PERNIKAHAN
DALAM ISLAM
OLEH :
AAM RIDWAN M
NIP. 198707072019031023
HAKEKAT PERKAWINAN
 Allah menciptakan manusia, pria dan wanita, dengan
sifat fitrah yang khas. Manusia memiliki naluri, perasaan,
dan akal. Adanya rasa cinta kasih antara pria dan wanita
merupakan fitrah manusia.
 Hubungan khusus antar jenis kelamin antara keduanya
terjadi secara alami karena adanya gharizatun nau’
(naluri seksual/berketurunan).
 Perkawinan adalah fitrah manusia, yang dilakukan melalui akad
nikah (pernikahan), sehingga suatu hubungan menjadi sah dan
halal, bukan dengan cara yang diharamkan yang telah menyimpang
dari ajaran Islam.
 Perkawinan memberikan pemenuhan kebutuhan sosial yang besar
artinya bagi keberlangsungan hidup manusia.
 Secara Psikologis, perkawinan merupakan sarana yang dapat
memenuhi kebutuhan manusia baik terhadap ingin dilindungi, rasa
aman, cinta dan kasih sayang.
 Bila suatu pernikahan dilandasi mencari keridhaan Allah SWT dan
menjalankan sunnah Rasul, bukan semata-mata karena kecantikan
fisik atau memenuhi hasrat hawa nafsunya, maka Allah akan
menjamin kehidupan rumah tangga keduanya yang harmonis,
penuh cinta, dan kasih sayang,
Firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum : 21
"Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia
menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya
kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan
dijadikanNya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat terdapat tanda-
tanda bagi kaum yang berfikir". (QS.Ar-Ruum : 21)
PERTANYAANNYA......
 PADA UMUR BERAPA KIRA-KIRA KAMU AKAN
MENIKAH?
 KRITERIA PASANGAN (ISTRI / SUAMI) SEPERTI APA
YANG KAMU INGINKAN?
 BAGAIMANA RENCANA YANG AKAN KAMU JALANI UNTUK
MENJAGA AGAR KELUARGA SLALU HARMONIS DAN
BERBAHAGIA?
 BAGAIMANA PERASAANMU APABILA PASANGANMU ITU TIDAK
SESUAI HARAPAN?
PENGERTIAN
 SUATU AKAD YANG
MENGHALALKAN PERGAULAN
ANTARA SEORANG LAKI-LAKI
DENGAN PEREMPUAN YANG
BUKAN MAHRAMNYA HINGGA
MENIMBUKAN HAK DAN
KEWAJIBAN KEPADA KEDUANYA
DENGAN MENGGUNAKAN
LAFADZ INKAH ATAU TAZWIJ.
 SECARA UMUM, NIKAH YAITU
IKATAN LAHIR BATIN YANG
DILAKSANAKAN SESUAI
SYARIAT ISLAM ANTARA LAKI2
DAN PEREMPUAN
DASAR HUKUM
 ‫ي‬ِ‫ف‬ ‫وا‬ُ‫ط‬ِ‫س‬ْ‫ق‬ُ‫ت‬ ‫ا‬‫َّل‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ف‬ ِ‫خ‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬‫ا‬َ‫م‬ ‫وا‬ُ‫ح‬ِ‫ك‬ْ‫ن‬‫ا‬َ‫ف‬ ٰ‫ى‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬
َ‫و‬ ٰ‫َى‬‫ن‬ْ‫ث‬َ‫م‬ ِ‫اء‬َ‫س‬ِ‫الن‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ َ‫اب‬َ‫ط‬ْ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ۖ َ‫ع‬‫ا‬َ‫ب‬ُ‫ر‬ َ‫و‬ َ‫ث‬ َ‫َل‬ُ‫ث‬
َ‫أ‬ ً‫ة‬َ‫د‬ ِ‫اح‬ َ‫و‬َ‫ف‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ِ‫د‬ْ‫ع‬َ‫ت‬ ‫ا‬‫َّل‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ف‬ ِ‫خ‬ْ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ن‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ي‬َ‫أ‬ ْ‫ت‬َ‫ك‬َ‫ل‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬ ْ‫و‬َۚ‫ك‬ِ‫ل‬َٰ‫ذ‬
‫ا‬‫َّل‬َ‫أ‬ ٰ‫َى‬‫ن‬ْ‫د‬َ‫أ‬‫وا‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫ع‬َ‫ت‬
 Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil
terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana
kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat.
Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil,
maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang
kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat
kepada tidak berbuat aniaya.
HUKUM NIKAH
Wajib
wajib, apabila bersangkutan mempunyai keinginan biologis yang
kuat, sehingga untuk menghindari dari hal-hal yang diharamkan,
maka hukumnya wajib untuk menikah.
Juga jika yang bersangkutan telah mampu dan siap menjalankan
tanggung jawab dalam rumah tangga.
Sunnah
Sunnah, apabila yang bersangkutan:
 Siap dan mampu menjalankan keinginan biologi
 Siap dan mampu melaksanakan tanggung jawab berumah tangga.
Makruh
Makruh, apabila yang bersangkutan tidak mempunyai kesanggupan
menyalurkan kebutuhan biologis, walaupun sanggup melaksanakan
tanggung jawab nafkah dan lain-lain.
Atau sebaliknya dia mampu menyalurkan kebutuhan biologisnya,
tetapi tidak mampu bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban
dalam rumah tangga.
Haram
Haram, apabila dia mempunyai penyakit kelamin yang akan
menular kepada pasangannya juga keturunannya. Sebaiknya,
sebelum menikah periksakan kesehatan untuk memastikan
keadaan kita.
Apabila yang yang mengidap penyakit berbahaya meneruskan
pernikahannya, dia akan mendapat dosa karena dengan sengaja
menularkan penyakit kepada pasangannya.
MAHRAM NIKAH
 ORANG (LAKI2/PEREMUAN) YANG HARAM DI NIKAHI
 SEBAB-SEBABNYA ADA
1. HARAM DINIKAHI SELAMANYA
2. HARAM DINIKAHI DALAM WAKTU SEMENTARA
SKEMA MAHRM NIKAH
KAFAAH
(KESAMAAN, KECOCOKAN, KESETARAAN)
 HUKUM KAFAAH
Hak Perempuan dari walinya
Jika perempuan rela dinikahi laki2 yg tidak sekufu dan walinya tidak
rela, maka si wali berhak mengajukan fasak (batal nikah) begitu pun
sebaliknya.
- ukuran nasab, ketaatan , agama, profesi dan kekayaan
- Kepatuhan dalam ketaatan menjalankan agama
AKAD NIKAH
 Secara bahasa, arti akad nikah adalah
menghimpun dan menyatukan. Sedangkan
menurut syara’, yang dimaksud dengan akad
nikah adalah sebuah akad (ikatan/kesepakatan)
yang menyebabkan halalnya hubungan antara
laki-laki dan perempuan sesuai dengan aturan
yang digariskan oleh syara’
 Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung
antara dua pihak yang melangsungkan
pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul. Aqad
nikah dalam Islam berlangsung sangat
sederhana, terdiri dari dua kalimat "ijab dan
qabul". Ijab adalah penyerahan dari pihak
pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan
dari pihak kedua.
 Allah juga menyebutkan aqad nikah antara dua orang anak manusia
sebagai "Mitsaqon gholizho". Karena janganlah pasangan suami
istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai.
 Firman Allah SWT :
"Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali padahal kalian
sudah berhubungan satu sama lain sebagai suami istri. Dan
para istri kalian sudah melakukan dengan kalian perjanjian
yang berat "Mitsaqon gholizho"." (Q.S An-Nisaa: 21).
RUKUN DAN SYARAT SAH
AKAD NIKAH
RUKUN AKAD NIKAH
1. Ijab- Qabul
Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam
menyerahkan mempelai wanita kepada mempelai
pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam
menerima ijab) sebagai bukti kerelaan kedua belah
pihak.
Syarat ijab qabul:
Diucapkan dengan bahasa yang dimengerti oleh
semua pihak yang hadir.
Menyebut jelas pernikahan dan nama mempelai
pria-wanita
2. Adanya mempelai pria
Syarat mempelai pria adalah :
Muslim dan mukallaf (sehat akal-baligh-
merdeka)
Bukan mahrom dari calon isteri.
Tidak dipaksa.
Orangnya jelas.
Tidak sedang melaksanakan ibadah
haji.
