SlideShare a Scribd company logo
1 of 23
Download to read offline
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 1
MANAJEMEN WAKTU
( KONSEP DAN STRATEGI )
https://bahrurrosyididuraisy.wordpress.com/
PENDAHULUAN
Waktu itu ibarat uang, sangatlah berharga. Tapi bedanya, uang bisa saja kita
dapatkan kembali jika hilang atau mungkin kita bisa mendapatkan gantinya,
sedangkan waktu yang hilang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa kembali.
Lalu sudah seberapa maksimalkah kita memanfaatkan waktu kita yang
berharga ini ? Kebanyakan dari kita hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia dan
akhirnya menyesal. Sebenarnya jika kita ingin mengatur kehidupan kita, merubahnya
menjadi menyenangkan itu mudah saja, yang kita butuhkan adalah mengatur waktu
kita sebaik-baiknya. Pengaturan waktu yang efektif merupakan hal yang mendasar
untuk lingkup berbagai wilayah kehidupan.
Manajemen waktu dapat membuat kita menyelesaikan pekerjaan secara
cepat. Selain itu manajemen waktu dapat meningkatkan kualitas kehidupan baik
dalam pekerjaan maupun diluar pekerjaan
Manajemen waktu merupakan alat yang efektif untuk membantu seseorang
maupun organisasi meraih sasarannya sehingga penting untuk memahami dan
mengamalkan ilmu manajemen waktu. Bagaimanapun juga, waktu adalah karunia
Allah SWT yang bersifat tidak dapat disimpan, tidak dapat diulang, dan tidak dapat
dihentikan. Sehingga, ketika tujuh menit kita lewatkan begitu saja, tanpa ada amalan
yang terbaik yang kita lakukan, maka hilanglah sudah tujuh menit tersebut dan jadilah
kita merugi sebagaimana yang Allah SWT sampaikan dalam QS Al Ashr Ayat 1-3
berikut: (1) Demi Masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam
kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan
nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya
menetapi kesabaran.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 2
KONSEP MANAJEMEN WAKTU
Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh
rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.
Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian,
atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian.
Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan,
dan pengawasan produktivitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya unjuk
kerja. Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan efisien. Efektifitas terlihat
dari tercapainya tujuan manajemen waktu yang telah ditetapkan sebelumnya.Dan
efisien tidak lain mengandung dua makna,yaitu: makna pengurangan waktu yang
ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan waktu yang ada.
Jika kita pisahkan menurut kata penyusunnya yaitu manajemen berasal dari
kata manage artinya:mengatur atau mengelola. kemudian diikuti dengan kata waktu
itu sendiri adalah terdiri dari siang dan malam yang tersusun dari satuan waktu
terkecil detik,menit,dan jam,hari,minggu,bulan,tahun dan seterusnya.
Manajemen Waktu adalah :Usaha untuk memanfaatkan setiap bagian dari
waktu untuk dilakukan aktivitas tertentu yang mana telah ditentukan target dalam
jangka waktu tertentu suatu aktivitas atau pekerjaan harus sudah diselesaikan.
Memang akan sulit sekali untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai
dengan waktu yang telah ditargetkan, namun jika kita ingin hasil yang maksimal hal
itu harus dilakukan setidaknya jika kita belum mampu 100 % sesuai target kita
berupaya semaksimal mungkin itu lebih baik.
Manajemen waktu yang baik adalah : dengan membuat data aktivitas atau
pekerjaan dan menentukan skala prioritas dari setiap pekerjaan tersebut. Di sini perlu
kita tahu bahwa setiap pekerjaan pastilah penting namun dari daftar pekerjaan
penting itu ada yang lebih penting yaitu pekerjaan yang mendesak atau genting dan
biasanya berhubungan dengan deadline. Letakkanlah aktivitas yang genting pada
daftar yang paling atas untuk segera dikerjakan baru diikuti dengan daftar urutan
pekerjaan lain yang kurang prioritasnya
FILOSOFI MANAJEMEN WAKTU
1. Filasafat idealisme
Suatu keadaan yang amat sempurna yang menjadi pola dari segala sesuatu
yang kita dapati didunia ini, filsafat ini diterapkan dalam manajemen marxis dan
codetermination yang popular di Negara sosialis, jerman dan skandinavia.
2. Filsafat realisme
Dunia ini dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya adalah kenyataan yang
tidak dapat dibantah, filsafat ini beriringan dengan revolusi industri inggeris yang
disusun Frederick W. taylor.
3. Filsafat neo-thomisme
Kenyataan itu rasio, keadaan, dan Tuhan sedangkan kebenaran adalah intuisi,
segala sesuatu yang masuk akal dan yang diwahyukan Tuhan banyak
dipraktikan oleh manajemen katholik yang merujuk pada bible.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 3
4. Filsafat pragmatism
Pengalaman dan segala sesuatu yang dapat dialami oleh manusia, keberanaran
dapat dilihat dari pendapat umum yang banyak merujuk pada manajemen yang
berlaku umum mellaui opini public.
5. Filsafat eksistensialisme
Kenyataan adalah eksistensi atau keadaan yang menyerupai itu, kebenaran
adalah pendapat yang sejalan dengan pandangan pribadi seseorang, peran
manusia menjadi perhatian utama.
PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU
Mengapa kita perlu memanajemen waktu kita sebaik mungkin ? Selain karena
waktu itu sangat berharga, ada beberapa alasan lainnya, diantaranya :
 Karena waktu kita terbatas, sementara pekerjaan senantiasa bertambah.
 Manajemen waktu membantu kita untuk berkerja lebih efektif dengan skala
prioritas.
 Manajemen waktu menjauhkan kita dari stress kita dapat mengontrol setiap
tugas dan tenggat waktunya
 Manajemen waktu membuat kita lebih produktif (dapat menghindari hambatan
dan gangguan yang menghalangi dari tujuan.
Sebuah sistem manajemen waktu yang sesuai dengan kebutuhan, dapat
membantu Kita menyelesakan pekerjaan dalam waktu singkat. Apapun prioritasnya,
mempelajari cara mengatur hidup dan belajar akan membantu kita mencapai tujuan
hidup kita. Berikut ini adalah jawaban untuk pertanyaan “Mengapa Saya harus me-
manage waktu saya?” Karena sistem manajemen waktu yang efektif dapat :
1. Membantu Kita membuat prioritas. Misalnya bertemu kekasih yang sudah
seminggu tak bertemu atau mengejakan bahan presentasi tugas yang akan
dikumpul besok.
2. Mengurangi kecenderungan untuk menunda. Nah… biasanya hal yang satu ini
yang membuat manusia-manusia di dunia ini susah sekali untuk sukses. Saya
pribadi merupakan penderita akut penyakit ini., sistem manajemen waktu
adalah obatnya.
3. Membantu kita menghindari “tabrakan waktu”. Dengan menulis semua aktivitas,
tugas, janji, pesan dan pengingat Kita hanya disatu tempat, akan membantu
kita memastikan bahwa dua atau tiga kegiatan tidak dilaksanakan pada waktu
yang bersamaan. Jika terjadi tabrakan waktu, kita akan mengetahui sejak awal
dan memungkinkan untuk mengatur kembali jadwal kita.
4. Memberi kita kebebasan dan kendali. Manajemen waktu tidak akan membatasi
ruang gerak seseorang. Sebuah kendali terhadap bagian dari hari kita,
memungkinkan kita untuk menjadi fleksibel pada hari-hari berikutnya.
5. Membantu kita menghindari perasaan bersalah. Kita akan belajar dengan
nyaman jika kita menyediakan waktu tertentu untuk melakukannya. Tanpa
sebuah rencana untuk mengerjakan tugas kita saat ini. Kita mungkin merasa
“kepala kita terbebani”. Bahkan juga ketika kita tidak sedang mengerjakan
tugas tersebut.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 4
6. Membantu mengevaluasi kemajuan kita. Jika kita menyadari bahwa kita dapat
membaca 75 halaman perminggu, sedangkan pada minggu ini kita hanya
membaca 60 halaman, maka kita memerlukan kalkulator untuk mengetahui
bahwa kita memang tertinggal pada minggu ini. Dan dengan begitu kita akan
tau, „sedang dalam posisi apa saya ini?‟ artinya dibutuhkan sedikit waktu untuk
mengejar ketertinggalan itu. Dan keuntungan buat kita, kita dapat langsung
menyadarinya, dan segera bertindak untuk itu.
PRAKTIK MANAJEMEN WAKTU
Aplikasi dari filsafat melahirkan beberapa tahapan penerapan manajemen
antara lain :
1. Manajemen partisipasi
2. Manajemen berdasarkan hasil (result management)
3. Manajemen memperkaya pekerjaan (job enrichment),
4. Manajemen prioritas produktifitas,
5. Manajemen berdasarkan kemungkinan (contingency management)
6. Manajemen pemanfaatan konflik
Odiorne membagi praktek manajemen dengan beberapa tahapan :
1. Manajemen memaksa (1920-an dan 1930-an)
2. Manajemen mementingkan hubungan kemanusiaan (1940-an)
3. Manajemen menggunakan tekanan (1950-an)
4. Manajemen menurut keadaan (1960-an)
Bennet Silalahi (2001:10) membagai praktik manajemen menjadi 5 tahapan
antara lain :
1. Manajemen teknologis
2. Manajemen administrative
3. Manajemen sistem kemanusiaan
4. Manajemen ilmiah
5. Manajemen sasaran dan hasil
EFEK-EFEK MANAJEMEN WAKTU
Orr dan Traccy menjelaskan efek-efek dalam manajemen waktu yakni sebagai
berikut :
1. Dapat meningkatkan keteraturan hidup, percaya diri dan disiplin.
2. Meningkatkan kualitas kehidupan diluar jam kerja.
3. Meningkatkan penghasilan pada tiap individu.
4. Meningkatkan kepuasan kerja pada individu.
5. Mengurangi kesalahan yang dibuat dalam pekerjaan.
6. Mengurangi jumlah krisis yang dihadapi individu.
7. Menurunnya tingkat stress individu.
8. Dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dan diperoleh prestasi kerja yang
baik.
9. Dapat meningkatkan kecepatan kerja.
10. Meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 5
Dari uraian diatas dapat kita lihat betapa banyaknya efek-efek positif yang
dihasilkan ketika individu dapat memanajemen waktunya dengan baik.
ASPEK-ASPEK MANAJEMEN WAKTU
Setelah melihat efek positif terhadap manajemen waktu yang mampu
membuat penyelesaian pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Berikutnya aspek-
aspek dalam manajemen waktu. Menurut Atkinson, aspek-aspek dalam manejemen
waktu mencakup hal-hal berikut:
1. Menetapkan Tujuan
Bagian utama dari pengelolaan waktu adalah menetapkan tujuan dari
apa yang akan dikerjakan. Menetapkan tujuan dapat membantu individu untuk
memfokuskan perhatian terhadap pekerjaan yang akan dijalankan, fokus
terhadap tujuan dan sasaran yang hendak dicapai serta mampu
merencanakan suatu pekerjaan dalam batasan waktu yang disediakan.
2. Menyusun Prioritas
Menyusun prioritas perlu dilakukan mengingat waktu yang tersedia
terbatas dan tidak semua pekerjaan memiliki nilai kepentingan yang sama.
Urutan prioritas dibuat berdasarkan pringkat, yaitu dari prioritas terendah
hinnga pada prioritas tertinggi.
Urutan prioritas ini dibuat dengan mempertimbangkan hal mana yang
dirasa penting, mendesak, maupun vital yang harus dikerjakan terlebih
dahulu. Atkinson berpendapat menyusun prioritas membutuhkan ketelitian
tinggi dan kemampuan menyusun strategi agar hasil pokok penggunaan
waktu dapat tercapai secara maksimal.
3. Menyusun Jadwal
Aspek lainnya dalam manajemen waktu adalah membuat susunan jadwal.
Jadwal merupakan daftar kegiatan yang akan dilaksanakan beserta urutan
waktu dalam priode tertentu. Fungsi pembuatan jadwal adalah menghindari
bentrokan kegiatan, menghindari kelupaan, dan mengurangi ketergesaan.
4. Bersikap Asertif
Aspek manajemen waktu ini diartikan sebagai ekspresi bertanggungjawab dari
perasaan dan pikiran seseorang terhadap orang tertentu pada waktu yang
tepat. Sikap asertif dapat diartikan sebagai sikap tegas untuk berkata "Tidak"
atau menolak suatu permintaan atau tugas dari orang lain dengan cara positif
tanpa harus merasa bersalah dan menjadi agresif.
5. Bersikap tegas merupakan strategi yang diterapkan guan menghindari
pelanggaran hak dan memastikan bahwa orang lain tidak mengurangi
efektivitas penggunaan waktu. Dalam bersikap asertif tetap dibutuhkan
pertimbangan matang dari segi konsekuensi atau besar kecilnya dampak
poisitf dan negatif yang diterima individu.
6. Menghindari Penundaan
Penundaan merupakan penangguhan suatu hal hingga terlambat dikerjakan.
Penundaan dalam pelaksanaan tugas dapat menyebabkan ketidakberhasilan
dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, kemudian merusak jadwal
kegiatan yang telah disusun secara apik serta mengganggu tercapainya
tujuan yang telah ditetapkan.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 6
7. Meminimalkan Waktu yang Terbuang
Pemborosan waktu mencakup segala kegiatan yang menyita waktu dan
kurang memberikan manfaat yang maksimal. Hal tersebut sering menjadi
penghalang bagi individu untuk mencapai keberhasilannya karena sering
membuat individu menunda melakukan kegiatan yang penting.
Canfield mengemukakan aspek-aspek manajemen waktu mencakup hal
berikut ini:
1. Perencanaan
Proses perencanaan diperlukan untuk membuat seseorang tetap pada
pilihannya untuk menyeleksi pekerjaan yang ada dengan didorong oleh tekad
untuk mengerjakan pekerjaan sampai tuntas.
2. Menetapkan Prioritas
Menentukan prioritas berarti berusaha menentukan mana hal yang harus
didahulukan berdasarkan tingkat kepentingannya.
3. Melakukan Delegasi
Delegasi artinya menyerahkan suatu pekerjaan kepada orang lain yang dinilai
tepat dan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut sehingga waktu yang kita
miliki akan lebih efisien.
4. Disiplin Diri
Disiplin diri akan mengarahkan individu untuk mementingkan pada tugasnya
sendiri dan menghindarkan diri hari hal-hal yang dapat menghambat
penyelesaian tugas.
Dapat disimpulkan dari penjelasan diatas bahwa aspek-aspek manajemen
waktu mencakup adanya perencanaan, penetapan tujuan, menyusun prioritas,
menghindari penundaan, menyusun jadwal, bersikap asertif, meminimalkan waktu
yang terbuang, melakukan delegasi, dan adanya disiplin diri.
SUMBER-SUMBER PEMBOROSAN WAKTU
1. menonton televisi
2. menelepon
3. melakukan perjalanan pulang pergi
4. melamun
5. menunggu
6. melayani tamu yang tidak diundang
7. mengerjakan pekerjaan lain yang seharusnya tidak dikerjakan
Kegiatan pemborosan waktu merupakan kegiatan yang dilakukan secara
berlebihan serta diluar jadwal perencanaan. Sebaiknya minimalkanlah waktu yang
terbuang tersebut.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 7
TEKNIK MANAJEMEN WAKTU SECARA UMUM
1. Bawalah jadwal, dan ingatlah seluruh isi pemikiran Anda, percakapan,
dan kegiatan yang harus Anda lakukan selama seminggu. Ini akan
membantu Anda untuk memahami berapa banyak hal yang dapat Anda
selesaikan dalam satu hari, dan kapan waktu-waktu berharga Anda akan
berlalu. Anda akan dapat melihat berapa banyak waktu yang Anda luangkan
untuk mencapai hasil, dan berapa banyak waktu yang telah Anda buang untuk
kegiatan-kegiatan yang tidak produktif.
2. Segala kegiatan dan percakapan yang penting untuk kesuksesan Anda
harus ada jangka waktunya. List pekerjaan Anda akan bertambah sangat
banyak jika Anda mengisinya dengan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan.
Buatlah jadwal untuk diri Anda sendiri dimana Anda bisa meluangkan waktu
untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang produktif bagi diri Anda.
Lakukanlah hal ini secara disiplin.
3. Rencanakanlah setidaknya 50% dari waktu yang Anda miliki untuk
menghasilkan hal yang produktif.
4. Rencanakanlah waktu untuk beristirahat, menarik diri dari semua kesibukan
yang Anda miliki.
5. Luangkan 30 menit pertama setiap harinya untuk merencanakan hari Anda.
Jangan memulai aktivitas Anda sebelum Anda selesai merencanakannya.
Saat yang paling penting dalam hari Anda adalah saat dimana Anda
merencanakannya.
6. Luangkan waktu selama 5 menit untuk setiap undangan dan keputusan yang
harus Anda datangi dan Anda ambil. Ini akan membantu Anda
memperlihatkan prioritas yang harus diutamakan, dan membuat Anda merasa
bahwa waktu tidak berlalu begitu cepat. Luangkan pula 5 menit setelah
aktivitas atau keputusan yang Anda ambil untuk menentukan apakah target
yang Anda tentukan hari ini tercapai atau tidak. Apakah ada yang terlewat,
atau tidak.
7. Jangan ragu-ragu untuk menolak interupsi dari siapapun juga saat Anda
benar-benar harus mengerjakan sesuatu sampai selesai.
Adapun teknik yang lain antara lain :
1. Menilai bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda
Sebagai langkah pertama dalam mengelola waktu yang lebih baik,
Anda mungkin ingin menganalisis bagaimana Anda menghabiskan waktu
Anda sekarang. Untuk melakukan hal ini, membagi hari menjadi segmen-
segmen lima belas menit, kemudian mencatat apa yang Anda lakukan setiap
lima belas menit. Setelah itu, review kali ini buku harian dan total waktu yang
dihabiskan pada setiap aktivitas sepanjang hari.
a. Misalnya, Anda mungkin bahwa Anda menghabiskan waktu tiga jam
menonton televisi, berolahraga satu jam, satu jam belajar, dan dua
belanja jam. Selanjutnya, mengevaluasi penggunaan waktu.
b. Anda mungkin memutuskan Anda menghabiskan waktu terlalu banyak
menonton TV dan terlalu sedikit waktu belajar. Berdasarkan evaluasi ini,
memutuskan pada penyesuaian, tapi membuatnya spesifik. Cara yang
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 8
baik untuk membuat perubahan ini adalah untuk membuat kontrak
dengan diri sendiri yang mencakup imbalan untuk menjadi sukses.
2. Tetapkan Tujuan
Hal yang paling penting yang dapat Anda lakukan untuk mengatur
waktu adalah untuk mengatur harian, mingguan, bulanan, sasaran tahunan
dan jangka panjang. Jika Anda tidak memiliki makna yang jelas mengenai
mana Anda akan pergi dulu, Anda tidak akan dapat merencanakan
bagaimana untuk sampai ke sana. Mengatur waktu penggunaan Anda untuk
memaksimalkan peluang untuk mencapai tujuan Anda.
3. Belajarlah untuk memprioritaskan
Setelah Anda menetapkan tujuan Anda, Anda perlu untuk
memprioritaskan mereka dan kegiatan Anda. Tidak semua tujuan Anda akan
persis penting. Fokus pada tujuan-tujuan yang paling penting bagi Anda, dan
bekerja pada tujuan-tujuan lain setelahnya. Demikian pula, fokus pada
aktivitas yang paling penting bagi pencapaian tujuan Anda tertinggi dan
kegiatan lain sesudahnya.
4. Jauhkan jadwal
Setelah Anda memiliki prioritas kegiatan Anda, Anda kemudian dapat
menjadwalkan mereka ke rutinitas harian Anda. Kapan Anda pergi ke bank?
Kapan Anda membeli bahan makanan? Jangan lupa untuk jadwal beberapa
waktu relaksasi dan rekreasi, serta.
5. Anda Maksimalkan manfaat
Dalam penjadwalan seluruh aktivitas Anda, ingat apa yang ahli
manajemen waktu ada yang mengatakan: kita memperoleh 80% penghargaan
kami pada hanya 20% dari kegiatan kami dan, sebaliknya, akuisisi hanya 20%
dari hadiah kami pada 80% dari waktu kita habiskan. Apa ini menyatakan
adalah bahwa kita perlu memastikan bahwa kami mengakui dan terlibat dalam
20% kegiatan yang memberikan kita 80% dari hadiah kita sebelum kita beralih
ke kegiatan lain.
6. Anda Maksimalkan manfaat dengan mengatur waktu Anda.
Fakta bahwa Anda membaca artikel ini berarti Anda punya waktu untuk
melakukan teknik di atas dan menerapkannya pada kehidupan pribadi Anda
TEKNIK MANAJEMEN WAKTU BERDASARKAN SKALA PRIORITAS
Skala Prioritas adalah tingkat-tingkat yang memiliki kriteria tertentu atas
segala sesuatu yang diutamakan.
Berikut adalah beberapa hal-hal yang mempengaruhi Skala Prioritas :
1. Tingkat Urgensinya, yang mana yang harus didahulukan
