KELOMPOK 1
ADI NUGRAHA
ENDAHKURNIA SARI
NEFVI MARDALENA
PERZA RAMADHAN
Himpunan (set) merupakan sekumpulan objek-
objek yang berbeda yang dapat didefinisikan
dengan jelas. Objek di dalam himpunan di
namakan unsur atau anggota himpunan.
Contoh 1 : A = {x, y, z}
x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A.
w ∉ A : w bukan merupakan anggota himpunan
A.
a. Mencacahkan anggotanya (enumerasi) Dengan cara ini,
himpunan tersebut dinyatakan dengan menyebutkan semua
anggota himpunannya di dalam suatu kurung kurawal. Contoh
2 : - Himpunan empat bilangan ganjil pertama: A = {1, 3, 5, 7}.
- Himpunan lima bilangan prima pertama: B = {2, 3, 5, 7, 11}.
- Himpunan bilangan asli yang kurang dari 50 : C = {1, 2, ..., 50}
- Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}.
b. Menggunakan simbol standar (baku) Suatu himpunan dapat
dinyatakan dalam suatu simbol standar (baku) yang telah
diketahui secara umum oleh masyarakat (ilmiah). Contoh 3 : N
= himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... } Z = himpunan
bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... } Q = himpunan bilangan
rasional R = himpunan bilangan riil C = himpunan bilangan
kompleks Himpunan yang universal (semesta pembicaraan)
dinotasikan dengan U.
c. Menuliskan kriteria (syarat) keanggotaan himpunan
Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara
menuliskan kriteria (syarat) keanggotaan himpunan
tersebut. Himpunan ini dinotasinya sebagai berikut : { x ⎥
syarat yang harus dipenuhi oleh x }
Contoh 5 :
(i) A adalah himpunan bilangan asli yang kecil dari 10
A = { x | x ≤ 10 dan x ∈ N } atau A = { x ∈ N | x ≤ 10 }
yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10}
(ii) (ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil
kuliah matematika diskrit}
d. Menggunakan Diagram Venn Suatu himpunan dapat
dinyatakan dengan cara menuliskan anggotanya dalam
suatu gambar (diagram) yang dinamakan diagram venn.
Jumlah unsur dalam suatu himpunan dinamakan
kardinalitas dari himpunan tersebut. Misalkan,
untuk menyatakan kardinalitas himpunan A
ditulis dengan notasi:
n(A) atau ⎢A ⎢
Contoh 8 :
(i) B = { x | x merupakan bilangan prima yang
lebih kecil dari 10 }, atau B = {2, 3, 5, 7 } maka
⏐B⏐ = 4
(ii) A = {a, {a}, {{a}} }, maka ⏐A⏐ = 3
Jika suatu himpunan tidak mempunyai anggota,
dengan kata lain dengan kardinalitas himpunan
tersebut sama dengan nol maka himpunan tersebut
dinamakan himpunan kosong (null set). Notasi dari
suatu himpunan kosong adalah : ∅ atau {}
Contoh 9 :
(i) P = {Mahasiswa Teknik Industri STT Telkom yang
pernah ke Mars},
maka n(P) = 0 Jadi P = ∅
(ii) A = {x | akar persamaan kuadrat x2 + 1 = 0 dan x
∈ R}, maka n(A) = 0
Jadi A = {}
Himpunan A dikatakan himpunan bagian (subset)
dari himpunan B jika dan hanya jika setiap unsur
A merupakan unsur dari B. Dalam hal ini, B
dikatakan superset dari A. Notasi himpunan
bagian : A ⊆ B atau A ⊂ B ,
Dua himpunan A dan B dikatakan sama jika
setiap elemen himpunan B dan sebaliknya jika
himpunan A sama dengan himpunan B, maka
banyaknya elemen dan himpunan A selalu sama
dengan banyaknya elemen himpunan B. urutan
tidak diperhatikan.
