KEADILAN DALAM PANDANGAN ISLAM 
MAKALAH 
Diajukan untuk melengkapi salah satu tugas mata kuliah Islam Untuk Disiplin Ilmu 
Disusun Oleh : 
MUHAMAD YOGI 41032161121007 
SITI YUSI R.A 41032161121004 
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA 
DAN KEWARGANEGARAAN 
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN 
UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA 
BANDUNG 
2014
KATA PENGANTAR 
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah 
memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil 
menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang 
berjudul “ KEADILAN DALAM PANDANGAN ISLAM” 
Makalah ini berisikan tentang pembelajaran Keadilan dalam 
Pandangan Islam Diharapkan Makalah ini dapat memberikan pengetahuan 
dan wawasan kepada kita semua tentang Keadilan Dalam Pandangan Islam. 
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh 
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu 
kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. 
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang 
telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. 
Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin. 
ii 
Bandung, 5 Oktober 2014 
Penyusun 
Muhamad Yogi 
Siti Yusi R.A
DAFTAR ISI 
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii 
DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii 
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1 
1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1 
1.2. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1 
1.3. Tujuan ............................................................................................................. 1 
BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 2 
2.1. Pengertian Adil ............................................................................................... 2 
2.2. Konsep Keadilan Dalam Islam ....................................................................... 3 
2.3. Penegakan dan Standar Keadilan ................................................................... 5 
2.4. Keutamaan Berbuat Adil ................................................................................. 6 
2.5. Hadist Tentang Berlaku Adil .......................................................................... 7 
BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 9 
3.1. Kesimpulan ..................................................................................................... 9 
3.2. Saran .............................................................................................................. . 9 
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 10 
iii
BAB I 
PENDAHULUAN 
1 
1.1. Latar Belakang 
Islam adalah agama yang benar, agama yang paling sempurna di antara 
agama samawi yang diturunkan Allah SWT. kesmpurnaannya dapat dilihat dari 
syariatnya, tidak ada satu sendi kehidupan pun melainkan semua itu telah 
terliputi oleh hukum atau syariat Islam, termasuk dalam keadilan. 
Keadilan dalam Islam meliputi semua hal, mulai pada diri sendiri, dalam 
kehidupan rumah tangga, masyarakat hingga kehidupan bernegara. Keadilan 
dalam Islam bukanlah keadilan yang dibuat-buat atau hasil pemikiran manusia, 
melainkan berlandaskan Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah Rabb 
semesta alam baik dalam Al-Qur’an maupun yang ilhamkan kepada manusia 
pilihan Allah, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam (Al-Hadits). 
1.2. Rumusan Masalah 
a. Apa pengertian adil? 
b. Bagaimana konsep keadilan dalam Islam? 
c. Bagaimana penegakan dan standar keadilan itu? 
d. Apa keutamaan berbuat adil? 
e. Sebutkan hadits tentang berlaku adil! 
1.3. Tujuan Penulisan 
a. Untuk mengetahui pengertian adil 
b. Untuk mengetahui konsep keadilan dalam Islam 
c. Untuk mengetahui penegakan dan standar keadilan 
d. Untuk menetahu keutamaan berbuat adil 
e. Untuk mengetahui hadist tentang berbuat adil
BAB II 
PEMBAHASAN 
2 
2.1. Pengertian Adil 
Adil Berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, 
lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari 
diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang 
yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum 
negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dalam Al Quran, 
kata ‘adl disebut juga dengan qisth (QS Al Hujurat:9) 
Sebagian ulama berpendapat bahwa: “Orang yang adil itu ialah orang 
yang jika marah, kemarahannya itu tidak menjerumuskannya kepada kebatilan. 
Dan apabila ia senang, kesenangannya itu tidak mengeluarkannya dari 
kebenaran." 
Mengapa Islam menganggap sikap adil itu penting? Salah satu tujuan 
utama Islam adalah membentuk masyarakat yang menyelamatkan; yang 
membawah rahmat pada seluruh alam –rahmatan lil alamin (QS Al 
Anbiya’:107). Ayat ini memiliki sejumlah konsekuensi bagi seorang muslim: 
Pertama, seorang muslim harus bersikap adil dan jujur pada diri sendiri, 
kerabat dekat , kaya dan miskin. Hal ini terutama terkait dengan masalah 
hukum (QS An Nisaa’:135).
