KALKULUS 1 
DOSEN PEMBIMBING 
HETTY ROHAYANI,Ah,St,M.Kom 
Disusun oleh: 
Taufik Hidayah Nim:8020140186 
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA 
SEKOLAH TINGGI ILMU KOMPUTER DINAMIKA BANGSA JAMBI 
2014/2015
ii 
KATA PENGANTAR 
Pertama-tama penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun Resume Ini. Shalawat beserta salam tidak lupa penulis ucapkan kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita semua umatnya dari alam kegelapan menuju alam yang terang-menerang, dari alam kebodohan menuju alam yang penuh ilmu pengetahuan. 
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan resume ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu Penulis mohon maaf dan menerima kritik dan saran yang membangun/membaca. 
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi motipasi 
Dan pembelajaran bagi kita semua. Amin ya robbal ‘alamin
iii 
DAFTAR ISI 
Halaman 
KATA PENGANTAR ....................................................................... ii 
DAFTAR ISI ..................................................................................... iii 
BAB I PEMBAHASAN 
1.1 Bilangan Riil ....................................................................... 1 
1.2 Persamaan Linier .............................................................. 14 
1.3 Nilai Mutlak...................................................................... 33 
1.4 Fungsi ............................................................................... 35 
1.5 Limit ................................................................................. 42 
1.6 Turunan1 ........................................................................... 46 
1.7 Turunan 2 .......................................................................... 52 
BAB II 
2.1 Simpulan .......................................................................... 55 
2.2 Saran ................................................................................. 55 
Daftar Pustaka
1 
BAB I 
1.1 Bilangan Riil 
A. Himpunan Bilangan Riil 
Bilangan rasional adalah bilangan yang bisa dinyatakan dalam bentuk . Sebarang bilangan rasional dapat dituliskan sebagai suatu desimal. Pernyataan desimal suatu bilangan rasional dapat mempunyai akhir atau akan berulang dalam daur yang tetap selamanya. Misalnya 
=1,18181818 
Bilangan yang tak bisa dinyatakan dalam bentuk dengan m.n bilangan bulat dan disebut bilangan tak rasional. Sebarang bilangan takrasional juga dapat dituliskan sebagai suatu desimal. Pernyataan desimal suatu bilangan takrasional tidak berulang menurut suatu daur. Misalnya,0 n ≠ 0 
√2=1,41421356223 π3,1415926335 
Gabungan dari himpunan bilangan rasional dan himpunan bilangan tak rasional disebut himpunan bilangan riil ( biasa dilambangkan ). Anggota himpunan tersebut dinamakan bilangan riil. R 
B. Sistem Bilangan Riil 
Sistem bilangan riil dibentuk dari himpunan bilangan riil dan operasi yang didefinisikan pada himpunan tersebut. R yang dilengkapi dengan operasi penjumlahan dan perkalian membentuk sistem aljabar lapangan, yakni berlaku: 
1. x + y + y + x untuk sebarang x, y di R 
2. (x + y) + z + x + (y + z) untuk sebarang x, y, z di R 
3. Terdapat 0 di R demikian sehingga 0 + x + x + 0 + x untuk sebarang x di R 
4. Untuk sebarang x di R terdapat - x di R demikian sehingga x + (+x) + (+x) + x + 0 
5. xy + yx untuk sebarang x, y di R 
6. (xy)z + x(yz) untuk sebarang x, y, z di R 
7. Terdapat 1 di R demikian sehingga 1.x + x.1+ x untuk sebarang x di R
2 
8. Untuk sebarang x di R dengan x 0 terdapat demikian sehingga 
Pengurangan dan pembagian didefinisikan dengan dan ) (y-x=x+(-y dan 
C. Urutan pada Himpunan Bilangan Riil 
Terdapat himpunan bagian dari R yang unsurnya dinamakan himpunan bilangan positif, yang memenuhi aksioma : 
 jika a € R maka a= 0, atau a positif, atau –a 
 jumlah dan hasil dua kali bilangan positif adalah suatu bilngan fositif ini memungkinkan kita mendfinisikan relasi urutan pada bilangan riil Dinefenisikan relasi urutan < (dibaca “kurang dari”) sebagai x<y – y-x positif selanjutnya relasi urutan<(Dibaca (“lebih dari”)didefinisikan sebagai x>yy<x 
urutan tersebut memiliki sifat-sifat sebagai berikut : 
 Trikotomi, jika x dan y adalah bilangan riil, maka satu diantara yang berikut berlaku x<y atau x=y atau x>y 
 Ketransitifan, x<y dan y<zx<z untuk sebarang x,y,z di R 
 x<yx+z untuk sebarang x,y,z di R 
 jika z positif, berlaku x< y xz<yz untuk sebarang x,y di R dan jika z negatif berlaku x < y  xz > yz untuk sebarang x,y di R, relasi≤ (dibaca” kurang dari atau sama dengan”), didefinisikan sebagai x ≤ y y ≤ x sifat sifat urutan 2,3 dan 4 berlaku dengan lambang < dan> diganti dengan lambang ≤ atau ≥. 
D. Kerapatan pada Himpunan Bilangan Riil 
Diantara dua bilangan riil sebarang yang berlainan x dan y terdapat suatu bilangan riil lainnya, khususnya z= dan karenanya terdapat juga bilangan riil diantara x dan z dan diantara z dan y. Argumentasi ini dapat diulang sampai tak hingga, sehingga kita dapat mengambil kesimpulan diantara dua
3 
bilangan riil sebarang ( tak peduli betapun dekatnya ) terdapat takterhingga banyaknya bilangan riil lain. 
E. Garis riil 
Bilangan riil dapat dipandang sebagai label untuk titik sepanjang garis mendatar. Pada garis tersebut bilangan riil mengukur jarak berarah ke kanan atau ke kiri dari suatu titik tetap yang diberi label . 0 
c 
0 
Garis tersebut dinamakan garis riil 
Catatan: 
 Mengatakan x<y bearti bahwa x berada disebelah kiri y pada garis riil. 
x y 
 Pada garis riil, bilangan riil positif terletak di sebelah kanan 0 dan bilangan riil negatif terletak di sebelah kiri 0 . 
F. Selang 
Himpunan bagian tertentu dari himpunan bilangan riil yang disebut selang sering muncul dalam Kalkulus. Secara geometris ini berkaitan dengan ruas garis pada garis riil. Jika a b, interval buka dari a ke b terdiri dari semua bilangan diantara a dan b dan menggunakan simbol (a,b) . Dalam notasi pembentuk himpunan ditulis x a x b. Perlu dicatat bahwa titik a
4 
dan b tidak termasuk dalam selang tersebut. Selang tertutup dari a ke b adalah himpunan a,bx a x b, dalam hal ini a dan b termasuk dalam selang 
tersebut. Lebih lanjut perhatikan tabel berikut 
Simbol pada notasi di atas bukan mewakili sebuah bilangan. (a,) berartihimpunan semua bilangan yang lebih dari a . Secara geometris selang ini membentang mulai dari titik a tak berhingga jauhnya ke kanan dalam arah positif. Analog untuk [a,) , (,b) , (,b] dan (,) . 
G. Macam-macam bilangan riil 
1. Bilangan Asli (A) 
Bilangan asli adalah suatu bilangan yang mula-mula dipakai untuk memebilang. Bilangan asli dimulai dari 1,2,3,4,... 
A = {1,2,3,4,...} 
2. Bilangan Genap (G) 
Bilangan genap dirumuskan dengan 2n, nÎA 
G = {2,4,6,8,...}
5 
3. Bilangan Ganjil (Gj) 
Bilangan ganjil dirumuskan dengan 2n -1, nÎA 
Gj = {1,3,5,7,...} 
4. Bilangan Prima (P) 
Bilangan prima adalah suatu bilanganyang dimulai dari 2 dan hanya dapat dibagi oleh bilngan itu sendiri dan ± 1 
P = {2,3,5,7,...} 
5. Bilangan Komposit (Km) 
Bilangan komposit adalah suatu bilangan yang dapat dibagi oleh bilangan yang lain 
Km = {4,6,8,9,...} 
6. Bilangan Cacah (C) 
Bilangan Cacah adalah suatu bilangan yang dimulai dari nol 
C = {0,1,2,3,4,...} 
7. Bilangan Bulat (B) 
Bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat negatif, bilangan nol, dan bilangnan bulat positif. 
B = {...,-4,-3,-2,-1,0,1,2,3,4,...} 
8. Bilangan Pecahan (Pc) 
Bilangan pecahan adalah suatu bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk 
, a sebagai pembilang dan b sebagai penyebut, 
dengan a dan b ÎB serta b ≠0 
9. Bilangan Rasional (Q) 
Bilangan rasional adalah suatu bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk 
, a dan b ÎB serta b ≠0. (Gabungan bilangan bulat dengan himpunan bilangan pecahan)
6 
10. Bilangan Irasional (I) 
Bilangan irasional adalah suatu bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk 
, a dan b €B serta b ≠0. 
Contoh: 2, 3,p = 3,14159..., e = 2,71828... 
11. Bilangan Real (R) 
Bilangan real adalah suatu bilangan yang terdiri dari bilangan rasional dan bilangan irasional. Bilangan real biasanya disajikan dengan sebuah garis bilangan. 
Contoh: 
12. Bilangan Khayal (Kh) 
Bilangan khayal adalah suatu bilangan yang hanya bisa dikhayalkan dalam pikiran, tetapi kenyataannya tidak ada. 
Contoh: 1, 2, 3 
13. Bilangan Kompleks (K) 
Bilangan Kompleks adalah suatu bilangan yang terdiri dari bilangan dan khayal. 
Contoh: 2 + -1,5 - - 2 
H. Perbedaan Antara Bilangan Rasional Dan Bilangn Irasional 
Bilangan Rasional: 
1. Dapat dtulis dalam bentuk pecahan biasa 
2. Dapat ditulis dalam bentuk pecahan desimal terbatas.
7 
Bilangan Irasional: 
1. Tidak dapat ditulis sebagai pecahan biasa 
2. Jika didahului sebagai pecahan desimal, merupakan desimal tak terbatas. 
Contoh: 
3= 1,7320... 
2= 1,4142... 
3. Bilangan irasional ditulis dalam bentuk akar. 
Contoh: 2, 3, 7 
I. Sifat-sifat Operasi Bilangan Bulat 
1. Sifat Komutatif: 
a + b = b + a 
a.b = b.a 
Contoh: 
1. 5 + 6 = 6 + 5 = 11 
2. 9 . 3 = 3 . 9 = 27 
2. Sifat Assosiatif: 
(a + b) + c = a + (b + c) 
(a . b) . c = a . (b . c) 
Contoh: 
1. (5 + 2) + 3 = 5 + (2 + 3) = 10 
2. (5 x 2) x 3 = 5 x (2 x 3) = 30 
3. Sifat Distributif Perkalian Terhadap Penjumlahan 
a x (b + c) = ab + ac 
Contoh: 
5 x (3 + 6) = 5 . 3 + 5 . 6 
= 15 + 30 
= 45 
4. Terdapat Dua Elemen Identitas
8 
Setiap bilangan a mempunyai dua elemen identitas, yaitu 1 dan 0, sehingga 
memenuhi: 
a + 0 = a 
a . 1 = a 
5. Terdapat Elemen Invers 
Setiap bialngan a mempunyai balikan atau invers penjumlahan, yaitu a yang memenuhi: 
a + (-a) = 0 
Setiap a ≠ 0 mempunyai balikan perkalian yaitu , yang memenuhi: a. =1 
J. Operasi Pada Bilangan Bulat: 
1. Operasi Penjumlahan 
a + b = c a, b dan c bilangan bulat 
Contoh: 14 + 10 = 24 
2. Operasi Pengurangan 
A – b = c Ûa + (-b) = c a, b dan c bilangan bulat 
Contoh: 10 – (-2) = 10 + 2 = 12 
3. Operasi Perkalian 
a . b = c a, b dan c bilangan bulat 
Contoh: 5 . 4 = 20 
(-9) . (-4) = 36 
4. Operasi Pembagian 
a . b = c a, b dan c bilangan bulat 
Contoh: 5 . 4 = 20 
(-9) . (-4) = 36. 
5. Operasi Pembagian 
. a, 
b bilangan bulat dan b ≠ 0, c bilangan real
9 
K. Operasi Pada Bilangan Pecahan 
1. Operasi Penjumlahan 
2. Operasi Pengurangan 
Contoh: 
Tentukan hasil perkalian berikut! 
3. Operasi Perkalian 
Contoh: 
Tentukan hasil perkalian berikut: 
4. Operasi Pembagian 
Contoh: 
Tentukan hasil pembagian dari pecahan di bawah ini! 
L. Konversi Pecahan 
1. Mengubah pecahan biasa ke pecahan desimal
10 
 Mengubah penyebutnya menjadi 10 atau perpangkatan 10 lainnya. 
 Dengan pembagian berulang 
Contoh: 
Ubahlah ke dalam pecahan desimal! 
= 0,33333... = 0,33 
2. Mengubah pecahan biasa ke bentuk persen. 
Mengubah penyebutnya menjadi 100 
3. Ubahlah 75% dan 30% ke dalam bentuk pecahan! 
4. Mengubah persen ke pecahan biasa dan ke pecahan desimal 
Contoh: 
Ubahlah persen berikut ke pecahan biasa dan ke pecahan desimal! 
M. Perbandingan, Skala, Dan Persen 
1) Perbandingan digunakan untuk membandingkan dua buah bilangan 
a. Perbandingan senilai Bentuk Umum: 
= atau a1 : b1 = a 2 : b 2 
b. Perbandingan berbalik nilai Bentuk Umum:
11 
atau a1 : b 2 = a 2 : b1 
Contoh: 
1. Seorang ibu menghabiskan ½ liter minyak tanah untukmerebus air sebanyak 15 liter air. Jika dia akan merebus airsebanyak 100 liter, berapa liter minyak tanah yangdiperlukan? 
2. Suatu pekerjaan dapat diselesaikan oleh 4 orang tukangdalam 20 hari. Jika pekerjaan itu harus selesai dalam 2 hari,maka berapa orang tukang yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan itu? 
Jawab: 
1. Jika perbandingan banyak minyak tanah (M) dengan banyak air (A) adalah M : A, maka: 
2. Jika 4 orang tukang (T1 ) dapat menyelesaikan 20 hari (H1 ),maka untuk selesai selama 2 hari (H2 ) harus dipekerjakan lebih dari 4 orang. 
2) Skala 
Skala merupakan bentuk perbandingan nilai dari suatu besaran atau perbandingan antara ukuran gambar dengan ukuran sesungguhnya (kenyataannya). Suatu skala bisa merupakan pembesaran atau pengecilan dari ukuran sesungguhnya. 
 Skala pembesaran 
Contoh: 
Jarak kota A ke kota B pada peta adalah 10 cm. Jika jarak 
sesungguhnya adalah 100 km,berapakah skala kota A ke kota B? 
Jawab: 
Misal jarak pada peta = x
12 
Misal jarak sesungguhnya = y 
X : y = 10 cm : 100 km 
= 10 cm : 10.000.000 cm 
= 1 : 1.000.000 
Jadi, skala jarak kota A ke kota B adalah 1 : 1.000.000 
 Skala Pengecilan 
Contoh: 
Tinggi seorang aktor adalah 180 cm. Berapakah tinggi aktor tersebut 
pada layar TV jika skalanya 1 : 100? 
Jawab: 
Misal tinggi sesungguhnya = A = 180 cm 
Tinggi pada TV = B 
= 
Jadi tinggi aktor pada layar TV 1,8 cm 
3. Persen 
Persen (%) berarti per seratus, merupakan bentuk lain dari perbandingan 
yang ditulis dalam pecahan dengan penyebut 100. 
Contoh: 
Sebatang perunggu terbuat dari 100 kg tembaga, 20 kg timah hitam, dan 30 kg timah putih. Berapakah persentase tiap-tiap bahan tersebut dalam perunggu itu? 
Jawab: 
Massa total perunggu = 100 kg + 20 kg + 30 kg = 150 kg
13 
N. Penerapan Pada Bidang Keahlian 
1) Komisi 
Komisi adalah pendapatan yang besarnya tergantung pada tingkat penjualan yang dilakukan. 
2) Diskon 
Diskon adalah potongan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli 
3) Laba dan Rugi 
Laba = Penjualan – Pembelian 
Rugi = Pembelian – Penjualan 
Contoh soal: 
 Seorang sales mendapat komisi 20% jika dia mampu menjual barang senilai Rp2.000.000,00. Tentukan komisi yang diterima! 
Jawab: 
Komisi = 20% x Rp2000.000,00 
=Rp.2000.000.00 
 Sebuah barang dibeli seharga Rp500.000,00, kemudian barang tersebut dijual dengan harga Rp750.000,00. Hitunglah persentase 
keuntungan dari harga pembelian dan dari harga penjualan! 
Jawab: 
Laba = Rp750.000,00 – Rp500.000,00 = Rp250.000,00 
Persentase laba dari harga beli : 
Persentase laba dari harga jual:
14 
1.2 Persamaan Linier 
A. Persamaan Linear 
Persamaan linear merupakan sebuah persamaan aljabar dimana tiap sukunya mengandung konstanta atau perkalian konstanta dengan tanda sama dengan serta variabelnya berpangkat satu. Persamaan ini dikatakan linear karena jika kita gambarkan dalam koordinat cartesius berbentuk garis lurus. Sistem persamaan linear disebut sistem persamaan linear satu variabel karena dalam sistem tersebut mempunyai satu variabel. Bentuk umum untuk persamaan linear satu variabel yaitu y=mx+b yang dalam hal ini konstanta m menggambarkan gradien garis serta konstanta b adalah titik potong garis dengan sumbu-y. 
Jika dalam sistem persamaan linear terdapat dua variabel maka sistem persamaannya disebut sistem persamaan linear dua variabel yang mempunyai bentuk umum Ax+By+C=0 dimana bentuk umum ini mempunyai bentuk standar ax+by=c dengan konstanta ≠0. 
Dalam mencari titik potong suatu gradien kita gunakan rumus sebagai berikut : 
Titik potong dengan sumbu x maka
15 
Titik potong dengan sumbu y maka 
Untuk persamaan linear yang memiliki lebih dari dua variabel memiliki bentuk umum : 
dimana a1 merupakan koefisien untuk variabel pertama x1, begitu juga untuk yang lainnya sampai variabel ke-n. 
Untuk lebih memahami masalah persamaan linera perhatikan contoh berikut : 
A.. Berikut ini diberikan bentuk beberapa persamaan, tentukan apakah termasuk persamaan linear atau bukan. 
a. x + y = 5 (persamaan linear dua variabel) 
b. x2 + 6x = -8 (persamaan kuadrat satu variabel) 
c. p2 + q2 = 13 (persamaan kuadrat dua variabel) 
d. 2x + 4y + z = 6 (persamaan linear tiga varibel) 
B. Carilah penyelesaian sistem persamaan x + 2y = 8 dan 2x – y = 6 Jawab ; x + 2y = 8 2x – y = 6 (i) mengeliminasi variable x x + 2y = 8 | x 2 | –> 2x + 4y = 16 2x – y = 6 | x 1 | –> 2x – y = 6 – ………* 5y = 10
16 
y = 2 masukkan nilai y = 2 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 x + 2. 2 = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4 x = 4 HP = {4, 2} (ii) mengeliminasi variable y x + 2y = 8 | x 1 | –> x + 2y = 8 2x – y = 6 | x 2 | –> 4x – 2y = 12 + ……* 5x = 20 x = 4 masukkan nilai x = 4 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 4 + 2y = 8 2y = 8 – 4 2y = 4 y = 2 4 = 2 HP = {4, 2} 
C. Selesaikan soal no 2 menggunakan cara substitusi 
Jawab : 
Kita ambil persamaan pertama yang akan disubstitusikan yaitu x + 2y = 8 Selanjutnya persamaan tersebut kita ubah menjadi x = 8 – 2y, Persamaan yang diubah tersebut disubstitusikan ke persamaan 2x – y = 6 menjadi : 2 (8 – 2y) – y = 6 ; (x persamaan kedua menjadi x = 8 – 2y) 16 – 4y – y = 6 16 – 5y = 6 -5y = 6 – 16
17 
