HUKUM NIKAH
KELOMPOK 3 :
• Anisa
• Nadiya Rahmah
• Novia yuli
• Nur Aqmarina M
• Rosmalida Widianti
• Sarah Maida Alifah Nurina
• Sofia Anisa
Hukum pernikahan ada lima diantaranya
wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah.
Hukum pernikahan tersebut berbeda-beda
pada setiap orang, tergantung pada kondisi
tertentu, baik dilihat dari sisi ekonomi, fisik
ataupun akhlak.
WAJIB
Nikah akan menjadi wajib bagi setiap
orang yang sudah mampu, baik dalam hal
ekonomi, seksual, mental, dan lainnya
termasuk orang yang takut terjerumus
kepada hal-hal yang diharamkan Allah
SWT. Orang yang sudah mampu membayar
mahar dan seluruh kewajiban nafkah
dalam pernikahan, memiliki badan yang
sehat dan percaya bahwa dirinya mampu
memperlakukan istri dengan baik serta
percaya bahwa jika tidak menikah pasti ia
akan terjerumus kedalam perbuatan
maksiat, oleh karenanya wajib hukumnya
menikah. Salah satu cara menjauhi zina
SUNNAH
Nikah hukumnya menjadi sunnah bagi
siapapun yang memiliki kemampuan ekonomi
dan kesehatan badan, merasa aman dari hal-hal
yang diharamkan dan dilarang oleh Allah SWT
dan tidak takut akan berbuat buruk terhadap
wanita yang dinikahinya. Dalam kondisi seperti
ini, diperbolehkan untuk melakukan pernikahan
atau tidak. Namun, melakukan pernikahan akan
menjadi lebih baik baginya daripada menunda
pernikahan atau mengkhususkan diri untuk
ibadah, sebagai bentuk taat kepada sunnah
Rasulullah SAW. Dari Ibnu Abbas ra, “Tidak
sempurna ibadah seseorang sehingga dia
menikah.”
HARAM
Nikah akan menjadi haram hukumnya jika
seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu
melakukan aktivitas seks, memberikan nafkah atau
kewajiban-kewajiban nikah lainnya serta memiliki
maksud untuk mencelakai istrinya. Pernikahan pada
kondisi ini haram hukumnya. Imam al-
Qurtubi mengatakan, “Jika suami mengetahui bahwa
dirinya tidak mampu menafkahi istri atau
memberikan mahar dan memenuhi hak-hak istri yang
wajib atasnya, maka ia tidak boleh menikahi wanita
itu sampai ia menjelaskan hal-hal tersebut kepada
calon istrinya. Termasuk memiliki suatu penyakit
yang dapat menghalanginya untuk melakukan
hubungan suami istri. Begitupun calon istri, wajib
menjelaskan kepada calon suami jika ia mengetahui
MAKRUH
Hukum pernikahan akan
menjadi makruh bagi seseorang yang
mampu menikah tetapi ia khawatir akan
menyakiti wanita yang akan ia nikahi
atau mendzalimi hak-hak istri dan
kerena pergaulannya yang buruk. Jika
hak-hak manusia bertentangan dengan
hak-hak Allah, maka hak-hak manusia
yang harus didahulukan.
MUBAH
Hukum nikah menjadi mubah dan
tidak berdosa jika tidak melakukannya.
Menurut pendapat Imam
Syafi’i “Sesungguhnya hukum
pernikahan itu mubah, karena ia
merupakan salah satu bentuk pemuasan
kenikmatan dan syahwat, sehingga ia
tidak berbeda halnya dengan makan dan
minum“.
Berdasarkan hukum yang lima ini,
salah seorang ulama mengatakan,
“Ketahuilah bahwa perbedaan pendapat
mengenai hukum pernikahan ini berlaku
pada berbagai kondisi konvensional,
dimana seseorang merasa aman dari
perbuatan haram“.
Imam al-Qurtubi menyebutkan pendapat para
ulama sebagai berikut:
Hukum pernikahan itu berbeda-beda,
sesuai dengan perbedaan kondisi ketakutan
dan kesabaran pribadi terhadap zina serta
kekuatan menahan zina. Jika ia khawatir
terjerumus dan mengalami kemunduran serta
kerusakan dalam masalah agama atau dubia
maka pernikahan itu hukumnya wajib. Barang
siapa yang ingin menikah tetapi ia mempunyai
kemampuan untuk menahannya maka
disunnahkan baginya menikah. Jika tidak
mampu, maka ia harus menjaga diri walaupun
dengan cara berpuasa, karena dengan puasa ia
akan terbentengi dan menjadi pelindung diri.