2. Kesempatan yang dimiliki misalnya : obat, saat sakit menjadi hal utama dan
yang lain menjadi hal kedua
3. Pertimbangan Masa deman, agar masa depan gemilang kita perlu
mendapatkan pendidikan maka dari itu pendidikan beserta pelengkapnya
harus di utamakan juga
4. Kemampuan diri
5. Tingkat pendapatan
6. Status Sosial
7. Lingkungan
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 9
Tiga Kategori Prioritas Waktu
a. Jangan dikerjakan
b. Kerjakan Nanti
c. Kerjakan Sekarang
Tabel Kategori Prioritas Waktu
NO
Kategori Prioritas Waktu
Kategori Karakteristik
1 Jangan Dikerjakan  Masalah dapat hilang tanpa
diatasi
 Sudah kedaluarsa
 Dapat dikerjakan oleh orang lain
2 Dikerjakan Nanti  Tidak disertai jatuh tempo
 Dapat ditunda
 Dapat diperlambat
Alasan penundaan tugas :
 Tidak ingin memulai
 Tidak tahu dari mana memulai
 Tidak tahu dari mana memulai
meskipun ingin memulai
3 Dikerjakan Sekarang Kebutuhan unit operasional harian
Kegiatan-kegiatan yang telah ditunda,
misal :
 Kebutuhan staf
 Kebutuhan peralatan
 Rapat
Manajemen waktu sangat dibutuhkan agar setiap individu dapat
melaksanakan setiap kegiatannya secara efektif dan efisien. Terdapat beberapa
teknik yang dapat digunakan dalam manajemen waktu. Salah satunya adalah teknik
manajemen waktu berdasarkan skala prioritas.
Pada manajemen waktu berdasarkan skala prioritas, pelaksanaan pekerjaan
didahulukan berdasarkan skala prioritas. Skala prioritas mendahulukan pekerjaan
yang penting dan mendesak, dilanjutkan dengan pekerjaan penting dan tidak
mendesak, kemudian pekerjaan yang mendesak meski belum terlalu penting, , dan
terakhir adalah pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak.
1. Mendesak dan Penting
Tipe pekerjaan penting dan mendesak harus di utamakan
penyelesaiannya lebih dahulu. Tugas tersebut tidak dapat ditunda-tunda lagi.
Kegiatan yang termasuk dalam kelompok ini merupakan hal penting dan harus
dilakukan, tidak bisa ditunda pada lain waktu. Contohnya: Pekerjaan menghantar
keluarga kecelakaan kerumah sakit, mengerjakan tugas kantor untuk diserahkan
esok hari, dan lain sebagainya.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 10
Orang yang terbiasa bekerja pada kelompok ini akan cendrung stress,
cepat lelah, dan berprestasi biasa-biasa saja karena semua kegiatan dilakukan
secara terburu-buru.
2. Penting
Tipe pekerjaan dengan prioritas ini harus disikapi dengan menjadwalkan
pekerjaan dengan cermat. Jangan sampai pekerjaan penting diabaikan sehingga
pekerjaan ini menjadi pekerjaan mendesak dan penting. Sebaiknya gunakan
waktu produktif untuk menyelesaikan pekerjaan ini.
Kegiatan dalam kelompok ini mencakup kegiatan yang sudah terjadwal
dengan baik, rutin. Contoh pekerjaan penting adalah mengerjakan tugas sesuai
jadwal, olahraga terjadwal dan lain sebagainya.
Orang yang berada dalam kelompok ini adalah mereka yang memiliki visi,
mempunyai prioritas dalam hidupnya. Mereka akan melakukan perencanaan
dalam mencapai visinya, menetapkan prioritas, mengerjakan hal penting terlebih
dahulu dan menyelesaikan sisanya kemudian.
Sifat individu yang bergabung dalam kelompok ini adalah orang dengan
pola hidup terkendali, seimbang, dan berprestasi tinggi.
3. Mendesak dan Tidak Penting
Pekerjaan ini terkadang datang dari orang di luar lingkungan kerja.
Misalnya ketika mereka minta bantuan kepada Anda. Hal ini bisa saja
mengganggu waktu produktif bekerja. Oleh karena itu sah-sah saja jika
seseorang mengabaikan dan tidak membantunya jika pekerjaan Anda saat ini
merupakan pekerjaan penting dan tidak dapat ditunda-tunda lagi
penyelesaiannya.
Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini merupakan kegiatan tidak penting
namun terpaksa harus dilakukan. Seperti contoh menerima tamu, menemani
teman, dan lain sebagainya. Umumnya pekerjaan ini tanpa direncanakan dan
sulit dihindari.
Kebiasaan bekerja pada kelompok seperti ini akan membuat seseorang
menjadi kurang disiplin, prestasi rendah, tidak memiliki tujuan jelas dalam
pekerjaan, karena selalu berusaha menyenangkan orang lain.
4. Tidak Mendesak dan Tidak Penting
Kegiatan dalam kelompok ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara
berlebihan dan berakibat tingkat kepentingannya rendah. Contohnya adalah
menonton televisi dan tidur secara berlebihan. Orang dalam kelompok ini
cendrung pemalas serta kurang bertanggung jawab.
TEKNIK MANAJEMEN WAKTU BERDASARKAN DELEGASI
Delegasi adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal
kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Ada alasan mengapa
diperlukan pendelegasian, yaitu sebagai berikut :
1. Memungkinkan atasan dapat mencapai lebih dari pada mereka menangani
setiap tugas sendiri.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 11
2. Agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien.
3. Atasan dapat memusatkan tenaga kepada suatu tugas yang lebih
diprioritaskan.
4. Dapat mengembangkan keahlian bawahan sebagai suatu alat pembelajaran
dari kesalahan.
5. Karena atasan tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan dalam
pembuatan keputusan.
Dibawah ini adalah prinsip – prinsip klasik yang dapat dijadikan dasar
untuk delegasi yang efektif :
1. Prinsip scalar.
2. Prinsip kesatuan perintah.
3. Tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas.
Adapun Faktor yang memungkinkan gagalnya delegasi, yaitu:
4. Atasan merasa lebih jika mereka tetap mempertahankan hak pembuatan
keputusan.
5. Atasan tidak ingin ambil resiko kalau saja bawahannya salah ataupun gagal
dalam menjalankan wewenangnya.
6. Atasannya kurang atau tidak percaya kepada bawahannya.
7. Atasan takut apabila seorang bawahannya melakukan tugas dengan sangat
baik dan efektif, sehingga dapat mengancam posisinya sebagai atasan.
8. Bawahan tidak menerima dengan alasan dapat menambah tanggung jawab
yang sudah diterima.
9. Bawahan takut tidak dapat menjalankan tugas – tugas dengan benar dan
dikatakan gagal.
10. Bawahan merasa tertekan apabila dilimpahkan tanggung jawab yang lebih
besar.
Salah satu teknik manajemen waktu selain Teknik Manajemen Waktu
Berdasarkan Skala Prioritas adalah Teknik Manajemen Waktu Berdasarkan Delegasi.
Delegasi adalah pemberian wewenang atau kekuasaan formal dan tanggung
jawab melaksanakan kegiatan tertentu kepada orang lain. Pelimpahan wewenang
dari atasan kepada bawahan diperlukan agar organisasi dapat berfungsi secara
efisien karena tidak ada atasan yang dapat mengawasi secara pribadi setiap tugas-
tugas organisasi.
Unsur-unsur yang menyangkut dengan delegasi adalah sebagai berikut:
1. Apa yang didelegasikan
2. Saling terbuka antara diberi delegasi dan menerima delegasi
3. Transparasi mengenai delegasi
4. Ada harapan yang diserahi delegasi
5. Kekuasaan yang diserahi sepenuhnya
6. Pengawasan yang wajar
7. Orang yang diserahi delegasi
Delegasi lebih dari sekedar memberikan orang lain tugas untuk mengerjakan
sesuatu. Dengan mengikuti cara pemilihan orang yang tepat dan teratur serta bijak,
memilih bawahan dengan keahlian yang paling cocok dengan pekerjaannya, atau
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 12
memilih staf atau karyawan yang sekiranya akan mendapatkan pengalaman yang
berguna dari pekerjaan yang didelegasikan.
Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam proses delegasi kekuasaan
sehingga berjalan efektif. Keempat hal tersebut dinyatakan sebagai berikut:
1. Dalam pemberian suatu delegasi kekuasaan atau tugas haruslah dibarengi
dengan pemberian tanggungjawab.
2. Kekuasaan yang didelegasikan harus pada orang yang tepat baik dari segi
kualifikasi maupun fisik.
3. Mendelegasikan kekuasaan pada seseorang juga harus dibarengi dengan
pemberian motivasi.
4. Pimpinan yang mendelegasikan kekuasaanya harus membimbing dan
mengawasi orang yang menerima delegasi tersebut.
Dengan demikian pendelegasian kekuasaan mempunyai manfaat ganda,
diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Pimpinan dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan pokoknya
2. Putusan dapat dibuat dengan lebih cepat dan unit yang tepat
3. Inisiatiff dan rasa tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi
4. Mendidik dan mengembangkan bawahan sehingga mampu diberi beban tugas
yang lebih besar dan berat lagi nantinya.
TEKNIK MANAJEMEN WAKTU BERDASARKAN ASERTIF
Sebelumnya kita sudah mengenal dan membahas Teknik Manajemen Waktu
Berdasarkan Delegasi. Selanjutnya kita akan membahas teknik manajemen waktu
lainnya yakni Teknik Manajemen Waktu Berdasarkan Asertif.
Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang
diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga
dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain.
Dalam bersikap asertif, seseorang dituntuk untuk jujur terhadap dirinya dan
juru pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara
proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun
merugikan pihak lainnya.
Pengertian Asertif
Asertif dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyatakan diri dengan
tulus, jujur, jelas, tegas, terbuka, sopan, spontan, apa adanya, dan tepat tentang
keinginan, pikiran, perasaan dan emosi yang dialami, apakah hal tersebut yang
dianggap menyenangkan ataupun mengganggu sesuai dengan hak-hak yang dimiliki
dirinya tanpa merugikan, melukai, menyinggung, atau mengancam hak-hak,
kenyamanan, dan integritas perasaan orang lain. Perilaku asertif tidak
dilatarbelakangi maksud-maksud tertentu, seperti untuk memanipulasi,
memanfaatkan, memperdaya atau pun mencari keuntungan dari pihak lain.
Inti dari perilaku asertif adalah kejujuran, yaitu cara hidup atau bentuk
komunikasi yang berlandaskan kepada kejujuran dari hati yang paling dalam sebagai
bentuk penghargaan pada orang lain, dalam cara-cara yang positif dan menetap,
yang dicirikan dengan kemampuan untuk mengekspresikan diri tanpa menghina,
melukai, mencerca, menyingung, atau menyakiti perasaan orang lain, mampu
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 13
mengontrol perasaan diri sendiri tanpa rasa takut dan marah. Dalam kehidupan atau
komunikasi sehari-hari, orang yang asertif akan lebih memilih pola interaksi “I‟m
okay, you‟re okay” atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang lebih
mencerminkan tangungjawab pribadi, seperti penggunaan kata-kata ”saya” dari pada
” ” atau ”kamu”. Misalnya, ”saya sedih, marah, dan malu ketika saya tahu ...”
dari pada ”kamu pembohong, tidak disiplin, dan tidak dapat dipercaya karena ....”.
Dengan demikian, orang yang asertif akan memiliki kebebasan untuk
meluapkan perasaan apa pun yang dirasakan, dan berani mengambil tanggung
jawab terhadap perasaan yang dialaminya dan menerima orang lain secara terbuka.
Memiliki keberanian untuk tidak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari
perasaan yang dialaminya, tetapi orang lain pun memiliki kebebasan untuk
mengungkap apa yang dirasakannya.
Perilaku asertif dapat dengan mudah dipahami bila dibandingkan dengan
perilaku non asertif, baik yang sifatnya pasif atau agresif. Dalam perilaku pasif,
seseorang tidak memberikan reaksi atau mengekspresikan perasaan negatif yang
dialaminya secara jujur dan terbuka, tetapi dilakukan dengan menyimpan
perasaannya tersebut, menarik diri, menerima, atau menggerutu. Perilaku non asertif-
pasif hakekatnya adalah bentuk ketidakjujuran emosi, kegagalan diri atau kekalahan
diri yang didasari oleh perasaan-perasaan takut, cemas, mengindari konflik,
keinginan untuk mencari jalan keluar paling mudah, dan bahkan ketidakmampuan
untuk memahami diri dan memenuhi kebutuhan untuk bersikap sabar. Pola
komunikasi yang berkembang pada kelompok nonasertif-pasif adalah “I‟m not okay,
you‟re okay”.
Sedangkan pada perilaku nonasertif-agresif, reaksi yang diberikan
diekspresikan keluar dan dilakukan secara terbuka melalui tindakan aktif berupa
pengancaman atau penyerangan, dilakukan secara langsung atau tidak langsung,
baik dalam bentuk fisik atau verbal. Tindakan yang dilakukan secara langsung,
misalnya marah-marah, memukul, menuntut, dominan, egois, menyerang, dsb.
Sedangkan tindakan tidak langsung, misalnya dengan menyindir, menyebar gosip,
dsb. Tindakan agresif ini biasanya sengaja dilakukan dengan maksud untuk
melukai, melecehkan, menghina, mempermalukan, menyakiti, merendahkan dan
bahkan menguasai pihak lain. Dalam pola komunikasi mereka cenderung
menggunakan pola “You‟re not okay, I‟m okay”.
Dengan kata lain, seseorang dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal
mengekspresikan perasaan, pikiran dan pegangan/keyakinannya secara tulus, jujur,
sopan, dan apa adanya tanpa maksud untuk merendahkan hak-hak atau mengancam
integritas perasaan orang lain, sehingga justru menimbulkan respon dari orang lain
yang tidak dikehendaki atau negatif.
Karakteristik Orang Yang Asertif
Secara umum, orang yang asertif dicirikan dengan sikapnya yang terbuka,
jujur, sportif, adaptif, aktif, positif, dan penuh penghargaan terhadap diri sendiri
maupun orang lain. Beberapa ciri lain, diantaranya adalah:
a. Mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan dirinya, baik
secara verbal maupun non verbal secara bebas, tanpa perasaan takut,
cemas, dan khawatir.
b. Mampu menyatakan “tidak” pada hal-hal yang memang dianggap tidak
sesuai dengan kata hati atau nuraninya.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 14
c. Mampu menolak permintaan yang dianggap tidak masuk akal, berbahaya,
negatif, tidak diinginkan, atau dapat merugikan orang lain.
d. Mampu untuk berkomunikasi secara terbuka, langsung, jujur, terus
terang sebagaimana mestinya
e. Mampu menyatakan perasaannya secara jelas, tegas, jujur, apa adanya, dan
sopan.
f. Mampu untuk meminta tolong pada orang lain pada saat kita memang
membutuhkan pertolongan.
g. Mampu mengekspresikan kemarahan, ketidak setujuan, perbedaan
pandangan secara proporsional.
h. Tidak mudah tersingung, sensitif, dan emosional.
i. Terbuka untuk ruang kritik.
j. Mudah berkomunikasi, hangat, dan menjalin hubungan sosial dengan baik.
k. Mampu memberikan pandangan secara terbuka terhadap hal-hal yang tidak
sepaham.
l. Mampu meminta bantuan, pendapat, atau pandanganngan orang lain ketika
sedang menghadapi masalah.
Perilaku asertif Menurut Beberapa Ahli
1. Menurut Pratanti (2007) sikap atau pun perilaku agresif cenderung akan
merugikan pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan,
mempermalukan, menyerang (secara verbal ataupun fisik), marah-marah,
menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar yang tidak
enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip.
2. Menurut Lazarus (Fensterheim, l980) dalam Iriani (2009) perilaku asertif
mengandung suatu tingkah laku yang penuh ketegasan yang timbul karena
adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang mendukung yang antara
lain meliputi :
a. menyatakan hak-hak pribadi.
b. berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut
c. melakukan hal tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi.
Seseorang dikatakan bersikap tidak asertif, jika ia gagal mengekspresikan
perasaan, pikiran dan pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut
mengekspresikannya sedemikian rupa hingga orang lain malah memberikan respon
yang tidak dikehendaki atau negatif (Pratanti, 2009).
Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau
assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif.
Orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari
orientasi dari dalam, yaitu sebgahi berikut :
a. Memiliki kepercayan diri yang baik.
b. Dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa
takut.
c. Berkomunikasi dengan orang lain secara lancar.
Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri - ciri
a). terlalu mudah mengalah/ lemah, b). mudah tersinggung, cemas, c). kurang yakin
pada diri sendiri, d). sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 15
Menurut Sukaji (1983) dalam Fitri (2009) perilaku asertif adalah perilaku
seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang
tepat, jujur, relatif terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain.
Perilaku asertif merupakan perilaku sesorang dalam mempertahankan hak pribadi
serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan secara langsung
dan jujur dengan cara yang tepat. Perilaku asertif sebagai perilaku antar pribadi yang
bersifat jujur dan terus terang dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan
mempertimbangkan pikiran dan kesejahteraan orang lain.
Orang yang memiliki tingkah laku asertif adalah mereka yang menilai bahwa
oraang boleh berpendapat dengan orientasi dari dalam, dengan tetap memperhatikan
sungguh-sungguh hak-hak orang lain.Mereka umumnya memiliki kepercayaan diri
yang kuat.
Menurut Rathus (l986) orang yang asertif adalah orang yang
mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang
kebenaran. Mereka tidak menghina, mengancam ataupun meremehkan orang lain.
Orang asertif mampu menyatakan perasaan dan pikirannya dengan tepat dan jujur
tanpa memaksakannya kepada orang lain (Iriani, 2009).
Tips untuk berperilaku asertif yang dapat digunakan adalah (Pratanti, 2007)
Tentukan sikap yang pasti, apakah anda ingin menyetujui atau tidak. Jika
kamu belum yakin dengan pilihan anda, maka anda bisa minta kesempatan berpikir
sampai mendapatkan kepastian.
1. Berikan penjelasan atas penolakan anda secara singkat, jelas, dan logis.
Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak
lain.
2. Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak”
untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya
kurang sependapat…saya kurang bisa…..”
3. Pastikan pula, bahwa sikap tubuh anda juga mengekspresikan atau
mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi anda
…Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan
sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum.
4. Gunakan kata-kata “Saya tidak akan….” atau “Saya sudah memutuskan
untuk…..” dari pada “Saya sulit….”. Karena kata-kata “saya sudah
memutuskan untuk….” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang anda
tunjukkan.
5. Jika anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak
anda padahal anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap
atau tindakan yang dapat anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan
pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan.
6. Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang anda sampaikan (karena
anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang
lain)…Sebenarnya, akan lebih baik anda katakan dengan penuh empati
seperti : “saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu…..tapi
secara terus terang saya sudah memutuskan untuk …
7. Janganlah mudah merasa bersalah ! anda tidak bertanggung jawab atas
kehidupan orang lain…atau atas kebahagiaan orang lain.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 16
8. Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak
mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan,
keinginan dan kepentingan masing-masing.
Kategori Perilaku Asertif
Prinsip dan bentuk asertif antara lain:
1. Pada prinsipnya asertif adalah kecakapan orang untuk berkata tidak, untuk
meminta bantuan atau minta tolong orang lain