3 
Penilaian, kesaksian dan keputusan hukum hendaknya berdasar pada 
kebenaran walaupun kepada diri sendiri, saat di mana berperilaku adil terasa 
berat dan sulit. 
Kedua, keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang 
suku, agama, status jabatan ataupun strata sosial. Oleh karena itu, seorang 
muslim wajib menegakkan keadilan hukum dalam posisi apapun dia berada; 
baik sebagai hakim, jaksa, polisi maupun saksi. 
Ketiga, di bidang yang selain persoalan hukum, keadilan bermakna 
bahwa seorang muslim harus dapat membuat penilaian obyektif dan kritis 
kepada siapapun. Mengakui adanya kebenaran, kebaikan dan hal-hal positif 
yang dimiliki kalangan lain yang berbeda agama, suku dan bangsa dan dengan 
lapang dada membuka diri untuk belajar (QS Yusuf: 109) serta dengan 
bijaksana memandang kelemahan dan sisi-sisi negatif mereka. Pada saat yang 
sama, seorang muslim dengan tanpa ragu mengkritisi tradisi atau perilaku 
negatif yang dilakukan umat Islam. 
Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa seorang individu muslim 
yang berperilaku adil akan memiliki citra dan reputasi yang baik serta integritas 
yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan-nya. Karena, sifat dan perilaku adil 
merupakan salah satu perintah Allah (Qs Asy-Syura 42:15) dan secara explisit 
mendapat pujian (QS Al-A’raf: 159). 
Perilaku adil, sebagaimana disinggung di muka, merupakan salah satu 
tiket untuk mendapat kepercayaan orang; untuk mendapatkan reputasi yang 
baik. Karena dengan reputasi yang baik itulah kita akan memiliki otoritas untuk 
berbagi dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dengan orang 
lain (QS Ali-Imran:104). Tanpa itu, kebaikan apapun yang kita bagi dan 
sampaikan hanya akan masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. 
Karena, perilaku adil itu identik dengan konsistensi antara perilaku dan 
perkataan (QS As Saff: 3). 
2.2. Konsep Keadilan dalam Islam
4 
2.2.1. Keadilan intelektual (al-‘adl al-fikri). 
Yaitu pemikiran seseorang yang berani menyatakan bahwa 
sesuatu sebagai kebenaran atau kesalahan yang secara objektif karena 
memang benar atau salah, bukan karena pertimbangan subjektif dan 
tendensial lain. 
2.2.2. Keadilan terhadap diri sendiri. 
Menegakkan keadilan pada diri sendiri itu hendaklah berani 
mengakui kesalahan dirinya sendiri dan bersedia menerima akibat 
daripada kesalahan tersebut. Keadilan pada diri sendiri itu dapat 
dipelihara apabila seseorang itu mempunyai ilmu tentang yang benar 
(hak) dan yang salah (batil). 
2.2.3. Adil kepada orang lain. 
Keadilan kepada orang lain artinya menyempurnakan hak mereka 
dan melaksanakan hukum secara saksama antara mereka, membela 
orang yang teraniaya dan menghukum orang yang bersalah. Ini 
berdasarkan ayat Al-Quran An Nahl Ayat 90, Artinya: Sesungguhnya 
Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi 
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, 
kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar 
kamu dapat mengambil pelajaran. Sabda Nabi : “(hakim) itu ada tiga 
jenis ; dua daripadanya masuk ke Neraka dan satu daripadanya masuk 
ke Syurga. Lelaki (hakim) yang tahu perkara yang benar, lalu ia 
menghukum berlandaskan kebenaran tersebut, maka ia masuk ke 
Syurga. Dan lelaki (hakim) yang tidak tahu perkara yang benar, lalu ia 
menjalankan hukuman atas kejahilannya, maka ia masuk ke Neraka.” 
2.2.4. Berlaku adil kepada makhluk lain.
5 
Artinya dapat menempatkan pada tempat yang sesuai, misalnya adil 
pada binatang, harus menempatkannya pada tempat yang layak menurut 
kebiasaan binatang tersebut. Jika memelihara binatang harus disediakan 
tempat dan maka nannya yang memadai. Jika binatang itu akan 
dimanfaatkan untuk kendaraan atau usaha pertanian, hendaknya dengan 
cara yang wajar, jangan member beban yang malampaui batas. demikian 
pua jika hendak dimakan, maka hendaklah disembelih dengan cara yang 
telah ditentukan oleh ajaran agama, dengan cara yang baik yang tidak 
menimbulkan kesakitan bagi binatang itu. Menjaga kelestarian 
lingkungan juga termasuk berbuat adil kepada makhluk lain. 
