Proses Morfologi 3 (KOMPOSISI)
A. Pengertian Komposisi
Komposisi adalah proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang
bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal
yang berbeda. Dalam istilah tatabahasa tradisional istilah pemadun lebih dikenal dengan nama
pemajemukan. Dalam bahasa Indonesia pemaduan satuan-satuan kata untuk membentuk satu kata
sangat produkatif, khusussnya dalam pembentukan istilah-istilah baru. Ramlan (1985) menyatakan
bahwa kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata atau lebih sebagai unsurnya. Di samping
itu, ada juga kata majemuk yang terdiri dari satu kata dan satu pokok kata, sebagai unsurnya,
misalnya daya tahan, daya juang, kamar tunggu, kamar kerja, ruang baca, tenaga kerja, kolam
renang, jarak tembak, ikat pinggang, dan ada pula yang terdiri dari pokok kata semuanya, seperti
lomba lari, jual beli, simpan pinjam, dan masih banyak lagi.
B. Perbedaan Komposisi, Frasa dan Klausa
Komposisi ialah proses pembentukan kata majemuk atau kompositum. Kata majemuk ialah
gabungan kata yang telah bersenyawa atau membentuk satu kesatuan dan menimbulkan makna
baru.Contoh: kamar mandi, kereta api, rumah makan, baju tidur.
Gabungan kata yang juga membentuk satu kesatuan , tetapi tidak menimbulkan makna baru
disebut frasa. Contoh: sapu ijuk, meja itu, kepala botak, rambut gondrong, mulut lebar.
Klausa adalah satuan gramatika yang memiliki tataran di atas frasa dan dibawah kalimat,
berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi
untuk menjadi kalimat. Contoh: anakitumenangis, bajuitubaru, Rantipergi.
C. Ciri-ciri komposisi
a.Memiliki makna dan fungsi baru yang tidak persis sama denganfungsi masing-masing
unsurnya.
b. Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan baik secara morfologis maupun secara sintaksis.
Contoh:
- kambing+hitam →kambinghitam
- rumah+sakit →rumahsakit
- kaki+tangan → kaki tangan
- orang+tua → orang tua
- kepala + batu→kepalabatu
- mata + pelajaran→matapelajaran.
D. Jenis-jenisKomposisi
a. Komposisi Verbal
Komposisi verbal adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori verbal (kata kerja).
Komposisi verbal dapat dibentuk dari dasar:
1) Verba + verba, seperti menyanyi menari, duduk termenung, makan minum.
2) Verba + nomina, seperti gigit jari, membanting tulang, lompat galah.
3) Verba + adjektifa, seperti lompat tinggi, lari cepat, terbaring gelisah.
4) Adverbia + verba, seperti sudah makan, belum ketemu, masih tidur.
b. Komposisi Nomina
Komposisi nomina adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina (kata benda).
Komposisi nomina dapat dibentuk dari dasar
1) Nomina + nomina, seperti kakek nenek, meja kayu, sate kambing
2) Nomina + verba, seperti meja makan,, buku ajar, ruang tunggu.
3) Nomina + adjektifa, seperti guru muda, mobil kecil, meja hijau.
4) Adverbial + nomina, seperti bukan uang, banyak serigala, beberapa guru.
c. Komposisi Adjektiva
Komposisi adjektiva adalah komposisi yang pada satuan klausa, berkategori adjektiva (kata sifat).
Komposisi adjektiva dapat dibentuk dari dasar:
1) Adjektiva + adjektiva, seperti tua muda, besar kecil, putih abu-abu.
2) Adjektiva + nomina, seperti merah darah, keras hati, biru laut.
3) Adjektiva + verba, seperti takut pulang, malu bertanya, berani pulang.
4) Adverbia + adjektiva, seperti, tidak takut, agak malu, sangat menyenangkan.
E. Perbedaan Komposisi dengan Idiom
Komposisi memiliki makna baru atau memiliki satu makna tetapi maknanya masih dapat
ditelusuri secara langsung dari kata-kata yang digabungkan. Contoh, kaki meja yang masih dapat
ditelusuri dari makna 'kaki' dan 'meja'.
Idiom adalah memunculkan makna baru yang tidak dapat secara langsung ditelusuri dari
kata-kata yang digabungkan. Contoh, tangankanan artinya“orang kepercayaan”yang tidak ada
sangkut pautnya dengan 'tangan' dan 'kanan'.
Sifasa Indonesia
Cinta Indonesia, Sastra di Hati
 FB
 Kenal Sifasa
 Karya Senior
 Karya Sahabat
 Pena Kampus
Problematika Kata Majemuk dalam Kajian Morfologi
Bahasa Indonesia
08 Nov 2012 6 Komentar
by S. Fatichatus Sarifah in Pena Kampus Tag:kata majemuk, morfologi bahasa
Problematika Kata Majemuk dalam Kajian Morfologi Bahasa Indonesia
Oleh
Siti Fatichatus Sarifah
APRIL 2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Proses morfologis merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan morfem
yang satu dengan morfem yang lain sehingga menghasilkan kata. Proses gramatikal atau proses
gramatis akan memunculkan adanya makna gramatikal atau makna gramatis, yaitu makna yang
timbul akibat bertemunya morfem yang satu dengan morfem yang lain. Contohnya morfem
{meN-} tidak mempunyai makna leksikal. Oleh karena itu morfem tersebut harus bergabung
dengan morfem lain agar memiliki makna. Misal, morfem {meN-} yang tidak mempunyai
makna leksikal itu harus digabung dengan morfem {tari} menjadi {menari} sehingga morfem
{meN-} memiliki makna ‘melakukan sesuatu seperti yang tersebut pada bentuk dasar’. Makna
itulah yang disebut makna gramatikal.
Kata yang mengalami proses morfologis itu mempunyai dua ciri yaitu (1) polimorfemis, terdiri
atas lebih dari satu morfem, dan (2) mempunyai makna gramatis atau makna gramatikal. Ada
tiga cara yang bisa dilakukan dalam proses morfologi bahasa Indonesia. Ketiga cara itu antara
lain: (1) afiksasi, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar
dengan afiks sehingga menghasilkan kata berimbuhan, (2) reduplikasi, yaitu proses pembentukan
kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar dengan morfem ulang {R} sehingga
menghasilkan kata ulang, dan (3) pemajemukan, yaitu proses pembentukan kata dengan cara
menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan
kata majemuk yang memiliki makna baru.
