Konsep Kurikulum 2013 Pendekatan, 
Penilaian, dan Model-model 
Pembelajaran pada Kurikulum 2013 (4 
JP) 
BPSDMPK-PMP 
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN 
KEBUDAYAAN
Pendekatan, Penilaian, dan Model-model 
Pembelajaran pada Kurikulum 2013 (4 JP) 
Kompetensi Peserta Pelatihan: 
• Mendeskripsikan konsep pendekatan saintifik dalam 
pembelajaran 
• Mendeskripsikan konsep model-model 
pembelajaran (PBL, PJBL,DL) 
• Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada 
proses dan hasil belajar.
Indikator 
• Menjelaskan konsep pendekatan saintifik. 
• Menjelaskan konsep model-model pembelajaran 
(PBL, PJBL, DL) 
• Menjelaskan konsep penilaian autentik pada 
proses dan hasil belajar.
PEMBELAJARAN SMP
PRINSIP PEMBELAJARAN 
(1) BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK, 
(2) MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK, 
(3) MENCIPTAKAN KONDISI MENYENANGKAN DAN 
MENANTANG, 
(4) BERMUATAN NILAI, ETIKA, ESTETIKA, LOGIKA, DAN 
KINESTETIKA, 
(5)PEMBELAJARAN HARUS BERGESER DARI “DIBERI 
TAHU” MENJADI “AKTIF MENCARI TAHU”. 
(6) MENYEDIAKAN PENGALAMAN BELAJAR YANG 
BERAGAM MELALUI PENERAPAN BERBAGAI STRATEGI 
DAN METODE PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN, 
KONTEKSTUAL, EFEKTIF, EFISIEN, DAN BERMAKNA.
PENDEKATAN PEMBELAJARAN 
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR 
KI 1: SIKAP RELIGIUS TIDAK LANGSUNG 
(MELALUI AKTIVITAS 
KI 2: SIKAP SOSIAL SEHARI-HARI DI SEKOLAH 
DAN PEMBELAJARAN 
PENGETAHUAN DAN 
PENERAPAN PENGETAHUAN 
KI 3: PENGETAHUAN 
PEMBELAJARAN LANGSUNG 
KI 4: KETRAMPILAN 
(KNOWLEDGE UTILITY) 
(PEMBELAJARAN SAINTIFIK)
BENTUK-BENTUK 
PEMBELAJARAN TIDAK 
LANGSUNG 
UCAPAN YANG BERSAHABAT 
TEGORAN PERBAIKAN 
HUKUMAN MENDIDIK 
PERILAKU CONTOH (TELADAN) 
LINGKUNGAN YANG KONDUSIF
PEMBELAJARAN 
SCIENTIFIC TEACHING APPROACH
PEMBELAJARAN SAINTIFIK 
SISWA AKTIF 
MENCARI 
TAHU 
SETIAP 
LANGKAH 
PEMBELAJARAN 
MENJADI 
KOMPETENSI 
YANG HARUS 
DILATIH 
PENGUATAN 
DILAKUKAN 
SECARA 
VERTIKAL 
DAN 
HORIZONTAL 
PADA SETIAP 
MATA 
PELAJARAN 
SETIAP 
LANGKAH 
PEMBELAJARA 
N 
DINILAI
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
10 
Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka 
prinsip pembelajaran yang digunakan: 
1. Dari pesertadidik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu; 
2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajarmenjadi belajar 
berbasis aneka sumberbelajar; 
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan 
penggunaan pendekatan ilmiah; 
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran 
berbasis kompetensi; 
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; 
6. Daripembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju 
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi 
dimensi;
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
11 
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; 
8. Peningkatan dan keseimbanganantara keterampilan fisikal (hardskills) dan 
keterampilan mental (softskills); 
9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta 
didiksebagai pembelajar sepanjanghayat; 
10.pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(ing 
ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan 
mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut 
wuri handayani); 
11.Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; 
12.pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa 
saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. 
13.Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan 
efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan 
14.Pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budayapesertadidik. 
Terkait dengan prinsip di atas, dikembangkan standar proses yang mencakup 
perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian 
hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
Kegiatan Inti : 
• Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai 
tujuan, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, 
menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi 
pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi 
prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat 
dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. 
• Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan 
karakteristik peserta didik dan matapelajaran, yang meliputi 
proses observasi, menanya, mengumpulkan informasi, asosiasi, 
dan komunikasi. 
• Untuk pembelajaran yang berkenaan dengan KD yang bersifat 
prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi agar 
peserta didik dapat melakukan pengamatan terhadap 
pemodelan/demonstrasi oleh guru atau ahli, peserta didik 
menirukan, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan 
pemberian umpan balik, dan latihan lanjutan kepada peserta 
didik. 
12
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
13 
• Baik pembelajaran langsung maupun pembelajaran tidak 
langsung terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah. 
• Pembelajaran langsung berkenaan dengan pembelajaran 
yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-3 dan KI-4. 
• Keduanya, dikembangkan secara bersamaan dalam suatu 
proses pembelajaran dan menjadi wahana untuk 
mengembangkan KD pada KI-1 dan KI-2. Pembelajaran tidak 
langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut 
KD yang dikembangkan dari KI-1 dan KI-2. 
• Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar 
pokok yaitu: 
1) mengamati; 
2) menanya; 
3) mengumpulkan informasi; 
4) mengasosiasi; dan 
5) mengkomunikasikan.
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
14 
LANGKAH 
PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR 
KOMPETENSI YANG 
DIKEMBANGKAN 
Mengamati Membaca, mendengar, 
menyimak, melihat (tanpa atau 
dengan alat) 
Melatih kesungguhan, 
ketelitian, mencari 
informasi 
Menanya Mengajukan pertanyaan tentang 
informasi yang tidak dipahami 
dari apa yang diamati atau 
pertanyaan untuk mendapatkan 
informasi tambahan tentang apa 
yang diamati 
(dimulai dari pertanyaan faktual 
sampai ke pertanyaan yang 
bersifat hipotetik) 
Mengembangkan 
kreativitas, rasa ingin 
tahu, kemampuan 
merumuskan pertanyaan 
untuk membentuk 
pikiran kritis yang perlu 
untuk hidup cerdas dan 
belajar sepanjang hayat
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
15 
LANGKAH 
PEMBELAJARAN 
KEGIATAN BELAJAR KOMPETENSI YANG 
DIKEMBANGKAN 
Mengumpulkan 
informasi/ 
eksperimen 
• melakukan 
eksperimen 
• membaca sumber 
lain selain buku 
teks 
• mengamati objek/ 
kejadian/aktivitas 
• wawancara 
dengan nara 
sumber 
Mengembangkan sikap 
teliti, jujur,sopan, 
menghargai pendapat 
orang lain, kemampuan 
berkomunikasi, 
menerapkan kemampuan 
mengumpulkan informasi 
melalui berbagai cara yang 
dipelajari, 
mengembangkan 
kebiasaan belajar dan 
belajar sepanjang hayat.
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
16 
LANGKAH 
PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR 
KOMPETENSI 
YANG 
DIKEMBANGKAN 
Mengasosiasikan 
/mengolah 
infromasi 
• mengolah informasi yang sudah 
dikumpulkan baik terbatas dari hasil 
kegiatan mengumpulkan/eksperimen 
mau pun hasil dari kegiatan 
mengamati dan kegiatan 
mengumpulkan informasi. 
• Pengolahan informasi yang 
dikumpulkan dari yang bersifat 
menambah keluasan dan kedalaman 
sampai kepada pengolahan informasi 
yang bersifat mencari solusi dari 
berbagai sumber yang memiliki 
pendapat yang berbeda sampai 
kepada yang bertentangan 
Mengembangkan 
sikap jujur, teliti, 
disiplin, taat 
aturan, kerja 
keras, 
kemampuan 
menerapkan 
prosedur dan 
kemampuan 
berpikir induktif 
serta deduktif 
dalam 
menyimpulkan .
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
17 
LANGKAH 
PEMBELAJARAN 
KEGIATAN BELAJAR KOMPETENSI YANG 
DIKEMBANGKAN 
Mengkomunikasi 
kan 
Menyampaikan hasil 
pengamatan, 
kesimpulan 
berdasarkan hasil 
analisis secara lisan, 
tertulis, atau media 
lainnya 
Mengembangkan sikap 
jujur, teliti, toleransi, 
kemampuan berpikir 
sistematis, 
mengungkapkan 
pendapat dengan 
singkat dan jelas, dan 
mengembangkan 
kemampuan berbahasa 
yang baik dan benar.
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
18 
• Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan kompetensi yang terkait 
dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, 
menghargai pendapat orang lain yang tercantum dalam silabus dan RPP. 
• Cara pengumpulan data sedapat mungkin relevan dengan jenis data yang 
dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, 
museum, dan sebagainya. 
• Sebelum menggunakannya peserta didik harus tahu dan terlatih dilanjutkan 
dengan menerapkannya. 
Berikutnya adalah contoh aplikasi dari kelima kegiatan belajar (learning event) 
yang diuraikan dalam tabel 1 di atas. 
a. Mengamati 
Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan 
bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan 
melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. 
Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan 
pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan 
(melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari 
suatu benda atau objek.
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
19 
b. Menanya 
• Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas 
kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah 
dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. 
• Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan 
pertanyaantentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada 
yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal 
lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada 
pertanyaan yang bersifat hipotetik. 
• Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, 
masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke 
tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. 
• Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya 
dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya 
maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. 
• Pertanyaan terebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan 
beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta 
didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
c. Mengumpulkan dan mengasosiasikan 
• Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan 
mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui 
berbagai cara. 
• Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih 
banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih 
teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. 
• Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi 
yang menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu 
memeroses informasi untuk menemukan keterkaitan 
satu informasi dengan informasi lainnya, 
menemukan pola dari keterkaitan informasi dan 
bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari 
pola yang ditemukan. 
20
PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 
21 
d. Mengkomunikasikan hasil 
Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau 
menceritakan apa yang ditemukan dalam 
kegiatan mencari informasi, 
mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil 
tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru 
sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok 
peserta didik tersebut.
22 
Model Pembelajaran
1. Model Pembelajaran Berbasis Proyek 
(Project Based Learning) 
a. Definisi 
• Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) 
adalah model pembelajaran yang menggunakan 
proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan 
eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi 
untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. 
• Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar 
yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam 
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru 
berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.
• Pembelajaran Berbasis Proyek dirancang untuk 
digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan 
peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan 
memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai 
dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding 
question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah 
proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai 
subjek (materi) dalam kurikulum. 
• Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta 
didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus 
berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. 
PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik 
dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha 
peserta didik.
b. Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek 
– Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk 
belajar, mendorong kemampuan mereka untuk 
melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu 
untuk dihargai. 
– Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. 
– Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan 
berhasil memecahkan problem-problem yang 
kompleks. 
– Meningkatkan kolaborasi. 
– Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan 
mempraktikkan keterampilan komunikasi. 
– Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam 
mengelola sumber.
Keuntungan Pembelajaran Berbasis 
Proyek (Lanjutan) 
– Memberikan pengalaman kepada peserta didik 
pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, 
dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain 
seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. 
– Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta 
didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang 
sesuai dunia nyata. 
– Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil 
informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, 
kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. 
– Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, 
sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses 
pembelajaran.
d. Langkah-Langkah Operasional 
1 
PENENTUAN 
PERTANYAAN 
MENDASAR 
2 
MENYUSUN 
PERECANAAN PROYEK 
3 
MENYUSUN JADUAL 
4 
MONITORING 
5 
MENGUJI HASIL 
6 
EVALUASI 
PENGALAMAN
e. Sistem Penilaian proyek 
• Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap 
suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu 
tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari 
perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, 
pengolahan dan penyajian data. 
• Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui 
pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan 
penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta 
didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
Sistem Penilaian Proyek (Lanjutan) 
Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu 
dipertimbangkan yaitu: 
• Kemampuan pengelolaan 
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari 
informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta 
penulisan laporan. 
• Relevansi 
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan 
mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan 
keterampilan dalam pembelajaran. 
• Keaslian 
Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil 
karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa 
petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
3. Model Pembelajaran Penemuan 
(Discovery Learning) 
a. Definisi Metode Discovery Learning 
• Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang 
didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila 
pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk 
finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. 
• Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai 
prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem 
Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga 
istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada 
ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak 
diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada 
discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa 
semacam masalah yang direkayasa oleh guru
Definisi metode Discovery Learning (Lanjutan) 
• Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan 
sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa 
untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat 
membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan 
tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang 
teacher oriented menjadi student oriented. 
• Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan 
kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang 
scientis, historin, atau ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam 
bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan 
menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, 
mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
b. Keunggulan Metode Discovery Learning 
• Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan 
keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha 
penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang 
tergantung bagaimana cara belajarnya. 
• Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat 
pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan 
dan transfer. 
• Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya 
rasa menyelidiki dan berhasil. 
• Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat 
dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. 
• Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya 
sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
Keunggulan Metode Pembelajaran 
Penemuan (Lanjutan) 
• Metode Pembelajaran Penemuan dapat membantu siswa 
memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh 
kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. 
• Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif 
mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat 
bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi 
diskusi. 
• Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) 
karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu 
atau pasti. 
• Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik; 
• Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada 
situasi proses belajar yang baru;
Keunggulan Metode Pembelajaran 
Penemuan (Lanjutan) 
• Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri; 
• Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis 
sendiri; 
• Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; situasi proses 
belajar menjadi lebih terangsang; 
• Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada 
pembentukan manusia seutuhnya; 
• Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa; 
• Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai 
jenis sumber belajar; 
• Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
d. Langkah-Langkah Operasional 
Pembelajaran Penemuan 
a. Langkah Persiapan 
1). Menentukan tujuan pembelajaran 
2). Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, 
minat, gaya belajar, dan sebagainya) 
3). Memilih materi pelajaran. 
4). Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara 
induktif (dari contoh-contoh generalisasi) 
5). Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, 
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa 
6). Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke 
kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, 
ikonik sampai ke simbolik 
7). Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 
b. Pelaksanaan 
1). Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) 
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada 
sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian 
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar 
timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping 
itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan 
mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan 
aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan 
pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini 
berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar 
yang dapat mengembangkan dan membantu siswa 
dalam mengeksplorasi bahan.
Langkah-Langkah Operasional 
(Lanjutan) 
2). Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) 
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah 
guru memberi kesempatan kepada siswa untuk 
mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda 
masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, 
kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam 
bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan 
masalah)
Langkah-Langkah Operasional 
(Lanjutan) 
3). Data collection (Pengumpulan Data). 
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi 
kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan 
informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk 
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 
2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab 
pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya 
hipotesis, dengan demikian anak didik diberi 
kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai 
informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati 
objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji 
coba sendiri dan sebagainya.
Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 
4). Data Processing (Pengolahan Data) 
Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan 
kegiatan mengolah data dan informasi yang telah 
diperoleh para siswa baik melalui wawancara, 
observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua 
informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan 
sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, 
ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara 
tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan 
tertentu
Langkah-Langkah Operasional 
(Lanjutan) 
5). Verification (Pembuktian) 
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara 
cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya 
hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, 
dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 
2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar 
proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif 
jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk 
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau 
pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai 
dalam kehidupannya.
Langkah-Langkah Operasional 
(Lanjutan) 
6). Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) 
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses 
menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan 
prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau 
masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil 
verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi 
maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari 
generalisasi
e. Sistem Penilaian Discovery Learning 
• Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, 
penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes 
maupun non tes. 
• Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian 
kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. 
Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka 
dalam model pembelajaran discovery learning dapat 
menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya 
menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian 
hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat 
dilakukan dengan pengamatan.
4. Model Pembelajaran Berbasis Masalah 
(Problem Based Learning) 
a. Definisi Pembelajaran Berbasis Masalah 
• Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah 
pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah 
kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk 
belajar. 
• Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis 
masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk 
memecahkan masalah dunia nyata (real world) 
43
b. Keunggulan PBL 
1). Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta 
didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah 
maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya 
atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar 
dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta 
didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana 
konsep diterapkan 
2). Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik 
mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan 
dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan 
3). PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, 
menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam 
bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat 
mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja 
kelompok. 
44
c. Langkah-langkah Operasional dalam 
Proses Pembelajaran PBL 
1). Konsep Dasar (Basic Concept) 
Fasilitator memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link 
dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini 
dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer 
pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah 
dan tujuan pembelajaran 
2). Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) 
Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau 
permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan 
brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan 
pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, 
sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif 
pendapat 
45
Langkah-langkah Operasional dalam 
Proses Pembelajaran PBL (Lanjutan) 
3). Pembelajaran Mandiri (Self Learning) 
Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat 
memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber 
yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang 
tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan 
pakar dalam bidang yang relevan. 
Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) 
agar peserta didik mencari informasi dan 
mengembangkan pemahaman yang relevan dengan 
permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) 
informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu 
dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut 
haruslah relevan dan dapat dipahami. 
46
Langkah-langkah Operasional dalam 
Proses Pembelajaran PBL (Lanjutan) 
4).Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) 
Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan 
pendalaman materi dalam langkah pembelajaran 
mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya 
peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk 
mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi 
dari permasalahan kelompok. Pertukaran 
pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara 
peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan 
fasilitatornya. 
47
Langkah-langkah Operasional dalam 
Proses Pembelajaran PBL (Lanjutan) 
5). Penilaian (Assessment) 
Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek 
pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap 
(attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan 
yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang 
dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian 
tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan 
laporan. 
Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari 
penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, 
hardware, maupun kemampuan perancangan dan 
pengujian. 
48
f. Contoh Penerapan 
49 
Tahapan-Tahapan Model PBL 
FASE-FASE PERILAKU GURU 
Fase 1 
Orientasi peserta didik kepada 
masalah 
 Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan 
logistik yg dibutuhkan 
 Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif 
dalam pemecahan masalah yang dipilih 
Fase 2 
Mengorganisasikan peserta didik 
Membantu peserta didik mendefinisikan 
danmengorganisasikan tugas belajar yang 
berhubungan dengan masalah tersebut 
Fase 3 
Membimbing penyelidikan individu 
dan kelompok 
Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan 
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen 
untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan 
masalah 
Fase 4 
Mengembangkan dan menyajikan 
hasil karya 
Membantu peserta didik dalam merencanakan 
dan menyiapkan karya yang sesuai seperti 
laporan, model dan berbagi tugas dengan teman 
Fase 5 
Menganalisa dan mengevaluasi proses 
pemecahan masalah 
Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang 
telah dipelajari /meminta kelompok presentasi 
hasil kerja
g. Sistem Penilaian PBL 
• Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan 
(knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian 
terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh 
kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir 
semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, 
dokumen, dan laporan. 
• Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat 
bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun 
kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian 
terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu 
keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama 
dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian 
untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran 
yang bersangkutan. 
50
Sistem Penilaian PBL (Lanjutan) 
Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan 
authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan 
portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan 
peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan 
belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian 
tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan 
dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. 
• Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri 
terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk 
pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri 
dalam belajar. 
• Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk 
memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian 
tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman 
dalam kelompoknya 
51
SISTEM PENILAIAN: 
Apakah ada perbedaaan pada : 
1. Prinsip dan Pendekatan Penilaian 
2. Ruang Lingkup Penilaian 
3. Teknik dan Instrumen Penilaian 
4. Mekanisme dan prosedur 
5. Pelaksanaan dan pelaporan 
6. Pemanfaatan dan Mekanisme Penjaminan 
Mutu Peniaian
SISTEM PENILAIAN: 
Standar Penilaian yang bertujuan untuk 
menjamin: 
1. perencanaan penilaian peserta didik sesuai 
dengan kompetensi yang akan dicapai dan 
berdasarkan prinsip-prinsip penilaian; 
2. pelaksanaan penilaian peserta didik secara 
profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, 
dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan 
3. pelaporan hasil penilaian peserta didik secara 
objektif, akuntabel, dan informatif.
PENGERTIAN PENILAIAN OTENTIK 
PENILAIAN OTENTIK ADALAH PENDEKATAN DAN INSTRUMEN 
ASESMEN YANG MEMBERIKAN KESEMPATAN YANG LUAS 
KEPADA PESERTA DIDIK UNTUK MENERAPKAN 
PENGETAHUAN, KETRAMPILAN, DAN SIKAP YANG SUDAH 
DIMILIKINYA DALAM BENTUK TUGAS: MEMBACA DAN 
MERINGKASNYA, EKSPERIMEN, MENGAMATI, SURVEY, 
PROJECT, MAKALAH, MEMBUAT MULTI MEDIA, MEMBUAT 
KARANGAN, DISKUSI KELAS. 
AUTHENTIC ASSESSMENT, ON THE OTHER HAND, IS A TYPE OF 
ASSESSMENT IN WHICH STUDENTS USE THEIR UNDERSTANDING OF A 
SUBJECT TO SOLVE REAL WORLD SITUATIONS AND PROBLEMS. 
STEPHANY ELSWORTH
PRINSIP PENILAIAN: 
55 
1. Otentik : 
• Penilaian dan pembelajaran merupakan dua hal yang 
saling berkaitan. 
• Penilaian otentik harus mencerminkan masalah dunia 
nyata, bukan dunia sekolah. 
• Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik 
(kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, 
keterampilan, dan sikap). 
• Tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh 
peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa 
yang dapat dilakukan oleh peserta didik. 
• Contoh-contoh tugas autentik: Pemecahan masalah 
matematika , melaksanakan percobaan, Bercerita, 
Menulis laporan , Berpidato, Membaca puisi, 
Membuat peta perjalanan
PRINSIP PENILAIAN: 
56 
2. Berkesinambungan : 
• Penilaian yang dilakukan secara terus menerus 
dan berkelanjutan selama pembelajaran 
berlangsung. 
• Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran 
yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar 
peserta didik, memantau proses, kemajuan, dan 
perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk 
penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan 
secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan 
tengah semester, ulangan akhir semester, atau 
ulangan kenaikan kelas)
PRINSIP PENILAIAN: 
57 
3. Menggunakan teknik yang bervariasi. 
Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa 
tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, 
projek, pengamatan, dan penilaian diri. 
4. Berdasarkan acuan kriteria 
Penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian 
kompetensi yang ditetapkan. Kemampuan 
peserta didik tidak dibandingkan terhadap 
kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap 
kriteria yang ditetapkan.
SISTEM PENILAIAN: 
1. Penilaian diri : dilakukan sendiri oleh peserta didik 
secara reflektif untuk membandingkan posisi 
relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan. 
2. Penilaian berbasis portofolio: dilaksanakan untuk 
menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta 
didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau 
kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya 
pada sikap/perilaku dan keterampilan.
SISTEM PENILAIAN: 
4. Ulangan : dilakukan untuk mengukur pencapaian 
kompetensi peserta didik secara berkelanjutan 
dalam proses pembelajaran, untuk memantau 
kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik. 
5. Ulangan harian: dilakukan secara periodik untuk 
menilai kompetensi peserta didik setelah 
menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau 
lebih. 
6. Ulangan tengah semester : dilakukan oleh pendidik 
untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta 
didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan 
pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester 
meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan 
seluruh KD pada periode tersebut.
SISTEM PENILAIAN: 
7. Ulangan akhir semester: dilakukan oleh pendidik untuk mengukur 
pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan 
meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada 
semester tersebut. 
8. Ujian Tingkat Kompetensi : UTK merupakan kegiatan pengukuran yang 
dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat 
kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang 
merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut. 
9. UjianMutu Tingkat Kompetensi : UMTK merupakan kegiatan pengukuran 
yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapaian tingkat 
kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang 
merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut. 
10.Ujian Nasional : UN merupakan kegiatan pengukuran kompetensi tertentu 
yang dicapai peserta didik dalam rangka menilai pencapaian Standar 
Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan secara nasional. 
11.Ujian Sekolah/Madrasah: kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi di 
luar kompetensi yang diujikan pada UN, dilakukan oleh satuan pendidikan.
SISTEM PENILAIAN: 
1) Penilaian otentik dilakukan oleh guru secara berkelanjutan. 
2) Penilaian diri dilakukan oleh peserta didik untuk tiap kali sebelum ulangan harian. 
3) Penilaian projek dilakukan oleh pendidik untuk tiap akhir bab atau tema 
pelajaran. 
4) Ulangan harian dilakukan oleh pendidik terintegrasi dengan proses pembelajaran 
dalam bentuk ulangan atau penugasan. 
5) Ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester, dilakukan oleh pendidik di 
bawah koordinasi satuan pendidikan. 
6) Ujian tingkat kompetensi dilakukan oleh satuan pendidikan pada akhir kelas II 
(tingkat 1), kelas IV (tingkat 2), kelas VIII (tingkat 4), dan kelas XI (tingkat 5), 
dengan menggunakan kisi-kisi yang disusun oleh Pemerintah. Ujian tingkat 
kompetensi pada akhir kelas VI (tingkat 3), kelas IX (tingkat 4A), dan kelas XII 
(tingkat 6) dilakukan melalui UN. 
7) Ujian Mutu Tingkat Kompetensi dilakukan dengan metode survei oleh Pemerintah 
pada akhir kelas II (tingkat 1), kelas IV (tingkat 2), kelas VIII (tingkat 4), dan kelas 
XI (tingkat 5). 
8) Ujian sekolah dilakukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan peraturan 
perundang-undangan 
9) Ujian Nasional dilakukan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
SISTEM PENILAIAN: 
Prinsip dan Pendekatan Penilaian 
1. Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak 
dipengaruhi faktor subjektivitas penilai. 
2. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara 
terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan 
berkesinambungan. 
3. Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam 
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. 
4. Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan 
dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua 
pihak. 
5. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan 
kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek 
teknik, prosedur, dan hasilnya. 
6. Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan 
guru.
SISTEM PENILAIAN: 
Instrumen penilaian harus memenuhi 
persyaratan: 
1. substansi yang merepresentasikan 
kompetensi yang dinilai; 
2. konstruksi yang memenuhi persyaratan teknis 
sesuai dengan bentuk instrumen yang 
digunakan; dan 
3. penggunaan bahasa yang baik dan benar 
serta komunikatif sesuai dengan tingkat 
perkembangan peserta didik.
Tabel Konversi Nilai: 
64 
Predikat 
Nilai Kompetensi 
Pengetahuan Keterampilan Sikap 
A 4 4 
SB 
A- 3.66 3.66 
B+ 3.33 3.33 
B 3 3 B 
B- 2.66 2.66 
C+ 2.33 2.33 
C 2 2 C 
C- 1.66 1.66 
D+ 1.33 1.33 
K 
D 1 1 
Keterangan: 
SB = Sangat Baik B = Baik C = Cukup K = Kurang 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
Tabel Konversi Nilai: 
65 
Konversi nilai akhir Predikat 
(Pengetahuan dan 
Keterampilan) 
Sikap 
Skala 100 Skala 4 
86 -100 4 A 
SB 
81- 85 3.66 A- 
76 – 80 3.33 B+ 
71-75 3.00 B B 
66-70 2.66 B- 
61-65 2.33 C+ 
56-60 2 C C 
51-55 1.66 C- 
46-50 1.33 D+ 
K 
0-45 1 D 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
SISTEM PENILAIAN: 
NO. ELEMEN KOMPETENSI INSTRUMEN 
1. SIKAP 1. OBSERVASI 
2. PENILAIAN DIRI 
3. PENILAIAN ANTARTEMAN 
4. JURNAL 
2. PENGETAHUAN 1. TES TERTULIS 
2. TES LISAN 
3. PENUGASAN 
3. KETERAMPILAN 1. PERFORMANCE ATAU KINERJA 
2. PRODUK 
3. PROYEK 
4. PORTOFOLIO
Teknik Penilaian: SIKAP 
67 
Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 
1. Observasi 
Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara 
berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara 
langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format 
observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Hal 
ini dilakukan saat pembelajaran maupun diluar pembelajaran 
Contoh Observasi 
Lembar Pengamatan Sikap 
No Nama Peserta didik 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas 
Perilaku yang diamati 
Percaya Diri Disiplin Bekerjasama Dsb… 
1 Ahmad 4 2 3 
2 Anis 2 3 1 
Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang
Teknik Penilaian: SIKAP 
68 
Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 
2. Penilaian Diri 
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk 
mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian 
kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. 
Penilaian diri terhadap sikap 
Aspek yang dinilai Ya Tidak 
 Mengikuti pembelajaran dengan penuh perhatian 
 Mengerjakan tugas yang diberikan guru tepat waktu 
 Mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak dipahami 
 Membuat catatan 
 Aktif dalam diskusi kelompok 
 Memberi tanggapan 
 Menyerahkan tugas tepat waktu 
 dll …………………….. 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
Teknik Penilaian: SIKAP 
69 
Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 
3. Penilaian Antarteman 
Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik 
untuk saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian 
peserta didik. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian 
antarpeserta didik. 
Contoh Penilaian antar peserta didik 
No Nama Perduli Disiplin Kebersihan Jujur DSB 
1 Ahmad 
2 Yenni 
3 Nasrudin 
Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
Teknik Penilaian: SIKAP 
70 
Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 
4. Jurnal 
Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi 
hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang 
berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan sebagai catatan yang 
berkesinambungan dari hasil observasi. 
