Pertemuan ke 14
Proses Menulis
Proses atau tahapan pendekatan
keterampilan menulis kalau digambarkan
  dalam bentuk bagan sbb,
Mengamati
     Menggolongkan
         Menafsirkan
              Menerapkan
                   Mengkomunikasikan
a. Mengamati
       Dalam kegiatan ini, siswa diberikan
kesempatan untuk menatap sebuah benda /
  objek tertentu dengan teliti.
Sebaiknya pada waktu proses pengamatan
ini, siswa mencatat hal-hal yang sangat
perlu yang nanti akan dijadikan pokok
  pikiran yang akan dikembangkan dalam
  menulis.
Misalnya,
         Pada pagi hari anak-anak disuruh mengamati
   bagaimana keindahan alam ketika matahari terbit.
Pokok pikiran yang perlu dicatat a.l
a. jam berapa matahari mulai terbit ditempat
   pengamatan?
b. dimana tempat pengamatan itu?
c. bagaimana kesan yang timbul setelah melihat
   matahari terbit?
d. berapa lama pengamatan dimulai?
b. Menggolongkan.
   Kegiatan ini dalam proses menggolongkan
   atau mencari persamaan, perbedaan atau
   mengelompokan sesuatu.
      Dikaitkan dengan contoh tersebut di atas,
      kegiatan ini dapat dilakukan dengan
      mengelompokan kata-kata yang dapat
      digunakan sebagai penulisan pokok pikiran /
      pengelompokan jenis karangan yang akan
      disusun sesuai dengan objek yang diamati.
Apakah karangan dalam bentuk puisi, atau
 bentuk prosa.
Kalau puisi, bagaimana bentuknya?
Kalau prosa, apakah prosa deskripsi, narasi,
 eksposisi, argumentasi yang sesuai
 dengan objek yang diamati.
Kalau sudah ditetapkan bentuk yang tepat
 digunakan untuk menuangkan objek yang
 diamati, kita lanjutkan ketahap berikutnya.
c. Menafsirkan.
   Kegiatan menafsirkan ialah kegiatan
   mempertimbangkan untuk mencari bentuk
   atau pola bagaimana yang akan
   dikembangkan dalam menulis tersebut.
   Penulis harus dapat menduga kirta-kira
   bagaimana kerangka tulisan yang akan
   dikembangkan.
   Berapa paragraf yang dapat dikembangkan pada
   setiap sub bagian dari kerangka tulisan tersebut.
Gaya bahasa yang bagaimana yang akan
 digunakan.
Bagaimana alur pengisahannya dalam
 penulisan tersebut yang sesuai dengan
 data hasil pengamatan dan hasil
 pengelompokan tersebut.
d.Menafsirkan.
  Guru memberi kesempatan pada siswa
  untuk menerapkan hasil pengamatan,
  penggolongan dan penafsiran dalam
  bentuk tulisan.
  Para siswa mencoba menuliskan hasil
  pengamatan itu ke dalam bentuk yang
  telah ditetapkan pada proses sebelumnya.
Misalnya.
Menerapkan konsep, kaidah penulisan,
 menyusun sebuah wacana, menulis
 paragraf, menyusun kalimat, kata
 bentukan dengan memperhatikan ejaan
 serta penulisan bahasa Indonesia yang
 benar.
e.Mengkomunikasikan.
  Pada tahap akhir dari keterampilan
  proses ialah mengkomunikasikan hasil
  pengamatan, penggolongan, penafsiran,
  penerapan teori kedalam sebuah karya
  tulis.
  Pada tahapan ini, penulis mencoba menulis
  karangan berdasarkan objek nyata yang telah
  diamatinya.
Objek nyata dapat berupa benda-benda faktual
  yang bersifat alamiah atau dalam bentuk model,
  seperti gambar atau rekaan.
Selain ini aktivitas menulis mengikuti alur proses
  yang terdiri dari beberapa tahapan a.l
1. pemilihan dan pembahasan masalah.
2. pengumpulan bahan.
3. penyusunan bahan.
4. pembuatan kerangka karangan.
5. revisi.
6. penulisan naskah akhir.
Akhadiah 1989 mengemukakan beberapa tahapan dalam
   proses menulis a.l
1. pra menulis
2. penulisan
3. revisi
Secara padat proses penulisan terdiri dari lima tahap a.l
a. pra menulis
b. menulis
c. merevisi
d. mengedit
e. mempublikasikan
Pra menulis.
