19
Modul Perkuliahan Materi Pembelajaran Elektrodiagnosis & Elektroterapi_Oleh : Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis
PERTEMUAN 6
HIGH FREQUENCY CURRENT
Konsep pemberian efek thermal pada jaringan dalam yang tidak dapat dijangkau oleh infrared dan
modalitas lain dapat dilakukan oleh modalitas yang memiliki arus dengan frekuensi tinggi dalam satuan
Megacycle, modalitas arus frekuensi tinggi yang sering dipakai dalam praktik klinis fisioterapi adalah Short
Wave Diathermy (SWD) dan Micro Wave Diathermy (MWD).
Gambar 1. Micro Wave Diathermy and Short Wave Diathermy
Pada dasarnya modalitas tersebut digunakan untuk gangguan muskuloskeletal yang membutuhkan
efek thermal dalam melancarkan sirkulasi darah, praktis gangguan musculoskeletal yang membutuhkan efek
thermal dalam melancarkan sirkulasi darah adalah jenis gangguan dalam kondisi kronis.
Panas yang dihasilkan oleh High Frequency Current (HFC) ini terjadi dalam jaringan, disebabkan
oleh 3 hal yakni, vibration of ions, dipole rotation dan molecular distortion dikarenakan cepatnya
pergantian polaritas kedua electrode. Dikarenakan jaringan mempunyai perbedaan kerapatan molekul, sehingga
thermal yang dihasilkannya pun berbeda pada tiap jaringan, modalitas HFC seperti SWD mempunyai 3 panjang
gelombang, 7, 11 dan 22 meter dan frekuensi 45, 27, 13 megacycle.
Gambar 1. Vibration of Ions (A), Dipole Rotation (B), Molecular Distortion (C)
Meningkatnya temperature jaringan meningkatkan metabolisme, sehingga pasokan oksigen, nutrisi dan
pembuangan hasil sisa metabolisme sel jaringan pun meningkat, selain itu terjadi vasodilatasi sehingga
20
Modul Perkuliahan Materi Pembelajaran Elektrodiagnosis & Elektroterapi_Oleh : Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis
menurunkan tahanan tepi pembuluh darah, menurunkan viskositas darah diikuti dengan penurunan tekanan
darah.
Short Wave Diathermy (SWD) dapat menggunakan 2 metode, yakni inductive, memposisikan segmen
yang akan diterapi pada coil, misal dililitkan pada segmen, selanjutnya coil menghasilkan medan
elektromagnetik, keuntungan metode ini adalah efek thermal selektif pada otot yang dituju sedangkan
capacitive (medan electrostatic-electro magnetic) efek thermal selektif jaringan kulit, panas pada jaringan
kulit tersebut didistribusikan oleh jaringan lemak menuju otot. terdapat berbagai macam electrode pada
penggunaan SWD capacitive, diantaranya adalah flexible pad, space plates (sering digunakan), dan inductive
meliputi coil/cable, monode dan dipole (drum).
Gambar 2. Different Thermal Distribution Related to Applicators
Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi panas pada jaringan antara lain adalah,
1. Penentuan jarak antara elektroda dan jaringan yang akan diterapi
2. Ukuran electrode yang digunakan
Berdasarkan cara pemasangan electrode SWD, dikenal pemasangan contraplanar, coplanar dan crossfire
Gambar 2. Influence of thermal distribution
21
Modul Perkuliahan Materi Pembelajaran Elektrodiagnosis & Elektroterapi_Oleh : Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis
Dalam menghasilkan thermal dikenal fase “steady state”, yakni thermal/ panas relative menetap
pada jaringan yang diterapi setelah diaplikasikan SWD/MWD dalam 15-20 menit, thermal dibawah fase steady
state relative berubah-ubah pada jaringan yang diterapi, dikarenakan panas belum didistribusikan merata
keseluruh tubuh, mengingat darah mengalir keseluruh tubuh.
