Okular Myastenia
Gravis
Definisi
 Penyakit autoimun yang mempengaruhi neuro-muscular
junction (NMJ) otot skeletal
 Gejala klasik kelemahan otot variabel dan kelelahan 
akibat adanya antibodi terhadap reseptor asetilkolin (AchR)
 Great masquerade manifestasi klinis bervariasi
 Ocular myasthenia gravis (OMG)  kelemahan otot-otot bola
mata dan kelopak mata mudah lelah
Myasthenia gravis
(MG)
Nair AG, Patil-Chhablani P, Venkatramani DV, Gandhi RA. Ocular myasthenia gravis: a review. Indian journal of ophthalmology. 2014 Oct;62(10):985.
Epidemiologi
 MG dapat mempengaruhi semua kelompok umur dan tidak menunjukkan predileksi geografis
 Insiden berkisar dari 0,04 hingga 5/100.000/tahun
 Perkiraan prevalensi 0,5-12,5/100.000/tahun
 Memiliki Bimodal Pattern
 Pada umur 20-30 tahun Miastenia gravis lebih banyak dijumpai pada wanita
 Diatas usia 60 tahun lebih banyak pada pria (perbandingan ratio wanita dan pria adalah 3:2).
 Pada OMG murni, laki-laki lebih sering terpengaruh, terutama usia diatas 40 tahun
Nair AG, Patil-Chhablani P, Venkatramani DV, Gandhi RA. Ocular myasthenia gravis: a review. Indian journal of ophthalmology. 2014 Oct;62(10):985.
Fisiologi NMJ
 Membran presinaps bersama dengan membran
post sinaps (pada sel otot) dan celah sinaps (celah
antara 2 membran) membentuk neuro muscular
junction
 Membran presinaps mengandung asetilkolin
(ACh) yang disimpan dalam bentuk vesikel-vesikel
Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116
Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
Fisiologi NMJ
 Potensial aksi  aktivasi Ca+ Voltage Gated Channel  influx
Calcium  vesikel-vesikel bergerak ke tepi membrane dan
mengalami docking  Ach dilepaskan ke celah sinaps  berikatan
dengan reseptor asetilkolin (AChR) pada membran post sinap
 Ikatan antara ACh dan AChR  gerbang Natrium pada sel otot
terbuka  influx Na+  depolarisasi pada membran post sinaps
 Jika depolarisasi ini mencapai nilai ambang tertentu (firing level)
potensial aksi pada sel otot  kontraksi otot
 Pada akhir  ACh pada AChR  dihidrolisis oleh enzim
Asetilkolinesterase (AChE) pada celah sinaps.
Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116
Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
Patofisiologi
Anti-AChR Ab mempengaruhi transmisi neuromuskular oleh setidaknya 3 mekanisme :
(a) pengikatan dan aktivasi komplemen pada NMJ
(b) percepatan degradasi molekul AChR yang diikat silang oleh Ab (proses yang dikenal sebagai modulasi antigenic
(c) blok AChR fungsional
• Pengikatan ab ke AChR mengaktifkan
kaskade komplemen membrane
attack complex (MAC) dan
penghancuran lokal dari membran NMJ
postsinaptik
• Perubahan morfologi membran
postsinaptik NMJ pasien MG
Patofisiologi
Abs cross-link molekul AChR pada membran
postsinaptik NMJ, menyebabkan endositosis molekul
AChR cross-linked dan degradasi (modulasi
antigenik) jumlah molekul AChR pada membran
pascasinaps berkurang
Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116
Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
Patofisiologi
Ab mengikat situs pengikatan ACh dari AChR
 menyebabkan blok fungsional AChR dengan
mengganggu pengikatan ACh yang dilepaskan
di NMJ
Ketiga mekanisme ini menyebabkan kegagalan transmisi neuromuscular kelemahan
dan kelelahan otot
Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116
Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
DIAGNOSIS
Manifestasi Klinis
Gejala
 Pasien mengeluh penurunan kelopak mata,
penglihatan kabur, ganda (vertikal, horizontal,
kombinasi)
 Kondisi baik di pagi hari dan paling buruk di malam
hari
 Kelemahan meningkat dengan penggunaan otot
berulang atau berkelanjutan sepanjang hari
 Kelemahan membaik dengan istirahat, tidur, dan suhu
dingin
Tanda
 kelemahan/kelelahan otot ekstraokular, ptosis
(unilateral yg bergantian lebih sugestif MG)
 Opthalmoplegia (keterlibatan 1 otot ekstraokular
sampai opthamoparesis total)
 Cogan sign, curtain sign, peek sign
 Fungsi pupil normal
 kelelahan refleks akomodasi keterlibatan kecil otot
okular intrinsik
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
Fatigue Test (Ptosis)
Ptosis unilateral/bilateral
 memandang ke atas terus menerus, dalam
waktu yang lamafatique levator palpebral
 Ptosis pada unilateral dapat ditingkatkan
dengan secara pasif mengangkat bagian
kontra lateral kelopak mata
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
 Peningkatan ptosis kiri berkembang pada pandangan ke atas yang
berkelanjutan pada pasien dengan myasthenia gravis
 (A sampai F). Perhatikan elevasi terbatas mata kiri yang menunjukkan
superior rectus palsy (A). A awalnya, C setelah sekitar 20 detik, F setelah
1 menit
Cogan Lid Twitch
 Cogan Lid Twitch kedutan kelopak mata
 kelopak mata terangkat secara berlebihan setelah
saccade vertikal dari posisi pandangan ke bawah
 pasien mempertahankan pandangan ke bawah dan
sakkade kembali ke pandangan netral,
 Dapat terjadi spontan
 positif bila ada overshoot kelopak mata ptotik dan
sugestif miastenia gravis
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
 Gambar.Pasien merubah pandangan dari bawah
 A. Ke posisi awal
 B. ke 2 palpebral terlihat dalam keadaan berkedut
 C. Sebelum mendatapatkan posisi ptotik awal
 D. Cogan sign terlihat lebih jelas di sebelah kanan, sedangkan kelopak
mata kiri lebih ptotik
Curtain Sign
Karena persarafan bilateral yang sama ke otot levator
palpebrae (Hering’s Law)
Gambar. pasien dengan ptosis bilateral akibat miastenia
gravis okular
Mengangkat ke atas kelopak mata kanan 
memburuknya ptosis kelopak mata kiri, sampai pada titik
penutupan mata total (“tanda tirai”).
