VIRUS POLIO
OLEH :
NUGROHO TRISTYANTO.S.Si., MM
Apa itu polio?
Polio merupakan penyakit yang
disebabkan virus polio yang tergolong
dalam Picornavirus. Suatu mikro
organisme berukuran kecil, namun
dapat melumpuhkan tubuh.
Penyakit polio --sering disebut
poliomyelitis-- merupakan penyakit
virus paling tua umurnya. Penderita
penyakit ini sudah terekam pada relief
peninggalan zaman Mesir Kuno yang
dipahat ribuan tahun sebelum
Masehi. Pada relief itu, tertulis
seorang raja yang kakinya kecil
sebelah, sehingga para arkeolog dan
kalangan medis menduga sang raja
terkena polio.
Bagaimana
penularannya?
Penyebaran utamanya melalui
kontak dengan manusia. Pejamu (host)
virus ini memang hanya manusia. Di luar
tubuh manusia, virus ini hanya mampu
bertahan hidup sebentar.
Virus ini disebarkan melalui rute
orofecal (melalui makanan dan
minuman) dan melalui percikan ludah.
Kemudian virus berkembang biak di
tenggorokan dan usus dan kemudian
menyebar ke kelenjar getah bening,
masuk ke dalam darah, serta menyebar
ke seluruh tubuh. Sasaran virus polio
terutama adalah sistem saraf yaitu ke
otak, sumsum tulang belakang dan
simpul-simpul saraf.
Dalam sistem saraf virus polio
menyerang dan merusak simpul-
simpul saraf sehingga tidak berfungsi.
Biasanya yang diserang saraf
penggerak otot tungkai/kaki dan
kadang-kadang tangan. Inilah yang
kemudian menyebabkan kelumpuhan
dengan mengecilnya tungkai, sehingga
jalan menjadi tidak sempurna.
Namun, virus ini dapat pula
menyerang saraf otot lengan dan
tangan. Ia bahkan bisa menyerang
bagian otak sehingga susah menelan
waktu makan, mengalami kesulitan
bernapas, dan akhirnya menimbulkan
kematian.
Gejala terserang polio?
Respons pertama terhadap infeksi
poliovirus biasanya bersifat infeksi
asimptomatik, yakni tidak menunjukkan gejala
sakit apa pun. Sekitar 4 sampai 8 persen infeksi
poliovirus tidak menimbulkan gejala serius.
Infeksi itu hanya menimbulkan penyakit minor
(abortive poliomyelitis) berupa demam, lemah,
mengantuk, sakit kepala, mual, muntah,
sembelit dan sakit tenggorokan. Setelah itu,
pasien dapat sembuh dalam beberapa hari.
Namun, bila poliovirus menginfeksi sel yang
menjadi sasaran utamanya, yaitu susunan sel
syaraf pusat di otak, terjadilah poliomyelitis
nonparalitik (1 sampai 2 persen) dan
poliomyelitis paralitik (0,1 sampai 1 persen).
Pada kasus poliomyelitis
nonparalitik, yang berarti poliovirus
telah mencapai selaput otak (meningitis
aseptik), penderita mengalami kejang
otot, sakit punggung dan leher; selain
dari gejala penyakit minor yang telah
disebutkan di atas.
Sedangkan kasus poliomyelitis
paralitik, biasanya terjadi sebagai
perkembangan lebih lanjut gejala
ringan sebelumnya, meskipun dapat
pula terjadi tanpa melalui fase pertama
tersebut. Pada tahap ini, akan terjadi
kerusakan tulang punggung atau
bulbar dan lumpuh lemas (flacid
paralisis), yang terjadi akibat
kerusakan neuron motor bawah. Inilah
puncak serangan yang sangat ditakuti
manusia.
Siapa yang rentan
terkena polio?
Penyakit ini lebih sering
berjangkit di daerah dingin,
sehingga penderita penyakit ini
akan berkurang di daerah
tropik.
