A Pengertian Pendidikan
Batasan pengertian pendidikan yang dikemukakan para ahli tergantung
dari sudut pandang yang dipergunakan dalam arti memberi pendidikan. Sudut
pandang ini dapat bersumber dari aliran falsafah, pandangan hidup, ataupun
ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan tingkah laku manusia.
1 Secara umum dan mendasar Driyarkara mengatakan bahwa: pendidikan
adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkata manusia ketaraf
insaniitulah yang disebut mendidik. Pendidikan adalah pemanusiaan
manusia muda (Ditjen, 1983/1984 : 19).
2 Pengertian dalam Dictionary of Education menyebutkan bahwa
pendidikan ialah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan
sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana
ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh
lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari
sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan
kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (Ditjen, Dikti,
1983/1984 : 19).
3 Crow and Crow menyebut pendidikan adalah proses yang berisi berbagai
macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan
mampu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari
generasi ke generasi (Suprapto, 1975).
4 John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyebutkan
bahwa proses tersebut berupa pengajaran dan bimbingan, bukan paksaan,
yang terjadi didalam interakasi dengan masyarakat. Selanjutnya ia
kemukakan mahwa: “in social situation the young have to refer their way
of acting to what others are doing and make it fit in. This direct their
action to a common result, and gives an understanding common to the
participatants ”. Kalau Crow and Crow dan John Dewey memberikan arti
pendidikan ditinjau dari segi kehidupan sosial, yang meneropong
hubungan antara individu dengan masyarakat.
5 Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Teman Siswa yang pertama pada
tahun 1930 menyebutkan: pendidikan umumnya bererti daya upaya untuk
memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran
(intelek), dan tubuh anak; dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah-
pisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita dapat memajukan
kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita
didik selaras dengan dunianya.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 1
6 Di dalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada
hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan
kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Dari uraian diatas, maka pendidikan dapat diartikan sebagai:
a Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan.
b Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam
pertumbuhanya.
c Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu
yang dikehendaki oleh masyarakat.
d Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju
kedewasaan.
Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan
pembentuka keterampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk
mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai
pola kehidupan pribadi dan sosial yang memuaskan. Pendidikan bukan semata-
mata sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi juga untuk
kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju
ketingkat kedewasaan.
Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat diberikan ciri atau unsur umum
dalam pendidikan:
a Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu yang
kemampuan-kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk
kepentingan hidupnya sebagai seorang individu, warga negara atau warga
masyarakat.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 2
b Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan usaha-
usaha yang di sengaja dan berencana dalam memilih isi (materi), strategi
kegiatan dan teknik penilaian yang sesuai.
c Kegiatan teersebut dapat diberikan dilingkungan keluarga, sekoalh, dan
masyarakat, pendidikan formal dan pendidikan non formal (Ditjen Dikti,
1983/ 1984 : 20)
Untuk meningkatan kualitas manusia indonesia agar masing-masing individu
dapat berperan secara tepat dengan kodratnya maka perlu dibekali dengan:
a Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
b Budi pekerti yang luhur.
c Kepribadian yang kuat.
d Disiplin yang tinggi.
e Kerja keras.
f Tangguh.
g Tanggungjawab.
h Kemandirian.
i Cerdas dan terampil.
j Sehat jasmanim dan rokhani.
(Disarikan dari GBHN 1988).
B Ruang Lingkup Pengertian Pendidikan
Pengertian pendidikan menurut Kamus Paedagogik (66) berarti perbuatan
mendidik. Sedangkan pengertian mendidik menurut Kamus Paedagogik (57)
berarti membimbing pertumbuhan anak, jasmani dan rokhani dengan sengaja.
Pendidikan mengandung arti yang lebih bervariasi daripada mendidik. Kata
pendidikan dipergunakan dalam bermacam-macam pengertian. Pada umumnya
pengertian pendidikan tergantung pada kata-kata yang mengiringinya.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 3
Dalam ketetapan MPR No. II/MPR/1988, tentang GBHN dinyatakan:
Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dilaksanakan didalam
lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah
tanggung jawab bersama antar keluarga, masyarakt dan pemerintah.
Dengan demikian jelas bahwa pendidikan di indonesia menganut konsep
pendidikan seumur hidup, yang bertolak dari suatu pandang bahwa pendidikan
adalah unsur esensial sepanjang umur seseorang. Dengan demikian maka
pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses kehidupan masa kini dan
sekaligus adalah proses untuk persiapan bagi kehidupan yang akan datang. Dari
sini kita akan temukan bidan/ scope/ ruang lingkup pendidikanyang meliputi
pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal.
1) Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di rumah
dalam lingkungan keluarga. Pendidikan ini berlangsung tanpa organisasi,
yakni tanpa orang tertentu yang diangkat atau ditunjuk sebagai pendidik,
tanpa suatu program yang harus diselesaikan dalam janga waktu tertentu,
tanpa evaluasi yang formal berbentuk ujian. Namun demikian pendidikan
informal ini sangat penting bagi pembentukan pribadian seseorang. Pengaruh
orang tua, orang lain yang ditemui anak dalam pergaulan sehari-hari dapat
menentukan sikap dan nilai-nilai yang dijadikannya sebagai pedoman dalam
hidupnya. Apakah anak kelak menjadi anak yang bertanggung jawab atau
tidak, berani mempertahankan kebenaran, patuh akan peraturan, berpegang
teguh pada janjinya, sebagian besar ditentukan oleh pendidikan informal ini.
Pendidikan informal berlangsung diluar sekolah, tetapi juga dapat didalam
sekolah bahkan didalam kelas. Di sekolah padu waktu istirahat, di warung
anak-anak mendapat pengaruh tertentu yang dapat mengubah kelakuanya.
Demikian juga di dalam kelas, sikap guru, caranya bertindak mempunyai
pengaruh terhadap murid.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 4
Sering pendidikan informal tidak mempunyai tujuan tertentu oleh karena
suasana dan situasi pendidikan memang tidak diciptakan oleh orang atau
badab tertentu. Akan tetapi dalam lingkungan hidup yang mempunyai wujud
tertentu, seperti rumah tangga, lingkungan desa, lingkungan adat suatu suku
bangsa, pendidikan informal mempunyai suatu tujuan.
Orang mempunyai cita-cita dan pandangan sendiri tentang manusia yang
diinginkannya, demikian pula masyarakat mempunyai gambaran tertentu
tentang manusia dewasa yang dicita-citakan. Suatu negara mempunyai
filsafat. Orang desa yang mempunyai adat istiadat yang teguh mengharapkan
bentuk kelakuan tertentu dari tiap penghuninya. Cara menghormati orang lain
khususnya orang yang lebih tua, cara berpakaian, cara kawin, cara mendirikan
rumah, cara bergaul, cara menggunakan bahasa dan banyak bentuk kelakuan
lain mengikuti pola tertentu yang disampaikan secara informal pada generasi
berikutnya. Menyimpang dari adat istiadat akan dikecam oleh lingkungan.
Jadi ada evaluasi oleh lingkungan terhadap kelakuan seseorang. Demikian
pula setiap lingkungan hidup mengadakan penilaian terhadap anggotanya
melalui pendapat umum.
2) Pendidikan Formal
Dalam perkataan formal terdapat kata form atau bentuk. Pendidikan formal
ialah pendidikan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, seperti
terdapat di sekolah atau universitas. Adanya organisasi yang ketat dan nyata
dari berbagai hal:
a) Adanya penjenjangan
b) Program atau bahan pelajaran untuk tiap jenis sekolah, bahkan untuk
tiap kelas sudah diatur secara formal.
c) Cara atau metode mengajar di sekolah juga formal, yaitu mengikuti
pola tertentu.
d) Penerimaaan murid.
e) Homogenitas murid.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 5
f) Jangka waktu.
g) Kewajiban belajar.
h) Penyelenggaraan.
i) Waktu belajar.
j) Uninformitas.
3) Pendidikan Non Formal
Pendidian non formal meliputi berbagai usaha khusus yang
diselenggarakan secara terorganisasi agar agar utama generasi muda dan juga
orang dewasa, yang tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak
berkesempatan mengikuti pendidikan sekolah dapat memiliki pengetahuan
praktis dan keterampilan dasar yang mereka perlukan sebagai warga
masyarakat yang produktif. Dengan demikian makna dan peran pendidikan
non formal tidak kalah pentingnya bila dibandingkan pendidikan formal.
Pendidikan formal maupun pendidikan non formal merupakan bagian-bagian
yang integral dari dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan formal dan
non formal merupakan usaha integral dalam rangka pelaksanaan asas
pendidikan seumur hidup. Tujuan pendidikan nasional berlaku baik bagi
pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan non formal antara lain
meliputi bidang pendidikan masyarakat, keolahragaan, kepemudaan dan
keolahragaan.
a) Pendidikan masyarakat bertujuan menumbuhkan dan membina
kemampuan dan mental sepiritualserta kecakapan kerja yang
berswadaya dan produktif guna membangun, serta mengusahakan
kearah suatu masyarakat yang lebih dinamis, rasional dan
demokratis sesuai dengan kepribadian.
b) Keolahragaan bertujuan untuk memupuk kesegaran jasmani,
pengisian waktu senggang secara efektif.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 6
c Pendidikan kepemudaan mengantar para pemuda menyiapkan diri
sebagai kader pembangunan patriotik yang berdisiplin nasional
melalui usaha kegiatan yang diarahkan kepada kecakapan
berorganisasi, bermasyarakat dan memanfaatkan waktu secara
sehat dan kreatif.
d Pembinaan kebudayaan bertujuan secara aktif mengembangkan
bakat budaya yang kreatif dalam arti apresiasi budaya masyarakat
untuk dapat dinikmati dan untuk mencegah masuknya pengaruh
budaya asing yang bertentangan dengan kepribadiaan nasional.
