EFEKTIVITAS EKSTRAK FRAKSI ETANOL
   DAUN JATI (TECTONAE FOLIUM )
  terhadap PROSES ANTIINFLAMASI
     pada TIKUS PUTIH (RATUS
           NOVERGICUS)




             FAKULTAS FARMASI
         UNIVERSITAS MULAWARMAN
                SAMARINDA
                   2012
PENDAHULUAN

• Latar belakang
       Salah satu tanaman obat yang sudah
  dimanfaatkan oleh penduduk indonesia khusunya
  penduduk Kalimantan Timur namun belum
  teridentifikasi adalah Daun Jati yang dipercaya oleh
  masyarakat sekitar sebagai tanaman yang dapat
  membantu proses penyembuhan radang (inflamasi).
  Berdasarkan informasi itu, penulis ingin mengetahui
  kebenaran secara pasti khasiat dari Daun Jati ini
  terhadap radang secara umum.
Rumusan Masalah
•   Apakah ekstrak etanol daun Jati berefek
    antiinflamasi ?
•   Bagaimanakah pengaruh varian dosis
    ekstrak etanol daun Jati terhadap
    aktivitas antiinflamasi?
•   Berapakah dosis efektif ekstrak etanol
    daun jati sebagai antiinflamasi?
•   Apakah kemampuan antiinflamasi
    ekstrak etanol daun jati sebanding
    dengan efek antiinflamasi yang
    dihasilkan oleh obat Natrium
    diklofenak?
•
Kerangka Pemikiran

•
            Empiris masyarakat Paser,
              Kalimantan Timur

               Daun Jati dipercaya
               sebagai obat radang

               Pengujian daun Jati
              sebagai antiinflamasi
Hipotesis penelitian

  Daun jati memiliki golongan
  senyawa-senyawa seperti
  flavonoid, saponin, tanin galat, tanin
  katekat, kuinon dan
  steroid/triterpenoid,alkaloid, Isolat
  B (flavonoid golongan flavon
  dengan gugus OH pada 5, 7, 3’ dan
  4’), yang berpotensi sebagai
  antiinflamasi.
TINJAUAN PUSTAKA
• Tumbuhan Jati
    Daun Jati adalah daun Tectona grandis L.,suku verbenaceae.
    Pemeriannya bau langu,mula-mula tidak berasa tapi lama-lama
    agak kelat. Makroskopik : Daun tunggal,rapuh, berwarna hijau
    kecoklatan sampai coklat tua,helaian daun berbentuk jorong
    atau bundar telur, panjang heaian daun 23 cm sampai 40
    cm,lebar 11 cm sampai 21 cm,ujung daun runcing, pangkal
    daun meruncing,tepi daun rata, tulang daun menyirip, jelas
    menonjol pada permukaan, permukaan daun berambut
    banyak, permukaan atas lebih kasar dari pada permukaan
    bawah. ( Slamet,dkk 1989).
•
Kandungan Kimia

• Hasil penapusan fitokimia menunjukkan
  adanya golongan senyawa
  flavonoid, saponin, tanin galat, tanin
  katekat, kuinon dan
  steroid/triterpenoid,alkaloid, Isolat B
  (flavonoid golongan flavon dengan gugus OH
  pada 5, 7, 3’ dan 4’), terdapat minimal dua
  asam fenolat dalam bentuk glikosida, terdapat
  minimal tiga asam fenolat dalam bentuk
  ester, dan terdapat minimal empat asam fenolat
Tikus Putih

Tikus putih memiliki ukuran lebih besar dan lebih ganas dari
mencit (Mus musculus). Ukuran panjang tikus putih dari
moncong hingga pangkal ekor yakni 17-21 cm, panjang ekor
20-23 cm, jadi secara keseluruhan panjang tikus putih adalah
37-44 cm. Berat tikus putih jantan dewasa antara 200-400 g,
sedangkan tikus putih betina antara 250-300 g. Berdasarkan
klasifikasinya tikus putih termasuk dalam kerajaan animalia,
filum chordata, subfilum vertebrata, kelas mammalia, marga
rodentia, submarga myomorpha, keluarga muridae,
subkeluarga murinae, suku rattus, dan spesies Rattus
noevegicus (Wallace, 1984).
Metode Ekstraksi

