MANAGEMENT RESIKO
Oleh:
Riki Ardoni
MANAGEMENT RESIKO
anajemen resiko adalah suatu sistem pengawasan risiko dan
perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau
perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu
risiko.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resiko adalah akibat yang kurang
menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan.
Resiko dalam Webster’s Desk Dictionary resiko didefinisikan sebagai suatu potensi
adanya kehilangan (Iban Sofyan, 2004)
Manajemen risiko adalah suatu pendekatan Terstruktur/ Metodologi dalam
mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian
aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk
mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan
sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko
kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan
menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko
tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal
(seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen
M
risiko keuangan, di sisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan
menggunakan instrumen-instrumen keuangan. Dengan kata lain Manajemen
Risiko adalah suatu proses identifikasi, analisis, penilaian, pengendalian, dan upaya
menghindari, meminimalisir, atau bahkan menghapus risiko yang tidak dapat
diterima.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang
berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang
dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang
disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain
pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia,
khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi).
Definisi lain yang menjelaskan tentang pengertian resiko adalah kemungkinan
terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan kerugian. Resiko
adalah suatu kemungkinan terjadinya peristiwa menyimpang dari apa yang
diharapkan, namun penyimpangan ini baru terlihat bila sudah berbentuk kerugian
(Kasidy, 2010).
Pendapat lain juga diutarakan oleh Abbas Salim dalam Kasidy (2010) Resiko adalah
ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian (loss). Sehingga dari beberapa
definisi yang telah diutarakan, dapat diambil kesimpulan bahwa resiko adalah
sesuatu yang belum pasti namun apabila tidak ditangani dengan tepat akan
menimbulkan kerugian bagi usaha tersebut.
Proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian
risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan.
Suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang
berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian
risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan
menggunakan pemberdayaan /pengelolaan sumber daya.
Istilah lain dari pengertian resiko adalah (risk) atau risiko memiliki berbagai definisi.
Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Vaughan (1978)
mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut:
* Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian).
Chance of loss
Berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan
kerugian.Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat
probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini
karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal
chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada.
* Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian).
Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol
dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif.
* Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian).
* Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty
merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada
pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan
dijelaskan pada dua definisi risiko berikut.
* Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan
penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan). Ahli statistik mendefinisikan
risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau
di sekitar titik rata-rata.
* Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko
adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang
diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian
tunggal, tetapi probabilita dari beberapa outcome yang berbeda dari yang
diharapkan.
Tujuan Manajemen Risiko
Secara umum ada enam tujuan manajemen risiko dalam perusahaan atau badan
usaha, diantaranya adalah:
1. Melindungi Perusahaan
Memberikan perlindungan terhadap perusahaan dari tingkat risiko signifikan yang
bisa menghambat proses pencapaian tujuan perusahaan.
2. Membantu Pembuatan Kerangka Kerja
Membantu dalam proses pembuatan kerangka kerja manajemen risiko yang
konsisten atas ririko yang ada pada proses bisnis dan fungsi-fungsi di dalam sebuah
perusahaan.
3. Mendorong Manajemen Agar Proaktif
Mendorong manajemen agar bertindak proaktif dalam mengurangi potensi risiko,
dan menjadikan manajemen risiko sebagai sumber keunggulan bersaing dan kinerja
perusahaan.
4. Sebagai Peringatan untuk Berhati-Hati
Mendorong semua individu dalam perusahaan agar bertindak hati-hati dalam
menghadapi risiko perusahaan demi tercapainya tujuan yang diinginkan bersama.
5. Meningkatkan Kinerja Perusahaan
Membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan menyediakan informasi tingkat
risiko yang disebutkan dalam peta risiko/ risk map. Hal ini juga berguna dalam
pengembangan strategi dan perbaikan proses manajemen risiko secara
berkesinambungan.
6. Sosialisasi Manajemen Risiko
Membangun kemampuan individu maupun manajemen untuk mensosialisasikan
pemahaman tentang risiko dan pentingnya manajemen risiko.
Jenis-Jenis Manajemen Risiko dalam Perusahaan
Seiring dengan perkembangannya, Manajemen Risiko terbagi dalam beberapa hal;
Resiko Operasional, Resiko Hazard, Resiko Finansial, Resiko Strategik.
1. Manajemen Risiko Operasional
Manajemen ini berkaitan dengan resiko yang timbul akibat gagal fungsi proses
internal, misalnya karena human error, kegagagalan sistem, faktor luar seperti
bencana dsb. Dalam menejemen resiko operasional, ada empat faktor penyebab
resiko antara lain manusia, proses, sistem dan kejadian eksternal.
Dengan memahami manajemen risiko ini, perusahaan bisa mengambil langkah
preventif atau bahkan sanksi supaya kapasitas produksi dan layanan terjaga semisal
ada hal yang tidak diinginkan terjadi.
2. Manajemen Hazard
Manajemen hazard berkaitan dengan kondisi potensial yang mengakibatkan
kebangkrutan dan kerusakan. Ketika kita membahas hazard, tentu kita juga
membahas peril. Resiko perilaku yaitu peristiwa yang bisa menimbulkan kerugian
bisnis. Dalam hal ini ada tiga macam hazard yang harus diketahui, antara lain legal
hazard, physical hazard dan moral hazard.
Contoh hazard legal misalnya pelanggaran atau pengabaian peraturan bisnis yang
bisa menyebabkan kebangkrutan, seperti pelanggaran SOP atau peraturan
perusahaan yang akhirnya berakibat fatal. Sementara physical hazard bisa berupa
mesin yang sudah tua dan menimbulkan resiko kerugian saat produksi.
Seperti kecelakaan pegawai karena mesin dan sebagainya. Untuk moral hazard
contohnya yaitu sikap seorang karyawan dilingkungan kerja yang menimbulkan
kerugian. Misalnya karyawan tidak jujur dan sering korupsi uang. Atau karyawan
yang tidak melayani konsumen dengan baik sehingga berakibat buruk pada
perusahaan.
3. Manajemen Resiko Finansial
Manajemen resiko finansial yaitu upaya pengawasan resiko dan perlindungan hak
milik, keuntungan, harta dan aset sebuah badan usaha. Pada prakteknya, proses
pengelolaan resiko ini meliputi identifikasi, evaluasi dan melakukan pengendalian
resiko bila ditemukan hal yang mengancam keberlangsungan organisasi.