Dalam pemajemukan sering terjadi permasalahan, baik dalam perlakuan terhadap kata majemuk
maupun kerancuannya dengan bentuk yang lain (dalam hal ini adalah frasa, idiom, dan
reduplikasi berubah bunyi). Oleh karena itu, penulis menyusun makalah yang membahas
perlakuan terhadap kata majemuk serta perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan
reduplikasi berubah bunyi agar kata majemuk dapat diperlakukan dengan tepat oleh pengguna
bahasa dan keberadaan kata majemuk tidak lagi disamakan dengan frasa, idiom, ataupun
reduplikasi berubah bunyi.
1.2 Masalah
1.2.1 Apakah pengertian pemajemukan?
1.2.2 Bagaimana ciri-ciri kata majemuk?
1.2.3 Apa sajakah jenis kata majemuk?
1.2.4 Bagaimana perlakuan terhadap kata majemuk?
1.2.5 Bagaimana perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi?
1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui pengertian pemajemukan.
1.3.2 Mengetahui ciri-ciri kata majemuk.
1.3.3 Mengetahui jenis kata majemuk.
1.3.4 Mengetahui perlakuan terhadap kata majemuk.
1.3.5 Mengetahui perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pemajemukan
Sumadi (2010:132) mengemukakan bahwa pemajemukan atau komposisi adalah proses
pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar
yang lain dan gabungan itu menimbulkan makna baru yang menyimpang dari makna
konvensional setiap bentuk dasarnya. Pengertian tersebut senada dengan yang disampaikan oleh
Masnur Muslich (2008:57), yaitu peristiwa bergabungnya dua morfem dasar atau lebih secara
padu dan menimbulkan arti yang relatif baru. Sementara menurut Abdul Chaer (2008:209),
pemajemukan atau komposisi adalah proses penggabungan bentuk dasar dengan bentuk dasar
untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata.
Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemajemukan merupakan proses
pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar
yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk dan kata majemuk yang terbentuk itu memiliki
makna baru yang menyimpang dari makna konvensionalnya.
2.2 Ciri Kata Majemuk
Sebagai kata yang telah mengalami proses morfologis, kata majemuk memiliki dua ciri umum
sebagaimana kata berimbuhan dan kata ulang, yaitu (1) polimorfemis dan (2) memiliki makna
gramatikal (Sumadi, 2010:133).
Menurut Sumadi (2010:134—136), kata majemuk kuga memiliki berapa ciri khusus yang akan
dijelaskan sebagai berikut.
2.2.1 Menimbulkan Makna Baru
Dalam kata majemuk, terjadi pertalian makna di antara bentuk dasar yang membentuknya
sehingga penafsiran makna terhadap kata majemuk tidak dapat dilakukan terhadap makna bentuk
dasarnya. Sebagai contoh, kamar mandi adalah kata majemuk, sedangkan kamar saya bukan kata
majemuk. Alasannya, bentuk kamar mandi merujuk pada ruangan yang dirancang khusus untuk
dipakai mandi, sedangkan bentuk kamar saya menjelaskan bahwa kamar itu milik saya.
Dapat disimpulkan bahwa terjadi penyimpangan makna terhadap makna konvensional yang
dimiliki setiap bentuk dasar pada kata majemuk. Penyimpangan ini bervariasi mulai dari yang
agak menyimpang, misalnya rumah sakit hingga yang sangat menyimpang misalnya silat lidah.
2.2.2 Hubungan Antarunsur Sangat Padu
Hubungan antarunsur pembentuk kata majemuk sangat padu sehingga di antara unsur
pembentukya tidak dapat disisipi satuan gramatis yang lain (Sumadi, 2010:135). Menurut
Masnur Muslich (2008:59), bentuk majemuk tergolong konstruksi pekat.
Untuk memperjelas pernyataan tersebut, bandingkan kata majemuk rumah makan dan frasa
rumah untuk makan. Kata majemuk rumah makan memang bisa didefinisikan sebagai ‘rumah
untuk makan’ sehingga seakan-akan tidak ada bedanya dengn frase rumah untuk makan. Akan
tetapi, perlu diingat bahwa kata majemuk rumah makan telah memiliki rujukan tertentu,
misalnya restoran, depot, dan kafe. Jadi, tidak semua rumah yang digunakan untuk makan bisa
disebut rumah makan. Selain itu kata majemuk juga diberi keterangan yang digunakan sebagai
penanda bahwa hubungan antarunsur pembentuknya sangat padu.
2.2.3 Memiliki Struktur yang Tetap
Karena hubungan di antara satuan gramatis pembentuk kata majemuk itu sangat erat, maka
posisinya tidak dapat dipertukarkan sehingga strukturnya tetap (Sumadi, 2010:135—136).
Sebagai contoh, kata majemuk kamar tidur, tanggung jawab, dan mata air tidak dapat diubah
menjadi tidur kamar, jawab tanggung, dan air mata (bentuk ini ada, tetapi maknanya tentu
berbeda dengan mata air).
2.3 Jenis Kata Majemuk
Ada empat dasar yang biasanya digunakan untuk menjeniskan kata majemuk, yaitu (1)
berdasarkan hubungan gramatik antar usurnya, (2) berdasarkan hubungan semantis
antarunsurnya, (3) berdasarkan jumlah bentuk dasar yang membentuk kata majemuk itu, dan (4)
berdsarkan kelas kata bentuk dasar yang membentuknya.
2.3.1 Berdasarkan Hubungan Gramatis Antarunsurnya
Berdasarkan hubungan gramatis antarunsurnya, kata majemuk terdiri atas kata majemuk
endosentris dan kata majemuk eksosentris (Sumadi, 2010: 136)
Kata majemuk endosentris adalah kata majemuk yang unsur pembentuknya ada yang
diterangkan (D) dan ada yang menerangkan (M). Strukturnya bisa berupa D-M, misalnya kamar
mandi dan hari besar, atau M-D yamg pada umumnya berasal dari unsur serapan, misalnya
perdana menteri dan akil balig (Masnur Muslich, 2008:62).
Sementara itu, kata majemuk eksosentris atau dwanda adalah kata majemuk yang hubungan
gramatis antarunsurnya sejajar dan tidak saling menerangkan sehingga hanya bersifat kopulatif
(Sumadi, 2010:136; Masnur Muslich, 2008:62). Contoh kata majemuk jenis ini adalah kaki
tangan, tua muda, dan sunyi senyap.
