MAKALAH PRATIKUM
KIMIA ANALISIS
“ Permanganometri ”
Disusun Oleh :
RIDWAN (18123442A)
Kelompok C
Teori 2
Fakultas Farmasi
Universitas Setia Budi
Surakarta
2013
Permanganometri merupakan titrasi yang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium
permanganat (KMnO4). proses titrasi dimana garam kalium permanganat (KMnO4) digunakan
sebagai zat standar karena kalium permanganat (KMnO4) tidak murni, banyak mengandung
oksida (MnO dan Mn2O3), maka zat tersebut bukan merupakan standar primer. Standarisasi
dapat dilakukan dengan beberapa reduktor, seperti : As2O3, Fe, Na2C2O4, H2C2O4.2H2O,
KHC2O4, K4{Fe(CN)6}, Fe(NH4)2(SO4)2.
Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4
dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun.
Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+,
asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak
dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti:
(1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah
endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat
secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung
banyaknya ion logam yang bersangkutan.
(2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci,
dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+
dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya
dengan KMnO4.
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada:
Larutan pentiter KMnO4¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama,
larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik
akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan
berwarna merah rosa.
Pada proses titrasi permanganometri tidak perlu ditambahkan indikator untuk mengatahui
terjadinya titik ekivalen, karena MnO4
-
yang berwarna ungu dapat berfungsi sebagai indikator
sendiri ( auto indikator ).
Reaksi reduksi ion permanganat (MnO4
-
) tergantung pada suasana larutan. Dalam
suasana asam ion permanganat (MnO4
-
) yang berwarna ungu mengalami reduksi menjadi Mn2+
yang tidak berwarna menurut reaksi :
MnO4
- + 8H+ + 5e- ® Mn2+ + 4H2O
Dengan demikian, 1 ekivalen MnO4
-
= 1/5 mol, atau berat ekivalen (BE) = 158/5 = 31,6. Dalam
suasana asam ini dapat digunakan untuk menentukan secara langsung berbagai macam kation
maupun anion, antara lain :
Kation / anion Hasil oksidasi
Fe2+
, Sn2+
, VO2+
, H2O2 Fe3+
, Sn4+
, VO3
-
, O2
Mo3+
, As3+
, Ti3+
, U4+
Mo3+
, As3+
, Ti3+
, U4+
C2O4
2-
, NO2
-
, SO3
2-
CO2, NO3
-
, SO4
2-
Sedangkan secara tidak langsung, melalui penambahan reduktor berlebih dapat digunakan untuk
menentukan : MnO4
-
, Cr2O7
2-
, Ce4+
, MnO2, Mn3O4, PbO2, Pb2O3, dan Pb3O4.
Dalam suasana netral dan basa, MnO4
-
mengalami reduksi menjadi endapan MnO2 yang
berwarna hitam, menurut reaksi :
MnO4
- + 2H2O + 3e- ® MnO2 + 4OH-
Dalam reaksi tersebut, 1 ekivalen MnO4
-
= 1/3 mol, atau berat ekivalen (BE) = 158/3 = 52,7.
Zat-zat yang dapat ditentukan secara permanganometri dalam suasana netral dan basa ini antara
lain garam-garam Mn(II), asam format, dan garam format.
Permanganat adalah oksidator, dalam titrasi bereaksi dengan cepat, namun beberapa
pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi,
seperti pada proses penetapan kadar asam oksalat. Kelebihan sedikit dari permanganat yang
hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah
MnO2 . Hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan endapan tersebut adalah pemanasan
yang berguna untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui
asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MnO2. Larutan tersebut kemudian
distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan
banyak berubah selama beberapa bulan.
