari bank mengenai batasan yang dikenakan terhadap pemakaian rekening tertentu klien di bank - Lakukan wawancara dengan manajemen mengenai batasan penggunaan kas klien F. Kertas Kerja Pemeriksaan Konfirmasi saldo kas Di Bank 1. Konfirmasi saldo kas dibank dilakukan oleh auditor dengan cara mengirimkansurat konfirmasi ke bank yang klien merupakan nasabahnya. Informasi yangdimintakan konfirmasi dari bank meliputi : 1. Saldo tiap jenis rekening klien di bank pada tanggal neraca 2. Saldo tiap jenis utang klien ke bank pada tanggal neraca beserta tanggal jatuh tempo, bunga, dan jenis jaminan yang bersangkutan dengan utang tersebut. 3. Saldo utang bersyarat yang mungkin menjadi kewajiban klien, karena klien menanggung utang yang ditarik oleh pihak lain atau mendiskontokanwesel tagih. 4. Batasan-batasan yang dikenakan terhadap rekening bank klien.
  • 77. Contoh surat konfirmasi bank ................ , ..... 20... Kepada Yth ........................... …………………….. kami minta Saudara mengisi informasi yang diperlukan oleh akuntan publik kami : Rimendi & rekan, Jln.Sawa CT VII/94, Yogyakarta seperti formulir berikut ini. Jika jawaban Saudara "tidak ada" harap ditulis demikian pada kolom yang bersangkutan. Kami minta formulir berikut ini Saudara kirimkan di dalam amplop yang kami sertakan bersama surat ini langsung kepada akuntan public kami tersebut di atas. Hormat kami, Okan Sansaha Direktur Keuangan Rekonsiliasi Empat Kolom Rekonsiliasi empat kolom digunakan oleh auditor untuk membuktikan kebenaran saldo kas di bank. Contoh rekonsiliasi empat kolom : PT ................. Pembuktian Ketelitian Saldo Kas Saldo Awal Peneri- maan Penge- luaran Saldo Akhir Saldo kas menurut rekening koran bank Setoran dalam perjalanan awal periode Setoran dalam perjalanan akhir periode Cek yang beredar awal Periode Cek yang beredar akhir Periode Cek yang dibebankan dalam Rekening
  • 78. Cek kosong Saldo bank setelah di-adjust Saldo kas menurut buku Cek kosong Wesel yang ditagih oleh bank belum dicatat didalam buku Biaya administrasi bank Saldo menurut buku setelah di adjust
  • 79. LATIHAN SOAL PERTEMUAN 8
  • 80. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 9 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan piutang Pemeriksaan Piutang Sifat dan contoh Piutang Tujuan pemeriksaan piutang Prosedur pemeriksaan piutang 2 kali tatap muka Sukrisno Agoe buku 1, PERTEMUAN BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 81. PERTEMUAN IX PEMERIKSAAN PIUTANG Pengertian Piutang Usaha Piutang timbul dari beberapa jenis transaksi, di mana yang paling umum ialah dari penjualan barang atau jasa secara kredit. Kredit dapat diberikan dalam bentuk perkiraan terbuka atau berdasarkan instrumen kredit yang sahih, yang disebut surat promes (wesel). Surat promes (promissory note), yang sering disebut wesel (nota), adalah janji tertulis untuk membayar sejumlah uang tertentu atas permintaan atau pada suatu tanggal yang telah ditetapkan. Menurut Donald E. Keiso (2004:386) “piutang adalah klaim uang, barang, jasa kepada pelanggan atau pihak – pihak lainnya.” Menurut Sukrisno Agoes, (2004:173) “piutang usaha adalah piutang yang berasal dari penjualan barang dagangan atau jasa secara kredit.” Menurut Jhon J Wild (2005:260) “Piutang merupakan semua klaim dalam bentuk uang terhadap entitas lainnya, termasuk individu, perusahaan, atau organisasi-organisasi lainnya.” Menurut Mulyadi (2001:257) dalam akuntansi piutang, secara periodik dihasilkan pernyataan piutang yang dikirimkan kepada setiap debitur. Mutasi penjualan adalah disebabkan oleh transaksi penjualan kredit, penerimaan kas dari debitur, retur penjualan, dan penghapusan piutang. Contoh dari piutang usaha menurut Sukrisno Agoes (2004:713) ialah : 1. Piutang Usaha 2. Wesel Tagih 3. Piutang Pegawai. 4. Piutang Bunga 5. Uang Muka 6. Refundable deposit (uang jaminan) 7. Piutang lain-lain
  • 82. 8. Allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih) 2.3.2 Tujuan Audit Piutang Usaha Menurut Sukrisno Agoes (2004:173) tujuan pemeriksaan perkiraan piutang usaha yaitu: 1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengendalian intern (internal control) yang baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas. 2. Untuk memeriksa validity (keabsahan) dan authenticity (ke otentikan) dari pada piutang. 3. Untuk memeriksa collectibility (kemungkinan tertagihnya) piutang dan cukup tidaknya perkiraan allowance for bad debts (penyisihan piutang tak tertagih) 4. Untuk mengetahui apakah ada kewajiban bersyarat (contingent liability) yang timbul karena pendiskontoan wesel tagih (notes receivable) 5. Untuk memeriksa apakah penyajian piutang di neraca sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/Standar Akuntansi Keuangan. 2.3.3 Prosedur Audit Piutang Usaha Menurut Sukrisno Agoes (2004:125) Prosedur audit ialah “langkah- langkah yang harus dijalankan auditor dalam melaksanakan pemeriksaaannya dan sangat diperlukan oleh asisten agar tidak melakukan penyimpangan dan dapat bekerja secara efisien dan efektif.” Prosedur audit dilalukan dalam rangka mendapatkan bahan-bahan bukti (audit evidence) yang cukup untuk mendukung pendapat auditor atas kewajaran laporan keuangan. Sukrisno Agoes (2004:176) menyarankan prosedur audit piutang usaha sebagai berikut: 5. Pelajari dan evaluasi internal control atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan. 6. Buat Top Schedule dan Supporting Schedule piutang pertanggal neraca. 7. Minta aging shedule dari piutang usaha pertanggal neraca yang antara lain menunjukkan nama pelanggan (customer), saldo piutang, umur piutang dan kalau bisa subsequent collections-nya. 8. Periksa mathematicalaccuracy-nya dan check individual balance ke subledger lalu totalnya ke general ledger.
  • 83. 9. Test check umur piutang dari beberapa customer ke subledger piutang dan sales invoice. 10.Kirimkan konfirmasi piutang:  Tentukan dan tuliskan dasar pemilihan pelanggan yang akan dikirim surat konfirmasi.  Tentukan apakah akan digunakan konfirmasi positif atau konfirmasi negatif.  Cantumkan nomor konfirmasi baik di schedule piutang maupun di surat konfirmasi.  Jawaban konfirmasi yang berbeda harus diberitahukan kepada klien untuk dicari perbedaannya.  Buat ikhtisar (summary) dari hasil konfirmasi 11.Periksa subsequent collections dengan memeriksa buku kas dan bukti penerimaan kas untuk periode sesudah tanggal neraca sampai mendekati tanggal penyelesaian pemeriksaan lapangan (audit field work). Perhatikan bahwa yang dicatat sebagai subsequent collectionshanyalah yang berhubungan dengan penjualan dari periode yang sedang diperiksa. 12.Periksa apakah ada wesel tagih (notes receivable) yang didiskontokan untuk mengetahui kemungkinan adanya contingent liability. 13.Periksa dasar penentuan allowance for bad debts dan periksa apakah jumlah yang disediakan oleh klien sudah cukup, dalam arti tidak terlalu besar dan terlalu kecil. 14.Test sales cut-of dengan jalan memeriksa sales invoice, credit note dan lain- lain, lebih kurang 2 (dua) minggu sebelum dan sesudah tanggal neraca. Periksa apakah barang-barang yang dijual melalui invoice sebelum tanggal neraca, sudah dikirim per tanggal neraca. Kalau belum cari tahu alasannya. Periksa apakah ada faktur penjualan dari tahun yang diperiksa, yang dibatalkan dalam periode berikutnya. 15.Periksa notulen rapat, surat-surat perjanjian, jawaban konfirmasi bank, dan correspondence file untuk mengetahi apakah ada piutang yang dijadikan sebagai jaminan. 16.Periksa apakah penyajian piutang di neraca dilakukan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK 17.Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo piutang yang diperiksa.
  • 84. LATIHAN SOAL PERTEMUAN IX
  • 85. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 10 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 10 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan surat berharga dan persediaan Pemeriksaan surat berharga dan pemeriksaan persediaan Pemeriksaan marketable securities Sifat dan contoh surat berharga Prosedur pemeriksaan surat berharga Pemeriksaan persediaan 2 kali tatap muka Sukrisno Agoe buku 1, PERTEMUAN 10&11 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 86. PERTEMUAN X PEMERIKSAAN SURAT BERHARGA SIFAT DAN CONTOH SURAT BERHARGA Investasi dalam surat berharga dapat merupakan aktiva lancar (current assets) atau non current assets tergantung maksud/tujuan dari pembelian surat berharga tersebut. Kalau surat berharga dibeli dengan tujuan untuk memanfaatkan kelebihan dana yang tersedia, biasanya surat berharga tersebut harus mudah diuangkan dalam waktu singkat dan surat berharga tersebut diklasifikasikan sebagai temporary investment atau marketable securities yang merupakan current assets. Misalnya dalam bentuk deposito berjangka (lebih dari tiga bulan) dan surat-surat saham atau obligasi yang marketable. Surat berharga yang digolongkan sebagai long term investment biasanya dibeli dengan tujuan sebagai berikut : - Untuk menguasai manajemen dari perusahaan yang sahamnya dibeli (lebih besar atau sama dengan 50% dari saham yang beredar). - Untuk memperoleh pendapatan yang continue (misal dalam bentuk bunga dari pembelian obligasi. - Sebagai sumber penampungan dari penjualan hasil produksi atau sumber pembelian bahan baku. Menurut PSAK No. 1, hal.1.10 (IAI:2002): Surat berharga diklasifikasikan sebagai aktiva lancar apabila surat berharga tersebut diharapkan akan direalisasi dalam jangka waktu dua belas bulan dari tanggal neraca dan jika lebih dari dua belas bulan diklasifikasikan sebagai aktiva tidak lancar. Akuntansi Untuk Investasi menurut PSAK No. 13, hal.13.1 s/d 13.2 dan 13.4 s/d 13.6 (IAI:2002): Investasi adalah suatu aktiva yang digunakan perusahaan untuk pertumbuhan kekayaan (accretion of wealth) melalui distribusi hasil investasi (seperti bunga,royalti, devidend, dan uang sewa), untuk apresiasi nilai investasi atau untuk manfaat lain bagi perusahaan yang berinvestasi seperti manfaat yang diperoleh melalui hubungan perdagangan. Investasi Lancar adalah investasi yang dapat segera dicairkan dan dimaksudkan untuk dimiliki selama setahun atau kurang. Investasi Jangka Panjang adalah investasi selain investasi lancar.
  • 87. Nilai wajar (fair value) adalah suatu jumlah yang dapat digunakan sebagai dasar pertukaran aktiva atau penyelesaian kewajiban antara pihak yang paham (knowledgeable) dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arm’s length transaction). Nilai pasar adalah jumlah yang dapat diperoleh dari penjualan suatu investasi dalam pasar yang aktif. Dapat dipasarkan berarti terdapat suatu pasar yang aktif darimana suatu nilai pasar (atau beberapa indikator yang memungkinkan nilai pasar dihitung) tersedia. Untuk investasi yang memiliki pasar yang aktif, nilai pasar digunakan sebagai indikator penetapan nilai wajar. Sedangkan untuk investasi yang tidak memiliki pasar yang aktif, cara lain digunakan untuk menentukan nilai wajar. Investasi lancar termasuk dalam aktiva lancar, kenyataan bahwa investasi yang dapat dipasarkan telah dimiliki lebih dari satu tahun tidak membatasi penyajiannya sebagai aktiva lancar. Biaya perolehan suatu investasi mencakup perolehan lain disamping harga beli, seperti komisi broker, jasa bank, dan pungutan oleh bursa efek. Jika suatu atau sebagian investasi diperoleh dengan penerbitan saham atau surat berharga lain, maka biaya perolehannya adalah nilai wajar dari surat berharga yang diterbitkan dan bukan nilai nominal atau par value. TUJUAN PEMERIKSAAN (AUDIT OBJECTIVES) SURAT BERHARGA 1. Untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas temporary dan long term investment. 2. Untuk memeriksa apakah surat berharga yang tercantum dineraca, betul- betul ada, dimiliki oleh dan atas nama perusahaan (client) pertanggal neraca. 3. Untuk memeriksa apakah semua pendapatan dan penerimaan yang berasal dari surat berharga tersebut telah dibukukan dan uangnya diterima oleh perusahaan. 4. Untuk memeriksa apakah penilaian (valuation) dari surat berharga tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK. 5. Untuk memeriksa apakah penyajian di dalam Laporan Keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK. PROSEDUR PEMERIKSAAN SURAT BERHARGAYANG DISARANKAN 1. Pelajari dan evaluasi internal control atas temporary & long term investment. a. Contoh Internal Control Questionnaires untuk Surat Berharga bisa dilihat di Exhibit 10-1. 2. Minta rincian surat berharga yang memperlihatkan saldo awal, penambahan dan pengurangan serta saldo akhirnya. 3. Periksa phisik dari surat-surat berharga tersebut dan juga pemilikannya (apakah atas nama peusahaan). a. Biasanya periksaan phisik dilakukan bersamaan dengan kas opname. Seandainya surat-surat berharga tersebut disimpan oleh pihak ketiga, harus dikirimkan konfirmasi.
