Nama : Fransiska Oktafiani
Asal Institusi : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya
RINGKASAN
Konsep Herbal Indonesia
Sejak ribuan tahun lalu Jamu atau Obat Herbal di Indonesia telah ada dengan hadirnya
pengaruh Hindu, Budha, Islam, Kristen dan masyarakat China yang mengembangkan ilmu herbal
di Indonesia. Perkembangan jamu di Indonesia berawal dari tahun 772 – 779 M dengan
ditemukannya relief dan prasakti pada Candi Borobudur Indonesia, kemudian pada tahun 990 M
ditemukannya Usada Bali yaitu rumusan ramuan obat dan ekstransi yang ditulis pada daun
kelapa atau lontar yang berperan sebagai pemecah masalah dibidang kesehatan. Pada abad 15 –
16 M lahirlah istilah JAMPOE yang terdiri dari kata Djampi yaitu pengobatan atau menggunaan
ramuan obat dan Oesodo yang berarti kesehatan. Kemudian obat herbal terus berkembang pada
masa kerajaan – kerajaan di Indonesia. Ilmu herbalpun semakin berkembang pada zaman masehi
tidak luput dari para ahli di bidangnya. Hippocrates adalah seorang dokter kebangsaan Yunani
yang berperan penting dalam pengembangan herbal di dunia. Hippocrates mendirikan sekolah
kedokteran dan menuis beberapa tulisan mengenai filosopinya tentang kesehatan dan diakui
sebagai pendukung era perkembangan herbal saat itu. Maka ia disebut sebagai “ The Father of
Medicine”. Pada masa 131 – 200 M obat herbal ini diaplikasikan dengan cara kombinasi terapi
dengan diit, pemijatan dan latihan fisik dari bahan sayuran. Tahun 1850, Geerlox Wassinx
menganjurkan para dokter di Indonesia untuk menggunakan obat herbal sebagai pemecahan
masalah kesahatan di Weltevreden Military Hospital yang sekarang menjadi Rumah Sakit Gatot
Subroto.
Pengembangan obat herbal di Indonesia saat itu tidak lepas dari pengaruh budaya dan
agama di Indonesia, yang meiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri, yaitu :
Kekuatan :
1. Bukti-bukti sejarah pengobatan tradisional
2. Biodiversitas nomor 3 di dunia
3. Unggul dari sisi “keragaman produk obat tradisional”
4. Modalitas yang sudah ada: Jamu, pijat, doa
5. Pengembangan melalui jalur dokter (ada perdebatan)
Kelemahan
1. Secara umum belum terbentuk pendidikan formal Kestraindo (kecuali D3 Battra, D3
Jamu, Ayurveda Bali)
2. Practioners (praktisi) tidak terstandarisasi dan lemah pengetahuannya tentang
patofisiologi penyakit
3. Banyak “pengobatan alternatif” yang tidak jelas manfaat dan keamanannya
Peluang
1. Pergeseran morbiditas ke arah PTM  long-term care (perawatan melalui Griya Sehat
lebih cocok)
2. Paradigma “back-to-nature”, “pengobatan holistik”.
3. Dukungan WHO, SEARO, APEC, ASEAN, dalam pegembangan pengobatan tradisional
(T/CM)
4. Peluang ekspor products obat tradisional dan pengobatan tradisional
Hal-hal yang perlu diwaspadai
1. Perlombaan antar negara dalam forum kerjasama internasional (SEARO, ASEAN,
APEC)
2. Perdagangan bebas (WTO, ASEAN plus three)
3. Isu HaKI dan paten
4. Pencurian (pengembangan) oleh negara lain
Untuk mengembangkan dan memberdayakan obat herbal di Indonesia maka
didirikannya beberapa sekolah kesehatan yang berfungsi sebagai wadah pendidikan herbal di
Indonesia, berikut pendidikan herbal saat ini :
1. PMHI UI SEJAK 2010 (HERBAL INDONESIA)
2. UNHAS (TCM)
3. D3 BATTRA SURABAYA
4. D3 JAMU SURAKARTA
5. PENDIDIKAN NON FORMAL LAIN: SAINTIFIKASI JAMU SEJAK 2010
Seiring berkembangnya pendidikan herbal di Indonesia maka ilmu herbalpun semakin
baik dan pesat. Pada badan POM didapat 36 OHT dan 6 Fitofarmaka. Untuk mengembangkan
jamu atau obat herbal di Indonesia maka perlu adanya pengawasan untuk mengamankan obat
herbal itu tersendiri. Maka Badan POM sendiri memberikan kajian sebelum mengembangkan
obat herbal yaitu :
1. Kriteria registrasi terhadap jamu, OHT, Fitofarmaka hasil uji dari perguruan tinggi
2. Ketentuan uji klinik untuk jamu berbeda dengan obat konvensional
3. Penambahan kata jamu pada OHT dan Fitofarmaka

Sejarah Obat Herbal Indonesia

  • 1.