Maserasi
 Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi
 dilakukan dengan merendam serbuk simplisia dalam cairan
 penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan
 masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat
 aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsetrasi antara
 larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka
 larutan yang terpekat didesak keluar. Keuntungan cara
 penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan
 peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan,
 namun kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama.
Natrium Diklofenak
           (C14H10Cl2NO2Na)
Diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan
aktivitas anti inflamasi, analgesik dan antipiretik.
Aktivitas diklofenak dengan jalan menghambat enzim
siklo-oksigenase         sehingga        pembentukan
prostaglandin terhambat. Indikasi natrium diklofenak
sebagai pengobatan akut dan kronis gejala-gejala
reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing
spondilitis. Kontra indikasi penderita yang
hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita
asma, urtikaria atau alergi pada pemberian aspirin
atau NSAID lain, penderita tukak lambung.
Karagenan

Karagenan dapat diekstraksi dari protein dan lignin rumput
laut dan dapat digunakan dalam industri pangan karena
karakteristiknya yang dapat berbentuk geli, bersifat
mengentalkan, dan menstabilkan material utamanya.
Karagenan sendiri tidak dapat dimakan oleh manusia dan tidak
memiliki nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Oleh karena itu,
karagenan hanya digunakan dalam industri pangan karena
fungsi karakteristiknya yang dapat digunakan untuk
mengendalikan kandungan air dalam bahan pangan utamanya,
mengendalikan tekstur, dan menstabilkan makanan (Parlina,
2009).
Radang

Radang merupakan respons fisiologi lokal terhadap
cedera jaringan. Radang bukan suatu penyakit,
melainkan suatu manifestasi suatu penyakit. Radang
dapat mempunyai pengaruh yang menguntungkan.
Seperti penghancuran mikroorganisme yang masuk
dan pembuatan dinding pada rongga abses, sehingga
akan mencegah penyebaran infeksi.
Pletismometer

Pletismometer atau Paw Volume adalah alat yang
digunakan untuk memastikan efektivitas agen anti-
inflamasi dan agen pereduksi edema. Untuk
menggunakan Paw Volume, hewan coba diletakkan
pada air tak berwarna yang merupakan sel air khusus
dengan merubah tekanan yang masuk ke dalam
cairan. Perubahan tekanan ini merupakan kalibrasi
dalam mL dan muncul dalam monitor elektronik.
Landasan Empirik

Salah satu obat tradisional yang telah lama dipercaya
masyarakat      Paser     Belengkong,      Kabupaten
Paser, Kalimantan Timur dapat menyembuhkan
radang adalah tumbuhan Daun Jati. Tumbuhan ini
dipercaya mampu menyembuhkan radang yang
timbul akibat luka atau trauma. Belum ada penelitian
yang membuktikan manfaat dari tumbuhan ini secara
pasti. Maka dari itu informasi dari masyarakat
dijadikan landasan empirik bagi peneliti untuk
membuktikan khasiat Daun Jati ini.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan Penelitian
• Mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol Daun Jati
  secara in vivo.
• Mengetahui pengaruh varian dosis ekstrak etanol daun Jati
  terhadap aktivitas antiinflamasi.
• Menentukan dosis efektif ekstrak etanol daun Jati sebagai
  antiinflamasi.
• Mengetahui perbandingan efek antiinflamasi yang dihasilkan
  oleh ekstrak etanol daun Jati dengan efek antiinflamasi yang
  dihasilkan oleh obat Natrium diklofenak.
Manfaat Penelitian

  Manfaat yang diharapkan dengan adanya penelitian
  ini adalah :
• memberikan informasi tentang pemanfaatan Daun Jati
  sebagai obat yang dapat digunakan sebagai obat
  antiinflamasi.
• memberikan informasi dosis efektif penggunaan
  Daun Jati sebagai antiinflamasi.
METODE PENELITIAN


Fokus Penelitian
• Menguji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun jati secara
  in vivo dengan menggunakan tikus putih.
• Mencari dosis ekstrak etanol daun jati yang efektif sebagai
  antiinflamasi.
• Menguji pengaruh variasn dosis ekstrak etanol daun jati
  terhadap aktifitas antiinflamasi.
• Menguji perbandingan efek antiinflamasi yang dihasilkan oleh
  ekstrak etanol daun Jati dengan efek antiinflamasi yang
  dihasilkan oleh obat Natrium diklofenak.
Bahan Yang Diteliti