  • 88. 4. Cocokkan data-data dalam rincian dengan berita acara pemeriksaan phisik surat berharga tersebut. 5. Periksa mathematical accuracy dari rincian surat berharga. 6. Cocokkan saldo akhir dai rincian tersebut dengan buku besar. 7. Lakukan Vouching atas pembelian dan penjualan surat berharga, terutama perhatikan otorisasi dan kelengkapan bukti pendukungnya. 8. Periksa perhitungan bunga dan dividennya dan perhatikan segi perpajakannya. Periksa apakah bunga/dividen yang diterima telah dibukukan semuanya. 9. Periksa harga pasar dari surat berharga pada tanggal neraca. Untuk temporary investment, valuationnya adalah mana yang lebih rendah antara harga beli dan harga pasar. Untuk long term investment, valuationnya adalah berdasarkan harga beli kecuali jika terdapat tendensi menurunnya harga pasar surat berharga tersebut untuk masa yang cukup panjang. 10.Adakan diskusi dengan manajemen untuk mengetahui apakah ada perubahan tujuan dari pembelian surat berharga yang akan mempengaruhi klasifikasi dari surat berharga tersebut. 11.Periksa subsequent events untuk mengetahui apakah ada transaksi sesudah tanggal neraca yang akan mempengaruhi klasifikasi atau disclosure dari surat-surat berharga tersebut, misalnya penjualan long term investment dalam subsequent period. 12.Periksa apakah penyajiannya sudah sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia/SAK. 13.Tarik kesimpulan mengenai kewajaran saldo temporary & long term investment yang diperiksa. PENYAJIAN DI NERACA Menurut PSAK No. 13 (IAI : 2002) Investasi Lancar Dicatat berdasarkan (a) mana yang lebih rendah antara biaya perolehan dan nilai bersih yang direalisasi, (b) nilai pasar. Investasi Jangka Panjang Dicatat berdasarkan harga perolehan. Jika terdapat penurunan yang tidak bersifat sementara dalam penilaian investasi jangka panjang tersebut, bisa digunakan nilai pasar. Penurunan selain penurunan sementara dalam nilai tercatat investasi jangka panjang dibebankan pada laporan laba rugi. Pemindahan Investasi  Untuk investasi jangka panjang yang direklasifikasikan sebagai invetasi lancar, pemindahan harus dilakukan berdasarkan nilai tercatat.  Investasi yang direklasifikasikan dari lancar ke jangka panjang masing- masing harus dipindahkan pada metode terendah antara biaya dan nilai pasar, atau pada nilai pasar jika investasi tersebut sebelumnya dinyatakan pada nilai tersebut.
  • 89. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 11 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 11 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan pemeriksaan aktiva tetap Pemeriksaan terhadap Siklus Pengeluaran Pemeriksaan terhadap catatan siklus pengeluaran yang berhubungan dengan transaksi pembelian barang atau aktiva tetap 2 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 1, PERTEMUAN 12&13 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 90. PERTEMUAN XI dan XII PEMERIKSAAN SIKLUS PENGELUARAN Siklus pengeluaran terdiri dari transaksi pemerolehan barang atau jasa. Barang yang diperoleh perusahaan dapat berupa aktiva tetap dan surat berharga yang akan digunakan untuk menghasilkan pendapatan dalam jangka waktu lebih dari satu tahun atau sediaan dan surat berharga yang akan dikonsumsi atau digunakan untuk menghasilkan pendapatan dalam jangka waktu satu tahun atau kurang. Jasa yang diperoleh perusahaan juga dapat dibagi menjadi dua, yaitu jasa yang hanya menghasilkan manfaat satu tahun atau kurang (jasa personel, bunga, asuransi, iklan) dan jasa yang menghasilkan manfaat lebih dari satu tahun (aktiva tidak berwujud). 4.1.1. Jenis-jenis akun yang mempengaruhi audit terhadap siklus pengeluaran Dalam siklus ini terdapat dua transaksi pembelian dan transaksi pengeluaran kas. Transaksi pembelian dan pengeluaran kas mempengaruhi sejumlah rekening sebagai berikut : 1. Persediaan 2. Persediaan bahan baku 3. Biaya dibayar dimuka 4. Palnt asset 5. Asset lain-lain (missal : aktiva tak berwujud) 6. Kembalian pembelian 7. Potongan pembelian 8. Berbagai jenis biaya 9. Utang dagang 10. Kas 4.1.2. Tujuan audit terhadap siklus pengeluaran Kelompok Asersi Tujuan audit terhadap golongan transaksi Tujuan audit terhadap saldo akun Keberadaan dan keterjadian Transaksi pembelian mencerminkan barang dan jasa yang baik yang diterima dari pemasok selam periode yang diaudit Transaksi pengeluaran kas mencerminkan pembayaran Hutang usaha yang tercatat mencerminkan jumlah kewajiban entitas yang ada pada tanggal neraca Aktiva tetap mencerminkan aktiva produktif yang masih
  • 91. yang dilakukan kepada pemasok selam periode yang diaudit dimanfaatkan pada tanggal neraca Aktiva tidak berwujud mencerminkan aktiva produktif yang masih dimanfaatkan pada tanggal neraca Kelengkapan Semua transaksi pembelian dan pengeluaran kas yang terjadi selam periode yang diaudit telah dicatat Hutang usaha mencakup semua jumlah yang terhutang kepada pemasok barang dan jasa pada tanggal neraca Saldo aktiva tetap mencakup semua transaksi perubahan yang terjadi selama periode yang diaudit Saldo aktiva tidak berwujud mencakup semua transaksi perubahan yang terjadi selama periode yang diaudit Hak dan kewajiban Entitas memiliki kewajiban sebagai akibat transaksi pembelian yang tercatat dalam periode yang diaudit Entitas memiliki hak atas aktiva tetap sebagai transaksi pembelian yang tercatat dalam periode yang diaudit Entitas memiliki hak atas aktiva tidak berwujud sebagai akibat transaksi pembelian yang tercatat dalam periode yang diaudit Hutang usaha pada tanggal neraca mencerminkan kewajiban entitas kepada pemasok Entitas memiliki hak atas aktiva tetap yang tercatat pada tanggal neraca Entitas memiliki hak atas aktiva tidak berwujud yang tercatat pada tanggal neraca Penilaian atau alokasi Semua transaksi pembelian dan pengeluaran kas yang telah dicatat dalam jurnal, diringkas, dan diposting ke dalam akun dengan benar Hutang usaha dinyatakan dalam jumlah yang benar kewajiban entitas pada tanggal neraca
  • 92. Aktiva tetap dinyatakan pada kas dikurangi akumulasi depresiasi Aktiva tidak berwujud dinyatakan pada kas atau kas dikurangi dengan amortisasi. Biaya yang berkaitan dengan aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud dicatat sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum Penyajian dan pengungkapan Rincian transaksi dan pengeluaran kas mendukung penyajian akun yang berkaitan dalam laporan keuangan, baik klasifikasinya maupun pengungkapannya Hutang usaha, aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud di identifikasi dan diklasifikasikan dengan semestinya dalam neraca Pengungkapan memadai telah berkaitan dengan hutang usaha, aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud Materialitas, Risiko dan Strategi audit terhadap siklus pengeluaran Transaksi dalam siklus pengeluaran kadangkala tidak hanya berpengaruh secara individual pada hanya satu rekening saja, tetapi dapat berpengaruh pada lebih satu transaksi. Faktor-faktor risiko melekat yang berhubungan dengan transaksi-transaksi siklus pengeluaran meliputi :  Seberapa banyak volume transaksi  Kemungkinan adanya pembelian dan pengeluaran kas yang tidak diotorisasi  Kemungkinan adanya pembelian aktiva yang tidak memadai  Dalam kasus kapitalisasi kas atau penentuan biaya periodic harus mempertimbangkan terhadap aspek kesinambungan dalam akuntansinya Keempat factor tersebut sangat menentukan seberapakah tingkat risiko melekat dalam transaksi siklus ini. Menghadapi kemungkinan tersebut, auditor harus
  • 93. merumuskan strategi dengan menggabungkan tingkat risiko pengendalian yang rendah dan pengujian substansi dalam siklus pengeluaran. Pemahaman terhadap struktur pengendalian intern Auditor harus memahami ketiga aspek struktur pengendalian intern yang ada dalam transaksi siklus pengeluaran, yaitu lingkungan pengendalian, system akuntansi, dan prosedur pengendalian. Pemahaman tersebut sangat berguna dalam menentukan strategi audit dalam rangka pengujian substansi. Aspek lingkungan pengendalian secara umum yang terkait dengan siklus pengeluaran Auditor harus memahami struktur organisasi klien yang berkaitan dengan aktivitas siklus pengeluaran ini, sebagai contoh : semua proses pembelian barang- barang dibawah kendali direktur operasi, pencatatan dibawah kendali kontroler, sedangkan proses pengeluaran kas dibawah kendali direktur keuangan, pengaturan pembelian aktiva tetap (capital expendictures) dan kebijaksanaan investasi strategis lainnya akan dipertimbangkan bagaimana pelaksanaanya. Untuk memperoleh pemahaman terhadap bagan organisasi, auditor harus melakukan wawancara (inquiry) kepada manajemen. Sistem akuntansi secara umum yang terkait dengan siklus pengeluaran Pemahaman terhadap system akuntansi menyebabkan auditor harus mempelajari metode pengolahan data, dokumen-dokumen kunci, serta catatan yang digunakan dalam penanganan transaksi siklus pengeluaran. Untuk itu auditor harus mempelajari manual akuntansi, bagan alir system akuntansi, dan melakukan wawancara dengan petugas bagian akuntansi untuk mengetahui proses pengolahan transaksi dalam siklus pengeluaran. Prosedur Pengendalian secara umum yang terkait dengan siklus pengeluaran Auditor harus memahami bagaimana kecenderungan kelima kategori prosedur pengendalian dalam operasi transaksi siklus pengeluaran ini. Kelima kategori tersebut antara lain :  Adanya otorisasi yang memadai  Adanya pemisahan tugas  Adanya dokumen dan catatan akuntansi  Adanya akses kea rah pengendalian  Pengecekan yang di lakukan oleh personel yang independent Auditor harus melakukan evaluasi apakah prosedur pengendalian dalam perusahaan benar-benar telah berjalan dengan baik. Prosedur pengendalian yang tidak memenuhi kelima criteria tersebut mempunyai kecenderungan risiko audit yang tinggi.
  • 94. Pengendalian Intern terhadap siklus pengeluaran Catatan dan dokumen yang biasa digunakan dalam transaksi siklus pengeluaran  Check, yaitu dokumen perintah pembayaran sejumlah uang kepada bank  Check Summary, yaitu laporan tentang ringkasan check yang telah dikeluarakan dalam suatu periode  Cash Disbusement Transaction File, yaitu file yang berisi informasi pembayaran cek untuk penjual atau pihak lain yang digunakan untuk memasukan ke dalam rekening utang dagang dan buku besar  Cash Disbusement Juornal or Check Register, merupakan catatan formal terhadap pengeluaran cek untuk pihak lain Fungsi-fungsi terkait dalam transaksi siklus pengeluaran Nama Fungsi Unit Organisasi Pemegang Fungsi 1. Fungsi yang memerlukan pengeluaran kas 2. Fungsi pencatatan utang 3. Fungsi keuangan 4. Fungsi akuntansi biaya 5. Fungsi akuntansi umum 6. Fungsi audit intern 7. Fungsi penerimaan kas Bagian pemasaran atau bagian- bagian lain Bagian utang Bagian kasa Bagian akuntansi biaya Bagian akuntansi umum Bagian audit intern Bagian kasa Keterangan : 1. Fungsi yang memerlukan pengeluaran kas (misalnya untuk pembelian jasa dan untuk biaya perjalanan dinas), fungsi yang bersangkutan mengajukan permintaan cek kepada fungsi pencatatan utang. Permintaan cek ini harus mendapat persetujuan dari kepala fungsi yang bersangkutan 2. Fungsi pencatatan utang Fungsi ini bertanggung jawab atas pembuatan bukti kas keluar yang memberikan otorisasi kepada fungsi keuangan dalam mengeluarkan cek yang tercantum dalam dokumen tersebut. Fungsi ini juga bertanggung jawab untuk melakukan verifikasi kelengkapan dan validitas dokumen pendukung yang dipakai sebagai dasar pembuatan bukti kas keluar. 3. Fungsi keuangan. Dalam transaksi pengeluaran kas, fungsi ini bertanggungjawab untuk mengisi cek, meminta otorisasi atas cek, dan mengirimkan cek kepada kreditur via pos atau membayarkan langsung kepada kreditur. 4. Fungsi akuntansi biaya Dalam transaksi pengeluaran kas, fungsi ini bertanggungjawab atas pencatatan pengeluaran kas yang menyangkut biaya dan persediaan.
