Angel of My Heart Cerpen

Sabtu malam, di taman kota.

Suasana malam itu indah, bintang bertaburan dimana-mana, mewakili perasaan seorang gadis cantik,
lucu, dan imut. Malam ini, adalah malam yg indah baginya, karena malam ini umurnya tepat 20 tahun.
Bukan pesta yang ia inginkan, tetapi indahnya malam. Di malam hari, dia bisa menangis, tertawa, sedih,
maupun gembira. Langit yang menjadi saksi kehidupannya yang malang ini.

Ia di vonis oleh dokter bahwa ia mengidap penyakit kanker darah atau biasa disebut leukimia stadium
akhir. Ia tahu, hidupnya memang tidak lama lagi, mungkin 1-2 bulan lagi. Tapi , semua itu tidak
menyurutkan semangatnya untuk membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Terutama
keluarga dan malaikat hatinya. Gadis itu bernama Luna Prisilia. Atau sering dipanggil Luna.

“Happy birthday, happy birthday My Angel!” seru seorang lelaki yg sekarang sudah berdiri di belakang
bangku taman sambil membawa kue tart coklat yg berbentuk bintang. Diatasnya berdiri kokoh 2 lilin
berbentuk angka 2 dan 0 yang diatasnya berkobar api merah.


Cepat-cepat, Luna menghapus airmatanya yang sejak tadi meluncur bebas di kedua pipinya. Kemudian,
Luna menoleh ke asal suara itu, senyum pun mengembang di wajahnya yg imut itu. Lalu menghampiri
lelaki tersebut.

“Happy birthday My Angel Luna, semoga di ulang tahun kamu yg ke 20 ini, kamu panjang umur, sehat
selalu, bisa senyum terus, dan makin cantik. Amiienn….”

“Amiieenn….” Ucap Luna meng-Aminkan ucapan lelaki tadi.

Yap, tebakan kalian benar, lelaki itu adalah Malaikat hatinya. Lelaki yangg 3 tahun belakangan ini,
menjadi penjaga hatinya. Lelaki yg menjadi salah satu semangat untuk dia tetap hidup. Lelaki yang amat
sangat berarti baginya. Dialah Dewa Prasetia . Seorang mahasiswa di salah satu Universitas terkenal di
Batam.

“Thank’s ya wa , kamu emang yg nomer satu di hatiku, ga ada yg bisa menggantikan kamu di hatiku.”
Ucap Luna lagi.

“Sama-sama Lun. Sekarang kamu make a wish lalu tiup lilinya” .

Luna memejamkan matanya, dia berdoa kepada tuhan.

“Ya tuhan, aku mohon beri aku waktu 1 bulan lagi untuk menjalani hidup ini, aku masih ingin
membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingku, aku mohon tuhan, amiiinn …” batin Luna. Lalu,
Luna membuka matanya dan segera meniup lilinnya.

Dewa menaruh kuenya di atas bangku. Lalu, Dewa memeluk Luna.

“Lun, aku tuh beruntung tau” ucap Dewa yg masih memeluk Luna.
“Maksudnya??” tanya Luna bingung dengan ucapan Dewa.

“Aku beruntung, karena aku mempunyai kamu, malaikat yg amat sangat rupawan” jawab Dewa penuh
arti. Lalu, melepaskan pelukannya ke Luna.

“Owh, thank’s ya wa. Kamu sudah mau menjadi Malaikat hatiku sampai detik ini. Maafkan aku, jikalau
aku punya salah. Nanti, kalau aku sudah tidak bisa bernapas lagi, kamu jangan sedih ya, aku ga mau
melihat kamu menangis, wa” ucap Luna lirih sambil menatap mata Dewa dalam-dalam.

“Sssstt….kamu ga boleh ngomong kaya gitu ah. Kamu itu ga akan kemana-mana, Lun."

"Kamu akan tetep di samping aku sampai kita kakek nenek nanti. Kalaupun, kamu udah ga bisa bernapas
lagi, kamu akan tetep ada disini, di hatiku, Lun” jawab Dewa sambil menunjuk ke dadanya. Luna pun
memeluk Dewa erat erat. Di dalam pelukan Dewa, Luna merasakan sakit itu lagi, pusing, pandangannya
kabur, darah segar keluar perlahan dari hidungnya yg mungil itu. Semenit, dua menit, Luna tak sadarkan
diri di pelukan Dewa.