Pra menulis merupakan tahap persiapan.
Pada tahap ini penulis melakukan berbagai
  kegiatan a.l
Menemukan ide gagasan, menentukan
  tujuan, memilih judul karangan,
  menentukan tujuan, memilih bentuk dan
  jenis tulisan, membuat kerangka serta
  mengumpulkan bahan-bahan.
Ide tulisan dapat bersumber dari pengalaman,
  observasi, bahan bacaan dan imajinasi.
Oleh karena itu pada tahap pra menulis diperlukan
  stimulus untuk merangsang munculnya respon
  yang berupa ide/gagasan.
Kegiatan ini dapat dilakukan melalui beberapa
  aktivitas misalnya, membaca buku, surat kabar,
  majalah dan sejenisnya.
Pengembangan ide ke dalam kerangka
  karangan dapat menggunakan berbagai
  pola pengembangan.
Secara umum karangan terdiri atas tiga
  bagian yaitu
a. pendahuluan
b. pengembangan
c. penutup
Pada bagian pendahuluan dikemukakan
 latar belakang masalah.
Permasalahan yang akan dikemukakan
 dan pendekatan yang akan digunakan
 untuk menguraikan masalah.
Penutup biasanya berisi kesimpulan dan
 saran
Pengembangan masalah dapat dilakukan
 dengan pola alamiah dan rasional.
Pada alamiah, pola pengembang yang
 disesuaikan dengan urutan waktu
 terjadinya peristiwa/ kronologis, dan
 urutan tempat dan ruang/ spase order.
Sementara pengembangan secara rasional
  dapat dilakukan a.l
a. urutan sebab akibat atau sebaliknya
b. problem salving atau pemecahan
   masalah
c. aspek
d. topik
Dalam penulisan cerita anak dapat
 digunakan dengan pola alamiah.
Sementara naskah pidato untuk suatu
 kegiatan seminar dapat disusun dengan
 pola pengembangan problem salving.
Menulis.
Tahap menulis dimulai dengan menjabarkan
  ide ke dalam bentuk tulisan.
Ide dituangkan dalam bentuk kalimat dan
  paragraf.
Selanjutnya paragraf dirangkaikan menjadi
  satu karangan utuh.
Pada tahap ini diperlukan beberapa
 pengetahuan kebahasaan dan tenik
 penulisan.
Pengetahuan kebahasaan digunakan untuk
 pemilihan kata, penentuan gaya bahasa,
 pembentukan kalimat.
Teknik penulisan digunakan untuk
 penyusunan karangan secara utuh.
Pada akhir kegiatan ini penulis dapat
  menentukan judul.
Syarat penentuan judul a.l
a. singkat
b. pro aktif
c. relevan dengan isi
Judul sebaiknya disusun dalam bentuk frase
  bukan kalimat.
1.   Merevisi.
2.   Pada tahap ini dilakukan koreksi
     terhadap seluruh karangan.
3.   Koreksi dilakukan terhadap berbagai
     aspek, misalnya struktur karangan dan
     kebahasaan.
4.   Struktur karangan meliputi a.l penataan
     ide, pokok dan ide penjelas, serta
     sistematika serta penalarannya.
Aspek kebahasaan meliputi a.l pilihan kata,
 struktur bahasa, ejaan dan tanda baca.
Pada tahap revisi masih dimungkinkan
 mengubah judul karangan apabila judul
 yang telah ditentukan dirasakan oleh
 penulis kurang tepat.
Mengedit.
Bila karangan sudah dianggap sempurna,
  penulis tinggal melakukan tahap
  pengeditan.
Dalam pengeditan ini diperlukan format
  baku yang akan menjadi acuan, misalnya
  ukuran kertas, bentuk tulisan dan
  pengaturan spasi.
Proses pengeditan dapat diperluas dan
  disempurnakan dengan penyediaan gambar
  atau illustrasi.
Hal ini dimaksud agar tulisan itu lebih mudah
  dipahami dan menarik.
Gambar dan illustrasi untuk melengkapi tulisan
  yang dikomsumsikan untuk anak sebaiknya
  berwarna.
