Assalamu’alaikum Wr.Wb
Ario Megantoro j3j113083
Fauziah J3J213204
Hazarani Sari J3J213231
Imam Hidayat j3j113001
Ruang Lingkup Syariah Islamiyah
Ibadah muamalah
Jual Beli
Aturan Jual
Beli
RibaKhiyar
Jenis-jenis jual beli yang
dilarang
Syirkah , mudharabah, musaqoh,
muzaraah , mukhabarah
Muamalah merupakan ketetapan Tuhan
yang langsung berhubungan dg kehidupan
sosial manusia terbatas pada pokok-pokok
saja. Muamalah berlaku asas umum yaitu
pada dasarnya semua perbuatan boleh
dilakukan, kecuali ttg perbuatan itu ada
larangan dalam Al Qur’an dan kitab-kitab
hadis
Contoh : larangan berzina, membunuh,
mencuri, merampok, dll.
Bermuamalah dalam kehidupan sehari-hari
bagi seorang muslim akan bernilai ibadah
jika :
•Niat yg ikhlas
•Sesuai sg syariat islam & benar
Jual beli adalah menukar sesuatu
brang dg barang lain dg cara
tertentu. Salah satu unsur dalam
jual beli adalah nilai tukar uang.
Praktik jual beli yg terjadi pada
zaman Nabi menggunakan dinar
dan dihram. Allah berfirman : “
Dan Allah menghalalkan jual beli
dan mengharamkan riba” (QS.Al-
Baqarah : 275)
JUAL BELI
Hukum &Rukun
1. Mubah
2. Wajib, seperti menjual
sebagian hartanya untuk
membayar hutang
3. Haram, seperti jual beli barang
yg haram , najis atau kotor dan
menjual atau membeli barang
yang akan digunakan untuk
kemaksiatan atau kejahatan
4. Sunah seperti jual beli kepada
sahabat , menjual kepada
orang yang sangat
membutuhkan
Rukun
1. Penjual , syaratnya ia harus memiliki barang yg dijual/
mendapatkan izin untuk menjual, baligh, & berakal
sehat
2. Pembeli, syaratnya berakal sehat dan dewasa
3. Brang yang dijual , syaratnya suci , dapat diserahkan
kepada pembeli dan barang itu diketahui pembeli
meskipun hanya dg ciri-cirinya
4. Akad, yaitu ijab (penyerahan) dan Kabul (penerimaan)
dg perkataan, misalnya pemberi berkata “ Jualah barang
ini padaku,” kemudian penjual berkata “ Aku jual barang
ini padamu”
5. Kerelaan dari kedua belah pihak (Suka sama suka) yaitu
penjual dan pembeli. Jual beli tidak sah apabila salah
satu tidak ada kerelaan.
Nabi bersabda : “Innama a;-Bae’u ‘An taroodhin” ( HR. Ibnu
Majah)
“ Sesungguhnya jual beli itu dengan kerelaan (suka sama
suka)”
Jenis-Jenis Jual Beli yang Dilarang
• Jual Beli Najasy : yakni menawar suatu barang dengan harga lebih
tinggi,tetapi tidak bermaksud membelinya.
• Jual beli Barang Haram dan Najis : seorang muslim tidak boleh menjual
barang-barang haram,barang najis dan barang-barang yang menjurus pada
haram.
• Jual Beli Gharar : yaitu jual beli yang tidak jelas. Seorang muslim tidak boleh
menjual sesuatu yang di dalemnya terdapat gharar.
• Jual Beli Dua Bentuk dalam Satu Akad : seorang muslim tidak boleh
melangsungkan dua jual beli akad.
• Jual Beli Pohon yang berbuah : jika seorang muslim menjual pohon yang
berbuah maka buahnya milik penjual, kecuali bila pembeli mensyaratkan
bahwa buah tersebut menjadi miliknya. Rasullullah bersabda :
• “ Man Baa’a nakhlan qod abarror fatsamro tuhaa lilbaa-i’i illa an yastarithol
mubtaa’u. (HR. Turmudzi)
• “Barang siapa yang menjual pohon kurma yang telah berubuah, maka
buahnya milik penjual, kecuali jika pembeli mensyaratkan”.
Khiyar artinya tidak boleh memilih, meneruskan
akad jual beli atau mengurunkannya (tidak jadi
jual beli). Macam khiyar yaitu :
• Khiyar Majlis : artinya jika penjual dan pembeli masih berada di satu
tempat dan belum terpisah maka keduanya mempunyai khiyar untuk
meneruskan jual beli atau membatalkannya.