Usaha pendidikan non formal dapat diselenggarakan oleh pemerintah
maupun swasta dan masyarakat di sekolah maupun di luar gedung sekolah,
misalnya: dapat dilakukan oleh RT, RW, perusahaan, lembaga sosial dan
keagamaan, LKMD, pramuka, organisasi wanita, perkumpulan olahraga
dan sebagainya.penyelenggaraan pendidikan non formal dapat
diselenggaraan secara sederhana tanpa mendirikan gedung secara khusus,
dapat menggunakan sarana fisik yang telah tersedia, seperti bangunan
sekolah, bangunan pondok pesantren, balai desa, sanggar pramuka, dan
lain-lain. Pendidikan non formal menjadi penting, karena besarnya anak-
anak yang tidak ditampung oleh lembaga pendidikan formal dan besarnya
jumlah murid yang drop-out.
C Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan dalam arti mikro (sempit) adalah jelas seperti yang telah
disinggung terdahulu adalah membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan
rokhani peserta didik. Fungsi pendidikan secara makro (luas), ialah sebagai alat:
a Pendidikan sebagai proses transformasi budaya.
b Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi.
c Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 7
d Pendidikan sebagai penyiapan tenaga kerja.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik
dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial dan
budaya), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat
dicapai tujuan pendidiakan yang optimal. Penataan pendidikan itu terutama
dimaksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif.
Seperti diketahui, proses pertumbuhan dan berkembangan manusia sebagai akibat
interaksi dengan lingkunganya akan berlangsung secara alamiah dengan
konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat dan
meyimpang dari tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan berbagai usaha
sadar untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan itu sedemikian rupa agar
dapat diperoleh peluang pencapaian tujuan secara optimal, dan dalam waktu serta
dengan daya/dana yang seminimal mungkin. Dengan demikian diharapkan mutu
sumber daya manusia makin lama semakin meningkat. Hal ini hanya dapat
diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan tersebut dapat melaksanakan
fungsinya sebagaimana mestinya.
Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya jika setiap individu
belajar berbagai hal, baik pola-pola tingkah laku umum maupun peranan yang
berbeda-beda. Untuk itu proses pendidikan harus berfungsi untuk mengajarkan
tingkah laku umum dan menyeleksi/ mempersiapkan individu untuk peran-peran
tertentu. Sehubungan dengan fungsi yang kedua iini pendidikan bertugas
mengajarkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. Meskipun pendidikan
informal juga berperan melaksanakan kedua fungsi tersebut , tetapi sangat terbatas
khusunya dilaksanakan oleh masyarakat yang masih premitif. Pada masyarakat
yang sudah maju, fungsi yang kedua dari pendidikan itu sudah hampir sepenuhnya
diambil alih oleh lembaga pendidikan formal. Pendidikan formal berfungsi untuk
mengajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat
khusus dalam rangka untuk mempersiapkan anak untuk pekerjaan-pekerjaan
tertentu.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 8
D Aliran-Aliran Pendidikan
Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika
manusia dan masyarakat. Sejak dulu, kini, maupun dimasa depan pendidikan itu
selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan
perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan
pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan. Seperti dalam bidang-bidang
lainnya, pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu berlangsung seperti suatu
diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi
dengan pro dan kontra oleh pemikir-pemikir berikutnya, dan karena dialog
tersebut akan melahirkan lagi pemikiran-pemikiran baru, dan demikian
seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat diikuti dan dipahami, maka
aspek dari aliran-aliran itu harus dipahami terlebih dahulu. Oleh karena itu setiap
calon tenaga kependidikan, utamanya calon pakar kependidikan ,harus
memahami berbagai aliran-aliran itu agar dapat menangkap makna gerak
dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu.
1 Aliran Empirisme
Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan
stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan
perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan
tidak dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari-
hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi
ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam
bentuk pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris
bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”,
yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman
empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam
menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme (biasa pula
disebut enfironmentalisme) pendidik memegang peranan yang sangat penting
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 9
sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan
akan diteriama oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Pengalaman-
pengalaman itu tentunya yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
2 Aliran Nativisme
Aliran Nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan
kemempuan diri dalam anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor
pedidikan kurang berpengaruh pada anak. Hasil tersebut ditentukan oleh
pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Hasil pendidikan
tergantung pada pembawaan, Schopenhauer (filsuf Jerman 1788-1860)
berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan
pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh
pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka
keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan
bahwa “yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik”.
Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak
akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Istilah nativisme dari asal
kata native yang artinya adalah terlahir. Bagi nativisme, lingkungan sekitar
tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi
perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa anak
mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau
anak mempunyai pembawaan baik maka anak akan menjadi orang baik.
Pembawaan buruk dan baik ini tidak dapat diubah dari luar.
3 Aliran Naturalisme
`Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran
naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseau (1712-
1778). Berbeda dengan Schopenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua
anak yang baru dilahirkan membawa pembawaan buruk. Pembawaan baik
anak akan rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Rousseau juga
berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang dewasa malahan
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 10
dapat merusak pembawaan anak yang baik itu. Aliran ini juga disebut
negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan
pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidik tidak
diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar
pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui
proses dan kegiatan pendidikan itu. J.J. Rousseau ingin menjauhkan anak dari
segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artifiicial) sehingga
kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiah sejak saat kelahirnya itu
dapat tampak sepontan dan bebas.
4 Aliran Konvergensi
Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli
pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan
di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk.
Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak,
baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai
peran yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan
berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai
untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak akan
menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri
anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu.
Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya
memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi:
a Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan.
b Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan
kepada anak untuk membangun pontensi yang baik dan mencegah
berkembangnya potensi yang kurang baik.
c Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan.
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 11
E Batas-Batas Pendidikan
Menurut paham Konvergensi apa yang disebut kekuasaan dan kemungkinan-
kemungkinan pendidikan itu ada. Atas dasar ini maka usaha-usaha pendidikan
dalam bermacam-macam bentuk seperti sekolah-sekolah itu diselenggarakan.
Namun demikian itu kekusaan dan kemungkinan-kemungkinan pendidikan itu
ada batas-batasnya. Adapun batasan-batasannya itu ditentukan oleh:
1 Faktor Anak
Ada dua hal yang mentukan pada anak ialah bakat dan kemauan atau
tabiat. Pada anak yang lemah bakat-bakatnya usaha pendidikan yang
bagaimanapun hasilnya tidak akan mencapai harapan. Sebaliknya pada anak-
anak yang kuat bakat-bakatnya walaupun usaha pendidikan diberikan secara
minimal asal ada kesempatan, hasil pendidikan dapat mencapai taraf yang
baik. Sebab anak-anak yang berbakat baik dapat “memimpin diri sendiri”
(mengembangkan diri) tanpa banyak perangsang dari luar. Kekuasaan
pendidikan bisa nampak secara khusus pada anak yang berbakat, namun
menderita cacat bisa tetap berkembang melalui usaha pendidikan khusus.
2 Faktor Pendidik
Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 12

Pengertian pendidikan

  • 1.
    A Pengertian Pendidikan Batasanpengertian pendidikan yang dikemukakan para ahli tergantung dari sudut pandang yang dipergunakan dalam arti memberi pendidikan. Sudut pandang ini dapat bersumber dari aliran falsafah, pandangan hidup, ataupun ilmu-ilmu lain yang berkaitan dengan tingkah laku manusia. 1 Secara umum dan mendasar Driyarkara mengatakan bahwa: pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia muda. Pengangkata manusia ketaraf insaniitulah yang disebut mendidik. Pendidikan adalah pemanusiaan manusia muda (Ditjen, 1983/1984 : 19). 2 Pengertian dalam Dictionary of Education menyebutkan bahwa pendidikan ialah proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya didalam masyarakat dimana ia hidup, proses sosial dimana orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (Ditjen, Dikti, 1983/1984 : 19). 3 Crow and Crow menyebut pendidikan adalah proses yang berisi berbagai macam kegiatan yang cocok bagi individu untuk kehidupan sosialnya dan mampu meneruskan adat dan budaya serta kelembagaan sosial dari generasi ke generasi (Suprapto, 1975). 4 John Dewey dalam bukunya Democracy and Education menyebutkan bahwa proses tersebut berupa pengajaran dan bimbingan, bukan paksaan, yang terjadi didalam interakasi dengan masyarakat. Selanjutnya ia kemukakan mahwa: “in social situation the young have to refer their way of acting to what others are doing and make it fit in. This direct their action to a common result, and gives an understanding common to the participatants ”. Kalau Crow and Crow dan John Dewey memberikan arti pendidikan ditinjau dari segi kehidupan sosial, yang meneropong hubungan antara individu dengan masyarakat. 5 Ki Hajar Dewantara dalam Kongres Teman Siswa yang pertama pada tahun 1930 menyebutkan: pendidikan umumnya bererti daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek), dan tubuh anak; dalam Taman Siswa tidak boleh dipisah- pisahkan bagian-bagian itu agar supaya kita dapat memajukan kesempurnaan hidup, kehidupan dan penghidupan anak-anak yang kita didik selaras dengan dunianya. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 1
  • 2.