“Lun, kalau aku boleh tau, kamu minta apa sama tuhan tadi??” tanya Dewa penasaran. Tak ada jawaban
dari Gadisnya itu. Lalu, Dewa melepaskan pelukannya. Alangkah terkejutnya Dewa melihat pipi Luna yg
sudah bersimbah darah.

Bagian pundak kemeja putih yg Dewa pakai pun sudah berubah menjadi merah kecoklatan. Panik.

“Lun, Luna, kamu kenapa?? Apa yg terjadi sama kamu?? Lun, Lunaaaa,…..” ucap Dewa sangat khawatir.
Lalu, Dewa pun menghubungi ambulans.

Tinut….tinut…tinut…Kira-kira 20 menit kemudian, ambulans pun datang. Para medis langsung
menggotong Luna ke dalam ambulans. Dewa masuk dan duduk di samping Luna. Suster membersihkan
darah yg ada di wajah Luna dan memasangkan katup oksigen pada hidungnya. Dewa yg melihatnya tak
kuat untuk membendung airmata. Hatinya seperti dipanah oleh ribuan anak panah yg runcing. Dewa tak
habis pikir, gadis periang seperti Luna bisa mengalami hal separah ini. Dewa meraih tangan Luna.

“Lun, akuhh..mohonhh..samahh….kamm…muh..Lun, kamu bangunhhh…Lun, kamhhmuh..knapahh..”
ucap Dewa tersedu-sedu. Bibirnya yang indah bergetar hebat. Berpuluh-puluh tetes airmata berhasil
meluncur bebas dari matanya yang indah itu.

20 menit kemudian, ambulans sampai di salah satu rumah sakit terkenal di Batam yang ada di daerah
Sekupang. Suster langsung menurunkan Luna dari ambulance dan menaikannya ke ranjang dorong yang
sudah tersedia. Dewa berjalan di samping ranjang tempat Luna sekarang terbaring lemah tak berdaya.
Kakinya bergetar, tangannya seperti membeku. Karna khawatir, Dewa belum sempat mengabarkan
kepada keluarga Luna tentang hal ini.

Sampailah mereka di depan ruangan yg bertuliskan UGD. Luna pun masuk ke dalam UGD diikuti seorang
dokter Baru selangkah Dewa memasuki ruangan UGD, suster melarangnya untuk masuk.

“Sus, tapi saya pacarnya” ucap Dewa membela diri.

“Maaf mas, anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu disini” jawab suster tegas.
Dewa tak berdaya. ia tidak bisa memaksa. Akhirnya Dewa memutuskan untuk duduk di kursi yang
berderet rapi di depan ruangan UGD. Dewa terduduk lemas, wajahnya menunduk. Airmatanya masih
bergelayutan di pipinya. Seperti ada yg membisikan, dengan cepat ia rogoh kantung celana jeans yg ia
pakai. Hpnya pun berhasil keluar dari kantongnya. Dengan gemetar, Dewa memencet satu persatu
tombol yg ada di hpnya untuk menghubungi kakak Luna yang sekaligus teman kuliahannya itu. Telepon
berhasil tersambung, tak lama kemudian,

“Hallo Dewa, ada apa??” sapa seorang lelaki dari seberang sana.

“Luna, jimLuna” ucap Dewa penuh misteri untuk Jimi, kakak dari Luna.

“Ada apa dengan Luna, wa?? ia pingsan lagi??” jawab Jimi meninggi. Dewa bingung dengan kalimat
terakhir yg diucapkan Jimi, langsung dia tepis rasa bingung itu.

“Luna pingsan Jim. Sekarang lo cepet ke Rumah sakit Otorita Batam di Sekupang” jawab Dewa gemetar.
Telepon terputus."

15 menit kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD. Dengan sigap, Dewa menghampiri dokter yg
menangani Luna.

“Dok, bagaimana keadaan Luna?? Sebenarnya ada apa dengan Luna, dok??” tanya Dewa khawatir.

“Anda keluarganya??” tanya dokter itu.

“Bukan, saya pacarnya, Dok” jawab Dewa mantap.

“Lalu mana keluarganya”?apa sudah diberi tahu?

“sudah Dok,mereka masih dalam perjalanan”jawab Dewa

“Mari, ikut saya” pinta sang dokter sambil berjalan. Dewa mengekor dari belakang dokter.

Sampailah mereka di ruangan bercat serba putih.

“Silahkan duduk” ucap dokter.

“Bagaimana keadaan Luna dok?? Ada apa dengan Luna??” pertanyaan yang sama keluar dari bibir manis
Dewa.

“Sekarang, Luna masih koma, penyakitnya sudah semakin parah” jawab dokter yang membuat Dewa
terbelalak kaget.

