Dokumen tersebut membahas tentang sifat mekanik bahan, termasuk berat jenis, massa jenis, kekuatan, tegangan, regangan, modulus elastisitas, hukum Hooke, energi potensial pegas, dan rangkaian paralel dan seri pegas.
OLEH KELOMPOK 1
Jarisa Alfi Yuliyanti
M. Rivaldy Sudrajat
Nisrina Zulfa F
Rahmat Fajar Shidiq
Yogie Rivaldy
2.
SIFAT MEKANIK
Sifat yangmenyatakan kemampuan suatu bahan/komponen
untuk menerima beban/gaya/energi tanpa menimbulkan
kerusakan pada bahan /komponen tersebut.
3.
MATERI
Berat Jenis dan Kekuatan
Elastisitas
Massa Jenis (Strength)
Tegangan
Definisi
(Stress)
Regangan Hukum
(Strain) Hooke
Modulus Energi
Elastisitas Potensial
Pegas
4.
BERAT JENIS
Perbandingan relatifantara massa jenis sebuah zat
dengan massa jenis air murni. Air murni bermassa
jenis 1 g/cm3 atau 1000 kg/m3. Berat jenis tidak
mempunyai satuan atau dimensi.
MASSA JENIS
A. MassaJenis adalah pengukuran massa
setiap satuan volume benda. Satuan massa
jenis dalam SI adalah kg/m3. Perbandingan
dalam massa jenis. Massa jenis berfungsi
untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki
massa jenis yang berbeda.
TEGANGAN (STRESS)
Jika seutaskawat yang mempunyai luas
penampang A mengalami gaya tarik (F) pada
kedua ujungnya, maka kawat tersebut akan
mengalami tegangan.
Dalam hal ini, tegangan didefinisikan sebagai hasil bagi
antara gaya yang bekerja pada suatu benda dengan
luas penampangnya.
10.
TEGANGAN (STRESS)
Secara matematis,tegangan dapat ditentukan
sebagai berikut:
Dengan:
F = Gaya luar (N)
A = Luas permukaan (m2)
= tegangan (N/m2)
11.
CONTOH SOAL
Dalam suatupengujian terhadap baja,
diperoleh data bahwa ketika baja tersebut
ditarik dengan gaya 4x104 N, mengalami
pertambahan panjang 1,25 cm. Jika panjang
awal baja 50 m dan luas penampangnya 8 cm2,
tentukan tegangannya!
REGANGAN (STRAIN)
Jika benda diberi gaya, akan mengalami
perubaha panjang. Perbandingan perubahan
panjang mula-mula dengan panjang benda
disebut regangan.
Jadi rengangan adalah perubahan relatif
ukuran benda yang mengalami tegangan dari
keadaan semula.
14.
REGANGAN (STRAIN)
Secara matematis,regangan dapat dirumuskan
sebagai berikut:
dengan:
l = perubahan panjang (m2)
L0 = panjang awal (m2)
e = regangan
15.
CONTOH SOAL
Dalam suatupengujian terhadap baja,
diperoleh data bahwa ketika baja tersebut
ditarik dengan gaya 4x104 N, mengalami
pertambahan panjang 1,25 cm. Jika panjang
awal baja 50 m dan luas penampangnya 8 cm2,
tentukan regangannya!
Aplikasi
• Contoh aplikasitegangan dan regangan dalam
Pembangunan Tembok.
• Tali, rantai, atau kawat dapat dimanfaatkan
jika dalam keadaan tegang. Sementara itu, batu
bata dapat di manfaatkan jika dalam keadaan
regang. Jika batu bata diregangkan, la akan
memberikan gaya balik yang setara. Itulah dasar
pembangunan tembok. Bobot batu
bata,ditambah muatan seperti lantai dan atap,
menekan bata bersamaan dan membentuk
struktur kuat. Semen yang diselipkan di antara
bata hanya untuk menyebarkan beban agar
merata di selun.jh permukaannya.
18.
MODULUS ELASTISITAS
• Moduluselastis disebut juga dengan modulus
Young.
• Pada daerah elastis, besarnya tegangan berbanding
lurus dengan regangan. Perbandingan antara
tegangan dan regangan benda tersebut disebut
modulus elastisitas atau Modulus Young.
Pengukuran modulus Young dapat dilakukan
dengan menggunakan gelombang akustik, karena
kecepatan jalannya bergantung pada modulus
Young.
19.
