TEORI BELAJAR SOSIO-KULTURAL DAN
APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN
Mardiah, S.Pd.
1. Tokoh-Tokoh Yang Melatar Belakangi Teori Belajar Sosio-kultural
A. Jean piaget
Teori kognitif Piaget berkembang sebagai aliran konstruktivistik kemudian
menjadi latar belakang munculnya teori teori belajar sosio-kultural, Piaget
menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu.
Penataan kondisi (lingkungan) bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi
sekedar memudahkan belajar. Dengan kata lain menurut piaget lingkungan adalah
faktor samping yang menunjang proses belajar. (Hill, 2010)
Menurut Piaget dalam Hill (2010), perkembangan kognitif merupakan suatu
proses genetik, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis dalam bentuk
perkembangan sistem syaraf. Makin bertambah umur seseorang, makin komplekslah
susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Kegiatan belajar
terjadi sejalan dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang.
Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, ia akan mengalami adaptasi
biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-
perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya.
Teori piaget menimbulkan implikasi kontraproduktif jika dilihat dari asal-usul
pengetahuan, Piaget cenderung menganut teori psikogenesis. Artinya, pengetahuan
berasal dari dalam diri individu. Dalam proses belajar, siswa berdiri terpisah dengan
interaksi lingkungan sosial. Kemampuan menciptakan makna atau pengetahuan baru
itu sendiri lebih ditentukan oleh kematangan biologis.
Piaget juga menjelaskan bahwa dalam fenomena belajar lingkungan sosial
hanya berfungsi sekunder, sedangkan faktor utama yang menentukan terjadinya
belajar tetap pada individu yang bersangkutan. Di samping itu, dalam kegiatan
belajar Piaget lebih mementingkan interaksi antara siswa dengan kelompoknya.
Perkembangan kognitif akan terjadi dalam interaksi antara siswa dengan kelompok
sebayanya dari pada dengan orang-orang yang lebih dewasa.
B. Lev Vygotsky.
Vygotsky adalah psikolog dari kebangsaan rusia, ia memberikan pemikirannya
dalam hal teori sosiokultural. Vygotsky menjelaskan dalam tulisannya pada tahun
1920-an dan 1930-an menekankan bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa
memberikan sumbangan terhadap perkembangan keterampilan dan pengetahuan.
(Hill, 2010)
Menurut Vygotsky dalam Hill (2010), orang dewasa yang sensitif memperhatikan
kesiapan anak untuk tantangan baru, dan mereka menyusun kegiatan yang tepat untuk
membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru. Orang dewasa berperan
sebagai mentor dan guru, mengarahkan anak ke dalam zone of proximal development
– istilah Vygotsky untuk rentang keterampilan yang tidak dapat dilakukan anak
sendiri tanpa bantuan orang dewasa yang ahli. Orang tua dapat mendorong konsep
angka sederhana, misalnya dengan menghitung bibit biji kakau dengan anak-anak
atau menakar beras untuk dimasak bersama, dan mengisi angka yang tidak diingat
anak. Saat anak berpartisipasi pada pengalaman semacam itu sehari-hari dengan orang
tua, guru, dan orang lain, mereka secara bertahap belajar praktek, keterampilan, dan
nilai kebudayaan (Trianto, 2008:67).
Lev Vygotsky yang wafat pada usia muda (38 tahun, pada 1934) sudah sangat
menyumbangkan pemikirannya khususnya dalam bidang kognitifisme sosial di
antaranya:
 Proses mental kompleks mulai sebagai kegiatan sosial; sebagaimana anak
berkembang, anak secara bertahap menginternalisasi proses ini dan dapat
menggunakannya secara mandiri pada lingkungan di sekelilingnya.
 Berpikir dan bahasa masing-masing berkembang secara mandiri, keduanya
menjadi mandiri saat anak berusia sekitar dua tahun.
 Anak dapat menyelesaikan tugas yang lebih sulit saat mereka mendapat bantuan
dari orang yang lebih dewasa dan komponen dari diri mereka.
 Tugas - tugas di dalam zona perkembangan proksimal meningkatkan
pertumbuhan kognitif maksimum.
C. Perbedaan Teori Piaget Dan Vygotsky
Meskipun pada akhirnya teori piaget dan vygotsky dijadikan teori yang saling
melengkapi namun pendapat dari kedua pakar ini adalah berbeda. Dimana
perbedaannya adalah piaget menjelaskan bahwa pembentukan pengetahuan itu terjadi
melalui interaksi dalam diri anak(sesuai perkembangan usia) dengan obyek fisik
secara langsung kemudian anak melakukan pembangunan pengetahuannya secara
individu (intrapersonal). intrapersonal dianggap piaget menjadi faktor primer dalam
membangun sebuah pengetahuan bermakna sedangkan lingkungan merupakan faktor
derivat atau turunan dari intrapersonal. Sehinnga usia berandil besar dalam pros
Sedangkan Vygotsky menjelaskan bahwa faktor primer dalam proses membangun
pengetahuan bermakna adalah interaksi seorang anak dengan lingkungan
(interpersonal). Sehingga usia bukanlah landasan untuk melihat tingkat pengetahuan
individu.