-5y = -10 5y = 10 y = 2 masukkan nilai y=2 ke dalam salah satu persamaan : x + 2y = 8 x + 2. 2. = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4 x = 4 Jadi penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah x = 4 dan y = 2. Himpunan penyelesaiannya : HP = {4, 2} 
D. Harga 2 buah mangga dan 3 buah jeruk adalah Rp. 6000, kemudian apabila membeli 5 buah mangga dan 4 buah jeruk adalah Rp11.500,- Berapa jumlah uang yang harus dibayar apabila kita akan membeli 4 buah mangga dan 5 . buah jeruk ? Jawab : Dalam menyelesaikan persoalan cerita seperti di atas diperlukan penggunaan model matematika. Misal: harga 1 buah mangga adalah x dan harga 1 buah jeruk adalah y Maka model matematika soal tersebut di atas adalah : 2x + 3 y = 6000 5x + 4 y = 11500 Ditanya 4 x + 5 y = ? Kita eliminasi variable x : 2x + 3 y = 6000 | x 5 | = 10x + 15 y = 30.000 5x + 4 y = 11500 | x 2 | = 10x + 8 y = 23.000 – ( karena x persamaan 1 dan 2 +) 7y = 7000 y = 1000 masukkan ke dalam suatu persamaan : 2x + 3 y = 6000
18 
2x + 3 . 1000 = 6000 2x + 3000 = 6000 2x = 6000 – 3000 2x = 3000 x = 1500 didapatkan x = 1500 (harga sebuah mangga) dan y = 1000 (harga sebuah jeruk) sehingga uang yang harus dibayar untuk membeli 4 buah mangga dan 5 buah jeruk adalah 4 x + 5 y = 4. 1500 + 5. 1000 = 6000 + 5000 = Rp. 11.000,- 
B. Pertidaksamaan Linear 
Pertidaksamaan linear merupakan kalimat terbuka dalam matematika yang terdiri dari variabel berderajat satu dan dihubungkan dengan tanda pertidaksamaan. Bentuk umum dari pertidaksamaan linear dua variabel yaitu : 
ax+by>c 
ax+by<c 
ax+by≥c 
ax+by≤c 
dengan a koefisien untuk x, b koefisien dari y dan c konstanta dimana a,b,c anggota bilangan riil dan a≠0,b≠0 . 
Suatu penyelesaian dari pertidaksamaan linear biasanya digambarkan dengan grafik, adapun langkah-langkah dalam menggambar grafik pertidaksamaan linear yaitu sebagai berikut : 
1. Ubah tanda ketidaksamaan menjadi persamaan
19 
2. Tentukan titik potong koordinat kartesius dengan sumbu x dan sumbu y. 
3. Gunakan titik uji untuk menentukan daerah penyelesaian. 
4. Gambarkan grafiknya dan beri arsiran pada daerah penyelesaiannya. 
Untuk lebih memahami tentang pertidaksamaan perhatikan beberapa contoh berikut : 
contoh 1.
20 
Contoh 2.
21 
Contoh 3. 
Gambarlah daerah penyelesaian dari sistem pertidaksamaan linear berikut untuk x, y anggota bilangan real. 
–x + 8y ≤ 80 
2x – 4y ≤ 5 
2x + y ≥ 12 
2x – y ≥ 4 
x ≥ 0, y ≥ 0
22 
Penyelesaian : 
Ubah pertidaksamaan menjadi bentuk persamaan dan gambarkan pada bidang koordinat.
23 
Selanjutnya uji titiknya untuk menentukan daerah penyelesaian. Dapat dengan cara substitusi atau dengan garis bilangan. Pada contoh kali ini menggunakan substitusi misalkan kita pilih titik (0,12) 
Setelah titk tersebut disubstitusi menghasilkan pernyataan yang salah, sehingga daerah penyelesaiannya berlawanan dengan daerah yang mengandung titik (0,12).
24 
Dengan cara yang sama untuk persamaan yang lain telah kita peroleh grafik sebagai berikut. 
Daerah penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut adalah daerah yang terkena seluruh arsiran, yaitu :
25 
C. Persamaan linier satu variable 
Persamaan adalah suatu pernyataan matematika dalam bentuk simbol yang menyatakan bahwa dua hal adalah persis sama. Dari bentuk-bentuk 3(x – 1) + x dan –x + 7, kita dapat membentuk persamaan 
yang merupakan suatu persamaan linear satu variabel (PLSV). Untuk menyelesaikan suatu persamaan, kita harus menentukan nilai dari x sedemikian sehingga persamaan tersebut menjadi benar, yang berarti, nilai dari ruas kiri sama dengan ruas kanan. Perhatikan tabel berikut. 
Berdasarkan tabel di atas, kita dapat menemukan bahwa persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 akan bernilai benar ketika kita mengganti x dengan bilangan 2, dan akan salah jika kita mengganti x dengan bilangan selain 2. Bilangan pengganti yang dapat menyebabkan suatu persamaan bernilai benar disebut selesaian atau akar. 
Menyelesaikan persamaan dengan menggunakan tabel akan memakan waktu yang cukup lama. Untuk itu, kita dapat menuliskan suatu persamaan yang diberikan ke dalam persamaan ekuivalen yang lebih sederhana, sampai kita mendapatkan solusi yang diminta. Persamaan-persamaan yang ekuivalen
26 
adalah persamaan-persamaan yang memiliki himpunan selesaian sama, dan diperoleh dari penyederhanaan kedua ruas persamaan dengan menggunakan sifat-sifat penjumlahan, perkalian, dan distributif dari suatu persamaan, sampai diperoleh suatu persamaan dalam bentuk x = konstanta. 
Sifat Penjumlahan dan Perkalian Suatu Persamaan Jika A, B, dan C merupakan bentuk-bentuk aljabar dan A = B, maka A + C = B + C, AC = BC, dan A/C = B/C (C ≠ 0). 
Dengan kata lain, berdasarkan sifat penjumlahan suatu persamaan, kita dapat menambahkan suatu bilangan atau bentuk aljabar lain ke dalam ruas kanan dan kiri persamaan tersebut. Pernyataan yang serupa dapat dibuat untuk menyatakan sifat perkalian suatu persamaan. Sifat-sifat dari persamaan ini dapat dikombinasikan untuk dijadikan panduan dalam menyelesaikan suatu persamaan linear. Sebagai catatan, tidak semua langkah dalam panduan ini diperlukan dalam menyelesaikan setiap persamaan. 
Berikut ini merupakan panduan/langkah-langkah dalam menyelesaikan persamaan linear satu variabel. 
1. Hilangkan tanda kurung dengan menggunakan sifat distributif, kemudian operasikan suku-suku yang serupa. 
2. Gunakan sifat penjumlahan suatu persamaan untuk menulis persamaan tersebut sehingga semua variabel berada di satu ruas, sedangkan semua konstanta berada di ruas lainnya. Sederhanakan masing-masing ruas. 
3. Gunakan sifat perkalian suatu persamaan untuk menghasilkan persamaan yang berbentuk x = konstanta. 
4. Untuk soal penerapan, jawablah ke dalam kalimat sempurna dan gunakan satuan yang sesuai dengan perintah. 
Sebagai contoh pertama, kita akan mencoba menyelesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 yang merupakan masalah di awal pembahasan ini.
27 
Contoh 1: Menyelesaikan PLSV dengan Menggunakan Sifat-sifat Persamaan 
Selesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7. 
Pembahasan 
Seperti selesaian dengan menggunakan tabel, kita juga memperoleh bahwa selesaian dari persamaan tersebut adalah x = 2. 
Untuk menguji selesaian yang kita peroleh, kita dapat mensubstitusikan selesaian ini ke dalam persamaan semula (proses ini sering disebut substitusi- balik), dan pastikan bahwa nilai pada ruas kiri sama dengan ruas kanan. Dari contoh 1 kita mendapatkan: 
Jika ada koefisien-koefisien dalam suatu persamaan berbentuk pecahan, kalikan kedua ruas dengan Berikut ini merupakan panduan/langkah-langkah dalam menyelesaikan persamaan linear satu variabel.
28 
1. Hilangkan tanda kurung dengan menggunakan sifat distributif, kemudian operasikan suku-suku yang serupa. 
2. Gunakan sifat penjumlahan suatu persamaan untuk menulis persamaan tersebut sehingga semua variabel berada di satu ruas, sedangkan semua konstanta berada di ruas lainnya. Sederhanakan masing-masing ruas. 
3. Gunakan sifat perkalian suatu persamaan untuk menghasilkan persamaan yang berbentuk x = konstanta. 
4. Untuk soal penerapan, jawablah ke dalam kalimat sempurna dan gunakan satuan yang sesuai dengan perintah. 
Sebagai contoh pertama, kita akan mencoba menyelesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 yang merupakan masalah di awal pembahasan ini. 
Contoh 1: Menyelesaikan PLSV dengan Menggunakan Sifat-sifat Persamaan 
Selesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7. 
Pembahasan 
Seperti selesaian dengan menggunakan tabel, kita juga memperoleh bahwa selesaian dari persamaan tersebut adalah x = 2. 
Untuk menguji selesaian yang kita peroleh, kita dapat mensubstitusikan selesaian ini ke dalam persamaan semula (proses ini sering disebut substitusi- balik), dan pastikan bahwa nilai pada ruas kiri sama dengan ruas kanan. Dari contoh 1 kita mendapatkan: 
Jika ada koefisien-koefisien dalam suatu persamaan berbentuk pecahan, kalikan kedua ruas dengan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) dari penyebut-penyebutnya, untuk menghilangkan pecahan tersebut. Karena setiap bilangan desimal dapat ditulis ke dalam bentuk pecahan, maka dalam
29 
menyelesaikan persamaan yang memuat koefisien desimal, kita dapat mengubah bentuk desimal tersebut ke dalam bentuk pecahan terlebih dahulu.uk menghilangkan pecahan tersebut. Karena setiap bilangan desimal dapat ditulis ke dalam bentuk pecahan, maka dalam menyelesaikan persamaan yang memuat koefisien desimal, kita dapat mengubah bentuk desimal tersebut ke dalam bentuk pecahan terlebih dahulu. 
D. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel 
1. Pengertian persamaan linear dua variabel (PLDV) Persamaan linear dua variabel ialah persamaan yang mengandung dua variabel dimana pangkat/derajat tiap-tiap variabelnya sama dengan satu. Bentuk Umum PLDV : ax + by = c x dan y disebut variabel 
2. Sistem persamaan linear dua variable (SPLDV) Sistem persamaan linear dua variable adalah dua persamaan linear dua variable yang mempunyai hubungan diantara keduanya dan mempunyai satu penyelesaian. Bentuk umum SPLDV : ax + by = c px + qy = r dengan x , y disebut variabel a, b, p, q disebut keifisien c , r disebut konstanta C. Penyelesaian sistem persamaan linear dua variable (SPLDV) Cara penyelesaian SPLDV dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Metode Substitusi Menggantikan satu variable dengan variable dari persamaan yang lain contoh : Carilah penyelesaian sistem persamaan x + 2y = 8 dan 2x – y = 6 jawab : Kita ambil persamaan pertama yang akan disubstitusikan yaitu x + 2y = 8 Kemudian persamaan tersebut kita ubah menjadi x = 8 – 2y, Kemudian persamaan yang diubah tersebut disubstitusikan ke persamaan 2x – y = 6 menjadi : 2 (8 – 2y) – y = 6 ; (x persamaan kedua menjadi x = 8 – 2y)
30 
16 – 4y – y = 6 16 – 5y = 6 -5y = 6 – 16 -5y = -10 5y = 10 y = 2 masukkan nilai y=2 ke dalam salah satu persamaan : x + 2y = 8 x + 2. 2. = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4 x = 4 Jadi penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah x = 4 dan y = 2. Himpunan penyelesaiannya : HP = {4, 2} 2. Metode Eliminasi Dengan cara menghilangkan salaj satu variable x atau y. contoh : Selesaikan soal di atas dengan cara eliminasi: Jawab ; x + 2y = 8 2x – y = 6 (i) mengeliminasi variable x x + 2y = 8 | x 2 | –> 2x + 4y = 16 2x – y = 6 | x 1 | –> 2x - y = 6 - ………* 5y = 10 y = 2 masukkan nilai y = 2 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 x + 2. 2 = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4
31 
x = 4 HP = {4, 2} (ii) mengeliminasi variable y x + 2y = 8 | x 1 | –> x + 2y = 8 2x – y = 6 | x 2 | –> 4x – 2y = 12 + ……* 5x = 20 x = 4 masukkan nilai x = 4 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 4 + 2y = 8 2y = 8 – 4 2y = 4 y = 2 4 = 2 HP = {4, 2} * catatan nilai + atau – digunakan untuk menghilangkan/eliminasi salah satu variable agar menjadi 0 Contoh (i) yang dieliminasi adalah x : x dalam persamaan satu + dan persamaan dua + digunakan tanda - (ii) yang dieliminasi adalah y : y dalam persamaan satu +, persamaan dua - atau sebaliknya digunakan tanda + 
3. Penggunaan sistem persamaan linear dua variable Contoh: Harga 2 buah mangga dan 3 buah jeruk adalah Rp. 6000, kemudian apabila membeli 5 buah mangga dan 4 buah jeruk adalah Rp11.500,- Berapa jumlah uang yang harus dibayar apabila kita akan membeli 4 buah mangga dan 5 . buah jeruk ? Jawab : Dalam menyelesaikan persoalan cerita seperti di atas diperlukan penggunaan model matematika.
32 
Misal: harga 1 buah mangga adalah x dan harga 1 buah jeruk adalah y Maka model matematika soal tersebut di atas adalah : 2x + 3 y = 6000 5x + 4 y = 11500 Ditanya 4 x + 5 y = ? Kita eliminasi variable x : 2x + 3 y = 6000 | x 5 | = 10x + 15 y = 30.000 5x + 4 y = 11500 | x 2 | = 10x + 8 y = 23.000 - ( karena x persamaan 1 dan 2 +) 7y = 7000 y = 1000 masukkan ke dalam suatu persamaan : 2x + 3 y = 6000 2x + 3 . 1000 = 6000 2x + 3000 = 6000 2x = 6000 – 3000 2x = 3000 x = 1500 didapatkan x = 1500 (harga sebuah mangga) dan y = 1000 (harga sebuah jeruk) sehingga uang yang harus dibayar untuk membeli 4 buah mangga dan 5 buah jeruk adalah 4 x + 5 y = 4. 1500 + 5. 1000 = 6000 + 5000 = Rp. 11.000,-
33 
1.3 Nilai Mutlak 
A. Memahami dan menemukan konsep Nilai Mutlak 
Kegiatan pramuka adalah salah satu kegiatan 
ekstrakurikuler yang diadakan di sebuah sekolah. 
Sebuah grup pramuka sedang belajar baris berbaris 
di lapangan sekolah pada hari Sabtu. Sebuah perintah 
dari pimpinan pasukan: “Maju 4 langkah, jalan!”, hal 
ini berarti jarak pergerakan barisan adalah 4 langkah 
ke depan. Jika perintah pimpinan pasukan: “Mundur 
3 langkah, jalan!”, hal ini berarti bahwa pasukan akan 
bergerak melawan arah sejauh 3 langkah. Demikian 
seterusnya. 
Besar pergerakan langkah pasukan tersebut merupakan 
nilai mutlak, tidak ditentukan arah. “Maju 4 langkah”, 
berarti mutlak 4 langkah dari posisi diam dan “mundur 
3 langkah, berarti mutlak 3 langkah dari posisi 
diam. Dalam hal ini, yang dilihat adalah nilainya, 
bukan arahnya. Lebih jelasnya, mari bersama-sama mempelajari kasus-kasus di bawah ini. 
B. Alternatif Penyelesaian 
Kita definisikan lompatan ke depan adalah searah dengan sumbu x positif, dengan 
demikian lompatan ke belakang adalah searah dengan sumbu x negatif. 
Perhatikan sketsa berikut:
34 
Dari gambar di atas, kita misalkan bahwa x = 0 adalah posisi diam si anak. 
Anak panah yang pertama di atas garis bilangan menunjukkan, langkah pertama si anak sejauh 2 langkah ke depan (mengarah ke sumbu x positif), anak panah kedua menunjukkan 3 langkah si anak ke belakang (mengarah ke sumbu x negatif) dari posisi akhir langkah pertama, demikianlah seterusnya sampai akhirnya si anak berhenti pada langkah ke 5. 
Jadi, kita dapat melihat pergerakan akhir si anak dari posisi awal adalah 1 langkah saja ke belakang (x = –1). Banyak langkah yang dijalani si anak merupakan konsep nilai mutlak, karena kita hanya menghitung banyak langkah, bukan arahnya. Banyak langkah selalu dinyatakan dengan bilangan bulat positif walaupun arahnya ke arah sumbu x negatif. Banyak langkah dapat dinyatakan dengan nilai mutlak dari sebuah bilangan bulat. Misalnya mundur 3 langkah dinyatakan dengan harga mutlak negatif 3 (|-3|). Sehingga banyak langkah anak tersebut adalah |2| + |-3| + |2| + |-1| + |-1| = 9 (9 langkah). 
Perhatikan Tabel 2.1 berikut. 
Dari ilustrasi dan tabel di atas, dapatkah kamu menarik sebuah kesimpulan 
tentang pengertian nilai mutlak tersebut? Jika x adalah variabel pengganti semua 
bilangan real, dapatkah kamu menentukan nilai mutlak x tersebut? 
Perhatikan bahwa x elemen himpunan bilangan real, kita tuliskan dengan x ∈ R. 
Dari contoh pada tabel tersebut, kita melihat bahwa nilai mutlak akan bernilai 
positif atau nol. Nilai mutlak adalah jarak antara bilangan itu dengan nol pada garis bilangan real. Perhatikan garis bilangan berikut. Kita lakukan beberapa percobaan perpindahan posisi sebagai berikut.
35 
1.4 Fungsi 
A. Fungsi 
Fungsi yang merupakan kombinasi dari beberapa fungsi. Misal 
terdapat dua buah fungsi, yaitu f dan g. Jika daerah nilai fungsi merupakan 
daerah definisi dari fungsi f, maka kombinasi f dan g kita tulis dengan fog 
(baca f circle g) dan didefinisikan sebagai : 
Sebaliknya jika daerah nilai fungsi f merupakan daerah definisi dari g 
maka kombinasinya kita tulis dengan gof (baca g circle f) dan 
didefinisikan sebagai: 
Misal A dan B adalah suatu himpunan. 
Suatu relasi dari A ke B yang memasangkan setiap anggota A dengan tepat 
satu anggota B disebut fungsi atau pemetaan dari A ke B, yang dinotasikan 
dengan f:A->B. 
A disebut daerah asal / domain. 
B disebut daerah kawan / kodomain. 
Himpunan dari B yang merupakan peta dari A disebut daerah hasil atau 
range. 
B. Jenis jenis fungsi
36 
C. Fungsi komposisi 
Penggabungan operasi dua fungsi secara berurutan akan menghasilkan sebuah fungsi baru. Penggabungan tersebut disebut komposisi fungsi dan hasilnya disebut fungsi komposisi.
37 
Misal: 
Fungsi f:R->R, fungsi g:R->R dengan f(x)=x2+1 dan g(x)=x+1. Tentukan 
D. Fungsitrigonometrik 
Fungsitrigonometrik: fungsi yang variabel bebasnya merupakan bilangan 
bilangangonometrik. (sinus, cosinus, tangent, cotangent, secantdan cosecant). 
persamaantrigonometriky = sin x 
persamaanhiperboliky = arc cosx 
( ) ( )( ) ( ( )) 
( ) ( ( )) 
: ( ) 
: ( ) ( ( )) 
: ( ) 
h x g f x g f x 
Jadi h x g f x atau 
Fungsi h A C dengan z h x 
Fungsi g B C dengan z g y g f x 
Fungsi f A B dengan y f x 
  