Modulus Elastisitas (Young)
Nilai modulus Young hanya bergantung pada
jenis benda (komposisi benda), tidak bergantung
pada ukuran atau bentuk benda. Nilai modulus
Young beberapa jenis bahan dapat kalian lihat
pada Tabel dibawah ini. Satuan SI untuk E adalah
pascal (Pa) atau N/m2.
20.
MODULUS ELASTISITAS
• Secaramatematis, modulus elastis dapat
dirumuskan sebagai berikut:
dengan :
E = modulus elastisitas (N/m2 = Pa)
21.
CONTOH SOAL
Dalam suatupengujian terhadap baja,
diperoleh data bahwa ketika baja tersebut
ditarik dengan gaya 4x104 N, mengalami
pertambahan panjang 1,25 cm. Jika panjang
awal baja 50 m dan luas penampangnya 8 cm2,
tentukan modulus elastisnya!
Pengertian Elastisitas
Elastisitas adalahKemampuan sebuah benda untuk kembali
ke bentuk awalnya ketika gaya luar yang diberikan pada benda
tersebut dihilangkan. . Adapun benda-benda yang tidak
memiliki elastisitas (tidak kembali ke bentuk awalnya) disebut
benda plastis. Contoh benda plastis adalah tanah liat dan
plastisin (lilin mainan).
24.
Elastisitas
Ketika diberi gaya, suatu benda
akan mengalami deformasi, yaitu
perubahan ukuran atau bentuk.
Karena mendapat gaya, molekul-
molekul benda akan bereaksi dan
memberikan gaya untuk
menghambat deformasi. Gaya
yang diberikan kepada benda
dinamakan gaya luar, sedangkan
gaya reaksi oleh molekul-molekul
dinamakan gaya dalam. Ketika
Gambar sifat elestis
gaya luar dihilangkan, gaya dalam
pada pegas cenderung untuk mengembalikan
bentuk dan ukuran benda ke
keadaan semula.
25.
HUKUM HOOKE
Hukum Hooke adalah
hubungan antara gaya yang bekerja
pada massa dan posisinya.
Mempertimbangkan sebuah benda
dengan massa yang ada di
permukaan gesekan dan
digantungkan pada sebuah pegas
dengan konstanta pegas. Gaya yang
diberikannya pegas pada massa
tergantung pada seberapa banyak
pegas diregangkan atau dikompresi,
sehingga gaya ini adalah fungsi dari
posisi massa.
26.
Rumus Hukum Hooke
F= -kx
Dimana:
F= gaya [N (Newton)]
K= konstanta pegas [N/m (Newton per meter)]
x= jarak pergerakan pegas dari posisi normalnya [m (meter)]
Dan Potensial Energi dari pegas adalah:
Ep = ½ kx2
27.
Rumus Hukum Hooke
Berdasarkan Hukum III Newton (aksi-
reaksi), pegas akan mengadakan gaya yang
besarnya sama tetapi arah berlawanan
Fp F
Fp kx
Fp = gaya pegas
28.
Perbandingan antara gaya(F) dengan
pertambahan panjang pegas (x) merupakan garis
lurus (k), seperti pada grafik
F
k
x
29.
Contoh soal
1. Sebuahpegas yang panjangnya 25 cm
tergantung bebas. Ketika pegas tersebut diberi beban 30 N, ternyata
panjangnya
menjadi 26,5 cm. Tentukan tetapan pegas tersebut!
Penyelesaian:
Diketahui : x0 = 25 cm = 0,25 m
x = 26,5 cm = 0,265 m
F = 30 N
Ditanya : besarnya k (konstanta)?
jawab :
F =k.x
30 =k.(0,265 - 0,25)
30 =k.0,015
k.0,015 = 30
k = 30 / 0,015
k = 2000 N/m
30.
Energi Potensial Pegas
•Kemampuan pegas untuk kembali ke bentuk semula disebut
energi potensial pegas.
• Secara umum, energi potensial pegas dapat dirumuskan:
Ep : ½ .k.x2
• Keterangan:
• Ep : energi potensial pegas (joule)
• k : konstanta pegas (N/m)
• x : pertambahan panjang (m)
• F : gaya pegas (N)
• Contoh penerapan energi potensial pegas yaitu pada anak
panah yang dilepaskan. Contoh lainnya adalah pada mobil
mainan yang akan bergerak maju setelah kita beri gaya dorong
ke belakang.
31.
Contoh soal
Sebuah pegas memiliki konstanta pegas 200Nm-1.
Pegas diregangkan sehingga bertambah panjang 10
cm. Tentukanlah energi potensial elastis pegas.