3. Adanya mempelai wanita.
Syarat mempelai wanita :
 Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan
kafirah/musyrikah) dan mukallaf;
 Tidak ada halangan syar’i (tidak bersuami, tidak dalam
masa ‘iddah dan bukan mahrom dari calon suami).
 Tidak dipaksa.
 Orangnya jelas.
 Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
4. Adanya wali.
 Dalam Islam, calon pengantin perempuan harus
dinikahkan oleh walinya. Tidak boleh menikahkan dirinya
sendiri
Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap perempuan yang tidak dinikahkan oleh
walinya, maka nikahnya bathil, jika terlanjur kawin
berhak mendapatkan maharnya, karena ia sudah
digauli, jika mereka berselisih pendapat, maka
hakimlah yang berwenang menjadi wali perempuan
yang tidak memiliki wali.”
(Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1524, Ibnu Majah I:605
no:1)
Syarat menjadi wali
 Walaupun sudah termasuk golongan yang berhak
menjadi wali nikah, belum sah menjadi wali nikah
sampai syarat-syarat berikut terpenuhi Syarat wali
adalah :
 Muslim laki-laki dan mukallaf (sehat akal-baligh-
merdeka).
 Adil
 Tidak dipaksa.
 Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Tingkatan dan urutan wali
 Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:
 Ayah
 Kakek
 Saudara laki-laki sekandung
 Saudara laki-laki seayah
 Anak laki-laki dari saudara laki – laki sekandung
 Anak laki-laki dari saudara laki – laki seayah
 Paman sekandung
 Paman seayah
 Anak laki-laki dari paman sekandung
 Anak laki-laki dari paman seayah.
 Hakim
 Wali Hakim
Wali hakim dalam konteks Indonesia adalah pejabat
yang berwenang menikahkan. Yaitu, hakim agama,
petugas KUA, naib, modin desa urusan
nikah.(berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1
Tahun 1952)
Wali hakim baru boleh menjadi wali nikah dalam hal
sebagai berikut:
 Wali dari anak zina
 Semua wali tidak ada
 Wali tidak ada setuju tanpa alasan syar'i.
 Wali pergi dalam jarak qashar
5. Adanya saksi (2 orang pria).
Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada
hakikatnya adalah saksi, tetapi Islam mengajarkan tetap harus
adanya 2 orang saksi pria yang jujur lagi adil agar pernikahan
tersebut menjadi sah.
Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sama sekali tidak nikah, kecuali direstui wali dan (dihadiri)
dua saksi yang adil.”
(Shahih: Shahih Jami’us Shaghir no:7557, Baihaqi VII:125, Shahih
Ibnu Hibbah hal.305 no:1247).
Syarat-syarat menjadi saksi :
 Muslim laki-laki dan mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).
 Adil
 Dapat mendengar dan melihat.
 Tidak dipaksa.
 Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul.
 Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
6. Mahar (Mas Kawin)
Mahar (dari bahasa arab: mahr) atau mas kawin adalah sejumlah
uang atau barang yang diberikan (atau dijanjikan secara tegas) oleh
seorang suami kepada istrinya, pada saat mengucapkan akad
nikah.
 Firman Allah SWT dalam QS.An-Nisa :4 :
“Berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan yang kamu
nikahi, sebagai pemberian penuh kerelaan. Kemudian jika
mereka menyerahkan kepada kamu sebagian darinya dengan
senang hati, maka makanlah (terimalah) pemberian itu dengan
nyaman…”(QS.An-Nisa 4:4 )
Beberapa ketentuan tentang mahar :
 Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan
lainnya) dari seorang suami kepada isteri, baik sebelum, sesudah
maupun pada saat aqad nikah.
 Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya,
bukan kepada/milik mertua.
 Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah
adanya persetubuhan.
 Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan
dengan kerelaan.
 Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syari’at Islam
menyerahkan perkara ini untuk disesuaikan kepada adat istiadat
yang berlaku. Boleh sedikit, tetapi tetap harus berbentuk, memiliki
nilai dan bermanfaat.
TERIMA KASIH
Uji kompetensi

pernikahan dalam islam

  • 1.
    PERNIKAHAN DALAM ISLAM OLEH : AAMRIDWAN M NIP. 198707072019031023
  • 2.