2. Pengertian dan konsep Teori Belajar Sosio-kultural
A. Pengertian
Teori belajar Sosio-kultural atau yang juga dikenal sebagai perkembangan teori
belajar kontruktivistik sosial. Teori ini merupakan teori belajar yang titik tekan utamanya
adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain (lingkungan sosial)
dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development (ZPD) atau
Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak dalam perkembangannya
membutuhkan orang lain atau lingkungannya untuk memahami sesuatu dan memecahkan
masalah yang dihadapinya.
Teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari
masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan
kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan
sosial), dan dilanjutkan melalui tahap intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri
sendiri).
Menurut vygotsky Jalan pikiran seseorang dapat dimengerti dengan cara menelusuri
asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial (aktivitas dan bahasa yang digunakan)
yang dilatari sejarah hidupnya. Peningkatan fungsi-fungsi mental bukan berasal dari
individu itu sendiri melainkan berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya.
Kondisi sosial adalah sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan,
keterampilan dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai
pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi sehari-hari baik lingkungan sekolah
maupun keluarganya secara aktif. sehingga teori belajar Vygotsky disebut dengan
pendekatan Co-Konstruktivisme artinya perkembangan kognitif seseorang disamping
ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan sosial yang
aktif pula.
Vygotsky menjelaskan perkembangan kognisi seorang anak dapat terjadi melalui
kolaborasi antar anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya. Perkembangan
anak terjadi dalam budaya dan terus berkembang sepanjang hidupnya dengan
berkolaborasi dengan yang lain. Dari perspektif ini para penganut aliran sosiokultural
berpendapat bahwa sangatlah tidak mungkin menilai seseorang tanpa
mempertimbangkan orang-orang penting di lingkungannya.
Banyak ahli psikologi perkembangan yang sepaham denga konsep yang diajukan
Vygotsky. Teorinya yang menjelaskan tentang potret perkembangan manusia sebagai
sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan
bahwa proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran
melibatkan pembelajaran dengan orang–orang yang ada di lingkungan sosialnya. Selain
itu ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan
dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut.
Inti dari teori belajar sosio-kultural ini adalah penggunaan alat berfikir seseorang yang
tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial
budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap
individu
B. Konsep Teori Belajar Sosio-kultural
Ada 3 konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan
kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar yaitu : genetic law of
development, zona of proximal development dan mediasi.
1. Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development)
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang
melewati dua tataran, yaitu interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau
intramental. Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial
sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta
perkembangan kognitif seseorang. Sedangkan fungsi intramental dipandang sebagai
derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan
internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.
Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu tanpa memahami
maknanya. Pemaknaan atau konstruksi pengetahuan baru muncul atau terjadi melalui
proses internalisasi. Namun internalisasi yang dimaksud oleh Vygotsky bersifat
transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan perkembangan yang tidak
sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar dan berkembang merupakan
satu kesatuan dan saling menentukan.
2. Zona pekembangan proksimal (zone of proximal development)
Zona Perkembangan Proksimal/Zona Proximal Development (ZPD) merupakan
konsep utama yang paling mendasar dari teori belajar sosiokultural Vygotsky. Dalam
Luis C. Moll (1993: 156-157), Vygotsky berpendapat bahwa setiap anak dalam suatu
domain mempunyai “level perkembangan aktual” .Vygotsky membagi perkembangan
proksimal (zone of proximal development) ke dalam dua tingkat yaitu tingkat
perkembangan aktual dan potensial:
 Tingkat perkembangan aktual yang tampak dari kemampuan seseorang untuk
menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Hal
Ini disebut sebagai kemampuan intramental.
 Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang
untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah
bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang
lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental.
Secara jelas Vygotsky memberikan pandangan yang matang tentang konsep
tersebut seperti yang dikutip oleh Luis C. Moll (1993: 157) bahwa Jarak antara kedua
tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona
perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-
fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam
proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum
menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui
interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih
kompeten.
Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari
perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan
mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. jadi sebagai bentuk fundamental dalam
belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
Dalam Slavin (2008) Vygotsky mengemukakan ada empat tahapan ZPD yang
terjadi dalam perkembangan dan pembelajaran yang menyangkut ZPD, yaitu:
 Tahap 1 : Tindakan anak masih dipengaruhi atau dibantu orang lain. Seorang anak
yang masih dibantu memakai baju, sepatu dan kaos kakinya ketika akan berangkat ke
sekolah ketergantungan anak pada orang tua dan pengasuhnya begitu besar, tetapi ia
suka memperhatikan cara kerja yang ditunjukkan orang dewasa
 Tahap 2 : Tindakan anak yang didasarkan atas inisiatif sendiri. Anak mulai
berkeinginan untuk mencoba memakai baju, sepatu dan kaos kakinya sendiri tetapi
masih sering keliru memakai sepatu antara kiri dan kanan. Memakai bajupun masih
membutuhkan waktu yang lama karena keliru memasangkan kancing.
 Tahap 3 : Tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi. Anak mulai
melakukan sesuatu tanpa adanya perintah dari orang dewasa. Setiap pagi sebelum
berangkat ia sudah mulai faham tentang apa saja yang harus dilakukannya, misalnya
memakai baju kemudian kaos kaki dan sepatu.
 Tahap 4 : Tindakan anak spontan akan terus diulang-ulang hingga anak siap untuk
berfikir abstrak. Terwujudnya perilaku yang otomatisasi, anak akan segera dapat
melakukan sesuatu tanpa contoh tetapi didasarkan pada pengetahuannya dalam
mengingat urutan suatu kegiatan. Bahkan ia dapat menceritakan kembali apa yang
dilakukannya saat ia hendak berangkat ke sekolah. Pada empat tahapan ini dapat
disimpulkan bahwa. Seseorang akan dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak
bisa dia lakukan dengan bantuan yang diberikan oleh orang dewasa maupun teman
sebayanya yang lebih berkompeten terhadap hal tersebut
Kesimpulannya pada konsep zona perkembangan proksimal, sebelum terjadi
internalisasi dalam diri anak atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak
perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa dan/atau teman sebaya yang
lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh,
memberikan feedback, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka
perkembangan kemampuannya.
3. Mediasi
Mediasi merupakan tanda-tanda atau lambang-lambang yang digunakan
seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya. Menurut Vygotsky, kunci
utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau
lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau lambang-
lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang
berada. Untuk memahami alat-alat mediasi ini, anak-anak dibantu oleh guru, orang
dewasa maupun teman sebaya yang lebih kompeten.
Elemen-elemen yang dapat digunakan sebagai mediasi terdiri dari ucapan,
bunyi suara, tipe percakapan sosial, dialog dan lain-lain, di mana secara kontekstual
elemen-elemen tersebut berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan
faktor-faktor individu. Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi
kognitif (Supratiknya, 2002).
1. Mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik (tanda atau lambang)
oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten untuk membantu
mengkontruksi pemikiran anak dan akhirnya anak menjadi paham terhadap
pengetahuan yang diajarkan
2. Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah
yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu. Mediasi kognitif bisa berkaitan
dengan konsep spontan dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya).
Konsep-konsep ilmiah yang berhasil diinternalisasikan anak akan berfungsi sebagai
mediator dalam pemecahan masalah.
Menurut Vygotsky, untuk membantu anak mengembangkan pengetahuan yang
sungguh-sungguh bermakna, maka dapat dilakukan dengan cara memadukan antara
konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktek.
3. Aplikasi Teori Belajar Sosio-kultural Dalam Praktek Pembelajaran
Pada penerapan pembelajaran dengan teori belajar sosiokultural, guru berfungsi
sebagai motivator yang memberikan rangsangan agar siswa aktif dan memiliki gairah
untuk berfikir, fasilitator, yang membantu menunjukkan jalan keluar bila siswa
menemukan hambatan dalam proses berfikir, menejer yang mengelola sumber belajar,
serta sebagai rewarder yang memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa,
sehingga mampu meningkatkan motivasi yang lebih tinggi dari dalam diri siswa.
Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps) yang dapat
memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
Dalam kosa kata Psikologi Kognitif, bantuan-bantuan ini dikenal sebagai cognitive
scaffolding. Bantuan-bantuan tersebut dapat dalam bentuk pemberian contoh-contoh,
petunjuk atau pedoman mengerjakan, bagan/alur, langkah-langkah atau prosedur
melakukan tugas, pemberian balikan, dan sebagainya. Bimbingan atau bantuan dari
orang dewasa atau teman yang lebih kompeten juga dapat diberikan guru dalam proses
memberi bantuan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Pada intinya, siswalah yang
dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri untuk membangun ilmu pengetahuan.
Berdasarkan teori Vygotsky Slavin(2008) menyimpulkan beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penerapan teori sosiokultural pada praktek pembelajaran, yaitu:
1. Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas
untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui
be lajar dan berkembang.
2. Pembelajaran perlu dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada
perkembangan aktualnya.
3. Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan
kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya.