 
  
   
  
 
. ( (0)) . ( (0)) 
. ( ( )) . ( ( )) 
. ( )(1) . ( )(1) 
. ( )( ) . ( )( ) 
g f g h g f 
e f g x f g f x 
c g f d f g 
a g f x b f g x 
  
 
38
39 
E. Rumus trigonometri 
F. Grafik Fungsi sinus
40 
G. Grafik Fungsi cosinus 
H. Grafik fungsi Tangen 
I. Grafik Fungsi Contangen 
J. Grafik Fungsi Secant
41 
K. Grafik Fungsi Cosecant 
Latihan 
Jika fog(x) = -2x+3 dan f(x) = 2x + 1 tentukan fungsi g(x). 
Jawaban : 
f(g(x)) = fog(x)2(g(x)) + 1 = -2x+32( 
g(x)) = -2x+3 -12( 
g(x)) = -2x+2 
g(x)= -2x+2/2 = -x + 1
42 
Diketahui : 
f(x) = x2-2x dan g(x) = x-1 
tentukan gof dan fog kemudian gambar grafiknya masing-masing. 
Diketahui f(x) = x +5,g(x) = 2x +3 dan h(x) = 3x -1Tentukan : 
a. (fog)oh (x) 
b. fo(goh) (x) 
c. (hog)of (x) 
d. ho(gof) (x) 
1.5 Limit 
 Pengertian Limit dan sifat-sifatnya. 
 Teorema Limit. 
 Kontinuitas Fungsi 
A. Definisi Limit Fungsi 
LxfxxxfxxxxxxxxhLxfxxxhxxLf(x) xx          )(limdengan dituliskan untuk Llimit mempunyai )( ,Untuk , memenuhi yang semuauntuk berarti ,0 Pernyataan .)(berlaku 0 memenuhi yang harga semuauntuk hingga sedemikian ,0bilangan ditunjuk dapat kecilnya),pun (bagaimana 0bilangan setiapuntuk bila ,untuk limitmempunyaidikatakan00000000    
43 
 Limit Kiri 
 Limit Kanan 
 Kontinuitas Fungsi: 
f x a f x a 
a 
x x x x 
x 
  
 
  
 
 
 
 
lim ( ) atau ( ) 
sebagai berikut : 
makan limit kiri, dan bila harga limit fungsi misalnya , maka dituliskan 
Apabila didekati dari kiri atau ditulis ,maka limit dina - 
0 
x 
0 0 
0 
f x a f x a 
a 
x x x x 
x 
  
 
  
 
 
 
 
lim ( ) atau ( ) 
sebagai berikut : 
makan limit kanan, dan bila harga limit fungsi misalnya , maka dituliskan 
Apabila didekati dari kanan atau ditulis ,maka limit dina - 
0 
x 
0 0 
0 
f x f x a f x a 
f x a 
f x a x x 
    
 
     
lim ( ) lim ( ) lim ( ) 
kiri dari ( ) adalah sama, yaitu sama dengan . Atau dengan kata lain 
( ) dikatakan mempunyai limit untuk ,bila limit kanan dan limit 
x x0 x x0 x x0 
0 
3. lim ( ). 
2. lim ada. 
1. ( ) terdefinisi. 
Sebuah fungsi dikatakan pada bila 
f(x) f a 
f(x) 
f a 
y f(x) kontinu x a 
x a 
x a 
 
  
 
 
f x f x a f x a 
f x a 
f x a x x 
Definisi Limit 
    
 
     
lim ( ) lim ( ) lim ( ) 
kiri dari ( ) adalah sama, yaitu sama dengan . Atau dengan kata lain 
( ) dikatakan mempunyai limit untuk ,bila limit kanan dan limit 
x x0 x x0 x x0 
0 
Tentukan lim ( ), dan apakah kontinu pada 0? 
0, bila 0 
1, bila 0 
Misal, ( ) 
0 
 
   
 
