Makalah ini membahas tentang Program Induksi Bagi Guru Pemula (PIGP), meliputi pengertian, tujuan, urgensi, dasar hukum, prinsip-prinsip, pihak terkait, tahapan pelaksanaan, dan contoh implementasi di negara lain."
1
PROGRAM INDUKSI BAGIGURU PEMULA (PIGP)
Makalah Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Profesi Guru
Dosen Pembimbing: Dr. H. Tasman Hamami, M.A.
Disusun Oleh:
Anisa Fatimah NIM.13410111
Muh. Dini Purwadi NIM.13410089
Subli Salam NIM.13410044
Fera Nofiana Ambarwati NIM.13410190
Isti Khasanah NIM.13410177
Kelompok 9
Semester V
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
2.
2
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil „alamin,puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT
atas limpahan rahmat Islam, Iman dan Ihsan, sehingga tugas mata kuliah
Pengembangan Profesi Guru yang berjudul ”Program Induksi Bagi Guru Pemula
(PIGP)” dapat terselesaikan dengan baik. Sholawat beserta salam tak lupa pula
penulis haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan
para sahabatnya.
Tujuan penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu proses belajar
Pengembangan Profesi Guru melalui metode pengkajian buku-buku referensi serta
literatur terkait permasalahan tersebut. Tersusunnya makalah ini tidak lepas dari
dorongan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. H. Tasman Hamami, M.A. selaku dosen pembimbing mata kuliah
Pengembangan Profesi Guru;
2. Kedua orang tua penulis yang tiada henti memberikan dukungan moril maupun
materiil dengan penuh ketulusan;
3. Serta semua pihak yang telah membantu penyusunan makalah ini.
Tentu dalam penyusunan makalah ini tidak dapat dikatakan sempurna. Maka
dari itu, penulis mohon maaf dan mengharapkan kritik serta saran dari berbagai pihak
sebagai bahan perbaikan dalam penyusunan makalah yang akan datang.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat.
Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarokatuh
Yogyakarta,19 November 2015
Penulis
3.
3
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................ii
DAFTAR ISI............................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah.........................................................................1
B. Rumusan Masalah..................................................................................1
C. Tujuan Penulisan Makalah.....................................................................2
D. Manfaat Penulisan Makalah...................................................................2
BAB II PROGRAM INDUKSI BAGI GURU PEMULA (PIGP)
A. Pengantar ...............................................................................................3
B. Pengertian dan Tujuan PIGP..................................................................4
C. Urgensi PIGP .........................................................................................4
D. Dasar Hukum PIGP................................................................................5
E. Prinsip-Prinsip Pelaksanaan Program Induksi bagi Guru Pemula
dan Implementasinya .............................................................................6
F. Pihak Terkait PIGP dan Tugasnya.........................................................9
G. Tahapan Pelaksanaan PIGP ..................................................................12
1. Tahap Persiapan..............................................................................12
2. Tahap Pengenalan Sekolah/Madrasah dan Lingkungannya ...........14
3. Tahap Pembimbingan (Pelaksanaan Pembelajaran dan
Observasi Pembelajaran/BK)..........................................................14
4. Tahap Penilaian...............................................................................15
5. Tahap Pelaporan..............................................................................20
H. Program Induksi di Beberapa Negara ...................................................22
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ...........................................................................................23
B. Saran......................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................25
4.
4
BAB I
PENDAHULUAN
A. LatarBelakang
Realitas membuktikan bahwa hanya sebagian kecil guru memiliki peluang
menjalani profesionalisasi atas prakarsa institusi atau lembaga. Untuk Indonesia, data
statistic menunjukkan bahwa setiap tahunnya hanya sekitar 5% guru yang berpeluang
mengikuti beraneka program pengembangan yang dilembagakan sejenis penataran atau
pelatihan di lembaga-lembaga pelatihan dan sejenisanya. Ini berarti dalam waktu sekitar
20 tahun, masing-masing guru hanya berpeluang mengikuti satu kali program
pengembangan profesi yang dilembagakan., bukan atas inisiatif sendiri. Itu pun dengan
asumsi bahwa akses guru mengikuti program yang dimaksud bersifat dibagi rata.
Untuk menjadi guru professional, perlu perjalanan panjang. Diawali dengan
penyiapan calon guru, rekrutmen, penempatan, penugasan, pengembangan profesi dan
karir, hingga menjadi guru profesional sungguhan, yang menjalani profesionalisasi
secara terus menerus. Salah satu usaha yang dapat dilakukan secara
institusi/kelembagaan dalam mempersiapkan guru professional adalah program induksi
bagi guru pemula. Peraturan Perundang-undangan di Indonesia juga telah mengatur
program induksi ini dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27 Tahun 2010.
Makalah kali ini akan membahas seputar Program Induksi bagi Guru Pemula,
dengan harapan mahasiswa sebagai calon guru dapat mempersiapkan diri semaksimal
mungkin untuk mengikuti alur peningkatan kualitas pendidikan (salah satunya kualitas
tenaga pendidik/guru) melalui program yang telah ditetapkan oleh pemerintah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan program induksi bagi guru pemula?
2. Mengapa program induksi bagi guru pemula penting dilaksanakan?
3. Apa dasar hukum dalam pelaksanaan program induksi bagi guru pemula?
4. Apa prinsip-prinsip dalam pelaksanaan program induksi bagi guru pemula?
5. Siapa saja pihak yang terkait dengan pelaksanaan program induksi bagi guru pemula?
6. Bagaimana tahapan pelaksanaan program induksi bagi guru pemula?
7. Bagaimana pelaksanaan program induksi guru pemula di beberapa negara lain?
5.
5
C. Tujuan PenulisanMakalah
1. Mahasiswa dapat menguraikan tentang pengertian dan tujuan program induksi bagi
guru pemula
2. Mahasiswa dapat menguraikan urgensi program induksi bagi guru pemula
3. Mahasiswa dapat menguraikan dasar hukum terkait program induksi bagi guru
pemula
4. Mahasiswa dapat menguraikan prinsip-prinsip dalam pelaksanaan program induksi
bagi guru pemula
5. Mahasiswa dapat menguraikan pihak yang terkait program induksi bagi guru pemula
6. Mahasiswa dapat menguraikan tahapan pelaksanaan program induksi bagi guru
pemula
7. Mahasiswa dapat menguraikan program induksi di beberapa negara
D. Manfaat Penulisan Makalah
1. Dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan mahasiswa terkait program induksi
bagi guru pemula
2. Dapat melahirkan kesadaran betapa pentingnya profesionalitas seorang guru, terutama
bagi mahasiswa calon guru.