4. Anak diberikan kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan
deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural untuk melakukan
tugas-tugas dan memecahkan masalah
5. Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih
merupakan co-konstruksi
4. Kekuatan dan Kelemahan Teori Belajar Sosial Kultural
A. Kekuatan
Kekuatan yang menjadikan keuntungan dari peneraan teori belajar sosio-kultural ini
adalah:
 Berpikir. Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berpikir untuk
menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan.
 Paham. Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru,
mereka akan lebih paham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.
 Ingat. Oleh karena murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan
mengingat lebih lama semua konsep yang telah mereka pelajari. Melalui pendekatan
ini murid membina sendiri kepahaman mereka. Dengan ini, mereka akan lebih yakin
menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.
 Kemahiran sosial. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan
guru dalam membina pengetahuan baru.
 Senang. Oleh karena mereka terlibat secara terus-menerus, mereka paham, ingat ,
yakin, dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan merasa lebih senang belajar
dalam membina pengetahuan baru.
B. Kelemahan
Kelemahan dari teori sosio-kultural yaitu
1. Pendidik dituntut bisa mengaitkan lingkungan dan pengetahuan yang ingin di ajarkan
sehingga anak memiliki kelelasaan dalam membangun pengetahuannya dari
lingkungan tersebut
2. Proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan konsep, melainkan
belajar praktis
3. Pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar diamati secara langsung. Perlu
tenaga ahli khusus untuk mengetahuinya
Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dari pennulisan makalah ini maka dapar ditarik
kesimpulan bahwa teori belajar sosio-kultural adalah teori belajar yang titik tekan
utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain
(lingkungan sosial) dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal
Development (ZPD). Dimana Lev Vygotsky adalah salah satu pakar yang sangat jelas
memaparkan teori belajar ini.
Implikasi dari teori Vygostky dalam pendidikan yaitu : 1) Setting kelas
berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di
sekitar tugas-tugas dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah
afektif dalam zona of proximal development. 2) Dalam pengajaran ditekankan
scaffolding sehingga siswa semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap
pembelajarannya sendiri.
Saran
Belajar merupakan proses penciptaan makna sebagai hasil dari pemikiran individu
melalui interaksi dalam suatu konteks sosial. Dalam hal ini, jangan menganggap ada
yang lebih unggul diantara keduamya. Sebab pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari
aktivitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan,
Sebagai tenaga pendidik hendaknya kita jeli dalam memanfaat lingkungan sebagai
mediasi, shingga proses belajar sosio-kultural ini dapat berlansung maksimal.
DAFTAR PUSTAKA
Hill, F Winfrend.2010.Theories of Learning. Bandung: Nusa Media.
Moll, L.C. 1990. Vygotsky and Education : instructionsl implicstion od sociohistorical
psychology. Victoria : Cambridge University Press
Slavin, Robert E, 2008. Cooperative learning Theori Reseach and Practice, Allyn and Bacod
Boston
Supratiknya, A. 2002. Service Learning, Belajar dan Konteks Kehidupan Masyarakat:
Paradigma Pembelajaran Berbasis Problem, Mempertemukan Jean Piaget dan Lev
Vygotsky. Yogyakarta: Pidato Dies USD ke-47.
Trianto. 2008. Model pembelajaran inovatif berorientasi kontruktivisme. Jakarta: Prestasi
Pustaka

Sosiokultural mardiah

  • 1.
    TEORI BELAJAR SOSIO-KULTURALDAN APLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN Mardiah, S.Pd.
  • 2.
    1. Tokoh-Tokoh YangMelatar Belakangi Teori Belajar Sosio-kultural A. Jean piaget Teori kognitif Piaget berkembang sebagai aliran konstruktivistik kemudian menjadi latar belakang munculnya teori teori belajar sosio-kultural, Piaget menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya karsa individu. Penataan kondisi (lingkungan) bukan sebagai penyebab terjadinya belajar, tetapi sekedar memudahkan belajar. Dengan kata lain menurut piaget lingkungan adalah faktor samping yang menunjang proses belajar. (Hill, 2010) Menurut Piaget dalam Hill (2010), perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis dalam bentuk perkembangan sistem syaraf. Makin bertambah umur seseorang, makin komplekslah susunan sel syarafnya dan makin meningkat pula kemampuannya. Kegiatan belajar terjadi sejalan dengan pola tahap-tahap perkembangan tertentu dan umur seseorang. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, ia akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan- perubahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Teori piaget menimbulkan implikasi kontraproduktif jika dilihat dari asal-usul pengetahuan, Piaget cenderung menganut teori psikogenesis. Artinya, pengetahuan berasal dari dalam diri individu. Dalam proses belajar, siswa berdiri terpisah dengan interaksi lingkungan sosial. Kemampuan menciptakan makna atau pengetahuan baru itu sendiri lebih ditentukan oleh kematangan biologis. Piaget juga menjelaskan bahwa dalam fenomena belajar lingkungan sosial hanya berfungsi sekunder, sedangkan faktor utama yang menentukan terjadinya belajar tetap pada individu yang bersangkutan. Di samping itu, dalam kegiatan belajar Piaget lebih mementingkan interaksi antara siswa dengan kelompoknya. Perkembangan kognitif akan terjadi dalam interaksi antara siswa dengan kelompok sebayanya dari pada dengan orang-orang yang lebih dewasa. B. Lev Vygotsky. Vygotsky adalah psikolog dari kebangsaan rusia, ia memberikan pemikirannya dalam hal teori sosiokultural. Vygotsky menjelaskan dalam tulisannya pada tahun 1920-an dan 1930-an menekankan bagaimana interaksi anak dengan orang dewasa
  • 3.