  • 95. 5. Fungsi akuntansi umum Dalam transaksi pengeluaran kas, fungsi ini bertanggungjawab atas pencatatan transaksi pengeluaran kas dalam jurnal pengeluaran kas atau register cek. 6. Fungsi audit intern Fungsi ini bertanggungjawab untuk melakukan perhitungan kas (cash count ) secara periodik dan mencocokkan hasil perhitungannya dengan saldo kas menurut catatan akuntansi (akun kas dalam buku besar). Fungsi ini bertanggungjawab untuk melakukan pemeriksaan secara mendadak (surprised audit) terhadap saldo kas yang ada ditangan dan membuat rekonsiliasi bank scara periodic Risiko yang terdapat struktur pengendalian intern siklus pengeluaran. Dalam memahami risiko pengendalian yang timbul dalam transaksi pengeluaran kas harus memperhatikan kemungkinan-kemungkinan salah saji, pengendalian yang dibutuhkan, serta kemungkinan pengujian yang harus dilakukan berikut ini: a. Terhadap transaksi pembayaran hutang. o Kemungkinan adanya pengeluaran cek untuk pembelian yang tidak disetujui, harus dikendalikan dengan cara penandatanganan cek melakukan penelaahan terhadap kelengkapan pendukung voucher dan persetujuannya. Auditor dapat melakukan pengujian dengan cara observasi apakah penandatanganan cek melakukan pengecekan dengan bebas terhadap dokumen pendukung. o Kemungkinan voucher dibayar dua kali, dikendalikan dengan pemberian cap terhadap voucher dan dokumen pendukungnya bila telah dibayar. Auditor dapat melakukan pengujian apakah semua pembayaran diberi cap. o Check mungkin dibayarkan untuk jumlah yang salah, dikendalikan dengan pengecekkan oleh pihak yang bebas mengenai kesesuaian jumlah dalam check dengan voucher-nya. o Check mungkin dirubah setelah ditandatangani, dikendalikan dengan pengecekan pemberian tanda cek yang dikirim. Auditor dapa melakukan pengujian dengan melakukan wawancara tentang prosedur pengiriman check, dan observasi proses pengiriman check. b. Terhadap transaksi pengeluaran kas. o Check mungkin tidak dicatat, dikendalikan dengan check yang bemomor urut tercetak. Auditor melakukan pengujian terhadap penggunaan dokumen bemomor urut tercetak. o Kesalahan-kesalahan dalam pencatatan check, dikendalikan dengan pembuatan rekonsiliasi bank secara periodik oleh pihak yang bebas. Auditor dapat melakukan pengujian terhadap bank rekonsiliasi.
  • 96. o Check tidak dicatat dengan segera, dikendalikan oleh pihak yang bebas untuk mencocokkan tanggal check dan tanggal pencatatannya. Pengujian yang dilakukan dengan memperlihatkan kembali adanya kebebasan dalam pengecekan. Pengujian Substansif terhadap Siklus Pengeluaran. Prosedur pemeriksaan terhadap aktiva tetap. Aktiva tetap ( fixed assets ) disebut juga Property, Plant and Equiement sifat atau ciri aktiva tetap antara lain: tujuan dari pembeliannya bukan untuk dijual kembali atau diperjualbelikan sebagai barang dagangan, tetapi untuk dipergunakan dalam, kegiatan operasi perusahaan, mempunyai masa manfaat lebih dari 1o tahun, jumlahnya cukup material. Adapun audit prosedur atas aktiva tetap mempunyai 7 tujuan antara lain: emeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik, apakah aktiva tetap yang tercantum dalam neraca benar-benar ada, penambahan aktiva tetap dalam tahun berjalan betul-betul merupakan suatu capital expenditure yang diotorisasi, memeriksa apakah disposal ( penarikan ) aktiva tetap sudah dicatat dengan benar dibuku perusahaan, memeriksa apakah pembebanan penyusutan dalam tahun (periode) yang diperiksa dilakukan sesuai dengan SAk dan konsisten, ada tidaknya aktiva tetap yang] ijadikan sebagai jaminan. Program pengujian substantive terhadap saldo aktiva tetap berisi prosedur audit yang dirancang untuk mencapai tujuan audit seperti yang diuraikan diatas. Prosedur, audit diklasifikasikan menjadi empat golongan: prosedur audit awal, prosedur analitik, pengujian terhadap transaksi rinci pengujian terhadap akun rinci dan verifikasi penyajian dan pengungkapan yang masing-masing prosedur tersebut akan dibahas ke dalam tabel benkut: Proses Audit Kertas kerja Tanggal pelaksanaan Pelaksanaan Prosedur Audit Awal 1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun aktiva tetap yang akan diuji lebih lanjut a. Usut saldo aktiva tetap yang tercantum dineraca ke saldo akun aktiva tetap yang bersangkutan dibuku besar b. Hitung kembali saldo akun aktiva dibuku besar c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber
  • 97. posting dalam akun aktiva tetap dan akumulasi depresiasinya d. Usut saldo awal akun aktiva tetap ke kertas kerja tahun lalu e. Usut posting pendebitan dan pengkreditan akun aktiva tetap dalam ke dalam jurnal yang bersangkutan f. Lakukan rekonsiliasi akun control aktiva tetap dalam buku besar ke buku pembantu aktiva tetap Prosedur Analitik 2. Lakukan prosedur analitik a. Hitung ratio berikut ini : 1) Tingkat perputaran aktiva tetap 2) Ratio laba bersih dengan aktiva tetap 3) Ratio tetap dengan modal saham 4) Ratio biaya reparasi dan pemeliharaan dengan aktiva tetap b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu, data industri, jumlah yang dianggarkan, atau data lain Kertas kerja Tanggal pelaksanaan pelaksanaan Pengujian terhadap transaksi rinci 3. Periksa tambahan aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi berikut 4. Periksa berkurangnya aktiva tetap ke dokumen yang mendukung timbulnya transaksi tersebut 5. Lakukan pemeriksaan pisah batas transaksi aktiva tetap 6. Lakukan review terhadap akun biaya reparasi dan pemeliharaan aktiva tetap Pengujian terhadap saldo akun rinci 7. Lakukan inspeksi terhadap aktivat tetap a. Lakukan inspeksi terhadap
  • 98. tambahan aktiva tetap b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadi perbedaan c. Periksa dokumen yang mendukung pembayaran utang usaha seetelah tanggal neraca 8. Periksa bukti hak kepemilikan aktiva tetap dan kontrak 9. Lakukan review terhadap perhitungan depresiasi aktiva tetap Verifikasi penyajian dan pengungkapan 10. Bandingkan penyajian aktiva tetap dengan Prinsip akuntansi berterima umum a. Periksa klasifikasi aktiva tetap di neraca b. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan aktiva tetap 4.4.2 Prosedur Pemeriksaan terhadap hutang dagang Kertas kerja Tanggal pelakasanaan Pelaksanaan Prosedur Audit Awal 1. Lakukan prosedur audit awal atas saldo akun utang usaha yang akan diuji lebih lanjut a. Usut saldo utang usaha yang tercantum di dalam neraca ke saldo akun utang usaha yang bersangkutan didalam buku besar b. Hitung kembali saldo akun utang usaha di dalam buku besar c. Lakukan review terhadap mutasi luar biasa dalam jumlah dan sumber posting dalam akun utang usaha d. Usut saldo awal akun hutang usaha ke kertas kerja tahun yang lalu e. Usut posting pendebitan akun hutang usaha ke dalam jurnal yang bersangkutan f. Lakukan rekonsiliasi akun control
  • 99. utang usaha dalam buku besar ke buku pembantu utang usaha Prosedur Analitik 2. Lakukan prosedur analitik a. Hitung ratio berikut ini : 1) Tingkat perputaran utang usaha 2) Ratio utang usaha dengan utang lancar b. Lakukan analisis hasil prosedur analitik dengan harapan yang didasarkan pada data masa lalu, data industri, jumlah yang dianggarkan, atau data lain Pengujian terhadap saldo akun rinci 7. Lakukan konfirmasi saldo akun rinci a. Lakukan identifikasi penjualan besar dengan mereview register bukti kas keluar atau buku pembantu utang, arsip induk utang dan kirimkan konfirmasi kepada kreditur yang akun utang klien kepadanya memiliki karakteristik berikut ini : (1) bersaldo besar, (2) terdapat kegiatan pembelian yang luar biasa, (3) bersaldo kecil atau nol, dan (4) bersaldo debit b. Lakukan penyelidikan dan sesuaikan jika terjadi perbedaan c. Periksa dokumen yang mendukung pembayaran utang usaha setelah tanggal neraca 8. Lakukan rekonsiliasi utang usaha yang tidak di konfirmasi ke pernyataan piutang bulanan yang diterima oleh klien dari kreditur Verifikasi penyajian dan pengungkapan 9. Bandingkan penyajian utang usaha dengan prinsip akuntansi berterima umum a. Periksa klasifikasi utang usaha di
  • 100. neraca b. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha c. Periksa pengungkapan yang bersangkutan dengan utang usaha non usaha d. Mintalah informasi dari klien untuk menemukan komitmen yang belum diungkapkan dan utang bersyarat dan periksa penjelasan yang bersangkutan dengan utang tersebut e. Bandingkan akun biaya dengan akun biaya yang sama tahun lalu atau biaya yang dianggarkan untuk mendapatkan indikasi kemungkinan adanya under statement utang lancer Pengujian terhadap transaksi rinci 3. Periksa sampel transaksi utang usaha yang tercatat ke dokumen yang mendukung timbulnya utang usaha a. Periksa pengendalian akun utang usaha ke dokumen pendukung : bukti kas keluar, laporan penerimaan barang, surat order pembelian, atau dokumen pendukung lain b. Periksa pendebitan akun usaha ke dokumen pendukung : bukti kas masuk , memo debit untuk retur penjualan 4. Lakukan verifikasi pisah batas (out off) transaksi pembeli a. Periksa dokumen yang mendukung transaksi pembelian dalam minggu terakhir tahun yang diaudit dan minggu pertama setelah tanggal neraca 5. Lakukan verifikasi pisah batas (out off) transaksi pengeluaran kas a. Periksa dokumen yang
  • 101. mendukung transaksi pembayaran utang usaha dalam minggu terakhir tahun yang di audit dan minggu pertama setelah tanggal neraca 6. Lakukan pencarian utang yang belum dicatat a. Periksa bukti yang mendukung transaksi pengeluaran kas yang dicatat setelah tanggal neraca 4.2.1 Prosedur pemeriksaan terhadap biaya dibayar dimuka Berikut ini akan dibahas prosedur pemeriksaan yang terdapat dalam biaya dan pajak dibayar dimuka. Prosedur Pemeriksaan untuk Compliance test. 1. Pelajari dan evaluasi internal control atas biaya dan pajak dibayar dimuka.  Dalam hal ini internal control questionnoises yang digunakan tercakup dalam internal control questionnaires atas pengeluaran kas dan bank  Apakah setiap pembayaran yang menyangkut biaya dan pajak dibayar dimuka didukung oleh bukti-bukti yang sah dan lengkap.  Apakah pembayaran tersebut diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang.  Apakah bukti setoran pajak, faktor pajak termasuk bukti pemotongan pajak oleh pihak ketiga di file dengan baik dan rapih.  Apakah lease agreement, insurance policy di file dengan baik dan rapih.  Lakukan test transaksi ( compliance test ) atas biaya dan pajak dibayar dimuka. 2. Tarik kesimpulan mengenai internal control atas biaya dan pajak dibayar dimuka. Prosedur Pemeriksaan Substantive sewa dibayar dimuka ( Prepaid Rent )  Minta rician ( schedule ) prepaid rent per tanggal neraca.  Check ketelitian perhitungan mathematis ( mathematical accuracy ).  Cocokan saldo prepaid rent per tanggal neraca dengan saldo buku bestir (general ledger) prepaid rent.  Cocokan saldo awal prepaid rent dengan kertas kerja pemeriksaan tahun lalu.  Lakukan vouching untuk pembayaran prepaid rent di tahun berjalan dan periksa lease agreement ( jika sudah dilakukan di compliance test, refen ke kertas kerja compliance test ).  Tie_Up / tie_in ( Cocokan ) total yang dibebankan sebagai biaya sewa ke buku besar biaya sewa. Dalam hal ini ada biaya sewa langsung dibebankan ke, perkiraan biaya sewa ( tanpa melalui prepaid rent ), jumlah biaya sewa di buku besar akan terlihat lebih besar.  Buat usulan audit adjustment jika diperlukan.
