PEMBAGIAN KEWENANGAN PUSATPEMBAGIAN KEWENANGAN PUSAT
DAN DAERAH
Oleh
Miftah Thoha,Ph.D
Guru Besar UGM
Disampaikan pada Pelatihan Ombudsman Daerah,Disampaikan pada Pelatihan Ombudsman Daerah,p p ,p p ,
diselenggarakan oleh Pusham UII, bekerjasama dengandiselenggarakan oleh Pusham UII, bekerjasama dengan
Partnership for Government Reform in Indonesia, Yogyakarta,Partnership for Government Reform in Indonesia, Yogyakarta,
1717--18 September 200518 September 2005
HAKEKAT OTONOMI DAERAH
SESUAI DENGAN AMANAT UUD NEGARASESUAI DENGAN AMANAT UUD NEGARA
REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945,
PEMERINTAH DAERAH BERWENANGPEMERINTAH DAERAH BERWENANG
UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS
SENDIRI URUSAN PEMERINTAHANSENDIRI URUSAN PEMERINTAHAN
MENURUT ASAS OTONOMI DAN
PERBANTUANPERBANTUAN.
lanjutanj
PEMBERIAN OTONOMI LUAS KEPADA DAERAHPEMBERIAN OTONOMI LUAS KEPADA DAERAH
DIARAHKAN UNTUK MEMPERCEPAT TERWUJUDNYA
KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MELALUI PENINGKATAN
PELAYANAN, PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTAPELAYANAN, PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTA
MASYARAKAT.
SELAIN ITU DAERAH BISA MENINGKATKAN DAYA SAING
DENGAN MEMPERHATIKAN PRINSIP DEMOKRASIDENGAN MEMPERHATIKAN PRINSIP DEMOKRASI,
KEADILAN, PEMERATAAN, KEISTIMEWAAN, KEKUSUSAN
DAN KEANEKA RAGAMAN DAERAH
TIGA ASAS PEMERINTAHAN
(1) Asas Desentralisasi(1) Asas Desentralisasi
(2) Asas Dekonsentrasi
(3) Asas Perbantuan ( medebewind)(3) Asas Perbantuan ( medebewind)
Ketiga asas ini tergolong sistem desentralisasi,
karena semua asas ini pelaksanaannya berada di
daerah
Asas dalam ketiga asas diatas merupakan
prinsip yang dipergunakan untuk menjelaskanprinsip yang dipergunakan untuk menjelaskan
bagaimana kewenangan pemerintahan dijalankan
antara pemerintah pusat dan daerah
lanjutanj
1) Asas desentralisasi menjelaskan tentang1) Asas desentralisasi menjelaskan tentang
kewenangan pemerintah daerah untuk
melaksanakan kewenangan di daerah yang
dijalankan oleh aparatur daerah masing-masing.
Kewenangan ini umumnya merupakan kewenangan
otonomi yang dipunyai oleh daerah.otonomi yang dipunyai oleh daerah.
Kewenangan otonomi ini dijalankan seluas-luasnya
oleh pemda (psl.10 ayat 2)
Kewenangan otonomi ini wujudnya adalah selain 6
kewenangan pemerintah pusat
lanjutanj
2) Asas dekonsentrasi merupakan kewenangan2) Asas dekonsentrasi merupakan kewenangan
pemerintah pusat yang dilaksanakan di daerah oleh
aparat pusat. Kewenangan ini merupakan kuajibanaparat pusat. Kewenangan ini merupakan kuajiban
yang dijalankan oleh pemerintah pusat untuk
melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan
pembangunan di daerah-daerah.
Pelaksanaan kewenangan dari asas ini dilaksanakan
di i (K il K d ) di li hk k G bsendiri (Kanwil, Kandep) di limpahkan ke Gubernur
lanjutanj
3) Asas perbantuan merupakan kewenangan3) Asas perbantuan merupakan kewenangan
pemerintah untuk melaksanakan tugas-tugas
pemerintahan dan pembangunan di daerah yangpemerintahan dan pembangunan di daerah yang
dijalankan oleh aparat pemerintah daerah. Aparat
pemerintah daerah melaksanakan asas ini dalam
rangka membantu tugas pemerintah pusat.