3. Dapat menambah wawasan bagi para pembuat kebijakan terkait peningkatan kualitas
guru, yangmana melalui salah satu program pengembangan profesi yaitu Program
Induksi bagi Guru Pemula (PIGP).
6.
6
BAB II
PROGRAM INDUKSIBAGI GURU PEMULA
A. Pengantar
Upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia telah
banyak dilakukan. Salah satu hal yang esensial dalam hal peningkatan kualitas
pendidikan adalah mencetak para guru yang berkualitas pula. Oleh karena itu demi
menghasilkan guru yang professional maka perlu adanya pengembangan profesi bagi
guru, yang dimulai sejak proses penyiapan tenaga guru hingga masa pengembangan
karier guru (promosi).
Proses pengembangan profesi guru, mulai dari pendidikan prajabatan (pre-service
training) sampai dengan promosi secara umum dibedakan sebagai berikut:
1. Pendidikan yang ditempuh melalui perguruan tinggi yang memiliki program
pengadaan tenaga guru atau program studi di Universitas untuk mencapai program
sarjana. Sebagai contoh adanya FKIP dan FITK.
2. Pendidikan profesi yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan keprofesian pada
perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah dan terakreditasi. Pendidikan
profesi merupakan wahana bagi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik.
Lembaga pendidikan profesi berupa layanan khusus bagi calon guru untuk
mendapatkan sertifikat pendidik atau sertifikat guru (teacher certificate) sebelum
memasuki ruang kelas sebagai guru sesungguhnya.
3. Program Induksi bagi Guru Pemula atau disingkat PIGP, yaitu proses bimbingan
dan pelatihan pada tahun pertama menjalankan tugas mengajar di sekolah
(adakalanya lebih dari satu tahun) di bawah bantuan mentor atau guru senior.
kepala sekolah, pengawas sekolah, dan guru-guru biasanya terlibat dalam program
permentoran.
4. Pengembangan professional guru secara berkelanjutan atau dikenal PKB
(continuing professional development, CPD), berupa proses pelayanan
pengembangan keprofesian guru secara terus-menerus, termasuk usaha guru
mengembangkan dirinya sendiri.
5. Pengembangan karir guru berupa kenaikan pangkat, penugasan, dan atau promosi.
Penugasan guru dapat berupa sebagai guru kelas, guru mata pelajaran, guru
bimbingan penyuluhan/konseling. Promosi guru dapat berupa penugasan
7.
7
Pra-
Jabatan
Pendidikan
Profesi
Induksi
(PIGP)
PKB
Profesi
dan karir
memperoleh tugastambahan sebagai kepala sekolah, mengemban jabatan
pengawas, ketua departemen pada sekolah kejuruan, wakil kepala sekolah, atau
pengembangan karir secara lateral, seperti menduduki jabatan struktural.1
B. Pengertian dan Tujuan Program Induksi bagi Guru Pemula
Program induksi bagi guru pemula (PIGP) atau lebih dikenal dengan sebutan
program induksi adalah kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan,
dan praktik pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran/bimbingan
dan konseling bagi guru pemula pada sekolah/madrasah di tempat tugasnya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27 Tahun 2010
disebutkan bahwa tujuan program induksi adalah membimbing guru pemula agar
dapat beradaptasi dengan iklim kerja dan budaya sekolah/madrasah; dan
melaksanakan pekerjaannya sebagai guru profesional di sekolah/madrasah.2
C. Urgensi Program Induksi bagi Guru Pemula
Seperti yang dikutip oleh Sudarwan Danim, The Rhode Island Departement of
Education (2009) sangat percaya bahwa program induksi adalah sebuah investasi
cerdas bagi pelatihan berkelanjutan, dukungan professional, dan pemerolehan
pengetahuan bagi guru-guru baru.3
Adapun bentuk kegiatan dalam program induksi
guru pemula cenderung seperti mentoring.
1
Sudarwan Danim, Pedagogi, Andragogi, dan Heutagogi. (Bandung: Alfabeta, 2010),
hlm 29-30.
2
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27 tahun 2010 tentang Program Induksi bagi
Guru Pemula
3
Sudarwan Danim. Pengembangan Profesi Guru: Dari Pra-Jabatan, Induksi, ke Profesional
Madani, (Yogyakarta: Kencana)hal 35
ALUR
PROFESI
GURU
Bagan 1
Alur Profesi Guru
8.
8
Lalu apakah yangdimaksud mentoring? Mentoring dalam program induksi
apakah berbeda dengan istilah pengajaran, dan pelatihan? Dalam Wikipedia, the free
encyclopedia diadakan antara pengajaran (instruction), pelatihan (coaching), dan
mentoring. Pengajaran merujuk pada desiminasi pengetahuan (dessimination of
knowledge). Instruktur secara tipikal membantu subjek, meski materinya tidak selalu
terkait langsung dengan apa yang diperlukan dalam pekerjaan. Pelatihan utamanya
merujuk pada pengembangan ketrampilan (skill building). Seorang pelatih membantu
membekali subjek dengan ketrampilan yang terkait langsung dengan pekerjaannya.
Sedangkan mentoring merupakan aktivitas seseorang yang membantu
mempertajam wawasan ke depan atau sikap individual (helps shape the outlook or
attitude of the individual). Seorang mentor berfokus pada isu-isu yang berkait
langsung dengan kehidupan dan karier subjek. Mentoring merupakan aktivitas yang
dapat secara potensial meningkatkan pengembangan spiritual menti atau sekelompok
menti dari seorang mentor atau seorang mentor.4
Berangkat dari hal diatas maka dapat kita rumuskan bahwa program induksi
guru sangat membantu guru pemula untuk lebih beradaptasi dengan lingkungan
barunya (sekolah yang ditempatinya). Disamping itu guru pemula akan lebih leluasa
untuk menanyakan berbagai hal tentang sekolah tersebut secara lebih detail kepada
mentor, atau dalam istilah bakunya adalah pembimbing. Serta guru pemula akan
berlatih untuk menjadi guru professional melalui serangkaian penilaian dalam masa
program induksi tersebut.