Seperti sebuah petir yang menyambar Dewa, ia kaget bukan main, ia sama sekali tidak tau kalau
Malaikatnya mempunyai penyakit.

“Pe..penyakit?? Penyakit apa dok???” ucap Dewa penuh tanya.
“Penyakit yg dideritanya setahun yg lalu, kanker darah atau lebih sering disebut leukimia stadium akhir,
kemungkinan hidupnya cuma 10%, Luna hanya bertahan kira-kira 1 bulan lagi” jawab dokter bijak.

“Hah?? Ga mungkin dok” ucap Dewa yang tidak percaya bahwa gadis yang ia sayangi selama 3 tahun
akan meninggalkan dia hanya dalam kurun waktu 1 bulan lagi. Kini, airmatanya kembali berjatuhan.
Dewa langsung keluar dari ruangan dokter dan berlari ke ruang rawat Luna.

Disana, sudah ada Jimi dan ke-2 orang tua Luna.

“Luna, jangan tinggalin aku Lun, aku ga bisa hidup tanpa kamu Lun, aku mohon Lun, aku mohon, hiks”
ucap Dewa sambil menghampiri tubuh Luna yg terbaring tak berdaya melawan penyakit yang ia derita.
Saat itu juga, jari Luna tiba-tiba bergerak. Tanpa basa-basi, tangannya pun menyentuh kepala Dewa yg
sedang menangis menunduk.

“De…wa..kamuh..yg kuat..ya, ka..mhhu..ga..bol..leh..na..nangish..hh.hh” ucap Luna terbata-bata. Dewa
langsung memandang wajah Luna dalam-dalam.

“Lun, kenapa kamu ga pernah ngomong sama aku kalau kamu punya penyakit??” tanya Dewa sambil
bercucuran airmata.

“Akh..khu..ga..mau..kammh..mhhu..mengkhawatirkan aku, wa” jawab Luna berusaha berbicara lancar.

“Gak, Lun. Aku tulus cinta sama kamu, dari lubuk hati aku yg paling dalam, Lun” elak Dewa penuh
makna. Jimi yg melihat semua itu, tak kuat menahan tangis, dya pun keluar dari ruangan rawat Luna.

“Kamh..mhu..ha..rus…cari pengganti aku, sebelum aku tidak bisa bernapas lagi” pinta Luna.

“Ga, aku ga akan ninggalin kamu, ga akan Lun” jawab Dewa.

“Ini permintaanku, wa, kamu harus mau, har….ruuuusss” ucap Luna sebelum dya pingsan lagi.

“Lun, Luna, Lun bangun Lun, om tante, tolong panggil dokter” pinta Dewa kepada ke-2 orangtua Luna.
Papah Luna langsung keluar dan memanggil dokter. Tak lama dokter kembali masuk ke ruangan Luna.
Kata dokter, Luna hanya pingsan. Semua pun sedikit lega. Malam itu, menjadi malam bahagia sekaligus
menjadi malam terburuk untuk Dewa.

1 minggu pun berlalu ..

Dewa merasa, dia harus memenuhi permintaan dari Luna, karna sampai sekarang Luna belum sadar dari
komanya. Dewa pun mencoba untuk berpacaran dengan salah satu teman kampusnya. Dyta, dia temen
se kampus Dewa yang sudah lama memendam perasaannya kepada Dewa, dan alangkah beruntungnya
dia, karna sekarang dia and Dewa sudah berpacaran. Tapi, baru seminggu mereka berpacaran,Dewa
menyadari bahwa dia tidak bisa mengisi hatinya selain Luna.

Dewa pun langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Luna.

Sesampainya di rumah sakit, Dewa langsung menuju ke ruangan rawat Luna.
Alangkah terkejutnya Dewa, melihat seseorang diatas ranjang dorong, wajahnya yg tertutupi kain,
menandakan, orang itu telah meninggal. Di belakang suster, terlihat ada Jimi dan ke-2 orang tua Luna.

“Ini ga mungkin, ini gak mungkin, Lunaaaaaaaa” teriak Dewa dan langsung berlari menghampiri ranjang
dorong itu.