Dosis intensitas dalam penggunaan SWD maupun MWD meliputi;
1. Moderate heating, terasa panas namun masih dipersepsikan nyaman oleh pasien
2. Mild heating, terasa hangat
3. Minimal perceptible heating, sedikit terasa hangat
4. Imperceptible heating, tidak terasa hangat sama sekali
Suatu kontradiksi ketika modalitas diciptakan untuk menghasilkan panas/thermal namun dalam tingkatan
dosis terdapat “imperceptible heating”, dosis tersebut digunakan pada gangguan musculoskeletal pada fase akut,
dimana pada fase akut jaringan ditandai dengan tumor (bengkak), rubor (merah), dolor (nyeri), callor (panas)
dan fungsiolesa (gangguan fungsi), sehingga praktis tidak dapat diberikan efek thermal dalam peng aplikasian
dosis.
Dosis “imperceptible heating” ditujukan untuk meningkatkan permeabilitas membrane sehingga difusi
ion ke dalam membrane lebih baik dan mempercepat recovery.
Indikasi penggunaan SWD dan MWD (chronic or mild chronic) : myositis, arthritis, pelvic inflammation,
otitis media, bronchitis, sinusitis dan peradangan kronis lainnya. Kontraindikasi diaplikasikan pada jaringan
yang mengalami perdarahan, venous thrombosis, phlebitis, wanita yang sedang mengandung, tumor, hilangnya
sensasi kulit, setelah menjalani x-ray dan adanya metal pada jaringan yang akan diterapi.
LATIHAN SOAL
1. Apa fungsi penggunaan modalitas High Frequency Current (HFC) meliputi SWD dan MWD?
2. Manakah yang lebih dalam penetrasi thermalnya jika dibandingkan antara SWD dan MWD?
3. Pada dasarnya SWD dan MWD diaplikasikan pada gangguan apa?
4. Bagaimana SWD mampu menghasilkan efek thermal pada jaringan?
5. Apa perbedaan SWD dan infrared, selain beda kedalaman/penetrasi thermal?
6. Manakah metode SWD yang lebih selektif untuk efek thermal terhadap jaringan otot?
7. Sebutkan dosis intensitas pada aplikasi SWD?
8. Mengapa pada fase akut diberikan dosis imperceptible heating?
9. Apa manfaat dosis imperceptible heating pada aplikasi SWD gangguan muskuloskeletal fase akut?
10. Konsep aplikasi SWD ditujukan pada gangguan muskuloskeletal pada fase apa?

Modul : High Frequency Current (HFC)

  • 1.
    19 Modul Perkuliahan MateriPembelajaran Elektrodiagnosis & Elektroterapi_Oleh : Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis PERTEMUAN 6 HIGH FREQUENCY CURRENT Konsep pemberian efek thermal pada jaringan dalam yang tidak dapat dijangkau oleh infrared dan modalitas lain dapat dilakukan oleh modalitas yang memiliki arus dengan frekuensi tinggi dalam satuan Megacycle, modalitas arus frekuensi tinggi yang sering dipakai dalam praktik klinis fisioterapi adalah Short Wave Diathermy (SWD) dan Micro Wave Diathermy (MWD). Gambar 1. Micro Wave Diathermy and Short Wave Diathermy Pada dasarnya modalitas tersebut digunakan untuk gangguan muskuloskeletal yang membutuhkan efek thermal dalam melancarkan sirkulasi darah, praktis gangguan musculoskeletal yang membutuhkan efek thermal dalam melancarkan sirkulasi darah adalah jenis gangguan dalam kondisi kronis. Panas yang dihasilkan oleh High Frequency Current (HFC) ini terjadi dalam jaringan, disebabkan oleh 3 hal yakni, vibration of ions, dipole rotation dan molecular distortion dikarenakan cepatnya pergantian polaritas kedua electrode. Dikarenakan jaringan mempunyai perbedaan kerapatan molekul, sehingga thermal yang dihasilkannya pun berbeda pada tiap jaringan, modalitas HFC seperti SWD mempunyai 3 panjang gelombang, 7, 11 dan 22 meter dan frekuensi 45, 27, 13 megacycle. Gambar 1. Vibration of Ions (A), Dipole Rotation (B), Molecular Distortion (C) Meningkatnya temperature jaringan meningkatkan metabolisme, sehingga pasokan oksigen, nutrisi dan pembuangan hasil sisa metabolisme sel jaringan pun meningkat, selain itu terjadi vasodilatasi sehingga
  • 2.