D. Dasar Hukum Program Induksi bagi Guru Pemula
Pelaksanaan program induksi bermula dari lahirnya Undang-Undang No. 14
tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dimana disebutkan dalam Bagian V tentang
Pembinaan dan Pengembangan pasal 32 ayat 1 dan 3 yang berbunyi:
(1) Pembinaan dan pengembangan guru meliputi pembinaan dan
pengembangan profesi dan karier.
(3) Pembinaan dan pengembangan profesi guru sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dilakukan melalui jabatan fungsional.
4
Sudarwan Danim, Pengembangan Profesi: Dari Pra-Jabatan, Induksi, ke Profesional Madani,
(Yogyakarta: Kencana) hal 36
9.
9
Kemudian diterangkan puladalam pasal 33 yang berbunyi: Kebijakan strategis
pembinaan dan pengembangan profesi dan karier guru pada satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat ditetapkan
dengan Peraturan Menteri.
Maka dari itu ditindaklanjuti melalui keluarnya Peraturan Menteri No. 16
tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya pada Bagian
V tentang Pembinaan dan Pengembangan Pasal 30 ayat 1 dan 3 yang berbunyi:
(1) Pegawai Negeri Sipil yang diangkat pertama kali dalam jabaran
fungsional guru harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Berijazah paling rendah sarjana (S1) atau Diploma IV dan
bersertifikat pendidik
b. Pangkat paling rendah Penata Muda golongan ruang IIIa
c. Setiap unsur penilaian pelaksanaan pekerjaan dalam DP3
paling rendah bernilai baik dalam 1 tahun terakhir
d. Memiliki kinerja yang baik yang dinilai dalam masa program
induksi
(3) Program induksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d
diatur lebih lanjut oleh Menteri Pendidikan Nasional.
Selanjutnya lebih jelas tentang bagaimana pelaksanaan program induksi bagi
guru pemula dapat dilihat dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27
tahun 2010 tentang Program Induksi bagi Guru Pemula.5
E. Prinsip-prinsip Pelaksanaan Program Induksi bagi Guru Pemula dan
Implementasinya
Program induksi untuk guru pemula diselenggarakan berdasarkan prinsip:
1. Keprofesionalan, yaitu penyelenggaraan program yang didasarkan pada kode etik
profesi, sesuai bidang tugas
2. Kesejawatan yaitu penyelenggaraan atas dasar hubungan kerja dalam tim
3. Akuntabel yaitu penyenggaraan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada
public
5
Sudarwan Danim, dan Khairil, Profesi Kependidikan, Alfabeta: Bandung, 2013, hal 20
10.
10
4. Berkelanjutan yaitudilakukan secara terus-menerus dengan selalu mengadakan
perbaikan atas hasil sebelumnya.6
Secara lebih jelasnya, prinsip-prinsip program induksi tersebut apabila
diimplementasiakan dalam pembimbingan guru pemula adalah sebagai berikut:
1. Profesionalisme
Profesionalisme mengacu kepada sikap mental yang menunjukkan komitmen
dari para anggota suatu profesi unutk senantiasa mewujudkan dan meningkatkan
kualitas pekerjaan. Seorang guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi akan
tercermin dalam sikap mental serta komitmennnya unutk selalu meningkatkan
kualitas profesinalisme dengan berbagai cara dan strategi. Kualitas
profesionalisme ditunjukkan oleh lima ciri yaitu:
a. Keinginan untuk selalu menampilkan perilaku yang mendekati standar
ideal.
b. Meningkatkan dan memelihara citra profesi.
c. Keinginan untuk senantiasa mengejar kesepatan pengembangan
profesional yang dapat meningkatkan dan memperbaiki kualiatas
pengetahuan kan keterampilannya.
d. Mengejar kualitas dan cita-cita dalam profesi.
e. Memiliki kebanggaan terhadap profesinya.
Dengan demikian yang dimaksud dengan prinsip profesionalisme dalam
pembimbingan pada program induksi adalah sebagai berikut:
Pembimbing memiliki komitmen unutk mengembangkan kompetensi guru
pemula sesuai dengan standar profesi guru.
Standar kompetensi guru merupakan acuan dalam pengembangan
kompetensi guru pemula.
Pembimbingan tidak sekedar menekankan kompetensi pedagogik dan
profesional tetapi termasuk juga kepribadian dan social sehingga guru
pemula dapat mengembangkan diri sebagai model perilaku yang baik.
Dalam memberikan masukan kepada guru pemula, pembimbing selalu
menggunakan/menunjukkan data atau bukti atau dokumen dari kegiatan
yang telah dilakukan.
6
Daryanto dan Yusi Arisandi, Program Induksi untuk Guru Pemula, (Yogyakarta : Gava Media,
2015), hlm.177
11.
11
Pembimbing tidakmemasukkan faktor-faktor emosi/persoalan pribadi
dalam membimbing guru pemula.
Tujuan akhir pembimbingan adalah peningkatan hasil belajar anak didik.
2. Kesejawatan
Kesejawatan pada dasarnya menjukkan rasa kebersamaan diantara
pembimbing dan guru pemula. Kesejawatan dalam pembimbingan ini diwujudkan
dalam bentuk rasa kekeluargaan dalam mengembangkan kompetensi guru
pemula. Dengan demikian pembimbingan akan:
Dapat dan mau membagi ide (gagasan) yang baik untuk pengembangan
proses pembelajaran.
Berbagai pengalaman baik yang diperoleh dari pembelajaran di sekolah
maupun dari pengalaman yang diperoleh sepanjang masa karirnya sebagai
guru.
Bekerjasama dengan guru pemula untuk pengembangan ilmu dan
peningkatan proses pembelajaran.