Disamping menarik,warna yang dipakai dapat
  digunakan untuk melatih akan pengenalan
  warna.
Mempublikasikan.
Mempublikasikan mempunyai dua pengertian.
Pengertian pertama, berarti menyampaikan
  karangan kepada publik dalam bentuk cetakan,
  sedangkan pengertian kedua, menyampaikan
  dalam bentuk mencetakkan.
Penyampaian mencetakkan dapat dilakukan
  dengan pementasan penceritaan, peragaan dsb.
Karangan berbentuk cerita anak dapat
 disampaikan melalui majalah, dapat
 juga disampaikan secara lisan.
Secara sederhana karangan anak
 dapat dipublikasikan lewat papan
 tempel, atau dibacakan di depan
 kelas.
Publikasi semacam itu memiliki
 dampak psikologi yang amat baik.
Penanyangan hasil karya anak dapat
 berfungsi ganda, disamping untuk
 penguatan juga dapat untuk memacu
 semangat bersaing secara positif.
Cerita anak termasuk bentuk prosa.
Sumber cerita dapat berupa peristiwa atau
 pengalaman yang benar-benar terjadi
 atau dapat juga berupa cerita rekaan/
 imajinasi.
Cerita anak memiliki unsur a.l
1. tokoh dan penokohan
2. alur atau plot
3. latar atau setting
4. tema
5. pusat pengisahan
6. amanat dan bahasa
Anak biasanya cenderung suka pada tema
  kepahlawanan, kemanusiaan, dan
  petualangan.
Alur cerita anak biasanya amat sederhana
  Setting dapat terjadi dimana saja.
Tema cerita disesuaikan dengan
  perkembangan kejiwaan anak.
Pusat pengisahan cerita, pengarang dapat
  memilih gaya dia atau gaya aku.
Bahasa yang digunakan dalam cerita anak
  harus sesuai dengan perkembangan
  bahasa anak.
Kata-katanya sederhana, konkrit serta lebih
  mudah dicerna oleh pikiran anak.
Dialog-dialog pendek perlu disampaikan
  agar cerita lebih menarik dan bersifat
  alami.
Prinsip-prinsip dalam
       perkembangan menulis
Prinsip terulangan.
Anak menyadari bahwa dalam suatu kata
  bentuk yang sama terjadi berulang-ulang.
Mereka memperagakannya dengan cara
  menggunakan suatu bentuk secara
  berulang-ulang.
Prinsip generatif.
Anak menyadari bentuk-bentuk tulisan lebih
  rinci, menggunakan beberapa huruf dalam
  kombinasi dan pola yang beragam.
Mereka mulai memperhatikan adanya
  keteraturan huruf dalam suatu kata.
Konsep tanda.
Anak memahami kearbritrean tanda-tanda
 dalam bahasa tulis.
Untuk mempermudah kegiatan komunikasi,
 orang dewasa perlu menghubungkan
 benda tertentu dengan kata yang
 mewakilinya.
Fleksibelitas.
Anak menyadari bahwa suatu tanda secara
  fleksibelitas dapat berupa menjadi tanda
  yang lain.
Dengan menambahkan tanda-tanda tertentu
  huruf I dapat berubah menjadi huruf T, E
  dan F.
Arah tanda.
Anak menyadari bahwa tulisan bersifat
  linier, bergerak dari satu huruf ke huruf
  yang lain sampai membentuk suatu kata,
  dari arah kiri menuju ke arah kanan,
  bergerak dari baris yang satu menuju ke
  baris yang lain.
Temple dkk 1988 mengidentifikasikan ada
  lima tahap perkembangan tulisan anak a.l
Pra fonetik
Fonetik tahap awal
Nama huruf
Transisi
  Menguasai
Tahap Pra fonetik.
Dalam tahap ini anak sudah mengenal
 bentuk dan ukuran huruf.
Tahap fonetik awal.
Dalam tahap ini anak mulai mengenali
 prinsip-prinsip fonetik, tahu cara kerja
 tulisan, tapi keterampilan mengoperasikan
 prinsip fonetik masih sangat terbatas.
Tahap nama huruf.
Dalam tahap ini anak mulai dapat
 menerapkan prinsip fonetik.
Anak sudah dapat menggunakan huruf-
 huruf untuk memiliki bunyi-bunyi yang
 membentuk suatu kata.