“Lun, Luna, bangun, kamu jangan bercanda deh, aku ga suka, Lun, bangun Lun, bangun” ucap Dewa
sambil mengguncang-guncang tubuh Luna yang sudah tak bernyawa lagi. Airmatanya seakan-akan
tumpah semua, tidak ada yg tersisa, bibirnya tak bisa berkata apa-apa lagi, kaki dan tangannya bergetar.
Mayat Luna pun di bawa menuju ambulance. Dewa yg masih tak percaya, jatuh terduduk di lantai, dya
benar-benar tak habis pikir, malaikat hatinya akan pergi secepat ini

****.

Hari pemakaman tiba, orang-orang sudah pulang, yang tersisa hanya Dewa dan Jimi. Dewa berada di
samping makam Luna masih menangis sesunggukan, sedangkan Jimi berdiri di belakang Dewa. Tiba-tiba
Jimi menepuk pundak Dewa.

“Dewa” ucap Jimi lirih sambil mencoba bangkit.

“Ga usah sedih lagi, wa. Luna sudah tenang di sisi tuhan, kamu harus kuat, Luna bakalan sedih kalau
melihat kamu terus menangisi dya. Tuhan sudah merencanakan semua ini, kita harus terima.” Ucap Jimi
bijak. Dewa sadar dan memeluk Jimi.

“Thank’s ya Jim, kamu memang kakak yang baik” ucap Dewa melepaskan pelukannya.

“Sama-sama, oh iya, kemarin sebelum Luna mengehembuskan nafas terakhirnya, dya menyuruhku
untuk memberikan ini ke kamu” ucap Jimi sambil memberikan sebuah surat ke Dewa.

“Oh, makasih ya Jim” ucap Dewa. Jimi pun pergi dari hadapan Dewa. Dewa pun membuka pelan pelan
surat yg di tulis Luna.

Dear :Malaikat hatiku Dewa

Hy, wa, mungkin waktu kamu membaca surat ini, aku sudah tidak bisa lagi bernapas. Maafkan aku,
karna aku tidak memberitahukan soal penyakitku kepadamu. Aku ga mau, kalau kamu sayang sama aku,
karna kamu kasian sama aku. Bukan aku tidak mencintaimu dengan tulus tapi, aku mohon setelah
keperrgianku, kamu harus mencari penggantiku, aku ga mau kamu terus menutup hati kamu untuk
wanita lain, wa. Aku mohon dengan sangat, nikahi Dyta, jadilah ayah dari anak-anak Dyta. Aku yakin
seyakin-yakinnya, kalau Dyta mencintaimu dengan tulus, jdi aku mohon wa, nikahi Dyta. Oia, satu lagi
wa yang harus kamu tahu bahwa haya ragaku yang pergi, tapi hatiku akan tetap ada di hatimu ataupun
sebaliknya, jadi, kamu ga boleh nangis. Mungkin hanya segini saja, permintaanku untuk yang terakhir
kalinya. Aku akan melihatmu hidup bahagia di dunia dari surga, Dewa.

Salam sayang,

Luna Prisilia
****
airmata Dewa jatuh dengan sangat deras sehingga membasahi kertas itu.

“Iya Lun, aku janji sama kamu, aku akan coba untuk mencintai Dyta dan menikahinya. TERIMAKASIH
LUNA, kamu sudah mau mengisi hari-hariku dengan cintamu. Kamu akan tetap ada disini, di hatiku
sampai kapanpun.” Ucap Dewa mantap dan tersenyum. Lalu, dya pergi meninggalkan pemakaman.

Unsur Intrinsik Cerpen "Angel of My Heart"

Tema: Percintaan
Alur: Maju (menceritakan dari awal merayakan ulang tahun hingga menginggal)
Latar:
Waktu: Malam (dari kalimat "Suasana malam itu indah, bintang bertaburan dimana-mana..."),
     waktu yang lain tidak jelas
Tempat: Taman (dari kalimat "...berdiri di belakang bangku taman...")
      RS. Ortopedi (dari kutipan " ... cepet ke Rumah sakit Otorita Batam di Sekupang...")
      Makam (dari kalimat "Dewa berada di samping makam Luna...")
Suasana: Bahagia (tercermin saat merayakan ulang tahun Luna)
      Romantis (saat Luna dan Dewa saling berpelukan dan berbicara)
      Panik (ketika Luna jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit)
      Haru (ketika mengetahui penyakit dan kematian Luna)
4. Penokohan: Tidak ada tokoh antagonis dan tirtagonis
Luna Prisilia: tidak ingin orang yang dicintainya sedih (terlihat dari permintaanya agar Dewa menikahi
Dyta)
Dewa prasetia: tulus (dari kutipan"...Aku tulus cinta sama kamu,...")
Jimi: peduli (tercermin saat menenangkan Dewa di taman)
Dokter: peduli (ia menceritakan keadaan Luna kepada Dewa)
 5. Amanat: Manfaatkan waktumu, bahagiakan orang yang engkau cintai, dan ikhlaskan apa yang
            telah pergi. Karena waktu tidak dapat diulang.