Standarisasi Larutan KmnO4
Larutan KMnO4 dapat distandarisasi dengan larutan standar denhgan larutan standar
H2C2O4 atau Na2C2O4 dengan mereaksikan 10 mL H2C2O4 0,05M dengan 0 mL larutan
H2SO4 1M ke dalam erlenmeyer. Selanjutnya dipanaskan dengan kompor listrik dalam ruang
asam hingga suhu 700C warna dari H2SO4dan H2C2O4 mula-mula tidak berwarna kemudian
dititrasi dengan KMnO4tetes demi tetes. Pemanasan dilakukan karena reaksi dengan
permanganatt lambat pada suhu kamar. Oleh karena itu dipanaskan hingga suhu 700C. Setelah
itu suhu dipertinggi rekasi memulai lambat tetapi kecepatan meningkat setelah Mn2+
terbentuk.
Mn2+
bertindak sebagai katalis dihasilkan oleh reaksinya sendiri. Setelah dilakukan pemanasan
larutan tersebut dititrasi dengan KMnO4 hingga diperoleh warna merah muda permanen. Setelah
itu menghitung jumlah KMnO4 yang digunakan dan mengulangi percobaan 2x. Dan pada
percobaan I diperoleh volume sebesar 10 mL dan berwarna coklat kemerahan. Disini bisa timbul
warna coklat kemerahan karena sebelum dititasi dengan KMnO4 larutan H2C2O4 + H2SO4 harus
didinginkan setelah dipanaskan.Berbeda dengan percobaan I, percobaan II diperoleh volume
sebesar 8,3mL dan warna yang ditimbulkan adalah merah muda yang konstan (karena sudah
didiamkan terlebih dahulu). Larutan standarisasiyang digunakan asam oksalat CH2C2O4 0,05M
yang oleh KMnO4 akan dioksidasi menjadi CO2 menurut reaksi sebagai berikut:
2MnO4
-
(aq) + 6H+
(aq)+5H2C2O4(aq) 2Mn2+
(aq)+8H2O(l)+10CO2(g)
Dalam percobaan ini, sebagai pengasam digunakan larutan H2SO4 encer dan bukan larutan yang
lain, misalnya HCl encer yang tidak boleh digunakan sebab fdapat dioksisdasi oleh
KmnO4menjadi Cl2 sebagai berikut:
MnO4
-
(aq) + 16H+
(aq)+10Cl-
(aq) Mn2+
(aq) + 5Cl2(g) + H2O(l)
Dalam titasi permanganometri, tidak dibutuhkan indikator karena perubahan warna dari tidak
berwarna menjadi merah muda menunjukan titik akhir suatu titrasi warna yang diperoleh pun
harus sudah dalam keadaan tetap, artinya saat melakukan pengadukan, warna merah muda yang
muncul tidak hilang, hal ini menunjukan titik kestabilan. Dalam hal ini terjadi reaksi oksidasi dan
reduksi:
Oksidasi : H2C2O4 CO2 + 2H+
+2e-
Reduksi : MnO4
-
+ 8 H+
Mn2+
+ 4 H2O
Dan dalam percobaan standarisasi larutan KMnO4diperoleh molaritasnya sebesar 0,021M.
Pembakuan Larutan Kalium Permanganat
Titrasi permanganometri digunakan untuk menetapkan kadar reduktor dalam suasana
asam sulfat encer dengan menggunakan kalium permanganat sebagai titran. Dalam suasana
penetapan basa atau asam lemah akan terbentuk endapan coklat MnO2 yang menggangu.
MnO4
-
+ 8H+
+ 5e Mn2+
+ 4H2O (dalam sulfat encer)
MnO4
-
+ 4H+
+ 3e MnO2 + 2H2O (dalam asam lemah) MnO4
-
+ 2H2O + 3e MnO2 +
4OH-
(dalam basa lemah)
Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat
dipakai tanpa penambahan indikator, karena mampu bertindak sebagai indikator. Oleh karena itu
pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan
Natrium oksalat merupakan standar yang baik untuk standarisasi permangnat dalam suasana
asam. Larutan ini mudah diperoleh dengan derajat kemurnian yang tinggi. Reaksi ini berjalan
lambat pada temperatur kamar dan biasanya diperlukan pemanasan hingga 60ºC. Bahkan bila
pada temperatur yang lebih tinggi reaksi akan berjalan makin lambat dan bertambah cepat
setelah terbentuknya ion mangan (II).