2. Kecakapan untuk mengekspresikan perasaan-perasaan positif maupun
negativ
3. kecakapan untuk melakukan inisiatif dan memulai pembicaraan.
Ada 3 kategori perilaku asertif yaitu :
1. Asertif penolakan yaitu ucapan untuk memperhalus, seperti misalnya : maaf !
2. Asertif pujian yaitu mengekspresikan perasaan positif, seperti misalnya
menghargai, menyukai, mencintai, mengagumi, memuji dan bersyukur
3. Asertif permintaan yaitu asertif yang terjadi kalau seseorang meminta orang
lain melakukan sesuatu yang memungkinkan kebutuhan atau tujuan
seseorang tercapai tanpa tekanan atau paksaan.
Teknik Manajemen Asertif
Terdapat beberapa teknik manajemen asertif yang berguna dalam
menanggapi situasi yang cenderung menjadi konflik.
1. Memberikan Umpan Balik
Membiarkan orang lain tahu bagaimana kita merespon perilaku mereka
dapat membatu menghindari kesalahpahaman dan membantu menyelesaikan
konflik yang tidak dapat dihindari dalam suatu hubungan. Ketika kita memilih
untuk menyampaikan umpan balik negatif kepada orang lain, gunakan teknik
komunikasi yang tidak terkesan mengancam. Kriteria untuk umpan balik yang
bermanfaat adalah sebagai berikut:
 Difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya.
 Bersifat deskriptif bukan evaluatif.
 Fokus pada reaksi kita sendiri bukan maksud orang lain.
 Bersifat spesifik bukan umum.
 Difokuskan pada penyelesaian masalah.
 Umpan balik disampaikan secara pribadi.
2. Meminta Umpan Balik dari Orang Lain
Kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat.
Pada saat bersamaan kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain
untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita. Kemampuan
kita untuk mendengar kritik atau saran tanpa sikap defensif atau marah,
mengakui ketika kita berbuat kesalahan, dan mendorong orang lain untuk
memberikan umpan balik kepada kita.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 17
Mereka juga membantu kita untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada
praktik profesional kita yang mungkin perlu perbaikan dan membantu
meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan orang lain.
3. Menentukan Batasan
Bertindak asertif dalam menentukan batasan berarti mengambil
tanggungjawab untuk keputusan yang diambil, bagaimana menghabiskan
sumber daya pribadi tanpa merasa marah kepada orang lain yang mengajukan
permintaan tersebut.
Ketika menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah
menentukan seberapa jauh kita mau memenuhi permintaan tersebut. Jika perlu
waktu untuk mengambil keputusan, menunda keputusan adalah tindakan yang
tepat asalkan kita kembali ke orang tersebut dalam jangka waktu yang telah
ditetapkan.
4. Membuat Permintaan
Meminta sesuatu yang diinginkan dari orang lain secara langsung juga
diperlukan pada hubungan yang sehat. Jika kita berada pada posisi manajemen,
menyatakan keinginannya dengan jelas dari orang lain adalah suatu bagian
penting untuk mencapai tujuan organisasi.
Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan seperti meminta
pertolongan, adalah suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus
percaya bahwa orang lain akan meresponnya secara asertif, termasuk berkata
"tidak". Kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak
permintaan kita dengan cara yang asertif.
5. Berlaku Persisten
Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk
menjamin bahwa hak-hak anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan
batasan atau telah berkata "tidak", lalu orang-orang disekitar kita akan membujuk
untuk mengubah pikiran.
Jika kita mengulangi pernyataan keputusan itu dengan santai, kita telah
bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon,
mengulangi pernyataan keputusan dengan santai, sering disebut respon "kaset
rusak" (Smith, 1975).
6. Membingkai Kembali
Menurut Kaufman, bingkai adalah jalan pintas kognitif yang digunakan
orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal.
Teknik pembingkaian kembali juga termasuk:
a. Fokus membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok tujuan
yang terbatas.
b. menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain.
c. Menentukan kesamaan pandangan/tujuan. Mencari hal-hal yang sama-sama
disetujui dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif jangka
panjang.
d. Mengenali kesempatan untuk mencari solusi-solusi yang belum
dieksplirasi/difikirkan lebih mendalam.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 18
e. Mengenali perbedaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang
bersamaan mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi
konflik.
7. Mengabaikan Provokasi
Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk
"menang" dengan cara menghina atau mengintimidasi orang lain. Misalnya,
pasien yang marah atau putusa asa mungkin menyerang dengan serangan
personal.
Farmasis yang merasa dikritik secara tidak adil mungkin merespon
dengan sikap agresif atau sarkastik. Konflik interpersonal antara profesional di
bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi.
Abaikan komentar yang bersifat mencela dan tetap fokus pada
penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat kearah yang
dapat merusak hubungan.
8. Merespon Kritik
Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur
karena kita biasanya memegang dua keyakinan irasional yang umumnya sebagai
berikut:
Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal
Bahwa kita harus benar-benar kompeten melakukan segala hal tanpa
kesalahan.
Pada beberapa kasus kita mungkin ingin membalas dendam dengan
melakukan serangan balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu-
satunya meniadakan perasaan itu dan untuk memulai mengatasi kritik dengan
layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang
mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain.
MENGEVALUASI PENGGUNAAN WAKTU
Kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian
atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983).
Evaluasi adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau
negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya
orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya
Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh
rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung.
Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian,
atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Jadi mengevaluasi waktu
berarti kita akan mengevaluasi hal-hal yang telah dan kelak akan dilakukan.
Evaluasi Pemanfaatan Waktu Sehari
Untuk mengenali bagaimana cara memanfaatkan waktu dalam sehari, maka
kita dapat mengevaluasi kegiatan dengan bertanya kepada diri sendiri, antara lain:
1. Berapa jam yang digunakan untuk melakukan perencanaan?
2. Berapa jam yang dimanfaatkan untuk bekerja optimal?
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 19
3. Berapa jam yang digunakan untuk membaca, memahami, dan berbagi atas
suatu pengetahuan dan pengalaman (belajar)?
4. Berapa jam yang dimanfaatkan untuk perjalanan menuju tempat bekerja dan
pulang kembali ke rumah?
5. Berapa jam yang digunakan untuk beristirahat, berolahraga, dan bersantai
(sejenak)?
6. Berapa jam yang dimanfaatkan untuk keluarga?
7. Dan berapa jam yang digunakan untuk masyarakat sekitar (Personal Social
Responsibility)?
Dengan melakukan evaluasi manajemen waktu, maka kita dapat mengenali
bagaimana penggunaan waktu dalam sehari sehingga dapat menemukan hal-hal
mana saja yang menurut kita berlebihan porsi waktunya (misalnya makan terlalu
lama, ngobrol yang tak perlu dan lain sebagainya) dan mana yang kekurangan
porsinya.
Penyita Waktu Terbesar
Berapa banyak waktu yang dimiliki siswa terbaik atau mahasiswa terbaik
dalam sehari? 24 jam. Berapa banyak waktu yang dimiliki oleh orang – orang besar,
seperti ilmuwan penemu listrik Thomas Alva Edison, dalam sehari? 24 jam. Semua
orang memiliki waktu yang sama : 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam
sebulan, dan seterusnya.
Bila sumber daya waktu ini dianugerahkan sama persis kepada semua orang,
lantas kenapa pencapaian orang bisa begitu berbeda? Salah satu kuncinya adalah
manajemen waktu.
Kebanyakan orang tidak sadar bagaimana mereka mengisi waktu. Mereka
terus saja mengeluh tidak punya cukup waktu. Padahal bisa jadi waktu mereka
sebenarnya diisi dengan hal – hal yang tidak bermanfaat. Maka, langkah pertama
dari manajemen waktu ini adalah dengan memantau penggunaan waktu kita.
Penyita waktu manusia, disadari atau tidak adalah waktu untuk tidur dan
berkomunikasi. Komunikasi di sini, adalah penggunaan media yang tidak bermanfaat,
seperti bergumul di social network(Facebook, twitter, dll). Komunikasi yang digunakan
tidak sia-sia jika memang digunakan untuk hal-hal yang positif dan bersifat publikatif.
Bukan bermain semata.
Tidurnya manusia juga menjadi penyita waktu terbanyak, karena rata-rata 7
jam setiap hari dilewati dengan tertidur. Bisa kita hitung 7 jam perhari, berarti dalam 1
bulan, manusia tidur sebanyak 210 jam. Begitu seterusnya.
MENGELOLA WAKTU SECARA PRODUKTIF
Strategi Untuk menyusun Jadwal
Selanjutnya dalam memudahkan kita mengambil langkah perlangkahnya
untuk manajemen waktu ini, tentunya kita memerlukan strategi dalam menyusun
jadwal agar lebih efektif. Berikut adalah strategi yang dapat kita pakai dalam
menyusun jadwal mingguan.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 20
a. Buat daftar kegiatan yang hendak dikerjakan
 Tuliskan Aktivitas Tetap
Mulailah mengisi jadwal mingguan dengan mengisikan aktivitas tetap.
Termasuk dalam aktivitas tetap adalah kuliah, praktikum, makan, tidur,
pertemuan/rapat rutin di organisasi/ekstrakurikuler, ibadah.
 Tambahkan Waktu Belajar Tetap
Kita perlu memberikan waktu yang memadai untuk waktu belajar
mandiri bagi setiap SKS mata kuliah yang diambil. Waktu belajar mandiri
digunakan untuk membaca ulang bahan, mengerjakan tugas, dan membuat
alat bantu belajar. Sebagai acuan awal gunakan rasio 2 banding 1, yaitu 2 jam
belajar mandiri untuk setiap SKS. Ada pelajaran yang memerlukan lebih dan
ada pula yang kurang, kita dapat fleksibel dengan angka ini.
Namun perlu diingat bahwa dengan berjalannya waktu dan bahan
kuliah yang semakin banyak, kita akan membutuhkan waktu yang lebih
banyak untuk membaca ulang, membaca ulang dan membaca ulang bahan
kuliah untuk minggu ini, minggu lalu atau minggu sebelumnya. Kita perlu
membuat alat bantu belajar untuk dipergunakan pada waktu mengulang yang
akan datang. Kita pun perlu menduga soal dan waktu untuk mengerjakannya.
Pertimbangkan kiat – kiat berikut pada saat kita menyusun waktu
belajar tetap
 Mulailah mengisi belajar tetap pada waktu yang paling mudah bagi kita
untuk berkonsentrasi, misalnya pagi jam 04.00 – 06.00 dan malam jam
21.00 – 23.00. Gunakan waktu ini untuk mata kuliah yang “berat” dan
tidak kita sukai. Waktu siang diantara dua kuliah dapat kita pakai untuk
mata kulaih yang tidak terlalu berat.
 Rencanakan waktu belajar dalam blok waktu 50 menit. Waktu yang terlalu
pendek belum sampai menyebabkan kita benar – benar terlibat dengan
bahan yang dipelajari. Bila kita belajar lebih dari 50 menit, pemahaman,
konsentrasi, dan kemampuan mengingat akan turun. Setelah satu blok 50
menit, kita dapat mengambil istirahat 10 menit. Distribusikan waktu belajar
mandiri ini setiap hari sepanjang minggu.
 Hindari belajar secara maraton, katakan 7 – 8 jam sekaligus. Kita dapat
belajar dalam 3 blok masing – masing 50 menit, satu blok berikutnya kita
dapt melakukan hal yang ringan misalnya merapikan buku – buku,
membersihkan kamar, selanjutnya kembali dengan belajar. jikas kita
memiliki blok waktu yang sangat panjang, hindari menggunakannya untuk
satu mata kuliah, pakailah untuk mata kuliah yang berbeda.
 Pada masing – masing waktu belajar buatlah sasaran yang realistik.
 Tambahkan Waktu Belajar Fleksibel
Selain waktu belajar tetap, kita perlu menjadwalkan waktu belajar
fleksibel. Ini akan sangat berguna sebagai jaring pengaman bila kita tidak
dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah pada waktu belajar tetap.
Pada awal semester, mungkin kita belum perlu jam belajar mandiri yang
banyak, waktu belajar fleksibel dapat kita jadikan waktu bebas.
Setelah mengisi aktivitas tetap, waktu belajar tetap dan waktu belajar
fleksibel yang tetap tiap minggu, kita dapat membuat jadwal mingguan baru
sebelum menambahkan kegiatan lain pada jadwal.
 Tambahkan Waktu Untuk Kegiatan Ekstrakurikuler Dan Kegiatan Pribadi
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 21
Kegiatan ekstrakurikuler penting untuk melatih kita berorganisasi dan
bekerjasama. Jadi, luangkan waktu untuk kegiatan ini. Namun jangan lupa
tugas utama kita saat ini adalah belajar. jangan lupa juga memasukkan tugas
– tugas yang sifatnya pribadi seperti membersihkan kamar, mencuci baju dan
lain – lain.
 Tambahkan Waktu Untuk Rileks
Tentu saja kita perlu waktu untuk bersantai. Agar tidak lepas kendali,
ada baiknya waktu untuk keperluan ini pun kita rencanakan.
b. Buat skala prioritas dari setiap kegiatan
Untuk mengoptimalkan penggunaan waktu, kita perlu membuat skala
prioritas dari seabrek kegiatan yang harus kita lakukan. Setelah semua
kegiatan didaftarkan, golongkan mereka berdasarkan skala prioritas kita.
Misalnya, angka 1 untuk kegiatan – kegiatan yang dianggap paling penting.
Angka 2 untuk kegiatan yang tikda begitu penting dan seterusnya.
Tidak ada kata benar atau salah dalam mengurutkannya karena
memang setiap diri kita memiliki prioritas yang berbeda dalam hidup. Mungkin
untuk si A kegiatan bersama keluarga adalah yang paling penting sedang untuk
si B kegiatan organisasi sangat penting untuk didahulukan. Terserah saja. Yang
penting buatlah skala prioritas yang memang sesuai dengan visi dan misi hidup
kita. Dan yang tak kalah penting, tentu saja harus realistis.Kita tidak bisa
mengikuti rasa malas dan menaruh belajar di papan bawah. Kalau mau lulus
dengan baik, tentu saja kita perlu menempatkannya walau tidak harus menjadi
prioritas pertama. Sekali lagi, semua tergantung diri kita masing -masing.
c. Perkirakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tiap kegiatan
Waktu yang kita butuhkan untuk tiap kegiatan dapat diperkirakan dari
pengalaman – pengalaman kita sebelumnya. Hanya saja untuk tiap aktivitas
kita patut bertanya :
 Apakah pengerjaannnya selama ini sudah efisien?
 Apakah kita dapat mengerjakannya dengan lebih cepat?
 Apa yang dapat kita lakukan untuk dapat mengoptimalkan aktivitas
tersebut?
Untuk kegiatan – kegiatan tertentu seperti mengerjakan tugas, ada
baiknya kita memberikan waktu tambahan. Jadi, kalau kita memperkirakan
tugas tersebut dapat selesai dalam waktu 2 jam, kita bisa menambahnya
setengah jam. Hal ini dapat dipertimbangkan karena memang ada hal – hal
tertentu yang punya kecenderungan molor waktu pengerjaannya. Terutama
kegiatan yang memiliki tingkat kerumitan tinggi atau berhubungan dengan
orang lain.
Selain itu, kita perlu realistis dalam memperkirakan waktu pengerjaan.
Misalnya saja, untuk ujian Kimia Dasar minggu ini kita hanya menyediakan
waktu belajar 2 jam. Padahal bahannya saja sampai 4 bab dan kita belum
pernah membacanya sama sekali. Tentu tidak realistis kalau di saat yang sama
kita juga menginginkan untuk mendapat nilai A.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 22
d. Alokasikan waktu untuk tiap kegiatan
Amati diri sendiri. Apakah kita tipe orang yang bisa berkonsentrasi di
pagi hari ataukah tipe yang lebih suka bekerja di malam hari? Tiap orang
memiliki waktu puncak produktif yang berbeda – beda. Kita harus bisa
memanfaatkan sebisa mungkin waktu produktif itu untuk hal yang memang
menuntut konsentrasi tinggi seperti belajar misalnya. Sedang waktu dimana kita
cenderung sering melamun dapat dipakai untuk kegiatan lain misalnya saja
mencuci pakaian atau membereskan kamar.
e. Evaluasi penerapan jadwal
Setelah selesai minggu kedua, mungkin sekali kita menemukan masih
adanya selisih yang cukup besar antara pemakaian waktu yang kita
rencanakan dan yang kita pantau. Penyebab perbedaan ini kemungkinan besar
pada belum terbiasanya kita mengikuti rencana, cobalah untuk terus berdisiplin
terhadap rencana kita.
Setelah beberapa bulan boleh jadi kita merasa perlu untuk melakukan
siklus pemantauan dan perencanaan waktu, kita juga dapat melakukan evaluasi
untuk selanjutnya dapat menyesuaikan perencanaan waktu.
Bila kita telah dapat menjadikan manajemen waktu sebagai kebiasaan,
tidak hanya sekedar teknik, maka kita akan memperoleh manfaatnya pada
jangka panjang, yaitu kita akan memiliki kesadaran atas pemanfaatan waktu
yang efektif.
f. Belajar Bilang “tidak”
Biasanya yang paling sulit adalah mengatakan “tidak”. Terutama pada
ajakan teman. Akibatnya tak jarang waktu yang semestinya digunakan untuk
belajar malah dipakai untuk berbincang – bincang atau pergi jalan – jalan tanpa
direncanakan. Belajarlah untuk mengatakan “tidak” pada hal yang sekiranya
akan menyita waktu kita dan kurang bermanfaat. Sediakanlah waktu khusus
untuk bersosialisasi dengan teman, dan sebisa mungkin minimalkan aktivitas
mendadak yang memakan jadwal waktu yang telah direncanakan.
FAKTOR PENGHAMBAT MANAJEMEN WAKTU EFEKTIF
1. Prokrastinasi (Menunda pekerjaan)
 Menulis laporan (sulit) > < membuka e-mail / data komputer (mudah)
 Deadline membuat frustasi dan menghambat penyelesaian tugas > <
Deadline menolong menyusun rencana dan prioritas daftar yang akan
dikerjakan.
 Bekerja baik dibawah tekanan waktu > < banyak waktu diperlukan untuk
menyelesaikan tugas.
2. Perfeksionis
 Ditumbuhkan sejak dini (sejak sekolah)
 Dapat mengarah ke prokrastinasi, oleh karena : takut salah dan cenderung
mengerjakan tugas secara berulang-ulang
3. Tidak Mampu membuat prioritas
 Tidak bisa „memboboti‟ / menilai pekerjaan : lama, urgensi (segera atau
nanti) dan berat – ringannya pekerjaan.
BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 23
 Tidak bisa menyusun berbagai pekerjaan secara sistematis
 Dapat diminimalisir dengan cara menetapkan kategori pekerjaan yaitu
berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya.
Banyak hal yang dapat mengganggu terlaksananya kegiatan-kegiatan utama
dalam proses pencapaian tujuan Anda. Beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah:
a. Zona nyaman serta zona berani
b. Ketakutan menjadi penghambat
c. Bangkit lagi ketika gagal
d. Menaklukkan cobaan
e. Tidak berani berkata TIDAK
DAFTAR PUSTAKA
Ismail Jaili dan Fadillah Ulfa. Manajemen Waktu Untuk Meraih Kebahagiaan Dunia
Dan Akhirat : Wal „Ashr Demi Masa. Jakarta: Mutiara Media. 2011.
Malayu SP Hasibuan. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara.
2005.
Marion E. Haynes. Manajemen Waktu. Jakarta. 2010.
http://anugerahdino.blogspot.com/2014/11/teknik-manajemen-waktu-
berdasarkan_27.html
https://laveniaprameswari.wordpress.com/2012/12/07/manajemen-waktu/
http://aushaf-fahri.blogspot.com/2012/09/cara-membuat-skala-prioritas.html
http://bisnisukm.com/manajemen-waktu-merupakan-awal-sebuah-keberhasilan.html
http://personalityadityabayukusuma.wordpress.com/2010/12/27/pengertian-
manajemen/
http://public.slidesharecdn.com/stylesheets/ssplayer/