O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
Peek Sign
Kelemahan orbicularis oculi, menyebabkan
penutupan mata yang lemah atau tidak
lengkap (“Peek Sign")
O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
Keterlibatan Otot Ekstraokular
 merusak satu atau kombinasi otot ekstraokular
sangat sering mempengaruhi rektus medial
 Defisit motilitas tidak mengikuti pola tertentu,
tetapi deviasi lebih sering incomitan daripada
comitant.
Keterlibatan Orbikularis
 pasien diminta untuk menutup kelopak mata
dengan paksa.
 Kelemahan dalam penutupan mata yang kuat
terhadap resistensi
 Dengan penutupan kelopak mata yang lama dan
kuat pebukaan parsial fisura palpebra (peek sign)
 Ektropion palpebra inferior (penggunaan berulang,
ketegangan)
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
Ice Test
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
 Meletakkan kantong es di atas kelopak
mata ptotik selama 2-5 menit.
 Peningkatan ptosis 2mm atau lebih 
hasil positif
 Pendinginan memperbaiki transmisi
sinapsis endplate, mempengaruhi
eksitasi-kontraksi otot.
Pasien dengan miastenia gravis okular ini memiliki ptosis bilateral
asimetris dasar (A)
Setelah penerapan kompres es (B)
ptosis membaik (C)
Sleep/rest Test
 tes istirahat: meminta pasien menutup mata selama 2
menit
 tes tidur : mata tertutup di ruangan gelap selama 30
menit.
 Perbaikan ptosis dan/atau oftalmoparesis dianggap
sebagai hasil positif
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
Tensilon (Edrophonium)
 penghambat asetilkolinesterase kerja
pendek yang bekerja meningkatkan
asetilkolin di celah sinaptik
 Inj IV dosis awal 2mg ~ mulai bekerja
setelah 10-30 detik~Jika tidak ada efek
setelah 45-60 detik~ dosis tambahan 2-
4mg ~maksimal 10mg
 Postif  elevasi kelopak mata 2-5 menit
setelah pemberian Tensilon
 Negatif  tidak ada elevasi dalam 3 menit
setelah pemberian Tensilon
 Efek samping : hipotensi dan
bradikardia (0,16%) berikan
atropine 0,5 mg IV
 Alternatif : 0,4 mg atropine IV
sebelum tes Edrophonium
Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
EMG: Repetitive nerve stimulation
(RNS)
 Saraf proksimal dan wajah berulang-ulang
dirangsang, dan fluktuasi amplitudo dan
durasi potensial unit motor dicatat
 Pasien dengan MG diharapkan
menunjukkan penurunan potensial aksi
otot gabungan dari saraf yang distimulasi
 Frekuensi stimulasi2-3 Hz
 Sensitivitas (18-35)%, spesifisitas
tinggi

Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
EMG: Single-fiber electromyography
 Tes elektrofisiologi untuk pasien dengan OMG
 Pengujian pada orbicularis oculi, ekstensor
digitori communis atau otot frontalis,
 Mengevaluasi jittervariasi waktu untuk mencapai
potensial end-plate depolarisasi antara dua serat otot
yang dipersarafi oleh cabang saraf yang sama
 Pada miastenia gravis variabilitas yang tinggi dalam
waktu yang dibutuhkan oleh potensial endplate untuk
mencapai ambang batas pada NMJ menyebabkan
peningkatan jitter
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
Autoantibodi
Acetylcholine receptors
antibodies
 tiga tes berbeda yang tersedia untuk AChR
antibodi, : binding, blocking dan memodulating
 paling sering terdeteksi antibody binding pada
MG sistemik (85-90%) dan OMG (50%)
 Nilai normal bervariasi : 0,3 - 0,5nmol/l, tapi nilai
>1,0 nmol/l dianggap mengkonfirmasi diagnosis
myasthenia gravis
LDL-related receptor-related protein
4 antibodies
 LRP4 membentuk kompleks dengan agrin dan
pengelompokan dan diferensiasi AChR pada membran
postsinaptik melalui aktivasi MuSK selama pembentukan
NMJmerusak NMJ
 ditemukan di 1–5% dari semua pasien dengan miastenia
gravis
 terdeteksi pada 7–33% dari pasien miastenia gravis yang
seronegatifterhadap antibodi AChR dan MuSK
Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
Mikroskop elektron NMJ (diwarnai untuk
AChR).
(A) Individu biasa.
(B) Seorang pasien dengan GMG sedang.
NMJ pada miastenia menunjukkan
defisiensi pewarnaan AChR serta
degenerasi pascasinaps.
O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
Autoantibodi
Muscle-specific tyrosine kinase
antibodies
 Antibodi muSK berikatan dengan domain
ekstraseluler dan menyebabkan pengurangan
kepadatan pasca sinaps AChR
 1-10% dari semuapasien dengan miastenia gravis
 Di antara pasien dengan generalized myasthenia
gravis dan serologi negatif Antibodi AChR, 20-
40% positif untuk anti-antibodi MuSK
Antibodi lain
 10% pasien dengan miasteniagravis  tes serologi
negatif untuk AChR, Anti-MuSK dan LRP4 ('triplenegatif‘)
 15-50% memiliki autoantibodi laintitin, agrin,Kolagen Q
dan Coarctin
 titin  sebagian besar ditemukan pada thymoma atau
onset lambat/parah myasthenia gravis
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
Neuroimaging
 (computed tomography dan MRI) 
menyingkirkan lesi intrakranial pada kasus
atipikal (misalnya, sangat unilateral) dan
seronegatif
 computed tomography atau MRI
mediastinum harus dilakukan pada
pasien OMG meskipun risiko
thymoma hanya 4 %
Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
Thymic assessment
 CT atau MRI dada  setiap pasien
dengan suspek myasthenia gravis
untuk menilai status timus-
timoma
 10-15% dari pasien myasthenia gravis
di diagnosis dengan thymoma 
prevalensi meningkat dengan usia
 Sebagain besar miastenia gravis dan
thymoma  AChR positif
 thymoma  CT scan sensitivitas 89% ,
MRI hampir 100%
Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
Kondisi Terkait
 15% pasien myasthenia gravis
memiliki penyakit autoimun lainnya
 Tiroid, lupus eritematosus, artritis
reumatoid
 Prevalensi antibodi tiroid 10 -20%
pada pasien dengan miastenia
 menguji fungsi tiroid dan tiroid
antibodi pada pasien dengan
diagnosis miastenia berat.
Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
TATALAKSANA
Ptosis dan diplopia dapat mengganggu dan bahkan melumpuhkan pasien, namun
gejala tersebut biasanya tidak mengancam jiwa
Tujuan awal pengobatan OMG adalah untuk mengontrol gejala. Setelah ini tercapai,
terapi dirancang untuk mengurangi kekambuhan serta meminimalkan efek
samping/toksisitas akibat induksi obat.
TERAPI BEDAH
FARMAKOLOGI
NON
FARMAKOLOGI
O'Hare M, Doughty C. Update on Ocular Myasthenia Gravis. Semin Neurol. 2019;39(6):749-760. doi:10.1055/s-0039-1700527
Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Curr Opin Ophthalmol. 2018;29(6):477-484. doi:10.1097/ICU.0000000000000526
NON FARMAKOLOGI
Alat bantu untuk
mengkoreksi
diplopia dan ptosis
• Pasien dengan gejala ringan (misalnya, ptosis tidak lengkap)
• Pasien dengan kontraindikasi penggunaan steroid, agen imunosupresif
atau thymectomy
PTOSIS
• Masalah utama  oklusi variabel sumbu visual  diatasi dengan cara
mengangkat kelopak mata di atas sumbu
• Device  Ptosis crutch/eyelid crutch, eyelid tape
DIPLOPIA
• Pola oftalmoplegia bervariasi, menyebabkan strabismus incomitant
• Device  oklusi monokular atau koreksi prismatik
Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775
Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
KOREKSI PTOSIS
Cara Kerja
• Perangkat eksternal yang dipasang pada bingkai kacamata pasien untuk
menahan kelopak mata secara mekanis agar tetap terbuka
Prosedur
• Bahan  kawat baja tahan karat berlapis plastik
• Pemasangan  prosedur sederhana, sama dengan kacamata biasa
dalam bingkai yang sesuai untuk fitur atau struktur wajah pasien
Keuntungan
Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
• Kruk ptosis memiliki keunggulan efektif, hemat biaya dan non-invasif
Ptosis crutch/eyelid crutch
KOREKSI PTOSIS
Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
Ptosis crutch/eyelid crutch
• Mencegah mata menutup sepenuhnya  penurunan kedipan normal 
permukaan okular kering dan iritasi mata
• Tidak nyaman akibat pembukaan paksa mata
• Mata berair  tekanan loop kawat pada kelopak mata atas
open-source, 3D printed, modular ptosis crutch
• Dicetak 3D menggunakan acrylonitrile butadiene styrene (ABS) dengan
kawat baja tahan karat dilapisi polivinil klorida
• Tidak menyebabkan iritasi kulit kelopak mata dan efek samping
(kornea kering dan obstruksi pada bidang visual)
Ptosis crutch tampak depan
Ptosis crutch tampak belakang
KOREKSI PTOSIS
Cara Kerja • Membersihkan sumbu visual secara mekanis
Keuntungan • Relatif murah dan sederhana
Kelemahan
• Kelemahan utamanya adalah paparan kornea dan kebutuhan
akan pelumasan topikal
Eyelid tape
Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775
Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
KOREKSI DIPLOPIA
Oklusi Monokular
• Untuk pengelolaan diplopia simtomatik dan amblyopia
• Monocular eye patching mengatasi diplopia binocular
• Jenis oklusi termasuk patching atau fogging lensa
Kacamata Prisma
• Efektif untuk pasien dengan diplopia yang bias terhadap perawatan
medis
• Pemanfaatan prisma terutama untuk ketidaksejajaran yang stabil
• Biasanya tidak efektif karena fluktuasi kelemahan otot mata
Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y
Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
FARMAKOLOGI
Mekanisme
• Pengobatan lini pertama OMG  inhibitor asetilkolinesterase dengan/tanpa
kortikosteroid oral
• Pyridostigmine  inhibitor asetilkolinesterase yang memperpanjang durasi
kerja ACh di NMJ
Keuntungan
Efek samping
• Keamanan, dosis variabel, kecepatan relatif menentukan kemanjuran
Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775
Cornblath WT. Treatment of Ocular Myasthenia Gravis. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2018;7(4):257-259. doi:10.22608/APO.2018301
Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y
• Riwayat reaksi hipersensitivitas sebelumnya, obstruksi usus atau saluran kemih
mekanis
• Mual, muntah, sakit perut, diare, berkeringat, dan krisis kolinergik (kelemahan
parah karena penghambatan kolinesterase yang berlebihan)
Kontraindikasi
Pyridostigmine (inhibitor asetilkolinesterase)
Dosis standar piridostigmin adalah 1,0 mg/kg setiap 4-6 jam
dengan dosis maksimum 7 mg/kg/hari dalam dosis terbagi
Dimulai dengan 60 mg/hari, meningkatkan dosis hingga 60 mg setelah pasien mencatat efek
dosis pertama
Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775
Cornblath WT. Treatment of Ocular Myasthenia Gravis. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2018;7(4):257-259. doi:10.22608/APO.2018301
Penentuan Dosis Pyridostigmine (inhibitor
asetilkolinesterase)
Jika dosis 60 mg menghilangkan semua
gejala dan berlangsung 6 jam
60 mg setiap 5 jam untuk
memungkinkan penyerapan dosis
berikutnya
Jika dosis 60 mg tidak menghilangkan
gejala sepenuhnya
mencoba dosis 90 mg, meningkat
bertahap 30 mg sampai gejala cukup
membaik atau sampai 180 mg
FARMAKOLOGI
Mekanisme
• Memberikan efek terapeutiknya pada MG dengan mengurangi produksi
antibodi dan menghambat aktivasi sel T CD4
• Prednisolon adalah pilihan pengobatan yang murah untuk pasien OMG
Efek samping
Cornblath WT. Treatment of Ocular Myasthenia Gravis. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2018;7(4):257-259. doi:10.22608/APO.2018301
Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y
O'Hare M, Doughty C. Update on Ocular Myasthenia Gravis. Semin Neurol. 2019;39(6):749-760. doi:10.1055/s-0039-1700527
• Dosis imunosupresan prednisolon dikontraindikasikan pada infeksi jamur
sistemik
• Hati-hati dalam kombinasi dengan obat imunomodulasi lainnya
• Penekanan pertumbuhan, hipertensi, hiperglikemia, insomnia, sindrom
Cushing, penambahan berat badan, dispepsia, tukak lambung, amiotrofi, dll
Kontraindikasi
Kortikosteroid (agen imunosupresi)
Beberapa mulai dengan dosis tinggi, 1-2 mg/kg/hari maksimal 60-80 mg, dan dosis kemudian
disapih ke dosis efektif terendah yang diberikan pada hari-hari selanjutnya
Dengan tidak adanya pedoman yang jelas, rejimen pengobatan biasanya terbagi
Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775
Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y
Penentuan Dosis Prednison
Tingkatkan prednison hingga 60 mg/hari
dalam seminggu kemudian perlahan
dikurangi selama beberapa bulan hingga
dosis di bawah 7,5 mg setiap hari
Mulai prednison dengan dosis rendah 10-
20 mg dan perlahan meningkat sampai
gejala hilang, kemudian diturunkan
kembali ke dosis di bawah 7,5 mg setiap
hari.