Hukum nikah

  • 1.
    HUKUM NIKAH KELOMPOK 3: • Anisa • Nadiya Rahmah • Novia yuli • Nur Aqmarina M • Rosmalida Widianti • Sarah Maida Alifah Nurina • Sofia Anisa
  • 2.
    Hukum pernikahan adalima diantaranya wajib, sunnah, haram, makruh dan mubah. Hukum pernikahan tersebut berbeda-beda pada setiap orang, tergantung pada kondisi tertentu, baik dilihat dari sisi ekonomi, fisik ataupun akhlak.
  • 3.
    WAJIB Nikah akan menjadiwajib bagi setiap orang yang sudah mampu, baik dalam hal ekonomi, seksual, mental, dan lainnya termasuk orang yang takut terjerumus kepada hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Orang yang sudah mampu membayar mahar dan seluruh kewajiban nafkah dalam pernikahan, memiliki badan yang sehat dan percaya bahwa dirinya mampu memperlakukan istri dengan baik serta percaya bahwa jika tidak menikah pasti ia akan terjerumus kedalam perbuatan maksiat, oleh karenanya wajib hukumnya menikah. Salah satu cara menjauhi zina
  • 4.
    SUNNAH Nikah hukumnya menjadisunnah bagi siapapun yang memiliki kemampuan ekonomi dan kesehatan badan, merasa aman dari hal-hal yang diharamkan dan dilarang oleh Allah SWT dan tidak takut akan berbuat buruk terhadap wanita yang dinikahinya. Dalam kondisi seperti ini, diperbolehkan untuk melakukan pernikahan atau tidak. Namun, melakukan pernikahan akan menjadi lebih baik baginya daripada menunda pernikahan atau mengkhususkan diri untuk ibadah, sebagai bentuk taat kepada sunnah Rasulullah SAW. Dari Ibnu Abbas ra, “Tidak sempurna ibadah seseorang sehingga dia menikah.”
  • 5.
    HARAM Nikah akan menjadiharam hukumnya jika seseorang mengetahui bahwa dirinya tidak mampu melakukan aktivitas seks, memberikan nafkah atau kewajiban-kewajiban nikah lainnya serta memiliki maksud untuk mencelakai istrinya. Pernikahan pada kondisi ini haram hukumnya. Imam al- Qurtubi mengatakan, “Jika suami mengetahui bahwa dirinya tidak mampu menafkahi istri atau memberikan mahar dan memenuhi hak-hak istri yang wajib atasnya, maka ia tidak boleh menikahi wanita itu sampai ia menjelaskan hal-hal tersebut kepada calon istrinya. Termasuk memiliki suatu penyakit yang dapat menghalanginya untuk melakukan hubungan suami istri. Begitupun calon istri, wajib menjelaskan kepada calon suami jika ia mengetahui
  • 6.
    MAKRUH Hukum pernikahan akan menjadimakruh bagi seseorang yang mampu menikah tetapi ia khawatir akan menyakiti wanita yang akan ia nikahi atau mendzalimi hak-hak istri dan kerena pergaulannya yang buruk. Jika hak-hak manusia bertentangan dengan hak-hak Allah, maka hak-hak manusia yang harus didahulukan.
  • 7.
    MUBAH Hukum nikah menjadimubah dan tidak berdosa jika tidak melakukannya. Menurut pendapat Imam Syafi’i “Sesungguhnya hukum pernikahan itu mubah, karena ia merupakan salah satu bentuk pemuasan kenikmatan dan syahwat, sehingga ia tidak berbeda halnya dengan makan dan minum“.
  • 8.
    Berdasarkan hukum yanglima ini, salah seorang ulama mengatakan, “Ketahuilah bahwa perbedaan pendapat mengenai hukum pernikahan ini berlaku pada berbagai kondisi konvensional, dimana seseorang merasa aman dari perbuatan haram“.
  • 9.
    Imam al-Qurtubi menyebutkanpendapat para ulama sebagai berikut: Hukum pernikahan itu berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan kondisi ketakutan dan kesabaran pribadi terhadap zina serta kekuatan menahan zina. Jika ia khawatir terjerumus dan mengalami kemunduran serta kerusakan dalam masalah agama atau dubia maka pernikahan itu hukumnya wajib. Barang siapa yang ingin menikah tetapi ia mempunyai kemampuan untuk menahannya maka disunnahkan baginya menikah. Jika tidak mampu, maka ia harus menjaga diri walaupun dengan cara berpuasa, karena dengan puasa ia akan terbentengi dan menjadi pelindung diri.