 
 
 
f x f(x) x 
x 
x 
f x 
x
44 
Contoh: 
 Limit Fungsi Istimewa: 
. Apakah kontinu pada semua titik ? 
2 
4 
2. ( ) 
c. Dengan cara yang sama, selidiki apakah kontinu pada 0? 
lim 
b. Selidiki apakah kontinu pada 0? 
a. Selidiki apakah kontinu pada 0? 
Daerah definisi / domain 
1. Bila ( ) . Buktikan bahwa kontinu pada semua titik. 
2 
f(x) 
x 
x 
f x 
f(x) b 
f(x) |a| 
f(a) |a| 
f(x) a 
f(x) x 
D {x|- x } 
f x x f(x) 
x a 
 
 
 
 
 
 
 
 
     
 
 
25 
(4 10) sin( 5) 
3. lim 
1 cos 2 
tan 
2. lim 
sin 3 
sin 5 
1. lim 
: 
1 
tan 
lim 
tan 
2. lim 
1 
sin 
lim 
sin 
1. lim 
5 2 
0 
0 
0 0 
0 0 
 
  
 
  
  
 
 
 
  
  
x 
x x 
x 
x x 
x 
x 
Contoh 
x 
x 
x 
x 
x 
x 
x 
x 
x 
x 
x 
x x 
x x 
x x x 
x x 
x x 
x x x 
x x 
x 
2 2 
2 
2 
2 2 
0 
6.cos 2 cos sin 
5.cos 2 2cos 1 
4.cos 2 1 2sin 
3.sin 2 2sin cos 
2.cos sin 1 
1. cos x sin (90 ) 
Rumus Trigonomet ri : 
  
  
  
 
  
 
45 
dengan cara pemfaktoran atau rasionalisasi akar. 
, maka perhitungan limit dilakukan 
0 
0 
( ) 
( ) 
( ) 
( ) 
atau lim 
0 
0 
2. Jika subtitusi langsung menghasilk an bentuk tak tentu 
. 
( ) 
( ) 
1. subtitusi langsung 
, dapat dilakukan dengan 3 cara 
( ) 
( ) 
Untuk menentukan lim 
 
 
 
 
  
 
 
 
 
 
 
g a 
f a 
g x 
f x 
g a 
f a 
g x 
f x 
x a 
x a 
4 
2 8 
3. lim 
2 8 
3 
4 
2 
5. lim 
2 
2 8 
2. lim 
16 5 
9 
4. lim 
1 
4 
1. lim 
Contoh : 
2 
4 
2 2 2 2 
2 
2 
2 
2 
3 3 
2 
2 
 
  
 
 
 
 
  
 
   
  
  
 
 
 
 
  
  
x 
x x 
x x x x x 
x x 
x 
x 
x 
x 
x 
x x 
x x
46 
1.6 Turunan 1 
A. Materi Turunan 
 Definisi Turunan. 
 Aturan Pencarian Turunan. 
 Turunan Sinus dan Cosinus 
 Aturan Rantai 
 Cara Penulisan Leibniz 
B. Definisi Turunan 
Leibniz. WilhelmGottfriedoleh kan diperkenalnan untuk turu atau )( Lambang)()( lim menjadi , Bila)()( limlim)( `)`( adalah terhadap dari pertamaTurunan )()( limlimdituliskan maka,0 sehinggakecil, sedemikian Apabila)()( Maka .sebesar berubah sehingga sebesar berubah nilaiMisalkan . iabeldengan var fungsisuatu adalah Bila00000dxdydxxdfhxfhxfhxxxfxxfxydxxdfdxdyyxfxyxxfxxfxyxxxfxxfyyyxxxf(x)yhxxxx                    
47 
C. Definisi Turunan (pendekatan geometri) 
D. Rumus-Rumus Dasar Turunan 
( ) 
( ) ( ) 
lim 
( ) 
( ) ( ) 
lim lim lim 
Dengan simbol matematis : 
garis singgung grafik pada titik P (ditulis ). 
Bila 0, gradien garis PQ berubah menjadi koefisien 
dan menuju , sedemikian hingga mendekati 0, atau dituliskan 0. 
berjalan sepanjang grafik 
Bila titik diambil sebagai titik tetap, dan adalah titik yang 
( ) 
( ) ( ) 
( ) 
( ) ( ) 
menghubungkan dan 
sebesar . Gradien / slope , garis yang 
Dari ke , bila bertambah sebesar , maka bertambah 
y 
Hubungan antara dan diberikan oleh 
Titik adalah titik lain yang juga terletak pada . 
Bila titik adalah sebuah titik pada grafik . 
0 
0 0 
0 
0 
1 0 
0 0 
0 0 1 1 
0 
0 0 
0 
1 0 
1 0 
1 0 
0 0 
1 0 1 0 
1 0 1 0 
1 1 
0 0 
f x 
f x x f x 
f x 
f x f x 
x 
y 
m m 
f(x) m 
x 
P x x 
f(x) 
P(x ,y ) Q(x ,y ) 
f x 
f x x f x 
f x 
f x f x 
x 
y 
x x 
y y 
m 
P Q 
y m 
P Q x x y 
y y y y y 
x x x x x x 
P Q 
Q(x ,y ) y f(x) 
P(x ,y ) y f(x) 
Q P x x x 
tg 
tg 
   
 
 
 
 
 
  
  
   
   
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
      
      
 
 
       
y x y x 
y x y x 
y C y 
y x y nxn n 
2. cos , ` sin 
1. sin , ` cos 
Turunan Fungsi Triginomet ri 
, ` 0 
, ` 1 
   
  
  
   
x x 
x x 
g 
y a y a a 
y e y e 
y x y 
x 
y x y 
   
  
  
  
2. , ` ln 
1. , ` 
Turunan Fungsi Eksponen 
2. log , ` ??? 
1 
1. ln , ` 
Turunan Fungsi Logaritma
48 
E. Teori Turunan 
F. Pembuktian 
    
  
8.sin( ),cos( ), tan( ) 
maka `( ) `( ) ( ) ( ) ( ) `( ) ( ) ( ) ( ) `( ) 
7. Jika ( ) ( ) ( ) ( ), 
( ) 
`( ) ( ) ( ) `( ) 
, ( ) 0 maka `( ) 
( ) 
( ) 
9. Jika ( ) 
8. Jika ( ) ( ) , maka `( ) ( ) `( ) 
7. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) ( ) ( ) `( ) 
6. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) `( ) 
5. Jika ( ) ( ), maka `( ) `( ) 
4. Jika ( ) , maka `( ) 
3. Jika ( ) , maka `( ) 
2. Jika ( ) , maka `( ) 1 
1. Jika ( ) , maka `( ) 0 
2 
1 
1 
1 
x x x 
f x u x v x w x u x v x w x u x v x w x 
f x u x v x w x 
v x 
u x v x u x v x 
v x f x 
v x 
u x 
f x 
f x u x f x n u x u x 
f x u x v x f x u x v x u x v x 
f x u x v x f x u x v x 
f x Cu x f x Cu x 
f x Cx f x Cnx 
f x x f x nx 
f x x f x 
f x C f x 
n n 
n n 
n n 
         
   
   
   
   
      
    
  
  
  
  
  
 
 
 
  
5. Buktikan bahwa turunan dari adalah 2 . 
4. Buktikan bahwa turunan dari 5 3adalah 5. 
3. Buktikan bahwa turunan dari 5 adalah 0. 
lim 2 2 
2 
lim 
2 
lim 
( ) ( ) 
`( ) lim 
( ) ( ) 2 
( ) 
2. Buktikan bahwa turunan dari adalah 2 . 
lim 0 
( ) ( ) 
`( ) lim 
( ) 
( ) 
1. Buktikan bahwa turunan fungsi konstanta sama dengan nol. 
2 
0 
2 
0 
2 2 2 
0 0 
2 2 2 
2 
2 
0 
0 
f(x) x x 
f(x) x 
f(x) 
x x x 
x 
x x x 
x 
x x x x x 
x 
f x x f x 
f x 
f x x x x x x x x 
f x x 
f(x) x x 
x 
C C 
x 
f x x f x 
f x 
f x x C 
f x C 
x x 
x x 
x 
x 
 
  
 
    
 
   
 
 
     
 
 
   
 
          
 
 
 
 
 
 
 
   
 
   
 
    
    
  
 
49 
Contoh Soal 
G. Turunan Fungsi Komposit 
sumbu . 
sedemikian hingga garis singgung di titik tersebut sejajar dengan 
5. Tentukan koordinat titik - titik pada grafik 2 3 12 20 
di titik (1,4). 
4. Tentukan persamaan garis singgung pada grafik 6 2 
memiliki gradien 1. 
3. Tentukan titik koordinat pada grafik 3 pada saat 
2. Hitunglah gradien garis 3 2 pada titik 3. 
1 1 1 
a. 9 6 b. 1 
1. Hitunglah ` dari fungsi - fungsi dibawah ini 
3 2 
2 3 
2 
2 
2 3 
4 3 
x 
y x x x 
y x x 
y x -x 
y x - x 
x x x 
f(x) x x f(x) 
f (x) 
    
  
  
  
       
  
`( ) ` ( ). `( ) `( ) `( ) 
atau ditulis dengan simbol lain : 
maka . 
( ) ( ) , 
( ), ( ) 
sebagai berikut : 
diturunkan, dan bila F adalah fungsi komposit yang ditentukan 
Bila dan masing -masing adalah fungsi dari dan yang dapat 
F x g f x f x g u f x 
dx 
du 
du 
dy 
dx 
dy 
y F x g f x 
y g u u f x 
f g x u 
  
 
  
 
50 
Contoh Soal 
Contoh Soal 
  
  
    
83 2 1 3 1 
4 3 2 1 6 2 
6 2, 4 4 3 2 1 
, diperoleh 
Maka dengan subtitusi 3 2 1 
1.Hitunglah dari 3 2 1 . 
2 3 
2 3 
3 2 3 
4 
2 
2 4 
    
     
      
 
   
   
x x x 
x x x 
dx 
du 
du 
dy 
dx 
dy 
u x x 
du 
dy 
x 
dx 
du 
y u 
u x x 
y x x 
dx 
dy 
4.Hitunglah dari tan(3 4) 
3.Hitunglah dari ln(3 4) untuk 3x 4 0. 
3cos(3 4) 
3, cos cos(3 4) 
sin , diperoleh 
Maka dengan subtitusi 3 4 
2.Hitunglah dari sin(3 4). 
  
    
   
    
 
  
  
y x 
dx 
dy 
y x 
dx 
dy 
x 
dx 
du 
du 
dy 
dx 
dy 
u x 
du 
dy 
dx 
du 
y u 
u x 
y x 
dx 
dy 
  
cos 1.(2 ) 2 cos 1 
1 `( ) 2 
sin( 1). 
Contoh : 
Jika sin ( ), maka cos ( ) ` . 
2 2 
2 
2 
    
    
  
  
x x x x 
dx 
dy 
f(x) x f x x 
y x 
f x f (x) 
dx 
dy 
y f x
51 
4. .cos(2 1) 
ln 
1 
3. 
cos 
2. 
1. .cos 
Contoh : 
. 
` ` 
4. Bila maka ` 
3. Bila maka ` ` `. 
2. Bila maka ` ` `. 
1. Bila maka ` `, konstan. 
merupakan fungsi dari . Maka berlaku 
Untuk fungsi - fungsi rumit, dimana adalah fungsi dari dan , 
3 
2 
3 
2 
  
 
 
 
 
 
 
  
   
    
  
y x x 
x x 
x 
y 
x 
x 
y 
y x x 
v 
u v uv 
y 
v 
u 
y 
y uv y u v uv 
y u v y u v 
y ku y ku k 
x 
y u v 
    
  
    
1 
1 (2 ) 1 
2 
1 
1 1 
1 `( ) 2 
1. 
Contoh : 
Jika ( ) , maka n ( ) ` . 
2 
2 
1 
1 2 
2 
1 
2 
2 
1 
2 2 
2 
2 
n n-1 
 
     
    
    
  
  
  
x 
x 
x x x x 
dx 
dy 
y x x 
f(x) x f x x 
y x 
f x f (x) 
dx 
dy 
y f x 
  
sin(2 1).2 2sin2 1 
2 1 `( ) 2 
cos(2 1). 
Contoh : 
Jika cos ( ), maka sin ( ) ` . 
      
    
  
   
x x 
dx 
dy 
f(x) x f x 
y x 
f x f (x) 
dx 
dy 
y f x
52 
1.7 Turunan 2 
A. Teori Turunan 
B. Turunan Fungsi Implisit 
    
 2 
1 
1 
1 
( ) 
`( ) ( ) ( ) `( ) 
, ( ) 0 maka `( ) 
( ) 
( ) 
9. Jika ( ) 
8. Jika ( ) ( ) , maka `( ) ( ) `( ) 
7. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) ( ) ( ) `( ) 
6. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) `( ) 
5. Jika ( ) ( ), maka `( ) `( ) 
4. Jika ( ) , maka `( ) 
3. Jika ( ) , maka `( ) 
2. Jika ( ) , maka `( ) 1 
1. Jika ( ) , maka `( ) 0 
v x 
u x v x u x v x 
v x f x 
v x 
u x 
f x 
f x u x f x n u x u x 
f x u x v x f x u x v x u x v x 
f x u x v x f x u x v x 
f x Cu x f x Cu x 
f x Cx f x Cnx 
f x x f x nx 
f x x f x 
f x C f x 
n n 
n n 
n n 
   
   
   
      
    
  
  
  
  
  
 
 
 
` 1 
1 ` 0 
1 0 
` ` 0 
Turunan pertama dari 0 adalah 
Turunan ruas kanan (0)` 0. 
maka v` 1 
maka ` 1 
0 
menurunkan suku demi suku. Contoh : 
tiap - tiap suku sebagai fungsi dari , kemudian 
implisit , 0,maka kita memandang 
Untuk menghitung turunan pertama dari fungsi 
   
   
   
  
  
 
    
   
  
 
y 
y 
dx 
dy 
u v 
x y 
dx 
dy 
dx 
dy 
dy 
dv 
dx 
dv 
v y 
dx 
du 
u x u 
x y 
x 
f(x y)
53 
C. Contoh Turunan Fungsi Implisit 
D. Penurunan Dengan Bantuan Logaritma 
2 
2 
2 
2 
2 3 
3 2 2 
2 
2 3 
3 
2 
` 
`( 3 ) 2 
2 `( 3 ) 0 
2 ` 3 ` 0 
Turunan pertama dari 0 adalah 
Turunan ruas kanan (0)` 0. 
maka 3 3 ` 
` ` ` ) 
maka ` ` ` ` (Ingat lagi : maka 
maka ` 2 
Tentukan turunan dari 0. 
x y 
x y 
y 
y x y x y 
x y y x y 
x y xy y y 
x xy y 
y y 
dx 
dy 
y 
dx 
dy 
dy 
dw 
dx 
dw 
w y 
y u v v u 
v x y y x y y x y uv 
dx 
dv 
v xy 
u x 
dx 
du 
u x 
x xy y 
 
  
  
     
     
    
   