My angel

  • 1.
    Angel of MyHeart Cerpen Sabtu malam, di taman kota. Suasana malam itu indah, bintang bertaburan dimana-mana, mewakili perasaan seorang gadis cantik, lucu, dan imut. Malam ini, adalah malam yg indah baginya, karena malam ini umurnya tepat 20 tahun. Bukan pesta yang ia inginkan, tetapi indahnya malam. Di malam hari, dia bisa menangis, tertawa, sedih, maupun gembira. Langit yang menjadi saksi kehidupannya yang malang ini. Ia di vonis oleh dokter bahwa ia mengidap penyakit kanker darah atau biasa disebut leukimia stadium akhir. Ia tahu, hidupnya memang tidak lama lagi, mungkin 1-2 bulan lagi. Tapi , semua itu tidak menyurutkan semangatnya untuk membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Terutama keluarga dan malaikat hatinya. Gadis itu bernama Luna Prisilia. Atau sering dipanggil Luna. “Happy birthday, happy birthday My Angel!” seru seorang lelaki yg sekarang sudah berdiri di belakang bangku taman sambil membawa kue tart coklat yg berbentuk bintang. Diatasnya berdiri kokoh 2 lilin berbentuk angka 2 dan 0 yang diatasnya berkobar api merah. Cepat-cepat, Luna menghapus airmatanya yang sejak tadi meluncur bebas di kedua pipinya. Kemudian, Luna menoleh ke asal suara itu, senyum pun mengembang di wajahnya yg imut itu. Lalu menghampiri lelaki tersebut. “Happy birthday My Angel Luna, semoga di ulang tahun kamu yg ke 20 ini, kamu panjang umur, sehat selalu, bisa senyum terus, dan makin cantik. Amiienn….” “Amiieenn….” Ucap Luna meng-Aminkan ucapan lelaki tadi. Yap, tebakan kalian benar, lelaki itu adalah Malaikat hatinya. Lelaki yangg 3 tahun belakangan ini, menjadi penjaga hatinya. Lelaki yg menjadi salah satu semangat untuk dia tetap hidup. Lelaki yang amat sangat berarti baginya. Dialah Dewa Prasetia . Seorang mahasiswa di salah satu Universitas terkenal di Batam. “Thank’s ya wa , kamu emang yg nomer satu di hatiku, ga ada yg bisa menggantikan kamu di hatiku.” Ucap Luna lagi. “Sama-sama Lun. Sekarang kamu make a wish lalu tiup lilinya” . Luna memejamkan matanya, dia berdoa kepada tuhan. “Ya tuhan, aku mohon beri aku waktu 1 bulan lagi untuk menjalani hidup ini, aku masih ingin membahagiakan orang-orang yang ada di sekelilingku, aku mohon tuhan, amiiinn …” batin Luna. Lalu, Luna membuka matanya dan segera meniup lilinnya. Dewa menaruh kuenya di atas bangku. Lalu, Dewa memeluk Luna. “Lun, aku tuh beruntung tau” ucap Dewa yg masih memeluk Luna.
  • 2.
    “Maksudnya??” tanya Lunabingung dengan ucapan Dewa. “Aku beruntung, karena aku mempunyai kamu, malaikat yg amat sangat rupawan” jawab Dewa penuh arti. Lalu, melepaskan pelukannya ke Luna. “Owh, thank’s ya wa. Kamu sudah mau menjadi Malaikat hatiku sampai detik ini. Maafkan aku, jikalau aku punya salah. Nanti, kalau aku sudah tidak bisa bernapas lagi, kamu jangan sedih ya, aku ga mau melihat kamu menangis, wa” ucap Luna lirih sambil menatap mata Dewa dalam-dalam. “Sssstt….kamu ga boleh ngomong kaya gitu ah. Kamu itu ga akan kemana-mana, Lun." "Kamu akan tetep di samping aku sampai kita kakek nenek nanti. Kalaupun, kamu udah ga bisa bernapas lagi, kamu akan tetep ada disini, di hatiku, Lun” jawab Dewa sambil menunjuk ke dadanya. Luna pun memeluk Dewa erat erat. Di dalam pelukan Dewa, Luna merasakan sakit itu lagi, pusing, pandangannya kabur, darah segar keluar perlahan dari hidungnya yg mungil itu. Semenit, dua menit, Luna tak sadarkan diri di pelukan Dewa. “Lun, kalau aku boleh tau, kamu minta apa sama tuhan tadi??” tanya Dewa