More Related Content

What's hot

Manajemen waktu (ki)
Manajemen waktu (ki)Manajemen waktu (ki)
Manajemen waktu (ki)
SaadahNailis
 
Presentasi motivasi diri
Presentasi motivasi diriPresentasi motivasi diri
Presentasi motivasi diri
Rona Binham
 
4 covey 7 habits win w in
4 covey 7 habits   win w in 4 covey 7 habits   win w in
4 covey 7 habits win w in
Rahmat Hidayat
 

What's hot (20)

8. gaya manajemen
8. gaya manajemen8. gaya manajemen
8. gaya manajemen
 
TIME MANAGEMENT
TIME MANAGEMENTTIME MANAGEMENT
TIME MANAGEMENT
 
7 habbits (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif)
7 habbits (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif)7 habbits (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif)
7 habbits (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif)
 
Manajemen waktu (ki)
Manajemen waktu (ki)Manajemen waktu (ki)
Manajemen waktu (ki)
 
Presentasi motivasi diri
Presentasi motivasi diriPresentasi motivasi diri
Presentasi motivasi diri
 
Kedisiplinan
KedisiplinanKedisiplinan
Kedisiplinan
 
Konsep Dasar Organisasi
Konsep Dasar OrganisasiKonsep Dasar Organisasi
Konsep Dasar Organisasi
 
Contoh-Service-Level-Agreement
Contoh-Service-Level-AgreementContoh-Service-Level-Agreement
Contoh-Service-Level-Agreement
 
Coaching untuk Peningkatan Kinerja
Coaching untuk Peningkatan KinerjaCoaching untuk Peningkatan Kinerja
Coaching untuk Peningkatan Kinerja
 
Etika kerja
Etika kerjaEtika kerja
Etika kerja
 
4 covey 7 habits win w in
4 covey 7 habits   win w in 4 covey 7 habits   win w in
4 covey 7 habits win w in
 
Ppt controlling
Ppt controllingPpt controlling
Ppt controlling
 
Ppt kedisiplinan
Ppt kedisiplinanPpt kedisiplinan
Ppt kedisiplinan
 
Organization Plan
Organization PlanOrganization Plan
Organization Plan
 
Kelompok 5 : Gaya Kepemimpinan
Kelompok 5 : Gaya KepemimpinanKelompok 5 : Gaya Kepemimpinan
Kelompok 5 : Gaya Kepemimpinan
 
Manajemen organisasi dan kepemimpinan
Manajemen organisasi dan kepemimpinanManajemen organisasi dan kepemimpinan
Manajemen organisasi dan kepemimpinan
 
Sikap Kerja Produktif
Sikap Kerja ProduktifSikap Kerja Produktif
Sikap Kerja Produktif
 
Teori dan Pengembangan Organisasi - Siklus daur hidup & perubahan organisasi
Teori dan Pengembangan Organisasi - Siklus daur hidup & perubahan organisasiTeori dan Pengembangan Organisasi - Siklus daur hidup & perubahan organisasi
Teori dan Pengembangan Organisasi - Siklus daur hidup & perubahan organisasi
 
Perilaku Empati
Perilaku EmpatiPerilaku Empati
Perilaku Empati
 
Organisasi Dan Manajemen
Organisasi Dan ManajemenOrganisasi Dan Manajemen
Organisasi Dan Manajemen
 

Similar to Manajemen waktu

Makalah manajemen waktu
Makalah manajemen waktuMakalah manajemen waktu
Makalah manajemen waktu
MJM Networks
 
Makalah pengantar manajemen
Makalah pengantar manajemenMakalah pengantar manajemen
Makalah pengantar manajemen
evi hermawati
 

Similar to Manajemen waktu (20)

Review journal Ali Pirdaus, Prof.Maisah
Review journal Ali Pirdaus, Prof.MaisahReview journal Ali Pirdaus, Prof.Maisah
Review journal Ali Pirdaus, Prof.Maisah
 
Rpp 10 (uh 2)
Rpp 10 (uh 2)Rpp 10 (uh 2)
Rpp 10 (uh 2)
 
Pengurusan Masa
Pengurusan Masa Pengurusan Masa
Pengurusan Masa
 
Rpp 6 pengertian,tujuan pengelolaan waktu
Rpp 6 pengertian,tujuan pengelolaan waktuRpp 6 pengertian,tujuan pengelolaan waktu
Rpp 6 pengertian,tujuan pengelolaan waktu
 
Pengurusan masa
Pengurusan masaPengurusan masa
Pengurusan masa
 
Time Management.pptx
Time Management.pptxTime Management.pptx
Time Management.pptx
 
tugas ekonomi
tugas ekonomitugas ekonomi
tugas ekonomi
 
Tugas sarman kel. 3
Tugas sarman kel. 3Tugas sarman kel. 3
Tugas sarman kel. 3
 
Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA
Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNATugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA
Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA
 
Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA
Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA
Tugas sarman kel. 3 AKPER PEMKAB MUNA
 
Makalah Ekonomi Manajemen X MIPA 1 SMAN 12 Tangerang
Makalah Ekonomi Manajemen X MIPA 1 SMAN 12 TangerangMakalah Ekonomi Manajemen X MIPA 1 SMAN 12 Tangerang
Makalah Ekonomi Manajemen X MIPA 1 SMAN 12 Tangerang
 
Makalah ekonomi (2)
Makalah ekonomi (2)Makalah ekonomi (2)
Makalah ekonomi (2)
 
Tugas eko12,Abiyyu faruq ikbar,bu ranti pusriana,materi Ekonomi Manajemen Sma...
Tugas eko12,Abiyyu faruq ikbar,bu ranti pusriana,materi Ekonomi Manajemen Sma...Tugas eko12,Abiyyu faruq ikbar,bu ranti pusriana,materi Ekonomi Manajemen Sma...
Tugas eko12,Abiyyu faruq ikbar,bu ranti pusriana,materi Ekonomi Manajemen Sma...
 