Kewenangan dari asas ini di daerah dan atau di
d b d i i t hdesa, berupa penugasan dari pemerintah
UU no 32/2004 (Psl. 10)( )
DESENTRALISASI ADALAH PENYERAHANDESENTRALISASI ADALAH PENYERAHAN
WEWENANG PEMERINTAHAN OLEH
PEMERINTAH KEPADA DAERAH OTONOM
UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS URUSANUNTUK MENGATUR DAN MENGURUS URUSAN
PEMERINTAHAN DALAM SISTEM NEGARA
KESATUAN RI (ayat 1)
DEKONSENTRASI ADALAH PELIMPAHANDEKONSENTRASI ADALAH PELIMPAHAN
WEWENANG PEMERINTAHAN OLEH
PEMERINTAH KEPADA GUBERNUR SEBAGAI
WAKIL PEMERINTAH DAN/ATAU KEPADAWAKIL PEMERINTAH DAN/ATAU KEPADA
INSTANSI VERTIKAL DI WILAYAH
TERTENTU.(ayat 3 dan 5)
lanjutanj
TUGAS PERBANTUAN ADALAHTUGAS PERBANTUAN ADALAH
PENUGASAN DARI PEMERINTAH
KEPADA DAERAH DAN/ATAU DESA DARIKEPADA DAERAH DAN/ATAU DESA DARI
PEMERINTAH PROVINSI KEPADA
KABUPATEN/KOTA DAN/ ATAU DESA
SERTA DARI PEMERINTAH KABUPATEN
KOTA KEPADA DESA UNTUK
S G SMELAKSANAKAN TUGAS
TERTENTU(ayat 5)
SISTEM PEMERINTAHAN KITA
Sebenarnya dalam peraturan perundanganSebenarnya dalam peraturan perundangan,
Indonesia tidak mengenal sistem sentralisasi
melainkan sistem desentralisasimelainkan sistem desentralisasi
Hanya saja praktika pemerintahan banyak
yang masih melaksanakan sentralisasi,
terutama dalam waktu yang cukup lama kita
/menggunakan UU no 5/1974
SENTRALISASI
WALAUPUN DESENTRALISASI SELALUWALAUPUN DESENTRALISASI SELALU
DIJADIKAN THEMA SENTRAL DARI UU YANG
BARU (22/1999 DAN 32/2004) AKAN TETAPI
UPAYA MELAKUKAN SENTRALISASI
KELIHATANNYA BELUM BISA BERANJAK DARI
WARISAN UU NO 5/1974.WARISAN UU NO 5/1974.
OLEH KARENA ITU ADA TARIK-MENARIK DI
ANTARA KEDUANYA, DAN DAYA TARIK
SENTRALISASI LEBIH KUAT KATIMBANG
DESENTRALISASI.
TARIK-MENARIK ANTARA
SENTRALISI dan DESENTRALISASI
Selama ini pelaksanaan sistem sentralisasi dan
desentralisasi sepertinya ada tarik-menarik.desentralisasi sepertinya ada tarik menarik.
Dalam waktu tertentu desentralisasi memihak ke
pemda, di lain waktu yang cukup lama beralih ke
sentralisasi
UU NO 5/74 kuat sekali SENTRALISASInya, UU
22/99 d k l d t li i kno 22/99 ada kelonggaran desentralisasi, akan
tetapi UU no 32/2004 berbau resentralisasinya
LANJUTAN
Memang tidak mungkin mutlakMemang tidak mungkin mutlak
desentralisasi, akan tetapi mutlak
sentralisasi banyak kemungkinansentralisasi banyak kemungkinan
bisa terjadi
Dengan kata lain pelaksanaan
otonomi itu belum banyak
perubahan kalau dilihat dari
perspektif peranan daerah.p p p
Contoh Tarik menarik
Ketika melaksanqkan kewenangan wajib diKetika melaksanqkan kewenangan wajib di
daerah menurut UU 22/1999, belum dilaksanakan
tiba-tiba kewenangan pertanahan ditarik lagi ke
pemerintah pusat tidak melalui UU melainkanpemerintah pusat tidak melalui UU melainkan
cukup dengan Sk Menteri (dalihnya karena UU
agraria menetapkan pertanahan merupakan
kewenangan pemerintah pusat padahal adakewenangan pemerintah pusat, padahal ada
pasal dalam UU no 22/1999 yang menyatakan UU
dari bidang lain disesuaikan dengan UU no
22/1999 ini)22/1999 ini)
lanjutanj
Masih banyak dijumpai departemen sektorMasih banyak dijumpai departemen sektor
yang belum sefaham dengan pelaksanaan
otonomi daerah sehingga perananotonomi daerah, sehingga peranan
sentralisasinya masih menonjol.
Walaupun Kanwil/Kandep banyak yang
sudah tidak ada, akan tetapi perpanjangan
tangannya dibentuk UPT-UPT di daerah.
lanjutanj
Kewenangan (dana) dekonsentrasiKewenangan (dana) dekonsentrasi
yang menurut UU nya dilimpahkan ke
Gubernur maka seringkali dijumpaiGubernur, maka seringkali dijumpai
departemen sektor jumping ke UPT-
UPTUPT.
Barangkali karena masih merasa
menerima warisan UU no 5/74 yang
sentralistis.
GAMBARAN KEWENANGAN
SENTRALISASI-DESENTRALISASI UU
N05/74.