Penulisan kata majemuk endosentris berstruktur D-M apabila diulang, cukup D-nya saja yang
diulang. Adapun penulisan kata majemuk endosentris berstuktur M-D dan kata majemuk
eksosentris apabila diulang, seluruhnya harus diulang (Sumadi, 2010:137).
2.3.2 Berdasarkan Hubungan Sematis Antarunsurnya
Berdasarkan hubungan sematis antarunsurnya, kata majemuk terdiri atas (1) kata majemuk yang
hubungan antarunsurnya setara, misalnya tanggung jawab (2) kata majemuk yang hubungan
makna antarunsurnya bersinonim, misalnya pucat pasi, dan (3) kata majemuk yang hubungan
makna antarunsurnya berantonim, misalnya simpan pinjam (Sumadi, 2010:137).
2.3.3 Berdasarkan Jumlah Bentuk Dasar yang Membentuknya
Berdasarkan jumlah bentuk dasarnya, kata majemuk dapat dipilah menjadi (1) kata majemuk
yang terdiri atas dua bentuk dasar, misalnya meja tulis, kepala dingin, dan membabi buta, serta
(2) kata majemuk yang terdiri atas tiga bentuk dasar, misalnya telur mata sapi, kereta api cepat,
dan setali tiga uang (Sumadi, 2010:137—138).
2.3.4 Berdasarkan Kelas Kata Bentuk Dasar yang Membentuknya
Menurut Sumadi (2010:138), berdasarkan kelas kata bentuk dasarnya, kata majemuk dapat
dipilah menjadi delapan belas, yaitu sebagai berikut.
a. KB-KB, misalnya tuan tanah, tanah air, dan kepala batu.
b. KB-KK, misalnya kamar tidur dan kamar mandi.
c. KB-KS, misalnya orang tua, istri muda, dan kursi malas.
d. KB-KBil, misalnya roda dua, roda empat, dan langkah seribu.
e. KK-KS, misalnya tertangkap basah dan adu untung.
f. KK-KB, misalnya makan hati dan adu mulut.
g. KS-KB, misalnya keras kepala dan haus darah.
h. KBil-KB, misalnya setengah hati dan empat mata.
i. KBil-Kbil, misalnya sekali dua.
j. KBil-KK, misalnya setengah hati.
k. KB-PKK, misalnya roti bakar, buku tulis, dan ruang kerja.
l. KS-PKK, misalnya buruk sangka dan salah paham.
m. PKK-PKK, misalnya jual beli dan kerja paksa.
n. KB-KB-KB, misalnya telur mata sapi.
o. KB-KB-KS, misalnya kereta api cepat.
p. KB-KB-KBil, misalnya pedagang kaki lima.
q. KB-KK-KB, misalnya senjata makan tuan.
r. KB-KS-KK, misalnya bus cepat terbatas.
2.4 Perlakuan terhadap Kata Majemuk
Kata jemuk adalah sebuah kata yang terbentuk dari proses pemajemukan, bukan frasa sehingga
perlakuan terhadap kata majemuk harus sama dengan sebuah kata. Seperti halnya kata, kata
majemuk juga dapat mengalami proses afiksasi (mendapat prefiks, dan konfiks). Jika hanya
penambahan prefiks tidak terlalu bermasalah, misalnya kata rumah tangga mendapat prefik {ber-
} menjadi berumah tangga, contoh lain pada kata buruk sangka mendapat prefiks {ber-} menjadi
berburuk sangka. Lain ceritanya dengan penambahan prefiks, penambahan konfiks pada kata
majemuk rupanya mengalami masalah. Misalnya pada kata kambing hitam, jika kata tersebut
mendapat konfiks {ke-an} ada yang berpendapat kata itu menjadi mengambinghitamkan ada
juga yang berpendapat menjadi mengmbingkan hitam. Masalah senada terjadi pada kata
tanggung jawab berkonfiks {ke-an}, satu pendapat mengatakan menjadi pertanggungjawaban
pendapat lain mengatakan pertanggungan jawab. Hal itu menimbulkan simpang siur sehingga
perlu dicari kebenarannya. Manakah yang benar dari beberapa bentuk di atas?
Mengacu pada ciri kata majemuk seperti yang dibahas di atas (2.2.2) bahwa hubungan
antarunsur kata majemuk sangat padu, sehingga tidak dapat disisipi satuan gramatik yang lain.
Berarti, dengan kata lain bentuk-bentuk seperti mengambingkan hitam, dan pertanggungan jawab
merupakan contoh yang salah karena bentuk tersebut menyisipkan afiks diantara dua unsur
pembentuk kata majemuk kambing hitam, dan tanggung jawab. Dengan begitu, bentuk majemuk
yang tepat ketika mendapat konfiks ialah ( prefiks-kata majemuk-sufiks) seperti pada contoh
ialah mengambinghitamkan, dan pertanggungjawaban.
2.5 Kata Majemuk dengan Frasa, Idiom, dan Reduplikasi Berubah Bunyi
Kata majemuk sering rancu dengan frasa dan idiom. Sebagian yang lain ada yang mengatakan
ada jenis kata majemuk yang dibahas dalam reduplikasi berubah bunyi, contohnya: cantik-
molek, basah-kuyup, tua renta, dan hancur luluh (Chaer, 2008:212). Sebenarnya, antara kata
majemuk, frasaa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi tidaklah sama. Dilihat dari
pengertiannya, perbedaannya nampak sebagai berikut.
Frasa merupakan satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang bersifat
nonpredikatif, lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa. Non predikatif yang dimaksud
ialah kata-kata pembentuk frasa tidak ada yang berkedudukan sebagai predikat. Misalnya, rumah
saya, makan sate, mereka semua, dan hari Sabtu.
Idiom merupakan satuan bahasa yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya,
tidak dapat diramalkan dari makna leksikal dan makna gramatikal unsurnya. Misalnya, meja
hijau, kambing hitam, panjang tangan, dan membanting tulang.
Reduplikasi berubah bunyi merupakan salah satu jenis kata ulang atau reduplikasi yang dibentuk
dengan cara mengulang bentuk dasar secara utuh tetapi disertai dengan adanya perubahan bunyi
vokal maupun konsonan bentuk dasarnya. Misalnya, mondar-mandir, warna-warni, corat-coret,
dan sayur-mayur.