    6 Di dalamGBHN tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan didalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Dari uraian diatas, maka pendidikan dapat diartikan sebagai: a Suatu proses pertumbuhan yang menyesuaikan dengan lingkungan. b Suatu pengarahan dan bimbingan yang diberikan kepada anak dalam pertumbuhanya. c Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang dikehendaki oleh masyarakat. d Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju kedewasaan. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai usaha pemberian informasi dan pembentuka keterampilan saja, namun diperluas sehingga mencakup usaha untuk mewujudkan keinginan, kebutuhan dan kemampuan individu sehingga tercapai pola kehidupan pribadi dan sosial yang memuaskan. Pendidikan bukan semata- mata sarana untuk persiapan kehidupan yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan anak sekarang yang sedang mengalami perkembangan menuju ketingkat kedewasaan. Berdasarkan pengertian tersebut diatas dapat diberikan ciri atau unsur umum dalam pendidikan: a Pendidikan mengandung tujuan yang ingin dicapai, yaitu individu yang kemampuan-kemampuan dirinya berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidupnya sebagai seorang individu, warga negara atau warga masyarakat. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 2
  • 3.
    b Untuk mencapaitujuan tersebut, pendidikan perlu melakukan usaha- usaha yang di sengaja dan berencana dalam memilih isi (materi), strategi kegiatan dan teknik penilaian yang sesuai. c Kegiatan teersebut dapat diberikan dilingkungan keluarga, sekoalh, dan masyarakat, pendidikan formal dan pendidikan non formal (Ditjen Dikti, 1983/ 1984 : 20) Untuk meningkatan kualitas manusia indonesia agar masing-masing individu dapat berperan secara tepat dengan kodratnya maka perlu dibekali dengan: a Keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. b Budi pekerti yang luhur. c Kepribadian yang kuat. d Disiplin yang tinggi. e Kerja keras. f Tangguh. g Tanggungjawab. h Kemandirian. i Cerdas dan terampil. j Sehat jasmanim dan rokhani. (Disarikan dari GBHN 1988). B Ruang Lingkup Pengertian Pendidikan Pengertian pendidikan menurut Kamus Paedagogik (66) berarti perbuatan mendidik. Sedangkan pengertian mendidik menurut Kamus Paedagogik (57) berarti membimbing pertumbuhan anak, jasmani dan rokhani dengan sengaja. Pendidikan mengandung arti yang lebih bervariasi daripada mendidik. Kata pendidikan dipergunakan dalam bermacam-macam pengertian. Pada umumnya pengertian pendidikan tergantung pada kata-kata yang mengiringinya. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 3
  • 4.
    Dalam ketetapan MPRNo. II/MPR/1988, tentang GBHN dinyatakan: Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dilaksanakan didalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antar keluarga, masyarakt dan pemerintah. Dengan demikian jelas bahwa pendidikan di indonesia menganut konsep pendidikan seumur hidup, yang bertolak dari suatu pandang bahwa pendidikan adalah unsur esensial sepanjang umur seseorang. Dengan demikian maka pendidikan pada hakekatnya adalah suatu proses kehidupan masa kini dan sekaligus adalah proses untuk persiapan bagi kehidupan yang akan datang. Dari sini kita akan temukan bidan/ scope/ ruang lingkup pendidikanyang meliputi pendidikan informal, pendidikan formal dan pendidikan nonformal. 1) Pendidikan Informal Pendidikan informal adalah pendidikan yang diperoleh seseorang di rumah dalam lingkungan keluarga. Pendidikan ini berlangsung tanpa organisasi, yakni tanpa orang tertentu yang diangkat atau ditunjuk sebagai pendidik, tanpa suatu program yang harus diselesaikan dalam janga waktu tertentu, tanpa evaluasi yang formal berbentuk ujian. Namun demikian pendidikan informal ini sangat penting bagi pembentukan pribadian seseorang. Pengaruh orang tua, orang lain yang ditemui anak dalam pergaulan sehari-hari dapat menentukan sikap dan nilai-nilai yang dijadikannya sebagai pedoman dalam hidupnya. Apakah anak kelak menjadi anak yang bertanggung jawab atau tidak, berani mempertahankan kebenaran, patuh akan peraturan, berpegang teguh pada janjinya, sebagian besar ditentukan oleh pendidikan informal ini. Pendidikan informal berlangsung diluar sekolah, tetapi juga dapat didalam sekolah bahkan didalam kelas. Di sekolah padu waktu istirahat, di warung anak-anak mendapat pengaruh tertentu yang dapat mengubah kelakuanya. Demikian juga di dalam kelas, sikap guru, caranya bertindak mempunyai pengaruh terhadap murid. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 4
  • 5.