• Khiyar Syarat : artinya jika penjual dan pembeli masyarakatkan
khiyar dan berlaku untuk waktu tertentu maka keduanya terkait
dengan khiyar tersebut hingga batas waktunya habis
• Khiyar ‘Aibi : artinya jika terdapat cacat pada barang yang di belinya.
Cacat tersebut mengurangi nilai barang dan sebelumnya tidak
diketahui oleh si pembeli.
Penerapan dalam
Kehidupan Sehari-hari
• orang yang melakukan jual beli hendaknya orang
yang pandai dan mengerti nilai tukar mata uang
• janganlah berjual beli barang yang najis
• bagi penjual, janganlah menyembunyikan cacat
barang dagangannya kepada pembeli
• penjual jangan memperlihatkan barang yang bagus
dan menyembunyikan yang jelek atau rusak
• bayarlah lebih dahulu makanan yang dibeli sebelum
memakannya
• berilah pelayanan yang menyenangkan bagi
pembeli.
RIBA
SYIRKAH
RIBAPENGERTIAN
MACAM MACAM RIBA
PENERAPAN DALAM
KEHIDUPAN SEHARI HARI
PENGERTIAN
MACAM MACAM RIBA
PENERAPAN DALAM
KEHIDUPAN SEHARI HARI
1. MENGINVESTASIKAN HARTA PADA USAHA YANG TIDAK MENIMBULKAN
KESULITAN BAGI SAUDARA YANG LAIN
2. BERBUAT BAIK KEPADA SAUDARA MEMBERIKAN PINJAMAN TANPA
MEMINTA UANG TAMBAHAN ATAS HUTANGNYA
3. MEMBERI TEMPO WAKTU PEMBAYARAN
4. MELINDUNGI HARTA SAUDARA MUSLIMNYA
SYIRKAH
KESEPAKATAN DUA ORANG ATAU
LEBIH UNTUK MEMBUKA
PERUSAHAAN DENGAN TUJUAN
MEMBAGI KEUNTUNGAN
SYIRKAH
INAN
SYIRKAH
ABDAN
SYIRKAH
INAN
IKRAR ANTARA DUA ORANG ATAU LEBIH
UNTUK MEMBUKA USAHA DENGAN
CARA MENGHIMPUN SEJUMLAH UANG
ATAUDALAM BENTUK SAHAM,
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DIBAGI
MENURUT SAHAMYANG MEREKA MILIKI
MODAL HENDAKNYA BERUPA UANG ATAU BARANG YANG DAPAT
DIMBANG
MODAL ITU SEJENIS DAN SIFATNYA PUN HARUS SAMA
IKRAR MENGIZINKAN KEPADA YANG LAIN UNTUK MENJALANKAN
SYIRKAH
KEUNTUNGAN DIBAGI BERDASARKAN BESAR KECILNYA MODAL
SYIRKAH
ABDAN
PERBANKAN SYARIAH
Bank syariah adalah :
Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah
Bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Alquran
dan Hadits
1. Prinsip pengharaman riba
Prinsip ini tercermin dari praktek pengelolaan dana nasabah. Dana yang berasal
dari nasabah penyimpan harus jelas asal usulnya. Sedangkan penyalurannya
harus dalam usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syari.
2.Prinsip keadilan
Prinsip ini tercermin dari penerapan sistem bagi hasil dan pengambilan
keuntungan berdasarkan hasil kesepakatan dua belah pihak.
3.Prinsip Kesamaan
Prinsip ini tercermin dengan menempatkan posisi nasabah serta bank pada
posisi yang sederajat. Kesamaan ini terwujud dalam hak, kewajiban, risiko dan
keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah
pengguna dana maupun bank.
Prinsip-prinsip umum bank syariah.
Pembiayaan dengan prinsip jual beli
Pembiayaan dengan prinsip sewa
Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil
(investasi)
Pembiayaan dengan prinsip akad pelengkap
Produk Penyaluran
Dana
a. Murabahah
Sering juga disebut al Bai bitsaman ajil. Yaitu akad jual beli barang
dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati
oleh penjual dan pembeli. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan
pesanan. Dalam murabahah berdasarkan pesanan bank melakukan
pembelian barang setelah ada pesanan dari nasabah. Dalam perbankan,
murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan.
b. Salam
Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan
penangguhan pengiriman oleh muslam ilaihi (penjual) dan
pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan
tersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Dalam transaksi
ini kualitas, kuantitas harga dan waktu penyerahan barang ditentukan
secara pasti sehingga tidak seperti jual ijon.
c. Istishna’
Istishna’ adalah akad jual beli antara al mustashni (pembeli) dan as
shani (produsen yang juga bertindak sebagai penjual). Berdasarkan akad
tersebut, pembeli menugasi produsen untuk menyediakan al
mashnu (barang pesanan) sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli
dan menjualnya dengan harga yang disepakati. Cara pembayaran dapat
berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka
waktu tertentu.
