1
Pengembangan EBT di Indonesia
Oleh : Sampe L. Purba
Disampaikan dalam Webinar FGD Transformasi Kerangka Kebijakan dan Sistem Tata
Kelola Energi Baru Terbarukan di Indonesia PSE UGM – METI 10 Juli 2020
Selamat pagi Bapak/ ibu Peserta FGD yang berbahagia. Terima kasih atas undangan
hadir di FGD dengan topik Transformasi Kebijakan dan Sistem Tata Kelola Energi Baru
Terbarukan di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Energi Universitas
Gadjah Mada bekerja sama dengan METI . Kami menyambut baik penyelenggaraan FGD
penting dan signifikan ini, mengingat antara lain :
✓ Pusat Studi Energi - Universitas Gadjah Mada, adalah center of excellence tempat
berkiprahnya para akademisi, pakar dan advisor yang dapat memberi perspektif
yang tajam, dalam, komprehensif, seimbang dan visioner mengenai isu isu
kontemporer, konseptual maupun hal hal yang bersifat strategis jangka panjang,
yang kita harus ambil dan tempuh demi ketahanan energi, ketahanan ekonomi
yang muaranya adalah ketahanan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
✓ METI – Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia adalah mitra aktif konstruktif
Kementerian ESDM dalam berbagai diskusi, baik mengenai policy, potret
perkembangan dinamika global, regional, nasional dan lokal pengembangan EBT
kita
✓ Para peserta yang diundang dan berpartisipasi dalam FGD ini datang dari
berbagai latar belakang, mewakili berbagai kalangan stakeholders. Ada regulator
di berbagai instansi, akademisi, pelaku usaha, asosiasi dan sebagainya.
✓ Energi Terbarukan yang bertujuan untuk mencapai energi bersih dalam rangka
menjaga kualitas lingkungan hidup adalah sebuah keniscayaan dalam komunitas
global
Kami berharap pada akhir FGD ini akan menghasilkan potret utuh permasalahan,
mengurai persoalan, mencarikan dan merumuskan usulan solusi yang workable,
doable, fair dan substantif. Pandangan pandangan tersebut akan memperkaya dan
memperlengkapi Pemerintah dan Para Pengambil Kebijakan dalam membuat
instrumen, memperkuat tata kelola serta meningkatkan pelayanan.
Dengan mengikuti TOR yang diajukan Panitia izinkan kami menggambarkan alur pikir
yang menggambarkan permasalahan, instrumen untuk menghandle dan mentacle
serta tujuan atau outcome yang diharapkan (ends – ways -means)nya sebagai berikut
2
:
Bapak/ ibu Peserta FGD yang kami hormati,
Sebagai bagian dari tanggung jawab Indonesia sebagai warga dunia, dalam menjaga
climate change untuk menahan laju peningkatan temperatur global yang disepakati
dalam Paris Agreement, Pemerintah Indonesia dengan berbagai kebijakan, regulasi
dan program menunjukkan komitmennya menuju peningkatan penggunaan energi
bersih, baik dengan memperbesar porsi EBT dalam energy mix, cleaner technology
dan energy efficiency. Pentahapan disesuaikan dengan memperhatikan
perkembangan ekonomi, kemampuan keuangan Pemerintah, daya beli masyarakat,
korporasi dan dunia usaha, daya saing industri, ketersediaan fasilitas infrastruktur,
akses masyarakat ke energi dan sebagainya. Tahapan dan titik ekuilibrium
keseimbangan optimum dalam politik energi dikenal dengan istilah trilema energi.
Terkait dengan bauran energi sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang
Energi nomor 30 tahun 2007 dan PP 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi
Nasional, pada pasal 9 f menargetkan pada tahun 2025 peran Energi Baru dan Energi
Terbarukan paling sedikit 23% dan pada tahun 2050 paling sedikit 31% sepanjang
keekonomiannya terpenuhi.
Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia sedang dalam suasana untuk mengatasi
dampak pandemi Covid 19. Di bidang perekonomian, pandemi ini memberi tekanan
ketidak pastian dan pelemahan di sisi produktivitas, supply – demand serta mobilitas
barang, jasa maupun orang. Pemerintah kita bersama sama dengan seluruh
3
komponen masyarakat bekerja keras bahu membahu, termasuk di dalamnya
melakukan penajaman prioritas, refocussing program dengan tetap melakukan
pembenahan pembenahan memitigasi dampak ekonomi, sosial dan kesehatan.
