Multiple Sclerosis
Aditya Johan Romadhon, SST.FT, M.Fis
Pendahuluan
Diagnosis MS didasarkan pada pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI)
Demyelinisasi, gliotic scarring dan kerusakan akson diikuti oleh terbentuknya plaque pada white
dan grey matter otak dan spinal cord
Autoreactive lymphocytes masuk ke sistem saraf pusat mengakibatkan inflamasi lokal
Umumnya penyebab dipercaya sebagai penyakit autoimun
Penyebab utama belum diketahui pasti namun berdasar penelitian diperkirakan faktor genetik dan
lingkungan mempengaruhi patofisiologi
Terjadi pada usia sekitar 20-40 tahun dengan rasio 1(wanita) : 2 (pria)
Multiple Sclerosis merupakan penyakit neurodegenerative komplek pada sistem saraf pusat
Tanda & Gejala
Pasien MS menunjukkan tanda gejala yang sangat bervariatif
Gangguan ataupun kerusakan dapat terjadi pada salah satu atau beberapa bagian
saraf pusat
Pada umumnya gejala yang ditampilkan adalah gangguan sensoris, gangguan
bladder (BAK), gangguan bowel (BAB), penurunan kognitif, gangguan penglihatan
(unilateral), double vision, kelemahan otot, ataksia dan mudah lelah
Sebagian besar penyakit kambuh-sembuh (relapsing remitting course)
Adanya plaque pada otak dan spinal cord, khususnya pada white matter sekitar ventrikel,
saraf optic, tractus, corpus callosum, cerebellar peduncles, subpial pada spinal cord dan
brainstem (terjadi juga pada grey matter)
Fokal demyelinisasi pada white matter Subpial cortical demyelination
Patologi
Patologi ditandai dengan adanya demyelinisasi dan derajat kerusakan akson yang
bervariasi
Kerusakan/lesi lokal pada otak MS terjadi pada area vena atau venule yang
meradang
Sehingga area yang memiliki densitas vena/venule yang banyak berpotensi
besar terjadi kerusakan/lesi
Predominan sel CD8+ & CD4+ pada sel T (autoimun disorder) menyebabkan
inflammatory induced lesions
Demyelinisasi, menurunnya jumlah oligodendrocytes, proliferasi astrocyte disertai
gliosis (respon sel glial terhadap kerusakan) dan terputusnya akson
Kerusakan Jaringan Pada MS
Penurunan energi, ketidak seimbangan ion pada oligodendrocytes, akson dan neuron,
diperberat dengan faktor usia
Penurunan perfusi dan oksigenasi menyebabkan kerusakan mitokondria dan genetik DNA
(key mechanism)
Pada tahap awal perfusi darah dan oksigenasi masih tinggi sehingga terjadi perbaikan dan
memunculkan tanda kambuh-sembuh (relapsing remitting course)
Pada kondisi kronis terjadi akumulasi demyelinisasi dan plaque pada otak ditandai dengan
menurunnya perfusi darah dan oksigenasi
Diagnosis
Diagnosis utama didasarkan pada
pemeriksaan MRI dan tanda gejala
sindrom UMN
Awalnya gejala muncul dengan
karakteristik relapsing remitting
selama 24 jam atau lebih dan gejala
menghilang perlahan setelah 1- 2 bulan
Brain MRI imaging cortical lesions
in a 44-year-old patient with RRMS
Axial T2-weighted MRI in a
patient with left optic neuritis
Prognosis
Prognosis dan progresif derajat berat penyakit
multiple sclerosis sangat bervariasi
Pada tahap awal gejala dapat mereda
namun seiring perjalanan penyakit gejala
semakin memburuk
Disabilitas permanen (long-term disability)
Gangguan Fungsi Motoris
Tremor dan ataksia disebabkan oleh gangguan pada basal ganglia, cerebellum, red nucleus dan
thalamus
Ditunjukkan dengan menurunnya kemampuan gerakan terampil atau fine motor
89% pasien MS mengalami kelemahan otot diakibatkan gangguan corticospinal dalam memfasilitasi
alfa motor dan diikuti sindrom UMN
Mengakibatkan sindrom Upper Motor Neuron
Spastisitas diakibatkan oleh hilangnya inhibisi corticospinal dan beberapa descending tract menuju
gamma motor dan inter-neuron yang terhubung dalam arkus refleks spinal
Pada klinis ditemukan beberapa gangguan fungsi motoris seperti spastisitas, kelemahan otot, tremor