Manajemen resiko finansial ini sangat penting karena ini merupakan salah satu
sumber daya perusahaan. Karena itu seorang akuntan harus benar-benar
mempertimbangkan berbagai resiko lainnya yang berhubungan dengan keuangan,
seperti:
• Resiko likuiditas
• Diskpntinuitas pasar
• Resiko kredit
• Resiko regulasi
• Resiko pajak
• resiko akuntansi
Menejemen resiko finansial juga tidak lepas dari perubahan kurs mata uang yang
erat kaitannya dengan perubahan inflasi, neraca perdagangan, kapasitas utang,
suku bunga dsb.
Derajat Risiko
Derajat risiko – degree of risk adalah ukuran risiko lebih besar atau risiko lebih kecil.
Jika suatu risiko diartikan sebagai ketidakpastian, maka risiko terbesar akan terjadi
bila terdapat dua kemungkinan hasil yang masing-masing mempunyai kemungkinan
yang sama untuk terjadi
Kategori Risiko
Risiko dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk :
• Risiko Spekulatif
Risiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat
memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Risiko spekulatif
kadang-kadang dikenal pula dengan istilah risiko bisnis.
• Risiko Murni
Risiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau
tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan.
Komponen Manajemen Risiko
Ada beberapa komponen dan proses dalam manajemen risiko. Menurut COSO
(Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission) komponen
tersebut adalah:
1. Lingkungan Internal (Internal Environment)
Komponen ini adalah sikap manajemen di semua level terhadap operasi secara
umum dan konsep kontrol secara khusus. Hal ini mencakup: etika, kompetensi, serta
integritas dan kepentingan terhadap kesejahteraan organisasi.
2. Penentuan Sasaran (Objective Setting)
Perusahaan menetapkan tujuan operasional sebagai dasar untuk mengidentifikasi
dan mengelola segala risiko. Sasaran ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu
• Strategic objective; fokus pada upaya realisasi visi dan misi Activity
objective: fokus pada kegiatan operasional, reportasi, dan kompliansi
3. Identifikasi Peristiwa (Event Identification)
Manajemen melakukan identifikasi terhadap berbagai kejadian potensial yang
berpengaruh pada strategi dan pencapaian tujuan perusahaan. Berbagai kejadian
tak pasti tersebut bisa memberikan dampak positif, namu bisa juga memberikan
risiko.
4. Penilaian Risiko (Risk Assessment)
Risk assessment memungkinkan sebuah organisasi untuk menilai sebuah kejadian
atau keadaan dan kaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen
perlu melakukan analisis dampak yang mungkin terjadi akibat risiko tersebut dengan
dua perspektif, yaitu:
• Likelihood (kecenderungan/ peluang)
• Impact/ consequnce (besaran dari realisasi risiko)
5. Tanggapan Risiko (Risk Response)
Manajemen melakukan penilaian terhadap risiko, lalu menentukan sikap atau respon
terhadap risiko tersebut. Respon dari manajemen ini tergantung apa risiko yang
dihadapi
Respon atau tanggapan tersebut bisa dalam bentuk:
• Menghindari risiko (avoidance)
• Mengurangi risiko (reduction)
• Memindahkan risiko (sharing)
• Menerima risiko (acceptance)
6. Aktivitas Pengendalian (Control Activities)
Proses ini merupakan penyusunan prosedur atau kebijakan yang membantu
memastikan bahwa respon terhadap risiko yang dipilih memadai dan terlaksana
dengan baik. Aktivitas ini meliputi:
• Pembuatan kebijakan dan prosedur
• Delegasi wewenang
• Pengamanan kekayaan perusahaan
• Pemisahan fungsi
• Supervisi
7. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Aktivitas ini fokus pada identifikasi informasi dan menyampaikannya kepada pihak
terkait melalui media komunikasi yang sesuai. Dengan begitu, setiap orang yang
mendapatkan informasi tersebut dapat melakukan tugas dan tanggungjawabnya
dengan baik.
Beberapa faktor penting dalam penyampaian informasi tersebut diantaranya:
• Kualitas informasi
• Arah komunikasi
• Alat komunikasi
8. Pemantauan (Monitoring)
Monitoring adalah komponen terakhir dalam manajemen risiko. Proses pemantauan
dilakukan secara terus menerus untuk memastikan setiap komponen lainnya
berfungsi sebagaimana mestinya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses
monitoring adalah pelaporan yang tidak lengkap atau berlebihan.
Risk Assessment Matrix
Risk Assessment Matrix (Matriks Penilaian Risiko) merupakan alat manajemen
proyek yang digunakan untuk menilai setiap risiko untuk menentukan apakah
manajer dan tim proyek harus mengambil tindakan terhadap risiko tertentu. Matriks
ini lebih mudah dilakukan, karena sebagian besar informasi yang dibutuhkan dapat
dengan mudah diambil dari formulir penilaian risiko. Hal ini dibuat dalam bentuk
tabel sederhana dimana risiko dikelompokkan berdasarkan kemungkinan dan tingkat
dampak atau jenis konsekuensi yang dapat ditimbulkan dari risikonya.
Membuat matriks manajemen risiko adalah langkah kedua dalam proses
manajamen risiko dimana langkah pertama yaitu mengisi formulir penilaian risiko
untuk menentukan potensi risiko. Penyusunan formulir penilaian risiko merupakan
tugas yang lebih rumit dan melibatkan penentuan risiko, mengumpulkan data risiko,
menentukan probabilitas dan tingkat dampak risiko, memahami konsekuensi,
menetapkan prioritas dan mengembangkan strategi pencegahan risiko. Disisi lain,
matriks penilaian risiko hanya memberi tim proyek tentang pandangan cepat
mengenai risiko dan prioritas dimana masing-masing risiko ini perlu ditangani.
Cara menempatkan risiko pada matriks
Dalam matriks penilaian risiko, suatu risiko ditempatkan pada matriks berdasarkan
dua kriteria:
1. Likelihood (kemungkinan)
Merupakan suatu probabilitas risiko. Berdasarkan kemungkinan terjadinya
risiko, risiko dapat diklasifikasikan dalam salah satu dari lima kategori berikut:
o Definite: Sebuah risiko yang hampir pasti akan muncul saat
pelaksanaan proyek. Jika melihat presentase risiko yang lebih dari
80% kemungkinan akan menyebabkan masalah termasuk dalam
kategori ini.
o Likely: Risiko yang memiliki kemungkinan terjadinya 60-80%.
o Occasional: Risiko yang memiliki kemungkinan terjadinya 50/50
kejadian.
o Seldom: Risiko yang memiliki probabilitas kejadian rendah namun
tetap tidak bisa dikesampingkan sama sekali.
o Unlikely: Risiko yang langka dan luar biasa yang memiliki peluang
terjadinya kurang dari 10%.