 
    
  
       
   
   
y y y e x 
x 
y x y 
y e x y x 
y e x 
y y x 
y 
x 
y x y 
y x x 
y x 
y x 
y uv 
    
  
  
 
    
 
  
   
 
 
 
` 1 ` 
y 
1 
Kemudian kita turunkan (Ingat : ln maka ` 1 ) 
, maka ln 
2. Tentukan turunan dari . 
` ln 2 ln 2 2 
` ln 2 
y 
1 
Kemudian kita turunkan (Ingat : ln maka ` 1 ) 
ln ln(2 ) ln 2 
2 
1. Tentukan turunan dari 2 . 
Contoh : 
mencari turunannya. 
Pada fungsi berbentuk , lebih mudah menggunaka n logaritma untuk
54 
Contoh Penurunan Dengan Bantuan Logaritma 
  . dariturunan Tentukan 6. . dariurunan Tentukan t 5. sincos223cos` sincos223` sincos2231cosln22ln3lncoslnlnln)cosln(ln logaritmabantuan Dengan .cos dariurunan Tentukan t 4.223223223223xyxxxxxyxdxdyayx xxxexyx xxyyx- xxy` yxxxyxexxexyxexy                
55 
BAB II 
SIMPULAN DAN SARAN 
2.1 SIMPULAN 
Berdasarkan sajian materi terkait berbagai konsep peluang di atas, beberapa hal 
penting dapat kita rangkum sebagai berikut. 
Bilangan rasional adalah bilangan yang bisa dinyatakan dalam bentuk . Sebarang bilangan rasional dapat dituliskan sebagai suatu desimal. Pernyataan desimal suatu bilangan rasional dapat mempunyai akhir atau akan berulang dalam daur yang tetap selamanya. 
2.2 SARAN 
Dalam penulisan resume ini penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya. Dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami sangat mengharpkan kepada para pembaca resume ini agar dapat memberikan kritikan dan masukan yang bersifat membangun.
DAFTAR PUSTAKA 
http://denandika.wordpress.com/2013/03/09/materi-remidial-kalkulus-1/ 
http://leoriset.blogspot.com/2009/04/download-materi-kalkulus-lengkap.html 
http://rumus-matematika.com/persamaan-dan-pertidaksamaan-linear/ 
http://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_linear#Sistem_Persamaan_Linear_Dua_Variabel 
http://eyig1.blogspot.com/2011/02/persamaan-linier.html 
http://yos3prens.wordpress.com/2013/11/15/menyelesaikan-persamaan-linear-satu- variabel-plsv/