  • 102. LATIHAN SOAL PERTEMUAN 11 dan 12
  • 103. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 12 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 12 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan pemeriksaan aktiva tak berwujud pemeriksaan aktiva tak berwujud Sifat aktiva tak berwujud Tujuan pemeriksaan aktiva tak berwujud Prosedur pemeriksaan aktiva tak berwujud 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 14 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 104. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 13 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 13 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan biaya dibayar dimuka dan pemeriksaan utang jangka pendek pemeriksaan utang jangka pendek Sifat kewajiabn jangka pendek Tujuan pemeriksaan kewajiabn jangka pendek Prosedur Pemeriksaan kewajiban jangka pendek 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 15 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 105. PERTEMUAN XIII PEMERIKSAAN UTANG JANGKA PENDEK A. Pengertian Hutang Jangka Pendek Pengertian Kewajiban Jangka Pendek adalah kewajiban perusahaan kepada pihak ketiga, yang jatuh tempo atau harus dilunasi dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun, atau dalam siklus operasi normal perusahaan, biasanya dengan menggunakan harta lancar (current assets) perusahaan. Termasuk current liabilities diantaranya : - Hutang dagang/account payable : Yaitu kewajiban kepada pihak ketiga dari pembelian barang atau jasa secara kredit yang harus dilunasi dalam waktu kurang atau sama dengan satu tahun. - Pinjaman bank jangka pendek/short term loan : Yaitu pinjaman yang diperoleh dari bank dan didukung oleh suatu perjanjian kredit (loan agreement), bisa dalam bentuk kredit modal kerja (working capital loan) ataupun kredit rekening koran (overdraft facility). - Hutang pajak/tax payable : Yaitu kewajiban pajak perusahaan yang harus dilunasi dalam periode berikutnya, misal hutang PPH 21, PPH 25, PPN. - Biaya yang masih harus dibayar : Yaitu biaya yang sudah terjadi dan menjadi beban periode yang diperiksa, tetapi baru akan dilunasi dalam periode berikutnya. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan audit : 1. Kecendrungan perusahaan untuk mencatat kewajiban lebih rendah dari yang seharusnya. Hal ini bertujuan untuk melaporkan laba lebih besar dari yang sebenarnya. Auditor harus melakukan searching of unreposting liabilities, yakni dengan cara memeriksa pembayaran setelah tanggal neraca. 2. Perbedaan account payable dan accrual expense. Account payable memiliki angka pasti, karena dicatat berdasarkan invoice, sedangkan accrual expense dicatat berdasarkan estimasi.
  • 106. B. Tujuan Audit Hutang Jangka Pendek & Panjang Ada beberapa tujuan audit current liabilities yang perlu diperhatikan, diantaranya : 1. Untuk meyakini bahwa pengendalian intern current liabilities memadai. Pelajari dan evaluasi internal control atas hutang jangka pendek. Dengan internal control yang memadai auditor dapat mempertimbangkan mengurangi substantif tes atau mengurangi scope. 2. Untuk meyakini bahwa current liabilities didukung bukti yang lengkap dan berasal dari transaksi yang benar-benar terjadi. Minta rincian hutang jangka pendek, periksa kebenaran penjumlahan, cocokkan dengan saldo general ledger. Rincian disiapkan oleh klien, dan auditor melakukan pengujian terhadap rincian, apabila terdapat kesalahan dibuat koreksi audit dan dikomunikasikan dengan klien. 3. Untuk meyakini bahwa semua transaksi telah tercatat per tanggal neraca. Cocokkan saldo masing-masing debitur dengan saldo pada subsidoary ledger. 4. Untuk meyakini bahwa jumlah accrual expense reasonable (layak) Periksa dasar perhitungan accrual expense yang dibuat perusahaan, apakah konsisten dan reasonable dengan tahun sebelumnya. Periksa pembayaran sesudah tanggal neraca. 5. Untuk meyakini bahwa pencatatan transaksi telah sesuai dengan SAK. Periksa apakah pencatatan transaksi current liabilities sudah sesuai dengan SAK. Dalam hal ini auditor harus meyakinkan bahwa tidak terdapat unrecorded liabilities. Untuk itu auditor harus memeriksa notulen rapat direksi dan pemegang saham, dan mengirim konfirmasi ke penasehat hukum perusahaan. Hal-hal yang diperiksa : tanggal kejadian, jumlah hutang, syarat hutang, bunga, jatuh tempo. Substantif test : o Periksa apakah dokumen dan subledger sesuai atau tidak o Periksa jurnal pada tanggal bersangkutan o Periksa bukti penerimaan kas o Lihat ke mutasi buku besar o Cek pembayaran bunga 6. Untuk meyakini bahwa hutang dalam mata uang asing telah dikonveksikan dengan kurs BI. Periksa apakah saldo hutang dalam mata uang asing per tanggal neraca telah dikonveksikan ke dalam rupiah dengan menggunakan kurs tengan BI. Selisih kurs dibebankan pada rugi laba tahun berjalan. 7. Untuk meyakini bahwa semua persyaratan dalam akad kredit sudah dipenuhi untuk menghindarkan bank default (right and obligation). Periksa penjanjian dan persyaratan yang harus dipatuhi oleh nasabah, seperti penggantian manager kunci, pengendalian current ratio, dan ketepatan waktu pembayaran hutang.
  • 107. Bank default (ketetapan persyaratan-persyaratan untuk nasabah) antara lain : o Perusahaan nasabah tidak boleh mengganti manajer kunci tanpa seijin bank o Current ratio harus dijaga pada tingkat tertentu o Tidak diperkenankan terlambat membayar bunga Jika terdapat pelanggaran terhadap ketiga syarat tersebut maka dalam audit harus di disclousure untuk masalah hutang di catatan laporan keuangan. 8. Untuk memeriksa apakah penyajian current liabilities dalam neraca dan catatan laporan keuangan telah sesuai dengan SAK. Periksa apakah penyajian hutang jangka pendek di neraca dan catatan laporan keuangan telah sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. C. Tujuan Pengujian Substantif terhadap Hutang usaha 1. Memperoleh keyakinan tentang keandalan catatan akuntansi yang bersangkutan dengan hutang usaha. 2. Membuktikan keberadaan hutang usaha dan keterjadian transaksi yang berkaitan dengan hutang usaha yang dicantumkan di neraca. 3. Membuktikan kelengkapan transaksi yang dicatat dalam catatan akuntansi dan kelengkapan saldo hutang usaha yang disajikan di neraca. 4. Membuktikan kewajiban klien yang dicantumkan di neraca. 5. Membuktikan kewajaran penyajian dan pengungkapan hutang usaha di neraca Hutang usaha biasanya timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan bahan penolong, suku cadang, dan bahan habis pakai pabrik. Hutang usaha dapat digolongkan menjadi 2 yaitu hutang yang tidak disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis tentang kesanggupan untuk membayar kewajiban (account payable) dan hutang yang disertai dengan surat berharga sebagai bukti tertulis tentang kesanggupan untuk membayar kewajiban (notes payable). Hutang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar terbesar dalam neraca dan merupakan factor yang signifikan dalam mengevaluasi solvensi jangka pendek perusahaan. Hutang usaha biasanya juga dipengaruhi oleh volume transaksi yang tinggi dan karenanya sangat rentan terhadap salah saji. Audit atas hutang lebih ditekankan pada asersi kelengkapan karena jika manajemen termotivasi untuk memanipulasi hutang maka ia cenderung menetapkan hutang terlalu rendah agar dapat melaporkan posisi keuangan yang lebih menguntungkan. D. Penentuan Risiko Deteksi untuk Pengujian Rincian Hutang usaha dipengaruhi oleh transaksi pembelian maupun transaksi pengeluaran kas. Jadi risiko pengujian rincian untuk asersi hutang usaha dipengaruhi oleh risiko inheren, risiko prosedur analitis dan factor-faktor risiko pengendalian yang berkaitan dengan kedua kelompok transaksi tersebut.
  • 108. E. Perancangan Pengujian Substantif 1. Prosedur awal Pengujian audit dinilai dengan mendapatkan pemahaman tentang bisnis dan industry klien. Prosedur awal lainnya untuk pengujian substantive atas hutang usaha adalah menelusuri saldo awal kertas kerja tahun sebelumnya dan menggunakan perangkat lunak audit tergeneralisasi dalam memeriksa akun buku besar untuk melihat setiap ayat jurnal yang tidak biasa, serta untuk mengembangkan daftar jumlah yang terhutang pada tanggal neraca. 2. Prosedur analitis Tujuan auditor menerapkan prosedur ini adalah untuk mengembangkan ekspektasi atas saldo akun hutang dan hubungan antara hutang usaha dengan akun-akun kunci lainnya seperti pembelian atau persediaan. Suatu penurunan yang abnormal atas rasio perputaran hutang usaha atau kenaikan yang tidak diharapkan atas rasio lancar dapat menjadi indicator bahwa kewajiban telah ditetapkan terlalu rendah. Prosedur analitis akan dilakukan pada tahap akhir penugasan untuk memastikan bahwa bukti yang dievaluasi dalam pengujian rincian telah konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan dalam laporan keuangan. A. Pengujian rincian transaksi i. Menelusuri hutang yang dicatat ke dokumentasi pendukung. Dalam pengujian ini, ayat jurnal kredit pada hutang usaha akan ditelusuri ke dokumentasi pendukung dalam file klien seperti voucher, faktur penjualan, laporan penerimaan dan pesanan pembelian. Pendebetannya akan ditelusuri ke dokumen transaksi pengeluaran kas seperti buku pengeluaran cek atau memo dari penjual menyangkut retur pembelian dan pengurangan harga. ii. Melaksanakan pengujian pisah batas pembelian. Pengujian pisah batas pembelian mencakup penentuan bahwa transaki pembelian yang terjadi mendekati tanggal neraca telah dicatat pada periode yang tepat. Hal ini dapat dilakukan dengan menelusuri tanggal-tanggal laporan penerimaan ke ayat jurnal register voucher dan memvouching ayat jurnal yang dicatat ke dokumentasi pendukungnya. Pengujian ini biasanya mencakup periode antara 5-10 hari bisnis sebelum dan sesudah tanggal neraca. Dalam memeriksa dokumentasi harus diberikan pertimbangan khusus atas barang yang masih dalam perjalanan per tanggal neraca. iii. Melaksanakan pengujian pisah batas pengeluaran kas. Bukti tentang pengujian pisah batas pengeluaran kas dapat diperoleh melalui observasi langsung dan review atas dokumentasi internal. Pisah batas yang tepat atas transaksi pengeluaran kas pada akhir tahun adalah sangat penting untuk penyajian kas dan hutang usaha yang benar pada tanggal neraca. iv. Melakukan pencarian hutang yang belum tercatat. Pencarian hutang usaha yang belum tercatat terdiri dari prosedur-prosedur
  • 109. yang dirancang secara khusus untuk mendeteksi kewajiaban signifikan yang belum dicatat pada tanggal neraca. v. Pengujian rincian saldo. a. Konfirmasi hutang usaha. Prosedur ini bersifat opsional karena konfirmasi ini tidak dapat menjamin bahwa hutang yang belum dicatat akan dapat ditemukan dan bukti eksternal berupa faktur dan laporan bulanan penjual harus tersedia untuk mendukung saldonya. Konfirmasi hutang usaha direkomendasikan apabila risiko deteksi rendah, terdapat kreditor individual dengan saldo yang relative besar atau perusahaan mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajibannya. Konfirmasi juga harus dikirimkan kepada pemasok utama yang telah digunakan pada tahun sebelumnya tetapi tidak dalam tahun berjalan dan tidak mengirimkan laporan bulanan. b. Merekonsiliasi hutang yang belum dikonfirmasi dengan laporan pemasok. Para pemasok biasanya mengirimkan laporan bulanan yang biasa dijumpai dalam file klien. Jumlah yang terhutang pada pemasok menurut daftar hutang klien dapat direkonsiliasi dalan laporan tersebut. Bukti yang diperoleh dari prosedur ini kurang dapat diandalkan karena laporan pemasok telah dikirimkan kepada klien dan bukan langsung kepada auditor. Selain itu laporan ini mungkin tidak tersedia dari pemasok tertentu. Pembandingan penyajian laporan dengan GAAP. Hutang usaha harus diidentifikasi dan diklasifikasikan secara tepat sebagai kewajiban lancer. Jika saldo hutang usaha mencakup pembayaran di muka yang material kepada beberapa pemasok untuk pengiriman barang dan jasa di masa depan maka jumlah semacam itu harus di reklasifikasi sebagai uang muka kepada pemasok dan dicatat sebagai aktiva. Pengungkapan juga perlu dilakukan atas penjaminan dan hutang pihak yang mempunyai hubungan istimewa, komitmen pembelian serta kewajiban kontinjen. INTERNAL CONTROL A. Internal Control Hutang Dagang Internal Control yang baik untuk Hutang Dagang adalah : B. Adanya pemisahan tugas antara bagian pembelian. Bagian penerimaan barang, bagian gudang, bagian akuntansi dan bagian keuangan. C. Digunakannya formulir-formulir yang bernomor urut tercetak (prenumbered), untuk permintaan pembelian , order pembelian, dan laporan penerimaan barang. D. Adanya system otorisasi untuk pembelian maupun pelunasan hutang.