Contoh penilaian Jurnal 
Nama Catatan pengamatan Tindak lanjut 
Azis 
Mutiara 
Yenni 
dst… 
Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
Teknik Penilaian: SIKAP SPIRITUAL 
71 
Penilaian sikap meliputi sikap spiritual dan sikap sosial 
Sikap spiritual yang diamati meliputi : Ketaatan beribadah, Perilaku syukur 
Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, Toleransi dalam beribadah 
Contoh lembar penilaian sikap spiritual : 
Tema : …… 
Sikap yang diamati : Ketaatan beribadah 
Contoh penilaian Jurnal 
No Nama 
Perilaku yang diamati 
Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas 
Skala 
akhir/ 
predikat 
Ketaatan 
beribadah 
Perilaku 
syukur 
Berdoa 
sebelum dan 
sesudah 
melakukan 
kegiatan 
Toleransi 
dalam 
beribadah 
1 Egalita 3 3 3 3 3 (B) 
2 Panji 2 3 2 2 2 (C)
Teknik Penilaian: SIKAP SPIRITUAL 
72 
Kriteria 
Baik sekali Baik Cukup Kurang 
4 3 2 1 
Ketaatan 
beribadah 
Selalu taat 
beribadah 
Sering taat 
dalam 
beribadah 
Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas 
Kadang-kadang 
taat 
beribadah 
Tidak taat 
dalam 
beribadah 
Perilaku syukur Selalu 
menunjukkan 
rasa syukur 
Sering 
menunjukkan 
rasa syukur 
Kadang-kadang 
menunjukkan 
rasa syukur 
Tidak 
bersyukur 
Berdoa sebelum 
dan sesudah 
melakukan 
kegiatan 
Selalu 
melakukan 
doa sebelum 
dan sesudah 
melakukan 
kegiatan 
Sering berdoa 
sebelum dan 
sesudah 
melakukan 
kegiatan 
Kadang-kadang 
berdoa 
sebelum dan 
sesudah 
melakukan 
kegiatan 
Tidak berdoa 
sebelum dan 
sesudah 
melakukan 
kegiatan 
Toleransi dalam 
beribadah 
Selalu 
menunjukkan 
sikap toleransi 
dalam 
beribadah 
Sering 
menunjukkan 
sikap toleransi 
dalam 
beribadah 
Kadang-kadang 
menunjukkan 
sikap toleransi 
dalam 
beribadah 
Tidak 
menunjukkan 
sikap toleransi 
dalam 
beribadah
Teknik Penilaian: SIKAP SOSIAL 
73 
Sikap sosial yang diamati meliputi: Jujur, Disiplin, Tanggung jawab, Santun, 
Peduli, Percaya diri. 
Dapat juga ditambahkan lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam 
pembelajaran, misal : kerja sama, ketelitian, ketekunan, dll 
No Nama Perilaku yang diamati Skala akhir/ 
Jujur Disiplin Tanggung jawab Dsb predikat 
1 Egalita 3 3 3 … 3 (B) 
2 Panji 2 3 2 … 2 (C) 
Contoh nilai sikap Panji: 
Ananda sudah bisa menunjukkan perilaku disiplin yang 
baik, dan masih memerlukan bimbingan dalam 
bertanggung jawab dan jujur 
Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
Rubrik Penilaian: SIKAP SOSIAL 
Kriteria Baik sekali 
4 
Baik 
3 
Cukup 
2 
Kurang 
1 
Jujur Tindakan selalu 
sesuai dengan 
ucapan 
Tindakan 
kadang-kadang 
sesuai dengan 
ucapan 
Tindakan kurang 
sesuai dengan 
ucapan 
Tindakan tidak 
sesuai dengan 
ucapan 
Disiplin Mampu 
menjalankan 
aturan dengan 
kesadaran sendiri 
Mampu 
menjalankan 
aturan dengan 
pengarahan 
guru 
Kurang mampu 
menjalankan 
aturan 
Belum mampu 
menjalankan aturan 
Tanggung 
Jawab 
Tertib mengikuti 
instruksi dan 
selesai tepat 
waktu 
Tertib mengikuti 
instruksi, selesai 
tidak tepat 
waktu 
Kurang tertib 
mengikuti 
instruksi, selesai 
tidak tepat waktu 
Tidak tertib dan 
tidak menyelesaikan 
tugas 
Santun Berbahasa positif 
dan bersikap 
sopan 
Berbahasa 
positif tapi 
bersikap kurang 
sopan 
Berbahasa 
negative dan 
bersikap kurang 
sopan 
Berbahasa negative 
dan tidak sopan 
Peduli Selalu 
care/empati 
dengan 
lingkungan sekitar 
dan temannya 
Sering care 
/empati dengan 
lingkungan 
sekitar dan 
temannya 
Kadang-kadang 
care /empati 
dengan 
lingkungan dan 
temannya 
Belum / tidak 
care/empati dengan 
lingkungan dan 
temannya 
Percaya 
diri 
Tidak terlihat 
ragu-ragu 
Terlihat ragu-ragu 
Memerlukan 
bantuan guru 
Belum menunjukkan 
kepercayaan diri 
74 Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
REKAP: 
75 
No 
Nama 
siswa 
Sumber penilaian 
Penilaian 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas 
Skala- 
Observasi predikat 
diri 
Antar-teman 
Jurnal 
1 Egalita 4 3 2 3 3 3 4 3 (B) 
2 Panji 2 2 3 3 2 2 2 2 (C)
CONTOH DESKRIPSI RAPOR: 
76 
Deskripsi dalam rapor mengacu pada sikap 
spiritual yang paling menonjol. 
Contoh nilai Panji: 
“Ananda sudah bisa menunjukkan perilaku 
syukur yang baik, dan masih memerlukan 
bimbingan dalam ketaatan beribadah, 
membiasakan berdoa dan bersikap toleransi 
dalam beribadah” 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
PENILAIAN PENGETAHUAN: 
77 
Pengetahuan dapat dinilaidengan cara : Tes tulis, Tes Lisan dan Penugasan 
Penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat berupa 
pekerjaan rumah dan atau proyek baik secara individu ataupun kelompok 
sesuai dengan karakteristik tugasnya. 
Format penilaian pengetahuan dibuat setiap tema dan setiap muatan 
Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian 
Teknik Penilaian Bentuk Instrumen 
Tes tulis Pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan 
Tes lisan Daftar pertanyaan. 
Penugasan Pekerjaan rumah dan/atau tugas yang dikerjakan secara individu atau 
Nama 
siswa 
kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. 
Tema-1 Nilai 
uraian. 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas 
akhir / 
predikat 
Tes tulis Tes lisan Penugasan 
Tuli 
s1 
Tulis 
2 
Tulis 
3 
Lisan 
1 
Lisan 
2 
Lisan 
3 
Tugas 
1 
Tugas 
2 
Tugas 
3 
Tugas 
4 
Egalita 75 70 88 89 68 78 (B+) 
Panji 80 85 85 98 90 88 (A)
PENILAIAN KETERAMPILAN: 
78 
Keterampilan: 
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 
1. Performance atau Kinerja 
• Suatu penilaian yang meminta siswa untuk 
melakukan suatu tugas pada situasi yang 
sesungguhnya yang mengaplikasikan 
pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. 
• Misalnya tugas memainkan alat musik, 
menggunakan mikroskop, menyanyi, bermain 
peran, menari. 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
PENILAIAN KETERAMPILAN: 
79 
Keterampilan 
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 
2. Produk 
• Penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam membuat produk 
teknologi dan seni (3 dImensi). 
• Penilaian produk tidak hanya diperoleh dari hasil akhir, namun juga 
proses pembuatannya. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan 
dalam setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: 
• Tahap persiapan atau perencanaan meliputi penilaian terhadap 
kemampuan siswa dalam merencanakan, menggali, mengembangkan 
gagasan, dan mendesain produk 
• Tahap pembuatan meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa 
dalam menyeleksi dan menggunakan bahan dan alat serta dalam 
menentukan teknik yang tepat. 
• Tahap penilaian (appraisal) meliputi penilaian terhadap kemampuan 
siswa membuat produk sesuai dengan kegunaannya. 
Contoh membuat meja, membuat kincir angin, membuat Kartu nama, 
membuat kotak kue, merangkai bunga. 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
PENILAIAN KETERAMPILAN: 
80 
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 
3. Proyek 
• Penilaian terhadap tugas yang mengandung investigasi dan 
harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. 
• Tugas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan. 
• Projek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman 
dan pengetahuan siswa pada pembelajaran tertentu, 
kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan 
kemampuan siswa untuk mengomunikasikan informasi. 
• Penilaian proyek sangat dianjurkan karena membantu 
mengembangkan ketrampilan berpikir tinggi (berpikir kritis, 
pemecahan masalah, berpikir kreatif) peserta didik .misalnya 
membuat laporan pemanfaatan energy di dalam kehidupan, 
membuat laporan hasil pengamatan pertumbuhan tanaman. 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
PENILAIAN KETERAMPILAN: 
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 
4. Portofolio 
• Penilaian melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara 
sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. 
• Memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses & pencapaian hasil 
belajar peserta didik. 
• Merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru mengetahui sedini 
mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam menguasai kompetensi 
pada suatu tema. Contoh kompetensi membuat laporan hasil percobaan. 
Kemampuan membuat laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai 
peserta didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, 
perbaikan draf, sampai laporan akhir yang siap disajikan. Selama proses ini 
diperlukan bimbingan guru melalui catatan-catatan tentang karya peserta didik 
sebagai masukan perbaikan lebih lanjut. Kumpulan karya anak sejak draf 
sampai laporan akhir berserta catatan catatan sebagai masukan guru inilah, 
yang menjadi potofolio. 
• Memuat catatan hasil penilaian diri dan teman sejawat tentang kompetensi 
yang sama serta sikap dan perilaku sehari hari peserta didik yang bersangkutan. 
81 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
PENILAIAN KETERAMPILAN: 
82 
Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 
4. Portofolio 
Agar penilaian portofolio berjalan efektif perlu diperhatikan : 
• Masing-masing peserta didik memiliki portofolio sendiri yang di 
dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran 
atau setiap kompetensi. 
• Menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulan/disimpan, 
sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru 
yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang 
harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil 
kerja dan sikap peserta didik dengan kesadaran sendiri 
menindaklanjuti catatan guru. 
• Catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta 
didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan 
belajar peserta didik dapat terlihat. 
Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
Laporah Hasil Belajar SMP (1) 
KTSP KURIKULUM 2013 
83
Laporah Hasil Belajar SMP (2) 
KURIKULUM 2013 
84
Laporah Hasil Belajar SMP (3) 
KURIKULUM 2013 
MATA PELAJARAN Pengetahuan 
(KI 3) 
Keterampilan 
(KI 4) 
Sikap Spiritual dan Sosial 
(KI 1dan KI 2) 
Mata 
Pelajaran 
Antar- 
Mata Pelajaran 
Kelompok A 
Faris menunjukkan 
sikap konsisten dan 
sungguh-sungguh 
dalam menerapkan 
sikap spiritual, jujur , 
dan kerjasama, 
terutama dalam mapel 
Pendidikan Agama dan 
Budi pekerti, Bahasa 
Indonesia dan bahasa 
Inggris. 
1 Pendidikan Agama dan Budi 
Pekerti 
A A- SB 
2 Pendidikan Pancasila dan 
Kewarganegaraan 
A- B+ B 
3 Bahasa Indonesia A A SB 
4 Matematika A- B B 
5 Ilmu Pengetahuan Alam B+ B+ B 
6 Ilmu Pengetahuan Sosial B B B 
7 Bahasa Inggris A- A- SB 
Kelompok B 
1 Seni Budaya B+ B+ B 
2 
Pendidikan Jasmani, Olah Raga, 
dan Kesehatan A A SB 
3 Prakarya B- C B 
85
PEMBUATAN RUBRIK 
A RUBRIC IS AN AUTHENTIC ASSESSMENT TOOL USED TO 
MEASURE STUDENTS' WORK. 
IT IS A SCORING GUIDE THAT SEEKS TO EVALUATE A 
STUDENT'S PERFORMANCE BASED ON THE SUM OF A FULL 
RANGE OF CRITERIA RATHER THAN A SINGLE NUMERICAL 
SCORE. 
A RUBRIC IS A WORKING GUIDE FOR STUDENTS AND 
TEACHERS, USUALLY HANDED OUT BEFORE THE 
ASSIGNMENT BEGINS IN ORDER TO GET STUDENTS TO THINK 
ABOUT THE CRITERIA ON WHICH THEIR WORK WILL BE 
JUDGED.
PEMBUATAN RUBRIK 
A RUBRIC IS AN AUTHENTIC ASSESSMENT TOOL USED TO 
MEASURE STUDENTS' WORK. 
IT IS A SCORING GUIDE THAT SEEKS TO EVALUATE A 
STUDENT'S PERFORMANCE BASED ON THE SUM OF A FULL 
RANGE OF CRITERIA RATHER THAN A SINGLE NUMERICAL 
SCORE. 
A RUBRIC IS A WORKING GUIDE FOR STUDENTS AND 
TEACHERS, USUALLY HANDED OUT BEFORE THE 
ASSIGNMENT BEGINS IN ORDER TO GET STUDENTS TO THINK 
ABOUT THE CRITERIA ON WHICH THEIR WORK WILL BE 
JUDGED.