dan ataksia
Gangguan Motoris
Gangguan motoris bisa jadi asimetris, monopharesis atau hemipharesis terkait dengan
letak terjadinya demyelinasi
Cutaneous reflex seperti superficial abdominal akan muncul jika demyelinasi terjadi
pada spinal cord
Hilangnya stretch tendon reflex berkaitan dengan demyelinasi dorsal root
Paroxysmal tonic “seizures” dengan karakteristik klinis kontraksi involunter ekstremitas
(kadang ritmis) selama 30 detik sampai 1 menit berkaitan dengan demyelinasi brainstem
dan spinal cord
Gangguan Berjalan
Fase double support saat jalan lebih lama dan fase swing lebih cepat, Base of Support (BOS) lebih
lebar (jarak antar 2 kaki) dan posisi kepala serta titik berat tubuh (center of mass) jatuh di anterior BOS
50% pasien MS tidak mampu berjalan sejauh 100-500 meter tanpa bantuan
237 pasien MS, 44 pasien (78%) membutuhkan waktu lebih dari 5 detik untuk sekedar berjalan
sepanjang 8 meter
Gangguan kemampuan berjalan, instabilitas postural dan tingginya resiko jatuh sering didapatkan pada
pasien MS
Pendekatan Fisioterapi
Pada awal MS, pasien merasa takut untuk bergerak, sehingga fisioterapi
dibutuhkan untuk mencegah komplikasi imobilisasi
Perubahan posisi mencegah bedsores, latihan pasif untuk menjaga
ekstensibilitas dan elastisitas jaringan dan latihan nafas untuk mencegah
komplikasi gangguan sistem respirasi
Menghindari kelelahan dengan memberikan jeda istirahat lebih lama antar
sesi latihan
Latihan keseimbangan dengan aquatic exercise training
Balance and Eye-Movement Exercises dengan VR-based training
SEKIAN &
TERIMAKASIH

Study Club Fisioneuro Multiple Sclerosis.pdf

  • 1.
    Multiple Sclerosis Aditya JohanRomadhon, SST.FT, M.Fis
  • 2.
    Pendahuluan Diagnosis MS didasarkanpada pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) Demyelinisasi, gliotic scarring dan kerusakan akson diikuti oleh terbentuknya plaque pada white dan grey matter otak dan spinal cord Autoreactive lymphocytes masuk ke sistem saraf pusat mengakibatkan inflamasi lokal Umumnya penyebab dipercaya sebagai penyakit autoimun Penyebab utama belum diketahui pasti namun berdasar penelitian diperkirakan faktor genetik dan lingkungan mempengaruhi patofisiologi Terjadi pada usia sekitar 20-40 tahun dengan rasio 1(wanita) : 2 (pria) Multiple Sclerosis merupakan penyakit neurodegenerative komplek pada sistem saraf pusat
  • 3.
    Tanda & Gejala PasienMS menunjukkan tanda gejala yang sangat bervariatif Gangguan ataupun kerusakan dapat terjadi pada salah satu atau beberapa bagian saraf pusat Pada umumnya gejala yang ditampilkan adalah gangguan sensoris, gangguan bladder (BAK), gangguan bowel (BAB), penurunan kognitif, gangguan penglihatan (unilateral), double vision, kelemahan otot, ataksia dan mudah lelah Sebagian besar penyakit kambuh-sembuh (relapsing remitting course) Adanya plaque pada otak dan spinal cord, khususnya pada white matter sekitar ventrikel, saraf optic, tractus, corpus callosum, cerebellar peduncles, subpial pada spinal cord dan brainstem (terjadi juga pada grey matter)
  • 4.
    Fokal demyelinisasi padawhite matter Subpial cortical demyelination
  • 5.
    Patologi Patologi ditandai denganadanya demyelinisasi dan derajat kerusakan akson yang bervariasi Kerusakan/lesi lokal pada otak MS terjadi pada area vena atau venule yang meradang Sehingga area yang memiliki densitas vena/venule yang banyak berpotensi besar terjadi kerusakan/lesi Predominan sel CD8+ & CD4+ pada sel T (autoimun disorder) menyebabkan inflammatory induced lesions Demyelinisasi, menurunnya jumlah oligodendrocytes, proliferasi astrocyte disertai gliosis (respon sel glial terhadap kerusakan) dan terputusnya akson
  • 6.