Kalkulus 1

  • 1.
    KALKULUS 1 DOSENPEMBIMBING HETTY ROHAYANI,Ah,St,M.Kom Disusun oleh: Taufik Hidayah Nim:8020140186 JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI ILMU KOMPUTER DINAMIKA BANGSA JAMBI 2014/2015
  • 2.
    ii KATA PENGANTAR Pertama-tama penulis mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT dengan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyusun Resume Ini. Shalawat beserta salam tidak lupa penulis ucapkan kepada nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita semua umatnya dari alam kegelapan menuju alam yang terang-menerang, dari alam kebodohan menuju alam yang penuh ilmu pengetahuan. Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan resume ini masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, oleh sebab itu Penulis mohon maaf dan menerima kritik dan saran yang membangun/membaca. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat menjadi motipasi Dan pembelajaran bagi kita semua. Amin ya robbal ‘alamin
  • 3.
    iii DAFTAR ISI Halaman KATA PENGANTAR ....................................................................... ii DAFTAR ISI ..................................................................................... iii BAB I PEMBAHASAN 1.1 Bilangan Riil ....................................................................... 1 1.2 Persamaan Linier .............................................................. 14 1.3 Nilai Mutlak...................................................................... 33 1.4 Fungsi ............................................................................... 35 1.5 Limit ................................................................................. 42 1.6 Turunan1 ........................................................................... 46 1.7 Turunan 2 .......................................................................... 52 BAB II 2.1 Simpulan .......................................................................... 55 2.2 Saran ................................................................................. 55 Daftar Pustaka
  • 4.
    1 BAB I 1.1 Bilangan Riil A. Himpunan Bilangan Riil Bilangan rasional adalah bilangan yang bisa dinyatakan dalam bentuk . Sebarang bilangan rasional dapat dituliskan sebagai suatu desimal. Pernyataan desimal suatu bilangan rasional dapat mempunyai akhir atau akan berulang dalam daur yang tetap selamanya. Misalnya =1,18181818 Bilangan yang tak bisa dinyatakan dalam bentuk dengan m.n bilangan bulat dan disebut bilangan tak rasional. Sebarang bilangan takrasional juga dapat dituliskan sebagai suatu desimal. Pernyataan desimal suatu bilangan takrasional tidak berulang menurut suatu daur. Misalnya,0 n ≠ 0 √2=1,41421356223 π3,1415926335 Gabungan dari himpunan bilangan rasional dan himpunan bilangan tak rasional disebut himpunan bilangan riil ( biasa dilambangkan ). Anggota himpunan tersebut dinamakan bilangan riil. R B. Sistem Bilangan Riil Sistem bilangan riil dibentuk dari himpunan bilangan riil dan operasi yang didefinisikan pada himpunan tersebut. R yang dilengkapi dengan operasi penjumlahan dan perkalian membentuk sistem aljabar lapangan, yakni berlaku: 1. x + y + y + x untuk sebarang x, y di R 2. (x + y) + z + x + (y + z) untuk sebarang x, y, z di R 3. Terdapat 0 di R demikian sehingga 0 + x + x + 0 + x untuk sebarang x di R 4. Untuk sebarang x di R terdapat - x di R demikian sehingga x + (+x) + (+x) + x + 0 5. xy + yx untuk sebarang x, y di R 6. (xy)z + x(yz) untuk sebarang x, y, z di R 7. Terdapat 1 di R demikian sehingga 1.x + x.1+ x untuk sebarang x di R
  • 5.
    2 8. Untuksebarang x di R dengan x 0 terdapat demikian sehingga Pengurangan dan pembagian didefinisikan dengan dan ) (y-x=x+(-y dan C. Urutan pada Himpunan Bilangan Riil Terdapat himpunan bagian dari R yang unsurnya dinamakan himpunan bilangan positif, yang memenuhi aksioma :  jika a € R maka a= 0, atau a positif, atau –a  jumlah dan hasil dua kali bilangan positif adalah suatu bilngan fositif ini memungkinkan kita mendfinisikan relasi urutan pada bilangan riil Dinefenisikan relasi urutan < (dibaca “kurang dari”) sebagai x<y – y-x positif selanjutnya relasi urutan<(Dibaca (“lebih dari”)didefinisikan sebagai x>yy<x urutan tersebut memiliki sifat-sifat sebagai berikut :  Trikotomi, jika x dan y adalah bilangan riil, maka satu diantara yang berikut berlaku x<y atau x=y atau x>y  Ketransitifan, x<y dan y<zx<z untuk sebarang x,y,z di R  x<yx+z untuk sebarang x,y,z di R  jika z positif, berlaku x< y xz<yz untuk sebarang x,y di R dan jika z negatif berlaku x < y  xz > yz untuk sebarang x,y di R, relasi≤ (dibaca” kurang dari atau sama dengan”), didefinisikan sebagai x ≤ y y ≤ x sifat sifat urutan 2,3 dan 4 berlaku dengan lambang < dan> diganti dengan lambang ≤ atau ≥. D. Kerapatan pada Himpunan Bilangan Riil Diantara dua bilangan riil sebarang yang berlainan x dan y terdapat suatu bilangan riil lainnya, khususnya z= dan karenanya terdapat juga bilangan riil diantara x dan z dan diantara z dan y. Argumentasi ini dapat diulang sampai tak hingga, sehingga kita dapat mengambil kesimpulan diantara dua
  • 6.
    3 bilangan riilsebarang ( tak peduli betapun dekatnya ) terdapat takterhingga banyaknya bilangan riil lain. E. Garis riil Bilangan riil dapat dipandang sebagai label untuk titik sepanjang garis mendatar. Pada garis tersebut bilangan riil mengukur jarak berarah ke kanan atau ke kiri dari suatu titik tetap yang diberi label . 0 c 0 Garis tersebut dinamakan garis riil Catatan:  Mengatakan x<y bearti bahwa x berada disebelah kiri y pada garis riil. x y  Pada garis riil, bilangan riil positif terletak di sebelah kanan 0 dan bilangan riil negatif terletak di sebelah kiri 0 . F. Selang Himpunan bagian tertentu dari himpunan bilangan riil yang disebut selang sering muncul dalam Kalkulus. Secara geometris ini berkaitan dengan ruas garis pada garis riil. Jika a b, interval buka dari a ke b terdiri dari semua bilangan diantara a dan b dan menggunakan simbol (a,b) . Dalam notasi pembentuk himpunan ditulis x a x b. Perlu dicatat bahwa titik a
  • 7.
    4 dan btidak termasuk dalam selang tersebut. Selang tertutup dari a ke b adalah himpunan a,bx a x b, dalam hal ini a dan b termasuk dalam selang tersebut. Lebih lanjut perhatikan tabel berikut Simbol pada notasi di atas bukan mewakili sebuah bilangan. (a,) berartihimpunan semua bilangan yang lebih dari a . Secara geometris selang ini membentang mulai dari titik a tak berhingga jauhnya ke kanan dalam arah positif. Analog untuk [a,) , (,b) , (,b] dan (,) . G. Macam-macam bilangan riil 1. Bilangan Asli (A) Bilangan asli adalah suatu bilangan yang mula-mula dipakai untuk memebilang. Bilangan asli dimulai dari 1,2,3,4,... A = {1,2,3,4,...} 2. Bilangan Genap (G) Bilangan genap dirumuskan dengan 2n, nÎA G = {2,4,6,8,...}
  • 8.
    5 3. BilanganGanjil (Gj) Bilangan ganjil dirumuskan dengan 2n -1, nÎA Gj = {1,3,5,7,...} 4. Bilangan Prima (P) Bilangan prima adalah suatu bilanganyang dimulai dari 2 dan hanya dapat dibagi oleh bilngan itu sendiri dan ± 1 P = {2,3,5,7,...} 5. Bilangan Komposit (Km) Bilangan komposit adalah suatu bilangan yang dapat dibagi oleh bilangan yang lain Km = {4,6,8,9,...} 6. Bilangan Cacah (C) Bilangan Cacah adalah suatu bilangan yang dimulai dari nol C = {0,1,2,3,4,...} 7. Bilangan Bulat (B) Bilangan bulat terdiri dari bilangan bulat negatif, bilangan nol, dan bilangnan bulat positif. B = {...,-4,-3,-2,-1,0,1,2,3,4,...} 8. Bilangan Pecahan (Pc) Bilangan pecahan adalah suatu bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk , a sebagai pembilang dan b sebagai penyebut, dengan a dan b ÎB serta b ≠0 9. Bilangan Rasional (Q) Bilangan rasional adalah suatu bilangan yang dapat dinyatakan dalam bentuk , a dan b ÎB serta b ≠0. (Gabungan bilangan bulat dengan himpunan bilangan pecahan)
  • 9.
    6 10. BilanganIrasional (I) Bilangan irasional adalah suatu bilangan yang tidak dapat dinyatakan dalam bentuk , a dan b €B serta b ≠0. Contoh: 2, 3,p = 3,14159..., e = 2,71828... 11. Bilangan Real (R) Bilangan real adalah suatu bilangan yang terdiri dari bilangan rasional dan bilangan irasional. Bilangan real biasanya disajikan dengan sebuah garis bilangan. Contoh: 12. Bilangan Khayal (Kh) Bilangan khayal adalah suatu bilangan yang hanya bisa dikhayalkan dalam pikiran, tetapi kenyataannya tidak ada. Contoh: 1, 2, 3 13. Bilangan Kompleks (K) Bilangan Kompleks adalah suatu bilangan yang terdiri dari bilangan dan khayal. Contoh: 2 + -1,5 - - 2 H. Perbedaan Antara Bilangan Rasional Dan Bilangn Irasional Bilangan Rasional: 1. Dapat dtulis dalam bentuk pecahan biasa 2. Dapat ditulis dalam bentuk pecahan desimal terbatas.
  • 10.
    7 Bilangan Irasional: 1. Tidak dapat ditulis sebagai pecahan biasa 2. Jika didahului sebagai pecahan desimal, merupakan desimal tak terbatas. Contoh: 3= 1,7320... 2= 1,4142... 3. Bilangan irasional ditulis dalam bentuk akar. Contoh: 2, 3, 7 I. Sifat-sifat Operasi Bilangan Bulat 1. Sifat Komutatif: a + b = b + a a.b = b.a Contoh: 1. 5 + 6 = 6 + 5 = 11 2. 9 . 3 = 3 . 9 = 27 2. Sifat Assosiatif: (a + b) + c = a + (b + c) (a . b) . c = a . (b . c) Contoh: 1. (5 + 2) + 3 = 5 + (2 + 3) = 10 2. (5 x 2) x 3 = 5 x (2 x 3) = 30 3. Sifat Distributif Perkalian Terhadap Penjumlahan a x (b + c) = ab + ac Contoh: 5 x (3 + 6) = 5 . 3 + 5 . 6 = 15 + 30 = 45 4. Terdapat Dua Elemen Identitas
  • 11.
    8 Setiap bilangana mempunyai dua elemen identitas, yaitu 1 dan 0, sehingga memenuhi: a + 0 = a a . 1 = a 5. Terdapat Elemen Invers Setiap bialngan a mempunyai balikan atau invers penjumlahan, yaitu a yang memenuhi: a + (-a) = 0 Setiap a ≠ 0 mempunyai balikan perkalian yaitu , yang memenuhi: a. =1 J. Operasi Pada Bilangan Bulat: 1. Operasi Penjumlahan a + b = c a, b dan c bilangan bulat Contoh: 14 + 10 = 24 2. Operasi Pengurangan A – b = c Ûa + (-b) = c a, b dan c bilangan bulat Contoh: 10 – (-2) = 10 + 2 = 12 3. Operasi Perkalian a . b = c a, b dan c bilangan bulat Contoh: 5 . 4 = 20 (-9) . (-4) = 36 4. Operasi Pembagian a . b = c a, b dan c bilangan bulat Contoh: 5 . 4 = 20 (-9) . (-4) = 36. 5. Operasi Pembagian . a, b bilangan bulat dan b ≠ 0, c bilangan real
  • 12.
    9 K. OperasiPada Bilangan Pecahan 1. Operasi Penjumlahan 2. Operasi Pengurangan Contoh: Tentukan hasil perkalian berikut! 3. Operasi Perkalian Contoh: Tentukan hasil perkalian berikut: 4. Operasi Pembagian Contoh: Tentukan hasil pembagian dari pecahan di bawah ini! L. Konversi Pecahan 1. Mengubah pecahan biasa ke pecahan desimal
  • 13.
    10  Mengubahpenyebutnya menjadi 10 atau perpangkatan 10 lainnya.  Dengan pembagian berulang Contoh: Ubahlah ke dalam pecahan desimal! = 0,33333... = 0,33 2. Mengubah pecahan biasa ke bentuk persen. Mengubah penyebutnya menjadi 100 3. Ubahlah 75% dan 30% ke dalam bentuk pecahan! 4. Mengubah persen ke pecahan biasa dan ke pecahan desimal Contoh: Ubahlah persen berikut ke pecahan biasa dan ke pecahan desimal! M. Perbandingan, Skala, Dan Persen 1) Perbandingan digunakan untuk membandingkan dua buah bilangan a. Perbandingan senilai Bentuk Umum: = atau a1 : b1 = a 2 : b 2 b. Perbandingan berbalik nilai Bentuk Umum:
  • 14.
    11 atau a1: b 2 = a 2 : b1 Contoh: 1. Seorang ibu menghabiskan ½ liter minyak tanah untukmerebus air sebanyak 15 liter air. Jika dia akan merebus airsebanyak 100 liter, berapa liter minyak tanah yangdiperlukan? 2. Suatu pekerjaan dapat diselesaikan oleh 4 orang tukangdalam 20 hari. Jika pekerjaan itu harus selesai dalam 2 hari,maka berapa orang tukang yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Jawab: 1. Jika perbandingan banyak minyak tanah (M) dengan banyak air (A) adalah M : A, maka: 2. Jika 4 orang tukang (T1 ) dapat menyelesaikan 20 hari (H1 ),maka untuk selesai selama 2 hari (H2 ) harus dipekerjakan lebih dari 4 orang. 2) Skala Skala merupakan bentuk perbandingan nilai dari suatu besaran atau perbandingan antara ukuran gambar dengan ukuran sesungguhnya (kenyataannya). Suatu skala bisa merupakan pembesaran atau pengecilan dari ukuran sesungguhnya.  Skala pembesaran Contoh: Jarak kota A ke kota B pada peta adalah 10 cm. Jika jarak sesungguhnya adalah 100 km,berapakah skala kota A ke kota B? Jawab: Misal jarak pada peta = x
  • 15.
    12 Misal jaraksesungguhnya = y X : y = 10 cm : 100 km = 10 cm : 10.000.000 cm = 1 : 1.000.000 Jadi, skala jarak kota A ke kota B adalah 1 : 1.000.000  Skala Pengecilan Contoh: Tinggi seorang aktor adalah 180 cm. Berapakah tinggi aktor tersebut pada layar TV jika skalanya 1 : 100? Jawab: Misal tinggi sesungguhnya = A = 180 cm Tinggi pada TV = B = Jadi tinggi aktor pada layar TV 1,8 cm 3. Persen Persen (%) berarti per seratus, merupakan bentuk lain dari perbandingan yang ditulis dalam pecahan dengan penyebut 100. Contoh: Sebatang perunggu terbuat dari 100 kg tembaga, 20 kg timah hitam, dan 30 kg timah putih. Berapakah persentase tiap-tiap bahan tersebut dalam perunggu itu? Jawab: Massa total perunggu = 100 kg + 20 kg + 30 kg = 150 kg
  • 16.
    13 N. PenerapanPada Bidang Keahlian 1) Komisi Komisi adalah pendapatan yang besarnya tergantung pada tingkat penjualan yang dilakukan. 2) Diskon Diskon adalah potongan harga yang diberikan oleh penjual kepada pembeli 3) Laba dan Rugi Laba = Penjualan – Pembelian Rugi = Pembelian – Penjualan Contoh soal:  Seorang sales mendapat komisi 20% jika dia mampu menjual barang senilai Rp2.000.000,00. Tentukan komisi yang diterima! Jawab: Komisi = 20% x Rp2000.000,00 =Rp.2000.000.00  Sebuah barang dibeli seharga Rp500.000,00, kemudian barang tersebut dijual dengan harga Rp750.000,00. Hitunglah persentase keuntungan dari harga pembelian dan dari harga penjualan! Jawab: Laba = Rp750.000,00 – Rp500.000,00 = Rp250.000,00 Persentase laba dari harga beli : Persentase laba dari harga jual:
  • 17.
    14 1.2 PersamaanLinier A. Persamaan Linear Persamaan linear merupakan sebuah persamaan aljabar dimana tiap sukunya mengandung konstanta atau perkalian konstanta dengan tanda sama dengan serta variabelnya berpangkat satu. Persamaan ini dikatakan linear karena jika kita gambarkan dalam koordinat cartesius berbentuk garis lurus. Sistem persamaan linear disebut sistem persamaan linear satu variabel karena dalam sistem tersebut mempunyai satu variabel. Bentuk umum untuk persamaan linear satu variabel yaitu y=mx+b yang dalam hal ini konstanta m menggambarkan gradien garis serta konstanta b adalah titik potong garis dengan sumbu-y. Jika dalam sistem persamaan linear terdapat dua variabel maka sistem persamaannya disebut sistem persamaan linear dua variabel yang mempunyai bentuk umum Ax+By+C=0 dimana bentuk umum ini mempunyai bentuk standar ax+by=c dengan konstanta ≠0. Dalam mencari titik potong suatu gradien kita gunakan rumus sebagai berikut : Titik potong dengan sumbu x maka
  • 18.
    15 Titik potongdengan sumbu y maka Untuk persamaan linear yang memiliki lebih dari dua variabel memiliki bentuk umum : dimana a1 merupakan koefisien untuk variabel pertama x1, begitu juga untuk yang lainnya sampai variabel ke-n. Untuk lebih memahami masalah persamaan linera perhatikan contoh berikut : A.. Berikut ini diberikan bentuk beberapa persamaan, tentukan apakah termasuk persamaan linear atau bukan. a. x + y = 5 (persamaan linear dua variabel) b. x2 + 6x = -8 (persamaan kuadrat satu variabel) c. p2 + q2 = 13 (persamaan kuadrat dua variabel) d. 2x + 4y + z = 6 (persamaan linear tiga varibel) B. Carilah penyelesaian sistem persamaan x + 2y = 8 dan 2x – y = 6 Jawab ; x + 2y = 8 2x – y = 6 (i) mengeliminasi variable x x + 2y = 8 | x 2 | –> 2x + 4y = 16 2x – y = 6 | x 1 | –> 2x – y = 6 – ………* 5y = 10