PENENTUAN KRITERIA 
BERDASARKAN TUGAS YANG TELAH 
DITENTUKAN PADA LANGKAH SEBELUMNYA 
(PENENTUAN TUGAS), KEMBANGKAN 
PERTANYAAN “ASPEK APA SAJA YANG PERLU 
DILAKUKAN PESERTA DIDIK AGAR GURU 
TAHU BAHWA MEREKA TELAH MELAKUKAN 
PEKERJAAN DENGAN BAIK
BENTUK HASIL BELAJAR AFEKTIF 
PENGETAHUAN 
SIKAP 
KEBIASAAN 
UCAPAN 
TULISAN 
UCAPAN 
TULISAN 
TINDAKAN 
TINDAKAN 
TES TERTULIS 
TES UNJUK 
KERJA 
PORTOFOLIO 
PENILAIAN 
OTENTIK
LANGKAH PENGEMBANGAN ASESMEN 
OTENTIK 
KOMPETENSI INTI & DASAR 
PENENTUAN TUGAS OTENTIK 
PENENTUAN KRITERIA 
PEMBUATAN RUBRIK
TUGAS OTENTIK 
MERINGKAS 
BACAAN 
EKSPERIMEN 
LAPORAN 
OBSERVASI 
MEMBUAT 
KARANGAN 
SURVEY 
MEMBUAT 
PROJEK 
MEMBUAT 
MULTIMEDIA 
DISKUSI 
KELAS
PEMBUATAN RUBRIK 
- RUBRIK ADALAH ALAT PENILAIAN OTENTIK UNTUK 
MENGUKUR HASIL KERJA PESERTA DIDIK 
- TERDIRI ATAS BEBERAPA KRITERIA DAN SKOR DIPEROLEH 
DARI PENJUMLAH KRITERIA YANG DIGUNAKAN 
- KRITERIA TERDIRI DARI KELOMPOK HASIL BELAJAR 
PENGETAHUAN,KEMAMPUAN BERPIKIR, SIKAP DAN 
PERILAKU, DAN KETRAMPILAN PSIKOMOTORIK 
- RUBRIK DAPAT DIKETAHUI DAN DIBAHAS GURU BERSAMA 
DENGAN PESERTA DIDIK SEBELUM SUATU TUGAS OTENTIK 
DIKERJAKAN PESERTA DIDIK
CONTOH RUBRIK (Adopsi dari Muller) 
KRITERIA TERBATAS MEMUASKAN MAHIR CEMERLANG 
Melakukan 
Observasi 
Tidak Jelas 
Pelaksanaan-nya 
Beberapa 
Kegiatan 
Jelas dan 
Sistematis 
Semua Jelas 
, Sistematis 
dan Rinci 
Semua jelas, 
Sistematis, Rinci 
dan 
Membuat 
Prediksi 
Tidak ada 
predikasi atau 
Tidak jelas 
Sebagian besar 
prediksi jelas dan 
masuk akal 
Semua 
prediksi jelas 
dan masuk 
akal 
Semua prediksi 
jelas, masuk 
akal, dan 
berdasarkan 
data 
Kesesuaian 
Kesimpulan 
Konklusi tidak 
ada atau 
Tidak sesuai 
dengan hasil 
pengamatan 
Sebagian besar 
konklusi sesuai 
dengan hasil 
pengamatan 
Semua 
konklusi 
sesuai 
dengan 
semua 
pengamatan 
Semua konklusi 
sesuai dengan 
hasil 
pengamatan dan 
analisis data
PENGETAHUAN 
PENGETAHUAN DAN KOGNITIF 
KEMAMPUAN KOGNITIF 
Mengi 
ngat 
(reme 
mber) 
Memahami 
(understand 
) 
Menerapkan 
(apply) 
Mengana 
-lisis 
(analyze) 
Mengeva 
-luasi 
(evaluate 
) 
Mencipta 
(create) 
Faktual 
Konseptual 
Prosedural 
Meta-kognitif 
BERDASARKAN TAKSONOMI ANDERSON
KEMAMPUAN KOGNITIF 
KEMAMPUAN 
KOGNITIF 
HASIL BELAJAR KOGNITIF 
MENGINGAT: 
MENGEMUKAKAN KEMBALI APA 
YANG SUDAH DIPELAJARI DARI 
GURU, BUKU, SUMBER LAINNYA 
SEBAGAIMANA ASLINYA, TANPA 
MELAKUKAN PERUBAHAN 
PENGETAHUAN HAFALAN: KETEPATAN, KECEPATAN, KEBENARAN PENGETAHUAN 
YANG DIINGAT DAN DIGUNAKAN KETIKA MENJAWAB PERTANYAAN TENTANG 
FAKTA, DEFINISI KONSEP, PROSEDUR, HUKUM, TEORI DARI APA YANG SUDAH 
DIPELAJARI DI KELAS TANPA DIUBAH/BERUBAH. 
MEMAHAMI: 
SUDAH ADA PROSES 
PENGOLAHAN DARI BENTUK 
ASLINYA TETAPI ARTI DARI 
KATA, ISTILAH, TULISAN, 
GRAFIK, TABEL, GAMBAR, FOTO 
TIDAK BERUBAH. 
PENGETAHUAN OLAHAN: PENGETAHUAN YANG SUDAH DIOLAH OLEH PESERTA 
DIDIK BERUPA MENGGANTIKAN SUATU KATA/ISTILAH DENGAN KATA/ISTILAH LAIN 
YANG SAMA MAKNANYA; MENULIS KEMBALI SUATU KALIMAT/PARAGRAF/TULISAN 
DENGAN KALIMAT/PARAGRAF/TULISAN SENDIRI DENGAN TANPA MENGUBAH 
ARTINYA INFORMASI SLINYA; MENGUBAH BENTUK KOMUNIKASI DARI BENTUK 
KALIMAT KE BENTUK GRAFIK/TABEL/VISUAL ATAU SEBALIKNYA; MEMBERI TAFSIR 
SUATU KALIMAT/PARAGRAF/ TULISAN/DATA SESUAI DENGAN KEMAMPUAN 
PESERTA DIDIK; MEMPERKIRAKAN KEMUNGKINAN YANG TERJADI DARI SUATU 
INFORMASI YANG TERKANDUNG DALAM SUATU KALIMAT/PARAGRAF 
/TULISAN/DATA
KEMAMPUAN KOGNITIF 
MENERAPKAN 
MENGGUNAKAN INFORMASI, 
KONSEP, PROSEDUR, PRINSIP, 
HUKUM, TEORI YANG SUDAH 
DIPELAJARI UNTUK SESUATU YANG 
BARU/BELUM DIPELAJARI 
KEMAMPUAN: MENGGUNAKAN HUKUM PENAWARAN DAN PERMINTAAN, HUKUM 
BOYLE, HUKUM ARCHIMEDES, MEMBAGI/ MENGALI/MENAMBAH/ 
MENGURANGI/MENJUMLAH, MENGHITUNG MODAL DAN HARGA, HUKUM PERSAMAAN 
KUADRAT, MENENTUKAN ARAH KIBLAT, MENGGUNAKAN JANGKA, MENGHITUNGKAN 
JARAK TEMPAT DI PETA, MENERAPKAN PRINSIP KRONOLOGI DALAM MENENTUKAN 
WAKTU SUATU BENDA/PERISTIWA, DAN SEBAGAINYA 
MENGANALISIS 
MENGGUNAKAN KETRAMPILAN 
YANG TELAH DIPELAJARINYA 
TERHADAP SUATU INFORMASI 
YANG BELUM DIKETAHUINYA 
DALAM MENGELOMPOKKAN 
INFORMASI, MENENTUKAN 
KETERHUBUNGAN ANTARA SATU 
KELOMPOK/ INFORMASI DENGAN 
KELOMPOK/ INFORMASI LAINNYA, 
ANTARA FAKTA DENGAN KONSEP, 
ANTARA ARGUMENTASI DENGAN 
KESIMPULAN, BENANG MERAH 
PEMIKIRAN ANTARA SATU KARYA 
DENGAN KARYA LAINNYA 
PESERTA DIDIK: MENGELOMPOKKAN BENDA BERDASARKAN PERSAMAAN DAN 
PERBEDAAN CIRI-CIRINYA, MEMBERI NAMA BAGI KELOMPOK TERSEBUT, MENENTUKAN 
APAKAH SATU KELOMPOK SEJAJAR/LEBIH TINGGI/LEBIH LUAS DARI YANG LAIN, 
MENENTUKAN MANA YANG LEBIH DULU DAN MANA YANG BELAKANGAN MUNCUL, 
MENENTUKAN MANA YANG MEMBERIKAN PENGARUH DAN MANA YANG MENERIMA 
PENGARUH, MENEMUKAN KETERKAITAN ANTARA FAKTA DENGAN KESIMPULAN, 
MENENTUKAN KONSISTENSI ANTARA APA YANG DIKEMUKAKAN DI BAGIAN AWAL 
DENGAN BAGIAN BERIKUTNYA, MENEMUKAN PIKIRAN POKOK 
PENULIS/PEMBICARA/NARA SUMBER, MENEMUKAN KESAMAAN DALAM ALUR BERPIKIR 
ANTARA SATU KARYA DENGAN KARYA LAINNYA, DAN SEBAGAINYA
KEMAMPUAN KOGNITIF 
MENGEVALUASI 
MENENTUKAN NILAI SUATU 
BENDA ATAU INFORMASI 
BERDASARKAN SUATU 
KRITERIA 
PESERTA DIDIK: MENILAI APAKAH INFORMASI YANG DIBERIKAN 
BERGUNA, APAKAH SUATU INFORMASI/BENDA 
MENARIK/MENYENANGKAN BAGI DIRINYA, ADAKAH PENYIMPANGAN 
DARI KRITERIA SUATU PEKERJAAN/KEPUTUSAN/ PERATURAN, 
MEMBERIKAN PERTIMBANGAN ALTERNATIF MANA YANG HARUS DIPILIH 
BERDASARKAN KRITERIA, MENILAI SUATU HASIL KERJA BERDASARKAN 
KRITERIA, DAN SEBAGAINYA 
MENGHASILKAN 
MEMBUAT SESUATU YANG 
BARU DARI APAYANG SUDAH 
ADA SEHINGGA HASIL 
TERSEBUT MERUPAKAN 
SATU KESATUAN UTUH DAN 
BERBEDA DARI KOMPONEN 
YANG DIGUNAKAN UNTUK 
MEMBENTUKNYA 
PESERTA DIDIK: MEMBUAT SUATU CERITA/TULISAN DARI BERBAGAI 
SUMBER YANG DIBACANYA, MEMBUAT SUATU BENDA DARI BAHAN 
YANG TERSEDIA, MENGEMBANGKAN FUNGSI BARU DARI SUATU BENDA, 
MENGEMBANGKAN BERBAGAI BENTUK KREATIVITAS.
KEMAMPUAN KOGNITIF 
MENGEVALUASI 
MENENTUKAN NILAI SUATU 
BENDA ATAU INFORMASI 
BERDASARKAN SUATU 
KRITERIA 
PESERTA DIDIK: MENILAI APAKAH INFORMASI YANG DIBERIKAN 
BERGUNA, APAKAH SUATU INFORMASI/BENDA 
MENARIK/MENYENANGKAN BAGI DIRINYA, ADAKAH PENYIMPANGAN 
DARI KRITERIA SUATU PEKERJAAN/KEPUTUSAN/ PERATURAN, 
MEMBERIKAN PERTIMBANGAN ALTERNATIF MANA YANG HARUS DIPILIH 
BERDASARKAN KRITERIA, MENILAI SUATU HASIL KERJA BERDASARKAN 
KRITERIA, DAN SEBAGAINYA 
MENGHASILKAN 
MEMBUAT SESUATU YANG 
BARU DARI APAYANG SUDAH 
ADA SEHINGGA HASIL 
TERSEBUT MERUPAKAN 
SATU KESATUAN UTUH DAN 
BERBEDA DARI KOMPONEN 
YANG DIGUNAKAN UNTUK 
MEMBENTUKNYA 
PESERTA DIDIK: MEMBUAT SUATU CERITA/TULISAN DARI BERBAGAI 
SUMBER YANG DIBACANYA, MEMBUAT SUATU BENDA DARI BAHAN 
YANG TERSEDIA, MENGEMBANGKAN FUNGSI BARU DARI SUATU BENDA, 
MENGEMBANGKAN BERBAGAI BENTUK KREATIVITAS.
BENTUK HASIL BELAJAR AFEKTIF 
UCAPAN/TULISAN 
CARA MELAKUKAN SESUATU 
KEBIASAAN
HASIL BELAJAR AFEKTIF 
JENJANG 
INTERNALISASI 
INDIKATOR 
PENERIMAAN NILAI 
KESEDIAAN MENERIMA SUATU NILAI DAN 
MEMBERIKAN PERHATIAN TERHADAP NILAI 
TEREBUT 
MERESPON NILAI 
KESEDIAAN MENJAWAB SUATU NILAI DAN 
ADA RASA PUAS DALAM MEMBICARAKAN 
NILAI TERSEBUT 
PENILAIAN 
MENGANGGAP NILAI TERSEBUT BAIK; 
MENYUKAI NILAI TERSEBUT; DAN KOMITMEN 
TERHADAP NILAI TERSEBUT 
PENGORGANISASIAN 
MEMASUKKAN NILAI TERSEBUT SEBAGAI 
BAGIAN DARI SISTEM NILAI DIRINYA 
PENJATIDIRIAN 
MENGEMBANGKAN NILAI TERSEBUT 
SEBAGAI CIRI DIRINYA DALAM BERPIKIR, 
BERKATA, BERKOMUNIKASI, DAN BERTINDAK
KONTEN PSIKOMOTOR 
• ACTION (ELEMENTARY MOVEMENT) 
• COORDINATION (SYNCHRONIZED 
MOVEMENT) 
• FORMATION (BODILY MOVEMENT) 
• PRODUCTION (COMBINE VERBAL AND 
NONVERBAL MOVEMENT) 
Vinson (2012)
Sumber: Olahan dari kategori Harrow dan kategori Simpson 
HASIL BELAJAR PSIKOMOTOR 
KEMAMPUAN HASIL BELAJAR 
MENIRU MAMPU MENIRU SUATU GERAKAN/TINDAKAN 
DARI APAYANG DIAMATI 
MENGUBAH MAMPU MELAKUKAN GERAKAN/TINDAKAN YANG 
BERBEDA DARI APA YANG DIAMATI TAPI MASIH 
MEMILIKI KESALAHAN-KESALAHAN 
MENGEMBANGKAN 
PRESISI 
MENGEMBANGKAN GERAKAN/TINDAKAN YANG 
MEMILIKI KETEPATAN YANG BAIK TANPA ADA 
KESALAHAN YANG BERARTI 
MENJADI 
TINDAKAN ALAMI 
MENGEMBANGKAN GERAKAN/TINDAKAN YANG 
DIPELAJARI SEBAGAI SUATU MILIKNYA YANG 
ALAMI 
MENJADI 
TINDAKAN 
ORISINAL 
MELAKUKAN IMPROVISASI GERAKAN/TINDAKAN 
YANG DIPELAJARI SEBAGAI SUATU 
GERAKAN/TINDAKAN YANG MENJADI CIRI KHAS 
DIRINYA
PENGERTIAN PENILAIAN OTENTIK 
PENILAIAN OTENTIK ADALAH PENDEKATAN DAN INSTRUMEN 
ASESMEN YANG MEMBERIKAN KESEMPATAN YANG LUAS 
KEPADA PESERTA DIDIK UNTUK MENERAPKAN 
PENGETAHUAN, KETRAMPILAN, DAN SIKAP YANG SUDAH 
DIMILIKINYA DALAM BENTUK TUGAS: MEMBACA DAN 
MERINGKASNYA, EKSPERIMEN, MENGAMATI, SURVEY, 
PROJECT, MAKALAH, MEMBUAT MULTI MEDIA, MEMBUAT 
KARANGAN, DISKUSI KELAS. 
AUTHENTIC ASSESSMENT, ON THE OTHER HAND, IS A TYPE OF 
ASSESSMENT IN WHICH STUDENTS USE THEIR UNDERSTANDING OF A 
SUBJECT TO SOLVE REAL WORLD SITUATIONS AND PROBLEMS. 