Di bidang Energi, di tengah keterbatasan dan tantangan yang ada, Pemerintah
berkomitmen untuk meningkatkan porsi Energi Baru dan Energi Terbarukan dalam
bauran energi. Beberapa di antaranya di bidang Energi Baru adalah mendorong
berkembangnya industri pengolahan (smelter) nikel dan mineral tambang lainnya
hingga pada akhirnya kita mampu untuk memproduksi dan menghasilkan baterai
sebagai sumber energi. Sejalan dengan kemajuan teknologi, di masa depan baterai
lithium diperkirakan akan menjadi sumber energi bersih penting yang kompetitif
seperti untuk electric vehicle dan lain lain. Pada level industri dan komersial maupun
untuk komunitas dalam rangka perbaikan kualitas hidup dan peningkatan rasio
elektrifikasi, penggunaan Energi Terbarukan juga didorong untuk ditingkatkan.
Pengembangan EBT atau renewable energi adalah keniscayaan. Trend industri
global ke depan akan mengutamakan produk yang dihasilkan dengan clean energy.
Beberapa pasar dan otoritas akan mempersyaratkan green certificate sebagai entry
pass sebagai bagian dari value chain atau rantai pasok komoditas global.
Agar renewable energi dapat bertumbuh dengan sehat, kokoh berdampingan/
bersanding dengan established fossil based primary energy, diperlukan kebijakan
afirmatif, sinergi koordinasi dan kolaborasi antar berbagai stakeholders yang terkait.
Saat ini, pencapaian energy mix kita bertumbuh dengan baik. Namun demikian masih
diperlukan upaya keras, cerdas dan bijak untuk mencapai target.
4
Peningkatan peran dan proporsi EBT sebagai energi primer dalam sistem pembangkit
listrik mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Kementerian ESDM belum lama ini telah mengeluarkan PerMen ESDM nomor 4
tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas PerMen ESDM Nomor 50 tahun 2017
tentang Pemanfaatan Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik. PerMen
ini menyempurnakan beberapa hal menyangkut :
✓ Mekanisme pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik yang
memanfaatkan sumber energi baru
✓ BPP Pembangkitan di berbagai sumber energi pada sistem pembangkitan
ketenagalistrikan
✓ Scheme pembangunan jaringan tenaga tenaga listrik
✓ Pola Kerja Sama PJBL
✓ Pembinaan dan Pengawasan
✓ Masa Kontrak
dan lain lain. Penyempurnaan tersebut diharapkan akan dapat mempercepat
pengembangan energi terbarukan untuk kepentingan ketenagalistrikan, dan
meningkatkan nilai keekonomian dari hasil pembangunan pembangkit tenaga listrik.
Listrik merupakan infrastruktur dasar dalam sistem rantai pasok industri. Juga merupakan
kebutuhan dasar dalam rumah tangga modern. Untuk suksesnya transisi energi untuk
peningkatan pengembangan EBT sebagai energi primer memerlukan ekosistem yang
saling mendukung dari lima elemen berikut, yaitu :
5
Adapun aktor-aktor stakeholders utama, serta concern masing – masing stakeholders
dapat disimplifikasi dalam matriks berikut :
6
Pengembangan EBT diharapkan menciptakan energi masa depan yang bersih dan
berkesinambungan sambil mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan
kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah daerah.
Langkah langkah strategis dalam rangka restructuring and refocussing program EBT dan
Konservasi Energi meliputi antara lain :
✓ Kebijakan untuk membangun a level of playing field untuk EBT
✓ Roadmap pengembangan EBT dengan berbagai terobosan dalam rangka
penciptaan pasar pasar EBT yang baru
✓ Fasilitasi pendanaan yang lebih murah
✓ Meningkatkan pelayanan DitJen EBTKE sebagai center of excellence – pusat
inovasi dan implementasi EBTKE.
Isu isu strategis dalam pengembangan EBT adalah sebagai berikut :
7
Adapun langkah-langkah pengembangan EBT dan terobosan penciptaan pasar EBT
yang baru antara lain adalah dengan :
Akhirnya, kami ucapkan selamat ber FGD. Seperti kami sampaikan di bagian awal,
kiranya FGD ini akan menghasilkan potret utuh yang mengurai persoalan,
mencarikan dan merumuskan usulan solusi yang workable, doable, fair dan
substantif.
Jakarta, 10 Juli 2020
Terima kasih
Sampe L. Purba
SAM – Ekonomi Sumber Daya Alam

Pengembangan ebt di Indonesia

  • 1.