2. Consequences
Merupakan tingkat keparahan dampak atau tingkat kerusakan yang
diakibatkan oleh risikonya. Konsekuensi dari sebuah risiko dapat digolongkan
dan dikelompokkan menjadi lima kategori, yang berdasarkan seberapa parah
dampak kerusakannya, diantaranya:
o Insignificant: Risiko yang akan menyebabkan kerusakan yang hampir
dapat diabaikan terhadap keseluruhan kemajuan proyek.
o Marginal: Jika suatu risiko akan mengakibatkan beberapa kerusakan,
namun tingkat kerusakannya tidak terlalu signifikan dan tidak mungkin
menghasilkan banyak perbedaan pada keseluruhan kemajuan pada
proyek.
o Moderate: Risiko yang tidak menimbulkan ancaman besar, namun
kerusakan yang cukup besar.
o Critical: Risiko dengan konsekuensi signifikan besar yang dapat
menyebabkan sejumlah kerugian besar.
o Catastrophic: Risiko yang dapat membuat proyek benar-benar tidak
produktif dan tidak menghasilkan apapun dan harus menjadi prioritas
utama selama manajemen risiko.
Menggunakan Matriks Penilaian Risiko
Ketika risiko telah ditempatkan dalam matriks, sel-sel yang sesuai dengan
kemungkinan dan konsekuensi, maka menjadi jelas mengapa risiko harus ditangani
pada prioritas seperti apa. Masing-masing risiko yang ditempatkan di tabel akan
termasuk dalam salah satu kategori, warna yang berbeda telah digunakan dalam
kerangka penilaian risiko. Berikut adalah beberapa rincian tentang masing-masing
kategori:
• Extreme: Resiko yang berada pada sel yang ditandai dengan ‘E’ (warna
merah), adalah risiko yang paling penting dan harus ditangani dengan basis
prioritas tinggi. Tim proyek harus bersiap untuk segera bertindak, sehingga
bisa menghilangkan risiko sepenuhnya.
• High Risk: Ditandai dengan ‘H’ pada template penilaian risiko, juga meminta
tindakan segera atau strategi manajemen risiko. Di sini selain memikirkan
menghilangkan risiko, strategi substitusi juga bisa berjalan dengan baik. Jika
masalah ini tidak dapat dipecahkan dengan segera, batas waktu yang ketat
harus ditetapkan untuk memastikan bahwa masalah ini dapat diselesaikan
sebelum membuat rintangan dalam kemajuan.
• Medium: Jika risiko jatuh pada salah satu sel yang ditandai sebagai ‘M’, yang
terbaik adalah mengambil beberapa langkah yang wajar dan
mengembangkan strategi manajemen risiko tepat waktu, walaupun tidak
terburu-buru memiliki risiko semacam itu dan merupakan penyelesaian awal.
Risiko semacam itu tidak memerlukan sumber daya yang luas, melainkan
bisa ditangani dengan pemikiran cerdas dan perencanaan logis.
• Low Risk: Resiko yang jatuh pada sel hijau yang ditandai dengan ‘L’, dapat
diabaikan karena biasanya tidak menimbulkan masalah yang berarti. Namun
tetap saja, jika beberapa langkah yang masuk akal dapat membantu dalam
melawan risiko ini, langkah-langkah tersebut harus dilakukan untuk
memperbaiki keseluruhan kinerja proyek.
MANAJEMEN RISIKO PESAWAT TERBANG
Belakangan ini kita berduka karena jatuh nya pesawat LION AIR JT 610. yang
menurut informasi yg beredar sudah bermasalah sejak berangkatan dari bali.
Sebelum jatuh di perairan sebelah utara Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10),
pesawat Lion Air mengalami masalah instrumen pada penerbangan Minggu (28/10)
malam, sebagaimana tercantum dalam catatan teknis . Dalam penerbangan malam
sebelumnya rute Denpasar-Jakarta, pesawat Boeing 737 Max8 itu menggunakan
kode penerbangan JT43, dan untuk penerbangan berikutnya, Jakarta Pangkal
Pinang, pesawat yang sama menggunakan kode penerbangan JT610.
Catatan teknis pesawat nomor penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng
menyebutkan data kecepatan pesawat saat mengudara pada instrumen kapten pilot
tidak dapat diandalkan. Bahkan data ketinggian yang tertera pada instrumen kapten
pilot dan kopilot berbeda.
"Teridentifikasi instumen CAPT (kapten) tidak dapat diandalkan dan kendali
diserahkan ke FO (first officer/kopilot). Kecepatan udara NNC tidak dapat diandalkan
dan ALT tidak cocok," sebut catatan penerbangan JT-43.
Meski demikian, kru pesawat memutuskan untuk meneruskan penerbangan dan
mendarat dengan aman di Cengkareng.
Keesokan paginya, pesawat tersebut memakai nomor penerbangan JT-610 guna
melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang.
Secara terpisah, Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait, mengakui memang ada
kendala teknis dalam penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng pada Minggu
(28/10) malam.
Belum lama, Lion Air mengguncang bisnis airline dunia kala memesan pesawat
Airbus sebanyak 230 biji (satu unit harganya sekitar Rp 700 milyar). Jauh hari
sebelumnya, mereka juga mengehentak markas besar Boeing saat memutuskan
memborong pesawatnya sebanyak 178 unit (Boeing 737 seri 900 ER).
Ambisi bisnis Lion Air memang melambung jauh di langit. Namun tanpa ditopang
oleh kepiawaian meracik standar safety kelas dunia, mungkin slogan mereka kudu
diganti. Bukan lagi we make everyone fly. Tapi we make everyone nyemplung ke
laut.
Insiden melesetnya Boeing Lion Air di laut dekat bandara Ngurah Rai Bali sejatinya
mengandung sejumlah pelajaran krusial tentang safety management. Tanpa
perbaikan yang segera dan menyeluruh, tragedi mematikan benar-benar terjadi.
Merujuk pada ilmu safety management, berikut tiga pelajaran penting yang mungkin
bisa dipetik dari insiden Lion Air itu.