  • 110. E. Digunakannya system tender untuk pembelian dalam jumlah yangbesar, dimana beberapa supplier diundang untuk memasukkan penawaran tertulis dalam amplop tertutup ke panitia tender. F. Dibuatnya buku tambahan (subsidiary ledger) untuk hutang dagang, dan setiap akhir bulan jumlah saldo hutang dagang menurut buku tambahan harus dibandingkan dengan saldo hutang dagang menurut general ledger yang merupakan perkiraan pengendali. G. Jumlah barang yang dicantumkan dalam faktur pembelian (fakturin voice) harus dibandingkan dengan jumlah yang dilaporkan dalam receiving report dan purchase order, untuk mencegah pembayaran atas barang yang dibeli melebihi jumlah barang yang dipesan dan yang diterima. H. Faktur pembelian dan dokumen pembelian lainnya harus dicap lunas untuk menghindari digunakannya dokumen-dokumen tersebut untuk proses pembayaran kedua kalinya B. Prosedur Pemeriksaan kewajiban Jangka Pendek dan Panjang Prosedur Pemeriksaan kewajiban Jangka Pendek adalah : A. Pelajari dan evaluasi internal control atas kewajiban jangka pendek. B. Minta rincian dari kewajiban jangka pendek, baik hutang dagang maupun kewajiban lainnya, kemudian periksa penjumlahannya (footing) serta cocokkan saldonya dengan saldo hutang di buku besar. C. Untuk hutang dagang cocokkan saldo masing-masing supplier dengan saldo menurut subsidiary ledger hutang dagan. D. Secara test basis , periksa bukti pendukung dari saldo kepada beberapa supplier, perhatikan apakah angkanya cocok dengan purchase requisition, purchase order, reseving report dan supplier invoice. Periksa juga perhitungan mathematis dari dokumen-dokumen tersebut dan otorisasi dari pejabat perusahaan yang berwenang. E. Seandainya terdapat monthly statement of account dari supplier, maka harus dilakukan rekonsiliasi antara saldo hutang menurut statement of account tersebut dengan saldo subsidiary ledger hutang. F. Pertimbangkan untuk mengirim konfirmasi kepada beberapa supplier baik yang saldonya besar maupun yang saldonya tidak berubah sejak tahun sebelumnya. G. Periksa pembayaran sesudah tanggal neraaca (subsequent payment) untuk mengetahui apakah ada kewajiban yang belum dicatat (unrecorder liabilities) per tanggal neraca dan untuk menyakinkan diri mengenai kewajaran saldo hutang per tanggal neraca. H. Seandainya ada hutang kepada bank baik dalam bentuk kredit modal kerja, kredit investasi, maupun kredit overdraft, maka kirim konfirmasi ke bank, periksa surat perjanjian kreditnya dan buatkan excepent dari perjanjian kredit tersebut, dan periksa otorisasi dari direksi untuk perolehan kredit bank tersebut. I. Seandainya ada hutang dari pemegang saham atau dari direksi atau dari perusahaan afiliasi, yang harus dilunasi dalam waktu satu tahun yang akan datang, harus dikirim konfirmasi, periksa perjanjian
  • 111. kreditnya dan periksa apakah ada pembebanan bunga atas pinjaman tersebut. J. Seandainya ada hutang leasing, periksa apakah pencatatannya sudah sesuai dengan standar akuntansi sewa guna, dan apakah bagian yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun yang akan datang sudah dicatat sebagi hutang jangka pendek. K. Periksa perhitungan dan pembayaran bunga, apakah sudah dilakukan secara akurat dan tiap jumlah beban bunga tersebut dengan jumlah yang tercantum pada laporan rugi laba. Perhatikan juga aspek pajaknya. L. Seandainya ada saldo debit dari hutang dagang maka harus ditelusuri apakah ini merupakan uang muka pembelian atau karena adanya pengembalain barang yang dibeli tetapi sudah dilunasi sebelumnya. Kalau jumlahnya besar harus direklasifikasikan sebagai piutang. M. Seandainya ada uang muka penjualan per tanggal neraca, periksa bukti pendukungnya dan periksa apakah saldo tersebut sudah diselesaikan diperiode berikutnya misalnya dengan megirimkan barang yang dipesan oleh pembeli. N. Seandainya ada kredit jangka panjang , harus diperiksa apakah bagian yang jatuh tempo satu tahun yang akan datang sudah direklasifikasikan sebagai hutang jangka pendek. O. Seandainya ada kewajiban dalam mata uang asing, periksa apakah saldo tersebut per tanggal neraca telah dikonversikan kedalam rupiah dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia per tanggal neraca, dan selisih kurs yang terjadi dibebankan pada rugi laba tahun berjalan. P. Untuk hutang PPh 21 dan PPN periksa apakah hutang tersebut sudah dilunasi pada periode berikiutnya. Seharusnya hutang PPh 21 dan PPN per 31 Desember dilunasi dibulan Januari tahun berikutnya. Sedangakan untuk PPh Badan harus diperiksa apakah pada waktu mengisi dan memasukan SPT PPh Badan, perusahaan telah membayarPPh 29 Q. Periksa dasar perhitungan accrued expense yang dibuat oleh perusahaan, apakah reasonable dan konsisten dasar perhitungan tahun sebelumnya. Selain itu harus diperiksa pembayaran sesudah tanggal neraca. R. Periksa notulen rapat direksi, pemegang saham dan perjanjian- perjanjian yang dibuat perusahaan dengan pihak ketiga, untuk mengetahui apakah semua kewajiban yang tercantum dalam notulen dan perjanjian tersebut sudah dicatat per tanggal neraca. S. Kirim konfirmasi kepada penasihat hukum perusahaan. T. Periksa apakah penyajian kewajiban jangka pendek di neraca dan catatan atas laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum (SAK)
  • 112. LATIHAN SOAL PERTEMUAN 13 dan 14
  • 113. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 14 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 14 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan utang jangka panjang pemeriksaan utang jangka panjang Sifat utang jangka panjang Tujuan pemeriksaan utang jangka panjang Prosedur pemeriksaan utang jangka panjang 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 16 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 114. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 15 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 15 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan permodalan Pemeriksaan permodalan Sifat permodalan Tujuan pemeriksaan permodalan Prosedure pemeriksaan permodalan 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 17 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 115. PERTEMUAN XV PEMERIKSAAN PERMODALAN Permodalan Jenis akun yang mempengaruhi audit transaksi pendanaan: siklus ini mempengaruhi dua aspek yaitu ; (a) Pembentukan kewajiban yang berjangka waktu pelunasan lebih clan' satu tahun (b) Pembentukan kepemilikan perusahaan ( modal saham ) Transaksi yang berhubungan dengan utang jangka panjang antara lain berupa : obligasi, wesel jangkapanjang,hipotik (mortgages), bond Premium (discount ), interest expense, dan gain (gloss) on retirement of bonds.Sedangkan transaksi yang berkaitan dengan modal saham antara lain : saham preferensi, saham biasa, saham tresury, paid-in capital, retained earnings, deviden, devidend payable. Tujuan audit terhadap siklus pendanaan: o Eksistensi atau okurensi pembentukan transaksi  Pencatatan terhadap saldo-saldo utang jangka panjang dan modal saham pada saat tanggal neraca benar-benar nyata.  Pembayaran deviden dan biaya bunga obligasi yang timbul dan terbentuknya transaksi dalam periode ini dinyatakan. o Kesempurnaan  Rekening utang jangka panjang mencerminkan semua kewajiban kepada kreditor jangkan panjang pada saat tanggal neraca.  Rekening modal saham mencerminkan hak-hak para pemilik terhadap semua aktiva pada saat tanggal neraca.  Semua transaksi utang jangka panjang dan transaksi modal saham dalam tahun yang dilaporkan telah dicatat.  Hak dan kewajiban  Rekening utang jangka panjang mencerminkan jumlah yang secara hukum dimiliki oleh para kreditor dan pihak lain yang berkepentingan pada saat tanggal neraca.  Rekening modal saham mencerminkan hak yang secara hukum dimiliki para pemegang saham pada saat tanggal neraca.  Penilaian atau alokasi
  • 116.  Penilaian terhadap rekening utang jangka panjang dan modal saham didasarkan pada prinsip akuntansi yang lajim diterapkan di Indonesia diUSA disebut GAAP).  Presentasi dan pengungkapan  Rekening utang jangka panjang dan modal saham telah diidentifikasi dan diklasifikasi secara layak dalam neraca.  Semua kesepakatan, perjanjian dan rancangan pelunasan terhadap utang jangka panjang telah dijelaskan dan diungkapkan dalam laporan keuangan.  Semua fakta yang berkaitan dengan pengeluaran saham ( yang meliputi par atau stated value) telah memperoleh persetujuan terhadap jenis saham dan pengeluarannya, dan jumlah saham yang dipegang sebagai saham treasury atau adanya opsi saham telah diungkapkan. Materialitas, Risiko dan Strategi audit terhadap transaksi pendanaan: Risiko terhadap kemungkinan kesalahan penanganan dan pencatatan transaksi siklus pendanaan biasanya rendah. Dalam beberapa kasus, aspek operasional yang mungkin menimbulkan permasalahan adalah pembayaran bunga obligasi dan pembayaran deviden (kadangkala ditangam oleh pihak luar, antara lain bank, pialang, pedagang effek). Semua transaksi yang berkaitan dengan proses pendanan ini (saat menerima uang dan saat pemberian kompensasi bunga dan deviden) selalu harus memperoleh persetujuan dari dewan komisaris atau para pemegang saham. Dalam perancangan strategi audit terhadap rekening-rekening yang terbentuk oleh transaksi dalam siklus ini, harus diperhatikan adanya ide terbentuknya transaksi dari dalam perusahaan sendiri. Cara memahami dan menilai struktur pengendalian intern: Setiap langkah dalam memahami struktur pengendalian intern meliputi: (1) Pemahaman terhadap sagala catatan-catatan dan dokumen-dokumen yang digunakan oleh klien dalam menangani transaksi silkus pendanaan. (2) Pemahaman terhadap fungsi-fungsi yang terkait dalam penanganan transaksi siklus pendanaan tersebut. o Prosedur pengendalian secara umum yang terkait dengan transaksi pendanaan:  Lakukan verifikasi terhadap kecermatan saldo-saldo, berbagai daftar dan buku pembantunya.  Terapkan prosedur analitikal.  Lakukan penelaahan terhadap otonsasi beserta kontrak-kontraknya.  Lakukan konfirmasi atas utang jangka panjang.  Lakukan vouching terhadap jurnal rekening utang jangka panjang.
  • 117.  Lakukan penghitungan kembali terhadap biaya bunga.  Bandingkan penyaj iannya dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku. Catatan dan dokumen apa yang biasa digunakan dalam transaksi pendanaan: Dokumen yang digunakan dalam siklus pendanaan ini secara keseluruhan sama dengan dokumen dalam siklus investasi. Hanya saja, tinjauan dokumen dalam aspek pendanaan ditinjau dari sisi perusahaan yang mempunyai kewajiban kepada kreditor atau hak-hak para pemilik. Dokumen ini diperlukan mengingat pada saat semua obligasi telah dilunasi, maka surat-surat obligasi tersebut harus ditarik kembali. Padahal penarikan obligasi tersebut pada dasarnya masih aktif, dan oleh karenanya harus dimusnahkan. 1. Fungsi-fungsi yang terkai dengan transaksi pendanaan;  Pengeluaran modal saham atau obligasi.  Pembayaran bunga obligasi dan deviden tunai  Pelunasan obligasi dan pembelian kembali saham  Pencatatan transaksi-transaksi pendanaan  Pemegang buku besar obligasi dan modal saham dan pemeliharaan kecermatan pencatataannya. Pengujian Substansif terhadap siklus pendanaan Daftar pengujian substantif yang disarankan antara lain : a. Lakukan verivikasi terhadap kecermatan saldo-saldo, berbagai daftar dan buku pembantunya b. Terapkan prosuder analitikal c. Lakukan penelaahaan terhadap anggaran dasar dan rumah tangga perusahaan. d. Lakukan penelaahan terhadap otorisasi pengeluaran saham. e. Lakukan konfirmasi atas saham yang beredar di pasaran f. Lakukan inspeksi buku sertifikat saham g. Lakukan ispeksi sertifikat saham yang berada ditangan bendaharawan perusahaan. h. Lakukan vouching jumal pada rekening utang modal saham i. Lakukan vouching terhadap laba yang ditahan j. Bandingkan penyajiannya dengan SAK yang berlaku.