Contoh :
Jika A= {a,b,c,d} dan B= {b,d,c,a}
Maka himpunan A=B
Dua buah himpunan dikatakan ekivalen jika
masing-masing mempunyai kardinalitas yang
sama. Misalkan, himpunan A adalah ekivalen
dengan himpunan B berarti kardinal dari
himpunan A dan himpunan B adalah sama, notasi
yang digunakan adalah : A ~ B
Contoh :
Misalkan A = { 2, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d },
maka A ~ B sebab ⏐A⏐ = ⏐B⏐ = 4
Dua himpunan A dan B dikatakan saling lepas
(disjoint) jika keduanya tidak memiliki unsur yang
sama. Notasi yang digunakan adalah A // B .
Contoh :
Jika A = { x | x ∈ N, x < 10 } dan B = { 11, 12, 13, 14,
15 }, maka A // B.
Himpunan kuasa (power set) dari himpunan A
merupakan suatu himpunan yang unsurunsurnya
merupakan semua himpunan bagian dari A,
termasuk himpunan kosong dan himpunan A
sendiri. Himpunan kuasa dinotasikan oleh P(A).
Jumlah anggota (kardinal) dari suatu himpunan
kuasa bergantung pada kardinal himpunan asal.
Misalkan, kardinalitas himpunan A adalah m,
maka ⏐P(A)⏐ = 2m.
Contoh :
Jika A = { x, y }, maka P(A) = { ∅, { x }, { y }, { x, y }}
a. Irisan (intersection)
Irisan antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘∩ ‘.
Misalkan A dan B adalah himpunan yang tidak sa
ling lepas, maka A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B }
Contoh ;
1. Misalkan A = {2, 3, 5, 7, 11} dan B = {3, 6, 9, 12},
maka A ∩ B = {3}
b. Gabungan (union)
Gabungan antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘∪‘.
Misalkan A dan B adalah himpunan, maka A ∪ B = { x | x ∈ A atau x
∈ B }
Contoh :
(i) Jika A = { 2, 3, 5, 7} dan B = { 1, 2, 3, 4, 5 }, maka A ∪ B = { 1, 2, 3, 4,
5, 7}
c. Komplemen (complement)
Komplemen dari suatu himpunan merupakan unsur -unsur yang ada pada himpunan
universal (semesta pembicaraan ) kecuali anggota himpunan tersebut.
Misalkan A merupakan himpunan yang berada pada semesta pembicaraan U, maka
komplemen dari himpunan A dinotasikan oleh :
A = { x | x ∈ U dan x ∉ A }
Contoh :
Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 }, jika A = {1, 3, 7, 9},
maka A = {2, 4, 5, 6, 8}
d. Selisih (difference)
Selisih antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘– ‘. Misalkan A dan B adalah
himpunan, maka selisih A dan B dinotasikan oleh
A – B = { x | x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B
Contoh :
Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 3, 5, 7},
maka A – B = { 1, 4, 6, 8, 9 } dan B – A = ∅
e. Beda Setangkup (Symmetric Difference) Beda setangkup antara dua
buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘ ⊕ ‘.
Misalkan A dan B adalah himpunan, maka beda setangkup antara A dan B
dinotasikan
oleh :
A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A)
Contoh :
Jika A = { 2, 3, 5, 7} dan B = { 1, 2, 3, 4, 5 }, maka A ⊕ B = { 1, 4, 7 }
f. Perkalian Kartesian (cartesian product)
Perkalian kartesian antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘× ‘.
Misalkan A dan B adalah himpunan, maka perkalian kartesian antara A dan B
dinotasikan oleh : A × B = {(a, b) ⏐ a ∈ A dan b ∈ B }
Contoh :
(i) Misalkan C = {1, 2, 3}, dan D = { a, b },
maka C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
 Notasi perampatan dapat mempermudah
penulisan ekspresi yang panjang.
Contoh : A ∩ ( B1 U B2 U ... U Bn ) = (A ∩ B1) U
(A ∩ B2) U ... U (A ∩ Bn)
menjadi :
A ∩ ( U Bi ) = U ( A ∩ Bi ) n i = 1 n i = 1
1. Hukum identitas:
− A ∪ ∅ = A
− A ∩ U = A
2. Hukum null/dominasi:
− A ∩ ∅ = ∅
− A ∪ U = U
3. Hukum komplemen:
− A ∪ A = U
− A ∩ A = ∅
4. Hukum idempoten:
− A ∪ A = A
− A ∩ A = A
5. Hukum involusi:
( ) A = A
6. Hukum penyerapan (absorpsi):
− A ∪ (A ∩ B) = A
− A ∩ (A ∪ B) = A
7. Hukum komutatif:
− A ∪ B = B ∪ A
− A ∩ B = B ∩ A
8. Hukum asosiatif:
− A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C
− A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C
9. Hukum distributif:
− A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C)
− A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C)
10. Hukum De Morgan:
− B A∩ = B A∪
− B A∪ = B A∩
11. Hukum komplemen
− ∅ = U
− U = ∅
Prinsip dualitas mengemukakan bahwa dua
konsep yang berbeda dapat dipertukarkan namun
tetap memberikan jawaban yang benar.