Perbedaan yang nampak dari kata majemuk dan frasa antara lain (1) kata majemuk terdiri atas
dua bentuk dasar atau lebih (dapat berupa kata, pokok kata, dan morfem unik), sementara frasa
dibentuk dari pengabungan dua kata atau lebih. Misalnya, kata majemuk yang terbentuk dari kata
dengan pokok kata: jagung bakar, dan kata dengan morfem unik: gelap gulita. Sementara frasa
terbentuk dari gabungan kata dengan kata: sudah datang. (2) kata majemuk menimbulkan makna
baru yang menyimpang, sementara frasa tidak menimbulkan makna baru melainkan tetap sesuai
makna leksikal. Misalnya, pada kata majemuk kepala dua yang bermakna ‘berumur 20—29’
berbeda jauh dari makna bentuk dasar penyusunnya, yaitu kepala ‘bagian tubuh yang di atas
leher’ dan dua ‘angka dua’. Sementara pada frasa makan nasi, makna kata makan ‘memasukkan
makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya’ dan nasi ‘beras yang sudah
dimasak’ sehingga makna makan nasi ‘memakan nasi atau memasukkan beras yang sudah
dimasak ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya’. (3) kata majemuk tidak dapat
disisipi satuan gramatis yang lain sedangkan frasa dapat disisipi. Kata kamar mandi tidak dapat
disisipi satuan gramatik yang lain, memang ada sebagian pengamat bahasa yang mengatakan
bahwa bentuk kamar mandi dapat disisipi konjungsi untuk. Namun perlu dicermati bahwa kamar
mandi dan kamar untuk mandi berbeda makna. Kamar mandi tidak hanya untuk mandi, bisa
digunakan untuk buang air kecil atau sekadar cuci muka. Frasa adik mandi dapat disisipi kata
sedang dan makna antara adik mandi dengan adik sedang mandi artinya sama saja. (4) struktur
kata majemuk tetap sehingga tidak bisa dibolak-balik, sementara frasa dapat dibolak-balik.
Diambil dua contoh yaitu sangat cantik dan mati suri. Pada pola sangat cantik dapat diutarakan
dengan mmembalik unsur-unsurnya menjadi cantik sangat dan keduanya memiliki makna yang
sama, itulah yang disebut frasa, mempunyai sifat dapat dibolak-balik. Berbeda keadaanya dengan
kata majemuk (contoh 2), mati suri yang berarti ‘orang yang mati tetapi hanya sebentar’ jika
kedua unsurnya dibalik menjadi suri mati, komposisi tersebut tidak memiliki makna apa-apa,
sehingga hal itulah yang disebut bahwa kata majemuk tidak dapat dibolak-balik.
Kata majemuk dan idiom, keduanya sama-sama memiliki makna yang menyimpang dari makna
unsur-unsur pembentuknaya. Bedanya, idiom penyimpangan maknanya sudah “terlalu jauh” dari
makna unsur penyusunnya, seperti meja hijau, kambing hitam, dan hidung belang, sementara
pada kata majemuk makna yang dihasilkan ada yang memang “jauh” ada pula yang masih bisa
diraba-raba dari makna unsur pembentuknya. Contoh kata majemuk yang maknanya masih dapat
diraba dari bentuk dasar penyusunnya antara lain: kamar mandi makna katanya masih
berhubungan dengan kata mandi walaupun kamar mandi tidak selalu untuk mandi; dan rumah
makan, walaupun sudah ada referensinya tersendiri yaitu restoran, kafetaria, ataupun warung,
namun semuanya itu masih berhubungan dengan istilah makan. Selain itu, perbedaan kata
majemuk dengan ialah sudut pandang menanggapi sebuah kata. Jika kata majemuk memiliki
makna yang menyimpang disebut sebagai kata majemuk dari proses pembentukannya, yaitu
secara morfologi, idiom dipandang dari segi semantikya, yaitu “penyimpangan” makna yang
dibentuk. Jadi, suatu kata yang mempunyai penyimpangan makna itu jika dilihat dari segi
morfologi adalah sebuah kata majemuk, tetapi jika dilihat dari segi semantik adalah sebuah
idiom.
Mengenai kata majemuk dengan reduplikasi berubah bunyi, ada ahli bahsa yang mengatakan
bahwa kata cantik molek, basah kuyup, tua renta,dan hancur luluh juga lazim dibahas dalam
reduplikasi berubah bunyi. Sementara di atas telah dijelaskan bahwa perubahan bunyi yang
dimakksud adalah pengulangan bentuk dasar pertama secara utuh yang mengalami perubahan
bunyi vokal maupun konsonan. Lantas, apakah pada kata cantik molek, basah kuyup, tua renta
dan hancur luluh bentuk keduanya merupakan pengulangan bentuk pertama? Tentu bukan. Kata
molek, kuyup, renta, dan luluh bukan pengulangan dari bentuk cantik, basah, tua dan hancur,
sehingga cantik molek, basah kuyup, tua renta, dan hancur luluh tidak bisa dikategorikan sebagai
kata ulang atau reduplikasi berubah bunyi, kata itu merupakan golongan kata majemuk.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pemajemukan merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar
yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk dengan makna
baru yang menyimpang dari makna konvensionalnya. Memiliki ciri umum dan khusus. Ciri
umum, berupa polimorfemik dan menimbulkan makna gramatikal. Sementara ciri khususnya
ialah (1) menimbulakan makna baru, (2) hubungan antarunsur sangat padu, dan (3) strukturnya
tetap. Kata majemuk dapat diberi afiks, khususnya prefiks dan konfiks. Dan kata majemuk
berbeda dengan frasa dan idiom, juga tidak bisa dianggap sebagai reduplikasi berubah bunyi.
3.2 Saran
Hampir terjadi kesamaan bentuk antara kata majemuk, frasa, idiom, dan reduplikasi berubah
bunyi. Bagi orang awam yang sedikit pengetahuannya tentang kebahasaan, khususnya tentang
pemajemukan mungkin sekilas menganggap sama, padahal terdapat perbedaan di antara bentuk-
bentuk tersebut. Oleh karena itu makalah ini membahas tentang hal tersebut. Semoga penyajian
ini dapat memberikan sedikit gambaran untuk dapat membedakannya. Perlu adanya upaya untuk
lebih memahami dengan membaca berbagai sumber dan literatur yang terpercaya. Dan hal
tersebut menjadi tugas utama pengamat bahasa serta mahasiswa jurusan bahasa dan sastra
Indonesia untuk meluruskannya.
DAFTAR RUJUKAN
Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta.
Muslich, Masnur. 2008. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif.