Makalah manajemen waktu
Makalah manajemen waktuMakalah manajemen waktu
Makalah manajemen waktu
 
Uts dasar dasar manajemen klara anitia (l1-c021047)
Uts dasar dasar manajemen  klara anitia (l1-c021047)Uts dasar dasar manajemen  klara anitia (l1-c021047)
Uts dasar dasar manajemen klara anitia (l1-c021047)
 
Manajemen Waktu_BK_Rosita.pptx
Manajemen Waktu_BK_Rosita.pptxManajemen Waktu_BK_Rosita.pptx
Manajemen Waktu_BK_Rosita.pptx
 
MANAJEMEN WAKTU
MANAJEMEN WAKTUMANAJEMEN WAKTU
MANAJEMEN WAKTU
 
Makalah pengantar manajemen
Makalah pengantar manajemenMakalah pengantar manajemen
Makalah pengantar manajemen
 
Managemen umum @SharaRachman
Managemen umum @SharaRachmanManagemen umum @SharaRachman
Managemen umum @SharaRachman
 
Inisiasi 1
Inisiasi 1Inisiasi 1
Inisiasi 1
 

More from EDUCATIONAL TECHNOLOGY

More from EDUCATIONAL TECHNOLOGY (20)

Adobe Photoshop Cs3
Adobe Photoshop Cs3Adobe Photoshop Cs3
Adobe Photoshop Cs3
 
Materi tik kelas 9
Materi tik kelas 9Materi tik kelas 9
Materi tik kelas 9
 
Kamus istilah komputer
Kamus istilah komputerKamus istilah komputer
Kamus istilah komputer
 
Bahan ajar TIK
Bahan ajar TIKBahan ajar TIK
Bahan ajar TIK
 
Artikel henry
Artikel henryArtikel henry
Artikel henry
 
Artikel paulina jd
Artikel paulina jdArtikel paulina jd
Artikel paulina jd
 
Kumpulan karya kahlil gibran
Kumpulan karya kahlil gibranKumpulan karya kahlil gibran
Kumpulan karya kahlil gibran
 
Teamwork dalam organisasi
Teamwork dalam  organisasiTeamwork dalam  organisasi
Teamwork dalam organisasi
 
Pengambilan keputusan Organisasi
Pengambilan keputusan OrganisasiPengambilan keputusan Organisasi
Pengambilan keputusan Organisasi
 
Manajemen pembaharuan
Manajemen pembaharuanManajemen pembaharuan
Manajemen pembaharuan
 
Manajemen organisasi
Manajemen organisasiManajemen organisasi
Manajemen organisasi
 
Manajemen konflik organisasi
Manajemen konflik organisasiManajemen konflik organisasi
Manajemen konflik organisasi
 
Manajemen kesekretariatan organisasi
Manajemen kesekretariatan organisasiManajemen kesekretariatan organisasi
Manajemen kesekretariatan organisasi
 
Manajemen forum
Manajemen forumManajemen forum
Manajemen forum
 
Manajemen & administrasi organisasi
Manajemen & administrasi organisasiManajemen & administrasi organisasi
Manajemen & administrasi organisasi
 
Komunikasi organisasi
Komunikasi organisasiKomunikasi organisasi
Komunikasi organisasi
 
Kepemimpinan transformasional
Kepemimpinan transformasionalKepemimpinan transformasional
Kepemimpinan transformasional
 
Kepemimpinan dan perilaku organisasi
Kepemimpinan dan perilaku  organisasiKepemimpinan dan perilaku  organisasi
Kepemimpinan dan perilaku organisasi
 
Iklim dan kesehatan organisasi
Iklim dan kesehatan organisasiIklim dan kesehatan organisasi
Iklim dan kesehatan organisasi
 
Efektivitas organisasi
Efektivitas organisasiEfektivitas organisasi
Efektivitas organisasi
 