penasaran. Tak ada jawaban dari Gadisnya itu. Lalu, Dewa melepaskan pelukannya. Alangkah terkejutnya Dewa melihat pipi Luna yg sudah bersimbah darah. Bagian pundak kemeja putih yg Dewa pakai pun sudah berubah menjadi merah kecoklatan. Panik. “Lun, Luna, kamu kenapa?? Apa yg terjadi sama kamu?? Lun, Lunaaaa,…..” ucap Dewa sangat khawatir. Lalu, Dewa pun menghubungi ambulans. Tinut….tinut…tinut…Kira-kira 20 menit kemudian, ambulans pun datang. Para medis langsung menggotong Luna ke dalam ambulans. Dewa masuk dan duduk di samping Luna. Suster membersihkan darah yg ada di wajah Luna dan memasangkan katup oksigen pada hidungnya. Dewa yg melihatnya tak kuat untuk membendung airmata. Hatinya seperti dipanah oleh ribuan anak panah yg runcing. Dewa tak habis pikir, gadis periang seperti Luna bisa mengalami hal separah ini. Dewa meraih tangan Luna. “Lun, akuhh..mohonhh..samahh….kamm…muh..Lun, kamu bangunhhh…Lun, kamhhmuh..knapahh..” ucap Dewa tersedu-sedu. Bibirnya yang indah bergetar hebat. Berpuluh-puluh tetes airmata berhasil meluncur bebas dari matanya yang indah itu. 20 menit kemudian, ambulans sampai di salah satu rumah sakit terkenal di Batam yang ada di daerah Sekupang. Suster langsung menurunkan Luna dari ambulance dan menaikannya ke ranjang dorong yang sudah tersedia. Dewa berjalan di samping ranjang tempat Luna sekarang terbaring lemah tak berdaya. Kakinya bergetar, tangannya seperti membeku. Karna khawatir, Dewa belum sempat mengabarkan kepada keluarga Luna tentang hal ini. Sampailah mereka di depan ruangan yg bertuliskan UGD. Luna pun masuk ke dalam UGD diikuti seorang dokter Baru selangkah Dewa memasuki ruangan UGD, suster melarangnya untuk masuk. “Sus, tapi saya pacarnya” ucap Dewa membela diri. “Maaf mas, anda tidak boleh masuk, silahkan tunggu disini” jawab suster tegas.
  • 3.
    Dewa tak berdaya.ia tidak bisa memaksa. Akhirnya Dewa memutuskan untuk duduk di kursi yang berderet rapi di depan ruangan UGD. Dewa terduduk lemas, wajahnya menunduk. Airmatanya masih bergelayutan di pipinya. Seperti ada yg membisikan, dengan cepat ia rogoh kantung celana jeans yg ia pakai. Hpnya pun berhasil keluar dari kantongnya. Dengan gemetar, Dewa memencet satu persatu tombol yg ada di hpnya untuk menghubungi kakak Luna yang sekaligus teman kuliahannya itu. Telepon berhasil tersambung, tak lama kemudian, “Hallo Dewa, ada apa??” sapa seorang lelaki dari seberang sana. “Luna, jimLuna” ucap Dewa penuh misteri untuk Jimi, kakak dari Luna. “Ada apa dengan Luna, wa?? ia pingsan lagi??” jawab Jimi meninggi. Dewa bingung dengan kalimat terakhir yg diucapkan Jimi, langsung dia tepis rasa bingung itu. “Luna pingsan Jim. Sekarang lo cepet ke Rumah sakit Otorita Batam di Sekupang” jawab Dewa gemetar. Telepon terputus." 15 menit kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD. Dengan sigap, Dewa menghampiri dokter yg menangani Luna. “Dok, bagaimana keadaan Luna?? Sebenarnya ada apa dengan Luna, dok??” tanya Dewa khawatir. “Anda keluarganya??” tanya dokter itu. “Bukan, saya pacarnya, Dok” jawab Dewa mantap. “Lalu mana keluarganya”?apa sudah diberi tahu? “sudah Dok,mereka masih dalam perjalanan”jawab Dewa “Mari, ikut saya” pinta sang dokter sambil berjalan. Dewa mengekor dari belakang dokter. Sampailah mereka di ruangan bercat serba putih. “Silahkan duduk” ucap dokter. “Bagaimana keadaan Luna dok?? Ada apa dengan Luna??” pertanyaan yang sama keluar dari bibir manis Dewa. “Sekarang, Luna masih koma, penyakitnya sudah semakin parah” jawab dokter yang membuat Dewa terbelalak kaget. Seperti sebuah petir yang menyambar Dewa, ia kaget bukan main, ia sama sekali tidak tau kalau Malaikatnya mempunyai penyakit. “Pe..penyakit?? Penyakit apa dok???” ucap Dewa penuh tanya.