Bentuk lain adil adalah Tawazun (keseimbangan) meliputi fisik, akal, 
dan ruhani. Sabda Nabi yang artinya: “Berlaku adillah walaupun ke 
atas diri kamu (sendiri).” 
2.2.5. Berlaku Adil Kepada Allah 
Sebagai mahluk ciptaanya dengan teguh kita harus melaksanakan 
apa yang diwaji bkan kepada kita sehingga benar benar allah sebagai 
tuhan kita, Untuk mewujudkan keadilan kita kepad allah maka kita 
wajib beriman kepada allah, tidak meyekutukanya dengan sesuatu yang 
lain. Mengimani Nabi Muhammad SAW sebagai utusanya, menjunjung 
tinggi petunjuk dan kebenaran daripadanya yaitu mengimani alquran 
sebagai wahyu allah, menaati ketentuanya yaitu melaksanakan 
perintahnya dan menjauhi laranganya. 
2.3. Penegakan Dan Standar Keadilan 
Berlaku adil memerlukan kejelian dan ketajaman, di samping mutlak 
adanya mizan (standar) yang dipergunakan untuk menilai keadilan atau 
kezaliman seseorang. Mizan keadilan dalam Islam adalah Al Qur’an. Firman 
Allah :
6 
Artinya: “Allah-lah yang menurunkan kitab dengan membawa kebenaran dan 
menurunkan neraca (keadilan)” (QS. Asy-Syuraa: 17) 
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa 
bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan 
neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami 
ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai 
manfaat bagi manusia”.(QS.Al-Hadiid: 25) 
Rasyid Ridla, dalam Tafsir al Manar menjelaskan ayat ini dengan 
mengatakan : 
“Sebaik-baik orang adalah orang yang bisa berhenti dari kezaliman dan 
permusuhan dengan hidayah Al Qur’an, kemudian orang yang berhenti dari 
kezaliman karena kekuasaan (penguasa) dan yang paling buruk adalah orang 
yang tidak bisa diterapi kecuali dengan kekerasan. Inilah yang dimaksudkan 
dengan al Hadid (besi)”. 
Kesalihan dunia ini hanya bisa ditegakkan dengan Al Qur’an yang telah 
mengharamkan kezaliman dan pengrusakan-pengrusakan lainnya. Sehingga 
manusia menjauhi kezaliman itu karena rasa takutnya kepada murka Allah di 
dunia dan akhirat, di samping untuk mengharapkan balasan/ganjaran dunia 
akhirat. Kemudian dengan keadilan hukum yang ditegakkan penguasa untuk 
membuat jera umat manusia dari dosa. 
2.4. Keutamaan Berbuat Adil 
Keutamaan berbuat adil adalah: 
a. Terciptanya rasa aman, tenang dan tentram dalam jiwa dan ada rasa 
khawatir kepada orang lain, karena tidak pernah melakukan perbuatan yang 
merugikan atau menyakiti orang lain. 
b. Membentuk pribadi yang dapat melaksanakan kewajiban dengan baik, 
taat dan patuh kepada Allah SWT, melaksanakan perintahnya dan menjauhi 
larangannya.
7 
c. Menciptakan ketenteraman dan kerukunan hidup, hubungan yang 
harmonis dan tertib dengan orang lain. 
d. Dalam memanfaatkan alam sekitar untuk kemasyalatan dan kebaikan 
hidup di dunia dan di akhirat. 
2.5. Hadits Tentang Berlaku Adil 
Hadits ke – 1: 
Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda 
Rasulullah Shalallahu‘alaihi wassalam: Sesungguhnya mereka-mereka yang 
berbuat adil di sisi Allah Ta’ala, kelak mereka akan berada di atas mimbar 
dari cahaya, dari tangan kanan Allah ArRahman ‘Azza wa Jalla. Dan kedua 
tangan Allah Ta’ala adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil 
dalam menghukumi sesuatu bahkan terhadap keluarga mereka sendiri, juga 
terhadap orang-orang yang mereka pimpin. (Hr. Imam Muslim) 
Hadits ke – 2: 
مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأتَاَنِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِ ل 
Artinya: “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung 
kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan 
sebagian tubuhnya miring.” 
Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i 
(2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi 
Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim 
(2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) 
melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari 
Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma 
Hadits ke – 3:
8 
Dalam memutuskan perkara, keadilan mesti menjadi landasan berpijak. Anas 
bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wasallam, bersabda: 
إِذَا حَكَمْتمُْ فَاعْدِلُوْا 
Artinya: “Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” 
(Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. 469])
BAB III 
PENUTUP 
9 
3.1. Kesimpulan 
Adil Berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, 
lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari 
diskriminasi, ketidak jujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang 
yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum 
negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Konsep keadilan 
dalam Islam yaitu: 
a. Keadilan Intelektual 
b. Keadilan Terhadap Diri Sendiri 
c. Adil Kepada Orang Lain 
d. Berlaku Adil Kepada Makhluk Lain. 
e. Adil Kepada Allah SWT 
Berlaku adil memerlukan kejelian dan ketajaman, di samping mutlak 
adanya mizan (standar) yang dipergunakan untuk menilai keadilan atau 
kezaliman seseorang. Mizan keadilan dalam Islam adalah Al Qur’an. Dengan 
bersikap adil akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan. 
3.2. Saran 
Sebagai seorang muslim kita harus taat menjalankan apa yang telah 
disyariatkan oleh agama tanpa pengecualian termasuk untuk berbuat adil dalam 
kehidupan.
10 
DAFTAR PUSTAKA 
Ibnu Qayyim. 1990. Risalah Tabukiyah , (Tahqiq Abu Abdirrahman Aqil bin 
Muhammad bin Zaid Al-Muqthiri Al-Yamani, cet. Ke-1). Yaman: Maktabah Dar 
Al-Quds 
Soeyoeti, Drs. H Zarkowi. 1995/1996. Pendidikan Agama Islam Untuk Smu. Jakarta: 
Direktora jendral Pembina kelembagaan agama Islam 
http://kmplnmakalah.blogspot.com/2012/12/makalah-keadilan.html

Keadilan Dala Pandangan Islam

  • 1.
    KEADILAN DALAM PANDANGANISLAM MAKALAH Diajukan untuk melengkapi salah satu tugas mata kuliah Islam Untuk Disiplin Ilmu Disusun Oleh : MUHAMAD YOGI 41032161121007 SITI YUSI R.A 41032161121004 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS ISLAM NUSANTARA BANDUNG 2014
  • 2.
    KATA PENGANTAR Pujisyukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang alhamdulillah tepat pada waktunya yang berjudul “ KEADILAN DALAM PANDANGAN ISLAM” Makalah ini berisikan tentang pembelajaran Keadilan dalam Pandangan Islam Diharapkan Makalah ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan kepada kita semua tentang Keadilan Dalam Pandangan Islam. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin. ii Bandung, 5 Oktober 2014 Penyusun Muhamad Yogi Siti Yusi R.A
  • 3.
    DAFTAR ISI KATAPENGANTAR ........................................................................................................ ii DAFTAR ISI ...................................................................................................................... iii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................ 1 1.1. Latar Belakang ............................................................................................... 1 1.2. Rumusan Masalah .......................................................................................... 1 1.3. Tujuan ............................................................................................................. 1 BAB II PEMBAHASAN .................................................................................................. 2 2.1. Pengertian Adil ............................................................................................... 2 2.2. Konsep Keadilan Dalam Islam ....................................................................... 3 2.3. Penegakan dan Standar Keadilan ................................................................... 5 2.4. Keutamaan Berbuat Adil ................................................................................. 6 2.5. Hadist Tentang Berlaku Adil .......................................................................... 7 BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 9 3.1. Kesimpulan ..................................................................................................... 9 3.2. Saran .............................................................................................................. . 9 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 10 iii
  • 4.