Lesson # 1 : Small and Medium Incidents Lead to Fatal Indicents. Para pakar
safety di seluruh dunia tahu dengan prinsip ini : insiden kecil adalah simptom, atau
gejala-gejala awal bahwa ada sesuatu yang tak beres dalam manajemen
keselamatan sebuah organisasi. Dan biasanya, gejala awal ini merupakan “pra
kondisi” sebelum insiden fatal yang mematikan menyergap.
Dulu kita ingat, sebelum pesawat Adam Air jatuh secara dramatis di Laut Majene,
mereka mengalami sejumlah insiden pendahuluan yang sama seperti LION AIR JT
610, Yang paling mencolok adalah kesasarnya pesawat mereka hingga landing di
sebuah bandara antah berantah (lantaran kegagalan sistem navigasi).
Tanpa perbaikan yang komprehensif, insiden kecil dan medium itu pasti akan benar-
benar mengarah pada tragedi yang lebih fatal. Manajemen Lion Air harus segera
berbenah dalam aspek safety (meski banyak orang skeptis).
Lesson # 2 : Human Error is No 1 Cause of Airplane Crashes. Studi mengenai
ribuan kecelakaan pesawat menunjukkan bahwa faktor human error bertanggung
jawab atas lebih dari 60 % airplance crash (56% karena pilot, dan selebihnya faktor
kelengahan manusia dibagian menara kontrol dan di bagian perawatan mesin).
Dan persis disitu masalahnya : sudah lama negeri ini kekurangan ribuan pilot trampil
(dan juga ahli perawatan mesin pesawat serta tenaga air traffic control).
Dalam kasus Lion Air, kekurangan itu mungkin kian kronis. Ratusan pesawat baru
mereka akan datang bak gelombang. Tanpa jumlah pilot yang memadai, siapa yang
akan menerbangkan Boeing itu?
Akhirnya, pilot-pilot yang ada “terpaksa” harus terus lembur demi melayani lonjakan
jumlah pesawat. Bekerja lembur menjalankan pesawat hampir pasti membawa
keletihan fisik yang kronis.
Dan pilot yang terlalu letih niscaya akan membuat peluang insiden crash menjadi
kian terbuka. Sebab pilot juga manusia……
Lesson # 3 : Safety is Way of Life. Sudah jelas, berbagai perusahaan yang hebat
dalam safety pasti berasal dari mereka yang menganggap safety sebagai bagian
dari way of life, bagian dari budaya organisasi mereka.
Karena menjadi way of life, maka perusahaan itu mati-matian memberikan fokus,
prioritas, budget dan energi agar zero accident bisa terwujud.
Lion Air menghadapi dilema disitu. Kita tahu owner Lion Air, Rusdi Kirana, adalah
sosok yang penuh ambisi bisnis. Ia punya mimpi Lion Air suat saat harus memiliki
1000 unit pesawat.
Sayangnya, ambisi yang melambung itu kadang mengabaikan faktor safety. Apalagi
mereka juga dituntut untuk terus efisien demi menjaga harga tiket yang murah (jujur,
harga tiket mereka kadang “tidak lagi rasional” alias terlalu murah hingga hampir tak
mungkin mereka bisa untung darinya).
Pada sisi lain, safety sebagai budaya kerja butuh ongkos yang tidak sedikit. Juga
waktu yang panjang; dan energi yang terus fokus. Kalau tiketnya terlalu murah, dari
mana mereka punya budget untuk safety management yang andal?
Demikianlah, tiga pelajaran berharga tentang safety management yang bisa dicatat.
Apapun, Lion Air harus melakukan pembenahan radikal dan menyeluruh tentang
aspek safety management mereka
Risiko operasional
Kasus di atas adalah bagian dari risiko operasional. Risiko operasional adalah risiko
akibat ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal.
Risiko ini diakibatkan oleh tidak adanya atau tidak berfungsinya prosedur kerja,
kesalahan manusia, kegagalan sistem dan/adanya kejadian-kejadian eksternal yang
memengaruhi operasional perusahaan.
Ancaman teroris dan kerentanan pesawat membuat keamanan penerbangan sangat
penting. Kegiatan penerbangan di udara terkait komunikasi, satelit navigasi, dan
aktivitas lain di udara menjadikan penerbangan sebagai kegiatan yang berisiko
sangat tinggi.
Maka dari itu, sangat diperlukan satu aktivitas manajemen risiko pada maskapai
penerbangan yang berkomitmen untuk terus menerus mengembangkan
pengetahuan pada bisnis penerbangan, yaitu di antaranya dengan mengidentifikasi
kemungkinan-kemungkinan risiko yang terjadi pada setiap proses penerbangan.
SUMBER:
Hapzi Ali, 2018. Modul Manajemen Strategic, UMB. Jakarta.
https://id.wikipedia.org/wiki/Etika_bisnis
https://www.wartaekonomi.co.id/read167670/10-etika-bisnis-ini-wajib-dimiliki-
pengusaha-agar-jadi-pebisnis-sukses.html
https://salamadian.com/pengertian-etika-bisnis/
https://sahabatnesia.com/pengertian-manfaat-fungsi-contoh-csr-adalah/
http://info-csr.blogspot.com/2008/08/etika-bisnis-dengan-corporate-social.html
https://sis.binus.ac.id/2017/12/18/langkah-langkah-dalam-proses-manajemen-risiko/
https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-manajemen-risiko/3067
http://pengertianmanagement.blogspot.com/2012/11/management-resiko.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko
http://strategimanajemen.net/2013/04/15/lion-air-dilema-antara-ambisi-bisnis-dan-
safety-management/

Management Resiko - riki ardoni

  • 1.
  • 2.