  • 4.
    “Penyakit yg dideritanyasetahun yg lalu, kanker darah atau lebih sering disebut leukimia stadium akhir, kemungkinan hidupnya cuma 10%, Luna hanya bertahan kira-kira 1 bulan lagi” jawab dokter bijak. “Hah?? Ga mungkin dok” ucap Dewa yang tidak percaya bahwa gadis yang ia sayangi selama 3 tahun akan meninggalkan dia hanya dalam kurun waktu 1 bulan lagi. Kini, airmatanya kembali berjatuhan. Dewa langsung keluar dari ruangan dokter dan berlari ke ruang rawat Luna. Disana, sudah ada Jimi dan ke-2 orang tua Luna. “Luna, jangan tinggalin aku Lun, aku ga bisa hidup tanpa kamu Lun, aku mohon Lun, aku mohon, hiks” ucap Dewa sambil menghampiri tubuh Luna yg terbaring tak berdaya melawan penyakit yang ia derita. Saat itu juga, jari Luna tiba-tiba bergerak. Tanpa basa-basi, tangannya pun menyentuh kepala Dewa yg sedang menangis menunduk. “De…wa..kamuh..yg kuat..ya, ka..mhhu..ga..bol..leh..na..nangish..hh.hh” ucap Luna terbata-bata. Dewa langsung memandang wajah Luna dalam-dalam. “Lun, kenapa kamu ga pernah ngomong sama aku kalau kamu punya penyakit??” tanya Dewa sambil bercucuran airmata. “Akh..khu..ga..mau..kammh..mhhu..mengkhawatirkan aku, wa” jawab Luna berusaha berbicara lancar. “Gak, Lun. Aku tulus cinta sama kamu, dari lubuk hati aku yg paling dalam, Lun” elak Dewa penuh makna. Jimi yg melihat semua itu, tak kuat menahan tangis, dya pun keluar dari ruangan rawat Luna. “Kamh..mhu..ha..rus…cari pengganti aku, sebelum aku tidak bisa bernapas lagi” pinta Luna. “Ga, aku ga akan ninggalin kamu, ga akan Lun” jawab Dewa. “Ini permintaanku, wa, kamu harus mau, har….ruuuusss” ucap Luna sebelum dya pingsan lagi. “Lun, Luna, Lun bangun Lun, om tante, tolong panggil dokter” pinta Dewa kepada ke-2 orangtua Luna. Papah Luna langsung keluar dan memanggil dokter. Tak lama dokter kembali masuk ke ruangan Luna. Kata dokter, Luna hanya pingsan. Semua pun sedikit lega. Malam itu, menjadi malam bahagia sekaligus menjadi malam terburuk untuk Dewa. 1 minggu pun berlalu .. Dewa merasa, dia harus memenuhi permintaan dari Luna, karna sampai sekarang Luna belum sadar dari komanya. Dewa pun mencoba untuk berpacaran dengan salah satu teman kampusnya. Dyta, dia temen se kampus Dewa yang sudah lama memendam perasaannya kepada Dewa, dan alangkah beruntungnya dia, karna sekarang dia and Dewa sudah berpacaran. Tapi, baru seminggu mereka berpacaran,Dewa menyadari bahwa dia tidak bisa mengisi hatinya selain Luna. Dewa pun langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Luna. Sesampainya di rumah sakit, Dewa langsung menuju ke ruangan rawat Luna.
  • 5.
    Alangkah terkejutnya Dewa,melihat seseorang diatas ranjang dorong, wajahnya yg tertutupi kain, menandakan, orang itu telah meninggal. Di belakang suster, terlihat ada Jimi dan ke-2 orang tua Luna. “Ini ga mungkin, ini gak mungkin, Lunaaaaaaaa” teriak Dewa dan langsung berlari menghampiri ranjang dorong itu. “Lun, Luna, bangun, kamu jangan bercanda deh, aku ga suka, Lun, bangun Lun, bangun” ucap Dewa sambil mengguncang-guncang tubuh Luna yang sudah tak bernyawa lagi. Airmatanya seakan-akan tumpah semua, tidak ada yg tersisa, bibirnya tak bisa berkata apa-apa lagi, kaki dan tangannya bergetar. Mayat Luna pun di bawa menuju ambulance. Dewa yg masih