Memberi motivasi kepada guru pemula sehingga mampu meningkatkan
proses pembelajaraan dengan pemanfaatan lingkungan, sumber daya
manusia dan masyarakat di sekitar sekolah secara patut
3. Akuntabel
Akuntabel dalam pembimbingan berarti bahwa setiap tindakan dan kebijakan
dalam membimbing selalu bisa dijelaskan dasarnya dan dipertanggungjawabkan
sepenuhnya secara akademik. Artinya, tindakan yang diambil memenuhi asas-asas
sebagai berikut:
Mempunyai dasar hukum dan dengan tatacara yang sesuai peraturan yang
berlaku
Tindakan dilakukan dan kepitisan diambil tidak melebihi kewenangan
sebagai pembimbing dan
Proses pembimbingan juga mencangkup segi kepantasan, kode etik guru
dan mempertimbangkan rasa keadilan.
4. Berkelanjutan
Artinya pembimbingan kepada guru atau rekan sejawat bukan program sesaat
yaitu tidak berhenti secara substansi setelah selesainya masa pembimbingan
dalam program induksi. Semangat membimbing terus berlanjut sepanjang masa
karir sebagai guru. Disamping itu pembimbingan ini terkait dengan
12.
12
pengembangan kompetensi guruyang medukung pengembanagan keprofesian
berkelanjutan (PKB) yang menuju pada perbaikan pendidikan sesuai dengan
tuntutan perkembangan zaman.7
F. Pihak Terkait Pelaksanaan Program Induksi Guru Pemula
Pihak yang terkait dalam implementasi program induksi adalah guru pemula,
guru pembimbing, kepala sekolah, dan pengawas sekolah, dengan tugas dan tanggung
jawabnya sebagai berikut:
1. Guru pemula
Guru pemula adalah guru baru yang mendapatkan bimbingan dalam program
induksi agar dapat beradaptasi dengan iklim kerja dan budaya sekolah/madrasah, dan
melaksanakan pekerjaannya sebagai guru profesional, dengan tanggung jawab sebagai
berikut:
a. Mengamati situasi dan kondisi, serta lingkungan sekolah/madrasah, termasuk
mempelajari dan tata tertip, sarana, dan sumber belajar di sekolah/madrasah
tempat guru pemula tersebut bertugas
b. Mempelajari latar belakang siswa
c. Mempelajari dokumen administrasi guru
d. Mempelajari kurikulum tingkat satuan pendidikan
e. Menyusun silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran
f. Melaksanakan proses pembelajaran
g. Menyusun rancangan dan instrumen penilaian (ranah kognitif, afektif, dan
psikomotor)
h. Melaksanakan penilaian proses dan pemilaian hasil belajar siswa
i. Melaksanakan tugas lain yang terkait dengan tugasnya sebagai guru, seperti
pembina ekstra kurikuler, instruktur tekhnelogi informasi dan komunikasi
(TIK)
j. Melakukan observasi dikelas lain, dan
k. Melakukan diskusi dengan pembimbing, kepala sekolah/madrasah dan
pengawas sekolah/madrasah untuk memcahkan masalah dalam pembelajaran
maupun tugas lain yang terkait dengan tugasnya sebagai guru.
7
Ibid, hlm. 195-197
13.
13
Adapun terkait bebanmengajar, maka guru pemula diberi beban mengajar antara
12 - 18 jam tatap muka per minggu bagi guru mata pelajaran, atau beban bimbingan
antara 75 - 100 peserta didik per tahun bagi guru bimbingan dan konseling.
2. Pembimbing
Pembimbing adalah guru profesional berpengalaman yang diberi tugas oleh
kepala sekolah/madrasah atas dasar profesionalsme dan kemampuan komunikasi.
Sekolah/madrasah yang tidak memiliki pembimbing sebagaimana dipersyaratkan,
kepalah sekolah/madrasah dapat menjadi pembimbing sejauh dapat
dipertanggungjawabkan dari segi profesionalitas dan kemampuan komunikasi. Jika
kepala sekolah/madrasah tidak menjadi pembimbing, kepala sekolah/madrasah dapat
meminta pembimbing dari satuan pendidikan yang terdekat dengan persetujuan dinas
pendidikan provinsi/kabupaten/kota atau kantor kementrian agama kabupaten/kota
sesuai dengan tingkat kewenangan nya. Kriteria guru yang ditunjuk oleh kepala
sekolah sebagai pembimbing adalah memiliki:
Kompetensi sebagai guru profesional
Kemampuan bekerja sama dengan baik
Kemampuan komunikasi yag baik
Kemampuan menganalisis dan mmberikan saran-saran perbaikan terhadap
proses pembelajaran/bimbingan dan konseling
Pengalaman mengajar pada jenjang kelas yang sama dan pada mata pelajaran
yang sama dengan guru pemula, diproritaskan yang telah memiliki;
pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun dan memiliki jabatan
sekurang-kurangnya sebagai guru muda.
Adapun tanggung jawab pembimbing yaitu:
a. Menciptakan hubungan yang bersifat jujur, memotivasi, bersahabat, dan
terbuka dengan guru pemula
b. Memberikan bimbingan dalam proses pembelajaran/bimbingan dan konseling
c. Melibatkan guru pemula dalam aktivitas sekolah/madrasah
d. Memberikan dukungan terhadap rencana kegiatan pengembangan keprofesian
guru pemula
e. Memberikan kesempatan bagi guru pemula untuk melakukan observasi
pembelajaran/bimbingan dan konseling guru lain
14.
14
f. Melaporkan kemajuandan perkembangan guru pemula kepada pengawas
sekolah/madrasah
g. Memberikan masukan dan saran atas hasil pembimbingan tahap kedua.
3. Kepala sekolah
Kepala sekolah adalah kepala satuan pendidikan tempat guru pemula bertugas,
dengan tanggung jawab sebagai berikut :
a. Melakukan anlisis kebutuhan guru pemula
b. Menyiapkan buku pedoman pelaksanaan PIGP
c. Menunjuk pembimbing yang sesuai dengan kriteria
d. Menjadi pembimbing, jika pada satuan pendidikan yang dipimpinnya tidak
terdapat guru yang memnuhi kriteria sebagai pembimbing
e. Mengajukan pembimbing dari satuan pendidikan lain kepada dinas pendidikan
terkait jika tidak memiliki pembimbing dan kepala sekolah/madrasah tidak
dapat menjadi pembimbing
f. Memantau pelaksanaan pembimbingan oleh pembimbing
g. Melakukan pembimbingan terhadap guru pemula serta memberikan saran
perbaikan
h. Melakukan penilaian kinerja
i. Menyusun laporan hasil penilaian kinerja untuk disampaikan kepada kepala
dinas pendidikan terkait, dengan mempertimbangkan masukan dan saran dari
pembimbing dan pengawas sekolah/madrasah, serta memberikan salinan
laporan tersebut kepada guru pemula.