    HAKEKAT PERKAWINAN  Allahmenciptakan manusia, pria dan wanita, dengan sifat fitrah yang khas. Manusia memiliki naluri, perasaan, dan akal. Adanya rasa cinta kasih antara pria dan wanita merupakan fitrah manusia.  Hubungan khusus antar jenis kelamin antara keduanya terjadi secara alami karena adanya gharizatun nau’ (naluri seksual/berketurunan).
  • 3.
     Perkawinan adalahfitrah manusia, yang dilakukan melalui akad nikah (pernikahan), sehingga suatu hubungan menjadi sah dan halal, bukan dengan cara yang diharamkan yang telah menyimpang dari ajaran Islam.  Perkawinan memberikan pemenuhan kebutuhan sosial yang besar artinya bagi keberlangsungan hidup manusia.  Secara Psikologis, perkawinan merupakan sarana yang dapat memenuhi kebutuhan manusia baik terhadap ingin dilindungi, rasa aman, cinta dan kasih sayang.
  • 4.
     Bila suatupernikahan dilandasi mencari keridhaan Allah SWT dan menjalankan sunnah Rasul, bukan semata-mata karena kecantikan fisik atau memenuhi hasrat hawa nafsunya, maka Allah akan menjamin kehidupan rumah tangga keduanya yang harmonis, penuh cinta, dan kasih sayang, Firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum : 21 "Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat terdapat tanda- tanda bagi kaum yang berfikir". (QS.Ar-Ruum : 21)
  • 5.
    PERTANYAANNYA......  PADA UMURBERAPA KIRA-KIRA KAMU AKAN MENIKAH?  KRITERIA PASANGAN (ISTRI / SUAMI) SEPERTI APA YANG KAMU INGINKAN?  BAGAIMANA RENCANA YANG AKAN KAMU JALANI UNTUK MENJAGA AGAR KELUARGA SLALU HARMONIS DAN BERBAHAGIA?  BAGAIMANA PERASAANMU APABILA PASANGANMU ITU TIDAK SESUAI HARAPAN?
  • 7.
    PENGERTIAN  SUATU AKADYANG MENGHALALKAN PERGAULAN ANTARA SEORANG LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN YANG BUKAN MAHRAMNYA HINGGA MENIMBUKAN HAK DAN KEWAJIBAN KEPADA KEDUANYA DENGAN MENGGUNAKAN LAFADZ INKAH ATAU TAZWIJ.  SECARA UMUM, NIKAH YAITU IKATAN LAHIR BATIN YANG DILAKSANAKAN SESUAI SYARIAT ISLAM ANTARA LAKI2 DAN PEREMPUAN
  • 8.
    DASAR HUKUM  ‫ي‬ِ‫ف‬‫وا‬ُ‫ط‬ِ‫س‬ْ‫ق‬ُ‫ت‬ ‫ا‬‫َّل‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ف‬ ِ‫خ‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ َ‫و‬‫ا‬َ‫م‬ ‫وا‬ُ‫ح‬ِ‫ك‬ْ‫ن‬‫ا‬َ‫ف‬ ٰ‫ى‬َ‫م‬‫ا‬َ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ال‬ َ‫و‬ ٰ‫َى‬‫ن‬ْ‫ث‬َ‫م‬ ِ‫اء‬َ‫س‬ِ‫الن‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ َ‫اب‬َ‫ط‬ْ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ۖ َ‫ع‬‫ا‬َ‫ب‬ُ‫ر‬ َ‫و‬ َ‫ث‬ َ‫َل‬ُ‫ث‬ َ‫أ‬ ً‫ة‬َ‫د‬ ِ‫اح‬ َ‫و‬َ‫ف‬ ‫وا‬ُ‫ل‬ِ‫د‬ْ‫ع‬َ‫ت‬ ‫ا‬‫َّل‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ف‬ ِ‫خ‬ْ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ن‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ي‬َ‫أ‬ ْ‫ت‬َ‫ك‬َ‫ل‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫م‬ ْ‫و‬َۚ‫ك‬ِ‫ل‬َٰ‫ذ‬ ‫ا‬‫َّل‬َ‫أ‬ ٰ‫َى‬‫ن‬ْ‫د‬َ‫أ‬‫وا‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫ع‬َ‫ت‬  Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
  • 9.