Pada penambahan tetesan titrasi selanjutnya warna merah hilang semakin cepat karena
ion mangan (II) yang terjadi berfungsi sebagai katalis, katalis untuk mempercepat reaksi. Dari
hasil perhitungan maka didapatkan nilai normalitas dari KMnO4 adalah sebesar 0,7164 N.
Pada standarisasi larutan KMnO4 dengan menggunakan larutan standar Na2S2O4
berlangsung reaksi sebagai berikut:
2Na+
+ C2O4
-
+ 2H+
H2C2O4 + 2Na+
2MnO4 + 5H2C2O4 + 6H+
2Mn2+
+ 10CO2 + 8H2O
Kelebihan dan Kekurangan Permanganometri
1. kelebihan
 mudah dilakukan dan efektif
 tidak memerlukan indicator
Titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif, karena reaksi ini tidak
memerlukan indicator, hal ini dikarenakan larutan KMnO4 sudah berfungsi sebagai indicator,
yaitu ion MnO4
-
berwarna ungu, setelah diredukdsi menjadi ion Mn-tidak berwarna, dan
disebut juga sebagai autoindikator.
2. Kekurangan
 larutan kalium permanganat jika terkena cahaya atau dititrasi cukup lama maka mudah
terurai menjadi MnO2 , sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan
presipitat coklat. Oleh karena itu penggunaan buret yang berwarna gelap itu lebih baik.
 Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4
yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah
dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4
-
dengan Mn2+
. Dengan reaksi :
MnO4
- + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+
Oleh karena itu pula, penambahan pentiter pada proses titrasi harus sedikit demi sedikit, agar
kesalahan dalam menentukan titik akhir titrasi dapat dihindari.
Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada:
Larutan pentiter KMnO4
¬
pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama,
larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik
akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan
berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4
Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan
telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4
-
dengan Mn2+
. MnO4
-
+ 3Mn2+
+
2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+
Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4
Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan
telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang
kemudian terurai menjadi air. H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2↑
H2O2 ↔ H2O + O2↑
Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada
akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan.
Manfaat Titrasi Permanganometri
Untuk mengetahui kadar dari zat-zat yang bilangan oksidasinya masih dapat dioksidasi.
Dalam bidang industri, metode ini dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air, dimana secara
permanganometri dapat diketahui kadar suatu zat sesuai dengan sifat oksidasi reduksi yang
dimilikinya, sehingga dapat dipisahkan apabila tidak diperlukan atau berbahaya.

Permanganometri

  • 1.
    MAKALAH PRATIKUM KIMIA ANALISIS “Permanganometri ” Disusun Oleh : RIDWAN (18123442A) Kelompok C Teori 2 Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi Surakarta 2013
  • 2.