Oral steroid-sparing immunosuppression
Mekanisme
• Menghambat calcineurin phosphatase, pada gilirannya, menghambat proliferasi sel T,
berperan dalam imunosupresi. Terbukti menurunkan sel BAFF B, yang diyakini berperan
dalam OMG pediatrik
Dosis
Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y
• Tidak ada rekomendasi dosis yang ditetapkan saat ini untuk tacrolimus untuk OMG,
tetapi satu laporan kasus menggunakan dosis 0,028 mg/kg/hari sebagai dosis awal dan
secara bertahap meningkat selama 3-4 minggu dengan target tingkat pemantauan 5-6
ng/mL.
• Dosis pemeliharaan 0,015 mg/kg/hari kemudian digunakan
Efek samping
Tacrolimus
• Tremor, sakit kepala, mual/muntah, sakit perut, insomnia, dan kesemutan atau bengkak
di tangan atau kaki
TERAPI BEDAH
Strabismus
• Pembedahan strabismus dapat dilakukan tetapi biasanya hanya pada pasien
dengan misalignment okular yang stabil selama minimal 6 bulan
Ptosis
• Intervensi ini lebih sering dilakukan pada populasi orang dewasa, dan tidak
ada pedoman yang jelas kapan harus melakukan intervensi.
• Beberapa pasien akan memerlukan perbaikan berulang.
• Diusulkan bahwa gejala pasien harus stabil setidaknya selama 2 tahun
sebelum mempertimbangkan intervensi bedah
Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y
O'Hare M, Doughty C. Update on Ocular Myasthenia Gravis. Semin Neurol. 2019;39(6):749-760. doi:10.1055/s-0039-1700527
Indikasi Timektomi
• Sembilan puluh persen pasien MG menunjukkan abnormalitas timus yang terdiri dari hiperplasia
timus (70%) dan timoma (20%), dan timektomi merupakan pilihan terapi yang cukup penting pada
MG
• MG secara unik terkait dengan hiperplasia timus dan timoma
 Indikasi absolut timektomi yaitu pada pasien MG dengan thymoma, terlepas dari apakah MG
generalisata, bulbar, atau ocular  reseksi lengkap timoma
 Pada MG dengan tidak adanya thymoma, timektomi dianggap bermanfaat untuk MG umum dan
adanya AChR antibody
Aydin Y, Ulas AB, Mutlu V, Colak A, Eroglu A. Thymectomy in myasthenia gravis. The Eurasian journal of medicine. 2017 Feb;49(1):48.
Terima Kasih

Ocular Myastenia gravis.pptx

  • 1.
  • 2.
    Definisi  Penyakit autoimunyang mempengaruhi neuro-muscular junction (NMJ) otot skeletal  Gejala klasik kelemahan otot variabel dan kelelahan  akibat adanya antibodi terhadap reseptor asetilkolin (AchR)  Great masquerade manifestasi klinis bervariasi  Ocular myasthenia gravis (OMG)  kelemahan otot-otot bola mata dan kelopak mata mudah lelah Myasthenia gravis (MG) Nair AG, Patil-Chhablani P, Venkatramani DV, Gandhi RA. Ocular myasthenia gravis: a review. Indian journal of ophthalmology. 2014 Oct;62(10):985.
  • 3.
    Epidemiologi  MG dapatmempengaruhi semua kelompok umur dan tidak menunjukkan predileksi geografis  Insiden berkisar dari 0,04 hingga 5/100.000/tahun  Perkiraan prevalensi 0,5-12,5/100.000/tahun  Memiliki Bimodal Pattern  Pada umur 20-30 tahun Miastenia gravis lebih banyak dijumpai pada wanita  Diatas usia 60 tahun lebih banyak pada pria (perbandingan ratio wanita dan pria adalah 3:2).  Pada OMG murni, laki-laki lebih sering terpengaruh, terutama usia diatas 40 tahun Nair AG, Patil-Chhablani P, Venkatramani DV, Gandhi RA. Ocular myasthenia gravis: a review. Indian journal of ophthalmology. 2014 Oct;62(10):985.
  • 4.
    Fisiologi NMJ  Membranpresinaps bersama dengan membran post sinaps (pada sel otot) dan celah sinaps (celah antara 2 membran) membentuk neuro muscular junction  Membran presinaps mengandung asetilkolin (ACh) yang disimpan dalam bentuk vesikel-vesikel Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116 Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
  • 5.