2. Prinsip sewa (ijarah)
Transaksi ini dilandasi adanya
perpindahan manfaat. Ijarah
adalah akad sewa – menyewa
antara pemilik ma’jur (objek
sewa) dan musta’jir (penyewa)
untuk mendapatkan imbalan atas
obyek sewa yang disewakannya
Akad Pelengkap
Untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan biasanya diperlukan juga akad
pelengkap. Produk ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk
mempermudah pelaksanaan pembiayaan.
a. Hiwalah (Alih hutang piutang)
Bertujuan untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat
melanjutkan produksinya. Bank akan mendapati ganti atas jasa pemindahan
piutang.
b. Rahn (gadai)
Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada
bank dalam memberikan pembiayaan.
c. Qardh
Qardh adalah pinjaman uang kepada nasabah yang digunakan untuk keperluannya
dengan hanya mengembalikan biaya pokok.
d. Wakalah
Wakalah adalah nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya
melakukan pekerjaan jasa tertentu.
e. Kafalah
Kafalah dapat diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu
kewajiban pembayaran.
Mudharabah
Mudharabah yaitu tenaga kerja dan pemilik
modal bergabung bersama sebagai mitra
usaha kerja . Masalah mudharabah yaitu
dimana pemilik modal atau bank
memberikan modalnya, sedangkan para
pekerja atau nasabah memberikan keahlian
mereka. Masalah keuntungan dibagi
menurut yang telah disepakati. Sebaliknya,
jika ada kerugian maka ditanggung pemilik
modal.
Sistem Mudharabah
•Modal , baik berupa uang atau barang diketahui jumlahnya
•Bagian pekerja terhadap keuntungan harus ditentukan
•Pekerja tidak boleh melakukan mudharabah dg orang lain , jika
merugikan pemilik modal pertama, kecuali memperoleh izinya
•Jika mudharabah telah selesai , sedang sebagian harta berbentuk
barang atau dihutang orang, kemudian pemilik modal meminta sisa
barang dan yang dihutang itu menjadi uang kontan, maka pekerja harus
mengabulkannya
•Jika pekerja itu mengaku modalnya habis dan mengalami kerugian
dengan mengajukan bukti-bukti dan ia bersumpah, maka
pengakuannya diterima.
Musaqah, Muzaraah, Mukharabah
Syarat Musakoh
1) Lahan atau pohon apa saja yang harus diketaahui oleh pekerja ketika terjadi akad
2) Bagian yang hendak diberikan kepada pekerja harus dijelaskan, misalnya
setengah, seperempat, atau seperlima
3) Penggarap atau pekerja harus mengerjakan apasaja menurut yg dibutuhkan
tanaman, misalnya memupuk, menyiangi dan perawatan lain supaya tanaman
subur & menghasilkan buah yg baik.
4) Jika lahan yg digarap itu ada kewajiban membayar pajak maka pajak harus dibayar
pemilik tanah bukan oleh penggarap
5) Jika penggarap pergi meninggalkan kontrak kerjanya sebelum masa panen,
pemilik tanah berhak membatalkan kontrak kerja
Muzaraah dan Mukharabah
Muzarakah : seseorang yg mengharapkan sawah /ladangnya kepad apetani/ penggarap dimana
benihnya berasal dari petani atau penggarap dg bagi hasil separuh atau sepertiga
Mukharabah : Seseorang yg menggarpkan sawah atau ladangnya kepada petani / penggarap,
benihnya berasal dari pemilik tanah dg bagi hasil separuh atau sepertiga
Zakat Muzararaah dibebankan kepada petani atau penggarap , karena dialah yang
bertanam, sedangkan pemilik tanah hanya mengambil sewanya .
Zakat Mukharabah : dibebankan kepada pemilk tanah karena petani dan penggarap hanya
mengambil upahnya saja.
ruang lingkup syariah islamiah

ruang lingkup syariah islamiah

  • 1.