    20 Modul Perkuliahan MateriPembelajaran Elektrodiagnosis & Elektroterapi_Oleh : Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis menurunkan tahanan tepi pembuluh darah, menurunkan viskositas darah diikuti dengan penurunan tekanan darah. Short Wave Diathermy (SWD) dapat menggunakan 2 metode, yakni inductive, memposisikan segmen yang akan diterapi pada coil, misal dililitkan pada segmen, selanjutnya coil menghasilkan medan elektromagnetik, keuntungan metode ini adalah efek thermal selektif pada otot yang dituju sedangkan capacitive (medan electrostatic-electro magnetic) efek thermal selektif jaringan kulit, panas pada jaringan kulit tersebut didistribusikan oleh jaringan lemak menuju otot. terdapat berbagai macam electrode pada penggunaan SWD capacitive, diantaranya adalah flexible pad, space plates (sering digunakan), dan inductive meliputi coil/cable, monode dan dipole (drum). Gambar 2. Different Thermal Distribution Related to Applicators Faktor-faktor yang mempengaruhi distribusi panas pada jaringan antara lain adalah, 1. Penentuan jarak antara elektroda dan jaringan yang akan diterapi 2. Ukuran electrode yang digunakan Berdasarkan cara pemasangan electrode SWD, dikenal pemasangan contraplanar, coplanar dan crossfire Gambar 2. Influence of thermal distribution
  • 3.
    21 Modul Perkuliahan MateriPembelajaran Elektrodiagnosis & Elektroterapi_Oleh : Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis Dalam menghasilkan thermal dikenal fase “steady state”, yakni thermal/ panas relative menetap pada jaringan yang diterapi setelah diaplikasikan SWD/MWD dalam 15-20 menit, thermal dibawah fase steady state relative berubah-ubah pada jaringan yang diterapi, dikarenakan panas belum didistribusikan merata keseluruh tubuh, mengingat darah mengalir keseluruh tubuh. Dosis intensitas dalam penggunaan SWD maupun MWD meliputi; 1. Moderate heating, terasa panas namun masih dipersepsikan nyaman oleh pasien 2. Mild heating, terasa hangat 3. Minimal perceptible heating, sedikit terasa hangat 4. Imperceptible heating, tidak terasa hangat sama sekali Suatu kontradiksi ketika modalitas diciptakan untuk menghasilkan panas/thermal namun dalam tingkatan dosis terdapat “imperceptible heating”, dosis tersebut digunakan pada gangguan musculoskeletal pada fase akut, dimana pada fase akut jaringan ditandai dengan tumor (bengkak), rubor (merah), dolor (nyeri), callor (panas) dan fungsiolesa (gangguan fungsi), sehingga praktis tidak dapat diberikan efek thermal dalam peng aplikasian dosis. Dosis “imperceptible heating” ditujukan untuk meningkatkan permeabilitas membrane sehingga difusi ion ke dalam membrane lebih baik dan mempercepat recovery. Indikasi penggunaan SWD dan MWD (chronic or mild chronic) : myositis, arthritis, pelvic inflammation, otitis media, bronchitis, sinusitis dan peradangan kronis lainnya. Kontraindikasi diaplikasikan pada jaringan yang mengalami perdarahan, venous thrombosis, phlebitis, wanita yang sedang mengandung, tumor, hilangnya sensasi kulit, setelah menjalani x-ray dan adanya metal pada jaringan yang akan diterapi. LATIHAN SOAL 1. Apa fungsi penggunaan modalitas High Frequency Current (HFC) meliputi SWD dan MWD? 2. Manakah yang lebih dalam penetrasi thermalnya jika dibandingkan antara SWD dan MWD? 3. Pada dasarnya SWD dan MWD diaplikasikan pada gangguan apa? 4. Bagaimana SWD mampu menghasilkan efek thermal pada jaringan? 5. Apa perbedaan SWD dan infrared, selain beda kedalaman/penetrasi thermal? 6. Manakah metode SWD yang lebih selektif untuk efek thermal terhadap jaringan otot? 7. Sebutkan dosis intensitas pada aplikasi SWD? 8. Mengapa pada fase akut diberikan dosis imperceptible heating? 9. Apa manfaat dosis imperceptible heating pada aplikasi SWD gangguan muskuloskeletal fase akut? 10. Konsep aplikasi SWD ditujukan pada gangguan muskuloskeletal pada fase apa?