    HUKUM NIKAH Wajib wajib, apabilabersangkutan mempunyai keinginan biologis yang kuat, sehingga untuk menghindari dari hal-hal yang diharamkan, maka hukumnya wajib untuk menikah. Juga jika yang bersangkutan telah mampu dan siap menjalankan tanggung jawab dalam rumah tangga.
  • 10.
    Sunnah Sunnah, apabila yangbersangkutan:  Siap dan mampu menjalankan keinginan biologi  Siap dan mampu melaksanakan tanggung jawab berumah tangga.
  • 11.
    Makruh Makruh, apabila yangbersangkutan tidak mempunyai kesanggupan menyalurkan kebutuhan biologis, walaupun sanggup melaksanakan tanggung jawab nafkah dan lain-lain. Atau sebaliknya dia mampu menyalurkan kebutuhan biologisnya, tetapi tidak mampu bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban dalam rumah tangga.
  • 12.
    Haram Haram, apabila diamempunyai penyakit kelamin yang akan menular kepada pasangannya juga keturunannya. Sebaiknya, sebelum menikah periksakan kesehatan untuk memastikan keadaan kita. Apabila yang yang mengidap penyakit berbahaya meneruskan pernikahannya, dia akan mendapat dosa karena dengan sengaja menularkan penyakit kepada pasangannya.
  • 13.
    MAHRAM NIKAH  ORANG(LAKI2/PEREMUAN) YANG HARAM DI NIKAHI  SEBAB-SEBABNYA ADA 1. HARAM DINIKAHI SELAMANYA 2. HARAM DINIKAHI DALAM WAKTU SEMENTARA
  • 14.
  • 16.
    KAFAAH (KESAMAAN, KECOCOKAN, KESETARAAN) HUKUM KAFAAH Hak Perempuan dari walinya Jika perempuan rela dinikahi laki2 yg tidak sekufu dan walinya tidak rela, maka si wali berhak mengajukan fasak (batal nikah) begitu pun sebaliknya. - ukuran nasab, ketaatan , agama, profesi dan kekayaan - Kepatuhan dalam ketaatan menjalankan agama
  • 17.
    AKAD NIKAH  Secarabahasa, arti akad nikah adalah menghimpun dan menyatukan. Sedangkan menurut syara’, yang dimaksud dengan akad nikah adalah sebuah akad (ikatan/kesepakatan) yang menyebabkan halalnya hubungan antara laki-laki dan perempuan sesuai dengan aturan yang digariskan oleh syara’  Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul. Aqad nikah dalam Islam berlangsung sangat sederhana, terdiri dari dua kalimat "ijab dan qabul". Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak kedua.
  • 18.
     Allah jugamenyebutkan aqad nikah antara dua orang anak manusia sebagai "Mitsaqon gholizho". Karena janganlah pasangan suami istri dengan begitu mudahnya mengucapkan kata cerai.  Firman Allah SWT : "Bagaimana kalian akan mengambilnya kembali padahal kalian sudah berhubungan satu sama lain sebagai suami istri. Dan para istri kalian sudah melakukan dengan kalian perjanjian yang berat "Mitsaqon gholizho"." (Q.S An-Nisaa: 21).
  • 19.
    RUKUN DAN SYARATSAH AKAD NIKAH RUKUN AKAD NIKAH 1. Ijab- Qabul Islam menjadikan Ijab (pernyataan wali dalam menyerahkan mempelai wanita kepada mempelai pria) dan Qabul (pernyataan mempelai pria dalam menerima ijab) sebagai bukti kerelaan kedua belah pihak. Syarat ijab qabul: Diucapkan dengan bahasa yang dimengerti oleh semua pihak yang hadir. Menyebut jelas pernikahan dan nama mempelai pria-wanita
  • 20.
    2. Adanya mempelaipria Syarat mempelai pria adalah : Muslim dan mukallaf (sehat akal-baligh- merdeka) Bukan mahrom dari calon isteri. Tidak dipaksa. Orangnya jelas. Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
  • 21.
    3. Adanya mempelaiwanita. Syarat mempelai wanita :  Muslimah (atau beragama samawi, tetapi bukan kafirah/musyrikah) dan mukallaf;  Tidak ada halangan syar’i (tidak bersuami, tidak dalam masa ‘iddah dan bukan mahrom dari calon suami).  Tidak dipaksa.  Orangnya jelas.  Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
  • 22.