    Assalamu’alaikum Wr.Wb Ario Megantoroj3j113083 Fauziah J3J213204 Hazarani Sari J3J213231 Imam Hidayat j3j113001
  • 2.
    Ruang Lingkup SyariahIslamiyah Ibadah muamalah Jual Beli Aturan Jual Beli RibaKhiyar Jenis-jenis jual beli yang dilarang Syirkah , mudharabah, musaqoh, muzaraah , mukhabarah
  • 3.
    Muamalah merupakan ketetapanTuhan yang langsung berhubungan dg kehidupan sosial manusia terbatas pada pokok-pokok saja. Muamalah berlaku asas umum yaitu pada dasarnya semua perbuatan boleh dilakukan, kecuali ttg perbuatan itu ada larangan dalam Al Qur’an dan kitab-kitab hadis Contoh : larangan berzina, membunuh, mencuri, merampok, dll. Bermuamalah dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang muslim akan bernilai ibadah jika : •Niat yg ikhlas •Sesuai sg syariat islam & benar
  • 4.
    Jual beli adalahmenukar sesuatu brang dg barang lain dg cara tertentu. Salah satu unsur dalam jual beli adalah nilai tukar uang. Praktik jual beli yg terjadi pada zaman Nabi menggunakan dinar dan dihram. Allah berfirman : “ Dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS.Al- Baqarah : 275) JUAL BELI Hukum &Rukun 1. Mubah 2. Wajib, seperti menjual sebagian hartanya untuk membayar hutang 3. Haram, seperti jual beli barang yg haram , najis atau kotor dan menjual atau membeli barang yang akan digunakan untuk kemaksiatan atau kejahatan 4. Sunah seperti jual beli kepada sahabat , menjual kepada orang yang sangat membutuhkan
  • 5.
    Rukun 1. Penjual ,syaratnya ia harus memiliki barang yg dijual/ mendapatkan izin untuk menjual, baligh, & berakal sehat 2. Pembeli, syaratnya berakal sehat dan dewasa 3. Brang yang dijual , syaratnya suci , dapat diserahkan kepada pembeli dan barang itu diketahui pembeli meskipun hanya dg ciri-cirinya 4. Akad, yaitu ijab (penyerahan) dan Kabul (penerimaan) dg perkataan, misalnya pemberi berkata “ Jualah barang ini padaku,” kemudian penjual berkata “ Aku jual barang ini padamu” 5. Kerelaan dari kedua belah pihak (Suka sama suka) yaitu penjual dan pembeli. Jual beli tidak sah apabila salah satu tidak ada kerelaan. Nabi bersabda : “Innama a;-Bae’u ‘An taroodhin” ( HR. Ibnu Majah) “ Sesungguhnya jual beli itu dengan kerelaan (suka sama suka)”
  • 6.
    Jenis-Jenis Jual Beliyang Dilarang • Jual Beli Najasy : yakni menawar suatu barang dengan harga lebih tinggi,tetapi tidak bermaksud membelinya. • Jual beli Barang Haram dan Najis : seorang muslim tidak boleh menjual barang-barang haram,barang najis dan barang-barang yang menjurus pada haram. • Jual Beli Gharar : yaitu jual beli yang tidak jelas. Seorang muslim tidak boleh menjual sesuatu yang di dalemnya terdapat gharar. • Jual Beli Dua Bentuk dalam Satu Akad : seorang muslim tidak boleh melangsungkan dua jual beli akad. • Jual Beli Pohon yang berbuah : jika seorang muslim menjual pohon yang berbuah maka buahnya milik penjual, kecuali bila pembeli mensyaratkan bahwa buah tersebut menjadi miliknya. Rasullullah bersabda : • “ Man Baa’a nakhlan qod abarror fatsamro tuhaa lilbaa-i’i illa an yastarithol mubtaa’u. (HR. Turmudzi) • “Barang siapa yang menjual pohon kurma yang telah berubuah, maka buahnya milik penjual, kecuali jika pembeli mensyaratkan”.
  • 7.
    Khiyar artinya tidakboleh memilih, meneruskan akad jual beli atau mengurunkannya (tidak jadi jual beli). Macam khiyar yaitu : • Khiyar Majlis : artinya jika penjual dan pembeli masih berada di satu tempat dan belum terpisah maka keduanya mempunyai khiyar untuk meneruskan jual beli atau membatalkannya. • Khiyar Syarat : artinya jika penjual dan pembeli masyarakatkan khiyar dan berlaku untuk waktu tertentu maka keduanya terkait dengan khiyar tersebut hingga batas waktunya habis • Khiyar ‘Aibi : artinya jika terdapat cacat pada barang yang di belinya. Cacat tersebut mengurangi nilai barang dan sebelumnya tidak diketahui oleh si pembeli.