Sentralisasi,
Pemerintah
Pusat
DT I
Propinsi
DT II
Kab/KM
SENTRALISASI dan DESENTRALISASI
MENURUT UU 22/1999
DesentralisasiDesentralisasi
pusat Provinsi Kabupaten/Kotap
RESENTRALISASI UU NO 32/2004
ResentralissiResentralissi
Pem
Pusat
PemPem
Prop
Pem
K b/KKab/Ko
SUSUNAN PEMERINTAHAN
Susunan pemerintahan (tiers) dan hirarkiSusunan pemerintahan (tiers) dan hirarki
seringkali disamakan. Susunan
pemerintahan merupakan wujud pembagianpemerintahan merupakan wujud pembagian
lingkup kewenangan pemerintahan yang
disusun bertingkat (hirarkis)g ( )
Teori Hirarki (birokrasi Weberian) lebih
mencerminkan dominasi kekuasaan antara
hirarki yang di atas terhadap hirarki yang
dibawah
lanjutanj
Semua UU tentang pemerintahan daerahSemua UU tentang pemerintahan daerah
mengenal tiers dan hirarchy disamakan,
kecuali UU no 22/1999 yang istilah hirarkikecuali UU no 22/1999 yang istilah hirarki
tidak dipakai lagi antara susunan Pemeritah
Provinsi dan Kabupaten/Kotap
Susunan (tiers) dalam pemerintahan kita ada
yang disusun 4 susunan (Pemerintah Pusat,y g ( ,
Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa)- UU
no32/2004
TIERS dan HIRARCHY
Susunan (tiers) lebih condong sebagaiSusunan (tiers) lebih condong sebagai
Division of Labor, pembagian domain, tugas ,
kewenangan dan tanggung jawab yangkewenangan dan tanggung jawab yang
dilaksanakan oleh masing-masing susunan
pemerintahanpemerintahan
Sedangkan hirarchy lebih condong pada
( )pendekatan pelaksanaan kekuasaan (power)
yang melekat pada masing-masing tingkatan
lanjutanj
Oleh karena itu dalam pembagianOleh karena itu dalam pembagian
kewenangan antara susunan
pemerintahan sebaiknya tidakpemerintahan sebaiknya tidak
digunakan pendekatan kekuasaan
(hi ki ) l i k d k t(hirarkis) melainkan pendekatan
kesetaraan, keharmonisan, dan
k i t h d l kkeserasian terhadap pelaksaan
domain, tugas, wewenang dan tg jawab
lanjutanj
Sehingga warna dan suasana governanceSehingga warna dan suasana governance
nya lebih kuat katimbang warna dan suasana
government nyagovernment nya
Dalam governance pendekatan partisipasi
dan kesetaraan sangat menonjol
Sedangkan Government kekuasaan
(power)nya lebih kelihatan.
CURRENT ISSUES Dalam pengelolan
PEMERINTAHAN
PBB b d E tPBB bersama dengen Eastern
Regional Organization for Public
Administraion (EROPA) tahun 2000 di
Manila menyatakan bahwa perubahany p
paradigma dalam pemerintahan ini
beralih dari Government toberalih dari Government to
Governance
lanjutanj
Sebelumnya tahun 1994 PBBSebelumnya tahun 1994 PBB
melakukan penelitian bahwa dari 100
negara yang melaksanakan demokrasinegara yang melaksanakan demokrasi
95 % di antaranya telah melaksanakan
d t li idesentralisasi.
Dengan demikian pemerintahan yang
demokratis salah satu wujudnya
adalah melakukan desentralisasi
GLOBAL FORUM KE 6 TAHUN 2005
AKHIR MEI 2005 DI SEOUL KOREAAKHIR MEI 2005 DI SEOUL KOREA
SELATAN BERKUMPUL PEMIMPIN
PEMERINTAHAN DAN AKADEMISIPEMERINTAHAN DAN AKADEMISI
SELURUH DUNIA YANG DIPELOPORI
PBB MENDEKLARASIKAN PERLUNYAPBB MENDEKLARASIKAN PERLUNYA
IKLIM DESENTRALISASI dan
PEMBERDAYAAN LOCAL GOVERNMENTPEMBERDAYAAN LOCAL GOVERNMENT
KUTIPAN DEKLARASI SEOUL
“Good Governance requires anGood Governance requires an
appropriate level of decentralization,
innovation and development of localinnovation and development of local
government. Local administration can be
made more effective and autonomous
through the promotion of administrative
and financial decentralization,
fdigitalization of government, and result-
base performance management……..”
PEMBAGIAN KEWENANGAN
Sekarang telah dirancang RPP pembagianSekarang telah dirancang RPP pembagian
kewenangan untuk mengganti PP no
25/2000 sesuai dengan UU no32/200425/2000 sesuai dengan UU no32/2004
Penggantian PP 25/2000 perlu dilakukan
karena UUnya telah bergantikarena UUnya telah berganti
Hanya yang perlu dicermati karena UU no
32/2004 berbau resentralisasi maka RPP32/2004 berbau resentralisasi, maka RPP
nanti hendaknya tidak banyak berwarna
sentralisasi
lanjutanj
Iklim desentralisasi yang telah melanda belahanIklim desentralisasi yang telah melanda belahan
dunia pemerintahan demokrasi hendaknya
memperoleh perhatian dalam menyusun RPP
kewenangan tersebut
Kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi
perlu dikembangkan dengan tafsir yang lebih bersifatperlu dikembangkan dengan tafsir yang lebih bersifat
demokratis, desentralistis, partisipatif, bukan
semata-mata berprinsip “law and order” yang
mencerminkan pendekatan kekuasaan (power) yang
sentralistis.
lanjutanj
Untuk menghindari pelaksanaan pembagianUntuk menghindari pelaksanaan pembagian
kewenangan yang tidak seimbang, perlu
kriteria eksternalitas akuntabilitas dankriteria eksternalitas, akuntabilitas dan
efisiensi diberdayakan dengan asas
kesamaan, kesetaraan, keseimbangan yang, , g y g
horisontal.