    BAB I PENDAHULUAN 1 1.1. Latar Belakang Islam adalah agama yang benar, agama yang paling sempurna di antara agama samawi yang diturunkan Allah SWT. kesmpurnaannya dapat dilihat dari syariatnya, tidak ada satu sendi kehidupan pun melainkan semua itu telah terliputi oleh hukum atau syariat Islam, termasuk dalam keadilan. Keadilan dalam Islam meliputi semua hal, mulai pada diri sendiri, dalam kehidupan rumah tangga, masyarakat hingga kehidupan bernegara. Keadilan dalam Islam bukanlah keadilan yang dibuat-buat atau hasil pemikiran manusia, melainkan berlandaskan Al-Qur’an yang telah diturunkan oleh Allah Rabb semesta alam baik dalam Al-Qur’an maupun yang ilhamkan kepada manusia pilihan Allah, Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam (Al-Hadits). 1.2. Rumusan Masalah a. Apa pengertian adil? b. Bagaimana konsep keadilan dalam Islam? c. Bagaimana penegakan dan standar keadilan itu? d. Apa keutamaan berbuat adil? e. Sebutkan hadits tentang berlaku adil! 1.3. Tujuan Penulisan a. Untuk mengetahui pengertian adil b. Untuk mengetahui konsep keadilan dalam Islam c. Untuk mengetahui penegakan dan standar keadilan d. Untuk menetahu keutamaan berbuat adil e. Untuk mengetahui hadist tentang berbuat adil
  • 5.
    BAB II PEMBAHASAN 2 2.1. Pengertian Adil Adil Berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidakjujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Dalam Al Quran, kata ‘adl disebut juga dengan qisth (QS Al Hujurat:9) Sebagian ulama berpendapat bahwa: “Orang yang adil itu ialah orang yang jika marah, kemarahannya itu tidak menjerumuskannya kepada kebatilan. Dan apabila ia senang, kesenangannya itu tidak mengeluarkannya dari kebenaran." Mengapa Islam menganggap sikap adil itu penting? Salah satu tujuan utama Islam adalah membentuk masyarakat yang menyelamatkan; yang membawah rahmat pada seluruh alam –rahmatan lil alamin (QS Al Anbiya’:107). Ayat ini memiliki sejumlah konsekuensi bagi seorang muslim: Pertama, seorang muslim harus bersikap adil dan jujur pada diri sendiri, kerabat dekat , kaya dan miskin. Hal ini terutama terkait dengan masalah hukum (QS An Nisaa’:135).
  • 6.
    3 Penilaian, kesaksiandan keputusan hukum hendaknya berdasar pada kebenaran walaupun kepada diri sendiri, saat di mana berperilaku adil terasa berat dan sulit. Kedua, keadilan adalah milik seluruh umat manusia tanpa memandang suku, agama, status jabatan ataupun strata sosial. Oleh karena itu, seorang muslim wajib menegakkan keadilan hukum dalam posisi apapun dia berada; baik sebagai hakim, jaksa, polisi maupun saksi. Ketiga, di bidang yang selain persoalan hukum, keadilan bermakna bahwa seorang muslim harus dapat membuat penilaian obyektif dan kritis kepada siapapun. Mengakui adanya kebenaran, kebaikan dan hal-hal positif yang dimiliki kalangan lain yang berbeda agama, suku dan bangsa dan dengan lapang dada membuka diri untuk belajar (QS Yusuf: 109) serta dengan bijaksana memandang kelemahan dan sisi-sisi negatif mereka. Pada saat yang sama, seorang muslim dengan tanpa ragu mengkritisi tradisi atau perilaku negatif yang dilakukan umat Islam. Dengan demikian, dapatlah disimpulkan bahwa seorang individu muslim yang berperilaku adil akan memiliki citra dan reputasi yang baik serta integritas yang tinggi di hadapan manusia dan Tuhan-nya. Karena, sifat dan perilaku adil merupakan salah satu perintah Allah (Qs Asy-Syura 42:15) dan secara explisit mendapat pujian (QS Al-A’raf: 159). Perilaku adil, sebagaimana disinggung di muka, merupakan salah satu tiket untuk mendapat kepercayaan orang; untuk mendapatkan reputasi yang baik. Karena dengan reputasi yang baik itulah kita akan memiliki otoritas untuk berbagi dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran dengan orang lain (QS Ali-Imran:104). Tanpa itu, kebaikan apapun yang kita bagi dan sampaikan hanya akan masuk ke telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. Karena, perilaku adil itu identik dengan konsistensi antara perilaku dan perkataan (QS As Saff: 3). 2.2. Konsep Keadilan dalam Islam
  • 7.