4. Pengawas sekolah
Pengawas adalah pengawas satuan pendidikan yang menyelenggarakan program
induksi, dengan tanggung jawab sebagai berikut:
a. Memberikan penjelasan kepada kepala sekolah, pembimbing dan guru pemula
tentang pelaksanaan PIGP termasuk proses penilaian
b. Melatih pembimbing dan kepala sekolah/madrasah tentang pelaksanaan
pembimbingan dan penilaian dalam PIGP
c. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan PIGP di satuan pendidikan yang
menjadi tanggung jawabnya
15.
15
d. Memberikan masukandan saran atas isi laporan hasil penilaian kinerja.8
G. Tahapan Pelaksanaan Program Induksi Guru Pemula
Program induksi dilaksanakan secara bertahap dan sekurang-kurangnya meliputi
lima tahapan, yaitu:
a. Tahap persiapan,
b. Tahap pengenalan sekolah/madrasah dan lingkungannya,
c. Tahap pelaksanaan dan observasi pembelajaran/bimbingan dan konseling,
d. Tahap penilaian, dan
e. Tahap pelaporan.
Adapun mengenai tata cara pelaksanaan program induksi yang lebih rinci diatur
dalam pedoman yang tercantum pada Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 27 Tahun 2010.
Implementasi Program Induksi bagi Guru Pemula
Pengimplementasian program induksi di sekolah berpedoman pada panduan kerja
yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Berbagai pendekatan
dapat digunakan untuk mengimplementasikan program induksi. Berdasarkan kajian
saat ini, prinsip lesson study dapat digunakan sebagai salah satu pendekatan terbaik
dalam mengimplementasikan program induksi. Tahapan-tahapan pada lesson study
dapat diintegrasikan ke dlam tahapan-tahapan pelaksanaan program induksi.
1. Tahap persiapan
Tahap persiapan dilaksanakan pada bulan pertama implementasi PIGP. Hal-hal
yang perlu dilakukan oleh pihak-pihak terkait pada tahap persiapan ini adalah: 9
Tugas Pengawas Sekolah
1) Membuat perencanaan program kepengawasan PIGP, berupa rencana
kepengawasan tahunan dan program semester.
2) Memberikan pelatihan PIGP bagi kepala sekolah dan calon pembimbing.
8
Daryanto dan Yusti Arisandi. 2005. Program Induksi untuk guru pemula. Yogyakarta:
Penerbit Gava Media. Hlm: 32-35
9
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hlm 50
16.
16
3) Menyiapkan instrumenmonitoring implementasi PIGP.
4) Memantau persiapan yang dilakukan pihak sekolah/madrasah untuk
mengimplementasikan PIGP
Tugas Kepala Sekolah
1) Melakukan analisis kebutuhan PIGP
2) Menyiapakan dan melaksanakan pelatihan PIGP bagi kepala
sekolah/madrasah dan calon pembimbing
3) Menyiapkan buku pedoman bagi guru pemula
4) Menunjuk seorang pembimbing bagi guru pemula yang memiliki kriteria
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan dengan menerbitkan
surat keputusan (SK) kepala sekolah
5) Menyusun rencana tindak implementasi PIGP
6) Menyusun jadwal implementasi PIGP
Tugas Pembimbing
1) Identifikasi kebutuhan guru pemula dengan mempertimbangkan latar belakang
pendidikan dan pengalaman guru pemula
2) Melakukan evaluasi diri dengan mengidentifikasi kompetensi yang
dimilikinya
3) Menyususn rencana tindak pembimbingan
4) Menyusun jadwal kegiatan pembimbingan
5) Menyusun prioritas pembimbingan
17.
17
2. Tahap PengenalanSekolah/Madrasah dan Lingkungannya
Tahapan ini dilaksanakan pada bulan pertama setelah guru pemula melapor kepada
kepala sekolah/madrasah tempat guru pemula bertugas. Pada tahapan ini dilakukan
sebagai berikut:10
Kepala sekolah memperkenalkan guru pemula kepada guru pembimbing, dewan
guru, karyawan sekolah, siswa dan masyarakat sekitar.
Pembimbing: (1) memperkenalkan situasi dan kondisi sekolah/madrasah keapada
guru pemula, (2) memperkenalkan gru pemula kepada siswa, (3) mendiskusikan
rencana pembimbingan dan pengembangan keprofesian dengan guru pemula.
Guru pemula: (1) melakukan evaluasi diri, (2) mengmati situasi dan kondisi
sekolah serta lingkungannya, termasuk melakukan observasi di kelas sebagai
pengenalan situasi (3) mempelajari buku pedoman dan panduan kerja bagi guru
pemula, data sekolah/madrasah, tata tertib sekolah/madrasah, dan kode etik guru,
(4) mempelajari ketersediaan dan penggunaan sarana dan sumber belajar di
sekolah/madrasah, (5) mempelajari kurikulum yang digunakan di sekolah.
3. Tahap Pembimbingan (Pelaksanaan Pembelajaran dan Observasi
Pembelajaran/BK)
Pelaksanaan pada bulan kedua sampai dengan bulan ke sembilan oleh guru
pembimbing yang telah ditetapkan oleh kepala sekolah/madrasah. Kegiatan-kegiatan
yang dilakukan dalam tahap pembimbingan adalah sebagai berikut.
Pengawas sekolah: (1) memantau kegiatan PIGP, (2) membina/membimbing
kepala sekolah/madrasah dan pembimbing secara teknis, (3) mengevaluasi kinerja
kepala sekolah dan pembimbing pada tahap pelaksanaan pembimbingan.
Pembimbing: (1) membimbing guru pemula dalam penyusunan rencana
pelaksanaan pembelajaran/satuan layanan bimbingan dan konseling
menggunakan prinsip plan pada lesson study, (2) melakukan observasi
pembelajaran secara berkala. Proses observasi pembelajaran dan pembimbingan
dilakukan dalam tiga tahap, yaitu pra-observasi, observasi, dan pasca observasi
(a) Pra-Observasi
10
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media)hal.51
18.