    Permanganometri merupakan titrasiyang dilakukan berdasarkan reaksi oleh kalium permanganat (KMnO4). proses titrasi dimana garam kalium permanganat (KMnO4) digunakan sebagai zat standar karena kalium permanganat (KMnO4) tidak murni, banyak mengandung oksida (MnO dan Mn2O3), maka zat tersebut bukan merupakan standar primer. Standarisasi dapat dilakukan dengan beberapa reduktor, seperti : As2O3, Fe, Na2C2O4, H2C2O4.2H2O, KHC2O4, K4{Fe(CN)6}, Fe(NH4)2(SO4)2. Reaksi ini difokuskan pada reaksi oksidasi dan reduksi yang terjadi antara KMnO4 dengan bahan baku tertentu. Titrasi dengan KMnO4 sudah dikenal lebih dari seratus tahun. Kebanyakan titrasi dilakukan dengan cara langsung atas alat yang dapat dioksidasi seperti Fe+, asam atau garam oksalat yang dapat larut dan sebagainya. Beberapa ion logam yang tidak dioksidasi dapat dititrasi secara tidak langsung dengan permanganometri seperti: (1) ion-ion Ca, Ba, Sr, Pb, Zn, dan Hg (I) yang dapat diendapkan sebagai oksalat. Setelah endapan disaring dan dicuci, dilarutkan dalam H2SO4 berlebih sehingga terbentuk asam oksalat secara kuantitatif. Asam oksalat inilah yang akhirnya dititrasi dan hasil titrasi dapat dihitung banyaknya ion logam yang bersangkutan. (2) ion-ion Ba dan Pb dapat pula diendapkan sebagai garam khromat. Setelah disaring, dicuci, dan dilarutkan dengan asam, ditambahkan pula larutan baku FeSO4 berlebih. Sebagian Fe2+ dioksidasi oleh khromat tersebut dan sisanya dapat ditentukan banyaknya dengan menitrasinya dengan KMnO4. Sumber-sumber kesalahan pada titrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Pada proses titrasi permanganometri tidak perlu ditambahkan indikator untuk mengatahui terjadinya titik ekivalen, karena MnO4 - yang berwarna ungu dapat berfungsi sebagai indikator sendiri ( auto indikator ).
  • 3.
    Reaksi reduksi ionpermanganat (MnO4 - ) tergantung pada suasana larutan. Dalam suasana asam ion permanganat (MnO4 - ) yang berwarna ungu mengalami reduksi menjadi Mn2+ yang tidak berwarna menurut reaksi : MnO4 - + 8H+ + 5e- ® Mn2+ + 4H2O Dengan demikian, 1 ekivalen MnO4 - = 1/5 mol, atau berat ekivalen (BE) = 158/5 = 31,6. Dalam suasana asam ini dapat digunakan untuk menentukan secara langsung berbagai macam kation maupun anion, antara lain : Kation / anion Hasil oksidasi Fe2+ , Sn2+ , VO2+ , H2O2 Fe3+ , Sn4+ , VO3 - , O2 Mo3+ , As3+ , Ti3+ , U4+ Mo3+ , As3+ , Ti3+ , U4+ C2O4 2- , NO2 - , SO3 2- CO2, NO3 - , SO4 2- Sedangkan secara tidak langsung, melalui penambahan reduktor berlebih dapat digunakan untuk menentukan : MnO4 - , Cr2O7 2- , Ce4+ , MnO2, Mn3O4, PbO2, Pb2O3, dan Pb3O4. Dalam suasana netral dan basa, MnO4 - mengalami reduksi menjadi endapan MnO2 yang berwarna hitam, menurut reaksi : MnO4 - + 2H2O + 3e- ® MnO2 + 4OH- Dalam reaksi tersebut, 1 ekivalen MnO4 - = 1/3 mol, atau berat ekivalen (BE) = 158/3 = 52,7. Zat-zat yang dapat ditentukan secara permanganometri dalam suasana netral dan basa ini antara lain garam-garam Mn(II), asam format, dan garam format.
  • 4.