    Fisiologi NMJ  Potensialaksi  aktivasi Ca+ Voltage Gated Channel  influx Calcium  vesikel-vesikel bergerak ke tepi membrane dan mengalami docking  Ach dilepaskan ke celah sinaps  berikatan dengan reseptor asetilkolin (AChR) pada membran post sinap  Ikatan antara ACh dan AChR  gerbang Natrium pada sel otot terbuka  influx Na+  depolarisasi pada membran post sinaps  Jika depolarisasi ini mencapai nilai ambang tertentu (firing level) potensial aksi pada sel otot  kontraksi otot  Pada akhir  ACh pada AChR  dihidrolisis oleh enzim Asetilkolinesterase (AChE) pada celah sinaps. Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116 Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
  • 6.
    Patofisiologi Anti-AChR Ab mempengaruhitransmisi neuromuskular oleh setidaknya 3 mekanisme : (a) pengikatan dan aktivasi komplemen pada NMJ (b) percepatan degradasi molekul AChR yang diikat silang oleh Ab (proses yang dikenal sebagai modulasi antigenic (c) blok AChR fungsional • Pengikatan ab ke AChR mengaktifkan kaskade komplemen membrane attack complex (MAC) dan penghancuran lokal dari membran NMJ postsinaptik • Perubahan morfologi membran postsinaptik NMJ pasien MG
  • 7.
    Patofisiologi Abs cross-link molekulAChR pada membran postsinaptik NMJ, menyebabkan endositosis molekul AChR cross-linked dan degradasi (modulasi antigenik) jumlah molekul AChR pada membran pascasinaps berkurang Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116 Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
  • 8.
    Patofisiologi Ab mengikat situspengikatan ACh dari AChR  menyebabkan blok fungsional AChR dengan mengganggu pengikatan ACh yang dilepaskan di NMJ Ketiga mekanisme ini menyebabkan kegagalan transmisi neuromuscular kelemahan dan kelelahan otot Conti-Fine BM, Milani,Monica ,Kaminski,Henry J. . Myasthenia gravis: past, present, and future. The Journal of Clinical Investigation 2006;116 Hughes BW, Casillas, Maria Luisa Moro De , Kaminski, Henry J.,. Pathophysiology of Myasthenia Gravis. Thieme Medical Publishers 2004;24 Number 1:p21-7
  • 9.
  • 10.
    Manifestasi Klinis Gejala  Pasienmengeluh penurunan kelopak mata, penglihatan kabur, ganda (vertikal, horizontal, kombinasi)  Kondisi baik di pagi hari dan paling buruk di malam hari  Kelemahan meningkat dengan penggunaan otot berulang atau berkelanjutan sepanjang hari  Kelemahan membaik dengan istirahat, tidur, dan suhu dingin Tanda  kelemahan/kelelahan otot ekstraokular, ptosis (unilateral yg bergantian lebih sugestif MG)  Opthalmoplegia (keterlibatan 1 otot ekstraokular sampai opthamoparesis total)  Cogan sign, curtain sign, peek sign  Fungsi pupil normal  kelelahan refleks akomodasi keterlibatan kecil otot okular intrinsik Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
  • 11.
    Fatigue Test (Ptosis) Ptosisunilateral/bilateral  memandang ke atas terus menerus, dalam waktu yang lamafatique levator palpebral  Ptosis pada unilateral dapat ditingkatkan dengan secara pasif mengangkat bagian kontra lateral kelopak mata Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.  Peningkatan ptosis kiri berkembang pada pandangan ke atas yang berkelanjutan pada pasien dengan myasthenia gravis  (A sampai F). Perhatikan elevasi terbatas mata kiri yang menunjukkan superior rectus palsy (A). A awalnya, C setelah sekitar 20 detik, F setelah 1 menit
  • 12.
    Cogan Lid Twitch Cogan Lid Twitch kedutan kelopak mata  kelopak mata terangkat secara berlebihan setelah saccade vertikal dari posisi pandangan ke bawah  pasien mempertahankan pandangan ke bawah dan sakkade kembali ke pandangan netral,  Dapat terjadi spontan  positif bila ada overshoot kelopak mata ptotik dan sugestif miastenia gravis Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.  Gambar.Pasien merubah pandangan dari bawah  A. Ke posisi awal  B. ke 2 palpebral terlihat dalam keadaan berkedut  C. Sebelum mendatapatkan posisi ptotik awal  D. Cogan sign terlihat lebih jelas di sebelah kanan, sedangkan kelopak mata kiri lebih ptotik
  • 13.
    Curtain Sign Karena persarafanbilateral yang sama ke otot levator palpebrae (Hering’s Law) Gambar. pasien dengan ptosis bilateral akibat miastenia gravis okular Mengangkat ke atas kelopak mata kanan  memburuknya ptosis kelopak mata kiri, sampai pada titik penutupan mata total (“tanda tirai”). O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
  • 14.
    Peek Sign Kelemahan orbicularisoculi, menyebabkan penutupan mata yang lemah atau tidak lengkap (“Peek Sign") O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
  • 16.
    Keterlibatan Otot Ekstraokular merusak satu atau kombinasi otot ekstraokular sangat sering mempengaruhi rektus medial  Defisit motilitas tidak mengikuti pola tertentu, tetapi deviasi lebih sering incomitan daripada comitant. Keterlibatan Orbikularis  pasien diminta untuk menutup kelopak mata dengan paksa.  Kelemahan dalam penutupan mata yang kuat terhadap resistensi  Dengan penutupan kelopak mata yang lama dan kuat pebukaan parsial fisura palpebra (peek sign)  Ektropion palpebra inferior (penggunaan berulang, ketegangan) Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
  • 17.
    Ice Test Edsel, BIng. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84. O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.  Meletakkan kantong es di atas kelopak mata ptotik selama 2-5 menit.  Peningkatan ptosis 2mm atau lebih  hasil positif  Pendinginan memperbaiki transmisi sinapsis endplate, mempengaruhi eksitasi-kontraksi otot. Pasien dengan miastenia gravis okular ini memiliki ptosis bilateral asimetris dasar (A) Setelah penerapan kompres es (B) ptosis membaik (C)
  • 18.
    Sleep/rest Test  tesistirahat: meminta pasien menutup mata selama 2 menit  tes tidur : mata tertutup di ruangan gelap selama 30 menit.  Perbaikan ptosis dan/atau oftalmoparesis dianggap sebagai hasil positif Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
  • 19.