18
Guru pemula danpembimbing mendiskusikan, menentukan, dan
menyepakati fokus observasi pembelajaran dan pembimbingan. Fokus
observasi yang disepakati meliputi paling banyak 5 indikator kinerja dari
keseluruhan indikator kinerja sebagaimana yang tertulis dalam lembar
observasi pembelajaran yang akan diisi oleh pembimbing dan lembar
refleksi diri yang akan diisi oleh guru pemula lima indikator kinerja yang
menjadi objek dalam fokus observasi dapat ditentukan secara berbeda pada
setiap pelaksanaan observasi yang didasarkan pada hasil observasi
sebelumnya.
(b) Pelaksanaan Observasi
Pembimbing melakukan observasi pembelajaran yang dilaksanakan
guru pemula dengan fokus paling banyak 5 indikator kinerja yang telah
disepakati pada tahap pra observasi. Pelaksanaan pembelajaran oleh guru
pemula dapat juga diobservasi oleh pihak lain selain guru pembimbing ,
sehingga guru pemula berperan sebagai guru model dalam konsep lesson
study. Untuk itu para observer disarankan untuk mengungkap berbagai
fakta/fenomena yang menarik tentang aktivitas/proses belajar siswa untuk
didiskusikan dalam kegiatan refleksi yang pada akhirnya menjadi
pengalaman berharga bagi semua peserta yang hadir.
(c) Pasca Observasi
Kegiatan yang dilakukan pada pasca observasi adalah:11
i. Guru pemula mengisi Lembar Refleksi Pembelajaran Guru Mata
Pelajaran/Kelas atau Lembar Refleksi Pembimbingan Guru
BK/Konselor setelah selesai pelaksanaan pembelajaran atau
pembimbingan.
ii. Pembimbing dan guru pemula mendiskusikan proses pembelajaran dan
pembimbingan yang telah dilaksanakan. Guru lain yang berperan
sebagai observer ketika pelaksanaan proses pembelajaran, dapat
menungkapkan hasil observasinya menggunakan prinsip refleksi pada
lesson study
11
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hal. 52
19.
19
iii. Pembimbing menyampaikancatatan hasil pengamatannya dan hasil
pengamatan para observer, selanjutnya dikonfirmasi oleh guru pemula.
iv. Pembimbing menentukan skor indikator kinerja untuk indikator-
indikator kinerja yang telah disepakati sebagai fokus pengamatan pada
instrumen Penilaian Kinerja Guru
v. Pembimbing memberikan salinan lembar observasi pembelajaran dan
pembimbingan kepada guru pemula yang telah ditandatangani oleh guru
pemula dan pembimbing untuk diarsipkan sebagai dokumen portofolio
penilaian proses (assesment for learning) oleh guru pemula.
4. Tahap Penilaian
Penilaian dalam program induksi dapat dilakukan melalui observasi pembelajaran
dan observasi pelaksanaan tugas tambahan yang melekat pada pelaksanaan kegiatan
pokok sesuai dengan beban guru. Penilaian dilakukan dalam dua tahap:
Tatap pertama, penilaian dilakukan oleh pembimbing bersamaan dengan proses
pembimbingan pada bulan kedua sampai bulan kesembilan (assesment for learning),
yang dilaksanakan sekurang-kurangnya satu kali dalam setiap bulan atau minimal
enam kali selama masa penilaian tahap pertama. Tujuannya adalah untuk
mengidentifikasi bagian-bagian yang perlu dikembangkan, memberi umpan balik
secara reguler, dan memberikan saran perbaikan dengan melakukan diskusi secara
terbuka tentang semua aspek mengajar dengan suatu fokus spesifik yang perlu untuk
dikembangkan. Pembimbing dapat memberikan contoh proses pembelajaran dan
pembimbingan yang baik dikelasnya atau di kelas yang diajar oleh guru lain.
Penilaian tahap kedua dilaksanakan pada bulan kesepuluh sampai dengan bulan
kesebelas berupa observasi pembelajaran/pembimbingan ulasan, dan masukan oleh
kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah, yang mengarah pada peningkatan
kompetensi dalam pembelajaran/pembimbingan. 12
Penilaian tahap kedua adalah penilaian hasil (assesment of learning) yang
bertujuan untuk menilai kompetensi guru pemula dalam melaksanakan proses
pembelajaran/pembimbingan dan tugas lain. Observasi pembelajaran/pembimbingan
12
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hlm. 54
20.
20
pada penilaian tahapkedua dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah sekurang-
kurangnya tiga kali, sedangkan oleh pengawas sekolah/madrasah sekurang-kurangnya
dua kali.
Observasi pembelajaran/pembimbingan dalam penilaian tahap kedua oleh
kepala sekolah/madrsah dan pengawas disarankan untuk tidak dilakukan secara
bersamaan, dengan pertimbangan agar tidak mengganggu proses pembelajaran dan
pembibingan. Apabila kepala sekolah/madrasah dan pengawas menemukan adanya
kelemahan dalam pelaksanaan proses pembelajaran dan pembimbingan oleh guru
pemula, maka kepala sekolah/madrasah dan/atau pengawas wajib memberikan umpan
balik dan saran perbaikan kepada guru pemula.
Hasil penilaian kinerja guru pemula pada akhir PIGP ditentukan berdasarkan
kesepakatan antara pembimbing, kepala sekolah/madrasah, dan pengawas sekolah
dengan mengacu pada prinsip profesional, jujur, adil, terbuka, akuntabel, dan
demokratis. Peserta PIGP dinyatakan berhasil, jika semua sub-kompetensi pada
penilaian tahap kedua paling kurang memiliki nilai baik.13
Instrumen penilaian yang digunakan adalah:
Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembelajaran untuk guru mata
pelajaran atau guru kelas.
Instrumen penilaian kinerja pelaksanaan pembimbingan untuk BK/Konselor.
Instrumen penilaian kepribadian dan sosial guru pemula.
Pemberian Nilai Kinerja Guru Pemula
Setelah bukti-bukti kinerja diperoleh melalui pengamatan/pemantauan penilaian dapat
menentukan nilai dengan langkah-langkah sebagai berikut: 14
a. Penentuan skor butir indikator kinerja (penetapan pernyataan “ya” atau “tidak”)
Skor butir indikator kinerja ditentukan berdasarkan pernyataan “ya” atau “tidak”
yang telah ditetapkan. Penetapan tersebut berdasarkan hasil kajian/analisis
berbagai dokumen dan atau analisa catatan pengamatan atau pemantauan yang
13
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hal. 54
14
Ibid….. hal 55
21.