    Kerusakan Jaringan PadaMS Penurunan energi, ketidak seimbangan ion pada oligodendrocytes, akson dan neuron, diperberat dengan faktor usia Penurunan perfusi dan oksigenasi menyebabkan kerusakan mitokondria dan genetik DNA (key mechanism) Pada tahap awal perfusi darah dan oksigenasi masih tinggi sehingga terjadi perbaikan dan memunculkan tanda kambuh-sembuh (relapsing remitting course) Pada kondisi kronis terjadi akumulasi demyelinisasi dan plaque pada otak ditandai dengan menurunnya perfusi darah dan oksigenasi
  • 7.
    Diagnosis Diagnosis utama didasarkanpada pemeriksaan MRI dan tanda gejala sindrom UMN Awalnya gejala muncul dengan karakteristik relapsing remitting selama 24 jam atau lebih dan gejala menghilang perlahan setelah 1- 2 bulan
  • 8.
    Brain MRI imagingcortical lesions in a 44-year-old patient with RRMS
  • 9.
    Axial T2-weighted MRIin a patient with left optic neuritis
  • 10.
    Prognosis Prognosis dan progresifderajat berat penyakit multiple sclerosis sangat bervariasi Pada tahap awal gejala dapat mereda namun seiring perjalanan penyakit gejala semakin memburuk Disabilitas permanen (long-term disability)
  • 11.
    Gangguan Fungsi Motoris Tremordan ataksia disebabkan oleh gangguan pada basal ganglia, cerebellum, red nucleus dan thalamus Ditunjukkan dengan menurunnya kemampuan gerakan terampil atau fine motor 89% pasien MS mengalami kelemahan otot diakibatkan gangguan corticospinal dalam memfasilitasi alfa motor dan diikuti sindrom UMN Mengakibatkan sindrom Upper Motor Neuron Spastisitas diakibatkan oleh hilangnya inhibisi corticospinal dan beberapa descending tract menuju gamma motor dan inter-neuron yang terhubung dalam arkus refleks spinal Pada klinis ditemukan beberapa gangguan fungsi motoris seperti spastisitas, kelemahan otot, tremor dan ataksia
  • 12.
    Gangguan Motoris Gangguan motorisbisa jadi asimetris, monopharesis atau hemipharesis terkait dengan letak terjadinya demyelinasi Cutaneous reflex seperti superficial abdominal akan muncul jika demyelinasi terjadi pada spinal cord Hilangnya stretch tendon reflex berkaitan dengan demyelinasi dorsal root Paroxysmal tonic “seizures” dengan karakteristik klinis kontraksi involunter ekstremitas (kadang ritmis) selama 30 detik sampai 1 menit berkaitan dengan demyelinasi brainstem dan spinal cord
  • 13.
    Gangguan Berjalan Fase doublesupport saat jalan lebih lama dan fase swing lebih cepat, Base of Support (BOS) lebih lebar (jarak antar 2 kaki) dan posisi kepala serta titik berat tubuh (center of mass) jatuh di anterior BOS 50% pasien MS tidak mampu berjalan sejauh 100-500 meter tanpa bantuan 237 pasien MS, 44 pasien (78%) membutuhkan waktu lebih dari 5 detik untuk sekedar berjalan sepanjang 8 meter Gangguan kemampuan berjalan, instabilitas postural dan tingginya resiko jatuh sering didapatkan pada pasien MS
  • 15.
    Pendekatan Fisioterapi Pada awalMS, pasien merasa takut untuk bergerak, sehingga fisioterapi dibutuhkan untuk mencegah komplikasi imobilisasi Perubahan posisi mencegah bedsores, latihan pasif untuk menjaga ekstensibilitas dan elastisitas jaringan dan latihan nafas untuk mencegah komplikasi gangguan sistem respirasi Menghindari kelelahan dengan memberikan jeda istirahat lebih lama antar sesi latihan Latihan keseimbangan dengan aquatic exercise training Balance and Eye-Movement Exercises dengan VR-based training
  • 16.