Poliovirus lebih sering
menyerang bayi dan anak
balita, daripada orang dewasa,
karena kekebalannya masih
lemah. Virus ini juga lebih
banyak menyerang pria dewasa
daripada wanita.
Dimana tempat
bersarangnya virus
polio?
Inang atau tempat hidup
poliovirus hanyalah tubuh manusia
dan di tempat ini ia mampu hidup
bertahun-tahun lamanya. Pada tubuh
hewan ia tidak dapat hidup.
Sedangkan di alam bebas, makhluk
ini disebut sebagai virus liar (wild
virus), yang hanya mampu bertahan
selama dua hari karena tidak tahan
terhadap panas, cahaya dan
pengeringan.
Apa yang menyebabkan negara yang
sudah terbebas polio seperti Indonesia
terkena kembali transmisi polio liar?
Seluruh wilayah Indonesia sebenarnya sudah dinyatakan
bebas polio sejak
1995, seharusnya memang tidak perlu lagi khawatir penyakit
ini.
Sayangnya, penyakit yang melumpuhkan ini mempunyai
kemampuan untuk
berpindah tempat yang tidak mengenal batas negara.
Masalahnya justru masih
ada negara lain yang menjadi endemik polio tersebut,
sehingga masih terbuka
lebar kemungkinan polio menyerang masuk ke wilayah
Indonesia kembali.
Hal serupa pernah terjadi di sebuah wilayah pedesaan di
kawasan Cina,
seorang anak menderita lumpuh karena virus polio yang
berasal dari India.
Kasus lain adalah di Cape Verde, Afrika Barat, di tahun
2000, importasi virus
Polio dari Angola telah menyebabkan 44 orang lumpuh dan
17 orang
meninggal. Di Bulgaria, tahun 2001, setelah sejak tahun 1991
dinyatakan telah
bebas polio, ternyata dilaporkan ada dua anak yang
dinyatakan menderita
polio. Hasil laboratorium di sana menunjukkan bahwa asal
virus tersebut justru
dari India.
Mungkinkah muncul virus polio
derivat vaksin (VDPV) seperti
Filipina?
Sangat mungkin. Selain ancaman importasi
virus dari negara lain, kemungkinan mutasi dari
virus yang telah dijadikan vaksin, bisa saja
terjadi.
Hal tersebut sudah banyak terjadi di
kantung-kantung populasi dengan kekebalan
rendah, seperti di Haiti dan Republik Dominika
pada tahun 2000, di mana pada saat itu terdapat
sebanyak 19 anak lumpuh karena terjadi
penularan di antara penduduk yang memiliki
tingkat kekebalan yang rendah.
Kasus yang sama juga terjadi pada tahun
2001 di Filipina. Ketika itu, virus polio liar
dinyatakan sudah tidak ditemukan lagi di
negara tersebut sejak tahun 1993, namun timbul
kasus polio yang ditimbulkan oleh virus polio
yang berasal dari vaksin polio yang
berisi virus polio yang dilemahkan. Akibatnya,
Filipina terpaksa menggelar kampanye vaksinasi
polio darurat. Fenomena yang sama
menunjukkan telah terjadi juga di Madagaskar.
Apa upaya yang harus
dilakukan untuk
memberantas polio?
Ada empat strategi yang dianggap
manjur untuk memberantas polio.
• Pertama, memberi imunisasi polio pada
semua anak sebanyak empat kali sebelum
usia satu tahun sebagai bagian imunisasi
rutin untuk mencegah tujuh penyakit utama
anak (tuberkulosis/meningitis, polio, dipteri,
pertusis, tetanus, campak, hepatitis B).
• Kedua, lewat Pekan Imunisasi Nasional
semua anak di bawah usia lima tahun diberi
dua dosis vaksin polio dengan tenggang
waktu satu bulan.
• Ketiga, sistem pengamatan dibuat
sedemikian rupa sehingga tak ada kasus
polio yang tak
teridentifikasi.