    Permanganat adalah oksidator,dalam titrasi bereaksi dengan cepat, namun beberapa pereaksi membutuhkan pemanasan atau penggunaan sebuah katalis untuk mempercepat reaksi, seperti pada proses penetapan kadar asam oksalat. Kelebihan sedikit dari permanganat yang hadir pada titik akhir dari titrasi cukup untuk mengakibatkan terjadinya pengendapan sejumlah MnO2 . Hal yang perlu dilakukan untuk menghilangkan endapan tersebut adalah pemanasan yang berguna untuk menghancurkan substansi yang dapat direduksi dan penyaringan melalui asbestos atau gelas yang disinter untuk menghilangkan MnO2. Larutan tersebut kemudian distandarisasi dan jika disimpan dalam gelap dan tidak diasamkan konsentrasinya tidak akan banyak berubah selama beberapa bulan. Standarisasi Larutan KmnO4 Larutan KMnO4 dapat distandarisasi dengan larutan standar denhgan larutan standar H2C2O4 atau Na2C2O4 dengan mereaksikan 10 mL H2C2O4 0,05M dengan 0 mL larutan H2SO4 1M ke dalam erlenmeyer. Selanjutnya dipanaskan dengan kompor listrik dalam ruang asam hingga suhu 700C warna dari H2SO4dan H2C2O4 mula-mula tidak berwarna kemudian dititrasi dengan KMnO4tetes demi tetes. Pemanasan dilakukan karena reaksi dengan permanganatt lambat pada suhu kamar. Oleh karena itu dipanaskan hingga suhu 700C. Setelah itu suhu dipertinggi rekasi memulai lambat tetapi kecepatan meningkat setelah Mn2+ terbentuk. Mn2+ bertindak sebagai katalis dihasilkan oleh reaksinya sendiri. Setelah dilakukan pemanasan larutan tersebut dititrasi dengan KMnO4 hingga diperoleh warna merah muda permanen. Setelah itu menghitung jumlah KMnO4 yang digunakan dan mengulangi percobaan 2x. Dan pada percobaan I diperoleh volume sebesar 10 mL dan berwarna coklat kemerahan. Disini bisa timbul warna coklat kemerahan karena sebelum dititasi dengan KMnO4 larutan H2C2O4 + H2SO4 harus didinginkan setelah dipanaskan.Berbeda dengan percobaan I, percobaan II diperoleh volume sebesar 8,3mL dan warna yang ditimbulkan adalah merah muda yang konstan (karena sudah didiamkan terlebih dahulu). Larutan standarisasiyang digunakan asam oksalat CH2C2O4 0,05M yang oleh KMnO4 akan dioksidasi menjadi CO2 menurut reaksi sebagai berikut: 2MnO4 - (aq) + 6H+ (aq)+5H2C2O4(aq) 2Mn2+ (aq)+8H2O(l)+10CO2(g)
  • 5.
    Dalam percobaan ini,sebagai pengasam digunakan larutan H2SO4 encer dan bukan larutan yang lain, misalnya HCl encer yang tidak boleh digunakan sebab fdapat dioksisdasi oleh KmnO4menjadi Cl2 sebagai berikut: MnO4 - (aq) + 16H+ (aq)+10Cl- (aq) Mn2+ (aq) + 5Cl2(g) + H2O(l) Dalam titasi permanganometri, tidak dibutuhkan indikator karena perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda menunjukan titik akhir suatu titrasi warna yang diperoleh pun harus sudah dalam keadaan tetap, artinya saat melakukan pengadukan, warna merah muda yang muncul tidak hilang, hal ini menunjukan titik kestabilan. Dalam hal ini terjadi reaksi oksidasi dan reduksi: Oksidasi : H2C2O4 CO2 + 2H+ +2e- Reduksi : MnO4 - + 8 H+ Mn2+ + 4 H2O Dan dalam percobaan standarisasi larutan KMnO4diperoleh molaritasnya sebesar 0,021M. Pembakuan Larutan Kalium Permanganat Titrasi permanganometri digunakan untuk menetapkan kadar reduktor dalam suasana asam sulfat encer dengan menggunakan kalium permanganat sebagai titran. Dalam suasana penetapan basa atau asam lemah akan terbentuk endapan coklat MnO2 yang menggangu. MnO4 - + 8H+ + 5e Mn2+ + 4H2O (dalam sulfat encer) MnO4 - + 4H+ + 3e MnO2 + 2H2O (dalam asam lemah) MnO4 - + 2H2O + 3e MnO2 + 4OH- (dalam basa lemah) Kalium permanganat merupakan zat pengoksidasi yang sangat kuat. Pereaksi ini dapat dipakai tanpa penambahan indikator, karena mampu bertindak sebagai indikator. Oleh karena itu pada larutan ini tidak ditambahkan indikator apapun dan langsung dititrasi dengan larutan Natrium oksalat merupakan standar yang baik untuk standarisasi permangnat dalam suasana asam. Larutan ini mudah diperoleh dengan derajat kemurnian yang tinggi. Reaksi ini berjalan lambat pada temperatur kamar dan biasanya diperlukan pemanasan hingga 60ºC. Bahkan bila pada temperatur yang lebih tinggi reaksi akan berjalan makin lambat dan bertambah cepat setelah terbentuknya ion mangan (II).