  • 8.
    Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari •orang yang melakukan jual beli hendaknya orang yang pandai dan mengerti nilai tukar mata uang • janganlah berjual beli barang yang najis • bagi penjual, janganlah menyembunyikan cacat barang dagangannya kepada pembeli • penjual jangan memperlihatkan barang yang bagus dan menyembunyikan yang jelek atau rusak • bayarlah lebih dahulu makanan yang dibeli sebelum memakannya • berilah pelayanan yang menyenangkan bagi pembeli.
  • 9.
  • 10.
    RIBAPENGERTIAN MACAM MACAM RIBA PENERAPANDALAM KEHIDUPAN SEHARI HARI
  • 11.
  • 12.
  • 14.
    PENERAPAN DALAM KEHIDUPAN SEHARIHARI 1. MENGINVESTASIKAN HARTA PADA USAHA YANG TIDAK MENIMBULKAN KESULITAN BAGI SAUDARA YANG LAIN 2. BERBUAT BAIK KEPADA SAUDARA MEMBERIKAN PINJAMAN TANPA MEMINTA UANG TAMBAHAN ATAS HUTANGNYA 3. MEMBERI TEMPO WAKTU PEMBAYARAN 4. MELINDUNGI HARTA SAUDARA MUSLIMNYA
  • 15.
  • 16.
    KESEPAKATAN DUA ORANGATAU LEBIH UNTUK MEMBUKA PERUSAHAAN DENGAN TUJUAN MEMBAGI KEUNTUNGAN
  • 17.
  • 18.
  • 19.
    IKRAR ANTARA DUAORANG ATAU LEBIH UNTUK MEMBUKA USAHA DENGAN CARA MENGHIMPUN SEJUMLAH UANG ATAUDALAM BENTUK SAHAM, KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN DIBAGI MENURUT SAHAMYANG MEREKA MILIKI
  • 20.
    MODAL HENDAKNYA BERUPAUANG ATAU BARANG YANG DAPAT DIMBANG MODAL ITU SEJENIS DAN SIFATNYA PUN HARUS SAMA IKRAR MENGIZINKAN KEPADA YANG LAIN UNTUK MENJALANKAN SYIRKAH KEUNTUNGAN DIBAGI BERDASARKAN BESAR KECILNYA MODAL
  • 21.
  • 22.
    PERBANKAN SYARIAH Bank syariahadalah : Bank yang beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Bank yang tata cara beroperasinya mengacu kepada ketentuan-ketentuan Alquran dan Hadits 1. Prinsip pengharaman riba Prinsip ini tercermin dari praktek pengelolaan dana nasabah. Dana yang berasal dari nasabah penyimpan harus jelas asal usulnya. Sedangkan penyalurannya harus dalam usaha-usaha yang tidak bertentangan dengan syari. 2.Prinsip keadilan Prinsip ini tercermin dari penerapan sistem bagi hasil dan pengambilan keuntungan berdasarkan hasil kesepakatan dua belah pihak. 3.Prinsip Kesamaan Prinsip ini tercermin dengan menempatkan posisi nasabah serta bank pada posisi yang sederajat. Kesamaan ini terwujud dalam hak, kewajiban, risiko dan keuntungan yang berimbang di antara nasabah penyimpan dana, nasabah pengguna dana maupun bank. Prinsip-prinsip umum bank syariah.
  • 23.
    Pembiayaan dengan prinsipjual beli Pembiayaan dengan prinsip sewa Pembiayaan dengan prinsip bagi hasil (investasi) Pembiayaan dengan prinsip akad pelengkap Produk Penyaluran Dana
  • 24.
    a. Murabahah Sering jugadisebut al Bai bitsaman ajil. Yaitu akad jual beli barang dengan menyatakan harga perolehan dan keuntungan yang disepakati oleh penjual dan pembeli. Murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan. Dalam murabahah berdasarkan pesanan bank melakukan pembelian barang setelah ada pesanan dari nasabah. Dalam perbankan, murabahah selalu dilakukan dengan cara pembayaran cicilan. b. Salam Salam adalah akad jual beli muslam fiih (barang pesanan) dengan penangguhan pengiriman oleh muslam ilaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan segera oleh pembeli sebelum barang pesanan tersebut diterima sesuai dengan syarat-syarat tertentu. Dalam transaksi ini kualitas, kuantitas harga dan waktu penyerahan barang ditentukan secara pasti sehingga tidak seperti jual ijon. c. Istishna’ Istishna’ adalah akad jual beli antara al mustashni (pembeli) dan as shani (produsen yang juga bertindak sebagai penjual). Berdasarkan akad tersebut, pembeli menugasi produsen untuk menyediakan al mashnu (barang pesanan) sesuai spesifikasi yang disyaratkan pembeli dan menjualnya dengan harga yang disepakati. Cara pembayaran dapat berupa pembayaran dimuka, cicilan, atau ditangguhkan sampai jangka waktu tertentu.