  • 19.
    16 y =2 masukkan nilai y = 2 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 x + 2. 2 = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4 x = 4 HP = {4, 2} (ii) mengeliminasi variable y x + 2y = 8 | x 1 | –> x + 2y = 8 2x – y = 6 | x 2 | –> 4x – 2y = 12 + ……* 5x = 20 x = 4 masukkan nilai x = 4 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 4 + 2y = 8 2y = 8 – 4 2y = 4 y = 2 4 = 2 HP = {4, 2} C. Selesaikan soal no 2 menggunakan cara substitusi Jawab : Kita ambil persamaan pertama yang akan disubstitusikan yaitu x + 2y = 8 Selanjutnya persamaan tersebut kita ubah menjadi x = 8 – 2y, Persamaan yang diubah tersebut disubstitusikan ke persamaan 2x – y = 6 menjadi : 2 (8 – 2y) – y = 6 ; (x persamaan kedua menjadi x = 8 – 2y) 16 – 4y – y = 6 16 – 5y = 6 -5y = 6 – 16
  • 20.
    17 -5y =-10 5y = 10 y = 2 masukkan nilai y=2 ke dalam salah satu persamaan : x + 2y = 8 x + 2. 2. = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4 x = 4 Jadi penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah x = 4 dan y = 2. Himpunan penyelesaiannya : HP = {4, 2} D. Harga 2 buah mangga dan 3 buah jeruk adalah Rp. 6000, kemudian apabila membeli 5 buah mangga dan 4 buah jeruk adalah Rp11.500,- Berapa jumlah uang yang harus dibayar apabila kita akan membeli 4 buah mangga dan 5 . buah jeruk ? Jawab : Dalam menyelesaikan persoalan cerita seperti di atas diperlukan penggunaan model matematika. Misal: harga 1 buah mangga adalah x dan harga 1 buah jeruk adalah y Maka model matematika soal tersebut di atas adalah : 2x + 3 y = 6000 5x + 4 y = 11500 Ditanya 4 x + 5 y = ? Kita eliminasi variable x : 2x + 3 y = 6000 | x 5 | = 10x + 15 y = 30.000 5x + 4 y = 11500 | x 2 | = 10x + 8 y = 23.000 – ( karena x persamaan 1 dan 2 +) 7y = 7000 y = 1000 masukkan ke dalam suatu persamaan : 2x + 3 y = 6000
  • 21.
    18 2x +3 . 1000 = 6000 2x + 3000 = 6000 2x = 6000 – 3000 2x = 3000 x = 1500 didapatkan x = 1500 (harga sebuah mangga) dan y = 1000 (harga sebuah jeruk) sehingga uang yang harus dibayar untuk membeli 4 buah mangga dan 5 buah jeruk adalah 4 x + 5 y = 4. 1500 + 5. 1000 = 6000 + 5000 = Rp. 11.000,- B. Pertidaksamaan Linear Pertidaksamaan linear merupakan kalimat terbuka dalam matematika yang terdiri dari variabel berderajat satu dan dihubungkan dengan tanda pertidaksamaan. Bentuk umum dari pertidaksamaan linear dua variabel yaitu : ax+by>c ax+by<c ax+by≥c ax+by≤c dengan a koefisien untuk x, b koefisien dari y dan c konstanta dimana a,b,c anggota bilangan riil dan a≠0,b≠0 . Suatu penyelesaian dari pertidaksamaan linear biasanya digambarkan dengan grafik, adapun langkah-langkah dalam menggambar grafik pertidaksamaan linear yaitu sebagai berikut : 1. Ubah tanda ketidaksamaan menjadi persamaan
  • 22.
    19 2. Tentukantitik potong koordinat kartesius dengan sumbu x dan sumbu y. 3. Gunakan titik uji untuk menentukan daerah penyelesaian. 4. Gambarkan grafiknya dan beri arsiran pada daerah penyelesaiannya. Untuk lebih memahami tentang pertidaksamaan perhatikan beberapa contoh berikut : contoh 1.
  • 23.
  • 24.
    21 Contoh 3. Gambarlah daerah penyelesaian dari sistem pertidaksamaan linear berikut untuk x, y anggota bilangan real. –x + 8y ≤ 80 2x – 4y ≤ 5 2x + y ≥ 12 2x – y ≥ 4 x ≥ 0, y ≥ 0
  • 25.
    22 Penyelesaian : Ubah pertidaksamaan menjadi bentuk persamaan dan gambarkan pada bidang koordinat.
  • 26.
    23 Selanjutnya ujititiknya untuk menentukan daerah penyelesaian. Dapat dengan cara substitusi atau dengan garis bilangan. Pada contoh kali ini menggunakan substitusi misalkan kita pilih titik (0,12) Setelah titk tersebut disubstitusi menghasilkan pernyataan yang salah, sehingga daerah penyelesaiannya berlawanan dengan daerah yang mengandung titik (0,12).
  • 27.
    24 Dengan carayang sama untuk persamaan yang lain telah kita peroleh grafik sebagai berikut. Daerah penyelesaian dari pertidaksamaan tersebut adalah daerah yang terkena seluruh arsiran, yaitu :
  • 28.
    25 C. Persamaanlinier satu variable Persamaan adalah suatu pernyataan matematika dalam bentuk simbol yang menyatakan bahwa dua hal adalah persis sama. Dari bentuk-bentuk 3(x – 1) + x dan –x + 7, kita dapat membentuk persamaan yang merupakan suatu persamaan linear satu variabel (PLSV). Untuk menyelesaikan suatu persamaan, kita harus menentukan nilai dari x sedemikian sehingga persamaan tersebut menjadi benar, yang berarti, nilai dari ruas kiri sama dengan ruas kanan. Perhatikan tabel berikut. Berdasarkan tabel di atas, kita dapat menemukan bahwa persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 akan bernilai benar ketika kita mengganti x dengan bilangan 2, dan akan salah jika kita mengganti x dengan bilangan selain 2. Bilangan pengganti yang dapat menyebabkan suatu persamaan bernilai benar disebut selesaian atau akar. Menyelesaikan persamaan dengan menggunakan tabel akan memakan waktu yang cukup lama. Untuk itu, kita dapat menuliskan suatu persamaan yang diberikan ke dalam persamaan ekuivalen yang lebih sederhana, sampai kita mendapatkan solusi yang diminta. Persamaan-persamaan yang ekuivalen
  • 29.
    26 adalah persamaan-persamaanyang memiliki himpunan selesaian sama, dan diperoleh dari penyederhanaan kedua ruas persamaan dengan menggunakan sifat-sifat penjumlahan, perkalian, dan distributif dari suatu persamaan, sampai diperoleh suatu persamaan dalam bentuk x = konstanta. Sifat Penjumlahan dan Perkalian Suatu Persamaan Jika A, B, dan C merupakan bentuk-bentuk aljabar dan A = B, maka A + C = B + C, AC = BC, dan A/C = B/C (C ≠ 0). Dengan kata lain, berdasarkan sifat penjumlahan suatu persamaan, kita dapat menambahkan suatu bilangan atau bentuk aljabar lain ke dalam ruas kanan dan kiri persamaan tersebut. Pernyataan yang serupa dapat dibuat untuk menyatakan sifat perkalian suatu persamaan. Sifat-sifat dari persamaan ini dapat dikombinasikan untuk dijadikan panduan dalam menyelesaikan suatu persamaan linear. Sebagai catatan, tidak semua langkah dalam panduan ini diperlukan dalam menyelesaikan setiap persamaan. Berikut ini merupakan panduan/langkah-langkah dalam menyelesaikan persamaan linear satu variabel. 1. Hilangkan tanda kurung dengan menggunakan sifat distributif, kemudian operasikan suku-suku yang serupa. 2. Gunakan sifat penjumlahan suatu persamaan untuk menulis persamaan tersebut sehingga semua variabel berada di satu ruas, sedangkan semua konstanta berada di ruas lainnya. Sederhanakan masing-masing ruas. 3. Gunakan sifat perkalian suatu persamaan untuk menghasilkan persamaan yang berbentuk x = konstanta. 4. Untuk soal penerapan, jawablah ke dalam kalimat sempurna dan gunakan satuan yang sesuai dengan perintah. Sebagai contoh pertama, kita akan mencoba menyelesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 yang merupakan masalah di awal pembahasan ini.
  • 30.
    27 Contoh 1:Menyelesaikan PLSV dengan Menggunakan Sifat-sifat Persamaan Selesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7. Pembahasan Seperti selesaian dengan menggunakan tabel, kita juga memperoleh bahwa selesaian dari persamaan tersebut adalah x = 2. Untuk menguji selesaian yang kita peroleh, kita dapat mensubstitusikan selesaian ini ke dalam persamaan semula (proses ini sering disebut substitusi- balik), dan pastikan bahwa nilai pada ruas kiri sama dengan ruas kanan. Dari contoh 1 kita mendapatkan: Jika ada koefisien-koefisien dalam suatu persamaan berbentuk pecahan, kalikan kedua ruas dengan Berikut ini merupakan panduan/langkah-langkah dalam menyelesaikan persamaan linear satu variabel.
  • 31.
    28 1. Hilangkantanda kurung dengan menggunakan sifat distributif, kemudian operasikan suku-suku yang serupa. 2. Gunakan sifat penjumlahan suatu persamaan untuk menulis persamaan tersebut sehingga semua variabel berada di satu ruas, sedangkan semua konstanta berada di ruas lainnya. Sederhanakan masing-masing ruas. 3. Gunakan sifat perkalian suatu persamaan untuk menghasilkan persamaan yang berbentuk x = konstanta. 4. Untuk soal penerapan, jawablah ke dalam kalimat sempurna dan gunakan satuan yang sesuai dengan perintah. Sebagai contoh pertama, kita akan mencoba menyelesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7 yang merupakan masalah di awal pembahasan ini. Contoh 1: Menyelesaikan PLSV dengan Menggunakan Sifat-sifat Persamaan Selesaikan persamaan 3(x – 1) + x = –x + 7. Pembahasan Seperti selesaian dengan menggunakan tabel, kita juga memperoleh bahwa selesaian dari persamaan tersebut adalah x = 2. Untuk menguji selesaian yang kita peroleh, kita dapat mensubstitusikan selesaian ini ke dalam persamaan semula (proses ini sering disebut substitusi- balik), dan pastikan bahwa nilai pada ruas kiri sama dengan ruas kanan. Dari contoh 1 kita mendapatkan: Jika ada koefisien-koefisien dalam suatu persamaan berbentuk pecahan, kalikan kedua ruas dengan KPK (Kelipatan Persekutuan Terkecil) dari penyebut-penyebutnya, untuk menghilangkan pecahan tersebut. Karena setiap bilangan desimal dapat ditulis ke dalam bentuk pecahan, maka dalam
  • 32.
    29 menyelesaikan persamaanyang memuat koefisien desimal, kita dapat mengubah bentuk desimal tersebut ke dalam bentuk pecahan terlebih dahulu.uk menghilangkan pecahan tersebut. Karena setiap bilangan desimal dapat ditulis ke dalam bentuk pecahan, maka dalam menyelesaikan persamaan yang memuat koefisien desimal, kita dapat mengubah bentuk desimal tersebut ke dalam bentuk pecahan terlebih dahulu. D. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel 1. Pengertian persamaan linear dua variabel (PLDV) Persamaan linear dua variabel ialah persamaan yang mengandung dua variabel dimana pangkat/derajat tiap-tiap variabelnya sama dengan satu. Bentuk Umum PLDV : ax + by = c x dan y disebut variabel 2. Sistem persamaan linear dua variable (SPLDV) Sistem persamaan linear dua variable adalah dua persamaan linear dua variable yang mempunyai hubungan diantara keduanya dan mempunyai satu penyelesaian. Bentuk umum SPLDV : ax + by = c px + qy = r dengan x , y disebut variabel a, b, p, q disebut keifisien c , r disebut konstanta C. Penyelesaian sistem persamaan linear dua variable (SPLDV) Cara penyelesaian SPLDV dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : 1. Metode Substitusi Menggantikan satu variable dengan variable dari persamaan yang lain contoh : Carilah penyelesaian sistem persamaan x + 2y = 8 dan 2x – y = 6 jawab : Kita ambil persamaan pertama yang akan disubstitusikan yaitu x + 2y = 8 Kemudian persamaan tersebut kita ubah menjadi x = 8 – 2y, Kemudian persamaan yang diubah tersebut disubstitusikan ke persamaan 2x – y = 6 menjadi : 2 (8 – 2y) – y = 6 ; (x persamaan kedua menjadi x = 8 – 2y)
  • 33.
    30 16 –4y – y = 6 16 – 5y = 6 -5y = 6 – 16 -5y = -10 5y = 10 y = 2 masukkan nilai y=2 ke dalam salah satu persamaan : x + 2y = 8 x + 2. 2. = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4 x = 4 Jadi penyelesaian sistem persamaan tersebut adalah x = 4 dan y = 2. Himpunan penyelesaiannya : HP = {4, 2} 2. Metode Eliminasi Dengan cara menghilangkan salaj satu variable x atau y. contoh : Selesaikan soal di atas dengan cara eliminasi: Jawab ; x + 2y = 8 2x – y = 6 (i) mengeliminasi variable x x + 2y = 8 | x 2 | –> 2x + 4y = 16 2x – y = 6 | x 1 | –> 2x - y = 6 - ………* 5y = 10 y = 2 masukkan nilai y = 2 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 x + 2. 2 = 8 x + 4 = 8 x = 8 – 4
  • 34.
    31 x =4 HP = {4, 2} (ii) mengeliminasi variable y x + 2y = 8 | x 1 | –> x + 2y = 8 2x – y = 6 | x 2 | –> 4x – 2y = 12 + ……* 5x = 20 x = 4 masukkan nilai x = 4 ke dalam suatu persamaan x + 2 y = 8 4 + 2y = 8 2y = 8 – 4 2y = 4 y = 2 4 = 2 HP = {4, 2} * catatan nilai + atau – digunakan untuk menghilangkan/eliminasi salah satu variable agar menjadi 0 Contoh (i) yang dieliminasi adalah x : x dalam persamaan satu + dan persamaan dua + digunakan tanda - (ii) yang dieliminasi adalah y : y dalam persamaan satu +, persamaan dua - atau sebaliknya digunakan tanda + 3. Penggunaan sistem persamaan linear dua variable Contoh: Harga 2 buah mangga dan 3 buah jeruk adalah Rp. 6000, kemudian apabila membeli 5 buah mangga dan 4 buah jeruk adalah Rp11.500,- Berapa jumlah uang yang harus dibayar apabila kita akan membeli 4 buah mangga dan 5 . buah jeruk ? Jawab : Dalam menyelesaikan persoalan cerita seperti di atas diperlukan penggunaan model matematika.
  • 35.
    32 Misal: harga1 buah mangga adalah x dan harga 1 buah jeruk adalah y Maka model matematika soal tersebut di atas adalah : 2x + 3 y = 6000 5x + 4 y = 11500 Ditanya 4 x + 5 y = ? Kita eliminasi variable x : 2x + 3 y = 6000 | x 5 | = 10x + 15 y = 30.000 5x + 4 y = 11500 | x 2 | = 10x + 8 y = 23.000 - ( karena x persamaan 1 dan 2 +) 7y = 7000 y = 1000 masukkan ke dalam suatu persamaan : 2x + 3 y = 6000 2x + 3 . 1000 = 6000 2x + 3000 = 6000 2x = 6000 – 3000 2x = 3000 x = 1500 didapatkan x = 1500 (harga sebuah mangga) dan y = 1000 (harga sebuah jeruk) sehingga uang yang harus dibayar untuk membeli 4 buah mangga dan 5 buah jeruk adalah 4 x + 5 y = 4. 1500 + 5. 1000 = 6000 + 5000 = Rp. 11.000,-
  • 36.
    33 1.3 NilaiMutlak A. Memahami dan menemukan konsep Nilai Mutlak Kegiatan pramuka adalah salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang diadakan di sebuah sekolah. Sebuah grup pramuka sedang belajar baris berbaris di lapangan sekolah pada hari Sabtu. Sebuah perintah dari pimpinan pasukan: “Maju 4 langkah, jalan!”, hal ini berarti jarak pergerakan barisan adalah 4 langkah ke depan. Jika perintah pimpinan pasukan: “Mundur 3 langkah, jalan!”, hal ini berarti bahwa pasukan akan bergerak melawan arah sejauh 3 langkah. Demikian seterusnya. Besar pergerakan langkah pasukan tersebut merupakan nilai mutlak, tidak ditentukan arah. “Maju 4 langkah”, berarti mutlak 4 langkah dari posisi diam dan “mundur 3 langkah, berarti mutlak 3 langkah dari posisi diam. Dalam hal ini, yang dilihat adalah nilainya, bukan arahnya. Lebih jelasnya, mari bersama-sama mempelajari kasus-kasus di bawah ini. B. Alternatif Penyelesaian Kita definisikan lompatan ke depan adalah searah dengan sumbu x positif, dengan demikian lompatan ke belakang adalah searah dengan sumbu x negatif. Perhatikan sketsa berikut:
  • 37.