STEPHANY ELSWORTH
PENENTUAN KRITERIA 
BERDASARKAN TUGAS YANG TELAH 
DITENTUKAN PADA LANGKAH SEBELUMNYA 
(PENENTUAN TUGAS), KEMBANGKAN 
PERTANYAAN “ASPEK APA SAJA YANG PERLU 
DILAKUKAN PESERTA DIDIK AGAR GURU 
TAHU BAHWA MEREKA TELAH MELAKUKAN 
PEKERJAAN DENGAN BAIK
PELAPORAN PENCAPAIAN KOMPETENSI 
PESERTA DIDIK 
• SKOR DAN NILAI 
• PENILAIAN KOMPETENSI DILAKUKAN DALAM 
BENTUK SKOR 1 - 4 DENGAN SKALA 1 - 4, 
KEMUDIAN DIKONVERSI MENJADI NILAI A, A-, 
B+, B, B-, C+, C, C-, D+, D BERDASARKAN 
SKALA DALAMTABEL KONVERSI
KONVERSI SKOR KE NILAI 
Nilai/Predikat Skor Kompetensi 
Pengetahuan Ketrampilan Sikap 
A 4,00 4,00 
SB 
A- 3,66 3,66 
B+ 3,33 3.33 
B 
B 3,00 3,00 
B- 2,66 2,66 
C+ 2,33 2,33 
C 2,00 2,00 
C- 1,66 1,66 
D+ 1,33 1,33 K 
D 1,00 1,00 
C

Pendekatan, penilaian, model

  • 1.
    Konsep Kurikulum 2013Pendekatan, Penilaian, dan Model-model Pembelajaran pada Kurikulum 2013 (4 JP) BPSDMPK-PMP KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
  • 2.
    Pendekatan, Penilaian, danModel-model Pembelajaran pada Kurikulum 2013 (4 JP) Kompetensi Peserta Pelatihan: • Mendeskripsikan konsep pendekatan saintifik dalam pembelajaran • Mendeskripsikan konsep model-model pembelajaran (PBL, PJBL,DL) • Mendeskripsikan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
  • 3.
    Indikator • Menjelaskankonsep pendekatan saintifik. • Menjelaskan konsep model-model pembelajaran (PBL, PJBL, DL) • Menjelaskan konsep penilaian autentik pada proses dan hasil belajar.
  • 4.
  • 5.
    PRINSIP PEMBELAJARAN (1)BERPUSAT PADA PESERTA DIDIK, (2) MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK, (3) MENCIPTAKAN KONDISI MENYENANGKAN DAN MENANTANG, (4) BERMUATAN NILAI, ETIKA, ESTETIKA, LOGIKA, DAN KINESTETIKA, (5)PEMBELAJARAN HARUS BERGESER DARI “DIBERI TAHU” MENJADI “AKTIF MENCARI TAHU”. (6) MENYEDIAKAN PENGALAMAN BELAJAR YANG BERAGAM MELALUI PENERAPAN BERBAGAI STRATEGI DAN METODE PEMBELAJARAN YANG MENYENANGKAN, KONTEKSTUAL, EFEKTIF, EFISIEN, DAN BERMAKNA.
  • 6.
    PENDEKATAN PEMBELAJARAN KOMPETENSIINTI KOMPETENSI DASAR KI 1: SIKAP RELIGIUS TIDAK LANGSUNG (MELALUI AKTIVITAS KI 2: SIKAP SOSIAL SEHARI-HARI DI SEKOLAH DAN PEMBELAJARAN PENGETAHUAN DAN PENERAPAN PENGETAHUAN KI 3: PENGETAHUAN PEMBELAJARAN LANGSUNG KI 4: KETRAMPILAN (KNOWLEDGE UTILITY) (PEMBELAJARAN SAINTIFIK)
  • 7.
    BENTUK-BENTUK PEMBELAJARAN TIDAK LANGSUNG UCAPAN YANG BERSAHABAT TEGORAN PERBAIKAN HUKUMAN MENDIDIK PERILAKU CONTOH (TELADAN) LINGKUNGAN YANG KONDUSIF
  • 8.
  • 9.
    PEMBELAJARAN SAINTIFIK SISWAAKTIF MENCARI TAHU SETIAP LANGKAH PEMBELAJARAN MENJADI KOMPETENSI YANG HARUS DILATIH PENGUATAN DILAKUKAN SECARA VERTIKAL DAN HORIZONTAL PADA SETIAP MATA PELAJARAN SETIAP LANGKAH PEMBELAJARA N DINILAI
  • 10.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 10 Sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi maka prinsip pembelajaran yang digunakan: 1. Dari pesertadidik diberi tahu menuju pesertadidik mencari tahu; 2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajarmenjadi belajar berbasis aneka sumberbelajar; 3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah; 4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi; 5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu; 6. Daripembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
  • 11.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 11 7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif; 8. Peningkatan dan keseimbanganantara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills); 9. pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didiksebagai pembelajar sepanjanghayat; 10.pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani); 11.Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah, dan di masyarakat; 12.pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. 13.Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan 14.Pengakuan atas perbedaan individualdan latar belakang budayapesertadidik. Terkait dengan prinsip di atas, dikembangkan standar proses yang mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran.
  • 12.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: Kegiatan Inti : • Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai tujuan, yang dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk secara aktif menjadi pencari informasi, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. • Kegiatan inti menggunakan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan matapelajaran, yang meliputi proses observasi, menanya, mengumpulkan informasi, asosiasi, dan komunikasi. • Untuk pembelajaran yang berkenaan dengan KD yang bersifat prosedur untuk melakukan sesuatu, guru memfasilitasi agar peserta didik dapat melakukan pengamatan terhadap pemodelan/demonstrasi oleh guru atau ahli, peserta didik menirukan, selanjutnya guru melakukan pengecekan dan pemberian umpan balik, dan latihan lanjutan kepada peserta didik. 12
  • 13.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 13 • Baik pembelajaran langsung maupun pembelajaran tidak langsung terjadi secara terintegrasi dan tidak terpisah. • Pembelajaran langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-3 dan KI-4. • Keduanya, dikembangkan secara bersamaan dalam suatu proses pembelajaran dan menjadi wahana untuk mengembangkan KD pada KI-1 dan KI-2. Pembelajaran tidak langsung berkenaan dengan pembelajaran yang menyangkut KD yang dikembangkan dari KI-1 dan KI-2. • Proses pembelajaran terdiri atas lima pengalaman belajar pokok yaitu: 1) mengamati; 2) menanya; 3) mengumpulkan informasi; 4) mengasosiasi; dan 5) mengkomunikasikan.
  • 14.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 14 LANGKAH PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN Mengamati Membaca, mendengar, menyimak, melihat (tanpa atau dengan alat) Melatih kesungguhan, ketelitian, mencari informasi Menanya Mengajukan pertanyaan tentang informasi yang tidak dipahami dari apa yang diamati atau pertanyaan untuk mendapatkan informasi tambahan tentang apa yang diamati (dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik) Mengembangkan kreativitas, rasa ingin tahu, kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat
  • 15.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 15 LANGKAH PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN Mengumpulkan informasi/ eksperimen • melakukan eksperimen • membaca sumber lain selain buku teks • mengamati objek/ kejadian/aktivitas • wawancara dengan nara sumber Mengembangkan sikap teliti, jujur,sopan, menghargai pendapat orang lain, kemampuan berkomunikasi, menerapkan kemampuan mengumpulkan informasi melalui berbagai cara yang dipelajari, mengembangkan kebiasaan belajar dan belajar sepanjang hayat.
  • 16.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 16 LANGKAH PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN Mengasosiasikan /mengolah infromasi • mengolah informasi yang sudah dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan/eksperimen mau pun hasil dari kegiatan mengamati dan kegiatan mengumpulkan informasi. • Pengolahan informasi yang dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan Mengembangkan sikap jujur, teliti, disiplin, taat aturan, kerja keras, kemampuan menerapkan prosedur dan kemampuan berpikir induktif serta deduktif dalam menyimpulkan .
  • 17.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 17 LANGKAH PEMBELAJARAN KEGIATAN BELAJAR KOMPETENSI YANG DIKEMBANGKAN Mengkomunikasi kan Menyampaikan hasil pengamatan, kesimpulan berdasarkan hasil analisis secara lisan, tertulis, atau media lainnya Mengembangkan sikap jujur, teliti, toleransi, kemampuan berpikir sistematis, mengungkapkan pendapat dengan singkat dan jelas, dan mengembangkan kemampuan berbahasa yang baik dan benar.
  • 18.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 18 • Dalam setiap kegiatan guru harus memperhatikan kompetensi yang terkait dengan sikap seperti jujur, teliti, kerja sama, toleransi, disiplin, taat aturan, menghargai pendapat orang lain yang tercantum dalam silabus dan RPP. • Cara pengumpulan data sedapat mungkin relevan dengan jenis data yang dieksplorasi, misalnya di laboratorium, studio, lapangan, perpustakaan, museum, dan sebagainya. • Sebelum menggunakannya peserta didik harus tahu dan terlatih dilanjutkan dengan menerapkannya. Berikutnya adalah contoh aplikasi dari kelima kegiatan belajar (learning event) yang diuraikan dalam tabel 1 di atas. a. Mengamati Dalam kegiatan mengamati, guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Guru memfasilitasi peserta didik untuk melakukan pengamatan, melatih mereka untuk memperhatikan (melihat, membaca, mendengar) hal yang penting dari suatu benda atau objek.
  • 19.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 19 b. Menanya • Dalam kegiatan mengamati, guru membuka kesempatan secara luas kepada peserta didik untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. • Guru perlu membimbing peserta didik untuk dapat mengajukan pertanyaantentang yang hasil pengamatan objek yang konkrit sampai kepada yang abstrak berkenaan dengan fakta, konsep, prosedur, atau pun hal lain yang lebih abstrak. Pertanyaan yang bersifat faktual sampai kepada pertanyaan yang bersifat hipotetik. • Dari situasi di mana peserta didik dilatih menggunakan pertanyaan dari guru, masih memerlukan bantuan guru untuk mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana peserta didik mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. • Dari kegiatan kedua dihasilkan sejumlah pertanyaan. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu peserta didik. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. • Pertanyaan terebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam dari sumber yang ditentukan guru sampai yang ditentukan peserta didik, dari sumber yang tunggal sampai sumber yang beragam.
  • 20.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: c. Mengumpulkan dan mengasosiasikan • Tindak lanjut dari bertanya adalah menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. • Untuk itu peserta didik dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. • Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi yang menjadi dasar bagi kegiatan berikutnya yaitu memeroses informasi untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya, menemukan pola dari keterkaitan informasi dan bahkan mengambil berbagai kesimpulan dari pola yang ditemukan. 20
  • 21.
    PENGUATAN PROSES PEMBELAJARAN: 21 d. Mengkomunikasikan hasil Kegiatan berikutnya adalah menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola. Hasil tersebut disampikan di kelas dan dinilai oleh guru sebagai hasil belajar peserta didik atau kelompok peserta didik tersebut.
  • 22.
  • 23.
    1. Model PembelajaranBerbasis Proyek (Project Based Learning) a. Definisi • Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning=PjBL) adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar. • Pembelajaran Berbasis Proyek merupakan metode belajar yang menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalamannya dalam beraktifitas secara nyata.
  • 24.
    • Pembelajaran BerbasisProyek dirancang untuk digunakan pada permasalahan komplek yang diperlukan peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahaminya. Melalui PjBL, proses inquiry dimulai dengan memunculkan pertanyaan penuntun (a guiding question) dan membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum. • Pada saat pertanyaan terjawab, secara langsung peserta didik dapat melihat berbagai elemen utama sekaligus berbagai prinsip dalam sebuah disiplin yang sedang dikajinya. PjBL merupakan investigasi mendalam tentang sebuah topik dunia nyata, hal ini akan berharga bagi atensi dan usaha peserta didik.
  • 25.
    b. Keuntungan PembelajaranBerbasis Proyek – Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu untuk dihargai. – Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. – Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks. – Meningkatkan kolaborasi. – Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi. – Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelola sumber.
  • 26.
    Keuntungan Pembelajaran Berbasis Proyek (Lanjutan) – Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas. – Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata. – Melibatkan para peserta didik untuk belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian diimplementasikan dengan dunia nyata. – Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
  • 27.
    d. Langkah-Langkah Operasional 1 PENENTUAN PERTANYAAN MENDASAR 2 MENYUSUN PERECANAAN PROYEK 3 MENYUSUN JADUAL 4 MONITORING 5 MENGUJI HASIL 6 EVALUASI PENGALAMAN
  • 28.
    e. Sistem Penilaianproyek • Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. Tugas tersebut berupa suatu investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan dan penyajian data. • Penilaian proyek dapat digunakan untuk mengetahui pemahaman, kemampuan mengaplikasikan, kemampuan penyelidikan dan kemampuan menginformasikan peserta didik pada mata pelajaran tertentu secara jelas.
  • 29.
    Sistem Penilaian Proyek(Lanjutan) Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: • Kemampuan pengelolaan Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan. • Relevansi Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran. • Keaslian Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
  • 30.
    3. Model PembelajaranPenemuan (Discovery Learning) a. Definisi Metode Discovery Learning • Metode Discovery Learning adalah teori belajar yang didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan siswa mengorganisasi sendiri. • Sebagai strategi belajar, Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry) dan Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiga istilah ini, pada Discovery Learning lebih menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Perbedaannya dengan discovery ialah bahwa pada discovery masalah yang diperhadapkan kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru
  • 31.
    Definisi metode DiscoveryLearning (Lanjutan) • Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif, sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar siswa sesuai dengan tujuan. Kondisi seperti ini ingin merubah kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. • Dalam Discovery Learning, hendaknya guru harus memberikan kesempatan muridnya untuk menjadi seorang problem solver, seorang scientis, historin, atau ahli matematika. Bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, tetapi siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan-kesimpulan.
  • 32.
    b. Keunggulan MetodeDiscovery Learning • Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya. • Pengetahuan yang diperoleh melalui metode ini sangat pribadi dan ampuh karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer. • Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan berhasil. • Metode ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan kecepatannya sendiri. • Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
  • 33.
    Keunggulan Metode Pembelajaran Penemuan (Lanjutan) • Metode Pembelajaran Penemuan dapat membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan bekerja sama dengan yang lainnya. • Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai peneliti di dalam situasi diskusi. • Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah pada kebenaran yang final dan tertentu atau pasti. • Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik; • Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses belajar yang baru;
  • 34.
    Keunggulan Metode Pembelajaran Penemuan (Lanjutan) • Mendorong siswa berfikir dan bekerja atas inisiatif sendiri; • Mendorong siswa berfikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri; • Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik; situasi proses belajar menjadi lebih terangsang; • Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan manusia seutuhnya; • Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa; • Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber belajar; • Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
  • 35.
    d. Langkah-Langkah Operasional Pembelajaran Penemuan a. Langkah Persiapan 1). Menentukan tujuan pembelajaran 2). Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya) 3). Memilih materi pelajaran. 4). Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi) 5). Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa 6). Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik 7). Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa
  • 36.
    Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) b. Pelaksanaan 1). Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan) Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
  • 37.
    Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 2). Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah) Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)
  • 38.
    Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 3). Data collection (Pengumpulan Data). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection) berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
  • 39.
    Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 4). Data Processing (Pengolahan Data) Menurut Syah (2004:244) pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Semua informai hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu
  • 40.
    Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 5). Verification (Pembuktian) Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
  • 41.
    Langkah-Langkah Operasional (Lanjutan) 6). Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah, 2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi
  • 42.
    e. Sistem PenilaianDiscovery Learning • Dalam Model Pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes. • Penilaian yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. Jika bentuk penialainnya berupa penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa maka pelaksanaan penilaian dapat dilakukan dengan pengamatan.
  • 43.
    4. Model PembelajaranBerbasis Masalah (Problem Based Learning) a. Definisi Pembelajaran Berbasis Masalah • Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik untuk belajar. • Dalam kelas yang menerapkan pembelajaran berbasis masalah, peserta didik bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah dunia nyata (real world) 43
  • 44.
    b. Keunggulan PBL 1). Dengan PBL akan terjadi pembelajaran bermakna. Peserta didik/mahapeserta didik yang belajar memecahkan suatu masalah maka mereka akan menerapkan pengetahuan yang dimilikinya atau berusaha mengetahui pengetahuan yang diperlukan. Belajar dapat semakin bermakna dan dapat diperluas ketika peserta didik/mahapeserta didik berhadapan dengan situasi di mana konsep diterapkan 2). Dalam situasi PBL, peserta didik/mahapeserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan ketrampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan 3). PBL dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik/mahapeserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok. 44
  • 45.
    c. Langkah-langkah Operasionaldalam Proses Pembelajaran PBL 1). Konsep Dasar (Basic Concept) Fasilitator memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau link dan skill yang diperlukan dalam pembelajaran tersebut. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik lebih cepat masuk dalam atmosfer pembelajaran dan mendapatkan ‘peta’ yang akurat tentang arah dan tujuan pembelajaran 2). Pendefinisian Masalah (Defining the Problem) Dalam langkah ini fasilitator menyampaikan skenario atau permasalahan dan peserta didik melakukan berbagai kegiatan brainstorming dan semua anggota kelompok mengungkapkan pendapat, ide, dan tanggapan terhadap skenario secara bebas, sehingga dimungkinkan muncul berbagai macam alternatif pendapat 45
  • 46.
    Langkah-langkah Operasional dalam Proses Pembelajaran PBL (Lanjutan) 3). Pembelajaran Mandiri (Self Learning) Peserta didik mencari berbagai sumber yang dapat memperjelas isu yang sedang diinvestigasi. Sumber yang dimaksud dapat dalam bentuk artikel tertulis yang tersimpan di perpustakaan, halaman web, atau bahkan pakar dalam bidang yang relevan. Tahap investigasi memiliki dua tujuan utama, yaitu: (1) agar peserta didik mencari informasi dan mengembangkan pemahaman yang relevan dengan permasalahan yang telah didiskusikan di kelas, dan (2) informasi dikumpulkan dengan satu tujuan yaitu dipresentasikan di kelas dan informasi tersebut haruslah relevan dan dapat dipahami. 46
  • 47.
    Langkah-langkah Operasional dalam Proses Pembelajaran PBL (Lanjutan) 4).Pertukaran Pengetahuan (Exchange knowledge) Setelah mendapatkan sumber untuk keperluan pendalaman materi dalam langkah pembelajaran mandiri, selanjutnya pada pertemuan berikutnya peserta didik berdiskusi dalam kelompoknya untuk mengklarifikasi capaiannya dan merumuskan solusi dari permasalahan kelompok. Pertukaran pengetahuan ini dapat dilakukan dengan cara peserrta didik berkumpul sesuai kelompok dan fasilitatornya. 47
  • 48.
    Langkah-langkah Operasional dalam Proses Pembelajaran PBL (Lanjutan) 5). Penilaian (Assessment) Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. 48
  • 49.
    f. Contoh Penerapan 49 Tahapan-Tahapan Model PBL FASE-FASE PERILAKU GURU Fase 1 Orientasi peserta didik kepada masalah  Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yg dibutuhkan  Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam pemecahan masalah yang dipilih Fase 2 Mengorganisasikan peserta didik Membantu peserta didik mendefinisikan danmengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut Fase 3 Membimbing penyelidikan individu dan kelompok Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah Fase 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya Membantu peserta didik dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman Fase 5 Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari /meminta kelompok presentasi hasil kerja
  • 50.
    g. Sistem PenilaianPBL • Penilaian dilakukan dengan memadukan tiga aspek pengetahuan (knowledge), kecakapan (skill), dan sikap (attitude). Penilaian terhadap penguasaan pengetahuan yang mencakup seluruh kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan ujian akhir semester (UAS), ujian tengah semester (UTS), kuis, PR, dokumen, dan laporan. • Penilaian terhadap kecakapan dapat diukur dari penguasaan alat bantu pembelajaran, baik software, hardware, maupun kemampuan perancangan dan pengujian. Sedangkan penilaian terhadap sikap dititikberatkan pada penguasaan soft skill, yaitu keaktifan dan partisipasi dalam diskusi, kemampuan bekerjasama dalam tim, dan kehadiran dalam pembelajaran. Bobot penilaian untuk ketiga aspek tersebut ditentukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. 50
  • 51.
    Sistem Penilaian PBL(Lanjutan) Penilaian pembelajaran dengan PBL dilakukan dengan authentic assesment. Penilaian dapat dilakukan dengan portfolio yang merupakan kumpulan yang sistematis pekerjaan-pekerjaan peserta didik yang dianalisis untuk melihat kemajuan belajar dalam kurun waktu tertentu dalam kerangka pencapaian tujuan pembelajaran. Penilaian dalam pendekatan PBL dilakukan dengan cara evaluasi diri (self-assessment) dan peer-assessment. • Self-assessment. Penilaian yang dilakukan oleh pebelajar itu sendiri terhadap usaha-usahanya dan hasil pekerjaannya dengan merujuk pada tujuan yang ingin dicapai (standard) oleh pebelajar itu sendiri dalam belajar. • Peer-assessment. Penilaian di mana pebelajar berdiskusi untuk memberikan penilaian terhadap upaya dan hasil penyelesaian tugas-tugas yang telah dilakukannya sendiri maupun oleh teman dalam kelompoknya 51
  • 52.
    SISTEM PENILAIAN: Apakahada perbedaaan pada : 1. Prinsip dan Pendekatan Penilaian 2. Ruang Lingkup Penilaian 3. Teknik dan Instrumen Penilaian 4. Mekanisme dan prosedur 5. Pelaksanaan dan pelaporan 6. Pemanfaatan dan Mekanisme Penjaminan Mutu Peniaian
  • 53.
    SISTEM PENILAIAN: StandarPenilaian yang bertujuan untuk menjamin: 1. perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian; 2. pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan 3. pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif.
  • 54.
    PENGERTIAN PENILAIAN OTENTIK PENILAIAN OTENTIK ADALAH PENDEKATAN DAN INSTRUMEN ASESMEN YANG MEMBERIKAN KESEMPATAN YANG LUAS KEPADA PESERTA DIDIK UNTUK MENERAPKAN PENGETAHUAN, KETRAMPILAN, DAN SIKAP YANG SUDAH DIMILIKINYA DALAM BENTUK TUGAS: MEMBACA DAN MERINGKASNYA, EKSPERIMEN, MENGAMATI, SURVEY, PROJECT, MAKALAH, MEMBUAT MULTI MEDIA, MEMBUAT KARANGAN, DISKUSI KELAS. AUTHENTIC ASSESSMENT, ON THE OTHER HAND, IS A TYPE OF ASSESSMENT IN WHICH STUDENTS USE THEIR UNDERSTANDING OF A SUBJECT TO SOLVE REAL WORLD SITUATIONS AND PROBLEMS. STEPHANY ELSWORTH
  • 55.
    PRINSIP PENILAIAN: 55 1. Otentik : • Penilaian dan pembelajaran merupakan dua hal yang saling berkaitan. • Penilaian otentik harus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah. • Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). • Tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh peserta didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh peserta didik. • Contoh-contoh tugas autentik: Pemecahan masalah matematika , melaksanakan percobaan, Bercerita, Menulis laporan , Berpidato, Membaca puisi, Membuat peta perjalanan
  • 56.
    PRINSIP PENILAIAN: 56 2. Berkesinambungan : • Penilaian yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan selama pembelajaran berlangsung. • Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar peserta didik, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, atau ulangan kenaikan kelas)
  • 57.
    PRINSIP PENILAIAN: 57 3. Menggunakan teknik yang bervariasi. Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, projek, pengamatan, dan penilaian diri. 4. Berdasarkan acuan kriteria Penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan. Kemampuan peserta didik tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap kriteria yang ditetapkan.
  • 58.
    SISTEM PENILAIAN: 1.Penilaian diri : dilakukan sendiri oleh peserta didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan. 2. Penilaian berbasis portofolio: dilaksanakan untuk menilai keseluruhan entitas proses belajar peserta didik termasuk penugasan perseorangan dan/atau kelompok di dalam dan/atau di luar kelas khususnya pada sikap/perilaku dan keterampilan.
  • 59.
    SISTEM PENILAIAN: 4.Ulangan : dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan dan perbaikan hasil belajar peserta didik. 5. Ulangan harian: dilakukan secara periodik untuk menilai kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. 6. Ulangan tengah semester : dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 – 9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangan tengah semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
  • 60.
    SISTEM PENILAIAN: 7.Ulangan akhir semester: dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik di akhir semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. 8. Ujian Tingkat Kompetensi : UTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut. 9. UjianMutu Tingkat Kompetensi : UMTK merupakan kegiatan pengukuran yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi. Cakupan UMTK meliputi sejumlah Kompetensi Dasar yang merepresentasikan Kompetensi Inti pada tingkat kompetensi tersebut. 10.Ujian Nasional : UN merupakan kegiatan pengukuran kompetensi tertentu yang dicapai peserta didik dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan, yang dilaksanakan secara nasional. 11.Ujian Sekolah/Madrasah: kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi di luar kompetensi yang diujikan pada UN, dilakukan oleh satuan pendidikan.
  • 61.
    SISTEM PENILAIAN: 1)Penilaian otentik dilakukan oleh guru secara berkelanjutan. 2) Penilaian diri dilakukan oleh peserta didik untuk tiap kali sebelum ulangan harian. 3) Penilaian projek dilakukan oleh pendidik untuk tiap akhir bab atau tema pelajaran. 4) Ulangan harian dilakukan oleh pendidik terintegrasi dengan proses pembelajaran dalam bentuk ulangan atau penugasan. 5) Ulangan tengah semester dan ulangan akhir semester, dilakukan oleh pendidik di bawah koordinasi satuan pendidikan. 6) Ujian tingkat kompetensi dilakukan oleh satuan pendidikan pada akhir kelas II (tingkat 1), kelas IV (tingkat 2), kelas VIII (tingkat 4), dan kelas XI (tingkat 5), dengan menggunakan kisi-kisi yang disusun oleh Pemerintah. Ujian tingkat kompetensi pada akhir kelas VI (tingkat 3), kelas IX (tingkat 4A), dan kelas XII (tingkat 6) dilakukan melalui UN. 7) Ujian Mutu Tingkat Kompetensi dilakukan dengan metode survei oleh Pemerintah pada akhir kelas II (tingkat 1), kelas IV (tingkat 2), kelas VIII (tingkat 4), dan kelas XI (tingkat 5). 8) Ujian sekolah dilakukan oleh satuan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan 9) Ujian Nasional dilakukan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
  • 62.
    SISTEM PENILAIAN: Prinsipdan Pendekatan Penilaian 1. Objektif, berarti penilaian berbasis pada standardan tidak dipengaruhi faktor subjektivitas penilai. 2. Terpadu, berarti penilaian oleh pendidik dilakukan secara terencana, menyatu dengan kegiatan pembelajaran, dan berkesinambungan. 3. Ekonomis, berarti penilaian yang efisien dan efektif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporannya. 4. Transparan, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diakses oleh semua pihak. 5. Akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan kepada pihak internal sekolah maupun eksternal untuk aspek teknik, prosedur, dan hasilnya. 6. Edukatif, berarti mendidik dan memotivasi peserta didik dan guru.
  • 63.
    SISTEM PENILAIAN: Instrumenpenilaian harus memenuhi persyaratan: 1. substansi yang merepresentasikan kompetensi yang dinilai; 2. konstruksi yang memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan bentuk instrumen yang digunakan; dan 3. penggunaan bahasa yang baik dan benar serta komunikatif sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
  • 64.
    Tabel Konversi Nilai: 64 Predikat Nilai Kompetensi Pengetahuan Keterampilan Sikap A 4 4 SB A- 3.66 3.66 B+ 3.33 3.33 B 3 3 B B- 2.66 2.66 C+ 2.33 2.33 C 2 2 C C- 1.66 1.66 D+ 1.33 1.33 K D 1 1 Keterangan: SB = Sangat Baik B = Baik C = Cukup K = Kurang Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 65.
    Tabel Konversi Nilai: 65 Konversi nilai akhir Predikat (Pengetahuan dan Keterampilan) Sikap Skala 100 Skala 4 86 -100 4 A SB 81- 85 3.66 A- 76 – 80 3.33 B+ 71-75 3.00 B B 66-70 2.66 B- 61-65 2.33 C+ 56-60 2 C C 51-55 1.66 C- 46-50 1.33 D+ K 0-45 1 D Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 66.
    SISTEM PENILAIAN: NO.ELEMEN KOMPETENSI INSTRUMEN 1. SIKAP 1. OBSERVASI 2. PENILAIAN DIRI 3. PENILAIAN ANTARTEMAN 4. JURNAL 2. PENGETAHUAN 1. TES TERTULIS 2. TES LISAN 3. PENUGASAN 3. KETERAMPILAN 1. PERFORMANCE ATAU KINERJA 2. PRODUK 3. PROYEK 4. PORTOFOLIO
  • 67.
    Teknik Penilaian: SIKAP 67 Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 1. Observasi Merupakan teknik penilaian yang dilakukan secara berkesinambungan dengan menggunakan indera, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan format observasi yang berisi sejumlah indikator perilaku yang diamati. Hal ini dilakukan saat pembelajaran maupun diluar pembelajaran Contoh Observasi Lembar Pengamatan Sikap No Nama Peserta didik Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas Perilaku yang diamati Percaya Diri Disiplin Bekerjasama Dsb… 1 Ahmad 4 2 3 2 Anis 2 3 1 Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang
  • 68.
    Teknik Penilaian: SIKAP 68 Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 2. Penilaian Diri Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk mengemukakan kelebihan dan kekurangan dirinya dalam konteks pencapaian kompetensi. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian diri. Penilaian diri terhadap sikap Aspek yang dinilai Ya Tidak  Mengikuti pembelajaran dengan penuh perhatian  Mengerjakan tugas yang diberikan guru tepat waktu  Mengajukan pertanyaan jika ada yang tidak dipahami  Membuat catatan  Aktif dalam diskusi kelompok  Memberi tanggapan  Menyerahkan tugas tepat waktu  dll …………………….. Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 69.