Jakarta: Bumi Aksara.
Sumadi. 2010. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: UM Press.

Proses morfologi 3

  • 1.
    Proses Morfologi 3(KOMPOSISI) A. Pengertian Komposisi Komposisi adalah proses penggabungan morfem dasar dengan morfem dasar baik yang bebas maupun yang terikat sehingga terbentuk sebuah konstruksi yang memiliki identitas leksikal yang berbeda. Dalam istilah tatabahasa tradisional istilah pemadun lebih dikenal dengan nama pemajemukan. Dalam bahasa Indonesia pemaduan satuan-satuan kata untuk membentuk satu kata sangat produkatif, khusussnya dalam pembentukan istilah-istilah baru. Ramlan (1985) menyatakan bahwa kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata atau lebih sebagai unsurnya. Di samping itu, ada juga kata majemuk yang terdiri dari satu kata dan satu pokok kata, sebagai unsurnya, misalnya daya tahan, daya juang, kamar tunggu, kamar kerja, ruang baca, tenaga kerja, kolam renang, jarak tembak, ikat pinggang, dan ada pula yang terdiri dari pokok kata semuanya, seperti lomba lari, jual beli, simpan pinjam, dan masih banyak lagi. B. Perbedaan Komposisi, Frasa dan Klausa Komposisi ialah proses pembentukan kata majemuk atau kompositum. Kata majemuk ialah gabungan kata yang telah bersenyawa atau membentuk satu kesatuan dan menimbulkan makna baru.Contoh: kamar mandi, kereta api, rumah makan, baju tidur. Gabungan kata yang juga membentuk satu kesatuan , tetapi tidak menimbulkan makna baru disebut frasa. Contoh: sapu ijuk, meja itu, kepala botak, rambut gondrong, mulut lebar. Klausa adalah satuan gramatika yang memiliki tataran di atas frasa dan dibawah kalimat, berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi untuk menjadi kalimat. Contoh: anakitumenangis, bajuitubaru, Rantipergi. C. Ciri-ciri komposisi a.Memiliki makna dan fungsi baru yang tidak persis sama denganfungsi masing-masing unsurnya. b. Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan baik secara morfologis maupun secara sintaksis. Contoh: - kambing+hitam →kambinghitam - rumah+sakit →rumahsakit - kaki+tangan → kaki tangan
  • 2.
    - orang+tua →orang tua - kepala + batu→kepalabatu - mata + pelajaran→matapelajaran. D. Jenis-jenisKomposisi a. Komposisi Verbal Komposisi verbal adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori verbal (kata kerja). Komposisi verbal dapat dibentuk dari dasar: 1) Verba + verba, seperti menyanyi menari, duduk termenung, makan minum. 2) Verba + nomina, seperti gigit jari, membanting tulang, lompat galah. 3) Verba + adjektifa, seperti lompat tinggi, lari cepat, terbaring gelisah. 4) Adverbia + verba, seperti sudah makan, belum ketemu, masih tidur. b. Komposisi Nomina Komposisi nomina adalah komposisi yang pada satuan klausa berkategori nomina (kata benda). Komposisi nomina dapat dibentuk dari dasar 1) Nomina + nomina, seperti kakek nenek, meja kayu, sate kambing 2) Nomina + verba, seperti meja makan,, buku ajar, ruang tunggu. 3) Nomina + adjektifa, seperti guru muda, mobil kecil, meja hijau. 4) Adverbial + nomina, seperti bukan uang, banyak serigala, beberapa guru. c. Komposisi Adjektiva Komposisi adjektiva adalah komposisi yang pada satuan klausa, berkategori adjektiva (kata sifat). Komposisi adjektiva dapat dibentuk dari dasar: 1) Adjektiva + adjektiva, seperti tua muda, besar kecil, putih abu-abu. 2) Adjektiva + nomina, seperti merah darah, keras hati, biru laut. 3) Adjektiva + verba, seperti takut pulang, malu bertanya, berani pulang. 4) Adverbia + adjektiva, seperti, tidak takut, agak malu, sangat menyenangkan. E. Perbedaan Komposisi dengan Idiom Komposisi memiliki makna baru atau memiliki satu makna tetapi maknanya masih dapat ditelusuri secara langsung dari kata-kata yang digabungkan. Contoh, kaki meja yang masih dapat ditelusuri dari makna 'kaki' dan 'meja'.
  • 3.
    Idiom adalah memunculkanmakna baru yang tidak dapat secara langsung ditelusuri dari kata-kata yang digabungkan. Contoh, tangankanan artinya“orang kepercayaan”yang tidak ada sangkut pautnya dengan 'tangan' dan 'kanan'. Sifasa Indonesia Cinta Indonesia, Sastra di Hati  FB  Kenal Sifasa  Karya Senior  Karya Sahabat  Pena Kampus Problematika Kata Majemuk dalam Kajian Morfologi Bahasa Indonesia 08 Nov 2012 6 Komentar by S. Fatichatus Sarifah in Pena Kampus Tag:kata majemuk, morfologi bahasa Problematika Kata Majemuk dalam Kajian Morfologi Bahasa Indonesia Oleh Siti Fatichatus Sarifah APRIL 2012 BAB I PENDAHULUAN
  • 4.