    memberikan sumbangan terhadapperkembangan keterampilan dan pengetahuan. (Hill, 2010) Menurut Vygotsky dalam Hill (2010), orang dewasa yang sensitif memperhatikan kesiapan anak untuk tantangan baru, dan mereka menyusun kegiatan yang tepat untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru. Orang dewasa berperan sebagai mentor dan guru, mengarahkan anak ke dalam zone of proximal development – istilah Vygotsky untuk rentang keterampilan yang tidak dapat dilakukan anak sendiri tanpa bantuan orang dewasa yang ahli. Orang tua dapat mendorong konsep angka sederhana, misalnya dengan menghitung bibit biji kakau dengan anak-anak atau menakar beras untuk dimasak bersama, dan mengisi angka yang tidak diingat anak. Saat anak berpartisipasi pada pengalaman semacam itu sehari-hari dengan orang tua, guru, dan orang lain, mereka secara bertahap belajar praktek, keterampilan, dan nilai kebudayaan (Trianto, 2008:67). Lev Vygotsky yang wafat pada usia muda (38 tahun, pada 1934) sudah sangat menyumbangkan pemikirannya khususnya dalam bidang kognitifisme sosial di antaranya:  Proses mental kompleks mulai sebagai kegiatan sosial; sebagaimana anak berkembang, anak secara bertahap menginternalisasi proses ini dan dapat menggunakannya secara mandiri pada lingkungan di sekelilingnya.  Berpikir dan bahasa masing-masing berkembang secara mandiri, keduanya menjadi mandiri saat anak berusia sekitar dua tahun.  Anak dapat menyelesaikan tugas yang lebih sulit saat mereka mendapat bantuan dari orang yang lebih dewasa dan komponen dari diri mereka.  Tugas - tugas di dalam zona perkembangan proksimal meningkatkan pertumbuhan kognitif maksimum. C. Perbedaan Teori Piaget Dan Vygotsky Meskipun pada akhirnya teori piaget dan vygotsky dijadikan teori yang saling melengkapi namun pendapat dari kedua pakar ini adalah berbeda. Dimana perbedaannya adalah piaget menjelaskan bahwa pembentukan pengetahuan itu terjadi melalui interaksi dalam diri anak(sesuai perkembangan usia) dengan obyek fisik secara langsung kemudian anak melakukan pembangunan pengetahuannya secara individu (intrapersonal). intrapersonal dianggap piaget menjadi faktor primer dalam
  • 4.
    membangun sebuah pengetahuanbermakna sedangkan lingkungan merupakan faktor derivat atau turunan dari intrapersonal. Sehinnga usia berandil besar dalam pros Sedangkan Vygotsky menjelaskan bahwa faktor primer dalam proses membangun pengetahuan bermakna adalah interaksi seorang anak dengan lingkungan (interpersonal). Sehingga usia bukanlah landasan untuk melihat tingkat pengetahuan individu. 2. Pengertian dan konsep Teori Belajar Sosio-kultural A. Pengertian Teori belajar Sosio-kultural atau yang juga dikenal sebagai perkembangan teori belajar kontruktivistik sosial. Teori ini merupakan teori belajar yang titik tekan utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain (lingkungan sosial) dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development (ZPD) atau Zona Perkembangan Proksimal dan mediasi. Di mana anak dalam perkembangannya membutuhkan orang lain atau lingkungannya untuk memahami sesuatu dan memecahkan masalah yang dihadapinya. Teori konstruksi sosial ini menekankan bahwa intelegensi manusia berasal dari masyarakat, lingkungan dan budayanya. Teori ini juga menegaskan bahwa perolehan kognitif individu terjadi pertama kali melalui interpersonal (interaksi dengan lingkungan sosial), dan dilanjutkan melalui tahap intrapersonal (internalisasi yang terjadi dalam diri sendiri). Menurut vygotsky Jalan pikiran seseorang dapat dimengerti dengan cara menelusuri asal usul tindakan sadarnya dari interaksi sosial (aktivitas dan bahasa yang digunakan) yang dilatari sejarah hidupnya. Peningkatan fungsi-fungsi mental bukan berasal dari individu itu sendiri melainkan berasal dari kehidupan sosial atau kelompoknya. Kondisi sosial adalah sebagai tempat penyebaran dan pertukaran pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai sosial budaya. Anak-anak memperoleh berbagai pengetahuan dan keterampilan melalui interaksi sehari-hari baik lingkungan sekolah maupun keluarganya secara aktif. sehingga teori belajar Vygotsky disebut dengan pendekatan Co-Konstruktivisme artinya perkembangan kognitif seseorang disamping ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga ditentukan oleh lingkungan sosial yang aktif pula.