Dengan demikian ada descresi daerah untukg
membuat kebijakan yang sesuai dengan
kondisi dan ke anekaragaman daerah
SOLUSI DAN SARAN
(1) Kebijakan desentralisasi yang direncanakan(1) Kebijakan desentralisasi yang direncanakan,
dirumuskan, dan ditetapkan oleh pemerintah pusat
(dept sektor) sejak awal melibatkan pemerintah
daerah (provinsi dan Kab/kota)
(2) Keselarasan, keharmonisan, dan kongruensi
kepentingan pem pusat dan daerah perlu dilakukankepentingan pem.pusat dan daerah perlu dilakukan
dengan memberikan kepada daerah diskresi dan
kebebasan untuk melaksanakan kebijakan sesuai
dengan kepentingan, kebutuhan dan kemauan
rakyat daerah masing-masing
lanjutanj
(3) Pelaksanaa kewenangan dekonsentrasi(3) Pelaksanaa kewenangan dekonsentrasi
harus dijadikan suatu keharusan pemerintah
pusat (dept sektor) untuk membantu daerahpusat (dept sektor) untuk membantu daerah
dengan tidak strickly defined sesuai
dengan kemauan pusat Melainkandengan kemauan pusat. Melainkan
memberikan diskresi dan kebebasan daerah
untuk menyesuaikan terhadap kebutuhanuntuk menyesuaikan terhadap kebutuhan
dan aspirasi daerah masing-masing.
lanjutanj
(4) Sesuai dengan bunyi UU no 32 dan 33 /2004(4). Sesuai dengan bunyi UU no 32 dan 33 /2004
bahwa dana dekonsentrasi dilimpahkan kepada
Gubernur, maka Departemen Sektor tidakGubernur, maka Departemen Sektor tidak
memanfaatkan UPT-UPT yang dibentuk sebagai
realisasi kebijakannya di daerah.
(5) Agar tidak ada ego lokalisme, maka dana
dekonsentrasi dan kebijakan pemerintah pusat di
k b t /k t dik di i l h P i ikabupaten/kota dikoordinasi oleh pem. Provinsi
SOLUSI PEMBAGIAN KEWENANGAN
Kewenangan Pemerintah Pusat al:Kewenangan Pemerintah Pusat al:
(1) Dilihat dari substansi pokok departemen
sektor hanya berwenang menetapkan
standard, kriteria, dan kebijakan strategis.
Pelaksanaan dan realisasi kewenangan tsb
berada di daerah sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan daerah
Lanjutan Pemerintah Pusatj
(2) Dilihat dari jangkauan (ekternalitas)(2). Dilihat dari jangkauan (ekternalitas)
keluasan wilayah, pemerintah pusat dalam
hal ini Departemen sektor hanyahal ini Departemen sektor hanya
melaksanakan kebijakan strategis tsb yang
meliputi jangkauan keluasan untuk wilayahp j g y
nasional yang lintas provinsial
(3). Dilihat dari asas kemanfaatan( )
(efektivitas) bukan hanya efisiensi saja,
maka pelaksanaan kewenangan strategis…..
Lanjutan ..pem pusatj p p
t t i t b t Jik k f tstrategis tersebut. Jika kemanfaatan
pelaksanaannya dilihat dari
penggunaan sumberdaya,
anggaran/pembiayaannya, dan fasilitasgg p y y ,
lainnya dilakukan oleh pemerintah
pusatpusat
Kewenangan Pemerintah Provinsig
(1) Melaksanakan standard kreteria dan(1) Melaksanakan standard, kreteria, dan
kebijakan strategis yang ditetapkan oleh
pemerintah Pusat (Dept sektor) untukpemerintah Pusat (Dept. sektor) untuk
wilayah provinsi masing-masing.
(2) Menetapkan kebijakan sesuai dengan
kondisi lingkungan strategis daerahnya
dalam melaksanakan kebijakan pemeintah
pusat tersebut
Lanjutan Provinsij
(3) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan yang(3) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan yang
jangkauan keluasannya meliputi lintas
kabupaten/kota di wilayah provinsinya masing-kabupaten/kota di wilayah provinsinya masing
masing
(4) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan( ) p j
pemerintah pusat jika dilihat dari asas kemanfaatan
yang meliputi penggunaan sdm, biaya, teknologi dan
f ilit l i l bih b f t dil k k difasilitas lainnya lebih bermanfaat dilaksanakan di
wilayah provinsi masing-masing.
Kewenangan Pemerintah
Kabupaten/Kotap
(1) Melaksanakan kebijakan pemerintah(1) Melaksanakan kebijakan pemerintah
pusat di daerahnya sesuai dengan kondisi
daerahnya dan koordinasi serta kebijakandaerahnya dan koordinasi serta kebijakan
strategis Provinsi masing-masing
(2).Menetapkan kebijakan strategis sesuai
dengan kondisi daerahnya masing –masing
dalam melaksanakan kebijakan pemerintah
pusat dan kebijakan provinsi
Lanjutan Kabupaten/Kotaj p
(3) Menetapkan dan melaksanakan(3). Menetapkan dan melaksanakan
kebijakan pemerintah pusat/provinsi jika
dilihat dari asas kemanfaatan penggunaandilihat dari asas kemanfaatan penggunaan
sdm, biaya, teknologi dan fasilitas lainnya
yang tersedia di daerahnya masing masingyang tersedia di daerahnya masing-masing
lebih bermanfaat kalau dilakukan di
kabupaten/kotakabupaten/kota.
PENUTUP
DEMIKIAN POKOK POKOK PEMIKIRANDEMIKIAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN
SAYA DALAM RANGKA SUMBANGSIH
SARAN UNTUK PEMBAGIANSARAN UNTUK PEMBAGIAN
KEWENANGAN YANG DIRANCANG
DALAM RPP KEWENANGANDALAM RPP KEWENANGAN
MOHON MAAF KEKURANGAN
TERIMA KASIH

Pembagian kewenangan

  • 1.