    1.1 Latar Belakang Prosesmorfologis merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain sehingga menghasilkan kata. Proses gramatikal atau proses gramatis akan memunculkan adanya makna gramatikal atau makna gramatis, yaitu makna yang timbul akibat bertemunya morfem yang satu dengan morfem yang lain. Contohnya morfem {meN-} tidak mempunyai makna leksikal. Oleh karena itu morfem tersebut harus bergabung dengan morfem lain agar memiliki makna. Misal, morfem {meN-} yang tidak mempunyai makna leksikal itu harus digabung dengan morfem {tari} menjadi {menari} sehingga morfem {meN-} memiliki makna ‘melakukan sesuatu seperti yang tersebut pada bentuk dasar’. Makna itulah yang disebut makna gramatikal. Kata yang mengalami proses morfologis itu mempunyai dua ciri yaitu (1) polimorfemis, terdiri atas lebih dari satu morfem, dan (2) mempunyai makna gramatis atau makna gramatikal. Ada tiga cara yang bisa dilakukan dalam proses morfologi bahasa Indonesia. Ketiga cara itu antara lain: (1) afiksasi, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar dengan afiks sehingga menghasilkan kata berimbuhan, (2) reduplikasi, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar dengan morfem ulang {R} sehingga menghasilkan kata ulang, dan (3) pemajemukan, yaitu proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk yang memiliki makna baru. Dalam pemajemukan sering terjadi permasalahan, baik dalam perlakuan terhadap kata majemuk maupun kerancuannya dengan bentuk yang lain (dalam hal ini adalah frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi). Oleh karena itu, penulis menyusun makalah yang membahas perlakuan terhadap kata majemuk serta perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi agar kata majemuk dapat diperlakukan dengan tepat oleh pengguna bahasa dan keberadaan kata majemuk tidak lagi disamakan dengan frasa, idiom, ataupun reduplikasi berubah bunyi. 1.2 Masalah 1.2.1 Apakah pengertian pemajemukan? 1.2.2 Bagaimana ciri-ciri kata majemuk? 1.2.3 Apa sajakah jenis kata majemuk? 1.2.4 Bagaimana perlakuan terhadap kata majemuk? 1.2.5 Bagaimana perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi? 1.3 Tujuan 1.3.1 Mengetahui pengertian pemajemukan. 1.3.2 Mengetahui ciri-ciri kata majemuk. 1.3.3 Mengetahui jenis kata majemuk. 1.3.4 Mengetahui perlakuan terhadap kata majemuk. 1.3.5 Mengetahui perbedaan kata majemuk dengan frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Pemajemukan Sumadi (2010:132) mengemukakan bahwa pemajemukan atau komposisi adalah proses
  • 5.
    pembentukan kata dengancara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain dan gabungan itu menimbulkan makna baru yang menyimpang dari makna konvensional setiap bentuk dasarnya. Pengertian tersebut senada dengan yang disampaikan oleh Masnur Muslich (2008:57), yaitu peristiwa bergabungnya dua morfem dasar atau lebih secara padu dan menimbulkan arti yang relatif baru. Sementara menurut Abdul Chaer (2008:209), pemajemukan atau komposisi adalah proses penggabungan bentuk dasar dengan bentuk dasar untuk mewadahi suatu konsep yang belum tertampung dalam sebuah kata. Dari ketiga pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemajemukan merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk dan kata majemuk yang terbentuk itu memiliki makna baru yang menyimpang dari makna konvensionalnya. 2.2 Ciri Kata Majemuk Sebagai kata yang telah mengalami proses morfologis, kata majemuk memiliki dua ciri umum sebagaimana kata berimbuhan dan kata ulang, yaitu (1) polimorfemis dan (2) memiliki makna gramatikal (Sumadi, 2010:133). Menurut Sumadi (2010:134—136), kata majemuk kuga memiliki berapa ciri khusus yang akan dijelaskan sebagai berikut. 2.2.1 Menimbulkan Makna Baru Dalam kata majemuk, terjadi pertalian makna di antara bentuk dasar yang membentuknya sehingga penafsiran makna terhadap kata majemuk tidak dapat dilakukan terhadap makna bentuk dasarnya. Sebagai contoh, kamar mandi adalah kata majemuk, sedangkan kamar saya bukan kata majemuk. Alasannya, bentuk kamar mandi merujuk pada ruangan yang dirancang khusus untuk dipakai mandi, sedangkan bentuk kamar saya menjelaskan bahwa kamar itu milik saya. Dapat disimpulkan bahwa terjadi penyimpangan makna terhadap makna konvensional yang dimiliki setiap bentuk dasar pada kata majemuk. Penyimpangan ini bervariasi mulai dari yang agak menyimpang, misalnya rumah sakit hingga yang sangat menyimpang misalnya silat lidah. 2.2.2 Hubungan Antarunsur Sangat Padu Hubungan antarunsur pembentuk kata majemuk sangat padu sehingga di antara unsur pembentukya tidak dapat disisipi satuan gramatis yang lain (Sumadi, 2010:135). Menurut Masnur Muslich (2008:59), bentuk majemuk tergolong konstruksi pekat. Untuk memperjelas pernyataan tersebut, bandingkan kata majemuk rumah makan dan frasa rumah untuk makan. Kata majemuk rumah makan memang bisa didefinisikan sebagai ‘rumah untuk makan’ sehingga seakan-akan tidak ada bedanya dengn frase rumah untuk makan. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kata majemuk rumah makan telah memiliki rujukan tertentu, misalnya restoran, depot, dan kafe. Jadi, tidak semua rumah yang digunakan untuk makan bisa disebut rumah makan. Selain itu kata majemuk juga diberi keterangan yang digunakan sebagai penanda bahwa hubungan antarunsur pembentuknya sangat padu. 2.2.3 Memiliki Struktur yang Tetap Karena hubungan di antara satuan gramatis pembentuk kata majemuk itu sangat erat, maka posisinya tidak dapat dipertukarkan sehingga strukturnya tetap (Sumadi, 2010:135—136). Sebagai contoh, kata majemuk kamar tidur, tanggung jawab, dan mata air tidak dapat diubah menjadi tidur kamar, jawab tanggung, dan air mata (bentuk ini ada, tetapi maknanya tentu berbeda dengan mata air).
  • 6.