  • 25.
    2. Prinsip sewa(ijarah) Transaksi ini dilandasi adanya perpindahan manfaat. Ijarah adalah akad sewa – menyewa antara pemilik ma’jur (objek sewa) dan musta’jir (penyewa) untuk mendapatkan imbalan atas obyek sewa yang disewakannya
  • 26.
    Akad Pelengkap Untuk mempermudahpelaksanaan pembiayaan biasanya diperlukan juga akad pelengkap. Produk ini tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk mempermudah pelaksanaan pembiayaan. a. Hiwalah (Alih hutang piutang) Bertujuan untuk membantu supplier mendapatkan modal tunai agar dapat melanjutkan produksinya. Bank akan mendapati ganti atas jasa pemindahan piutang. b. Rahn (gadai) Tujuan akad rahn adalah untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. c. Qardh Qardh adalah pinjaman uang kepada nasabah yang digunakan untuk keperluannya dengan hanya mengembalikan biaya pokok. d. Wakalah Wakalah adalah nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan pekerjaan jasa tertentu. e. Kafalah Kafalah dapat diberikan dengan tujuan untuk menjamin pembayaran suatu kewajiban pembayaran.
  • 27.
    Mudharabah Mudharabah yaitu tenagakerja dan pemilik modal bergabung bersama sebagai mitra usaha kerja . Masalah mudharabah yaitu dimana pemilik modal atau bank memberikan modalnya, sedangkan para pekerja atau nasabah memberikan keahlian mereka. Masalah keuntungan dibagi menurut yang telah disepakati. Sebaliknya, jika ada kerugian maka ditanggung pemilik modal.
  • 28.
    Sistem Mudharabah •Modal ,baik berupa uang atau barang diketahui jumlahnya •Bagian pekerja terhadap keuntungan harus ditentukan •Pekerja tidak boleh melakukan mudharabah dg orang lain , jika merugikan pemilik modal pertama, kecuali memperoleh izinya •Jika mudharabah telah selesai , sedang sebagian harta berbentuk barang atau dihutang orang, kemudian pemilik modal meminta sisa barang dan yang dihutang itu menjadi uang kontan, maka pekerja harus mengabulkannya •Jika pekerja itu mengaku modalnya habis dan mengalami kerugian dengan mengajukan bukti-bukti dan ia bersumpah, maka pengakuannya diterima.
  • 29.
  • 30.
    Syarat Musakoh 1) Lahanatau pohon apa saja yang harus diketaahui oleh pekerja ketika terjadi akad 2) Bagian yang hendak diberikan kepada pekerja harus dijelaskan, misalnya setengah, seperempat, atau seperlima 3) Penggarap atau pekerja harus mengerjakan apasaja menurut yg dibutuhkan tanaman, misalnya memupuk, menyiangi dan perawatan lain supaya tanaman subur & menghasilkan buah yg baik. 4) Jika lahan yg digarap itu ada kewajiban membayar pajak maka pajak harus dibayar pemilik tanah bukan oleh penggarap 5) Jika penggarap pergi meninggalkan kontrak kerjanya sebelum masa panen, pemilik tanah berhak membatalkan kontrak kerja
  • 31.
    Muzaraah dan Mukharabah Muzarakah: seseorang yg mengharapkan sawah /ladangnya kepad apetani/ penggarap dimana benihnya berasal dari petani atau penggarap dg bagi hasil separuh atau sepertiga Mukharabah : Seseorang yg menggarpkan sawah atau ladangnya kepada petani / penggarap, benihnya berasal dari pemilik tanah dg bagi hasil separuh atau sepertiga Zakat Muzararaah dibebankan kepada petani atau penggarap , karena dialah yang bertanam, sedangkan pemilik tanah hanya mengambil sewanya . Zakat Mukharabah : dibebankan kepada pemilk tanah karena petani dan penggarap hanya mengambil upahnya saja.