    MANAGEMENT RESIKO anajemen resikoadalah suatu sistem pengawasan risiko dan perlindungan harta benda, hak milik dan keuntungan badan usaha atau perorangan atas kemungkinan timbulnya kerugian karena adanya suatu risiko. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resiko adalah akibat yang kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Resiko dalam Webster’s Desk Dictionary resiko didefinisikan sebagai suatu potensi adanya kehilangan (Iban Sofyan, 2004) Manajemen risiko adalah suatu pendekatan Terstruktur/ Metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan/pengelolaan sumberdaya. Strategi yang dapat diambil antara lain adalah memindahkan risiko kepada pihak lain, menghindari risiko, mengurangi efek negatif risiko, dan menampung sebagian atau semua konsekuensi risiko tertentu. Manajemen risiko tradisional terfokus pada risiko-risiko yang timbul oleh penyebab fisik atau legal (seperti bencana alam atau kebakaran, kematian, serta tuntutan hukum. Manajemen M
  • 3.
    risiko keuangan, disisi lain, terfokus pada risiko yang dapat dikelola dengan menggunakan instrumen-instrumen keuangan. Dengan kata lain Manajemen Risiko adalah suatu proses identifikasi, analisis, penilaian, pengendalian, dan upaya menghindari, meminimalisir, atau bahkan menghapus risiko yang tidak dapat diterima. Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi). Definisi lain yang menjelaskan tentang pengertian resiko adalah kemungkinan terjadinya penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan kerugian. Resiko adalah suatu kemungkinan terjadinya peristiwa menyimpang dari apa yang diharapkan, namun penyimpangan ini baru terlihat bila sudah berbentuk kerugian (Kasidy, 2010). Pendapat lain juga diutarakan oleh Abbas Salim dalam Kasidy (2010) Resiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian (loss). Sehingga dari beberapa definisi yang telah diutarakan, dapat diambil kesimpulan bahwa resiko adalah sesuatu yang belum pasti namun apabila tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan kerugian bagi usaha tersebut. Proses pengelolaan risiko yang mencakup identifikasi, evaluasi dan pengendalian risiko yang dapat mengancam kelangsungan usaha atau aktivitas perusahaan. Suatu pendekatan terstruktur/metodologi dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman; suatu rangkaian aktivitas manusia termasuk: Penilaian risiko, pengembangan strategi untuk mengelolanya dan mitigasi risiko dengan menggunakan pemberdayaan /pengelolaan sumber daya. Istilah lain dari pengertian resiko adalah (risk) atau risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat
  • 4.
    mengancam pencapaian tujuandan sasaran organisasi. Vaughan (1978) mengemukakan beberapa definisi risiko sebagai berikut: * Risk is the chance of loss (Risiko adalah kans kerugian). Chance of loss Berhubungan dengan suatu exposure (keterbukaan) terhadap kemungkinan kerugian.Dalam ilmu statistik, chance dipergunakan untuk menunjukkan tingkat probabilitas akan munculnya situasi tertentu. Sebagian penulis menolak definisi ini karena terdapat perbedaan antara tingkat risiko dengan tingkat kerugian. Dalam hal chance of loss 100%, berarti kerugian adalah pasti sehingga risiko tidak ada. * Risk is the possibility of loss (Risiko adalah kemungkinan kerugian). Istilah possibility berarti bahwa probabilitas sesuatu peristiwa berada diantara nol dan satu. Namun, definisi ini kurang cocok dipakai dalam analisis secara kuantitatif. * Risk is uncertainty (Risiko adalah ketidakpastian). * Uncertainty dapat bersifat subjective dan objective. Subjective uncertainty merupakan penilaian individu terhadap situasi risiko yang didasarkan pada pengetahuan dan sikap individu yang bersangkutan. Objective uncertainty akan dijelaskan pada dua definisi risiko berikut. * Risk is the dispersion of actual from expected results (Risiko merupakan penyebaran hasil aktual dari hasil yang diharapkan). Ahli statistik mendefinisikan risiko sebagai derajat penyimpangan sesuatu nilai disekitar suatu posisi sentral atau di sekitar titik rata-rata. * Risk is the probability of any outcome different from the one expected (Risiko adalah probabilitas sesuatu outcome berbeda dengan outcome yang diharapkan). Menurut definisi di atas, risiko bukan probabilita dari suatu kejadian
  • 5.
    tunggal, tetapi probabilitadari beberapa outcome yang berbeda dari yang diharapkan. Tujuan Manajemen Risiko Secara umum ada enam tujuan manajemen risiko dalam perusahaan atau badan usaha, diantaranya adalah: 1. Melindungi Perusahaan Memberikan perlindungan terhadap perusahaan dari tingkat risiko signifikan yang bisa menghambat proses pencapaian tujuan perusahaan. 2. Membantu Pembuatan Kerangka Kerja Membantu dalam proses pembuatan kerangka kerja manajemen risiko yang konsisten atas ririko yang ada pada proses bisnis dan fungsi-fungsi di dalam sebuah perusahaan. 3. Mendorong Manajemen Agar Proaktif Mendorong manajemen agar bertindak proaktif dalam mengurangi potensi risiko, dan menjadikan manajemen risiko sebagai sumber keunggulan bersaing dan kinerja perusahaan. 4. Sebagai Peringatan untuk Berhati-Hati Mendorong semua individu dalam perusahaan agar bertindak hati-hati dalam menghadapi risiko perusahaan demi tercapainya tujuan yang diinginkan bersama. 5. Meningkatkan Kinerja Perusahaan Membantu meningkatkan kinerja perusahaan dengan menyediakan informasi tingkat risiko yang disebutkan dalam peta risiko/ risk map. Hal ini juga berguna dalam pengembangan strategi dan perbaikan proses manajemen risiko secara berkesinambungan.
  • 6.
    6. Sosialisasi ManajemenRisiko Membangun kemampuan individu maupun manajemen untuk mensosialisasikan pemahaman tentang risiko dan pentingnya manajemen risiko. Jenis-Jenis Manajemen Risiko dalam Perusahaan Seiring dengan perkembangannya, Manajemen Risiko terbagi dalam beberapa hal; Resiko Operasional, Resiko Hazard, Resiko Finansial, Resiko Strategik. 1. Manajemen Risiko Operasional Manajemen ini berkaitan dengan resiko yang timbul akibat gagal fungsi proses internal, misalnya karena human error, kegagagalan sistem, faktor luar seperti bencana dsb. Dalam menejemen resiko operasional, ada empat faktor penyebab resiko antara lain manusia, proses, sistem dan kejadian eksternal. Dengan memahami manajemen risiko ini, perusahaan bisa mengambil langkah preventif atau bahkan sanksi supaya kapasitas produksi dan layanan terjaga semisal ada hal yang tidak diinginkan terjadi. 2. Manajemen Hazard Manajemen hazard berkaitan dengan kondisi potensial yang mengakibatkan kebangkrutan dan kerusakan. Ketika kita membahas hazard, tentu kita juga membahas peril. Resiko perilaku yaitu peristiwa yang bisa menimbulkan kerugian bisnis. Dalam hal ini ada tiga macam hazard yang harus diketahui, antara lain legal hazard, physical hazard dan moral hazard. Contoh hazard legal misalnya pelanggaran atau pengabaian peraturan bisnis yang bisa menyebabkan kebangkrutan, seperti pelanggaran SOP atau peraturan perusahaan yang akhirnya berakibat fatal. Sementara physical hazard bisa berupa mesin yang sudah tua dan menimbulkan resiko kerugian saat produksi. Seperti kecelakaan pegawai karena mesin dan sebagainya. Untuk moral hazard contohnya yaitu sikap seorang karyawan dilingkungan kerja yang menimbulkan kerugian. Misalnya karyawan tidak jujur dan sering korupsi uang. Atau karyawan
  • 7.