    2.3 Jenis KataMajemuk Ada empat dasar yang biasanya digunakan untuk menjeniskan kata majemuk, yaitu (1) berdasarkan hubungan gramatik antar usurnya, (2) berdasarkan hubungan semantis antarunsurnya, (3) berdasarkan jumlah bentuk dasar yang membentuk kata majemuk itu, dan (4) berdsarkan kelas kata bentuk dasar yang membentuknya. 2.3.1 Berdasarkan Hubungan Gramatis Antarunsurnya Berdasarkan hubungan gramatis antarunsurnya, kata majemuk terdiri atas kata majemuk endosentris dan kata majemuk eksosentris (Sumadi, 2010: 136) Kata majemuk endosentris adalah kata majemuk yang unsur pembentuknya ada yang diterangkan (D) dan ada yang menerangkan (M). Strukturnya bisa berupa D-M, misalnya kamar mandi dan hari besar, atau M-D yamg pada umumnya berasal dari unsur serapan, misalnya perdana menteri dan akil balig (Masnur Muslich, 2008:62). Sementara itu, kata majemuk eksosentris atau dwanda adalah kata majemuk yang hubungan gramatis antarunsurnya sejajar dan tidak saling menerangkan sehingga hanya bersifat kopulatif (Sumadi, 2010:136; Masnur Muslich, 2008:62). Contoh kata majemuk jenis ini adalah kaki tangan, tua muda, dan sunyi senyap. Penulisan kata majemuk endosentris berstruktur D-M apabila diulang, cukup D-nya saja yang diulang. Adapun penulisan kata majemuk endosentris berstuktur M-D dan kata majemuk eksosentris apabila diulang, seluruhnya harus diulang (Sumadi, 2010:137). 2.3.2 Berdasarkan Hubungan Sematis Antarunsurnya Berdasarkan hubungan sematis antarunsurnya, kata majemuk terdiri atas (1) kata majemuk yang hubungan antarunsurnya setara, misalnya tanggung jawab (2) kata majemuk yang hubungan makna antarunsurnya bersinonim, misalnya pucat pasi, dan (3) kata majemuk yang hubungan makna antarunsurnya berantonim, misalnya simpan pinjam (Sumadi, 2010:137). 2.3.3 Berdasarkan Jumlah Bentuk Dasar yang Membentuknya Berdasarkan jumlah bentuk dasarnya, kata majemuk dapat dipilah menjadi (1) kata majemuk yang terdiri atas dua bentuk dasar, misalnya meja tulis, kepala dingin, dan membabi buta, serta (2) kata majemuk yang terdiri atas tiga bentuk dasar, misalnya telur mata sapi, kereta api cepat, dan setali tiga uang (Sumadi, 2010:137—138). 2.3.4 Berdasarkan Kelas Kata Bentuk Dasar yang Membentuknya Menurut Sumadi (2010:138), berdasarkan kelas kata bentuk dasarnya, kata majemuk dapat dipilah menjadi delapan belas, yaitu sebagai berikut. a. KB-KB, misalnya tuan tanah, tanah air, dan kepala batu. b. KB-KK, misalnya kamar tidur dan kamar mandi. c. KB-KS, misalnya orang tua, istri muda, dan kursi malas. d. KB-KBil, misalnya roda dua, roda empat, dan langkah seribu. e. KK-KS, misalnya tertangkap basah dan adu untung. f. KK-KB, misalnya makan hati dan adu mulut. g. KS-KB, misalnya keras kepala dan haus darah. h. KBil-KB, misalnya setengah hati dan empat mata. i. KBil-Kbil, misalnya sekali dua. j. KBil-KK, misalnya setengah hati.
  • 7.
    k. KB-PKK, misalnyaroti bakar, buku tulis, dan ruang kerja. l. KS-PKK, misalnya buruk sangka dan salah paham. m. PKK-PKK, misalnya jual beli dan kerja paksa. n. KB-KB-KB, misalnya telur mata sapi. o. KB-KB-KS, misalnya kereta api cepat. p. KB-KB-KBil, misalnya pedagang kaki lima. q. KB-KK-KB, misalnya senjata makan tuan. r. KB-KS-KK, misalnya bus cepat terbatas. 2.4 Perlakuan terhadap Kata Majemuk Kata jemuk adalah sebuah kata yang terbentuk dari proses pemajemukan, bukan frasa sehingga perlakuan terhadap kata majemuk harus sama dengan sebuah kata. Seperti halnya kata, kata majemuk juga dapat mengalami proses afiksasi (mendapat prefiks, dan konfiks). Jika hanya penambahan prefiks tidak terlalu bermasalah, misalnya kata rumah tangga mendapat prefik {ber- } menjadi berumah tangga, contoh lain pada kata buruk sangka mendapat prefiks {ber-} menjadi berburuk sangka. Lain ceritanya dengan penambahan prefiks, penambahan konfiks pada kata majemuk rupanya mengalami masalah. Misalnya pada kata kambing hitam, jika kata tersebut mendapat konfiks {ke-an} ada yang berpendapat kata itu menjadi mengambinghitamkan ada juga yang berpendapat menjadi mengmbingkan hitam. Masalah senada terjadi pada kata tanggung jawab berkonfiks {ke-an}, satu pendapat mengatakan menjadi pertanggungjawaban pendapat lain mengatakan pertanggungan jawab. Hal itu menimbulkan simpang siur sehingga perlu dicari kebenarannya. Manakah yang benar dari beberapa bentuk di atas? Mengacu pada ciri kata majemuk seperti yang dibahas di atas (2.2.2) bahwa hubungan antarunsur kata majemuk sangat padu, sehingga tidak dapat disisipi satuan gramatik yang lain. Berarti, dengan kata lain bentuk-bentuk seperti mengambingkan hitam, dan pertanggungan jawab merupakan contoh yang salah karena bentuk tersebut menyisipkan afiks diantara dua unsur pembentuk kata majemuk kambing hitam, dan tanggung jawab. Dengan begitu, bentuk majemuk yang tepat ketika mendapat konfiks ialah ( prefiks-kata majemuk-sufiks) seperti pada contoh ialah mengambinghitamkan, dan pertanggungjawaban. 2.5 Kata Majemuk dengan Frasa, Idiom, dan Reduplikasi Berubah Bunyi Kata majemuk sering rancu dengan frasa dan idiom. Sebagian yang lain ada yang mengatakan ada jenis kata majemuk yang dibahas dalam reduplikasi berubah bunyi, contohnya: cantik- molek, basah-kuyup, tua renta, dan hancur luluh (Chaer, 2008:212). Sebenarnya, antara kata majemuk, frasaa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi tidaklah sama. Dilihat dari pengertiannya, perbedaannya nampak sebagai berikut. Frasa merupakan satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, lebih besar dari kata dan lebih kecil dari klausa. Non predikatif yang dimaksud ialah kata-kata pembentuk frasa tidak ada yang berkedudukan sebagai predikat. Misalnya, rumah saya, makan sate, mereka semua, dan hari Sabtu. Idiom merupakan satuan bahasa yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya, tidak dapat diramalkan dari makna leksikal dan makna gramatikal unsurnya. Misalnya, meja hijau, kambing hitam, panjang tangan, dan membanting tulang. Reduplikasi berubah bunyi merupakan salah satu jenis kata ulang atau reduplikasi yang dibentuk dengan cara mengulang bentuk dasar secara utuh tetapi disertai dengan adanya perubahan bunyi vokal maupun konsonan bentuk dasarnya. Misalnya, mondar-mandir, warna-warni, corat-coret,
  • 8.