Bahan yang diteliti adalah daun Jati yang berasal dari
Paser Belengkong, Kabupaten Paser, propinsi
Kalimantan Timur. Daun tumbuhan ini dipercaya
mampu menyembuhkan radang, baik karena luka
maupun trauma.
Waktu dan Tempat Penelitian


• Penelitian ini akan berlangsung satu bulan.
  Dilaksanakan dari bulan September 2012 hingga
  Oktober 2012.
• Penelitian berupa eksperimen dan pengumpulan data
  yang akan dilaksanakan di Laboratorium Kimia
  Farmasi dan Farmakologi UP. Fakultas Farmasi
  Universitas Mulawarman.
Variabel dan Definisi Operasional


• Konsentrasi ekstrak etanol daun Jati merupakan
  jumlah ekstrak yang akan diujikan.
• Volume edema terhadap waktu merupakan nilai
  besaran kaki tikus yang terukur.
Peralatan dan Bahan Penelitian

Alat
  Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain
  rotary evaporator yang berfungsi untuk memekatkan ekstrak
  etanol yang diperoleh, gelas kimia berfungsi untuk
  menampung cairan, labu ukur berfungsi untuk mendapatkan
  sejumlah cairan sesuai dengan volume yang diinginkan,
  pletismometer berfungsi sebagai alat pengukur edema pada
  tikus, scales berfungsi sebagai pengukur skala besar kaki tikus
  yang edem, spuit berfungsi sebagai penginjeksi larutan ke
  dalam tubuh hewan coba.
Bahan


Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara
lain pelarut etanol berfungsi sebagai pelarut, tikus
jantan dengan berat rata-rata 250-300 gram berfungsi
sebagai hewan uji, karagenan berfungsi sebagai bahan
penginduksi kaki tikus agar terjadi edema, suspensi
natrium diklofenak berfungsi sebagai obat
pembanding.
Teknik Pengumpulan Data


Data dan Sumber Data
 Data diperoleh dari hasil eksperimen laboratorium
 terhadap variasi dosis, waktu pengukuran dan bobot
 kaki tikus. Sebagai parameter pengambilan data dapat
 dilihat dari berkurangnya bobot kaki tikus yang
 dibuat edema dengan mengukur menggunakan alat
 pletismometer.
Pelaksanaan Penelitian

Penyiapan Sampel
•   Sampel berupa daun Jati yang berasal dari Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur yang
    telah bersih, bebas dari pengotor, kemudian dipotong bagian helai daunnya dengan menggunakan pisau
    stanless steel. Setelah itu dibersihkan dan selanjutnya dikering anginkan pada udara terbuka bebas dari
    sinar matahari langsung. Selanjutnya sampel yang kering dipotong halus.

Penyiapan Hewan Coba
•   Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dewasa dengan berat antara
    200-400 g, serta berusia 12-14 minggu dibagi dalam 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 ekor
    tikus.
•   Sebelum pengujian, hewan coba dipelihara pada kandang yang mempunyai ventilasi yang baik dan selalu
    dijaga kebersihannya. Hewan yang sehat ditandai dengan memperlihatkan gerakan yang lincah (Wirda,
    2001).
Ekstraksi Sampel
•   Daun segar dikeringkan dengan cara dijemur pada tempat tebuka tanpa sinar matahari langsung. Daun yang
    telah kering tersebut diblender hingga menghasilkan serbuk kering daun Jati. Selanjutnya dimaserasi
    dengan etanol. hasil maserasi dicampur silika gel halus, lalu difraksinasi secara berturut-turut dengan (a) n-
    heksan, (b) etil asetat, (c) butanol, dan (d) etanol. fraksi etanol merupakan sampel uji penelitian ini.
Uji Efek Anti Inflamasi