    yang tidak melayanikonsumen dengan baik sehingga berakibat buruk pada perusahaan. 3. Manajemen Resiko Finansial Manajemen resiko finansial yaitu upaya pengawasan resiko dan perlindungan hak milik, keuntungan, harta dan aset sebuah badan usaha. Pada prakteknya, proses pengelolaan resiko ini meliputi identifikasi, evaluasi dan melakukan pengendalian resiko bila ditemukan hal yang mengancam keberlangsungan organisasi. Manajemen resiko finansial ini sangat penting karena ini merupakan salah satu sumber daya perusahaan. Karena itu seorang akuntan harus benar-benar mempertimbangkan berbagai resiko lainnya yang berhubungan dengan keuangan, seperti: • Resiko likuiditas • Diskpntinuitas pasar • Resiko kredit • Resiko regulasi • Resiko pajak • resiko akuntansi Menejemen resiko finansial juga tidak lepas dari perubahan kurs mata uang yang erat kaitannya dengan perubahan inflasi, neraca perdagangan, kapasitas utang, suku bunga dsb. Derajat Risiko Derajat risiko – degree of risk adalah ukuran risiko lebih besar atau risiko lebih kecil. Jika suatu risiko diartikan sebagai ketidakpastian, maka risiko terbesar akan terjadi bila terdapat dua kemungkinan hasil yang masing-masing mempunyai kemungkinan yang sama untuk terjadi Kategori Risiko Risiko dapat dikategorikan ke dalam dua bentuk :
  • 8.
    • Risiko Spekulatif Risikospekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi perusahaan yang dapat memberikan keuntungan dan juga dapat memberikan kerugian. Risiko spekulatif kadang-kadang dikenal pula dengan istilah risiko bisnis. • Risiko Murni Risiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Komponen Manajemen Risiko Ada beberapa komponen dan proses dalam manajemen risiko. Menurut COSO (Committee of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission) komponen tersebut adalah: 1. Lingkungan Internal (Internal Environment) Komponen ini adalah sikap manajemen di semua level terhadap operasi secara umum dan konsep kontrol secara khusus. Hal ini mencakup: etika, kompetensi, serta integritas dan kepentingan terhadap kesejahteraan organisasi. 2. Penentuan Sasaran (Objective Setting) Perusahaan menetapkan tujuan operasional sebagai dasar untuk mengidentifikasi dan mengelola segala risiko. Sasaran ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu • Strategic objective; fokus pada upaya realisasi visi dan misi Activity objective: fokus pada kegiatan operasional, reportasi, dan kompliansi 3. Identifikasi Peristiwa (Event Identification) Manajemen melakukan identifikasi terhadap berbagai kejadian potensial yang berpengaruh pada strategi dan pencapaian tujuan perusahaan. Berbagai kejadian
  • 9.
    tak pasti tersebutbisa memberikan dampak positif, namu bisa juga memberikan risiko. 4. Penilaian Risiko (Risk Assessment) Risk assessment memungkinkan sebuah organisasi untuk menilai sebuah kejadian atau keadaan dan kaitannya dengan pencapaian tujuan organisasi. Manajemen perlu melakukan analisis dampak yang mungkin terjadi akibat risiko tersebut dengan dua perspektif, yaitu: • Likelihood (kecenderungan/ peluang) • Impact/ consequnce (besaran dari realisasi risiko) 5. Tanggapan Risiko (Risk Response) Manajemen melakukan penilaian terhadap risiko, lalu menentukan sikap atau respon terhadap risiko tersebut. Respon dari manajemen ini tergantung apa risiko yang dihadapi Respon atau tanggapan tersebut bisa dalam bentuk: • Menghindari risiko (avoidance) • Mengurangi risiko (reduction) • Memindahkan risiko (sharing) • Menerima risiko (acceptance) 6. Aktivitas Pengendalian (Control Activities) Proses ini merupakan penyusunan prosedur atau kebijakan yang membantu memastikan bahwa respon terhadap risiko yang dipilih memadai dan terlaksana dengan baik. Aktivitas ini meliputi: • Pembuatan kebijakan dan prosedur • Delegasi wewenang • Pengamanan kekayaan perusahaan • Pemisahan fungsi • Supervisi
  • 10.
    7. Informasi danKomunikasi (Information and Communication) Aktivitas ini fokus pada identifikasi informasi dan menyampaikannya kepada pihak terkait melalui media komunikasi yang sesuai. Dengan begitu, setiap orang yang mendapatkan informasi tersebut dapat melakukan tugas dan tanggungjawabnya dengan baik. Beberapa faktor penting dalam penyampaian informasi tersebut diantaranya: • Kualitas informasi • Arah komunikasi • Alat komunikasi 8. Pemantauan (Monitoring) Monitoring adalah komponen terakhir dalam manajemen risiko. Proses pemantauan dilakukan secara terus menerus untuk memastikan setiap komponen lainnya berfungsi sebagaimana mestinya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam proses monitoring adalah pelaporan yang tidak lengkap atau berlebihan. Risk Assessment Matrix Risk Assessment Matrix (Matriks Penilaian Risiko) merupakan alat manajemen proyek yang digunakan untuk menilai setiap risiko untuk menentukan apakah manajer dan tim proyek harus mengambil tindakan terhadap risiko tertentu. Matriks ini lebih mudah dilakukan, karena sebagian besar informasi yang dibutuhkan dapat dengan mudah diambil dari formulir penilaian risiko. Hal ini dibuat dalam bentuk tabel sederhana dimana risiko dikelompokkan berdasarkan kemungkinan dan tingkat dampak atau jenis konsekuensi yang dapat ditimbulkan dari risikonya. Membuat matriks manajemen risiko adalah langkah kedua dalam proses manajamen risiko dimana langkah pertama yaitu mengisi formulir penilaian risiko untuk menentukan potensi risiko. Penyusunan formulir penilaian risiko merupakan tugas yang lebih rumit dan melibatkan penentuan risiko, mengumpulkan data risiko,
  • 11.