    1 Pengembangan EBT diIndonesia Oleh : Sampe L. Purba Disampaikan dalam Webinar FGD Transformasi Kerangka Kebijakan dan Sistem Tata Kelola Energi Baru Terbarukan di Indonesia PSE UGM – METI 10 Juli 2020 Selamat pagi Bapak/ ibu Peserta FGD yang berbahagia. Terima kasih atas undangan hadir di FGD dengan topik Transformasi Kebijakan dan Sistem Tata Kelola Energi Baru Terbarukan di Indonesia, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Energi Universitas Gadjah Mada bekerja sama dengan METI . Kami menyambut baik penyelenggaraan FGD penting dan signifikan ini, mengingat antara lain : ✓ Pusat Studi Energi - Universitas Gadjah Mada, adalah center of excellence tempat berkiprahnya para akademisi, pakar dan advisor yang dapat memberi perspektif yang tajam, dalam, komprehensif, seimbang dan visioner mengenai isu isu kontemporer, konseptual maupun hal hal yang bersifat strategis jangka panjang, yang kita harus ambil dan tempuh demi ketahanan energi, ketahanan ekonomi yang muaranya adalah ketahanan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. ✓ METI – Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia adalah mitra aktif konstruktif Kementerian ESDM dalam berbagai diskusi, baik mengenai policy, potret perkembangan dinamika global, regional, nasional dan lokal pengembangan EBT kita ✓ Para peserta yang diundang dan berpartisipasi dalam FGD ini datang dari berbagai latar belakang, mewakili berbagai kalangan stakeholders. Ada regulator di berbagai instansi, akademisi, pelaku usaha, asosiasi dan sebagainya. ✓ Energi Terbarukan yang bertujuan untuk mencapai energi bersih dalam rangka menjaga kualitas lingkungan hidup adalah sebuah keniscayaan dalam komunitas global Kami berharap pada akhir FGD ini akan menghasilkan potret utuh permasalahan, mengurai persoalan, mencarikan dan merumuskan usulan solusi yang workable, doable, fair dan substantif. Pandangan pandangan tersebut akan memperkaya dan memperlengkapi Pemerintah dan Para Pengambil Kebijakan dalam membuat instrumen, memperkuat tata kelola serta meningkatkan pelayanan. Dengan mengikuti TOR yang diajukan Panitia izinkan kami menggambarkan alur pikir yang menggambarkan permasalahan, instrumen untuk menghandle dan mentacle serta tujuan atau outcome yang diharapkan (ends – ways -means)nya sebagai berikut
  • 2.
    2 : Bapak/ ibu PesertaFGD yang kami hormati, Sebagai bagian dari tanggung jawab Indonesia sebagai warga dunia, dalam menjaga climate change untuk menahan laju peningkatan temperatur global yang disepakati dalam Paris Agreement, Pemerintah Indonesia dengan berbagai kebijakan, regulasi dan program menunjukkan komitmennya menuju peningkatan penggunaan energi bersih, baik dengan memperbesar porsi EBT dalam energy mix, cleaner technology dan energy efficiency. Pentahapan disesuaikan dengan memperhatikan perkembangan ekonomi, kemampuan keuangan Pemerintah, daya beli masyarakat, korporasi dan dunia usaha, daya saing industri, ketersediaan fasilitas infrastruktur, akses masyarakat ke energi dan sebagainya. Tahapan dan titik ekuilibrium keseimbangan optimum dalam politik energi dikenal dengan istilah trilema energi. Terkait dengan bauran energi sebagaimana diamanatkan dalam Undang Undang Energi nomor 30 tahun 2007 dan PP 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, pada pasal 9 f menargetkan pada tahun 2025 peran Energi Baru dan Energi Terbarukan paling sedikit 23% dan pada tahun 2050 paling sedikit 31% sepanjang keekonomiannya terpenuhi. Saat ini, seluruh dunia termasuk Indonesia sedang dalam suasana untuk mengatasi dampak pandemi Covid 19. Di bidang perekonomian, pandemi ini memberi tekanan ketidak pastian dan pelemahan di sisi produktivitas, supply – demand serta mobilitas barang, jasa maupun orang. Pemerintah kita bersama sama dengan seluruh
  • 3.