• Keempat, mengirim tim untuk melakukan
imunisasi dari rumah ke rumah di wilayah
virus polio dicurigai masih beredar.

Virus polio. bag 12

  • 1.
    VIRUS POLIO OLEH : NUGROHOTRISTYANTO.S.Si., MM
  • 2.
    Apa itu polio? Poliomerupakan penyakit yang disebabkan virus polio yang tergolong dalam Picornavirus. Suatu mikro organisme berukuran kecil, namun dapat melumpuhkan tubuh. Penyakit polio --sering disebut poliomyelitis-- merupakan penyakit virus paling tua umurnya. Penderita penyakit ini sudah terekam pada relief peninggalan zaman Mesir Kuno yang dipahat ribuan tahun sebelum Masehi. Pada relief itu, tertulis seorang raja yang kakinya kecil sebelah, sehingga para arkeolog dan kalangan medis menduga sang raja terkena polio.
  • 3.
    Bagaimana penularannya? Penyebaran utamanya melalui kontakdengan manusia. Pejamu (host) virus ini memang hanya manusia. Di luar tubuh manusia, virus ini hanya mampu bertahan hidup sebentar. Virus ini disebarkan melalui rute orofecal (melalui makanan dan minuman) dan melalui percikan ludah. Kemudian virus berkembang biak di tenggorokan dan usus dan kemudian menyebar ke kelenjar getah bening, masuk ke dalam darah, serta menyebar ke seluruh tubuh. Sasaran virus polio terutama adalah sistem saraf yaitu ke otak, sumsum tulang belakang dan simpul-simpul saraf.
  • 4.
    Dalam sistem sarafvirus polio menyerang dan merusak simpul- simpul saraf sehingga tidak berfungsi. Biasanya yang diserang saraf penggerak otot tungkai/kaki dan kadang-kadang tangan. Inilah yang kemudian menyebabkan kelumpuhan dengan mengecilnya tungkai, sehingga jalan menjadi tidak sempurna. Namun, virus ini dapat pula menyerang saraf otot lengan dan tangan. Ia bahkan bisa menyerang bagian otak sehingga susah menelan waktu makan, mengalami kesulitan bernapas, dan akhirnya menimbulkan kematian.
  • 5.
    Gejala terserang polio? Responspertama terhadap infeksi poliovirus biasanya bersifat infeksi asimptomatik, yakni tidak menunjukkan gejala sakit apa pun. Sekitar 4 sampai 8 persen infeksi poliovirus tidak menimbulkan gejala serius. Infeksi itu hanya menimbulkan penyakit minor (abortive poliomyelitis) berupa demam, lemah, mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, sembelit dan sakit tenggorokan. Setelah itu, pasien dapat sembuh dalam beberapa hari. Namun, bila poliovirus menginfeksi sel yang menjadi sasaran utamanya, yaitu susunan sel syaraf pusat di otak, terjadilah poliomyelitis nonparalitik (1 sampai 2 persen) dan poliomyelitis paralitik (0,1 sampai 1 persen).
  • 6.
    Pada kasus poliomyelitis nonparalitik,yang berarti poliovirus telah mencapai selaput otak (meningitis aseptik), penderita mengalami kejang otot, sakit punggung dan leher; selain dari gejala penyakit minor yang telah disebutkan di atas. Sedangkan kasus poliomyelitis paralitik, biasanya terjadi sebagai perkembangan lebih lanjut gejala ringan sebelumnya, meskipun dapat pula terjadi tanpa melalui fase pertama tersebut. Pada tahap ini, akan terjadi kerusakan tulang punggung atau bulbar dan lumpuh lemas (flacid paralisis), yang terjadi akibat kerusakan neuron motor bawah. Inilah puncak serangan yang sangat ditakuti manusia.
  • 7.