Tahap transisi.
Dalam tahap ini penguasaan anak terhadap
 sitem tata tulis semakin lengkap.
Tahap menguasai.
Dalam tahap ini anak sudah dapat
 menerapkan dengan baik semua sitem
 tertulis.

Pertemuan ke 14

  • 1.
  • 2.
    Proses Menulis Proses atautahapan pendekatan keterampilan menulis kalau digambarkan dalam bentuk bagan sbb, Mengamati Menggolongkan Menafsirkan Menerapkan Mengkomunikasikan
  • 3.
    a. Mengamati Dalam kegiatan ini, siswa diberikan kesempatan untuk menatap sebuah benda / objek tertentu dengan teliti. Sebaiknya pada waktu proses pengamatan ini, siswa mencatat hal-hal yang sangat perlu yang nanti akan dijadikan pokok pikiran yang akan dikembangkan dalam menulis.
  • 4.
    Misalnya, Pada pagi hari anak-anak disuruh mengamati bagaimana keindahan alam ketika matahari terbit. Pokok pikiran yang perlu dicatat a.l a. jam berapa matahari mulai terbit ditempat pengamatan? b. dimana tempat pengamatan itu? c. bagaimana kesan yang timbul setelah melihat matahari terbit? d. berapa lama pengamatan dimulai?
  • 5.
    b. Menggolongkan. Kegiatan ini dalam proses menggolongkan atau mencari persamaan, perbedaan atau mengelompokan sesuatu. Dikaitkan dengan contoh tersebut di atas, kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengelompokan kata-kata yang dapat digunakan sebagai penulisan pokok pikiran / pengelompokan jenis karangan yang akan disusun sesuai dengan objek yang diamati.
  • 6.
    Apakah karangan dalambentuk puisi, atau bentuk prosa. Kalau puisi, bagaimana bentuknya? Kalau prosa, apakah prosa deskripsi, narasi, eksposisi, argumentasi yang sesuai dengan objek yang diamati. Kalau sudah ditetapkan bentuk yang tepat digunakan untuk menuangkan objek yang diamati, kita lanjutkan ketahap berikutnya.
  • 7.
    c. Menafsirkan. Kegiatan menafsirkan ialah kegiatan mempertimbangkan untuk mencari bentuk atau pola bagaimana yang akan dikembangkan dalam menulis tersebut. Penulis harus dapat menduga kirta-kira bagaimana kerangka tulisan yang akan dikembangkan. Berapa paragraf yang dapat dikembangkan pada setiap sub bagian dari kerangka tulisan tersebut.
  • 8.
    Gaya bahasa yangbagaimana yang akan digunakan. Bagaimana alur pengisahannya dalam penulisan tersebut yang sesuai dengan data hasil pengamatan dan hasil pengelompokan tersebut.
  • 9.
    d.Menafsirkan. Gurumemberi kesempatan pada siswa untuk menerapkan hasil pengamatan, penggolongan dan penafsiran dalam bentuk tulisan. Para siswa mencoba menuliskan hasil pengamatan itu ke dalam bentuk yang telah ditetapkan pada proses sebelumnya.
  • 10.
    Misalnya. Menerapkan konsep, kaidahpenulisan, menyusun sebuah wacana, menulis paragraf, menyusun kalimat, kata bentukan dengan memperhatikan ejaan serta penulisan bahasa Indonesia yang benar.
  • 11.
    e.Mengkomunikasikan. Padatahap akhir dari keterampilan proses ialah mengkomunikasikan hasil pengamatan, penggolongan, penafsiran, penerapan teori kedalam sebuah karya tulis. Pada tahapan ini, penulis mencoba menulis karangan berdasarkan objek nyata yang telah diamatinya.
  • 12.
    Objek nyata dapatberupa benda-benda faktual yang bersifat alamiah atau dalam bentuk model, seperti gambar atau rekaan. Selain ini aktivitas menulis mengikuti alur proses yang terdiri dari beberapa tahapan a.l 1. pemilihan dan pembahasan masalah. 2. pengumpulan bahan. 3. penyusunan bahan. 4. pembuatan kerangka karangan. 5. revisi. 6. penulisan naskah akhir.
  • 13.