    3 komponen masyarakat bekerjakeras bahu membahu, termasuk di dalamnya melakukan penajaman prioritas, refocussing program dengan tetap melakukan pembenahan pembenahan memitigasi dampak ekonomi, sosial dan kesehatan. Di bidang Energi, di tengah keterbatasan dan tantangan yang ada, Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan porsi Energi Baru dan Energi Terbarukan dalam bauran energi. Beberapa di antaranya di bidang Energi Baru adalah mendorong berkembangnya industri pengolahan (smelter) nikel dan mineral tambang lainnya hingga pada akhirnya kita mampu untuk memproduksi dan menghasilkan baterai sebagai sumber energi. Sejalan dengan kemajuan teknologi, di masa depan baterai lithium diperkirakan akan menjadi sumber energi bersih penting yang kompetitif seperti untuk electric vehicle dan lain lain. Pada level industri dan komersial maupun untuk komunitas dalam rangka perbaikan kualitas hidup dan peningkatan rasio elektrifikasi, penggunaan Energi Terbarukan juga didorong untuk ditingkatkan. Pengembangan EBT atau renewable energi adalah keniscayaan. Trend industri global ke depan akan mengutamakan produk yang dihasilkan dengan clean energy. Beberapa pasar dan otoritas akan mempersyaratkan green certificate sebagai entry pass sebagai bagian dari value chain atau rantai pasok komoditas global. Agar renewable energi dapat bertumbuh dengan sehat, kokoh berdampingan/ bersanding dengan established fossil based primary energy, diperlukan kebijakan afirmatif, sinergi koordinasi dan kolaborasi antar berbagai stakeholders yang terkait. Saat ini, pencapaian energy mix kita bertumbuh dengan baik. Namun demikian masih diperlukan upaya keras, cerdas dan bijak untuk mencapai target.
  • 4.
    4 Peningkatan peran danproporsi EBT sebagai energi primer dalam sistem pembangkit listrik mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Kementerian ESDM belum lama ini telah mengeluarkan PerMen ESDM nomor 4 tahun 2020 tentang Perubahan Kedua atas PerMen ESDM Nomor 50 tahun 2017 tentang Pemanfaatan Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik. PerMen ini menyempurnakan beberapa hal menyangkut : ✓ Mekanisme pembelian tenaga listrik dari pembangkit listrik yang memanfaatkan sumber energi baru ✓ BPP Pembangkitan di berbagai sumber energi pada sistem pembangkitan ketenagalistrikan ✓ Scheme pembangunan jaringan tenaga tenaga listrik ✓ Pola Kerja Sama PJBL ✓ Pembinaan dan Pengawasan ✓ Masa Kontrak dan lain lain. Penyempurnaan tersebut diharapkan akan dapat mempercepat pengembangan energi terbarukan untuk kepentingan ketenagalistrikan, dan meningkatkan nilai keekonomian dari hasil pembangunan pembangkit tenaga listrik. Listrik merupakan infrastruktur dasar dalam sistem rantai pasok industri. Juga merupakan kebutuhan dasar dalam rumah tangga modern. Untuk suksesnya transisi energi untuk peningkatan pengembangan EBT sebagai energi primer memerlukan ekosistem yang saling mendukung dari lima elemen berikut, yaitu :
  • 5.
    5 Adapun aktor-aktor stakeholdersutama, serta concern masing – masing stakeholders dapat disimplifikasi dalam matriks berikut :
  • 6.
    6 Pengembangan EBT diharapkanmenciptakan energi masa depan yang bersih dan berkesinambungan sambil mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah daerah. Langkah langkah strategis dalam rangka restructuring and refocussing program EBT dan Konservasi Energi meliputi antara lain : ✓ Kebijakan untuk membangun a level of playing field untuk EBT ✓ Roadmap pengembangan EBT dengan berbagai terobosan dalam rangka penciptaan pasar pasar EBT yang baru ✓ Fasilitasi pendanaan yang lebih murah ✓ Meningkatkan pelayanan DitJen EBTKE sebagai center of excellence – pusat inovasi dan implementasi EBTKE. Isu isu strategis dalam pengembangan EBT adalah sebagai berikut :
  • 7.
    7 Adapun langkah-langkah pengembanganEBT dan terobosan penciptaan pasar EBT yang baru antara lain adalah dengan : Akhirnya, kami ucapkan selamat ber FGD. Seperti kami sampaikan di bagian awal, kiranya FGD ini akan menghasilkan potret utuh yang mengurai persoalan, mencarikan dan merumuskan usulan solusi yang workable, doable, fair dan substantif. Jakarta, 10 Juli 2020 Terima kasih Sampe L. Purba SAM – Ekonomi Sumber Daya Alam