Manajemen waktu

  • 1. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 1 MANAJEMEN WAKTU ( KONSEP DAN STRATEGI ) https://bahrurrosyididuraisy.wordpress.com/ PENDAHULUAN Waktu itu ibarat uang, sangatlah berharga. Tapi bedanya, uang bisa saja kita dapatkan kembali jika hilang atau mungkin kita bisa mendapatkan gantinya, sedangkan waktu yang hilang sampai kapanpun tidak akan pernah bisa kembali. Lalu sudah seberapa maksimalkah kita memanfaatkan waktu kita yang berharga ini ? Kebanyakan dari kita hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia dan akhirnya menyesal. Sebenarnya jika kita ingin mengatur kehidupan kita, merubahnya menjadi menyenangkan itu mudah saja, yang kita butuhkan adalah mengatur waktu kita sebaik-baiknya. Pengaturan waktu yang efektif merupakan hal yang mendasar untuk lingkup berbagai wilayah kehidupan. Manajemen waktu dapat membuat kita menyelesaikan pekerjaan secara cepat. Selain itu manajemen waktu dapat meningkatkan kualitas kehidupan baik dalam pekerjaan maupun diluar pekerjaan Manajemen waktu merupakan alat yang efektif untuk membantu seseorang maupun organisasi meraih sasarannya sehingga penting untuk memahami dan mengamalkan ilmu manajemen waktu. Bagaimanapun juga, waktu adalah karunia Allah SWT yang bersifat tidak dapat disimpan, tidak dapat diulang, dan tidak dapat dihentikan. Sehingga, ketika tujuh menit kita lewatkan begitu saja, tanpa ada amalan yang terbaik yang kita lakukan, maka hilanglah sudah tujuh menit tersebut dan jadilah kita merugi sebagaimana yang Allah SWT sampaikan dalam QS Al Ashr Ayat 1-3 berikut: (1) Demi Masa. (2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, (3) kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.
  • 2. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 2 KONSEP MANAJEMEN WAKTU Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Manajemen waktu merupakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, dan pengawasan produktivitas waktu. Waktu menjadi salah satu sumber daya unjuk kerja. Sumber daya yang mesti dikelola secara efektif dan efisien. Efektifitas terlihat dari tercapainya tujuan manajemen waktu yang telah ditetapkan sebelumnya.Dan efisien tidak lain mengandung dua makna,yaitu: makna pengurangan waktu yang ditentukan, dan makna investasi waktu menggunakan waktu yang ada. Jika kita pisahkan menurut kata penyusunnya yaitu manajemen berasal dari kata manage artinya:mengatur atau mengelola. kemudian diikuti dengan kata waktu itu sendiri adalah terdiri dari siang dan malam yang tersusun dari satuan waktu terkecil detik,menit,dan jam,hari,minggu,bulan,tahun dan seterusnya. Manajemen Waktu adalah :Usaha untuk memanfaatkan setiap bagian dari waktu untuk dilakukan aktivitas tertentu yang mana telah ditentukan target dalam jangka waktu tertentu suatu aktivitas atau pekerjaan harus sudah diselesaikan. Memang akan sulit sekali untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan sesuai dengan waktu yang telah ditargetkan, namun jika kita ingin hasil yang maksimal hal itu harus dilakukan setidaknya jika kita belum mampu 100 % sesuai target kita berupaya semaksimal mungkin itu lebih baik. Manajemen waktu yang baik adalah : dengan membuat data aktivitas atau pekerjaan dan menentukan skala prioritas dari setiap pekerjaan tersebut. Di sini perlu kita tahu bahwa setiap pekerjaan pastilah penting namun dari daftar pekerjaan penting itu ada yang lebih penting yaitu pekerjaan yang mendesak atau genting dan biasanya berhubungan dengan deadline. Letakkanlah aktivitas yang genting pada daftar yang paling atas untuk segera dikerjakan baru diikuti dengan daftar urutan pekerjaan lain yang kurang prioritasnya FILOSOFI MANAJEMEN WAKTU 1. Filasafat idealisme Suatu keadaan yang amat sempurna yang menjadi pola dari segala sesuatu yang kita dapati didunia ini, filsafat ini diterapkan dalam manajemen marxis dan codetermination yang popular di Negara sosialis, jerman dan skandinavia. 2. Filsafat realisme Dunia ini dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya adalah kenyataan yang tidak dapat dibantah, filsafat ini beriringan dengan revolusi industri inggeris yang disusun Frederick W. taylor. 3. Filsafat neo-thomisme Kenyataan itu rasio, keadaan, dan Tuhan sedangkan kebenaran adalah intuisi, segala sesuatu yang masuk akal dan yang diwahyukan Tuhan banyak dipraktikan oleh manajemen katholik yang merujuk pada bible.
  • 3. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 3 4. Filsafat pragmatism Pengalaman dan segala sesuatu yang dapat dialami oleh manusia, keberanaran dapat dilihat dari pendapat umum yang banyak merujuk pada manajemen yang berlaku umum mellaui opini public. 5. Filsafat eksistensialisme Kenyataan adalah eksistensi atau keadaan yang menyerupai itu, kebenaran adalah pendapat yang sejalan dengan pandangan pribadi seseorang, peran manusia menjadi perhatian utama. PENTINGNYA MANAJEMEN WAKTU Mengapa kita perlu memanajemen waktu kita sebaik mungkin ? Selain karena waktu itu sangat berharga, ada beberapa alasan lainnya, diantaranya :  Karena waktu kita terbatas, sementara pekerjaan senantiasa bertambah.  Manajemen waktu membantu kita untuk berkerja lebih efektif dengan skala prioritas.  Manajemen waktu menjauhkan kita dari stress kita dapat mengontrol setiap tugas dan tenggat waktunya  Manajemen waktu membuat kita lebih produktif (dapat menghindari hambatan dan gangguan yang menghalangi dari tujuan. Sebuah sistem manajemen waktu yang sesuai dengan kebutuhan, dapat membantu Kita menyelesakan pekerjaan dalam waktu singkat. Apapun prioritasnya, mempelajari cara mengatur hidup dan belajar akan membantu kita mencapai tujuan hidup kita. Berikut ini adalah jawaban untuk pertanyaan “Mengapa Saya harus me- manage waktu saya?” Karena sistem manajemen waktu yang efektif dapat : 1. Membantu Kita membuat prioritas. Misalnya bertemu kekasih yang sudah seminggu tak bertemu atau mengejakan bahan presentasi tugas yang akan dikumpul besok. 2. Mengurangi kecenderungan untuk menunda. Nah… biasanya hal yang satu ini yang membuat manusia-manusia di dunia ini susah sekali untuk sukses. Saya pribadi merupakan penderita akut penyakit ini., sistem manajemen waktu adalah obatnya. 3. Membantu kita menghindari “tabrakan waktu”. Dengan menulis semua aktivitas, tugas, janji, pesan dan pengingat Kita hanya disatu tempat, akan membantu kita memastikan bahwa dua atau tiga kegiatan tidak dilaksanakan pada waktu yang bersamaan. Jika terjadi tabrakan waktu, kita akan mengetahui sejak awal dan memungkinkan untuk mengatur kembali jadwal kita. 4. Memberi kita kebebasan dan kendali. Manajemen waktu tidak akan membatasi ruang gerak seseorang. Sebuah kendali terhadap bagian dari hari kita, memungkinkan kita untuk menjadi fleksibel pada hari-hari berikutnya. 5. Membantu kita menghindari perasaan bersalah. Kita akan belajar dengan nyaman jika kita menyediakan waktu tertentu untuk melakukannya. Tanpa sebuah rencana untuk mengerjakan tugas kita saat ini. Kita mungkin merasa “kepala kita terbebani”. Bahkan juga ketika kita tidak sedang mengerjakan tugas tersebut.
  • 4. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 4 6. Membantu mengevaluasi kemajuan kita. Jika kita menyadari bahwa kita dapat membaca 75 halaman perminggu, sedangkan pada minggu ini kita hanya membaca 60 halaman, maka kita memerlukan kalkulator untuk mengetahui bahwa kita memang tertinggal pada minggu ini. Dan dengan begitu kita akan tau, „sedang dalam posisi apa saya ini?‟ artinya dibutuhkan sedikit waktu untuk mengejar ketertinggalan itu. Dan keuntungan buat kita, kita dapat langsung menyadarinya, dan segera bertindak untuk itu. PRAKTIK MANAJEMEN WAKTU Aplikasi dari filsafat melahirkan beberapa tahapan penerapan manajemen antara lain : 1. Manajemen partisipasi 2. Manajemen berdasarkan hasil (result management) 3. Manajemen memperkaya pekerjaan (job enrichment), 4. Manajemen prioritas produktifitas, 5. Manajemen berdasarkan kemungkinan (contingency management) 6. Manajemen pemanfaatan konflik Odiorne membagi praktek manajemen dengan beberapa tahapan : 1. Manajemen memaksa (1920-an dan 1930-an) 2. Manajemen mementingkan hubungan kemanusiaan (1940-an) 3. Manajemen menggunakan tekanan (1950-an) 4. Manajemen menurut keadaan (1960-an) Bennet Silalahi (2001:10) membagai praktik manajemen menjadi 5 tahapan antara lain : 1. Manajemen teknologis 2. Manajemen administrative 3. Manajemen sistem kemanusiaan 4. Manajemen ilmiah 5. Manajemen sasaran dan hasil EFEK-EFEK MANAJEMEN WAKTU Orr dan Traccy menjelaskan efek-efek dalam manajemen waktu yakni sebagai berikut : 1. Dapat meningkatkan keteraturan hidup, percaya diri dan disiplin. 2. Meningkatkan kualitas kehidupan diluar jam kerja. 3. Meningkatkan penghasilan pada tiap individu. 4. Meningkatkan kepuasan kerja pada individu. 5. Mengurangi kesalahan yang dibuat dalam pekerjaan. 6. Mengurangi jumlah krisis yang dihadapi individu. 7. Menurunnya tingkat stress individu. 8. Dapat menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dan diperoleh prestasi kerja yang baik. 9. Dapat meningkatkan kecepatan kerja. 10. Meningkatkan kualitas dan produktivitas kerja.
  • 5. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 5 Dari uraian diatas dapat kita lihat betapa banyaknya efek-efek positif yang dihasilkan ketika individu dapat memanajemen waktunya dengan baik. ASPEK-ASPEK MANAJEMEN WAKTU Setelah melihat efek positif terhadap manajemen waktu yang mampu membuat penyelesaian pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Berikutnya aspek- aspek dalam manajemen waktu. Menurut Atkinson, aspek-aspek dalam manejemen waktu mencakup hal-hal berikut: 1. Menetapkan Tujuan Bagian utama dari pengelolaan waktu adalah menetapkan tujuan dari apa yang akan dikerjakan. Menetapkan tujuan dapat membantu individu untuk memfokuskan perhatian terhadap pekerjaan yang akan dijalankan, fokus terhadap tujuan dan sasaran yang hendak dicapai serta mampu merencanakan suatu pekerjaan dalam batasan waktu yang disediakan. 2. Menyusun Prioritas Menyusun prioritas perlu dilakukan mengingat waktu yang tersedia terbatas dan tidak semua pekerjaan memiliki nilai kepentingan yang sama. Urutan prioritas dibuat berdasarkan pringkat, yaitu dari prioritas terendah hinnga pada prioritas tertinggi. Urutan prioritas ini dibuat dengan mempertimbangkan hal mana yang dirasa penting, mendesak, maupun vital yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Atkinson berpendapat menyusun prioritas membutuhkan ketelitian tinggi dan kemampuan menyusun strategi agar hasil pokok penggunaan waktu dapat tercapai secara maksimal. 3. Menyusun Jadwal Aspek lainnya dalam manajemen waktu adalah membuat susunan jadwal. Jadwal merupakan daftar kegiatan yang akan dilaksanakan beserta urutan waktu dalam priode tertentu. Fungsi pembuatan jadwal adalah menghindari bentrokan kegiatan, menghindari kelupaan, dan mengurangi ketergesaan. 4. Bersikap Asertif Aspek manajemen waktu ini diartikan sebagai ekspresi bertanggungjawab dari perasaan dan pikiran seseorang terhadap orang tertentu pada waktu yang tepat. Sikap asertif dapat diartikan sebagai sikap tegas untuk berkata "Tidak" atau menolak suatu permintaan atau tugas dari orang lain dengan cara positif tanpa harus merasa bersalah dan menjadi agresif. 5. Bersikap tegas merupakan strategi yang diterapkan guan menghindari pelanggaran hak dan memastikan bahwa orang lain tidak mengurangi efektivitas penggunaan waktu. Dalam bersikap asertif tetap dibutuhkan pertimbangan matang dari segi konsekuensi atau besar kecilnya dampak poisitf dan negatif yang diterima individu. 6. Menghindari Penundaan Penundaan merupakan penangguhan suatu hal hingga terlambat dikerjakan. Penundaan dalam pelaksanaan tugas dapat menyebabkan ketidakberhasilan dalam menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, kemudian merusak jadwal kegiatan yang telah disusun secara apik serta mengganggu tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
  • 6. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 6 7. Meminimalkan Waktu yang Terbuang Pemborosan waktu mencakup segala kegiatan yang menyita waktu dan kurang memberikan manfaat yang maksimal. Hal tersebut sering menjadi penghalang bagi individu untuk mencapai keberhasilannya karena sering membuat individu menunda melakukan kegiatan yang penting. Canfield mengemukakan aspek-aspek manajemen waktu mencakup hal berikut ini: 1. Perencanaan Proses perencanaan diperlukan untuk membuat seseorang tetap pada pilihannya untuk menyeleksi pekerjaan yang ada dengan didorong oleh tekad untuk mengerjakan pekerjaan sampai tuntas. 2. Menetapkan Prioritas Menentukan prioritas berarti berusaha menentukan mana hal yang harus didahulukan berdasarkan tingkat kepentingannya. 3. Melakukan Delegasi Delegasi artinya menyerahkan suatu pekerjaan kepada orang lain yang dinilai tepat dan dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut sehingga waktu yang kita miliki akan lebih efisien. 4. Disiplin Diri Disiplin diri akan mengarahkan individu untuk mementingkan pada tugasnya sendiri dan menghindarkan diri hari hal-hal yang dapat menghambat penyelesaian tugas. Dapat disimpulkan dari penjelasan diatas bahwa aspek-aspek manajemen waktu mencakup adanya perencanaan, penetapan tujuan, menyusun prioritas, menghindari penundaan, menyusun jadwal, bersikap asertif, meminimalkan waktu yang terbuang, melakukan delegasi, dan adanya disiplin diri. SUMBER-SUMBER PEMBOROSAN WAKTU 1. menonton televisi 2. menelepon 3. melakukan perjalanan pulang pergi 4. melamun 5. menunggu 6. melayani tamu yang tidak diundang 7. mengerjakan pekerjaan lain yang seharusnya tidak dikerjakan Kegiatan pemborosan waktu merupakan kegiatan yang dilakukan secara berlebihan serta diluar jadwal perencanaan. Sebaiknya minimalkanlah waktu yang terbuang tersebut.
  • 7. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 7 TEKNIK MANAJEMEN WAKTU SECARA UMUM 1. Bawalah jadwal, dan ingatlah seluruh isi pemikiran Anda, percakapan, dan kegiatan yang harus Anda lakukan selama seminggu. Ini akan membantu Anda untuk memahami berapa banyak hal yang dapat Anda selesaikan dalam satu hari, dan kapan waktu-waktu berharga Anda akan berlalu. Anda akan dapat melihat berapa banyak waktu yang Anda luangkan untuk mencapai hasil, dan berapa banyak waktu yang telah Anda buang untuk kegiatan-kegiatan yang tidak produktif. 2. Segala kegiatan dan percakapan yang penting untuk kesuksesan Anda harus ada jangka waktunya. List pekerjaan Anda akan bertambah sangat banyak jika Anda mengisinya dengan hal-hal yang tidak bisa dikerjakan. Buatlah jadwal untuk diri Anda sendiri dimana Anda bisa meluangkan waktu untuk berpikir dan melakukan hal-hal yang produktif bagi diri Anda. Lakukanlah hal ini secara disiplin. 3. Rencanakanlah setidaknya 50% dari waktu yang Anda miliki untuk menghasilkan hal yang produktif. 4. Rencanakanlah waktu untuk beristirahat, menarik diri dari semua kesibukan yang Anda miliki. 5. Luangkan 30 menit pertama setiap harinya untuk merencanakan hari Anda. Jangan memulai aktivitas Anda sebelum Anda selesai merencanakannya. Saat yang paling penting dalam hari Anda adalah saat dimana Anda merencanakannya. 6. Luangkan waktu selama 5 menit untuk setiap undangan dan keputusan yang harus Anda datangi dan Anda ambil. Ini akan membantu Anda memperlihatkan prioritas yang harus diutamakan, dan membuat Anda merasa bahwa waktu tidak berlalu begitu cepat. Luangkan pula 5 menit setelah aktivitas atau keputusan yang Anda ambil untuk menentukan apakah target yang Anda tentukan hari ini tercapai atau tidak. Apakah ada yang terlewat, atau tidak. 7. Jangan ragu-ragu untuk menolak interupsi dari siapapun juga saat Anda benar-benar harus mengerjakan sesuatu sampai selesai. Adapun teknik yang lain antara lain : 1. Menilai bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda Sebagai langkah pertama dalam mengelola waktu yang lebih baik, Anda mungkin ingin menganalisis bagaimana Anda menghabiskan waktu Anda sekarang. Untuk melakukan hal ini, membagi hari menjadi segmen- segmen lima belas menit, kemudian mencatat apa yang Anda lakukan setiap lima belas menit. Setelah itu, review kali ini buku harian dan total waktu yang dihabiskan pada setiap aktivitas sepanjang hari. a. Misalnya, Anda mungkin bahwa Anda menghabiskan waktu tiga jam menonton televisi, berolahraga satu jam, satu jam belajar, dan dua belanja jam. Selanjutnya, mengevaluasi penggunaan waktu. b. Anda mungkin memutuskan Anda menghabiskan waktu terlalu banyak menonton TV dan terlalu sedikit waktu belajar. Berdasarkan evaluasi ini, memutuskan pada penyesuaian, tapi membuatnya spesifik. Cara yang
  • 8. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 8 baik untuk membuat perubahan ini adalah untuk membuat kontrak dengan diri sendiri yang mencakup imbalan untuk menjadi sukses. 2. Tetapkan Tujuan Hal yang paling penting yang dapat Anda lakukan untuk mengatur waktu adalah untuk mengatur harian, mingguan, bulanan, sasaran tahunan dan jangka panjang. Jika Anda tidak memiliki makna yang jelas mengenai mana Anda akan pergi dulu, Anda tidak akan dapat merencanakan bagaimana untuk sampai ke sana. Mengatur waktu penggunaan Anda untuk memaksimalkan peluang untuk mencapai tujuan Anda. 3. Belajarlah untuk memprioritaskan Setelah Anda menetapkan tujuan Anda, Anda perlu untuk memprioritaskan mereka dan kegiatan Anda. Tidak semua tujuan Anda akan persis penting. Fokus pada tujuan-tujuan yang paling penting bagi Anda, dan bekerja pada tujuan-tujuan lain setelahnya. Demikian pula, fokus pada aktivitas yang paling penting bagi pencapaian tujuan Anda tertinggi dan kegiatan lain sesudahnya. 4. Jauhkan jadwal Setelah Anda memiliki prioritas kegiatan Anda, Anda kemudian dapat menjadwalkan mereka ke rutinitas harian Anda. Kapan Anda pergi ke bank? Kapan Anda membeli bahan makanan? Jangan lupa untuk jadwal beberapa waktu relaksasi dan rekreasi, serta. 5. Anda Maksimalkan manfaat Dalam penjadwalan seluruh aktivitas Anda, ingat apa yang ahli manajemen waktu ada yang mengatakan: kita memperoleh 80% penghargaan kami pada hanya 20% dari kegiatan kami dan, sebaliknya, akuisisi hanya 20% dari hadiah kami pada 80% dari waktu kita habiskan. Apa ini menyatakan adalah bahwa kita perlu memastikan bahwa kami mengakui dan terlibat dalam 20% kegiatan yang memberikan kita 80% dari hadiah kita sebelum kita beralih ke kegiatan lain. 6. Anda Maksimalkan manfaat dengan mengatur waktu Anda. Fakta bahwa Anda membaca artikel ini berarti Anda punya waktu untuk melakukan teknik di atas dan menerapkannya pada kehidupan pribadi Anda TEKNIK MANAJEMEN WAKTU BERDASARKAN SKALA PRIORITAS Skala Prioritas adalah tingkat-tingkat yang memiliki kriteria tertentu atas segala sesuatu yang diutamakan. Berikut adalah beberapa hal-hal yang mempengaruhi Skala Prioritas : 1. Tingkat Urgensinya, yang mana yang harus didahulukan 2. Kesempatan yang dimiliki misalnya : obat, saat sakit menjadi hal utama dan yang lain menjadi hal kedua 3. Pertimbangan Masa deman, agar masa depan gemilang kita perlu mendapatkan pendidikan maka dari itu pendidikan beserta pelengkapnya harus di utamakan juga 4. Kemampuan diri 5. Tingkat pendapatan 6. Status Sosial 7. Lingkungan