•   Sebelum pengujian, tikus dipuasakan selama 18 jam dengan tetap diberi air minum. Tikus
    dikelompokkan ke dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol
    positif (natrium diklofenak), dan kelompok bahan uji (tiga dosis suspensi ekstrak etanol daun
    Jati).
•   Saat hari pengujian, masing-masing hewan ditimbang dan diberi tanda pada kaki kirinya,
    kemudian kaki kiri tikus dimasukkan ke dalam sel yang berisi cairan khusus yang telah
    disiapkan sebelumnya sampai cairan naik pada garis batas atas, pedal kemudian ditahan,
    dicatat angka pada monitor sebagai volume awal (Vo) yaitu volume kaki sebelum diberi obat
    dan diinduksi dengan larutan karagenan. Masing-masing tikus diberi suspensi bahan uji secara
    oral sesuai dengan kelompoknya. Satu jam kemudian, kepada maisng-masing telapak kaki
    tikus disuntik secara intraplantar dengan 0,1 ml larutan karagenan 1 %. Setelah 30 menit,
    dilakukan pengukuran dengan cara mencelupkan kaki tikus ke dalam sel pletismometer yang
    berisi cairan khusus sampai larutan mencapai garis batas atas, dan pedal ditahan. Perubahan
    volume cairan yang terjadi dicatat sebagai volume telapak kaki tikus (Vt). Pengukuran
    dilakukan setiap 30 menit.
•   Volume radang adalah selisih volume telapak kaki tikus setelah dan sebelum disuntikkan
    karagenan. Pada waktu pengukuran, volume cairan harus sama setiap kali pengukuran, tanda
    batas pada tikus harus jelas, kaki tikus harus tercelup sampai batas yang dibuat.
Teknik Analisis Data


Data hasil penelitian dianalisis secara statistik
menggunakan metode ANAVA (Analisis Varian)
dengan program SPSS dengan tingkat kepercayaan
95% dilanjutkan dengan uji metode Duncan untuk
mengetahui kelompok mana yang mempunyai
pengaruh sama atau berbeda satu dengan lainnya.
Hasil Penelitian


Potensi anti inflamasi yaitu perbandingan tingkat
kesembuhan radang antara eksperimen dan
pembanding.
DAFTAR PUSTAKA

•   Adam, Syamsunir. 1995. Dasar-Dasar Patologi. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC

•
•   Afifah, Efi & Tim, 2004. Khasiat Manfaat Temulawak. Jakarta; Penerbit PT AgroMedia Pustaka



•   Borgi, Via G. 2003. Instruction Manual Plethysmometer. Italy; Comerio-Varese

•
•   Boyd, W. 1971. An Introduction to the Study of Disease. Ed 6. Philadelphia: Lea & Febiger



•   Braunwald, et. al. 2001. Harrison's Principles of Internal Medicine. Madrid; McGraw-Hill-Interamericana
    de Espana



•   Hargono, Djoko. 1986. Sediaan Galenika. Departemen Kesehatan Republik Indonesia; Jakarta
•   Insel, P.A. 1991. Analgesic-Antipyretics and Antiinflammatory Agents: Drugs Employed in the Treatment of
    Rheumatoid Arthritis and Gout. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of
    Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. etal. New York: Pergamon Press. Vol. I



•   Melmon, K.L. and Morreli H.F. 1978. Clinical Phamacology, Basic Principles in Therapeutics. Ed 2. New
    York: Macmillan Publ. Co



•   Parlina, Iin. 2009. Karagenan Produk Olahan Rumput Laut Merah Indonesia yang Sangat Bermanfaat.
    Diunggah melalu situs http://iinparlina.wordpress.com/2009/06/12/karagenan-produk-olahan-rumput-laut-
    merah-indonesia-yang-sangat-bermanfaat/



•   Robbins, Stanley L., et.,al. 2003. Robbins Basic Pathology 7th ed. Diterjemahkan oleh Awal Prasetyo dkk.
    2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume 1. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC
•   Rowe, Raymond C., et.,al. 2006. The Handbook of Pharmaceutical Excipients. Amerika
    Serikat; Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association.



•   Slamet, dkk. 1989. Materia Medika Indonesia. Departemen Kesehatan Indonesia.

•   Sweetman, Sean C., et.,al. 2005. Martindle The Complete Drug Reference Thirty-Fourth
    Edition. London; Pharmaceutical Press.



•   Wallace, M. 1984. The Mouse in Residence and Transit. UFAW. Hertfordshire.