    Tensilon (Edrophonium)  penghambatasetilkolinesterase kerja pendek yang bekerja meningkatkan asetilkolin di celah sinaptik  Inj IV dosis awal 2mg ~ mulai bekerja setelah 10-30 detik~Jika tidak ada efek setelah 45-60 detik~ dosis tambahan 2- 4mg ~maksimal 10mg  Postif  elevasi kelopak mata 2-5 menit setelah pemberian Tensilon  Negatif  tidak ada elevasi dalam 3 menit setelah pemberian Tensilon  Efek samping : hipotensi dan bradikardia (0,16%) berikan atropine 0,5 mg IV  Alternatif : 0,4 mg atropine IV sebelum tes Edrophonium Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
  • 20.
    EMG: Repetitive nervestimulation (RNS)  Saraf proksimal dan wajah berulang-ulang dirangsang, dan fluktuasi amplitudo dan durasi potensial unit motor dicatat  Pasien dengan MG diharapkan menunjukkan penurunan potensial aksi otot gabungan dari saraf yang distimulasi  Frekuensi stimulasi2-3 Hz  Sensitivitas (18-35)%, spesifisitas tinggi  Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
  • 21.
    EMG: Single-fiber electromyography Tes elektrofisiologi untuk pasien dengan OMG  Pengujian pada orbicularis oculi, ekstensor digitori communis atau otot frontalis,  Mengevaluasi jittervariasi waktu untuk mencapai potensial end-plate depolarisasi antara dua serat otot yang dipersarafi oleh cabang saraf yang sama  Pada miastenia gravis variabilitas yang tinggi dalam waktu yang dibutuhkan oleh potensial endplate untuk mencapai ambang batas pada NMJ menyebabkan peningkatan jitter Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
  • 22.
    Autoantibodi Acetylcholine receptors antibodies  tigates berbeda yang tersedia untuk AChR antibodi, : binding, blocking dan memodulating  paling sering terdeteksi antibody binding pada MG sistemik (85-90%) dan OMG (50%)  Nilai normal bervariasi : 0,3 - 0,5nmol/l, tapi nilai >1,0 nmol/l dianggap mengkonfirmasi diagnosis myasthenia gravis LDL-related receptor-related protein 4 antibodies  LRP4 membentuk kompleks dengan agrin dan pengelompokan dan diferensiasi AChR pada membran postsinaptik melalui aktivasi MuSK selama pembentukan NMJmerusak NMJ  ditemukan di 1–5% dari semua pasien dengan miastenia gravis  terdeteksi pada 7–33% dari pasien miastenia gravis yang seronegatifterhadap antibodi AChR dan MuSK Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
  • 23.
    Mikroskop elektron NMJ(diwarnai untuk AChR). (A) Individu biasa. (B) Seorang pasien dengan GMG sedang. NMJ pada miastenia menunjukkan defisiensi pewarnaan AChR serta degenerasi pascasinaps. O'Hare M, Doughty C. Update on ocular myasthenia gravis. InSeminars in Neurology 2019 Dec (Vol. 39, No. 06, pp. 749-760). Thieme Medical Publishers.
  • 24.
    Autoantibodi Muscle-specific tyrosine kinase antibodies Antibodi muSK berikatan dengan domain ekstraseluler dan menyebabkan pengurangan kepadatan pasca sinaps AChR  1-10% dari semuapasien dengan miastenia gravis  Di antara pasien dengan generalized myasthenia gravis dan serologi negatif Antibodi AChR, 20- 40% positif untuk anti-antibodi MuSK Antibodi lain  10% pasien dengan miasteniagravis  tes serologi negatif untuk AChR, Anti-MuSK dan LRP4 ('triplenegatif‘)  15-50% memiliki autoantibodi laintitin, agrin,Kolagen Q dan Coarctin  titin  sebagian besar ditemukan pada thymoma atau onset lambat/parah myasthenia gravis Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
  • 25.
    Neuroimaging  (computed tomographydan MRI)  menyingkirkan lesi intrakranial pada kasus atipikal (misalnya, sangat unilateral) dan seronegatif  computed tomography atau MRI mediastinum harus dilakukan pada pasien OMG meskipun risiko thymoma hanya 4 % Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
  • 26.
    Thymic assessment  CTatau MRI dada  setiap pasien dengan suspek myasthenia gravis untuk menilai status timus- timoma  10-15% dari pasien myasthenia gravis di diagnosis dengan thymoma  prevalensi meningkat dengan usia  Sebagain besar miastenia gravis dan thymoma  AChR positif  thymoma  CT scan sensitivitas 89% , MRI hampir 100% Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Current opinion in ophthalmology. 2018 Nov 1;29(6):477-84.
  • 27.
    Kondisi Terkait  15%pasien myasthenia gravis memiliki penyakit autoimun lainnya  Tiroid, lupus eritematosus, artritis reumatoid  Prevalensi antibodi tiroid 10 -20% pada pasien dengan miastenia  menguji fungsi tiroid dan tiroid antibodi pada pasien dengan diagnosis miastenia berat. Smith SV, Lee AG. Update on ocular myasthenia gravis. Neurologic Clinics. 2017 Feb 1;35(1):115-23.
  • 28.
    TATALAKSANA Ptosis dan diplopiadapat mengganggu dan bahkan melumpuhkan pasien, namun gejala tersebut biasanya tidak mengancam jiwa Tujuan awal pengobatan OMG adalah untuk mengontrol gejala. Setelah ini tercapai, terapi dirancang untuk mengurangi kekambuhan serta meminimalkan efek samping/toksisitas akibat induksi obat. TERAPI BEDAH FARMAKOLOGI NON FARMAKOLOGI O'Hare M, Doughty C. Update on Ocular Myasthenia Gravis. Semin Neurol. 2019;39(6):749-760. doi:10.1055/s-0039-1700527 Fortin E, Cestari DM, Weinberg DH. Ocular myasthenia gravis: an update on diagnosis and treatment. Curr Opin Ophthalmol. 2018;29(6):477-484. doi:10.1097/ICU.0000000000000526
  • 29.