21
dapat menggambarkan secarautuh untuk setiap butir penilaian. Butir indikator
kinerja yang dinyatakan “ya” memiliki skor satu sedangkan “tidak” memiliki skor
nol.
b. Penentuan skor indikator kinerja
Berdasarkan catatan hasil pengamatan, pemantauan, wawancara, study dokumen,
dan bukti-bukti berupa data lain yang dikumpulkan selama proses penilaian
kinerja guru, penilai menentukan setiap skor indikator kinerja dengan rumus
sebagai berikut:
Hasil perhitungan di atas, dikonversi ke skor 4-3-2-1 dengan cara menetapkan
skor pada rentang sebagai berikut:
No Rentang Skor Skor
1 0 < x ≤ 25% 1
2 25% < x ≤ 50% 2
3 50% < x ≤ 75% 3
4 75% < x ≤ 100% 4
c. Penentuan nilai kinerja guru pemula
(1) Nilai Kinerja Guru rentang 14-56 (guru mata pelajaran/kelas) atau rentang
14-112 (guru BK/Konselor).
Cara menentukannya dengan menjumlahkan semua skor indikator kinerja.
(2) Nilai Kinerja Guru Konversi 100
Menentukannya dengan cara membagi total skor indikator kinerja perolehan
dibagi jumlah skor indikator kinerja maksimal (56 untuk guru mapel dan 112
untuk guru BK) dikalikan dengan 100, maka Nilai Kinerja Guru Pemula
konversi 100 dapat dirumuskan sebagai berikut:
Nilai kinerja guru pemula, BK/Konselor
Nilai Kinerja Guru Pemula Konversi 100
(3) Penentuan Kategori Nilai Kinerja Guru
22.
22
Kategori Nilai KinerjaGuru Pemula dapat dilihat pada tabel Nilai Kinerja
berikut:15
Nilai Kinerja Sebutan
91-100 Amat Baik
76-90 Baik
61-75 Cukup
51-60 Sedang
≤50 Kurang
Pemberian Nilai Kepribadian dan Sosial
Penilaian kepribadian dan sosial guru pemula dilakukan melalui pengamatan pada
pelaksanaan pembelajaran dan atau pemantauan, serta wawancara di luar pelaksanaan
pembelajaran. Hasil tersebut untuk menentukan Nilai Kepribadian dan Sosial Guru
Pemula dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Penetapan pernyataan “ya” atau “tidak”
b. Menentukan skor butir: skor satu untuk “ya” nol untuk “tidak”
c. Menghitung skor indikator penilaian dengan ketentuan sebagaimana ketentuan
penilaian kinerja di atas
d. Menghitung Nilai kategori Nilai Kepribadian dan Sosial dengan ketentuan
sebagaimana ketentuan penilaian kinerja di atas
Proses penilaian
a. Penilaian Tahap Pertama
Penilaian tahap pertama dilaksanakan pada bulan kedua sampai dengan
kesembilan berupa penilaian kinerja guru melalui observasi pembelajaran
pembimbingan, ulasan, dan masukan oleh guru pembimbing.
b. Proses Penilaian Tahap Kedua
Penilaian tahap kedua dilaksanakan pada bulan kesepuluh sampai dengan bulan
kesebelas berupa observasi pembelajaran/pembimbingan, ulasan, dan masukan
oleh kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah, yang mengarah pada
peningkatan kompetensi dalam pembelajaran/pembimbingan.
15
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hlm. 57
23.
23
5. Tahap Pelaporan
Penyusunanlaporan dilaksanakan pada bulan ke sebelas setelah penilaian tahap kedua
dilaksanakan, dengan prosedur sebagai berikut:16
a. Penentuan keputusan pada Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula
berdasarkan pengkajian penilaian tahap kedua dengan dengan
mempertimbangkan penilaian tahap pertama. Selanjutnya guru pemula
dinyatakan memiliki nilai kinerja dengan kategori amat baik, baik, cukup, sedang
atau kurang. Untuk menentukan keputusan nilai kinerja guru pemula, kepala
sekolah membuat rekapitulasi hasil nilai penilaian kinerja.
b. Penyusunan draft Laporan Hasiln Penilaian Kinerja Guru Pemula oleh kepala
sekolah/madrasah berdasarkan pembahasan dengan pembimbing dan pengawas
sekolah/madrasah.
c. Penandatanganan Laporan Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula dilakukan oleh
kepala sekolah/madrasah dan pengawas sekolah/madrasah.
Pengajuan penerbitan sertifikat PIGP dilakukan oleh kepala sekolah/madrasah yang
disampaikan kepada kepala dinas pendidikan atau kepala kantor Kementerian Agama
kabupaten/kota bagi guru pemula yang telah memiliki Laporan Hasil Penilaian
Kinerja Guru Pemula dengan nilai baik. Sertifikat tersebut menyatakan bahwa peserta
PIGP telah berhasil menyelesaikan PIGP dengan nilai baik. Guru pemula dinyatakan
berhasil jika:
Nilai kinerja minimal Baik (minimal 76)
Setiap skor indikator kinerja minimal Baik (3)
Setiap Nilai Kepribadian dan Sosial minimal Baik (76)
Selanjutnya, laporan hasil pelaksanaan PIGP berisi:
a. Data sekolah/madrasah
b. Waktu pelaksanaan PIGP
c. Data guru pemula peserta PIGP
d. Deskripsi pelaksanaan pembimbingan oleh pembimbing
16
Daryanto & Yusi Arisandi. Program Induksi Untuk Guru Pemula. (Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hlm. 61
24.
24
e. Deskripsi pelakasanaandan hasil penilaian tahap pertama
f. Deskripsi pelaksanaan dan hasil penilaian tahap kedua
g. Hasil penilaian kinerja guru pemula menyatakan kategori nilai kinerja guru
pemula (amat baik, baik, cukup, sedang dan kurang) ditandatangani kepala
sekolah/madrasah
h. Pengawas sekolah menandatangani Hasil Penilaian Kinerja Guru Pemula.