    Teknik Penilaian: SIKAP 69 Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 3. Penilaian Antarteman Merupakan teknik penilaian dengan cara meminta peserta didik untuk saling menilai terkait dengan sikap dan perilaku keseharian peserta didik. Instrumen yang digunakan berupa lembar penilaian antarpeserta didik. Contoh Penilaian antar peserta didik No Nama Perduli Disiplin Kebersihan Jujur DSB 1 Ahmad 2 Yenni 3 Nasrudin Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 70.
    Teknik Penilaian: SIKAP 70 Aspek Sikap dapat dinilai dengan cara berikut: 4. Jurnal Merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan kelemahan peserta didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku. Jurnal bisa dikatakan sebagai catatan yang berkesinambungan dari hasil observasi. Contoh penilaian Jurnal Nama Catatan pengamatan Tindak lanjut Azis Mutiara Yenni dst… Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 71.
    Teknik Penilaian: SIKAPSPIRITUAL 71 Penilaian sikap meliputi sikap spiritual dan sikap sosial Sikap spiritual yang diamati meliputi : Ketaatan beribadah, Perilaku syukur Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, Toleransi dalam beribadah Contoh lembar penilaian sikap spiritual : Tema : …… Sikap yang diamati : Ketaatan beribadah Contoh penilaian Jurnal No Nama Perilaku yang diamati Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas Skala akhir/ predikat Ketaatan beribadah Perilaku syukur Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan Toleransi dalam beribadah 1 Egalita 3 3 3 3 3 (B) 2 Panji 2 3 2 2 2 (C)
  • 72.
    Teknik Penilaian: SIKAPSPIRITUAL 72 Kriteria Baik sekali Baik Cukup Kurang 4 3 2 1 Ketaatan beribadah Selalu taat beribadah Sering taat dalam beribadah Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas Kadang-kadang taat beribadah Tidak taat dalam beribadah Perilaku syukur Selalu menunjukkan rasa syukur Sering menunjukkan rasa syukur Kadang-kadang menunjukkan rasa syukur Tidak bersyukur Berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan Selalu melakukan doa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan Sering berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan Kadang-kadang berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan Tidak berdoa sebelum dan sesudah melakukan kegiatan Toleransi dalam beribadah Selalu menunjukkan sikap toleransi dalam beribadah Sering menunjukkan sikap toleransi dalam beribadah Kadang-kadang menunjukkan sikap toleransi dalam beribadah Tidak menunjukkan sikap toleransi dalam beribadah
  • 73.
    Teknik Penilaian: SIKAPSOSIAL 73 Sikap sosial yang diamati meliputi: Jujur, Disiplin, Tanggung jawab, Santun, Peduli, Percaya diri. Dapat juga ditambahkan lagi sikap-sikap yang lain sesuai kompetensi dalam pembelajaran, misal : kerja sama, ketelitian, ketekunan, dll No Nama Perilaku yang diamati Skala akhir/ Jujur Disiplin Tanggung jawab Dsb predikat 1 Egalita 3 3 3 … 3 (B) 2 Panji 2 3 2 … 2 (C) Contoh nilai sikap Panji: Ananda sudah bisa menunjukkan perilaku disiplin yang baik, dan masih memerlukan bimbingan dalam bertanggung jawab dan jujur Keterangan: 4 : sangat baik ; 3 : Baik; 2: sedang ; 1: kurang Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 74.
    Rubrik Penilaian: SIKAPSOSIAL Kriteria Baik sekali 4 Baik 3 Cukup 2 Kurang 1 Jujur Tindakan selalu sesuai dengan ucapan Tindakan kadang-kadang sesuai dengan ucapan Tindakan kurang sesuai dengan ucapan Tindakan tidak sesuai dengan ucapan Disiplin Mampu menjalankan aturan dengan kesadaran sendiri Mampu menjalankan aturan dengan pengarahan guru Kurang mampu menjalankan aturan Belum mampu menjalankan aturan Tanggung Jawab Tertib mengikuti instruksi dan selesai tepat waktu Tertib mengikuti instruksi, selesai tidak tepat waktu Kurang tertib mengikuti instruksi, selesai tidak tepat waktu Tidak tertib dan tidak menyelesaikan tugas Santun Berbahasa positif dan bersikap sopan Berbahasa positif tapi bersikap kurang sopan Berbahasa negative dan bersikap kurang sopan Berbahasa negative dan tidak sopan Peduli Selalu care/empati dengan lingkungan sekitar dan temannya Sering care /empati dengan lingkungan sekitar dan temannya Kadang-kadang care /empati dengan lingkungan dan temannya Belum / tidak care/empati dengan lingkungan dan temannya Percaya diri Tidak terlihat ragu-ragu Terlihat ragu-ragu Memerlukan bantuan guru Belum menunjukkan kepercayaan diri 74 Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 75.
    REKAP: 75 No Nama siswa Sumber penilaian Penilaian Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas Skala- Observasi predikat diri Antar-teman Jurnal 1 Egalita 4 3 2 3 3 3 4 3 (B) 2 Panji 2 2 3 3 2 2 2 2 (C)
  • 76.
    CONTOH DESKRIPSI RAPOR: 76 Deskripsi dalam rapor mengacu pada sikap spiritual yang paling menonjol. Contoh nilai Panji: “Ananda sudah bisa menunjukkan perilaku syukur yang baik, dan masih memerlukan bimbingan dalam ketaatan beribadah, membiasakan berdoa dan bersikap toleransi dalam beribadah” Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 77.
    PENILAIAN PENGETAHUAN: 77 Pengetahuan dapat dinilaidengan cara : Tes tulis, Tes Lisan dan Penugasan Penugasan adalah penilaian yang dilakukan oleh pendidik yang dapat berupa pekerjaan rumah dan atau proyek baik secara individu ataupun kelompok sesuai dengan karakteristik tugasnya. Format penilaian pengetahuan dibuat setiap tema dan setiap muatan Teknik dan Bentuk Instrumen Penilaian Teknik Penilaian Bentuk Instrumen Tes tulis Pilihan ganda, isian, jawaban singkat, benar-salah, menjodohkan, dan Tes lisan Daftar pertanyaan. Penugasan Pekerjaan rumah dan/atau tugas yang dikerjakan secara individu atau Nama siswa kelompok sesuai dengan karakteristik tugas. Tema-1 Nilai uraian. Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas akhir / predikat Tes tulis Tes lisan Penugasan Tuli s1 Tulis 2 Tulis 3 Lisan 1 Lisan 2 Lisan 3 Tugas 1 Tugas 2 Tugas 3 Tugas 4 Egalita 75 70 88 89 68 78 (B+) Panji 80 85 85 98 90 88 (A)
  • 78.
    PENILAIAN KETERAMPILAN: 78 Keterampilan: Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 1. Performance atau Kinerja • Suatu penilaian yang meminta siswa untuk melakukan suatu tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan. • Misalnya tugas memainkan alat musik, menggunakan mikroskop, menyanyi, bermain peran, menari. Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 79.
    PENILAIAN KETERAMPILAN: 79 Keterampilan Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 2. Produk • Penilaian terhadap kemampuan peserta didik dalam membuat produk teknologi dan seni (3 dImensi). • Penilaian produk tidak hanya diperoleh dari hasil akhir, namun juga proses pembuatannya. Pengembangan produk meliputi 3 tahap dan dalam setiap tahap perlu diadakan penilaian yaitu: • Tahap persiapan atau perencanaan meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam merencanakan, menggali, mengembangkan gagasan, dan mendesain produk • Tahap pembuatan meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa dalam menyeleksi dan menggunakan bahan dan alat serta dalam menentukan teknik yang tepat. • Tahap penilaian (appraisal) meliputi penilaian terhadap kemampuan siswa membuat produk sesuai dengan kegunaannya. Contoh membuat meja, membuat kincir angin, membuat Kartu nama, membuat kotak kue, merangkai bunga. Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 80.
    PENILAIAN KETERAMPILAN: 80 Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 3. Proyek • Penilaian terhadap tugas yang mengandung investigasi dan harus diselesaikan dalam periode/waktu tertentu. • Tugas tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan, pelaporan. • Projek juga akan memberikan informasi tentang pemahaman dan pengetahuan siswa pada pembelajaran tertentu, kemampuan siswa dalam mengaplikasikan pengetahuan, dan kemampuan siswa untuk mengomunikasikan informasi. • Penilaian proyek sangat dianjurkan karena membantu mengembangkan ketrampilan berpikir tinggi (berpikir kritis, pemecahan masalah, berpikir kreatif) peserta didik .misalnya membuat laporan pemanfaatan energy di dalam kehidupan, membuat laporan hasil pengamatan pertumbuhan tanaman. Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 81.
    PENILAIAN KETERAMPILAN: Aspekketerampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 4. Portofolio • Penilaian melalui sekumpulan karya peserta didik yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dilakukan selama kurun waktu tertentu. • Memberikan gambaran secara menyeluruh tentang proses & pencapaian hasil belajar peserta didik. • Merupakan bagian terpadu dari pembelajaran sehingga guru mengetahui sedini mungkin kekuatan dan kelemahan peserta didik dalam menguasai kompetensi pada suatu tema. Contoh kompetensi membuat laporan hasil percobaan. Kemampuan membuat laporan hasil percobaan tentu tidak seketika dikuasai peserta didik, tetapi membutuhkan proses panjang, dimulai dari penulisan draf, perbaikan draf, sampai laporan akhir yang siap disajikan. Selama proses ini diperlukan bimbingan guru melalui catatan-catatan tentang karya peserta didik sebagai masukan perbaikan lebih lanjut. Kumpulan karya anak sejak draf sampai laporan akhir berserta catatan catatan sebagai masukan guru inilah, yang menjadi potofolio. • Memuat catatan hasil penilaian diri dan teman sejawat tentang kompetensi yang sama serta sikap dan perilaku sehari hari peserta didik yang bersangkutan. 81 Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 82.
    PENILAIAN KETERAMPILAN: 82 Aspek keterampilan dapat dinilai dengan cara berikut: 4. Portofolio Agar penilaian portofolio berjalan efektif perlu diperhatikan : • Masing-masing peserta didik memiliki portofolio sendiri yang di dalamnya memuat hasil belajar siswa setiap muatan pelajaran atau setiap kompetensi. • Menentukan hasil kerja apa yang perlu dikumpulan/disimpan, sewaktu waktu peserta didik diharuskan membaca catatan guru yang berisi komentar, masukkan dan tindakan lebih lanjut yang harus dilakukan peserta didik dalam rangka memperbaiki hasil kerja dan sikap peserta didik dengan kesadaran sendiri menindaklanjuti catatan guru. • Catatan guru dan perbaikan hasil kerja yang dilakukan peserta didik perlu diberi tanggal, sehingga perkembangan kemajuan belajar peserta didik dapat terlihat. Sumber : Panduan Teknis Penilaian SD Ditjen Dikdas
  • 83.
    Laporah Hasil BelajarSMP (1) KTSP KURIKULUM 2013 83
  • 84.
    Laporah Hasil BelajarSMP (2) KURIKULUM 2013 84
  • 85.
    Laporah Hasil BelajarSMP (3) KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN Pengetahuan (KI 3) Keterampilan (KI 4) Sikap Spiritual dan Sosial (KI 1dan KI 2) Mata Pelajaran Antar- Mata Pelajaran Kelompok A Faris menunjukkan sikap konsisten dan sungguh-sungguh dalam menerapkan sikap spiritual, jujur , dan kerjasama, terutama dalam mapel Pendidikan Agama dan Budi pekerti, Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. 1 Pendidikan Agama dan Budi Pekerti A A- SB 2 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan A- B+ B 3 Bahasa Indonesia A A SB 4 Matematika A- B B 5 Ilmu Pengetahuan Alam B+ B+ B 6 Ilmu Pengetahuan Sosial B B B 7 Bahasa Inggris A- A- SB Kelompok B 1 Seni Budaya B+ B+ B 2 Pendidikan Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan A A SB 3 Prakarya B- C B 85
  • 86.
    PEMBUATAN RUBRIK ARUBRIC IS AN AUTHENTIC ASSESSMENT TOOL USED TO MEASURE STUDENTS' WORK. IT IS A SCORING GUIDE THAT SEEKS TO EVALUATE A STUDENT'S PERFORMANCE BASED ON THE SUM OF A FULL RANGE OF CRITERIA RATHER THAN A SINGLE NUMERICAL SCORE. A RUBRIC IS A WORKING GUIDE FOR STUDENTS AND TEACHERS, USUALLY HANDED OUT BEFORE THE ASSIGNMENT BEGINS IN ORDER TO GET STUDENTS TO THINK ABOUT THE CRITERIA ON WHICH THEIR WORK WILL BE JUDGED.
  • 87.
    PEMBUATAN RUBRIK ARUBRIC IS AN AUTHENTIC ASSESSMENT TOOL USED TO MEASURE STUDENTS' WORK. IT IS A SCORING GUIDE THAT SEEKS TO EVALUATE A STUDENT'S PERFORMANCE BASED ON THE SUM OF A FULL RANGE OF CRITERIA RATHER THAN A SINGLE NUMERICAL SCORE. A RUBRIC IS A WORKING GUIDE FOR STUDENTS AND TEACHERS, USUALLY HANDED OUT BEFORE THE ASSIGNMENT BEGINS IN ORDER TO GET STUDENTS TO THINK ABOUT THE CRITERIA ON WHICH THEIR WORK WILL BE JUDGED.
  • 88.
    PENENTUAN KRITERIA BERDASARKANTUGAS YANG TELAH DITENTUKAN PADA LANGKAH SEBELUMNYA (PENENTUAN TUGAS), KEMBANGKAN PERTANYAAN “ASPEK APA SAJA YANG PERLU DILAKUKAN PESERTA DIDIK AGAR GURU TAHU BAHWA MEREKA TELAH MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN BAIK
  • 89.
    BENTUK HASIL BELAJARAFEKTIF PENGETAHUAN SIKAP KEBIASAAN UCAPAN TULISAN UCAPAN TULISAN TINDAKAN TINDAKAN TES TERTULIS TES UNJUK KERJA PORTOFOLIO PENILAIAN OTENTIK
  • 90.
    LANGKAH PENGEMBANGAN ASESMEN OTENTIK KOMPETENSI INTI & DASAR PENENTUAN TUGAS OTENTIK PENENTUAN KRITERIA PEMBUATAN RUBRIK
  • 91.
    TUGAS OTENTIK MERINGKAS BACAAN EKSPERIMEN LAPORAN OBSERVASI MEMBUAT KARANGAN SURVEY MEMBUAT PROJEK MEMBUAT MULTIMEDIA DISKUSI KELAS
  • 92.