    NON FARMAKOLOGI Alat bantuuntuk mengkoreksi diplopia dan ptosis • Pasien dengan gejala ringan (misalnya, ptosis tidak lengkap) • Pasien dengan kontraindikasi penggunaan steroid, agen imunosupresif atau thymectomy PTOSIS • Masalah utama  oklusi variabel sumbu visual  diatasi dengan cara mengangkat kelopak mata di atas sumbu • Device  Ptosis crutch/eyelid crutch, eyelid tape DIPLOPIA • Pola oftalmoplegia bervariasi, menyebabkan strabismus incomitant • Device  oklusi monokular atau koreksi prismatik Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775 Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
  • 30.
    KOREKSI PTOSIS Cara Kerja •Perangkat eksternal yang dipasang pada bingkai kacamata pasien untuk menahan kelopak mata secara mekanis agar tetap terbuka Prosedur • Bahan  kawat baja tahan karat berlapis plastik • Pemasangan  prosedur sederhana, sama dengan kacamata biasa dalam bingkai yang sesuai untuk fitur atau struktur wajah pasien Keuntungan Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455 • Kruk ptosis memiliki keunggulan efektif, hemat biaya dan non-invasif Ptosis crutch/eyelid crutch
  • 31.
    KOREKSI PTOSIS Saidi T,Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455 Ptosis crutch/eyelid crutch • Mencegah mata menutup sepenuhnya  penurunan kedipan normal  permukaan okular kering dan iritasi mata • Tidak nyaman akibat pembukaan paksa mata • Mata berair  tekanan loop kawat pada kelopak mata atas open-source, 3D printed, modular ptosis crutch • Dicetak 3D menggunakan acrylonitrile butadiene styrene (ABS) dengan kawat baja tahan karat dilapisi polivinil klorida • Tidak menyebabkan iritasi kulit kelopak mata dan efek samping (kornea kering dan obstruksi pada bidang visual) Ptosis crutch tampak depan Ptosis crutch tampak belakang
  • 32.
    KOREKSI PTOSIS Cara Kerja• Membersihkan sumbu visual secara mekanis Keuntungan • Relatif murah dan sederhana Kelemahan • Kelemahan utamanya adalah paparan kornea dan kebutuhan akan pelumasan topikal Eyelid tape Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775 Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
  • 33.
    KOREKSI DIPLOPIA Oklusi Monokular •Untuk pengelolaan diplopia simtomatik dan amblyopia • Monocular eye patching mengatasi diplopia binocular • Jenis oklusi termasuk patching atau fogging lensa Kacamata Prisma • Efektif untuk pasien dengan diplopia yang bias terhadap perawatan medis • Pemanfaatan prisma terutama untuk ketidaksejajaran yang stabil • Biasanya tidak efektif karena fluktuasi kelemahan otot mata Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y Saidi T, Sivarasu S, Douglas TS. Open source modular ptosis crutch for the treatment of myasthenia gravis. Expert Rev Med Devices. 2018;15(2):137-143. doi:10.1080/17434440.2018.1421455
  • 34.
    FARMAKOLOGI Mekanisme • Pengobatan linipertama OMG  inhibitor asetilkolinesterase dengan/tanpa kortikosteroid oral • Pyridostigmine  inhibitor asetilkolinesterase yang memperpanjang durasi kerja ACh di NMJ Keuntungan Efek samping • Keamanan, dosis variabel, kecepatan relatif menentukan kemanjuran Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775 Cornblath WT. Treatment of Ocular Myasthenia Gravis. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2018;7(4):257-259. doi:10.22608/APO.2018301 Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y • Riwayat reaksi hipersensitivitas sebelumnya, obstruksi usus atau saluran kemih mekanis • Mual, muntah, sakit perut, diare, berkeringat, dan krisis kolinergik (kelemahan parah karena penghambatan kolinesterase yang berlebihan) Kontraindikasi Pyridostigmine (inhibitor asetilkolinesterase)
  • 35.
    Dosis standar piridostigminadalah 1,0 mg/kg setiap 4-6 jam dengan dosis maksimum 7 mg/kg/hari dalam dosis terbagi Dimulai dengan 60 mg/hari, meningkatkan dosis hingga 60 mg setelah pasien mencatat efek dosis pertama Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775 Cornblath WT. Treatment of Ocular Myasthenia Gravis. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2018;7(4):257-259. doi:10.22608/APO.2018301 Penentuan Dosis Pyridostigmine (inhibitor asetilkolinesterase) Jika dosis 60 mg menghilangkan semua gejala dan berlangsung 6 jam 60 mg setiap 5 jam untuk memungkinkan penyerapan dosis berikutnya Jika dosis 60 mg tidak menghilangkan gejala sepenuhnya mencoba dosis 90 mg, meningkat bertahap 30 mg sampai gejala cukup membaik atau sampai 180 mg
  • 36.
    FARMAKOLOGI Mekanisme • Memberikan efekterapeutiknya pada MG dengan mengurangi produksi antibodi dan menghambat aktivasi sel T CD4 • Prednisolon adalah pilihan pengobatan yang murah untuk pasien OMG Efek samping Cornblath WT. Treatment of Ocular Myasthenia Gravis. Asia Pac J Ophthalmol (Phila). 2018;7(4):257-259. doi:10.22608/APO.2018301 Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y O'Hare M, Doughty C. Update on Ocular Myasthenia Gravis. Semin Neurol. 2019;39(6):749-760. doi:10.1055/s-0039-1700527 • Dosis imunosupresan prednisolon dikontraindikasikan pada infeksi jamur sistemik • Hati-hati dalam kombinasi dengan obat imunomodulasi lainnya • Penekanan pertumbuhan, hipertensi, hiperglikemia, insomnia, sindrom Cushing, penambahan berat badan, dispepsia, tukak lambung, amiotrofi, dll Kontraindikasi Kortikosteroid (agen imunosupresi)
  • 37.
    Beberapa mulai dengandosis tinggi, 1-2 mg/kg/hari maksimal 60-80 mg, dan dosis kemudian disapih ke dosis efektif terendah yang diberikan pada hari-hari selanjutnya Dengan tidak adanya pedoman yang jelas, rejimen pengobatan biasanya terbagi Melson AT, McClelland CM, Lee MS. Ocular myasthenia gravis: updates on an elusive target. Curr Opin Neurol. 2020;33(1):55-61. doi:10.1097/WCO.0000000000000775 Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y Penentuan Dosis Prednison Tingkatkan prednison hingga 60 mg/hari dalam seminggu kemudian perlahan dikurangi selama beberapa bulan hingga dosis di bawah 7,5 mg setiap hari Mulai prednison dengan dosis rendah 10- 20 mg dan perlahan meningkat sampai gejala hilang, kemudian diturunkan kembali ke dosis di bawah 7,5 mg setiap hari.