    4 2.2.1. Keadilanintelektual (al-‘adl al-fikri). Yaitu pemikiran seseorang yang berani menyatakan bahwa sesuatu sebagai kebenaran atau kesalahan yang secara objektif karena memang benar atau salah, bukan karena pertimbangan subjektif dan tendensial lain. 2.2.2. Keadilan terhadap diri sendiri. Menegakkan keadilan pada diri sendiri itu hendaklah berani mengakui kesalahan dirinya sendiri dan bersedia menerima akibat daripada kesalahan tersebut. Keadilan pada diri sendiri itu dapat dipelihara apabila seseorang itu mempunyai ilmu tentang yang benar (hak) dan yang salah (batil). 2.2.3. Adil kepada orang lain. Keadilan kepada orang lain artinya menyempurnakan hak mereka dan melaksanakan hukum secara saksama antara mereka, membela orang yang teraniaya dan menghukum orang yang bersalah. Ini berdasarkan ayat Al-Quran An Nahl Ayat 90, Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. Sabda Nabi : “(hakim) itu ada tiga jenis ; dua daripadanya masuk ke Neraka dan satu daripadanya masuk ke Syurga. Lelaki (hakim) yang tahu perkara yang benar, lalu ia menghukum berlandaskan kebenaran tersebut, maka ia masuk ke Syurga. Dan lelaki (hakim) yang tidak tahu perkara yang benar, lalu ia menjalankan hukuman atas kejahilannya, maka ia masuk ke Neraka.” 2.2.4. Berlaku adil kepada makhluk lain.
  • 8.
    5 Artinya dapatmenempatkan pada tempat yang sesuai, misalnya adil pada binatang, harus menempatkannya pada tempat yang layak menurut kebiasaan binatang tersebut. Jika memelihara binatang harus disediakan tempat dan maka nannya yang memadai. Jika binatang itu akan dimanfaatkan untuk kendaraan atau usaha pertanian, hendaknya dengan cara yang wajar, jangan member beban yang malampaui batas. demikian pua jika hendak dimakan, maka hendaklah disembelih dengan cara yang telah ditentukan oleh ajaran agama, dengan cara yang baik yang tidak menimbulkan kesakitan bagi binatang itu. Menjaga kelestarian lingkungan juga termasuk berbuat adil kepada makhluk lain. Bentuk lain adil adalah Tawazun (keseimbangan) meliputi fisik, akal, dan ruhani. Sabda Nabi yang artinya: “Berlaku adillah walaupun ke atas diri kamu (sendiri).” 2.2.5. Berlaku Adil Kepada Allah Sebagai mahluk ciptaanya dengan teguh kita harus melaksanakan apa yang diwaji bkan kepada kita sehingga benar benar allah sebagai tuhan kita, Untuk mewujudkan keadilan kita kepad allah maka kita wajib beriman kepada allah, tidak meyekutukanya dengan sesuatu yang lain. Mengimani Nabi Muhammad SAW sebagai utusanya, menjunjung tinggi petunjuk dan kebenaran daripadanya yaitu mengimani alquran sebagai wahyu allah, menaati ketentuanya yaitu melaksanakan perintahnya dan menjauhi laranganya. 2.3. Penegakan Dan Standar Keadilan Berlaku adil memerlukan kejelian dan ketajaman, di samping mutlak adanya mizan (standar) yang dipergunakan untuk menilai keadilan atau kezaliman seseorang. Mizan keadilan dalam Islam adalah Al Qur’an. Firman Allah :
  • 9.
    6 Artinya: “Allah-lahyang menurunkan kitab dengan membawa kebenaran dan menurunkan neraca (keadilan)” (QS. Asy-Syuraa: 17) Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia”.(QS.Al-Hadiid: 25) Rasyid Ridla, dalam Tafsir al Manar menjelaskan ayat ini dengan mengatakan : “Sebaik-baik orang adalah orang yang bisa berhenti dari kezaliman dan permusuhan dengan hidayah Al Qur’an, kemudian orang yang berhenti dari kezaliman karena kekuasaan (penguasa) dan yang paling buruk adalah orang yang tidak bisa diterapi kecuali dengan kekerasan. Inilah yang dimaksudkan dengan al Hadid (besi)”. Kesalihan dunia ini hanya bisa ditegakkan dengan Al Qur’an yang telah mengharamkan kezaliman dan pengrusakan-pengrusakan lainnya. Sehingga manusia menjauhi kezaliman itu karena rasa takutnya kepada murka Allah di dunia dan akhirat, di samping untuk mengharapkan balasan/ganjaran dunia akhirat. Kemudian dengan keadilan hukum yang ditegakkan penguasa untuk membuat jera umat manusia dari dosa. 2.4. Keutamaan Berbuat Adil Keutamaan berbuat adil adalah: a. Terciptanya rasa aman, tenang dan tentram dalam jiwa dan ada rasa khawatir kepada orang lain, karena tidak pernah melakukan perbuatan yang merugikan atau menyakiti orang lain. b. Membentuk pribadi yang dapat melaksanakan kewajiban dengan baik, taat dan patuh kepada Allah SWT, melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya.
