• Pemilihan antibiotika:
• Ideal: berdasar kultur pus & tes sensitivitas
• Empiris:
• Campuran flora aerob dan anaerob (65-70%)
• Hanya anaerob (25-30%)
• Hanya aerob (5%)
PENICILLIN
Penicillin adalah antibiotik yang paling sering digunakan. Baik
yang alami maupun semisintesis mempunyai aktivitas
bakteriosidal sprektum luas, dan bekerja dengan jalan
mengganggu pembentukan dan keutuhan dinding sel bakteri.
• Penicillin V tersedia dalam bentuk tablet 125-250mg, dan 500
mg.
• Dosis untuk dewasa adalah 500 mg tiap 6 jam sesudah dosis
awal 1 gram, dengan kisaran sampai dengan 2 gram empat kali
sehari.
• Penicillin V juga tersedia dalam bentuk suspensi untuk anak-
anak dengan dosis 125 atau 250 mg/ 5 ml.
• Dosis biasa untuk anak dibawah 12 tahun adalah 15-62,5
mg/kg per berat badan, dibagi menjadi tiga sampai enam kali
sehari.
Penicillin adalah obat utama untuk mengobati sebagian besar
penyakit infeksi orofasial dan untuk profilaksis pada pasien
resiko tinggi terhadap infeksi, apabila tidak ada riwayat alergi.
Pemakaian antibiotik dalam perawatan medikasi lebih
diutamakan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran infeksi.
Pemilihan antibiotik dilakukan berdasarkan bakteri penyebab
infeksi.
Terdapat dua faktor mikrobiologi penting pada saat memilih
antibiotik.
1.antibiotik harus efektif melawan organisme
Streptococcus, selama bakteri ini adalah bakteri yang paling
banyak ditemukan.
2.antibiotik harus efektif melawan bakteri anaerobik sprektrum
luas.
Penisilin masih menjadi drug of choice yang sensitif terhadap
organisme
Streptococcus ( aerobik dan anaerobic ), namun sayangnya
antibiotik jenis ini dapat mengalami resistensi.
Penisilin dibagi menjadi :
1.penisilin murni
2. semi sintetik.
Untuk mengatasi hal tersebut, dapat digunakan penisilin semi
sintetik antara lain amfisilin ( sprektrum luas, tidak dirusak asam
lambung, tetapi dirusak oleh penisilinase ) dan kloksisilin ( efektif
terhadap abses, osteomielitis, tidak dirusak oleh asam lambung dan
tahan terhadap penisilinase)
( Soetiarto, 1997 ).
Penisilin murni memiliki beberapa kelemahan
1. tidak tahan asam lambung
2. inaktivasi oleh penisilinase
3. spektrum sempit dan sering menimbulkan sensitivitasi pada
penderita yang tidak tahan terhadap penisilin.
Gambar Struktur Kimia Penisilin
Penggunaan penisilin di dalam klinik antara lain adalah ampisilin
dan amoksisilin.
Absorbsi ampisilin oral seringkali tidak cukup memuaskan
sehingga perlu peningkatan dosis.
Absorbsi amoksisilin di saluran cerna jauh lebih baik daripada
ampisilin.
Dengan dosis oral yang sama, amoksisilin mencapai kadar dalam
darah yang tingginya kira - kira 2 kali lebih tinggi daripada
ampisilin, sedangkan masa paruh eleminasi kedua obat ini hampir
sama.
Penyerapan ampisilin terhambat oleh adanya makanan di
lambung, sedangkan amoksisilin tidak ( Ganiswara, 1995 ).
Namun, akhir - akhir ini penggunaan metronidazole sangat
populer dalam perawatan infeksi odontogen. Metronidazole tidak
memiliki aktivitas dalam melawan bakteri aerob, tetapi efektif
terhadap bakteri anaerob.
Pada anak-anak, kombinasi eritromisin dan sulfisoxazole sering
dianggap sebagai antibiotik pilihan pertama .
Klindamisin juga menyediakan tawaran yang baik, terutama
terhadap spesies anaerob. Penambahan metronidazol untuk
penisilin juga mencakup spektrum patogen yang lebih luas.
Sedangkan sinusitis kronis memerlukan 4-6 minggu cakupan
antibiotik. (Pynn et al, 2001)
Cephalosporin secara struktural dan farmakologis
mirip dengan penicillin. Bersifat bakterisid terhadap
Streptococcus dan Staphylococcus tetapi tidak efektif
terhadap sebagian coccus gram negatif dan batang yang
sering terlibat dalam infeksi orofasial.
Dosis pemakaiannya adalah 1-4 mg per hari dibagi
dalam beberapa dosis (setiap 6 jam atau dua kali sehari)
untuk dewasa dan 25-50 mg/ kg berat badan/hari, dibagi
menjadi empat dosis untuk anak-anak.
• AB pilihan golongan penicillin  sering resistensi
• Metronidazole membunuh bakteri anaerob
• Clindamycin : sempurna untuk aerob & anaerob.
• Bila AB -lactam telah digunakan selama 2-3 hari namun
tidak memberikan resolusi  diganti dengan AB lain yang
non -lactam atau -lactamase-stabile (clindamycin).
• Erythromycin penyerapannya jelek dan efektifitasnya kurang
• Amoxiclav: juga bermanfaat,
• Generasi I dan II Cephalosporin
• Tetracyclin tidak direkomendasi untuk infeksi yang serius.
• Quinolon memiliki manfaat yang terbatas terhadap bakteri
anaerob  kurang tepat
Terapi Antibiotik pada infeksi odontogen.pptx

Terapi Antibiotik pada infeksi odontogen.pptx

  • 2.