•   Wirda. 2001. Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata
    Lamk.) pada Tikus Putih. Skripsi. Jurusan Farmasi. FMIPA USU Medan
•

Ppt seminar

  • 1.
    EFEKTIVITAS EKSTRAK FRAKSIETANOL DAUN JATI (TECTONAE FOLIUM ) terhadap PROSES ANTIINFLAMASI pada TIKUS PUTIH (RATUS NOVERGICUS) FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MULAWARMAN SAMARINDA 2012
  • 2.
    PENDAHULUAN • Latar belakang Salah satu tanaman obat yang sudah dimanfaatkan oleh penduduk indonesia khusunya penduduk Kalimantan Timur namun belum teridentifikasi adalah Daun Jati yang dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tanaman yang dapat membantu proses penyembuhan radang (inflamasi). Berdasarkan informasi itu, penulis ingin mengetahui kebenaran secara pasti khasiat dari Daun Jati ini terhadap radang secara umum.
  • 3.
    Rumusan Masalah • Apakah ekstrak etanol daun Jati berefek antiinflamasi ? • Bagaimanakah pengaruh varian dosis ekstrak etanol daun Jati terhadap aktivitas antiinflamasi? • Berapakah dosis efektif ekstrak etanol daun jati sebagai antiinflamasi? • Apakah kemampuan antiinflamasi ekstrak etanol daun jati sebanding dengan efek antiinflamasi yang dihasilkan oleh obat Natrium diklofenak? •
  • 4.
    Kerangka Pemikiran • Empiris masyarakat Paser, Kalimantan Timur Daun Jati dipercaya sebagai obat radang Pengujian daun Jati sebagai antiinflamasi
  • 5.
    Hipotesis penelitian Daun jati memiliki golongan senyawa-senyawa seperti flavonoid, saponin, tanin galat, tanin katekat, kuinon dan steroid/triterpenoid,alkaloid, Isolat B (flavonoid golongan flavon dengan gugus OH pada 5, 7, 3’ dan 4’), yang berpotensi sebagai antiinflamasi.
  • 6.
    TINJAUAN PUSTAKA • TumbuhanJati Daun Jati adalah daun Tectona grandis L.,suku verbenaceae. Pemeriannya bau langu,mula-mula tidak berasa tapi lama-lama agak kelat. Makroskopik : Daun tunggal,rapuh, berwarna hijau kecoklatan sampai coklat tua,helaian daun berbentuk jorong atau bundar telur, panjang heaian daun 23 cm sampai 40 cm,lebar 11 cm sampai 21 cm,ujung daun runcing, pangkal daun meruncing,tepi daun rata, tulang daun menyirip, jelas menonjol pada permukaan, permukaan daun berambut banyak, permukaan atas lebih kasar dari pada permukaan bawah. ( Slamet,dkk 1989). •
  • 7.
    Kandungan Kimia • Hasilpenapusan fitokimia menunjukkan adanya golongan senyawa flavonoid, saponin, tanin galat, tanin katekat, kuinon dan steroid/triterpenoid,alkaloid, Isolat B (flavonoid golongan flavon dengan gugus OH pada 5, 7, 3’ dan 4’), terdapat minimal dua asam fenolat dalam bentuk glikosida, terdapat minimal tiga asam fenolat dalam bentuk ester, dan terdapat minimal empat asam fenolat
  • 8.
    Tikus Putih Tikus putihmemiliki ukuran lebih besar dan lebih ganas dari mencit (Mus musculus). Ukuran panjang tikus putih dari moncong hingga pangkal ekor yakni 17-21 cm, panjang ekor 20-23 cm, jadi secara keseluruhan panjang tikus putih adalah 37-44 cm. Berat tikus putih jantan dewasa antara 200-400 g, sedangkan tikus putih betina antara 250-300 g. Berdasarkan klasifikasinya tikus putih termasuk dalam kerajaan animalia, filum chordata, subfilum vertebrata, kelas mammalia, marga rodentia, submarga myomorpha, keluarga muridae, subkeluarga murinae, suku rattus, dan spesies Rattus noevegicus (Wallace, 1984).
  • 9.
    Metode Ekstraksi Maserasi Maserasimerupakan cara penyarian yang sederhana. Maserasi dilakukan dengan merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsetrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak keluar. Keuntungan cara penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan, namun kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama.