Contoh :
AS → kemudi mobil di kiri depan
Indonesia→ kemudi mobil di kanan depan
Penggabungan himpunan A dan B membentuk suatu himpunan baru yang tentu saja
anggotanya berasal dari himpunan A dan himpunan B. Prinsip yang digunakan ketika
bertemu kasus ini disebut prinsip inklusi-eksklusi. Rumusnya :
|A B| = |A|+|B| - |A B|
Contoh :
Berapa banyak bilangan bulat antara 1-100 yang habis dibagi 3 dan 5 ?
Jawab :
Misalkan :
A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3
B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5 A B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3
dan 5, dapat dihitung dari
KPK dari 3 dan 5 adalah 15
Maka untuk mencari jumlah bilangan yang habis dibagi 3 dan 5 dari range 1-100 (A
B)
dapat dilakukan dengan cara : 1. Menghitung |A|, |B| dan | A B| |A| = 100/3
=33
|B| = 100/5
= 20
| A B|=100/15
= 6 2. Masukan ke dalam rumus : |A B| = |A|+|B| - |A B| |A B| = |33|+|20| - |6| =
47
Sehingga diperoleh jumlah bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 untuk range 1-100
adalah 47 buah.
Partisi dari sebuah himpunan A adalah
sekumpulan himpunan bagian tidak kosong
A1,A2….dari A.
Proposisi himpunan adalah pernyataan yang menggunakan notasi himpunan. Terdapat
beberapa metode untuk membuktikan kebenaran proposisi himpunan, yaitu :
1. Pembuktian menggunakan diagram Venn
Pembuktian menggunakan diagram venn dapat dilakukan dengan membuat bentuk
diagram venn dari kedua ruas, yaitu ruas kanan dan ruas kiri. Apabila setelah
digambarkan kedalam bentuk diagram venn keduanya sama, maka dapat disimpulkan
bahwa kesamaan tersebut bernilai benar
2. Pembuktian menggunakan table keanggotaan
Jika pembuktian menggunakan table keanggotaan, maka dapat direpresentasikan
menggunakan 0 dan 1. Dimana 0 merepresentasikan bahwa suatu elemen adalah
anggota himpunan dan 1 merepresentasikan bahwa suatu elemen bukan anggota
himpunan.
3. Pembuktian menggunakan aljabar himpunan
 Himpunan ganda adalah himpunan yang
elemenya boleh berulang
Contoh
: M = { 1, 1, 1, 2, 2, 2, 3, 3, 1 },
multiplisitas 1 adalah 4 dan multiplisitas 2
adalah 3, sementara itu multiplisitas 3 adalah 2.
Misalkan, U merupakan himpunan semesta
pembicaraan (Universal Set). Crisp Set
merupakan himpunan bagian dari U yang
membedakan antara anggota dan bukan
anggotanya dengan batasan yang jelas (pasti).
Contoh :
A = {x | x ∈ Z dan x > 2} atau A = {3, 4, 5, …}
Jelas bahwa 3 ∈ A dan 1∉ A

Ppt himpunan

  • 1.
    KELOMPOK 1 ADI NUGRAHA ENDAHKURNIASARI NEFVI MARDALENA PERZA RAMADHAN
  • 2.
    Himpunan (set) merupakansekumpulan objek- objek yang berbeda yang dapat didefinisikan dengan jelas. Objek di dalam himpunan di namakan unsur atau anggota himpunan. Contoh 1 : A = {x, y, z} x ∈ A : x merupakan anggota himpunan A. w ∉ A : w bukan merupakan anggota himpunan A.