    • Pemilihan antibiotika: •Ideal: berdasar kultur pus & tes sensitivitas • Empiris: • Campuran flora aerob dan anaerob (65-70%) • Hanya anaerob (25-30%) • Hanya aerob (5%)
  • 3.
    PENICILLIN Penicillin adalah antibiotikyang paling sering digunakan. Baik yang alami maupun semisintesis mempunyai aktivitas bakteriosidal sprektum luas, dan bekerja dengan jalan mengganggu pembentukan dan keutuhan dinding sel bakteri.
  • 4.
    • Penicillin Vtersedia dalam bentuk tablet 125-250mg, dan 500 mg. • Dosis untuk dewasa adalah 500 mg tiap 6 jam sesudah dosis awal 1 gram, dengan kisaran sampai dengan 2 gram empat kali sehari. • Penicillin V juga tersedia dalam bentuk suspensi untuk anak- anak dengan dosis 125 atau 250 mg/ 5 ml. • Dosis biasa untuk anak dibawah 12 tahun adalah 15-62,5 mg/kg per berat badan, dibagi menjadi tiga sampai enam kali sehari.
  • 5.
    Penicillin adalah obatutama untuk mengobati sebagian besar penyakit infeksi orofasial dan untuk profilaksis pada pasien resiko tinggi terhadap infeksi, apabila tidak ada riwayat alergi. Pemakaian antibiotik dalam perawatan medikasi lebih diutamakan dengan tujuan untuk mencegah penyebaran infeksi. Pemilihan antibiotik dilakukan berdasarkan bakteri penyebab infeksi.
  • 6.
    Terdapat dua faktormikrobiologi penting pada saat memilih antibiotik. 1.antibiotik harus efektif melawan organisme Streptococcus, selama bakteri ini adalah bakteri yang paling banyak ditemukan. 2.antibiotik harus efektif melawan bakteri anaerobik sprektrum luas.
  • 7.
    Penisilin masih menjadidrug of choice yang sensitif terhadap organisme Streptococcus ( aerobik dan anaerobic ), namun sayangnya antibiotik jenis ini dapat mengalami resistensi. Penisilin dibagi menjadi : 1.penisilin murni 2. semi sintetik.
  • 8.
    Untuk mengatasi haltersebut, dapat digunakan penisilin semi sintetik antara lain amfisilin ( sprektrum luas, tidak dirusak asam lambung, tetapi dirusak oleh penisilinase ) dan kloksisilin ( efektif terhadap abses, osteomielitis, tidak dirusak oleh asam lambung dan tahan terhadap penisilinase) ( Soetiarto, 1997 ). Penisilin murni memiliki beberapa kelemahan 1. tidak tahan asam lambung 2. inaktivasi oleh penisilinase 3. spektrum sempit dan sering menimbulkan sensitivitasi pada penderita yang tidak tahan terhadap penisilin.
  • 9.
  • 10.
    Penggunaan penisilin didalam klinik antara lain adalah ampisilin dan amoksisilin. Absorbsi ampisilin oral seringkali tidak cukup memuaskan sehingga perlu peningkatan dosis. Absorbsi amoksisilin di saluran cerna jauh lebih baik daripada ampisilin. Dengan dosis oral yang sama, amoksisilin mencapai kadar dalam darah yang tingginya kira - kira 2 kali lebih tinggi daripada ampisilin, sedangkan masa paruh eleminasi kedua obat ini hampir sama. Penyerapan ampisilin terhambat oleh adanya makanan di lambung, sedangkan amoksisilin tidak ( Ganiswara, 1995 ).
  • 11.
    Namun, akhir -akhir ini penggunaan metronidazole sangat populer dalam perawatan infeksi odontogen. Metronidazole tidak memiliki aktivitas dalam melawan bakteri aerob, tetapi efektif terhadap bakteri anaerob. Pada anak-anak, kombinasi eritromisin dan sulfisoxazole sering dianggap sebagai antibiotik pilihan pertama . Klindamisin juga menyediakan tawaran yang baik, terutama terhadap spesies anaerob. Penambahan metronidazol untuk penisilin juga mencakup spektrum patogen yang lebih luas. Sedangkan sinusitis kronis memerlukan 4-6 minggu cakupan antibiotik. (Pynn et al, 2001)
  • 12.
    Cephalosporin secara strukturaldan farmakologis mirip dengan penicillin. Bersifat bakterisid terhadap Streptococcus dan Staphylococcus tetapi tidak efektif terhadap sebagian coccus gram negatif dan batang yang sering terlibat dalam infeksi orofasial. Dosis pemakaiannya adalah 1-4 mg per hari dibagi dalam beberapa dosis (setiap 6 jam atau dua kali sehari) untuk dewasa dan 25-50 mg/ kg berat badan/hari, dibagi menjadi empat dosis untuk anak-anak.
  • 13.
    • AB pilihangolongan penicillin  sering resistensi • Metronidazole membunuh bakteri anaerob • Clindamycin : sempurna untuk aerob & anaerob. • Bila AB -lactam telah digunakan selama 2-3 hari namun tidak memberikan resolusi  diganti dengan AB lain yang non -lactam atau -lactamase-stabile (clindamycin). • Erythromycin penyerapannya jelek dan efektifitasnya kurang • Amoxiclav: juga bermanfaat, • Generasi I dan II Cephalosporin • Tetracyclin tidak direkomendasi untuk infeksi yang serius. • Quinolon memiliki manfaat yang terbatas terhadap bakteri anaerob  kurang tepat