  • 5.
    Vygotsky menjelaskan perkembangankognisi seorang anak dapat terjadi melalui kolaborasi antar anggota dari satu generasi keluarga dengan yang lainnya. Perkembangan anak terjadi dalam budaya dan terus berkembang sepanjang hidupnya dengan berkolaborasi dengan yang lain. Dari perspektif ini para penganut aliran sosiokultural berpendapat bahwa sangatlah tidak mungkin menilai seseorang tanpa mempertimbangkan orang-orang penting di lingkungannya. Banyak ahli psikologi perkembangan yang sepaham denga konsep yang diajukan Vygotsky. Teorinya yang menjelaskan tentang potret perkembangan manusia sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Ia menekankan bahwa proses-proses perkembangan mental seperti ingatan, perhatian, dan penalaran melibatkan pembelajaran dengan orang–orang yang ada di lingkungan sosialnya. Selain itu ia juga menekankan bagaimana anak-anak dibantu berkembang dengan bimbingan dari orang-orang yang sudah terampil di dalam bidang-bidang tersebut. Inti dari teori belajar sosio-kultural ini adalah penggunaan alat berfikir seseorang yang tidak dapat dilepaskan dari pengaruh lingkungan sosial budayanya. Lingkungan sosial budaya akan menyebabkan semakin kompleksnya kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu B. Konsep Teori Belajar Sosio-kultural Ada 3 konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar yaitu : genetic law of development, zona of proximal development dan mediasi. 1. Hukum genetik tentang perkembangan (genetic law of development) Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau intramental. Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Sedangkan fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut. Pada mulanya anak berpartisipasi dalam kegiatan sosial tertentu tanpa memahami maknanya. Pemaknaan atau konstruksi pengetahuan baru muncul atau terjadi melalui
  • 6.
    proses internalisasi. Namuninternalisasi yang dimaksud oleh Vygotsky bersifat transformatif, yaitu mampu memunculkan perubahan dan perkembangan yang tidak sekedar berupa transfer atau pengalihan. Maka belajar dan berkembang merupakan satu kesatuan dan saling menentukan. 2. Zona pekembangan proksimal (zone of proximal development) Zona Perkembangan Proksimal/Zona Proximal Development (ZPD) merupakan konsep utama yang paling mendasar dari teori belajar sosiokultural Vygotsky. Dalam Luis C. Moll (1993: 156-157), Vygotsky berpendapat bahwa setiap anak dalam suatu domain mempunyai “level perkembangan aktual” .Vygotsky membagi perkembangan proksimal (zone of proximal development) ke dalam dua tingkat yaitu tingkat perkembangan aktual dan potensial:  Tingkat perkembangan aktual yang tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas atau memecahkan berbagai masalah secara mandiri. Hal Ini disebut sebagai kemampuan intramental.  Sedangkan tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan tugas-tugas dan memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Ini disebut sebagai kemampuan intermental. Secara jelas Vygotsky memberikan pandangan yang matang tentang konsep tersebut seperti yang dikutip oleh Luis C. Moll (1993: 157) bahwa Jarak antara kedua tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial ini disebut zona perkembangan proksimal. Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi- fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam proses pematangan. Ibaratnya sebagai embrio, kuncup atau bunga, yang belum menjadi buah. Tunas-tunas perkembangan ini akan menjadi matang melalui interaksinya dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Gagasan Vygotsky tentang zona perkembangan proksimal ini mendasari perkembangan teori belajar dan pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan mengoptimalkan perkembangan kognitif anak. jadi sebagai bentuk fundamental dalam belajar adalah partisipasi dalam kegiatan sosial.
  • 7.