    Sering pendidikan informaltidak mempunyai tujuan tertentu oleh karena suasana dan situasi pendidikan memang tidak diciptakan oleh orang atau badab tertentu. Akan tetapi dalam lingkungan hidup yang mempunyai wujud tertentu, seperti rumah tangga, lingkungan desa, lingkungan adat suatu suku bangsa, pendidikan informal mempunyai suatu tujuan. Orang mempunyai cita-cita dan pandangan sendiri tentang manusia yang diinginkannya, demikian pula masyarakat mempunyai gambaran tertentu tentang manusia dewasa yang dicita-citakan. Suatu negara mempunyai filsafat. Orang desa yang mempunyai adat istiadat yang teguh mengharapkan bentuk kelakuan tertentu dari tiap penghuninya. Cara menghormati orang lain khususnya orang yang lebih tua, cara berpakaian, cara kawin, cara mendirikan rumah, cara bergaul, cara menggunakan bahasa dan banyak bentuk kelakuan lain mengikuti pola tertentu yang disampaikan secara informal pada generasi berikutnya. Menyimpang dari adat istiadat akan dikecam oleh lingkungan. Jadi ada evaluasi oleh lingkungan terhadap kelakuan seseorang. Demikian pula setiap lingkungan hidup mengadakan penilaian terhadap anggotanya melalui pendapat umum. 2) Pendidikan Formal Dalam perkataan formal terdapat kata form atau bentuk. Pendidikan formal ialah pendidikan yang mempunyai bentuk atau organisasi tertentu, seperti terdapat di sekolah atau universitas. Adanya organisasi yang ketat dan nyata dari berbagai hal: a) Adanya penjenjangan b) Program atau bahan pelajaran untuk tiap jenis sekolah, bahkan untuk tiap kelas sudah diatur secara formal. c) Cara atau metode mengajar di sekolah juga formal, yaitu mengikuti pola tertentu. d) Penerimaaan murid. e) Homogenitas murid. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 5
  • 6.
    f) Jangka waktu. g)Kewajiban belajar. h) Penyelenggaraan. i) Waktu belajar. j) Uninformitas. 3) Pendidikan Non Formal Pendidian non formal meliputi berbagai usaha khusus yang diselenggarakan secara terorganisasi agar agar utama generasi muda dan juga orang dewasa, yang tidak dapat sepenuhnya atau sama sekali tidak berkesempatan mengikuti pendidikan sekolah dapat memiliki pengetahuan praktis dan keterampilan dasar yang mereka perlukan sebagai warga masyarakat yang produktif. Dengan demikian makna dan peran pendidikan non formal tidak kalah pentingnya bila dibandingkan pendidikan formal. Pendidikan formal maupun pendidikan non formal merupakan bagian-bagian yang integral dari dari sistem pendidikan nasional. Pendidikan formal dan non formal merupakan usaha integral dalam rangka pelaksanaan asas pendidikan seumur hidup. Tujuan pendidikan nasional berlaku baik bagi pendidikan formal maupun non formal. Pendidikan non formal antara lain meliputi bidang pendidikan masyarakat, keolahragaan, kepemudaan dan keolahragaan. a) Pendidikan masyarakat bertujuan menumbuhkan dan membina kemampuan dan mental sepiritualserta kecakapan kerja yang berswadaya dan produktif guna membangun, serta mengusahakan kearah suatu masyarakat yang lebih dinamis, rasional dan demokratis sesuai dengan kepribadian. b) Keolahragaan bertujuan untuk memupuk kesegaran jasmani, pengisian waktu senggang secara efektif. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 6
  • 7.