  • 6.
    Pada penambahan tetesantitrasi selanjutnya warna merah hilang semakin cepat karena ion mangan (II) yang terjadi berfungsi sebagai katalis, katalis untuk mempercepat reaksi. Dari hasil perhitungan maka didapatkan nilai normalitas dari KMnO4 adalah sebesar 0,7164 N. Pada standarisasi larutan KMnO4 dengan menggunakan larutan standar Na2S2O4 berlangsung reaksi sebagai berikut: 2Na+ + C2O4 - + 2H+ H2C2O4 + 2Na+ 2MnO4 + 5H2C2O4 + 6H+ 2Mn2+ + 10CO2 + 8H2O Kelebihan dan Kekurangan Permanganometri 1. kelebihan  mudah dilakukan dan efektif  tidak memerlukan indicator Titrasi permanganometri ini lebih mudah digunakan dan efektif, karena reaksi ini tidak memerlukan indicator, hal ini dikarenakan larutan KMnO4 sudah berfungsi sebagai indicator, yaitu ion MnO4 - berwarna ungu, setelah diredukdsi menjadi ion Mn-tidak berwarna, dan disebut juga sebagai autoindikator. 2. Kekurangan  larutan kalium permanganat jika terkena cahaya atau dititrasi cukup lama maka mudah terurai menjadi MnO2 , sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat. Oleh karena itu penggunaan buret yang berwarna gelap itu lebih baik.  Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4 - dengan Mn2+ . Dengan reaksi : MnO4 - + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+ Oleh karena itu pula, penambahan pentiter pada proses titrasi harus sedikit demi sedikit, agar kesalahan dalam menentukan titik akhir titrasi dapat dihindari.
  • 7.
    Sumber-sumber kesalahan padatitrasi permanganometri, antara lain terletak pada: Larutan pentiter KMnO4 ¬ pada buret Apabila percobaan dilakukan dalam waktu yang lama, larutan KMnO4 pada buret yang terkena sinar akan terurai menjadi MnO2 sehingga pada titik akhir titrasi akan diperoleh pembentukan presipitat coklat yang seharusnya adalah larutan berwarna merah rosa. Penambahan KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu cepat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan cenderung menyebabkan reaksi antara MnO4 - dengan Mn2+ . MnO4 - + 3Mn2+ + 2H2O ↔ 5MnO2 + 4H+ Penambahan KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan seperti H2C2O4 Pemberian KMnO4 yang terlalu lambat pada larutan H2C2O4 yang telah ditambahkan H2SO4 dan telah dipanaskan mungkin akan terjadi kehilangan oksalat karena membentuk peroksida yang kemudian terurai menjadi air. H2C2O4 + O2 ↔ H2O2 + 2CO2↑ H2O2 ↔ H2O + O2↑ Hal ini dapat menyebabkan pengurangan jumlah KMnO4 yang diperlukan untuk titrasi yang pada akhirnya akan timbul kesalahan titrasi permanganometri yang dilaksanakan. Manfaat Titrasi Permanganometri Untuk mengetahui kadar dari zat-zat yang bilangan oksidasinya masih dapat dioksidasi. Dalam bidang industri, metode ini dapat dimanfaatkan dalam pengolahan air, dimana secara permanganometri dapat diketahui kadar suatu zat sesuai dengan sifat oksidasi reduksi yang dimilikinya, sehingga dapat dipisahkan apabila tidak diperlukan atau berbahaya.