  • 3.
    a. Mencacahkan anggotanya(enumerasi) Dengan cara ini, himpunan tersebut dinyatakan dengan menyebutkan semua anggota himpunannya di dalam suatu kurung kurawal. Contoh 2 : - Himpunan empat bilangan ganjil pertama: A = {1, 3, 5, 7}. - Himpunan lima bilangan prima pertama: B = {2, 3, 5, 7, 11}. - Himpunan bilangan asli yang kurang dari 50 : C = {1, 2, ..., 50} - Himpunan bilangan bulat ditulis sebagai {…, -2, -1, 0, 1, 2, …}. b. Menggunakan simbol standar (baku) Suatu himpunan dapat dinyatakan dalam suatu simbol standar (baku) yang telah diketahui secara umum oleh masyarakat (ilmiah). Contoh 3 : N = himpunan bilangan alami (natural) = { 1, 2, ... } Z = himpunan bilangan bulat = { ..., -2, -1, 0, 1, 2, ... } Q = himpunan bilangan rasional R = himpunan bilangan riil C = himpunan bilangan kompleks Himpunan yang universal (semesta pembicaraan) dinotasikan dengan U.
  • 4.
    c. Menuliskan kriteria(syarat) keanggotaan himpunan Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara menuliskan kriteria (syarat) keanggotaan himpunan tersebut. Himpunan ini dinotasinya sebagai berikut : { x ⎥ syarat yang harus dipenuhi oleh x } Contoh 5 : (i) A adalah himpunan bilangan asli yang kecil dari 10 A = { x | x ≤ 10 dan x ∈ N } atau A = { x ∈ N | x ≤ 10 } yang ekivalen dengan A = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10} (ii) (ii) M = { x | x adalah mahasiswa yang mengambil kuliah matematika diskrit} d. Menggunakan Diagram Venn Suatu himpunan dapat dinyatakan dengan cara menuliskan anggotanya dalam suatu gambar (diagram) yang dinamakan diagram venn.
  • 5.
    Jumlah unsur dalamsuatu himpunan dinamakan kardinalitas dari himpunan tersebut. Misalkan, untuk menyatakan kardinalitas himpunan A ditulis dengan notasi: n(A) atau ⎢A ⎢ Contoh 8 : (i) B = { x | x merupakan bilangan prima yang lebih kecil dari 10 }, atau B = {2, 3, 5, 7 } maka ⏐B⏐ = 4 (ii) A = {a, {a}, {{a}} }, maka ⏐A⏐ = 3
  • 6.
    Jika suatu himpunantidak mempunyai anggota, dengan kata lain dengan kardinalitas himpunan tersebut sama dengan nol maka himpunan tersebut dinamakan himpunan kosong (null set). Notasi dari suatu himpunan kosong adalah : ∅ atau {} Contoh 9 : (i) P = {Mahasiswa Teknik Industri STT Telkom yang pernah ke Mars}, maka n(P) = 0 Jadi P = ∅ (ii) A = {x | akar persamaan kuadrat x2 + 1 = 0 dan x ∈ R}, maka n(A) = 0 Jadi A = {}
  • 7.
    Himpunan A dikatakanhimpunan bagian (subset) dari himpunan B jika dan hanya jika setiap unsur A merupakan unsur dari B. Dalam hal ini, B dikatakan superset dari A. Notasi himpunan bagian : A ⊆ B atau A ⊂ B ,
  • 8.
    Dua himpunan Adan B dikatakan sama jika setiap elemen himpunan B dan sebaliknya jika himpunan A sama dengan himpunan B, maka banyaknya elemen dan himpunan A selalu sama dengan banyaknya elemen himpunan B. urutan tidak diperhatikan. Contoh : Jika A= {a,b,c,d} dan B= {b,d,c,a} Maka himpunan A=B
  • 9.
    Dua buah himpunandikatakan ekivalen jika masing-masing mempunyai kardinalitas yang sama. Misalkan, himpunan A adalah ekivalen dengan himpunan B berarti kardinal dari himpunan A dan himpunan B adalah sama, notasi yang digunakan adalah : A ~ B Contoh : Misalkan A = { 2, 3, 5, 7 } dan B = { a, b, c, d }, maka A ~ B sebab ⏐A⏐ = ⏐B⏐ = 4
  • 10.