  • 10.
    Natrium Diklofenak (C14H10Cl2NO2Na) Diklofenak adalah golongan obat non steroid dengan aktivitas anti inflamasi, analgesik dan antipiretik. Aktivitas diklofenak dengan jalan menghambat enzim siklo-oksigenase sehingga pembentukan prostaglandin terhambat. Indikasi natrium diklofenak sebagai pengobatan akut dan kronis gejala-gejala reumatoid artritis, osteoartritis dan ankilosing spondilitis. Kontra indikasi penderita yang hipersensitif terhadap diklofenak atau yang menderita asma, urtikaria atau alergi pada pemberian aspirin atau NSAID lain, penderita tukak lambung.
  • 11.
    Karagenan Karagenan dapat diekstraksidari protein dan lignin rumput laut dan dapat digunakan dalam industri pangan karena karakteristiknya yang dapat berbentuk geli, bersifat mengentalkan, dan menstabilkan material utamanya. Karagenan sendiri tidak dapat dimakan oleh manusia dan tidak memiliki nutrisi yang diperlukan oleh tubuh. Oleh karena itu, karagenan hanya digunakan dalam industri pangan karena fungsi karakteristiknya yang dapat digunakan untuk mengendalikan kandungan air dalam bahan pangan utamanya, mengendalikan tekstur, dan menstabilkan makanan (Parlina, 2009).
  • 12.
    Radang Radang merupakan responsfisiologi lokal terhadap cedera jaringan. Radang bukan suatu penyakit, melainkan suatu manifestasi suatu penyakit. Radang dapat mempunyai pengaruh yang menguntungkan. Seperti penghancuran mikroorganisme yang masuk dan pembuatan dinding pada rongga abses, sehingga akan mencegah penyebaran infeksi.
  • 13.
    Pletismometer Pletismometer atau PawVolume adalah alat yang digunakan untuk memastikan efektivitas agen anti- inflamasi dan agen pereduksi edema. Untuk menggunakan Paw Volume, hewan coba diletakkan pada air tak berwarna yang merupakan sel air khusus dengan merubah tekanan yang masuk ke dalam cairan. Perubahan tekanan ini merupakan kalibrasi dalam mL dan muncul dalam monitor elektronik.
  • 14.
    Landasan Empirik Salah satuobat tradisional yang telah lama dipercaya masyarakat Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur dapat menyembuhkan radang adalah tumbuhan Daun Jati. Tumbuhan ini dipercaya mampu menyembuhkan radang yang timbul akibat luka atau trauma. Belum ada penelitian yang membuktikan manfaat dari tumbuhan ini secara pasti. Maka dari itu informasi dari masyarakat dijadikan landasan empirik bagi peneliti untuk membuktikan khasiat Daun Jati ini.
  • 15.
    TUJUAN DAN MANFAATPENELITIAN Tujuan Penelitian • Mengetahui aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol Daun Jati secara in vivo. • Mengetahui pengaruh varian dosis ekstrak etanol daun Jati terhadap aktivitas antiinflamasi. • Menentukan dosis efektif ekstrak etanol daun Jati sebagai antiinflamasi. • Mengetahui perbandingan efek antiinflamasi yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun Jati dengan efek antiinflamasi yang dihasilkan oleh obat Natrium diklofenak.
  • 16.
    Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dengan adanya penelitian ini adalah : • memberikan informasi tentang pemanfaatan Daun Jati sebagai obat yang dapat digunakan sebagai obat antiinflamasi. • memberikan informasi dosis efektif penggunaan Daun Jati sebagai antiinflamasi.
  • 17.
    METODE PENELITIAN Fokus Penelitian •Menguji aktivitas antiinflamasi ekstrak etanol daun jati secara in vivo dengan menggunakan tikus putih. • Mencari dosis ekstrak etanol daun jati yang efektif sebagai antiinflamasi. • Menguji pengaruh variasn dosis ekstrak etanol daun jati terhadap aktifitas antiinflamasi. • Menguji perbandingan efek antiinflamasi yang dihasilkan oleh ekstrak etanol daun Jati dengan efek antiinflamasi yang dihasilkan oleh obat Natrium diklofenak.