Penyampaian laporan hasil pelaksanaan PIGP dilakukan dengan cara sebagai
berikut:17
a. Laporan hasil pelaksanaan PIGP yang berstatus CPNS dan PNS mutasi dari
jabatan lain disampaikan oleh kepala sekolah/madrasah kepada Kepala Dinas
Pendidikan/Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota sesuai kewenangannya
untuk diteruskan ke Badan Kepegawaian Daerah
b. Laporan hasil pelaksanaan PIGP yang berstatus bukan PNS disampaikan oleh
Kepala Sekolah/Madrasah kepada penyelenggara pendidikan dan Kepala Dinas
Pendidikan/Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten/Kota.
17
Daryanto & Yusi Arisandi.Program Induksi Untuk Guru Pemula.(Yogyakarta:Penerbit Gava
Media) hlm.62
25.
25
H. Program Induksidi Beberapa Negara
Program induksi bagi guru baru bertujuan untuk mengakrabkan guru baru dengan
tugas dan lingkungan kerjanya sehingga segera dapat melaksanakan tugasnya secara
baik. Dari delapan negara yang distudi hanya dua negara yaitu Korea Selatan dan
Belanda yang tidak memiliki program induksi bagi guru baru. Keenam lainnya
memiliki program induksi bagi guru baru. Di Australia, Singapura, Jepang dan
Inggris, induksi merupakan program yang harus diikuti oleh setiap guru baru
sedangkan di hongkong bersifat sukarela.
Di Amerika Serikat pola induksi bervariasi pada setiap negara bagian. Namun
lebih dari separuh sekolah Amerika Serikat menerapkan program induksi dengan
melibatkan guru senior sebagai mentor dan dibiayai oleh negara sebagai bagian dari
pembinaan guru baru. Di Hong Kong induksi bukan merupakan program wajib namun
pemerintah menyediakan seminar dan workshop bagi mereka. Di Singapura program
induksi dilaksanakan secara nasional oleh Departemen Pendidikan sementara di
Jepang dilaksanakan oleh provinsi dengan monitoring sangat ketat.
Pada umumnya program induksi terdiri dari dua komponen pokok. Komponen
pertama, adalah program mentoring di sekolah yang intinya guru baru belajar seluk
beluk tentang sekolah sampai dengan mengajar di bawah bimbingan guru senior
sebagai mentornya. Komponen kedua, adalah seminar dan workshop yang bertujuan
meningkatkan wawasan guru baru.18
18
Muchlas Samani, dkk.Mengenal Sertifikasi Guru di Indonesia. (Surabaya: SIC dan Asosiasi
Peneliti Pendidikan Indonesia.2006) hlm 32-33
26.
26
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
ProgramInduksi bagi Guru Pemula merupakan salah satu upaya yang dilakukan
untuk meningkatkan profesionalisme guru. Program Induksi Guru Pemula (PIGP)
adalah kegiatan orientasi, pelatihan di tempat kerja, pengembangan, dan praktik
pemecahan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran/bimbingan dan
konseling bagi guru pemula pada sekolah/madrasah di tempat tugasnya. Disebut guru
pemula karena guru tersebut baru pertama kali ditugaskan melaksanakan proses
pembelajaran/bimbingan dan konseling pada satuan pendidikan yang diselenggarakan
oleh Pemerintah, pemerintah daerah, atau masyarakat.
Selama berlangsungnya program induksi, pembimbing, kepala sekolah/madrasah,
dan pengawas wajib membimbing guru pemula agar menjadi guru profesional. Dalam
hal ini yang disebut pembimbing adalah guru profesional berpengalaman yang diberi
tugas untuk membimbing guru pemula dalam melaksanakan program induksi,
dibuktikan dengan adanya surat keterangan dari kepala sekolah/madrasah yang
bersangkutan.
Pembimbingan yang diberikan meliputi: 1) bimbingan dalam perencanaan
pembelajaran/bimbingan dan konseling, 2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran/
bimbingan dan konseling, 3) penilaian dan evaluasi hasil pembelajaran/bimbingan dan
konseling, 4) perbaikan dan pengayaan dengan memanfaatkan hasil penilaian dan
evaluasi pembelajaran/bimbingan dan konseling, dan 5) pelaksanaan tugas lain yang
relevan.
Program induksi dilaksanakan di satuan pendidikan tempat guru pemula bertugas
selama 1 (satu) tahun dan dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) tahun.
B. Saran
Program Induksi merupakan program ini penting dijalankan oleh para guru
pemula, mengingat kelancaran dan profesionalisme guru ditentukan oleh
kemampuannya beradaptasi terhadap sekolah atau lingkungan baru dimana ia
ditempatkan untuk mengabdi. Termasuk dalam hal mengatasi berbagai persoalan yang
nantinya akan dihadapi, hendaklah guru pemula jangan sungkan untuk bertanya
27.
27
kepada pembimbing programinduksi yang dijalaninya. Oleh karena itu hendaklah
guru pemula maupun pihak lain yang terkait, memperhatikan prinsip-prinsip
pelaksanaan program induksi yaitu profesionalisme, kesejawatan, akuntabel, dan
berkelanjutan.
28.
28
DAFTAR PUSTAKA
Bambang BudiWiyono, "Grand Design Model Pembinaan Profesional Guru Melalui
Program Induksi Guru Pemula", Jurnal Ilmu Pendidikan, Vol 20, No 2 (2014):
ISSN 0215-9643, Universitas Negeri Malang
Danim, Sudarwan dan Khairil. 2013. Profesi Kependidikan. Bandung: Alfabeta
Danim, Sudarwan. 2011. Pengembangan Profesi Guru: Dari Pra-Jabatan, Induksi, ke
Profesional Madani. Jakarta: Kencana
Daryanto, dan Arisandi Yusi. 2005. Program Induksi untuk Guru Pemula. Yogyakarta:
Gava Media
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 27 tahun 2010 tentang Program Induksi
bagi Guru Pemula
Permenpan No. 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya
Samani, Muchlas, dkk. 2006. Mengenal Sertifikasi Guru di Indonesia. Surabaya: SIC
dan Asosiasi Peneliti Pendidikan Indonesia.
Undang-undang No. 14 tahun 2006 tentang Guru dan Dosen