tak percaya, jatuh terduduk di lantai, dya benar-benar tak habis pikir, malaikat hatinya akan pergi secepat ini ****. Hari pemakaman tiba, orang-orang sudah pulang, yang tersisa hanya Dewa dan Jimi. Dewa berada di samping makam Luna masih menangis sesunggukan, sedangkan Jimi berdiri di belakang Dewa. Tiba-tiba Jimi menepuk pundak Dewa. “Dewa” ucap Jimi lirih sambil mencoba bangkit. “Ga usah sedih lagi, wa. Luna sudah tenang di sisi tuhan, kamu harus kuat, Luna bakalan sedih kalau melihat kamu terus menangisi dya. Tuhan sudah merencanakan semua ini, kita harus terima.” Ucap Jimi bijak. Dewa sadar dan memeluk Jimi. “Thank’s ya Jim, kamu memang kakak yang baik” ucap Dewa melepaskan pelukannya. “Sama-sama, oh iya, kemarin sebelum Luna mengehembuskan nafas terakhirnya, dya menyuruhku untuk memberikan ini ke kamu” ucap Jimi sambil memberikan sebuah surat ke Dewa. “Oh, makasih ya Jim” ucap Dewa. Jimi pun pergi dari hadapan Dewa. Dewa pun membuka pelan pelan surat yg di tulis Luna. Dear :Malaikat hatiku Dewa Hy, wa, mungkin waktu kamu membaca surat ini, aku sudah tidak bisa lagi bernapas. Maafkan aku, karna aku tidak memberitahukan soal penyakitku kepadamu. Aku ga mau, kalau kamu sayang sama aku, karna kamu kasian sama aku. Bukan aku tidak mencintaimu dengan tulus tapi, aku mohon setelah keperrgianku, kamu harus mencari penggantiku, aku ga mau kamu terus menutup hati kamu untuk wanita lain, wa. Aku mohon dengan sangat, nikahi Dyta, jadilah ayah dari anak-anak Dyta. Aku yakin seyakin-yakinnya, kalau Dyta mencintaimu dengan tulus, jdi aku mohon wa, nikahi Dyta. Oia, satu lagi wa yang harus kamu tahu bahwa haya ragaku yang pergi, tapi hatiku akan tetap ada di hatimu ataupun sebaliknya, jadi, kamu ga boleh nangis. Mungkin hanya segini saja, permintaanku untuk yang terakhir kalinya. Aku akan melihatmu hidup bahagia di dunia dari surga, Dewa. Salam sayang, Luna Prisilia ****
  • 6.
    airmata Dewa jatuhdengan sangat deras sehingga membasahi kertas itu. “Iya Lun, aku janji sama kamu, aku akan coba untuk mencintai Dyta dan menikahinya. TERIMAKASIH LUNA, kamu sudah mau mengisi hari-hariku dengan cintamu. Kamu akan tetap ada disini, di hatiku sampai kapanpun.” Ucap Dewa mantap dan tersenyum. Lalu, dya pergi meninggalkan pemakaman. Unsur Intrinsik Cerpen "Angel of My Heart" Tema: Percintaan Alur: Maju (menceritakan dari awal merayakan ulang tahun hingga menginggal) Latar: Waktu: Malam (dari kalimat "Suasana malam itu indah, bintang bertaburan dimana-mana..."), waktu yang lain tidak jelas Tempat: Taman (dari kalimat "...berdiri di belakang bangku taman...") RS. Ortopedi (dari kutipan " ... cepet ke Rumah sakit Otorita Batam di Sekupang...") Makam (dari kalimat "Dewa berada di samping makam Luna...") Suasana: Bahagia (tercermin saat merayakan ulang tahun Luna) Romantis (saat Luna dan Dewa saling berpelukan dan berbicara) Panik (ketika Luna jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit) Haru (ketika mengetahui penyakit dan kematian Luna) 4. Penokohan: Tidak ada tokoh antagonis dan tirtagonis Luna Prisilia: tidak ingin orang yang dicintainya sedih (terlihat dari permintaanya agar Dewa menikahi Dyta) Dewa prasetia: tulus (dari kutipan"...Aku tulus cinta sama kamu,...") Jimi: peduli (tercermin saat menenangkan Dewa di taman) Dokter: peduli (ia menceritakan keadaan Luna kepada Dewa) 5. Amanat: Manfaatkan waktumu, bahagiakan orang yang engkau cintai, dan ikhlaskan apa yang telah pergi. Karena waktu tidak dapat diulang.