  • 18.
    Bahan Yang Diteliti Bahanyang diteliti adalah daun Jati yang berasal dari Paser Belengkong, Kabupaten Paser, propinsi Kalimantan Timur. Daun tumbuhan ini dipercaya mampu menyembuhkan radang, baik karena luka maupun trauma.
  • 19.
    Waktu dan TempatPenelitian • Penelitian ini akan berlangsung satu bulan. Dilaksanakan dari bulan September 2012 hingga Oktober 2012. • Penelitian berupa eksperimen dan pengumpulan data yang akan dilaksanakan di Laboratorium Kimia Farmasi dan Farmakologi UP. Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman.
  • 20.
    Variabel dan DefinisiOperasional • Konsentrasi ekstrak etanol daun Jati merupakan jumlah ekstrak yang akan diujikan. • Volume edema terhadap waktu merupakan nilai besaran kaki tikus yang terukur.
  • 21.
    Peralatan dan BahanPenelitian Alat Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain rotary evaporator yang berfungsi untuk memekatkan ekstrak etanol yang diperoleh, gelas kimia berfungsi untuk menampung cairan, labu ukur berfungsi untuk mendapatkan sejumlah cairan sesuai dengan volume yang diinginkan, pletismometer berfungsi sebagai alat pengukur edema pada tikus, scales berfungsi sebagai pengukur skala besar kaki tikus yang edem, spuit berfungsi sebagai penginjeksi larutan ke dalam tubuh hewan coba.
  • 22.
    Bahan Bahan yang digunakandalam penelitian ini antara lain pelarut etanol berfungsi sebagai pelarut, tikus jantan dengan berat rata-rata 250-300 gram berfungsi sebagai hewan uji, karagenan berfungsi sebagai bahan penginduksi kaki tikus agar terjadi edema, suspensi natrium diklofenak berfungsi sebagai obat pembanding.
  • 23.
    Teknik Pengumpulan Data Datadan Sumber Data Data diperoleh dari hasil eksperimen laboratorium terhadap variasi dosis, waktu pengukuran dan bobot kaki tikus. Sebagai parameter pengambilan data dapat dilihat dari berkurangnya bobot kaki tikus yang dibuat edema dengan mengukur menggunakan alat pletismometer.
  • 24.
    Pelaksanaan Penelitian Penyiapan Sampel • Sampel berupa daun Jati yang berasal dari Paser Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur yang telah bersih, bebas dari pengotor, kemudian dipotong bagian helai daunnya dengan menggunakan pisau stanless steel. Setelah itu dibersihkan dan selanjutnya dikering anginkan pada udara terbuka bebas dari sinar matahari langsung. Selanjutnya sampel yang kering dipotong halus. Penyiapan Hewan Coba • Hewan coba yang digunakan adalah tikus putih (Rattus norvegicus) jantan dewasa dengan berat antara 200-400 g, serta berusia 12-14 minggu dibagi dalam 5 kelompok yang masing-masing terdiri dari 3 ekor tikus. • Sebelum pengujian, hewan coba dipelihara pada kandang yang mempunyai ventilasi yang baik dan selalu dijaga kebersihannya. Hewan yang sehat ditandai dengan memperlihatkan gerakan yang lincah (Wirda, 2001). Ekstraksi Sampel • Daun segar dikeringkan dengan cara dijemur pada tempat tebuka tanpa sinar matahari langsung. Daun yang telah kering tersebut diblender hingga menghasilkan serbuk kering daun Jati. Selanjutnya dimaserasi dengan etanol. hasil maserasi dicampur silika gel halus, lalu difraksinasi secara berturut-turut dengan (a) n- heksan, (b) etil asetat, (c) butanol, dan (d) etanol. fraksi etanol merupakan sampel uji penelitian ini.
  • 25.