    PEMBAGIAN KEWENANGAN PUSATPEMBAGIANKEWENANGAN PUSAT DAN DAERAH Oleh Miftah Thoha,Ph.D Guru Besar UGM Disampaikan pada Pelatihan Ombudsman Daerah,Disampaikan pada Pelatihan Ombudsman Daerah,p p ,p p , diselenggarakan oleh Pusham UII, bekerjasama dengandiselenggarakan oleh Pusham UII, bekerjasama dengan Partnership for Government Reform in Indonesia, Yogyakarta,Partnership for Government Reform in Indonesia, Yogyakarta, 1717--18 September 200518 September 2005
  • 2.
    HAKEKAT OTONOMI DAERAH SESUAIDENGAN AMANAT UUD NEGARASESUAI DENGAN AMANAT UUD NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945, PEMERINTAH DAERAH BERWENANGPEMERINTAH DAERAH BERWENANG UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS SENDIRI URUSAN PEMERINTAHANSENDIRI URUSAN PEMERINTAHAN MENURUT ASAS OTONOMI DAN PERBANTUANPERBANTUAN.
  • 3.
    lanjutanj PEMBERIAN OTONOMI LUASKEPADA DAERAHPEMBERIAN OTONOMI LUAS KEPADA DAERAH DIARAHKAN UNTUK MEMPERCEPAT TERWUJUDNYA KESEJAHTERAAN MASYARAKAT MELALUI PENINGKATAN PELAYANAN, PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTAPELAYANAN, PEMBERDAYAAN DAN PERAN SERTA MASYARAKAT. SELAIN ITU DAERAH BISA MENINGKATKAN DAYA SAING DENGAN MEMPERHATIKAN PRINSIP DEMOKRASIDENGAN MEMPERHATIKAN PRINSIP DEMOKRASI, KEADILAN, PEMERATAAN, KEISTIMEWAAN, KEKUSUSAN DAN KEANEKA RAGAMAN DAERAH
  • 4.
    TIGA ASAS PEMERINTAHAN (1)Asas Desentralisasi(1) Asas Desentralisasi (2) Asas Dekonsentrasi (3) Asas Perbantuan ( medebewind)(3) Asas Perbantuan ( medebewind) Ketiga asas ini tergolong sistem desentralisasi, karena semua asas ini pelaksanaannya berada di daerah Asas dalam ketiga asas diatas merupakan prinsip yang dipergunakan untuk menjelaskanprinsip yang dipergunakan untuk menjelaskan bagaimana kewenangan pemerintahan dijalankan antara pemerintah pusat dan daerah
  • 5.
    lanjutanj 1) Asas desentralisasimenjelaskan tentang1) Asas desentralisasi menjelaskan tentang kewenangan pemerintah daerah untuk melaksanakan kewenangan di daerah yang dijalankan oleh aparatur daerah masing-masing. Kewenangan ini umumnya merupakan kewenangan otonomi yang dipunyai oleh daerah.otonomi yang dipunyai oleh daerah. Kewenangan otonomi ini dijalankan seluas-luasnya oleh pemda (psl.10 ayat 2) Kewenangan otonomi ini wujudnya adalah selain 6 kewenangan pemerintah pusat
  • 6.
    lanjutanj 2) Asas dekonsentrasimerupakan kewenangan2) Asas dekonsentrasi merupakan kewenangan pemerintah pusat yang dilaksanakan di daerah oleh aparat pusat. Kewenangan ini merupakan kuajibanaparat pusat. Kewenangan ini merupakan kuajiban yang dijalankan oleh pemerintah pusat untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan di daerah-daerah. Pelaksanaan kewenangan dari asas ini dilaksanakan di i (K il K d ) di li hk k G bsendiri (Kanwil, Kandep) di limpahkan ke Gubernur
  • 7.
    lanjutanj 3) Asas perbantuanmerupakan kewenangan3) Asas perbantuan merupakan kewenangan pemerintah untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan di daerah yangpemerintahan dan pembangunan di daerah yang dijalankan oleh aparat pemerintah daerah. Aparat pemerintah daerah melaksanakan asas ini dalam rangka membantu tugas pemerintah pusat. Kewenangan dari asas ini di daerah dan atau di d b d i i t hdesa, berupa penugasan dari pemerintah
  • 8.
    UU no 32/2004(Psl. 10)( ) DESENTRALISASI ADALAH PENYERAHANDESENTRALISASI ADALAH PENYERAHAN WEWENANG PEMERINTAHAN OLEH PEMERINTAH KEPADA DAERAH OTONOM UNTUK MENGATUR DAN MENGURUS URUSANUNTUK MENGATUR DAN MENGURUS URUSAN PEMERINTAHAN DALAM SISTEM NEGARA KESATUAN RI (ayat 1) DEKONSENTRASI ADALAH PELIMPAHANDEKONSENTRASI ADALAH PELIMPAHAN WEWENANG PEMERINTAHAN OLEH PEMERINTAH KEPADA GUBERNUR SEBAGAI WAKIL PEMERINTAH DAN/ATAU KEPADAWAKIL PEMERINTAH DAN/ATAU KEPADA INSTANSI VERTIKAL DI WILAYAH TERTENTU.(ayat 3 dan 5)
  • 9.
    lanjutanj TUGAS PERBANTUAN ADALAHTUGASPERBANTUAN ADALAH PENUGASAN DARI PEMERINTAH KEPADA DAERAH DAN/ATAU DESA DARIKEPADA DAERAH DAN/ATAU DESA DARI PEMERINTAH PROVINSI KEPADA KABUPATEN/KOTA DAN/ ATAU DESA SERTA DARI PEMERINTAH KABUPATEN KOTA KEPADA DESA UNTUK S G SMELAKSANAKAN TUGAS TERTENTU(ayat 5)
  • 10.