  • 10.
    7 c. Menciptakanketenteraman dan kerukunan hidup, hubungan yang harmonis dan tertib dengan orang lain. d. Dalam memanfaatkan alam sekitar untuk kemasyalatan dan kebaikan hidup di dunia dan di akhirat. 2.5. Hadits Tentang Berlaku Adil Hadits ke – 1: Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu ‘anhu berkata: Bersabda Rasulullah Shalallahu‘alaihi wassalam: Sesungguhnya mereka-mereka yang berbuat adil di sisi Allah Ta’ala, kelak mereka akan berada di atas mimbar dari cahaya, dari tangan kanan Allah ArRahman ‘Azza wa Jalla. Dan kedua tangan Allah Ta’ala adalah kanan. Mereka adalah orang-orang yang adil dalam menghukumi sesuatu bahkan terhadap keluarga mereka sendiri, juga terhadap orang-orang yang mereka pimpin. (Hr. Imam Muslim) Hadits ke – 2: مَنْ كَانَ لَهُ امْرَأتَاَنِ فَمَالَ إِلَى إِحْدَاهُمَا جَاءَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَشِقُّهُ مَائِ ل Artinya: “Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.” Takhrij Hadits Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213), ad-Darimi (2/143), Ibnu Majah (1969), Ibnu Abi Syaibah (2/66/7), Ibnul Jarud (no. 722), Ibnu Hibban (no. 1307), al-Hakim (2/186), al-Baihaqi (7/297), ath-Thayalisi (no. 2454), dan Ahmad (2/347, 471) melalui jalur Hammam bin Yahya, dari Qatadah, dari an-Nadhr bin Anas, dari Basyir bin Nuhaik, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma Hadits ke – 3:
  • 11.
    8 Dalam memutuskanperkara, keadilan mesti menjadi landasan berpijak. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: إِذَا حَكَمْتمُْ فَاعْدِلُوْا Artinya: “Apabila kalian memutuskan hukum maka bersikaplah adil!” (Dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [no. 469])
  • 12.
    BAB III PENUTUP 9 3.1. Kesimpulan Adil Berasal dari bahasa Arab yang berarti berada di tengah-tengah, jujur, lurus, dan tulus. Secara terminologis adil bermakna suatu sikap yang bebas dari diskriminasi, ketidak jujuran. Dengan demikian orang yang adil adalah orang yang sesuai dengan standar hukum baik hukum agama, hukum positif (hukum negara), maupun hukum sosial (hukum adat) yang berlaku. Konsep keadilan dalam Islam yaitu: a. Keadilan Intelektual b. Keadilan Terhadap Diri Sendiri c. Adil Kepada Orang Lain d. Berlaku Adil Kepada Makhluk Lain. e. Adil Kepada Allah SWT Berlaku adil memerlukan kejelian dan ketajaman, di samping mutlak adanya mizan (standar) yang dipergunakan untuk menilai keadilan atau kezaliman seseorang. Mizan keadilan dalam Islam adalah Al Qur’an. Dengan bersikap adil akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan. 3.2. Saran Sebagai seorang muslim kita harus taat menjalankan apa yang telah disyariatkan oleh agama tanpa pengecualian termasuk untuk berbuat adil dalam kehidupan.
  • 13.
    10 DAFTAR PUSTAKA Ibnu Qayyim. 1990. Risalah Tabukiyah , (Tahqiq Abu Abdirrahman Aqil bin Muhammad bin Zaid Al-Muqthiri Al-Yamani, cet. Ke-1). Yaman: Maktabah Dar Al-Quds Soeyoeti, Drs. H Zarkowi. 1995/1996. Pendidikan Agama Islam Untuk Smu. Jakarta: Direktora jendral Pembina kelembagaan agama Islam http://kmplnmakalah.blogspot.com/2012/12/makalah-keadilan.html