    PEMBUATAN RUBRIK -RUBRIK ADALAH ALAT PENILAIAN OTENTIK UNTUK MENGUKUR HASIL KERJA PESERTA DIDIK - TERDIRI ATAS BEBERAPA KRITERIA DAN SKOR DIPEROLEH DARI PENJUMLAH KRITERIA YANG DIGUNAKAN - KRITERIA TERDIRI DARI KELOMPOK HASIL BELAJAR PENGETAHUAN,KEMAMPUAN BERPIKIR, SIKAP DAN PERILAKU, DAN KETRAMPILAN PSIKOMOTORIK - RUBRIK DAPAT DIKETAHUI DAN DIBAHAS GURU BERSAMA DENGAN PESERTA DIDIK SEBELUM SUATU TUGAS OTENTIK DIKERJAKAN PESERTA DIDIK
  • 93.
    CONTOH RUBRIK (Adopsidari Muller) KRITERIA TERBATAS MEMUASKAN MAHIR CEMERLANG Melakukan Observasi Tidak Jelas Pelaksanaan-nya Beberapa Kegiatan Jelas dan Sistematis Semua Jelas , Sistematis dan Rinci Semua jelas, Sistematis, Rinci dan Membuat Prediksi Tidak ada predikasi atau Tidak jelas Sebagian besar prediksi jelas dan masuk akal Semua prediksi jelas dan masuk akal Semua prediksi jelas, masuk akal, dan berdasarkan data Kesesuaian Kesimpulan Konklusi tidak ada atau Tidak sesuai dengan hasil pengamatan Sebagian besar konklusi sesuai dengan hasil pengamatan Semua konklusi sesuai dengan semua pengamatan Semua konklusi sesuai dengan hasil pengamatan dan analisis data
  • 94.
    PENGETAHUAN PENGETAHUAN DANKOGNITIF KEMAMPUAN KOGNITIF Mengi ngat (reme mber) Memahami (understand ) Menerapkan (apply) Mengana -lisis (analyze) Mengeva -luasi (evaluate ) Mencipta (create) Faktual Konseptual Prosedural Meta-kognitif BERDASARKAN TAKSONOMI ANDERSON
  • 95.
    KEMAMPUAN KOGNITIF KEMAMPUAN KOGNITIF HASIL BELAJAR KOGNITIF MENGINGAT: MENGEMUKAKAN KEMBALI APA YANG SUDAH DIPELAJARI DARI GURU, BUKU, SUMBER LAINNYA SEBAGAIMANA ASLINYA, TANPA MELAKUKAN PERUBAHAN PENGETAHUAN HAFALAN: KETEPATAN, KECEPATAN, KEBENARAN PENGETAHUAN YANG DIINGAT DAN DIGUNAKAN KETIKA MENJAWAB PERTANYAAN TENTANG FAKTA, DEFINISI KONSEP, PROSEDUR, HUKUM, TEORI DARI APA YANG SUDAH DIPELAJARI DI KELAS TANPA DIUBAH/BERUBAH. MEMAHAMI: SUDAH ADA PROSES PENGOLAHAN DARI BENTUK ASLINYA TETAPI ARTI DARI KATA, ISTILAH, TULISAN, GRAFIK, TABEL, GAMBAR, FOTO TIDAK BERUBAH. PENGETAHUAN OLAHAN: PENGETAHUAN YANG SUDAH DIOLAH OLEH PESERTA DIDIK BERUPA MENGGANTIKAN SUATU KATA/ISTILAH DENGAN KATA/ISTILAH LAIN YANG SAMA MAKNANYA; MENULIS KEMBALI SUATU KALIMAT/PARAGRAF/TULISAN DENGAN KALIMAT/PARAGRAF/TULISAN SENDIRI DENGAN TANPA MENGUBAH ARTINYA INFORMASI SLINYA; MENGUBAH BENTUK KOMUNIKASI DARI BENTUK KALIMAT KE BENTUK GRAFIK/TABEL/VISUAL ATAU SEBALIKNYA; MEMBERI TAFSIR SUATU KALIMAT/PARAGRAF/ TULISAN/DATA SESUAI DENGAN KEMAMPUAN PESERTA DIDIK; MEMPERKIRAKAN KEMUNGKINAN YANG TERJADI DARI SUATU INFORMASI YANG TERKANDUNG DALAM SUATU KALIMAT/PARAGRAF /TULISAN/DATA
  • 96.
    KEMAMPUAN KOGNITIF MENERAPKAN MENGGUNAKAN INFORMASI, KONSEP, PROSEDUR, PRINSIP, HUKUM, TEORI YANG SUDAH DIPELAJARI UNTUK SESUATU YANG BARU/BELUM DIPELAJARI KEMAMPUAN: MENGGUNAKAN HUKUM PENAWARAN DAN PERMINTAAN, HUKUM BOYLE, HUKUM ARCHIMEDES, MEMBAGI/ MENGALI/MENAMBAH/ MENGURANGI/MENJUMLAH, MENGHITUNG MODAL DAN HARGA, HUKUM PERSAMAAN KUADRAT, MENENTUKAN ARAH KIBLAT, MENGGUNAKAN JANGKA, MENGHITUNGKAN JARAK TEMPAT DI PETA, MENERAPKAN PRINSIP KRONOLOGI DALAM MENENTUKAN WAKTU SUATU BENDA/PERISTIWA, DAN SEBAGAINYA MENGANALISIS MENGGUNAKAN KETRAMPILAN YANG TELAH DIPELAJARINYA TERHADAP SUATU INFORMASI YANG BELUM DIKETAHUINYA DALAM MENGELOMPOKKAN INFORMASI, MENENTUKAN KETERHUBUNGAN ANTARA SATU KELOMPOK/ INFORMASI DENGAN KELOMPOK/ INFORMASI LAINNYA, ANTARA FAKTA DENGAN KONSEP, ANTARA ARGUMENTASI DENGAN KESIMPULAN, BENANG MERAH PEMIKIRAN ANTARA SATU KARYA DENGAN KARYA LAINNYA PESERTA DIDIK: MENGELOMPOKKAN BENDA BERDASARKAN PERSAMAAN DAN PERBEDAAN CIRI-CIRINYA, MEMBERI NAMA BAGI KELOMPOK TERSEBUT, MENENTUKAN APAKAH SATU KELOMPOK SEJAJAR/LEBIH TINGGI/LEBIH LUAS DARI YANG LAIN, MENENTUKAN MANA YANG LEBIH DULU DAN MANA YANG BELAKANGAN MUNCUL, MENENTUKAN MANA YANG MEMBERIKAN PENGARUH DAN MANA YANG MENERIMA PENGARUH, MENEMUKAN KETERKAITAN ANTARA FAKTA DENGAN KESIMPULAN, MENENTUKAN KONSISTENSI ANTARA APA YANG DIKEMUKAKAN DI BAGIAN AWAL DENGAN BAGIAN BERIKUTNYA, MENEMUKAN PIKIRAN POKOK PENULIS/PEMBICARA/NARA SUMBER, MENEMUKAN KESAMAAN DALAM ALUR BERPIKIR ANTARA SATU KARYA DENGAN KARYA LAINNYA, DAN SEBAGAINYA
  • 97.
    KEMAMPUAN KOGNITIF MENGEVALUASI MENENTUKAN NILAI SUATU BENDA ATAU INFORMASI BERDASARKAN SUATU KRITERIA PESERTA DIDIK: MENILAI APAKAH INFORMASI YANG DIBERIKAN BERGUNA, APAKAH SUATU INFORMASI/BENDA MENARIK/MENYENANGKAN BAGI DIRINYA, ADAKAH PENYIMPANGAN DARI KRITERIA SUATU PEKERJAAN/KEPUTUSAN/ PERATURAN, MEMBERIKAN PERTIMBANGAN ALTERNATIF MANA YANG HARUS DIPILIH BERDASARKAN KRITERIA, MENILAI SUATU HASIL KERJA BERDASARKAN KRITERIA, DAN SEBAGAINYA MENGHASILKAN MEMBUAT SESUATU YANG BARU DARI APAYANG SUDAH ADA SEHINGGA HASIL TERSEBUT MERUPAKAN SATU KESATUAN UTUH DAN BERBEDA DARI KOMPONEN YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBENTUKNYA PESERTA DIDIK: MEMBUAT SUATU CERITA/TULISAN DARI BERBAGAI SUMBER YANG DIBACANYA, MEMBUAT SUATU BENDA DARI BAHAN YANG TERSEDIA, MENGEMBANGKAN FUNGSI BARU DARI SUATU BENDA, MENGEMBANGKAN BERBAGAI BENTUK KREATIVITAS.
  • 98.
    KEMAMPUAN KOGNITIF MENGEVALUASI MENENTUKAN NILAI SUATU BENDA ATAU INFORMASI BERDASARKAN SUATU KRITERIA PESERTA DIDIK: MENILAI APAKAH INFORMASI YANG DIBERIKAN BERGUNA, APAKAH SUATU INFORMASI/BENDA MENARIK/MENYENANGKAN BAGI DIRINYA, ADAKAH PENYIMPANGAN DARI KRITERIA SUATU PEKERJAAN/KEPUTUSAN/ PERATURAN, MEMBERIKAN PERTIMBANGAN ALTERNATIF MANA YANG HARUS DIPILIH BERDASARKAN KRITERIA, MENILAI SUATU HASIL KERJA BERDASARKAN KRITERIA, DAN SEBAGAINYA MENGHASILKAN MEMBUAT SESUATU YANG BARU DARI APAYANG SUDAH ADA SEHINGGA HASIL TERSEBUT MERUPAKAN SATU KESATUAN UTUH DAN BERBEDA DARI KOMPONEN YANG DIGUNAKAN UNTUK MEMBENTUKNYA PESERTA DIDIK: MEMBUAT SUATU CERITA/TULISAN DARI BERBAGAI SUMBER YANG DIBACANYA, MEMBUAT SUATU BENDA DARI BAHAN YANG TERSEDIA, MENGEMBANGKAN FUNGSI BARU DARI SUATU BENDA, MENGEMBANGKAN BERBAGAI BENTUK KREATIVITAS.
  • 99.
    BENTUK HASIL BELAJARAFEKTIF UCAPAN/TULISAN CARA MELAKUKAN SESUATU KEBIASAAN
  • 100.
    HASIL BELAJAR AFEKTIF JENJANG INTERNALISASI INDIKATOR PENERIMAAN NILAI KESEDIAAN MENERIMA SUATU NILAI DAN MEMBERIKAN PERHATIAN TERHADAP NILAI TEREBUT MERESPON NILAI KESEDIAAN MENJAWAB SUATU NILAI DAN ADA RASA PUAS DALAM MEMBICARAKAN NILAI TERSEBUT PENILAIAN MENGANGGAP NILAI TERSEBUT BAIK; MENYUKAI NILAI TERSEBUT; DAN KOMITMEN TERHADAP NILAI TERSEBUT PENGORGANISASIAN MEMASUKKAN NILAI TERSEBUT SEBAGAI BAGIAN DARI SISTEM NILAI DIRINYA PENJATIDIRIAN MENGEMBANGKAN NILAI TERSEBUT SEBAGAI CIRI DIRINYA DALAM BERPIKIR, BERKATA, BERKOMUNIKASI, DAN BERTINDAK
  • 101.
    KONTEN PSIKOMOTOR •ACTION (ELEMENTARY MOVEMENT) • COORDINATION (SYNCHRONIZED MOVEMENT) • FORMATION (BODILY MOVEMENT) • PRODUCTION (COMBINE VERBAL AND NONVERBAL MOVEMENT) Vinson (2012)
  • 102.
    Sumber: Olahan darikategori Harrow dan kategori Simpson HASIL BELAJAR PSIKOMOTOR KEMAMPUAN HASIL BELAJAR MENIRU MAMPU MENIRU SUATU GERAKAN/TINDAKAN DARI APAYANG DIAMATI MENGUBAH MAMPU MELAKUKAN GERAKAN/TINDAKAN YANG BERBEDA DARI APA YANG DIAMATI TAPI MASIH MEMILIKI KESALAHAN-KESALAHAN MENGEMBANGKAN PRESISI MENGEMBANGKAN GERAKAN/TINDAKAN YANG MEMILIKI KETEPATAN YANG BAIK TANPA ADA KESALAHAN YANG BERARTI MENJADI TINDAKAN ALAMI MENGEMBANGKAN GERAKAN/TINDAKAN YANG DIPELAJARI SEBAGAI SUATU MILIKNYA YANG ALAMI MENJADI TINDAKAN ORISINAL MELAKUKAN IMPROVISASI GERAKAN/TINDAKAN YANG DIPELAJARI SEBAGAI SUATU GERAKAN/TINDAKAN YANG MENJADI CIRI KHAS DIRINYA
  • 103.
    PENGERTIAN PENILAIAN OTENTIK PENILAIAN OTENTIK ADALAH PENDEKATAN DAN INSTRUMEN ASESMEN YANG MEMBERIKAN KESEMPATAN YANG LUAS KEPADA PESERTA DIDIK UNTUK MENERAPKAN PENGETAHUAN, KETRAMPILAN, DAN SIKAP YANG SUDAH DIMILIKINYA DALAM BENTUK TUGAS: MEMBACA DAN MERINGKASNYA, EKSPERIMEN, MENGAMATI, SURVEY, PROJECT, MAKALAH, MEMBUAT MULTI MEDIA, MEMBUAT KARANGAN, DISKUSI KELAS. AUTHENTIC ASSESSMENT, ON THE OTHER HAND, IS A TYPE OF ASSESSMENT IN WHICH STUDENTS USE THEIR UNDERSTANDING OF A SUBJECT TO SOLVE REAL WORLD SITUATIONS AND PROBLEMS. STEPHANY ELSWORTH
  • 104.
    PENENTUAN KRITERIA BERDASARKANTUGAS YANG TELAH DITENTUKAN PADA LANGKAH SEBELUMNYA (PENENTUAN TUGAS), KEMBANGKAN PERTANYAAN “ASPEK APA SAJA YANG PERLU DILAKUKAN PESERTA DIDIK AGAR GURU TAHU BAHWA MEREKA TELAH MELAKUKAN PEKERJAAN DENGAN BAIK
  • 105.
    PELAPORAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK • SKOR DAN NILAI • PENILAIAN KOMPETENSI DILAKUKAN DALAM BENTUK SKOR 1 - 4 DENGAN SKALA 1 - 4, KEMUDIAN DIKONVERSI MENJADI NILAI A, A-, B+, B, B-, C+, C, C-, D+, D BERDASARKAN SKALA DALAMTABEL KONVERSI
  • 106.
    KONVERSI SKOR KENILAI Nilai/Predikat Skor Kompetensi Pengetahuan Ketrampilan Sikap A 4,00 4,00 SB A- 3,66 3,66 B+ 3,33 3.33 B B 3,00 3,00 B- 2,66 2,66 C+ 2,33 2,33 C 2,00 2,00 C- 1,66 1,66 D+ 1,33 1,33 K D 1,00 1,00 C