Pembahasan :
Diketahui :
k = 200Nm-1
x = 10cm=0,1m
Ditanyakan : Ep
Jawab :
Ep = 1/2 .k .x2
= ½ . 200. (0,1)2
= 1 Joule
32.
Rangkaian Paralel
Jika duapegas spiral atau lebih yang disusun secara paralel
sesuai dengan prinsip-prinsip berikut :
Gaya tarikan pada rangkaian paralel pegas adalah sama dengan
total gaya tarikan pada setiap pegas.
Jika F adalah Gaya tarikan pada rangkaian paralel pegas dan
F1 dan F2 adalah gaya tarikan pada setiap pegas, Maka :
F = F1 + F2
Pertambahan panjang pegas dari rangkaian pegas paralel
adalah sama dengan pertambahan panjang dari setiap pegas.
Jika ∆X1 dan ∆X2 adalah pertambahan panjang dari setiap
pegas dan ∆X adalah pertambahan panjang dari rangkaian paralel
pegas, Sehingga :
∆X = ∆X1 = ∆X2
33.
Rangkaian Paralel
Pertambahanpanjang pegas dari
rangkaian pegas paralel adalah sama
dengan pertambahan panjang dari
setiap pegas.
Jika ∆X1 dan ∆X2 adalah
pertambahan panjang dari setiap
pegas dan ∆X adalah pertambahan
panjang dari rangkaian paralel pegas,
Sehingga :
∆X = ∆X1 = ∆X2
34.
Rangkaian paralel
Hubungan antarakonstanta gaya pegas dari
pegas paralel dan konstanta gaya pegas dari
setiap pegas dapat di tuliskan sebagai
berikut:
F = Kp ∆X
F1 = K1 ∆X1 → F1 = K1 ∆X
F2 = K2 ∆X2 → F2 = K2 ∆X
Karena F = F1 + F2, maka Kp = K1 + K2
Persamaan diatas menunjukkan bahwa
konstanta rangkaian paralel pegas adalah
sama dengan total konstanta gaya pegas dari
pegas yang disusun secara paralel, yang
menunjukkan persamaan :
Kp = K1 + K2 + K3 + … + Kn
35.
Rangkaian seri
Jika duaatau lebih pegas yang disusun secara seri
sesuai dengan prinsip prinsip berikut :
Gaya tarikan pada rangkaian seri pegas adalah
sama dengan yang dikeluarkan oleh setiap pegas
Jika F1 dan F2 adalah gaya tarikan yang
dikeluarkan oleh setiap pegas dan F adalah gaya
tarikan pada rangkaian seri pegas, Maka :
F1 = F2 = F
Pertambahan panjang dari rangkaian seri pegas
adalah sama dengan beberapa pertambahan
panjang dari setiap pegas
Jika ∆X1 dan ∆X2 adalah pertambahan panjang
dari setiap pegas dan ∆X adalah pertambahan
panjang dari rangkaian seri pegas, Maka :
∆X = ∆X1 = ∆X2
36.
Rangkaian seri
Didasarkan dengandua prinsip diatas dan Hukum Hooke,
Hubungan antara konstanta gaya pegas dari rangkaian seri
pegas and konstanta gaya pegas dari setiap pegas dapat
ditetapkan sebagai berikut :
F = Ks ∆X → ∆X = F/Ks
F = K1 ∆X → ∆X1 = F1/K1 = F/K1
F = K2 ∆X → ∆X2 = F2/K2 = F/K2
Karena ∆X = ∆X1 = ∆X2 , Maka :
1/Ks = 1/K1 =1/K2
Untuk susunan seri yang terdiri dari dua pegas atau lebih
daripada konstanta rangkaian seri pegas dapat ditetapkan
oleh persamaan berikut:
Untuk n pegas identik yang masing masing memiliki konstanta
k yang disusun secra seri berlaku persamaan sebagai berikut :
Ks = K/n
37.
Contoh soal
2. Sebuahpegas yang panjangnya 30 cm
tergantung bebas. ketetapan pegas tersebut 6000 N/m, ternyata
panjangnya menjadi 40,5 cm. Tentukan gaya
pegas tersebut!
Penyelesaian:
Diketahui : x0 = 30 cm = 0,3 m
xt = 40,5 cm = 0,405 m
k = 6000 N/m
Ditanya : F ?
jawab :
F =k.x
F =6000.(0,405 - 0,3)
F =6000.0,105
F = 630 N