  • 38.
    Oral steroid-sparing immunosuppression Mekanisme •Menghambat calcineurin phosphatase, pada gilirannya, menghambat proliferasi sel T, berperan dalam imunosupresi. Terbukti menurunkan sel BAFF B, yang diyakini berperan dalam OMG pediatrik Dosis Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y • Tidak ada rekomendasi dosis yang ditetapkan saat ini untuk tacrolimus untuk OMG, tetapi satu laporan kasus menggunakan dosis 0,028 mg/kg/hari sebagai dosis awal dan secara bertahap meningkat selama 3-4 minggu dengan target tingkat pemantauan 5-6 ng/mL. • Dosis pemeliharaan 0,015 mg/kg/hari kemudian digunakan Efek samping Tacrolimus • Tremor, sakit kepala, mual/muntah, sakit perut, insomnia, dan kesemutan atau bengkak di tangan atau kaki
  • 39.
    TERAPI BEDAH Strabismus • Pembedahanstrabismus dapat dilakukan tetapi biasanya hanya pada pasien dengan misalignment okular yang stabil selama minimal 6 bulan Ptosis • Intervensi ini lebih sering dilakukan pada populasi orang dewasa, dan tidak ada pedoman yang jelas kapan harus melakukan intervensi. • Beberapa pasien akan memerlukan perbaikan berulang. • Diusulkan bahwa gejala pasien harus stabil setidaknya selama 2 tahun sebelum mempertimbangkan intervensi bedah Fisher K, Shah V. Pediatric Ocular Myasthenia Gravis. Curr Treat Options Neurol. 2019;21(10):46. Published 2019 Sep 26. doi:10.1007/s11940-019-0593-y O'Hare M, Doughty C. Update on Ocular Myasthenia Gravis. Semin Neurol. 2019;39(6):749-760. doi:10.1055/s-0039-1700527
  • 40.
    Indikasi Timektomi • Sembilanpuluh persen pasien MG menunjukkan abnormalitas timus yang terdiri dari hiperplasia timus (70%) dan timoma (20%), dan timektomi merupakan pilihan terapi yang cukup penting pada MG • MG secara unik terkait dengan hiperplasia timus dan timoma  Indikasi absolut timektomi yaitu pada pasien MG dengan thymoma, terlepas dari apakah MG generalisata, bulbar, atau ocular  reseksi lengkap timoma  Pada MG dengan tidak adanya thymoma, timektomi dianggap bermanfaat untuk MG umum dan adanya AChR antibody Aydin Y, Ulas AB, Mutlu V, Colak A, Eroglu A. Thymectomy in myasthenia gravis. The Eurasian journal of medicine. 2017 Feb;49(1):48.
  • 41.

Editor's Notes

  • #4 MG memiliki bimodal pattern: Early peak: decade ke 2-3 Late peak: decade ke 6-8  lebih spesifik dengan OMG
  • #26 Edsel, B Ing. Opthalmogic Manifestation of Myastenia Gravis.2018.Disitasi pada 7 Juli 2022.Tersedia pada https://emedicine.medscape.com/article/1216417-overview#a1
  • #38 Terapi oklusi digunakan untuk pengelolaan diplopia simtomatik dan ambliopia yang terkait dengan OMG pediatrik. Misalignment binokular karena OMG dapat bervariasi dan dengan demikian menyebabkan diplopia simtomatik yang dapat melemahkan dalam hal menyelesaikan tugas sehari-hari. Amblyopia adalah kondisi masa kanak-kanak di mana terjadi gangguan pada salah satu atau kedua mata untuk terhubung dengan otak yang mengakibatkan perkembangan penglihatan di bawah normal. Dengan kegagalan untuk melakukan intervensi dini pada ambliopia, dapat memperburuk defisit duksi, yang mungkin memerlukan intervensi lebih lanjut di masa depan dan membuat amblyopia lebih sulit untuk diobati.
  • #41 Meskipun ptosis sering sangat responsif terhadap piridostigmin saja, oftalmoplegia sering lebih resisten dan mungkin memerlukan terapi imunosupresif. Kortikosteroid adalah imunosupresan pilihan saat ini dan telah terbukti efektif, meskipun ada perdebatan luas mengenai waktu, dosis awal, dan efek pada pencegahan penyakit umum
  • #43 Ketika kortikosteroid tidak efektif, ketika efek samping membatasi penggunaannya, atau ketika kontraindikasi menghalangi penggunaannya sepenuhnya, agen imunosupresif tambahan, seperti azathioprine, mycophe nolate mofetil, atau methotrexate dapat dipertimbangkan . Obat-obat ini dapat diberikan ketika pasien membutuhkan steroid dosis tinggi atau mengalami kesulitan penyapihan, atau mereka dapat dimulai pada waktu yang sama dengan terapi steroid (terutama pada pasien tertentu yang berisiko lebih tinggi untuk komplikasi yang diinduksi steroid).
  • #44 Ini adalah inhibitor CYP3A4 dan, dengan demikian, dapat berinteraksi dengan banyak obat yang mengambil bagian dalam jalur yang sama
  • #45 Mycophenolate mofetil (MMF) adalah agen yang lebih baru digunakan untuk imunosupresi untuk MG, terbukti memiliki profil efek samping yang rendah, dan onset terapeutik relatif cepat.
  • #46 Tacrolimus adalah inhibitor CYP3A4, jadi pasien harus menghindari jus jeruk bali dan obat lain yang terpengaruh oleh jalur ini. Perhatian harus diambil saat menggunakan agen imunosupresif/imunomodulasi lainnya dengan tacrolimus dan juga saat menggunakan terapi antijamur. SSRI (kecuali trazadone) dapat menurunkan metabolisme tacrolimus, sehingga terapi alternatif harus dipertimbangkan.