    Akhadiah 1989 mengemukakanbeberapa tahapan dalam proses menulis a.l 1. pra menulis 2. penulisan 3. revisi Secara padat proses penulisan terdiri dari lima tahap a.l a. pra menulis b. menulis c. merevisi d. mengedit e. mempublikasikan
  • 14.
    Pra menulis. Pra menulismerupakan tahap persiapan. Pada tahap ini penulis melakukan berbagai kegiatan a.l Menemukan ide gagasan, menentukan tujuan, memilih judul karangan, menentukan tujuan, memilih bentuk dan jenis tulisan, membuat kerangka serta mengumpulkan bahan-bahan.
  • 15.
    Ide tulisan dapatbersumber dari pengalaman, observasi, bahan bacaan dan imajinasi. Oleh karena itu pada tahap pra menulis diperlukan stimulus untuk merangsang munculnya respon yang berupa ide/gagasan. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui beberapa aktivitas misalnya, membaca buku, surat kabar, majalah dan sejenisnya.
  • 16.
    Pengembangan ide kedalam kerangka karangan dapat menggunakan berbagai pola pengembangan. Secara umum karangan terdiri atas tiga bagian yaitu a. pendahuluan b. pengembangan c. penutup
  • 17.
    Pada bagian pendahuluandikemukakan latar belakang masalah. Permasalahan yang akan dikemukakan dan pendekatan yang akan digunakan untuk menguraikan masalah. Penutup biasanya berisi kesimpulan dan saran
  • 18.
    Pengembangan masalah dapatdilakukan dengan pola alamiah dan rasional. Pada alamiah, pola pengembang yang disesuaikan dengan urutan waktu terjadinya peristiwa/ kronologis, dan urutan tempat dan ruang/ spase order.
  • 19.
    Sementara pengembangan secararasional dapat dilakukan a.l a. urutan sebab akibat atau sebaliknya b. problem salving atau pemecahan masalah c. aspek d. topik
  • 20.
    Dalam penulisan ceritaanak dapat digunakan dengan pola alamiah. Sementara naskah pidato untuk suatu kegiatan seminar dapat disusun dengan pola pengembangan problem salving.
  • 21.
    Menulis. Tahap menulis dimulaidengan menjabarkan ide ke dalam bentuk tulisan. Ide dituangkan dalam bentuk kalimat dan paragraf. Selanjutnya paragraf dirangkaikan menjadi satu karangan utuh.
  • 22.
    Pada tahap inidiperlukan beberapa pengetahuan kebahasaan dan tenik penulisan. Pengetahuan kebahasaan digunakan untuk pemilihan kata, penentuan gaya bahasa, pembentukan kalimat. Teknik penulisan digunakan untuk penyusunan karangan secara utuh.
  • 23.
    Pada akhir kegiatanini penulis dapat menentukan judul. Syarat penentuan judul a.l a. singkat b. pro aktif c. relevan dengan isi Judul sebaiknya disusun dalam bentuk frase bukan kalimat.
  • 24.
    1. Merevisi. 2. Pada tahap ini dilakukan koreksi terhadap seluruh karangan. 3. Koreksi dilakukan terhadap berbagai aspek, misalnya struktur karangan dan kebahasaan. 4. Struktur karangan meliputi a.l penataan ide, pokok dan ide penjelas, serta sistematika serta penalarannya.
  • 25.
    Aspek kebahasaan meliputia.l pilihan kata, struktur bahasa, ejaan dan tanda baca. Pada tahap revisi masih dimungkinkan mengubah judul karangan apabila judul yang telah ditentukan dirasakan oleh penulis kurang tepat.
  • 26.
    Mengedit. Bila karangan sudahdianggap sempurna, penulis tinggal melakukan tahap pengeditan. Dalam pengeditan ini diperlukan format baku yang akan menjadi acuan, misalnya ukuran kertas, bentuk tulisan dan pengaturan spasi.
  • 27.
    Proses pengeditan dapatdiperluas dan disempurnakan dengan penyediaan gambar atau illustrasi. Hal ini dimaksud agar tulisan itu lebih mudah dipahami dan menarik. Gambar dan illustrasi untuk melengkapi tulisan yang dikomsumsikan untuk anak sebaiknya berwarna. Disamping menarik,warna yang dipakai dapat digunakan untuk melatih akan pengenalan warna.
  • 28.