  • 118. Prosedur pemeriksaan terhadap pendanaan obligasi Dalam rangka audit obligasi maka auditor harus menyusun prosedur sebagai berikut ; a. Lakukan verivikasi terhadap kecermatan saldo-saldo, berbagai daftar dan buku pembantunya b. Terapkan prosedur analitikal c. Lakukan penelaahan terhadap otorisasi beserta kontrak-kontraknya d. Lakukan konfirmasi atas obligasi e. Lakukan vouching terhadap jurnal rekening obligasi f. Lakukan penghitungan kembali terhadap Maya bunga g. Bandingkan penyajiannya dengan SAK yang berlaku Contoh Kertas Kerja Audit Kertas Kerja Modal Saham Disiapkan J5 tgl 24/l/95 Disiapkan R5 tgl 29/1/94 PT. METAL INDUSTRI Saham Otorisasi Beredar Jumlah Saldo 1/1/93 10.000 v 5.000 500.000 Penyaluran 100.000 Saham nilai pertunai Saldo 31/12/93 10.000 1.000 # 6.000 c V Telusur ke kertas kerja tahun lalu # Telusur ke catatan rapat Dekom 20/12/93 O Cek hasilnya ke penerimaan kas C Konfirmasi ke agen penjualan
  • 119. LATIHAN SOAL PERTEMUAN XV
  • 120. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 16 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 16 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan atas perkiraan rugi- laba pemeriksaan atas perkiraan rugi-laba Jenis perkiraan rugi-laba Tujuan pemeriksaan perkiraan rugi- laba Prosedur pemeriksaan perkiraan rugi- laba 2 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 18 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 121. PERTEMUAN XVI PEMERIKSAAN LAPORAN LABA RUGI
  • 122. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 17 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 17 Mahasiswa dapat memahami dan mampu melaksanakan pemeriksaan atas subsequent events dan menyelesaikan pemeriksaan pemeriksaan atas subsequent events dan menyelesaikan pemeriksaan Sifat subsequent events Tujuan pemeriksaan subsequent events Prosedur pemeriksaan subsequent events Penyelesaian pemeriksaan akuntan 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 19 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 123. PERTEMUAN XVII SUBSEQUENT EVENTS DAN FINISHING AUDIT 1. Pengertian Subsequent Events adalah peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca tetapi sebelum diterbitkannya laporan audit yang mempunyai akibat yang material terhadap laporan keuangan dan memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan tersebut. Terdapat 2 jenis subsequent eventmerujuk pada PSAK no. 46, yakni: 1. Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada pada tanggal neraca dan berdampak terhadap taksiran yang melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan, 2. Peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang tidak ada pada tanggal neraca, namun kondisi tersebut ada sesudah tanggal neraca. Menurut Sukrisno Agoes (2004:138), subsequent event yang harus di audit oleh akuntan publik adalah: 1. Subsequent Collection Penagihan sesudah tanggal neraca, sampai mendekati selesainya pekerjaan lapangan/audit field work, dan dilaksanakan dalam pemeriksaan piutang, dan barang dalam perjalanan 2. Subsequent Payment Pembayaran sesudah tanggal neraca sampai mendekati selesainya audit field work, dan dilaksanakan pada saat pemeriksaan hutang dan biaya yang masih harus dibayar. 2. Tujuan Pemeriksaan Subsequent Event Subsequent event harus dilakukan pemeriksaan dengan tujuan: 1. Menentukan keberadaan kejadian penting sesudah tanggal neraca yang membutuhkan penyesuaian terhadap laporan keuangan atau memerlukan pengungkapan dalam catatan atas laporan keuangan agar tidak menyesatkan pengguna laporan keuangan
  • 124. 2. Menentukan kemungkinan tertagihnya piutang 3. Memastikan bahwa “barang dalam perjalanan” yang tercantum di neraca per tanggal neraca, masih di perjalanan Saat membayar uang muka pembelian (L/C) perusahaan mencatat: Barang dagang dalam perjalanan xxx Kas xxx Saat penerimaan barang sebelum tanggal neraca, perusahaan mencatat: Persediaan xxx Hutang dagang xxx Akibatnya per tanggal neraca tetap terlihat saldo barang dalam perjalanan dan terjadi dua kali pencatatan hutang dagang : Persediaan xxx Barang dalam perjalanan xxx 4. Untuk memastikan kewajiban dan beban yang masih harus dibayar yang tercantum di neraca per tanggal neraca, merupakan kewajiban perusahaan yang akan dilunasi pada saat jatuh temponya (sesudah tanggal neraca) 5. Memastikan bahwa tidak ada kewajiban perusahaan yang belum dicatat per tanggal neraca 1. Prosedur Pemeriksaan Subsequent Event Prosedur pemeriksaan subsequent event terdiri dari beberapa langkah, yakni: 1. Periksa pengeluaran dan penerimaan kas sesudah tanggal neraca, sampai mendekati tanggal selesainya audit field work, 2. Periksa bukti pengeluaran dan penerimaan barang sesudah tanggal neraca, sampai mendekati tanggal selesainya audit field work, 3. Periksa cut-off pembelian dan penjualan, 4. Review laporan keuangan interim untuk periode sesudah tanggal neraca, 5. Minta copy notulen rapat direksi, dewan komisaris, pemegang saham, periksa apakah ada commitment dari perusahaan yang baru dipenuhi pada periode sesudah tanggal neraca, 6. Lakukan rofe jawab dengan pejabat perusahaan yang berwenang, mengenai:
  • 125. 1. Ada/tidaknya contingent liabilities 2. Ada/tidaknya perubahan dalam modal saham, kewajiban jangka panjang atau kredit modal kerja dalam periode sesudah tanggal neraca 3. Ada/tidaknya kejadian penting sesudah tanggal neraca yang memerlukan adjustment terhadap laporan keuangan atau penjelasan catatan laporan keuangan 7. Kirim konfirmasi ke penasihat rofe perusahaan, 8. Analisa perkiraan rofessional fees, 9. Dapatkan surat representasi klien (client representation letter) 2.Penyelesaian Pemeriksaan Akuntan Beberapa hal yang harus dilakukan akuntan publik, sebelum suatu pemeriksaan akuntan dinyatakan selesai: 1. Seluruh kertas kerja pemeriksaan harus diparaf oleh pembuatnya dan direview oleh atasannya. 2. Hasil review harus didokumentasikan dalam suatu review notes dan harus dijawab oleh staf yang direview (reviewee) secara tertulis 3. Daftar audit adjustment harus disusun, lengkap dengan index working papernya, diskusikan dengan klien 4. Audit adjustment yang sudah disetujui klien harus diposting ke masing-masing kertas kerja yang berkaitan 5. Draft report disusun oleh auditor in-charge (pimpinan tim audit), direview oleh audit manager dan audit partner 6. Sebelum kertas kerja pemeriksaan dan draft report di review oleh audit manager dan audit partner, maka audit supervisor harus menyusun notes to PPM (catatan untuk Partner, Principal dan Manager) 7. Setelah draft report direview dan disetujui PPM, diskusikan dengan klien. Jika klien setuju, buat final audit report. 8. Sebelum laporan audit diserahkan kepada klien, auditor harus meminta Surat Pernyataan Langganan dari klien. Tanggal surat harus sama dengan tanggal selesainya audit field work dan tanggal laporan audit. 9. Auditor membuat draft management letter, setelah direview dan disetujui PPM, diskusikan dengan klien. Klien setuju, buat management letter final untuk klien 10.tahap akhir, selesaikan urusan pelunasan audit fee (ditambah 10% PPN, dikurangi PPh 23 7,5%)
  • 126. 11.Dalam audit working papers, cantumkan “catatan untuk audit tahun berikutnya”. 12.Opini yang diberikan, tergantung hasil pemeriksaan 13.Dalam mereview kertas kerja pemeriksaan, KAP sebaiknya mempunyai daftar “Audit Working Papers Review Guide”
  • 127. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 18 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 18 Mahasiswa dapat memahami management letter & client representation letter management letter & client representation letter management letter client representation letter 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 20&21 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 128. PERTEMUAN XVII MANAGEMENT LETTER I. PENGERTIAN MANAJEMEN LETTER Manajemen Letter merupkan suatu surat yang dibuat oleh Kantor Akuntan Publik (KAP), ditujukan kepada manajemen perusahaan yang diperiksa laporan keuangannya (di audit), yang isinya memberitahukan kelemahan dari pengendalian intern perusahaan (baik material maupun immaterial weaknesses) yang ditemukan selama pelaksanaan pemeriksaan, disertai dengan saran-saran perbaikan dari KAP. Menurut Whittington, O. Ray dan Kurt Paniy (2001), management letter adalah suatu laporan kepada manajemen yang berisi rekomendasi untuk perbaikan kelemahan-kelemahan yang diungkapkan akuntan public setelah mempelajari dan mengevaluasi pengendalian intern perusahaan. Disamping untuk menyampaikan informasi-informasi yang bermanfaat kapada manajemen, management letter juga membantu membatasi tanggung jawab akuntan public seandainya dikemudian hari kelemahan pengendalian intern mengakibatkan kerugian bagi perusahaan. Dalam menjalankan usahanya, KAP tidak diperbolehkan mengiklankan kantornya atau jasa yang diberikan kantornya, karena jika hal tersebut dilakukan berarti KAP tersebut melanggar Aturan Etika Kompartemen Akuntan Publik – IAI. Salah satu cara untuk mendapatkan langganan adalah bekerja sebaik mungkin dalam memeriksa laporan keuangan suatu perusahaan, sehingga jika perusahaan tersebut puas atas jasa pemeriksaan dari KAP, diharapakan manajemen perusahaan akan merekomendasikan kepada teman-teman usahanya untuk menggunakan jasa KAP tersebut. Untuk mempelajari dan mengevaluasi pengendalian intern, akuntan public bisa menggunakan: a. Internal Control Questionnaires b. Flow Chart, menggambarkan arus dokumen dalam memproses suatu transaksi, dari awal sampai akhir dengan menggunakan symbol-simbol tertentu. c. Menggunakan Narrative Memo (penjelasan tertulis dari system dan prosedur akuntansi)
  • 129. Dari ketiga cara tersebut, akuntan publik akan mendapatkan suatu gambaran mengenai pengendalian intern mengenai pengendalian intern yang ada di perusahaan secara teoritis. Hal tersebut masih harus dibuktikan lebih lanjut dengan menggunakan Complience test (test ketaatan). Dalam compliance test, yang diperiksa adalah: a. Transaksi pengeluaran kas b. Transaksi penerimaan kas c. Transaksi penjualan d. Transaksi pembelian e. Transaksi pembayaran gaji f. Transaksi koreksi/penyesuaian Dalam hal ini yang diperhatikan adalah hal-hal berikut:  Apakah setiap transaksi didukung oleh dokumen pendukung yang lengkap  Apakah setiap transaksi diotorisasi oleh pejabat perusahaan yang berwenang  Apakah perhitungan matematis dalam dokumen pembukuan sudah benar  Apakah pendebitan dan pengkreditan transaksi ke masing-masing perkiraan buku besar sudah benar. Setelah melakukan compliance test, akuntan public harus menarik kesimpulan mengenai kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pengendalian intern perusahaan. Kemudian hasil temuan tersebut harus diberitahukan kepada manajemen perusahaan, beserta saran-saran perbaikannya dalam sebuah surat yang disebut Manajemen Letter. II. CARA MEMBUAT MANAGEMENT LETTER YANG BAIK Dalam membuat management letter, perlu diperhatikan beberapa hal penting agar dihasilkan suatu management letter yang baik dan efektif: 1. Management letter harus tepat waktu (timely), sehingga perusahaan masih sempat melakukan perbaikan-peraikan dalam pengendalian intern. Jika management letter terlambat diberikan, kemungkinan besar kelemahan-kelemahan dalam pengendalian intern sudah mengakibatkan terjadinya kesalahan dan kecurangan yang merugikan perusahaan. 2. Management letter harus berisi saran-saran yang bermanfaat dan bisa diterapkan. 3. Komentar dan saran-saran dalam management letter tidak boleh merupakan sesuatu yang “surprise”. Untuk itu, sebelumnya konsep management letter harus di diskusikan terlebih dahulu dengan manajemen perusahaan dan bagian yang berkaitan dan dimintakan komentar dari manajemen.