    Dalam Slavin (2008)Vygotsky mengemukakan ada empat tahapan ZPD yang terjadi dalam perkembangan dan pembelajaran yang menyangkut ZPD, yaitu:  Tahap 1 : Tindakan anak masih dipengaruhi atau dibantu orang lain. Seorang anak yang masih dibantu memakai baju, sepatu dan kaos kakinya ketika akan berangkat ke sekolah ketergantungan anak pada orang tua dan pengasuhnya begitu besar, tetapi ia suka memperhatikan cara kerja yang ditunjukkan orang dewasa  Tahap 2 : Tindakan anak yang didasarkan atas inisiatif sendiri. Anak mulai berkeinginan untuk mencoba memakai baju, sepatu dan kaos kakinya sendiri tetapi masih sering keliru memakai sepatu antara kiri dan kanan. Memakai bajupun masih membutuhkan waktu yang lama karena keliru memasangkan kancing.  Tahap 3 : Tindakan anak berkembang spontan dan terinternalisasi. Anak mulai melakukan sesuatu tanpa adanya perintah dari orang dewasa. Setiap pagi sebelum berangkat ia sudah mulai faham tentang apa saja yang harus dilakukannya, misalnya memakai baju kemudian kaos kaki dan sepatu.  Tahap 4 : Tindakan anak spontan akan terus diulang-ulang hingga anak siap untuk berfikir abstrak. Terwujudnya perilaku yang otomatisasi, anak akan segera dapat melakukan sesuatu tanpa contoh tetapi didasarkan pada pengetahuannya dalam mengingat urutan suatu kegiatan. Bahkan ia dapat menceritakan kembali apa yang dilakukannya saat ia hendak berangkat ke sekolah. Pada empat tahapan ini dapat disimpulkan bahwa. Seseorang akan dapat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak bisa dia lakukan dengan bantuan yang diberikan oleh orang dewasa maupun teman sebayanya yang lebih berkompeten terhadap hal tersebut Kesimpulannya pada konsep zona perkembangan proksimal, sebelum terjadi internalisasi dalam diri anak atau sebelum kemampuan intramental terbentuk, anak perlu dibantu dalam proses belajarnya. Orang dewasa dan/atau teman sebaya yang lebih kompeten perlu membantu dengan berbagai cara seperti memberikan contoh, memberikan feedback, menarik kesimpulan, dan sebagainya dalam rangka perkembangan kemampuannya. 3. Mediasi Mediasi merupakan tanda-tanda atau lambang-lambang yang digunakan seseorang untuk memahami sesuatu di luar pemahamannya. Menurut Vygotsky, kunci
  • 8.
    utama untuk memahamiproses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda atau lambang- lambang tersebut merupakan produk dari lingkungan sosio-kultural di mana seseorang berada. Untuk memahami alat-alat mediasi ini, anak-anak dibantu oleh guru, orang dewasa maupun teman sebaya yang lebih kompeten. Elemen-elemen yang dapat digunakan sebagai mediasi terdiri dari ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial, dialog dan lain-lain, di mana secara kontekstual elemen-elemen tersebut berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya dan faktor-faktor individu. Ada dua jenis mediasi, yaitu mediasi metakognitif dan mediasi kognitif (Supratiknya, 2002). 1. Mediasi metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik (tanda atau lambang) oleh orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten untuk membantu mengkontruksi pemikiran anak dan akhirnya anak menjadi paham terhadap pengetahuan yang diajarkan 2. Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu. Mediasi kognitif bisa berkaitan dengan konsep spontan dan konsep ilmiah (yang lebih terjamin kebenarannya). Konsep-konsep ilmiah yang berhasil diinternalisasikan anak akan berfungsi sebagai mediator dalam pemecahan masalah. Menurut Vygotsky, untuk membantu anak mengembangkan pengetahuan yang sungguh-sungguh bermakna, maka dapat dilakukan dengan cara memadukan antara konsep dan prosedur melalui demonstrasi dan praktek. 3. Aplikasi Teori Belajar Sosio-kultural Dalam Praktek Pembelajaran Pada penerapan pembelajaran dengan teori belajar sosiokultural, guru berfungsi sebagai motivator yang memberikan rangsangan agar siswa aktif dan memiliki gairah untuk berfikir, fasilitator, yang membantu menunjukkan jalan keluar bila siswa menemukan hambatan dalam proses berfikir, menejer yang mengelola sumber belajar, serta sebagai rewarder yang memberikan penghargaan pada prestasi yang dicapai siswa, sehingga mampu meningkatkan motivasi yang lebih tinggi dari dalam diri siswa. Guru perlu menyediakan berbagai jenis dan tingkatan bantuan (helps) yang dapat memfasilitasi anak agar mereka dapat memecahkan permasalahan yang dihadapinya. Dalam kosa kata Psikologi Kognitif, bantuan-bantuan ini dikenal sebagai cognitive
  • 9.