    dan sayur-mayur. Perbedaan yangnampak dari kata majemuk dan frasa antara lain (1) kata majemuk terdiri atas dua bentuk dasar atau lebih (dapat berupa kata, pokok kata, dan morfem unik), sementara frasa dibentuk dari pengabungan dua kata atau lebih. Misalnya, kata majemuk yang terbentuk dari kata dengan pokok kata: jagung bakar, dan kata dengan morfem unik: gelap gulita. Sementara frasa terbentuk dari gabungan kata dengan kata: sudah datang. (2) kata majemuk menimbulkan makna baru yang menyimpang, sementara frasa tidak menimbulkan makna baru melainkan tetap sesuai makna leksikal. Misalnya, pada kata majemuk kepala dua yang bermakna ‘berumur 20—29’ berbeda jauh dari makna bentuk dasar penyusunnya, yaitu kepala ‘bagian tubuh yang di atas leher’ dan dua ‘angka dua’. Sementara pada frasa makan nasi, makna kata makan ‘memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya’ dan nasi ‘beras yang sudah dimasak’ sehingga makna makan nasi ‘memakan nasi atau memasukkan beras yang sudah dimasak ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya’. (3) kata majemuk tidak dapat disisipi satuan gramatis yang lain sedangkan frasa dapat disisipi. Kata kamar mandi tidak dapat disisipi satuan gramatik yang lain, memang ada sebagian pengamat bahasa yang mengatakan bahwa bentuk kamar mandi dapat disisipi konjungsi untuk. Namun perlu dicermati bahwa kamar mandi dan kamar untuk mandi berbeda makna. Kamar mandi tidak hanya untuk mandi, bisa digunakan untuk buang air kecil atau sekadar cuci muka. Frasa adik mandi dapat disisipi kata sedang dan makna antara adik mandi dengan adik sedang mandi artinya sama saja. (4) struktur kata majemuk tetap sehingga tidak bisa dibolak-balik, sementara frasa dapat dibolak-balik. Diambil dua contoh yaitu sangat cantik dan mati suri. Pada pola sangat cantik dapat diutarakan dengan mmembalik unsur-unsurnya menjadi cantik sangat dan keduanya memiliki makna yang sama, itulah yang disebut frasa, mempunyai sifat dapat dibolak-balik. Berbeda keadaanya dengan kata majemuk (contoh 2), mati suri yang berarti ‘orang yang mati tetapi hanya sebentar’ jika kedua unsurnya dibalik menjadi suri mati, komposisi tersebut tidak memiliki makna apa-apa, sehingga hal itulah yang disebut bahwa kata majemuk tidak dapat dibolak-balik. Kata majemuk dan idiom, keduanya sama-sama memiliki makna yang menyimpang dari makna unsur-unsur pembentuknaya. Bedanya, idiom penyimpangan maknanya sudah “terlalu jauh” dari makna unsur penyusunnya, seperti meja hijau, kambing hitam, dan hidung belang, sementara pada kata majemuk makna yang dihasilkan ada yang memang “jauh” ada pula yang masih bisa diraba-raba dari makna unsur pembentuknya. Contoh kata majemuk yang maknanya masih dapat diraba dari bentuk dasar penyusunnya antara lain: kamar mandi makna katanya masih berhubungan dengan kata mandi walaupun kamar mandi tidak selalu untuk mandi; dan rumah makan, walaupun sudah ada referensinya tersendiri yaitu restoran, kafetaria, ataupun warung, namun semuanya itu masih berhubungan dengan istilah makan. Selain itu, perbedaan kata majemuk dengan ialah sudut pandang menanggapi sebuah kata. Jika kata majemuk memiliki makna yang menyimpang disebut sebagai kata majemuk dari proses pembentukannya, yaitu secara morfologi, idiom dipandang dari segi semantikya, yaitu “penyimpangan” makna yang dibentuk. Jadi, suatu kata yang mempunyai penyimpangan makna itu jika dilihat dari segi morfologi adalah sebuah kata majemuk, tetapi jika dilihat dari segi semantik adalah sebuah idiom. Mengenai kata majemuk dengan reduplikasi berubah bunyi, ada ahli bahsa yang mengatakan bahwa kata cantik molek, basah kuyup, tua renta,dan hancur luluh juga lazim dibahas dalam reduplikasi berubah bunyi. Sementara di atas telah dijelaskan bahwa perubahan bunyi yang dimakksud adalah pengulangan bentuk dasar pertama secara utuh yang mengalami perubahan bunyi vokal maupun konsonan. Lantas, apakah pada kata cantik molek, basah kuyup, tua renta
  • 9.
    dan hancur luluhbentuk keduanya merupakan pengulangan bentuk pertama? Tentu bukan. Kata molek, kuyup, renta, dan luluh bukan pengulangan dari bentuk cantik, basah, tua dan hancur, sehingga cantik molek, basah kuyup, tua renta, dan hancur luluh tidak bisa dikategorikan sebagai kata ulang atau reduplikasi berubah bunyi, kata itu merupakan golongan kata majemuk. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Pemajemukan merupakan proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan bentuk dasar yang satu dengan bentuk dasar yang lain sehingga menghasilkan kata majemuk dengan makna baru yang menyimpang dari makna konvensionalnya. Memiliki ciri umum dan khusus. Ciri umum, berupa polimorfemik dan menimbulkan makna gramatikal. Sementara ciri khususnya ialah (1) menimbulakan makna baru, (2) hubungan antarunsur sangat padu, dan (3) strukturnya tetap. Kata majemuk dapat diberi afiks, khususnya prefiks dan konfiks. Dan kata majemuk berbeda dengan frasa dan idiom, juga tidak bisa dianggap sebagai reduplikasi berubah bunyi. 3.2 Saran Hampir terjadi kesamaan bentuk antara kata majemuk, frasa, idiom, dan reduplikasi berubah bunyi. Bagi orang awam yang sedikit pengetahuannya tentang kebahasaan, khususnya tentang pemajemukan mungkin sekilas menganggap sama, padahal terdapat perbedaan di antara bentuk- bentuk tersebut. Oleh karena itu makalah ini membahas tentang hal tersebut. Semoga penyajian ini dapat memberikan sedikit gambaran untuk dapat membedakannya. Perlu adanya upaya untuk lebih memahami dengan membaca berbagai sumber dan literatur yang terpercaya. Dan hal tersebut menjadi tugas utama pengamat bahasa serta mahasiswa jurusan bahasa dan sastra Indonesia untuk meluruskannya. DAFTAR RUJUKAN Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia: Pendekatan Proses. Jakarta: Rineka Cipta. Muslich, Masnur. 2008. Tatabentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tatabahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara. Sumadi. 2010. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: UM Press.