  • 9. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 9 Tiga Kategori Prioritas Waktu a. Jangan dikerjakan b. Kerjakan Nanti c. Kerjakan Sekarang Tabel Kategori Prioritas Waktu NO Kategori Prioritas Waktu Kategori Karakteristik 1 Jangan Dikerjakan  Masalah dapat hilang tanpa diatasi  Sudah kedaluarsa  Dapat dikerjakan oleh orang lain 2 Dikerjakan Nanti  Tidak disertai jatuh tempo  Dapat ditunda  Dapat diperlambat Alasan penundaan tugas :  Tidak ingin memulai  Tidak tahu dari mana memulai  Tidak tahu dari mana memulai meskipun ingin memulai 3 Dikerjakan Sekarang Kebutuhan unit operasional harian Kegiatan-kegiatan yang telah ditunda, misal :  Kebutuhan staf  Kebutuhan peralatan  Rapat Manajemen waktu sangat dibutuhkan agar setiap individu dapat melaksanakan setiap kegiatannya secara efektif dan efisien. Terdapat beberapa teknik yang dapat digunakan dalam manajemen waktu. Salah satunya adalah teknik manajemen waktu berdasarkan skala prioritas. Pada manajemen waktu berdasarkan skala prioritas, pelaksanaan pekerjaan didahulukan berdasarkan skala prioritas. Skala prioritas mendahulukan pekerjaan yang penting dan mendesak, dilanjutkan dengan pekerjaan penting dan tidak mendesak, kemudian pekerjaan yang mendesak meski belum terlalu penting, , dan terakhir adalah pekerjaan yang tidak penting dan tidak mendesak. 1. Mendesak dan Penting Tipe pekerjaan penting dan mendesak harus di utamakan penyelesaiannya lebih dahulu. Tugas tersebut tidak dapat ditunda-tunda lagi. Kegiatan yang termasuk dalam kelompok ini merupakan hal penting dan harus dilakukan, tidak bisa ditunda pada lain waktu. Contohnya: Pekerjaan menghantar keluarga kecelakaan kerumah sakit, mengerjakan tugas kantor untuk diserahkan esok hari, dan lain sebagainya.
  • 10. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 10 Orang yang terbiasa bekerja pada kelompok ini akan cendrung stress, cepat lelah, dan berprestasi biasa-biasa saja karena semua kegiatan dilakukan secara terburu-buru. 2. Penting Tipe pekerjaan dengan prioritas ini harus disikapi dengan menjadwalkan pekerjaan dengan cermat. Jangan sampai pekerjaan penting diabaikan sehingga pekerjaan ini menjadi pekerjaan mendesak dan penting. Sebaiknya gunakan waktu produktif untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Kegiatan dalam kelompok ini mencakup kegiatan yang sudah terjadwal dengan baik, rutin. Contoh pekerjaan penting adalah mengerjakan tugas sesuai jadwal, olahraga terjadwal dan lain sebagainya. Orang yang berada dalam kelompok ini adalah mereka yang memiliki visi, mempunyai prioritas dalam hidupnya. Mereka akan melakukan perencanaan dalam mencapai visinya, menetapkan prioritas, mengerjakan hal penting terlebih dahulu dan menyelesaikan sisanya kemudian. Sifat individu yang bergabung dalam kelompok ini adalah orang dengan pola hidup terkendali, seimbang, dan berprestasi tinggi. 3. Mendesak dan Tidak Penting Pekerjaan ini terkadang datang dari orang di luar lingkungan kerja. Misalnya ketika mereka minta bantuan kepada Anda. Hal ini bisa saja mengganggu waktu produktif bekerja. Oleh karena itu sah-sah saja jika seseorang mengabaikan dan tidak membantunya jika pekerjaan Anda saat ini merupakan pekerjaan penting dan tidak dapat ditunda-tunda lagi penyelesaiannya. Kegiatan-kegiatan dalam kelompok ini merupakan kegiatan tidak penting namun terpaksa harus dilakukan. Seperti contoh menerima tamu, menemani teman, dan lain sebagainya. Umumnya pekerjaan ini tanpa direncanakan dan sulit dihindari. Kebiasaan bekerja pada kelompok seperti ini akan membuat seseorang menjadi kurang disiplin, prestasi rendah, tidak memiliki tujuan jelas dalam pekerjaan, karena selalu berusaha menyenangkan orang lain. 4. Tidak Mendesak dan Tidak Penting Kegiatan dalam kelompok ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara berlebihan dan berakibat tingkat kepentingannya rendah. Contohnya adalah menonton televisi dan tidur secara berlebihan. Orang dalam kelompok ini cendrung pemalas serta kurang bertanggung jawab. TEKNIK MANAJEMEN WAKTU BERDASARKAN DELEGASI Delegasi adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu. Ada alasan mengapa diperlukan pendelegasian, yaitu sebagai berikut : 1. Memungkinkan atasan dapat mencapai lebih dari pada mereka menangani setiap tugas sendiri.
  • 11. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 11 2. Agar organisasi dapat berfungsi lebih efisien. 3. Atasan dapat memusatkan tenaga kepada suatu tugas yang lebih diprioritaskan. 4. Dapat mengembangkan keahlian bawahan sebagai suatu alat pembelajaran dari kesalahan. 5. Karena atasan tidak mempunyai kemampuan yang dibutuhkan dalam pembuatan keputusan. Dibawah ini adalah prinsip – prinsip klasik yang dapat dijadikan dasar untuk delegasi yang efektif : 1. Prinsip scalar. 2. Prinsip kesatuan perintah. 3. Tanggung jawab, wewenang, dan akuntabilitas. Adapun Faktor yang memungkinkan gagalnya delegasi, yaitu: 4. Atasan merasa lebih jika mereka tetap mempertahankan hak pembuatan keputusan. 5. Atasan tidak ingin ambil resiko kalau saja bawahannya salah ataupun gagal dalam menjalankan wewenangnya. 6. Atasannya kurang atau tidak percaya kepada bawahannya. 7. Atasan takut apabila seorang bawahannya melakukan tugas dengan sangat baik dan efektif, sehingga dapat mengancam posisinya sebagai atasan. 8. Bawahan tidak menerima dengan alasan dapat menambah tanggung jawab yang sudah diterima. 9. Bawahan takut tidak dapat menjalankan tugas – tugas dengan benar dan dikatakan gagal. 10. Bawahan merasa tertekan apabila dilimpahkan tanggung jawab yang lebih besar. Salah satu teknik manajemen waktu selain Teknik Manajemen Waktu Berdasarkan Skala Prioritas adalah Teknik Manajemen Waktu Berdasarkan Delegasi. Delegasi adalah pemberian wewenang atau kekuasaan formal dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan tertentu kepada orang lain. Pelimpahan wewenang dari atasan kepada bawahan diperlukan agar organisasi dapat berfungsi secara efisien karena tidak ada atasan yang dapat mengawasi secara pribadi setiap tugas- tugas organisasi. Unsur-unsur yang menyangkut dengan delegasi adalah sebagai berikut: 1. Apa yang didelegasikan 2. Saling terbuka antara diberi delegasi dan menerima delegasi 3. Transparasi mengenai delegasi 4. Ada harapan yang diserahi delegasi 5. Kekuasaan yang diserahi sepenuhnya 6. Pengawasan yang wajar 7. Orang yang diserahi delegasi Delegasi lebih dari sekedar memberikan orang lain tugas untuk mengerjakan sesuatu. Dengan mengikuti cara pemilihan orang yang tepat dan teratur serta bijak, memilih bawahan dengan keahlian yang paling cocok dengan pekerjaannya, atau
  • 12. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 12 memilih staf atau karyawan yang sekiranya akan mendapatkan pengalaman yang berguna dari pekerjaan yang didelegasikan. Ada 4 hal yang harus diperhatikan dalam proses delegasi kekuasaan sehingga berjalan efektif. Keempat hal tersebut dinyatakan sebagai berikut: 1. Dalam pemberian suatu delegasi kekuasaan atau tugas haruslah dibarengi dengan pemberian tanggungjawab. 2. Kekuasaan yang didelegasikan harus pada orang yang tepat baik dari segi kualifikasi maupun fisik. 3. Mendelegasikan kekuasaan pada seseorang juga harus dibarengi dengan pemberian motivasi. 4. Pimpinan yang mendelegasikan kekuasaanya harus membimbing dan mengawasi orang yang menerima delegasi tersebut. Dengan demikian pendelegasian kekuasaan mempunyai manfaat ganda, diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Pimpinan dapat lebih fokus pada tujuan dan pekerjaan pokoknya 2. Putusan dapat dibuat dengan lebih cepat dan unit yang tepat 3. Inisiatiff dan rasa tanggung jawab bawahan dapat dimotivasi 4. Mendidik dan mengembangkan bawahan sehingga mampu diberi beban tugas yang lebih besar dan berat lagi nantinya. TEKNIK MANAJEMEN WAKTU BERDASARKAN ASERTIF Sebelumnya kita sudah mengenal dan membahas Teknik Manajemen Waktu Berdasarkan Delegasi. Selanjutnya kita akan membahas teknik manajemen waktu lainnya yakni Teknik Manajemen Waktu Berdasarkan Asertif. Asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan orang lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntuk untuk jujur terhadap dirinya dan juru pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun merugikan pihak lainnya. Pengertian Asertif Asertif dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyatakan diri dengan tulus, jujur, jelas, tegas, terbuka, sopan, spontan, apa adanya, dan tepat tentang keinginan, pikiran, perasaan dan emosi yang dialami, apakah hal tersebut yang dianggap menyenangkan ataupun mengganggu sesuai dengan hak-hak yang dimiliki dirinya tanpa merugikan, melukai, menyinggung, atau mengancam hak-hak, kenyamanan, dan integritas perasaan orang lain. Perilaku asertif tidak dilatarbelakangi maksud-maksud tertentu, seperti untuk memanipulasi, memanfaatkan, memperdaya atau pun mencari keuntungan dari pihak lain. Inti dari perilaku asertif adalah kejujuran, yaitu cara hidup atau bentuk komunikasi yang berlandaskan kepada kejujuran dari hati yang paling dalam sebagai bentuk penghargaan pada orang lain, dalam cara-cara yang positif dan menetap, yang dicirikan dengan kemampuan untuk mengekspresikan diri tanpa menghina, melukai, mencerca, menyingung, atau menyakiti perasaan orang lain, mampu
  • 13. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 13 mengontrol perasaan diri sendiri tanpa rasa takut dan marah. Dalam kehidupan atau komunikasi sehari-hari, orang yang asertif akan lebih memilih pola interaksi “I‟m okay, you‟re okay” atau menggunakan pernyataan-pernyataan yang lebih mencerminkan tangungjawab pribadi, seperti penggunaan kata-kata ”saya” dari pada ” ” atau ”kamu”. Misalnya, ”saya sedih, marah, dan malu ketika saya tahu ...” dari pada ”kamu pembohong, tidak disiplin, dan tidak dapat dipercaya karena ....”. Dengan demikian, orang yang asertif akan memiliki kebebasan untuk meluapkan perasaan apa pun yang dirasakan, dan berani mengambil tanggung jawab terhadap perasaan yang dialaminya dan menerima orang lain secara terbuka. Memiliki keberanian untuk tidak membiarkan orang lain mengambil manfaat dari perasaan yang dialaminya, tetapi orang lain pun memiliki kebebasan untuk mengungkap apa yang dirasakannya. Perilaku asertif dapat dengan mudah dipahami bila dibandingkan dengan perilaku non asertif, baik yang sifatnya pasif atau agresif. Dalam perilaku pasif, seseorang tidak memberikan reaksi atau mengekspresikan perasaan negatif yang dialaminya secara jujur dan terbuka, tetapi dilakukan dengan menyimpan perasaannya tersebut, menarik diri, menerima, atau menggerutu. Perilaku non asertif- pasif hakekatnya adalah bentuk ketidakjujuran emosi, kegagalan diri atau kekalahan diri yang didasari oleh perasaan-perasaan takut, cemas, mengindari konflik, keinginan untuk mencari jalan keluar paling mudah, dan bahkan ketidakmampuan untuk memahami diri dan memenuhi kebutuhan untuk bersikap sabar. Pola komunikasi yang berkembang pada kelompok nonasertif-pasif adalah “I‟m not okay, you‟re okay”. Sedangkan pada perilaku nonasertif-agresif, reaksi yang diberikan diekspresikan keluar dan dilakukan secara terbuka melalui tindakan aktif berupa pengancaman atau penyerangan, dilakukan secara langsung atau tidak langsung, baik dalam bentuk fisik atau verbal. Tindakan yang dilakukan secara langsung, misalnya marah-marah, memukul, menuntut, dominan, egois, menyerang, dsb. Sedangkan tindakan tidak langsung, misalnya dengan menyindir, menyebar gosip, dsb. Tindakan agresif ini biasanya sengaja dilakukan dengan maksud untuk melukai, melecehkan, menghina, mempermalukan, menyakiti, merendahkan dan bahkan menguasai pihak lain. Dalam pola komunikasi mereka cenderung menggunakan pola “You‟re not okay, I‟m okay”. Dengan kata lain, seseorang dikatakan bersikap non-asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan pegangan/keyakinannya secara tulus, jujur, sopan, dan apa adanya tanpa maksud untuk merendahkan hak-hak atau mengancam integritas perasaan orang lain, sehingga justru menimbulkan respon dari orang lain yang tidak dikehendaki atau negatif. Karakteristik Orang Yang Asertif Secara umum, orang yang asertif dicirikan dengan sikapnya yang terbuka, jujur, sportif, adaptif, aktif, positif, dan penuh penghargaan terhadap diri sendiri maupun orang lain. Beberapa ciri lain, diantaranya adalah: a. Mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan dirinya, baik secara verbal maupun non verbal secara bebas, tanpa perasaan takut, cemas, dan khawatir. b. Mampu menyatakan “tidak” pada hal-hal yang memang dianggap tidak sesuai dengan kata hati atau nuraninya.
  • 14. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 14 c. Mampu menolak permintaan yang dianggap tidak masuk akal, berbahaya, negatif, tidak diinginkan, atau dapat merugikan orang lain. d. Mampu untuk berkomunikasi secara terbuka, langsung, jujur, terus terang sebagaimana mestinya e. Mampu menyatakan perasaannya secara jelas, tegas, jujur, apa adanya, dan sopan. f. Mampu untuk meminta tolong pada orang lain pada saat kita memang membutuhkan pertolongan. g. Mampu mengekspresikan kemarahan, ketidak setujuan, perbedaan pandangan secara proporsional. h. Tidak mudah tersingung, sensitif, dan emosional. i. Terbuka untuk ruang kritik. j. Mudah berkomunikasi, hangat, dan menjalin hubungan sosial dengan baik. k. Mampu memberikan pandangan secara terbuka terhadap hal-hal yang tidak sepaham. l. Mampu meminta bantuan, pendapat, atau pandanganngan orang lain ketika sedang menghadapi masalah. Perilaku asertif Menurut Beberapa Ahli 1. Menurut Pratanti (2007) sikap atau pun perilaku agresif cenderung akan merugikan pihak lain karena seringkali bentuknya seperti mempersalahkan, mempermalukan, menyerang (secara verbal ataupun fisik), marah-marah, menuntut, mengancam, sarkase (misalnya kritikan dan komentar yang tidak enak didengar), sindiran ataupun sengaja menyebarkan gosip. 2. Menurut Lazarus (Fensterheim, l980) dalam Iriani (2009) perilaku asertif mengandung suatu tingkah laku yang penuh ketegasan yang timbul karena adanya kebebasan emosi dan keadaan efektif yang mendukung yang antara lain meliputi : a. menyatakan hak-hak pribadi. b. berbuat sesuatu untuk mendapatkan hak tersebut c. melakukan hal tersebut sebagai usaha untuk mencapai kebebasan emosi. Seseorang dikatakan bersikap tidak asertif, jika ia gagal mengekspresikan perasaan, pikiran dan pandangan/keyakinannya; atau jika orang tersebut mengekspresikannya sedemikian rupa hingga orang lain malah memberikan respon yang tidak dikehendaki atau negatif (Pratanti, 2009). Perilaku asertif merupakan terjemahan dari istilah assertiveness atau assertion, yang artinya titik tengah antara perilaku non asertif dan perilaku agresif. Orang yang memiliki tingkah laku atau perilaku asertif orang yang berpendapat dari orientasi dari dalam, yaitu sebgahi berikut : a. Memiliki kepercayan diri yang baik. b. Dapat mengungkapkan pendapat dan ekspresi yang sebenarnya tanpa rasa takut. c. Berkomunikasi dengan orang lain secara lancar. Sebaliknya orang yang kurang asertif adalah mereka yang memiliki ciri - ciri a). terlalu mudah mengalah/ lemah, b). mudah tersinggung, cemas, c). kurang yakin pada diri sendiri, d). sukar mengadakan komunikasi dengan orang lain
  • 15. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 15 Menurut Sukaji (1983) dalam Fitri (2009) perilaku asertif adalah perilaku seseorang dalam hubungan antar pribadi yang menyangkut ekspresi emosi yang tepat, jujur, relatif terus terang, dan tanpa perasaan cemas terhadap orang lain. Perilaku asertif merupakan perilaku sesorang dalam mempertahankan hak pribadi serta mampu mengekspresikan pikiran, perasaan, dan keyakinan secara langsung dan jujur dengan cara yang tepat. Perilaku asertif sebagai perilaku antar pribadi yang bersifat jujur dan terus terang dalam mengekspresikan pikiran dan perasaan dengan mempertimbangkan pikiran dan kesejahteraan orang lain. Orang yang memiliki tingkah laku asertif adalah mereka yang menilai bahwa oraang boleh berpendapat dengan orientasi dari dalam, dengan tetap memperhatikan sungguh-sungguh hak-hak orang lain.Mereka umumnya memiliki kepercayaan diri yang kuat. Menurut Rathus (l986) orang yang asertif adalah orang yang mengekspresikan perasaan dengan sungguh-sungguh, menyatakan tentang kebenaran. Mereka tidak menghina, mengancam ataupun meremehkan orang lain. Orang asertif mampu menyatakan perasaan dan pikirannya dengan tepat dan jujur tanpa memaksakannya kepada orang lain (Iriani, 2009). Tips untuk berperilaku asertif yang dapat digunakan adalah (Pratanti, 2007) Tentukan sikap yang pasti, apakah anda ingin menyetujui atau tidak. Jika kamu belum yakin dengan pilihan anda, maka anda bisa minta kesempatan berpikir sampai mendapatkan kepastian. 1. Berikan penjelasan atas penolakan anda secara singkat, jelas, dan logis. Penjelasan yang panjang lebar hanya akan mengundang argumentasi pihak lain. 2. Gunakan kata-kata yang tegas, seperti secara langsung mengatakan “tidak” untuk penolakan, dari pada “sepertinya saya kurang setuju..sepertinya saya kurang sependapat…saya kurang bisa…..” 3. Pastikan pula, bahwa sikap tubuh anda juga mengekspresikan atau mencerminkan “bahasa” yang sama dengan pikiran dan verbalisasi anda …Seringkali orang tanpa sadar menolak permintaan orang lain namun dengan sikap yang bertolak belakang, seperti tertawa-tawa dan tersenyum. 4. Gunakan kata-kata “Saya tidak akan….” atau “Saya sudah memutuskan untuk…..” dari pada “Saya sulit….”. Karena kata-kata “saya sudah memutuskan untuk….” lebih menunjukkan sikap tegas atas sikap yang anda tunjukkan. 5. Jika anda berhadapan dengan seseorang yang terus menerus mendesak anda padahal anda juga sudah berulang kali menolak, maka alternatif sikap atau tindakan yang dapat anda lakukan : mendiamkan, mengalihkan pembicaraan, atau bahkan menghentikan percakapan. 6. Anda tidak perlu meminta maaf atas penolakan yang anda sampaikan (karena anda berpikir hal itu akan menyakiti atau tidak mengenakkan buat orang lain)…Sebenarnya, akan lebih baik anda katakan dengan penuh empati seperti : “saya mengerti bahwa berita ini tidak menyenangkan bagimu…..tapi secara terus terang saya sudah memutuskan untuk … 7. Janganlah mudah merasa bersalah ! anda tidak bertanggung jawab atas kehidupan orang lain…atau atas kebahagiaan orang lain.