    4. Adanya wali. Dalam Islam, calon pengantin perempuan harus dinikahkan oleh walinya. Tidak boleh menikahkan dirinya sendiri Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Setiap perempuan yang tidak dinikahkan oleh walinya, maka nikahnya bathil, jika terlanjur kawin berhak mendapatkan maharnya, karena ia sudah digauli, jika mereka berselisih pendapat, maka hakimlah yang berwenang menjadi wali perempuan yang tidak memiliki wali.” (Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1524, Ibnu Majah I:605 no:1)
  • 23.
    Syarat menjadi wali Walaupun sudah termasuk golongan yang berhak menjadi wali nikah, belum sah menjadi wali nikah sampai syarat-syarat berikut terpenuhi Syarat wali adalah :  Muslim laki-laki dan mukallaf (sehat akal-baligh- merdeka).  Adil  Tidak dipaksa.  Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
  • 24.
    Tingkatan dan urutanwali  Tingkatan dan urutan wali adalah sebagai berikut:  Ayah  Kakek  Saudara laki-laki sekandung  Saudara laki-laki seayah  Anak laki-laki dari saudara laki – laki sekandung  Anak laki-laki dari saudara laki – laki seayah  Paman sekandung  Paman seayah  Anak laki-laki dari paman sekandung  Anak laki-laki dari paman seayah.  Hakim
  • 26.
     Wali Hakim Walihakim dalam konteks Indonesia adalah pejabat yang berwenang menikahkan. Yaitu, hakim agama, petugas KUA, naib, modin desa urusan nikah.(berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun 1952) Wali hakim baru boleh menjadi wali nikah dalam hal sebagai berikut:  Wali dari anak zina  Semua wali tidak ada  Wali tidak ada setuju tanpa alasan syar'i.  Wali pergi dalam jarak qashar
  • 27.
    5. Adanya saksi(2 orang pria). Meskipun semua yang hadir menyaksikan aqad nikah pada hakikatnya adalah saksi, tetapi Islam mengajarkan tetap harus adanya 2 orang saksi pria yang jujur lagi adil agar pernikahan tersebut menjadi sah. Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sama sekali tidak nikah, kecuali direstui wali dan (dihadiri) dua saksi yang adil.” (Shahih: Shahih Jami’us Shaghir no:7557, Baihaqi VII:125, Shahih Ibnu Hibbah hal.305 no:1247).
  • 28.
    Syarat-syarat menjadi saksi:  Muslim laki-laki dan mukallaf (sehat akal-baligh-merdeka).  Adil  Dapat mendengar dan melihat.  Tidak dipaksa.  Memahami bahasa yang dipergunakan untuk ijab-qabul.  Tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
  • 29.
    6. Mahar (MasKawin) Mahar (dari bahasa arab: mahr) atau mas kawin adalah sejumlah uang atau barang yang diberikan (atau dijanjikan secara tegas) oleh seorang suami kepada istrinya, pada saat mengucapkan akad nikah.  Firman Allah SWT dalam QS.An-Nisa :4 : “Berikanlah mahar kepada perempuan-perempuan yang kamu nikahi, sebagai pemberian penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian darinya dengan senang hati, maka makanlah (terimalah) pemberian itu dengan nyaman…”(QS.An-Nisa 4:4 )
  • 30.
    Beberapa ketentuan tentangmahar :  Mahar adalah pemberian wajib (yang tak dapat digantikan dengan lainnya) dari seorang suami kepada isteri, baik sebelum, sesudah maupun pada saat aqad nikah.  Mahar wajib diterimakan kepada isteri dan menjadi hak miliknya, bukan kepada/milik mertua.  Mahar yang tidak tunai pada akad nikah, wajib dilunasi setelah adanya persetubuhan.  Mahar dapat dinikmati bersama suami jika sang isteri memberikan dengan kerelaan.  Mahar tidak memiliki batasan kadar dan nilai. Syari’at Islam menyerahkan perkara ini untuk disesuaikan kepada adat istiadat yang berlaku. Boleh sedikit, tetapi tetap harus berbentuk, memiliki nilai dan bermanfaat.
  • 32.
  • 33.