  • 130. 4. Management letter harus ditulis dengan menggunakan bahasa yang baik, halus dan tidak menyinggung perasaan orang lain. 5. Kelemahan dan saran yang diberikan bisa diurut berdasarkan urutan- urutan pos neraca dan laba rugi atau menurut hal-hal yang paling penting yang memerlukan perhatian khusus dari manajemen dan perlu penanganan secepat mungkin. 6. Saran-saran yang diberikan harus sesuai dengan kondisi bisnis perusahaan dan harus menunjukkan kemauan baik kantor akuntan public untuk membantu pengembangan usaha perusahaan. 7. Pada bagian akhir management letter jangan lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada manajemen dan seluruh staf perusahan, atas segala bantuan dan kerjasama yang diberikan mereka selama akuntan public melaksanakan pemeriksaannya. III. MANFAAT MANAGEMENT LETTER Management letter mempunyai banyak manfaat untuk klien tetapi untuk KAP dan staf (anggota tim pemeriksa) dari KAP, antara lain: 1. Untuk klien: 1. dapat mengetahui kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam pengendalian intern perusahaannya dalam mengambil tindakan-tindakan perbaikan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, berdasarkan saran-saran yang diberikan dalam managemen letter, sehingga bisa mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan dan kecurangan di dalam perusahaan. 2. Untuk KAP : 1. menjadikan nama kantor akuntan public menjadi bertambah baik, karena disamping laporan pemeriksaan akuntan, juga memberikan management letter yang sangat bermanfaat bagi perusahaan. 2. jika manajemen perusahaan puas, tentunya akan menyarankan kepada teman-teman bisnisnya untuk memakai jasa kantor akuntan public tersebut. 3. jika teman-teman bisnis tersebut tertarik, tentunya akan menambah jumlah klien kantor akuntan public. 3. Untuk staf kantor akuntan public (anggota tim pemeriksan): 1. jika klien kantor akuntan public bertambah, tentunya kesejahteraan pegawai dapat lebih ditingkatkan. 2. mendapat banyak kesempatan untuk mempelajari pengendalian intern diberbagai macam/jenis perusahaan.
  • 131. 3. mendapat kesempatan untuk mempelajari bagaimana membuat management letter yang baik. IV. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB ANGGOTA TIM AUDIT DALAM MEMBUAT MANAGEMENT LETTER Berikut tugas dan tanggung jawab dari masing-masing tim audit (dari KAP) dalam membuat management letter: 1. Asisten Auditor (Junior Staf) 1. sebagai petugas yang terjun ke lapangan (ke kantor perusahaan) setiap hari, bertugas mengumpulkan data dan informasi yang terdapat dalam pengendalian intern perusahaan, baik mengenai kebaikan maupun kelemahan pengendalian intern. 2. Mendokumentasikan data dan informasi tersebut beserta fotocopy bukti pendukung dalam kertas kerja pemeriksaan, untuk ditelaah lebih lanjut oleh senior auditornya. 2. Senior Auditor (Pimpianan Tim Pemeriksa) a. menelaah kertas kerja pemeriksaan yang dibuat asisten auditor, khususnya yang berkaitan dengan informasi mengenai kelemahan pengendalian intern perusahaan. b. mengumpulkan hal-hal yang bisa dimasukkan dalam management letter, sekaligus menyusun konsep management letter. c. mendiskusikan konsep management letter tersebut dengan bagian pajak dan bagian management service dari kantor akuntan public, untuk mendapatkan komentar mereka dari segi perpajakan dan system akuntansi. d. menyerahkan konsep management letter kepada audit supervisior/manager untuk ditelaah. e. setelah ditelaah oleh atasan, melakukan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. 3. Audit Supervisor/Manager a. menelaah dan mengedit konsep management letter, mengusulkan perbaikan-perbaikan yang diperlukan kepada senior auditor. b. menyerahkan konsep management letter yang sudah diperbaiki, kepada audit partner untuk ditelaah. c. setelah ditelaah audit partner dan diperbaiki (jika ada saran perbaikan dari audit partner) mendiskusikan konsep management letter tersebut dengan manajemen perusahaan.
  • 132. d. melaporkan kepada audit partner mengenai hasil diskusi dengan manajemen perusahaan, dan meminta persetujuan audit partner jika ada saran perubahan dari manajemen perusahaan. e. memerintahkan konsep terakhir management letter untuk difinalisasi. 4. Audit Partner a. menelaah dan mengedit konsep management letter yang diterima dari audit manager dan mendiskusikannya dengan audit manager dan “jika perlu” dengan audit senior. b. mengembalikan konsep tersebut berikut saran-saran perbaikan “jika ada” kepada audit manager. c. menelaah kembali konsep yang sudah diperbaiki, kemudian meminta audit manager untuk mendiskusikannya dengan manajemen perusahaan. d. membahas dengan audit manager, hasil diskusi konsep management letter yang telah dilakukan oleh audit manager dengan manajemen perusahaan. e. menandatangani management letter yang final untuk dikirimkan kepada manajemen perusahaan. Dari pembahasan tersebut diatas dapat ditarik beberapa kesimpulan: a. Management Letter merupakan suatu alat komunikasi antara kantor akuntan public dengan maajemen perusahan yang diaudit, mengenai pengendalian intern dan kelemahan-kelemahan yag terdapat dalam pengendalian intern perusahaan. b. Management Letter merupkan dokumentasi tertulis mengenai kelemahan pengendalian intern yang pernah dibicarakan dan disarankan perbaikan kepada klien. Sehingga jika dikemudian hari ada kecurangan yang merugikan perusahan karena kelemahan pengedalian intern yang belum diperbaiki, akuntan public tidak bisa disalahkan. c. Management Letter bermanfaat baik bagi perusahan yang diaudit, kantor akuntan public, maupun staf kantor akuntan public. d. Management Letter dapat merupakan”iklan tidak langsung” bagi kantor akuntan public. e. Semua kantor akuntan public harus membiasakan diri untuk memberikan management letter yang baik dan bermanfaat bagi kliennya.
  • 133. POLITEKNIK LP3I BANDUNG SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) MATA KULIAH : AUDITING KODE MATA KULIAH : KREDIT : 2 SKS PERTEMUAN : 19 No. TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS POKOK BAHASAN DALAM MATA PELAJARAN SUB POKOK BAHASAN METODE MEDIA WAKTU DAFTAR PUSTAKA 1 2 3 4 5 6 7 8 19 Mahasiswa dapat memahami internal audit dan perbedaannya dengan External Audit Internal audit Pengertian Audit Perbedaan internal audit dengan external audit Departemen internal audit yang efektif Pengertian error, collusion and fraud Temuan pemeriksaan intern dan laporan internal audit 1 kali tatap muka Sukrisno Agoes: buku 11, PERTEMUAN 23 BUKU REFERENSI : 1. Auditing: Pemeriksaan Akuntan, buku 1& buku II, Edisi kedua: Sukrisno Agoes lembaga Penerbit FE-UI, Jakarta, 1999. ( buku wajib). 2. Auditing an integrated approach: Alvin A Arrens and James Loebeck, five Edition 3. Standar pemeriksaan Akuntan Public
  • 134. PERTEMUAN XIX INTERNAL AUDIT A. Pengertian Internal Auditor Internal Auditor ialah orang atau badan yang melaksanakan aktivitas internal auditing. Oleh sePERTEMUAN itu Internal Auditor senatiasa berusaha untuk menyempurnakan dan melengkapi setiap kegiatan dengan penilaian langsung atas setiap bentuk pengawasan untuk dapat mengikuti perkembangan dunia usaha yang semakin kompleks. Dengan demikian Internal Auditing muncul sebagai suatu kegiatan khusus dari bidang akuntansi yang luas yang memanfaatkan metode dan teknik dasar dari penilaian. Dengan demikian pemeriksa Intern (Internal Auditor) harus memahami sifat dan luasnya pelaksanaan kegiatan pada setiap jajaran organisasi, dan juga diarahkan untuk menilai operasi sebagai tujuan utama. Hal ini berarti titik berat pemeriksaan yang diutamakan adalah pemeriksaan manajemen. Pemeriksaan ini dapat dilakukan dengan memahami kebijaksanaan manajemen (direksi), ketetapan rapat umum pemegang saham, peraturan pemerintah dan peraturan lainnya yang berkaitan. Supaya pengertian auditor dapat menjadi lebih jelas maka sebelum membicarakan lebih lanjut tentang pengertian Internal Auditor terlebih dahulu penulis menguraikan pengertian Internal Control (pengawasan intern), sePERTEMUAN pembahasan selanjutnya berkaitan erat dengan pengawasan intern. Pengawasan intern mempunyai peranan yang sangat penting bagi suatu organisasi perusahaan. Pengawasan intern merupakan alat yang baik untuk membantu manajemen dalam menilai operasiperusahaan guna dapat mencapai tujuan usaha. AICPA (American Institute of Certified Public Accountants) memberikan pengertian Internal Control sebagai berikut : Internal control comprises the plan of organization and all of the coordinated methods and measures adopted within a business to safeguad its cassets, chek the accuracy and realibility of its accounting data,promate operational efficieny, and encourage adhrence to prescribed manegerial policies. Atau jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia akan tampak sebagai berikut : Pengawasan Intern meliputi susunan organisasi dan semua metode serta ketentuan yang terkoordinir dan dianut dalam perusahaan untuk melindungi harta benda miliknya, memeriksan kecermatan dan seberapa jauh data akuntansi dapat dipercaya, meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong ditaatinya kebijaksanaan perusahaan yang telah digariskan. Sesuai dengan defenisi diatas, maka dalam arti sistem pengawasan intern mecakup pengawasan yang dapat dibedakan atas pengawasan yang bersifat akuntansi dan administratif. a. Pengawasan akuntansi meliputi rencana organisasi dan semua cara dari prosedur yang terutama menyangkut dan berhubugan langsung dengan
  • 135. pengamanan harta benda dan dapat dipercayainya catatan keuangan (pembukuan). Pada umumnya pengawasan akuntansi meliputi sistem pemberian wewenang (otorisasi) dan sistem persetujuan pemisahaan antara tugas operasional, tugas penyimpanan harta kekayaan dan tugas pembukuan, pengawasan fisik dan pemeriksaan intern (internal audit). 2. Pengawasan administratif meliputi rencana organisasi dan semua cara dan prosedur yang terutama menyangkut efisiensi usaha dan ketaatan terahadap kebijaksanaan pimpinan perusahaan yang pada umumnya tidak lansung berhubungan dengan pembukuan (akuntansi). Dalam pengawasan administratif termasuk analisa statistik, time and motion study, laporan kegiatan, program latihan pegawai dan pengawasan mutu. Dari defenisi diatas mengenai pengertian sistem pengawasan intern maka jelas betapa pentingnya peranan sistem itu dalam rangka tercapainya tujuan usaha secara efektif dan efisien. Dengan perkataan lain pengertian tersebut mengandung arti bahwa tujuan pengawasan intern menjamin pemakaian kekayaan pemakaian kekayaan perusahaan yang telah ditetapkan. Sistem internal control yang baik tidak dapat menjamin tidak adanya penyimpangan kecurangan dan pemborosan dalam suatu perusahaan, apabila orangorang yang melaksanakan kegiatan tersebut tidak selalu bertindak sesuai dengan prosedur yang telah ditetapka. Usaha untuk melaksanakan sistem intern control yang baik adalah dilaksanakan sistem internal control yang baik adalah dilaksanakannya pemeriksaan yang teratur oleh pimpinan perusahaan dengan membuatu suatu departemen / bagian yang disebut departemen Internal Auditing. Semakin berkembanya satuan-satuan usaha ekonomis, baik ditinjau dari unitunit operasi maupun struktur organisasi menurut suatu sistem manajemen yang lebih baik, dengan mempekerjakan pekerja atau karyawan yang sesuai dengan keahliannya pada berbagai bidang tingkat unit operasi dan tempat yang berbeda pula. Dengan bertambah kompleksnya tugas-tugas manajemen, maka mereka tidak mampu melakukan pengawasan dan koordinasi yang efektif untuk seluruh perusahaan. Oleh karena itu manajemen perlu dibantu oleh suatu unit yang khusus mengenai dan menelaah prosedur-prosedur dan operasi perusahaan. Dengan adanya departemen Internal Audit, diharapkan akan dapat membantu anggota manajemen dalam berbagai hal, seperti menelaah prosedur operasi dari berbagai unit dan melaporkan hal-hal yang menyangkut tingkat kepatuhan terhadap kebijasanaan pimpinan perusahaan, efisiensi, unit usaha atau efektifitas sistem pengawasan intern. Hal inilah yang melatar belakangi timbulnya spesialisasi bidang pemeriksaan intern, yang menuntut tidak hanya keahlian dalam bidang akuntansi tetapi juga keahlian bidang lainnya. Meskipun dunia usaha sekarang ini mempunyai perhatian yang semakin meningkat terhadap sistem pengawasan intern yang baik, tetapi pengawasan intern tersebut tidaklah dapat berlaku secara universil, suatu sistem yang baik untuk suatu perusahaan belum tentu baik untuk perusahaan lain meskipun
  • 136. perusahaan itu termasuk dalam bidang usaha yang sejenis. Namun beberapa ciri-ciri sistem pengawasan intern yang memadai adalah adanya empat unsur seperti berikut ini: 1. Suatu bagan organisasi yang menungkinkan pemisahan fungsi secara tepat. 2. Sistem pemberian wewenang serta prosedur pencatatan yang layak agar tercapai pengawasan akuntansi yang cukup atas aktiva, hutang-hutang, hasil dan biaya. 3. Praktek yang sehat harus diikuti dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap bagian organisasi. 4. Pegawai-pegawai yang kualitasnya seimbang dengan tanggung jawab. Keempat unsur ini yang masing-masing sama pentingnya merupakan dasar pengawasan intern yang baik kelemahan yang menyolok dalam salah satu diantaranya dapat menghambat tujuan sistem itu sendiri. Dengan sistem pengawasan intern yang memenuhi syarat sebagaimana dalam mencapai tujuannya. Namun demikian tujuan pengawasan intern hanya akan tercapai apabila pelaksanaanya semua prosedur, metode dan teknik yang menjadi unsur dari sistem itu sendiri bener-benar sesuai dengan semestinya. Untuk menjaga agar pelaksanaan itu benar dikerjakan maka perusahaan yang cukup besar umumnya memerlukan suatu bagian khusus yang disebut bagian pemeriksa intern (Internal Auditing Departement). Bagian ini mempunyai tugas antara lain untuk meneliti dan mengawasi apakah sistem pengawasan intern tetap memenuhi fungsinya dengan mengadakan pemeriksaan yang kontinue di dalam perusahaan. Petugas yang memimpin ini untuk melakukan pemeriksaan itu disebut dengan pemeriksaan intern (Internal Auditor). DaIam melaksanakan pemeriksaan Internal Auditor akan menyelidiki dan meneliti keefektifan sistem pengawasan yang ada. Dengan mengadakan penelitian terhadap pengawasan intern secara berkesinambungan akan dapat diketahui apakah berbagai depertemen atau unit lainnya dalam perusahaan telah melaksanakan fungsinya dengan baik atau belum. Jadi pemeriksaan intern yang dilakukan oleh internal auditor adalah merupakan suatu alat pengawasan yangpenting untuk mengukur dan menilai keefektifan pengawasan-pegawasan yang ada di dalam perusahaan. Beberapa pendapat mengenai pengertian Internal Auditing juga diberikan oleh beberapa penulis. Berikut ini adalah salah satu diantaranya, yang memberikan batasan pengertian Internal Auditing sebagai berikut: Status aktivitias penilaian yang bebas atau indnpenden dalam organisasi perusahaan untuk meneliti kembali dalam bidang akuntansi, keuangan clan bidang-bidang lain sebagai dasar memberikan servis pada manajemen. Dari pengertian singkat diatas, dapat dilihat penekanan utama pengertian Internal Auditing adalah untuk memberikan servis / jasa kepada manajemen.