    c Pendidikan kepemudaanmengantar para pemuda menyiapkan diri sebagai kader pembangunan patriotik yang berdisiplin nasional melalui usaha kegiatan yang diarahkan kepada kecakapan berorganisasi, bermasyarakat dan memanfaatkan waktu secara sehat dan kreatif. d Pembinaan kebudayaan bertujuan secara aktif mengembangkan bakat budaya yang kreatif dalam arti apresiasi budaya masyarakat untuk dapat dinikmati dan untuk mencegah masuknya pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan kepribadiaan nasional. Usaha pendidikan non formal dapat diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta dan masyarakat di sekolah maupun di luar gedung sekolah, misalnya: dapat dilakukan oleh RT, RW, perusahaan, lembaga sosial dan keagamaan, LKMD, pramuka, organisasi wanita, perkumpulan olahraga dan sebagainya.penyelenggaraan pendidikan non formal dapat diselenggaraan secara sederhana tanpa mendirikan gedung secara khusus, dapat menggunakan sarana fisik yang telah tersedia, seperti bangunan sekolah, bangunan pondok pesantren, balai desa, sanggar pramuka, dan lain-lain. Pendidikan non formal menjadi penting, karena besarnya anak- anak yang tidak ditampung oleh lembaga pendidikan formal dan besarnya jumlah murid yang drop-out. C Fungsi Pendidikan Fungsi pendidikan dalam arti mikro (sempit) adalah jelas seperti yang telah disinggung terdahulu adalah membantu (secara sadar) perkembangan jasmani dan rokhani peserta didik. Fungsi pendidikan secara makro (luas), ialah sebagai alat: a Pendidikan sebagai proses transformasi budaya. b Pendidikan sebagai proses pembentukan pribadi. c Pendidikan sebagai proses penyiapan warga negara. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 7
  • 8.
    d Pendidikan sebagaipenyiapan tenaga kerja. Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial dan budaya), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia, agar dapat dicapai tujuan pendidiakan yang optimal. Penataan pendidikan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti diketahui, proses pertumbuhan dan berkembangan manusia sebagai akibat interaksi dengan lingkunganya akan berlangsung secara alamiah dengan konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat dan meyimpang dari tujuan pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan berbagai usaha sadar untuk mengatur dan mengendalikan lingkungan itu sedemikian rupa agar dapat diperoleh peluang pencapaian tujuan secara optimal, dan dalam waktu serta dengan daya/dana yang seminimal mungkin. Dengan demikian diharapkan mutu sumber daya manusia makin lama semakin meningkat. Hal ini hanya dapat diwujudkan apabila setiap lingkungan pendidikan tersebut dapat melaksanakan fungsinya sebagaimana mestinya. Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya jika setiap individu belajar berbagai hal, baik pola-pola tingkah laku umum maupun peranan yang berbeda-beda. Untuk itu proses pendidikan harus berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum dan menyeleksi/ mempersiapkan individu untuk peran-peran tertentu. Sehubungan dengan fungsi yang kedua iini pendidikan bertugas mengajarkan berbagai macam keahlian dan keterampilan. Meskipun pendidikan informal juga berperan melaksanakan kedua fungsi tersebut , tetapi sangat terbatas khusunya dilaksanakan oleh masyarakat yang masih premitif. Pada masyarakat yang sudah maju, fungsi yang kedua dari pendidikan itu sudah hampir sepenuhnya diambil alih oleh lembaga pendidikan formal. Pendidikan formal berfungsi untuk mengajarkan pengetahuan umum dan pengetahuan-pengetahuan yang bersifat khusus dalam rangka untuk mempersiapkan anak untuk pekerjaan-pekerjaan tertentu. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 8
  • 9.
    D Aliran-Aliran Pendidikan Gagasandan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakat. Sejak dulu, kini, maupun dimasa depan pendidikan itu selalu mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan. Seperti dalam bidang-bidang lainnya, pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu berlangsung seperti suatu diskusi berkepanjangan yakni pemikiran-pemikiran terdahulu selalu ditanggapi dengan pro dan kontra oleh pemikir-pemikir berikutnya, dan karena dialog tersebut akan melahirkan lagi pemikiran-pemikiran baru, dan demikian seterusnya. Agar diskusi berkepanjangan itu dapat diikuti dan dipahami, maka aspek dari aliran-aliran itu harus dipahami terlebih dahulu. Oleh karena itu setiap calon tenaga kependidikan, utamanya calon pakar kependidikan ,harus memahami berbagai aliran-aliran itu agar dapat menangkap makna gerak dinamika pemikiran-pemikiran dalam pendidikan itu. 1 Aliran Empirisme Aliran Empirisme bertolak dari Lockean Tradition yang mementingkan stimulasi eksternal dalam perkembangan manusia, dan menyatakan perkembangan anak tergantung kepada lingkungan, sedangkan pembawaan tidak dipentingkan. Pengalaman yang diperoleh anak dalam kehidupan sehari- hari didapat dari dunia sekitarnya yang berupa stimulan-stimulan. Stimulasi ini berasal dari alam bebas ataupun diciptakan oleh orang dewasa dalam bentuk pendidikan. Tokoh perintis pandangan ini adalah seorang filsuf Inggris bernama John Locke (1704-1932) yang mengembangkan teori “Tabula Rasa”, yakni anak lahir di dunia bagaikan kertas putih yang bersih. Pengalaman empirik yang diperoleh dari lingkungan akan berpengaruh besar dalam menentukan perkembangan anak. Menurut pandangan empirisme (biasa pula disebut enfironmentalisme) pendidik memegang peranan yang sangat penting Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 9
  • 10.