    Mempublikasikan. Mempublikasikan mempunyai duapengertian. Pengertian pertama, berarti menyampaikan karangan kepada publik dalam bentuk cetakan, sedangkan pengertian kedua, menyampaikan dalam bentuk mencetakkan. Penyampaian mencetakkan dapat dilakukan dengan pementasan penceritaan, peragaan dsb.
  • 29.
    Karangan berbentuk ceritaanak dapat disampaikan melalui majalah, dapat juga disampaikan secara lisan. Secara sederhana karangan anak dapat dipublikasikan lewat papan tempel, atau dibacakan di depan kelas. Publikasi semacam itu memiliki dampak psikologi yang amat baik.
  • 30.
    Penanyangan hasil karyaanak dapat berfungsi ganda, disamping untuk penguatan juga dapat untuk memacu semangat bersaing secara positif. Cerita anak termasuk bentuk prosa. Sumber cerita dapat berupa peristiwa atau pengalaman yang benar-benar terjadi atau dapat juga berupa cerita rekaan/ imajinasi.
  • 31.
    Cerita anak memilikiunsur a.l 1. tokoh dan penokohan 2. alur atau plot 3. latar atau setting 4. tema 5. pusat pengisahan 6. amanat dan bahasa
  • 32.
    Anak biasanya cenderungsuka pada tema kepahlawanan, kemanusiaan, dan petualangan. Alur cerita anak biasanya amat sederhana Setting dapat terjadi dimana saja. Tema cerita disesuaikan dengan perkembangan kejiwaan anak. Pusat pengisahan cerita, pengarang dapat memilih gaya dia atau gaya aku.
  • 33.
    Bahasa yang digunakandalam cerita anak harus sesuai dengan perkembangan bahasa anak. Kata-katanya sederhana, konkrit serta lebih mudah dicerna oleh pikiran anak. Dialog-dialog pendek perlu disampaikan agar cerita lebih menarik dan bersifat alami.
  • 34.
    Prinsip-prinsip dalam perkembangan menulis Prinsip terulangan. Anak menyadari bahwa dalam suatu kata bentuk yang sama terjadi berulang-ulang. Mereka memperagakannya dengan cara menggunakan suatu bentuk secara berulang-ulang.
  • 35.
    Prinsip generatif. Anak menyadaribentuk-bentuk tulisan lebih rinci, menggunakan beberapa huruf dalam kombinasi dan pola yang beragam. Mereka mulai memperhatikan adanya keteraturan huruf dalam suatu kata.
  • 36.
    Konsep tanda. Anak memahamikearbritrean tanda-tanda dalam bahasa tulis. Untuk mempermudah kegiatan komunikasi, orang dewasa perlu menghubungkan benda tertentu dengan kata yang mewakilinya.
  • 37.
    Fleksibelitas. Anak menyadari bahwasuatu tanda secara fleksibelitas dapat berupa menjadi tanda yang lain. Dengan menambahkan tanda-tanda tertentu huruf I dapat berubah menjadi huruf T, E dan F.
  • 38.
    Arah tanda. Anak menyadaribahwa tulisan bersifat linier, bergerak dari satu huruf ke huruf yang lain sampai membentuk suatu kata, dari arah kiri menuju ke arah kanan, bergerak dari baris yang satu menuju ke baris yang lain.
  • 39.
    Temple dkk 1988mengidentifikasikan ada lima tahap perkembangan tulisan anak a.l Pra fonetik Fonetik tahap awal Nama huruf Transisi Menguasai
  • 40.
    Tahap Pra fonetik. Dalamtahap ini anak sudah mengenal bentuk dan ukuran huruf. Tahap fonetik awal. Dalam tahap ini anak mulai mengenali prinsip-prinsip fonetik, tahu cara kerja tulisan, tapi keterampilan mengoperasikan prinsip fonetik masih sangat terbatas.
  • 41.
    Tahap nama huruf. Dalamtahap ini anak mulai dapat menerapkan prinsip fonetik. Anak sudah dapat menggunakan huruf- huruf untuk memiliki bunyi-bunyi yang membentuk suatu kata.
  • 42.
    Tahap transisi. Dalam tahapini penguasaan anak terhadap sitem tata tulis semakin lengkap. Tahap menguasai. Dalam tahap ini anak sudah dapat menerapkan dengan baik semua sitem tertulis.