    menentukan probabilitas dantingkat dampak risiko, memahami konsekuensi, menetapkan prioritas dan mengembangkan strategi pencegahan risiko. Disisi lain, matriks penilaian risiko hanya memberi tim proyek tentang pandangan cepat mengenai risiko dan prioritas dimana masing-masing risiko ini perlu ditangani. Cara menempatkan risiko pada matriks Dalam matriks penilaian risiko, suatu risiko ditempatkan pada matriks berdasarkan dua kriteria: 1. Likelihood (kemungkinan) Merupakan suatu probabilitas risiko. Berdasarkan kemungkinan terjadinya risiko, risiko dapat diklasifikasikan dalam salah satu dari lima kategori berikut: o Definite: Sebuah risiko yang hampir pasti akan muncul saat pelaksanaan proyek. Jika melihat presentase risiko yang lebih dari 80% kemungkinan akan menyebabkan masalah termasuk dalam kategori ini. o Likely: Risiko yang memiliki kemungkinan terjadinya 60-80%. o Occasional: Risiko yang memiliki kemungkinan terjadinya 50/50 kejadian. o Seldom: Risiko yang memiliki probabilitas kejadian rendah namun tetap tidak bisa dikesampingkan sama sekali. o Unlikely: Risiko yang langka dan luar biasa yang memiliki peluang terjadinya kurang dari 10%. 2. Consequences Merupakan tingkat keparahan dampak atau tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh risikonya. Konsekuensi dari sebuah risiko dapat digolongkan dan dikelompokkan menjadi lima kategori, yang berdasarkan seberapa parah dampak kerusakannya, diantaranya: o Insignificant: Risiko yang akan menyebabkan kerusakan yang hampir dapat diabaikan terhadap keseluruhan kemajuan proyek. o Marginal: Jika suatu risiko akan mengakibatkan beberapa kerusakan, namun tingkat kerusakannya tidak terlalu signifikan dan tidak mungkin menghasilkan banyak perbedaan pada keseluruhan kemajuan pada proyek.
  • 12.
    o Moderate: Risikoyang tidak menimbulkan ancaman besar, namun kerusakan yang cukup besar. o Critical: Risiko dengan konsekuensi signifikan besar yang dapat menyebabkan sejumlah kerugian besar. o Catastrophic: Risiko yang dapat membuat proyek benar-benar tidak produktif dan tidak menghasilkan apapun dan harus menjadi prioritas utama selama manajemen risiko. Menggunakan Matriks Penilaian Risiko Ketika risiko telah ditempatkan dalam matriks, sel-sel yang sesuai dengan kemungkinan dan konsekuensi, maka menjadi jelas mengapa risiko harus ditangani pada prioritas seperti apa. Masing-masing risiko yang ditempatkan di tabel akan termasuk dalam salah satu kategori, warna yang berbeda telah digunakan dalam kerangka penilaian risiko. Berikut adalah beberapa rincian tentang masing-masing kategori:
  • 13.
    • Extreme: Resikoyang berada pada sel yang ditandai dengan ‘E’ (warna merah), adalah risiko yang paling penting dan harus ditangani dengan basis prioritas tinggi. Tim proyek harus bersiap untuk segera bertindak, sehingga bisa menghilangkan risiko sepenuhnya. • High Risk: Ditandai dengan ‘H’ pada template penilaian risiko, juga meminta tindakan segera atau strategi manajemen risiko. Di sini selain memikirkan menghilangkan risiko, strategi substitusi juga bisa berjalan dengan baik. Jika masalah ini tidak dapat dipecahkan dengan segera, batas waktu yang ketat harus ditetapkan untuk memastikan bahwa masalah ini dapat diselesaikan sebelum membuat rintangan dalam kemajuan. • Medium: Jika risiko jatuh pada salah satu sel yang ditandai sebagai ‘M’, yang terbaik adalah mengambil beberapa langkah yang wajar dan mengembangkan strategi manajemen risiko tepat waktu, walaupun tidak terburu-buru memiliki risiko semacam itu dan merupakan penyelesaian awal. Risiko semacam itu tidak memerlukan sumber daya yang luas, melainkan bisa ditangani dengan pemikiran cerdas dan perencanaan logis. • Low Risk: Resiko yang jatuh pada sel hijau yang ditandai dengan ‘L’, dapat diabaikan karena biasanya tidak menimbulkan masalah yang berarti. Namun tetap saja, jika beberapa langkah yang masuk akal dapat membantu dalam melawan risiko ini, langkah-langkah tersebut harus dilakukan untuk memperbaiki keseluruhan kinerja proyek.
  • 14.
    MANAJEMEN RISIKO PESAWATTERBANG Belakangan ini kita berduka karena jatuh nya pesawat LION AIR JT 610. yang menurut informasi yg beredar sudah bermasalah sejak berangkatan dari bali. Sebelum jatuh di perairan sebelah utara Karawang, Jawa Barat, pada Senin (29/10), pesawat Lion Air mengalami masalah instrumen pada penerbangan Minggu (28/10) malam, sebagaimana tercantum dalam catatan teknis . Dalam penerbangan malam sebelumnya rute Denpasar-Jakarta, pesawat Boeing 737 Max8 itu menggunakan kode penerbangan JT43, dan untuk penerbangan berikutnya, Jakarta Pangkal Pinang, pesawat yang sama menggunakan kode penerbangan JT610. Catatan teknis pesawat nomor penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng menyebutkan data kecepatan pesawat saat mengudara pada instrumen kapten pilot tidak dapat diandalkan. Bahkan data ketinggian yang tertera pada instrumen kapten pilot dan kopilot berbeda. "Teridentifikasi instumen CAPT (kapten) tidak dapat diandalkan dan kendali diserahkan ke FO (first officer/kopilot). Kecepatan udara NNC tidak dapat diandalkan dan ALT tidak cocok," sebut catatan penerbangan JT-43.
  • 15.