    SISTEM PEMERINTAHAN KITA Sebenarnyadalam peraturan perundanganSebenarnya dalam peraturan perundangan, Indonesia tidak mengenal sistem sentralisasi melainkan sistem desentralisasimelainkan sistem desentralisasi Hanya saja praktika pemerintahan banyak yang masih melaksanakan sentralisasi, terutama dalam waktu yang cukup lama kita /menggunakan UU no 5/1974
  • 11.
    SENTRALISASI WALAUPUN DESENTRALISASI SELALUWALAUPUNDESENTRALISASI SELALU DIJADIKAN THEMA SENTRAL DARI UU YANG BARU (22/1999 DAN 32/2004) AKAN TETAPI UPAYA MELAKUKAN SENTRALISASI KELIHATANNYA BELUM BISA BERANJAK DARI WARISAN UU NO 5/1974.WARISAN UU NO 5/1974. OLEH KARENA ITU ADA TARIK-MENARIK DI ANTARA KEDUANYA, DAN DAYA TARIK SENTRALISASI LEBIH KUAT KATIMBANG DESENTRALISASI.
  • 12.
    TARIK-MENARIK ANTARA SENTRALISI danDESENTRALISASI Selama ini pelaksanaan sistem sentralisasi dan desentralisasi sepertinya ada tarik-menarik.desentralisasi sepertinya ada tarik menarik. Dalam waktu tertentu desentralisasi memihak ke pemda, di lain waktu yang cukup lama beralih ke sentralisasi UU NO 5/74 kuat sekali SENTRALISASInya, UU 22/99 d k l d t li i kno 22/99 ada kelonggaran desentralisasi, akan tetapi UU no 32/2004 berbau resentralisasinya
  • 13.
    LANJUTAN Memang tidak mungkinmutlakMemang tidak mungkin mutlak desentralisasi, akan tetapi mutlak sentralisasi banyak kemungkinansentralisasi banyak kemungkinan bisa terjadi Dengan kata lain pelaksanaan otonomi itu belum banyak perubahan kalau dilihat dari perspektif peranan daerah.p p p
  • 14.
    Contoh Tarik menarik Ketikamelaksanqkan kewenangan wajib diKetika melaksanqkan kewenangan wajib di daerah menurut UU 22/1999, belum dilaksanakan tiba-tiba kewenangan pertanahan ditarik lagi ke pemerintah pusat tidak melalui UU melainkanpemerintah pusat tidak melalui UU melainkan cukup dengan Sk Menteri (dalihnya karena UU agraria menetapkan pertanahan merupakan kewenangan pemerintah pusat padahal adakewenangan pemerintah pusat, padahal ada pasal dalam UU no 22/1999 yang menyatakan UU dari bidang lain disesuaikan dengan UU no 22/1999 ini)22/1999 ini)
  • 15.
    lanjutanj Masih banyak dijumpaidepartemen sektorMasih banyak dijumpai departemen sektor yang belum sefaham dengan pelaksanaan otonomi daerah sehingga perananotonomi daerah, sehingga peranan sentralisasinya masih menonjol. Walaupun Kanwil/Kandep banyak yang sudah tidak ada, akan tetapi perpanjangan tangannya dibentuk UPT-UPT di daerah.
  • 16.
    lanjutanj Kewenangan (dana) dekonsentrasiKewenangan(dana) dekonsentrasi yang menurut UU nya dilimpahkan ke Gubernur maka seringkali dijumpaiGubernur, maka seringkali dijumpai departemen sektor jumping ke UPT- UPTUPT. Barangkali karena masih merasa menerima warisan UU no 5/74 yang sentralistis.
  • 17.
  • 18.
    SENTRALISASI dan DESENTRALISASI MENURUTUU 22/1999 DesentralisasiDesentralisasi pusat Provinsi Kabupaten/Kotap
  • 19.
    RESENTRALISASI UU NO32/2004 ResentralissiResentralissi Pem Pusat PemPem Prop Pem K b/KKab/Ko
  • 20.
    SUSUNAN PEMERINTAHAN Susunan pemerintahan(tiers) dan hirarkiSusunan pemerintahan (tiers) dan hirarki seringkali disamakan. Susunan pemerintahan merupakan wujud pembagianpemerintahan merupakan wujud pembagian lingkup kewenangan pemerintahan yang disusun bertingkat (hirarkis)g ( ) Teori Hirarki (birokrasi Weberian) lebih mencerminkan dominasi kekuasaan antara hirarki yang di atas terhadap hirarki yang dibawah
  • 21.
    lanjutanj Semua UU tentangpemerintahan daerahSemua UU tentang pemerintahan daerah mengenal tiers dan hirarchy disamakan, kecuali UU no 22/1999 yang istilah hirarkikecuali UU no 22/1999 yang istilah hirarki tidak dipakai lagi antara susunan Pemeritah Provinsi dan Kabupaten/Kotap Susunan (tiers) dalam pemerintahan kita ada yang disusun 4 susunan (Pemerintah Pusat,y g ( , Provinsi, Kabupaten/Kota, Desa)- UU no32/2004
  • 22.