    Uji Efek AntiInflamasi • Sebelum pengujian, tikus dipuasakan selama 18 jam dengan tetap diberi air minum. Tikus dikelompokkan ke dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif (natrium diklofenak), dan kelompok bahan uji (tiga dosis suspensi ekstrak etanol daun Jati). • Saat hari pengujian, masing-masing hewan ditimbang dan diberi tanda pada kaki kirinya, kemudian kaki kiri tikus dimasukkan ke dalam sel yang berisi cairan khusus yang telah disiapkan sebelumnya sampai cairan naik pada garis batas atas, pedal kemudian ditahan, dicatat angka pada monitor sebagai volume awal (Vo) yaitu volume kaki sebelum diberi obat dan diinduksi dengan larutan karagenan. Masing-masing tikus diberi suspensi bahan uji secara oral sesuai dengan kelompoknya. Satu jam kemudian, kepada maisng-masing telapak kaki tikus disuntik secara intraplantar dengan 0,1 ml larutan karagenan 1 %. Setelah 30 menit, dilakukan pengukuran dengan cara mencelupkan kaki tikus ke dalam sel pletismometer yang berisi cairan khusus sampai larutan mencapai garis batas atas, dan pedal ditahan. Perubahan volume cairan yang terjadi dicatat sebagai volume telapak kaki tikus (Vt). Pengukuran dilakukan setiap 30 menit. • Volume radang adalah selisih volume telapak kaki tikus setelah dan sebelum disuntikkan karagenan. Pada waktu pengukuran, volume cairan harus sama setiap kali pengukuran, tanda batas pada tikus harus jelas, kaki tikus harus tercelup sampai batas yang dibuat.
  • 26.
    Teknik Analisis Data Datahasil penelitian dianalisis secara statistik menggunakan metode ANAVA (Analisis Varian) dengan program SPSS dengan tingkat kepercayaan 95% dilanjutkan dengan uji metode Duncan untuk mengetahui kelompok mana yang mempunyai pengaruh sama atau berbeda satu dengan lainnya.
  • 27.
    Hasil Penelitian Potensi antiinflamasi yaitu perbandingan tingkat kesembuhan radang antara eksperimen dan pembanding.
  • 28.
    DAFTAR PUSTAKA • Adam, Syamsunir. 1995. Dasar-Dasar Patologi. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC • • Afifah, Efi & Tim, 2004. Khasiat Manfaat Temulawak. Jakarta; Penerbit PT AgroMedia Pustaka • Borgi, Via G. 2003. Instruction Manual Plethysmometer. Italy; Comerio-Varese • • Boyd, W. 1971. An Introduction to the Study of Disease. Ed 6. Philadelphia: Lea & Febiger • Braunwald, et. al. 2001. Harrison's Principles of Internal Medicine. Madrid; McGraw-Hill-Interamericana de Espana • Hargono, Djoko. 1986. Sediaan Galenika. Departemen Kesehatan Republik Indonesia; Jakarta
  • 29.
    Insel, P.A. 1991. Analgesic-Antipyretics and Antiinflammatory Agents: Drugs Employed in the Treatment of Rheumatoid Arthritis and Gout. Dalam: Goodman and Gilman's The Pharmacological Basis of Therapeutics. Ed 8. Editor: Gilman, A.G. etal. New York: Pergamon Press. Vol. I • Melmon, K.L. and Morreli H.F. 1978. Clinical Phamacology, Basic Principles in Therapeutics. Ed 2. New York: Macmillan Publ. Co • Parlina, Iin. 2009. Karagenan Produk Olahan Rumput Laut Merah Indonesia yang Sangat Bermanfaat. Diunggah melalu situs http://iinparlina.wordpress.com/2009/06/12/karagenan-produk-olahan-rumput-laut- merah-indonesia-yang-sangat-bermanfaat/ • Robbins, Stanley L., et.,al. 2003. Robbins Basic Pathology 7th ed. Diterjemahkan oleh Awal Prasetyo dkk. 2007. Buku Ajar Patologi Edisi 7 Volume 1. Jakarta; Penerbit Buku Kedokteran EGC
  • 30.
    Rowe, Raymond C., et.,al. 2006. The Handbook of Pharmaceutical Excipients. Amerika Serikat; Pharmaceutical Press and American Pharmacist Association. • Slamet, dkk. 1989. Materia Medika Indonesia. Departemen Kesehatan Indonesia. • Sweetman, Sean C., et.,al. 2005. Martindle The Complete Drug Reference Thirty-Fourth Edition. London; Pharmaceutical Press. • Wallace, M. 1984. The Mouse in Residence and Transit. UFAW. Hertfordshire. • Wirda. 2001. Uji Efek Antiinflamasi Ekstrak Etanol Daun Cocor Bebek (Kalanchoe pinnata Lamk.) pada Tikus Putih. Skripsi. Jurusan Farmasi. FMIPA USU Medan •