    sebab pendidik dapatmenyediakan lingkungan pendidikan kepada anak dan akan diteriama oleh anak sebagai pengalaman-pengalaman. Pengalaman- pengalaman itu tentunya yang sesuai dengan tujuan pendidikan. 2 Aliran Nativisme Aliran Nativisme bertolak dari Leibnitzian Tradition yang menekankan kemempuan diri dalam anak, sehingga faktor lingkungan termasuk faktor pedidikan kurang berpengaruh pada anak. Hasil tersebut ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperoleh sejak kelahiran. Hasil pendidikan tergantung pada pembawaan, Schopenhauer (filsuf Jerman 1788-1860) berpendapat bahwa bayi itu lahir sudah dengan pembawaan baik dan pembawaan buruk. Oleh karena itu, hasil akhir pendidikan ditentukan oleh pembawaan yang sudah dibawa sejak lahir. Berdasarkan pandangan ini maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak didik itu sendiri. Ditekankan bahwa “yang jahat akan menjadi jahat dan yang baik akan menjadi baik”. Pendidikan yang tidak sesuai dengan bakat dan pembawaan anak didik tidak akan berguna untuk perkembangan anak itu sendiri. Istilah nativisme dari asal kata native yang artinya adalah terlahir. Bagi nativisme, lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Penganut pandangan ini menyatakan bahwa anak mempunyai pembawaan jahat maka dia akan menjadi jahat, sebaliknya kalau anak mempunyai pembawaan baik maka anak akan menjadi orang baik. Pembawaan buruk dan baik ini tidak dapat diubah dari luar. 3 Aliran Naturalisme `Pandangan yang ada persamaannya dengan nativisme adalah aliran naturalisme yang dipelopori oleh seorang filsuf Prancis J.J. Rousseau (1712- 1778). Berbeda dengan Schopenhauer, Rousseau berpendapat bahwa semua anak yang baru dilahirkan membawa pembawaan buruk. Pembawaan baik anak akan rusak karena dipengaruhi oleh lingkungan. Rousseau juga berpendapat bahwa pendidikan yang diberikan oleh orang dewasa malahan Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 10
  • 11.
    dapat merusak pembawaananak yang baik itu. Aliran ini juga disebut negativisme, karena berpendapat bahwa pendidik wajib membiarkan pertumbuhan anak pada alam. Jadi dengan kata lain pendidik tidak diperlukan. Yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik itu tidak menjadi rusak oleh tangan manusia melalui proses dan kegiatan pendidikan itu. J.J. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat (artifiicial) sehingga kebaikan anak-anak yang diperoleh secara alamiah sejak saat kelahirnya itu dapat tampak sepontan dan bebas. 4 Aliran Konvergensi Perintis aliran ini adalah William Stern (1871-1939), seorang ahli pendidikan bangsa Jerman yang berpendapat bahwa seorang anak dilahirkan di dunia sudah disertai pembawaan baik maupun pembawaan buruk. Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peran yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak akan menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Karena itu teori W. Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat kesatu titik). Jadi menurut teori konvergensi: a Pendidikan mungkin untuk dilaksanakan. b Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak untuk membangun pontensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. c Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan. Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 11
  • 12.
    E Batas-Batas Pendidikan Menurutpaham Konvergensi apa yang disebut kekuasaan dan kemungkinan- kemungkinan pendidikan itu ada. Atas dasar ini maka usaha-usaha pendidikan dalam bermacam-macam bentuk seperti sekolah-sekolah itu diselenggarakan. Namun demikian itu kekusaan dan kemungkinan-kemungkinan pendidikan itu ada batas-batasnya. Adapun batasan-batasannya itu ditentukan oleh: 1 Faktor Anak Ada dua hal yang mentukan pada anak ialah bakat dan kemauan atau tabiat. Pada anak yang lemah bakat-bakatnya usaha pendidikan yang bagaimanapun hasilnya tidak akan mencapai harapan. Sebaliknya pada anak- anak yang kuat bakat-bakatnya walaupun usaha pendidikan diberikan secara minimal asal ada kesempatan, hasil pendidikan dapat mencapai taraf yang baik. Sebab anak-anak yang berbakat baik dapat “memimpin diri sendiri” (mengembangkan diri) tanpa banyak perangsang dari luar. Kekuasaan pendidikan bisa nampak secara khusus pada anak yang berbakat, namun menderita cacat bisa tetap berkembang melalui usaha pendidikan khusus. 2 Faktor Pendidik Makalah pentingnya SDM manusia pada pendidikan 12