    Dua himpunan Adan B dikatakan saling lepas (disjoint) jika keduanya tidak memiliki unsur yang sama. Notasi yang digunakan adalah A // B . Contoh : Jika A = { x | x ∈ N, x < 10 } dan B = { 11, 12, 13, 14, 15 }, maka A // B.
  • 11.
    Himpunan kuasa (powerset) dari himpunan A merupakan suatu himpunan yang unsurunsurnya merupakan semua himpunan bagian dari A, termasuk himpunan kosong dan himpunan A sendiri. Himpunan kuasa dinotasikan oleh P(A). Jumlah anggota (kardinal) dari suatu himpunan kuasa bergantung pada kardinal himpunan asal. Misalkan, kardinalitas himpunan A adalah m, maka ⏐P(A)⏐ = 2m. Contoh : Jika A = { x, y }, maka P(A) = { ∅, { x }, { y }, { x, y }}
  • 12.
    a. Irisan (intersection) Irisanantara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘∩ ‘. Misalkan A dan B adalah himpunan yang tidak sa ling lepas, maka A ∩ B = { x | x ∈ A dan x ∈ B } Contoh ; 1. Misalkan A = {2, 3, 5, 7, 11} dan B = {3, 6, 9, 12}, maka A ∩ B = {3} b. Gabungan (union) Gabungan antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘∪‘. Misalkan A dan B adalah himpunan, maka A ∪ B = { x | x ∈ A atau x ∈ B } Contoh : (i) Jika A = { 2, 3, 5, 7} dan B = { 1, 2, 3, 4, 5 }, maka A ∪ B = { 1, 2, 3, 4, 5, 7}
  • 13.
    c. Komplemen (complement) Komplemendari suatu himpunan merupakan unsur -unsur yang ada pada himpunan universal (semesta pembicaraan ) kecuali anggota himpunan tersebut. Misalkan A merupakan himpunan yang berada pada semesta pembicaraan U, maka komplemen dari himpunan A dinotasikan oleh : A = { x | x ∈ U dan x ∉ A } Contoh : Misalkan U = { 1, 2, 3, ..., 9 }, jika A = {1, 3, 7, 9}, maka A = {2, 4, 5, 6, 8} d. Selisih (difference) Selisih antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘– ‘. Misalkan A dan B adalah himpunan, maka selisih A dan B dinotasikan oleh A – B = { x | x ∈ A dan x ∉ B } = A ∩ B Contoh : Jika A = { 1, 2, 3, ..., 10 } dan B = { 2, 3, 5, 7}, maka A – B = { 1, 4, 6, 8, 9 } dan B – A = ∅
  • 14.
    e. Beda Setangkup(Symmetric Difference) Beda setangkup antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘ ⊕ ‘. Misalkan A dan B adalah himpunan, maka beda setangkup antara A dan B dinotasikan oleh : A ⊕ B = (A ∪ B) – (A ∩ B) = (A – B) ∪ (B – A) Contoh : Jika A = { 2, 3, 5, 7} dan B = { 1, 2, 3, 4, 5 }, maka A ⊕ B = { 1, 4, 7 } f. Perkalian Kartesian (cartesian product) Perkalian kartesian antara dua buah himpunan dinotasikan oleh tanda ‘× ‘. Misalkan A dan B adalah himpunan, maka perkalian kartesian antara A dan B dinotasikan oleh : A × B = {(a, b) ⏐ a ∈ A dan b ∈ B } Contoh : (i) Misalkan C = {1, 2, 3}, dan D = { a, b }, maka C × D = { (1, a), (1, b), (2, a), (2, b), (3, a), (3, b) }
  • 15.
     Notasi perampatandapat mempermudah penulisan ekspresi yang panjang. Contoh : A ∩ ( B1 U B2 U ... U Bn ) = (A ∩ B1) U (A ∩ B2) U ... U (A ∩ Bn) menjadi : A ∩ ( U Bi ) = U ( A ∩ Bi ) n i = 1 n i = 1
  • 16.