    TIERS dan HIRARCHY Susunan(tiers) lebih condong sebagaiSusunan (tiers) lebih condong sebagai Division of Labor, pembagian domain, tugas , kewenangan dan tanggung jawab yangkewenangan dan tanggung jawab yang dilaksanakan oleh masing-masing susunan pemerintahanpemerintahan Sedangkan hirarchy lebih condong pada ( )pendekatan pelaksanaan kekuasaan (power) yang melekat pada masing-masing tingkatan
  • 23.
    lanjutanj Oleh karena itudalam pembagianOleh karena itu dalam pembagian kewenangan antara susunan pemerintahan sebaiknya tidakpemerintahan sebaiknya tidak digunakan pendekatan kekuasaan (hi ki ) l i k d k t(hirarkis) melainkan pendekatan kesetaraan, keharmonisan, dan k i t h d l kkeserasian terhadap pelaksaan domain, tugas, wewenang dan tg jawab
  • 24.
    lanjutanj Sehingga warna dansuasana governanceSehingga warna dan suasana governance nya lebih kuat katimbang warna dan suasana government nyagovernment nya Dalam governance pendekatan partisipasi dan kesetaraan sangat menonjol Sedangkan Government kekuasaan (power)nya lebih kelihatan.
  • 25.
    CURRENT ISSUES Dalampengelolan PEMERINTAHAN PBB b d E tPBB bersama dengen Eastern Regional Organization for Public Administraion (EROPA) tahun 2000 di Manila menyatakan bahwa perubahany p paradigma dalam pemerintahan ini beralih dari Government toberalih dari Government to Governance
  • 26.
    lanjutanj Sebelumnya tahun 1994PBBSebelumnya tahun 1994 PBB melakukan penelitian bahwa dari 100 negara yang melaksanakan demokrasinegara yang melaksanakan demokrasi 95 % di antaranya telah melaksanakan d t li idesentralisasi. Dengan demikian pemerintahan yang demokratis salah satu wujudnya adalah melakukan desentralisasi
  • 27.
    GLOBAL FORUM KE6 TAHUN 2005 AKHIR MEI 2005 DI SEOUL KOREAAKHIR MEI 2005 DI SEOUL KOREA SELATAN BERKUMPUL PEMIMPIN PEMERINTAHAN DAN AKADEMISIPEMERINTAHAN DAN AKADEMISI SELURUH DUNIA YANG DIPELOPORI PBB MENDEKLARASIKAN PERLUNYAPBB MENDEKLARASIKAN PERLUNYA IKLIM DESENTRALISASI dan PEMBERDAYAAN LOCAL GOVERNMENTPEMBERDAYAAN LOCAL GOVERNMENT
  • 28.
    KUTIPAN DEKLARASI SEOUL “GoodGovernance requires anGood Governance requires an appropriate level of decentralization, innovation and development of localinnovation and development of local government. Local administration can be made more effective and autonomous through the promotion of administrative and financial decentralization, fdigitalization of government, and result- base performance management……..”
  • 29.
    PEMBAGIAN KEWENANGAN Sekarang telahdirancang RPP pembagianSekarang telah dirancang RPP pembagian kewenangan untuk mengganti PP no 25/2000 sesuai dengan UU no32/200425/2000 sesuai dengan UU no32/2004 Penggantian PP 25/2000 perlu dilakukan karena UUnya telah bergantikarena UUnya telah berganti Hanya yang perlu dicermati karena UU no 32/2004 berbau resentralisasi maka RPP32/2004 berbau resentralisasi, maka RPP nanti hendaknya tidak banyak berwarna sentralisasi
  • 30.
    lanjutanj Iklim desentralisasi yangtelah melanda belahanIklim desentralisasi yang telah melanda belahan dunia pemerintahan demokrasi hendaknya memperoleh perhatian dalam menyusun RPP kewenangan tersebut Kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi perlu dikembangkan dengan tafsir yang lebih bersifatperlu dikembangkan dengan tafsir yang lebih bersifat demokratis, desentralistis, partisipatif, bukan semata-mata berprinsip “law and order” yang mencerminkan pendekatan kekuasaan (power) yang sentralistis.
  • 31.
    lanjutanj Untuk menghindari pelaksanaanpembagianUntuk menghindari pelaksanaan pembagian kewenangan yang tidak seimbang, perlu kriteria eksternalitas akuntabilitas dankriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi diberdayakan dengan asas kesamaan, kesetaraan, keseimbangan yang, , g y g horisontal. Dengan demikian ada descresi daerah untukg membuat kebijakan yang sesuai dengan kondisi dan ke anekaragaman daerah
  • 32.