    Meski demikian, krupesawat memutuskan untuk meneruskan penerbangan dan mendarat dengan aman di Cengkareng. Keesokan paginya, pesawat tersebut memakai nomor penerbangan JT-610 guna melayani rute Jakarta-Pangkal Pinang. Secara terpisah, Direktur Utama Lion Air, Edward Sirait, mengakui memang ada kendala teknis dalam penerbangan JT-43 rute Denpasar-Cengkareng pada Minggu (28/10) malam. Belum lama, Lion Air mengguncang bisnis airline dunia kala memesan pesawat Airbus sebanyak 230 biji (satu unit harganya sekitar Rp 700 milyar). Jauh hari sebelumnya, mereka juga mengehentak markas besar Boeing saat memutuskan memborong pesawatnya sebanyak 178 unit (Boeing 737 seri 900 ER). Ambisi bisnis Lion Air memang melambung jauh di langit. Namun tanpa ditopang oleh kepiawaian meracik standar safety kelas dunia, mungkin slogan mereka kudu diganti. Bukan lagi we make everyone fly. Tapi we make everyone nyemplung ke laut. Insiden melesetnya Boeing Lion Air di laut dekat bandara Ngurah Rai Bali sejatinya mengandung sejumlah pelajaran krusial tentang safety management. Tanpa perbaikan yang segera dan menyeluruh, tragedi mematikan benar-benar terjadi. Merujuk pada ilmu safety management, berikut tiga pelajaran penting yang mungkin bisa dipetik dari insiden Lion Air itu. Lesson # 1 : Small and Medium Incidents Lead to Fatal Indicents. Para pakar safety di seluruh dunia tahu dengan prinsip ini : insiden kecil adalah simptom, atau gejala-gejala awal bahwa ada sesuatu yang tak beres dalam manajemen keselamatan sebuah organisasi. Dan biasanya, gejala awal ini merupakan “pra kondisi” sebelum insiden fatal yang mematikan menyergap. Dulu kita ingat, sebelum pesawat Adam Air jatuh secara dramatis di Laut Majene, mereka mengalami sejumlah insiden pendahuluan yang sama seperti LION AIR JT
  • 16.
    610, Yang palingmencolok adalah kesasarnya pesawat mereka hingga landing di sebuah bandara antah berantah (lantaran kegagalan sistem navigasi). Tanpa perbaikan yang komprehensif, insiden kecil dan medium itu pasti akan benar- benar mengarah pada tragedi yang lebih fatal. Manajemen Lion Air harus segera berbenah dalam aspek safety (meski banyak orang skeptis). Lesson # 2 : Human Error is No 1 Cause of Airplane Crashes. Studi mengenai ribuan kecelakaan pesawat menunjukkan bahwa faktor human error bertanggung jawab atas lebih dari 60 % airplance crash (56% karena pilot, dan selebihnya faktor kelengahan manusia dibagian menara kontrol dan di bagian perawatan mesin). Dan persis disitu masalahnya : sudah lama negeri ini kekurangan ribuan pilot trampil (dan juga ahli perawatan mesin pesawat serta tenaga air traffic control). Dalam kasus Lion Air, kekurangan itu mungkin kian kronis. Ratusan pesawat baru mereka akan datang bak gelombang. Tanpa jumlah pilot yang memadai, siapa yang akan menerbangkan Boeing itu? Akhirnya, pilot-pilot yang ada “terpaksa” harus terus lembur demi melayani lonjakan jumlah pesawat. Bekerja lembur menjalankan pesawat hampir pasti membawa keletihan fisik yang kronis. Dan pilot yang terlalu letih niscaya akan membuat peluang insiden crash menjadi kian terbuka. Sebab pilot juga manusia…… Lesson # 3 : Safety is Way of Life. Sudah jelas, berbagai perusahaan yang hebat dalam safety pasti berasal dari mereka yang menganggap safety sebagai bagian dari way of life, bagian dari budaya organisasi mereka. Karena menjadi way of life, maka perusahaan itu mati-matian memberikan fokus, prioritas, budget dan energi agar zero accident bisa terwujud. Lion Air menghadapi dilema disitu. Kita tahu owner Lion Air, Rusdi Kirana, adalah sosok yang penuh ambisi bisnis. Ia punya mimpi Lion Air suat saat harus memiliki 1000 unit pesawat.
  • 17.
    Sayangnya, ambisi yangmelambung itu kadang mengabaikan faktor safety. Apalagi mereka juga dituntut untuk terus efisien demi menjaga harga tiket yang murah (jujur, harga tiket mereka kadang “tidak lagi rasional” alias terlalu murah hingga hampir tak mungkin mereka bisa untung darinya). Pada sisi lain, safety sebagai budaya kerja butuh ongkos yang tidak sedikit. Juga waktu yang panjang; dan energi yang terus fokus. Kalau tiketnya terlalu murah, dari mana mereka punya budget untuk safety management yang andal? Demikianlah, tiga pelajaran berharga tentang safety management yang bisa dicatat. Apapun, Lion Air harus melakukan pembenahan radikal dan menyeluruh tentang aspek safety management mereka Risiko operasional Kasus di atas adalah bagian dari risiko operasional. Risiko operasional adalah risiko akibat ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal. Risiko ini diakibatkan oleh tidak adanya atau tidak berfungsinya prosedur kerja, kesalahan manusia, kegagalan sistem dan/adanya kejadian-kejadian eksternal yang memengaruhi operasional perusahaan. Ancaman teroris dan kerentanan pesawat membuat keamanan penerbangan sangat penting. Kegiatan penerbangan di udara terkait komunikasi, satelit navigasi, dan aktivitas lain di udara menjadikan penerbangan sebagai kegiatan yang berisiko sangat tinggi. Maka dari itu, sangat diperlukan satu aktivitas manajemen risiko pada maskapai penerbangan yang berkomitmen untuk terus menerus mengembangkan pengetahuan pada bisnis penerbangan, yaitu di antaranya dengan mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan risiko yang terjadi pada setiap proses penerbangan.
  • 18.
    SUMBER: Hapzi Ali, 2018.Modul Manajemen Strategic, UMB. Jakarta. https://id.wikipedia.org/wiki/Etika_bisnis https://www.wartaekonomi.co.id/read167670/10-etika-bisnis-ini-wajib-dimiliki- pengusaha-agar-jadi-pebisnis-sukses.html https://salamadian.com/pengertian-etika-bisnis/ https://sahabatnesia.com/pengertian-manfaat-fungsi-contoh-csr-adalah/ http://info-csr.blogspot.com/2008/08/etika-bisnis-dengan-corporate-social.html https://sis.binus.ac.id/2017/12/18/langkah-langkah-dalam-proses-manajemen-risiko/ https://www.dictio.id/t/apa-yang-dimaksud-dengan-manajemen-risiko/3067 http://pengertianmanagement.blogspot.com/2012/11/management-resiko.html https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko http://strategimanajemen.net/2013/04/15/lion-air-dilema-antara-ambisi-bisnis-dan- safety-management/