    1. Hukum identitas: −A ∪ ∅ = A − A ∩ U = A 2. Hukum null/dominasi: − A ∩ ∅ = ∅ − A ∪ U = U 3. Hukum komplemen: − A ∪ A = U − A ∩ A = ∅ 4. Hukum idempoten: − A ∪ A = A − A ∩ A = A 5. Hukum involusi: ( ) A = A 6. Hukum penyerapan (absorpsi): − A ∪ (A ∩ B) = A − A ∩ (A ∪ B) = A 7. Hukum komutatif: − A ∪ B = B ∪ A − A ∩ B = B ∩ A
  • 17.
    8. Hukum asosiatif: −A ∪ (B ∪ C) = (A ∪ B) ∪ C − A ∩ (B ∩ C) = (A ∩ B) ∩ C 9. Hukum distributif: − A ∪ (B ∩ C) = (A ∪ B) ∩ (A ∪ C) − A ∩ (B ∪ C) = (A ∩ B) ∪ (A ∩ C) 10. Hukum De Morgan: − B A∩ = B A∪ − B A∪ = B A∩ 11. Hukum komplemen − ∅ = U − U = ∅
  • 18.
    Prinsip dualitas mengemukakanbahwa dua konsep yang berbeda dapat dipertukarkan namun tetap memberikan jawaban yang benar. Contoh : AS → kemudi mobil di kiri depan Indonesia→ kemudi mobil di kanan depan
  • 19.
    Penggabungan himpunan Adan B membentuk suatu himpunan baru yang tentu saja anggotanya berasal dari himpunan A dan himpunan B. Prinsip yang digunakan ketika bertemu kasus ini disebut prinsip inklusi-eksklusi. Rumusnya : |A B| = |A|+|B| - |A B| Contoh : Berapa banyak bilangan bulat antara 1-100 yang habis dibagi 3 dan 5 ? Jawab : Misalkan : A = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 5 A B = himpunan bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5, dapat dihitung dari KPK dari 3 dan 5 adalah 15 Maka untuk mencari jumlah bilangan yang habis dibagi 3 dan 5 dari range 1-100 (A B) dapat dilakukan dengan cara : 1. Menghitung |A|, |B| dan | A B| |A| = 100/3 =33 |B| = 100/5 = 20 | A B|=100/15 = 6 2. Masukan ke dalam rumus : |A B| = |A|+|B| - |A B| |A B| = |33|+|20| - |6| = 47 Sehingga diperoleh jumlah bilangan bulat yang habis dibagi 3 dan 5 untuk range 1-100 adalah 47 buah.
  • 20.
    Partisi dari sebuahhimpunan A adalah sekumpulan himpunan bagian tidak kosong A1,A2….dari A.
  • 21.
    Proposisi himpunan adalahpernyataan yang menggunakan notasi himpunan. Terdapat beberapa metode untuk membuktikan kebenaran proposisi himpunan, yaitu : 1. Pembuktian menggunakan diagram Venn Pembuktian menggunakan diagram venn dapat dilakukan dengan membuat bentuk diagram venn dari kedua ruas, yaitu ruas kanan dan ruas kiri. Apabila setelah digambarkan kedalam bentuk diagram venn keduanya sama, maka dapat disimpulkan bahwa kesamaan tersebut bernilai benar 2. Pembuktian menggunakan table keanggotaan Jika pembuktian menggunakan table keanggotaan, maka dapat direpresentasikan menggunakan 0 dan 1. Dimana 0 merepresentasikan bahwa suatu elemen adalah anggota himpunan dan 1 merepresentasikan bahwa suatu elemen bukan anggota himpunan. 3. Pembuktian menggunakan aljabar himpunan
  • 22.
     Himpunan gandaadalah himpunan yang elemenya boleh berulang Contoh : M = { 1, 1, 1, 2, 2, 2, 3, 3, 1 }, multiplisitas 1 adalah 4 dan multiplisitas 2 adalah 3, sementara itu multiplisitas 3 adalah 2.
  • 23.
    Misalkan, U merupakanhimpunan semesta pembicaraan (Universal Set). Crisp Set merupakan himpunan bagian dari U yang membedakan antara anggota dan bukan anggotanya dengan batasan yang jelas (pasti). Contoh : A = {x | x ∈ Z dan x > 2} atau A = {3, 4, 5, …} Jelas bahwa 3 ∈ A dan 1∉ A