    SOLUSI DAN SARAN (1)Kebijakan desentralisasi yang direncanakan(1) Kebijakan desentralisasi yang direncanakan, dirumuskan, dan ditetapkan oleh pemerintah pusat (dept sektor) sejak awal melibatkan pemerintah daerah (provinsi dan Kab/kota) (2) Keselarasan, keharmonisan, dan kongruensi kepentingan pem pusat dan daerah perlu dilakukankepentingan pem.pusat dan daerah perlu dilakukan dengan memberikan kepada daerah diskresi dan kebebasan untuk melaksanakan kebijakan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan kemauan rakyat daerah masing-masing
  • 33.
    lanjutanj (3) Pelaksanaa kewenangandekonsentrasi(3) Pelaksanaa kewenangan dekonsentrasi harus dijadikan suatu keharusan pemerintah pusat (dept sektor) untuk membantu daerahpusat (dept sektor) untuk membantu daerah dengan tidak strickly defined sesuai dengan kemauan pusat Melainkandengan kemauan pusat. Melainkan memberikan diskresi dan kebebasan daerah untuk menyesuaikan terhadap kebutuhanuntuk menyesuaikan terhadap kebutuhan dan aspirasi daerah masing-masing.
  • 34.
    lanjutanj (4) Sesuai denganbunyi UU no 32 dan 33 /2004(4). Sesuai dengan bunyi UU no 32 dan 33 /2004 bahwa dana dekonsentrasi dilimpahkan kepada Gubernur, maka Departemen Sektor tidakGubernur, maka Departemen Sektor tidak memanfaatkan UPT-UPT yang dibentuk sebagai realisasi kebijakannya di daerah. (5) Agar tidak ada ego lokalisme, maka dana dekonsentrasi dan kebijakan pemerintah pusat di k b t /k t dik di i l h P i ikabupaten/kota dikoordinasi oleh pem. Provinsi
  • 35.
    SOLUSI PEMBAGIAN KEWENANGAN KewenanganPemerintah Pusat al:Kewenangan Pemerintah Pusat al: (1) Dilihat dari substansi pokok departemen sektor hanya berwenang menetapkan standard, kriteria, dan kebijakan strategis. Pelaksanaan dan realisasi kewenangan tsb berada di daerah sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan daerah
  • 36.
    Lanjutan Pemerintah Pusatj (2)Dilihat dari jangkauan (ekternalitas)(2). Dilihat dari jangkauan (ekternalitas) keluasan wilayah, pemerintah pusat dalam hal ini Departemen sektor hanyahal ini Departemen sektor hanya melaksanakan kebijakan strategis tsb yang meliputi jangkauan keluasan untuk wilayahp j g y nasional yang lintas provinsial (3). Dilihat dari asas kemanfaatan( ) (efektivitas) bukan hanya efisiensi saja, maka pelaksanaan kewenangan strategis…..
  • 37.
    Lanjutan ..pem pusatjp p t t i t b t Jik k f tstrategis tersebut. Jika kemanfaatan pelaksanaannya dilihat dari penggunaan sumberdaya, anggaran/pembiayaannya, dan fasilitasgg p y y , lainnya dilakukan oleh pemerintah pusatpusat
  • 38.
    Kewenangan Pemerintah Provinsig (1)Melaksanakan standard kreteria dan(1) Melaksanakan standard, kreteria, dan kebijakan strategis yang ditetapkan oleh pemerintah Pusat (Dept sektor) untukpemerintah Pusat (Dept. sektor) untuk wilayah provinsi masing-masing. (2) Menetapkan kebijakan sesuai dengan kondisi lingkungan strategis daerahnya dalam melaksanakan kebijakan pemeintah pusat tersebut
  • 39.
    Lanjutan Provinsij (3) Menetapkandan melaksanakan kebijakan yang(3) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan yang jangkauan keluasannya meliputi lintas kabupaten/kota di wilayah provinsinya masing-kabupaten/kota di wilayah provinsinya masing masing (4) Menetapkan dan melaksanakan kebijakan( ) p j pemerintah pusat jika dilihat dari asas kemanfaatan yang meliputi penggunaan sdm, biaya, teknologi dan f ilit l i l bih b f t dil k k difasilitas lainnya lebih bermanfaat dilaksanakan di wilayah provinsi masing-masing.
  • 40.
    Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kotap (1) Melaksanakankebijakan pemerintah(1) Melaksanakan kebijakan pemerintah pusat di daerahnya sesuai dengan kondisi daerahnya dan koordinasi serta kebijakandaerahnya dan koordinasi serta kebijakan strategis Provinsi masing-masing (2).Menetapkan kebijakan strategis sesuai dengan kondisi daerahnya masing –masing dalam melaksanakan kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan provinsi
  • 41.
    Lanjutan Kabupaten/Kotaj p (3)Menetapkan dan melaksanakan(3). Menetapkan dan melaksanakan kebijakan pemerintah pusat/provinsi jika dilihat dari asas kemanfaatan penggunaandilihat dari asas kemanfaatan penggunaan sdm, biaya, teknologi dan fasilitas lainnya yang tersedia di daerahnya masing masingyang tersedia di daerahnya masing-masing lebih bermanfaat kalau dilakukan di kabupaten/kotakabupaten/kota.
  • 42.
    PENUTUP DEMIKIAN POKOK POKOKPEMIKIRANDEMIKIAN POKOK-POKOK PEMIKIRAN SAYA DALAM RANGKA SUMBANGSIH SARAN UNTUK PEMBAGIANSARAN UNTUK PEMBAGIAN KEWENANGAN YANG DIRANCANG DALAM RPP KEWENANGANDALAM RPP KEWENANGAN MOHON MAAF KEKURANGAN TERIMA KASIH