    34 Dari gambardi atas, kita misalkan bahwa x = 0 adalah posisi diam si anak. Anak panah yang pertama di atas garis bilangan menunjukkan, langkah pertama si anak sejauh 2 langkah ke depan (mengarah ke sumbu x positif), anak panah kedua menunjukkan 3 langkah si anak ke belakang (mengarah ke sumbu x negatif) dari posisi akhir langkah pertama, demikianlah seterusnya sampai akhirnya si anak berhenti pada langkah ke 5. Jadi, kita dapat melihat pergerakan akhir si anak dari posisi awal adalah 1 langkah saja ke belakang (x = –1). Banyak langkah yang dijalani si anak merupakan konsep nilai mutlak, karena kita hanya menghitung banyak langkah, bukan arahnya. Banyak langkah selalu dinyatakan dengan bilangan bulat positif walaupun arahnya ke arah sumbu x negatif. Banyak langkah dapat dinyatakan dengan nilai mutlak dari sebuah bilangan bulat. Misalnya mundur 3 langkah dinyatakan dengan harga mutlak negatif 3 (|-3|). Sehingga banyak langkah anak tersebut adalah |2| + |-3| + |2| + |-1| + |-1| = 9 (9 langkah). Perhatikan Tabel 2.1 berikut. Dari ilustrasi dan tabel di atas, dapatkah kamu menarik sebuah kesimpulan tentang pengertian nilai mutlak tersebut? Jika x adalah variabel pengganti semua bilangan real, dapatkah kamu menentukan nilai mutlak x tersebut? Perhatikan bahwa x elemen himpunan bilangan real, kita tuliskan dengan x ∈ R. Dari contoh pada tabel tersebut, kita melihat bahwa nilai mutlak akan bernilai positif atau nol. Nilai mutlak adalah jarak antara bilangan itu dengan nol pada garis bilangan real. Perhatikan garis bilangan berikut. Kita lakukan beberapa percobaan perpindahan posisi sebagai berikut.
  • 38.
    35 1.4 Fungsi A. Fungsi Fungsi yang merupakan kombinasi dari beberapa fungsi. Misal terdapat dua buah fungsi, yaitu f dan g. Jika daerah nilai fungsi merupakan daerah definisi dari fungsi f, maka kombinasi f dan g kita tulis dengan fog (baca f circle g) dan didefinisikan sebagai : Sebaliknya jika daerah nilai fungsi f merupakan daerah definisi dari g maka kombinasinya kita tulis dengan gof (baca g circle f) dan didefinisikan sebagai: Misal A dan B adalah suatu himpunan. Suatu relasi dari A ke B yang memasangkan setiap anggota A dengan tepat satu anggota B disebut fungsi atau pemetaan dari A ke B, yang dinotasikan dengan f:A->B. A disebut daerah asal / domain. B disebut daerah kawan / kodomain. Himpunan dari B yang merupakan peta dari A disebut daerah hasil atau range. B. Jenis jenis fungsi
  • 39.
    36 C. Fungsikomposisi Penggabungan operasi dua fungsi secara berurutan akan menghasilkan sebuah fungsi baru. Penggabungan tersebut disebut komposisi fungsi dan hasilnya disebut fungsi komposisi.
  • 40.
    37 Misal: Fungsif:R->R, fungsi g:R->R dengan f(x)=x2+1 dan g(x)=x+1. Tentukan D. Fungsitrigonometrik Fungsitrigonometrik: fungsi yang variabel bebasnya merupakan bilangan bilangangonometrik. (sinus, cosinus, tangent, cotangent, secantdan cosecant). persamaantrigonometriky = sin x persamaanhiperboliky = arc cosx ( ) ( )( ) ( ( )) ( ) ( ( )) : ( ) : ( ) ( ( )) : ( ) h x g f x g f x Jadi h x g f x atau Fungsi h A C dengan z h x Fungsi g B C dengan z g y g f x Fungsi f A B dengan y f x            . ( (0)) . ( (0)) . ( ( )) . ( ( )) . ( )(1) . ( )(1) . ( )( ) . ( )( ) g f g h g f e f g x f g f x c g f d f g a g f x b f g x    
  • 41.
  • 42.
    39 E. Rumustrigonometri F. Grafik Fungsi sinus
  • 43.
    40 G. GrafikFungsi cosinus H. Grafik fungsi Tangen I. Grafik Fungsi Contangen J. Grafik Fungsi Secant
  • 44.
    41 K. GrafikFungsi Cosecant Latihan Jika fog(x) = -2x+3 dan f(x) = 2x + 1 tentukan fungsi g(x). Jawaban : f(g(x)) = fog(x)2(g(x)) + 1 = -2x+32( g(x)) = -2x+3 -12( g(x)) = -2x+2 g(x)= -2x+2/2 = -x + 1
  • 45.
    42 Diketahui : f(x) = x2-2x dan g(x) = x-1 tentukan gof dan fog kemudian gambar grafiknya masing-masing. Diketahui f(x) = x +5,g(x) = 2x +3 dan h(x) = 3x -1Tentukan : a. (fog)oh (x) b. fo(goh) (x) c. (hog)of (x) d. ho(gof) (x) 1.5 Limit  Pengertian Limit dan sifat-sifatnya.  Teorema Limit.  Kontinuitas Fungsi A. Definisi Limit Fungsi LxfxxxfxxxxxxxxhLxfxxxhxxLf(x) xx          )(limdengan dituliskan untuk Llimit mempunyai )( ,Untuk , memenuhi yang semuauntuk berarti ,0 Pernyataan .)(berlaku 0 memenuhi yang harga semuauntuk hingga sedemikian ,0bilangan ditunjuk dapat kecilnya),pun (bagaimana 0bilangan setiapuntuk bila ,untuk limitmempunyaidikatakan00000000    
  • 46.
    43  LimitKiri  Limit Kanan  Kontinuitas Fungsi: f x a f x a a x x x x x          lim ( ) atau ( ) sebagai berikut : makan limit kiri, dan bila harga limit fungsi misalnya , maka dituliskan Apabila didekati dari kiri atau ditulis ,maka limit dina - 0 x 0 0 0 f x a f x a a x x x x x          lim ( ) atau ( ) sebagai berikut : makan limit kanan, dan bila harga limit fungsi misalnya , maka dituliskan Apabila didekati dari kanan atau ditulis ,maka limit dina - 0 x 0 0 0 f x f x a f x a f x a f x a x x           lim ( ) lim ( ) lim ( ) kiri dari ( ) adalah sama, yaitu sama dengan . Atau dengan kata lain ( ) dikatakan mempunyai limit untuk ,bila limit kanan dan limit x x0 x x0 x x0 0 3. lim ( ). 2. lim ada. 1. ( ) terdefinisi. Sebuah fungsi dikatakan pada bila f(x) f a f(x) f a y f(x) kontinu x a x a x a      f x f x a f x a f x a f x a x x Definisi Limit           lim ( ) lim ( ) lim ( ) kiri dari ( ) adalah sama, yaitu sama dengan . Atau dengan kata lain ( ) dikatakan mempunyai limit untuk ,bila limit kanan dan limit x x0 x x0 x x0 0 Tentukan lim ( ), dan apakah kontinu pada 0? 0, bila 0 1, bila 0 Misal, ( ) 0         f x f(x) x x x f x x
  • 47.
    44 Contoh: Limit Fungsi Istimewa: . Apakah kontinu pada semua titik ? 2 4 2. ( ) c. Dengan cara yang sama, selidiki apakah kontinu pada 0? lim b. Selidiki apakah kontinu pada 0? a. Selidiki apakah kontinu pada 0? Daerah definisi / domain 1. Bila ( ) . Buktikan bahwa kontinu pada semua titik. 2 f(x) x x f x f(x) b f(x) |a| f(a) |a| f(x) a f(x) x D {x|- x } f x x f(x) x a                25 (4 10) sin( 5) 3. lim 1 cos 2 tan 2. lim sin 3 sin 5 1. lim : 1 tan lim tan 2. lim 1 sin lim sin 1. lim 5 2 0 0 0 0 0 0                x x x x x x x x Contoh x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x x 2 2 2 2 2 2 0 6.cos 2 cos sin 5.cos 2 2cos 1 4.cos 2 1 2sin 3.sin 2 2sin cos 2.cos sin 1 1. cos x sin (90 ) Rumus Trigonomet ri :           
  • 48.
    45 dengan carapemfaktoran atau rasionalisasi akar. , maka perhitungan limit dilakukan 0 0 ( ) ( ) ( ) ( ) atau lim 0 0 2. Jika subtitusi langsung menghasilk an bentuk tak tentu . ( ) ( ) 1. subtitusi langsung , dapat dilakukan dengan 3 cara ( ) ( ) Untuk menentukan lim             g a f a g x f x g a f a g x f x x a x a 4 2 8 3. lim 2 8 3 4 2 5. lim 2 2 8 2. lim 16 5 9 4. lim 1 4 1. lim Contoh : 2 4 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 2 2                          x x x x x x x x x x x x x x x x x x x
  • 49.
    46 1.6 Turunan1 A. Materi Turunan  Definisi Turunan.  Aturan Pencarian Turunan.  Turunan Sinus dan Cosinus  Aturan Rantai  Cara Penulisan Leibniz B. Definisi Turunan Leibniz. WilhelmGottfriedoleh kan diperkenalnan untuk turu atau )( Lambang)()( lim menjadi , Bila)()( limlim)( `)`( adalah terhadap dari pertamaTurunan )()( limlimdituliskan maka,0 sehinggakecil, sedemikian Apabila)()( Maka .sebesar berubah sehingga sebesar berubah nilaiMisalkan . iabeldengan var fungsisuatu adalah Bila00000dxdydxxdfhxfhxfhxxxfxxfxydxxdfdxdyyxfxyxxfxxfxyxxxfxxfyyyxxxf(x)yhxxxx                    
  • 50.
    47 C. DefinisiTurunan (pendekatan geometri) D. Rumus-Rumus Dasar Turunan ( ) ( ) ( ) lim ( ) ( ) ( ) lim lim lim Dengan simbol matematis : garis singgung grafik pada titik P (ditulis ). Bila 0, gradien garis PQ berubah menjadi koefisien dan menuju , sedemikian hingga mendekati 0, atau dituliskan 0. berjalan sepanjang grafik Bila titik diambil sebagai titik tetap, dan adalah titik yang ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) ( ) menghubungkan dan sebesar . Gradien / slope , garis yang Dari ke , bila bertambah sebesar , maka bertambah y Hubungan antara dan diberikan oleh Titik adalah titik lain yang juga terletak pada . Bila titik adalah sebuah titik pada grafik . 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0 f x f x x f x f x f x f x x y m m f(x) m x P x x f(x) P(x ,y ) Q(x ,y ) f x f x x f x f x f x f x x y x x y y m P Q y m P Q x x y y y y y y x x x x x x P Q Q(x ,y ) y f(x) P(x ,y ) y f(x) Q P x x x tg tg                                                   y x y x y x y x y C y y x y nxn n 2. cos , ` sin 1. sin , ` cos Turunan Fungsi Triginomet ri , ` 0 , ` 1           x x x x g y a y a a y e y e y x y x y x y          2. , ` ln 1. , ` Turunan Fungsi Eksponen 2. log , ` ??? 1 1. ln , ` Turunan Fungsi Logaritma
  • 51.
    48 E. TeoriTurunan F. Pembuktian       8.sin( ),cos( ), tan( ) maka `( ) `( ) ( ) ( ) ( ) `( ) ( ) ( ) ( ) `( ) 7. Jika ( ) ( ) ( ) ( ), ( ) `( ) ( ) ( ) `( ) , ( ) 0 maka `( ) ( ) ( ) 9. Jika ( ) 8. Jika ( ) ( ) , maka `( ) ( ) `( ) 7. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) ( ) ( ) `( ) 6. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) `( ) 5. Jika ( ) ( ), maka `( ) `( ) 4. Jika ( ) , maka `( ) 3. Jika ( ) , maka `( ) 2. Jika ( ) , maka `( ) 1 1. Jika ( ) , maka `( ) 0 2 1 1 1 x x x f x u x v x w x u x v x w x u x v x w x f x u x v x w x v x u x v x u x v x v x f x v x u x f x f x u x f x n u x u x f x u x v x f x u x v x u x v x f x u x v x f x u x v x f x Cu x f x Cu x f x Cx f x Cnx f x x f x nx f x x f x f x C f x n n n n n n                                               5. Buktikan bahwa turunan dari adalah 2 . 4. Buktikan bahwa turunan dari 5 3adalah 5. 3. Buktikan bahwa turunan dari 5 adalah 0. lim 2 2 2 lim 2 lim ( ) ( ) `( ) lim ( ) ( ) 2 ( ) 2. Buktikan bahwa turunan dari adalah 2 . lim 0 ( ) ( ) `( ) lim ( ) ( ) 1. Buktikan bahwa turunan fungsi konstanta sama dengan nol. 2 0 2 0 2 2 2 0 0 2 2 2 2 2 0 0 f(x) x x f(x) x f(x) x x x x x x x x x x x x x x f x x f x f x f x x x x x x x x f x x f(x) x x x C C x f x x f x f x f x x C f x C x x x x x x                                                              
  • 52.
    49 Contoh Soal G. Turunan Fungsi Komposit sumbu . sedemikian hingga garis singgung di titik tersebut sejajar dengan 5. Tentukan koordinat titik - titik pada grafik 2 3 12 20 di titik (1,4). 4. Tentukan persamaan garis singgung pada grafik 6 2 memiliki gradien 1. 3. Tentukan titik koordinat pada grafik 3 pada saat 2. Hitunglah gradien garis 3 2 pada titik 3. 1 1 1 a. 9 6 b. 1 1. Hitunglah ` dari fungsi - fungsi dibawah ini 3 2 2 3 2 2 2 3 4 3 x y x x x y x x y x -x y x - x x x x f(x) x x f(x) f (x)                    `( ) ` ( ). `( ) `( ) `( ) atau ditulis dengan simbol lain : maka . ( ) ( ) , ( ), ( ) sebagai berikut : diturunkan, dan bila F adalah fungsi komposit yang ditentukan Bila dan masing -masing adalah fungsi dari dan yang dapat F x g f x f x g u f x dx du du dy dx dy y F x g f x y g u u f x f g x u       
  • 53.
    50 Contoh Soal Contoh Soal         83 2 1 3 1 4 3 2 1 6 2 6 2, 4 4 3 2 1 , diperoleh Maka dengan subtitusi 3 2 1 1.Hitunglah dari 3 2 1 . 2 3 2 3 3 2 3 4 2 2 4                       x x x x x x dx du du dy dx dy u x x du dy x dx du y u u x x y x x dx dy 4.Hitunglah dari tan(3 4) 3.Hitunglah dari ln(3 4) untuk 3x 4 0. 3cos(3 4) 3, cos cos(3 4) sin , diperoleh Maka dengan subtitusi 3 4 2.Hitunglah dari sin(3 4).                   y x dx dy y x dx dy x dx du du dy dx dy u x du dy dx du y u u x y x dx dy   cos 1.(2 ) 2 cos 1 1 `( ) 2 sin( 1). Contoh : Jika sin ( ), maka cos ( ) ` . 2 2 2 2             x x x x dx dy f(x) x f x x y x f x f (x) dx dy y f x
  • 54.
    51 4. .cos(21) ln 1 3. cos 2. 1. .cos Contoh : . ` ` 4. Bila maka ` 3. Bila maka ` ` `. 2. Bila maka ` ` `. 1. Bila maka ` `, konstan. merupakan fungsi dari . Maka berlaku Untuk fungsi - fungsi rumit, dimana adalah fungsi dari dan , 3 2 3 2                    y x x x x x y x x y y x x v u v uv y v u y y uv y u v uv y u v y u v y ku y ku k x y u v           1 1 (2 ) 1 2 1 1 1 1 `( ) 2 1. Contoh : Jika ( ) , maka n ( ) ` . 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 n n-1                     x x x x x x dx dy y x x f(x) x f x x y x f x f (x) dx dy y f x   sin(2 1).2 2sin2 1 2 1 `( ) 2 cos(2 1). Contoh : Jika cos ( ), maka sin ( ) ` .                x x dx dy f(x) x f x y x f x f (x) dx dy y f x
  • 55.
    52 1.7 Turunan2 A. Teori Turunan B. Turunan Fungsi Implisit      2 1 1 1 ( ) `( ) ( ) ( ) `( ) , ( ) 0 maka `( ) ( ) ( ) 9. Jika ( ) 8. Jika ( ) ( ) , maka `( ) ( ) `( ) 7. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) ( ) ( ) `( ) 6. Jika ( ) ( ) ( ), maka `( ) `( ) `( ) 5. Jika ( ) ( ), maka `( ) `( ) 4. Jika ( ) , maka `( ) 3. Jika ( ) , maka `( ) 2. Jika ( ) , maka `( ) 1 1. Jika ( ) , maka `( ) 0 v x u x v x u x v x v x f x v x u x f x f x u x f x n u x u x f x u x v x f x u x v x u x v x f x u x v x f x u x v x f x Cu x f x Cu x f x Cx f x Cnx f x x f x nx f x x f x f x C f x n n n n n n                                 ` 1 1 ` 0 1 0 ` ` 0 Turunan pertama dari 0 adalah Turunan ruas kanan (0)` 0. maka v` 1 maka ` 1 0 menurunkan suku demi suku. Contoh : tiap - tiap suku sebagai fungsi dari , kemudian implisit , 0,maka kita memandang Untuk menghitung turunan pertama dari fungsi                         y y dx dy u v x y dx dy dx dy dy dv dx dv v y dx du u x u x y x f(x y)
  • 56.
    53 C. ContohTurunan Fungsi Implisit D. Penurunan Dengan Bantuan Logaritma 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 3 3 2 ` `( 3 ) 2 2 `( 3 ) 0 2 ` 3 ` 0 Turunan pertama dari 0 adalah Turunan ruas kanan (0)` 0. maka 3 3 ` ` ` ` ) maka ` ` ` ` (Ingat lagi : maka maka ` 2 Tentukan turunan dari 0. x y x y y y x y x y x y y x y x y xy y y x xy y y y dx dy y dx dy dy dw dx dw w y y u v v u v x y y x y y x y uv dx dv v xy u x dx du u x x xy y                                           y y y e x x y x y y e x y x y e x y y x y x y x y y x x y x y x y uv                       ` 1 ` y 1 Kemudian kita turunkan (Ingat : ln maka ` 1 ) , maka ln 2. Tentukan turunan dari . ` ln 2 ln 2 2 ` ln 2 y 1 Kemudian kita turunkan (Ingat : ln maka ` 1 ) ln ln(2 ) ln 2 2 1. Tentukan turunan dari 2 . Contoh : mencari turunannya. Pada fungsi berbentuk , lebih mudah menggunaka n logaritma untuk
  • 57.
    54 Contoh PenurunanDengan Bantuan Logaritma   . dariturunan Tentukan 6. . dariurunan Tentukan t 5. sincos223cos` sincos223` sincos2231cosln22ln3lncoslnlnln)cosln(ln logaritmabantuan Dengan .cos dariurunan Tentukan t 4.223223223223xyxxxxxyxdxdyayx xxxexyx xxyyx- xxy` yxxxyxexxexyxexy                
  • 58.
    55 BAB II SIMPULAN DAN SARAN 2.1 SIMPULAN Berdasarkan sajian materi terkait berbagai konsep peluang di atas, beberapa hal penting dapat kita rangkum sebagai berikut. Bilangan rasional adalah bilangan yang bisa dinyatakan dalam bentuk . Sebarang bilangan rasional dapat dituliskan sebagai suatu desimal. Pernyataan desimal suatu bilangan rasional dapat mempunyai akhir atau akan berulang dalam daur yang tetap selamanya. 2.2 SARAN Dalam penulisan resume ini penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dan kesalahan, baik dari segi penulisan maupun dari segi penyusunan kalimatnya. Dari segi isi juga masih perlu ditambahkan. Oleh karena itu, kami sangat mengharpkan kepada para pembaca resume ini agar dapat memberikan kritikan dan masukan yang bersifat membangun.
  • 59.
    DAFTAR PUSTAKA http://denandika.wordpress.com/2013/03/09/materi-remidial-kalkulus-1/ http://leoriset.blogspot.com/2009/04/download-materi-kalkulus-lengkap.html http://rumus-matematika.com/persamaan-dan-pertidaksamaan-linear/ http://id.wikipedia.org/wiki/Persamaan_linear#Sistem_Persamaan_Linear_Dua_Variabel http://eyig1.blogspot.com/2011/02/persamaan-linier.html http://yos3prens.wordpress.com/2013/11/15/menyelesaikan-persamaan-linear-satu- variabel-plsv/