    Siapa yang rentan terkenapolio? Penyakit ini lebih sering berjangkit di daerah dingin, sehingga penderita penyakit ini akan berkurang di daerah tropik. Poliovirus lebih sering menyerang bayi dan anak balita, daripada orang dewasa, karena kekebalannya masih lemah. Virus ini juga lebih banyak menyerang pria dewasa daripada wanita.
  • 8.
    Dimana tempat bersarangnya virus polio? Inangatau tempat hidup poliovirus hanyalah tubuh manusia dan di tempat ini ia mampu hidup bertahun-tahun lamanya. Pada tubuh hewan ia tidak dapat hidup. Sedangkan di alam bebas, makhluk ini disebut sebagai virus liar (wild virus), yang hanya mampu bertahan selama dua hari karena tidak tahan terhadap panas, cahaya dan pengeringan.
  • 9.
    Apa yang menyebabkannegara yang sudah terbebas polio seperti Indonesia terkena kembali transmisi polio liar? Seluruh wilayah Indonesia sebenarnya sudah dinyatakan bebas polio sejak 1995, seharusnya memang tidak perlu lagi khawatir penyakit ini. Sayangnya, penyakit yang melumpuhkan ini mempunyai kemampuan untuk berpindah tempat yang tidak mengenal batas negara. Masalahnya justru masih ada negara lain yang menjadi endemik polio tersebut, sehingga masih terbuka lebar kemungkinan polio menyerang masuk ke wilayah Indonesia kembali. Hal serupa pernah terjadi di sebuah wilayah pedesaan di kawasan Cina, seorang anak menderita lumpuh karena virus polio yang berasal dari India. Kasus lain adalah di Cape Verde, Afrika Barat, di tahun 2000, importasi virus Polio dari Angola telah menyebabkan 44 orang lumpuh dan 17 orang meninggal. Di Bulgaria, tahun 2001, setelah sejak tahun 1991 dinyatakan telah bebas polio, ternyata dilaporkan ada dua anak yang dinyatakan menderita polio. Hasil laboratorium di sana menunjukkan bahwa asal virus tersebut justru dari India.
  • 10.
    Mungkinkah muncul viruspolio derivat vaksin (VDPV) seperti Filipina? Sangat mungkin. Selain ancaman importasi virus dari negara lain, kemungkinan mutasi dari virus yang telah dijadikan vaksin, bisa saja terjadi. Hal tersebut sudah banyak terjadi di kantung-kantung populasi dengan kekebalan rendah, seperti di Haiti dan Republik Dominika pada tahun 2000, di mana pada saat itu terdapat sebanyak 19 anak lumpuh karena terjadi penularan di antara penduduk yang memiliki tingkat kekebalan yang rendah. Kasus yang sama juga terjadi pada tahun 2001 di Filipina. Ketika itu, virus polio liar dinyatakan sudah tidak ditemukan lagi di negara tersebut sejak tahun 1993, namun timbul kasus polio yang ditimbulkan oleh virus polio yang berasal dari vaksin polio yang berisi virus polio yang dilemahkan. Akibatnya, Filipina terpaksa menggelar kampanye vaksinasi polio darurat. Fenomena yang sama menunjukkan telah terjadi juga di Madagaskar.
  • 11.
    Apa upaya yangharus dilakukan untuk memberantas polio? Ada empat strategi yang dianggap manjur untuk memberantas polio. • Pertama, memberi imunisasi polio pada semua anak sebanyak empat kali sebelum usia satu tahun sebagai bagian imunisasi rutin untuk mencegah tujuh penyakit utama anak (tuberkulosis/meningitis, polio, dipteri, pertusis, tetanus, campak, hepatitis B). • Kedua, lewat Pekan Imunisasi Nasional semua anak di bawah usia lima tahun diberi dua dosis vaksin polio dengan tenggang waktu satu bulan. • Ketiga, sistem pengamatan dibuat sedemikian rupa sehingga tak ada kasus polio yang tak teridentifikasi. • Keempat, mengirim tim untuk melakukan imunisasi dari rumah ke rumah di wilayah virus polio dicurigai masih beredar.