Puisi ini menceritakan peristiwa seorang tukang rambutan yang memberikan sepuluh ikat rambutannya kepada mahasiswa yang sedang berdemonstrasi. Mahasiswa itu sangat berterima kasih dan menghargai perbuatan kecil tukang rambutan tersebut.
Puisi
hasil pemikiranimajinatif penulis
ungkapan perasaan penulis
untuk mengungkapkan
kekaguman, pujian, kebahagian, maupun
kesedihan
untuk menceritakan secara singkat
pengalaman dan petualangan
menggunakan kata-kata yang indah, padat
dan mengandung makna serta pesan yang
tersirat maupun tersurat
dibaca dengan ekspresif dan intonasi tertentu
PUISI Epik naratif
Menggunakangaya bahasa PRISMATIS
Sujudku di Senja-Mu
Kini surya-Mu telah tenggelam
Suara-suara penyeru-Mu bersahutan
Saatnya kukhusuk dalam sujudku pada-Mu
Mengalunkan dan mengagungkan pujian akan asma-Mu
Wahai Yang Maha Mulia nan Maha Agung
Maka kumohonkan rahmat dan ampunan atas dosa-dosaku
Wahai Yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun
5.
PUISI Epik naratif
Menggunakangaya bahasa DIAPHAN
Maghrib
Kini malam telah datang
Suara-suara adzan pun bersahutan
Sholat maghrib pun kudirikan
Kumenyebut dan memuji nama Tuhanku
Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung
Maka kuberdoa mohon rahmat dan ampunan atas dosa-
dosaku
Wahai Allah Yang Maha Penyayang dan Maha
Pengampun
6.
PUISI Epik naratif
Sujudkudi Senja-Mu
Maghrib
Kini surya-Mu telah tenggelam Kini malam telah datang
Suara-suara penyeru-Mu bersahutan Suara-suara adzan pun bersahutan
Saatnya kukhusuk Sholat maghrib pun kudirikan
dalam sujudku pada-Mu Kumenyebut dan memuji nama
Mengalunkan dan mengagungkan Tuhanku
pujian akan asma-Mu Allah Yang Maha Mulia
Wahai Yang Maha Mulia dan Maha Agung
nan Maha Agung Maka kuberdoa mohon rahmat dan
Maka kumohonkan rahmat dan ampunan atas dosa-dosaku
ampunan atas dosa-dosaku Wahai Allah Yang Maha Penyayang
Wahai Yang Maha Penyayang dan Maha Pengampun
lagi Maha Pengampun
7.
PUISI LIRIK Subjektif
Menggunakangaya bahasa PRISMATIS
Kerucut nan Sejuk
Hmm…nikmat…
Segar…laksana sungai mengalir
Kau hilangkan dahagaku
Manis…semanis panennya lebah
Kau hilangkan penatku
Saat indra pengecapku menyentuhmu
Kerucut nan sejuk
Kau kembalikan matahari di wajahku
8.
PUISI LIRIK Subjektif
Menggunakangaya bahasa DIAPHAN
Es Krim ‘corn’ yang Dingin
Hmm…nikmat…
Segar…laksana air mengalir
Kau hilangkan hausku
Manis…semanis madu
Kau hilangkan lelahku
Saat lidahku menyentuhmu
Es krim ‘corn’ yang dingin
Kau kembalikan senyum dan semangat di wajahku
9.
PUISI LIRIK Subjektif
Kerucutnan Sejuk Es Krim ‘corn’ yang Dingin
Hmm…nikmat… Hmm…nikmat…
Segar…laksana sungai mengalir Segar…laksana air mengalir
Kau hilangkan dahagaku Kau hilangkan hausku
Manis… Manis…semanis madu
semanis panennya lebah Kau hilangkan lelahku
Kau hilangkan penatku Saat lidahku menyentuhmu
Saat indra pengecapku Es krim ‘corn’ yang dingin
menyentuhmu Kau kembalikan senyum dan
Kerucut nan sejuk semangat di wajahku
Kau kembalikan matahari
di wajahku
10.
PUISI Dramatik
SEORANG TUKANGRAMBUTAN KEPADA ISTRINYA Saya menganguk-angguk. Tak bisa bicara
“Tadi siang ada yang mati, “Doakan perjuangan kami pak!”
Dan yang mengantar banyak seklali Mereka naik truk kembali
Ya. Mahasiswa-mahasiswa itu. Masih meneriakkan terima kasihnya
Anak-anak sekolah “Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!
Yang dulu berteriak dua ratus, dua ratus! Saya dipanggul dan diarak-arak sebentar
Sampai bensi juga turun harganya “Hidup pak rambutan!” sorak mereka
Sampai kita bisa naik bis pasar yang murah pula. “Terima kasih pak, terima kasih!
Mereka kehausan dalam panas bukan main “Bapak setuju kami bukan ?”
Terbakar mukanya di atas truk terbuka Saya menganguk-angguk. Tak bisa bicara
Saya lemparkan sepuluh ikat rambutan kita Bu “Doakan perjuangan kami pak!”
Biarlah sepuluh ikat juga Mereka naik truk kembali
Memang sudah rejeki mereka Masih meneriakkan terima kasihnya
Mereka berteriak kegirangan dan berebutan “Hidup pak rambutan! Hidup rakyat!
Seperti anak-anak kecil Saya tersedu belum pernah seumur hidup
Dan menyoraki saya. Orang berterima kasih begitu jujurnya
Betul bu, menyoraki saya Pada orang kecilnya seperti kita”
“Hidup tukang rambutan ! hidup tukang rambutan
Dan ada yang turun dari truk, bu (Jassin, 1968:151)
Mengejar dan menyalami saya
“Hidup rakyat!” teriaknya