  • 137. B. Fungsi dan Tuiuan Internal Auditing. Seperti telah dikemukakan bahwa Internal Auditing merupakan salah satu unsur daripada pengawasan yang dibina oleh manejemen, dengan fungsi utama adalah untuk menilai apakah pengawasan intern telah berjalan sebagaimana yang diharapkan. Adapun fungsi Internal Auditing secara menyeluruh mengenai pelaksanaan kerja Intern telah berjalan sebagaimana yang diharapkan. Adapun fungsi Internal Auditing secara menyeluruh mengenai pelaksanaan kerja Internal Auditing dalam mencapai tujuannya adalah: 1. Membahas dan menilai kebaikan dan ketepatan pelaksanaan pengendalian akuntansi, keuangan serta operasi. 2. Meyakinkan apakah pelaksanaan sesuai dengan kebijaksanaan, rencana dan prosedur yang ditetapkan. 3. Menyakinkan apakah kekayaan perusahaan/organisasi dipertanggung jawabkan dengan baik dan dijaga dengan aman terhadap segala kemungkinan resiko kerugian. 4. Menyakinkan tingkat kepercayaan akuntansi dan cara lainnya yang dikembangkan dalam organisasi. 5. Menilai kwalitas pelaksanaan tugas dan tanggung jawab yang telah dibebankan. Dari penjelasan diatas, bahwasanya tujuan dan luas pemeriksaan intern tersebut dalam membantu semua anggota manajemen dalam pelaksanaan tugasnya secara efektif dengan menyediakan data yang objektif mengenai hasil analisa, penilaian, rekomendasi, dan komentar atas aktivitas yang diperiksanya. SePERTEMUAN itu internal auditing haruslah memperhatikan semua tahap- tahap dari kegiatan perusahaan dimana dia dapat memberikan jasa-jasanya dalam rangka usaha pencapaian tujauan perusahaan. Adapun tujuan Internal Auditing yang dikemukanan oleh ahli yang lain adalah:  Membantu manajemen untuk mendapatkan administrasi perusahaan yang paling efisien dengan memuat kebijaksanaan operasi kerja perusahaan.  Menentukan kebenaran dari data keuangan yang dibuat dan kefektifan dari prosedur intern.  Memberikan dan memperbaiki kerja yang tidak efisien.  Membuat rekomendasi perubahan yang diperlukan dalam beberapa fase kerja.  Menentukan sejauh mana perlindungan pencatatan dan pengamanan harta kekayaan perusahaan terhadap penyelewengan.  Menetukan tingkat koordinasi dan kerja sama dari kebijaksanaan manajemen.
  • 138. C. Posisi Internal Auditor Dalam Struktur Organisasi. Secara garis besar ada tiga alternatif posisi atau kedudukan dari Internal Auditor dalam struktur organisasi perusahaan yaitu: 1. Berada dibawah Dewan Komisaris. Dalam hal ini star internal auditing bertanggung jawab pada Dewan Komisaris. lni disePERTEMUANkan karena bentuk perusahaan membutuhkan pertanggung jawaban yang lebih besar, termasuk direktur utama dapat diteliti oleh internal auditor. Dalam cara ini, bagain pemeriksa intern sebenarnya merupakan alat pengendali terhadap performance manajemen yang dimonitor oleh komisiaris perusahaan. Dengan demikian bagian pemeriksa intern mempunyai kedudukan yang kuat dalam organisasi. 2. Berada dibawah Direktur Utama. Menurut sistem ini star internal auditor bertanggung jawab pada direktur utama. Sistem ini biasanya jarang dipakai mengingat direktur utama terlalu sibuk dengan tugas-tugas yang berat. Jadi kemungkinan tidak sempat untuk mempelajari laporan yang dibuat internal auditor. 3. Berada dibawah Kepala Bagian Keuangan. Menurut sistem ini kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi perusahaan berada dibawah koordinasi kepala bagian keuangan. Bagian Internal auditor bertanggung jawab sepenuhnya kepada kepala keuangan atau ada yang menyebutnya sebagai Controller. Tapi perlu juga diketahui bahwa biasanya kepala bagian keuangan tersebut bertanggung jawab juga pada persoalan keuangan dan akuntansi. Apabila posisi atau kedudukan internal auditor itu perlu digambarkan dalam skema maka letak kedudukannya dalam struktur organisasi perusahaan. Mana yang terbaik dari ketiga alternatif tersebut. Hal ini tergantung pada tujuan yang hendak dicapai. Bila perusahaan sangat menekankan pada pengendalian keuangan saja, maka pola penempatan pemeriksaan intern seperti pada alternatif ketiga yang paling cocok. Namun kalau diingat betapa pentingnya peranan bagian pemeriksa intern sebagai alat untuk memonitor performance manajemen dalam mengelola kegiatan serta sumbernya secara efektif dan efisien, maka pola penempatan bagian pemeriksa intern sebagai star komisaris paling tepat. Jadi yang paling indeal bagian pemeriksa intern menerima perintah penugasan dari pimpinan tertinggi yaitu Direktur Utama dan hasil laporan pemeriksaan diserahkan untuk dianalisa direktur keuangan, dan hasil pengamatannya. Kedudukan atau posisi internal auditor dalarn struktur organisasi perusahaan mempengaruhi luasnya aktivitas fungsi yang dapat dijalankan dan dipengaruhi independensi dalam melaksanakan fungsinya. Seperti telah dijelaskan sebelumnya semakin tinggi kedudukan internal auditor dalam struktur organisasi perusahaan mempengaruhi luasnya aktivitas fungsi yang dapat dijalankan dan mempengaruhi indenpendensi dalam melaksanakan fungsinya.
  • 139. D. Laporan Internal Auditor. Laporan internal auditor merupakan sarana pertanggung jawaban internal auditor atas penugasan pemeriksaan oleh pimpinan. Melalui laporan ini internal auditor akan mengungkapkan dan menguraikan kelemahan yang terjadi dan keberhasilan yang dapat dicapai. 1. Pemeriksaan. Sebelum membuat laporan, internal auditor terlebih dahulu mengadakan pemeriksaan terhadap bagian yang diperiksa. Dalam melaksanakan internal auditor terlebih dahulu menyusun rencana kerja periksaan yang disetujui pimpinan perusahaan. Berdasarkan rencana kerja pemeriksaan yang telah disusun dan disetujui Direksi atau berdasarkan informasi yang diperoleh baik yang dari dalam maupun dari luar tentang adanya suatu penyelewengan yang akan merugikan kepentingan perusahaan, maka star internal auditing (auditor) akan mengadakan usulan pemeriksaan kepada manajemen. Dalam usulan pemeriksaan, star internal auditing hendaknya memberikan pertimbangan-pertimbangan yang beralasan, yang menjadi dasar usulan pemeriksaan yang dilakukan. Disamping itu setiap usulan pemeriksaan harns dapat menggambarkan kepada manajemen jumlah waktu dan biaya yang dibutuhkan dan susunan auditor yang akan melaksanakan tugas tersebut. Sebagai dasar untuk melakukan suatu pemeriksaan, star internal auditor harus memperoleh sural penugasan yang dibuat oleh Direksi atau yang ditunjuk untuk itu. Surat penugasan ini merupakan suatu bentuk bukti persetujuan Direksi untuk melaksanakannya tugas pemeriksaan dan bahwa program pemeriksaannya telah dapat dilaksanakannya. Agar pelaksanaan dilapangan dapat berjalan dengan lancar perlu persiapan, sebagai berikut:  Pengumpuian data/informasi yang menjadi dasar usulan pemeriksaan.  Kertas-kertas keIja pemeriksaan (working paper), kertas keIja ini merupakan alat yang dapat dipergunakan oleh staf-stafinternal auditing untuk menghimpun  Auditing program setiap rencana pemeriksaan perlu disusun terlebih dahulu  program pemeriksaan yang menggambarkan langkah-langkah apa yang harus  dilakukan oleh staf internal auditing tersebut.  Peralatan lain-lain yang dapat membantu memperlancar jalannya pemeriksaan hendaknya dipersiapkan dengan baik 2. Laporan. Setelah melakukan pemeriksaan, internal auditor menyusun laporan kepada pihak manajemen. Adapun bentuk penyajian laporan dapat berupa: a. Tertulis (Written). o Tabulasi o Laporan akuntansi formal o Statistik o Uraian atau paparan singkat o Grafik
  • 140. o Suatu kombinasi dari berbagai bentuk diatas. b. Lisan o Presentasei formal group, ini dapat meliputi penggunaan berbagai alat visual. o Konferensi individual. Dalam laopran tertulis, data disampaikan secara lengkap dan menyeluruh (konprehensif). Sementara lisan dapat berupa pemaparan atas hal-hal yang dianggap perlu ditonjolkan dan cenderung informasi yang disampaikan tidak menyeluruh. Agar laporan internal auditor informatif, maka sebaiknya laporan tersebut memenuhi beberapa unsur yang menjadi dasar bagi penyusunan laporan. Menurut "Norma Pemeriksaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara" pada point norma pelopor yang disusun oleh Bapeka khususnya pada norma pelopor, point tiga, disebutkan: Tiap laporan harus :  Menerangkan dengan jelas ruang lingkup dan tujuan pemeriksaan. Dibuat seringkas mungkin, akan tetapi harus jelas dan cukup lengkap, agar dapat dimengerti oleh pihak yang menggunakannya.  Manyajikan fakta-fakta dengan teliti, lengkap dan layak, apabila terdapat suatu penyimpangan atau kesalahan, sedapat mungkin dijelaskan sebab dan akibatnya.  Menyajikan pendapat dan kesimpulan pemeriksa secara objektif dan dalam bahasa yang jelas dan sederhana.  Semata-mata membuat informasi yang didasarkan pada fakta pendapat dan kesimpulan yang di dalam kertas kerja didukung oleh bukti yang memadai.  Sedapat mungkin membuat rekomendasi pemeriksa sebagai dasar untuk pengambilan tindakan untuk mengusahakan kebaikan.  Lebih mengutamakan usaha-usaha perbaikan daripada kecaman. Selain sebagai pedoman yang diungkapkan sebelumnya, khusus dalam penyajian dalam laporan tertulis, internal auditor perlu memperhatikan beberapa prinsip penyajia. Prinsip penyajian tersebut lebih dikenal dengan prinsip 10 (sepuluh). Hal ini perlu diperhatikan dengan maksud agar laporan mudah dimengerti dan informasi yang terkandung didalamnya mudah diserap. Prinsip-prinsip tersebut adalah: a. Correct, penyajian harus tepat dan benar. b. Complete, disajikan secara lengkap. c. Concise, penyajian sesingkat mungkin. d. Clear, informasi yang disampaikan harus jelas. e. Comprehensive, laporan harus bersifat menyeluruh. f. Comperative, sedapat mungkin laporan harus diperbandingkan. g. Conciderate, informasi yang disajikan harus relevan. h. Celerity, laporan harus selesai pada waktunya. i. Candid, laporan harus objektif. j. Coordinate, laporan harus dapat dikoordinasikan dengan laporan-laporan lainnya.