  • 16. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 16 8. Anda bisa bernegosiasi dengan pihak lain agar kedua belah pihak mendapatkan jalan tengahnya, tanpa harus mengorbankan perasaan, keinginan dan kepentingan masing-masing. Kategori Perilaku Asertif Prinsip dan bentuk asertif antara lain: 1. Pada prinsipnya asertif adalah kecakapan orang untuk berkata tidak, untuk meminta bantuan atau minta tolong orang lain 2. Kecakapan untuk mengekspresikan perasaan-perasaan positif maupun negativ 3. kecakapan untuk melakukan inisiatif dan memulai pembicaraan. Ada 3 kategori perilaku asertif yaitu : 1. Asertif penolakan yaitu ucapan untuk memperhalus, seperti misalnya : maaf ! 2. Asertif pujian yaitu mengekspresikan perasaan positif, seperti misalnya menghargai, menyukai, mencintai, mengagumi, memuji dan bersyukur 3. Asertif permintaan yaitu asertif yang terjadi kalau seseorang meminta orang lain melakukan sesuatu yang memungkinkan kebutuhan atau tujuan seseorang tercapai tanpa tekanan atau paksaan. Teknik Manajemen Asertif Terdapat beberapa teknik manajemen asertif yang berguna dalam menanggapi situasi yang cenderung menjadi konflik. 1. Memberikan Umpan Balik Membiarkan orang lain tahu bagaimana kita merespon perilaku mereka dapat membatu menghindari kesalahpahaman dan membantu menyelesaikan konflik yang tidak dapat dihindari dalam suatu hubungan. Ketika kita memilih untuk menyampaikan umpan balik negatif kepada orang lain, gunakan teknik komunikasi yang tidak terkesan mengancam. Kriteria untuk umpan balik yang bermanfaat adalah sebagai berikut:  Difokuskan pada perilaku seseorang bukan kepribadiannya.  Bersifat deskriptif bukan evaluatif.  Fokus pada reaksi kita sendiri bukan maksud orang lain.  Bersifat spesifik bukan umum.  Difokuskan pada penyelesaian masalah.  Umpan balik disampaikan secara pribadi. 2. Meminta Umpan Balik dari Orang Lain Kita perlu berlatih memberikan umpan balik dengan cara yang tepat. Pada saat bersamaan kita juga perlu mengundang umpan balik dari orang lain untuk meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal kita. Kemampuan kita untuk mendengar kritik atau saran tanpa sikap defensif atau marah, mengakui ketika kita berbuat kesalahan, dan mendorong orang lain untuk memberikan umpan balik kepada kita.
  • 17. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 17 Mereka juga membantu kita untuk mengidentifikasi bidang-bidang pada praktik profesional kita yang mungkin perlu perbaikan dan membantu meningkatkan hubungan yang lebih baik dengan orang lain. 3. Menentukan Batasan Bertindak asertif dalam menentukan batasan berarti mengambil tanggungjawab untuk keputusan yang diambil, bagaimana menghabiskan sumber daya pribadi tanpa merasa marah kepada orang lain yang mengajukan permintaan tersebut. Ketika menghadapi sebuah permintaan, langkah pertama adalah menentukan seberapa jauh kita mau memenuhi permintaan tersebut. Jika perlu waktu untuk mengambil keputusan, menunda keputusan adalah tindakan yang tepat asalkan kita kembali ke orang tersebut dalam jangka waktu yang telah ditetapkan. 4. Membuat Permintaan Meminta sesuatu yang diinginkan dari orang lain secara langsung juga diperlukan pada hubungan yang sehat. Jika kita berada pada posisi manajemen, menyatakan keinginannya dengan jelas dari orang lain adalah suatu bagian penting untuk mencapai tujuan organisasi. Pada hubungan yang sederajat, membuat permintaan seperti meminta pertolongan, adalah suatu bagian penting dari komunikasi yang jujur. Kita harus percaya bahwa orang lain akan meresponnya secara asertif, termasuk berkata "tidak". Kita tidak perlu bereaksi berlebihan ketika seseorang menolak permintaan kita dengan cara yang asertif. 5. Berlaku Persisten Salah satu aspek penting dalam perilaku asertif adalah persisten untuk menjamin bahwa hak-hak anda dihargai. Sering ketika kita telah menentukan batasan atau telah berkata "tidak", lalu orang-orang disekitar kita akan membujuk untuk mengubah pikiran. Jika kita mengulangi pernyataan keputusan itu dengan santai, kita telah bertindak asertif tanpa menjadi agresif dan tanpa menyerah. Respon, mengulangi pernyataan keputusan dengan santai, sering disebut respon "kaset rusak" (Smith, 1975). 6. Membingkai Kembali Menurut Kaufman, bingkai adalah jalan pintas kognitif yang digunakan orang untuk membuat suatu informasi yang kompleks menjadi masuk akal. Teknik pembingkaian kembali juga termasuk: a. Fokus membangun komunikasi yang efektif untuk suatu kelompok tujuan yang terbatas. b. menguji validitas/keabsahan perspektif orang lain. c. Menentukan kesamaan pandangan/tujuan. Mencari hal-hal yang sama-sama disetujui dan fokus pada hasil yang diinginkan dengan perspektif jangka panjang. d. Mengenali kesempatan untuk mencari solusi-solusi yang belum dieksplirasi/difikirkan lebih mendalam.
  • 18. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 18 e. Mengenali perbedaan yang tidak bisa dijembatani dan pada saat yang bersamaan mencari tindakan yang masih bisa diambil untuk mengurangi konflik. 7. Mengabaikan Provokasi Konflik interpersonal dapat memunculkan berbagai metode untuk "menang" dengan cara menghina atau mengintimidasi orang lain. Misalnya, pasien yang marah atau putusa asa mungkin menyerang dengan serangan personal. Farmasis yang merasa dikritik secara tidak adil mungkin merespon dengan sikap agresif atau sarkastik. Konflik interpersonal antara profesional di bidang kesehatan sering ditandai dengan perebutan kekuasaan dan otonomi. Abaikan komentar yang bersifat mencela dan tetap fokus pada penyelesaian masalah dapat menjaga konflik agar tidak meningkat kearah yang dapat merusak hubungan. 8. Merespon Kritik Bagi sebagian orang, kritik benar-benar dapat membuat diri hancur karena kita biasanya memegang dua keyakinan irasional yang umumnya sebagai berikut: Bahwa kita harus disayangi atau diakui oleh semua orang yang kita kenal Bahwa kita harus benar-benar kompeten melakukan segala hal tanpa kesalahan. Pada beberapa kasus kita mungkin ingin membalas dendam dengan melakukan serangan balik terhadap orang yang memberikan kritik. Cara satu- satunya meniadakan perasaan itu dan untuk memulai mengatasi kritik dengan layak adalah dengan menantang kepercayaan irasional yang mendasarinya yang mengakibatkan kita takut tidak diakui oleh orang lain. MENGEVALUASI PENGGUNAAN WAKTU Kata evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols dan Hasan Shadily: 1983). Evaluasi adalah proses penilaian. Penilaian ini bisa menjadi netral, positif atau negatif atau merupakan gabungan dari keduanya. Saat sesuatu dievaluasi biasanya orang yang mengevaluasi mengambil keputusan tentang nilai atau manfaatnya Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Dalam hal ini, skala waktu merupakan interval antara dua buah keadaan/kejadian, atau bisa merupakan lama berlangsungnya suatu kejadian. Jadi mengevaluasi waktu berarti kita akan mengevaluasi hal-hal yang telah dan kelak akan dilakukan. Evaluasi Pemanfaatan Waktu Sehari Untuk mengenali bagaimana cara memanfaatkan waktu dalam sehari, maka kita dapat mengevaluasi kegiatan dengan bertanya kepada diri sendiri, antara lain: 1. Berapa jam yang digunakan untuk melakukan perencanaan? 2. Berapa jam yang dimanfaatkan untuk bekerja optimal?
  • 19. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 19 3. Berapa jam yang digunakan untuk membaca, memahami, dan berbagi atas suatu pengetahuan dan pengalaman (belajar)? 4. Berapa jam yang dimanfaatkan untuk perjalanan menuju tempat bekerja dan pulang kembali ke rumah? 5. Berapa jam yang digunakan untuk beristirahat, berolahraga, dan bersantai (sejenak)? 6. Berapa jam yang dimanfaatkan untuk keluarga? 7. Dan berapa jam yang digunakan untuk masyarakat sekitar (Personal Social Responsibility)? Dengan melakukan evaluasi manajemen waktu, maka kita dapat mengenali bagaimana penggunaan waktu dalam sehari sehingga dapat menemukan hal-hal mana saja yang menurut kita berlebihan porsi waktunya (misalnya makan terlalu lama, ngobrol yang tak perlu dan lain sebagainya) dan mana yang kekurangan porsinya. Penyita Waktu Terbesar Berapa banyak waktu yang dimiliki siswa terbaik atau mahasiswa terbaik dalam sehari? 24 jam. Berapa banyak waktu yang dimiliki oleh orang – orang besar, seperti ilmuwan penemu listrik Thomas Alva Edison, dalam sehari? 24 jam. Semua orang memiliki waktu yang sama : 24 jam sehari, 168 jam seminggu, 672 jam sebulan, dan seterusnya. Bila sumber daya waktu ini dianugerahkan sama persis kepada semua orang, lantas kenapa pencapaian orang bisa begitu berbeda? Salah satu kuncinya adalah manajemen waktu. Kebanyakan orang tidak sadar bagaimana mereka mengisi waktu. Mereka terus saja mengeluh tidak punya cukup waktu. Padahal bisa jadi waktu mereka sebenarnya diisi dengan hal – hal yang tidak bermanfaat. Maka, langkah pertama dari manajemen waktu ini adalah dengan memantau penggunaan waktu kita. Penyita waktu manusia, disadari atau tidak adalah waktu untuk tidur dan berkomunikasi. Komunikasi di sini, adalah penggunaan media yang tidak bermanfaat, seperti bergumul di social network(Facebook, twitter, dll). Komunikasi yang digunakan tidak sia-sia jika memang digunakan untuk hal-hal yang positif dan bersifat publikatif. Bukan bermain semata. Tidurnya manusia juga menjadi penyita waktu terbanyak, karena rata-rata 7 jam setiap hari dilewati dengan tertidur. Bisa kita hitung 7 jam perhari, berarti dalam 1 bulan, manusia tidur sebanyak 210 jam. Begitu seterusnya. MENGELOLA WAKTU SECARA PRODUKTIF Strategi Untuk menyusun Jadwal Selanjutnya dalam memudahkan kita mengambil langkah perlangkahnya untuk manajemen waktu ini, tentunya kita memerlukan strategi dalam menyusun jadwal agar lebih efektif. Berikut adalah strategi yang dapat kita pakai dalam menyusun jadwal mingguan.
  • 20. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 20 a. Buat daftar kegiatan yang hendak dikerjakan  Tuliskan Aktivitas Tetap Mulailah mengisi jadwal mingguan dengan mengisikan aktivitas tetap. Termasuk dalam aktivitas tetap adalah kuliah, praktikum, makan, tidur, pertemuan/rapat rutin di organisasi/ekstrakurikuler, ibadah.  Tambahkan Waktu Belajar Tetap Kita perlu memberikan waktu yang memadai untuk waktu belajar mandiri bagi setiap SKS mata kuliah yang diambil. Waktu belajar mandiri digunakan untuk membaca ulang bahan, mengerjakan tugas, dan membuat alat bantu belajar. Sebagai acuan awal gunakan rasio 2 banding 1, yaitu 2 jam belajar mandiri untuk setiap SKS. Ada pelajaran yang memerlukan lebih dan ada pula yang kurang, kita dapat fleksibel dengan angka ini. Namun perlu diingat bahwa dengan berjalannya waktu dan bahan kuliah yang semakin banyak, kita akan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk membaca ulang, membaca ulang dan membaca ulang bahan kuliah untuk minggu ini, minggu lalu atau minggu sebelumnya. Kita perlu membuat alat bantu belajar untuk dipergunakan pada waktu mengulang yang akan datang. Kita pun perlu menduga soal dan waktu untuk mengerjakannya. Pertimbangkan kiat – kiat berikut pada saat kita menyusun waktu belajar tetap  Mulailah mengisi belajar tetap pada waktu yang paling mudah bagi kita untuk berkonsentrasi, misalnya pagi jam 04.00 – 06.00 dan malam jam 21.00 – 23.00. Gunakan waktu ini untuk mata kuliah yang “berat” dan tidak kita sukai. Waktu siang diantara dua kuliah dapat kita pakai untuk mata kulaih yang tidak terlalu berat.  Rencanakan waktu belajar dalam blok waktu 50 menit. Waktu yang terlalu pendek belum sampai menyebabkan kita benar – benar terlibat dengan bahan yang dipelajari. Bila kita belajar lebih dari 50 menit, pemahaman, konsentrasi, dan kemampuan mengingat akan turun. Setelah satu blok 50 menit, kita dapat mengambil istirahat 10 menit. Distribusikan waktu belajar mandiri ini setiap hari sepanjang minggu.  Hindari belajar secara maraton, katakan 7 – 8 jam sekaligus. Kita dapat belajar dalam 3 blok masing – masing 50 menit, satu blok berikutnya kita dapt melakukan hal yang ringan misalnya merapikan buku – buku, membersihkan kamar, selanjutnya kembali dengan belajar. jikas kita memiliki blok waktu yang sangat panjang, hindari menggunakannya untuk satu mata kuliah, pakailah untuk mata kuliah yang berbeda.  Pada masing – masing waktu belajar buatlah sasaran yang realistik.  Tambahkan Waktu Belajar Fleksibel Selain waktu belajar tetap, kita perlu menjadwalkan waktu belajar fleksibel. Ini akan sangat berguna sebagai jaring pengaman bila kita tidak dapat menyelesaikan tugas atau pekerjaan rumah pada waktu belajar tetap. Pada awal semester, mungkin kita belum perlu jam belajar mandiri yang banyak, waktu belajar fleksibel dapat kita jadikan waktu bebas. Setelah mengisi aktivitas tetap, waktu belajar tetap dan waktu belajar fleksibel yang tetap tiap minggu, kita dapat membuat jadwal mingguan baru sebelum menambahkan kegiatan lain pada jadwal.  Tambahkan Waktu Untuk Kegiatan Ekstrakurikuler Dan Kegiatan Pribadi
  • 21. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 21 Kegiatan ekstrakurikuler penting untuk melatih kita berorganisasi dan bekerjasama. Jadi, luangkan waktu untuk kegiatan ini. Namun jangan lupa tugas utama kita saat ini adalah belajar. jangan lupa juga memasukkan tugas – tugas yang sifatnya pribadi seperti membersihkan kamar, mencuci baju dan lain – lain.  Tambahkan Waktu Untuk Rileks Tentu saja kita perlu waktu untuk bersantai. Agar tidak lepas kendali, ada baiknya waktu untuk keperluan ini pun kita rencanakan. b. Buat skala prioritas dari setiap kegiatan Untuk mengoptimalkan penggunaan waktu, kita perlu membuat skala prioritas dari seabrek kegiatan yang harus kita lakukan. Setelah semua kegiatan didaftarkan, golongkan mereka berdasarkan skala prioritas kita. Misalnya, angka 1 untuk kegiatan – kegiatan yang dianggap paling penting. Angka 2 untuk kegiatan yang tikda begitu penting dan seterusnya. Tidak ada kata benar atau salah dalam mengurutkannya karena memang setiap diri kita memiliki prioritas yang berbeda dalam hidup. Mungkin untuk si A kegiatan bersama keluarga adalah yang paling penting sedang untuk si B kegiatan organisasi sangat penting untuk didahulukan. Terserah saja. Yang penting buatlah skala prioritas yang memang sesuai dengan visi dan misi hidup kita. Dan yang tak kalah penting, tentu saja harus realistis.Kita tidak bisa mengikuti rasa malas dan menaruh belajar di papan bawah. Kalau mau lulus dengan baik, tentu saja kita perlu menempatkannya walau tidak harus menjadi prioritas pertama. Sekali lagi, semua tergantung diri kita masing -masing. c. Perkirakan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tiap kegiatan Waktu yang kita butuhkan untuk tiap kegiatan dapat diperkirakan dari pengalaman – pengalaman kita sebelumnya. Hanya saja untuk tiap aktivitas kita patut bertanya :  Apakah pengerjaannnya selama ini sudah efisien?  Apakah kita dapat mengerjakannya dengan lebih cepat?  Apa yang dapat kita lakukan untuk dapat mengoptimalkan aktivitas tersebut? Untuk kegiatan – kegiatan tertentu seperti mengerjakan tugas, ada baiknya kita memberikan waktu tambahan. Jadi, kalau kita memperkirakan tugas tersebut dapat selesai dalam waktu 2 jam, kita bisa menambahnya setengah jam. Hal ini dapat dipertimbangkan karena memang ada hal – hal tertentu yang punya kecenderungan molor waktu pengerjaannya. Terutama kegiatan yang memiliki tingkat kerumitan tinggi atau berhubungan dengan orang lain. Selain itu, kita perlu realistis dalam memperkirakan waktu pengerjaan. Misalnya saja, untuk ujian Kimia Dasar minggu ini kita hanya menyediakan waktu belajar 2 jam. Padahal bahannya saja sampai 4 bab dan kita belum pernah membacanya sama sekali. Tentu tidak realistis kalau di saat yang sama kita juga menginginkan untuk mendapat nilai A.
  • 22. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 22 d. Alokasikan waktu untuk tiap kegiatan Amati diri sendiri. Apakah kita tipe orang yang bisa berkonsentrasi di pagi hari ataukah tipe yang lebih suka bekerja di malam hari? Tiap orang memiliki waktu puncak produktif yang berbeda – beda. Kita harus bisa memanfaatkan sebisa mungkin waktu produktif itu untuk hal yang memang menuntut konsentrasi tinggi seperti belajar misalnya. Sedang waktu dimana kita cenderung sering melamun dapat dipakai untuk kegiatan lain misalnya saja mencuci pakaian atau membereskan kamar. e. Evaluasi penerapan jadwal Setelah selesai minggu kedua, mungkin sekali kita menemukan masih adanya selisih yang cukup besar antara pemakaian waktu yang kita rencanakan dan yang kita pantau. Penyebab perbedaan ini kemungkinan besar pada belum terbiasanya kita mengikuti rencana, cobalah untuk terus berdisiplin terhadap rencana kita. Setelah beberapa bulan boleh jadi kita merasa perlu untuk melakukan siklus pemantauan dan perencanaan waktu, kita juga dapat melakukan evaluasi untuk selanjutnya dapat menyesuaikan perencanaan waktu. Bila kita telah dapat menjadikan manajemen waktu sebagai kebiasaan, tidak hanya sekedar teknik, maka kita akan memperoleh manfaatnya pada jangka panjang, yaitu kita akan memiliki kesadaran atas pemanfaatan waktu yang efektif. f. Belajar Bilang “tidak” Biasanya yang paling sulit adalah mengatakan “tidak”. Terutama pada ajakan teman. Akibatnya tak jarang waktu yang semestinya digunakan untuk belajar malah dipakai untuk berbincang – bincang atau pergi jalan – jalan tanpa direncanakan. Belajarlah untuk mengatakan “tidak” pada hal yang sekiranya akan menyita waktu kita dan kurang bermanfaat. Sediakanlah waktu khusus untuk bersosialisasi dengan teman, dan sebisa mungkin minimalkan aktivitas mendadak yang memakan jadwal waktu yang telah direncanakan. FAKTOR PENGHAMBAT MANAJEMEN WAKTU EFEKTIF 1. Prokrastinasi (Menunda pekerjaan)  Menulis laporan (sulit) > < membuka e-mail / data komputer (mudah)  Deadline membuat frustasi dan menghambat penyelesaian tugas > < Deadline menolong menyusun rencana dan prioritas daftar yang akan dikerjakan.  Bekerja baik dibawah tekanan waktu > < banyak waktu diperlukan untuk menyelesaikan tugas. 2. Perfeksionis  Ditumbuhkan sejak dini (sejak sekolah)  Dapat mengarah ke prokrastinasi, oleh karena : takut salah dan cenderung mengerjakan tugas secara berulang-ulang 3. Tidak Mampu membuat prioritas  Tidak bisa „memboboti‟ / menilai pekerjaan : lama, urgensi (segera atau nanti) dan berat – ringannya pekerjaan.
  • 23. BAHRUR ROSYIDI DURAISY | DECISION MAKING PROCESS 23  Tidak bisa menyusun berbagai pekerjaan secara sistematis  Dapat diminimalisir dengan cara menetapkan kategori pekerjaan yaitu berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya. Banyak hal yang dapat mengganggu terlaksananya kegiatan-kegiatan utama dalam proses pencapaian tujuan Anda. Beberapa hal yang perlu diwaspadai adalah: a. Zona nyaman serta zona berani b. Ketakutan menjadi penghambat c. Bangkit lagi ketika gagal d. Menaklukkan cobaan e. Tidak berani berkata TIDAK DAFTAR PUSTAKA Ismail Jaili dan Fadillah Ulfa. Manajemen Waktu Untuk Meraih Kebahagiaan Dunia Dan Akhirat : Wal „Ashr Demi Masa. Jakarta: Mutiara Media. 2011. Malayu SP Hasibuan. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. 2005. Marion E. Haynes. Manajemen Waktu. Jakarta. 2010. http://anugerahdino.blogspot.com/2014/11/teknik-manajemen-waktu- berdasarkan_27.html https://laveniaprameswari.wordpress.com/2012/12/07/manajemen-waktu/ http://aushaf-fahri.blogspot.com/2012/09/cara-membuat-skala-prioritas.html http://bisnisukm.com/manajemen-waktu-merupakan-awal-sebuah-keberhasilan.html http://personalityadityabayukusuma.wordpress.com/2010/12/27/pengertian- manajemen/ http://public.slidesharecdn.com/stylesheets/ssplayer/