    scaffolding. Bantuan-bantuan tersebutdapat dalam bentuk pemberian contoh-contoh, petunjuk atau pedoman mengerjakan, bagan/alur, langkah-langkah atau prosedur melakukan tugas, pemberian balikan, dan sebagainya. Bimbingan atau bantuan dari orang dewasa atau teman yang lebih kompeten juga dapat diberikan guru dalam proses memberi bantuan kepada siswa dalam proses pembelajaran. Pada intinya, siswalah yang dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri untuk membangun ilmu pengetahuan. Berdasarkan teori Vygotsky Slavin(2008) menyimpulkan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan teori sosiokultural pada praktek pembelajaran, yaitu: 1. Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya anak memperoleh kesempatan yang luas untuk mengembangkan zona perkembangan proksimalnya atau potensinya melalui be lajar dan berkembang. 2. Pembelajaran perlu dikaitkan dengan tingkat perkembangan potensialnya dari pada perkembangan aktualnya. 3. Pembelajaran lebih diarahkan pada penggunaan strategi untuk mengembangkan kemampuan intermentalnya daripada kemampuan intramentalnya. 4. Anak diberikan kesempatan yang luas untuk mengintegrasikan pengetahuan deklaratif yang telah dipelajarinya dengan pengetahuan prosedural untuk melakukan tugas-tugas dan memecahkan masalah 5. Proses Belajar dan pembelajaran tidak sekedar bersifat transferal tetapi lebih merupakan co-konstruksi 4. Kekuatan dan Kelemahan Teori Belajar Sosial Kultural A. Kekuatan Kekuatan yang menjadikan keuntungan dari peneraan teori belajar sosio-kultural ini adalah:  Berpikir. Dalam proses membina pengetahuan baru, murid berpikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan.  Paham. Oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan boleh mengaplikasikannya dalam semua situasi.  Ingat. Oleh karena murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan mengingat lebih lama semua konsep yang telah mereka pelajari. Melalui pendekatan
  • 10.
    ini murid membinasendiri kepahaman mereka. Dengan ini, mereka akan lebih yakin menghadapi dan menyelesaikan masalah dalam situasi baru.  Kemahiran sosial. Kemahiran sosial diperoleh apabila berinteraksi dengan rekan dan guru dalam membina pengetahuan baru.  Senang. Oleh karena mereka terlibat secara terus-menerus, mereka paham, ingat , yakin, dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan merasa lebih senang belajar dalam membina pengetahuan baru. B. Kelemahan Kelemahan dari teori sosio-kultural yaitu 1. Pendidik dituntut bisa mengaitkan lingkungan dan pengetahuan yang ingin di ajarkan sehingga anak memiliki kelelasaan dalam membangun pengetahuannya dari lingkungan tersebut 2. Proses-proses belajar yang kurang tampak seperti pembentukan konsep, melainkan belajar praktis 3. Pemecahan masalah dan kemampuan berpikir sukar diamati secara langsung. Perlu tenaga ahli khusus untuk mengetahuinya Kesimpulan Berdasarkan tujuan dari pennulisan makalah ini maka dapar ditarik kesimpulan bahwa teori belajar sosio-kultural adalah teori belajar yang titik tekan utamanya adalah pada bagaimana seseorang belajar dengan bantuan orang lain (lingkungan sosial) dalam suatu zona keterbatasan dirinya yaitu Zona Proksimal Development (ZPD). Dimana Lev Vygotsky adalah salah satu pakar yang sangat jelas memaparkan teori belajar ini. Implikasi dari teori Vygostky dalam pendidikan yaitu : 1) Setting kelas berbentuk pembelajaran kooperatif antar siswa, sehingga siswa dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas dan saling memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah afektif dalam zona of proximal development. 2) Dalam pengajaran ditekankan scaffolding sehingga siswa semakin lama semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri.
  • 11.
    Saran Belajar merupakan prosespenciptaan makna sebagai hasil dari pemikiran individu melalui interaksi dalam suatu konteks sosial. Dalam hal ini, jangan menganggap ada yang lebih unggul diantara keduamya. Sebab pengetahuan tidak dapat dipisahkan dari aktivitas di mana pengetahuan itu dikonstruksikan, Sebagai tenaga pendidik hendaknya kita jeli dalam memanfaat lingkungan sebagai mediasi, shingga proses belajar sosio-kultural ini dapat berlansung maksimal.
  • 12.
    DAFTAR PUSTAKA Hill, FWinfrend.2010.Theories of Learning. Bandung: Nusa Media. Moll, L.C. 1990. Vygotsky and Education : instructionsl implicstion od sociohistorical psychology. Victoria : Cambridge University Press Slavin, Robert E, 2008. Cooperative learning Theori Reseach and Practice, Allyn and Bacod Boston Supratiknya, A. 2002. Service Learning, Belajar dan Konteks Kehidupan Masyarakat: Paradigma Pembelajaran Berbasis Problem, Mempertemukan Jean Piaget dan Lev Vygotsky. Yogyakarta: Pidato Dies USD ke-47. Trianto. 2008. Model pembelajaran inovatif berorientasi kontruktivisme. Jakarta: Prestasi Pustaka