    Nama : FransiskaOktafiani Asal Institusi : Poltekkes Kemenkes Tasikmalaya RINGKASAN Konsep Herbal Indonesia Sejak ribuan tahun lalu Jamu atau Obat Herbal di Indonesia telah ada dengan hadirnya pengaruh Hindu, Budha, Islam, Kristen dan masyarakat China yang mengembangkan ilmu herbal di Indonesia. Perkembangan jamu di Indonesia berawal dari tahun 772 – 779 M dengan ditemukannya relief dan prasakti pada Candi Borobudur Indonesia, kemudian pada tahun 990 M ditemukannya Usada Bali yaitu rumusan ramuan obat dan ekstransi yang ditulis pada daun kelapa atau lontar yang berperan sebagai pemecah masalah dibidang kesehatan. Pada abad 15 – 16 M lahirlah istilah JAMPOE yang terdiri dari kata Djampi yaitu pengobatan atau menggunaan ramuan obat dan Oesodo yang berarti kesehatan. Kemudian obat herbal terus berkembang pada masa kerajaan – kerajaan di Indonesia. Ilmu herbalpun semakin berkembang pada zaman masehi tidak luput dari para ahli di bidangnya. Hippocrates adalah seorang dokter kebangsaan Yunani yang berperan penting dalam pengembangan herbal di dunia. Hippocrates mendirikan sekolah kedokteran dan menuis beberapa tulisan mengenai filosopinya tentang kesehatan dan diakui sebagai pendukung era perkembangan herbal saat itu. Maka ia disebut sebagai “ The Father of Medicine”. Pada masa 131 – 200 M obat herbal ini diaplikasikan dengan cara kombinasi terapi dengan diit, pemijatan dan latihan fisik dari bahan sayuran. Tahun 1850, Geerlox Wassinx menganjurkan para dokter di Indonesia untuk menggunakan obat herbal sebagai pemecahan masalah kesahatan di Weltevreden Military Hospital yang sekarang menjadi Rumah Sakit Gatot Subroto. Pengembangan obat herbal di Indonesia saat itu tidak lepas dari pengaruh budaya dan agama di Indonesia, yang meiliki kekuatan dan kelemahan tersendiri, yaitu : Kekuatan :
  • 2.
    1. Bukti-bukti sejarahpengobatan tradisional 2. Biodiversitas nomor 3 di dunia 3. Unggul dari sisi “keragaman produk obat tradisional” 4. Modalitas yang sudah ada: Jamu, pijat, doa 5. Pengembangan melalui jalur dokter (ada perdebatan) Kelemahan 1. Secara umum belum terbentuk pendidikan formal Kestraindo (kecuali D3 Battra, D3 Jamu, Ayurveda Bali) 2. Practioners (praktisi) tidak terstandarisasi dan lemah pengetahuannya tentang patofisiologi penyakit 3. Banyak “pengobatan alternatif” yang tidak jelas manfaat dan keamanannya Peluang 1. Pergeseran morbiditas ke arah PTM  long-term care (perawatan melalui Griya Sehat lebih cocok) 2. Paradigma “back-to-nature”, “pengobatan holistik”. 3. Dukungan WHO, SEARO, APEC, ASEAN, dalam pegembangan pengobatan tradisional (T/CM) 4. Peluang ekspor products obat tradisional dan pengobatan tradisional Hal-hal yang perlu diwaspadai 1. Perlombaan antar negara dalam forum kerjasama internasional (SEARO, ASEAN, APEC) 2. Perdagangan bebas (WTO, ASEAN plus three) 3. Isu HaKI dan paten 4. Pencurian (pengembangan) oleh negara lain Untuk mengembangkan dan memberdayakan obat herbal di Indonesia maka didirikannya beberapa sekolah kesehatan yang berfungsi sebagai wadah pendidikan herbal di Indonesia, berikut pendidikan herbal saat ini :
  • 3.
    1. PMHI UISEJAK 2010 (HERBAL INDONESIA) 2. UNHAS (TCM) 3. D3 BATTRA SURABAYA 4. D3 JAMU SURAKARTA 5. PENDIDIKAN NON FORMAL LAIN: SAINTIFIKASI JAMU SEJAK 2010 Seiring berkembangnya pendidikan herbal di Indonesia maka ilmu herbalpun semakin baik dan pesat. Pada badan POM didapat 36 OHT dan 6 Fitofarmaka. Untuk mengembangkan jamu atau obat herbal di Indonesia maka perlu adanya pengawasan untuk mengamankan obat herbal itu tersendiri. Maka Badan POM sendiri memberikan kajian sebelum mengembangkan obat herbal yaitu : 1. Kriteria registrasi terhadap jamu, OHT, Fitofarmaka hasil uji dari perguruan tinggi 2. Ketentuan uji klinik untuk jamu berbeda dengan obat konvensional 3. Penambahan kata jamu pada OHT dan Fitofarmaka